Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkah, nikmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Pemeriksaan Radiologi pada Tumor Testis yang disusun dalam rangka memenuhi persyaratan kepaniteraan di bagian Radiologi Rumah Sakit Dr. Slamet, Garut. Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Dr. Usep Saiful, Sp. Rad selaku konsulen pembimbing yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmu kepada penulis. 2. Para penata : Bapak Rahmat dan Bapak Andry. 3. Orang tua, keluarga dan orang-orang terdekat yang tidak pernah berhenti memberi kasih sayang, mendoakan, dan memberi dukungan kepada penulis. 4. Andi, Dara, Mega dan kak Amel sebagai rekan kepaniteraan yang telah memberikan dukungan, bantuan dan kerja sama yang baik. Penulis menyadari bahwa referat ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik serta saran. Semoga dengan adanya referat ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan bagi semua pihak. Wassalamualaikum Wr. Wb. Garut, Mei 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. 1 DAFTAR ISI .............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN BAB II TUMOR TESTIS ...................................................................... ...................................................................... 2 3 4

BAB III PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA TUMOR TESTIS ....... 10 BAB KESIMPULAN & SARAN ............................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 17

BAB I PENDAHULUAN

Tumor testis adalah tumor yang berasal dari sel germinal atau jaringan stroma testis. 4, 5, 9 Tumor testis relatif jarang ditemukan, walaupun insidennya menunjukkan peningkatan pada tahun-tahun terakhir ini. Di Inggris ditemukan kurang dari 1 % dari seluruh kematian akibat kanker (Coupt, 2000). 4, 5, 9 Tumor testis cukup penting, banyak mengenai pria dewasa muda dan merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada kelompok ini (Satumed.com, 2004). Banyak diantaranya mempunyai tingkat keganasan yang tinggi walaupun kemajuan kemoterapi akhir-akhir ini telah mampu memperbaiki prognosis penderita. 4, 5, 9 Menurut Purnomo (2003), tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia diantara 15 35 tahun dan merupakan 1 2% semua neplasma pada pria, dipaparkan juga bahwa akhir-akhir ini terdapat perbaikan usia harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, karena sarana diagnosis yang lebih baik, diketemukannya penanda tumor, diketemukannya regimen kemoterapi dan radiasi, serta teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari 50% (1970) menjadi 5% (1997). 4, 5, 9 Pemeriksaan radiologi pada tumor testis dipercaya dapat membantu menegakkan diagnosis penyakit tumor testis ini. Pemeriksaan dapat berupa Ultrasonografi (USG), Computed Tomography (CT), dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). 9, 13

BAB II TUMOR TESTIS

Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia. Manusia (pria) mempunyai dua testis yang dibungkus dengan skrotum. 4, 5, 6, 9 Pada mamalia, testis terletak di luar tubuh, dihubungkan dengan tubulus spermatikus dan terletak di dalam skrotum.
4, 5, 6, 9

2.1

Anatomi Testis

Gambar 1.

Anatomi Testis

Gambar 2. Anatomi Testis (potongan sagital) 6

Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang. 4, 5, 6, 9 Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air

mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis.
6, 9

4, 5,

Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut sel intersisial Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon testosteron.4, 5, 6, 9

2.2

Fungsi Testis Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin. Fungsi testis: memproduksi sperma (spermatozoa) memproduksi hormon seks pria seperti testosteron. 4, 5, 6, 9 Kerja testis di bawah pengawasan hormon gonadotropik dari kelenjar

pituitari bagian anterior: luteinizing hormone (LH) follicle-stimulating hormone (FSH) 4, 5, 6, 9

2.3

Sawar Darah Testis Molekul besar tidak dapat menembus ke lumen (bagian dalam tubulus)

melalui darah, karena adanya ikatan yang kuat antar sel Sertoli. Fungsi dari sawar darah testis adalah untuk mencegah reaksi auto-imun. Tubuh dapat membuat antibodi melawan spermanya sendiri, maka hal ini dicegah dengan sawar. Bila sperma bereaksi dengan antibodi akan menyebabkan radang testis dan menurunkan kesuburan. 4, 5, 6, 9

2.4

Tumor Testis Tumor testis berasal dari sel germinal atau jaringan stroma testis. Lebih

dari 90% berasal dari sel germinal. Tumor ini mempunyai derajat keganasan

tinggi, tetapi dapat sembuh bila diberi penanganan adekuat. Tumor ini mempunyai petanda tumor sejati yang berharga sekali untuk diagnosis, rencana terapi, dan kontrol. 4, 9, 14 Tumor testis sel germinal merupakan tumor yang agak jarang ditemukan dan meliputi kurang lebih 1% dari keganasan lelaki. Kebanyakan ditemukan pada usia 20 dan 36 tahun. 4, 9, 14

2. 5

Etiologi Tumor Testis Faktor penyebab tumor testis tidak jelas. Faktor genetik, virus atau

penyebab infeksi lain, atau trauma testis tidak memengaruhi terjadinya tumor ini. Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus mempunyai risiko lebih tinggi untuk tumor testis ganas. 4, 9, 14 Penggunaan hormon dietilstilbestrol, yang terkenal sebagai DES, oleh ibu pada kehamilan dini meningkatkan risiko tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia dewasa muda, yang berarti tumor testis untuk janin lelaki. 4, 9, 14

2.6

Patologi Tumor Testis Dari berbagai klasifikasi tumor testis ganas, klasifikasi WHO makin sering

dipakai. Selain seminoma yang berasal dari sel germinal, terdapat karsinoma embrional, teratoma, dan koriokarsinoma yang digolongkan nonseminoma, yang dianggap berasal dari sel germinal pada tahap perkembangan lain hostogenesis. Seminoma meliputi sekitar 40% dari tumor ganas testis. 4, 9, 14 Metastasis tumor testis kadang berbeda sekali dari tumor induk, yang berarti tumor primer terdiri atas berbagai jenis jaringan embrional dengan daya invasi yang berbeda. 4, 9, 14

2.7

Pertumbuhan dan Penyebaran Tumor Testis Kecuali tumor koriokarsinoma, tumor testis menyebar melalui pembuluh

limf. Kelenjar linf terletak paraaortal kiri setinggi L2 tepat di bawah hilus ginjal dan di sebelah kanan antara aorta dan vena kava setinggi L3 dan prakava setinggi l2. Metastasis di kelenjar inguinal hanya terjadi setelah penyusupan tumor ke dalam kulit skrotum atau setelah dilakukan pembedahan pada funikulus spermatikum. 4, 9, 14 Penyebaran (lihat bagan 2). 4, 9, 14 Bagan 1 Klasifikasi Tumor Ganas Testis 14
1. Seminoma 2. Nonseminoma 3. Koriokarsinoma Yang khas Spermatositik anaplastik karsinoma embrional teratokarsinoma (embrional + teratom) teratom matur dan imatur

hematogen

luas

pada

tahap

ini

merupakan

tanda

koriokarsinoma. Untuk klasifikasi tingkat penyebaran digunakan sistem TNM

Bagan 2 Klasifikasi TNM Tumor Testis 14


T Tumor primer

Tis T1 T2 T3 T4 N

Prainvasif (intrtubular) Testis dan retetestis Di luar tunika albuginea atau epididimis Funikulus Spermatikus Skrotum Kelenjar limf

N0 N1 N2 N3 M

Tidak ditemukan keganasan Tunggal <2 cm Tunggal 2-5 cm; multipel <5 cm Tunggal atau multipel >5 cm Metastasis jauh

M0 M1

Tidak dapat ditemukan Terdapat metastasis jauh

Bagan 3 Stadium dan Tingkat Penyebaran Tumor Testis 14


Stadium I II II A II B II C III TNM N0 N+ N1 N2 N3 M+ Lokasi Tumor Di dalam testis dan rete testis, kelenjar limf negatif Kelenjar limf retroperitoneal positif <2 cm 2-5 cm >5 cm Kelenjar limf proksimal diafragma positif atau metastasis jauh seperti di paru, hati, otak, atau tulang

2.8

Gambaran Klinis Gambaran khas tumor testis ialah benjolan di dalam skrotum yang tidak

nyeri dan tidak diafan. Biasanya tumor terbatas di dalam testis sehingga mudah dibedakan dari epididimis pada palpasi yang dilakukan dengan telunjuk dan ibu jari. 4, 9, 14 Gejala dan tanda lain, seperti nyeri pinggang, kembung perut, dispnea atau batuk, dan ginekomastia menunjukkan metastasis yang luas. 4, 9, 14

2.9

Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis banding meliputi setiap benjolan di dalam skrotum yang

berhubungan dengan testis, seperti hidrokel, epididimitis, orkitis, infark testis, atau cedera. 4, 9, 14 Transiluminasi, USG, dan pemeriksaan endapan kemih sangat berguna untuk membedakan tumor dari kelainan lain. Kadang tumor testis disertai dengan hidrokel. Oleh karena itu, USG sangat berguna. 4, 9, 14 Pemeriksaan petanda tumor sangat berguna, yaitu beta-human chorionic gonadotropin (beta-HCG), alfa fetoprotein (AFP), dan laktat dehidrogenase (LDH). Foto paru dibuat untuk diagnosis metastasis paru. Diagnosis pasti ditentukan dengan pemeriksaan histologik sediaan biopsi. 4, 9, 14 Pada referat ini akan dijelaskan lebih lengkap tentang pemeriksaan radiologi pada tumor testis.

BAB III PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA TUMOR TESTIS

Macam-macam pemeriksaan radiologi pada tumor testis : 1. CT Scan (Computerized Tomografi Scaning) CT-Scan adalah pemeriksaan dengan alat X-Ray yang dikombinasikan dengan komputer sehingga dapat melihat potongan organ dengan jelas. CT-Scan berguna untuk menentukan stadium pada tumor testis (lihat bagan 3). 2, 13

Gambar 3. CT-Scan seminoma 7

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging) MRI adalah suatu alat canggih yang merupakan kombinasi dari magnet yang dikendalikan oleh komputer sehingga dapat membuat pemeriksaan dengan arah irisan atau potongan axial (melintang), sagital (memotong kanan kiri), coronal (memotong depan belakang). 2, 13 MRI merupakan pemeriksaan radiologi tanpa Sinar-X. 2, 13

10

Gambar 4.

Tumor Testis Sel Leydig (nonseminoma) (a) belum berkembang (b) stage tumor T1 (c) stage tumor T2 1, 10

Gambar 5. Tumor Testis Sel Leydig (nonseminoma) (a) belum berkembang (b) stage tumor T1 dengan lokasi perifer di parenkim testis (c) stage tumor T2 di area sentral bekas luka dengan sinyal yang tinggi (d) Gambaran patologi menunjukkan tumor berbentuk lobus dengan ukuran 2 cm. Jaringan parut terlihat. 1, 10

11

3. USG (Ultra Sonografi) 4 Dimensi USG merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi kelainankelainan yang ada di dalam rongga abdomen / perut / organ-organ tertentu dengan menggunakan gelombang ultrasound. 2, 13 Gelombang ultrasound terdiri dari suatu pengubah mekanik dari suatu medium seperti udara. Pengubah mekanik itu melewati medium pada suatu kecepatan tertentu menyebabkan getaran. Kecepatan partikel-pertikel tersebut bergetar disebut frekuensi, diukur dalam putaran per menit atau hertz (Hz). Suara menjadi tidak kedengaran oleh telinga manusia kira-kira di atas 20 kHz, atau 20 ribu Hertz, dan itulah yang dikenal dengan ultrasound. Diagnostik imaging menggunakan frekuensi yang jauh lebih tinggi, yaitu megahertz (MHz), atau jutaan Hertz. 2, 13 Frekuensi yang semakin tinggi menggunakan resolusi yang lebih baik. Yang terakhir adalah kemampuan untuk membedakan dua objek yang berdekatan. Meskipun demikian, dengan peningkatan frekuensi, lebih banyak sorotan ultrasound yang terikat oleh target dan sorotan tersebut tidak dapat dipenetrasi lebih jauh. Untuk alasan ini, frekuensi yang lebih tinggi (7,5 MHz) digunakan untuk memberikan gambaran yang baik dan terperinci dari organ-organ superfisial seperti prostat, testis, tiroid dan dada., dan frekuensi yang lebih rendah (3,5 MHz) untuk pemeriksaan abdomen. 2, 13 Ultrasonografi atau sonografi adalah penggunaan gelombang suara untuk kepentingan radiologik, tidak menggunakan sinar-X atau radiasi yang lain, aman, dan digunakan tanpa anestesi. Pada urologi pria, prostat dan testis dekat dengan permukaan tubuh dan dapat dicitrakan dengan ultrasonografi untuk membantu diagnosis dan untuk melakukan biopsi terhadap temuan abnormal. 2, 13 Cairan atau suatu massa di sekitar skrotum (jaringan di sekitar testis) tidak mungkin ditemukan dengan pemeriksaan fisik testis. Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan membantu melihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel atau spermatokel), vena abnormal (varikokel),

12

dan kemungkinan adanya tumor. Pada penyakit prostat, ultrasonografi dapat digunakan lewat suatu pemeriksaan rektal. 2, 13 Ultrasonografi transrektal secara rutin digunakan untuk biopsi prostat pada pasien dengan level PSA abnormal untuk melihat adanya abnormalitas dan untuk membantu dalam penempatan jarum untuk biopsi secara tepat. Ultrasonografi prostat juga dapat digunakan untuk menunjukkan blok pada peri-prostatik (sebelum biopsi atau prosedur) dan menghasilkan penilaian ukuran prostat yang akurat untuk pembesaran prostat atau penanganan kanker prostat. Pasien harus diberikan antibiotik terlebih dahulu sebelum melakukan prosedur ini. 2, 13 Ketika suatu pemerikasaan transrektal digunakan untuk sonografi pelvis, kanker ditunjukkan dengan densitas asimetris dalam prostat. Prosedur ini bukanlah yang paling memberikan arti sensitif dalam menegakkan diagnosis, tapi penting untuk mendokumentasikan derajat dari perluasan tumor ke vesikel seminal. 2, 13 Ultrasonografi pada testis digunakan untuk menentukan penempatan suatu massa yang dapat teraba ketika dicurigai adanya tumor pada testis. Biasanya, lesi ekstra-testikular yang dapat diraba bersifat jinak. Pada sisi lain, massa intratestikular, terutama jika teraba, bersifat ganas dan harus segera dioperasi. Oleh karena itu, ultrasonografi bermanfaat untuk melokalisir kelainan yang dapat diraba dan untuk menentukan tindakan pembedahan apa yang akan dilakukan.2, 13 Pemeriksaan ultrasonografi pada umumnya dilakukan dengan

menggunakan suatu transduser frekuensi tinggi yang linier untuk membandingkan echotekstur testis pada area yang heterogen. 2, 13

13

Beberapa keuntungan dari Ultrasonografi Tidak ada kerusakan jaringan akibat radiasi Tidak diketahui adanya efek samping Murah Mudah dibawa (portable) Persiapan minimal dari pasien Tanpa rasa sakit Non invasive Penglihatan langsung untuk biopsi 2, 13

Ultrasonografi sangat efektif dalam mengevaluasi testis yang normal dan mengenali adanya lesi fokal; massa yang berdiameter hanya beberapa milimeter dapat divisualisasi dengan akurat. Lesi-lesi dengan kelainan eko pada testis memerlukan biopsi untuk mengetahui diagnosis pastinya. 2, 13 Tumor testis bersifat hypoechoic terhadap jaringan parenkim di sekitarnya pada kira-kira 95% kasus. Carmignani et al, 2005; Schwerk et al, 1987 menyatakan bahwa lesi seminoma lebih sering bersifat hypoechoic homogen dan lesi nonseminoma sering bersifat kistik, dengan diselang-selingi oleh proses kalsifikasi. 2, 13 A. Seminoma Merupakan sebagian besar tumor testis dan tampak sebagai lesi massa dengan eko lemah berbatas tegas dan homogen, dan berbatas tegas dengan jaringan testis normal. 11

14

Gambar 6.

Gambaran USG Seminoma 7

B. Teratoma Tumor ini memilik pola eko campuran dan dapat bersifat kistik maupun solid. Puncak insidensi tumor testis adalah antara usia 25 dan 35 tahun, dengan peningkatan risiko pada testis yang tidak turun. Pada kelompok usia yang lebih tua, massa testis cenderung merupakan metastasis, daripada sebagai tumor primer. Staging tumor memerlukan pemeriksaan CT toraks dan pelvis. 11

15

BAB IV KESIMPULAN & SARAN

Tumor testis merupakan tumor yang berasal dari sel germinal atau jaringan stroma testis. Tumor testis cukup penting, banyak mengenai pria dewasa muda dan merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada kelompok ini. Dalam diagnosa penyakit diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan antara lain : CT Scan, MRI, dan USG. CT-Scan berguna untuk menentukan stadium pada tumor testis. Ultrasonografi pada testis digunakan untuk menentukan penempatan suatu massa yang dapat teraba ketika dicurigai adanya tumor pada testis. Biasanya, lesi ekstratestikular yang dapat diraba bersifat jinak. Pada sisi lain, massa intratestikular, terutama jika teraba, bersifat ganas dan harus segera dioperasi. Sedangkan MRI dapat melihat gambaran jaringan dari tumor testis tersebut. Ketiga macam pemeriksaan radiologi tersebut penting dalam menegakkan diagnosis tumor testis. Saran dari penulis adalah penmeriksaan radiologi dalam mendiagnosa suatu penyakit agar lebih ditingkatkan. Dan sebagai tenaga kesehatan ilmu radiologi harus dipelajari dengan baik.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Fernandez G C, Tarda Guila F, Rivas C, et al. 2004. MRI in the Diagnosis of Testicular Leydig Cell Tumour. The British Journal of Radiology, 77 (2004), 521524 2. http://bjr.birjournals.org/cgi/content/full/77/918/521 diunduh tanggal 20-511 3. http://darryltanod.blogspot.com/2008/07/g-ambaran-usg-pada-tumortestis-darryl.html diunduh tanggal 20-5-11 4. http://id.wikipedia.org/wiki/Testis diunduh tanggal 20-5-11 5. http://medlinux.blogspot.com/2008/12/tumor-testis.html diunduh tanggal 20-5-11 6. http://www.bartleby.com/107/258.html diunduh tanggal 20-5-11 7. http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.medicalecho.net/IMA GES/3W9/seminoma%2520testicle%2520ultrasonography3W900006.jpg diunduh tanggal 20-5-11 8. http://www.pathologyoutlines.com/testis.html diunduh tanggal 20-5-11 9. http://www.scribd.com/doc/55520578 diunduh tanggal 20-5-11 10. Obembe, Olufolajimi O & Patel, Maitray D. 2010. Value of dynamic, contrast-enhanced MRI & intraoperative ultrasound for management of a nonpalpable, incidental, testicular Leydig-cell tumor. Department of Radiology at the Mayo Clinic, Scottsdale AZ. Radiology Case Reports, Vol 5, No 3 (2010) 11. Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes Radiologi Ed. 2. Jakarta : Penerbit Erlangga 12. Piece, A. G. & Neil, R. B. 2007. At a Glance Ilmu Bedah Ed. 3. Jakarta : ISBN Erlangga 13. Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik Ed. Kedua. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 14. Sjamsuhidajat, R., Jong, Wim de. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed. 2. Jakarta : EGC

17