Anda di halaman 1dari 13

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil percobaan Larutan NaOH Volume Larutan biner Larutan aquadest Larutan asam asetat Densitas : : : : : : 1,5 N 200 ml 225 ml 150 ml 75 ml 1,2 gr/ml 104oC Vol. NaOH (ml) 2 2 2,2 4,2 Massa distilat (gr) 0,99 1,35 1,89 3,19 Densitas (gr/ml) 0,039 0,054 0,076 0,128

Temperatur distilat pertama kali : Distilat I II III IV T (oC) 104 105 106 107 Vol. Distilat (ml) 1 2 3,2 3,8

Tabel 2.1 Hasil Perhitungan Densitas Distilat

Tabel 2.2 Hasil Perhitungan Sebelum Pemanasan No 1 (gr/ml) 1,2 xHAc 0,137 xH2O 0,863

Tabel 2.3 Hasil Perhitungan Sesudah Pemanasan No 1 2 3 4 T (oC) 104 105 106 107 distilat 0,04 0,054 0,076 0,128 x H2O 0,895 0,928 0,942 0,935 HAc 0,105 0,072 0,058 0,065 H2O 0,938 0,956 0,966 0,961 y HAc 0,063 0,044 0,034 0,039

2.2 Pembahasan 2.2.1 Pengaruh Tekanan Uap Air terhadap Suhu (Teori)

Grafik 2.1 Pengaruh Tekanan Uap Air terhadap Suhu (Teori) Pada Grafik 2.1 terlihat bahwa grafik yang terbentuk dari data tekanan uap PoH2O dengan suhu T (oC) secara teori adalah berupa suatu garis lurus yang meningkat dari kiri ke kanan yang menandakan bahwa kenaikan suhu sebanding dengan tekanan uap dari air. Tekanan uap adalah tekanan yang terukur dipermukaan suatu zat cair murni pada suatu suhu tertentu. Tekanan uap, Pv sangat dipengaruhi oleh suhu (T). Secara sistematis dapat dilihat dengan persamaan Antoine berikut : log Pvi = Ai - Bi /(Ci + T) (Purwono, dkk., 2005) dimana : Pvi i A, B, C T = tekanan uap pada komponen i = jenis komponen = konstanta untuk tiap komponen murni = Temperatur

2.2.2 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Air (Teori)


/

Grafik 2.2 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Air (Teori)

Pada Grafik 2.2 terlihat bahwa fraksi mol cair air xH2O secara teori menurun seiring dengan bertambahnya suhu. Hal ini disebabkan pada suhu yang semakin tinggi di atas titik didih air 100oC, air sudah menguap sehingga jumlah air dalam bentuk cair makin sedikit seiring dengan meningkatnya suhu. Akibatnya xH2O semakin berkurang pula. Secara matematis dapat dilihat melalui rumus : yi= (p*iV/RT)/(PtV/RT) = p*i/Pt dimana: p*i = xiPvi sehingga: yi = ((xiPvi)V/RT)/(PtV/RT) = (xiPvi)/Pt Keterangan : yi = Fraksi mol uap p*i = Tekanan parsial komponen i pvi = Tekanan uap komponen i T = Suhu (oC, K) Pt = Tekanan total (kPa) xi = Fraksi mol cairan V = Jumlah mol uap (mol) L.Pa/mol.K) 2.2.3 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Air (Praktek) / Grafik 2.3 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Air (Praktek) Pada Grafik 2.3 ditunjukkan grafik fraksi mol cair air vs suhu yang diperoleh secara praktek. Grafik yang ditunjukkan berupa grafik yang garisnya naik turun.Hal ini karena pada praktek, diperoleh komposisi xH2O pada suhu 104oC, adalah 0,895, pada 105oC adalah 0,928, pada 106oC adalah 0,942, dan pada 107 oC adalah 0,935. Berdasarkan teori, fraksi mol cair air xH2O menurun seiring dengan bertambahnya suhu.Hal ini disebabkan pada suhu yang semakin tinggi, air sudah mulai menguap sehingga jumlah air dalam bentuk cair semakin sedikit. Akibatnya xH2O semakin berkurang pula (Purwono, dkk., 2005) R = Bilangan Avogadro (0,08206 L.Atm/mol.K atau 8,314 (Purwono, dkk., 2005)

Dari percobaan yang telah dilakukan juga diperoleh bahwa fraksi mol cair dari air akan semakin menurun dengan adanya peningkatan suhu meskipun masih terjadi penyimpangan. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh berbagai hal seperti:
1. 2.

Pembacaan suhu pada termometer yang kurang tepat. Penentuan volume pentiter yang kurang tepat.

3. Terdapat sebagian uap yang bocor dari labu distilasi.

2.2.4 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Asam Asetat (Teori)
/

Grafik 2.4 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Asam Asetat (Teori) Pada Grafik 2.4 terlihat bahwa fraksi mol cair asam asetat xHAc secara teori bertambah seiring dengan bertambahnya suhu. Hal ini disebabkan pada suhu yang semakin tinggi di atas titik didih air 100oC, air akan habis menguapsedangkan asam asetat baru mulai menguap. Akibatnya xHAc semakin bertambah pula. Secara matematis dapat dilihat melalui rumus : yi = (p*iV/RT)/(PtV/RT) = p*i/P p*i = xiPvi sehingga: xi = ,, ,y-i. P-t.-,P-i-v.. Keterangan : yi = Fraksi mol uap p*i = Tekanan parsial komponen i pvi = Tekanan uap komponen i T = Suhu (oC, K) (Purwono, dkk., 2005)

Pt = Tekanan total (kPa) xi = Fraksi mol cairan V = Jumlah mol uap (mol) R = Bilangan Avogadro (0,08206 L.Atm/mol.K atau 8,314 L.Pa/mol.K 2.2.5 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Asam Asetat (Praktek) / Grafik 2.5 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Cair Asam Asetat (Praktek) Pada Grafik 2.5 ditunjukkan grafik fraksi mol cair asam asetat vs suhu. Grafik yang ditunjukkan berupa grafik naik turun. Hal ini karena pada praktek, diperoleh komposisi xHAc pada suhu 104oC, adalah 0,105, pada 105oC adalah 0,072, pada 106oC adalah 0,058, dan pada107 oC adalah 0,065. Hal ini disebabkan pada suhu yang semakin tinggi, air akan semakin menguap sedangkan asam asetat baru mulai menguap. Akibatnya xHAc semakin bertambah pula (Purwono, dkk., 2005). Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa fraksi mol cair dari asam asetat semakin meningkat dengan adanya peningkatan suhu,meskipun ada penyimpangan pada suhu 105 oC dan pada percobaan ini titik didih untuk asam asetat tidak sesuai dengan teori yaitu 118 oC. Hal itu mungkin disebabkan oleh: 1. Terdapat sebagian uap yang bocor dari labu distilasi.
2. 3.

Pembacaan suhu pada termometer yang kurang tepat. Penentuan volume pentiter yang kurang tepat.

/2.2.6 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Air (Teori)

Grafik 2.6 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Air (Teori) Pada Grafik 2.6 terlihat bahwa fraksi mol uap air yH2O secara teori berkurang seiring dengan bertambahnya suhu. Grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi

temperatur maka akan semakin kecil pula yH2O. Hal ini disebabkan pada suhu 100oC (titik didih air), air sudah mulai menguap sedangkan HAc belum. Tetapi jika pemanasan terus dilanjutkan, maka pada suhu tertentu asam asetat akan mulai menguap juga. Akibatnya fraksi uap H2O akan berkurang karena adanya uap asam asetat yang tercampur dengan uap air. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi temperaturnya maka semakin kecil yH2O. Secara matematis dapat dilihat dari persamaan berikut ini: yi = ,,-. ,--.,--.-,,.- -.. ,-. dimana : yi xi P ,-. = fraksi mol komponen i dalam uap = fraksi mol komponen i dalam cair = tekanan pada suhu T = aktivitas koefisien dalam fasa cairan = koefisien fugasitas = koefisien parsial fugasitas dalam fasa uap

,--. ,,.- -.

2.2.7 Pengaruh Suhu Terhadap Fraksi Mol Uap Air (Praktek) / Grafik 2.7 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Air (Praktek) Pada Grafik 2.7 ditunjukkan grafik fraksi mol uap air vs suhu. Grafik yang ditunjukkan berupa grafik naik turun. Hal ini karena pada praktek, diperoleh komposisi yH2O pada suhu 104oC, adalah 0,938, pada 105oC adalah 0,956, pada 106oC adalah 0,966, dan pada107 oC adalah 0,961. Berdasarkan teori, bahwa fraksi mol uap air yH2O berkurang seiring dengan bertambahnya suhu.Hal ini disebabkan pada suhu titik didih air, air sudah mulai menguap sedangkan HAc belum. Tetapi jika pemanasan terus dilanjutkan, maka pada suhu tertentu asam asetat akan mulai menguap juga. Akibatnya, fraksi uap H2O akan berkurang karena adanya uap asam asetat yang tercampur dengan uap air. Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa fraksi mol uap dari air tidak semakin menurun dengan adanya peningkatan suhu sehingga tidak sesuai dengan teori. Hal itu mungkin disebabkan oleh: 1. Pembacaan suhu pada termometer yang kurang tepat.

2. Penentuan volume pentiter yang tidak tepat. 3. Pengukuran volume dan massa cairan yang tidak tepat.

2.2.8 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Asam Asetat (Teori)
/

Grafik 2.8 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Asam Asetat (Teori) Pada Grafik 2.8 terlihat bahwa fraksi mol uap asam asetat yHAc secara teori bertambah seiring dengan bertambahnya suhu. Grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur maka akan semakin besar pula nilai yHAc. Hal ini disebabkan pada suhu di atas 100oC, asam asetat mulai menguap. Jika pemanasan terus dilanjutkan, maka asam asetat yang menguap akan semakin banyak. Akibatnya yHAc semakin bertambah pula. Dari grafik diatas terlihat bahwa grafik temperatur terhadap yHAc secara teori merupakan garis lurus. Hal ini menujukkan bahwa semakin tinggi temperatur maka akan semakin besar pula fraksi Hac yang ditunjukkan. Secara matematis dapat dilihat dari persamaan berikut ini : yi= (p*iV/RT)/(PtV/RT) = p*i/Pt p*i = xiPvi sehingga: yi = ((xiPvi)V/RT)/(PtV/RT) = (xiPvi)/Pt Keterangan : yi, xi T Pt V = Fraksi mol uap, fraksi mol cairan = Suhu (oC, K) = Tekanan total (kPa) = Jumlah mol uap (mol) (Purwono, dkk., 2005)

p*i, pvi = Tekanan parsialkomponen i, tekanan uap komponen i

= Bilangan Avogadro (8,314 L.Pa/mol.K)

2.2.9 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Asam Asetat (Praktek) / Grafik 2.9 Pengaruh Suhu terhadap Fraksi Mol Uap Asam Asetat (Praktek) Pada Grafik 2.9 ditunjukkan grafik fraksi mol uap asam asetat vs suhu yang diperoleh secara praktek. Grafik yang ditunjukkan berupa grafik turun naik. Hal ini karena pada praktek, diperoleh komposisi yHAc pada suhu 104oC, adalah 0,063, pada 105oC adalah 0,444, pada 106oC adalah 0,034, dan pada107 oC adalah 0,039. Berdasarkan teori, bahwa fraksi mol uap asam asetat yHAc bertambah seiring dengan bertambahnya suhu. Hal ini disebabkan pada suhu titik didih air, asam asetat mulai menguap. Jika pemanasan terus dilanjutkan, maka asam asetat yang menguap akan semakin banyak. Akibatnya, yHAc semakin bertambah pula (Felder, dkk., 2005). Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa fraksi mol uap dari asam asetat tidak semakin meningkat dengan adanya peningkatan suhu. Hal itu dapat pada grafik pada saat temperatur 104oC dengan yHAc bernilai 0,063 dan terus mengalami penurunan yakni pada saat temperatur 107oC dengan yHAc bernilai 0,039. Hal ini mungkin disebabkan oleh:
1. 2.

Pembacaan suhu pada termometer yang kurang tepat. Penentuan volume pentiter yang tidak tepat.

3. Pengukuran volume dan massa cairan yang tidak tepat.

2.2.10 Pengaruh Fraksi Mol Uap Air terhadap Fraksi Mol Cair Air (Teori)
/

Grafik 2.10 Pengaruh Fraksi Mol Uap Air terhadap Fraksi Mol Cair Air (Teori) Pada Grafik 2.10 grafik xH2O terhadap yH2O secara teori terlihat bahwa semakin bertambahnya fraksi mol uap air maka semakin bertambah pula fraksi mol cair air, dan sebaliknya. Dengan demikian, grafik yang diperoleh adalah grafik yang berupa garis lurus yang semakin meningkat. Secara matematis dapat dilihat persamaan berikut : yi = ,,-. ,--.,--.-,,.- -.. ,x-i .(Walas, 1985) dimana : yi xi P ,-. = fraksi mol komponen i dalam uap = fraksi mol komponen i dalam cair = tekanan pada suhu T = aktivitas koefisien dalam fasa cairan = koefisien fugasitas = koefisien parsial fugasitas dalam fasa uap

,--. ,,.- -.

2.2.11 Pengaruh Fraksi Mol Uap Air terhadap Fraksi Mol Cair Air (Praktek) / Grafik 2.11 Pengaruh Fraksi Mol Uap Air terhadap Fraksi Mol Cair Air (Praktek) Pada Grafik 2.11 ditunjukkan grafik xH2O terhadap yH2O yang diperoleh secara praktek. Grafik yang ditunjukkan berupa grafik yang awalnya garisnya naik dan akhirnya mengalami penurunan lagi. Hal ini karena pada praktek, diperoleh komposisi yH2O berturut-turut adalah 0,938, 0,956, 0,966, dan 0,961. Sedangkan komposisi xH2O berturut-turut adalah 0,895, 0,928, 0,942, dan 0,935. Berdasarkan

teori diketahui bahwa semakin bertambahnya fraksi mol uap air maka semakin bertambah pula fraksi mol cair air, dan sebaliknya (Walas, 1985). Dari percobaan yang telah dilakukan tidak diperoleh bahwa fraksi mol cair dari air meningkat seiring dengan meningkatnya fraksi mol uap dari air, namun setelah diurutkan dari yang terkecil hingga terbesar maka grafik sesuai dengan teori. Hal itu mungkin disebabkan oleh berbagai hal seperti: 1. Pembacaan suhu pada termometer yang kurang tepat.
2.

Penentuan volume pentiter yang tidak atau tepat.

3. Pengukuran volume dan massa cairan yang tidak tepat.

2.2.12 Pengaruh Fraksi Mol Uap Asam Asetat terhadap Fraksi Mol Cair Asam
/

Asetat (Teori)

Grafik 2.12 Pengaruh Fraksi Mol Uap Asam Asetat terhadap Fraksi Mol Cair AsamAsetat (Teori) Pada Grafik 2.12 grafik xHAc terhadap yHAc secara teori terlihat bahwa semakin bertambahnya fraksi mol uap asam asetat maka semakin bertambah pula fraksi mol

cair asam asetat, dan sebaliknya. Dengan demikian grafik yang diperoleh adalah grafik yang semakin meningkat pula (Walas, 1985). Secara matematis dapat dilihat persamaan berikut : yi = ,,-. ,--.,--.-,,.- -.. ,x-i .(Walas, 1985) dimana : yi xi P ,-. = fraksi mol komponen i dalam uap = fraksi mol komponen i dalam cair = tekanan pada suhu T = aktivitas koefisien dalam fasa cairan = koefisien fugasitas = koefisien parsial fugasitas dalam fasa uap

,--. ,,.- -.

2.2.13 Pengaruh Fraksi Mol Uap Asam Asetat terhadap Fraksi Mol Cair Asam Asetat (Praktek) / Grafik 2.13 Pengaruh Fraksi Mol Uap Asam Asetat terhadap Fraksi Mol Cair AsamAsetat (Praktek) Pada Grafik 2.13 ditunjukkan grafik xHAc tehadap yHAc yang diperoleh secara praktek. Grafik yang berupa grafik yang garis awalnya konstan kemudian semakin menaik.Hal ini karena pada praktek, diperoleh komposisi yHAc berturut-turut adalah 0,063, 0,044, 0,034, dan 0,039. Sedangkan komposisi xHAc berturut-turut adalah 0,62, 0,592, 0,605, dan 0,603 . Berdasarkan teori, semakin bertambahnya fraksi mol uap asam asetat maka semakin bertambah pula fraksi mol cair asam asetat, dan sebaliknya (Walas, 1985). Dari percobaan yang telah dilakukan tidak diperoleh bahwa fraksi mol cair dari asam asetat meningkat seiring dengan meningkatnya fraksi mol uap dari asam asetat,namun setelah diurutkan dari yang terkecil hingga terbesar maka grafik sesuai dengan teori. Hal itu mungkin disebabkan oleh berbagai hal seperti: 1. Pembacaan suhu pada termometer yang kurang tepat.
2.

Penentuan volume pentiter yang tidak tepat.

3. Pengukuran volume dan massa cairan yang tidak tepat.

BAB III KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang dapat dibuat dari percobaan ini adalah : 1. Tekanan uap murni air meningkat dengan meningkatnya suhu.
2.

Fraksi mol cair air menurun sebanding dengan meningkatnya suhu karena

pada suhu yang semakin tinggi di atas titik didih air 100oC, air sudah menguap sehingga jumlah air dalam bentuk cair makin sedikit seiring dengan meningkatnya suhu.
3.

Fraksi mol cair asam asetat meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu

karena pada suhu yang semakin tinggi di atas titik didih air 100oC, air akan habis menguapsedangkan asam asetat baru mulai menguap sehingga jumlah asam asetat dalam bentuk cair semakin banyak dengan meningkatnya suhu.
4.

Fraksi mol uap air menurun sebanding dengan meningkatnya suhu karena

pada suhu 100 oC, air sudah mulai menguap sedangkan HAc belum tetapi jika pemanasan terus dilanjutkan, maka pada suhu tertentu asam asetat akan mulai menguap juga sehingga fraksi uap H2O berkurang karena adanya uap asam asetat yang tercampur dengan uap air.
5.

Fraksi mol uap asam asetat meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu

karena pemanasan yang berterusan hingga suhunyadi atas 100oC menyebabkan asam asetat yang menguap akan semakin banyak sehinggayHAc semakin bertambah pula.

DAFTAR PUSTAKA
Walas, Stanley M. 1990. Chemical Process Equipment Selection and Design. USA : Department of Chemical and Petroleum Engineering University of Kansas. Purwono, dkk. 2005. Pengantar Operasi Stage Seimbang. Edisi pertama. Yogyakarta : Penerbit Gadjah Mada University press. Geankoplis, Christie John.2003. Transport Processes and Separation Process Principles. 4th edition. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia Hadinata, Ivan. 2010. Kesetimbangan Uap Cair dalam Pemisahan Udara secara Kriogenik. http://www.linde-process-engineering.com/process_plants/air_ separation_plants/documents. Diakses tanggal 2 Maret 2011. Perry, John H. 1999. Perrys Chemical Engineering Handbook. 7th edition. New York: McGraw-Hill Company. .