Anda di halaman 1dari 20

Keratokonjungtivitis Viral

Virus merupakan penyebab terbanyak keratokonjungtivitis pada semua umur. Dilaporkan semua jenis virus dapat mengakibatkan kertokonjuntivitis, tetapi yang paling banyak adalah adenovirus. Virus lainya seperti herpes simplek, herpes zoster, dan enterovirus. Keratokonjungtivitis virus biasanya ringan dan self-limited tetapi lebih lama daripada keratokonjungtivitis bakteri, selama 2-4 minggu. Keratokonjungtivis virus ditandai dengan adanya folikel dan limfadenopati preaurikular. Keratokonjungtivitis adenovirus adalah keratokonjungtivis viral terbanyak. Pembagian serotype adenovirus termasuk keratokonjungtivis epidemika dan demam faringokonjungtiva. Transmisi terjadi melalui droplet, muntah dan kolam renang. Demam faringokonjuntiva berjalan akut memberikan gejala, konjungtivitis folikuler mengenai satu atau dua mata dengan sekret berair sedikit, terdapat pseudomembran, pembesaran limfadenopati preaurikuler yang tidak nyeri tekan, kelopak bengkak, kelilipan, demam, faringitis, terutama mengenai remaja, dan bersifat epidemik. Keratokonjungtivitis epidemika, umumnya bilateral, pembesaran limfadenopati preaurikuler yang nyeri tekan, mata berair berat, folikel dan perdarahan subkonjungtiva dalam 24 jam, dan terdapat pseudomembran. Edem palpebra, kemosis, dan hiperemi konjungtiva menandai fase akut. Keratokonjungtivitis herpes simplek sering terjadi pada anak-anak dengan tanda folikel pada konjungtiva. Infeksi biasanya disebabkan oleh virus herpes simplek tipe 1, tetapi virus herpes simplek tipe 2 dapat terjadi terutama neonatus. Rekurensi infeksi terjadi pada usia dewasa dengan keterlibatan kornea. Pada konjungtivitis herpetik vesikel pada kornea yang dapat meluas membentuk gambaran dendrit. Perjalanan penyakit biasanya akut dengan folikel yang besar disertai terbentuknya jaringan parut yang besar pada kornea. Keratokonjungtivitis herpes zoster dapat mengenai semua umur dan umumnya pada usia lebih dari 50 tahun. Herpes varicela zoster dapat mengenai konjungtiva pada infeksi pertama atau pada infeksi sekunder. Infeksi dapat terjadi melalui kontak dengan lesi atau droplet. Vesikel pada kulit sesuai dengan dermatom nervus trigeminus. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukanya sel raksasa pada pewarnaan giemsa, kultur virus, dan sel inklusi intranukler.

Keratokonjungtivitis hemoragik epidemik akut yang ditandai ptekia yang berlanjut mejadi perdarahan subkonjungtiva. Khas inkubasi penyakit yang pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7 hari). Penyakit ini pertama kali ditemukan di Ghana Afrika pada tahun 1969 yang menjadi pandemik. Keratokonjungtivitis viral mempunyai gejala limpadenopati preaurikuler, folikel pada konjungtiva, infiltrat, sekret serous mukous, dan tanda-tanda konjungtivitis dan keratitis. Diagnosis Banding Keratokonjungtivits Virus
Penyakit Demam Faringokonjunti va Virus Kotoran Lesi Kulit Lesi kornea Adenovirus Serous mukous,Edem Keratitis serotype 3 Pseudomembra kelopak epitel, dan 7 n infiltrat kornea Keratokonjungti Adenovirus Serous mukous,Edem Keratitis vitis epidemik serotype 8Pseudomembra kelopak epitel, dan 19 n kekeruhan subepitel 50 % Herpes Virus Serous mukous Vesikel Keratitis herpes pungtata, simplek dendrit dan virus pada herpes beberapa zoster kasus setelah 7 hari Hemoragik akut Enterovirus Serous mukous Keratitis serotype 70 epitel kransien Perdarahan Sitologi Subkonjungti va Limfosit

Limfosit kecuali leukosit PMN Limfosit

Limfosit

Pengobatan pada keratokonjungtivitis viral hanya suportif karena dapat sembuh sendiri dalam 3 minggu (self limited disease) jika daya tahan tubuh kuat. Diberikan kompres, astrigen, lubrikasi, pada kasus yang berat dapat diberikan antibiotik dengan steroid lokal. Pengobatan biasanya simtomatik dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Pada keratokonjungtivitis herpes simplek dan herpes zoster, serta keratitis superfisial kontraindikasi untuk diberikan steroid lokal maupun sistemik. Pengobatan untuk keratokonjungtivitis herpes simplek dan herpes zoster dengan asiklovir 400 mg/hari selama 5 hari, dan dapat diberikan analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri.

PENDAHULUAN

Blefaritis adalah radang pada kelopak mata. Radang yang sering terjadi pada kelopak merupakan radang kelopak dan tepi kelopak. Radang bertukak atau tidak pada tepi kelopak bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit.Blefaritis dapat disebabkan infeksi dan alergi yang biasanya berjalan kronis atau

menahun. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia, iritatif, dan bahan kosmetik. Infeksi kelopak dapat disebabkan kuman streptococcus alfa atau beta, pneumococcus, dan pseudomonas. Di kenal bentuk blefaritis skuamosa, blefaritis ulseratif, dan blefaritis angularis.

Gejala umum pada blefaritis adalah kelopak mata merah, bengkak, sakit, eksudat lengket dan epiforia. Blefaritis sering disertai dengan konjungtivitis dan keratitis. Biasanya blefaritis sebelum diobati dibersihkan dengan garam fisiologik hangat, dan kemudian diberikan antibiotik yang sesuia. Penyulit blefaritis yang dapat timbul adalah konjungtivitis, keratitis, hordeolum, kalazoin, dan madarosis.
PATOFISIOLOGI

Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal ini mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan ,kerusakan sistem imun atau kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin bakteri , sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat ditingkatkan dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom.
ANATOMI

Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea.

Palpebra merupakan alat penutup mata yang berguna untukmelindungi bola mata terhapat trauma, trauma sinar dan pengeringan mata.

Kelopak mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak terdapat bagian-bagian : Kelenjar seperti kelenjar sebasea, kelenjar moll atau kelenjar keringat, kelenjar zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus.

Otot seperti : M. Orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. M. Orbikularis berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. fasial. M. Levator palpebra berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata. Di dalam kelopak terdapak tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra. Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosa berasal dari rima orbita merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
ETIOLOGI

Terdapat 2 jenis blefaritis, yaitu :

1. Blefaritis anterior : mengenai kelopak mata bagian luar depan (tempat melekatnya bulu mata). Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus dan seborrheik. Blefaritis stafilokok dapat disebabkan infeksi dengan Staphylococcus aureus, yang sering ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis atau stafilokok koagulase-negatif. Blefaritis seboroik(nonulseratif) umumnya bersamaan dengan adanya Pityrosporum ovale.

2. Blefaritis posterior : mengenai kelopak mata bagian dalam (bagian kelopak mata yang lembab, yang bersentuhan dengan mata). Penyebabnya adalah kelainan pada kelenjar minyak. Dua penyakit kulit yang bisa menyebabkan blefaritis posterior adalah rosasea dan ketombe pada kulit kepala (dermatitis seboreik).
KLASIFIKASI

1. Blefaritis superfisial

Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti sulfasetamid dan sulfisolksazol. Sebelum pemberian antibiotik krusta diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi blefaritis menahun maka dilakukan penekanan manual kelenjar Meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar Meibom (Meibormianitis), yang biasanya menyertai.1 2. Blefaritis Seboroik

Blefaritis sebore biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 Tahun), dengan keluhan mata kotor, panas dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah sekret yang keluar dari kelenjar Meiborn, air mata berbusa pada kantus lateral, hiperemia dan hipertropi papil pada konjungtiva. Pada kelopak dapat terbentuk kalazion, hordeolum, madarosis, poliosis dan jaringan keropeng.

Blefaritis seboroik merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya. Pengobatannya adalah dengan memperbaiki kebersihan dan membersihkan kelopak dari kotoran. Dilakukan pembersihan dengan kapas lidi hangat. Kompres hangat selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom ditekan dan dibersihkan dengan shampoo bayi. Penyulit yang dapat timbul berupa flikten, keratitis marginal, tukak kornea, vaskularisasi, hordeolum dan madarosis. 3. Blefaritis Skuamosa

Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai terdapatnya skuama atau krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan terjadinya luka kulit. Merupakan peradangan tepi kelopak terutama yang mengenai kulit di daerah akar bulu mata dan sering terdapat pada orang yang berambut minyak. Blefaritis ini berjalan bersama dermatitik seboroik.

PENANGANAN BLEFAROKERATOKONJUNGTIVITIS
Dibuat oleh: Diah Anggraini,Modifikasi terakhir pada Mon 25 of Jul, 2011 [20:06]

ABSTRAK : Blefarokonjungtivitis adalah peradangan yang terjadi pada palpebra (blefaritis), konjungtiva (konjungtivitis) dan kornea (keratitis). Dapat disebabkan baik oleh infeksi virus, bakteri ataupun alergi. Pada kasus ini seorang laki-laki umur 50 tahun mengeluh kedua mata terasa pedih dan pandangan menjadi kabur dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, kadang-kadang gatal. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis blefarokonjungtivitis. Penatalaksanaan pada pasien meliputi pemberian antibiotik (jenis salep lebih dipertimbangkan), pemberian kortikosteroid (dalam pengawasan) dan mengistirahatkan mata. Kata kunci KASUS : Seorang laki-laki berumur 50 tahun datang ke poliklinik Mata RSUD Salatiga dengan keluhan utama kedua mata terasa pedih dan pandangan menjadi kabur. Pasien datang dengan keluhan kedua mata merah, terasa mengganjal, pedih, dan berair, keluhan dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, kadang-kadang gatal. Pasien juga mengeluh kelopak matanya terasa bengkak. Pasien sudah berobat ke puskesmas dan diberi obat tetes mata (tidak tahu nama obat yang diberikan) namun belum membaik, pandangan mata agak kabur, dan mata terasa silau. Riwayat kelilipan atau kemasukan sesuatu pada mata (-), demam (-), faringitis (-). pusing (-), mual (-). Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, Nadi 84x/menit, Tekanan darah 120/80 mmHg, Pernafasan 20 x/menit, Suhu afebris. Status Oftalmologikus pasien pada oculi dekstra dan sinistra yaitu palpebra superior dan inferior edema (+), Konjungtiva tarsalis superior dan inferior hiperemis (+) dan khemosis(+), Konjungtiva bulbi mix injection (+) dengan sekret serus, sistem lakrimalis normal, sklera putih, kornea keruh (+), nampak infiltrat bulat tersebar, COA jernih dan dalam, Iris,pupil dan lensa dalam batas normal. : Blefaritis, keratitis, konjungtivitis

DIAGNOSIS BLEFAROKERATOKONJUNGTIVITIS VIRAL (BLEFARITIS DAN KERATOKONJUNGTIVITIS EPIDEMIKA) PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pasien dengan pemberian antibiotika atau sulfa lokal dan sistemik untuk mencegah infeksi sekunder, seperti Tobroson tetes mata tiap 2 jam dan Amoxicillin 3 x 500 mg. Pemberian antibiotik topical dengan steroid dapat diberikan dengan pengawasan, hentikan setelah inflamasi mereda (memberi tahu pasien untuk melakukan kontrol ke dokter kembali 3 hari setelah pemberian obat). Pasien juga menderita blefaritis yang membutuhkan sediaan obat

yang dapat kontak dengan daerah palpebra lebih lama sehingga dapat diberikan pilihan antibiotik salep sehingga dapat mengatasai blefaritis yang terjadi. Pemberian kortikosteroid sistemik seperti Dexamethason 3 x 4mg juga dapat diberikan untuk mengurangi peradangan yang terjadi namun seperti yang telah dikatakan diatas harus tetap dalam pengawasan. Mengistirahatkan mata membantu mempercepat penyembuhan. DISKUSI Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien ini menderita Blefarokeratokonjungtivitis yang disebabkan oleh infeksi virus. Untuk terapi yang diberikan di poliklinik pasien mendapat tobroson sebagai antibiotik topical dan amoxicillin untuk mencegah infeksi sekunder pada mata dan dexamethason untuk mengatasi inflamasi yang terjadi dan pasien diminta kontrol 3 hari untuk menilai peradangan yang ada. Antibiotik sebaiknya dalam bentuk salep sehingga blefaritis dapat diatas dengan kontak obat yang lebih lama pada bentuk sediaan salep. Blefarokeratokonjungtivitis sendiri adalah peradangan yang terjadi pada palpebra, konjungtiva dan kornea sehingga sebenarnya merupakan gabungan dari blefaritis, konjungtivitis dan keratitis. Blefaritis adalah radang pada kelopak mata. Radang yang sering terjadi pada kelopak merupakan radang kelopak dan tepi kelopak. Radang bertukak atau tidak pada tepi kelopak bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. Blefaritis dapat disebabkan infeksi dan alergi yang biasanya berjalan kronis atau menahun. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia, iritatif, dan bahan kosmetik. Infeksi kelopak dapat disebabkan kuman streptococcus alfa atau beta, pneumococcus, dan pseudomonas. Di kenal bentuk blefaritis skuamosa, blefaritis ulseratif, dan blefaritis angularis.Gejala umum pada blefaritis adalah kelopak mata merah, bengkak, sakit, eksudat lengket dan epiforia. Blefaritis sering disertai dengan konjungtivitis dan keratitis. Biasanya blefaritis sebelum diobati dibersihkan dengan garam fisiologik hangat, dan kemudian diberikan antibiotik yang sesuia. Penyulit blefaritis yang dapat timbul adalah konjungtivitis, keratitis, hordeolum, kalazoin, dan madarosis. Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal ini mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan ,kerusakan sistem imun atau kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin bakteri , sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat ditingkatkan dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom. Pengobatan blefraitis dengan membersihkan margo palpebra dengan kapas basah. Pada waktu membersihkannya, kelenjar ditekan-tekan untuk mengeluarkan isinya, krusta dan skuama dibuang, dengan memakai AgNO3 1% -2%, disamping sulfa, antibiotika dan kortikosteroid. Antibiotika, sulfa, kortikosteroid diberikan dalam bentuk salep mata, yang diusapkan pada pinggir kelopak mata. Keadaan umum diperbaiki termasuk gizi dan kebersihan.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien tergolong keratokonjungtivitis epidemika, merupakan radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3, 7, 8. Penyakit ini dapat timbul sebagai suatu epidemik. Penularan biasanya terjadi melalui kolam renang selain sebagai akibat wabah. Masa inkubasi 5-10 hari. Gejala klinis berupa demam dengan mata seperti kelilipan, mata merah, sperti ada pasir dan mungkin badan terasa lemah. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikuler. Terutama mengenai satu mata terlebih dahulu. Folikel pada konjungtiva tarsal inferior, disertai pseudomembran yang dapat membentuk jaringan parut. Terdapat infiltrat subepitel pada kornea atau keratitis setelah terjadinya konjungtivitis. Infiltrat ini dapat bertahan selama lebih dari 2 bulan. Perjalanan penyakitnya dapat berlangsung selama 3 minggu. Pengobatan yang biasanya diberikan adalah obat sulfa topikal dan dapat diberikan bersama dengan steroid. KESIMPULAN Blefarokeratokonjungtivitis sendiri adalah peradangan yang terjadi pada palpebra, konjungtiva dan kornea sehingga sebenarnya merupakan gabungan dari blefaritis, konjungtivitis dan keratitis. Penatalaksanaan pada pasien meliputi pemberian antibiotik (jenis salep lebih dipertimbangkan), pemberian kortikosteroid (dalam pengawasan) dan mengistirahatkan mata. DAFTAR PUSTAKA Ilyas S, konjungtivitis virus. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan 3 edisi 3, FKUI, Jakarta, 2006;128137 James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes : Opthalmologi. Edisi 9. Jakarta PenerbitErlangga Medikal Series; 2006. 66-70. Riordan, P., 2000, Anatomi dan Embriologi Mata, dalam Vaughan, D., Asbury, T., dan Riordan, P (eds) Oftalmologi Umum, ed.14, Widya Medika, Jakarta : 1-29. Scott IU, et al. Viral Conjunctivitis. Emedicine. 2007. http://emedicine.medscape.com/article/1191370-overview PENULIS Diah Anggraini - Bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD SALATIGA

A.

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari : 1) Palpebra

Dari luar ke dalam terdiri dari: kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva. Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan melicinkan permukaan bola mata. 2) Rongga mata

Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah 3) Bola mata

Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:


Otot-otot penggerak bola mata Dinding bola mata yang teriri dari: sclera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar. Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing

4)

Sistem kelenjar bola mata

Terbagi menjadi dua bagian:


Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga hidung DEFINISI

B.

Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata. Alat rumah tangga sering menimbulkan perlukaan atau trauma mata. Macam-macam bentuk trauma:

Fisik atau Mekanik

1. Trauma Tumpul, misalnya terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock, membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel. 2. Trauma Tajam, misalnya pisau dapur, gunting, garpu, bahkan peralatan pertukangan. 3. Trauma Peluru, merupakan kombinasi antara trauma tumpul dan trauma tajam, terkadang peluru masih tertinggal didalam bola mata. Misalnya peluru senapan angin, dan peluru karet.

Khemis

1. Trauma Khemis basa, misalnya sabun cuci, sampo, bahan pembersih lantai, kapur, lem (perekat). 2. cuka, bahan asam-asam dilaboratorium, gas airmata.

Fisis

1. Trauma termal, misalnya panas api, listrik, sinar las, sinar matahari. 2. Trauma bahan radioaktif, misalnya sinar radiasi bagi pekerja radiologi C. ETIOLOGI

Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis trauma serta berat dan ringannya trauma.

Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai tertinggalnya benda asing didalam mata. Benda asing yang tertinggal dapat bersifat tidak beracun dan beracun. Benda beracun contohnya logam besi, tembaga serta bahan dari tumbuhan misalnya potongan kayu. Bahan tidak beracun seperti pasir, kaca. Bahan tidak beracun dapat pula menimbulkan infeksi jika tercemar oleh kuman. Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan penglihatan sementara sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata, terlepasnya selaput jala (retina) atau sampai terputusnya saraf penglihatan sehingga menimbulkan kebutaan menetap. Trauma Khemis asam umumnya memperlihatkan gejala lebih berat daripada trauma khemis basa. Mata nampak merah, bengkak, keluar airmata berlebihan dan penderita nampak sangat kesakitan, tetapi trauma basa akan berakibat fatal karena dapat menghancurkan jaringan mata/ kornea secara perlahan-lahan. Trauma Mekanik

1. Gangguan molekuler. Dengan adanya perubahan patologi akan menyebabkan kromatolisis sel. 2. Reaksi Pembuluh darah. Reaksi pembuluh darah ini berupa vasoparalisa sehingga aliran darah menjadi lambat, sel endotel rusak, cairan keluar dari pembuluh darah maka terjadi edema. 3. Reaksi Jaringan. Reaksi Jaringan ini biasanya berupa robekan pada cornea, sclera dan sebagainya.

1. D. TANDA DAN GEJALA

1. Tajam penglihatan yang menurun 2. Tekanan bola mata rndah 3. Bilikmata dangkal 4. Bentuk dan letak pupil berubah 5. Terlihat adanya ruptur pada corneaatau sclera 6. Terdapat jaringan yang prolapsseperti caiaran mata iris,lensa,badan kaca atau retina 7. Kunjungtiva kemotis E. PHATOFISIOLOGI Trauma pada mata dapat mengenai organ mata dari yang terdepan sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai : 1) Palpebra

Mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen 2) Saluran Lakrimalis

Dapat merusak sistem pengaliran air mata dai pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat menyeabkan kekurangan air mata. 3) Congjungtiva

Dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan sub konjungtiva 4) Sklera

Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekana bola mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera yang lebar dapat disertai prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi injury. 5) Kornea

Bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan karena fungsi kornea sebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus

6)

Lensa

Bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena daya akomodasi tisak adekuat. 7) Iris

Bila ada trauma akan robekan pada akar iris (iridodialisis), sehingga pupil agak kepinggir letaknya, pada pemeriksaan biasa teerdapat warna gelap selain pada pupil, tetapi juga pada dasar iris tempat iridodialisis. 8) Pupil

Bila ada trauma akan menyebabkan melemahnya otot-otot sfinter pupil sehingga pupil menjadi midriasis 9) Retina

Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam badan kaca bisa juga teri oblaina retina.

A. KOMPLIKASI a) Galukoma sekunder, di sebabkan oleh adanya penyumbatan oleh darah pada sudut kamera okuli anterior.

b) Imhibisi kornea, yaitu masuknya darah yang terurai ke dalam lamel-lamel kornea, sehingga kornea menjadi berwarna kuning tengguli dan visus sangat menurun. B. MANIFESTASI KLINIS Hematoma palpebra Adanya hematoma pada satu mata merupakan keadaan yang ringan, tetapi bila terjadi pada kedua mata , hati-hati kemungkinan adanya fraktur basis kranii. Penanganan:

Kompres dingin 3 kali sehari. Ruptura kornea Kornea pecah, bila daerah yang pecah besar dapat terjadi prolapsus iris, merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan operasi segera. Ruptura membran descement Di tandai dengan adanya garis kekeruhan yang berkelok-kelok pada kornea, yang sebenarnya adalah lipatan membran descement, visus sangat menurun dan kornea sulit menjadi jernih kembali. Penanganan: Pemberian obat-obatan yang membantu menghentikan perdarahan dan tetes mata kortisol Hifema Perdarahan dalam kamera okuli anterior, yang berasal dari pembuluh darah iris atau korpus siliaris, biasanya di sertai odema kornea dan endapan di bawah kornea, hal ini merupakan suatu keadaan yang serius. Pembagian hifema: Hifema primer, timbul segera oleh karena adanya trauma. Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma. Hifema ringan tidak mengganggu visus, tetapi apabila sangat hebat akan mempengaruhi visus karena adanya peningkatan tekanan intra okuler. Penanganan: Istirahat, dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan di lakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband. Iridoparese-iridoplegia Adalah adanya kelumpuhan pada otot pupil sehingga terjadi midriasis. Penanganan: Berikan pilokarpin, apabila dengan pemberian yang sampai berbulan-bulan tetap midriasis maka telah terjadi iridoplegia yang iriversibel.

Iridodialisis Ialah iris yang pada suatu tempat lepas dari pangkalnya, pupil menjadi tdak bula dan di sebut dengan pseudopupil. Penanganan: Bila tidak ada keluhan tidak perlu di lakukan apa-apa, tetapi jika ada maka perlu adanya operasi untuk memfixasi iris yang lepas. Irideremia Ialah keadaan di mana iris lepas secara keseluruhan. Penanganan secara konservatif adalah dengan memberikan kacamata untuk mengurangi silau. Subluksasio lentis- luksasio lentis Luksasio lentis yang terjadi bisa ke depan atau ke belakang. Jika ke depan akan menimbulkan glaukoma dan jika ke belakang akan menimbulkan afakia. Bila terjadi gaukoma maka perlu operasi untuk ekstraksi lensa dan jika terjadi afakia pengobatan di lakukan secara konservatif. Hemoragia pada korpus vitreum Perdarahan yang terjadi berasal dari korpus siliare, kare na bnayak terdapat eritrosit pada korpus siliare, visus akan sangat menurun. Glaukoma Di sebabkan oleh kare na robekan trabekulum pada sudut kamera okuli anterior, yang di sebut traumatic angle yang menyebabkan gangguan aliran akquos humour. Penanganan di lakukan secara operatif. Ruptura sklera Menimbulkan penurunan teknan intra okuler. Perlu adanya tindakan operatif segera. Ruptura retina Menyebabkan timbulnya ablasio retina sehingga menyebabkan kebutaan, harus di lakukan operasi. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiology pada trauma mata sangat membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing .Pemeriksaan ultra sonographi untuk menentukan letaknya, dengan pemeriksaan ini dapat diketahui benda tersebut pada bilik mata depan, lensa, retina. Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Suatu tomogram dengan menggunakan komputer dan dapat dibuat scanning dari organ tersebut.

Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg). Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi. Pemeriksaan Laboratorium, seperti :. SDP, leukosit , kemungkinan adanya infeksi sekunder. Pemeriksaan kultur. Untuk mengetahui jenis kumannya. g. Kalau perlu pemeriksaan tonometri Schiotz, perimetri, gonioskopi, dan tonografi, maupun funduskopi (Ilyas, S., 2000)

D. PENATALAKSANAAN Bila terlihat salah satu tanda diatas atau dicurigai adanya perforasi bola mata, maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotik topical, mata ditutup, dan segera dikirim kepada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang masuk ke dalam mata dengan membuat foto. Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya diberikan antibiotik sistemik atau intravena dan pasien dikuasakan untuk kegiatan pembdahan. Pasien juga diberi antitetanus provilaksis, dan kalau perlu penenang. Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola mata. Benda asing didalam bola mata pada dasarnya perlu dikeluarkan dan segera dikirim ke dokter mata. Benda asing yang bersifat magnetic dapat dikeluarkan dengan mengunakan magnet raksasa. Benda yang tidak magnetic dikeluarkan dengan vitrektomi. Penyulit yang dapat timbul karena terdapatnya benda asing intraokular adalah indoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, perdarahan intraokular dan ftisis bulbi.

E. ASUHAN KEPERAWATAN
1. 1. PENGKAJIAN

Aktivitas dan istirahat Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/ hobi di karenakan adanya penurunan daya/ kemampuan penglihatan. Makan dan minum Mungkin juga terjadi mual dan muntah kibat dari peningkatan tekanan intraokuler. Neurosensori Adanya distorsi penglihatan, silau bila terkena cahaya, kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap/ memfokuskan penglihatan). Pandangan kabur, halo, penggunaan kacamata tidak membantu penglihatan.

Peningkatan pengeluaran air mata. Nyeri dan kenyamanan Rasa tidak nyaman pada mata, kelelahan mata. Tiba-toba dan nyeri yang menetap di sekitar mata, nyeri kepala. Keamanan Penyakit mata, trauma, diabetes, tumor, kesulitan/ penglihatan menurun. Pemeriksaan penunjang Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina. Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.

2. DIAGNOSA, INTERVENSI, RASIONALISASI No DIAGNOSA . 1. Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular. TUJUAN Nyeri berkurang atau hilang. INTERVENSI

RASIONALISASI

Kriteria hasil : Klien akan :

Melaporkan penurunan nyeri progresif dan penghilangan nyeri setelah intervensi. Klien tidak gelisah.

Lakukan tindakan penghilangan nyeri yang non invasif dan non farmakologi, seperti berikut

1. Posisi : Tinggikan bagian kepala tempat tidur, berubah-ubah antara berbaring pada punggung dan pada sisi yang tidak sakit. 2. Distraksi 3. Latihan relaksasi

Tindakan penghilangan nyeri yang non invasif dan nonfarmakologi memungkinkan klien untuk memperoleh rasa kontrol terhadap nyeri. Klien kebanyakan mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang nyerinya dan tindakan penghilangan nyeri yang efektif. Untuk beberapa klien terapi

Bantu klien dalam

mengidentifika si tindakan penghilangan nyeri yang efektif.

farmakologi diperlukan untuk memberikan penghilangan nyeri yang efektif.

Berikan dukungan tindakan penghilangan nyeri dengan analgesik yang diresepkan. Beritahu dokter jika nyeri tidak hilang setelah 1/2 jam pemberian obat, jika nyeri bertambah. Tingkatkan penyembuhan luka :

Tanda ini menunjukkan peningkatan tekanan intraokular atau komplikasi lain.

2. Risiko tinggi Tidak terjadi infeksi. infeksi berhubungan Kriteria hasil : Klien akan : dengan peningkatan Menunjukkan kerentanan penyembuhan sekunder tanpa gejala terhadap infeksi. interupsi permukaan Nilai tubuh. Labotratorium : SDP normal, kultur negatif.

1. Berikan dorongan untuk mengikuti diet yang seimbang dan asupan cairan yang adekuat. 2. Instruksikan klien untuk tetap menutup mata sampai diberitahukan untuk dilepas.

Nutrisi dan hidrasi yang optimal meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, yang meningkatkan penyembuhan luka pembedahan. Memakai pelindung mata meningkatkan penyembuhan dengan menurunkan kekuatan iritasi. Tehnik aseptik meminimalkan masuknya mikroorganisme dan mengurangi risiko infeksi.

Gunakan tehnik aseptik untuk meneteskan tetes mata :

Cuci tangan sebelum memulai.

1. Pegang alat penetes agak jauh dari mata. 2. Ketika meneteskan, hindari kontak antara mata, tetesan dan alat penetes. 3. Ajarkan tehnik ini kepada klien dan anggota keluarganya.

Drainase abnormal memerlukan evaluasi medis dan kemungkinan memulai penanganan farmakologi. Mengurangi reaksi radang, dengan steroid dan menghalangi hidupnya bakteri, dengan antibiotika.

Beritahu dokter tentang semua drainase yang terlihat mencurigakan. Kolaborasi dengan dokter dengan pemberian antibiotika dan steroid.. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat. Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya. Observasi tanda tanda dan gejalagejala disorientasi: pertahankan pagar tempat

3. Gangguan Hasil yang Sensori diharapkan Perseptual : Penglihatan / kriteria b/d evaluasi gangguan pasien akan penerimaan : sensori / status organ Meningkatkan indera. Lingkungan ketajaman penglihatan dalam batas situasi secara individu. terapetik dibatasi.

Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.

Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

tidur sampai benar-benar sembuh dari anestasia. Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dan menyentuh sering, dorong orang tedekat tinggal dengan pasien. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata dimanan dapat terjadi bila menggunakan tetes mata. Jelaskan kembali tentang keadaan pasien, rencana perawatan dan prosedur tindakan yang akan di lakukan. Jelaskan pada pasien agar tidak menggunakan obat tets mata secara senbarangan. Anjurkan pada pasien gara tidak membaca terlebih dahulu, mengedan, buang ingus,

4. Kurangnya pengetahuan (perawatan) berhubungan dengan keterbatasab informasi.

Tujuan:

Pasien dan keluarga memiliki pengetahuan yang memadai tentang perawatan.

bersin atau merokok. Anjurkan pada pasien untuk tidur dengan meunggunaka n punggung, mengtur cahaya lampu tidur. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan tindakan sesuai dengan anjuran petugas.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, L.J. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Jakarta : EGC Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis Company. Darling, V.H. & Thorpe, M.R. (1996). Perawatan Mata. Yogyakarta : Yayasan Essentia Media. Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta. Wijana, Nana. (1983). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta http:///www.rusdi .blogspot.com