Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Pengertian Petrologi Petrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang batuan, baik keterdapatannya maupun cara terbentuknya dipermukaan bumi yang mencakup mengenai cara terjadinya, komposisi, klasifikasi batuan serta hubungannya dengan proses-proses dan sejarah geologinya. Sedangkan petrogenesa adalah ilmu yang mempelajari tentang asalusul batuan, sehingga dengan demikian petrologi dapat lebih diperjelas lagi sebagai ilmu batuan yang secara luas meliputi petrografi dan petrogenesa. Adapun petrografi adalah merupakan cara tentang pendeskripsian batuan berdasarkan tekstur, mineralogi dan susunan kimia dengan bantuan mikroskop. Dengan demikian petrologi merupakan ilmu batuan secara luas meliputi petrografi dan petrogenesa. Batuan adalah bagian dari kerak bumi sebagai agregat mineral-mineral yang membangun bumi. Pengetahuan tentang batuan sangat penting dalam mempelajari cabang-cabang geologi yang lain. Kerak bumi bersifat dinamis dan merupakan tempat berlangsungnya proses pembentukan batuan. Karena sifatnya yang dinamis tersebutlah banyak proses-proses lain yang mempengaruhi batuan tersebut sehingga suatu batuan dapat berubah menjadi batuan lain atau merupakan suatu siklus yang berkesinambungan yang prosesnya masih berlangsung hingga sampai saat ini. Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam: 1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu panas ke dingin dan sebaliknya akan berpengaruh terhadap batuan. Hujan dapat membuat rekahan-rekahan di batuan menjadi berkembang sehingga membuat batuan pecah menjadi partikel yang lebih kecil. 2. Pelapukan secara kimia: Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Udara yang terpolusi dapat menyebabkan hujan asam yang dapat menyebabkan pelapukan batuan secara kimiawi. 3. Pelapukan secara biologi: Pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman. Akar-akar dapat menyebabkan timbulnya rekahan-rekahan di batuan dan lama kelamaan batuan akan terpecah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. 1.2. Maksud dan Tujuan Petrologi merupakan suatu ilmu pengetahuan geologi, diberikan kepada praktikan dengan maksud praktikan dapat gambaran tentang proses-proses pembatuan yang terjadi di dalam maupun dipermukaan bumi. Adapun tujuan mempelajari petrologi ini adalah, antara lain : Dapat mengenal berbagai jenis batuan Mengetahui tekstur dan struktur dari suatu batuan Mengetahui komposisi mineral yang terkandung dalam suatu batuan, serta dapat mendeskripsikan mineral-mineral yang terkandung tersebut Mengetahui nama batuannya dan dapat menafsirkan genesanya

BAB II BATUAN BEKU

2.1. Tinjauan Umum Batuan Beku Batuan beku adalah merupakan kumpulan mineral-mineral silikat dari hasil penghabluran magma yang mendingin. (W.T. Huang, 1962). Penggolongan batuan beku dapat didasarkan kepada tiga patokan utama yaitu berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dan berdasarkan susunan mineralnya. Pembagian yang berdasarkan genetik atau tempat terjadinya dari batuan beku dapat dibagi atas batuan ekstrusi dan batuan intrusi. Batuan ekstrusi terdiri dari semua material yang dikeluarkan kepermukaan bumi baik di daratan maupun di bawah permukaan laut material ini mendingin dengan cepat, ada yang berbentuk padat atau suatu larutan yang kental dan panas yang disebut lava. Magma yang mencapai permukaan bumi melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan beku luar. Keluarnya magma dipermukaan bumi melalui rekahan dinamakan erupsi linear (fissure eruption), pada umumnya magma basaltic yang vikositasnya rendah, sehingga dapat mengalir disekitar rekahan, menjadi hamparan lava basalt. Sedangkan yang keluar melalui lubang kepundan dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melalui lereng, sebagai aliran lava atau tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik, atau rempah gunung api. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung dari komposisi magmagnya dan tempat atau lingkungannya dimana pembekuan terjadi, apabila membeku dalam permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), sesuai dengan namanya bentuknya mirip dengan bantal. Batuan intrusi adalah batuan hasil pendinginan magma yang menerobos kepermukaan bumi, berbeda dengan kegiatan batuan ekstrusi pendinginannya sangat lamban (dapat sampai jutaan tahun), memungkinkan munculnya kristal yang besar dan sempurna menjadi tubuh batuan intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, karena magma dapat menguak batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan. Tiga prinsip dari tipe bentuk intrusi batuan beku berdasarkan bentuk dasar dan geometri adalah : Bentuk yang tidak beraturan pada umunya berbentuk diskordan dan biasanya memiliki bentuk yang jelas di permukaan (batholit dan stock). Intrusi berbentuk tabular mempunyai dua bentuk yang berbeda yaitu yang mempunyai bentuk diskordan (dike) dan yang berbentuk konkordan (silt dan lakolit). Tipe ketiga dari tubuh intrusi relatif memiliki tubuh yang kecil. Bentuk khas dari grup ini adalah intrusi silinder atau pipa, sebagian besar sisa dari korok gunung api (vulcanik neck). 2.1.1. Asal Batuan Beku Batuan beku berasal dari hasil pendinginan dan pembekuan magma, dimana magma ini merupakan suatu lelehan pijar yang terdiri dari zat-zat yang mobil yang panas bersuhu antara 9000-12000 terbentuk secara alamiah yang merupakan senyawa silikat dan magma juga mengandung gas. Magma berasal dari asteonosfer bumi, yaitu dibawah kerak bumi bagian bawah dan diatas mantel bumi bagian atas. Magma dapat naik kepermukaan bumi adalah akibat gaya-gaya yang terjadi didalam kerak bumi, yaitu pergerakan-pergerakan lempeng. Lempeng yang bergerak saling menjauh akan mengakibatkan pemekaran kerak samudra sehingga memberikan kesempatan magma yang diasteonosfer naik kepermukaan. Magma yang berasal dari asteonosfer akan bersifat lebih basa daripada magma hasil dari pergesekan antara dua lempeng. Ini dipengaruhi oleh komposisi dari masing-masing lempeng yang bergesekan. 2.1.2. Evolusi Magma Magma utama atau magma primer dapat berubah komposisinya untuk menghasilkan suatu variasi batuan beku. Ada empat cara yang mengakibatkan perubahan-perubahan tersebut, yaitu : Diffrensiasi Magma Merupakan suatu proses dimana magma yang homogen terpisah dalam fraksi-fraksi dengan komposisi

yang berbeda-beda. Barth melakukan perubahan pada diagram yang dibuat oleh Bowen yang menunjukkan adanya reaksi yang pokok, yaitu Discontinous series dan Continous series. Temperatur Seri Reaksi Tak Menerus Seri ReaksiMenerus Jenis Batuan Tinggi Awal Kristalisasi

Rendah Akhir Kristalisasi Olivin Anortit Bitoenit Piroksen Labradorit Amfibol Andesin Biotit Oligoklas Albit K-Felspar Muskopit Kuarsa Ultramafik Basa Intermedier Asam Gambar 2.1. Seri Reaksi Bowen dan Jenis Batuan Beku yang Terbentuk Assimilasi Evolusi magma dapat juga dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dengan batuan sekitarnya (Wall Rock). Jika magma yang menerobos kepermukaan yang temperature temperaturnya lebih tinggi daripada batuan sekitarnya sehhingga akan mempengaruhi komposisi magma tersebut, sering terjadi terutama pada magma plutonik karena letaknya yang jauh dari permukaan bumi. Proses Pencampuran Proses Pencampuran terjadi antara dua batuan yang terbentuknya ditempat yang berbeda, seperti batuan vulkanik dan batuan intrusi dangkal dapatjuga dihasilkan dari campuran sebagian kristalisasi, yaitu kristalisasi magma. Contohnya adalah batuan Basalt, Andesit, dan Rhyolit di kolorado dihasilkan dari pergantian erupsi yang cepat dari suatu lubang erupsi. Pembekuan magma Mineral-mineral yang pertama terbentuk dari magma biasanya mineral yang anhydrous, pada temperatur tinggi yang hanya mengandung sedikit bahan-bahan atau unsure volatile. Mineral-mineral semacam ini

disebut minera-mineral pyrogenetik. Setelah pembentukan mineral-mineral tersebut maka sisa magma akan relatif kaya akan bahan-bahan volatile dan selanjutnya terbentuklah hidroksil. Mineral seperti amphibol dan mika yang disebut hydratogenetik.

2.2. Komposisi Mineral Secara garis besar mineral pembentuk batuan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu mineral utama, mineral skunder dan mineral tambahan. 2.2.1. Mineral Utama Mineral-mineral utama penyusun kerak bumi disebut mineral pembentuk batuan, teruutama mineral golongan silikat. Golongan mineral yang berwarna tua/gelap disebut mineral mafik yang kaya akan unsur Mg dan Fe. Sedangkan golongan mineral yang berwarna muda/terang disebut mineral felsik yang miskin akan unsur Mg dan Fe. Beberapa mineral hitam yang sering dijumpai adalah olivin, augit, hornblende dan biotit. Sedangkan mineral putih yang sering dijumpai adalah plagioklas, k-feldspar, muskovit, kuarsa dan leusit. Mineral-mineral mafik berwarna gelap hitam. Misalnya olovin, piroksin amphibol, biotit. Sedangkan mineral-mineral felsik berwarna cerah misalnya plagioklas, k-feldspar, muskovit, kuarsa, felspatoit. Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma, dan kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan Berdasarkan warna dan densitas dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Mineral Felsik (mineral bewarna terang dengan densitas rata-rata 2,5-2,7) yaitu : Kuarsa (SiO2) Kelompok feldspar,terdiri dari seri feldspar alkali (Kna) AlSi3O8 dan seri plagioklas, anorthoklas, adularia dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesit, labradoriot, bitownit dan labradorit. 2. Mineral mafik (mineral eromagnesia dengan warna gelap dan densitas rata- rata 3,0-3,6) yaitu : Kelompok olivine terdiri dari fayalite dan forsterite. Kelompok piroksen terdiri dari enstatit, hiperstein, augite, pigeonit, diopsid. Kelompok mika terdiri dari biotit muscovite plogopite. Kelompok ampibol terdiri dari anthofilit, cumingtonit, hornblende, rieberkit, tremolit, aktinolit, gluacofan. 2.2.2. Mineral Sekunder Mineral skunder adalah mineral-mineral yang dibentuk kemudian dari mineral-mineral utama oleh proses pelapukan, sirkulasi air atau larutan dan metamorfosa. Suatu contoh yang baik adalah mineral klorit yang biasanya terbentuk dari mineral biotit oleh proses pelapukan. Mineral ini terdapat pada batuan-batuan yang telah lapuk dan batuan sedimen dan juga pada batuan metamorf. 2.2.3. Mineral Tambahan Mineral tambahan adalah mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit sekali. Umumnya kurang dari 5% sehingga kehadiran atau ketidakhadirannya tidak

mempengaruhi sifat dan penamaan dari batuan tersebut. Contohnya adalah mineral magnetit, suatu oksidabesi yang berwarna hitam mempunyai sifat magnetit kuat dan terdapat dalam jumlah yang sedikit dalam batuan beku. Mineral-mineral tambahan dari batuan beku adalah zircon, sphen, magnetit, ilmenit, hematite, apatit, pyriot, rutil, corundum dan garnet. 2.3. Tekstur Batuan Beku Tekstur adalah kenampakan atau cirri batuan yang berkaitan dengan hubungan antara komponen batuan baik yang kristalin maupun yang nonkristalin dan dapat mencerminkan cara terdapatnya ataupun cara pembentukan batuan. Hal tersebut dikarenakan tekstur batuan beku menunjukkan derajat kristalisasi, ukuran butir atau granularitas dan fabrik (kemas). 2.3.1. Derajat Kristalisasi (Degree of crystallinity) Mencerminkan proporsi antara komponen kristalin dengan yang non-kristalin (amorf), dapat dibedakan atas : Holokristalin, bila batuan disusun oleh seluruhnya Kristal Hipokristalin/merokristalin/mesokristalin, bila batuan disusun oleh sebagian Kristal dan sebagian gelas Holohialin/hipohialiln/mesohialin, bila batuan seluruhnya disusun oleh gelas. 2.3.2. Ukuran Butir (Granularitas) Ukuran butir batuan beku dibedakan atas : a. Fanerik,bila batuan mempunyai ukuran butir kasar, dibedakan atas : Fanerik sangat kasar, bila diameter berukuran > 3 cm Fanerik kasar, bila diameter berukuran 5 mm 3 cm Fanerik sedang, bila diameter berukuran 1 mm 5 mm Fanerik halus, bila diameter berukuran < 1 mm b. Afanitik, bila batuan mempunyai ukuran butir halus hingga tidak bisa dibedakan dengan mata kasar.

2.3.3. Fabrik (kemas) Merupakan tekstur yang memperlihatkan hubungan geometri antara bentuk dan (peroporsi) butir-butir penyusun batuan. Secara individu bentuk butir mineral dibedakan atas : Euhedral, bila mineral dibatasi oleh bidang/bentuk kristal yang sempurna. Subhedral, bila mineral dibatasi oleh sebagian bidang/bentuk kristalnya. Anhedral, bila mineral tidak dibatasi oleh bidang/bentuk kristalnya. Sedangkan fabrik (kemas) dibedakan atas : a. Equigranular, bila batuan disusun oleh butiran-butiran mineral yang relatip seragam, dibedakan atas : Panidiomorfik granular, bila batuan disusun oleh mineral yang berbentuk euhedral dan ukuran butir relatip seragam Hipidiomorfik granular, bila batuan disusun oleh mineral yang berbentuk sub-hedral dan ukuran butir relatip seragam Allotriomorfik granular, bila batuan disusun oleh mineral yang berbentuk anhedral dan ukuran butir relatip seragam. b. Inequigranular, bila mineral disusun oleh butiran-butiran mineral yang relatip tidak seragam, seperti : Porfiritik, bila kristal/mineral yang berukuran besar (fenokris) tertanam dalam massa dasar (matrix) kristal-kristal yang berukuran lebih kecil

Vitroferi, seperti tekstur porfiritik tetapi masa dasarnya berupa gelas Grafik, tekstur yang umum pada batuan granitis dimana kwarsa tumbuh bersama k-feldspar Ofitik, tekstur dimana mineral besar diinklusi oleh mineral yang berukuran lebih kecil Diabasik, tekstur yang khas pada batuan diabasik dimana fenokris plagioklas hadir secara radial. 2.4. Struktur Batuan Beku Struktur merupakan tekstur dalam skala besar yang hanya dapat dilihatjelas dilapakan. Seperti struktur aliran lava yang dibedakan atas pillow lava, ropy, blocky lava maupun sheeting joint dan columnar joint. Macam-macam struktur batuan beku menurut Russel B. Travis (1995) meliputi : 1. Masif Struktur dari batuan beku apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran atau jejak gas atau tidak adanya menunjukkan fragmen batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya. 2. Pillow Lava atau Lava Bantal Merupakan struktur khas pada batuan vulkanik bawah laut membentuk struktur seperti bantal 3. Vesikuler Merupakan struktur yang ditandai dengan adanya lubang-lubang dengan arah yang teratur. Lubang ini terbentuk akibat keluarnya gas pada waktu pembekuan berlangsung 4. Skoria Seperti vesikuler tetapi tidak menunjukkan arah yang teratur 5. Amiqdoloidal Struktur dimana lubang-lubang keluarnya gas terisi oleh mineral-mineral skunder seperti zeolit, karbonat dan bermacam silica 6. Zenolit Struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk atau tertanam dalam batuan beku.

2.5. Klasifikasi Batuan Beku 2.5.1. Klasifikasi berdasarkan tempat terjadinya. Berdasarkan tempat pembentukan magma, maka batuan beku dibedakan atas dua yaitu : Batuan beku vulkanik (ekstruksif), yaitu batuan yang terbentuk dari hasil pembekuan magma yang membeku di permukaan (di luar) Batuan beku plutonik (intrusive), yaitu batuan yang terbentuk dari hasil pembekuan magma yang membeku di dalam.

2.5.2. Klasifikasi Berdasarkan Kimiawi Klasifikasi batuan beku berdasarkan kimiawinya dapa dilihat dari kandungan SiO2-nya. Maka batuan beku dapat diklasifikasikan atas 1) Batuan Beku Asam Batuan beku diklasifikasikan sebagai batuan beku asam apabila batuan beku tersebut memiliki kandungan SiO2 lebih besar dari 66 % (> 66 %). Batuan beku asam tersusun atas mineral kwarsa, orthoklast, palgioklast Na, terkadang terdapat biotit, muskovit dalam jumlah yang sangat kecil. Batuan beku asam umumnya akan berwarna cerah apabila kelimpahan mineral kwarsa dan orthoklast di dalam batuannya. Contoh dari batuan ini adalah granite, riolite, granudiorite.

2) Batuan Beku Intermedier Batuan beku intermedier mengandung SiO2 antara 52 % - 60 %, terutama tersusun oleh mineral plagioklast, hornblende, dan kwarsa. Sedangkan biotit dan orthoklast dalam jumlah kecil. Warna dari batuan ini juga masih cerah, tetapi tidak secerah dari batuan beku asam. Contohnya adalah andesit, diorite, seanite. 3) Batuan Beku Basa Batuan beku basa mengandunu 45 % - 52 % SiO2. batuan ini tersusun dari magma asal yang bersifat basa. Warna dari batuan beku ini akan terlihat lebih gelap, karena mineral-mineral mafik sudah sangat jarang terbentuk pada batuan golongan ini. Batuan beku basa terdiri dari mineral-mineral seperti olivine, plagioklast Ca, dan hornblende. Contoh batuannya adalah gabro, basalt, dan diabas. 4) Batuan Beku Ultrabasa Pada batuan ini kandungan SiO2 lebih kecil dari 45 % (< 45 %). Warna batuan ini gelap, lebih gelap dari batu beku basa. Batuan ini tersusun oleh mineral-mineral olivine, piroksine, serpentine. Hanya satu atau dua macam mineral saja yang hadir pada suatu batuan. Mineral lain yang mungkin hadir adalah plagioklast Ca dalam jumlah yang kecil. Contoh batuannya adalah dunit, piroksinite, peridotite, serpentinite. 2.5.3. Klasifikasi Berdasarkan Mineralogi Klasifikasi batuan beku berdasarkan mineraloginya yaitu berdasarkan mineral-mineral yang terkandung dalam batuan tersebut.

Gambar 2.2. Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Mineralogi 2.5.4. Klasifikasi Yang Digunakan Laboratorium Petrologi Klasifikasi batuan beku yang dipakai di laboratorium yaitu sama dengan klasifikasi batuan beku yang berdasarkan kimiawinya, yaitu : Batuan beku asam Batuan beku intermedier Batuan beku basa Batuan beku ultra basa 2.5.5. Klasifikasi Berdasarkan Tekstur dan Komposisi Mineral Klasifikasi batuan beku berdasarkan tekstur dan komposisi mineralnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.3. Bagan Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Tekstur dan Komposisi Mineral 2.6. Tahap Penentuan Batuan Beku Menentukan derajat kristalisasinya, ukuran butir, fabrik (kemas), kemudian menentukan struktur batuan tersebut Menentukan struktur yang terdapat pada batuan tersebut Mengamati persentase kehadiran mineral-mineral penyusun batuan tersebut Menentukan genesa batuan tersebut. 2.7. Tahap Penamaan Batuan Beku 2.7.1. Tahap Penamaan Batuan Beku Asam. Ciri-cirinya: Kandungan SiO2 >60% Indeks warna 0-10% Mereupakan mineral-mineral felsik Kandungan mineral orthoklas dan kwarsa melimpah Plagioklas ada Biotit dan hornblende ada Nama batuannya: - ukuran fanerik jika orthoklas > plagioklas, nama batuannya adalah granit jika orthoklas < plagioklas, nama batuannya adalah granodiorit. - ukuran afanitik jika orthoklas > plagioklas, nama batuannya adalah ryolit jika orthoklas < plagioklas, nama batuannya adalah dasit 2.7.2. Tahap Penamaan Batuan Beku Intermedier. Cirri-cirinya: kandungan SiO2 < 60% plagioklas melimpah mineral mafik mulai hadir kwarsa < 10% orthoklas hadir biotit dan hornblende mulai banyak > 10% Nama batuannya: jika orthoklas > plagioklas, nama batuannya adalah syeanit jika orthoklas < plagioklas, nama batuannya adalah diorit 2.7.3. Tahap Penamaan Batuan Beku Basa. Cirri-cirinya: kandungan SiO2 45-52% berwarna gelap plagioklas melimpah piroksin melimpah kwarsa hadir dalam jumlah tertentu olivine mulai hadir orthoklas sangat jarang hadir

Nama batuannya: jika ukuran butirnya fanerik, maka nama batuannya adalah gabro jika ukuran butirnya afaniatik, maka nama batuannya adalah basalt jika terdapat tekstur khusus, maka nama batuannya adalah diabasik 2.7.4. Tahap Penamaan Batuan Beku Ultra Basa. Cirri-cirinya: kandungan SiO2 <45% pembentuk batuannya adalah olivine, piroksin dan serpentin. Nama batuannya: jika yang dominan olivine, maka nama batuannya adalah dunit jika yang dominan piroksin, maka nama batuannya adalah piroksinit jika yang dominan serpentin, maka nama batuannya adalah serpentinit jika yang dominan piroksin dan olivin, maka nama batuannya adalah peridotit