Anda di halaman 1dari 60

KIMIA ZAT WARNA

Oleh : LILIS SITI AISYAH

PENDAHULUAN

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia atau daerah tampak spektrum dari radiasi elektromagnetik berkisar antara 380-780 nanometer. Radiasi yang tersebar secara merata akan tampak sebagai cahaya putih dan yang akan terurai dalam warna warna spektrum bias dengan adanya penyaringan oleh prisma atau kisi kisi pelontaran (difraction grating) yang dipersepsikan sebagai sinar cosmik/foton (lembayung, indigo, biru, hijau, kuning, jingga, merah).

PENDAHULUAN
The colors of the visible light spectrum color wavelength interval frequency interval

red orange yellow green cyan blue violet

~ 625740 nm ~ 590625 nm ~ 565590 nm ~ 500565 nm ~ 485500 nm ~ 440485 nm ~ 380440 nm

~ 480405 THz ~ 510480 THz ~ 530510 THz ~ 600530 THz ~ 620600 THz ~ 680620 THz ~ 790680 THz

Gambar Spektrum warna

PENDAHULUAN

Hubungan antara warna yang terserap dengan warna tampak dijelaskan secara rinci oleh Mohler yang dapat disimpulkan bahwa tiap tiap warna terletak pada daerah panjang gelombang yang sempit, dimana pasangan dari warna terserap dan warna tampak panjang gelombang yang sama atau disebut warna pelengkap/ komplementer atau warna pengurangan/ subtraksi. Warna merupakan hasil dari suatu perangkat kompleks (dari) respon faali maupun psikologis terhadap panjang gelombang tampak, yang jatuh pada retina (selaput jala) mata. Penginderaan warna ditimbulkan oleh pelbagai proses fisis. Hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Jika panjang gelombang dengan rentang (range) sempit jatuh pada retina akan diamati warna warna individu.

PENDAHULUAN

Hubungan antara penyerapan cahaya dengan panjang gelombang dikemukakan dengan menggabungkan hukum Lambert dan Hukum Beer yang didukung oleh aturan Kubelka-Munk. Berkebalikan dengan teori warna, di dalam teori pigmen sensasi putih dianggap sebagai absennya seluruh pigmen. Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

PENDAHULUAN

Pada tahun 1876 Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara warna dengan serat. Secara lebih luas zat warna tersusun dari hidrokarbon tak jenuh, Chromogen, Auxocrome dan zat aditif (migration, levelling, wetting agent, dsb) . Zat organik tak jenuh umumnya berasal dari senyawa aromatik dan derivatifnya (benzene, toluene, xilena, naftalena, antrasena, dsb.), Fenol dan derivatifnya (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa mengandung nitrogen (piridina, kinolina, korbazolum, dsb).

PENDAHULUAN

Chromogen adalah senyawa aromatik yang berisi Chromopores (Yunani :chroma warna; phoros, mengemban) yaitu gugus tak jenuh yang dapat menjalani transisi p p dan n p (teori eksitasi transisi elektron). Khromofor merupakan zat pemberi warna yang berasal daari radikal kimia, seperti ; Kelompok nitroso : -NO, Kelompok nitro : -NO2, Kelompok azo : -N=N, Kelompok ethyline : >C=C<, Kelompok carbonyl : >C=O, Kelompok carbon nitrogen : >C=NH dan CH=N-, Kelompok belerang : >C=S dan ->C-S-S-C<. Macam macam zat warna dapat diperoleh dari penggabungan radikal kimia tersebut dengan senyawa kimia lain. Sebagai contoh kuning jeruk (orange) diperoleh dari radikal ethylene yang bergabung dengan senyawa lain membentuk Hydrokarbon dimethyl fulvene.

PENDAHULUAN

Auxochrome, (Yunani ; auxanein, meningkatkan) yaitu gugus yang tidak dapat menjalani transisi p p tetapi dapat menjalani transisi elektron n. Auksokrom merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan kation yaitu NH2, -NH Me, N Me2 seperti -+NMe2Cl-, golongan anion yaitu SO3H-, -OH, -COOH, seperti O-; -SO3-, dsb. Auxochrome juga merupakan radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau SO3H. dapat juga berupa kelompok pembentuk garam: NH2 atau OH. Kebanyakan zat organik berwarna adalah hibrida resonansi dari dua struktur atau lebih. Penggolongan zar warna dapat dikatagorikan bermacam macam menurut parameter yang dijadikan rujukan, sebagai contoh penggolongan zat warna berdasarkan cara diperolehnya, yaitu:

PENDAHULUAN
Sebagai contoh penggolongan zat warna berdasarkan cara diperolehnya, yaitu: 1. Zat warna alam Zat warna yang berasal dari tumbuh tumbuhan, misalnya; Nila (indigo) : warna biru, kulit batang jeruk : warna kuning, ketapang : warna coklat kehitaman, dan sebagainya. Zat warna dari binatang, misalnya; lendir kerang : warna merah, caro : merah tua, dan sebagainya. Zat warna dari mineral, misalnya; Fe : warna coklat, Mn : warna merah, Cr : warna hitam, dan sebagainya. 2. Zat warna buatan Suatu zat warna yang dibuat oleh manusia, baik semi sintetik maupun full sintetik, misalnya zat warna asam, basa, direct, naftol, dan sebagainya.

PENDAHULUAN
Selain zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat warna alam dan sintetik, Van Croft membaginya berdasarkan pemakainnya, misalnya : 1. Zat warna subtantif yaitu Warna yang langsung dapat mewarnai serat. 2. Zat warna reaktif yaitu warna yang memerlukan obat bantu pokok supaya dapat mewarnai serat.

Hennek membagi zat warna menjadi dua bagian menurut warna yang ditimbulkannya yaitu : 1. Zat warna monogenetik, apabila memberikan hanya saru warna. 2. Zat warna Poligenetik, apabila memberikan beberapa jenis warna

Tetapi penggolongan yang umum adalah berdasarkan konstitusinya yaitu Color Index volume 3, atau berdasarkan bentuk kimia zat warna. Penggolongan lain yang penting pula terutama bagi pencelupan adalah pembagian menurut cara pemakaiannya.

PENDAHULUAN

Zat warna juga diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam. Zat warna yang diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam sering disebut dengan pigment (tahun 1935 mulai dikenal pigmen yang mempunyai kromofor). Beberapa contoh warna pigment yang berasal dari senyawa anorganik dan mineral alam adalah sebagai berikut : Warna putih : Titanium dioksida, Seng oksida, Seng sulfit, Timbal sulfide. Warna merah : Besi oksida, Kadmium merah, Timbal merah, Toners & lak. Warna hitam : Graphite, Carbon black, Lengas lampu, Magnetite black. Warna biru : Ultramine, Cobalt biru, Besi biru, Tembaga Pthalocyanine. Warna kuning : Seng kromat, Ferit kuning, Kadmium liyhopone, Ocher. Warna metalik : Aluminium, Debu seng, Serbuk Tembaga. Sedangkan pigmen dari senyawa organik misalnya ftalosianina, monoazo, diazo, antrakuinon, tioindigo, dan sebagainya.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN

zat aditif makanan di definisikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Disini zat aditif makanan sudah termasuk : pewarna, penyedap, pengawet, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal. Istilah zat aditif sendiri mulai familiar di tengah masyarakat Indonesia setelah merebak kasus penggunaan formalin pada beberapa produk olahan pangan, tahu, ikan dan daging yang terjadi pada beberapa bulan belakangan. Formalin sendiri digunakan sebagai zat pengawet agar produk olahan tersebut tidak lekas busuk/terjauh dari mikroorganisme. Penyalahgunaan formalin ini membuka kacamata masyarakat untuk bersifat proaktif dalam memilah-milah mana zat aditif yang dapat dikonsumsi dan mana yang berbahaya.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN


Secara umum, zat aditif makanan dapat dibagi menjadi dua yaitu : 1. aditif sengaja, yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, seperti untuk meningkatkan nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa, dan lain sebagainya. 2. aditif tidak sengaja, yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.

Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten, asam askorbat, dan lain-lain.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN

Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan manusia. Beberapa Contoh Zat Aditif Zat aditif makanan telah dimanfaatkan dalam berbagai proses pengolahan makanan, berikut adalah beberapa contoh zat aditif :

Zat aditif
Pewarna

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN


Contoh
Daun pandan (hijau), kunyit (kuning), buah Pewarna alami coklat (coklat), wortel (orange) Sunsetyellow FCF (orange), Carmoisine (Merah), Brilliant Blue FCF (biru), Tartrazine (kuning), dll Pewarna sintesis

Keterangan

Pengawet

Natrium benzoat, Natrium Nitrat, Asam Sitrat, Asam Sorbat, Formalin

Terlalu banyak mengkonsumsi zat pengawet akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit

Penyedap

Pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar Penyedap alami Mono-natrium glutamat/vetsin (ajinomoto/sasa), asam cuka, benzaldehida, amil asetat, dll Penyedap sintesis

Antioksidan Pemutih

Butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluena (BHT), tokoferol Hidrogen peroksida, oksida klor, benzoil peroksida, natrium hipoklorit

Mencegah Ketengikan Baik dikonsumsi penderita diabetes, Khusus siklamat bersifat karsinogen Menjadi lebih asam, lebih basa, atau menetralkan makanan Ditambahkan ke dalam pangan dalam bentuk bubuk

Pemanis bukan gulaSakarin, Dulsin, Siklamat

Pengatur keasaman Aluminium amonium/kalium/natrium sulfat, asam laktat Anti Gumpal Aluminium silikat, kalsium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN

Makanan yang berwarna-warni merupakan daya tarik yang paling utama di kalangan anak-anak. Mereka terkadang tidak memperdulikan bagaimana rasa makanan atau minuman yang ingin mereka beli. Kadangkala aroma yang wangi, rasa yang lezat, dan tekstur yang lembut bisa jadi akan diabaikan jika warna dari makanan itu tidak menarik atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari makanan itu.

Apa sih bahan pewarna makanan itu?


Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni pewarna alami dan pewarna buatan. Di Indonesia, penggunaan zat pewarna untuk makanan (baik yang diizinkan maupun dilarang) diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 235/MenKes/Per/VI/79 dan direvisi melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai bahan tambahan makanan.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN

Pewarna alami diperoleh dari tanaman ataupun hewan yang berupa pigmen. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: Klorofil (terdapat pada daun-daun berwarna hijau), Karotenoid (terdapat pada wortel dan sayuran lain berwarna oranye-merah). Umumnya, pigmen-pigmen ini bersifat tidak cukup stabil terhadap panas, cahaya, dan pH tertentu. Walau begitu, pewarna alami umumnya aman dan tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh. Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN

Beberapa contoh pewarna buatan yaitu : Warna kuning : tartrazin, sunset yellow Warna merah : allura, eritrosin, amaranth. Warna biru : biru berlian Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan segera pudar ketika mengalami proses penggorengan.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN


Apakah bahan pewarna buatan berbahaya bagi kesehatan ?

Bahan perwarna dapat membahayakan kesehatan bila pewarna buatan ditambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan, atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama. Perlu diperhatikan bahwa pada saat ini banyak pengusaha nakal yang menggunakan zat-zat pewarna berbahaya yaitu zat pewarna bukan untuk makanan (non food grade). Misalnya, pemakaian zat pewarna tekstil atau kulit. Selain itu, terjadi juga penggunaan bahan pewarna buatan dengan dosis tidak tepat. Halhal tersebutlah yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN


Bagaimana cara menghindari penggunaan zat warna buatan dalam produk makanan ?. 1. Setiap kali membeli produk makanan, baca jenis dan jumlah pewarna yang digunakan dalam produk tersebut. 2.Perhatikan label pada setiap kemasan produk. Pastikan di label itu tercantum izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang tertulis: POM dan Nomor izin pendaftaran. Atau jika produk tersebut hasil industri rumah tangga maka harus ada nomor pendaftarannya yang tertulis : P-IRT dan nomor izin pendaftaran. 3. Untuk produk makanan yang tidak dikemas secara khusus, sebaiknya pilih makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok, karena kemungkinan warna tersebut berasal dari bahan pewarna bukan makanan (non food grade) seperti pewarna tekstil.

SEKILAS ZAT ADITIF PEWARNA MAKANAN


Berikut ini beberapa alasan utama menambahkan zat pewarna pada makanan (Syah et al. 2005) : 1. Untuk memberi kesan menarik bagi konsumen. 2. Menyeragamkan warna makanan dan membuat identitas produk pangan. 3. Untuk menstabilkan warna atau untuk memperbaiki variasi alami warna. Dalam hal ini penambahan warna bertujuan untuk untuk menutupi kualitas yang rendah dari suatu produk sebenarnya tidak dapat diterima apalagi bila menggunakan zat pewarna yang berbahaya. 4. Untuk menutupi perubahan warna akibat paparan cahaya, udara atau temperatur yang ekstrim akibat proses pengolahan dan selama penyimpanan. 5. Untuk menjaga rasa dan vitamin yang mungkin akan terpengaruh sinar matahari selama produk disimpan.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL


Ditinjau Dari sumber diperolehnya zat warna tekstil dibedakan menjadi 2 yaitu: 1. zat pewarna alam, diperoleh dari alam yaitu bersal dari hewan (lac dyes) ataupun tumbuhan dapat berasal dari akar, batang, daun, buah, kulit dan bunga. 2. Zat pewarna sintetis adalah zat warna buatan (zat warna kimia) . Oleh karena banyaknya Zat warna sintetis ini maka untuk pewarnaan batik harus dipilih zat warna yang: a. Pemakaiannya dalam keadaan dingin atau jika memerlukan panas suhu proses tidak sampai melelehlan lilin. b. Obat bantunya tidak merusak lilin dan tidak menyebabkan kesukaran kesukaran pada proses selanjutnya.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhantumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (ceriops candolleana arn), kayu tegeran (cudraina Javanensis), kunyit (curcuma), teh (the), akar mengkudu (morinda Citrifelia), kulit soga jambal (pelthophorum ferruginum), kesumba (bixa orelana), daun jambu biji (psidium Guajava). (Sewan Susanto,1973) Menurut R.H.MJ. Lemmens dan N Wulijarni-Soetjipto dalam bukunya Sumber Daya Nabati Asia Tenggara Nn.3 (tumbuhantumbuhan penghasil pewarna dan tannin,1999), sebagian besar warna dapat diperoleh dari produk tumbuhan, di dalam tumbuhan terdapat pigmen tumbuhan penimbul warna yang berbeda tergantung menurut struktur kimianya. Pada umumnya olongan pigmen tumbuhan adalah klorofil, karotenoid, flovonoid dan kuinon.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL


Pewarna nabati yang digunakan untuk mewarnai tekstil dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe menurut sifatnya : 1. Pewarna langsung dari ikatan hydrogen dengan kelompok hidroksil dari serat; pewarna ini mudah luntur contohnya (kurkumin) 2. Pewarna asam dan basa yang masing-masing berkombinasi dengan kelompok asambasa wol dan sutra; sedangkan katun tidak dapat kekal warnanya jika diwarnai; contohnya adalah pigmenpigmen flavonoid. 3. Pewarna lemak yang ditimbulkan kembali pada serat melalui proses redoks, pewarna ini seringkali memperlihatkan kekekalan yang istimewa terhadap cahaya dan pencucian (contohnya tarum). 4. Pewarna mordan yang dapat mewarnai tekstil yang telah diberi mordan berupa senyawa etal polivalen; pewarna ini dapat sangat kekal contohnya alizarin dan morindin.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Dalam pencelupan dengan zat warna alam pada umumnya diperlukan pengerjaan mordanting pada bahan yang akan dicelup / dicap dimana proses mordanting ini dilakukan dengan merendam bahan ke dalam garamgaram logam, seperti aluminium, besi, timah atau krom. Zat-zat mordan ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga afinitas zat warna meningkat terhadap serat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian perubahan sifat fisika dan kimia kain sutera akibat pewarna alami kulit akar mengkudu yang dilakukan Tiani Hamid dan Dasep mukhlis (2005) menunjukkan bahwa penggunaan mordan dapat mengurangi kelunturan warna kain terhadap pengaruh pencucian. Hal ini menunjukkan senyawa mordan mampu mengikat warna sehingga tidak mudah luntur.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Pemanfaatan zat warna alam pada umumnya masih menggunakan teknik pencelupan untuk mewarnai bahan tekstil. Oleh karena itu perlu untuk dikembangkan penggunaan zat warna alam dengan teknik pencapan sablon. Hal ini didasari bahwa teknik pencapan sablon telah memasyarakat sehingga mudah dipelajari disamping itu akan dapat memperpendek waktu produksi jika digunakan untuk membuat motif batik pada kain oleh para pengrajin.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

BAHAN PEWARNA SINTETIK Bahan pewarna makanan terdiri dari dua jenis yaitu yang alami dan sintetik berikut disamping hanya yang sintetik saja. Bahan pewarna sintetik yang telah dihasilkan para ahli kimia berasal dari Coal Tar, yang jumlahnya ratusan. Pewarna sintetik yang juga disebut pewarna buatan, banyak disenangi oleh industri pangan maupun non pangan (tekstil, kulit dan kertas). Dari ratusan pewarna sintetik tersebut terdapat beberapa bahan pewarna yang bersifat toksik atau racun, bahkan ada yang bersifat karsinogenik (dapat menstimulir timbulnya kanker), Rhodamin B yang berwarna merah adalah salah satunya. Disamping Rhodamin B yang telah dilarang digunakan dalam makanan adalah Amarath (merah) dan Methanil Yellow (kuning).

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

BAHAN PEWARNA SINTETIK Ada segi istimewanya zat pewarna tersebut karena murah harganya, mudah larut dan menyebar serta memberi warna cerah yang merata, membuat warna makin lebih menarik, dan menyebabkan warna asli produk yang luntur atau hilang atau berubah selama proses pengolahan. Sebaiknya para industri makanan menggunakan bahan pewarna alami atau pewarna yang Food Grade tetapi untuk pakar-pakar dengan mudah membedakan Food Grade atau yang beracun a Cara analisa Rhodamin B tidaklah sangat sulit, terutama bila masih dalam bentuk asli (belum dicampur)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL


UJI BAHAN PEWARNA MAKANAN Di berbagai negara yang maju sebelum zat pewarna sintetik dapat digunakan dalam makanan, harus terlebih dahulu lolos dari berbagai prosedur pengujian. Test yang harus dijalankan meliputi pengujian kimia, biokimia toksikalogi dan analisis terhadap media tersebut. Bila lolos uji zat pewarna tersebut baru dapat digunakan penggunaannya dalam makanan. Zat pewarna kemudian disebut Permitted Color atau Certified Color atau Food Grade Colouring Agent.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL


UJI BAHAN PEWARNA MAKANAN Proses pembuatan zat warna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat dan asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh logam berat seperti arsen, atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir harus melalui suatu senyawa antara dulu, yang kadang-kadang berbahaya. Sering kali dalam proses reaksi tersebut terbentuk senyawa baru yang berbahaya yang lebih tertinggal sebagai residu dalam bahan pewarna tersebut. Setelah lolos berbagai uji dan tes tersebut, zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan logam arsen tidak boleh lebih dari 0,00014% dan timbal tidak boleh lebih dari 0,001% sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL


UJI BAHAN PEWARNA MAKANAN Di Perdagangan Internasional, informasi detail mengenai zat warna Food Grade dapat dilihat pada dokumen Codex Alimentarius Commission (kunjungi situs CAC : http://www.codexalimemtarius.net) dan di Indonesia peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diijinkan dan dilarang dalam makanan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 235 Menkes/Per/VI/79 dan yang telah direvisi melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 722 Menkes/Per/IXI/80 mengenai Bahan Tambahan Makanan.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL


RHODAMIN B Rhodamin B merupakan zat pewarna sintetik yang berbahaya. Rumus kimia Rhodamin B seperti terlihat pada gambar (a) di bawah ini dan absorpsi serta Flourescene Imission Spektra seperti tertera dalam gambar di samping. (a) C28 H31 N2O3Cl Toksisitasnya : Termasuk bahan kimia berbahaya (harmful). Berbahaya bila tertelan, terhisap pernapasan atau terserap melalui kulit. Toksisitasnya adalah ORL - RAT LDLO 500 mg Kg-1.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

RHODAMIN B DALAM MAKANAN Rhodamin B merupakan zat warna yang berbahaya yang sering disalahgunakan mewarnai berbagai makanan dan minuman. Rhodamin B demikian juga Methanil Yellow dan Amaranth telah dilarang penggunaannya dalam makanan. Winarno 1989, melaporkan hasil penelitiannya terhadap berbagai jenis minuman rakyat yang termasuk kategori " Sheet Food" dii daerah. Tanggal 26 Juni 2002 Harian Kompas memuat tulisan mengenaii Makanan Yang Mengandung "Rhodamin B", agar persepsi masyarakat lebih jelas mengenai rhodamin B.

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Tabel perbedaan antara zat pewarna sintetis dan alami Pembeda Zat pewarna Sintetis Zat pewarna alami Lebih pudar Tidak homogen Sedikit Lebih mahal Terbatas Kurang stabil

Warna yang dihasilkan Lebih cerah Lebih homogen Variasi warna Harga Ketersediaan Kestabilan Banyak Lebih murah Tidak terbatas Stabil

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Tujuan pembuatan pewarna sistetis agar proses pewarnaan kain menjadi lebih mudah, cepat, menarik, dan ekonomis. Namun sayang akibat prosedur standar banyak dilanggar akibatnya terjadi pencemaran lingkungan dan turunnya kualitas produk kain. Bahaya lainnya para perajin atau buruh textile rawan terkena gangguan kesehatan sebagai efek samping penggunaan pewarna sistetis / buatan secara terus menerus. Berikut pembagian kelas pewarna sintetis atau pewarna buatan untuk produk textile seperti kain, batik, pakaian, celana, jeans : Acid Dye , cocok untuk kain yang berasal dari jenis serat seperti sutera, wool, alpaca, mohair dan nilon. Berdasar struktur dan kelas kimianya maka pewarna acid dikategorikan dalam jenis anthraquinone ( warna biru ), azo ( warna merah ), dan triphenylmethane ( warna kuning dan hijau ).

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Acid Dye , biasanya berbentuk bubuk atau serbuk. Citric Acid juga merupakan salah satu Acid yang juga untuk pelezat makanan. Prosesnya menggunakan tehnik Batch. Acid Yellow G (Yellow 1) Acid Metanil Yellow (Yellow 36) Acid Orange Gt (Orange 3) Acid Brown Rd (Brown 14) Acid Dark Brown Sg (Brown 349) Acid Geranine 2g Conc (Red 1) Acid Fast Scarlet B (Red 4) Acid Milling Red Rs 200% (Red 114) Acid Pink Be (Red 186) Acid Red 184 Acid Violet 4 Bh 200% (Violet 17) Acid Green 88 Acid Black 10bx (Black 1) http://www.indiamart.com/megha-international/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Basic Dye untuk pewarnaan kain jenis acrylic yaitu kain sintetis yang dibuat dari bahan polimer / polymer / polyacrylonitrile. Basic Auramine (Basic Yellow 2 200% / 160%) Basic Chrysodine Y (Basic Orange) Basic Methl Violet (Basic Violet 1 125%) Basic Rhodamine (Basic Violet 10 500% / 540%) Basic Malachite Green (Basic Green 4) Basic Bismark Brown G (Basic Brown 1 140% Basic Bismark Brown R (Basic Brown 4 140% Basic Chrysodine (Basic Orange) http://www.indiamart.com/meghainternational/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Direct Dye biasa digunakan bersama sodium chloride ( NaCl ) dan sodium sulfate (Na2SO4). Berasal dari pengolahan alkaline. Cocok untuk pewarnaan kain katun ( cotton ) , kulit, dan kertas. Juga dipakai untuk indikator keasaman atau pH. Direct Sky Blue (Blue 1) Direct Sky Blue (Blue 15) Direct Blue (Blue 54) (Against D. Blue 6 - Benzidine) Direct Light Blue (Blue 71) Direct Turq Blue (Blue 86) Direct Blue 113 200% (Blue 113) Direct Turq Fbl (Blue 199) Direct Orange Se (Orange 26) Direct Orange Tgl (Orange 34) Direct Orange Tgll (Orange 39) Direct Yellow 3gx (Yellow 6) Direct Chrysophonine G (Yellow 12) Direct Fast Yellow Gc (Yellow 44)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Direct Dye Direct Yellow A (Yellow 86) Direct Yellow 27 Direct Yellow 28 Direct Scarlet 4bs (Red 23) Direct Red 12 B (Red 31) Direct Cotton Red N (Red 67) Direct Red 80 (Red 80) Direct Red 4bH / Conc (Red 81) Direct Red 111 Direct Brill Violet (Violet 9) Direct Brill Helio B (Violet 51)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Direct Dye Direct Brown Mn (Brown 422) Direct Brown (Brown 494) Direct Black G (Black 19) Direct Black Nb 600% (Black 22) Direct Blue Nb 1000% (Black 22) Direct Dvp Black Op (Black 80) Direct Black Bf (Black 155) Direct Black Nb Bhg (Black 165) Direct Black Fb (Black 168) Direct Green Nb B (Green 96) Direct Yellow 142 http://www.indiamart.com/meghainternational/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Mordant Dye atau Chrome Dye merupakan pewarna sintetis untuk tehnik pewarnaan metode chrome. Penggunaan tehnik mordant dibagi tiga metode yaitu Pre-mordanting, Meta-mordanting, dan Postmordanting. Ketiga metode tersebut menghasilkan efek warna yang berbeda. Penggunaan mordant untuk mewarnai juga melihat jenis kain yang akan diberi warna. Kain dari bahan katun jelas berbeda tehnik pewarnaan dengan kain wool ataupun sutera. Bahan kimia lain yang dibutuhkan dalam proses pewarnaan mordant adalah sodium sulphate, acetic, formic acid, lactic acid, sodium thiosulphate, Na atau K dichromate. Mordant Yellow 12 Mordant Yellow 10 Mordant Orange 1 Mordant Orange 6

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Mordant Dye atau Chrome Dye Mordant Red 7 Mordant Brown 33 Mordant Brown 1 Mordant Green 17 Mordant Black 11 Chrome Yellow 2GN Chrome Yellow G Chrome Orange R Chrome Orange Chrome Red F Chrome Red ER Chrome Brown RR Chrome Brown BBN Chrome Green PLS Chrome Black T Chrome Khaki http://www.indiamart.com/megha-international/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Reactive Dye, digunakan untuk mewarnai kain jenis vinyl dan katun. Pertama dijual secara komersial pada tahun 1956. Saat mewarnai menggunakan suhu 40 hingga 80 derajat Celsius, setelah selesai kain dicuci dalam suhu 100 derajat Celsius. Berbentuk cair. A. Cold Brand Reactive Yellow M4g (Yellow 22) Reactive Orange M2r (Orange 4) Reactive Red M5b (Red 2) Reactive Red M&b (Red 11) Reactive Blue Mr (Blue 4)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

B. Reactive Hot Brand Reactive Red H8b (Red 31) Reactive Red 6bx (Red 76) Reactive Orange H2r (Orange 13) Reactive Golden Yellow Hr (Orange 12) Reactive Black Hn (Black 8) Reactive Blue H5r (Blue 13) Reactive Purple H3r (Violet 1) Reactive Magenta Hb Reactive Yellow H4g (Yellow 18) Reactive Red Brown H4r (Brown 9) Reactive Blue H5g (Blue 25) Reactive Blue Ha (Blue 71) Reactive Navy Blue Hrx (Blue 59)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

C. Reactive High Exhaustive Dyes (HE) Reactive Green He4bd (Green 19) Reactive Golden Yellow Her (Yellow 84) Reactive Yellow He4g (Yellow 81) Reactive Orange Her (Orange 84) Reactive Orange He2r (Orange 94) Reactive Red He7b (Red 141) Reactive Red He8b (Red 152) Reactive Navy Blue Her (Blue 171) Reactive Yellow He6g (Yellow 135)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

D. Reactive ME (Bifunctional) Dyes Reactive Red 3bn (Red 180) Reactive Red Me4b (Red 195) Reactive Red Me6bl Reactive Golden Yellow Mer (Yellow 145) Reactive Black Gr Reactive Navy Blue Mehb (Blue 194) Reactive Navy Blue Gg (Blue 203) Reactive Turq Blue Bgf (Blue 231) Reactive Orange Me2rl

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

E. Reactive Vinyl Sulphone Based Reactive Yellow (Yellow 42) Reactive Yellow (Yellow 24) Reactive Yellow (Yellow 15) Reactive Yellow (Yellow 37) Reactive Yellow (Yellow 154) Reactive Orange (Orange 16) Reactive Brown Gr (Brown 18) Reactive Dark Blue Hr (Blue 89) Reactive Red 5b (Red 35) Reactive Red C2g (Red 106) Reactive Golden Yellow G (Yellow 17) Reactive Red Hrbl (Red 198) Reactive Bordeax B (Red 49)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

E. Reactive Vinyl Sulphone Based Reactive Violet 5r (140%) (Violet 5) Reactive Turq Blue G 133% (Blue 21) Reactive Turq Blue G 160% (Blue 21) Reactive Green 6b (Blue 38) Reactive Blue 3r (Blue 28) Reactive Black B (Black 5) http://www.indiamart.com/meghainternational/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Sulfur Dye, untuk mewarnai kain katun menjadi gelap. Prosesnya dengan direbus dalam suhu tinggi. Saat proses oksidasi digunakan hydrogen peroxide, bromate, dan iodate. Solvent Dye Solvents Yellow 2rls (Solvent Yellow 62) Solvents Yellow R(Solvent Yellow 82) Solvents Yellow Gl (Solvent Yellow 90) Solvents Orange Re (Solvent Orange 54) Solvents Orange Rl(Solvent Orange 58) Solvents Orange 2r(Solvent Orange 62) Solvents Orange R (Solvent Orange 99) Solvents Red Bb (Solvent Red 8)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Solvent Dye Solvents Fire Red Gls (Solvent Red 89) Solvents Fire Red G (Solvent Red 119) Solvents Red B (Solvent Red 122) Solvents Red 2bl(Solvent Red 132) Solvents Pink 5blg (Solvent Red 127) Solvents Black Re(Solvent Black 27) Solvents Black Rl (Solvent Black 29) Solvents Black Rbl (Solvent Black 34) Solvents Blue 2gln (Solvent Blue 48) Royal Blue Cadboury Violet Brown 2rm Dark Brown 5r Greel Gl http://www.indiamart.com/megha-international/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Pigments Dye, selain digunakan untuk memberi warna kain pigment juga untuk memberi warna pada bahan dasar cat, sabun, wax, deterjen, dll. Pigments Phthalocanine Green (Green 7) Pigments Blue Alfa (Blue 15.0) Pigments Blue Alfa (Blue 15:1) Pigments Blue Beta (Blue 15:3) Pigments Fast Yellow G (Yellow 1) Pigments Yellow 10G (Yellow 3) Pigments Yellow OP/TR (Yellow 12) Pigments Fast Yellow GRX (Yellow 13) Pigments Yellow GRT (Yellow 14) Pigments Yellow 5GSC (Yellow 74) Pigments Orange 5SC (Orange 5) Pigments Orange SC (Orange 13)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Pigments Dye, Pigments Orange GR (Orange 34) Pigments Red SC (Red 3) Pigments Signal Red SC (Red 4) Pigments Red F4R (Red 8) Pigments Bordeaux (Red 12) Pigments Red Toner (Red 48) Pigments Red SC (Red 49) Pigments Red SC/CT (Red 53) Pigments Rubine Red SC/DD (Red 57) Pigments Maroon Toner (Red 63) Pigments Fast Red SC (Red 112) Pigments Violet (Violet 23)

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Pigments Dye, Pigments for Paint Industries Emulsion Yellow 2G Emulsion Red F9R Emulsion Red FGR Emulsion Violet FFR Emulsion Blue FFG Emulsion Green FB Emulsion Black FKK Common Colours for Soaps & Detergents are Blue Green Red http://www.indiamart.com/meghainternational/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Napthols biasanya untuk memulihkan warna kain jeans yang mulai pudar. Bisa berbentuk serbuk atau cairan. Untuk menstabilkan naptol saat pewarnaan digunakan caustic soda dan formalin. Napthol As Napthol Asbo Napthol Asbs Napthol Asd Napthol Asg Napthol Astr Napthol Ase Napthol Asol http://www.indiamart.com/meghainternational/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Fast Salt digunakan sebagai tinta pewarna dalam proses pewarnaan print dengan mesin printing. Fast Salts Fast Blue Fast Bordeaux Gp Salt Fast Red B Salt Fast Orange Gc Salt Fast Red Rd Salt Fast Red Tr Salt Fast Scarlet G Salt Fast Scarlet Ggs Salt Fast Scarlet R Salt Fast Scarlet Rc Salt Fast Red 3gl Salt

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Fast Salt Fast Bases Fast Blue Fast Bordeaux Gp Base Fast Red B Base Fast Orange Gc Base Fast Red Rc Base Fast Red Tr Base Fast Scarlet G Base Fast Scarlet Ggs Base Fast Scarlet R Base Fast Scarlet Rc Base Fast Yellow Gc Base Fast Garnet Gbc Base http://www.indiamart.com/meghainternational/chemicals.html

SEKILAS ZAT WARNA ALAM UNTUK TEKSTIL

Rhodamine, nama ini sudah tidak asing ditelinga kita karena juga disalahgunakan untuk mewarnai makanan. Rodamine merupakan senyawa kimia murni yang berbahaya jika ditelan apalagi dalam waktu yang lama. Efek warna rodamine bersifat fluorine / fluorescents yaitu cerah menyala. Rhodamine dibagi menjadi Rhodamine B ( Rhodamine 610, C.I. Pigment Violet 1, Basic Violet 10, or C.I. 45170 ), Rhodamine 6 G, Rhodamine 123