Anda di halaman 1dari 14

Dimensi-Dimensi Komunikasi Organisasi

Komunikasi dalam organisasi tidak akan terlepas dari bentuk komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Betapa pentingnya komunikasi internal dalam membina hubungan antarindividu di dalam organisasi di mana masing-masing anggota memiliki berbagai kepentingan tetapi memiliki tujuan untuk kepentingan bersama. Demikian pula dengan komunikasi eksternal dalam membina hubungan dengan pihak khalayak di luar organisasi.

A. Bentuk-Bentuk Komunikasi Organisasi


1. Komunikasi interal adalah pertukaran gagasan diantara para administrator dan karyawan mereka dalam suatu perusahaan atau jabatan tersebut lengkap dengan struktur yang khas dan pertukaran secara horizontal dan vertical dalam suatu perusahaan yang menyebabkan pekerjaan berlangsung. 2. Komunikasi eksternal adalah komunikasi anatara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi.

B. Dimensi-Dimensi Komunikasi Internal dan Eksternal


Komunikasi internal 1. Komunikasi vertikal, yaitu pertukaran gagasan diantara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, lengkap dengan struktur yang khas (downward dan upward). 2. Komunikasi horizontal, yaitu berbagai informasi diantara rekan sejawat dalam satu unit pekerjaan yang sama. 3. Komunikasi diagonal. Komunikasi eksternal 1. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. 2. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi.

C. Downward Communication
Yaitu komunikasi dari atas ke bawah yang artinya informasi yang berlangsung secara formal dari seseorang yang memiliki wewenang atau kedudukan lebih tinggi kepada orang yang kedudukannya lebih rendah. Terdapat lima jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan ke bawahan (Khan dan Katz, 1966 dalam Pace) dalam Yenny dkk (2004: 4.4), yaitu: 1. How to job adalah jenis informasi yang menyangkut bagaimana kita melaksanakan tugas atau pekerjaan. Perintah/instruksi dapat berupa pemberitahuan, petunjuk, penjelasan dan job description. 2. Rationale for doing jobs adalah jenis informasi mengenai atas dasar alasan apa kita melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kita. Dalam hal ini, suapya karyawan memahami bagaimana dia bekerja yang berkaitan dengan tugas lainnya.

3. Organizational policies dan practices adalah jenis informasi mengenai kebijakan dan pentunjuk-pentunjuk praktis. Dalam hal ini, karyawan diberikan informasi mengenai jam kerja, gaji, pemutusan hubungan kerja, asuransi, cuti, insentif, sanksi dan sebagainya. 4. Employee performance yaitu jenis informasi mengenai kinerja karyawan, bagaimana karyawan melaksanakan pekerjaannya dengan baik untuk efisien dan efektifnya tujuan organisasi. 5. Mission of the organization adalah informasi untuk mengembangkan kesamaan misi.

D. Pemilihan Metode dan Media


Menurut Level dalam pace dan Faules (2000), ada empat metode, yaitu dalam memberikan informasi ke bawah. 1. Lisan saja: Metode lisan saja dinilai paling efektif dalam situasi yang mencakup teguran dan mendamaikan perselisihan tetapi paling tidak efektif dalam enam situasi lainnya meskipun empat dari enam situasi juga dinilai paling efektif untuk kombinasi metode lisan diikuti tulisan. 2. Tulisan saja: Metode tulisan saja dinilai paling efektif bila diperlukan informasi untuk tindakan yang akan dating, bila informasinya umu dan bila tidak diperlukan kontak pribadi. 3. Tulisan diikuti lisan: Metode tulisan diikuti lisan tidak dinilai paling efektif atau paling tidak efektif bagi setiap situasi. 4. Lisan diikuti tulisan: Metode lisan diikuti tulisan dinilai paling efektif dalam enam dari sepuluh situasi dan tidak pernah dinilai tidak sesuai dengan situasi apapun. Lebih jauh, Pace dan Faules (2000) menyatakan bahwa ada enam kriteria yang sering digunakan untuk memilih metode penyampaian informasi kepada para pegawai 1. Ketersediaan: Metode-metode yang tersedia dalam organisasi cenderung digunakan setelah melakukan inventarisasi pada metode yang tersedia, maka organisasi dapat memutuskan metode yang ditambahkanuntuk suatu program. 2. Biaya: Metode yang dinilai biayanya paling murah cenderung dipilih untuk penyebaran informasi yang rutin dan tidak mendesak, sebaliknya bila penyebaran informasi itu tidak rutin dan mendask maka metode yang lebih mahal dan lebih cepat yang digunakan. 3. Pengaruh: Metode yang tampaknya member pengaruh atau kesan paling besar sering dipilih daripada metode yang baku. 4. Relevansi: Metode yang tampak paling relevan dengan tujuan yang ingin dicapai akan lebih sering dipilih. Bila tujuannya singkat dan sekedar menyampaikan informasi dapat dilakukan dengan pembicaran diikuti oleh memo. Bila tujuannya menyampaikan masalah yang rinciannya multi metode yang mungkin akan akan dipilih. 5. Respons: Metode yang dipilih akan dipengaruhi oleh ketentuan apakah dikehendaki atau diperlukan respon khusus terhadap informasi tersebut. 6. Keahlian: Metode yang tampaknya sesuai dengan kemampuan pengirim untuk menggunakannya dan dengan kemampuan penerima untuk memahaminya cenderung digunakan daripada metode yang tampaknya di luar kemampuan komunikator atau di luar kemampuan pemahaman pegawai yang menerimanya.

E. Upward Communication
1. Yaitu informasi yang berlangsung dari seseorang yang memiliki kedudukan lebih rendah kepada yang lebih tinggi. 2. Fungsi dan argumentasi untuk komunikasi ke atas:Arus informasi ke atas memasok informasi berharga bagi pengambilan keputusan pemegang organisasi dan kegiatan supervisi lainnya (Sharma, 1979 dalam Pace).

Komunikasi ke atas membuat supervisor tahu ketika bawahan menyampaikan infor-masi dan bagaimana baiknya menerima masukan dari bawahan (Planty dan Machaver, 1952 dalam Pace). Mendorong omelan dan keluhan kepermukaan, dan supervisor mengetahui siapa yang terbuka dan yang lebih tertutup untuk operasi aktual (Conby, 1976 dalam pace). Komunikasi ke atas memperkuat penghargaan dan kesetiaan terhadap organisasi dan merupakan suatu kesempatan untuk meminta pertanyaan dan sumbangan ide serta saran tentang operasi organisasi (Planty dan Machaver, 1952 dalam Pace). Komunikasi ke atas membolehkan supervisor untuk menetapkan apakah bawahan memperoleh pengertian yang dimaksudkan dari arus informasi ke bawah (Planty dan Machaver, 1952 dalam Pace). Membantu karyawan menanggulangi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan dalam pekerjaan mereka dan organisasi (Harriman, 1974 dalam Pace).

F. Komunikasi Horisontal
Komunikasi horizontal yaitu berbagai informasi diantara rekan sejawat dalam satu unit pekerjaan yang sama. Komunikasi horizontal yang merupakan komunikasi mendatar, misalnya anggota staf dengan anggota staf dan biasanya lebih informal. Bertujuan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Untuk koordinasi tugas. Berbagi informasi terhadap perencanaan dan kegiatan. Pemecahan masalah. Menjamin kesamaan pengertian. Mendamaikan, negosiasi dan menyatukan perbedaan. Mengembangkan dukungan interpersonal.

Metode komunikasi horizontal antaralain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pertemuan kepanitiaan Interaksi informal sewaktu istirahat Percakapan telepon Memo dan catatan Aktifitas sosial Lingkaran kualitas adalah suatu kelompok pekerja sukarela berbagai area pertanggungjawaban.

G. Komunikasi Diagonal

Komunikasi silang atau diagonal ini terjadi misalnya dalam suatu fakultas yang terdiri dari berbagai jurusan terjadi komunikasi anatara anggota satu jurusan dengan anggota jurusan lainnya. Ada tiga prinsip yang memperkuat peranan komunikasi staf khusus, yaitu: 1. Staf khusus harus dilatih dalam keahlian komunikasi. 2. Membutuhkan pengenalan penting dari peranan komuikasi mereka. 3. Managemen harus mengakui peranan staf khusus dan membuat lebih baik untuk mempergunakan dalam komunikasi organisasi.

H. Dimensi Komunikasi Internal


1. Komunikasi personal: Komunikasi yang berlangsung secara dialogis saling menatap, sehingga terjadi kontak pribadi. Sedangkan komunikasi persona beredia adalah komunikasi dengan menggunakan alat/media. 2. Komunikasi kelompok: Komunikasi anatara seorang dengan sekelompok orang lain dalam situasi tatap muka. Kelompok bisa besar atau kecil.

I. Dimensi Komunikasi Eksternal


1. Komunikasi dari ogranisasi ke khalayak: Komunikasi dari organisasi kepada khalayak pada umumnya bersifat informatif yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa ada keterlibatan, setidak-tidaknya ada hubungan batin. Kegiatan ini sangat penting misalnya dalam memecahkan suatu masalah. Bentuknya dapat seperti majalah organisasi, press release, artikel SK, pidato radio, pidato televisi, film documenter, selebaran, konferensi pers. 2. Komunikasi dari khalayak ke organisasi: Merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan komuikas yang dilakukan oleh organisasi. Jika informasi yang disebarkan kepada khalayak itu menimbulkan efek yang sifatnya controversial, maka disebut opini publik.

J. Komunikasi Managemen dalam Suatu Organisasi


Berbicara mengenai komunikasi dan managemen, maka komukasi akan tercermin dan merupakan fondasi dalam setiap unsure dalam proses managaemen, yaitu: 1. Planning, yaitu memikirkan sebelumnya apa yang akan kita kerjakan dengan sumber daya yang ada pada organisasi. 2. Organizing, yaitu rencana (maksud) untuk menentukan kegiatan yang lebih khusus yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan sasaran. 3. Directing, merupakan aspek tugas managemen yang lebih operasional yang melengkapi kekurangan dalam suatu perencanaan atau pengorganisasi. 4. Controlling, yaitu unsure-unsur penting dalam pengawasan sebagai sebuah proses termasuk pengukuran, perbandingan, pengambilan keputusan dan umpan balik atau tindakan kolektif.

K. Empat Proses dalam Komunikasi Managemen (Yenny, 2004: 4-22)

1. Asking, yaitu bertanya atau meminta informasi yang tidak kita miliki dari orang lain. 2. Telling sebelum kita understanding, kita harus terlebih dahulu memberitahukan atau mengirim pesan dalam bentuk telling. 3. Listening, yaitu kita harus mengerti apa yang disampaikan orang lain. 4. Understanding, untuk dapat memahami, maka kita perlu menyelami diri individu dan motivasi individu.

L. Struktur Organisasi
Yaitu merupakan bentuk organisasi secara keseluruhan yang merupakan gambaran mengenai kesatuan dari berbagai segemen organisasi yang masing-masing dipengaruhi oleh salah satu dari faktor-faktor yang tersebut diatas. Struktur organisasi digambarkan pada peta atau skema organisasi (organigramme, organization chart). Ada empat komponen dasar dalam memberikan definisi struktur organisasi, yaitu: 1. 2. 3. 4. Gambaran mengenai pembagian tugas. Gambaran mengenai hubungan pelaporan yang ditetapkan resmi Penetapan pengelompokkan individu menjadi bagian organisasi Penetapan sistem hubungan yang memungkinkan tercapainya komunikasi koordinasi dan integrasi.

M. Penugasan, Pelaporan dan Pengelompokkan


1. Hubungan pelaporan, dinyatakan dengan garis vertikal pada skema organisasi. Garis Vertikal menunjukkan siapa seorang individu yang harus melapor. 2. Alokasi tugas dan tanggungjawab, menunjukkan lingkup tugas serta tanggungjawab setiap jabatan. 3. Pengelompokkan menurut fungsi.

Tujuan/Sasaran Organisasi dan Keefektifan Organisasi


April 5, 2010 in Komunikasi, Resume | by Fatah H Sidik | 1 comment

A. Definisi (Menurut Lubis, Hari dan Martani Huseini, 1987: 19)


Goals adalah suatu keadaan di atau kondisi yang ingin dicapai oleh suatu organisasi. Dalam pengertian tersebut, sasaran dapat diartikan sebagai tujuan organisasi, baik tujuan jangka panjang atau jangka pendek, juga mencakup sasaran dari keseluruhan organisasi atau sasaran dari suatu bagian tertentu dari organisasi

B. Goal Menurut Para Ahli Teori Organisasi Modernist dan Rasional


1. Pandangan organisasi modernist: Official/resmi yang cenderung samar-samar dan umum. Dapat ditemukan di anggaran dasar perusahaan, laporan tahunan dan statement public

oleh para eksekutif dan juru bicara perusahaan; Operative yang lebih spesifik, di tuangkan dalam kebijakan dan prosedur yang dioperasikan langsung pada unit-unit khusus. 2. Pandangan rasional: Tujuan official merupakan suatu kerangka untuk mengembangkan tujuan operasional dan mempengaruhi aktifitas organisasi.

C. Alasan Pentingnya Sasaran Organisasi


Ada dua alasan yang menyebabkan sasaran organisasi menjadi penting, yaitu: 1. Dengan adanya tujuan, sesungguhnya menunjukkan eksistensi dari organisasi tersebut. 2. Tujuan atau sasaran itu penting bagi proses managemen yang dijalankan suatu organisasi. Dengan adanya sasaran atau tujuan tersebut, maka: 1. Memberikan legitimasi: Ijin atau akta pendirian merupakan pengakuan resmi (dari pemerintah) terhadap tujuan suatu organisasi, yaitu mengenai hak organisasi tersebut untuk mencapai tujuannya. Tujuan organisasi secara resmi diumumkan menunjukkan kepada pihak luar mengenai apa ataupun kondisi yang ingin dicapai oleh organisasi. 2. Memberikan arah pengembangan organisasi: Tujuan organisasi memberikan keterangan mengenai arah yang harus ditempuh oleh setiap anggota organisasi dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan. Adanya arah yang jelas dapat memberikan rangsangan bagi meningkatnya motivasi anggota organisasi dalam melaksanakan yang melaksanakan tugasnya. 3. Sebagai criteria mengukur performasi organisasi: Tujuan ataupun sasaran memberikan acuan untuk melakukan penilaian terhadap organisasi. 4. Untuk mengurangi ketidakpastian: Proses penetapan tujuan atau sasaran ini memberikan kesempatan bagi para pimpinan mendiskusikan berbagai pendapat yang berbeda, dan akhirnya menetapkan tujuan atau sasaran yang mendapat prioritas utama.

D. Jenis-Jenis Sasaran Organisasi


1. Sasaran resmi adalah kondisi yang secara resmi, kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi, alasan pembentukan organisasi dan nilai-nilai atau falsafah yang mendasari berdirinya prganisasi. 2. Sasaran yang sebenarnya diinginkan (operative goal) merupakan tujuan atau sasaran actual yang dalam praktek diikuti oleh organisasi.

E. Jenis Sasaran Aktual dalam Organisasi


1. Sasaran lingkungan (environmental goal) merupakan kondisi di mana suatu organisasiorganisasi lain yang terdapat pada lingkungannya. Sasaran lingkungan ini dapat juga dinyatakan sebagai kondisi di mana organisasi telah mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. 2. Sasaran output (output goal) mencerminkan jenis usaha yang dilakukan oleh organisasi.

3. Sasaran sistem (system goal) berhubungan dengan pemeliharaan atau perawatan organisasi sendiri yang menggambarkan ukuran, bentuk dan iklim organisasiyang dikehendaki untuk tercapai. 4. Sasaran produk (product goal) menggambarkan karakteristik produk atau jasa yang akan diberikan kepada konsumen. 5. Sasaran bagian (sub unit goal) menggambarkan sasaran dari suatu bagian ataupun satuan kerja yang merupakan bagian dari suatu organisasi.

F. Pengelolaan Berbagai Sasaran yang Saling Berlawanan


Ada berbagai cara, yaitu: 1. Menerima performansi yang secukupnya: Dengan cara ini, organisasi menerima performansi yang secukupnya, tidak mengusahakan performansi yang lebih baik, asalkan semua sasaran bisa dikelola secara simultan. 2. Perhatian bertahap: Organisasi berusaha mencapai sasaran yang dianggap paling penting terlebih dulu sesudah sasaran itu tercapai kemudian memusatkan perhatian pada sasaran lain secara berurutan. 3. Preferensi sasaran: Pada cara ini, pimpinan tertinggi telah menetapkan prioritas sasaran, sehingga setiap anggota mengetahui sasaran seperti apa yang yang harus didahulukan. 4. Perubahan sasaran: Pada cara ini, prioritas dari sasaran organisasi diubah secara periodik. Sasaran itu secara terus menerus dievaluasi, disesuaikan dengan keadaan lingkungan dan ditentukan tingkat kepentingannya bagi organisasi.

G. Pihak-Pihak yang Menentapkan Sasaran Organisasi


1. Pimpinan tunggal: Sasaran pada organisasi besar seringkali dipengaruhi pandangan dari pimpinan yang palign berpengaruh, walaupun secara resmi sasaran itu ditetapkan oleh beberapa orang yang merupakan kelompok pimpinan. 2. Koalisi: Merupakan kerjasama sekelompok anggota pimpinan organisasi untuk mempunyai pandangan yang sama mengenai nilai-nilai yang seharusnya diikuti organisasi yang juga selanjutnya menentukan tujuan atau sasaran yang akan dipilih.

H. Efektifitas Organisasi
Efektifitas adalah tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran yang ingin dicapai organisasi. Efisiensi adalah sebuah konsep yang bersifat lebih terbatas dan menyangkut proses internal yang terjadi dalam suatu organisasi. Efisiensi menunjukkan banyaknya input atau sumber yang diperlukan oleh organisasi,

I. Beberapa Pendekatan dalam Pengukuran Efektifitas Organisasi


1. Pendekatan sasaran: Di mulau dengan identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut. 2. Pendekatan proses: Sebagai efisiensi dan kondisi atau kesehatan dari organisasi internal.

3. Pendekatan sumber: Melalui keberhasilan organisasi dalam mendapatkan berbagai macam sumber yang dibutuhkannya.

Pengertian Budaya Organisasi


April 5, 2010 in Komunikasi, Resume | by Fatah H Sidik | Tinggalkan komentar

A. Definisi (Robbin, 1990: 479)


Terrence E. Deal dan Allan A Kennedy: the dominant values espored by an organization. RT Pascale dan AG Athos: the philosophy that guides an organizations policy toward employees and customers. Marvin Bower: the way this are done around here. Edgar H Schein: the basic assumptions and belief that are shared members of organization. Linda Smirch: pattern of beliefs, symbols, ritual, myths, and practices that evolve over time.

Tujuan budaya organisasi adalah melengkapi para anggota dengan rasa (identitas) organisasi dan menimbulkan komitmen terhadap nilai-nilai yang dianut organisasi. Dengan demikian, budaya organisasi merupakan penerapan nilai-nilai dalam suatu masyarakat yang terkait bekerja di bawah naungan suatu organisasi.

B. Cara Mempelajari Budaya Organisasi


1. Dalam bentuk cerita: Salah satu cara menyebarluaskan budaya organisasi adalah dengan cara melalui cerita. Cara ini berlangsung baik formal ataupun dengan informal. 2. Acara ritual: Acara ritual merupakan suatu bentuk penyampaian mengenai budaya organisasi. 3. Symbol material: Contoh pakaian merupakan salah satu materi atau barang-barang bersimbol yang me-nunjukkan status seseorang dalam organisasi. 4. Bahasa: Bahasa digunakan oleh organisasi secara keseluruhan atau oleh masing-masing bagian di dalam organisasi akan menunjukkan budaya kerja mereka.

C. Lapisan dalam Budaya Organisasi


Yenny dkk (2001) menjelaskan bahwa budaya organisasi umumnya terdiri dari: 1. Lapisan pertama yang disebut visible artifact termasuk di dalamnya adalah cara orang berperilaku, berbicara dan berdandan. Termasuk pula symbol-simbol yang dipakai, kegiatan protokoler dan cerita-cerita yang sering dibicarakan anggota organisasi. Hal biasa disebut identitas. 2. Laspisan kedua yang sesungguhnya disebut budaya budaya (invisible artifact), teridiri atas nilai-nilai pokok, filosofi, asumsi, kepercayaan dan proses berpikir suatu organisasi.

Sedangkan menurut Schein (dalam Hatch, 1997) menjelaskan bahwa budaya organisasi dapat ditemukan dalam tiga tingkatan/lapisan, yaitu: 1. artifact, di mana budaya bersifata kasat mata tetapi seringkali tidak dapat diartikan. 2. nilai yang memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi dari artifact, 3. asumsi dasar, di mana budaya diterima begitu saja (taken for granted), tidak kasat mata dan tidak disadari.

D. Karakteristik Budaya Organisasi


1. inisiatif individual meliputi tanggungjawab, kebebasan, yang dimiliki individu. 2. toleransi terhadap tindakan beresiko, yaitu sejauh mana para anggota dianjurkan untuk bertindak agresif, inovatif dan mengambil resiko. 3. arah, yaitu sejauh mana organisasi tersebut menciptakan dengan jelas sasaran dan harapan mengenai prestasi, 4. integrasi, yaitu tingkat sejauh mana unit-unit dalam organisasi didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi. 5. dukungan dari managemen, yaitu tingkat sejauh mana para manager memberikan komunikasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap bawahan. 6. kontrol, jumlah peraturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku anggota. 7. identitas, tingkat sejauh mana anggota mengindektifikasikan dirinya secara keseluruhan dengan organisasinya dibanding dengan kelompok kerja tertentu atau dengan bidang keahlian professional, 8. sistem imbalan, tingkat sejauh mana alokasi imbalan didasarkan atas kriteria prestasi pegawai sebagai kebalikan dari senioritas, sikap pilih kasih. 9. toleransi terhadap konflik, tingkat sejauh mana para anggota didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. 10. pola-pola komunikasi, tingkat sejauh mana komunikasi organisasi dibatasi oleh kewenangan formal. Dua faktor yang menjadikan budaya organisasi kuat untuk menuju pada keberhasilan organisasi, yaitu: 1. penyebaran nilai-nilai budaya, hal ini dimaksudkan agar seluruh SDM yang ada di dalam organisasi mengetahui secara jelas apa nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya organisasi. 2. tingkat komitmen anggota terhadap nilai-nilai yang ada.

E. Manfaat Budaya Organisasi yang Memberikan Kontribusi pada Organisasi


1. Sebagai pedoman dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan ruang lingkup intern organisasi. 2. Untuk menunjukkan keberadaan organisasi agar diketahui pihak eksternal dengan ciri khas yang dimiliki. 3. Sebagai acuan dalam perencanaan organisasi

4. Untuk pengembangan program-program usaha.

F. Macam-Macam Budaya yang Dapat Dikembangkan oleh Organisasi


Suatu studi yang dilakukan oleh Prof. Daniel R Denison menunjukkan bahwa ada empat macam budaya yang dapat dikembangkan organisasi/perusahaan, yaitu: 1. Budaya adaptasi: Ditandai oleh lingkungan yang tidak stabil dengan strategi terfokus pada kegiatan ekstern. 2. Budaya partisipasif: Budaya ini memfokuskan perhatian pada keterlibatan seluruh orang dalam organisasi terhadap perubahan lingkungan yang cepat. 3. Budaya misi: Ditandai oleh keadaan lingkungan yang relatif stabil. Dalam keadaan lingkungan yang stabil, organisasi mulai memperhatikan orang-orang di luar organisasi. 4. Budaya konsisten: Dikembangkan dalam corak lingkungan yang relatif stabil. Dalam keadaan tersebut, organisasi memperhatikan strateginya kearah intern organisasi.

G. Langkah-Langkah Pemeliharaan Budaya Organisasi


1. 2. 3. 4. 5. Motivasi dari pimpinan. Keteladanan pemimpin. Organisasi harus adaptif. Bimbingan dari pimpinan. Penjelasan pimpinan untuk selalu bekerjasama.

H. Apakah Budaya Organisasi dapat Berubah


Budaya organisasi dapat berubah, tetapi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Per-ubahan budaya organisasi memerlukan beberapa kondisi yang krusial. Waktu dan kondisi terus berputar, persaingan antarorganisasi, perubahan-perubahan pemerintah, perubahan ekonomi yang cepat dan teknologi yang baru adalah contoh kekuatan yang mungkin dapat mengger nilai suatu budaya.

Lingkungan Organisasi
April 4, 2010 in Komunikasi, Resume | by Fatah H Sidik | Tinggalkan komentar

A. Definisi
Menurut Lubis, Hari dan Martini Huseini (1987), secara lingkungan organisasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak terhingga dan mencakup seluruh elemen yang terdapat di luar organisasi. Secara lebih sempit, dapat diartikan sebagai seluruh elemen yang terdapat di luar batas-batas organisasi yang mempunyai potensi untuk mem-pengaruhi sebagian ataupun suatu organisasi secara keseluruhan.

B. Segmen-Segmen Lingkungan

1. industri: Mencakup seluruh organisasi lain yang bergerak di sektor yang sama dan merupakan saingan bagi organisasi. Corak dari segmen industry ini berpengaruh terhadap ukuran organisasi, intensitas promosi, jenis konsumen serta tingkat keuntungan dari seluruh organisasi yang bergerak disektor kegiatan tersebut. 2. bahan baku: Organisasi harus mendapatkan bahan baku dari lingkungannya yang kadangkadang lingkungan tidak menyediakan bahan baku dalam jumlah cukup atau kalaupun tersedia, harganya tinggi, sehingga dapat membahayakan organisasi. 3. tenaga kerja: Organisasi perlu mendapatkan tenaga kerja dengan tingkat keahlian, kualifikasi dan jumlah yang cukup. 4. keuangan: Segmen ini menggambarkan tingkat kemudahan untuk memperoleh sumber keuangan bagi organisasi. 5. pasar: Segmen ini menggambarkan besarnya permintaan konsumen terhadap produk atau pun jasa yang dihasilkan oleh organisasi. Segmen pasar berpengaruh terhadap organisasi melalui besarnya permintaan akan output organisasi. 6. teknologi: Merupakan pengetahuan serta teknik-teknik yang digunakan untuk membuat produk ataupun jasa berpengaruh terhadap cara pengelolaan organisasi. 7. kondisi ekonomi: Segmen ini menggambarkan keadaan umum dari perekonomian daerah ataupun negara di mana suatu organisasi berada. Kondisi ekonomi ini antara lain digambarkan oleh besarnya daya beli masyarakat, tingkat pengangguran, tingkat bunga yang berlaku, besarnya inflasi, kemudahan memperoleh bahan baku dan tenaga kerja, tingkat permintaan terhadap produk dan kapasitas produksi total dari sektor 8. pemerintah: Mencakup peraturan-peraturan dan sistem pemerintahan serta politik yang melingkupi organisasi. 9. kebudayaan: Mencakup karakteristik demografi dan sistem nilai yang berlaku pada masyarakat di mana organisasi itu berada.

C. Lingkungan Organisasi Berdasar Elemen-Elemennya Menurut Perspektif Modernist (Hatch, Mary Jo: 1987: 65)
1. jaringan interorganisasional: setiap organisasi berinteraksi dengan anggota lingkungan lainnya. Interaksi tersebut antara lain dalam memperoleh bahan mentah, pekerja, modal, memperoleh pengetahuan, membeli fasilitas dan perlengkapan, sehingga disebut sebagai jaringan interorganisasional yang berisi antara lain seperti supplier, customer, competitor, regulatory agencies, special interest. 2. lingkungan umum: lingkungan ini terbagi dalam beberapa sektor, diantaranya sosial, budaya, legal, ekonomi, politik, teknologi, dan fisik. 3. lingkungan internasional/global

D. Ketidakpastian Lingkungan
Ketidakpastian lingkungan adalah keadaan di mana pimpinan organisasi tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai keadaan lingkungannya sehingga akan menyebabkan timbul-nya kesulitan dalam memperkirakan perubahan-perubahan lingkungan yang akan terjadi. Ada dua dimensi untuk menganalisis pengaruh lingkungan terhadap organisasi yang akan me-nentukan besarnya tingkat ketidakpastian lingkungan, yaitu (1) kompleksitas adalah heterogenitas atau banyaknya elemen-lemen eksternal yang berpengaruh terhadap ber-fungsinya suatu organisasi;

dan (2) stabilitas menggambarkan kecepatan perubahan yang terjadi pada elemen-elemen lingkungan.

E. Strategi Untuk Mengendalikan Lingkungan


1. Mengusahakan terciptanya hubungan yang baik dengan elemen-elemen terpenting dari lingkungan. Berbagai bentuk kegiatan yang dapat dilakukan sebagai berikut: 1. integrasi melalui merger (penggabungan) 2. kontrak atau join venture 3. kooptasi dan interlocking directorate 4. pengangkatan eksekutif 5. iklan dan humas. 2. Membentuk lingkungan agar tiddak berbahaya dan bisa menguntungkan bagi organisasi 1. mengubah bidang kegiatan 2. kegiatan politik 3. asosiasi pengusaha sejenis.

Dasar-Dasar Komunikasi Organisasi


April 4, 2010 in Komunikasi, Resume | by Fatah H Sidik | Tinggalkan komentar Komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan atau pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan makna. Tindak komunikasi itu dapat dilakukan dalam berbagai konteks, salah satunya dalam suatu organisasi. Dalam hal ini kita akan membahas mengenai tiga hal, yaitu komunikasi, organisasi dan komunikasi organisasi: definisi, fungsi komunikasi organisasi dan beberapa pendekatan dalam komunikasi organisasi.

A. Definisi
Definisi Komunikasi Menurut Hovland, Janis dan Kelley dalam Yenny dkk (2004:1.11): the process by which an individual (the communicator) transmit stimuli (usually) verbal) to modify the behavior of the other individuals (the audience). Sedangkan menurut Dance, komunikasi sebagai suatu usaha menimbulkan respon melalui lambing-lambang verbal. Definisi Organisasi Chester I Bernard mendefinisikan organisasi sebagai sistem dari kegiatan manusia yang bekerjasama (an organization is a system of cooperative human activities). Sedangkan menurut Everett M Rogers dan Rekha Agarwala-Rogers dalam bukunya Communication in Organizations menyatakan, organisasi adalah sistem yang mapan dari orang-orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama melalui suatu jenjang kepangkatan dan pembagian kerja (a stable system of individual who work together to achieve, through hierarchy of ranks and dividion of labor, common goals).

Definisi Komunikasi Organisasi Menurut Joseph Devito dalam bukunya Human Communication, terjemahan Komunikasi Antarmanusia (1996: 340), menyatakan bahwa komunikasi organisasi merupakan pengirim-an dan penerimaan pesan baik dalam organisasi di dalam kelompok formal maupun informal organisasi. Sedangkan menurut Roger dan Rogers (1976: 10), menyatakn lebih komplek lagi, yaitu komunikasi di dalam dan diantara organisasi serta lingkungannya. Dari definisi tersebut, maka komunikasi organisasi adalah komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berada dalam organisasi itu sendiri maupun di lingkungannya guna mencapai beberapa tujuan. Sementara itu, Pace, R Wayne dan Faules, Don F (2000: 31-32), menyatakan definisi fungsional (objektif) adalah cenderung menekankan kegiatan penangan pesan yang ter-kandung dalam batas organisasi dan definisi interpretatif (subyektif) proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi.

B. Fungsi
Menurut Sendjaja S Djuarsa (1993: 136) suatu organisasi sekurang-kurangnya melibatkan empat fungsi, diantaranya: 1. Fungsi Informatif: Organisasi dipandangsebagai suatu sistem pemprosesan informasi (information processing system) di mana seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tentu saja tepat waktu. 2. Fungsi Regulatif: Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Setidaknya fungsi ini berkaitan dengan dua hal, yaitu orang-orang yang berada dalam tataran managemen sebagai pengendali informasi yang disampaikan dan pesan-pesan regulatif berorientasi pada pekerjaan. 3. Fungsi Persuasif: Fungsi ini berkaitan dengan mempersuasi. Maksudnya adalah adakalanya kekuasaan dan kewenangan tidak dapat mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan, untuk itu para atasan mempersuasi bawahan dalam melaksanakan tugas daripada memberikan perintah. 4. Fungsi Integratif: Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan sebaikbaiknya.

C. Pendekatan yang Mendasari Komunikasi Organisasi


Dengan mengacu pada Goldhaber (1990), terdapat beberapa pendekatan pada komunikasi organisasi, diantaranya: 1. Pendekatan Ilmiah: Pendekatan ini berasumsi bahwa organisasi harus menggunakan metode-metode ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Pendekatan ini biasa disebut dengan Machine Theory atau dikenal dengan Taylorism (Frederick W Taylor). Menurut Taylor, produktivitas pada umumnya menyangkut masalah fisik dan psikologis. Produktivitas dipandang dalam bentuk permintaan fisik akan pekerjaan dan kemampuan psikologis para pekerjanya. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menghilangkan

antagonism antara majikan dan bawahan. Dalam Yenny dkk (2004), pendekatan Taylorism dibangun dari empat elemen, yaitu (1) pembagian kerja dengan dua prinsip di mana pekerjaan harus dihitung dengan waktu yang diperlukan dan pegawai ingin memperbanyak bawahan bukan lawan; (2) proses scalar dan fungsional berkaitan dengan pertumbuhan secara vertical dan horizontal dalam organisasi yang mengacu pada rantai komando dan spesifikasi pekerjaan dalam pembagian kerja; (3) struktur yang berkaitan dengan hubungan-hubungan logis antara berbagai fungsi dalam organisasi; (4) kontrol merujuk pada pengawasan yang dilakukan atasan kepada bawahannya. 2. Pendekatan Hubungan Antarmanusia: Pendekatan hubungan antarmanusia berkembang sebagai reaksi perhatian ekslusif faktor-faktor fisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa kenaikan kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktifitas. Tokoh pendekatan ini adalah Elton Mayo dan F.J. Roetlisberger pada tahun 1920-1930an. Menurut Elton Mayo, karyawan bukan sekedar alat dalam fungsi kerja tetapi suatu personalitas yang rumit yang berinteraksi dalam situasi-situasi kelompok kerja yang acapkali sulit dipahami. Aubrey Fisher (1986) menyatakan bahwa mahzab human realtions dalam komunikasi organisasional merupakan pendekatan psikologis untuk menjelaskan perilaku pegawai dalam setting organisasi. Keith Davis (1990) menyatakan bahwa hal yang mendasari adalah adanya kepentingan bersama (mutual interest), perbedaan antarindividu dan harga diri (human dignity). Ciri-ciri pengertian konsep human realtions, yaitu: (1) kegiatan ditandai adanya interaksi, (2) bentuk komunikasi interpersonal tatap muka, (3) metode komunikasi persuasif, (4) kegiatan diakhir dengan kepuasan bersama. 3. Pendekatan Sistem: Pendekatan ini mengkombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dengan pendekatan hubungan antarmanusia. Pendekatan ini memandang organisasi sebagai suatu sistem di mana semua bagian beriteraksi dan setiap bagian mempengaruhi bagian lainnya. Di sini, lahir konsep dasar dari hakikat manusia yang terdiri dari (1) perbedaan individu, (2) orang seutuhnya, (3) perilaku yang termotivasi, (4) nilai orang. Hakikat organisasi juga terlahir yang terdiri dari (1) sistem sosial dan (2) kepentingan bersama. Merupakan tinjauan teoritis yang dikenal dengan nama general system theory dengan prinsip utama keseluruhan lebih baik daripada jumlah bagian. System school memfokuskan pada sistem terbuka karena organisasi realtif terbuka. Ada dua macam sistem, yaitu (1) sistem terbuka di mana secara kontinu melakukan informasi dengan lingkungannya dan (2) sistem tertutup di mana situasi benar-benar terisolasi dari lingkungannya di mana ada pembatasan yang dihunakan sebagai penutup untuk melakukan pertukaran informasi dan energi dengan lingkungannya. 4. Pendekatan Kultural: Manurut Devito (1996: 342) adalah sebuah pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa perusahaan harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau budaya.perspektif ini memandang organisasi dan para pekerjanya memiliki seperangat nilai-nilai dan tujuan yang sama. Dalam perspektif ini, komunikasi tidak hanya sekedar pesan yang dikirim dari satu anggota ke anggota yang lain melalui satu atau lebih saluran tetapi komunikasi mendefinisikan dan membentuk organisasi,divide-dividinya dan be-berapa fungsinya sehingga organisasi diciptakan dan dibentuk oleh pekerjanya dan interaksi komunikasinya.