Anda di halaman 1dari 5

Waktu Istirahat Bersalin sebagai Hak dan Kewajiban Oleh: Fajar Cahyanto - 0906558155

Pendahuluan Kasus meninggalnya seorang buruh wanita sebuah pabrik pengolahan kayu berkaitan dengan keadaan hamilnya menunjukkan bahwa belum terdapat perlindungan yang cukup khususnya dari Pasal 82 ayat (1) Undangundang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Berdasarkan perdebatan yang terjadi antara pihak keluarga Almarhumah dengan pihak perusahaan, menunjukkan bahwa Pasal 82 ayat (1) UU 13 Tahun 2003 tersebut masih mengandung sifat multi-tafsir yang kemudian menjadikannya tidak secara efektif berlaku. Berkaitan dengan ketidakefektifan tersebut, maka perlu dilakukan koreksi.

Permasalahan 1. Mengapa Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tidak efektif? 2. Bagaimana pemahaman atas Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 agar berlaku efektif?

Pembahasan Tidak Efektif Berdasarkan kasus dapatlah diketahui bahwa terjadi perdebatan antara pihak keluarga Almarhumah Juleha (AJ) dengan pihak perusahaan berkaitan dengan waktu istirahat.

Pihak keluarga menyatakan bahwa, ketika usia kandungan masih mencapai 8 bulan, AJ mengajukan permohonan cuti, namun ditolak oleh perusahaan dan bahwa diminta untuk mengundurkan diri. Sehubungan dengan kejadian tersebut, maka AJ mengurungkan niatnya untuk mengambil cuti dan tetap bekerja walaupun dalam keadaan hamil tua. Berdasarkan versi ini, dapat diketahui bahwa secara terpaksa AJ tidak mengambil haknya karena adanya ancaman dari perusahaan yaitu agar AJ mengundurkan diri. Di sisi lain, pihak perusahaan menyatakan bahwa dalam keadaan hamil tua, walaupun telah disarankan, AJ tidak mengambil haknya untuk cuti dengan alasan masih kuat. Berdasarkan versi ini, digambarkan bahwa kesalahan ada pada AJ sendiri yang tidak mengambil hak cuti walaupun telah disarankan. Penekanan dapat diambil dari kedua versi tersebut diatas adalah berkaitan dengan Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 bahwa waktu istirahat sebagaimana dimaksudkan dalam pasal tersebut adalah sebuah hak, yang artinya bersifat fakultatif apakah akan digunakan atau tidak digunakan oleh si pemilik hak. Dalam kaitan dengan efektifitas perlindungan, maka sesungguhnya terhadap Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 ini, si pemilik hak cuti dapat memilih apakah ia ingin dilindungi atau tidak. Keadaan dimana pemilik hak tersebut memilih untuk tidak dilindungi, baik secara sukarela1 maupun secara terpaksa2, menunjukkan bahwa Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tidak secara efektif bersifat melindungi.

misalnya karena motif moral seperti balas budi, segan, dll.

secara implisit atau menggunakan persetujuan diam-diam, misalnya dengan cara

tidak melakukan perlawanan maupun menempuh jalur hukum apapun berkaitan dengan paksaan.

Pemahaman Waktu Istirahat Bersalin sebagai Hak dan Kewajiban Sebagaimana dijelaskan oleh Iman Soepomo, waktu istirahat

merupakan perlindungan yang tercakup dalam materi Kesehatan Kerja3. Berkaitan dengan kehamilan, di Indonesia saat ini perlindungan diberikan dalam bentuk hak cuti melalui Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003. Hal ini dapat berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan yang ringan, yang tidak memerlukan usaha fisik dan mental yang keras. Dalam artian lain, pekerjaan tersebut tidak berbahaya bagi ibu hamil. Jika pekerjaan tersebut memang tidak berbahaya, maka waktu istirahat dapat dibenarkan untuk dipahami sebagai hak dalam rangka Kesehatan Kerja. Pasal 3 ayat (1) Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja menyatakan salah satu syarat Keselamatan Kerja adalah mencegah dan mengurangi kecelakaan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa terdapat syarat atau merupakan suatu hal yang wajib bahwa buruh harus dijauhkan dari bahaya kecelakan. Berkaitan dengan Keamanan Kerja, Iman Soepomo menjelaskan bahwa Keamanan Kerja adalah aturan yang bertujuan menjaga keamanan buruh atas bahaya kecelakaan dalam menjalankan pekerjaan di tempat kerja yang menggunakan alat/mesin dan atau bahan pengolah berbahaya 4. Dari definisi tersebut, maka dapat dipahami bahwa kewajiban penghindaran bahaya merupakan cakupan Keamanan Kerja. Hal yang kemudian perlu dicermati adalah, ibu hamil merupakan pekerja yang sangat rentan terhadap bahaya, bahkan jika sebenarnya suatu bahaya tersebut tidak bersifat berbahaya bagi orang yang tidak hamil. Bagi seorang ibu hamil, suatu pekerjaan dapat memiliki sifat berbahaya baginya
3

A. Uwiyono et al., Bahan Kuliah Hukum Perburuhan (Depok: s.n., 2007), hal 65.

Ibid., hal 80.

sehingga yang menjadi bahaya bagi ibu hamil tersebut adalah pekerjaan itu sendiri karena unsur-unsur yang tidak dapat terlepas dari pekerjaan itu5. Sehubungan dengan pekerjaan yang memiliki sifat berbahaya bagi ibu hamil, maka waktu istirahat harus dipahami sebagai sebuah kewajiban dalam rangka Keamanan Kerja. Kedua pemahaman yang berbeda ini tidak diakomodasi oleh Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 sehingga terhadapnya perlu dilakukan perbaikan.

Pembahasan Kasus Pada kasus, baik pihak keluarga AJ maupun pihak perusahaan, telah secara lalai tidak melihat waktu istirahat bagi ibu hamil sebagai suatu kewajiban, padahal sudah sewajarnya mereka mengetahui bahwa pekerjaan sebagai buruh pabrik pengolahan kayu sangat membahayakan perempuan, terlebih seorang ibu hamil. Lebih lanjut, kelalaian ini secara teoretis dibebankan kepada pihak pengusaha sesuai dengan Teori Ketidakseimbangan Kompensasi bahwa hukum akan memberi hak yang lebih banyak kepada pihak yang lemah (penerima kerja) daripada pihak yang kuat (pemberi kerja)6. Dalam artian lain, hukum memberi kewajiban yang lebih banyak kepada pihak yang kuat (pemberi kerja) daripada pihak yang lemah (penerima kerja). Dengan demikian, kewajiban atas pemberian waktu istirahat merupakan

Misalnya pekerjaan mengangkat batu, terdapat unsur angkat yang jika dilepaskan,

maka pekerjaan mengangkat batu tidak lagi merupakan mengangkat batu.


6

Uwiyono, op.cit., hal 62.

tangggungjawab pengusaha dan kelalaian atas hal tersebut juga harus dibebankan kepada pengusaha.

Kesimpulan Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tidak efektif karena tidak dapat sepenuhnya melindungi. Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 hanya mengakomodasi waktu istirahat yang dapat dipahami sebagai hak dalam rangka Kesehatan Kerja, namun tidak mengakomodasi waktu istirahat yang harus dipahami sebagai kewajiban dalam rangka Keamanan Kerja. Untuk itu, Pasal 82 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 perlu diperbaiki.

TINJAUAN PUSTAKA Uwiyono, A. et al. Bahan Kuliah Hukum Perburuhan. Depok: s.n., 2007.