Anda di halaman 1dari 27

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III. 1. Alat Percobaan a. Timbangan analitik b. Seperangkat instrumen HPLC, kolom C-18 c. Jarum oral d. Tabung sentrifugasi e. Alat sentrifugasi f. Lemari pendingin g. Alat pH meter h. Saringan miliphore III. 2. Bahan Percobaan a. Ibuprofen b. Ketoprofen ( baku dalam ) c. Tragakan d. EDTA ( titripleks ) e. Metanol pro HPLC f. Aquabidest g. Asam asetat glacial p.a h. Kertas saring 0,45 m i. Alat alat gelas lain j. Hewan tikus

III. 3. Cara Kerja a. Kondisi Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Digunakan kolom kromatografi cair kinerja tinggi yaitu kolom Shimpack ODS Digunakan fasa gerak yang terdiri dari campuran metanol : asam asetat 1 % ( 75:25 ) Ditetapkan laju alir pada 1 mL/ menit dan diatur detektor ultra lembayung pada panjang gelombang 222 nm b. Pembuatan sediaan suspensi Ibuprofen Dibuat sediaan suspensi oral Ibuprofen 200 mg/ 5 mL yang mengandung tragakan 0,5 %, propilenglikol 0,2 %, dan sirupus simpleks hingga 60 mL, formulasi dibagi menjadi empat formulasi untuk empat kelompok, yaitu sebagai berikut : Komposisi Bahan F1 1,2 0,5 0,2 60 mL F2 1,2 0,7 0,2 60 mL F3 1,2 0,8 0,2 60 mL F4 1,2 1,0 0,2 60 mL

Bahan Ibuprofen ( g ) Tragakan ( % ) Propilenglikol ( % ) Sirupus simpleks ad

c. Pembuatan Kurva Baku Ibuprofen dalam Fasa Gerak Metanol : Asam Asetat 1 % ( 80:20 ) Disiapkan larutan induk ibuprofen dan larutan baku dalam ketoprofen dengan melarutkan 100,0 mg dari tiap obat dalam 100,0 mL metanol Dibuat serangkaian larutan ibuprofen dengan konsentrasi 1, 10, 50 dan 100 g/ mL dan dipipet masing-masing sebanyak 5,0 mL pada labu takar 10,0 mL Ditambahkan ke dalam masing-masing labu takar larutan baku dalam ketoprofen 50 g/ mL

Disaring dengan penyaring miliphore 0,45 m dan disuntikkan sebanyak 20 L

d. Pemberian Obat pada Tikus Dipuasakan tikus selama kurang lebih 5 jam sebelum pemberian obat agar pengaruh makanan terhadap proses disposisi obat dapat dihindari Diberikan sediaan suspensi ibuprofen secara oral masing-masing dengan dosis setara dengan 200 mg dosis manusia e. Pengambilan Darah dan Pengambilan Sampel Darah Diambil sampel darah dari bagian ekor tikus sebanyak masing-masing 1 mL pada 10, 20, 30, 60 dan 90 menit setelah pemberian obat Disentrifugasi masing-masing cuplikan menggunakan tabung sentrifugasi pada kecepatan 4000 rpm selama 15 menit Dipipet bagian plasmanya sebanyak 500 L dan diencerkan dengan 500 L campuran metanol : asam asetat 1% ( 80:20 ) dalam tabung sentrifugasi Disentrifugasi pada kecepatan 4000 rpm selama 15 menit Diambil bagian jernihnya 500 L dan ditambahkan dengan 500 L larutan baku ketoprofen 50 g/ L Disaring dengan membran filter 0,45 m dan disuntikkan sebanyak 20 L ke dalam kolom kromatografi cair kinerja tinggi Dianalisis kadar ibuprofennya

f. Evaluasi Data Dibuat profil farmakokinetika dengan menghubungkan kadar ibuprofen dalam darah terhadap waktu pengambilan sampel dan hitung parameter parameter farmakokinetika tersebut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Profil Farmakokinetika Sediaan Oral Obat yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami suatu proses yang berbeda satu sama lain. Hal ini dipengaruhi oleh bentuk sediaan, rute pemberian, dan kondisi pasien secara individual. Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan kebanyakan proses sangat rumit. Umumnya didasari suatu rangakaian reaksi yang dibagi dalam 3 fase yaitu : fase farmasetik, fase farmakokinetik dan fasa farmakodinamika. a. Fasa biofarmasi atau farmasetika adalah fase yang meliputi waktu mulai penggunaan obat melalui mulut sampai pelepasan zat aktifnya ke dalam cairan tubuh. Fasa ini berhubungan dengan ketersediaan farmasi dari zat aktifnya dimana obat siap untuk diabsorpsi. b. Fasa Farmakokinetika adalah fasa yang meliputi nasib obat dalam tubuh yaitu semua proses yang dilakukan tubuh terhadap obat setelah obat dilepaskan dari bentuk sediaannya yang terdiri dari absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Farmakokinetika berkaitan dengan

ketersediaam hayati obat (biological avaibility) yaitu kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi dari suatu dosis yang diberikan dan tersedia untuk melakukan efek terpeutiknya. c. Fasa Farmokidinamika adalah fasa dimana obat telah berinterkasi dengan sisi reseptor dan siap untuk memberikan efek. Persamaan farmakokinetika model satu kompartemen terbuka untuk pemberian secara oral adalah : d DB dt = F . Ka . DGI K . DB

dimana : F Ka K DGI DB

= Fraksi obat terabsorpsi (%) = Laju Absorpsi (jam -1) = Laju eliminasi (jam -1) = Jumlah obat dalam saluran cerna (mg/mL) = Jumlah Obat dalam tubuh(mg/mL)

Paramater farmakokinetika model satu kompartemen terbuka untuk pemberian oral adalah sebagai berikut : 1. Luas di bawah kurva (Area Under Curve/AUC) AUC total sering ditulis AUC0- AUC0- dapat dihitung dengan beberapa cara : a. Tanpa memakai model farmakokinetika (Rumus Trapezoid) AUC0- = AUC0-t + Ct/ AUC0-t dapat dihitung dengan rumus trapesium: Cn-1 + Cn AUCtntn-1 = -------------- (tn - tn-1) 2 b. Dengan Model Farmakokinetika AUC tergantung dari rute pemberian intra vaskular atau ekstra vaskular dan model kompartemennya kompartemen satu atau

kompartemen dua Persamaan kinetika Ct = B.e-.t A.e-.t AUC0- = B/ - A/ 2. Konsentrasi Maksimum (Cmaks) a. Berdasarkan eksperimen Dilihat kadar obat paling tinggi berdasarkan percobaan. b. Berdasarkan perhitungan farmakokinetika Cmaks = B. e-.t maks A.e-.t maks

3. Waktu pencapaian konsentrasi maksimum (tmaks) a. Berdasarkan eksperimen Dilihat dari waktu dimana obat mencapai kadar paling tinggi berdasarkan percobaan. b. Berdasarkan perhitungan farmakokinetika 1

Tmaks = --------- ln ----(-) c. Persamaan farmakokinetika C = B. e-.t A.e-.t d. Clearance (ClT) ClT = Dosis AUC II.2. Suspensi Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secara halus (dikenal sebagai suspensoid) disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukkan kelarutan yang sangat minimum. Beberapa suspensi resmi diperdagangkan tersedia dalam bentuk siap pakai, telah disebarkan dalam cairan pembawa dengan atau tanpa penstabil dan bahan-bahan tambahan farmasetik lainnya. Ada beberapa alasan pembuatan suspensi oral. Salah satunya adalah karena obat-obat tertentu tidak stabil secara kimia apabila ada dalam larutan, tetapi stabil bila disuspensi. Dalam hal ini suspensi oral menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi dengan cairan. Untuk banyak pasien, bentuk cair lebih disukai daripada bentuk padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya menelan cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian lebih mudah untuk memberikan dosis yang relatif sangat besar, aman, mudah diberikan untuk anak-anak, juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak. Kerugian dari obat tertentu yang mempunyai rasa tidak enak bila diberikan dalam bentuk larutan akan tidak terasa bila diberikan sebagai partikel yang tidak larut dalam suspensi. Nyatanya untuk obat yang tidak enak rasanya telah

dikembangkan bentuk-bentuk kimia khusus menjadi bentuk yang tidak larut dalam pemerian yang diinginkan sehingga didapatkan sediaan cair yang rasanya enak. Sebagai contoh bentuk ester yang tidak larut dalam air dan kloramfenikol yaitu kloramfenikol palmitat dibuat supaya bentuk sediaan cair yang disiapkan mempunyai rasa enak, bentuk sediaan cairnya disebut Suspensi Oral Kloramfenikol Palmitat (Chloramphenicol Palmitate Oral Suspension), USP. Dengan membuat bentuk-bentuk yang tidak larut untuk digunakan dalam suspensi mengurangi kesulitan ahli farmasi untuk menutupi rasa obat yang tidak enak dan pemilihan zat pemberi rasa dapat lebih disesuaikan dengan rasa yang diinginkan, bukan untuk menutupi rasa yang tidak enak dari suatu obat. Kebanyakan suspensi oral berupa sediaan air dengan pembawa yang diharumkan dan dimaniskan untuk memenuhi selera pasien. Berbagai faktor yang terlibat dalam laju dari kecepatan mengendap partikel-partikel suspensi tercakup dalam persamaan hokum Stokes :
V d 2 ( 1 2 ) g 18

Dimana : V = Kecepatan jatuhnya suatu partikel bulat g = Konstanta gravitasi r = Jari jari partikel 1 = Kecepatan partikel bulat 2 = Kecepatan cairan = Viskositas medium pendispersi Dari persamaan tersebut jelas bahwa kecepatan jatuhnya suatu partikel yang tersuspensi lebih besar bila ukuran partikel lebih besar, jika semua faktor lain dibuat konstan, dengan mengurangi ukuran partikel dari fase terdispersi, seseorang dapat mengharapkan laju turun lebih lambat dari partikel tersebut. Juga makin besar kerapatan partikel makin besar laju turunnya, asalkan kerapatan pembawa tidak diubah. Karena umumnya digunakan pembawa air dalam suspensi farmasi untuk pemberian oral, kerapatan partikel umumnya lebih besar daripada kerapatan pembawa, suatu sifat yang diinginkan, karena bila partikel-partikel

lebih ringan dari pembawa, partikel-partikel cenderung untuk mengambang dan partikel-partikel ini sangat sukar didistribusikan secara seragam dalam pembawa. Laju endap dapat berkurang cukup besar dengan menaikkan viskositas medium dispersi dan dalam batas-batas tertentu secara praktis ini bisa dilakukan. Tetapi suatu produk yang mempunyai viskositas tinggi umumnya tidak diinginkan kerena sukar dituang dan juga sukar untuk diratakan kembali. Karena itu bila viskositas suspensi dinaikkan biasanya dilakukan sedemikian rupa sampai viskositas sedang saja untuk menghindari kesulitan-kesulitan seperti disebutkan tadi Sifat khas viskositas dari suspensi dapat diubah tidak hanya dengan penggunaan pembawa, tetapi juga dengan kandungan padatnya. Sebagaimana proporsi dari partikel padat dinaikkan dalam suspensi, maka begitu pula viskositasnya. Viskositas dari preparat farmasetik dapat ditentukan dengan menggunakan viscometer Brookfield, yang mengukur viskositas dengan gaya yang dibutuhkan untuk memutar poros dalam cairan yang diuji. Kebanyakan stabilitas fisik dari suatu suspensi sediaan farmasi kelihatannya paling cocok untuk disesuaikan dengan mengadakan perubahan pada fase terdispersi dan bukan pada medium dispersi. Dalam banyak hal, medium dispersi menyokong fase terdispersi yang disesuaikan tersebut. Penyesuaian ini terutama mengenai ukuran partikel, keseragaman ukuran partikel dan pemisahan partikel-partikel tersebut sehingga tidak mungkin untuk menjadi lebih besar atau membentuk padatan bila didiamkan. Dalam pembuatan suatu suspensi ahli farmasi harus mengetahui dengan baik karakteristik fase terdispersi mempunyai afinitas terhadap pembawa untuk digunakan dan dengan mudah dibasahi oleh pembawa tersebut selama penambahannya. Obat- obat lain tidak dipenetrasi dengan mudah oleh pembawa tersebut dan mempunyai kecenderungan untuk bergabung menjadi satu atau mengambang diatas pembawa tersebut. Dalam hal yang terakhir, serbuk mulamula harus dibasahi dulu dengan apa yang disebut zat pembasah agar serbuk tersebut lebih bisa dipenetrasi oleh medium disperi. Alkohol, gliserin, dan cairan higroskopis lainnya digunakan sebagai zat pembasah bila suatu pembawa air akan

digunakan

sebagai

fase

pendispersi.

Bahan-bahan

tersebut

berfungsi

menggantikan udara di celah-celah partikel, mendispersikan partikel tersebut dan kemudian menyebabkan terjadinya penetrasi medium dispersi ke dalam serbuk. Dalam pembuatan suspensi skala besar, zat pembasah dicampur dengan partikelpartikel menggunakan suatu alat seperti penggiling koloid (colloid mill); pada skala kecil di apotek, bahan-bahan tersebut dicampur dengan mortir dan stamper. Begitu serbuk terbasahi, medium dispersi (yang telah ditambah semua komponenkomponen formulasi yang larut seperti pewarna, pemberi rasa dan pengawet) ditambah sebagian-sebagian ke serbuk tersebut, dan campuran itu dipadu secara merata sebelum penambahan pembawa berikutnya. Sebagian dari pembawa tersebut digunakan untuk mencuci alat-alat pencampur agar bebas dari suspensoid, dan bagian ini digunakan untuk mencukupi volume suspensi dan menjamin bahwa suspensi tersebut mengandung konsentrasi zat padat yang diinginkan. Hasil akhir kemudian dilewatkan melalui penggiling koloid, blender atau mixer lainnya untuk menjamin sifat ratanya. Bila cocok, pengawet yang sesuai seharusnya dimasukkan dalam

formulasi suspensi untuk mengawetkan terhadap kontaminasi bakteri dan jamur. II.3. Ibuprofen Ibuprofen merupakan obat pertama dari kelompok ini adalah NSAID yang paling banyak digunakan, berkat efek sampingnya yang ringan. Zat ini merupakan campuran rasemis, dengan bentuk dextro yang aktif. Daya analgetis dan anti radangnya cukup baik dan sudah banyak mendesak salisilat pada penanganan bentuk rematik yang tidak begitu hebat dan gangguan dari alat gerak. Efek anti inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-1400 mg sehari Resorpsinya dari usus cepat dan baik (ca 80%), resorpsi rektal lebih lambat. PP-nya 90-99%, plasma t1/2-nya ca 2 jam. 90% ibuprofen terikat pada protein plasma. Ekskresi berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dari dosis yang diabsorpsi akan diekskresi melalui urin terutama sebagai metabolit-metabolit dan konyugat-konyugatnya. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi.

Obat AINS seluruhnya terikat pada protein plasma, efek interaksi misalnya penggeseran obat warfarin dan oral hipoglikemik tidak ada. Tetapi pada pemberian bersama dengan warfarin, tetap harus waspada karena adanya gangguan fungsi trombosit yang memperpanjang masa pendarahan. Derivat asam dapat mengurangi efek dan natri uresis furosemid dan thiazid, juga mengurangi efek anti hipertensi obat beta bloker, prazosin dan kaptropil. Efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis PG ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin, indometasin atau naproksen. Efek samping lainnya yang jarang adalah eritema kulit, sakit kepala, trombositopenia, ambiopia toksik reversible. Dosis 4 kali 400 mg sehari tetapi sebaiknya dosis optimal pada tiap orang ditentukan secara individual. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui. Ibuprofen lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius, maka ibuprofen dijual sebagai obat bebas di beberapa negara antara lain Amerika Serikat dan Inggris. II.4. Preformulasi Sediaan Suspensi Ibuprofen
1. Ibuprofen Struktur: CH2CHCH2 CH3 Rumus empiris: C13H18O2 Nama kimia: 2- (p-isobutilfenil) asam propionat BM : 206,28 Pemerian: Serbuk halus, putih hingga hampir putih, berbau khas lemah. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, dalm metanol, dalam aseton, dan dalam kloroform, sukar larut dalam etil asetat. Indikasi: Anti inflamasi non-steroid, terapi gejala artritis rhematoid dan osteoartritis Kontra indikasi: Penderita hipersensitif terhadap ibuprofen dan anti inflamasi non-steroid lain (gejala bronkospasmus, polip hidung dan angioedema). Penderita riwayat ulkus peptikum. Dosis: CH2CHCH2 CH3

1,2 3,2 gram/hari dalam dosis terbagi (maksimal 3,2 gram) Anak-anak < 14 tahun belum diketahui dengan pasti Efek samping: gejala efek samping yang paling umum mual dan muntah. Gejalagejala lain seperti diare, konstipasi, nyeri dan rasa panas epigastik. Interaksi obat: konsentrasi plasma ibuprofen menurun bila diberikan berulangulang bersama aspirin. Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat.

2. Tragakan Nama kimia : gom tragakan Fungsi : suspending agent, peningkat kekentalan.

3. Propilenglikol Rumus empiris : C3H8O2 Berat molekul : 76,09 Fungsi : antimikroba, disinfektan, humektan, pelarut, plastisizer, stabilisator vitamin. Pemerian : cairan jenih, kental, idak berwarna, tidak bebau, dan berasa tajam (khas). Kelarutan : dapat bercampur degan aseton, alkohol, gliserin dan kloroform, larut 1 : 6 eter, tidak bercampu dengan minyak mineral ringan, tapi akan terlarut dengan beberapa minyak essensial. Pada sediaan topikal, propilen glikol yag digunakan sebagai pelarut atau pelarut campur sebesar 5-80%, sedangkan sebagai humektan sebesar 15%.

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Prinsip Percobaan Berdasarkan kecepatan absorpsi dan eliminasi serta jumlah ibuprofen dalam plasma tikus setelah pemberian oral suspensi ibuprofen dengan model satu kompartemen terbuka.

I.2.

Tujuan Percobaan Adapun tujuan dilakukannya percobaaan ini untuk melihat pengaruh penambahan suspending agent dalam hal ini tragakan, terhadap parameter parameter farmakokinetik serta profil farmakokinetik suspensi oral ibuprofen.

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1.

Hasil Percobaan

1. Kadar ibuprofen dalam darah tikus formula 3 Luas Puncak Ibuprofen 452753 643714 727568 699432 690921 623411 Luas Puncak Ketoprofen 2156151 2144236 2163718 2121234 2153118 2154124

Waktu (t) 5 15 30 60 120 180

Faktor

Kadar g/mL 33,80 71,80 86,96 84,24 80,52 67,24

Ibuprofen/Ketoprofen pengenceran 0,20998 0,30021 0,33626 0,32973 0,32089 0,28940 4x 4x 4x 4x 4x 4x

2. Parameter farmakokinetika Formula T maks AUC Cmax 88,008 g/mL

38,25 jam

50303,523 g jam/mL

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Informatorium Obat Generik . 1989 . Departemen Kesehatan Repunlik Indonesia.

The Pharmaceutical Society of Great Brittany, Handbook of Pharmaceutical Exipients . 1986. American Pharmaceutical Association . Washington . U.S.A

Ansel, C. Howard. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi - IV: UIPress. Jakarta.

Tjay, Tan Hoa. Rahardja, Kirana.2002. Obat-Obat Penting: Elex Media Komputindo. Jakarta Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.1979.Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta : DEPKES RI.

LAMPIRAN 1
Perhitungan Kadar Ibuprofen dalam Plasma

Diketahui :

Y = 0,0095 x + 0,1297 Waktu (t) 5 15 30 60 120 180 A Faktor

ibuprofen/ketoprofen pengenceran 0,20998 0,30021 0,33626 0,32973 0,32089 0,28940 4x 4x 4x 4x 4x 4x

Perhitungan : Untuk t = 5 menit Y = 0,0095 x + 0,1297 = 0,20998 0,1297 0,0095 X Kadar 8,45 g/ml x 4 (faktor pengenceran) = 33,80 g/ml = 8,45 g/ml

0,20998 = 0,0095 x + 0,1297 X

Untuk t = 15 menit Y = 0,0095 x + 0,1297

0,30021 = 0,0095 x + 0,1297 X = 0,30021 0,1297 0,0095 X Kadar 17,95 g/ml x 4 (faktor pengenceran) = 71,80 g/ml = 17,95 g/ml

Untuk t = 30 menit Y = 0,0095 x + 0,1297

0,33626 = 0,0095 x + 0,1297 X = 0,33626 0,1297 0,0095 X Kadar 21,74 g/ml x 4 (faktor pengenceran) = 86,96 g/ml = 21,74 g/ml

Untuk t = 60 menit Y = 0,0095 x + 0,1297

0,32973 = 0,0095 x + 0,1297 X = 0,32973 0,1297 0,0095 X Kadar 21,06 g/ml x 4 (faktor pengenceran) = 84,24 g/ml = 21,06 g/ml

Untuk t = 120 menit Y = 0,0095 x + 0,1297

0,32089 = 0,0095 x + 0,1297 X = 0,32089 0,1297 0,0095 X Kadar 20,13 g/ml x 4 (faktor pengenceran) = 80,52 g/ml = 20,13 g/ml

Untuk t = 180 menit Y = 0,0095 x + 0,1297

0,28940 = 0,0095 x + 0,1297 X = 0,28940 0,1297 0,0095 X Kadar 16,81 g/ml x 4 (faktor pengenceran) = 67,24 g/ml = 16,81 g/ml

LAMPIRAN 2 Perhitungan Parameter Farmakokinetika

Waktu (t) 5 15 30 60 120 180

Kadar g/mL 33,80 71,80 86,96 84,24 80,52 67,24

Perhitungan AUC0- tanpa model Farmakokinetika Waktu (Jam) 5 15 30 60 120 180 AUC0-t a. AUC 0-5 = ( C0 + C5 ) x ( t5 t0) 2 = (0 + 33,80) x (5 - 0) 2 = 84,5 Kadar Obat (C) (g/mL) 33,80 71,80 86,96 84,24 80,52 67,24 AUCtn-tn-1 84,5 528 1190,7 2568 4942,8 4432,8 13746,8

b. AUC 5-15

= ( C5 + C15 ) x ( t15 t5) 2 = (33,80 + 71,80) x (15 - 5) 2 = 528 = ( C15+ C30 ) x ( t30 t15) 2 = (71,80 + 86,96) x (30 - 15) 2 = 1190,7 = ( C30+ C60) x ( t60 t30) 2 = (86,96 + 84,24) x (60 - 30) 2 = 2568 = ( C60+ C120) x ( t120 t60) 2 = (84,24 + 80,52) x (120 - 60) 2 = 4942,8 = ( C120+ C180) x ( t180 t120) 2 = (80,52 + 67,24) x (180 - 120) 2 = 4432,8

c. AUC 15-30

d. AUC 30-60

e. AUC 60-120

f. AUC 120-180

Persamaan regresi untuk eliminasi antara waktu terhadap Ln Ct

Waktu (Jam) 5 15 30 60 120 180

Kadar Obat (C) (g/mL) 33,80 71,80 86,96 84,24 80,52 67,24 AUC0-t

AUCtn-tn-1 84,5 528 1190,7 2568 4942,8 4432,8 13746,8

Ln Ct

4,43367 4,38851 4,20827

y=a+bx ln Ct = ln B -t atau Ct = B. e-t y = ln Ct , anti ln a = B, b=- Regresi linier untuk 3 titik terakhir : a = 4,569 b = - 0,00188 Persamaan Eliminasi : = 0,00188 B= anti ln a = 96,448 Ct = 96,448 e-0,00188t

Perhitungan AUC0- AUC0- = AUC0-t + Ct/ AUC0- = 13746,8 + 67,24/ 0,00188 = 49512,75 g/mL.jam

Perhitungan Cext, Cext-C, ln Cext-C pada 3 titik awal Waktu (Jam) 5 15 30 60 120 180 Kadar Obat (C) (g/mL) 33,80 71,80 86,96 84,24 80,52 67,24 AUC0-t Perhitungan Cext a. Ct = 96,448 e-0,00188t = 96,448 e-0,00188.5 = 95,55 b. Ct = 96,448 e-0,00188t = 96,448 e-0,00188.15 = 93,77 c. Ct = 96,448 e-0,00188t = 96,448 e-0,00188.30 = 91,16 Perhitungan Cext-C a. 95,55 33,80 = 61,75 b. 93,77 71,80 = 21,97 c. 91,16 86,96 = 4,2 AUCtn-tn-1 Ln Ct Cext Cext-C ln Cext-C

84,5 528 1190,7 2568 4942,8 4432,8 13746,8 4,43367 4,38851 4,20827

95,55 93,77 91,16

61,75 21,97 4,2

4,12309 3,08968 1,43508

Buat persamaan regresi linier untuk absorpsi antara waktu (t) terhadap Ln(CExt C) y=a+bx ln Ct = ln A -t atau Ct = A. e-t y = ln Ct , anti ln a = A, b=- Regresi linier untuk 3 titik awal : a = 4,678 b = -0,1077 Persamaan Absorpsi : = 0,1077 A= anti ln a = 107,55 Ct = 107,55 e-0,1077 t

Parameter farmakokinetika a. Luas di bawah kurva (Area Under Curve/AUC) Dengan Model Farmakokinetika AUC0- = B/ - A/ = 96,448 / 0,00188 107,55/ 0,1077 = 51302,13 998,607 = 50303,523 g/mL.jam b. Waktu pencapaian konsentrasi maksimum (tmaks) 1 0,1077 ln ----0,00188 Tmaks = --------- ln ----(-) 1 Tmaks = --------(0,1077 -0,00188)

Tmaks

= 38,25 jam

c. Konsentrasi Maksimum (Cmaks) Cmaks = B. e-.t maks A.e-.t maks Cmaks = 96,448 e-0,00188x38,25 - 107,55 e-0,1077x38,25 Cmaks = 89,756 1,748 Cmaks = 88,008 g/mL d. Persamaan farmakokinetika Ct = 96,448 e-0,00188t - 107,55 e-0,1077 t

LAMPIRAN 3 Perhitungan Pemberian Dosis

Perhitungan dosis suspensi ibuprofen pada tikus 1 Bobot Tikus 1 = 283 g Obat (standar) : 0,018 x 200 mg = 3,6 mg
dosis untuk tikus 283 3,6 5,094 mg 200

Volume pemberian :
Vol pemberian pada tikus 5,094 5 mL 0,2547 mL 100

Perhitungan dosis suspensi ibuprofen pada tikus 2 Bobot Tikus 2 = 293 g Obat (standar) : 0,018 x 200 mg = 3,6 mg
dosis untuk tikus 293 3,6 5,274 mg 200

Volume pemberian :
Vol pemberian pada tikus 5,274 5 mL 0,2637 mL 100

LAMPIRAN 4 GRAFIK

kadar
3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 kadar

Profil Farmakokinetika yang Menghubungkan Kadar Ibuprofen dalam Darah terhadap Waktu Pengambilan Sampel

LAMPIRAN 5

Proses Pengambilan Sampel Darah Tikus

Proses Sentrifugasi Sampel Darah tikus

Proses Pemisahan Serum

Proses Pengenceran Sampel