P. 1
Hubungan Tragedy of the Commons Dengan Revolusi Industri

Hubungan Tragedy of the Commons Dengan Revolusi Industri

4.67

|Views: 657|Likes:
Dipublikasikan oleh api-25886356

More info:

Published by: api-25886356 on Nov 01, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

text

original

Butir-butir Curah Pendapat dengan tema

:

SUMBER DAYA AIR:
Perspektif Pengelolaan, Pengembangan, dan Pengamanan Berkelanjutan Oleh: A. Hafied A. Gany, Ph.D., P.Eng. gany@hafied.org
• • •

“......... Kami jadikan dari air tiap-tiap yang hidup ......... ” AlQuran 21:33. “If there is magic on this planet, it is contained in water” Loran Einsley. The Immense Journey 1957. Sumber: WWF, Hague March 2000. When the wells dry, we know the worth of water”, Benjamin Franklin (1706-1790). Poor Richard Almanac, 1746, Sumber: WWF March 2000.

I. PENDAHULUAN Air Sebagai Warisan Bersama Umat Manusia

[01]

Air merupakan sumber alam yang ajaib, banyak sifat-sifatnya yang berbeda dengan benda-benda lain (fleksibel, dimanis, global, serbawujud, serba muka, dan malahan masih banyak kharakteristik fisika atom, kimiawi yang belum bisa diungkakan oleh ilmu pengetahuan modern.

Potensi Air Dunia

[02] Potensi Air Dunia Secara global, total volume air yang ada di bumi adalah
1.385.984.610 km3 terdiri atas (UNESCO, 1978, dalam V.T. Chow): (1) Air laut = 1.338.000.000 km3 (96.54%); (2) Air lainnya = 47.984.610 km3 (3.46%); (3) Air asin di luar laut = 12.955.400 km3 (0.93%); (4) Air Tawar = 35.029.210 km3 (2.33%).

Potensi Air Indonesia

[03] Indonesia secara keseluruhan memiliki potensi air tawar = 2.530.000 km3;
atau sekitar 16.800 m3/kapita/tahun. Hal ini menjadikan Indonesia menduduki rangking ke 5 dunia dalam potensi air tawar sesudah Brazilia, Rusia, China, dan Kanada.

Makna Air Bagi Bangsa Indonesia

[04]

Bangsa Indonesia telah lama menempatkan air sebagai sesuatu yang sakral dengan sebutan "Nusantara“ kita sebagai “Tanah Air”. Dimana diartikan bahwa tanah adalah lahan tempat bermukim, Tanah dapat diwariskan, sedangkan air dipandang sebagai warisan bersama (common heritage resources).

1

II. SUMBER DAYA AIR DALAM KONDISI KRITIS Perlu perlakuan khusus

[05]

Kita Semua berada di dan bersama hidup dengan siklus hidrologi air; saling tergantung satu sama lain, baik dalam kondisi keberlimpahan maupun dalam kondisi rentan; “Sementara itu, SDA tidak lain dari titipan yang dipinjaman dari anak cucu kita”.

[06]

Kesepakatan Global: (1) Air tawar adalah SD yang terbatas dan rentan (kritis), perlu dilestarikan u/ kehidupan; (2) Pembangunan dan lingkungan dua sisi mata uang sehingga perlu dikelola secara holistik dan bijaksana; (3) Perempuan memegang posisi sentral pengelolaan dan perlindungan air; (4)Air mempunyai nilai ekonomi dalam penggunaan yang bersaing. (Dublin Statement).

Sumber Daya Air Kritis, perlu pengelolaan

[07]

Sebagai akibat dari akselerasi pertumbuhan penduduk, menyusul pertumbuhan ekonomi untuk memenuhi tuntutan pertumbuhan penduduk tersebut. Dengan demikian tuntutan permintaan akan air, juga meningkat, sejalan dengan meningkatnya pembuangan limbah buangan dari rumah tangga maupun limbah industri yang berakibat pada meningkatnya polusi. Disisi lain, jumlah SDA dalam siklunya konstan sepanjang masa, hal ini mengakibatkan mengingkatnya persaingan dalam kondisi kerentanan air (Kritis). Hal ini memerlukan pengalokasian dan pengaturan, serta penyelesaian konflik yang timbul. [08] Revolusi Biru: Tantangan pengelolaan SDA ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara tuntutan permintaan dan penyediaan, sedemikian rupa sehingga air bagi industri, sanitasi dapat dicukupi melalui manajemen SDA terpadu dan berkelanjutan, serta keseimbangan alokasi yang saling imbuh antara air tanah dan air permukaan. Hal ini banyak dikenal sebagai “Revolusi Biru” untuk memenuhi tuntutan peningkatan tenaga kerja di satu sisi dan tuntutan peningkatan produksi pangan bersahabat lingkungan di sisi lain.

Kendala dan Ancaman SDA

[08] Tragedy of the Commons: Banyak sekali potensi bencana berbasis SDA
malahan sudah banyak tragedi yang sedang berlangsung tapi tidak disadari masyarakat umum atas bencana yang mengancam jangka panjang (tragedy of the commons). Ancaman yang sudah menjadi nyata adalah antara lain banjir, kekeringan, erosi dan sedimentasi, kepunahan keanekaragaman hayati, epidemi penyakit enular, tanah longsor, banjir bandang, penurunan muka tanah, mutasi unsur biologis dan berbagai pegaruh wujud fisika air.

[09]

Potensi Konflik: Mengigat keunikan sifat dan kharakteristik SDA pada kondisi alamiahnya maka hal ini mengandung berbagai potensi konflik dalam penggunaannya: (1) sifat lintas batas tanpa bisa dipotong-potong; (2) Kerancuan kewenangan; (3) Konflik hulu-tengah-hilir; dan (4) Pertarungan antara kondisi: “terlalu banyak, terlalu sedikit, dan terlalu kotor (polusi).”

2

[10] Permasalahan

Wilayah: Permasalahan wilayah umumnya terjadi karena batas antara batar hidro-orologis dan batas pemerintahan tidak bertumpu pada garis yang sama, sementara cekungan air tanah juga bersifat lintas wilayah. Persoalan role sharing antara hulu-tengah-hilir juga menjadi hal yang sulit dalam kaitannya dengan: role sharing, risk sharing, rensponsibility sharing dan profit sharing.

Tantangan Keterpaduan

[11]

Pemerintah sebagai regulator menghadapi tantangan pemaduan antara kepentingan dan tuntutan yang berbeda: (1) Kawasan “Hulu - Tengah – Hilir”; (2) Kualitas dan Kuwantitas; (3) Air hujan, air permukaan dan air tanah; (4) Tataguna lahan dan air; (5) Atar Sektor terkait; (6) Antar “stakeholders”; dan (7) Antar Daerah.

[12]

Prakondisi keterpaduan: Antara lain melalui pendekatan: (1) Keadilan dengan melibatkan stakeholder; (2) Efisiensi pemakaian juga bagi sektor ekonomi; (3) Berwawasan Lingkungan; dan (4) Transparan serta Akuntabel.

Manajemen SDA di Negara Lain

[13] Di Amerika Serikat: Pengurusan SDA melalui suatu lembaga yang disebut
Water Resources Council, dengan menerapkan prinsip kebijakan: “One River, One Plan and One Integrated Management”. Di Prancis melalui: National Water Commission, di Britania Raya: National Water Resources Administration, di Ethiopia melalui National Water Resources Commission, juga Australia, Kanada, India, Pakistan, Mesir, Muangthai, Filipina, Swiss, Jerman, serta Negeri Belanda menggunakan lembaga yang sama.

III. KONDISI PENGELOLAAN SDA DI INDONESIA

[14] SDA dan Pengelolaannya:

Secara nasional kondisi pengelolaan SDA di Indonesia berjalan seadanya, dan potensi melimpah namun bervaruasi antara pulau dan kawasan: (1) Ketersediaan air di lahan sangat dipengaruhi oleh kondisi musim (cuaca), kokasi geographis, kondisi geologis dan sikap pengguna; (2) Distribusi Curah Hujan Tahunan bervariasi antar pulau, antara 6,000 mm/tahun), dan (800 mm/tahun); (3) Distribusi curah hujan tahun terkonsentrasi pada 5 bulan (ada kawasan yang hanya menerima hujan 3 bulan setahun); (4) Curah hujan membesar dan kenaikan permukaan air laut, diduga sebagai dampak perubahan cuaca global (global climate change); (5) Banjir dan kekeringan silih berganti, terkadang sulit diduga; (6) Pengaruh Banjir dan kekeringan pada sistem ketahanan pangan nasional (panan buruk tahun1999/2000 mencapai 73.900 Ha dan musim kemarau tahun 1997/1998 mencapai 128.610 Ha); (7) Pengelolaan kualitas hampir belum menjadi prioritas.

[15]

Daerah Aliran Sungai (DAS) semakin kritis: Pada tahun 1988, jumlah lahan kritis di Indonesia berjumlah 22 DAS umumnya di Jawa sebagian Sumatera Utara dan Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi bagian selatan dan tengah. Pada tahun 1992 meningkat menjadi 39 DAS Kritis, di Jawa

3

keseluruhan kecuali Banten Selatan, sebagian besar Sumatera dan Kalimantan Selatan Sulawesi dan bagian utara propinsi Papua. Pada tahun 2005 menjadi meningkat menjadi 62 DAS Kritis yang terbagi lokasinya.

Ketersediaan Infrastruktur, Fasilitas dan Kinerjanya

[16]

Ketersediaan infrastruktur dan kinerjanya pada umumnya masih kurang: (1) Jumlah rumah tangga yang belum bisa akses air minum mencapai 30,88% pada tahun 2003 dan tanpa akses sanitasi sekitar 36,04%; (2) Sistem pelayanan air bersih baru berkisar 45 juta atau sekitar 40% penduduk perkotaan dan 7 juta atau 8 % penduduk perdesaan; (3) Masyarakat miskin pada kawasan rawan air memperoleh air dengan harga yang lebih tinggi dari kelompok yang berpendapatan tinggi di kawasan perkotaan; (4) Banyak kota-kota di mana suplai air minum umumnya diperoleh dari sungai dan sumur-sumur tanpa perlindungan; (5) Di sebahagian kota, 73% dari kebutuhan air rumah tangga diperoleh dari suber air tanah; (6) Jumlah daerah irigasi 6,77 juta Ha, kebanyakan suplai airnya mengalami stres, dan tergantung pada ketersediaan air musiman (hanya 800.000 Ha yang dijamin oleh waduk); (7) Infrastruktur dan fasilitas Satuan Wilayah Sungai (SWS) (i.e. Jaringan irigasi, jaringan pengantar dan sanitasinya) tidak dalam kondisi prima juga masih sangat tidak mencukupi; (8) Jaringan Hidrologi dan data basenya kurang mendapatkan perhatian; (9) Konservasi daerah tangkapan air (DAS) belum tertangani secara saksama.

[17]

Operasi dan Pemeliharaan (O&P): O&P Infrastruktur SDA Buruk dan kejadian pencemaran akibat limbah domestik, industri dan pertanian masih Marak (belum teratasi secara tuntas), polusi industri dan perkotaan, banjir di daerah perkotaan, kekeringan (keterbatasan dan kelangkaan air minum), pemukiman liar di bantaran, banjir di daerah pemukiman padat, dan kelangkaan air bersih.

Perilaku Pemakai Air

[18]

Kemampuan dan perilaku pemakai air belum kondisive: (1) Upaya hemat air sampai saat ini masih mengalami kendala, terutama budaya pemakaian air berlebih-lebihan baik dikota maupun di desa, dan belum semua petani tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air; (2) Aplikasi teknologi hemat air baru terbatas pada proyek-proyek percontohan; (3) Perubahan pola hidup di kawasan penduduk perkotaan membawa dampak terhadap konsumsi air dan pencemaran akibat dari pembuangan limbah ke badan-badan air; (4) Polusi (pencemaran) dari limbah industri belum terkendali.

IV. ALTERNATIF MANAJEMEN SDA TERPADU

[19]

Permasalahan Umum Penerapan Manajemen SDA Terpadu: (1) Kerusakan lingkungan yang paling signifikan tercatat akibat dampak peledakan penduduk; (2) Semakin meningkatnya bahaya akibat bencana banjir, kekeringan, tanah longsor yang dipicu bidang luncuran air; (3) Pencemaran lingkungan & peningkatan degradasi lingkungan; (4) Semakin Sering terjadi banjir bandang; (5) Kesulitan koordinasi antar daerah otonom; (6) Meningkatnya banjir & longsor

4

akibat degradasi lingkungan yang bertambah kritis; (7) Perubahan sifat curah hujan yang semakin sulit diprediksi (Akibat Climate Change?).

[20]

Kerancuan Kewenangan: (1) Batas jurisdiksi pemerintahan dan garis batas hidrologis); (2) Kewenangan administratif dan operasional Wilayah Sungai masih rancu; (3) Prilaku sungai mengikuti batasan hidro-orologis alamiah sulit disesuaikan dengan administrasi pemerintahan; (4) Dalam kondisi SWS lintas batas administrasi tanpa batas fisik yang jelas, tidak bisa dipenggal-penggal; (5) Kewenagan "hulu"-"tengah"-"hilir" dari pengaturan sungai akan menjadi tarikmenarik; (6) Di musim hujan, misalnya, pengelolaan SDA akan diwarnai dengan pertarungan (konflik) antar wilayah/daerah menghindari banjir; (7) Di musim kemarau terjadi perebutan air, selalu dimenangkan oleh "hulu" - "tengah"; (8) Kawasan "hilir" juga akan selalu dihadapkan dengan masalah pembuangan limbah; (9) Lembaga koordinasi pengelolaan air (Dewan Sumber Daya Air) belum berjalan, kalaupun sudah terbentuk.

Kawasan Tangkapan Air “Hulu-Tengah-Hilir”

[21]

Kawasan Tangkapan Air “Hulu-Tengah-Hilir”: (1) Kawasan tangkapan air hulu (pegunungan), umumnya terjal, tekadang berbentuk lembah huruf V, biasanya terdapat banyak air terjun (Sebagai zona konservasi); (2) Kawasan tangkapan air tengah, biasanya menjadi pertemuan anak-anak sungai, kemiringan sedang, dan mulai berbelok-belok (Sebagai zona produksi); (3) Kawasan hilir berupa endapan berkelok-kelok dan membentuk delta dari endapan sedimen (sebagai zona luapan air).

V. KONTEKS OTONOMI DAERAH Obsesi Kelestarian Lingkungan

[22]

Umumnya kelestarian lingkungan hanya sebagai obsesi semua daerah otonom, tapi tidak ada upaya kongkret menuju kearah pencapaian obsesi tersebut. Disamping itu ada kecenderungan memandang pengelolaan SDA sebagai peluang untuk mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (sumber PAD) yang cukup besar. Sementara pada kenyataannya pengalokasian dana untuk Operasi dan Pemeliharaan apalagi Pembangunan hampir-hampir terabaikan.

Tuntutan Hubungan Interaktif Holistik Pengelolaan

[23]

Pada umumnya daerah otonom masih terkendala (SDM, Teknologi, dan koordinasi holistik interaktif untuk pengelolaan SDA. Sementara pendekatan pengelolaan menuntut keterpaduan holistik antara manusia, air dan sumber air, lingkungan, dan masyarakat. Patut dikemukakan bahwa pelestarian air merupakan tugas terpadu bagi semua, tapi masih terkendala oleh kemampuan dan kemauan berkoordinasi.

5

Kelembagaan Pengelola SDA

[24]

Saat ini masih banyak kendala dalam Kelembagaan SDA: (1) Peranan pemerintah di Tingkat Pusat dan Regional masih terasa dominan dalam pelaksanaan proyek pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur SDA yang ada; (2) Monitoring dan evaluasi kondisi SDA belum memadai dalam hal kemampuan kelembagaan dan kapasitas dan kecukupan personil; (3) Program sektoral yang diharapkan memberikan kontribusi terhadap upaya konservasi belum terpadu; (4) Kinerja sektor yang berhubungan dengan konservasi SDA belum optimum; (5) Belum ada Rencana Induk (master plan) untuk referensi dan rujukan dalam penyusunan program dan penyelenggaraan terpadu antara sektor dan wilayah; (6) Belum lengkapnya peraturan pelaksanaan (Peraturan Pemerintah) dari UU No.7/2004 (yang sudah empat tahun diundangkan)

[25]

Pengaturan pembagian peran kelembagaan (Role sharing) pada satuan wilayah sungai dan daerah aliran sungai yang lintas daerah otonom masih perlu disempurnakan, dan khusunya menyangkut wewenang pengelolaan SDA berbasis cekungan air tanah.

Lembaga Koordinasi

[26]

Pengelolaan SDA Terpadu memerlukan Lembaga Koordinasi (tercantum dalam UU. No. 7/2004) yang mampu melakukan “role sharing” dan bekerja berdasarkan tugas dan tanggungjawab masing-masing sebagai anggota Lembaga Pengelola: (1) Pengendali (regulator) adalah Pemerintah; (2) Pengembang adalah proyek-proyek pemerintah atau investor swasta; (3) Pengguna adalah masyarakat pada umumnya; (3) Pengelola (operator) adalah Balai-balai Wilayah sungai dan badan-badan pengelola yang terkait lainnya sesuai ketentuan Per-UU-an (Sampai saat ini belum operasional kalupun sudah terbentuk).

Keberlanjutan Pengelolaan Sumber Daya Air-Terpadu (PSDAT)

[27]

Kebijaksanaan masih lebih banyak tertumpu pada “pendekatan struktural” pengembangan fisik ketimbang “pendekatan non-struktural” (konservasi, perlindungan dan pengamanan), padahal “untuk menjamin keberlanjutan” keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisah dipisahkan dan dikelola secara seimbang sebagai “conditio-cine-qua-non”.

VI. TROBOSAN JANGKA PENDEK Prakondisi dan kendala yang Berpengaruh

[28] Prakondisi dan kendala yang Berpengaruh Terhadap Pelaksanaan: (1)
Selama ini pendekatan pembangunan masih lebih banyak bertumpu pada Pendekatan fisik struktural (bendungan, pompa, saluran, tanggul dsb.); (2) Pendekatan Pengelolaan SDA terpadu (PSDAT) perlu keseimbangan struktural dan non-struktural; namun membutuhkan waktu panjang dan dana besar; (3) Perangkat per UU-an masih perlu Peraturan Pemerintah a.l. terkait dengan

6

perlindungan & konservasi, peringatan/siaga dini; (4) Pelayanan SDA tidak bisa menunggu PSDAT; (5) Pendekatan Non-struktural (Parsial) dapat segera dilakukan paralel tanpa harus menunggu pelaksanaan fisik (Konservasi DAS, Hemat air; D-Base, O&P, Kali bersih, Penyempurnaan instrumen hukum/teknis dan Penegakannya, dsb.).

Pelaksanaan Trobosan Paralel dengan Program Jangka Panjang

[29]

Paralel dengan pelaksanaan jangka panjang, secara iteratif dilakukan terobosan jangka pendek antara lain sebagai berikut: (1) Gerakan Kesemestaan bersama masyarakat masyarakat (Community Based Mass Movement) dalam semua tahapan pembangunan); (2) Peningkatan kepedulian masyarakat (Public Awareness Campaign) untuk membangun kesadaran Kolektif; (3) Konservasi daerah tangkapan air “kawasan hulu”; (4) Kombinasi Konservasi & kali bersih di “kawasan tengah”; (5) Kombinasi kali bersih & penataan ruang di “kawasan hilir”; (6) Pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan desa mandiri (Pangan, energi, Infrastruktur) berbasis Kearifan lokal (indigeneous wishdom); dan Tribina (manusia, lingkungan dan usaha); dan (7) Secara administratif mempercepat terselesaikannya semua peraturan perundangan, norma, standar, pedoman, manual teknis agar dapat dipedomani (sebagai “instrumen pengaturan”, administratif maupun teknis).

Pendekatan Low Risk Development

[30]

Penyelenggaraan terobosan berdasarkan pendekatan pembangunan berkelanjutan yang low risk/ low impact: (1) Pendekatan Low Risk Development dengan Motto Desa Kuat Negara Kuat; (2) Program Desa Mandiri; (bina padu) lintas stakeholder (Space holder; knowledge holder; Interest holder; dan structural holder); (3) Prinsip: (a) No hit and run; (b) No single model that fit for all; (4) Pendekatan: Kepercayaan; Kepedulian; Ketertarikan (interest); Tekad kontrak ekologi; langkah tindak (berbasis budaya dan tepat guna); Berbasis Kawasan Satuan Wilayah Sungai atau Daerah Aliran Sungai

[31]

Pelaksanaan terobosan berbasis kawasan SWS atau DAS: (1) Kawasan hulu dengan pendekatan konservasi DAS tahap mendesak, yakni Pembibitan, dan musim tanam yang tepat; (2) Kawasan Tengah berupa Kombinasi Konservasi dan Gerakan Kali Bersih; (3) Kawasan Hilir berupa Kombinasi Gerakan Kali Bersih dan Penataan Ruang & Antisipasi bencana berbasis SD Air. (Sejalan dengan Pendampingan dan Tribina): (4) Untuk tahapan awal sampai sekitar lima tahun memerlukan “insentif” dan “disinsentif” dari Pemerintah (Pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah Otonom).

Konservasi DAS

[32]

Pelaksanaan konservasi yang sangat mendesak melalui gerakan pembibitan serentak: (1) Pemasyarakatan dan pemantapan Motto: No forest no water no future!!!; (2) Gerakan pembibitan serentak yg jenisnya sesuai kondisi dan kesepakatan masyarakat; (3) Penanaman serempak 7-10 hari (Oktober) dengan memanfaatkan event seremonial “Hari Ozon” 23 Oktober) yakni Pancarobah Hujan (Banyak kegagalan yang lalu karena penanaman tidak tepat

7

musin); (4) Penanaman serempak (7-10 hari) musim Pancarobah Kemarau (Maret), memanfaatkan event seremonial: Hari Hutan (21 Maret), Hari Air (22 Maret), Hari Meteorology (23 Maret) di mana (kondisi air, sungai, sungai dan udara mendukung pertumbuhan bibit pohon penghijauan).

Reaktivasi Program Kali Bersih (PROKASIH)

[33]

Reaktivasi (Pemberdayaan kebali) Program Kali Bersih (PROKASIH) dengan mengambil pertimbangan dan pengalaman keberhasilan maupun pengalaman negatif masa lalu antara lain: (1) Dicanangkan tahun 1989 Oleh 8 Propinsi, sampai pada tahun ke 8 bertahap berhasil mengmbangkan mencakup 17 propinsi; (2) Studi evaluasi di Kali Brantas menyimpulkan PROKASIH berhasil menurunkan pencemaran dengan baik 35,5% BOD; 20,5% COD; (3) Belakangan tersendat akibat kesibukan menangani dampak krisis ekonomi; (3) Dengan kesuksesan tersebut, maka PROKASIH perlu diberdayakan kembali dengan penyesuaian dan penyempurnaan seperlunya, minimum tahap pertama meliputi kawasan wilayah sungai yang sudah sangat kritis.

Elemen Keberhasilan

[34]

Beberapa elemen keberhasilan hendaknya mendapatkan perhatian khusus: (1) Adanya Sumber daya manusia handal dan profesional dan bermoral; (2) Kelembagaan yang kondisif terhadap keterpaduan; (3) Teknologi yang tepat guna atau tepat manfaat; (4) Modal (kapital) yang mememadai; dan (5) Dukungan ketersediaan dan produk perundang-undangan (Administratif maupun teknis) yang kondisif berikut “penegakannya” yang konsisten.

VII. RENUNGAN PENUTUP

[35]

Telepas dari semuanya, sebagai insan yang beriman, maka kita harus “yakin” bahwa Penentu Paripurna adalah SANG MAHA PENCIPTA sendiri – Dimanatkan-NYA bahwa air sebagai awal segala yang hidup di alam semesta – Diciptakannya semua yang hidup di jagad raya ini dari air.

[36] Untuk itu, perlu pendekatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan
Iman dan Taqwa (IMTAQ) – dipadukan sebagai “conditio-cine-qua-non”, melalui Gerakan Kesalehan Sosial, yakni memanfaatkan kekuatan doa (berdoa) untuk kelestarian ekosistem air dan lingkungan hidup, mencintai dan memperlakukan air secara bijak tanpa merasa sedang bertindak irasional (Gany, 2006). Jakarta 30 Oktober 2008

A. Hafied A. Gany, Ph.D., P.Eng. Vice President, International Commission on Irrigation and Drainage; dan Widya Isawara Utama, Departemen P.U.

8

Butir-butir masukan untuk curah pendapat dengan tema:

SUMBER DAYA AIR: Perspektif Pengelolaan, Pengembangan, dan Pengamanan Berkelanjutan

Oleh: A. Hafied A. Gany, Ph.D., P.Eng.
gany@hafied.org

Jakarta, 30 Oktober 2008

9

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->