Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN PADA NY Y DENGAN DIAGNOSA MEDIS CA RECTI DI RUANG 25 RSD DR.

SAIFUL ANWAR MALANG

DISUSUN OLEH : TSALITS FAJRI MP 200701063

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAJAPAHIT PROGRAM PROFESI NERS MOJOKERTO 2011

LEMBAR PENGESAHAN Laporan pendahuluan ini digunakan sebagai salah satu syarat untuk praktika di Ruang 25 RSU Dr. Saiful Anwar Malang Telah disahkan pada Hari Tanggal : :

Mengetahui,

Pembimbing Klinik

Pembimbing Akademik

Kepala Ruangan Ruang 25

LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Kanker rekti adalah pertumbuhan sel abnormal atau keganasan atau maligna pada daerah rectum. Ca. Recti adalah keganasan jaringan epitel pada daerah rectum. Kanker colorectal berasal dari jaringan kolon (bagian terpanjang di usus besar) atau jaringan rektum (beberapa inci terakhir di usus besar sebelum anus). Sebagian besar kanker colorectal adalah adenocarcinoma (kanker yang dimulai di sel-sel yang membuat serta melepaskan lendir dan cairan lainnya).Parkwaycancercentre.com

Ca Rekti adalah kanker yang terjadi pada rektum.

B. ETIOLOGI Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko telah teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah serat.

Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada

dinding dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.

Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang

menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar

Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker

colorectal dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.

Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai

riwayat kanker colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena

penyakit ini lebih besar, khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.

Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan

yang tinggi lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker colorectal.

Usia di atas 50: Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia

lebih tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas. ( parkwaycancercentre.com ) C. TANDA DAN GEJALA 1)
2) 3) 4)

Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi) Usus besar terasa tidak kosong seluruhnya Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran Kotoran lebih sempit dari biasanya Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan Kehilangan berat badan tanpa alasan Selalu merasa sangat letih Mual atau muntah-muntah.

5) 6) 7) 8)

( parkwaycancercentre.com ) D. PATOFISIOLOGI Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal. Tumor-tumor pada Recti dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen, kemudian menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. Penyebaran tumor terjadi secara limfogenik, hematogenik atau anak sebar. Hati, peritonium dan organ lain mungkin dapat terkena.

Menurut P. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. Karena keluhan dan gejala tersebut berlangsung perlahan-lahan dan tidak sering, penderita umumnya merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya datang berobat dalam stadium lanjut. E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1)

Tes darah samar pada feses/kotoran (Fecal Occult Blood Test

FOBT): Terkadang kanker atau polip mengeluarkan darah, dan FOBT dapat mendeteksi jumlah darah yang sangat sedikit dalam kotoran. Karena tes ini hanya mendeteksi darah, tes-tes lain dibutuhkan untuk menemukan sumber darah tersebut. Kondisi jinak (seperti hemoroid), juga bisa menyebabkan darah dalam kotoran.
2)

Sigmoidoskopi: Dokter akan memeriksa rektum Anda dan bagian bawah

kolon dengan tabung cahaya (sigmoidoskop). Jika ditemukan polip (pertumbuhan jinak yang dapat menjadi kanker), maka polip bisa diangkat.
3)

Kolonoskopi: Dokter akan memeriksa rektum dan seluruh kolon dengan

menggunakan tabung panjang bercahaya (kolonoskop). Jika ditemukan polip (pertumbuhan jinak yang dapat menjadi kanker), maka polip bisa diangkat.
4)

Enema barium kontras ganda (Double-contrast barium enema):

Prosedur ini mencakup pengisian kolon dan rektum dengan bahan cair putih (barium) untuk meningkatkan kualitas gambar sinar X. Dengan demikian, ketidaknormalan (seperti polip) dapat terlihat dengan jelas.
5)

Pemeriksaan rektal secara digital: Pemeriksaan rektal seringkali

menjadi bagian pemeriksaan (check-up) fisik rutin. Dokter akan memasukkan jari dengan sarung tangan yang telah dilumasi ke dalam rektum, untuk merasakan ketidaknormalan. ( parkwaycancercentre.com) F. JENIS KLASIFIKASI

Dokter membagi kanker colorectal berdasarkan stadium berikut:


1)

Stadium 0: Kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam di kolon atau Stadium I: Tumor telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum. Stadium II: Tumor telah berkembang lebih dalam atau menembus

rektum. Carcinoma in situ adalah nama lain untuk kanker colorectal Stadium 0.
2)

Tumor belum tumbuh menembus dinding.


3)

dinding kolon atau rektum. Kanker ini mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya, tapi sel-sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening,
4)

Stadium III: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di Stadium IV: Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya Kambuh: Kanker ini merupakan kanker yang sudah diobati tapi kambuh

sekitarnya, tapi belum menyebar ke bagian tubuh yang lain.


5)

hati atau paru-paru.


6)

kembali setelah periode tertentu, karena kanker itu tidak terdeteksi. Penyakit ini dapat kambuh kembali dalam kolon atau rektum, atau di bagian tubuh yang lain. ( parkwaycancercentre.com ) Menurut klasifikasi duke berdasarkan atas penyebaran sel karsinoma dibagi menjadi : 1) 2) 3) 4) Kelas A Kelas B Kelas C Kelas D : Tumor dibatasi mukosa dan submukosa. : Penetrasi atau penyebaran melalui dinding usus. : Invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional. : Metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas.

G. PENATALAKSANAAN Berbagai jenis terapi tersedia untuk pasien kanker rektal. Beberapa adalah terapi standar dan beberapa lagi masih diuji dalam penelitian klinis. Tiga terapi standar untuk kanker rektal yang digunakan antara lain ialah : 1) Pembedahan Pembedahan merupakan terapi yang paling lazim digunakan terutama untuk stadium I dan II kanker rektal, bahkan pada pasien suspek dalam stadium III juga dilakukan pembedahan. Meskipun begitu, karena kemajuan ilmu dalam metode penentuan stadium kanker, banyak pasien kanker rektal dilakukan pre-surgical

treatment dengan radiasi dan kemoterapi. Penggunaan kemoterapi sebelum pembedahan dikenal sebagai neoadjuvant chemotherapy, dan pada kanker rektal, neoadjuvant chemotherapy digunakan terutama pada stadium II dan III. Pada pasien lainnya yang hanya dilakukan pembedahan, meskipun sebagian besar jaringan kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien masih membutuhkan kemoterapi atau radiasi setelah pembedahan untuk membunuh sel kanker yang tertinggal. Tipe pembedahan yang dipakai antara lain :
Eksisi lokal : jika kanker ditemukan pada stadium paling dini, tumor dapat

dihilangkan tanpa tanpa melakukan pembedahan lewat abdomen. Jika kanker ditemukan dalam bentuk polip, operasinya dinamakan polypectomy. Reseksi: jika kanker lebih besar, dilakukan reseksi rektum lalu dilakukan anastomosis. Jiga dilakukan pengambilan limfonodi disekitan rektum lalu diidentifikasi apakah limfonodi tersebut juga mengandung sel kanker. Gambar Reseksi dan Anastomosis

Reseksi dan kolostomi : Gambar Reseksi dan Kolostomi

2) Radiasi Sebagai mana telah disebutkan, untuk banyak kasus stadium II dan III lanjut, radiasi dapat menyusutkan ukuran tumor sebelum dilakukan pembedahan. Peran lain radioterapi adalah sebagai sebagai terapi tambahan untuk pembedahan pada kasus tumor lokal yang sudah diangkat melaui pembedahan, dan untuk penanganan kasus metastasis jauh tertentu. Terutama ketika digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi, radiasi yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah menurunkan resiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian sebesar 29%. Pada penanganan metastasis jauh, radiesi telah berguna mengurangi efek lokal dari metastasis tersebut, misalnya pada otak. Radioterapi umumnya digunakan sebagai terapi paliatif pada pasien yang memiliki tumor lokal yang unresectable 3) Kemoterapi Adjuvant chemotherapy, (menengani pasien yang tidak terbukti memiliki penyakit residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan), dipertimbangkan pada pasien dimana tumornya menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombol ( Stadium II lanjut dan Stadium III). terapi standarnya ialah dengan fluorouracil, (5-FU) dikombinasikan dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas bulan. 5-FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon. Agen lainnya, levamisole, (meningkatkan sistem imun, dapat menjadi substitusi bagi leucovorin. Protopkol ini menurunkan angka kekambuhan kira kira 15% dan menurunkan angka kematian kira kira sebesar 10%. H. KOMPLIKASI 1) Hemmoragi (perdarahan) 2) Syok

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah: 1) Aktivitas/istirahat: Gejala:

Kelemahan, kelelahan/keletihan Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari. Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi. 2) 3) Sirkulasi: Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas Tanda: Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah. Integritas ego: Gejala:

Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual) Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan) Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi. Tanda: Menyangkal, menarik diri, marah. 4) Eliminasi: Gejala:

Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi Tanda:

Perubahan bising usus, distensi abdomen Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah 5) Makanan/cairan: Gejala:

Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet) Anoreksia, mual, muntah toleransi makanan Tanda: Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot 6) Nyeri/ketidaknyamanan: Gejala:

Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit 7) 8) 9) Keamanan: Gejala: Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika. Tanda: Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia Interaksi sosial Gejala: Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan) Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan Penyuluhan/pembelajaran: Riwayat kanker dalam keluarga Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika. Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

status kesehatan.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus. Ditandai dengan: Peningkatan bunyi usus/peristaltik Peningkatan defekasi cair Perubahan warna feses Nyeri/kram abdomen

2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus. Ditandai dengan: Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk Peningkatan bunyi usus Konjungtiva dan membran mukosa pucat Mual, muntah, diare

3) Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma) Ditandai dengan: Eksaserbasi penyakit tahap akut Penigkatan ketegangan, distres, ketakutan Iritabel

4) Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat) Ditandai dengan: Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas Menyatakan diri tidak berharga

Depresi dan ketergantungan

5) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi. Ditandai dengan: Mengajukan pertanyaan, meminta informasi atau kesalahan pernyataan Tidak akurat mengikuti instruksi Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah konsep

III. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN DX Kep 1 : Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus. Intervensi 1. Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah baring siapkan alat yang diperlukan dekat tempat tidur, pasang tirai dan segera buang feses setelah defekasi). 2. Tingkatkan/pertahankan asupan cairan per oral. 3. Ajarkan tentang makananminuman yang dapat memperburuk/mencetus-kan diare. 4. Observasi dan catat frekuensi defekasi, volume dan karakteristik feses. 5. Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan. 6. Kolaborasi pemberian obatobatan sesuai program terapi (antibiotika, antikolinergik, kortikosteroid). Rasional 1. Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda sehingga perlu diantisipasi dengan menyiapkan keperluan klien. 2. Mencegah timbulnya maslah kekurangan cairan. 3. Membantu klien menghindari agen pencetus diare.

4. Menilai perkembangan maslah. 5. Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan tindakan kedaruratan. 6. Antibiotika untuk membunuh/menghambat pertumbuhan agen patogen biologik, antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi.

DX Kep 2: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus. Intervensi 1. Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi 2. Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene). 3. Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa) 4. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia) 5. Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi parenteral. Rasional 1. Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi. 2. Meningkatkan kenyamanan dan selera makan. 3. Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan. 4. Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi. 5. Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna.

Dx Kep 3

: Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman) perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma).

Intervensi Rasional 1. Orientasikan klien dan orang 1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin terdekat terhadap prosedur rutin dan dan aktivitas yang diharapkan. aktivitas yang diharapkan. 2. Eksplorasi kecemasan klien dan 2. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik. berikan umpan balik. 3. Tekankan bahwa kecemasan 3. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini. oleh banyak orang dalam situasi 4. Ijinkan klien ditemani keluarga klien saat ini. (significant others) selama fase 4. Ijinkan klien ditemani keluarga kecemasan dan pertahankan (significant others) selama fase ketenangan lingkungan. kecemasan dan pertahankan 5. Kolaborasi pemberian obat ketenangan lingkungan. sedatif. 5. Kolaborasi pemberian obat 6. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang sedatif. menunjukan kecemasan. 6. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan. Dx Kep 4 : Koping individu tak efektif (koping menyangkal/defensif/depresi/agresi) b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat). Intervensi Rasional 1. Bantu klien 1. Penderita kanker tahap dini dapat mengembangkan strategi pemecahan hidup survive dengan mengikuti masalah yang sesuai didasarkan pada program terapi yang tepat dan kekuatan pribadi dan dengan pengaturan diet dan pengalamannya. aktivitas yang sesuai 2. Mobilisasi dukungan 2. Dukungan SO dapat membantu emosional dari orang lain (keluarga, meningkatkan spirit klien untuk teman, tokoh agama, penderita kanker lainnya) mengikuti program terapi. 3. Kolaborasi terapi 3. Terapi psikiatri mungkin medis/keperawatan psikiatri bila diperlukan pada keadaan klien mengalami depresi/agresi yang depresi/agresi yang berat dan lama ekstrim. sehingga dapat memperburuk 4. Kaji fase penolakankeadaan kesehatan klien. penerimaan klien terhadap 4. Menilai perkembangan masalah penyakitnya (sesuai teori Kubler-

Ross)

klien.

Dx Kep 5

: Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatanb/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi. Intervensi Rasional 1. Kaji tingkat pengetahuan 1. Proses pembelajaran sangat klien/orang terdekat dan dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan kemampuan/kesiapan belajar klien. mental klien. 2. Jelaskan tentang proses penyakit, 2. Meningkatkan pengetahuan klien penyebab/faktor risiko, dan dampak tentang masalah yang dialaminya penyakit terhadap perubahan status 3. Meningkatkan partisipasi dan kesehatan-sosio-ekonomi, fungsikemandirian klien untuk mengikuti peran dan pola interaksi sosial klien. program terapi 3. Jelaskan tentang terapi 4. Penderita kanker yang mengikuti pembedahan, radiasi dan kemoterapi program terapi yang tepat dengan serta efek samping yang dapat terjadi status gizi yang adekuat 4. Tekankan pentingnya meningkatkan kualitas hidupnya. mempertahan-kan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society, 2006, Cancer Facts and Figures 2006, American Cancer Society Inc. Atlanta Anonim, 2006, A Patients Guide to Rectal Cancer, MD Anderson Cancer Center, University of Texas. Anonim, 2006, Mengatasi Kanker Rektal, Republika online, www.republika.co.id Anonim, 2006, Rectal Cancer Facts : Whats You Need To Know, www.healthABC.info Anonim, 2006, Rectal Cancer - Overview, Screening, Diagnosis & Staging, www.OncologyChannel.com Anonim, 2005, Rectal Cancer Treatment , www.nationalcancerinstitute.htm Azamris, Nawawir Bustani, Misbach Jalins., 1997, Karsinoma Rekti di RSUP Dr. Jamil Padang, Cermin dunia Kedokteran no.120 Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta Cirincione, Elizabeth 2005, Rectal Cancer,www.emedicine.com De Jong Wim, Samsuhidajat R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta Hassan , Isaac 2006, Rectal carcinoma, www.emedicine.com Mansjoer Arif et all, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Penerbit Buku Media Aesculapius. Jakarta. Marijata, 2006, Pengantar Dasar Bedah klinis, Unit Pelayanan Kampus, FK UGM.