Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Meningitis bakterialis merupakan infeksi selaput otak disebabkan infeksi bakteri. Penyebab utama dari Meningitis Bakterialis adalah Haemophilus influenzae dan Streptococcus pneumoniae. Setelah adanya vaksin Hib, terlihat penurunan jumlah kasus Meningitis Bakterial yang disebabkan Hib. Penyebab tersering saat ini adalah adalah Streptococcus pneumoniae atau yang dikenal sebagai Pneumococcus (47%), dan beberapa bakteri lain. Sebagian besar bakteri penyebab Meningitis Bakterial hidup di dalam tenggorok atau amandel orang yang tidak sakit. Bila terjadi kerusakan selaput lendir tenggorok, misalnya mengalami infeksi virus, bakteri dapat masuk ke dalam darah, masuk ke paru menyebabkan radang paru, atau lanjut mencapai selaput otak. Sebagai mekanisme pertahanan tubuh, di otak dan selaput otak terjadi reaksi peradangan dengan pembentukan sel-sel radang. Bakteri bersama sel-sel radang ini menyebabkan kerusakan pada otak, yang sering berakhir dengan kematian. Meningitis bakterialis akut masih merupakan penyebab penting mortalitas dan morbiditas anak di seluruh dunia. Di negara maju, terdapat 2 perubahan dalam epidemiologi meningitis bakterialis. Yang pertama adalah bakteri Haemophilus influenzae tipe B yang merupakan penyebab dari 70% kasus meningitis bakterialis pada anak <5 tahun telah tereradikasi dengan adanya vaksin yang dihasilkan. Yang kedua, munculnya bakteri Streptococcus pneumoniae yang resisten penicillin dan cephalosporin. Di Amerika Serikat, meningitis bakteri mempengaruhi sekitar 3 dalam 100.000 orang setiap tahun, dan meningitis virus mempengaruhi sekitar 10 di 100.000. Pada tahun 1996 di Afrika terjadi wabah meningitis dimana 250.000 orang menderita penyakit ini dengan 25.000 korban jiwa. Di Eropa, penyebab

terbesar meningitis adalah bakteri N. Meningitides groups B dan C, sedangkan group A meningococci lebih sering terjadi di Cina dan para peziarah Haji. Di Indonesia, pada tahun 1987, tercatat 99 jamaah haji Indonesia yang meninggal akibat meningitis. Sementara sejak periode 1998-2005 tidak ada lagi dilaporkan jamaah haji yang meninggal, setelah penggunaan vaksin. Sebagian besar (sekitar 70%) kasus meningitis terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 atau pada orang yang berusia di atas 60.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang di maksud dengan Meningitis ? 2. Klasifikasi dari Meningitis ? 3. Bagaimana manifestasi Klinis Menigitis ? 4. Apa saja komplikasi dari meningitis ? 5. Bagaimana penatalaksanaan meningitis bakteri ? 6. Bagaimana ASKEP Meningitis?

C. Tujuan 1. Mengetahui pengertian dari penyakit Meningitis. 2. Mengetahui Klasifikasi Meningitis. 3. Mengetahui tanda dan gejala dari penyakit Meningitis. 4. Mengetahui tentang Manifestasi klinis penyakit Meningitis. 5. Mengetahui tentang komplikasi dari penyakit meningitis 6. Mengetahui tentang Asuhan keperawatan yang tepat pada penyakit Meningitis.

D. Manfaat 1. Memberikan informasi kepada perawat untuk melakukan penatalaksanaan dini secara tepat serta pencegahan yang efisien terhadap penyakit Meningitis.

2. Memberikan pengetahuan tentang tanda dan gejala penyakit Meningitis sehingga membantu mengurangi angka kematian akibat penyakit Meningitis.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. MENINGITIS 1. Deskripsi Secara anatomi meningen menyelimuti otak dan medulla spinalis. Selaput otak terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu dura meater, arakhnoid, dan pia mater. Dura mater terdiri atas lapisan yang berfungsi kecuali di dalam otak tengkorak, dimana lapisan terluarnya melekat pada tulang dan terdapat sinus venosus. Falks serebri adalah lapisan vertical dura mater yang memisahkan kedua hemisfer serebri pada garis tengah. Tentorium cerebri adalah ruang horizontal dari dura mater yang memisahkan lobus oksipitalis dari serebellum. Arakhnoid merupakan membran lembut yang bersatu di tempatnya dengan pia meter, di antaranya terdapat ruang subarakhnoid di mana terdapat arteri dan vena serebri dan dipenuhi oleh cairan serebrospinal. Sisterna magna adalah bagian terbesar dari ruang subarakhnoid di sebelah belakang otak belakang, memenuhi celah di antara serebellum dan medula oblongata. Pia meter merupakan membran halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang menyuplai darah ke otak dalam jumlah yang banayak. Pia meter adalah lapisan yang langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medula spinalis. Secara ringkas pengertian dari meningitis adalah radang pada

meningen/membran (selaput) yang mengelilingi otak dan medula spinaslis, biasanya disebabkan oleh invasi bakteri dan hanya sedikit oleh virus. Meningitis pada anak memiliki prognosis yang berbeda beda, bergantung pada usia anak, organism, dan respon anak terhadap terapi. Meningitis bakteri menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan segera.

Kebanyakan kasus meningitis anak terjadi antara usia 1 bulan dan 5 tahun. Bayi dibawah usia 12 bulan paling rentan terhadap meningitis bakteri.

2. Gambaran klinis a. Gejala peningkatan tekanan intracranial dapat terjadi pada meningitis dan ensefalitis, berupa sakit kepala, penurunan kesadaran, dan muntah. Pailadema (pembengkakan pada area di sekitar saraf optikus) dapat terjadi pada khasus yang berat. b. Demam akibat akibat infeksi biasa terjadi pada meningitis dan ensefalitis. c. Fotofobia (respon nyeri terhadap cahaya) akibat iritasi saraf cranial sering menyertai meningitis d. Ketidakmampuan menekukan dagu ke dada tanpa nyeri (kaku kuduk) terjadi pada meningitis akibat iritasi syaraf spinal.

3. Penyebab Penyebab dari meningitis meliputi : a. Bakteri Bakteri piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama meningokokus, pneumokokus, dan basil influenza.

Meningitis yang di sebabkan karena bakteri disebut juga meningitis bacterial. Meningitis bakterial adalah suatu keadaan ketika meningens atau selaput dari otak mengalami peradangan akibat bakteri. Sampai saat ini, bentuk paling signifikan dari meningitis adalah tipe bakterial. Bakteri paling sering dijumpai pada meningitis bakteri akut, yaitu : Neiserria Meningitidis (meningitis meningokokus),

Streptococcus pneumoniae (pada dewasa), Haemophilus influenzae (pada anak-anak dewasa muda)

E.coli, Streptococcus grup B, dan Listeria monocytogenes merupakan organism yang paling sering menyebabkan

meningitis pada neonates. Haemophilus influenza, Neisseria meningitides dan Diplococcus pneumonia merupaka organisme yang paling umum

menyebabkan meningitis pada bayi dan anak-anak. Namun, vaksin Hib mampu menurunkan insidensi meningitis H. influenza. Oraganisme penyebab lainnya adalah Streptococcus -

hemolitikus, dan Staphylococcus aureus.

Organisme ini menyebabkan sekitar 75% kasus meningitis bakteri. Bentuk penularannya melalui kontak langsung, yang mencakup droplet dan sekret dari hidung dan tenggorok yang membawa kuman (paling sering) atau infeksi dari orang lain. Akibatnya, banyak yang tidak berkembang menjadi infeksi tetapi menjadi pembawa (carrier). Insiden tertinggi pada meningitis disebabkan oleh bakteri gram negatif yang terjadi pada lansia sama seperti pada seorang yang menjalani bedah saraf atau seseorang yang mengalami gangguan respon imun.

b. Virus Disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi. Meningitis yang disebabkan karena virus disebut juga meningitis virus atau sering disebut meningitis aseptis. Tipe ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan virus seperti gondok, herpes simplek, dan herpes zooster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Perandangan terjadi pada seluruh korteks serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respons

dari jaringan otak terhadap virus bervariasi bergantung pada jenis sel yang terlibat. Misalnya Meningitis virus (disebabkan oleh virus coxsackie, virus echo, atau gondong) merupaka penyakit yang dapat sembuh sendiri dan berlangsung antara 7 sampai 10 hari.

c. Organisme jamur Disebut meningitis jamur atau Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.

4. Klasifikasi Meningitis diklasifikasikan sesuai dengan faktor penyebabnya : a. Asepsis Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah di ruang subarakhnoid. b. Sepsis Meningitis sepsis menunjukan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, satfilokokus, atau basilus influenza c. Tuberkolosa Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basilus tuberkel.

Infeksi meningan umumnya dihubungkan dengan satu atau dua jalan, yaitu melalui salah satu aliran darah sebagai konsekuensi dari infeksi infeksi bagian

lain, seperti selulitis, atau melalui penekanan langsung seperti didapat setelah cedera traumatik tulang wajah. Dalam jumlah kecil pada beberapa kasus merupakan iatrogenik atau hasil sekunder prosedur invasif (seperti lumbal pungsi) atau alat-alat invasif (seperti alat pemantau TIK).

5. Patofisiologi Pada kasus kali ini, kelompok kami membahas lebih lanjut mengenai meningitis bakterial. Berikut merupakan patofisiologinya. Kuman-kuman masuk ke dalam susunan saraf pusat secara hematogen atau menyebar dari kelainan di nasofaring, paru-paru (pneumonia, bronkopneumonia), dan jantung (endokarditis). Selain itu juga bisa berlangsung melalui peradangan organ atau jaringan di dekat selaput otak misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis dan thrombosis sinus karvenosus. Pathogen bertindak sebagai toksin, menimbulkan respon inflamasi meningeal dan pelepasan eksudat purulen. Kongesti vascular dan inflamasi menyebabkan edema serebral, yang dapat meningkatkan tekanan intracranial (TIK). Nekrosis sel-sel otak dapat menyebabkan kerusakan permanen dan kematian. Invasi kuman-kuman (meningokok, pneumokok, hemofilus influenza, streptokok) ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS dan sistem ventrikulus. Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi: dalam waktu singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang subaraknoid, kemudian terbentuk eksudat. Infeksi menyebar dengan cepat melalui eksudat. Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua sel-sel plasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan, bagian luar mengandung

leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan dibagian dalam terdapat makrofag. Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat menyebabkan thrombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi

neuron-neuron. Dengan demikian meningitis bakterial dapat dianggap sebagai ensefalitis superficial. Thrombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen menyebabkan kelainan nervi kranialis (Nn.III, IV, VI, VII, dan VIII). Organisasi di ruang subaraknoid superficial dapat menghambat aliran dan absorpsi CSS, sehingga mengakibatkan hidrosefalus komunikans. Kongesti vascular dan inflamasi juga menyebabkan edema serebral, yang dapat meningkatkan tekanan intracranial (TIK). Nekrosis sel-sel otak dapat menyebabkan kerusakan permanen dan kematian. Meningitis meningokokus dapat mengakibatkan sepsis meningokokus. Jika keadaannya parah, mendadak, dan fulminanas, disebut sebagai syndrome Waterhouse-Friderichen yang disertai karakteristik koagulasi intravascular desiminata (DIC, disseminated intravascular coagulation), perdarahan massif adrenal b bilateral, dan purpura. Angka mortalitas yang tinggi hampir 90%.

6. Diagnosis Adanya gejala-gejala seperti panas yang mendadak dan tak dapat diterangkan sebabnya, letargi, muntah, kejang dan lain-lainnya, harus diperkirakan kemungkinan meningitis. Diagnosis pasti ialah dengan pemeriksaan CSS melalui pungsi lumbal. Pada setiap penderita dengan iritasi meningeal, apalagi yang berlangsung beberapa hari atau dengan gejala-gejala kemungkinan meningitis atau penderita dengan panas yang tak diketahui sebabnya, harus dilakukan pungsi lumbal. Kadang-kadang pada pungsi lumbal pertama tak didapatkan kelainan apapun. Keadaan demikian ini dapat dijumpai pada penderita yang sebelumnya telah mendapat pengobatan antibiotika, tetapi pada pembiakan ternyata ada bakteri. Walaupun pungsi lumbal merupakan factor resiko untuk terjadinya meningitis, untuk kepentingan diagnosis cara ini mutlak dilakukan. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis meningitis yaitu a. Imunodiagnostik

Pemeriksaan counter imunoelectrophoresis dari CSS dilakukan untuk menentukan antigen kuman di dalam CSS misalnya meningokokus, Hemofilus influenza dan Eschericia coli. Dilakukan pemeriksaan urin apabila pemeriksaan CSS dan darah negative. Tes ini dapat menentukan Neiseria meningitides, Hemofilus influenza, dan Streptococus

pneumonia dengan cepat dan jarang member hasil false positif . b. Pneumo-angiografi Perubahan-perubahan darah disebabkan oleh radang pada pembuluh darah, spasme dan tekanan intracranial yang meninggi. Dapat terjadi pentempitan arteri, penyumbatan aliran retrograde atau aliran darah menjadi pelan sekali. c. Foto polos tengkorak Pemeriksaan ini dapat menentukan fraktur tulang tengkorak dan infeksi sinus-sinus paranasales, sebagai penyebab atau factor resiko meningitis. d. Foto dada Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan adanya pneumonia, abses paru, proses spesifik, dan massa tumor. e. Pemeriksaan EEG Pada EEG dapat dijumpai gelombang lambat yang difus di kedua hemisfer, penurunan voltase karena efusi subdural atau aktivitas delta fokal bila terdapat bersamaan dengan abses otak. f. CT Scan dan MRI Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui adanya edema otak, ventrikulitis, hidrosefalus, dan massa tumor. g. Pemeriksaan lainnya Tes tuberculin dilakukan untuk menentukan adanya proses spesifik. Pemeriksaan elektrolit perlu dilakukan pada meningitis bakterial karena da[at terjadi dehidrasi dan hiponatremia terutama dalam 48-72 jam

10

pertama. Pemeriksaan darah tepi juga untuk menghitung jumlah leukosiy dan memperoleh gambaran hitung jenis.

7. Komplikasi Komplikasi yang dapat muncul antara lain : a. Hidrosefalus obstruktif b. Thrombus pada vena c. Meningeal atau sinus vena d. Abses otak e. Ketulian, kebutaan f. Paralisis

8. Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan farmakologi Obat anti inflamasi : Meningitis tuberkulosa : a) Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari

maksimal 500 gr selama 1 tahun. b) Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari selama 1 tahun. c) Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 2 kali sehari, selama 3 bulan. Meningitis bacterial, umur < 2 bulan : a) Sefalosporin generasi ke 3 b) ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali sehari. c) Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari. Meningitis bacterial, umur > 2 bulan : a) Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.

11

b) Sefalosforin generasi ke 3.

Pengobatan simtomatis : Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 0.6/mg/kg/dosis kemudian klien dilanjutkan dengan Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari. Turunkan panas : mg/kg/dosis). Antipiretika ( parasetamol atau salisilat 10

Pengobatan suportif : Cairan intravena. Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 50%.

b. Penatalaksanaan Keperawatan Lakukan pengkajian keperawatan dengan cermat untuk memantau karakteristik klinis tahap awal penyakit. Pantau suhu dan tanda vital sesering mungkin Pantau asupan dan haluaran serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Anak-anak dengan penurunan kesadaran sebaiknya dipuasakan (NPO); sedangkan yang lainnya diperbolehkan menerima cairan dan diet secara progesif jika dapat ditoleransi. Asupan cairan dapat tetap dibatasi sebanyak dua per tiga dari asupan normal untuk mencegah edema cerebral. Kelebihan cairan dihindari untuk menghindari terjadinya SIADH (Syndrome of inappropriate diuretic hormone) Periksa fungsi neurolpgik dan pantau tingkat kesadaran Ukur ligkar kepala untuk pemantauan efusi subdural dan hidrosefalus obstruktif, yang dapat berkembang sebagai komplikasi. Kaji adanya tanda-tanda peningkatan TIK.
12

Berikan obat-obatan sesuai indikasi, seperti antibiotic, steroid (untuk menurunkan edema cerebral), dan antikonsulvan, Obat antivirus diberikan untuk ensefalitis. Berikan intervensi penunjang, termasuk tindakan mempertahankan kestabilan suhu tubuh.

Cegah penyebaran infeksi kepada orang lain. Lakukan prosedur isolasi untuk tindakan pencegahan pernapasan selama 24 sampai 48 jam setelah dimulainya pemberian antibiotic.

Jaga

ketenangan

ruangan

untuk

menurunkan

stimulus

dari

lingkungan.

13

BAB III ISI

A. KASUS An. Y, perempuan, umur 1 tahun 9 bulan, datang dengan keluhan pasien tidur terus, hanya bangun jika dibangunkan dengan keras sejak 3 hari SMRS. Sebelumnya, pasien batuk dan pilek sejak 10 hari SMRS. Batuk yang

dikeluhkan berlendir, pilek berwarna coklat keputihan. Saat di RSDM, batuk dan pilek sudah tidak didapatkan. Selain itu, pasien juga panas tinggi sejak 7 hari SMRS. Panas turun jika diberi obat penurun panas, namun panas tinggi lagi sampai pasien kejang. Kejang seluruh tubuh, saat kejang pasien sadar, kejang terjadi 30 menit, hingga pasien dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke RS PKU. Panas tidak turun dengan obat penurun panas, pasien mulai tidur terus, dan tidak ada perkembangan sehingga dirujuk ke RSDM. menurun. BAK dan BAB seperti biasa. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak lemah, somnolen, dan gizi terkesan kurang. Denyut nadi 125x/menit, RR= 42x/menit, suhu 39oC. Pemeriksaan neurologis didapatkan kaku kuduk (+), reflek patologis (-), refleks fisiologis (+) normal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10,1gr/d1; Hct 31,2 vol %; AE 4,22 x 106/ L; AL 5,8x103/L; AT 413.103/uL; Golongan darah A. Pemeriksaan abdomen nyeri tekan (+) epigastrium dan hipochondriaca kanan, hepar dan lien tidak teraba, CRT < 2, arteri dorsalis pedis teraba kuat. Hasil pemeriksaan cairan otak didapatkan tes Pandy (+), glukosa (+), jumlah sel meningkat, dan hitung jenis sel PMN dominan. Hal ini mendukung diagnosis meningitis bakteri. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien pada kasus ini didiagnosis meningitis bacterial. Pasien diberi terapi untuk Nafsu makan dan minum

14

mencegah kejang berulang, mengatasi meningitis bakteri, mengatasi masalah gizi, serta monitoring KUVS per 8 jam untuk memantau perkembangan pasien.

B. PENGKAJIAN 1. Identitas Pasien a. Nama b. Usia c. Jenis kelamin : An. Y : 1 tahun 9 bulan : perempuan

2. Pola penatalaksanaan kesehatan / persepsi sehat a. Hal-hal yang harus dikaji antara lain: Status kesehatan, status promosi dan praktek pencegahan kesehatan, persepsi pengobatan atau perawatan, follow up perawatan Keamanan / proteksi : bahaya lingkungan, sumber-sumber yg potensial menimbulkan cidera fisik, terpapar dengan penyakit menular dan pathogen, alergi, daya tahan tubuh dan respon terhadap pathogen Tumbuh kembang : Kepantasan perkembangan fisik, psikososial, dan moral (misal : erikson, piaget, kohlbreg), dalam berbagai area

b. Informasi yang dapat digali dari pasien: Deskipsi pasien tentang status kesehatan umum Riwayat sakit yangg lalu, operasi, dirawat di rumah sakit Perubahan status kesehatan dalam kurun waktu tertentu Aktivitas pencegahan penyakit Intervensi terapeutik saat ini Persepsi penyebab sakit saat ini dan upaya yg dilakukan Apakah upaya yang dilakukan saat ini dapat membantu Penggunaan alcohol, tembakau, dan obat-obatan Riwayat penyakit keluarga
15

Pediatric umur kehamilan saat lahir, APGAR score, kepatuhan terhadap perawatan anak Kemungkinan terpapar penyakit menular dan pathogen( tranfusi darah, gigitan binatang / serangga, terpapar dengan orang terinfeksi ) Riwayat alergi, penyakit menular, imunisasi Hasil laborat : WBC, culture, sensitivitas, HIV, sicklecell screen Lingkungan aman untuk anak, imunisasi lengkap Pencapaian tugas perkembangan sesuai usia

c. Gejala pada kasus: Batuk dan pilek sejak 10 hari SMRS Batuk yang dikeluhkan berlendir, pilek berwarna coklat keputihan Panas tinggi sejak 7 hari SMRS Panas turun jika diberi obat penurun panas, namun panas tinggi lagi sampai pasien kejang Pasien dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke RS PKU Panas tidak turun dengan obat penurun panas Nyeri tekan pada epigastrium dan hipochondriaca kanan Hepar dan lien tidak teraba 3. Pola nutrisi metabolic a. Hal-hal yang perlu dikaji: Konsumsi Makanandan cairan tipe dankuantitas, darimakanan dan cairan, jenis makanan, waktumakan, diet khusus Status cairan, kulit, integritas jaringan dan thermoregulasi

b. Informasi yang bisa digali dari pasien: Tipe intake makan dan minum sehari-hari Intake makanan dan minuman terakhir

16

Pembatasan diit atau tipe makanan yang diresepkan Penggunaan suplemen, vitamin, makanan energi, tubefeeding Nafsu makan, hilang atau berubah Kesulitan menelan, mengunyah, mencerna Penggunaan alat bantu nutrisi Riwayat personal / keluarga Hasil lab ; HCT, Hb, level thyroid, gula darah, kimia darah, level kolesterol, urinalisis (BJ, protein, glukosa, keton) Perubahan BB

c. Gejala yang timbul pada kasus: Nafsu makan dan minum menurun Gizi terkesan kurang

4. Pola eliminasi a. Hal-hal yang perlu dikaji: Pola BAB dan BAK Fungsi ekskresi kulit Penggunaan alat atau obat-obatan untuk eliminasi

b. Informasi yang bisa digali dari pasien: Frekwensi dan karakter BAB dan BAK Alat Bantu ekskratory, misal : colostomy,ureterostomy Derajat berkeringat Hasil lab termasuk : urinalisis, feses, rutin, kultur feses, test fungsi ginjal, test fungsi liver Catat adanya kelainan, mual, konstipasi, hemoroid, sering kencing, stress Catat penggunaan popok atau rutinitas toileting

17

c. Gejala yang timbul pada kasus: BAK dan BAB seperti biasa 5. Pola aktivitas latihan a. Hal-hal yang perlu dikaji: Pola aktivitas, latihan dan rekreasi Kemampuan untuk mengusahakan aktivitas sehari-hari (merawat diri, bekerja, dll)

b. Informasi yang bisa digali dari pasien: Frekwensi dan karakter BAB dan BAK Alat Bantu ekskratory, misal : colostomy, ureterostomy Derajat berkeringat Hasil lab termasuk : urinalisis, feses, rutin, kultur feses, test fungsi ginjal, test fungsi liver Catat adanya kelainan, mual, konstipasi, hemoroid, sering kencing, stress Catat penggunaan popok atau rutinitas toileting

c. Gejala yang timbul pada kasus: pasien tampak lemah

6. Pola tidur dan istirahat a. Hal-hal yang perlu dikaji: Pola tidur, kualitas tidur dan kuantitas tidur b. Gejala yang timbul pada kasus: pasien tidur terus, hanya bangun jika dibangunkan dengan keras 7. Pola kognitif perseptual keadekuatan alat sensori a. Hal-hal yang perlu dikaji: Fungsi sensori( pendengaran, penglihatan, perasa, pembau, perabaan ) Kenyamanan dan nyeri Fungsi kognitif (bahasa, memori, penilaian, pengambilan keputusan )

18

b. Informasi yang bisa digali: status pendengaran, penglihatan, pengecap dan pembau Nyeri ( level, lokasi, frekwensi, durasi, karakter, kondisi yang memberatkan, metode penyembuhan, level toleransi ) Fungsi kognisi dalam memori, ingatan jangka pendek, ingatan jangka panjang Riwayat setiap perubahan dalam level kesadaran atau periode

kebingungan komunikasi Perasaan berputar, riwayat pingsan, kejang atau sakit kepala

c. Gejala pada kasus: somnolen reflek patologis (-) refleks fisiologis (+) normal Kejang seluruh tubuh selama 30 menit

8. Pola persepsi-konsep diri : tidak ada data a. Hal-hal yang perlu dikaji: Sikap klien mengenai dirinya Persepsi klien tentang kemampuannya Pola emosional Citra diri, identitas diri, ideal diri, harga diri dan peran diri

b. Informasi yang bisa digali dari pasien: Bagaimana perasaan tentang diri anda yang sering dirasakan sepanjang waktu? Dapatkah anda ceritakan tentang diri anda? Bagaimana masalah ini berpengaruh terhadap hidup anda?

19

c. Gejala pada kasus: tidak ada data

9. Pola peran dan tanggung jawab: tidak ada data a. Hal-hal yang perlu dikaji: Persepsi klien tantang pola hubungan Persepsi klien tentang peran dan tanggung jawab b. Gejala pada kasus: tidak ada data 10. Pola seksual reproduksi : tidak ada data a. Hal-hal yang perlu dikaji: Tahap perkembangan dan pola reproduksi b. Gejala pada kasus: tidak ada data

11. Pola koping dan toleransi stress : tidak ada data a. Hal-hal yang perlu dikaji: Kemampuan mengendalian stress Sumber pendukung

b. Informasi yang bisa digali: Perubahan, masalah saat ini yang menyebabkan stress misalnya sakit atau hospitalisasi Metode untuk koping terhadap stress Rencana orang tua terhadap masalah-masalah yang sering muncul pada anak-anak

c. Gejala pada kasus: tidak ada data

12. Pola nilai dan keyakinan : tidak ada data a. Hal-hal yang perlu dikaji: Nilai, tujuan dan keyakinan
20

Spiritual Konflik

b. Informasi yang bisa digali: Agama Keparcayaan spiritual yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan praktek kesehatan Derajat dari tujuan pencapaian hidup Persepsi tentang kepuasan dengan hidup dan jalan hidup Kepercayaan cultural yang berpengaruh dengan kesehatan dan nilai

c. Gejala pada kasus: tidak ada data

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN: 1. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral Definisi: suatu penurunan jumlah oksigen yang mengakibatkan

kegagalan untuk memelihara jaringan pada tingkat kapiler. Batasan karakteristik : Objektif: perubahan status mental : somnolen

NOC : - status sirkulasi :rentang ketidakterhambatan aliran darah, satu arah dan pada tekanan yang sesuai, melalui pembuluh darah besar sirkulasi pulmoner dan sistemik. - status neurologis : tingkat menerima, memproses, dan merespon stimulus internal serta eksternal yang dilakukan oleh system saraf perifer dan pusat.

21

NIC : Peningkatan perfusi serebral :Peningkatan keadekuatan perfusi dan pembatasan dari komplikasi untuk pasien yang mengalami atau beresiko untuk terjadi ketidakadekuatan perfusi serebral. Aktivitas : Mempertahankan level glukosa serum dalam rentang yang normal Menjaga level pCO2 pada 25 mmHg atau lebih Monitor status neurologisnya Memperhitungkan dan memonitor tekanan perfusi serebral Monitor status pernafasan Mencegah fleksi pada leher atau siku/ lutut

Pemantauan neurologis : pengumpulan dan analisis data pasien untuk mencegah atau mengurangi komplikasi neurologis. Aktivitas : Monitor tingkat kesadaran monitor tanda-tanda vital: temperature, tekanan darah, nadi dan pernafasan monitor status pernafasan monitor respon monitor respon terhadap stimulus monitor respon terhadap pengobatan

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu makan. Definisi: keadaan individu yang mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

22

Batasan karakteristik : Objektif : Tidak nafsu makan Ada bukti kekurangan makanan Kurang minat pada makanan Subyektif : Nyeri abdomen dengan atau tanpa penyakit

NOC : Status gizi : tingkat zat gizi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan metabolic. Status gizi : asupan makanan dan cairan : jumlah makanan dan cairan yang dikonsumsi tubuh selama waktu 24 jam. Status gizi : nilai gizi : keadekuatan zat gizi yang dikonsumsi tubuh.

NIC : Pengelolaan nutrisi : bantuan atau pemberian asupan diet makanan dan cairan yang seimbang. Aktifitas : mengetahui makanan kesukaan pasien kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan tipe nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. memonitor intake nutrisi dan kalori pada pasien menyediakan informasi mengenai kebutuhan nutrisi dan bagaimana cara memenuhinya.

Bantuan menaikkan berat badan : fasilitasi kenaikan berat badan. Aktivitas :


23

memonitor asupan kalori tiap hari memonitor tingkat serum albumin, lymfosit dan elektrolit mendorong untuk peningkatan intake kalori mengajarkan pada pasien atau keluarga mengenai rencana makan.

3.

Hipertermi berhubungan dengan penyakit Definisi: keadaan suhu tubuh seseorang yang meningkat di atas rentang normalnya Batasan karakteristik: Suhu tubuh meningkat diatas rentang normal Frekuensi nafas meningkat Kejang Takikardi

NOC: termoregulasi : Keseimbangan di antara produksi panas, peningkatan panas, dan kehilangan panas. Dibuktikan dengan Indikator gangguan sebagai berikut (sebutkan 1-5 : ekstrem, berat,ringan, atau tidak ada gangguan) o Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan o Suhu tubuh dalam batas normal o Nadi dan pernafasan dalam rentang yang diharapkan o Perubahan warna kulit tidak ada

NIC: 1. regulasi suhu : mencapai dan atau mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal Aktivitas : memonitor suhu minimal setiap 2 jam sekali
24

Memonitor tekanan darah, nadi dan respiratory rate Monitor warna kulit dan suhu kulit Mendukung tercapainya intake nutrisi dan cairan yang adekuat Mengajari pasien atau keluarga untuk mencegah heat exhaustion dan heat stroke

2. Pemantauan tanda vital : pengumpulan dan analisis data kardiovaskuler, respirasi, suhu tubuh untuk menentukan serta mencegah komplikasi Aktivitas : monitor tekanan darah, nadi, suhu dan status respiratori Monitor tekanan darah ketika pasien berbaring, duduk, dan berdiri sebelum dan sesudah perubahan posisi Monitor tekan darah setelah pasien mendapatkan pengobatan Monitor tekanan darah, nadi dan status respiratori sebelum, selama, dan setalah aktivitas Monitor dan melaporkan tanda dan gejala hipertermi Monitor irama dan respiratori rate

3. Pengobatan demam : pengelolaan pasien dengan hipertermia yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bukan dari lingkungan Aktivitas : monitor temperatur secara berkala Monitor insensible fluid loss Monitor warna kulit dan suhu Monitor penurunan tingkat kesadaran Monitor aktivitas kejang Monitor intake dan output Monitor abnormalitas elektrolit

25

Pemberian antipiretik Memberikan pengobatan terhadap penyebab demam Memberikan tepid sponge bath Memberikan cairan intra vena

26

BAB IV PENUTUP

A. IMPLIKASI KEPERAWATAN 1. Perawat sebagai peneliti Perawat dapat melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan meningitis pada anak. 2. Perawat sebagai advokat Perawat dapat memberi bantuan kepada pasien serta melindungi hak-hak pasien dalam mendapatkan pelayanan pengobatan dan intervensi terbaik yang dapat dilakukan untuknya. 3. Perawat sebagai pendidik. Perawat dapat mendidik dan memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit meningitis, penyebab, komplikasi, serta cara mencegah terjadinya meningitis pada anak. 4. Perawat sebagai pemberi asuhan Perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada anak yang menderita penyakit meningitis dan memberikan pelayanan yang tepat. 5. Perawat sebagai kolaborator Perawat mau dan mampu berkolaborasi dengan profesi lain untuk bersama-sama menangani meningitis.

B. KESIMPULAN Meningitis adalah radang pada meningen/membran (selaput) yang

mengelilingi otak dan medula spinaslis, biasanya disebabkan oleh invasi bakteri dan hanya sedikit oleh virus. Meningitis berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi tiga yaitu asepsis, sepsis dan tuberkulosa.

27

Untuk diagnosis pada meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas yang mendadak dan tak dapat diterangkan sebabnya, letargi, muntah, kejang dan lain-lainnya. Diagnosis yang pasti bisa dilakukan

dengan pemeriksaan CSS melalui pungsi lumbal. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis meningitis yaitu imunodiagnostik, Pneumo-angiografi, Foto polos tengkorak, Foto dada, Pemeriksaan EEG, CT Scan dan MRI dan Pemeriksaan lainnya seperti Tes tuberculin. Komplikasi yang dapat muncul dari meningitis antara lain Hidrosefalus obstruktif, Thrombus pada vena, Meningeal atau sinus vena, Abses otak, Ketulian, kebutaan,dan Paralisis. Komplikasi yang sering muncul

adalah peningkat TIK yang menyebabkan penurunan kesadaran. Penatalaksanaan meningitis bisa dibagi menjadi dua, yaitu penatalaksanaan farmakologi dan penatalaksanaan keperawatan. Diagnose keperawatan yang mungkin muncul pada pasien meningitis diantaranya: 1) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu makan 3) Hipertermi berhubungan dengan penyakit

C. SARAN Untuk mahasiswa : 1. Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien dengan meningitis. 2. Mahasiswa hendaknya selalu memperbaharui informasi yang terkait

dengan meningitis yang terjadi pada anak Untuk perawat : 1. Perawat mampu melakukan asuhan keperawatan secara tepat pada pasien meningitis.
28

2. Perawat selalu memperbaharui informasi mengenai meningitis serta dapat menerapkannya dalam praktik klinis

29

DAFTAR PUSTAKA

Harsono, 2005, Buku Ajar Neurologi Klinis, Gadjah Mada University Press.

Muscary, Mary E. 2004. Keperawatan Pediatrik : Edisi 3. Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta :EGC.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar : Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika.

Brunner dan Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah : Volume 3. Jakarta: EGC.

Wilkinson, J. M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC. NANDA International. 2009. Nursing Diagnosis: Definition and Clasification 2009 2011. United States of Amerika: Wiley-blackwell.

Bulechek, et al 2000, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby, Philadelphia.

Johnson, et al 2000, Nursing Outcomes Classification (NOC), Mosby. Philadelphia.

30