Anda di halaman 1dari 21

Bab

I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang menerima deposito serta

menawarkan pinjaman1. Bank memperoleh keuntungan dari spread positif2 yang terjadi, sehingga hal yang paling penting adalah bagaimana cara bank beroperasi agar dapat menghasilkan keuntungan sebanyak mungkin : bagaimana dan mengapa bank memberikan pinjaman, bagaimana bank mendapatkan dana dan mengatur aset serta hutangnya, dan bagaimana bank menghasilkan pendapatan3. Cara operasional seperti ini lazim terjadi dalam sistem perbankan konvensional. Selain sistem perbankan konvensional, Indonesia juga menganut sistem perbankan Islam, yang sering disebut sistem perbankan syariah. Berbeda dengan cara mendapatkan keuntungan dalam perbankan konvensional, perbankan syariah berprinsip bagi hasil serta margin jual beli dalam mendapatkan keuntungan. Kedua sistem perbankan tersebut di atas mempunyai prinsip yang berbeda. Untuk lebih jelasnya perbedaan dari keduanya disajikan dalam tabel berikut.

2 3

Mishkin, Frederic S. The economics of Money, Banking, and Financial Institution. Addison Wesley : 1998. hlm. 8 Spread positif adalah bunga pinjaman melebihi bunga tabungan Mishkin, Frederic S. id. hlm 226

Bab

I Pendahuluan

Bank Konvensional 1. Investasi halal dan haram 2. Memakai perangkat bunga

Bank Syariah 1. Melakukan investasi yang halal saja 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual

beli atau sewa 3. Profit oriented 3. Profit dan falah oriented* 4. Hubungan dengan nasabah dalam 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan debitor kreditor 5. Tidak terdapat dewan sejenis bentuk hubungan kemitraan 5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa dewan pengawas syariah
*: Falah berarti mencari kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat

Tabel 1.1 Perbedaan Perbankan Syariah dan Perbankan Konvensional4

Keuntungan yang diperoleh bank akan menjadi sumber pendapatan utama operasional, sehingga aktivitas usaha yang sekiranya mendatangkan keuntungan tersebut akan terus dilakukan oleh bank. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa bank mendapatkan keuntungan dari kelebihan tingkat suku bunga pinjaman dibandingkan dengan tingkat suku bunga tabungan, maka bank akan senantiasa menawarkan pinjaman. Hal ini sesuai dengan teori saluran mekanisme transmisi moneter melalui jalur kredit, bahwa banyaknya penawaran pinjaman yang dilakukan perbankan akan berdampak terhadap suku bunga pinjaman. Saat bank sentral membeli surat-surat berharga pemerintah dari publik, maka akun cadangan
4

Syafi`i Antonio. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Gema Insani Press : 2001. hlm. 34

Bab

I Pendahuluan

bank-bank umum dikredit oleh bank sentral. Jika cadangan yang ada jauh di atas cadangan minimum yang dilegalkan bank sentral, maka perbankan secara keseluruhan harus menambah deposito yang dipunyainya, sehingga penawaran pinjaman perbankan pun harus ditambah. Hal ini akan menurunkan tingkat suku bunga pinjaman yang artinya biaya untuk meminjam dari bank juga akan menurun. Begitu pula sebaliknya bila bank mempunyai cadangan berlebih, maka bank akan mengurangi penawaran pinjamannya, sehingga tingkat suku bunga pinjaman pun meningkat5. Dari penjelasan di atas, penulis tertarik untuk melihat apakah tingkat suku bunga yang dalam hal ini diproksi dengan JIBOR (Jakarta Interbank Offered Rate) mempunyai hubungan dengan penawaran pinjaman perbankan yang ada di Indonesia, baik perbankan konvensional maupun perbankan syariah. Dan sistem perbankan manakah yang sekiranya lebih sensitif terhadap pergerakan tingkat suku bunga tersebut. Penelitian yang akan diajukan penulis berjudul :

Analisis Hubungan Tingkat Suku Bunga Dengan Penawaran Pinjaman Perbankan Konvensional dan Penawaran Pembiayaan Perbankan Syariah Periode 2001.1 2004.12

1.2
5

Identifikasi Masalah

Bab

I Pendahuluan

Berdasarkan yang telah penulis paparkan dalam latar belakang, maka penulis menyimpulkan beberapa masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini : 1.2.1 Apakah perubahan pada tingkat suku bunga berpengaruh terhadap

perubahan penawaran pinjaman perbankan konvensional atau tidak, ataukah sebaliknya ? 1.2.2 Apakah perubahan pada tingkat suku bunga berpengaruh terhadap

perubahan penawaran pembiayaan perbankan syariah atau tidak, ataukah sebaliknya ? 1.2.3 Sistem perbankan manakah yang sekiranya lebih sensitif terhadap

pergerakan tingkat suku bunga ini ?

1.3

Tujuan Penelitian Mengacu pada identifikasi masalah, maka penulis mencoba mencari

jawaban atas hal tersebut di atas yaitu : 1.3.1 Mengetahui apakah perubahan pada tingkat suku bunga berpengaruh

terhadap perubahan penawaran pinjaman perbankan konvensional atau tidak, atau sebaliknya. 1.3.2 Mengetahui apakah perubahan pada tingkat suku bunga berpengaruh

terhadap perubahan penawaran pembiayaan perbankan syariah atau tidak, atau sebaliknya. 1.3.3 Mengetahui sistem perbankan manakah yang sekiranya lebih sensitif

terhadap pergerakan tingkat suku bunga ini.

Bab

I Pendahuluan

1.4 1.4.1

Manfaat Penelitian Bagi pembuat kebijakan, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat

memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memahami lebih mendalam tentang pengaruh tingkat suku bunga terhadap penawaran pinjaman di bank syariah maupun konvensional. Yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan rujukan dalam mengevaluasi kebijakan yang telah diterapkan dan atau untuk merumuskan kebijakan baru 1.4.2 Bagi kalangan akademisi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai

bahan acuan dalam penelitian lebih lanjut di kemudian hari, serta dapat memacu motivasi kepada peneliti lainnya untuk melakukan penelitian sejenis dengan menggunakan metode yang lain ataupun menambah jumlah yang diteliti.

1.5 1.5.1

Kerangka Pemikiran Teori Tingkat Bunga

1.5.1.1 Teori Klasik tentang Tingkat Bunga: Loanable Funds Bunga adalah harga dari (penggunaan) loanable funds, atau bisa diartikan sebagai dana yang tersedia untuk dipinjamkan atau dana investasi, karena menurut teori klasik bunga adalah harga yang terjadi di pasar investasi. Investasi juga merupakan fungsi dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga (tingkat bunga kredit), maka keinginan untuk melakukan investasi juga semakin kecil. Alasannya, seorang pengusaha akan menambah pengeluaran investasinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi tersebut lebih besar dari tingkat bunga yang harus dibayarkan untuk dana investasi tersebut sebagai ongkos

Bab

I Pendahuluan

untuk penggunaan dana (cost of capital). Makin rendah tingkat bunga, maka pengusaha akan terdorong untuk melakukan investasi, sebab biaya penggunaan dana juga makin kecil.

1.5.1.2 Teori Keynes (Liquidity Preference) Keynes dalam teorinya menyebutkan bahwa tingkat suku bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang. Menurut teori ini, ada tiga motif mengapa seseorang bersedia untuk memegang uang tunai, yaitu motif transaksi, berjagajaga, dan spekulasi (Budiono,1982). Tiga motif inilah yang merupakan sumber timbulnya permintaan uang yang diberi istilah liquidity preference, artinya permintaan akan uang menurut teori Keynes berlandaskan pada konsepsi bahwa umumnya orang menginginkan dirinya tetap liquid untuk memenuhi tiga motif tersebut. Keynes ragu-ragu terhadap kemanjuran suku bunga dalam mempengaruhi volume tabungan. Dengan tegas dikemukakannya bahwa sebenarnya volume tabungan tergantung pada volume investasi yang dilakukan oleh masyarakat bisnis. Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi volume investasi dari masyarakat bisnis.

1.5.2

Kredit Perbankan

Bab

I Pendahuluan

Perbankan mempunyai fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana serta menyalurkannya. Bank mendapatkan dana dari penerbitan surat hutang kepada public (savings deposits, savings and loan shares), kemudian menggunakan dana ini untuk membeli surat-surat berharga primer (stocks, bonds, mortgages). Karena hadirnya institusi ini, bagi para penabung yang tidak ingin menyimpan dananya di bawah kasur ataupun tidak ingin membeli saham atau obligasi perusahaan karena mereka merasa bahwa aset ini terlalu berisiko besar atau terlalu likuid, maka mereka diberikan alternative ketiga. Mereka para penabung dapat membeli savings deposits atau savings and loan shares. Dengan cara ini mereka dapat memegang aset keuangan yang cukup likuid dan relatif aman, sementara masih mendapatkan pendapatan bunga. Pada saat yang sama, para pemilik suratsurat berharga dapat menjualnya ke lembaga intermediasi bukan langsung kepada para penabung. Disinilah fungsi perbankan dijalankan, yaitu menengahi para penabung serta peminjam6. Mekanisme penghimpunan serta penyaluran dana dalam perbankan konvensional berdasarkan mekanisme bunga, sedangkan dalam perbankan syariah berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, serta sewa. Keduanya ini mempunyai prinsip yang amat berbeda. Tapi bisa dikatakan keduanya amatlah rentan terhadap pergerakan tingkat suku bunga, baik tingkat suku bunga tabungan maupun pinjaman, dalam penetapan besarnya bunga / bagi hasil yang akan dikenakan oleh peminjam, serta bunga yang akan diberikan untuk penabung.

Silber, William L. & Ritter, Lawrence S. Principles of Money, Banking, and Financial Markets. Basic Books, Inc., Publisher : 1980. hlm. 59

Bab

I Pendahuluan

Istilah kredit berasal dari kata credere yang berarti kepercayaan. Menurut undang-undang perbankan nomor 7 tahun 1992 tentang pokok-pokok perbankan, arti kredit adalah : Penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Unsur-unsur kredit menurut Thomas Suyatno adalah kepercayaan, waktu, degree of risk, dan prestasi. Kredit yang diberikan perbankan umum kepada masyarakat dilihat dari berbagai sudut, yaitu7 : - Menurut tujuannya, dibagi menjadi kredit konsumtif, produktif, dan perdagangan - Menurut jangka waktunya, kredit jangka pendek, menengah, dan jangka panjang - Menurut segi jaminan, kredit tanpa jaminan dan dengan jaminan - Menurut penggunaannya, kredit modal kerja dan kredit investasi. Berdasarkan kebijaksanaan di bidang ekonomi dan pembangunan yang berlaku di Indonesia, maka kebijaksanaan pemberian kredit perbankan adalah sebagai berikut8 : - Pemberian kredit harus sesuai dan seirama dengan kebijaksanaan moneter dan ekonomi

7 8

Thomas Suyatno. Dasar-dasar Perkreditan. PT Gramedia : 1993. hlm. 19 Thomas Suyatno.id. hlm. 15

Bab

I Pendahuluan

- Pemberian kredit harus selektif dan diarahkan kepada sektor-sektor yang diprioritaskan - Bank dilarang memberikan kredit kepada usaha-usaha yang diragukan bank ability-nya - Setiap kredit harus diikat dengan perjanjian kredit - Penarikan uang yang melebihi saldo giro atau plafon kredit dilarang - Kredit tanpa jaminan dilarang Dalam perbankan syariah, kredit atau biasa disebut pembiayaan dapat dibagi menjadi dua hal sebagai berikut9 : - Menurut sifat penggunaannya; dibagi menjadi pembiayaan produktif, dan konsumtif - Menurut keperluannya; dibagi menjadi pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan investasi. 1.5.3 Keterkaitan Antara Tingkat Suku Bunga Dengan Penawaran Kredit Perbankan10 Teori yang menyatakan hubungan antara tingkat suku bunga dan penawaran kredit melihat bahwa ketika bank sentral menjual sekuritas pemerintah kepada publik melalui bank umum, cadangan bank sebenarnya telah di debet oleh bank sentral, apanila cadangan bank berada di bawah cadangan minimum yang disyaratkan oleh bank sentral, maka sistem perbankan secara keseluruhan harus mengurangi deposit yang ia pegang. Berikut disajikan gambar ilustrasi Assets
9 10

Liabilities

Syafi`i Antonio. op. cit. hlm. 161 Mishkin, Frederic S. ibid. hlm. 232

Bab

I Pendahuluan

Reserves

Rp 10 juta

Deposits

Rp 10 juta

Gambar 1.1 Ilustrasi T-Account Bank Umum

Assets Reserves Loans Rp 1 juta Rp 9 juta Deposits

Liabilities Rp 10 juta

Gambar 1.2 T-Account Bank Umum dengan Penyaluran Kredit

Assets Reserves Loans Securities Rp 9 juta Deposits

Liabilities Rp 90 juta Rp 9 juta Rp 10 juta Rp 90 juta Discount Loans From Central Banks Rp 10 juta Bank Capital

Gambar 1.3 T-Account Bank Umum dengan Bantuan Likuiditas Bank Sentral

Dari gambar di atas dengan menggunakan konsep akuntansi, aset harus selalu sama dengan liabilitas di tambah ekuitas. Sehingga berdampak pada pengurangan penawaran pinjaman. Hal ini akan meningkatkan nilai pinjaman yang berarti biaya untuk meminjam ke bank semakin mahal, yang kemudian akan berpengaruh terhadap pembelanjaan dalam perekonomian.

1.5.3

Saluran Mekanisme Transmisi Moneter (Jalur Kredit) Dengan asumsi tidak adanya substitusi sempurna antara deposito retail

bank dengan sumber dana lainnya, saat adanya kebijakan moneter yang ekspansif, 10

Bab

I Pendahuluan

meningkatkan cadangan serta deposito perbankan, akan meningkatkan jumlah persediaan pinjaman perbankan. Dikarenakan banyaknya peminjam yang tergantung pada pinjaman bank ini dalam pembiayaan aktivitas usaha mereka, peningkatan pada pinjaman perbankan ini akan meningkatkan investasi yang kemudian berdampak pada perekonomian. Saluran mekanisme moneter melalui jalur kredit ini muncul karena adanya masalah dalam pasar kredit, sehingga berdampak terhadap kebijakan moneter melalui efeknya dalam pinjaman perbankan. Akses untuk memasuki pasar keuangan tidak mudah dijangkau oleh semua kalangan terutama kalangan usaha mikro, menengah dan kecil akibat adanya asymmetric information. Sehingga para pengusaha mikro, menengah dan kecil tersebut dalam membiayai kegiatan usahanya meminjam dari perbankan. Notasi dari laur di atas adalah sebagai berikut :
M meningkat Deposito Bank meningkat Pinjaman Bank meningkat Y meningkat

Saat bank sentral menjual surat-surat berharga pemerintah kepada publik, maka akun cadangan bank-bank umum didebit oleh bank sentral. Jika cadangan yang ada jauh di bawah minimum cadangan yang dilegalkan bank sentral, maka perbankan secara keseluruhan harus mengurangi deposito yang dipunyainya, sehingga penawaran pinjaman perbankan pun harus dikurangi. Hal ini akan meningkatkan tingkat suku bunga pinjaman yang artinya biaya untuk meminjam dari bank juga akan meningkat.

1.6 1.6.1

Metode Penelitian Ruang Lingkup Penelitian

11

Bab

I Pendahuluan

Penulis membatasi ruang lingkup pembahasan penelitian ini dengan menggunakan data kuartalan yang berada dalam rentang waktu 2001.1 2004.12

1.6.2

Analisis Penelitian Analisis berupa analisis deskriptif dan kuantitatif. Untuk analisis deskriptif

disusun berdasarkan data sekunder, jurnal, buku serta artikel-artikel.

Untuk

analisis kuantitatif penulis menggunakan metode error correction model. Dengan menggunakan alat Bantu ekonometrika E-Views 4.1 dan Microsoft excel.

1.6.3

Model Ekonometrik Pinjt = t-k + (JIBOR) + ECT + t

1.6.4

Spesifikasi Data Dan Variabel Pinjt : Pertumbuhan pinjaman / pembiayaan pada waktu t

Dalam perbankan konvensional disebut sebagai penawaran pinjaman, sedangkan dalam perbankan syariah dikenal sebagai penawaran

pembiayaan. Akan digunakan dua variabel dependen secara terpisah yaitu pinjaman perbankan konvensional serta pembiayaan perbankan syariah. JIBOR : Pertumbuhan Jakarta Interbank Offered Rate

Sebagai proksi dari tingkat suku bunga pinjaman. JIBOR itu sendiri bermakna interbank rates for short term financing (overnight to 12

month), fixed by taking the weighted average of quotes contributed by 18 bank members (4 state banks, 7 local private bonds, and 7 foreign banks)

12

Bab

I Pendahuluan

operating in Indonesia11.

Akan digunakan dua variabel independent

secara terpisah yaitu JIBOR jangka waktu 1 (satu) dan 3 (tiga) bulan. ECT : Koreksi kesalahan

1.6.5

Pengujian Statistik12

1.6.5.1 Uji akar-akar unit (Unit Root Test) Uji akar unit dilakukan melalui uji Augmented Dickey Fuller (ADF test) untuk mengetahui apakah data time series yang digunakan memiliki masalah akar unit atau data tidak stasioner. Jika suatu data tidak stasioner pada order nol, I(0), maka stasionaritas data tersebut bisa dicari melalui berbagai order sehingga diperoleh tingkat stasionaritas pada order ke n, I(n). Uji ini perlu dilakukan agar uji t dan F statistik tidak salah persepsi.
Yt = Yt 1 + jYt j + t
j =1

(ADF test)

H0 : = 0 (terdapat unit root test, variabel Y tidak stasioner) H1 : 0 (tidak terdapat unit root test, variabel Y stasioner) 1.6.5.2 Uji t-statistik Uji t- statistik digunakan untuk menguji pengaruh parsial dari variabel variabel independen terhadap variabel dependennya. Pengujian ini dilakukan dengan hipotesis: H0 : i = 0, variabel bebas tidak mempengaruhi variabel tidak bebas
11 12

www.asianbondsonline.adb.org Gujarati, Damodar N.Basic Econometrics. Mc Graw Hill : 2003.

13

Bab

I Pendahuluan

H1 : i 0, variabel bebas mempengaruhi variabel tidak bebasnya Dengan menguji dua arah dalam signifikansi , dan derajat kebebasan (degree of freedom, df ) = n k (n = jumlah observasi dan k = jumlah parameter termasuk konstanta), maka hasil pengujian akan menunjukkan : H0 : diterima bila t-stat < t-tabel H1 : ditolak bila t-stat> t-tabel

1.6.5.3 Uji F-statistik Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah secara keseluruhan koefisien regresi signifikan dalam menentukan nilai variabel dependen. Hipotesis untuk uji F statistik : H0 : semua variabel independen secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel dependen H1 : semua variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen Degree of freedomnya : Df untuk pembilang, N1 = k 1. Df untuk penyebut, N2

= n k, dengan k adalah banyaknya parameter, dan n adalah banyaknya observasi. Jika nilai dari F tabel > F hitung, maka H0 diterima yang berarti bahwa variabel independen secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel dependen, dan jika F tabel < F hitung, yang berlaku adalah sebaliknya.

1.6.5.4 Uji Koefisien Determinasi (R2)

14

Bab

I Pendahuluan

Uji ini digunakan untuk mengukur kedekatan hubungan dari model yang dipakai. Koefisien determinasi (R2) yaitu angka yang menunjukkan besarnya kemampuan varians atau penyebaran dari variabel-variabel bebas yang menerangkan variabel tidak bebas atau angka yang menunjukkan seberapa besar variabel tidak bebas dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya. Besarnya nilai koefisien determinasi adalah antara 0 hingga 1 (0 < R <1), dimana nilai koefisien mendekati 1, maka model tersebut dikatakan baik karena semakin dekat hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebasnya

1.6.5.5 Pairwise Granger Causality test Pengujian dengan menggunakan metode granger adalah untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang secara teori memiliki hubungan. Dengan tes ini akan diketahui variabel mana yang menjadi variabel independent atau bebas dan variabel mana yang menjadi variabel tidak bebas atau dependent. Model dasar yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model kausalitas granger yang digunakan oleh Liza Marwati, Aisyah Abdul rahman, dan Norazlan Alias (2001) dalam penelitiannya mengenai hubungan kausalitas antara tingkat suku bunga (diproksi dengan KLIBOR-Kuala Lumpur Interbank Offered Rate-) dengan penawaran pinjaman perbankan syariah dan perbankan

konvensional. Jika dalam suatu penelitian ada dua variabel yang akan diteliti hubungannya yaitu Yt dan Xt, maka dengan menggunakan tes kausalitas sederhana Granger akan diketahui apakah variabel Xt yang ditentukan oleh variabel Yt atau

15

Bab

I Pendahuluan

sebaliknya, atau bahkan kedua variabel tersebut saling menentukan atau saling mempengaruhi.

1.6.5.6 Uji Kointegrasi Uji ini dikembangkan berdasarkan adanya persepsi model data yang tidak stasioner dapat terjadi kointegrasi jangka panjang antara tiap variabel yang diuji. Uji ini disebut Engle-Granger Test dengan langkah : Langkah Pertama : Estimasi tiap parameter dari persamaan regresi dengan menggunakan model Ordinary Least Square (OLS) dari X terhadapY dan peroleh nilai residualnya. Yt = 0 + 1 Xt1 + ut

Langkah Kedua : Lakukan uji stasionaritas (Unit Root Test) pada residual menggunakan ADF critical value. Apabila hipotesis Unit Root ditolak maka disimpulkan bahwa Y dan X terkointegrasi dan apabila hipotesis unit root tidak ditolak, maka kointegrasi tidak terjadi.

1.6.5.7 Error Correction Model Apabila kita melakukan uji kointegrasi, kita perlu suatu model untuk proses penyesuaian yang dinamis terhadap variabel-variabel dalam model, yang

16

Bab

I Pendahuluan

disebut mekanisme koreksi error (Error Correction Mechanism/ ECM), dapat diuraikan dalam langkah sebagai berikut : Fungsi diestimasi menggunakan Ordinary Least Square menurut persamaan sebagai berikut : Pinjt = t + (JIBOR) + t Kemudian dari persamaan tersebut diperoleh nilai residual. Lalu dihitung ECT, dan didapatkan persamaan sebagai berikut : Pinjt = t-k + (JIBOR) + ECT + t 1.6.5.7 Pengujian Alternatif Lag dengan Schwartz Information Criterion (SIC) Dari beberapa model lag yang menjadi alternatif, harus diketahui lag mana yang memberikan hasil estimasi terbaik. Dalam penelitian ini digunakan Schwartz Information Criterion (SIC) sebagai dasar pemilihan. Kriteria Informasi ini telah telah umum digunakan dalam data time series untuk menentukan lag yang tepat. SIC dirumuskan sebagai :
SIC = n k/n

u
n

= nk /n

RSS n

Dimana : n k
RSS

= Total jumlah observasi sampel = jumlah variabel dalam model, termasuk intercept = sample Residual Sum of Square (RSS)

Dari beberapa model alternatif lag, masing-masing dihitung nilai SIC nya. Semakin rendah angka perhitungan SIC semakin baik performance dari model tersebut. 17

Bab

I Pendahuluan

1.6.6

Pengujian Masalah Dalam Regresi Linear

1.6.6.1 Masalah Multikolinier Multikolinear menunjukkan gejala adanya hubungan linear atau hubungan yang pasti diantara explanatory variabel (variabel penjelas) dalam model regresi. Gejala ditunjukkan oleh beberapa faktor, namun yang paling mendukung penjelasan adanya multikolinier dalam model yaitu apabila nilai R2 dari hasil regresi sangat tinggi namun sebagian besar explanatory variabel tidak menjelaskan hubungan yang signifikan terhadap variabel yang dijelaskan, melalui perbandingan antara nilai t-stat dan F-stat dengan t-tabel dan F-tabel . Karena pengukuran besarnya R2 dan jumlah t-stat signifikan bersifat relatif, maka dilakukan pengujian tambahan dengan memperhatikan korelasi parsial diantara regresor dalam bentuk matriks. Rule of Thumb dari pengukuran ini adalah semakin tingginya nilai korelasi parsial sepasang regresor, maka terdapat multikolinearitas .

1.6.6.2 Masalah Autokorelasi Autokorelasi adalah korelasi diantara anggota observasi. Masalah autokorelasi dalam model menunjukkan adanya hubungan korelasi antara variabel gangguan (error term) dalam suatu model yang terjadi karena beberapa faktor :

18

Bab

I Pendahuluan

1. Inersia, data observasi dipengaruhi oleh data sebelumnya. Misalnya data observasi saat terjadi kelesuan ekonomi sehingga data time series berikutnya dipengaruhi data sebelumnya walaupun perekonomian sudah membaik. 2. Bias spesifikasi dengan mengeluarkan atau tidak memasukan variabel bebas tertentu yang sebenarnya turut mempengaruhi variabel tidak bebasnya menurut teori ekonomi, walaupun hasil perhitungan kuantitas tidak mendukung. 3. Bias spesifikasi berupa bentuk model yang tidak tepat 4. Manipulasi data akibat data secara sistematis tidak tersedia untuk periode yang diharapkan, seperti penggunaan interpolasi, ekstrapolasi, dan transformasi data. 5. Non stasioneritas pada data time series yang digunakan. Gejala ini dapat terdeteksi melalui graphical method dengan mem-plot waktu dan residual. Sedangkan Uji formal yang dapat dilakukan adalah uji The Breusch-Godfrey (BG) test13. 1.7 Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah melalui data sekunder dengan jenis data time series. Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini berasal dari : 1. Statistik Perbankan Syariah 2. Web Site Bank Indonesia : www.bi.go.id

13

Gujarati, Damodar. Hlm. 472

19

Bab

I Pendahuluan

20

Bab I Pendahuluan

21