Anda di halaman 1dari 98

1

BAGIAN I
DASAR DASAR PERPINDAHAN PANAS
2
I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari perpindahan energi mendapat penerapan
yang sangat luas sekali dalam berbagai bidang dan pada berbagai tingkat
kemurnian. Hampir tidak ada alat, baik dalam pabrik maupun di rumah tangga,
yang tidak bersangkutan dengan perpindahan energi. Energi dikenal dalam
berbagai bentuk, beberapa diantaranya yang dijumpai dalam bidang teknik
kimia, adalah :
1. Energi Dalam
2. Energi Kinetis
3. Energi Potensial
4. Energi Mekanis
5. Energi Panas
Bila dua benda yang suhunya berbeda saling dikontakan, maka akan
terjadi perpindahan panas dari benda yang suhunya tinggi ke benda yang
bersuhu rendah. Pengaliran/perpindahan panas tersebut dapat berlangsung
dengan cara : konduksi, konveksi dan radiasi, dan ketiga caa perpindahan
panas tersebut dapat terjadi didalam alat penukar panas.
Dalam teknik kimia banyak di jumpai masalah yang berkaitan dengan
perpindahan panas. Pengetahuan mengenai mekanisme perpindahan panas
mutlak diperlukan untuk memahami peristiwa-peristiwa yang berlangsung
dalam; pemanasan, pendinginan, pendidihan, pengeringan, distilasi, evaporasi,
kondensasi dan lain-lain.
Ada tiga cara perpindahan panas, yang mekanismenya sama sekali
berlainan, ialah :
1. Secara Molekular, atau disebut Kondukasi
2. Secara Aliran, atau disebit Konveksi
3. Secara Gelombang Elektromagnetik, atau disebut Radiasi
3
dt
dq k dA
dx
| |
=
|
\ .
II. PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI
Jika dalam suatu bahan kontinu terdapat gradient (landaian) suhu, maka
kalor akan mengalir tanpa disertai oleh gerakan zat. Aliran kalor seperti ini
disebut KONDUKSI atau hantaran. Pada logam-logam padat konduksi termal
itu adalah akibat dari gerakan electron yang tak terikat, dan konduktifitas termal
ini mempunyai hubungan yang erat sekali dengan konduktifitas listrik.
Kondusksi adalah perpindahan panas melalui material yang tetap,
misalnya seperti dinding (lihat gambar 2.1). arah perpindahan panas tegak lurus
pada dinding apabila permukaannya isotersal, sedangkan benda tersebut
homogen dan isotropik.
Untuk mengetahui besarnya konduksi yang mengalir melalui suatu bahan
digunakan hukum FOURIER yang menyatakan :
Besarnya perpindahan panas secara konduksi adalah berbanding langsung
dengan luas yang dilalui, beda suhu dan sifat bahan (konduktivitas panas) serta
berbanding terbalik dengan tebal bahan yang dilaluinya.
Besarnya aliran panas adalah :
dt
dq kA
dx
| |
=
|
\ .
(2.1)
Tanda negatif pada (-dt/dx) menunjukan bahwa suhu
pada muka panas adalah lebih tinggi daripada suhu
pada muka dinding.
Konstanta proporsional k diperoleh dengan percobaan berdasarkan persamaan
(2.1); dan harganya besar untuk material perambat panas, tetapi kecil harganya
untuk isolator panas.
Persamaan (2.1) berlaku untuk luas permukaan yang konstan, dan karenanya
bersifat khusus. Secara umum persamaan (2.1) dapat ditulis sebagai berikut :
(2.2)
Persamaan (2.1) dan (2.2) adalah bentuk persamaan steady state untuk
perpindahan panas dan dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah-
masalah teknik yang lazim ditemukan dalam praktek.
4
Catatan :
Pada umumnya harga k berubah terhadap perubahan suhu :
k = k
o
+ A + Bt + Ct
2
.(2.3)
dimana, A, B, C adalah konstanta dan t adalah suhu pada k ditentukan.
Contoh : Berapa panas yang mengalir/panas yang hilang melalui dinding dapur yang tebalnya
9 in, apabila suhu permukaan dalam 330
o
F dan suhu permukaan luar 130
o
F. besarnya
konduktivitas panas dari dinding dapur 0,4 Btu/jam.ft
2
.
o
F serta panjang dan lebar dinding dapur
adalah 10 ft dan 6 ft.
Jawab :
( )( )( )
( )
2 2
0, 4 / . . 60 300 130
. .
9 /12
6.400 /
o
o
Btu ft h F ft F
k A t
q
x in ft
Btu h

A
= =
A
=
Jadi panas yang hilang adalah 6.400 Btu/h
ALIRAN PANAS LEWAT DINDING DATAR
Untuk kasus ini adalah konstan, dan integrasi persamaan (2.1) atau persamaan
(2.2) akan menghasilkan,
kA t
q t
I R
A
= A =
(2.4)
Untuk dinding KOMPOSIT, yang terjadi kalau beberapa dinding dipasang
secara seri (lihat gambar 2.2), berlaku hubungan :
a b c
a b c
t t t t
q
R R R R
A A A A
= = = =
(2.5)
atatau
1 2 3 1 2 o
a b c
t t t t t t t
q
R R R R

= = = =
(2.6)
dimana, R = R
a
+ R
b
+ R
c
; ;
a b c
a b c
a b c
l l l
R R R
k A k A k A
= = =
(2.7)
5
Dengan substitusi dan pengaturan kembali diperoleh :
( ) ( ) ( )
3
/ / /
o
a a b b b b
t t t
Q
R l k A l k A l k A

= =
+ +
(2.8)
dimana, Q adalah laju perpindahan panas, (Btu/jam); l adalah tebal dinding, (ft);
R adalah tahanan dinding, (j.
o
F/Btu); dan a,b,c adalah dinding dipasang
sebagai komposit.
ALIRAN PANAS MELALUI DINDING PIPA
Dalam aliran panas melalui dinding datar, luas yang dilaluinya adalah konstan
untuk seluruh jarak yang ditempuhnya. Hal yang demikian tidak terjadi dalam
aliran panas melalui dinding pipa (lihat gambar 2.3), luas untuk aliran panas
berubah-ubah dari dinding dalam sampai dinding luar pipa.
Dengan memperhatikan gambar ini, maka
luas perpindahan panas pada jari-jari r adalah
2 r L, dan seandainya panas mengalir dari
dalam keluar, maka gradien suhu adalah (-dt/dr). Dengan demikian persamaan
(2.2) berubah menjadi :

2
dt
q rLk
dr
t
| |
=
|
\ .
(2.9)
2
q dr
dt
Lk r t

=
Dengan integrasi diperoleh :
ln
2
q
t r C
Lk t

= +
Apabila pada r = r
1
, t = t
1
dan pada r = r
o
, t = t
o
dan r
o
/r
1
= d
o
/d
i
, maka
persamaan n diatas menghasilkan :

( )
( )
( )
( )
2 2
ln / ln /
i o i o
o i o i
Lk t t Lk t t
q
r r D D
t t
= =
(2.10)
Untuk pipa KOMPOSIT berlaku hubungan-hubungan berikut (panjang
komposit = L) :
6
2
1 2
1
ln
2
D q
t t
Lk a D t
=
(2.11)
3
1 2
2
ln
2
D q
t t
Lk b D t
=
(2.12)
3 2
1 3
1 2
1 1
ln ln
2
a
D D q
t t
L k D kt D t
| |
| | | |
= +
|
| |
|
\ . \ .
\ . (2.13)
atau
( )
1 3
3 2
1 2
2
1 1
ln ln
a b
L t t
q
D D
k D k D
t
=
| | | |
+
| |
\ . \ .
(2.14)
ALIRAN PANAS PADA BOLA BERONGGA
2
2
2
4
4
4
kAdt
q A r
dr
k r dt
q
dr
q dr
dt
k r
t
t
t
= =
=
=
( )
( )
2 2
1 1
1
2
1 2
1 2
1
4
1
4
1 1
4
o
r t
r t
r
r
o
q dr
dt
k r
q
t t
k r
q
t t
k r r
t
t
t
=
(
=
(

| |
=
|
\ .
} }
( )
( )
1 2
1
4
1/ 1/
o
k t t Btu
q
r r h
t
=

(2.15)
7
PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI PADA DINDING BERLAPIS
Pada alat-alat industry yang diutamakan adalah keselamatan dan
penghematan panas. Sebagai contoh : untuk dinding dapur yang dibuat dari
bata tahan api (brick) selalu dilapisi bahan isolator yang fungsinya untuk
menahan panas agar panas jangan banyak yang hilang ke sekeliling.
Disamping itu dengan adanya isolator tadi, maka permukaan dinding luar
dapur suhunya menjadi lebih rendah, sehingga tidak membahayakan para
pekerja yang bekerja diluar dinding dapur. Perpindahan panas yang terjadi
pada diding yang berlapis dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Untuk Aliran Mantap Dengan Luas Konstan
Lapisan I : tebal = x
1
bahan = k
1
Lapisan II : tebal = x
2
bahan = k
2
Lapisan III : tebal = x
3
bahan = k
3
q
1
= q
2
= q
3
= q
( )
( )
( )
1 1 2
1
1 1 2
1 1
2 2 3
2
2 2 3
2 2
3 3 4
3
3 3 4
3 3
1
1 4
1
:
:
:

k A t t
qx
Lapisan I q t t
x Ak
k A t t
qx
Lapisan II q t t
x Ak
k A t t
qx
Lapisan III q t t
x Ak
x x q
t t
A k

= =

= =

= =
+
= +
3 2
2 3
x
k k
| |
+
|
\ .
( )
1 4
1 1 2 2 3 3
/
/ / /
A t t
q Btu h
x k x k x k

=
+ +
(2.16)
8
2. Untuk Aliran Mantap Dengan Luas Berubah
Pada silinder berlapis, misalnya pipa-pipa saluran uap atau bahan kimia
Pada bola berongga, misalnya tangki-tangki penyimpan :
Ammonial
LPG
Suatu bola berongga dilapisi isolator dengan
konduktifitas panas = k
2
Persamaan untuk bola berongga gunakan
pers.(2.15) yaitu :
( )
( ) ( )
( )
1 2
1 2
1 2
1 2 2 1
4
4
1/ 1/
k t t
r r
q k t t
r r r r
t
t

= =

( )
( )
( )
( )
( )
( )
( ) ( )
2 1
1 2
1 1 2 1 2
2 1 1 1 2
3 2
2 3
2 2 3 2 3
3 2 2 2 3
2 1 3 2
1 3
1 1 2 2 2 3

4
4

4
4

4
Lapisan I
q r r
r r
q k t t t t
r r k r r
Lapisan II
q r r
r r
q k t t t t
r r k r r
r r r r
q
t t
k r r k r r
t
t
t
t
t

= =

= =

+
| |
= +
|
\ .
( ) ( )
2 1 3 2
1 3
2 1 1 2 3

4
r r r r
q
t t
r k r k r t
| |
= +
|
\ .
( )
( ) ( )
2 1 3
2 1 3 2
1 1 2 3
4
/
r t t
q Btu h
r r r r
k r k r
t
=

+
(2.17)
Contoh : Gas O
2
disimpan dalam suatu tangki silinder berdiameter 5 ft dan panjannya 6,5 ft
yang disiolasi dengan bahan A dan bahan B, masing-masing setebal 1 ft dan 0,5 ft. Harga k
A
=
0,022 dan k
B
= 0,4 Btu/ft
2
jam
o
F. Sedangkan temperatur bagian dalam -290
o
F dan bagian luar
50
o
F. hitunglah :
a. Besar perpindahan panas dari luar ke tangki O
2
cair.
b. Jika isolaso B diganti dengan A pada keadaan suhu dan fluks panas yang tetap, berapa
tebal isolasi A secara keseluruhan.
9
c. Jika suhu bagian luar 60 F dan tebal bahan A tetap, berapa tebal lapisan bahan B untuk
mempertahankan suhu bagian dalam (-290 F ).
Jawab :
O
2
dalam tangki bola
r
1
= 2,5 ft
r
2
= 3,5 ft
r
3
= 4,0 ft
t
1
= -290
o
F
t
2
= 50
o
F
k
A
= 0,022 Btu/ft
2
.h.
o
F
k
B
= 0,400 Btu/ft
2
.h.
o
F
( )
( )
( )
( )
( )
( )
2
2 2
1 1
1
2
2 1 2
1 2
1 2
1 2 1 2
1 2
1 2
2 1
4
1

4 4
4
1 1

4 1/ 1/
4
r
r t
r t
r
dt dt
q kA k r
dr dr
q dr q
dt t t
k r k r
k t t
q
t t q
k r r r r
r r
q k t t
r r
t
t t
t
t
t
= =
(
= =
(

| |
= =
|

\ .
=

} }
a. Besarnya q dari luar ke tangki O
2
cair dapat dihitung sebagai berikut :
( )
( ) ( )
( )
( )
( ) ( )
( )
2 1
1 2
1 2 1 2
2 1 1 2
3 2
2 3
2 3 2 3
3 2 2 3
4
4
4
4
A
A
B
B
q r r
r r
A q k t t t t
r r k r r
q r r
r r
B q k t t t t
r r k r r
t
t
t
t

Dari penjumlahan A dan B didapatkan :


( )
( ) ( )
2 1 3 2
1 3
2 1 3
4
A B
r r r r
q
t t
r r k r k t
(
+
(

( )
( ) ( )
( )( )
( )
( )( )
( )
( )( )
2 1 3
2 1 3 2
1 3
4 4 3, 5 50 290
808, 24 /
3, 5 2,5 4, 0 3, 5
2,5 0, 022 4, 0 0, 4
A B
r t t
q Btu h
r r r r
k r k r
t t +
= = =

+ +
b. Bila isolasinya hanya A; maka tebal isolasi A secara keseluruhan dapat menggunakan
rumus :
10
( )
( )
( )( ) ( ) ( )
( )
( ) ( )
1 2
2 1
2 1
2
2
2
2
2 2 2
2
4
4 0, 022 2,5 50 290
808, 24
2,5
234,87
2,5
808, 24
2,5 0, 3 0, 7 2, 5
3, 6
A
k r r
q t t
r r
r
r
r
r
r r r
r ft
t
t
=

= +
=

=
= =
=
Jadi tebal isolasi A = 3,6 2,5 = 1,1 ft
III. PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI
Konveksi ialah perpindahan panas diantara fluida yang lebih panas dan
lebih dingin karena keduanya bercampur. Fluida dingin yang dekat kepada
permukaan panas menerima panas dan kemudian memberikannya kepada bulk
fluida dingin ketika bercampur. Ini terjadi karena ada gerakan fluida.
Konveksi erat kaitannya dengan mekanika fluida. Bahkan secara
termodinamik, konveksi itu dianggap bukan sebagai aliran kalor, tetapi fluks
entalpi. Pengidentifikasian konveksi dengan aliran kalor hanyalah untuk
memudahkan saja, karena dalam prakteknya sulit membedakan antara
konveksi dengan konduksi yang sebenarnya, apabila keduanya digabungkan
dibawah satu nama konveksi saja. Dalam konveksi dikenal 2 cara yaitu
konveksi bebas atau konveksi alami dan Konveksi paksa.
Perbedaan kedua konveksi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
No KONVEKSI ALAMIAH (BEBAS) KONVEKSI PAKSA
1
Panas dibawah serta oleh fluida yang
bergerak ke atas karena perbedaan
temperatur.
Panas dipindahkan karena dibawah oleh
massa yang dilairkan oleh suatu alat.
2
Sifat aliran ditentukan oleh gaya apung
fluida yang berbeda densitas.
Sifat aliran ditentukan alat tersebut.
3
Penyebaran kecepatan & temperatur
saling berhubungan.
Penyebaran kecepatan dicari lebih dulu,
kemudian baru dicari penyebaran
temperatur.
4
Bilangan Nusselt bergantung pada
bilangan Grashof dan bilangan Prandalt.
Bilangan Nusselt bergantung pada
Reynolds dan bilangan Prandalt.

11
Peristiwa perpindahan macam ini dapat dinyatakan dengan sebuah
persamaan yang meniru bentuk persamaan untuk konduksi, yaitu :
dq = h A dt (3.1)
dimana, h adalah koefisien perpindahan panas (Btu/jam.ft
2
.
o
F) yang
dipengaruhi oleh sifat-sifat fluida dan pengadukan.
Persamaan (3.1) dapat ditulis dalam bentuk hasil integrasi, yaitu :

t
A t
q h A t
R
A
= A =
(3.2)
Tahanan R
t
tidak dapat dihitung dari hubungan R
a
= l
a
/k
a
A, karena tebal
konveksi tidak diketahui (indefinite).
Perhatikan sebuah dinding pipa dengan konveksi paksa, dengan
besarnya yang berbeda pada kedua bagian pipa tersebut (lihat gambar 3.1).
Misalkan, pada bagian dalam pipa, panas yang diberikan oleh liquida panas
yang mengalir, sedangkan pada bagian luar pipa panas diterima oleh aliran
fluida dingin, laju aliran panas dalam steady state dapat ditulis sebagai berikut

( ) ( ) ( )
i i o o w o i o
o o
A T t A t t A T t
q
R R R

= = =
(3.3)

i i i o o o
h A t h A t = A = A
(3.4)
dimana, A
i
= luas permukaan pipa bagian dalam, ft
2
; T
i
adalah suhu bulk pipa
bagian dalam,
o
F; t
o
adalah suhu bulk bagian luar pipa,
o
F; R
o
adalah tahanan
konveksi pada bagian luar; A
o
adalah luas permukaan pipa bagian luar, ft
2
dan
t
w
adalah suhu dinding pipa bagian luar,
o
F
Dalam gambar 3.1 R adalah tahanan total terhadap perpindahan panas, sesuai
dengan hubungan :
R = R
i
+ R
w
+ R
o
(3.5)
Untuk bentuk pipa ini dapat ditulis :
1 1
w
o i i o o w w
l R
A h A h A k A
= = +
(3.6)
12
( ) ( )
1 1
/ /
w
i i o o w w a
l
R
h A A h k A A
= + + (3.7)
h
i
(A
i
/A
o
) dapat ditulis sebagai h
io
dan apabila dinding pipa terlalu tipis, maka
tahanan dinding l
w
A
o
/(k
w
A
w
) dapat diabaikan; sedangkan kebalikan R adalah
koefisien perpindahan panas total U. dengan demikian persamaan (3.7) dapat
ditulis sebagai berikut :
,
1 1 1
C i o o
U h h
= + (3.8)
dimana, h
i,o
= koefisien perpindahan panas pada bagian dalam pipa tetapi luas
permukaannya dihitung bagian luar = h
i
(A
i
/A
o
) = h
i
(D
i
/D
o
)
Koefisien Perpindahan Panas Aliran dalam Pipa (Tube)
Banyak korelasi dapat ditemukan untuk membuat koefisien perpindahan
panas dalam pipa atau tube, dan semuanya mempunyai dasar yang sama,
salah satu diantaranya adalah Sieder and Tate equation :
Untuk aliran laminar Re < 2100,
1/ 3 0,14
.
.
1, 86
p
i
w
c
h D DG D
k k L



( | | | | | |
| |
=
( | | | |
\ . \ .\ . \ .
(3.9)
Untuk aliran turbulen
0,14 1/ 3 0,8
.
.
0, 027
p
i
w
c
h D DG
k k



| | | | | |
=
| | |
\ . \ . \ .
(3.10)
Persamaan (3.9) dan (3.10) berlaku untuk cairan organik, larutan dalam air dan
gas, dan tidak konservatif untuk air. Koefisien perpindahan panas aliran untuk
air dapat ditukar dengan mempergunakan Fig. 25 Kern hal. 835.
Kedua persamaan diatas dijadikan satu secara grafis dengan jalan memasang
sebagai ordinat faktor JH.
0,14 1/ 3
.
p
i
w
c
h D
JH
k k


| | | |
| |
=
| | |
\ .
\ . \ .
Dan sebagai absis bilangan Reynold (lihat Fig. 24 Kern)
Persamaan (3.9) dan (3.10) serta Fig. 24 Kern, dapat juga dipergunakan untuk
aliran fluida di luar pipa (annulus) asal saja diameter dalam D
i
diganti dengan
13
diameter equivalen untuk perpindahan panas D
e
, sehingga persamaan (3.9)
dan (3.10) berubah menjadi :
1/ 3 0,14
.
.
1, 86
p
o e e a e
w
c
h D D G D
k k L



( | | | | | | | |
=
( | | | |
\ . \ .\ . \ .
(3.9a)
0,14 1/ 3 0,8
.
.
0, 027
p
o e e a
w
c
h D D G
k k



| | | | | |
=
| | |
\ . \ . \ .
(3.10a)
dimana, D
1
adalah diameter luar pipa dalam dan D
2
diameter dalam pipa luar
( )
2 2
2 2
2 1
2 1
1 1
4
4
/ 4
e
D D
D D x luas aliran
D
perimeter panas D D
t
t


= = =
( )
2 2
2 1
t an 4

a
laju aliran massa lewa nulus w
G
laju penampang aliran D D t
= =

Koefisien film h
o
untuk aliran pada bagian shell and tube heat exchanger,
khususnya dengan baffle dapat ditaksir dari persamaan berikut, yang berlaku
untuk bilangan Reynold antara 2.500 1.000.000 :
0,14 1/ 3 0,55
.
.
0, 36
p
o e e s
w
c
h D D G
k k



| | | | | |
=
| | |
\ . \ . \ .
(3.11)
Dimana,

( )
2 2
4 / 4
4

T o
e
o
P D
x luas bebas
D
perimeter terbasahi D
t t
t

= = untuk square pitch



( )
2
4 0, 5 0,86 0,5 / 4
0, 5
T T o
e
o
P x P D
D
D
t
t

= untuk triangular pitch
Persamaan (3.13) dapat juga ditulis dalam bentuk JH, yaitu :
0,14 1/ 3
.
p
o e
w
c
h D
JH
k k


| | | |
| |
=
| | |
\ .
\ . \ .
Persmaan (3.9) (3.11) yang lazim disebut persamaan Nusselt untuk konveksi
paksa, tidak berlaku untuk fluida yang berubah fase seperti mengembun.
Koefisien perpindahan (film) untuk uap pengembun diluar pipa (tube) di berikan
oleh persamaan Nusselt berikut :
14
( )
0,25
3
3
0, 94
f f g
f o f
k
h
D t

| |
|
=
|
A
\ .
(3.12)
Pengembunan pada permukaan tube horizontal,
( )
0,25
3
3
0, 725
f f g
f o f
k
h
D t

| |
|
=
|
A
\ .
(3.13)
Persamaan (3.12) dan (3.13) dapat ditulis dalam bentuk lain, yaitu pipa tegak :
1/ 3 1/ 3
2
3 2
4 '
1, 47
f
f f g f
G
h
k

| | | |
= =
| |
| |
\ . \ .
(3.14)
Dimana, G = W / Nt . . D
o
Nt = banyak tube
Pipa horizontal :
1/ 3 1/ 3
2
3 2
4 "
1, 51
f
f f g f
G
h
k

| | | |
= =
| |
| |
\ . \ .
(3.15)
Dimana, G = W / L. Nt
2/3
(3.16)
Persamaan (3.16) berlaku untuk tube bundle (banyak tube) yang terdapat pada
tipe shell and tube dengan uap yang mengembun berada pada bagian shell.
Korelasi tersebut berlaku untuk Re = 1800 2100. Penaksiran harga h
(persamaan 3.28) dapat dilakukan melalui Fig. 12.9 Kern, hal.267.
Khusus untuk uap (steam) mengembun sebagai medium dilakukan pemanas
dapat dipergunkan harga h
i
= h
io
= h
o
= 1500 Btu/jam.ft
2
.
o
F (Kern. hal.164).
15
IV. PERPINDAHAN PANAS RADIASI
Radiasi adalah peristiwa perpindahan energi melalui ruang oleh
gelombang-gelombang elektromagnetik. Jika radiasi berlangsung melalui ruang
kosong, ia tidak ditransformasikan menjadi kalor atau bentuk-bentuk lain dari
energi, dan ia tidak pula akan terbelok dari lintasannya. Tetapi, sebaliknya, bila
terdapat zat pada lintasannya, radiasi itu akan mengalami transmisi, refleksi,
dan absorpsi. Hanya energi yang diserap saja yang muncul sebagai kalor, dan
ditransformasi ini bersifat kuantitatif. Dan secara umum, radiasi menjadi sangat
penting pada suhu tinggi.
Daerah panjang gelombang yang dapat disebut radiasi panas terutama
terletak antara 0,1-10 mikron. Daerah ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan
radiasi elektromagnetik. Kalau adalah panjang gelombang; C kecepatan
cahaya dan v frekwensi, maka berlaku hubungan,
= C/v (4.1)
c = 2,9979 x 10
10
cm/s
16
suatu gelembang elektromagnetik dengan frekwensi v yang biasanya
digambarkan sebagai gerakan foton, yaitu benda dengan massa nol, muatan
nol dan energi sebesar , dengan hubungan,
= hv (4.2)
h = tetapan Planck = 6,624 x 10
27
erg.s
energi foton itu dapat dipancarkan, dapat diserap oleh suatu permukaan dan
dapat juga dipantulkan.
Berdasarkan hukum kedua thermodinamika, Boltzman menyusun hubungan
hubungan berikut :
dg = d A TR
4
(4.3)
dimana, T adalah suhu absolute,
o
R; adalah konstanta dimensional,
(Btu/jam.ft
2
.
o
R
4
); adalah emissivity dan A adalah luas permukaan perpindahan
panas, ft
2
.
Seperti halnya dengan k dan hr maka juga harus ditentukan secara
percobaan. Kadang-kadang lebih mudah untuk menyatakan pengaruh netto
dari radiasi dalam bentuk yang sama seperti yang dipergunakan dalam
konveksi, yaitu :
q = h
r
A (T
1
T
2
)
dimana h
r
adalah koefisien film fiktif.
Dalam radiasi panas dikenal beberapa benda pembanding. Suatu benda
atau permukaan yang tertekan radiasi panas, biasanya menyerap hanya
sebagian dari energi yang sampai, dengan hubungan,

;
a a
v
m m
q qv
a a
q qv
= =
.(4.3)
Dimana, a = koefisien absorpsi
q
a
= enegi yang diserap
q
m
= energy yang masuk
untuk benda-benda yang nyata av tidak sama untuk berbagai frekwensi.
17
Benda Kelabu (gray body) adalah benda hitetis yang mempunyai av yang
sama, tetapi < 1, untuk semua frekwensi dan semua temperatur.
Bemda Hitam (black body) adalah benda hipotetis yang mempunyai av = 1
untuk semua frekwensi dan temperatur.
Semua permukaan padat selain menyerap juga memancarkan panas.
Jika dibandingakan dengan pancaran benda hitam, bagian yang dipancarkan
oleh suatu permukaan disebut koefisien emisi :

;
a a
v
a a
q qb
e e
qb qb
= =
..(4.4)
Jika : q
a
= energi yang dipancarkan benda biasa
qb
a
= energi yang dipancarkan benda hitam
perpindahan panas secara radiasi untuk benda hitamtelah dirumuskan dalam
hukum Stefan-Boltzman :
qb
a
= T
4
..(4.5)
= tetapan Stefan-Boltzman = 5,67 x 10
-8
W/m
2
K
4
untuk benda tak-hitam energy yang dipancarkan adalah :
q
a
= e T
4
.(4.6)
Untuk tekanik yang penting adalah energy yang dipertukarkan antara
dua benda atau dua permukaan. Karena sering sekali tidak semua permukaan
suatu benda menghadap ke benda yang lain, maka dari pancaran total benda
pertamahanya sebagian sampai pada benda ke dua. Benda ke dua menyerap
sebagian dari energy yang sampai padanya dan bagian yang lain dipancarkan
ke benda pertama. Pancaran benda ke dua itu sebagian diserap oleh benda
pertama dan sebagian dipancarkan kembali, begitu seterusnya.
Pertukaran energy antara dua benda hitam dinyatakan oleh persamaan,
q
12
= A
1
F
12
(T
1
4
T
2
4
) = A
2
F
21
(T
1
4
T
2
4
) .(4.7)
dimana, q
12
adalah energi yang dipertukarkan antara benda hitam 1 dan 2; A
1
adalah luas permukaan total benda 1; A
2
adalah luas permukaan total benda 2;
18
F
12
adalah bagian dari radiasi A
1
yang sampai pada A
2
; dan F
21
adalah bagian
dari radiasi A
2
yang sampai pada A
1
A
1
F
12
= A
2
F
21
F
12
& F
21
disebut factor bentuk (view factor)
Untuk dua benda tak-hitam pertukaran radiasi panasnya dapat dihitung
seperti dibawah ini. Perhitungan semacam ini hanya mungkin dilakukan untuk
benda kecil yang cembung permukaannya (benda 1, temperatur T
1
), yang
seluruhnya dikelilingi oleh permukaan lingkungan pada T
2
. Laju energi yang
dipancarkan oleh benda 1 :
q
12
= e
1
A
1
T
1
4
laju energi yang diserap oleh permukaan 1 dari lingkungan
q
12
= a
1
A
1
T
2
4
disini F
12
diambil sama dengan 1, karena permukaan 1 itu cembung dan diliputi
oleh permukaan 2 sehingga seluruh pancarannya diterima oleh lingkungan dan
tidak ada yang diterima kembali oleh 1.
Selisih energi yang dipertukarkan menjadi :
q
12
= A
1
(e
1
T
1
4
a
1
T
2
4
) ..(4.8)
e
1
adalah nilai koefisien emisi permukaan 1 pada T
1
, a
1
diperkirakan sam
dengan nilai e untuk permukaan 1 pada T
2
.
Untuk menentukan besarnya view factor, F dari beberapa hubungan geometri
(kedudukan siku-siku dan kedudukan sejajar), dapat digunakan grafik 6 dan 7
dari lampiran.
Contoh : Suatu bujur sangkar yang sisinya 4 ft sejajar dengan bujur sangkar yang lain yang
ukurannya sama. Jarak keduanya adalah 2 ft dan masing-masing mempunyai suhu 1000
o
F dan
500
o
F. hitunglah besarnya q
r
dari kedua bidang tersebut secara radiasi langsung.
Jawab :
q
r
= q
12
= A
1
F
12
o(T
1
4
T
2
4
) A
2
F
21
o(T
1
4
T
2
4
)
A
1
= A
2
dan F
12
= F
21
, maka :
q
r
= AFo(T
1
4
T
2
4
)
T
1
= 1000
o
F = 811 K
T
2
= 500
o
F = 533 K
A = 16 ft
o = 5,67 x 10
-8
W/m
2
K
4
kedudukan sejajar digunakan lampiran di grafik 7.
19
o = 5,67 x 10
-8
W/m
2
K
4
= 5,67 x 10
-8
(3,42 Btu/jam) (3,28
2
ft
2
) (K
4
)
= 2,09 x 10
-6
Btu/jam ft
2
K
4
q
r
= AFo(T
1
4
T
2
4
)
= (16) (0,4) (2,09 x 10
-6
) (811
4
533
4
) = 4.706.885,3 Btu/jam
= 4,7 x 10
6
Btu/jam.
V. BOILING DAN KONDENSASI
Dalam pembahasan terdahulu tentang perpindahan kalor konveksi kita
telah menyorot sistim-sistim fase tunggal yang homogen. Proses konveksi lain
yang tidak kalah pentingnya adalah yang berkaitan dengan perubahan fase
fluida. Dua diantaranya yang sangat penting adalah fenomena kondensasi
(condensation) dan fenomena didih (boiling), disamping masalah perpindahan
kalor dengan perubahan fase padat-gas yang menjadi penting pula karena
berbagai penerapannya.
5.1 Boiling
5.1.1Mekanisme Boiling
Dalam pendidihan, titik didih dari temperatur cairan ini di tekan
didalam peralatan itu. Bidang yang dipanaskan adalah tentu saja pada
suatu temperatur di atas titik didih. Gelembung uap air dihasilkan di bidang
20
yang dipanaskan dan kenaikan melalui massa cairan. Pendidihan adalah
suatu fenomena kompleks.
Gambar 5.1 Mekanisme Boiling untuk air pada Tekanan Atomosfer, Flux Panas vs
Penurunan Temperatur : (A) Konveksi Alami, (B) Nukleat Boiling, (C) Transisi Boiling,
(D) Film Boiling
5.1.2 Nucleat Boiling
Dalam daerah nukleat boiling, heat flux dipengaruhi oleh T,
tekanan, alami dan geometri dari sistim dan permukaan, dan sifat phisic
dari uap dan liquid. Dalam didih nukleat, terbentuk gelembung-gelembung
karena ekspansi gas yang terkurung atau uap dalam lubang-lubang kecil
pada permukaan. Gelembung itu akan membesar hingga ukuran tertentu,
bergantung pada tegangan permukaan pada antar muka (interface) zat
cair-uap dan pada suhu dan tekanan. Perhatikan gelembung berbentuk
bola pada gambar dibawah ini :
persamaan diatas dapt juga ditulis :
21
2
v l
p p
r
o
=
(5.1)
dimana : p
v
adalah tekanan uap di dalam gelembung; p
l
adalah tekanan
zat cair dan o adalah tegangan permukaan muka-batas uap-zat cair.
Rohsenow membuat korelasi data percobaan untuk didih kolam nukleat
dengan persamaan dibawah ini :
( )
0,33
. . /
. .
s
l
l x c
f
fg l fg l v
r
Cp T g q A
Cs
h P h g
o

(
A
=
(

(

(5.2)
dimana :
C
pl
= spesifik panas zat cair jenuh, Btu/lbm
o
F atau
o
C atau J/kg
o
C
T
X
= lebih suhu = T
W
T
jenuh
,
o
F atau
o
C
h
fg
= entalpi penguapan, Btu/lbm atau J/kg
Pr
l
= angka Prandtl zat cair jenuh
q/A = flux panas per satuan luas, Btu/jam ft
2
atau W/m
2 o
C

l
= viskositas zat cair, lbm/jam ft atau kg/m s
= tegangan permukaan muka-batas zat cair-uap, lb
f
/ft atau N/m
g = kecepatan grafitasi, ft/s
2
atau m/s
2

l
= densitas zat cair jenuh, lb
m
/cuft atau kg/m
3

v
= densitas uap jenuh, lb
m
/cuft atau kg/m
3
C
sf
= konstanta ditentukan dari data experimen
s = 1,0 untuk air dan 1,7 untuk zat cair lain.
Tabel 1. Tegangan Permukaan Uap-Zat Cair untuk Air
Suhu Jenuh Tegangan Permukaan
o
F
o
C x 10
4
, lb
f
/ft , mN/m
32
60
100
140
200
212
320
440
560
680
0
15,56
37,78
60
93,33
100
160
226,67
293,33
360
51,8
50,2
47,8
45,2
41,2
40,3
31,6
21,9
11,1
1,0
75,6
73,3
69,8
66,0
60,1
58,8
46,1
32,0
16,2
1,46
22
705,4 374,1 0 0
Berbagai persamaan telah dikembangkan telah dikemukakan untuk menghitung
fluks kalor dalam keadaan didih. McAdams menyarankan pada tekanan rendah
untuk air mendidih menggunakan persamaan :
( )
3,96
2
2, 253 / 0, 2 0, 7
X
q
T W m p MPa
A
= A < <

(5.3)
sedangkan pada tekanan yang lebih tinggi digunakan persamaan :
( )
3
4/ 3 2
283 / 0, 7 14
X
q
p T W m p MPa
A
= A < <

(5.4)
dimana, AT
x
adalah perubahan temperature,
o
C dan p adalah tekanan, MPa.
Analisa mengenai fluks kalor puncak dalam didih nukleat dengan
memperhatikan persyaratan kestabilan muka-batas antara film uap dan zat cair
dapat dilihat seperti persamaan dibawah ini,
( )
0,25 1/ 2
2
max
.
. 1
24
l v
v
fg v
v l
g
q
h
A
o
t


( | |
| |
= +
| ( |
\ .
\ .
(5.5)
Suatu fenomena fluks kalor puncak yang menarik diamati bila tetesan zat cair
menimpa permukaan panas. Experiment dengan air, aseton, alkohol, dan
beberapa Freon menunjukan bahwa perpindahan panas maksimum terjadi
pada suhu >165
o
C untuk semua jenis fluida. Fluks puncak ini merupakan fungsi
sifat-sifat fluida dan komponen normal dari kecepatan timpa. Korelasi dengan
data eksperimen dapat dilihat seperti dibawah ini :
0,341
2 2
3
. .
0, 00183
. . . .
max L
L vf c
Q V d
d g

o
| |
=
|
|
\ .
(5.6)
Dimana, Q
maks
adalah perpindahan kalor maksimum per tetes;
L
adalah
densitas tetesan zat cair; V adalah komponen normal kecepatan timpa;
vf
adalah densitas uap ditentukan pada suhu film (T
w
+ T
jenuh
)/2; o adalah
tegangan permukaan; d adalah diameter tetesan dan adalah kalor penguapan
dimodifikasi = h
fg
+ C
pv
(T
w
T
jenuh
/ 2).
Untuk Suatu Permukaan Horisontal
23
Untuk sistim pada suatu permukaan horisontal beberapa persamaan
dapat digunakan diantaranya :
h = 151 (AT
o
F)
1/3
, Btu/jam.ft
2
.
o
F q/A < 5000, Btu/jam.ft
2
h = 1043 (AT
o
K)
1/3
, W/m
2
.K q/A < 16, kW/m
2
h = 0,168 (AT
o
F)
3
, Btu/jam.ft
2
.
o
F 5000 < q/A < 75000, Btu/jam.ft
2
h = 5,56 (AT
o
K)
3
, W/m
2
.K 16 < q/A < 240, kW/m
2
Sun & Lienhard memberikan persamaan untuk fluks kalor didih puncak pada
silinder horizontal yaitu :
( ) ' 15 , 0 ' 44 , 3 exp 27 , 2 89 , 0 R untuk R
q
q
maksF
n
maks
n
< + =
dimana R adalah jari jari ayng tak-berdimensi :
( )
2 / 1
'
(


=
o

v l
g
R R
( ) | |
4 / 1
. . 131 , 0
v l fg v
maksF
n
g h q o =
dimana, q
n
maks F
adalah fluks kalor puncak pada plat horisontal tak-berhingga
dan adalah tegangan permukaan
Sedangkan Bromley menyarankan untuk menghitung koefisien perpindahan
panas di daerah didih-film yang stabil pada tabung horizontal menggunakan
persamaan:
( ) ( )
. .
. 4 , 0 .
62 , 0
4 / 1
3
(
(

A
A +
=
x v
x pv fg v l v v
b
T d
T c h g k
h


(5.7)
dimana, k
v
adalah konduktivitas thermal uap, W/m.K;
v
adalah densitas uap,
kg/m
3
;
l
adalah densitas liquid, kg/m
3
; h
fg
adalah panas laten penguapan, J/kg;
AT = T
w
T
sat
; T
sat
= suhu uap jenuh,
o
K; D adalah diameter luar pipa, m;
v
adalah viskositas uap, Pa.s; dan g adalah percepatan gravitasi, m/s
2
sifat-sifat physis uap dihitung pada suhu film :
|
.
|

\
|
=
2
T - T
T
sat w
f
dan h
fg
pada suhu jenuh
Jacob & Hawkins mendapatkan suatu persamaan untuk air mendidih diluar
permukaan yang terbenam pada tekanan atmosfer (table 2). Koefisien
perpindahan panas ini dapat diselesaikan untuk pengaruh tekanan yaitu :
24
4 , 0
|
|
.
|

\
|
=
l
l p
p
p
h h (5.8)
dimana, h
p
adalah koefisien perpindahan panas pada tekanan sistim, p; h
l
adalah koefisien perpindahan panas (lihat table 2); p adalah tekanan sistim; dan
p
l
adalah tekanan atmoser standar.
Tabel. 2 Hubungan Koefisien Perpindahan Panas Didih ke Air pada Tekanan Atmosfer,
T
x
= T
w
T
jenuh
o
C.
Permukaan q/A, kW/m
2
h, W/m
2
.
o
C
Horisontal
Vertikal
q / A < 16
16 < q / A < 240
q / A < 3
3 < q / A < 63
1042 (AT
x
)
1/3
5,56 (AT
x
)
3
537 (AT
x
)
1/7
7,96 (AT
x
)
3
Untuk didih lokal konveksi-paksa di dalam tabung vertikal dengan range
tekanan dari 5 170 atm disarankan menggunakan persamaan :
h = 2,54 (AT
x
)
3
e
p/1,551
(5.9)
dimana, AT
x
adalah beda suhu antar permukaan dan zar cair jenuh,
o
C; p
adalah tekanan, MN/m
2
; dan h adalah koefisien perpindahan panas, W/m
2
.
o
C
Contoh : Air pada tekanan 5 atm mengalir dalam tabung yang diameternya 1 inci pada kondisi
didih local, dimana suhu dinding adalah 10
o
C diatas suhu jenuh. Hitunglah perpindahan panas
dalam tabung dengan panjang 1 m.
Jawab :
AT
x
= 10
o
C
p = (5)(1,0132 x 10
5
N/m
2
) = 0,5066 MPa
Koefisien Perpindahan Panas :
h = (2,54)(10)
3
e
0,5066/1,551

= 3521 W/m
2
.
o
C = 620 Btu/jam.ft
2
.
o
F
Luas Permukaan untuk panjang 1 m tabung :
A = t dL
= t (0,0254 m)(10) = 0,0798 m
2
sehingga :
Perpindahan Panas adalah :
q = hA(T
w
T
jenuh
)
= (3521W/m
2
.
o
C) (0,0798 m
2
)(10
o
C) = 2810 W/m
Untuk Suatu Permukaan Vertikal
Untuk permukaan vertikal dapat menggunakan persamaan :
h = 87 (AT
o
F)
1/7
, Btu/jam.ft
2
.
o
F q/A < 1000, Btu/jam.ft
2
25
h = 537 (AT
o
K)
1/7
, W/m
2
.K q/A < 3, kW/m
2
h = 0,24 (AT
o
F)
3
, Btu/jam.ft
2
.
o
F 1000 < q/A < 20000, Btu/jam.ft
2
h = 7,45 (AT
o
K)
3
, W/m
2
.
o
K 3 < q/A < 63, kW/m
2
dimana :
AT = T
w
T
sat
Untuk Boiling Konveksi Paksa di Dalam Pipa
Untuk konveksi paksa didalam pipa dapat didekati dengan persamaan :
h = 2,55 (AT
o
K)
3
e
p/1555
, W/m
2
.K (SI)
h = 0,077 (AT
o
F)
3
e
p/225
, Btu/jam.ft
2
.
o
F (English)
5.2 Kondensasi
5.2.1Mekanisme Kondensasi
Kondensasi dari suatu uap air ke suatu cairan dan vaporazation dari
suatu cairan ke suatu uap air kedua-duanya melibatkan suatu perubahan
fase dari suatu cairan dengan koefisien perpindahan panas yang besar.
Kondensasi terjadi manakala suatu uap air datang dipenuhi seperti steam
dalam hubungan dengan suatu padatan yang temperatur permukaan di
bawah temperatur kejenuhan, untuk membentuk suatu cairan seperti air.
Type kondensasi dibagi atas beberapa jenis :
Film type kondensasi
Tetesan jatuh (dropwise condensation)
5.2.2Koefisien Film-Kondensasi untuk Permukaan Vertikal
Film-tipe kondensasi pada suatu tabung atau dinding vertikal dapat
dianalisa secara analitis dengan mengasumsikan aliran laminer
menyangkut film kondensasi sepanjang dinding itu. Menurut Nusselt
(H
1
, W
1
) mengasumsikan bahwa perpindahan panas dari kondensasi uap
air pada T
sat
K, melalui film cairan ini, dan ke dinding pada T
w
K adalah
dengan konduksi.
Dalam gambar 5-2a, uap air pada T
sat
sedang dipadatkan pada suatu
dinding yang temperatur adalah T
w
K. Sedang Kondensat mengalir
26
mengarah ke bawah dalam aliran laminer. Diasumsikan ketebalan unit,
massa dari unsur dengan densitas cairan
l
dalam gambar 5-2b adalah
(o - y)(dx . )
l
. Gaya yang mengarah ke bawah pada unsur ini adalah gaya
gravitasi kurang gaya apung, atau (o - y)(dx) x (
l
-
v
)g, gaya ini adalah
seimbang dengan gaya gesek viscous pada daerah y tentang

l
(dv/dy)(dx . 1). Persamaan gaya ini,
(o - y)(dx)(
l
-
v
)g =
l
(dv/dy)(dx) (5.10)
Integrasikan dan gunakan kondisi apung itu syarat batas v = 0 pada y = 0
( )
( ) 2 /
2
y
g
v
y
l
v l

= o


(5.11)
Gambar 5.2 Kondensasi Film pada suatu Plat Vertikal : (a) Peningkatan
dalam posisi ketebalam film, (b) Keseimbangan pada elemen kondensat
Laju alir massa tentang film kondensat pada titik manapun x untuk unit
kedalaman,
( )
( )
} }

= =
o o
o



0
2
0
2 / dy y
g
vdy m
y
l
v l
l l
(5.12)
jika di integrasi menjadi,
( )
l
v l l
g
m

o
3
3

= (5.13)
Pada dinding, untuk area (dx. 1) m
2
, laju perpindahan panas sebagai berikut
jika suatu distribusi temperatur linier diasumsikan dalam cairan antara dinding
dan uap air :
( )
o
w sat
l y l x
T T
dx k
dT
dT
dx k q

= =
=0
1 . (5.14)
27
Di dalam suatu jarak dx, laju perpindahan panas q
x
. Juga, dalam jarak ini dx,
peningkatan dalam massa dari kondensasi adalah dm. Menggunakan
persamaan (5.13),
( ) ( )
1
3
v l l
l
3
v l l
d - g
3
g
d dm

o o

o
=
(


= (5.15)
Pembuatan suatu kesetimbangan panas untuk jarak dx, laju alir massa dm
waktu panas laten h
fg
harus sama dengan q
x
dari persamaan (5.14) :
( )
o
o o
w sat
l
2
v l l
fg
T - T
dx k
d - g
h =
l
(5.16)
integrasikan, dengan o = 0 pada x = 0 dan o = o pada x = x,
( )
( )
4 / 1
4
(
(

=
v l l fg
w sat l l
gh
T T x k

o (5.17)
menggunakan koefisien transfer panas lokal, h
x
pada x, suatu kesetimbangan
panas memberikan
( )( ) ( )
o
w sat
l w sat x
T T
dx k T T dx h

= 1 . 1 . (5.18)
ini memberikan,
o
l
x
k
h = (5.19)
kombinasikan pers.(5.17) dan pers.(5.19) menjadi,
( )
( )
4 / 1
3
4
(
(

=
w sat l
l fg v l l
x
T T x
k gh
h


(5.20)
Dengan mengintegrasikan di atas panjang total L, nilai rata-rata h diperoleh,
}
=
= =
L
L x x x
h d h
L
h
0
3 / 4
1
(5.21)
( )
( )
4 / 1
3
943 , 0
(
(

=
w sat l
l fg v l l
T T L
k gh
h


(5.22)
Bagaimanapun, untuk aliran laminer, data percobaan adalah sekitar diatas
20%. Karenanya, ungkapan rekomendasi akhir untuk permukaan vertikal
didalam aliran laminer adalah (M1)
28
( )
4 / 1
3
13 , 1
|
|
.
|

\
|
A

= =
T k
L gh
k
hL
N
l l
fg v l l
l
N
u


(5.23)
Semua sifat fisis cairan kecuali h
fg
dievaluasi pada film temperatur
T
f
= (T
sat
+ T
w
)/2. Untuk permukaan vertikal yang panjang adalah aliran pada
botom dapat bergolak. Bilangan Reynolds adalah digambarkan sebagai,
l l
R
4
D
m 4
N
e
t
I
= = (tabung vertikal, diameter D) (5.24)
l l
R
4
W
m 4
N
e

I
= = (plate vertikal, lebar W) (5.25)
dimana m adalah total kg massa/s kondensat pada tabung atau plate bottom
dan I = m/tD atau m/W. Nre << 1800 untuk persamaan (5.23) untuk menjaga.
Contoh : Saturated steam pada 68,9 kPa (10 Psia) adalah dipadatkan pada suatu tabung
vertikal 0,305 m (1,0 ft) mempunyai OD 0,0254 m (1.0 inci) dan temperatur permukaan 86,11
o
C
(187
o
F). Hitunglah koefisien perpindahan panas rata-rata dalam satuan British dan SI.
Jawab :
Dari tabel steam didapat :
T
sat
= 193
o
F (89,44
o
C) T
w
= 187
o
F (86,11
o
C)
C (87,8 F 190
2
193 187
2
T T
T
o o sat w
f
=
+
=
+
=
Panas laten, h
fg
= 1143,3 161,0 = 982,3 Btu/lb
m
= 2657,8 374,6 = 2283,2 kJ/kg
= 2,283 x 10
6
J/kg
kg/m 966,7
ft / lb 1
kg/m 16,018
. ft / lb 60,3
ft / lb 60,3
0,01657
1
3
3
m
3
3
m
3
m l
= =
= =
3
3
m
3
3
m
3
m v
kg/m 0,391
ft / lb 1
kg/m 16,018
. ft / lb 0,0244
ft / lb 0,0244
40,95
1
= =
= =

l
= (0,324 cp)(2,4191) = 0,784 lb
m
/ft.jam= 3,24 x 10
-4
Pa.s
k
l
= 0,390 Btu/ft.jam.
o
F = (0,390)(1,7307) = 0,675 W/m.K
asumsi suatu film laminer, menggunakan persamaan (5.23) di dalam satuan British seperti
halnya satuan SI, dan diabaikan
v
dibandingkan dengan
l
,
29
( ) ( )( ) ( )( )
( )( )( )
6040
6 390 , 0 784 , 0
0 , 1 3 , 982 3600 174 , 32 60,3
1,13
T k
L h g
1,13 N
4 / 1
3 2 2
4 / 1
l l
3
fg
2
l
N
u
=
(

=
|
|
.
|

\
|
A
=

( ) ( )( )( )
( )( )( )
6040
33 , 3 675 , 0 10 x 24 , 3
305 , 0 10 x 283 , 2 806 , 9 966,7
1,13 N
4 / 1
4 -
3 6 2
N
u
=
(

=
( ) ( )
6040
675 , 0
0,305 h
: SI satuan 6040
390 , 0
1,0 h
k
L h
N
l
N
u
= = = =
pemecahan, h = 2350 Btu/jam.ft
2
.
o
F = 13 350 W/m
2
.K
Selanjutnya nilai N
Re
akan dihitung jika aliran laminer yang terjadi diasumsikan.
Untuk menghitung total perpindahan panas suatu area tabung
A = ( D L )= ( (1/12)(1,0)) = (1/12 ft
2
)
A = ((0,0254)(0,305) m2
q = h A (T (5.27)
Bagaimanapun, q ini harus pula sama yang diperoleh oleh kondensasi m
lbm/jam atau kg/s. Karenanya,
q = h A (T = hfg . m (5.28)
Sustitusi nilai-nilai memberikan pemecahan untuk m,
2350(t/12)(190 187) = 982,3(m) m = 3,77 lb
m
/jam
13,350(t)(0,0254)(0,305)(3,33) = 2,284 x 10
6
(m) m = 4,74 x 10
-4
kg/s
Substitusikan ke dalam pers.(5.24),
( )
( )( )
( )
( )( )
73,5
10 x 24 , 3 0,0254
10 x 4,74 4
D
m 4
N
73,5
784 , 0 1/12
3,77 4
D
m 4
N
4 -
4 -
l
R
l
R
e
e
= = =
= = =
t t
t t
Karenanya, aliran adalah laminer ketika diasumsikan.
5.2.3Koefisien Film-Kondensasi Luar Silinder Horisontal
30
Analisa Nusselt dapat juga diperluas pada kasus kondensasi yang
praktis di luar tabung horisontal. Untuk suatu tabung tunggal film dimulai
dengan ketebalan nol di puncak tabung dan peningkatan dalam ketebalan
itu mengalir di sekitar bottom dan kemudian berhenti menetes. Jika ada
suatu bank dari tabung horisontal, kondensat dari puncak tabung menetes
ke bawah; dan seterusnya.
Karena suatu tingkat vertikal N tabung horisontal menempatkan satu
di bawah yang lain dengan diameter luar tabung D (M1),
( )
4 / 1
l l
3
fg v l l
l
N
T k N
D h g -
0,725
k
D h
N
u
|
|
.
|

\
|
A
= =


(5.29)
31
BAGIAN II
DESAIN ALAT PERPINDAHAN PANAS
I. PENDAHULUAN
Alat perpindahan panas banyak dipergunakan dalam industry proses
untuk berbagai keperluan. Yang dibicarakn disini adalah tipe Double Pipe Heat
Exchanger dan Shell and Tube Heat Exchanger dalam keadaan steady state.
Dilihat dari penggunaan atau fungsinya, sebutan untuk alat perpindahan panas
tersebut diatas juga berbeda-beda, diantaranya adalah exchanger, heater,
cooler, condenser, reboiler, evaporator, vaporizer dan sebagainya.
32
Exchanger berfungsi untuk memanfaatkan kembali (recovers) panas
diantaran dan fluida proses. Uap (steam) dan air tidak termasuk fluida proses,
tetapi sebgai utilitas. Heater dipergunakan terutama untuk memanaskan fluida
proses, dan steam biasanya dipergunakan sebagai medium pemanas karena
panas laten pengembunnya, meskipun dalam pengilangan minyak
dipergunakan minyak panas yang disirkulasi.
Cooler adalah alat untuk mendinginkan fluida proses, dengan air sebagai
medium pendingin utama. Condenser adalah cooler dengan tugas utama untuk
mengambil panas laten uap dan bukan panas sensible. Apabila disamping
menghilangkan panas laten uap, juga menurunkan panas sensible uap maka
disebut Desuperheater Condensor. Condenser subcooler adalah alat yang
dipergunakan untuk mengembunkan uap jenuh dan sekaligus menurunkan
suhu cairan yang terjadi dibawah suhu jenuhnya. Reboiler adalah alat yang
berfungsi untuk menyediakan panas yang dipergunakan dalam penyulingan
berupa panas laten. Evaporator dipergunakan untuk memekatkan larutan
dengan jalan menguapkan airnya; tetapi apabila yang diuapkan itu fluida yang
bukan air, alat tersebut disebut Vaporizer.
Dalam menangani alat-alat perpindahan panas tersebut diatas, ada dua
hal pokok yang berkaitan erat sekali yang perlu diperhatikan dan ditetapkan
batasannya yaitu :
1. Hal yang berkaitan dengan kemampuan alat untuk mengalihkan panas
dari fluida ke dalam dingin lewat dinding pipa/tube
2. Hal yang berkaitan dengan penurunan tekanan, yang terjadi pada
masing-masing fluida ketika mengalir melalui alat tersebut.
Pada dasarnya ada dua macam perhitungan yang berkaitan dengan alat
perpindahan panas, yaitu :
a. Sifatnya evaluasi atau analisis untuk HE yang sudah ada atau ditentukan.
b. Perancangan HE yang diperlukan untuk kondisi operasi yang diperlukan.
Suatu alat perpindahan panas dinilai mampu berfungsi dengan baik untuk
penggunaan tertentu, apabila memenuhi dua ketentuan berikut :
Kriteria yang harus dipenuhi oleh alat perpindahan panas (HE) adalah :
33
a. Mampu memindahkan panas sesuai dengan kebutuhan proses pada
keadaan kotor (bubly fouled) yang dinyatakan dalam Dirt Factor (Rd)
dihitung :
C D
hitung
C D
U U
Rd
U U

= (1.1)
dimana, U
C
adalah tahanan panas dalam keadaan bersih, Btu/jam.ft
2
.
o
F;
dan U
D
adalah tahanan panas dalam keadaan kotor, Btu/jam.ft
2
.
o
F
Dari hasil perhitungan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, apabila :
- Rd
hitung
= Rd
ketentuan
, rancangan baik sekali
- Rd
hitung
> 5 10% Rd
ketentuan
, rancangan dapat diterima
- Rd
hitung
>>> Rd
ketentuan
, rancangan tidak dapat diterima
- Rd
hitung
< Rd
ketentuan
, rancangan tidak dapat diterima (under design)
b. Pressure Drop (AP) untuk masing-masing aliran tidak melebihi batas yang
tersedia. Harga AP biasanya adalah :
Untuk aliran liquida : maksimal (AP) = 5 10 Psi
Untuk aliran uap-gas: maksimal (AP) = 2 Psi
Dalam praktek batasan tentang penurunan tekanan ini harus disesuaikan
dengan head yang tersedia dan sistem yang dipergunakan. Ini tergantung
dari sistim atau alat penggerak media yang diperlukan.
Karena yang dirancang adalah alat perpindahan panas, maka perlu dicari
dimensi atau ukuran peralatan tersebut. Ukuran alat tersebut berkaitan erat
dengan luas permukaan panas atau heating surface. Persamaan
perpindahan panas yang berkaitan dengan dimensi atau luas perpindahan
panas dapat dilihat dibawah ini :
Q = U A At (1.2)
dimana, Q adalah panas yang diserap atau dipindahkan, Btu/jam; U adalah
tahanan panas, Btu/jam.ft
2
.
o
F; A adalah luas perpindahan panas, ft
2
dan At
adalah beda temperatur rata-rata,
o
F.
Dengan diketahuinya harga A (heating surface) dapat ditentukan macam atau
type alat perpindahan panas dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Apabila A < 120 ft
2
, maka alat perpindahan panasnya adalah :
- Double Pipe Heat Exchanger
34
- Coil
- Jacket Vessel
b. Apabila A > 120 ft
2
, maka alat perpindahan panasnya adalah :
- Shell and Tube
- Plate and Frame
Dari persamaan diatas dapat juga harga A dapat dirobah menjadi :
- Panjang pipa
- Jumlah pipa
Sehingga dari jumlah dan panjang pipa dapat dipilih type alat perpindahan
panas yaitu,
a. Double Pipe Heat Exchanger
Pada tipe peralatan ini dapat dibagi jenisnya menjadi :
Counter Current dan Co Current
Seri seri
Seri paralel
b. Shell and Tube
Pada tipe peralatan ini dapat dibagi jenisnya menjadi :
Heater dan Cooler
Condensor type Horisontal, Vertikal, Desuper Heater, Sub Cooling
Reboiler type Kettle Reboiler, Forced Reboiler, Thermo Syphon
c. Coil
d. Jacket Vessel
Contoh yang paling mudah untuk suatu peralatan proses pada industri
kimia adalah Kolom Distilasi. Pada kolom distilasi banyak digunakan alat
perpindahan panas antara lain :
a. Heater pada pemanasan umpan masuk ke dalam kolom
b. Condensor pada pengembunan uap untuk dijadikan distilat
c. Reboiler pada penguapan kembali liquid pada bagian bottom untuk
membuat efesiensi kolom menjadi lebih besar.
d. Coil untuk mendinginkan distilat atau bottom produk.
FAKTOR PENGOTOR
35
Ketika fluida mengalir di dalam atau di luar pipa, maka kotoran yang
terbawa aliran tersebut akan megenda pada permukaan pipa tersebut akan
akan semakin tebal dengan waktu. Lapisan endapan ini menambah tahanan
terhadap perpindahan panas dan karenanya harus diperhitungksn dalam
analisa spesifikasi maupun perencanaan alat perpindahan panas. Tahanan
karena kotoran ini disebut faktor pengotor, R
d
yang harganya harus ditentukan
dengan exerimen. Laju aliran perpindahan panas melalui dinding pipa harganya
akan menurun dengan waktu penggunaan karena tebal (tahanan) pengotor
yang naik dengan waktu. Oleh karena itu, maka sudah sepantasnya apabila
perencanaan alat perpindahan panas didasarkan pada harga R
d
dengan
pembersihan dilakukan setelah dioperasikan selama satu tahun (tiap tahun).
Harga-harga numerik dari tahanan kotoran untuk berbagai service
tersedia antara lain pada tabel 12 Kern, dan data tersebut dimaksudkan untuk
melindungi alat perpindahan panas dari perpindahan panas yang kurang dari
yang diperlukan (q
proses
) selama 1 1 tahun.
KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS GABUNGAN KOTOR
Koefisien perpindahan panas gabungan dalam keadaan kotor U
D
dapat
ditentukan dengan memperhatikan semua tahanan yang ada termasuk tahanan
karena kotor, dengan susunan seperti ditunjukan dalam gambar dibawah.
Tahanan-tahan yang digambarkan di sini adalah :
R
i,o
= tahanan film konveksi aliran fluida dalam pipa
diperhitungkan dengan luas permukaan pipa
bagian dalam = 1/h
i,o
Rd
1
= tahanan kotoran pada sebelah dalam pipa
R
w
= tahanan konduksi dinding pipa = l
w
/k
w
Rd
o
= tahanan kotoran pada sebelah luar pipa
R
o
= tahanan film konveksi aliran fluida di bagian luar pipa.
R
D
= R
i,o
+ Rd
i
+ R
w
+ Rd
o
+ R
o
(1.3)
Karena koefisien perpindahan panas berbanding terbalik dengan tahanan
film konveksi, maka persamaan (1.3) dapat juga ditulis sebagai :
36
, 1
1 1 1 1
o D
i
o i o o o o o o
Rd R
Rd
A h A h A A h A
= + + + +
(1.3a)
, 1
1 1
o w o
D i o
i o o w w
A l A
R Rd Rd
h h A k A
= + + + +
(1.4)
Persamaan (1.3) biasanya disederhanakan sebagai berikut, Rd
i
A
o
/A
i
diambil
aman sebagai Rd
i
, karena telah dinyatakan sebelumnya bahwa harga
sesuatu tahanan kotoran diambil sama pada bagian dalam maupun bagian
luar pipa. Disamping itu telah juga diutarakan sebelumnya bahwa tahanan
karena dinding pipa biasanya diabaikan.
Dengan uraian tersebut, maka persamaan (1.4) berubah menjadi :

,
1 1
D i o
i o o
R Rd Rd
h h
= + + +
(1.5)
,
1 1
D
i o o
R Rd
h h
= + +
(1.6)
Dimana, Rd = Rd
i
+ Rd
o
h
i,o
= h
i
x (A
i
/A
o
) = h
i
x (D
i
/D
o
) (1.7)
dengan demikian kita dapat menentukan suatu bentuk persamaan untuk
koefisien perpindahan panas keseluruhan dalam keadaan bersih yaitu :
,
,

i o o
C
i o o
h x h
U
h h
=
+
(1.8)
Atau persamaan (1.8) dpat juga ditulis sebagai :
1 1
D C
Rd
U U
= +
(1.9)
PENURUNAN TEKANAN
Dalam alat perpindahan panas terjadi penurunan tekanan baik untuk
fluida dingin maupun fluida panas. Pada dasarnya terdapat dua macam
penyebab yaitu :
(i) Friksi yang terjadi antara fluida dengan dinding pipa. Ini dapat ditaksir
melalui persamaan dinding.
37
(ii) Perubahan dalam luas penampang aliran yang lazim disebut sudden
contraction dan sudden expanion pada double pipe atau karena
perubahan arah aliran mendadak pada shell and tube. Penyebab ini
kiranya merupakan kelipatandari head kecepatan atau K v
2
/2.g
c
.
Penurunan Tekanan Faktor Friksi
Persamaan fanning dapat dinyatakan sebagai berikut :
2
2
4. . .

2. . .
e
f G L
P pada double pipe
g D
A =
(1.10)
( )
16
min
/
f aliran la er
DG
=
(1.11)
( )
0,32
0,125
0, 00140
/
f aliran turbulen pada tube halus
DG
= +
(1.12)
( )
0,32
0, 264
0, 0035
/
f aliran turbulen pada tube kasar
DG
= +
(1.12a)
Faktor friksi pada persamaan (1.11) dan (1.12) dapat juga diperoleh melalui
Fig.3.11 Kern, hal. 53.
Namun demikian, rumus berikut adalah lebih praktis untuk dipergunakan dalam
menaksir penurunan tekanan pada aliran fluida pada bagian tube sebuah shell
and tube (P
t
).
( )
2
10
. . .
5, 22 10 . . .
t
t
i t
f G L n
P psi
x D s |
A =
(1.13)
dimana, f adalah factor friksi (Fig. 26 Kern); G
t
adalah laju aliran massa dalam
tube (lb/jam.ft
2
); L adalah panjang exchanger (ft); n adalah pass (banyaknya
lewatan pada bagian tube; D adalah diameter dalam tube (ft); spesifik gravity
dan
t
adalah factor koreksi viksositas (/
w
)
0,14
untuk aliran tube.
Persamaan (1.13) tentu saja dapat juga dipergunakanuntuk menaksir
penurunan tekanan pada double pipe exchanger asal saja dilakukan
penyesuaian seperlunya.
38
Perubahan arah memperkenalkan suatu pressure drop P
r
, disebut return loss
dan yang dibukukan dengan membiarkan four velocity heads per pass. Velocity
head V
2
/2g' telah di plotkan dalam Fig.27 Kern berlawanan terhadap mass
velocity untuk suatu cairan dengan specific gravity 1, dan return losses untuk
cairan manapun nantinya adalah,
2
4
2 '
r
n V
P psi
s g
A =
(1.14)
Total tube-side pressure drop P
T
nantinya adalah,
P
T
= P
t
+ P
r
(1.15)
Penurunan tekanan karena friksi pada bagian shell sebuah shell and tube (P
t
).
( )
( )
2
10
. . 1
5, 22 10 . . .
s
s
e s
f G N
P psi
x D s |
+
A =
(1.16)
dimana, G
s
adalah laju aliran massa pada bagian shell (lb.jam.ft
2
); (N + 1)
adalah banyaknya across = 12 L/B; De adalah diameter equivalen, yang
harganya dapat diambil dari Fig. 28 Kern.
SUHU
Suhu masuk dan keluar dari fluida dingin dan fluida panas biasanya telah
diketahui, atau dapat diukur atau dihitung dari persamaan neraca panas.
Suhu-suhu tersebut disebut suhu proses. Dalam catatan ini suhu masuk dan
suhu keluar fluida dingin diberi tanda sebagai t
1
dan t
2
sedangkan untuk fluida
panas dinyatakan dengan T
1
dan T
2
. Dengan mempergunakan alat
perpindahan panas tipe concentric (double pipe) penggambaran dari aliran dan
suhu diberikan dalam gambar 1.1 untuk counter flow dan gambar 1.2 untuk
paralel/cocurrent flow.
39
BEDA SUHU RATA-RATA LOGARITMA (LMTD)
Hubungan antara laju perpindahan panas q dengan koefisien
perpindahan panas U, luas perpindahan panas A
o
dan beda suhu t telah
dinyatakan oleh persamaan, q = U A
o
t. Karena harga t berbeda-beda
sepanjang L, maka harga rata-ratanya perlu dirumuskan. Dengan berbagai
anggapan dibawah ini dapat dibuktikan bahwa harga rata-rata t dalam
persamaan diatas tersebut adalah logarithmic mean temperature differencial
(LMTD. Anggapan-anggapan dimaksud adalah :
(i) U harganya konstan untuk seluruh panjang lewatan.
(ii) L-nya aliran fluida (W dan w) adalah konstan, memenuhi ketentuan
steady state.
(iii) Panas jenis (Cp dan cp) harganya konstan
(iv) Tidak terjadi perubahan fase parsial
Kalau terjadi penguapan atau kondensasi suhnya harus isotermal
sepanjang lewatan.
(v) Kehilangan panas diabaikan
Apabila kelima persyaratan diatas dapat dipenuhi, maka persamaan :
,
1 1 1
C i o o
U h h
= +
berubah menjadi :
2 1
2 1
ln /
t t
q UA
t t
| | A A
=
|
A A
\ .
(1.17)
40
2 1
2 1
ln /
t t
t LMTD
t t
| | A A
A = =
|
A A
\ .
(1.18)
Persamaan (1.17) dan (1.18) berlaku baik untuk counter flow maupun cocurernt
flow, yang berbeda adalah dalam arti t
1
dan t
2
seperti ditunjukkan pada
gambar 1.1 dan 1.2.
Counter flow
q = U
D
A
o
t = U
D
A
o
LMTD (1.19)
2 1
2 1
ln /
t t
t LMTD
t t
| | A A
A = =
|
A A
\ .
t
2
= T
1
t
2
t
1
= T
2
t
1
(1.20)
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( )
1 2 2 1
2 1
2 1 1 2 2 1
ln / ln /
T t T t
t t
t LMTD
t t T t T t

A A
A = = =
A A
(1.21)
Kalau t
1
> t
2
, maka :
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( )
2 1 1 2
1 2
1 2 2 1 1 2
ln / ln /
T t T t
t t
t LMTD
t t T t T t

A A
A = = =
A A
(1.22)
Cocurrent flow
q = U
D
A
o
t = U
D
A
o
LMTD (1.23)
2 1
2 1
ln /
t t
t LMTD
t t
| | A A
A = =
|
A A
\ .
t
2
= T
1
t
1
t
1
= T
2
t
2
(1.24)
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( )
1 2 2 1
2 1
2 1 1 1 2 2
ln / ln /
T t T t
t t
t LMTD
t t T t T t

A A
A = = =
A A
(1.25)
41
Contoh : Suatu fluida didinginkan dari 245
o
F menjadi 225
o
F dengan mempergunakan
fluida dingin dalam sebuah alat perpindahan panas konsentrik Tentukan t = LMTD
baik untuk (a) counter flow dan (b) cocurrent flow untuk setiap kondisi suatu fluida
pendingin berikut (t
1
= suhu masuk, t
2
= suhu kelaur).
(i) t
1
= 135
o
F, t
2
= 220
o
F
(ii) t
1
= 125
o
F, t
2
= 210
o
F
(iii) t
1
= 50
o
F, t
2
= 135
o
F
(iv) t
1
= 140
o
F, t
2
= 225
o
F
(v) t
1
= 150
o
F, t
2
= 235
o
F
Solusi :
Hanya beberapa saja yang ditunjukkan secara lengkap penyelesaiannya, tetapi
seluruh hasil perhitungan diberikan. Disamping itu perlu kiranya diperhatikan bahwa
harga LMTD adalah lebih kecil daripada harga rata-rata biasa.
Set 1 : T
1
= 245
o
F, T
2
= 225
o
, t
1
= 135
o
F, t
2
= 220
o
F
t
2
= t
1
t
2
= 245 220 = 25
o
F t
2
= T
1
t
1
= 245 135 = 25
o
F
t
1
= t
2
t
1
= 225 135 = 90
o
F t
2
= T
2
t
2
= 225 220 = 5
o
F
( ) ( )
( ) ( )
1 2 2 1
1 2 1 1
0 0

ln / ln /
90 25 90 25
50, 7 34
ln 90/ 25 ln 110/ 5
t t t t
LMTD LMTD
t t t t
F F
A A A A
= =
A A A A

= = = =
Set 2 : T
1
= 245
o
F, T
2
= 225
o
, t
1
= 125
o
F, t
2
= 210
o
F
Counter flow Cocrrent flow
t
2
= 245 210 = 35
o
F t
2
= 245 125 = 120
o
F
t
1
= 225 125 = 100
o
F t
1
= 225 210 = 15
o
F
( ) ( )
( ) ( )
1 2 2 1
1 2 1 1
0 0

ln / ln /
100 35 120 15
61, 9 50, 5
ln 100/ 35 ln 120/15
t t t t
LMTD LMTD
t t t t
F F
A A A A
= =
A A A A

= = = =
42
Set 3 : T
1
= 245
o
F, T
2
= 225
o
, t
1
= 50
o
F, t
2
= 135
o
F
Counter flow Cocurrent flow
t
2
= 245 135 = 110
o
F t
2
= 245 50 = 195
o
F
t
1
= 225 50 = 175
o
F t
1
= 225 135 = 90
o
F
( ) ( )
( ) ( )
1 2 2 1
1 2 1 1
0 0

ln / ln /
175 110 195 90
61, 9 135, 8
ln 175/110 ln 195/ 90
t t t t
LMTD LMTD
t t t t
F F
A A A A
= =
A A A A

= = = =
Set 4 : T
1
= 245
o
F, T
2
= 225
o
, t
1
= 140
o
F, t
2
= 220
o
F
(suhu keluar fluida panas = suhu keluar fluida dingin)
t
2
= 245 225 = 20
o
F t
2
= 245 140 = 105
o
F
t
1
= 225 140 = 85
o
F t
1
= 225 225 = 0
o
F
( ) ( )
( ) ( )
1 2 2 1
1 2 1 1
0 0

ln / ln /
85 20 105 0
46, 9 0
ln 85/ 20 ln 105/ 0
t t t t
LMTD LMTD
t t t t
F F
A A A A
= =
A A A A

= = = =
Set 5 : T
1
= 245
o
F, T
2
= 225
o
, t
1
= 150
o
F, t
2
= 235
o
F
t
2
= 245 235 = 10
o
F t
2
= 245 150 = 95
o
F
t
1
= 225 150 = 75
o
F t
1
= 225 235 = -10
o
F
( ) ( )
( )
( )
( )
1 2 2 1
1 2 1 1
0

ln / ln /
95 10
75 10
32, 3 ?
ln 75/10 ln 95/ 10
t t t t
LMTD LMTD
t t t t
F
A A A A
= =
A A A A

= = = =

43
SUHU FLUIDA KALOR K RATA-RATA
Pemakaian U
1
dan U
2
masih tidak memuaskan, karena diperlukan dua kali
perhitungan bentuk kedua koefisien film individual h
io
dan h
o
untuk
mendapatkan U
1
dan U
2
, untuk menyederhankannya disini dipergunakan cara
Calburn, yaitu dipilih koefisien gabungan singular, U
x
pada mana seluruh
permukaan dipandang sebagai memindahkan panas pada LMTD. Dengan
demikian U
x
didefinisikan sebagai :
( ) ( )
1 2 2 1 2 1
1 2 2 1 2 1
ln / ln /
x
U t U t t t q
U
A U t U t t t
A A A A
= =
A A A A
(1.26)
U
x
= a (1 + b t
c
) (1.27)
dimana, = a, b adalah konstanta luas untuk masing-masing fluida dan t
c
adalah
suhu pada terminal dingin.
Dengan memasukkan persamaan (1.27) ke dalam persamaan (1.26), diperoleh,
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( )
( )
1 2 2 1
1 2 2 1
2 1
2 1
' 1 ' ' 1 '
ln 1 ' / 1 '
' 1 '
ln /
x c
a b t t a b t t
b t t b t t
U a b t
t t
t t
+ A + A
+ A + A
= +
A A
A A
(1.28)
U
x
akan dapat diketahui dengan jelas menemukan t
c
, yaitu suhu yang
dipergunakan untuk menentukan sifat-sifat fluida yang akan dipakai untuk
menghitung h
i
dan h
o
dan kemudian U
x
.
Tetapkan, F
c
= (t
e
t
1
) / (t
2
t
1
) (1.29)
( )
2 1 2 1
1 1
1/ '
h c
c
c
U U t t U U
K
b t U U

= = =
+
(1.30)
1
2
c
h
t t
r
t t
A A
= =
A A
(1.31)
Dengan susbstitusi persamaan (1.29), (1.30) dan (1.31) ke dalam persamaan
(1.28) diperoleh hubungan berikut :
44
( )
( )
1/
1
ln 1
1
ln
c
c
c c
K
F
K K
r
+
=
+
+ (1.32)
Persamaan (1.32) telah di plot pada Fig. 17 Kern hal 827, dengan K
c
sebagai
parameter, dimana :
2 1
1
h c
c
c
U U U U
K
U U

= =
(1.33)
dimana, U
c
adalah koefisien (film) gabungan pada terminal dingin, dan U
h
adalah koefisien (film) gabungan pada terminal panas.
Apabila F
c
yang harganya pada umumnya paling besar 0,5 telah dapat
ditentukan, maka suhu-suhu kalorik dapat dihitung dari persamaan-persamaan
berikut :
Suhu kalorik fluida dingin, t
c
:
t
c
= t
1
+ F
c
(t
2
t
1
) (1.34)
suhu kalorik fluida panas, T
c
:
T
c
= T
2
+ F
c
(T
1
T
2
) (1.35)
Cara-cara pemakaian suhu kalorik.
(i) Pada umumnya F
c
yang diperlukan untuk penentuan t
c
dan T
c
dapat
diperoleh dari Fig. 17 Kern dengan jalan menentukan K
c
terlebih dahulu
t
c
/t
h
.
a. Untuk petroleum cut K
c
dapat di taksir dari Fig 17 Kern bagian atas
(insert) berdasarkan API gravity dan (T
1
T
2
) atau (t
2
t
1
).
b. Untuk fluida yang non petroleum cut K
c
ditaksir dari
K
e
= (U
h
U
c
)/U
c
, sedangkan U
h
dan U
c
masing-masing diperoleh
dari h
io
dan h
o
berdasarkan kondisi-kondisi suhu pada terminal panas
dan terminal dingin melalui persamaan U
c
= (h
io
.h
o
)/h
io
+ h
o
.
45
(ii) Apabila fluida panas dan fluida dingin keduanya adalah petroleum cut K
c
dapat ditaksir melalui salah satu cara :
a. K
c
untuk masing-masing aliran ditentukan dari Fig. 17 Kern insert,
dan K
c
yang hargnya lebih besar dipergunakan untuk menentukan
harga F
c
.
b. K
c
ditentukan dari Fig. 17 Kern insert, hanya untuk aliran dengan
viskositas yang lebih besar (pada terminal dingin), K
c
ini kemudian
dipergunakan untuk menentukan harga F
c
.
(iii) Untuk sistim diaman petroleum cut merupakan salah satu fluida, K
c
ditentukan dari Fig. 17 Kern insert berdasarkan pada API gravity dan
selisih suhu (T
1
T
2
) atau (t
2
t
1
) petroleum cut tersebut, karena fluidasi
tersebut dianggap yang mengontrol.
(iv) Apabila fluida-fluida yang ditangani itu keduanya tidak viskos, katakan
viskositas-viskositasnya tidak ada yang melebihi 1,0 cP, kalau range suhu
tidak melebihi 50 100
o
F dan apabila beda suhu adalah lebih dari 50
o
F,
maka dapat dipergunakan suhu rata-rata aritmatik biasa, untuk T
c
maupun
t
c
, yaitu :
T
c
= (T
1
+ T
2
)/2 dan t
c
= (t
1
= t
2
)/2
Disamping itu untuk fluida yang tidak viskos, faktor koreksi viskositas

w
= (/
w
)
0,14
dapat diambil sebagai 1,0.
SUHU DINDING PIPA
Apabila h
i
dan h
o
telah diketahui, maka suhu pada dinding pipa t
w
dapat
dihitung dari suhu kalorik. Untuk kasus panas mengalir ke dalam pipa (fluida
dingin dalam pipa). Biasanya beda suhu tembus dinding t
w
t
p
diabaikan dan
seluruh pipa berada pada suhu permukaan luar t
w
. Apabila suhu kalorik di luar
pipa adalah T
c
dan suhu kalorik di dalam pipa adalah t
c
, dan
1/R
io
= h
io
= h
i
(D
i
/D
o
), maka :
46
c c w c
o io io
T t t t
q
R R R

= =
+
(1.36)
Dengan mensubstitusikan h
o
dan h
io
untuk R
o
dan R
io
pada persamaan (1.36)
maka diperoleh :
1/ 1/ 1/
c c w c
o io io
T t t t
q
h h h

= =
+
(1.37)
Dan dapat ditemukan dengan penyederhanakan persamaan tersebut, dengan
hasil sebagai berikut :
Untuk fluida panas di luar pipa dan fluida dingin di dalam pipa :
( )
o
w c c c
o io
h
t t T t
h h
= +
+
(1.38)
( )
io
w c c c
o io
h
t T T t
h h
=
+
(1.39)
Untuk fluida panas dalam pipa dan fluida dingin di luar pipa
( )
io
w c c c
io o
h
t t T t
h h
= +
+
(1.40)
( )
io
w c c c
io o
h
t T T t
h h
=
+
(1.41)
Suhu dinding t
w
ini dipergunakan untuk menentukan viskositas fluida pada
suhu dinding
(/
w
) yang dipergunakan untuk menetapkan faktor koreksi

w
= (/
w
)
0,14
dimana adalah viskositas pada suhu kalorik.
47
II. DOUBLE PIPE HEAT EXCHANGER (DPHE)
Double Pipe Heat Exchanger (DPHE) adalah alat perpindahan panas
yang merupakan gabungan 2 buah pipa yang berdiameter berbeda dan
dipasang secara konsentris. DPHE ini biasanya digunakan apabila kebutuhan
luas pemanasan lebih kecil dari 120 ft
2
.
Double pipe exchanger pada dasarnya terdiri dari dua buah pipa
konsentrik, satu fluida mengalir lewat pipa dalam sedangkan fluida yang satu
lagi mengalir lewat annulus. Sketsa alat tersebut disajikan dibawah ini dengan
komponen-komponen utamanya : (1). Gland, (2). Tee, (3). Return head, (4).
Pipa dalam dan (5). Pipa luar.
Sistim seperti sketsa diatas, yaitu dengan 2 kaki, disebut 1 hairpin
panjang efektif exchanger tipe ini biasanya 12, 15 dan 20 ft dan karena itu
panjang 1 hairpin yang bersangkutan adalah masing-masing 24, 30 dan 40 ft.
Panjang 20 ft adalah ukuran maksimum untuk mencegah pembengkakan pipa
dalam yang berlebihan sehingga menyentuh pipa luar. Exchanger tipe ini
mudah dibuat dari bahan-bahan standar dan karenanya relatif murah.
Kerugiannya : Kecilnya luas permukaan per hairpin memerlukan banyaknya
hairpin dipasang seri. Ini menyebabkan kebutuhan akan
tempat/ruang yang besar, dan disamping itu dimungkinkan
terjadinya kebocoran pada sambungan-sambungan.

2.1 Bagian dari DPHE
Double Pipe Heat Exchanger (DPHE) terbagi dalam dua buah pipa yaitu,
2.1.1 Bagian pipa dalam yang dinamakan bagian pipa
2.1.2 Bagian pipa luar yang dinamakan bagian annulus
Gambar 2.2. Susunan Pipa pada DPHE
48
Pada DPHE dapat dihitung diameter equivalent dan luas aliran bahan pada
masing- masing fluida yang lewat pada pipa tersebut. Untuk menghitung
diameter equivalen dapat digunakan :
2
1
2
1
2
2
D
D - D
perimeter Wetted
area flow . 4
h r 4 De = = = ............(2.1)
( )
1 2
D - D
perimeter wetted fractional
area flow . 4
De = = .............(2.2)
dimana : D
1
= diameter bagian pipa dalam
D
2
= diameter bagian pipa luar
Biasanya ukuran pipa DPHE mempunyai standar tersendiri dan spesifikasi
seperti yang terlihat pada tabel 1.1 sehingga untuk menghitung flow area dan
diameter equivalen sudah ada dalam tabel tersebut.
Tabel 2.1 Ukuran, diameter equivalen dan flow area DPHE
Ukuran DPHE (in)
Flow area (in
2
) Annulus (in)
Annulus Pipa De De
2 x 1
2 x 1
3 x 2
4 x 3
1,19
2,63
2,93
3,14
1,50
1,50
3,35
7,38
0,915
2,02
1,57
1,14
0,40
0,81
0,69
0,53
* Sumber : Kern, Process Heat Transfer, tabel 6.2 hal. 110
Sedangkan untuk melihat dimensi atau data pipa dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2 Dimensi beberapa ukuran pipa, diambil dari Kern, tabel 11 hal 844
49
2.2 Pembagian DPHE menurut Alirannya
Dilihat dari arah fluidanya yang mengalir, maka pada Double Pipe Heat
Exchanger dapat dibagi mnejadi :
2.2.1 Aliran searah (Cocurrent)
Pada jenis ini baik fluida dingin maupun fluida panas mengalir searah
dan jenisnya bisa seri-seri maupun seri-paralel.
50
2.2.1a DPHE aliran searah jenis seri-seri
Pada DPHE ini baik fluida panas maupun fluida dingin mengalir searah
dan secara seri-seri seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 2.2. DPHE dengan aliran searah jenis seri-seri
2.2.1b DPHE aliran searah jenis seri-paralel
Pada DPHE ini baik fluida panas maupun fluida dingin mengalir
searah dan seri-seri. Pada bagian annulus atau pipa luar aliran fluida
mengalir tanpa diparalel, sedangkan pada bagian pipa atau pipa bagian
dalam fluida mengalir dengan terlebih dahulu diparalel. DPHE jenis ini
seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini, pada jenis ini fluida dingin
masuk ke dalam DPHE diparalel menjadi m
1
, t
1
dan m
2
, t
2
sedangkan fluida
panas masuk secara seri. Keluar dari DPHE menjadi m
1
, t
2
dan m
2
, t
2
. Ke
dua aliran kemudian akan bersatu menjadi m, t
2.
Gambar 2.3. DPHE dengan aliran seri-paralel
51
Dalam cara ini bagian dengan penggunaan pressure drop yang
melebihi batas diatur secara paralel, sedangkan bagian dengan pressure
drop rendah diatur dalam batas yang diizinkan. Apabila aliran paralle
tersebut membagi dua aliran semua pengaruhnya terhadap pressure drop
adalah besar sekali, yaitu pressude drop-nya menjadi 1/8 x presure
semula, hal ini disebabkan karena :
P G
2
L, dan jika G menjadi nya dan L nya juga separuhnya,
maka P baru = L
2
x 2 = 1/8 P lama.
Dapat diharapkan bahwa heat transfer coefficient pun akan turun
harganya dan juga akan terjadi penurunan LMTD, tetapi hasil akhirnya
menjadi lebih favoralble.
Beda suhu t yang sebenarnya dalam sistim seri-paralel. Penurunan
dapat dilihat pada Kern hal. 117 120, dan hasil akhir untuk perencanaan
adalah sebagai berikut :
(i) Satu series dari fluida panas dan n paralel fluida dingin
( )
( )
1/
1 2 2 1
2 1 1 1
1 1
1 ' ' ' 1 1 1
2, 3 log
' 1 ' ' '
' '
n
p nR R
R R p R
T T T t
R dan p
n t t T t
t T t

(
| | | |
= + (
| |

\ . ( \ .


= =

A =
(ii) Satu series fluida dingin dan n paralel fluida panas

( )
( )
( )
( )
1/
1 2
1 2
2 1 1 1
1 1
1 " 1
2, 3 log 1 " "
1 " "
" "
n
p n
R R
R p
T T n
T t
R dan p
t t T t
t T t

(
| |
= + (
|

( \ .


= =

A =
2.2.2 Aliran tidak searah (Countercurrent)
Pada jenis ini baik fluida dingin mengalir tidak searah dengan fluida
panas dan jenisnya bisa seri-seri maupun seri paralel.
2.2.2a DPHE aliran tidak searah jenis seri-seri
Pada DPHE ini baik fluida dingin mengalir tidak searah dengan fluida
panas dan secara seri-seri seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini,
52
Gambar 2.4. DPHE dengan aliran tidak searah
2.2.2b DPHE aliran tidak searah jenis seri-paralel
Pada DPHE ini baik fluida panas mengalir tidak searah dengan aliran
fluida dingin dan secara seri-paralel. Pada bagian annulus atau pipa luar
aliran fluida mengalir tanpa di paralel sedangkan pada bagian pipa atau pipa
bagian dalam fluida mengalir dengan terlebih dahulu diparalel. DPHE jenis
ini seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini, pada jenis ini fluida dingin
masuk ke dalam DPHE diparalel menjadi m
1
, t
1
dan m
2
, t
1
sedangkan fluida
panas masuk secara seri. Keluar dari DPHE menjadi m
1
, t
2
dan m
2
, t
2
. Ke
dua aliran kemudian akan bersatu lagi menjadi m, t
2
.
Gambar 2.5. DPHE dengan aliran seri-paralel
DPHE yang dimaksud dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
53
Gambar 2.6. DPHE jenis seri-seri dan seri-paralel
2.2.3 Urutan Perancangan DPHE
1. Material dan heat balance
Q = M . C
P
. AT = M . = m . cp . At
2. Menghitung AT (LMTD)
( )
2 1
2 1
LMTD
t / t ln
t - t
t
A A
A A
= A
3. Menghitung suhu caloric (Tc dan tc)
4. Trial ukuran dan panjang potongan pipa DPHE
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Annulus (..........................) Bagian Pipa (.............................)
5. Menghitung NRe
a
an
dapat dicari pada tabel 6.2 Kern
de dapat dicari pada tabel 6.2 Kern
dapat dicari pada gambar 14 Kern
an
an
a
M
G = atau
an
an
a
m
G =
2,42 .
de . G
N
an
R
e

=
6. Mencari faktor panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7. Mencari harga koefisien film PP, ho
14 , 0
3 / 1
H o
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


5. Menghitung NRe pipa
di dapat dicari pada tabel 11 Kern
ap dapat dicari pada tabel 6.2 Kern
dapat dicari pada gambar 14 Kern
p
p
a
M
G = atau
p
p
a
m
G =
2,42 .
di . G
N
p
R
e

=
6. Mencari faktor panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7. Mencari harga koefisien film PP, hi
14 , 0
3 / 1
H i
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


h
io
= h
i
(d
i
/ d
o
)
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
54
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
10. Mencari panjang ekonomis dengan mencari over
design yang terkecil dari panjang pipa standar.
L
pipa
(ft)
Hairpin
(buah)
Pembulatan
hairpin
L
baru
(ft)
A
baru
(ft
2
)
U
D baru
(Btu/jam. ft
2
.
o
F)
Rd
hitung
(jam.ft
2
.
o
F/Btu)
Rd over
design (%)
12
15
20
Evaluasi P
Bagian Annulus (...........................) Bagian Pipa (............................)
1. Menghitung Nre dan Friksi
2,42 .
G . de
Nre
an
an

=
( )
42 , 0
p
Nre
0,264
0,0035 f + =
2. Mencari AP karena panjang pipa
de . . g . 2
L . G . f . 4
P
2
2
an
l

= A
|
|
.
|

\
|
= A
g' . 2
v
n P
2
n
3. Mencari AP total pada pipa annulus
( )
144
P P P
l n an

A + A = A
1. Menghitung Nre
pipa
atau diambil dari
tahap 5.
2,42 .
G . di
Nre
p
p

=
( )
42 , 0
p
Nre
0,264
0,0035 f + =
2. Menghitung AP pipa
144

di . . g . 2
L . G . f . 4
P
2
2
t
p

= A
Untuk mempermudah menghitung harga hi maupun ho dapat dilakukan dengan
mengganti (/
w
)
0,14
pipa = u
i
dan (/
w
)
0,14
anulus = u
o
, dimana
w
adalah
viskositas fluida pada suhu t
w
atau suhu dinding yang harganya :
( )
( ) ( )
( )
C C
i io an o
an o
c w
t - T
/ h / h
/ h
t t
u + u
u
+ =
Contoh : 9820 lb/jam benzene harus di panaskan dari 80 sampai 120
o
F dengan mengambil
panas dari toluene yang karenanya adanya turun dari 160 ke 100
o
F. Spesific gravity pada 68
o
F
adalah 0,88 dan 0,87. Properti fluida yang lain dilihat pada appendix. Untuk tiap aliran
disediakan fouling facror 0,001 jam.ft
2
.
o
F/Btu, dan pressure drop yang bisa diijinkan pada
masing- masing aliran tidak melebihi dari 10 psi. Tersedia cukup banyak exchanger dengan
ukuran 2 x 1 in IPS 20 ft. Berapa banyak hairpin yang diperlukan?
Jawab :
1. Heat Balance :
t
av (Benzen)
= (80 + 120) / 2 = 100
o
F c = 0,425 Btu/(lb)(
o
F) (fig. 2 Kern)
55
Q = 9820 x 0,425 (120 80)
= 167.000 Btu/jam
T
av (Toluene)
= (160 + 100) / 2 = 130
o
F c = 0,44 Btu/(lb)(
o
F) (fig. 2 Kern)
W = 167.000/0,44(160 100)
= 6330 lb/jam
2. Penentuan LMTD
Fluida Panas Fluida dingin Beda At
160 Suhu tinggi 120 40 At
2
100 Suhu rendah 80 20 At
1
Beda 20 At
2
- At
1
( ) ( )
F 28,8
40/20 ln
20
t / t ln
t - t
LMTD
o
1 2
1 2
= =
A A
A A
=
3. Temperatur kaloric : Di cek kedua arusnya akan menunjukkan bahwa adalah tidak
viscos pada terminal yang dingin (yang viskositas kurang dari 1 cp) dan perbedaan
temperatur dan range temperatur adalah moderat. Maka koefisien boleh dievaluasi
dari properti pada nilai perhitungan, dan nilai ((/(w)0,14 mungkin diasumsikan sama
dengan 1,0.
Tav = (160 + 100) = 130oF tav = (120 + 80) = 100oF
Berproses sekarang pada pipa bagian dalam. Di cek pada tabel 6.2 menunjukkan
bahwa area arus dari pipa bagian dalam adalah lebih besar dari anulus.
Menempatkan arus yang lebih besar, benzen didalam pipa bagian dalam.
Evaluasi Perpindahan Panas
Fluida Panas : Annulus, Toluen Fluida Dingin : Pipa, Benzen
4. Menentukan Bilangan Reynold
D2 = 2,067/12 = 0,1725 ft
D
1
= 1,66 / 12 = 0,138 ft
a
an
= t (D
2
2
D
1
2
) / 4
= t (0,1725
2
0,138
2
) / 4 = 0,00826 ft
2
De = (D
2
2
D
1
2
) / D
1
= (0,1725
2
0,138
2
) / 0,138 = 0,0762
ft
Mass Velocity,
G
an
= M / a
an
= 6330 / 0,00826 = 767.000 lb/jam.ft
2
Pada 130
o
F, = 0,41 (Fig. 14 Kern)
= 0,99 lb/jam.ft
k = 0,085 Btu/jam.ft
2
.
o
F (Tabel 4 Kern)
Nre = (De . G
an
) /
= (0,0762 x 767000) / 0,99 = 59.000
5. Mencari Koefisien Film Perpindahan Panas,
ho.
J
H
= 167 (Fig. 24 Kern)
323
085 , 0
0,99 . 44 , 0
0,0762
0,085
167
k
. cp
De
k
J h
3 / 1
14 , 0
3 / 1
H o
= |
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


4. Menentukan Nre pada pipa
D = 1,38/12 = 0,155ft
a
p
= t D
2
/4 = t (0,155)
2
/4 = 0,0104
ft
2
Mass Velocity,
G
p
= M/a
p
= 9820/0,0104
= 943000 lb/jam ft
2
Pada 100
o
F, = 0,50 (Fig. 14 Kern)
= 1,21 lb/jam.ft
k = 0,085 Btu/jam.ft
2
.
o
F (Tabel 4 Kern)
Nre = (D . G
p
) /
= (0,115 x 943000)/1,21 =
89500
5. Mencari koefisien perpindahan panas,
hi.
J
H
= 236 (Fig. 24 Kern)
F . Btu/jam.ft 333
091 , 0
1,21 . 425 , 0
0,115
0,091
236
k
. cp
de
k
J h
2
3 / 1
14 , 0
3 / 1
H i
o
w
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=


h
io
= h
i
(ID/OD)
= 333 (1,38/1,66) = 276
56
Btu/jam.ft
2
.
o
F
6. Clean Overall Coeficient, U
C
F . Btu/jam.ft 149
323 276
323 . 276
h h
h . h
U
o 2
o io
o io
C
=
+
=
+
=
7. Design Overall Coeficient, U
D
Rd
U
1
U
1
C D
+ =
Rd = 0,002 Jam.ft
2
.
o
F/Btu
2
D
D
1 1
0,002 U 115 Btu/jam.ft . F
U 149
o
= + =
8. Luas permukaan yang diperlukan
Q = U
D
. A . At
2
o o 2
D
ft 50,5
F 28,8 x F . Btu/jam.ft 115
Btu/jam 167000
t . U
Q
A = =
A
=
dari tabel 11 Kern untuk 1 in IPS pipa standar adalah 0,435 ft
2
pada permukaan
luar per panjang pipa.
Panjang yang dibutuhkan = 50,5 / 0,435 = 116 ft
9. Permukaan yang disediakan sesungguhnya adalah 120 x 0,435 = 52,2 ft
2
, maka
faktor pengotor adalah akan lebih besar dibanding diperlukan. Desain koefisien yang
nyata adalah
F . Btu/jam.ft 111
28,8 x 52,2
167000
U
2
D
o
= =
F/Btu . jam.ft 0,0023
111 . 149
111 - 149
U . U
U - U
Rd
2
D C
D C o
= = =
Evaluasi Pressure Drop
Fluida Panas : Annulus, Toluen Fluida Dingin : Pipa, Benzen
2. Menentukan Nre dan friksi
De untuk pressure drop berbeda dari De
untuk perpindahan panas
D
e
= (D
2
D
1
) (pers. 6.4 Kern)
= (0,1725 0,138) = 0,0345 ft
Nre = (De . G
an
) /
= (0,0345 x 767000)/0,99 = 26.800
0,0071
26800
0,264
0,0035
Nre
0,264
0,0035 f
0,42
0,42
= + =
+ =
s = 0,87, = 62,5 x 0,87 = 54,3 (tabel 6)
3. Menentukan AP karena panjang pipa
( )( ) ( )
( )( )( )
23,5
0345 , 0 3 , 54 x10 4,18 2
120 767000 0,0071 4

de . . g . 2
L . G . f . 4
P
8
2
2
2
an
l
= =
= A

ft/s 3,92
54,3 x 3600
767000
3600
G
V = = =

1. Menentukan Nre pada pipa


Untuk Nre = 89500 didapat :
( )
0,0057
89500
0,264
0,0035
Nre
0,264
0,0035 f
0,42
42 , 0
p
= + =
+ =
s = 0,88, = 62,5 x 0,88
= 55,0 (tabel 6)
2. Menghitung AP pipa
( )( ) ( )
( )( ) ( )
psi 3,2
144
55,0
8,3
115 , 0 0 , 55 10 x 4,18 2
120 943000 0,0057 4


di . . g . 2
L . G . f . 4
P
2 8
2
2
2
t
p
= =
=
= A

57
ft 0,7
32,2 . 2
3,92
3
g' . 2
v
n P
2 2
n
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
= A
( )
( ) psi 9,2
144
3 , 54
0,7 23,5
144
P P P
l n an
= + =
A + A = A

2.3 DPHE Seri Paralel
2.3.1 Fluida dingin di paralel
At = (T
1
t
1
)
dimana untuk mencari harga :
( )
(
(

+
|
.
|

\
|
=
R'
1
P'
1
R'
1 - R'
log
1 - R'
R' . p
2,3
P' - 1
P / 1

( )
1 2
2 1
t - t p
T - T
R' = dan
1 1
1 2
t - T
t - T
P' =
2.3.2 Fluida panas di paralel
At = (T
1
t
1
)
dimana untuk mencari harga :
( )
(
(

+
|
.
|

\
|
= R"
P"
1
R" - 1 log
R" - 1
p
2,3
P" - 1
P / 1

( )
1 2
2 1
t - t
) T - p(T
R" = dan
1 1
2 1
t - T
t - T
P" =
2.4 Urutan Perancangan DPHE
Dalam perancangan DPHE secara seri-paralel yang perlu dirancang
adalah panjang pipa yang nantinya akan dirobah menjadi jumlah hairpin sesuai
dengan potongan pipa yang digunakan. Namun banyaknya hairpin harus sesuai
dengan jumlah paralel yang dirancang. Urutan perancangan tersebut terlihat
pada bagian berikut.
58
Urutan Perancangan DPHE
1. Material dan heat balance
Q = M . C
P
. AT = M . = m . cp . At
2. Menghitung AT (LMTD)
Dicoba fluida panas atau dingin jumlah paralel pipanya (p)
At = (T
1
t
1
)
dimana sesuai dengan fluida yang diparalel
3. Menghitung suhu caloric (Tc dan tc)
4. Trial ukuran dan panjang potongan pipa DPHE
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Annulus (..........................) Bagian Pipa (.............................)
5. Menghitung NRe
a
an
dapat dicari pada tabel 6.2 Kern
de dapat dicari pada tabel 6.2 Kern
dapat dicari pada gambar 14 Kern
an
an
a
M
G = atau
an
an
a
m
G =
2,42 .
de . G
N
an
R
e

=
6. Mencari faktor panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7. Mencari harga koefisien film PP, ho
14 , 0
3 / 1
H o
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


5. Menghitung
NRe pipa
di dapat dicari pada tabel 11 Kern
ap dapat dicari pada tabel 6.2 Kern
dapat dicari pada gambar 14 Kern
p
p
a
M/p
G = atau
p
p
a
m/p
G =
2,42 .
di . G
N
p
R
e

=
6. Mencari
faktor panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7. Mencari
harga koefisien film PP, hi
14 , 0
3 / 1
H i
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


h
io
= h
i
(d
i
/ d
o
)
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
10. Mencari panjang ekonomis dengan mencari over
design yang terkecil dari panjang pipa standar.
L
pipa
(ft)
Hairpin
(buah)
Pembulatan
hairpin
L
baru
(ft)
A
baru
(ft
2
)
U
D baru
(Btu/jam. ft
2
.
o
F)
Rd
hitung
(jam.ft
2
.
o
F/Btu)
Rd over
design (%)
12
59
15
20
Evaluasi P
Bagian Annulus (...........................) Bagian Pipa (............................)
1. Menghitung Nre dan Friksi
2,42 .
G . de'
Nre
an
an

=
( )
42 , 0
p
Nre
0,264
0,0035 f + =
2. Mencari AP karena panjang pipa
de . . g . 2
L . G . f . 4
P
2
2
an
l

= A
|
.
|

\
|
= A
g' . 2
v
n P
2
n
3. Mencari AP total pada pipa annulus
( )
144
P P P
l n an

A + A = A
1. Menghitung Nre pipa atau diambil dari
tahap 5.
2,42 .
G . di
Nre
p
p

=
( )
42 , 0
p
Nre
0,264
0,0035 f + =
2. Menghitung AP pipa
144

di . . g . 2
(L/p) . G . f . 4
P
2
2
t
p

= A
Untuk mempermudah menghitung harga hi maupun ho dapat dilakukan dengan
mengganti (/
w
)
0,14
pipa = u
i
dan (/
w
)
0,14
anulus = u
o
, dimana
w
adalah
viskositas fluida pada suhu t
w
atau suhu dinding yang harganya :
( )
( ) ( )
( )
C C
i io an o
an o
c w
t - T
/ h / h
/ h
t t
u + u
u
+ =
Contoh : Gasolin (57
o
API) akan dipanaskan dari 220
o
F menjadi 230
o
F menggunakan Gas Oil
(26
o
API) dengan rate 13000 lb/jam didalam suatu DPHE dengan ukuran 3 x 2 in sch 40 dengan
potongan pipa 20 ft, sehingga suhunya turun dari 450
o
C menjadi 350
o
F. Jika faktor pengotor
gabungan minimal 0,004 jam.ft
2
.
o
F/Btu dan pressure drop masing-masing aliran maksimal
sebesar 10 psi. Rancang dan gambarlah DPHE tersebut .
Jawab :
1. Heat Balance :
Q = M . Cp . AT = m . cp . At
= 13000 . 0,62 (450 350) = m . 0,584 (230 220)
= 806.000 Btu/jam; m = 138.014 lb/jam
2. Menghitung AT
Dari rate dan flow area pipa maka fluida dingin akan diletakan pada bagian pipa dan
fluida panas dalam annulus.
60
Dicoba fluida dingin diparalel sebanyak 2 buah, maka :
( ) ( )
( )
0,565
220 - 450
220 - 350
t - T
t - T
P'
5
220 - 230 2
350 - 450
) t - (t p
T - T
R'
1 1
1 2
1 2
2 1
= = =
= = =
( )
0,7428 ;
P'
1
R'
1 - R'
log
1 - R'
nR'
2,3
P' - 1
= |
.
|

\
|
=

T = (T
1
t
1
) = 0,7428 (450 220) = 170,844
o
F
3. Menghitung Suhu Kaloric (T
C
dan t
C
)
T
C
= T
2
+ Fc (T
1
T
2
)
Dari gambar 17 Kern halaman 827, K
C
pada fluida panas = 0,44 dan fluida dingin <
0,1, sehingga diambil K
C
= 0,44. Dari harga t
C
/th = 0,59 didapatkan Fc = 0,425,
sehingga :
T
C
= T
2
+ Fc (T
1
T
2
) = 350 + 0,425 (450 350) = 392,5
o
F
t
C
= t
1
+ Fc (t
2
t
1
) = 220 + 0,425 (230 220) = 224,25
o
F
Evaluasi Perpindahan Panas
Fluida Panas : Annulus, Gas Oil Fluida Dingin : Pipa, Gasoline
4. Menentukan Bilangan Reynold
Mass Velocity,
G
an
= M / a
an
= 13000/(2,93/144) = 631067,9 lb/jam.ft
2
( )( )
10345,376
2,42 . 3525 , 3
9 , 631067 1,57/12
2,42 .
G . de
Nre
an
=
= =

5. Mencari Koefisien Film Perpan, ho.


J
H
= 38
F . Btu/jam.ft 80,923
0675 , 0
2,42 . 8,113 . 65 , 0
1,57/12
0,0675
38
k
. cp
De
k
J
h
2
3 / 1
14 , 0
3 / 1
H
an
o
o
w
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
u

( )
( ) ( )
( )
( )
( ) ( )
(
F 237,8
224,25 - 5 , 392
80,923 833 , 920
80,923
224,25
t - T
/ h / h
/ h
t t
o
C C
i io an o
an o
c w
=
+
+ =
u + u
u
+ =
68,865
25,7
8,113
80,923
h
h
14 , 0 14 , 0
an
o
o
=
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
u
=
w

4. Dicoba paralel sebanyak 2 buah


Mass Velocity,

( ) ( )
( )
2
p
p
ft lb/jam 9 2961673,81
144 / 35 , 3
2 / 138014
a
m/p
G
=
= =
( )( )
780986,22
2,42 . 27 , 0
819 , 2961673 2,067/12
2,42 .
G . di
Nre
p
=
= =

5. Mencari koefisien perpan, hi.


J
H
= 1300
F . Btu/jam.ft 1058,183
085 , 0
2,42 . 0,27 . 584 , 0
2,067/12
0,085
1300
k
. cp
de
k
J
h
2
3 / 1
14 , 0
3 / 1
H
p
i
o
w
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
u

F . Btu/jam.ft 920,833
0,198
0,1723
1058,183
do
di h h
o 2
p
i
p
io
=
|
.
|

\
|
= |
.
|

\
|
u
=
u
F . Btu/jam.ft 925,437
0,6292
0,6534
920,833
h
h
o 2
14 , 0 14 , 0
p
i
o
=
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
u
=
w

6. Mencari tahanan panas pipa bersih, U


C
F . Btu/jam.ft 64,095
68,865 925,437
68,865 . 925,437
h h
h . h
U
o 2
o io
o io
C
=
+
=
+
=
7. Mencari tahanan panas pipa terpakai (Design Overall Coeficient, U
D
)
61
F . Btu/jam.ft 51,016 U ,
U 095 , 64
U - 64,095
0,004
U . U
U - U
R
2
D
D
D
D C
D C
d
o
=
+
=
=
Q = U
D
. A . T, A = 92,48 ft
2
, L = 92.48/0,522 = 148,68 ft
Jumlah hairpin = 148,68 / (2 x 20) buah = 3,717 4 buah atau panjang pipa menjadi 160
ft. Hasil ini dicek kembali harga Rd yang didapatkan :
Rd = (160/148,68) x 0,004
= 0,0055 Jam.ft
2
.
o
F/Btu (Over design)

Evaluasi Pressure Drop
Fluida Panas : Annulus, Toluen Fluida Dingin : Pipa, Benzen
1. Menentukan Nre dan friksi
De untuk pressure drop berbeda dari De
untuk perpindahan panas
D
e
= (D
2
D
1
) (pers. 6.4 Kern)

Nre = (De . G
an
) / = 4511,517
0,0112
4511,517
0,264
0,0035
Nre
0,264
0,0035 f
0,42
0,42
= + =
+ =
s = 0,77, = 62,5 x 0,77 = 48,125 (tabel 6)
2. Menentukan AP karena panjang pipa
psi 11,03
de . . g . 2
L . G . f . 4
P
2
2
an
l
= = A

ft 0,36
144 g' . 2
v
n P
2
n
=
|
|
.
|

\
|
= A

( )

psi 11,39 P P P
l n an
= A + A = A
1. Menentukan Nre pada pipa
Untuk Nre = 780986,22 didapat :
( )
0,0044
780986,22
0,264
0,0035
Nre
0,264
0,0035 f
0,42
42 , 0
p
= + =
+ =
s = 0,675, = 62,5 x 0,675 = 42,19
2. Menghitung AP pipa
psi 14,1
144 di . . g . 2
L . G . f . 4
P
2
2
t
p
= = A

Dilihat dari pressure drop di bagian pipa maupun annulus melebihi ketetapan, sehingga perlu
dicoba dengan jumlah parallel atau kalau jumlah parallel tetap maka ukuran pipa perlu dicoba
yang baru misalnya 4 x 3 in sch 40.
62
III. SHEEL AND TUBE EXCANGERS
3.1 Shell and Tube Exchangers
HE type Shell and Tube adalah alat pemindah panas yang terdiri dari
bagian shell yang didalamnya berisi bagian tube yang jumlahnya banyak. Heat
Exchanger ini digunakan apabila luas perpindahan panasnya > 120 ft
2
. Untuk
menyatakan type shell and tube dinyatakan dengan penulisan :
Contoh : 1 2 exchanger artinya : 1 lewatan pada bagian shell
2 lewatan maksimum pada bagian tube
Gambar sketnya :
semakin besar jumlah lewatan sheel semakin banyak panas yang diserap tetapi
semakin sulit perawatannya. Biasanya untuk menghindari hal tersebut
dilakukan dengan pemasangan secara seri, misalnya :
2 4 exchanger bisa dipasang menjadi 2 buah 1 2 exchanger
3 6 exchanger bisa dipasang menjadi 3 buah 1 2 exchanger
Exchanger tipe banyak dipergunakan dalam industri proses, karena
konstruksi kompakdan dapat meyediakan perpindahan panas yang besar. Alat
ini terdiri dari sebuah shell yang didalamnya berisi banyak tube yang sumbunya
sejajar dengan sumbu shell. Turbulensi pada bagian tube dapat ditingkatkan
dengan mengatur banyak pass (n), sedngkan utrbulensi pada bagian shell
diatur dengan pemasangan sejumlah baffle tegak.
Dari sejumlah variasi sheel and tube, tiga contoh utama adalah :
(i) Fixed Tube Plate Exchanger
Jenis ini lebih murah karena konstruksi sederhana, tetapi pembersihan
secara mekanis dari tube bagian luar tidak dapat dilakukan dan
karenanya dipergunakan untuk fluida lewat shell yang bersih.
63
(ii) U-Tube Exchanger
Juga konstruksinya sederhana dan memungkinkan terjadinya
perbedaan dalam pemuaian antara tube dan shell. Pembersihan
permukaan luar dapat dilakukan dengan membuat bagian shell, tetapi
pembersihan bagian dalam tube sulit dilakukan karena bentuk U dan
terbatas penggunaan untuk fluida yang melalui tube yang relatif bersih
(iii) Floating Head Exchanger
Memberikan kesempatan terjadinya perbedaan pemuaian antara tube
dan shell, disamping pembersihan pada bagian dalam maupun bagian
tube, tetapi konstruksi relative mahal. Oleh karena itu tipe ini banyak
dipergunakan dalam industry proses dan industry minyak (petroleum).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam exchanger type shell and tube
adalah :
1. T = Ft . T
LM
, dimana Ft adalah faktor koreksi suhu, dengan terlebih
dahulu mencari harga R dan S pada Fig. 18 23 Kern. Pada pencarian
harga Ft harus berurutan sekaligus mendapatkan type exchanger. Untuk
menentukan type HE :
a. Type HE 1 2 harga Ft > 0,75
b. Type HE 2 4 dan seterusnya harga Ft > 0,9
Apabila penggunaan Fig. 18 23 Kern kurang meyakingkan, maka F
T
sebaiknya dihitung menggunakan persamaan (7.41) Kern hal. 144 untuk
HE 1-2, sedangkan untuk HE 2-4, 3-8 dan seterusnya perhitungan untuk
F
T
dilakukan menggunakan persamaan (8.5) hal. 177 Kern.
2. Pada Shell and Tube potongan pipa yang digunakan biasanya berukuran
12, 16 dan 20 dan spesifikasinya dinyatakan dengan BWG. Sebagai
contoh :
pipa OD. 16 BWG.
Data-data pipa tersebut dapat dilihat pada tabel 10 Kern. Jumlah pipa di
dalam suatu shell and tube merupakan jumlah yang standar dan dapat
dilihat pada tabel 9 Kern. Didalam tabel tersebut didapatkan jumlah pipa
juga didapatkan jumlah passes tube dan inside diameter shell.
64
Susunan pipa di dalam shell dalam bentuk :
Selain C adan PT pada susunan tube tersebut dapat dicari harga de
(diameter equivalen) seperti yang terlihat pada tabel dan gambar 28 Kern.
3. Pada bagian sheel aliran dapat diperlamadengan cara penambahan
Baffle (sekat).
jarak antara baffle ditetapkan :
a. (1/5 sampai 1) x ID
S
untuk fluida berupa liquida
b. mendekati 1 x ID
S
untuk fluida berupa gas
Yang terpenting adalah jumlah cross (N + 1) yang harganya : (12 x L)/B
tidak boleh merupakan bilangan pecahan tetapi bilangan bulat.
Koefisien perpindahan panas bagian tube h
i
berbanding langsung dengan
banyaknya lewatan (n) dengan pangkat 0,8 atau h
i
x n
0,8
, tetapi penurunan
tekanannya berbanding dengan banyaknya lewatan pangkat 3 atau Pt x n
3
, ini
berarti apabila banyak lewatan dirubah dari 2 menjadi 8, maka secara kualitatif :

0,8
,8
,2
8
3
2
i
i
h
h
| |
= =
|
\ .
Sedangkan perubahan tekanan P adalah (secara kualitatif) :
3
,8
,2
8
64
2
t
t
P
P
| |
= =
|
\ .
Jarak antara baffle tegak B mempunyai pengaruh baik terhadap koefisien
perpindahn h
o
maupun penurunan tekanan P
s
pada bagian shell. Makin besar
harga B, maka makin kecil h
o
maupun P
s
. Secara kualitatif perubahan h
o
dan
65
P
s
berbanding terbalik dengan B perpangkat 3. Contohnya B dirubah dai
ukuran maksimum (= 1 ID shell) menjadi ukuran minimum (= 0,2 ID shell) maka
perubahan dalam h
o
dan P
s
adalah :
0,55
, min
, max
3
, min 3
, max
1
2, 42
0, 2
1
5 125
0, 2
i B
i B
s B
s B
h
h
P
ID
P ID
| |
= =
|
\ .
| |
= = =
|
\ .
3.2 Urutan Perancangan Shell and Tube
Dalam perancangan SHELL and TUBE yang perlu dirancang adalah luas
permukaan perpindahan panas yang nantinya akan dirobah menjadi jumlah
pipa sesuai dengan potongan pipa yang digunakan. Namun banyaknya pipa
harus sesuai dengan jumlah pipa yang satandar. Urutan perancangan tersebut
terlihat pada bagan berikut.
Urutan Perancangan Shell and Tube
1. Material and Heat balance
Q = M . C
P
. AT = M . = m . cp . At
2. Menghitung AT
LMTD
( )
2 1
2 1
LMTD
t / t ln
t - t
t
A A
A A
= A ; AT = Ft . AT
LM
3. Menghitung Suhu Caloric (Tc dan tc)
Tc = T
2
+ Fc (T
1
T
2
)
tc = t
1
+ Fc (t
2
t
1
)
4. Mencari ID
S
dan jumlah pipa dimulai dengan trial U
D
t . U
Q
A
D
A
= dan
L . a"
A
Nt =
Nt distandarkan dan ID
S
didapatkan dari tabel 9 Kern. Dan U
D
dikoreksi dengan menggunakan persamaan :
trial D
standar
(koreksi) D
U .
Nt
Nt
U =
kesimpulan sementara hasil perancangan
66
Type HE
Bagian Shell Bagian Tube
Id
S
= do = BWG l = Nt = n =
n = susunan P
T
= de =
B = a = a = di =
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (........................) Bagian Tube (............................)
5. Menghitung Nre
144 . P . n
B . C' . ID
a
T
S
S
=
de dicari pada gambar 28 Kern
dicari pada gambar 14 Kern
S
S
a
M
G = atau
S
S
a
m
G =
2,42 .
de . G
Nre
S
S

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 28 Kern
7. Menghitung Koefisien Film PP, ho
14 , 0
3 / 1
H O
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


5. Menghitung Nre pipa
144 . n
a' . Nt
a
P
=
dicari pada gambar 14 Kern
P
P
a
m
G = atau
P
P
a
M
G =
2,42 .
di . G
Nre
P
P

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7.Menghitung Koefisien Film PP, hi
14 , 0
3 / 1
H i
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


|
.
|

\
|
=
do
di
h h
i io
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
Diharapkan : Rd
hitung
> Rd
ketentuan
Evaluasi P
Bagian Shell (......................) Bagian Tube (........................)
1. Menghitung Nre dan Friksi
2,42 .
G . de
Nre
S
S

=
f dicari pada gambar 29 Kern
2. Menghitung AP
S
hanya karena
panjang shell.
1. Menghitung Nre pipa
2,42 .
G . di
Nre
P
P

=
f dicari pada gambar 26 Kern
2. Menghitung AP karena panjang pipa
67
( )
S
10
S
2
S
S
. S . de . 10 x 22 , 5
1 N ID . G . f
P
u
+
= A
P
10
2
P
P
. S . di . 10 x 22 , 5
n . L . G . f
P
u
= A
3. Menghitung AP karena tube passes
144 gc . 2
v
s
n 4
P
2
n

|
|
.
|

\
|
= A
4. Mencari AP total pada bagian tube
AP
T
= AP
P
+ AP
n
Catatan : AP masing masing aliran < AP ketetapan
Contoh :
data data :
1. tube yang digunakan berukuran : 1OD 14 BWG panjang 16 ft.
2. susunan pipa segi tiga dengan Pitch : 1 .
3. p masing-masing aliran maksimal 10 psi
4. faktor pengotor gabungan minimal 0,004 jam.ft
2
.
o
F/Btu
Jawab :
1. Material dan heat balance
Q = M . Cp . T = m . cp . t = 30.000 (0.57) (300 100)
= m . 1 . (120 86)
Q = 3.420.000 Btu/jam; m = 100.5888 lb/jam
2. Menghitung T (LMTD)
1 2
1
2
180 14
65
180
ln ln
14
o
LM
t t
t F
t
t
A A
A = = =
A
A
1 2 2 1
2 1 1 1
300 100 120 56
5,88; 0,16
120 86 300 86
T t t t
R S
t t T t

= = = = = =

dari gambar 18 Kern halaman 828, tidak didapatkan harga F
t
yang cocok dan dari
gambar 19 halaman 829 didapatkan F
t
= 0,94 > 0,9 sehingga type HE 2 4.
Jadi, T = F
t
. T
LM
= 0,94 (65) = 61,1
o
F
3. Menghitung suhu caloric (T
c
dan t
c
)
T
c
= T
2
+ F
c
(T
1
T
2
)
t
c
= t
1
+ F
c
(t
2
t
1
)
dari gambar 17 halaman 827 Kern didapatkan, K
c
= 0,11 dan dengan demikian
didapat ( t
c
/ t
h
) = 0,078 di dapatkan harga F
c
= 0,3 sehingga; T
c
= 100 + 0,3
(300 100) = 160
o
F
4. Trial U
D
= 120 Btu/jam.ft
2
.
o
F (table 8 Kern ; Light organic - cair)
2
2
3.420.000 /
466
120 / . . (61,1 )
o o
D
Q Btu jam
A ft
U t Btu jam ft F F
= = =
A
466
111
" 0,1963(20)
A
Nt buah
a L
= = =
Nt distandarkan dan IDs didapatkan dari table 9 Kern :
68
IDs = 17 in; n = 4; Nt = 106
U
D
terkoreksi,
2

tan
111
(120) 126 / . .
106
o
D terkoreksi D trial
s dar
Nt
U xU Btu jam ft F
Nt
= = =
Kesimpulam sementara :
Type HE : 2 4
Bagian Shell Bagian Tube
IDs = 17 in do = 1 in 14 BWG, l =16 ft, Nt = 106, n = 4
n = 2 susunan segitiga, P
T
= 1,25 in; de = 0,72 in
B = 4 in a = 0,596 in
2
; a = 0,1963 ft
2
/ft; di = 0,834
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (..) Bagian Tube (.)
5. Menghitung Nre
. '. 17, 25(0, 25)4
0, 045
'. .144 (2)(1)144
s
s
T
ID C B
a
n P
= = =
2
30.000
666, 6660 / .
0, 045
s
s
M
G lb jam ft
a
= = =
( ) 666, 666 0, 72/12 .
44672
.2, 42 0, 37(2, 42)
s e
G d
Nre

= = =
6. J
H
dicari pada gambar 28 Kern
J
H
= 130
7. Menghitung harga koefisien PP, hi
0,14
1/ 3
1/ 3
.
.
o H
w
o
H
s
k cp
h J
de k
h k cp
J
de k

| |
| || |
=
| | |
\ .\ .
\ .
| || |
=
| |
\ .\ .
dari gambar 16 Kern didapat harga :
.
0,155
cp
k
k
| |
=
|
\ .
sehingga,
( )
0,155
130 336
0, 71/12
o
s
h

| |
= =
|
|
\ .
( )
/
114
/
o o s
w c c c
io o s
h
t t T t F
h h

= + =
+
sehingga
s
= (/
w
)
0,14
= 0,97 atau
h
o
= 336 (0,97) = 326 Btu/jam.ft
2
.
o
F
5. Menghitung Nre pipa
2
. ' 106(0, 596)
0,105
.144 (4)144
p
Nt a
a ft
n
= = =
2
100.588
958000 / .
0,105
t
t
M
G lb jam ft
a
= = =
( ) 958000 0, 834/12 .
36680
.2, 42 0, 75(2, 42)
t i
G d
Nre

= = =
6.
7. Karena fluidanya air, maka
958000
4, 26 /
3600 3600(62, 5)
t
G
v ft s

= = =
dari gambar 25 Kern, didapat :
h
i
= 1100 (0,94) = 1034 Btu/jam.ft
2
.
o
F
2
0,834
1034
1
862 / . .
i
io i
o
o
d
h h
d
Btu jam ft F
| |
| |
= =
| |
\ .
\ .
=
5. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
c
)
2
326(862) .
237 / . .
326 862
o i io
c
i io
h h
U Btu jam ft F
h h
= = =
+ +
6. Mencari dirt faktor (faktor pengotor) pipa terpakai
2
237 126
0, 0037 . . /
. 237(126)
o c D
d
c D
U U
R jam ft F Btu
U U

= = =
Ternyata : R
d
hitung < R
d
tetapan, jadi HE rancangannya kurang memenuhi
Evaluasi p
Bagian Shell (................) Bagian Tube (................)
69
1. Menghitung Nre dan friksi
.
44672
.2, 42
an
de G
Nre

= =
f = 0,0016 (gambar 29 Kern)
2. Menghitung harga (N+1)
(N+1) = (12 x l)/B = (12 x 16)/4 = 48,
karena passes, maka :
(N+1) = 2 x 48 = 96
dari hal. 809 Kern di dapatkan harga s =
0,71
Menghitung hanya karena panjang shell,
( )
( )( ) ( )( )
( )( )( ) ( )
2
10
2
10
. . . 1
(5, 22 10 ). . .
0, 0016 714300 17, 25/12 96

5, 22.10 0, 72/12 0, 71 0,97
52, 2
s s
s
s
s
f G ID N
p
x de S
psi p ketetapan
|
+
A =
=
= > A
1. Menghitung Nre pipa atau di ambil dari
tahap 5
.
36680
.2, 42
t
di G
Nre

= =
f = 0,00019 ( gambar 26 Kern)
2. Menghitung p karena panjang pipa
( )( ) ( )( )
( )( )( )( )
2
10
2
10
. . .
(5, 22 10 ). . .
0, 00019 958000 16 4

5, 22.10 0,834 /12 1 1
3,1
t
t
s
f G L n
p
x di S
psi
|
A =
=
=
3. Menghitung p karena tube passes.
Dari gambar 27 Kern,
2
0,125
2 144
c
v
g
| |
=
|
\ .
sehingga,
2
4 4 4
0,125 2
2 144 1
n
c
n v x
p x
s g
| |
A = = =
|
\ .
p
total
= p
t
+ p
n
= 3,1 + 2 = 5,1 psi < p ketetapan
BAB 4
C O N D E N S O R
4.1 Pengertian Condensor
Condensor adalah semacam alat Heat Exchanger yang berfungsi untuk
merobah fase gas menjadi fase liquid. Biasanya gas yang diembunkan
diletakan dibagian sheel sedangkan pendingin diletakan dibagian pipa atau
tube. Ada beberapa macam condensor :
a. Berdasarkan peletakannya
Berdasarkan peletakannya condensor ada 2 macam, yaitu :
condensor horisontal
condensor vertikal
b. Berdasarkan prosesnya
Berdasarkan prosesnya kondensor ada tiga macam, yaitu :
De-superheater condensor
Saturated condensor
Sub-cooled condensor
c. Berdasarkan jumlah komponen yang diembunkan
70
Berdasarkan jumlah komponen yang diembunkan condensor dapat
dibagi mnejadi 2 macam, yaitu :
Mono komponen
Multi komponen
4.2 Condensor Horisontal
Dalam condensor horisontal berlaku :
a. ho = 15 300 Btu/jam.ft
2
.
o
F
b. beban condensor dinyatakan :
- apabila pengembunan di luar pipa
2/3
Nt . L
M
G"=
- apabila pengembunan di dalam pipa :
Nt . L . 0,5
M
G" =
4.3 Condensor Vertikal
Dalam condensor vertikal berlaku :
a. ho = 90 150 Btu/jam.ft
2
.
o
F
b. beban condensor dinyatakan :
- apabila pengembunan di luar pipa :
do . . Nt
M
G'
t
=
- apabila pengembunan di dalam pipa :
organik) uap (untuk 1400
f .
G' . 4
=

4.4 Grafik Perpindahan Panas


71
4.5 Urutan Perancangan Condensor
1. Material and Heat balance
Q = Q
1
+ Q
2
= m . cp . At
Untuk desuperheater : Q
1
= M . C
P
. (T
1
T
1
) ; Q
2
= M .(hg hl)
Untuk subcooler : Q
1
= M .(hg hl) ; Q
2
= M . C
P
. (T
1
T
1
)
2. Menghitung AT
LMTD
( )
2 1
2 1
LMTD
t / t ln
t - t
t
A A
A A
= A ; AT = Ft . AT
LM
harga Ft = 1 karena prosesnya isothermal, pada condensor type
HE 1 2 karena Ft = 1 dimana dimulai n = 2 dan seterusnya.
3. Menghitung Suhu Caloric (Tc dan tc)
Tc = (T
1
+ T
2
)
tc = (t
2
+ t
1
)
4. Mencari ID
S
dan jumlah pipa dimulai dengan trial U
D
yang terletak
antara 75 150 Btu/jam.ft
2
.
o
F (tabel 8 Kern), termasuk Cooler
dimana fluidanya antara light organic dengan air.
72
t . U
Q
A
D
A
= dan
L . a"
A
Nt =
Nt distandarkan dan ID
S
didapatkan dari tabel 9 Kern. Dan U
D
dikoreksi dengan menggunakan persamaan :
trial D
standar
(koreksi) D
U .
Nt
Nt
U =
kesimpulan sementara hasil perancangan
Type HE : 1 2
Bagian Shell Bagian Tube
Id
S
= do = BWG l = Nt = n =
n = 1 susunan P
T
= de =
B = mendekati 1 x ID
S
a = a = di =
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (........................) Bagian Tube (............................)
5. Menghitung Nre
144 . P . n
B . C' . ID
a
T
S
S
=
de dicari pada gambar 28 Kern
dicari pada gambar 14 Kern
S
S
a
M
G = atau
S
S
a
m
G =
2,42 .
de . G
Nre
S
S

=
6. -
7. Menghitung harga Koefisien Film PP, ho
Trial ho antara 150-300 Btu/jam.ft
2
.
o
F untuk
condensor horisontal dan ho antara 90-150
Btu/jam.ft
2
.
o
F untuk condensor vertikal.
( )
( ) tc - Tc
hio ho
ho
tc tw
+
+ =
t
f
= (Tc + tw)/2
2/3
Nt . L
M
G"= condensor horisontal
do . . Nt
M
G'
t
= condensor vertikal
Dari gambar 12.9 didapatkan ho dengan
catatan ho tersebut sama dengan ho trial.
Jika berbeda tidak boleh lebih dari 20%. Jika
tidak diulangi lagi ho trial.
5. Menghitung Nre pipa
144 . n
a' . Nt
a
P
=
dicari pada gambar 14 Kern
P
P
a
m
G = atau
P
P
a
M
G =
2,42 .
di . G
Nre
P
P

=
6. -
7. Menghitung harga Koefisien Film
PP, hi
. 3600
Gt
v =
v yang baik apabila hasilnya antara
4 6 ft/detik.
hi dicari pada gambar 25 hal. 835
Kern dan dilakukan koreksi,
|
.
|

\
|
=
do
di
h h
i io
73
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
Diharapkan : Rd
hitung
> Rd
ketentuan
Evaluasi P
Bagian Shell (......................) Bagian Tube (........................)
1. Menghitung Nre dan Friksi
2,42 .
G . de
Nre
S
S

=
f dicari pada gambar 29 Kern
2. Menghitung AP
S
hanya karena
panjang shell.
( )
S
10
S
2
S
S
. S . de . 10 x 22 , 5
1 N ID . G . f
.
2
1
P
u
+
= A
s = ( / 62,5)
( ) T 460 . 1545
BM . . 144
s
+
=

1. Menghitung Nre pipa
2,42 .
G . di
Nre
P
P

=
f dicari pada gambar 26 Kern
2. Menghitung AP karena panjang pipa
P
10
2
P
P
. S . di . 10 x 22 , 5
n . L . G . f
P
u
= A
3. Menghitung AP karena tube passes
144 gc . 2
v
s
n 4
P
2
n

|
|
.
|

\
|
= A
4. Mencari AP
total
pada bagian tube
AP
T
= AP
P
+ AP
n
Catatan : AP masing masing aliran < AP ketetapan
Contoh :
Condensor menggunakan shell and tube dengan pipa in OD, 16 BWG; P
T
= 1 in.
Ketetapan : R
d
gabungan minimal = 0,003 jam.ft
2
.
o
F/Btu
p aliran air maksimal 10 psi
p aliran uap maksimal 2 psi
Rancang dan gambarlah condenser horizontal tersebut
Jawab :
1. Material dan heat balance
74
Q = m . cp . t = M .(hg hl)
= m . 1 . (120 85)
o
F = 30.000 lb/jam (320 200) Btu/lb
Q = 3.600.000 Btu/jam; m = 102.857 lb/jam
2. Menghitung T (LMTD)
1 2
1
2
50 85
66
50
ln ln
85
o
LM
t t
t F
t
t
A A
A = = =
A
A
1 2 2 1
2 1 1 1
300 100 120 56
5, 88; 0,16
120 86 300 86
T t t t
R S
t t T t

= = = = = =

Harga F
t
= 1 karena prosesnya isothermal dan type HE 1 2.
Jadi, t = F
t
. T
LM
= 1 (66) = 66
o
F
3. Menghitung suhu caloric (T
c
dan t
c
)
T
c
= (T
1
+ T
2
) = (170 + 170) = 170
o
F
t
c
= (t
1
+ t
2
) = (85 + 120) = 102,5
o
F
4. Trial U
D
= 150 Btu/jam.ft
2
.
o
F yang terletak antara 75 150 Btu/jam.ft
2
.
o
F table 8
Kern.
2
2
3.600.000 /
363, 6
150 / . . (66 )
o o
D
Q Btu jam
A ft
U t Btu jam ft F F
= = =
A
363, 6
154
" 0,1963(12)
A
Nt buah
a L
= = =
Nt distandarkan dan IDs didapatkan dari table 9 Kern :
IDs = 17 in; n = 4; Nt = 158
U
D
terkoreksi,
2

tan
154
(150) 146, 2 / . .
158
o
D terkoreksi D trial
s dar
Nt
U xU Btu jam ft F
Nt
= = =
Kesimpulam sementara :
Type HE : 2 4
Bagian Shell Bagian Tube
IDs = 17 in do = in 16 BWG, l =12 ft, Nt = 154, n = 4
n = 1 susunan segitiga, P
T
= 1 in; de = 0,95 in
B = 16 in a = 0,302 in
2
; a = 0,1963 ft
2
/ft; di = 0,620
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (uap butan) Bagian Tube (air)
5. Menghitung Nre shell
. '. 17, 25(0, 25)16
0, 4792
'. .144 (1)(1)144
s
s
T
ID C B
a
n P
= = =
2
30.000
62604 / .
0, 4792
s
s
M
G lb jam ft
a
= = =
( ) 62604 0, 95/12 .
209208
.2, 42 0, 0098(2, 42)
s e
G d
Nre

= = =
6. J
H
dicari pada gambar 28 Kern
J
H
= 130
7. Trial h
o
= 190 Btu/jam.ft
2
.
o
F
5. Menghitung Nre pipa
2
. ' 158(0, 302)
0, 0828
.144 (4)144
p
Nt a
a ft
n
= = =
2
102.857
1242234 / .
0, 0828
t
t
M
G lb jam ft
a
= = =
( ) 1242234 0, 62/12 .
36835, 5
.2, 42 0, 72(2, 42)
t i
G d
Nre

= = =
6.
7. Menghitung harga koefisien film PP, hi
1242234
5, 52 /
3600 3600(62, 5)
t
G
v ft s

= = =
dari gambar 25 Kern, didapat :
h
i
= 1330 Btu/jam.ft
2
.
o
F
75
( )
( )
( )
( )
190
102, 5 170 102,5 112, 4
190 1099
o
w c c c
o io
o
h
t t T t
h h
F
= +
+
= + =
+
t
f
= (T
c
+ t
w
)/2 = (170 + 112,4)/2 = 141,2
o
F
sehingga :
k
f
= 0,075 (tabel 4 Kern)
s
f
= 0,6 (tabel 6 Kern)

f
= 0,13 cp (gambar 14 Kern)
2/ 3 2/ 3
30.000
85, 5 / .
. 12(158)
n
M
G lb jam ft
l Nt
= = =
Dari gambar 12,9 Kern di dapatkan
h
o
= 210 Btu/jam.ft
2
.
o
F (memenuhi)
2
0, 620
1 1330
0, 750
1099 / . .
i
io i
o
o
d
h h x
d
Btu jam ft F
| | | |
= =
| |
\ .
\ .
=
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
c
)
2
1099(210) .
176, 3 / . .
1099 210
o i io
c
i io
h h
U Btu jam ft F
h h
= = =
+ +
9. Mencari dirt faktor (faktor pengotor) pipa terpakai
2
176, 3 146, 2
0, 0011 . . /
. 176, 3(146, 2)
o
c D
d
c D
U U
R jam ft F Btu
U U

= = =
Ternyata : R
d
hitung < R
d
tetapan, jadi under desain
Evaluasi p
Bagian Shell (uap butan) Bagian Tube (air)
1. Menghitung Nre dan friksi
.
209208
.2, 42
an
de G
Nre

= =
f = 0,00131 (gambar 29 Kern)
2. Menghitung p
s
hanya karena panjang
shell
s = (/62,5)
144. .
1545(460 ).62, 5
144(155)(58,1)
0, 0213
1545(630)(62, 5
p BM
s
T
=
+
= =
Menghitung harga (N+1)
(N+1) = (12 x l)/B = (12 x 12)16 =
9
( )
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )( )
2
10
2
10
. . . 1 1
.
2 (5, 22 10 ). . .
0, 0013 62604 17, 25/12 9
1
.
2 5, 22.10 0,95/12 0, 0213 1
0, 374 ( )
s s
s
s
f G ID N
p
x de S
psi ok
|
+
A =
=
=
1. Menghitung Nre pipa atau diambil dari
tahap 5
.
36835, 5
.2, 42
t
di G
Nre

= =
f = 0,00019 (gambar 26 Kern)
2. Menghitung p karena panjang pipa
( )( ) ( )( )
( )( )( )( )
2
10
2
10
. . .
(5, 22 10 ). . .
0, 00019 1242234 12 4

5, 22.10 0, 620/12 1 1
5, 2
t
t
s
f G L n
p
x di S
psi
|
A =
=
=
3. Menghitung p karena tube passes.
Dari gambar 27 Kern,
2
0, 2
2 144
c
v
g
| |
=
|
\ .
sehingga,
2
4 4 4
0, 2 3, 2
2 144 1
n
c
n v x
p x psi
s g
| |
A = = =
|
\ .
p
total
= p
t
+ p
n
= 5,2 +3,2 =8,4 psi (ok)
76
BAB 5
R E B O I L E R
5.1 Pengertian Reboiler
Reboiler adalah alat semacam Heat Exchanger yang berfungsi untuk
merobah fase liquid menjadi fase gas. Biasanya liquid yang diuapkan diletakan
dibagian sheel sedangkan pemanas diletakan dibagian pipa atau tube. Ada
beberapa macam Reboiler yang perlu diketahui :
5.1.1 Forced Circulation Reboiler
Pada Forced Circulation Boiler liquid yang akan diuapkan berasal dari
kolom distilasi yang dipompakan ke dalam Reboiler. Baik gas yang terjadi
77
(antara 60 80%) dari liquid yang masuk maupun liquid yang tidak
teruapkan akan masuk ke dalam kolom distilasi lagi, seperti yang terlihat
pada gambar dibawah ini,
Gambar 5.1. Forced Circulation Reboiler
5.1.2 Natural Circulation Reboiler
Pada Natural Circulation Reboiler hanya uap atau gas saja yang
masuk ke dalam kolom distilasi. Liquid yang tidak teruapkan akan keluar
dari Reboiler atau hanya sebagian liquid yang dimasukan seperti yang
terlihat pada gambar dibawah ini,
Gambar 5.2. One-Through Reboiler Gambar 5.3. Circulating Reboiler
5.2 Grafik Perpindahan Panas
Penguapan di dalam Reboiler bisa terjadi dalam beberapa macam antara
lain : penguapan titik jenuhnya, penguapan di bawah titik jenuhnya dan
penyempurnaan penguapan.
78
Beberapa ketentuan penguapan pada Reboiler antara lain :
b. untuk liquid yang dipanasi berupa bahan organik berlaku :
Q/A = 8000. s/d. 12000 Btu/jam.ft
2
c. untuk mencari overall heat transfer U
D
berlaku :
( ) t . L . a" . Nt
Q
t . A
Q
U
D
A
=
A
=
5.3 Urutan Perancangan Kettle Reboiler
1. Material and Heat balance
Q = Q
S
+ Q
V
= M . cp . (T
1
T
2
) = M .
Untuk panas sensible : Q
S
= m . C
P
. (T
1
T
1
) ; Q
V
= m
1
.(hg hl)
2. Menghitung AT
LMTD
( )
2 1
2 1
LMTD
t / t ln
t - t
t
A A
A A
= A ; AT = Ft . AT
LM
harga Ft = 1 karena prosesnya isothermal, pada Reboiler n (tube
passes) dimulai dari yang tinggi sampai rendah agar penggunaan
panas lebih efektif.
3. Menghitung Suhu Caloric (Tc dan tc)
79
Tc = T
2
+ Fc (T
1
T
2
)
tc = t
2
+ Fc (t
2
t
1
)
4. Mencari ID
S
dan jumlah pipa dimulai dengan trial Q/A antara
12000 Btu/jam.ft
2
.
o
F, sehingga didapatkan :
12000 s/d 8000
Q
A = dan
L . a"
A
Nt =
Nt distandarkan dan ID
S
didapatkan dari tabel 9 halaman 841 842
Kern. Dan U
D
standar didapatkan dengan menggunakan persamaan,
L . a" . Nt
Q
U
standar
(standar) D
=
kesimpulan sementara hasil perancangan
Type HE : 1 2
Bagian Shell Bagian Tube
Id
S
= do = BWG l = Nt = n =
n = 1 susunan P
T
= de =
B = mendekati 1 x ID
S
a = a = di = C =
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (........................) Bagian Tube (............................)
5. Menghitung Nre
144 . P . n
B . C' . ID
a
T
S
S
=
de dicari pada gambar 28 Kern
dicari pada gambar 14 Kern
S
S
a
M
G = atau
S
S
a
m
G =
2,42 .
de . G
Nre
S
S

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 28 Kern
7. Trial harga Koefisien Film PP, ho maksimal
300 Btu/jam.ft
2
.
o
F.
( )
( ) tc - Tc
hio ho
ho
tc tw
+
+ =
At = (tw - tc)
Dari gambar 15.11 Kern didapatkan h
V

maksimal 300 Btu/jam.ft
2
.
o
F dan h
S
.
V
V
S
S
o
h
Q
h
Q
Q
h
+
=
diharapkan ho sama dengan ho trial atau
5. Menghitung Nre pipa
144 . n
a' . Nt
a
P
=
dicari pada fig. 14 Kern
P
P
a
m
G = atau
P
P
a
M
G =
2,42 .
di . G
Nre
P
P

=
6.
7. Menghitung harga Koefisien
Film PP, hi
. 3600
Gt
v =
v yang baik apabila hasilnya
antara 4 6 ft/detik.
hi dicari pada gambar 25 hal. 835
Kern dan dilakukan koreksi,
|
.
|

\
|
=
do
di
h h
i io
80
diatasnya. Jika berbeda tidak boleh lebih
dari 20%, jika tidak diulangi lagi ho trial.
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
Diharapkan : Rd
hitung
> Rd
ketentuan
Evaluasi P
Bagian Sheel (......................) Bagian Tube (........................)
AP dibagian sheel untuk type natural
atau Kettle Reboiler diabaikan.
1. Menghitung Nre pipa
2,42 .
G . di
Nre
P
P

=
f dapat dicari pada gambar 26 Kern
2. Menghitung AP karena panjang pipa
P
10
2
P
P
. S . di . 10 x 22 , 5
n . L . G . f
P
u
= A
3. Menghitung AP karena tube passes
144 gc . 2
v
s
n 4
P
2
n

|
|
.
|

\
|
= A
4. Mencari AP
total
pada bagian tube
AP
T
= AP
P
+ AP
n
Catatan : AP masing masing aliran < AP ketetapan
Contoh :
81
BAB 6
T H E R M O S Y P H O N
6.1 Horisontal Thermosyphon
6.1.1 Pengertian Horisontal Thermosyphon
Horisontal Thermosyphon adalah alat semacam Heat Exchanger yang
berfungsi untuk merobah fase liquid menjadi fase gas yang peletakannya
horisontal dan penguapan terjadi di bagian sheel sedangkan pemanas
diletakkan di bagain pipa atau tube seperti yang terlihat pada gambar
dibawah ini,
82
Gambar 5.1. Horisontal Thermosyphon
6.1.2 Spesifikasi Horisontal Thermosyphon
Pada Horisontal Thermosyphon ada beberapa spesifikasi antara lain :
a. Dimensi diameter shell dan panjang shell
a. ID
S
: 12 17 inci l = 8 ft
b. ID
S
: 19 - 29 inci l = 12 ft
c. ID
S
> 31 inci l = 16 ft
b. Shell passes atau n = 2
c. Maksimal 80% liquid akan teruapkan
d. Flux atau Q/A antara 8000 12000 Btu/jam.ft
2
e. h
V
tidak boleh lebih dari 300 Btu/jam.ft
2
.
o
F
V
V
S
S
o
h
Q
h
Q
Q
h
+
=
dimana : ho = koefisien film perpindahan panas luar pipa, Btu/jam.ft
2
.
o
F
hs = koefisien film perpindahan panas sensible, Btu/jam.ft
2
.
o
F
hv = koefisien film perpindahan panas laten, Btu/jam.ft
2
.
o
F
Q = jumlah panas yang dipindahkan, Btu/jam
Q
S
= jumlah panas sensible, Btu/jam
Q
V
= jumlah panas laten, Btu/jam
6.1.3 Grafik Perpindahan Panas
83
Penguapan di dalam horisontal thermosyphon bisa terjadi dalam
beberapa macam antara lain : penguapan pada titik jenuhnya, penguapan di
bawah titik jenuhnya dan penyempurnaan penguapan.
Beberapa ketentuan penguapan pada horisontal thermosyphon antara lain :
a. Untuk liquid yang dipanasi berupa bahan organik berlaku :
Q/A = 8000. s/d. 12000 Btu/jam.ft
2
b. Untuk mencari overall heat transfer U
D
berlaku :
( ) t . L . a" . Nt
Q
t . A
Q
U
D
A
=
A
=
c. Penurunan tekanan
AP pada thermosyphon sama dengan AP pada shell and tube, hanya
yang perlu diperhatikan adalah :
de = diameter equivalen shell yang dipengaruhi oleh friction, dimana
perimeter wetted frictional
area flow . 4
de' = (Kern, pers. 6.4 hal 105)
84
free area = (t/4 (ID
S
)
2
(t/4 do
2
)(Nt))
= t/8 (ID
S
)
2
(do
2
) (Nt)
( ) ( ) | | { }
( ) ( )
)
`

+ +
=
+ +
= =
Nt . do . ID . ID . 2
Nt do - ID

2
Nt . do .
2
ID .
ID
Nt do - ID /8 4
perimeter Wetted
area flow . 4
de'
S S
2 2
S
S
S
2 2
S
t t
t t
t t
t
6.1.4 Urutan Perancangan Horisontal Thermosyphon
1. Material and Heat balance
Q = Q
S
+ Q
V
= M . cp . (T
1
T
2
) = M .
Untuk panas sensible : Q
S
= m . C
P
. (T
1
T
1
), dengan range
boiling point > 15
o
F. Untuk panas laten : Q
V
= m
1
. (hg hl)
2. Menghitung AT
LMTD
( )
2 1
2 1
LMTD
t / t ln
t - t
t
A A
A A
= A ; AT = Ft . AT
LM
harga Ft dicari dari gambar 19 Kern karena n = 2.
3. Menghitung Suhu Caloric (Tc dan tc)
Tc = T
2
+ Fc (T
1
T
2
)
tc = t
2
+ Fc (t
2
t
1
)
4. Mencari ID
S
dan jumlah pipa dimulai dengan trial Q/A antara
8000 12000 Btu/jam.ft
2
.
o
F, sehingga didapatkan :
85
12000 s/d 8000
Q
A = dan
L . a"
A
Nt =
Nt distandarkan dan ID
S
didapatkan dari tabel 9 Kern dengan
ketentuan n = 2 dan n minimal = 4, dan U
D
standar
didapatkan dengan menggunakan persamaan :
L . a" . Nt
Q
U
standar
(standar) D
=
kesimpulan sementara hasil perancangan
Type HE :
Bagian Shell Bagian Tube
Id
S
= do = BWG l = Nt = n
=
n = susunan P
T
= de =
B = mendekati 1 x ID
S
a = a = di = C =
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (........................) Bagian Tube (............................)
5. Menghitung Nre
144 . P . n'
B . C' . ID
a
T
S
S
=
de dicari pada gambar 28 Kern
dicari pada gambar 14 Kern
S
S
a
M
G = atau
S
S
a
m
G =
2,42 .
de . G
Nre
S
S

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 28 Kern
7. Menghitung Koefisien Film PP, ho
14 , 0
3 / 1
H O
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


5. Menghitung Nre pipa
144 . n
a' . Nt
a
P
=
dicari pada gambar 14 Kern
P
P
a
m
G = atau
P
P
a
M
G =
2,42 .
di . G
Nre
P
P

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7. Menghitung Koefisien Film PP, hi
14 , 0
3 / 1
H i
k
. cp
di
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


|
.
|

\
|
=
do
di
h h
i io
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
Diharapkan : Rd
hitung
> Rd
ketentuan
86
Evaluasi P
Bagian Shell (......................) Bagian Tube (........................)
1. Menghitung Nre dan Friksi
( ) ( )
)
`

+ +
=
Nt do ID ID 2
Nt do - ID
de'
S S
2 2
S
t t
t t
2,42 .
G . de'
Nre
S
S

=
f dicari pada gambar 29 Kern
2. Menghitung AP
S
hanya karena panjang
shell.
S
10
(total)
2
S
S
. sg . de . 10 x 22 , 5
l . G . f
P
u
= A
( )
62,5
s - s
p
p
492
T 460
359
BM

5 , 62
sg
uap liquid
2
l
liquid uap
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
=
+
=

1. Menghitung Nre pipa
2,42 .
G . di
Nre
P
P

=
f dicari pada gambar 26 Kern
2. Menghitung AP karena panjang
pipa
P
10
2
P
P
. S . di . 10 x 22 , 5
n . L . G . f
P
u
= A
3. Menghitung AP karena tube
passes
144 gc . 2
v
s
n 4
P
2
n

|
|
.
|

\
|
= A
4. Mencari AP total pada bagian tube
AP
T
= AP
P
+ AP
n
Catatan : AP masing masing aliran < AP ketetapan
Contoh : 38.500 lb/jam 60
o
API naphtha melalui suatu susunan pipa masuk
thermosyphon horizontal reboiler dan menghasilkan 29.000 lb/jam vapor dalam range
temperatur dari 315 ke 335
o
F pada tekanan operasi 5,0 psig. Panas tersedia oleh
28
o
API minyak gas dengan range dari 525 ke 400
o
F.
Data tersedia untuk layanan adalah suatu 21,25 in ID reboiler yang berisi 116 1 in OD,
14 BWG tube 12'0" dipersiapkan panjang pada 1,25 in square pitch. Bundel
mempunyai suatu plate pendukung di atas single inlet nozzle dan diatur untuk 8
passes. Estimasikan faktor pengotor dan pressure drop!
Jawab :
1. Neraca Panas
Entalpi liquid pada 315
o
F = 238 Btu/lb
Entalpi liquid pada 335
o
F = 252 Btu/lb
Entalpi vapor pada 335
o
F = 378 Btu/lb (Fig. 11)
Naphtha, q
v
= 29.000(378 238) = 3.650.000
q
s
= 38.500(252 238) = 540.000
Q = = 4.190.000 Btu/jam
Gas oil, Q = 51.000 x 0,66 (525 400) = 4.190.000 Btu/jam
2. t
Hot Fluid (
o
F) Cold Fluid (
o
F) Different (
o
F)
525 Suhu tinggi 335 190
400 Suhu rendah 315 85
125 Beda 20 105
87
( ) ( )
1 2
1 2
190 85
131
ln / ln 190/ 85
o
t t
LMTD F
t t
A A
= = =
A A
125 20
6, 25 0, 095
20 525 315
R S = = = =

Didapat F
T
= 0,97
Maka, t = F
T
x LMTD = 0,97 x 131 = 127
o
F
3. Tc
85
0, 447
190
c
h
t
t
A
= =
A
(Fig. 17)
K
c
= 0,42 F
c
= 0,41
T
c
= 400 + 0,41 (525 400) = 451
o
F (pers. 5.28 Kern)
t
c
= 315 + 0,41 (335 315) = 323
o
F (pers. 5.29 Kern)
4. cmsancvna
6.2 Vertikal Thermosyphon
6.2.1 Pengertian Vertikal Thermosyphon
Vertikal Thermosyphon adalah alat semacam Heat Exchanger yang
berfungsi untuk merobah fase liquid menjadi fase gas yang peletakannya
vertikal dan penguapan terjadi di bagian tube sedangkan pemanas
diletakkan di bagain shell seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini,
88
Gambar 6.2. Vertikal Thermosyphon
6.2.2 Spesifikasi Vertikal Thermosyphon
Pada Vertikal Thermosyphon ada beberapa spesifikasi antara lain :
a. Panjang shell mulai dari 16 ft kemudian diturunkan menjadi 12 ft
b. Shell passes atau n = 1 dan tube passes atau n = 1
c. Maksimal 80% dari liquid akan teruapkan
d. Flux atau Q/A antara 8000 12000 Btu/jam.ft
2
e. h
V
tidak boleh lebih dari 300 Btu/jam.ft
2
.
o
F
f. Tipe aliran selalu counter current
V
V
S
S
o
h
Q
h
Q
Q
h
+
=
dimana : ho = koefisien film perpindahan panas luar pipa, Btu/jam.ft
2
.
o
F
hs = koefisien film perpindahan panas sensible, Btu/jam.ft
2
.
o
F
hv = koefisien film perpindahan panas laten, Btu/jam.ft
2
.
o
F
Q = jumlah panas yang dipindahkan, Btu/jam
Q
S
= jumlah panas sensible, Btu/jam
Q
V
= jumlah panas laten, Btu/jam
6.2.3 Grafik Perpindahan Panas
Penguapan di dalam vertikal thermosyphon bisa terjadi dalam
beberapa macam antara lain : penguapan pada titik jenuhnya, penguapan di
bawah titik jenuhnya dan penyempurnaan penguapan.
89
Beberapa ketentuan penguapan pada vertikal thermosyphon antara lain :
a. Untuk liquid yang dipanasi berupa bahan organik berlaku :
Q/A = 8000. s/d. 12000 Btu/jam.ft
2
b. Untuk mencari overall heat transfer U
D
berlaku :
( ) t . L . a" . Nt
Q
t . A
Q
U
D
A
=
A
=
c. Penurunan tekanan
Panjang dan jumlah tube perlu dicek lebih dahulu untuk melihat
apakah AP atau AP
p
ditambah tekanan hidrostatik pada thermosyphon
sama dengan AP pada kaki Reboiler lebih kecil dari driving force.
p
10
2
p
p
. sg . di . 10 x 22 , 5
n . L . G . f
P
u
= A
Driving force = (Z
1
x ) / 144
dimana : Z
1
= tinggi liquid (permukaan) sampai bagian bawah
pipa reboiler , ft.
= densitas liquid, lb/ft
3
Tekanan Hidrostatik pada kaki Reboiler :
90
( )
Psi ,
V
V
log
V - V 144
l 2,3
144
. Z
l
o
l o
average 3
=

dimana : V
o
= spesifik volume liquid dan uap, ft
3
/lb
V
l
= spesifik volume liquid, ft
3
/lb
V
v
= spesifik volume vapor, ft
3
/lb
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
=
2
1
v
p
p
492
T 460
359
BM

BM
p
7 , 14
492
T 462
359
p
p
492
T 460
359
BM
1 1
V
2
2
1
v
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
=
|
|
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
= =

l
= sg x 62,5 sehingga V
l
= 1/
l
= 1 / (sg x 62,5), lb/ft
3
( ) ( )
( )
lb / ft ,
uap massa liquid massa
V . uap massa V . liquid massa
V
3 o l
o
+
+
=
Apabila :
b. Total tahanan : AP
p
+ Z
3
(
av
/144) > (Z
1
x
l
)/144, maka panjang
pipa diturunkan menjadi 12 ft.
c. Total tahanan : AP
p
+ Z
3
(
av
/144) < (Z
1
x
l
)/144, maka panjang
pipa sudah sesuai.
6.2.4 Urutan Perancangan Vertikal Thermosyphon
1. Material and Heat balance
Q = Q
S
+ Q
V
= M . cp . (T
1
T
2
) = M .
Untuk panas sensible : Q
S
= m . C
P
. (T
1
T
1
), dengan range
boiling point > 15
o
F. Untuk panas laten : Q
V
= m
1
. (hg hl)
2. Menghitung AT
LMTD
( )
2 1
2 1
LMTD
t / t ln
t - t
t
A A
A A
= A ; AT = Ft . AT
LM
91
harga Ft dicari dari gambar 19 Kern karena n = 2.
3. Menghitung Suhu Caloric (Tc dan tc)
Tc = T
2
+ Fc (T
1
T
2
)
tc = t
2
+ Fc (t
2
t
1
)
4. Mencari ID
S
dan jumlah pipa dimulai dengan trial Q/A antara
8000 12000 Btu/jam.ft
2
.
o
F, sehingga didapatkan :
12000 s/d 8000
Q
A = dan
L . a"
A
Nt =
Nt distandarkan dan ID
S
didapatkan dari tabel 9 Kern dengan
ketentuan n = 2 dan n minimal = 4, dan U
D
standar
didapatkan dengan menggunakan persamaan :
L . a" . Nt
Q
U
standar
(standar) D
=
kesimpulan sementara hasil perancangan
Type HE :
Bagian Shell Bagian Tube
Id
S
= do = BWG l = Nt = n =
n = susunan P
T
= de =
B = mendekati 1 x ID
S
a = a = di = C =
Evaluasi Perpindahan Panas
Bagian Shell (........................) Bagian Tube (........................)
5. Menghitung Nre
144 . P . n'
B . C' . ID
a
T
S
S
=
de dicari pada gambar 28 Kern
dicari pada gambar 14 Kern
S
S
a
M
G = atau
S
S
a
m
G =
2,42 .
de . G
Nre
S
S

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 28 Kern
7. Menghitung harga Koefisien Film PP, ho
14 , 0
3 / 1
H O
k
. cp
de
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


5. Menghitung Nre pipa
144 . n
a' . Nt
a
P
=
dicari pada gambar 14 Kern
P
P
a
m
G = atau
P
P
a
M
G =
2,42 .
di . G
Nre
P
P

=
6. Mencari Faktor Panas (J
H
)
J
H
dicari pada gambar 24 Kern
7. Menghitung Koefisien Film P P, hi
14 , 0
3 / 1
H i
k
. cp
di
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


hi maksimal 300 Btu/jam.ft
2
.
o
F
|
.
|

\
|
=
do
di
h h
i io
92
8. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
9. Mencari tahanan panas pipa terpakai (U
D
)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
Diharapkan : Rd
hitung
> Rd
ketentuan
Evaluasi P
Bagian Shell (......................) Bagian Tube (........................)
1. Menghitung Nre dan Friksi
( ) ( )
)
`

+ +
=
Nt do ID ID 2
Nt do - ID
de'
S S
2 2
S
t t
t t
2,42 .
G . de'
Nre
S
S

=
f dicari pada gambar 29 Kern
2. Menghitung AP
S
hanya karena
panjang shell.
S
10
2
S
S
. sg . de . 10 x 22 , 5
B 1) (N . G . f
P
u
+
= A
1. Menghitung Nre pipa
2,42 .
G . di
Nre
P
P

=
f dicari pada gambar 26 Kern
2. Menghitung AP karena panjang pipa
P
10
2
P
P
. S . di . 10 x 22 , 5
n . L . G . f
P
u
= A
Catatan : AP masing masing aliran < AP ketetapan
Contoh : Suatu vertikal thermosyphon reboiler menyediakan 40.800 lb/jam vapor yang
mana adalah butane murni. Susunan kolom seperti gambar 6.2 beroperasi pada
tekanan 275 psig yang sesuai dengan titik didih 228
o
F yang isotermis. Panas
disediakan oleh steam pada 125 psig.
Suatu sirkulasi ulang dengan rasio 4:1 atau lebih besar harus kerjakan. Berapa jumlah
maksimum exchanger untuk memenuhi kebutuhan ini? Data inchi OD, 16 BWG
tube pada atas 1 inchi triangular pitch akan digunakan.
Jawab :
1. Neraca massa
Entalpi liquid pada 228
o
F dan 290 psia = 241 Btu/lb
Entalpi vapor pada 228
o
F dan 290 psia = 338 Btu/lb
Butane, Q = 40.800 (338 241) = 3.960.000 Btu/jam
Steam, Q = 4570
2. bvsdbv
93
BAB 7
JACKETTED DAN COIL
Beberapa macam alat penukar panas yang juga banyak digunakan antara
lain : jacketted vessel dan coil. Alat ini berfungsi sama dengan alat penukar
panas lainnya yaitu untuk pemanas atau pendingin. Alat ini luas perpindahan
panasnya tidak terlalu besar yaitu di bawah 120 ft
2
, sedangkan jacket
mempunyai luas perpindahan panas lebih rendah dari coil.
7.1 Jacketted Vessel
Seperti pada gambar dibawah ini, Jacket Vessel adalah alat pemanas
yang digunakan untuk memanasi atau mendingin bahan yang ada di dalam
vessel. Jacket dipasang di bagian luar vessel meneyelimuti vessel tersebut
yang tingginya setinggi bahan di dalam vessel yang akan dipanasi, biasanya
jacket digunakan untuk pemanasan yang perbedaan suhunya cukup rendah
misalnya 5
o
C atau hanya sekedar mempertahankan suhu didalam vessel.
Ada beberapa ketentuan untuk overall
koefisien perpindahan panas (U
D
) :
U
D
= 250 Btu/jam.ft
2
.
o
F untuk tembaga
U
D
= 175 Btu/jam.ft
2
.
o
F untuk stell Fe
U
D
= 100 Btu/jam.ft
2
.
o
F untuk air air
Gambar 7.1. Sket Jacketted Vessel
Sedangkan untuk koefisien film perpindahan panas (h) mempunyai ketentuan :
h = 75 80 untuk larutan yang sama dengan air
h = 50 untuk larutan non-viscous hydrocarbon
h = 10 20 untuk medium organik
94
Jumlah panas yang ditambahkan atau diserap tergantung dari proses
yang ada apakah kontinu atau batch.
a. Untuk aliran steady state : Q = U A At
b. Untuk aliran batch :
C M
A U
t - T
t - T
ln
t A U
d
dt
MC -
d
dQ
2 1
1 1
u
u u
=
A = =
dimana : u = waktu dari 0 - u
Perhitungan pada Jacketted Vessel
Beberapa perhitungan yang ada dalam perancangan jacket vessel antara
lain : bilangan Reynold (Nre), koefisien film perpindahan panas (h)dan horse
power (HP).
a. Bilangan Reynold (Nre)
Besarnya bilangan Reynold dapat dicari dengan menggunakan gambar
ini :

. N . L
Nre
2
=
dimana :
N = putaran pengaduk (Rpj)
L = diameter pengaduk, ft
= densitas fluida, lb/ft
3
= viskositas fluida, lb/jam.ft
Gambar 7.2. Dimensi Jacket Vessel
b. Koefisien Film Perpindahan Panas (h)
Koefisien perpindahan panas didalam jacketted vessel dapat dinyatakan
dengan persamaan :
14 , 0
3 / 1
3 / 2
2
j j
k
. cp . N . L
0,36
k
D . h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
w


95
Sedangkan heat transfer koefisien (J) dapat dicari pada gambar 20.2
halaman 718 Kern dan untuk keperluan scale up dapat dicari dengan
menggunakan persamaan :
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
2
1
3 / 1
2
1
2
1
N
N
L
L
hj
hj
c. Horse Power (HP)
Horse pengaduk (HP) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
HP = 1,29 x 10
-4
. D
J
1,1
. L
2,72
. N
2,36
. y
0,3
. Z
0,6
.
0,14
.
0,86
Dimana : y = lebar pengaduk
N = kecepatan pengaduk, rps
= densitas fluida, lb/ft
3
= viskositas fluida, lb/jam.s
persamaan diatas berlaku apabila : L > 0,3 D
J
dan B < 1/6
Contoh :
96
7.2 Coil
Coil seperti pada gambar dibawah ini adalah alat pemanas yang
digunakan untuk memanasi atau mendinginkan bahan yang ada di dalam
vessel. Coil dipasang di bagian dalam vessel tersebut yang tingginya setinggi
bahan di dalam vessel yang akan dipanasi. Biasanya coil digunakan untuk
pemanasan yang perbedaan suhunya cukup tinggi dengan heating surface
120 ft
2
.
harga Outside Coeficient ke fluida dengan memakai pengaduk mekanik
dinyatakan dengan persamaan :
14 , 0
3 / 1
3 / 2
2
J
k
. cp . N . L
D
k
0,87 hc
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
w


harga J dan Nre dapat dilihat pada gambar 20.2 halaman 718 Kern dan
pemakaian persamaan ini apabila bejana dioperasikan secara continous feed
dan continous overflow.
a. Spesifikasi Coil
untuk mencari jumlah lilitan coil dan tinggi coil terlebih dahulu dicari
panjang pipa coil dengan menggunakan persamaan :
Q = A U
D
At
LM
A = Q / (U
D
At
LM
)
L
pipa
= A / a
Jumlah lilitan coil, n
c
= L / t d
c
97
Besarnya d
c
harus lebih besar dari diameter pengaduk dan lebih kecil dari
diameter vessel : d
p
< d
c
, d
B
Sedangkan tinggi lilitan coil adalah : h
c
= {(n
c
1)(jarak 2 lilitan coil + do)} + do
b. Tahapan Perancangan Coil
1. Neraca massa dan panas
2. Menghitung At
LM
( ) t / t ln
t - t
t
2 1
2 1
LM
A A
A A
= A
3. Menentukan suhu caloric (T
C
dan t
C
)
T
C
= T
2
+ F
C
(T
1
T
2
)
t
C
= t
1
+ F
C
(t
1
t
2
)
4. Menentukan diameter pipa (schedule atau BWG nya)
Bagian Bejana Bagian Pipa
5. Menentukan bilangan Reynold
2,42 .
. N . dp
NRe
2
b


=
6. J
C
= ........gambar 20.2 Kern
7. Menentukan koefisien PP coil, hc
14 , 0
3 / 1
J
C C
k
. cp
D
k
J h
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
w


5. Menentukan bilangan Reynold
a
p
= a
G
p
= M / a
p
2,42 .
G . di
NRe
p
p

=
6. J
H
= ...... gambar 24 Kern
7. Menentukan koefisien PP, hi
14 , 0
3 / 1
H
k
. cp
di
k
J hi
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w


hio = hi (di/do)
9. Mencari tahanan panas pipa bersih (U
C
)
io i
io i
C
h h
h . h
U
+
=
98
10. Mencari faktor pengotor (Rd)
D C
D C
d
U . U
U - U
R =
11. U
D
= .......
A = Q / (U
D
At
LM
)
L
pipa
= A / a
Jumlah lilitan coil, n
c
= L / t d
c
Tinggi lilitan coil, h
c
= (n
c
1)(jarak 2 coil + do) + do
Contoh :