Anda di halaman 1dari 3

Arief Fadliansyah, 0906488621 Teknik Sipil

Proposing a VM Approach for the Design-Bid-Build Procurement Method in the Saudi Public Sector
Mohammed Auda Alashikh, MSc, AVS, PMP & Steven Male, Ph.D.
VM (Value Management) diadopsi dari Saudi Public Sector (SPS) sekitar tahun 1980-an. VM digunakan di SPS selama masa ketika dan setelah desain. Dan VM merupakan metodologi yang kuat jika diintegrasikan dengan manajemen proyek dan dikombinasikan dengan proyek itu sendiri. Keberhasilan yang dicapai oleh Value Management (VM) di AS mendorong negara-negara lain untuk mengadopsi itu. pendekatan untuk VM harus mempertimbangkan perbedaan budaya, yang dapat timbul antara organisasi yang berbeda, di sektor-sektor operasi atau negara. Sebagai contoh: beberapa negara seperti Inggris dan Australia, membuat perubahan yang mendasar dari Value Management (VM) untuk menyocokan dengan situasi dan budaya di negaranya. Cina dan Jepang pun membuat beberapa modifikasi untuk menyocokan dengan situasi dan budaya negaranya. Ada beberapa sistem pengadaan Value Management (VM), yakni :

1. Project Value Chain (PVC)

Konsep ini dikembangkan oleh Porter (1985) sebagai sebuah alat untuk mendiagnosis keunggulan dari enjineer. Porter memperkenalkan value chain sebagai cara sistematis untuk memeriksa semua kegiatan dijalankan oleh perusahaan dan bagaimana mereka berinteraksi dalam rangka untuk menganalisis sumber keunggulan kompetitif.

2. The Traditional Procurement System Influence on PVC Fitur utama dari sistem pengadaan semacam ini adalah bahwa ada pemisahan antara desain dan konstruksi. Klien memberikan seorang konsultan untuk mempersiapkan rancangan proyek dan dokumentasi tender. Tahap berikutnya adalah mengundang tender kompetitif untuk memperkenalkan tawaran dan kontraktor yang dipilih menggunakan pandangan yang seimbang tentang resiko dan biaya. Umumnya akuntibilitas dan pengawasan memiliki prioritas di sector public organisasi-organisasi. Oleh karena itu, The Traditional Procurement System Influence on PVC digunakan dalam SPS.

3. VM Interventions Bagian pertama menggambarkan pentingnya mendefinisikan jelas nilai sistem klien dan menjaganya agar tetap selaras dengan seluruh siklus hidup proyek, dalam rangka mewujudkan kepuasan klien. Bagian kedua mengungkapkan bahwa pengadaan sistem yang paling mengganggu rantai nilai proyek adalah salah satu tradisional, yang digunakan dalam SPS, karena memisahkan desain dari proses konstruksi. Namun, strategi pengadaan memiliki efek pada memutuskan jumlah dan tahap studi VM, dalam rangka untuk melindungi rantai nilai proyek dan menjaganya agar tetap utuh dari fase strategis untuk tahap operasional.

4. Conceptualised Approach Characteristics VM adalah metodologi yang kuat yang dapat digunakan pada tahap awal untuk penataan masalah, mendapatkan konsensus tentang tujuan proyek dan memahami kebutuhan klien dan sistem nilai. Selain itu, ini menekankan bahwa VM di Arab Saudi dilakukan dengan menggunakan tim eksternal pada tahap skematik atau

lambat untuk mengoptimalkan desain proyek, dalam rangka untuk mengurangi biaya proyek tanpa mengorbankan kualitas dan fungsionalitas proyek. Namun, mempekerjakan tim eksternal untuk melakukan studi VM menyebabkan sikap yang berlawanan antara tim desain dan tim VM. Oleh karena itu, karena posisi berlawanan, tim desain mungkin akan menolak perubahan dan menggambarkan kesan buruk tentang VM untuk sponsor proyek, untuk menghindari karya desain ulang yang disebabkan oleh proposal VM.

Sistem Value Management (VM) yang pertama kali digunakan di Arab Saudi, dapat berubah di negara-negara tertentu, tergantung dari situasi dan budaya yang berkembang di negara tersebut. Ada beberapa sistem pengadaan Value Management (VM), yakni: 1. Project Value Chain (PVC) 2. The Traditional Procurement System Influence on PVC 3. VM Interventions 4. Conceptualised Approach Characteristics Dengan jurnal ini, dapat meningkatkan pemahaman kita dengan membandingkan peluang invertensi antara pendekatan VM dan pengembangan yang sesuai pendekatan VM agar sesuai dengan rute pengadaan tradisional yang digunakan dalam SPS. Hal ini juga memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dengan konsep langkah-langkah nilai, yang membantu untuk mencapai klien kepuasan.

Sumber : VALUE WORLD, Volume 33, Number 3, Fall 2010