P. 1
plasenta previa-aboy FK unsri

plasenta previa-aboy FK unsri

|Views: 1,487|Likes:
Dipublikasikan oleh Nopriansyah Darwin
skripsi S.Ked
skripsi S.Ked

More info:

Published by: Nopriansyah Darwin on Dec 29, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2015

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

1

FAKTOR RISIKO PLASENTA PREVIA DI RUMAH SAKIT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG PERIODE 1 JANUARI 2008 – 31 DESEMBER 2009

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran ( S.Ked)

Oleh : Nopriansyah Darwin NIM : 54071001063

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

2

ABSTRAK
FAKTOR RISIKO PLASENTA PREVIA DI RUMAH SAKIT DR.MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG PERIODE 1 JANUARI 20008-31 DESEMBER 2009 (Nopriansyah Darwin) Plasenta previa merupakan salah satu penyebab Perdarahan terjadi pada kehamilan trimester ketiga dan dini sebelum sampai ke tahap yang membahayakan ibu plasenta previa antara lain usia lanjut, multiparitas, kehamilan ganda, riwayat abortus, dan merokok. perdarahan antepartum. perlu diantisipasi secara dan janin. Faktor risiko riwayat seksio sesaria,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian dan faktor risiko plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah semua pasien yang didiagnosis plasenta previa yang bersalin di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2008-31 Desember 2009. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa rekam medik. Pada penelitian ini diperoleh 210 (3.57%) kasus plasenta previa dimana pada tahun 2008 terdapat 108 kasus (3.82%) dan tahun 2009 terdapat 102 kasus (3.34%). Kejadian plasenta previa terbanyak terdapat pada usia ≥ 35 tahun, yaitu 70 orang (33.33%). Berdasarkan jumlah paritas, plasenta previa paling banyak terdapat pada jumlah paritas 2-4 kali, yaitu 99 orang (47.14%). Pada pasien dengan plasenta previa terdapat 8 orang (3.81%) yang memiliki riwayat seksio ≤ 2 kali. Terdapat 2 kasus (0.95%) plasenta previa pada kehamilan ganda dan 28 orang (13.33%) pada pasien yang ada riwayat abortus. Angka kejadian plasenta previa cukup tinggi di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengetahui gambaran faktor risiko. Penelitian prospektif dibutuhkan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan plasenta previa dan menilai faktor risiko lain yang berpengaruh.

Kata kunci : plasenta previa, faktor risiko, kehamilan

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

3

ABSTRACT

Plasenta previa is one of cause of antepartum hemmorhage. The bleeding happened on third trimester and need early treatment before The aims of this study were to determine the incidence and risk factors of placenta previa in Dr. Mohammad Hoesin Hospital, Palembang. The study used descriptive method with cross sectional design. The population and sample were all of patients diagnosed plasenta previa who delivered in Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang from 1 January 2008 until 31 December 2009. The data used were secondary data which is patients’ medical records. The incidence of placenta previa is quite high in Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang. Clinicians should be able to identify risk factors to minimize the occurence of placenta previa. Prospective study can be conducted to know the correlation between risk factors and placenta previa and also to find the other risk factors that contribute to placenta previa.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

4

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan, dan nifas tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. AKI dipengaruhi oleh status kesehatan, pendidikan, dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. AKI merupakan indikator keberhasilan dalam sektor kesehatan.1 Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2005 AKI di dunia 400 per 100.000 kelahiran hidup, negara maju AKI 9 per 100.000 kelahiran hidup, dan negara berkembang 450 per kelahiran hidup. AKI di kawasan Asia Tenggara 300 per 100.000 kelahiran hidup dan AKI di Indonesia 420 per 100.000 kelahiran hidup.2 Menurut SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) di Indonesia tahun 1992, yaitu 421 per 100.000 kelahiran hidup, SKRT tahun 1995 yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut SKRT tahun 1998 tercatat kematian maternal, yaitu 295 per 100.000 kelahiran hidup.3 Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 2003 sampai 2007 adalah sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini turun jika dibandingkan AKI hasil SDKI pada tahun 2002 sampai 2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.1 AKI Kota Palembang berdasarkan Laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme adalah 317 per 100.000 kelahiran, lebih rendah dari AKI Propinsi Sumsel sebesar 467 per 100.000 kelahiran.4 Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan 40-60%, infeksi 20-30% dan keracunan kehamilan 20-30%, sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

5

persalinan. Perdarahan dapat bersifat antepartum dan postpartum. Salah satu penyebab perdarahan antepartum adalah plasenta previa.5 Plasenta Previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah uterus sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.6-10 Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa antara lain usia lanjut, multiparitas, riwayat seksio sesaria, riwayat abortus, kehamilan ganda, dan merokok.6,8,11 Berdasarkan data kelahiran di U.S. pada tahun 2001, plasenta previa menjadi penyulit 1 dari 305 persalinan menurut Martin dkk.(2002). Crane dkk (1999) mendapatkan insiden 0,33 persen (1 dari 300) pada hampir 93.000 persalinan di Nova Scotia. Insiden di Parkland Hospital adalah 0,26 persen (1 dari 390) pada lebih dari 169.000 persalinan dalam 12 tahun.11 Kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Sanglah Denpasar dilaporkan 2,7 persen.5 Kurdi(1998) mendapatkan kejadian plasenta previa 4,17 persen (1 dari 24) di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang.12 Perdarahan obstetrik yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga dan yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir pada umumnya merupakan perdarahan yang berat. Jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat, akan menyebabkan syok yang fatal. Salah satu penyebab perdarahan obstetrik adalah plasenta previa. Perdarahan ini perlu diantisipasi secara dini sebelum sampai ke tahap yang membahayakan ibu dan janin.6 Antisipasi dalam perawatan prenatal sangat diperlukan karena umumnya penyakit ini berlangsung perlahan dengan diawali gejala dini berupa perdarahan berulang yang tidak banyak, namun tanpa disertai rasa nyeri dan terjadi pada waktu yang tidak tentu. Kelainan letak janin sering terjadi pada plasenta previa. Pada kehamilan lanjut, bagian bawah janin tidak masuk ke dalam panggul melainkan masih mengambang di atas pintu atas panggul.6 Plasenta previa pada kehamilan prematur lebih bermasalah karena persalinan terpaksa. Sebagian kasus disebabkan oleh perdarahan hebat, sebagian lainnya oleh proses persalinan. Prematuritas merupakan penyebab

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

6

utama kematian perinatal walaupun penatalaksanaan plasenta previa sudah dilakukan dengan benar. Disamping masalah prematuritas, perdarahan akibat plasenta previa akan fatal bagi ibu jika tidak ada persiapan darah atau komponen darah dengan segera.7,13 Berdasarkan tingginya angka kematian, kedaruratan, dan komplikasi ibu dan janin penulis menganggap perlu dilakukan penelitian tentang faktor risiko plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin periode 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2009 untuk perawatan antenatal. 1.2. Rumusan Masalah Apakah faktor risiko kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2008- 31 Desember 2009? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengidentifikasi faktor risiko kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 1.3.2. Tujuan Khusus
a. Menghitung angka kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr.

Mohammad Hoesin periode 1 Januari 2008-31 Desember 2009.
b. Mengidentifikasi faktor risiko tertinggi pada kejadian plasenta

previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan kesesuaian hasil penelitian dengan teori yang digunakan dan menambah pengetahuan peneliti sesuai dengan perkembangan ilmu.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

7

1.4.2. Manfaat Praktis
a. Hasil

penelitian

ini

diharapkan

bermanfaat

untuk

data

epidemiologi dan dapat memberi masukan mengenai faktor-faktor risiko kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
b. Sebagai pertimbangan dalam melakukan usaha pencegahan dan

mengurangi frekuensi kejadian plasenta previa. c. Sebagai informasi dan data yang berguna bagi penelitian selanjutnya.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Plasenta Previa 2.1.1. Definisi Plasenta Previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah uterus sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.6-10,17,24 2.1.2. Epidemiologi Berdasarkan data kelahiran di U.S. pada tahun 2001, plasenta previa menjadi penyulit 1 dari 305 persalinan Martin dkk.(2002). Crane dkk.(1999) mendapatkan insiden 0,33 persen (1 dari 300) pada hampir 93.000 persalinan di Nova Scotia. Insiden di Parkland Hospital adalah 0,26 persen (1 dari 390) pada lebih dari 169.000 persalinan dalam 12 tahun.10 Sedangkan di Rumah Sakit Sanglah Denpasar kejadiannya 2,7 persen.5 Kurdi(1998) mendapatkan kejadian plasenta previa 4,17 persen (1 dari 24) di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang.12 2.1.3. Klasifikasi Klasifikasi plasenta previa berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu : a. Plasenta Previa Totalis Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir (ostium uteri internum). Pada posisi ini tidak mungkin bayi dilahirkan pervaginam (spontan) karena berisiko perdarahan yang sangat hebat. b. Plasenta Previa Lateralis Bila hanya sebagian plasenta yang menutupi jalan lahir (ostium uteri internum).

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

9

c. Plasenta Previa Marginalis Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir (ostium uteri internum).
d. Plasenta Letak Rendah (Low-lying Placenta)

Plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah uterus sedemikian rupa sehingga tepi plasenta sebenarnya tidak mencapai os interna atau kurang lebih 2 cm dari ostium uteri internum.6,9-11,14-19 2.1.4. Faktor Risiko Etiologi plasenta previa masih belum diketahui dengan jelas.6,9,20 Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain mengemukakan bahwa penyebab plasenta previa adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi.6,21 Adapun beberapa faktor risiko plasenta previa, yaitu : a. Usia Ibu Berdasarkan 169.000 kelahiran di Parkland Hospital dari tahun 1988 sampai 1999, insiden plasenta previa adalah 1 dari 1500 untuk wanita berusia 19 tahun atau kurang dan 1 dari 100 untuk wanita berusia lebih dari 35 tahun. Frederiksen dkk.(1999) melaporkan bahwa insiden plasenta previa meningkat dari 0,3 persen pada 1976 menjadi 0,7 persen pada tahun 1997. Mereka memperkirakan bahwa hal ini disebabkan oleh bergesernya usia populasi obstetris ke arah yang lebih tua.11 b. Paritas Multiparitas dilaporkan berkaitan dengan plasenta previa. Dalam sebuah studi terhadap 314 wanita para 5 atau lebih, Babinszky dkk.(1999) melaporkan bahwa insiden plasenta previa

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

10

adalah 2,2 persen dan meningkat drastis dibandingkan dengan insiden pada wanita dengan para yang lebih rendah.11 c. Riwayat Seksio Sesaria Riwayat Seksio Sesaria merupakan faktor risiko plasenta previa yang paling signifikan.8,22 Miller dkk.(1996), dari 150.000 lebih kelahiran di Los Angeles Country Women’s Hospital, menyebutkan peningkatan tiga kali lipat plasenta previa pada wanita dengan riwayat seksio sesaria. Insiden meningkat seiring dengan jumlah seksio sesaria yang pernah dijalani, 1,9 persen pada riwayat seksio sesaria dua kali dan 4,1 persen pada riwayat seksio sesaria tiga kali atau lebih. Gesteland dkk.(2004) dan Gilliam dkk.(2002) juga mendapatkan faktor risiko plasenta previa meningkat delapan kali pada wanita dengan paritas lebih dari empat dan seksio sesaria lebih dari empat kali. d. Merokok Williams dkk.(1991b) mendapatkan risiko relatif untuk plasenta previa meningkat dua kali lipat akibat merokok. Mereka berteori e. bahwa hipoksemia akibat karbonmonoksida menyebabkan hipertrofi plasenta kompensatorik.11 Multifetal gestations Annath dkk.(2003) mendapatkan rata-rata plasenta previa 40 persen lebih tinggi pada multifetal gestations dibanding kehamilan tunggal.11 Plasenta previa terjadi f. Riwayat Aborsi Wardana dkk.(2002) mendapatkan wanita dengan riwayat abortus 4 kali lebih besar berisiko plasenta previa dibandingkan dengan tanpa riwayat abortus. 5 2.8 dari 1000 kehamilan tunggal dan 3.9 dari 1000 kehamilan ganda.23

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

11

2.1.5.

Patofisiologi Pada wanita dengan riwayat seksio sesaria, keadaan

endometrium yang kurang baik akibat perlukaan seksio sesaria menyebabkan plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum. Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari tempat implantasi yang lebih baik vaskularisasinya, yaitu di tempat yang rendah dekat ostium uteri internum. Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan luas seperti multifetal gestations atau kehamilan ganda sehingga dapat menutupi ostium uteri internum jika usia kehamilan sudah lanjut atau memasuki trimester ketiga.7,16 Peningkatan usia ibu merupakan faktor risiko plasenta previa, karena peningkatan usia menyebabkan sklerosis pembuluh darah arteri kecil dan arteriole miometrium sehingga menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak merata dan plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih besar untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat. Plasenta yang tumbuh melebar ini akan menyebabkan plasenta mendekati atau menutupi ostium uteri intenum.5,24 Pada wanita multipara atau kehamilan berulang akan menyebabkan jaringan parut uterus. Jaringan parut ini menyebabkan tidak adekuatnya persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup daerah uterus yang lebih luas. Konsekuensi perlekatan plasenta yang luas ini adalah meningkatnya risiko penutupan ostium uteri internum. Strassman menyatakan bahwa plasenta letak rendah terjadi karena endometrium bagian fundus belum siap menjadi tempat implantasi pada kehamilan yang sering.5

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

12

2.1.6.

Gambaran Klinis Gejala utama yang khas pada plasenta previa adalah

perdarahan uterus yang keluar melalui vagina tanpa rasa nyeri dan tanpa sebab. Perdarahan baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya dan darah berwarna merah segar.11,25 Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak berakibat fatal. Perdarahan ini biasanya berhenti spontan, namun kemudian timbul kembali. Pada sebagian kasus, terutama pada mereka yang plasentanya tertanam dekat tetapi tidak menutupi os serviks, perdarahan mungkin belum terjadi sampai persalinan dimulai. Namun perdarahan akibat plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dan menyebabkan anemia sesuai dengan banyaknya darah yang keluar. Perdarahan ini dapat bervariasi dari ringan hingga berat dan secara klinis dapat menyerupai solusio plasenta.11 Perdarahan terjadi akibat perkembangan dari segmen bawah uterus di trimester ketiga. Perlekatan plasenta terganggu oleh karena segmen bawah uterus mulai menipis dalam persiapan untuk melahirkan. Sumber perdarahan adalah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan diperparah oleh ketidakmampuan serat miometrium di segmen bawah uterus berkontraksi untuk mencegah perdarahan akibat pembuluhpembuluh yang robek. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Hal ini bisa menyebabkan ibu menderita anemia apabila perdarahannya banyak.6 Perdarahan dari tempat implantasi plasenta di segmen bawah uterus dapat berlanjut setelah plasenta dilahirkan karena segmen bawah uterus lebih rentan mengalami gangguan kontraksi daripada korpus uterus. Perdarahan juga dapat terjadi akibat laserasi serviks dan segmen bawah uterus yang rapuh, terutama setelah pengeluaran plasenta yang agak melekat secara manual.11

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

13

Nasib janin tergantung dari banyaknya perdarahan dan tuanya kehamilan saat melahirkan. Perdarahan mungkin dapat diatasi dengan tranfusi darah, namun persalinan terpaksa diselesaikan dengan janin yang masih prematur tidak selalu dapat dihindari. Apabila janin telah lahir, plasenta tidak mudah dilahirkan karena sering mengadakan perlekatan yang erat dengan dinding uterus. Apabila plasenta telah lahir, perdarahan postpartum sering terjadi karena ketidakmampuan otot segmen bawah rahim untuk berkontraksi menghentikan perdarahan.6 2.1.7. Penegakan Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis dan beberapa pemeriksaan. a. Anamnesis Adanya keluhan berupa perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III). Perdarahan berlangsung tanpa nyeri (painless), tanpa sebab (causeless), dan berulang (recurrent).6,10,15,16 b. Pemeriksaan Fisik
1.

Vital sign dan denyut jantung janin harus selalu Pemeriksaan Luar a. Inspeksi Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam banyak atau sedikit, darah beku dan sebagainya. Jika darah banyak keluar, maka tanda-tanda anemis terjadi pada ibu. b. Palpasi Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila presentasi kepala, biasanya

diawasi dengan ketat.9,10 2.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

14

kepalanya masih terapung di atas pintu atas panggul. Tidak jarang terdapat kelainan letak janin. 3. Pemeriksaan Dalam Pemeriksaan dalam (pemeriksaan serviks) merupakan kontraindikasi, kecuali apabila wanita yang bersangkutan sudah di meja operasi dengan segala persiapan untuk seksio sesaria segera karena pemeriksaan yang dilakukan dengan hati-hati dapat juga menyebabkan perdarahan masif. Selain itu, pemeriksaan ini jangan dilakukan kecuali apabila memang telah direncanakan persalinan.9-11,15,18,26 c. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan in spekulo Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau kelainan serviks dan vagina. Pada kebanyakan kasus, perdarahan dapat dinilai tanpa pemeriksaan in spekulo karena berpotensi menyebabkan perdarahan yang lebih banyak.7 2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) a. USG transabdominal Metode yang paling sederhana, tepat, dan aman untuk mengetahui lokasi plasenta. Menurut Laing (1996), rata-rata tingkat akurasinya adalah sekitar 96 persen. Hasil positif palsu sering disebabkan oleh distensi kandung kemih, kosong.11 b. USG transvaginal Pemakaian USG transvaginal telah secara nyata menyempurnakan tingkat ketepatan diagnosis plasenta previa. Farine dkk. (1988) mampu melakukan visualisasi os interna serviks pada semua kasus dengan teknik sehingga ultrasonografi pada kasus yang tampaknya positif harus diulang setelah kandung kemih

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

15

transvaginal.

Pada studi membandingkan

gambaran

abdominal ultrasonografi dan transvaginal ultrasonografi, Smith dkk. (1997) dan Taipale dkk. (1998) mendapatkan teknik transvaginal lebih akurat. Tingkat akurasinya adalah 98 persen positive predictive value dan 100 persen negative prediction value pada upaya penegakan diagnosis plasenta previa.11,27 USG Transvaginal dapat digunakan untuk menentukan plasenta previa letak rendah dan lebih akurat dibandingkan USG transabdominal.28 3. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Sejumlah peneliti menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk memvisualisasikan kelainan plasenta, termasuk plasenta previa dan membantu identifikasi plasenta akreta,inkreta, dan perkreta.11,19,20,28 4. Laboratorium Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada kejadian plasenta previa dengan perdarahan : a. Complete Blood Count dengan hematokrit dan platelet
b. Prothrombin time dan activated thromboplastin time c. Betke-Kleihauer

tes

untuk

menilai

perdarahan

fetomaternal.9 2.1.8. Penatalaksanaan Tujuan ekspektatif ialah agar janin tidak lahir prematur dan mengurangi angka kematian neonatus. Penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servikalis melainkan melalui usaha non invasif dan pemantauan secara ketat dan baik agar janin dapat hidup lama di dalam kandungan. Transfusi darah dan operasi harus dapat dilakukan setiap saat bila diperlukan. Anemia perlu diatasi atas pertimbangan perdarahan

a. Terapi Ekspektatif (Pasif)

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

16

selanjutnya dengan menilai perdarahan berdasarkan pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit secara berkala. Pemberian steroid pada kehamilan antara 24 minggu sampai 34 minggu untuk pematangan paru janin. Syarat-syarat terapi ekspektatif,yaitu kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat janin belum mencapai 2500 gram, perdarahan tidak aktif, belum inpartu, keadaan umum ibu baik (Hb > 8 g%), dan janin masih hidup.6,7,16 b. Terapi Aktif Terapi aktif dilakukan apabila ditemukan beberapa syarat, yaitu perdarahan yang telah berlangsung atau akan berlangsung dapat membahayakan ibu dan janin, kehamilan telah cukup 37 minggu atau berat janin telah mencapai 2500 gram, sudah inpartu atau bagian janin terbawah sudah masuk pintu atas panggul. Terapi aktif berupa terminasi kehamilan segera.7 Pada umumnya, memilih cara persalinan terbaik tergantung dari derajat plasenta previa, paritasnya, dan banyak perdarahan. Cara persalinan dengan plasenta previa: 1. Seksio sesaria Prinsip utama dalam melakukan seksio sesaria adalah menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tidak ada harapan hidup, tindakan ini tetap dilakukan. Selain itu juga untuk secepatnya menghentikan sumber perdarahan. Plasenta previa totalis merupakan indikasi mutlak untuk seksia sesaria, tanpa menghiraukan faktor-faktor lainnya. Plasenta previa primigravida cenderung juga ke seksio sesaria. Multigravida dengan plasenta letak rendah, plasenta marginalis, atau lateralis pada pembukaan lebih dari 5 cm dapat ditanggulangi dengan pemecahan selaput ketuban. Apabila perdarahan juga tidak berkurang, maka seksio sesaria harus dilakukan.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

17

2.

Pervaginam

Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan plasenta dan bagian plasenta yang berdarah selama persalinan berlangsung, sehingga darah berhenti. Persalinan pervaginam biasanya dilakukan pada plasenta previa marginalis dan persentasi kepala .6,11,15,16 2.1.9. a. b. Komplikasi Perdarahan dapat mengakibatkan penderita menjadi anemia Akibat plasenta berimplantasi di segmen bawah rahim dan

bahkan syok. sifat segmen ini tipis sehingga memudahkan jaringan trofoblas menginvasi ke dalam miometrium bahkan sampai perimetrium dan menjadi penyebab dari plasenta inkreta dan plasenta perkreta. c. Prematuritas disebabkan plasenta previa berkisar 60 persen pada kematian perinatal. Kematian fetus dikarenakan asfiksia atau perlukaan saat lahir.
d.

Komplikasi

lain dari plasenta previa adalah persalinan

seksio sesaria (RR = 3.9), abruptio plasenta (RR = 13.8), perdarahan postpartum (RR = 1.7), malpresentation (RR = 2.8), kematian maternal dari perdarahan uterus (50%) dan disseminated intravascular coagulation (DIC) (15.9%).6,17,18,20,22 2.1.10. Prognosis Pada kasus plasenta previa didapatkan 50 persen kelahiran prematur yang menjadi penyebab utama kematian perinatal.15 Sekarang penanganan relatif bersifat dini, sehingga angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal jauh menurun karena diagnosis dini dan pemeriksaan yang tidak invasif dengan USG disamping ketersediaan tranfusi darah dan cairan infus.6

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

18

2.2. Kerangka Teori

Beberapa faktor risiko Multifetal gestations Usia lanjut Riwayat abortus Riwayat Seksio Sesaria Multiparitas Merokok

Plasenta Previa

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan rancangan cross-sectional dengan mengambil data melalui rekam medik. 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Waktu penelitian dilakukan sejak Oktober - November 2010.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini adalah semua pasien yang didiagnosis plasenta previa yang bersalin di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 3.4. Definisi Operasional a. Usia Ibu 1. 2. Definisi Usia biologis ibu saat hamil yang tercantum dalam rekam medik. Alat Ukur Alat ukur berupa data di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 3. 4. Cara Ukur Diukur dengan cara observasi dalam rekam medik. Hasil ukur Hasil diukur berupa :
• Usia ≤ 19 tahun • Usia 20-24 tahun

• Usia 25-29 tahun

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

20

• Usia 30-34 tahun

Usia ≥ 35 tahun

b. Paritas 1. Definisi Jumlah persalinan yang pernah dialami ibu. 2. Alat Ukur Alat ukur berupa data di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 3. Cara Ukur Diukur dengan cara observasi dengan melihat status paritas dari G (gravida), P (paritas), A (abortus) dalam rekam medik. 4. Hasil Ukur Paritas 0 Paritas 1 Paritas > 1 • • 2-4 kali ≥ 5 kali : nullipara : primipara : multipara

c. Seksio sesaria
1. Definisi

Riwayat operasi sesaria yang pernah dialami ibu pada kehamilan sebelumnya. 2. Alat Ukur Alat ukur berupa data di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin 1 Januari 2008-31 Desember 2009 3. Cara Ukur Diukur dengan cara observasi riwayat seksio sesaria dalam data rekam medik. 4. Hasil Ukur

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

21

Hasil ukur berupa : • Ada riwayat seksio sesaria • Seksio sesaria ≤ 2 kali • Seksio sesaria ≥ 3 kali • Tidak ada riwayat seksio sesaria

d. Multifetal gestation 1. Definisi Kehamilan yang terdapat janin lebih dari satu. 2. Alat Ukur Alat ukur berupa data di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 3. Cara Ukur Diukur dengan cara observasi kehamilan yang terdapat janin lebih dari satu dalam rekam medik. 4. Hasil Ukur • • Tidak multifetal gestation ( kehamilan tunggal) Multifetal gestation

e. Riwayat abortus 1. Definisi Riwayat abortus yang pernah dialami pasien sebelumnya. 2. Alat Ukur Alat ukur berupa data di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin 1 Januari 2008-31 Desember 2009. 3. Cara Ukur Diukur melalui observasi dengan melihat adanya riwayat abortus dari G (gravida), P (Partus), dan A (abortus) dalam rekam medik. 4. Hasil Ukur • Tidak ada riwayat abortus

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

22

Ada riwayat abortus

3.5. Alur Penelitian

Ibu hamil

Plasenta previa

Tidak plasenta previa

Faktor risiko: • Usia ibu • Multiparitas • Riwayat seksio sesaria • Merokok • Riwayat abortus • Multifetal gestatations

Data diambil dari data sekunder Pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Hasil penelitian

3.6. Cara Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapat dari Instalasi Rekam Medik dan buku rekapitulasi persalinan di bagian Obstetri dan Ginekologi dan Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan 3.7. Cara Pengolahan dan Analisis Data

23

Data yang didapat dari buku rekapitulasi dan Instalasi rekam medik akan dikelompokkan dan dianalisis secara deskriptif lalu ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi relatif.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Data penelitian diperoleh dari Instalasi Rekam Medik dan buku rekapitulasi persalinan di bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang tercatat sejak 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2009. Selama periode tersebut terdapat 5.883 persalinan di bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Pada tahun 2008 terdapat 2.826 persalinan, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 3.057 persalinan. Sampel penelitian ini adalah semua pasien yang didiagnosis plasenta previa yang bersalin di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2008 hingga 31 Desember 2009. Total sampel yang diperoleh berjumlah 210 orang . Sampel pada tahun 2008 adalah 108 orang, sedangkan tahun 2009 sebanyak 102 orang.
4.1. Gambaran Kejadian Plasenta Previa pada Tahun 2008-2009

Tabel 1 menunjukkan distribusi frekuensi kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2008-2009. Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Kejadian Plasenta Previa Tahun 2008 2009 Total Frekuensi 108 102 210 Jumlah Persalinan 2.826 3.057 5.883 Persentase (%) 3.82 3.34 3.57

Dari tabel di atas didapatkan kejadian plasenta previa sebanyak 210 kasus (3.57%). Pada tahun 2008 terdapat 108 kasus (3.82%) dan tahun 2009 terdapat 102 kasus (3.34%). Pada tabel di atas juga terlihat kejadian plasenta previa tahun 2008 lebih banyak dibanding tahun 2009.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

25

Dari data yang diperoleh, kejadian plasenta previa cukup tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Crane dkk.(1999) sebesar 0,33 persen di Nova Scotia.10 Namun tidak jauh berbeda dengan kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Sanglah Denpasar yang sebesar 2,7 persen5 dan hasil penelitian Kurdi (1998) di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang sebesar 4,17 persen.12 4.2. Gambaran Faktor Risiko Plasenta Previa 4.2.1. Usia Ibu Tabel 2 menunjukkan distribusi kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2008-2009 berdasarkan usia ibu. Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Menurut Usia Usia Ibu (Tahun) ≤ 19 20-24 25-29 30-34 ≥ 35 Total Frekuensi 3 28 45 64 70 210 Persentase (%) 1.43 13.33 21.43 30.48 33.33 100

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

26

Kejadian plasenta previa paling banyak terdapat pada usia ≥ 35 tahun, yaitu 70 orang (33.33%), lalu diikuti usia 30- 34 tahun sebanyak 64 orang (30.48%), usia 25-29 tahun sebanyak 45 orang (21.43%), usia 20-24 tahun sebanyak 28 orang (13.33%) dan usia ≤ 19 tahun sebanyak 3 orang (1.43%). Dari tabel di atas terlihat kejadian plasenta previa terbanyak pada usia ≥ 35 tahun, diikuti usia 30-34 tahun, usia 25-29 tahun, usia 20-24 tahun dan ≤ 19 tahun. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian di Parkland Hospital yang melaporkan insiden plasenta previa adalah 1 dari 1500 untuk wanita berusia 19 tahun atau kurang dan 1 dari 100 untuk wanita yang berusia lebih dari 35 tahun. Hal ini berarti kejadian plasenta previa semakin meningkat seiring dengan peningkatan usia ibu.11 Peningkatan usia ibu merupakan faktor risiko plasenta previa, karena peningkatan usia menyebabkan sklerosis pembuluh darah arteri kecil dan arteriole miometrium sehingga menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak merata dan plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih besar untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat.5,24 4.2.2. Paritas Tabel 3 menunjukkan distribusi kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2008-2009 berdasarkan jumlah paritas.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

27

Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Menurut Jumlah Paritas Paritas Nullipara Primipara (1 kali) Multipara 2-4 kali Multipara ≥ 5 kali Total Frekuensi 44 53 99 14 210 Persentase (%) 20.95 25.24 47.14 6.67 100

Kejadian plasenta previa paling banyak terdapat pada jumlah paritas 2-4 kali, yaitu 99 orang (47.14%), lalu diikuti oleh jumlah paritas 1 kali sebanyak 53 orang (25.24%), nullipara sebanyak 44 orang (20.95%), dan paritas ≥ 5 kali sebanyak 14 orang (6.67%). Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa insiden plasenta previa meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah paritas. Pada data di atas kejadian plasenta previa banyak pada paritas 2-4 kali. Menurut penelitian Babinszky dkk.(1999) yang melaporkan bahwa insiden plasenta previa meningkat pada paritas 5 atau lebih dibanding dengan paritas yang lebih rendah. Gilliam dkk.(2002) juga

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

28

mendapatkan hasil bahwa kejadian plasenta previa meningkat delapan kali pada wanita dengan paritas lebih dari empat kali. 11 Pada wanita multipara atau kehamilan berulang akan menyebabkan jaringan parut uterus. Jaringan parut ini menyebabkan tidak adekuatnya persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup daerah uterus yang lebih luas. Konsekuensi perlekatan plasenta yang luas ini adalah meningkatnya risiko penutupan ostium uteri internum.5 4.2.3. Riwayat Seksio Sesaria Tabel 4 menunjukkan distribusi kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2008-2009 berdasarkan riwayat seksio sesaria yang dialami pasien. Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Menurut Riwayat Seksio Sesaria Riwayat Seksio Sesaria Riwayat ≤ 2 kali Riwayat ≥ 3 kali Tidak Ada Total Frekuensi 8 0 202 210 Persentase (%) 3.81 0 96.19 100

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

29

Kejadian plasenta previa pada pasien yang ada riwayat seksio sesaria ≤ 2 kali adalah 8 orang (3.81%), sedangkan pada pasien yang tidak ada riwayat seksio sesaria sebanyak 202 orang (96.19%). Berdasarkan penelitian Miller dkk.(1996) disebutkan

peningkatan tiga kali lipat plasenta previa pada wanita dengan riwayat seksio sesaria. Insiden meningkat seiring jumlah seksio sesaria yang dijalani, 1,9 persen pada riwayat seksio sesaria dua kali dan 4,1 persen pada riwayat seksio sesaria tiga kali atau lebih. Gilliam dkk.(2002) juga mendapatkan faktor risiko plasenta previa meningkat delapan kali pada wanita dengan riwayat seksio sesaria yang lebih dari empat kali.11 Pada wanita dengan riwayat seksio sesaria, keadaan endometrium yang kurang baik akibat perlukaan seksio sesaria menyebabkan plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Hal ini mengakibatkan plasenta dapat menutupi ostium uteri internum.7 4.2.4. Multifetal Gestations Tabel 5 menunjukkan distribusi kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2008-2009 berdasarkan Jenis Kehamilan. Tabel 5. Distribusi Frekuensi dan Persentase Menurut Jenis Kehamilan Jenis Kehamilan Kehamilan Tunggal Kehamilan Ganda Total Frekuensi 208 2 210 Persentase (%) 99.05 0.95 100

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

30

Dari tabel di atas terdapat 2 kasus (0.95%) plasenta previa pada kehamilan ganda dan sebanyak 208 orang (99.05%) pada kehamilan tunggal. Menurut penelitian Annath dkk.(2003) yang mendapatkan plasenta previa 40 persen lebih tinggi pada multifetal gestations dibanding dengan kehamilan tunggal.11 Berdasarkan penelitian lainnya juga menyebutkan plasenta previa terjadi 2,8 dari 1000 kehamilan tunggal dan 3,9 dari 1000 kehamilan tunggal.23 Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan luas seperti multifetal gestations atau kehamilan ganda sehingga dapat menutupi ostium uteri internum.7 4.2.5. Riwayat Abortus Tabel 6 menunjukkan distribusi kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2008-2009 berdasarkan adanya riwayat abortus. Tabel 6. Distribusi Frekuensi dan Persentase Menurut Riwayat Abortus Riwayat Abortus Ada Tidak Ada Total Frekuensi 28 182 210 Persentase (%) 13.33 86.67 100

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

31

Kejadian plasenta previa pada pasien yang ada riwayat abortus sebanyak 28 orang (13.33%), sedangkan yang tidak ada riwayat abortus sebanyak 182 orang (86.67%). Menurut Wardana dkk. (2002) mendapatkan wanita dengan riwayat abortus 4 kali lebih besar berisiko plasenta previa dibandingkan dengan tanpa riwayat abortus.5 Pada wanita dengan riwayat abortus, keadaan endometrium yang kurang baik akan menyebabkan plasenta mencari tempat yang baik vaskularisasinya.7 4.2.6. Riwayat Merokok Pada penelitian ini tidak terdapat data mengenai riwayat merokok pasien dalam rekam medik.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

32

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Pada penelitian ini diperoleh angka kejadian plasenta previa periode 1

Januari 2008-31 Desember 2009 di Rumah Sakit Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang sebanyak 210 kasus (3.57%). Pada tahun 2008 terdapat 108 kasus (3.82%) dan tahun 2009 terdapat 102 kasus (3.34%).
b. Gambaran faktor risiko plasenta previa di Rumah Sakit Umum Dr.

Mohammad Hoesin Palembang 1 Januari 2008-31 Desember 2009 antara lain:
1. Berdasarkan usia ibu didapatkan kejadian plasenta previa terbanyak

pada usia ≥ 35 tahun,yaitu 70 orang (33.33%).
2. Kejadian plasenta previa terbanyak terdapat pada jumlah paritas 2-4

kali, yaitu 99 orang (47.14%).

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

33

3. Kejadian plasenta previa pada pasien yang ada riwayat seksio

sesaria ≤ 2 kali adalah 8 orang (3.81%), sedangkan pada pasien yang tidak ada riwayat seksio sesaria sebanyak 202 orang (96.19%).
4. Kejadian plasenta previa pada kehamilan ganda sebanyak 2 kasus

(0.95%), sedangkan pada kehamilan tunggal sebanyak 208 kasus (99.05%).
5. Kejadian plasenta previa pada pasien yang memiliki riwayat abortus

sebanyak 28 orang (13.33%), sedangkan yang tidak ada riwayat abortus sebanyak 182 orang (86.67%).
6. Untuk faktor risiko merokok tidak bisa dideskripsikan karena tidak

ada data mengenai riwayat merokok pasien dalam rekam medik.

5.2. Saran Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan, terutama dalam metode pengumpulan data, sehingga saran yang diajukan peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah : a. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan dalam rentang

waktu yang lebih panjang, karena memiliki keterbatasan dalam segi waktu dan ketersediaan data, peneliti hanya dapat mengambil data selama periode 1 Januari 2008 hingga 31 Desember 2009.
b.

Penelitian yang dilakukan selanjutnya akan lebih baik bersifat

prospektif. Hal ini untuk menganalisis hubungan faktor risiko dengan plasenta previa dan juga untuk menilai faktor risiko lain yang mungkin berhubungan dengan kejadian plasenta previa.

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan c.

34

Pada penelitian ini tidak ada data mengenai riwayat merokok

pasien di rekam medik. Maka diperlukan anamnesis riwayat merokok terhadap pasien kedepannya untuk menganalisis hubungan antara

merokok dengan kejadian plasenta previa.
d.

Kejadian meningkat seiring dengan bertambahnya usia ibu saat

hamil dan jumlah paritas. Oleh karena itu diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dilakukan usaha pencegahan plasenta previa.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia

2008. Jakarta. 2009; 24-72
2. World Health Organization. Maternal mortality in 2005: Estimates

3.

4. 5. 6.

7.

Developed by WHO, UNICEF, UNFPA and the World Bank. Geneva; 2007 Wahdi, Suhartono A, Praptohardjo U. Kematian Maternal di RSUP dr. Kariadi, Semarang tahun 1996-1998. Bagian/SMF Obstetri Ginekologi FK UNDIP-RSUP Dr.Kariadi Semarang. Disampaikan pada PIT XI POGI, Semarang: Juli, 1999 Dinas Kesehatan Kota Palembang. Profil kesehatan tahun 2006. Palembang. 2007; hal.16-31 Wardana GA, Karkata MK. Cermin Dunia Kedokteran. Faktor Risiko Plasenta Previa.2007; 34 (5): 229-232 Chalik T.M.A. Perdarahan pada Kehamilan Lanjut dan Persalinan. Dalam: Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo, Edisi keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008 Mose JC. Perdarahan Antepartum. Dalam: Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Ilmu Kesehatan Reproduksi. Edisi 2, Jakarta: EGC, 2003; 83-91

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

35

8. Oyelese Y. Third Trimester Bleeding. Dalam: Protocol for High Risk

Pregnancy, Fifth Edition. Singapore: Blackwell Publishing Ltd. 2010; 47884
9. Brandon J, Md. Bankowski, Amy E, MD Hearne, Nicholas C, MD

Lambrou, et all. The Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics 2nd edition : Lippincott Williams & Wilkins; 2002 10. Ko P, Young Y. Plasenta Previa, (http://emedicine.medscape.com/article / 796182-overview, diakses 24 Agustus 2010) 11. Cunningham FG, Levono JL,Rouse DJ, Bloom SL,Hauth JC, Spong CY. Williams Obstetrics ed 23. USA: McGraw-Hill Companies Inc; 2007 12. Syamsuri AK. Majalah Kesehatan Sriwijaya. Faktor Risiko Ibu pada Kasus Plasenta Previa.1998; 30 (2) : 29-36 13. Tucker DE. Low Lying Placenta. (http://www.womens.healtco. uk/praevia.htm., diakses pada 12 Agustus 2010) 14. Manuaba, IBG. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Penerbit EGC,Jakarta;2001 15. Joy S, MD. Placenta Previa. eMedicine journal.2001; 2: 11 16. DeCherny A.H, Nathan L, Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment, Ninth Edition : McGraw-Hill Companies, Inc;2003 17. Beckmann RB, Frank WL, Barbara MB, William NPH, Douglas WL, Roger PS. Third Trimester Bleeding. Dalam : Obstetrics and Gynecology 6th Ed: Lippincott Williams & Wilkins. 2010;207-12 18. Callahan TL, Aaron BC. Blueprint Obstetrics & Gynecology 5th Ed: Lippincott Williams & Wilkins. 2009; 56-64 19. Queenan JT, Catherine YS, Charles JL. Management of High-Risk Pregnancy: an Evidence-Based Approach 5th Ed: Blackwell Publishing. 2007;361-370 20. Thomburg L, Ruth AQ. Third Trimester Bleeding. Dalam: Evans AT. Manual of Obstetrics 7th Ed: Lippincott Williams & Wilkins. 2007; 15058 21. Clark SL. Placenta Previa and Abruptio Placentae. Dalam: Creasy RK, Resnik R, Ians JD. Maternal-Fetal Medicine: Principle and Practice 5th Ed: Saunders. 2004; 692-725 22. James R, MD. Scott, Ronald S, MD. Gibbs, Beth Y., Md. Karlan, Arthur F., Md. Haney, David N. Danforth. Danforth's Obstetrics and Gynecology, 9th Ed: Lippincott Williams & Wilkins.2003 23.Ananth CV, Demissie K, Smulian JC, Vintzileos AM. Placenta previa in singleton and twin births in the United States, 1989 through 1998: a comparison of risk factor profiles and associated conditions. Am J Obstet Gynecol 2003;188: 275–81 24. Zhang J, Savitz DA. Maternal age and placenta previa: a population-based, case-control study. Am J Obstet Gynecol 1993;168:641-5. 25.Miller DA. Placenta Previa and Abruptio Placentae. Dalam: Goodwin TM, Martin NM, Laila M, Richard P, Subir R. Management of Common

Nopriansyah Darwin (aboy) 54071001063 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan

36

Problems in Obstetrics and Gynecology 5th Ed: Willey-Blackwell Publishing Ltd. 2010; 57-61 26.Oppenheimer LW, Nimrod CA. Bleeding in the third trimester. Dalam: Clinical Obstetrics The Fetus and Mother 3rd Edition: Blackwell Publishing Ltd. 2007;1049-64 27. Sherman SJ, Carlson DE, Platt LD, Medearis AL. Transvaginalultrasound: Does It Help In the Diagnosis of Placenta Previa?Ultrasound Obstet Gynecol 1992;2:256-60 28. Oppenheimer L, and the Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada. Diagnosis and Management of Placenta Previa. J Obstet Gynaecol Can. 2007;29:261-266.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->