Anda di halaman 1dari 8

MENGUKUR DAYA SAING INDONESIA DI KAWASAN ASEAN BERDASARKAN INDIKATOR KINERJA PERDAGANGAN INTERNASIONAL 1) Oleh SARJIYANTO, S.E.

2)
A. Pendahuluan Berdasarkan World Economic Forum peringkat Indonesia di Kawasan ASEAN dari tahun 2011 ke tahun 2010 mengalami penurunan. World Economic Forum adalam lembaga surveyor independent yang secara global melakukan pemeringkatan (rating) negara-negara di dunia ini. Indikator yang digunakan WEF dalam melakukan pemeringkatan (rating) sangat komplek dan dari berbagai aspek, indikator-indikator tersebut adalah secara garis besar dikelomokkan kedalam lima indikator utama ; pertembuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, sistem keuangan, kesehatan untuk semua rakyat, dan pembangunan sosial. Tabel I Penurunan Peringkat Indonesia dibandingkan dengan Negara Anggota ASEAN Tahun 2010-2011

Sumber : WEF, 2011

1)Makalah disampaikan dalam rangka tugas pemahaman General Business Enviroment


khususnya lingkungan Govermental Inviroment dengan pengampu Prof. Dr. Pratikno, M.Sos.Sc 2)Mahasiswa Program Master of Business Administration FEB UGM No.Reg 1157045. NRM.10/314195/PEK/15729.

Indikator pada makalah ini akan lebih membahas sistem keuangan

khususnya pada sub indikator perdagangan internasional antara negara sebagai instrumen pembandinya. Dalam website WEF menyatakan bahwa trade atau lebih dikenalnya istilah perdagangan internasional sebagai salah satu indikator yang digunakan untukmelakukan pemeringkatan status negara yang aman dan prospektus sebagai pusat investasi. Melalui makalah ini, penulis akan memcoba membahas daya saing Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN dari sisi perdagangan internasionalnya Total perdagangan Indonesia dengan Intra-ASEAN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dalam 5 (lima) tahun terakhir dari tahun 2004 2008 dicapai peningkatan hampir 3 kali lipat dari 24,5 Milliar USD pada tahun 2004 menjadi 68,14 Milliar USD pada tahun 2008. dengan Konsentrasi Singapura, perdagangan Malaysia Indonesia terbesar Nilai

berlangsung

dan

Thailand.

perdagangan Indonesia dengan Brunei Darusalam, Myanmar, dan Laos, meskipun jauh lebih kecil dibandingkan dengan ketiga negara tersebut, meningkat secara signifikan (56,6%, 45,11%, dan 38,6%).

Tabel II Total Perdagangan Indonesia dengan Negara Intra ASEAN, Periode 2004-2008 (dalam juta US$)
Trend Tahun Negara 2004 Brunei D Kamboia Laos Filipina Malaysia Myanmar Singapura Thailand Vietnam Total 327,00 72,93 1,57 1.466,17 4.697,99 77,70 12.080,67 4.747,82 1.016,79 24.488,65 2005 1.236,83 94,67 1,817.20 1.741,35 5.579,83 92,14 17.306,10 5.693,42 1.117,47 32.863,63 2006 1.644,49 104,71 4,51 1.690,31 7.304,09 157,37 18.964,38 5.685,03 1.898,81 37.453,71 2007 1.908,09 123,10 6,65 2.213,53 11.507,99 292,78 20.341,41 7.341,34 2.349,35 46.084,25 2008 2.476,29 176,03 4,20 2.809,15 15.354,84 280,44 34.651,53 9.995,52 2.390,57 68.138,58 56,56 22,45 38,56 16,65 36,24 45,11 25,47 19,04 27,80 20042008 (%)

Sumber : BPS. 2009 Peningkatan nilai total perdagangan Indonesia dengan Brunei Darusalam, Singapura, dan Thailand ternyata merupakan kontribusi peningkatan nilai ekspor ketiga Negara tersebut ke Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dengan ketiga Negara tersebut. Disamping itu, dalam 2 (dua) tahun terakhir berturut-turut, neraca perdagangan Indonesia dengan Malaysia juga mengalami defisit yang semakin meningkat. Secara keseluruhan kinerja perdagangan Indonesia dengan ASEAN mengalami defisit sejak tahun 2005 dan semakin buruk pada tahun 2008. Defisit perdagangan Indonesia dengan ASEAN dari tahun 2007 ke 2008 meningkat 9 (sembilan) kali lipat, dimana defisit terbesar dialami dengan Singapura.

Tabel III Neraca Perdagangan Indonesia dengan Negara Intra-ASEAN, Periode 2004 2008 (juta US$)
Trend Negara Asal 2004 Brunei D Kambodia Lao PDR Filipina Malaysia Myanmar Singapura Thailand Vietnam Total -263,48 70,72 1,57 1.009,02 1.334,10 42,86 -84,87 -795,35 185,19 1.499,76 2005 -1.158.17 93,20 1,69 1.096,89 1.282,77 63,84 -1.635,33 -1.200,50 239,42 -1.216,19 Tahun 2004-2008 (%) 2007 -1.821,35 120,60 0,77 1.493,83 -1.315,86 231,99 661,82 -1.232,79 360,96 -1.500,02 2008 -2.356,95 172,02 3,78 1.298,07 -2.489,74 221,08 -8.927,44 -2.673,01 955,24 -13.796,94 22,57 10,36 8,47 57,96 44,65 -

2006 -1.569.38 102,59 4,18 1.121,02 917,42 118,04 -1.104,68 -281,93 205,20 -487,53

Sumber: BPS, 2009 Negara tujuan ekspor utama dan terbesar Indonesia di ASEAN adalah Singapura, kemudian dikuti berturut-turut oleh Malaysia, Thailand dan Filippina. Trend peningkatan ekspor Indonesia yang cukup signifikan selama periode 2004 2008, meskipun nilai ekspornya kecil (kecuali dengan Vietnam), terjadi dengan negara-negara CLMV yaitu Myanmar (50,14%), Vietnam (31,51%), Laos (29,91%), dan Kamboja (22,51%). Sayangnya peningkatan nilai ekspor tersebut belum dapat mengimbangi kenaikan impor yang cukup besar dari negara ASEAN khususnya Singapura. Impor Indonesia dari 9 negara ASEAN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Total peningkatan impor Indonesia dari ASEAN meningkat lebih dari 300%, dari US$ 11,5 juta pada tahun 2004 naik menjadi US$ 40,9 juta pada tahun 2008 (Tabel 9 dan Diagram 8).

Nilai impor Indonesia dari ASEAN mengalami peningkatan yang sangat nyata yaitu 72,3% dari US$ 23,8 juta pada tahun 2007 menjadi US$ 40,9 juta pada tahun 2008, naik lebih dari 3 kali kenaikan ekspor (Sekretariat ASEAN). Hal ini telah mengakibatkan defisit neraca perdagangan Indonesia ke Intra-ASEAN secara signifikan bertambah dari US$ 1,5 juta di tahun 2007, menjadi US$ 13,8 juta pada tahun 2008. Nilai impor dari Singapura selama periode 2004-2008 mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dari US$ 6 juta pada tahun 2004 menjadi US$ 21,8 juta pada tahun 2008 (lebih dari 300%). Peningkatan impor yang sangat menyolok terjadi pada tahun 2008 yaitu dari US$ 9,8 juta pada tahun 2007 menjadi US$ 21,8 juta pada tahun 2008 (naik hampir 300%). Demikian halnya dengan impor dari Malaysia, naik lebih dari 500%, dari US$ 1,7 juta pada tahun 2004, naik menjadi US$ 8,9 juta pada tahun 2008. Impor dari Thailand meningkat dari US$ 2,7 juta tahun 2004 menjadi US$ 6,3 juta, naik lebih dari 200%. B. Rekomendasi kepada Pemerintah Berdasarkan fakta bahwa kinerja perdagangan internasional kita yang masih lemah dibandingkan dengan negara anggotaASEAN lainya, maka pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang strategis untuk menngkatkan daya saing kinerja perdagangan internasional kita. Rekomendasi tersebut antara lain: 1. Pemerintah hendaknya memberikan infrastuktur yang handal dalam rangka memciptakan efisiensi dan efektifitas proses produksi produkproduk Indonesia. 2. Melakukan reformasi birokrasi yang cepat dan tanggap akan kemajuan dan tren perdagangan kedepan. Misalnya salah satu reformasi birokrasi administrasi yang dilakukan pemerintah adalah segera

memberlakukanya

program

(NSW)

National

Single

Window

secepatnya pada Pelayanan dokumen ekspor-impor, karena pada tahun 2015 sesuai kesepakatan ASEAN II di Bali, Negara-negara ASEAN sudah harus menerapkan (ASW) ASEAN Single Window sebagai administrasi tunggal sistem perdagangan internasional. Gambar.I Tahap Perencanaan Implemntasai Indonesia NSW menuju ASW

Sumber: Tim Persiapan NSW 2007 3. Pemerintah juga harus memberikan fasilitasi pendampingan baik dari sisi modal, subsidi, dan bantuan pameran luar negeri untuk memperkenalkan ASEAN. 4. Melakukan kebijakan perpajakan yang bersahabat dengan dunia usaha, memciptakan kepastian peraturan dan memberantas pungli (pungtan liar) diberbagai lini pemerintahan. hasil komoditi Indonesia pada negara-negara

C. Rekomendasi kepada Pelaku Bisnis Dalam rangka memciptakan daya saing yang handal dan dapat memanfaatkan peluang perdagangan yang ada akibat perdagangan bebas di kawasan ASEAN, maka para pelaku bisnis di Indonesia harus aktif dan kritis terhadap pemerintah atas kelambanan fasilitasi dan kepastian hukum yang memihak pada pengusaha. Jaminan kepastian hukum, bebas pungutan liar dan infrastruktur yang memadai merupakan magnet penggerak investasi dan perdagangan. Peran harus dijalankan oleh para pekalu usaha agar mendapatkan pelayanan prima dari pemerintah adalah: 1. Para pelaku usaha di indonesia harus membentuk Asisiasi para pelaku perdagangan itu sendiri, agar kebutuhan dan perhatian yang diminta dapat didengar dan dapat memiliki Bargaining position yang kuat. 2. Bagi industri perdagangan yang sudah memiliki asosiasi, hendaknya mengoptimalkan peran dan fungsi asosiasi sebagai lembaga untuk menyalurkan aspirasi kepada pemerintah. Misal Asosiasai Perusahaan Mebel dan Handicraf Indonesia (ASMINDO) harus pro aktif berkomunikasi dengan pemerintah dalam rangka saling memperkuat daya saing. 3. Para pelaku bisnis sekarang dengan dibukanya kran arus

perdagangan dan arus permodalam dalam kawasan ASEAN secara terbuka dan prinsip perdagangan bebas, maka memiliki peluang yang lebih luas untuk menentuka lokasi produksinya, sehingga kalo di Indonesia kurang mendapatkan kepastian hukum dan memiliki resiko usaha yang tinggi, dapat memilih berproduksi negara-negara ASEAN yang lain. Hal ini penting dilakukan untuk memberikan pelajaran bagi pemerintah Indonesia yang tidak tanggap peluang perdagangan bebas ini.