Anda di halaman 1dari 13

Asuhan Keperawatan anemia BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar Hb dibawah normal. Anemia secara funbgsional didefenisikan sebagai penurunan jumlah masa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak memenuhi fungsinya untuk membawa o2 dalam jumlah yang cukup kejaringan perifer. Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity) tetapi merupakan gejala berbagai macam penyakit. Oleh karerna itu dalam diagnosis anemia tidaklah hanya sampai kepada label anemia tetapi haruus dapat ditetapkan penyakit dasar yang menyebabkan anemia tersebut. Pendekatan terhadap pasien anemia memerlukan pemahaman tentang petogenesis dan patofisiologi anemia, serta ketrampilan dalam memilih, menganalisa serta merangkum hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Oleh karena itu perawat memberikan pelayanan keperawatan secara komprehensif sehingga berkontribusi untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi. Berdasrakan uraian diatas, maka kelompok merasa tertarik untuk membahas tentang Asuhan Keparawatan pada Klien Anemia B. Tujuan 1.Tujuan umum Untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang asukhan keperawatan pada klien anemia. 2.Tujuan khusus - mampu memahami teori tentang anemia - mampu melakukan pengkajian pada penderita yang mengalami anemia - mampu merumuskan diagnosa kepaerwatan untuk klien yang anemia - mampu menyusun rencana keperawatan untuk klien yang anemia - mampu mengaplikasikan tindakan keperawatn yang telah dipelajari pada klien anemia - mampu menilai/ mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada klien anemia. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep dasar 1.Defenisi Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahyan hitung sel darah merah dan kadar Hb dan Ht dibawah normal (Brunner-Suddarth, 2001,hal 935). Anemia adalah terdapatnya penurunan konsentrasi Hb, jumlah sel darah merah, sirkulasi atau sel darah tanpa plasma (Ht) dibandingkan dengan nilai-nilai normal (Dr. Jan Tambayong, 2000 hal 77).

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb darah kurang dari normal (I Dewa Nyoman Supriasa,dkk ,2002, hal 137). Anemia adalah kekurangan hingga dibawah normal jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume packed red blood cell ( hematokrit) per 100 ml darah. (Sylvia A.Price,dkk 2005, hal 256). 2.Klasifikasi anemia Anemia dibagi menjadi 2 tipe umum : a. Anemia Hipropropilatif 1) Anemia Aplastik Anemia aplastik merupakan suatu gangguan yang mengancam jiwa pada sel induk di sum-sum tulang yang sel-sel darah diproduksi dalam jumlah yang tidak mencukupi. Anemia aplastik dapat terjadi secara congenital maupun idiopatik ( penyebabnya tidak diketahui). Secara marfologis, sel darah mer4ah terlihat normositik dan normokronik. Jumlah retikulosit rendah atau tidak ada dan biop[si sumsum tulang menunjukan keadaan yang disebut pungsi kering dengan hipoplasia nyata dan penggatian dengan jarinagan lemak. 2) Anemia defisiensi besi Anemia defesiensi besi adalah dimana keadaan kandungan besi tubuh total turun dibawah tingkat normal. Defesiensi besi merupakan penyebab utama anemia didunia, dan tetutama seringdijumpai pada wanita usia subur, disebabkan oleh kekurangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama kehamilan. Pada anemia defisiensi besi pemeriksaan darah menunjukan jumlah sel darah merah normal atau hamper normal dan kadar Hb berkurang. Pada perifer sel darah merah Mikrositik dan Hiprokromik disertai poikilositosi dan asisositosis jumlah retikulosis dapat normal atau berkurang. Kadar besi berkurang, sedangkan kapasitas mengikat besi serum total meningkat. 3) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam volat menunjukan perubahan yang sama antara sumsum tulang dan drah tepi, karena kedua vitamin tersebut esensial bagiu sintesis DNA normal. Pada setiap kasus, terjadi hyperplasia sumsum tulang, precursor eritroit dan myeloid besara dan aneh dan beberapa mengalami multinukleasi. Tetapi beberapa sel ini mati dalam sumsum tulang, sehingga jumlah sel matang yang meninggalkan sumsum tulang menjadi sedikit dan terjadilah parisitopenia. Pada keadaan lanjut Hb dapat turun 4-5 gr/dl hitung leukosit 2000-3000/ml3 dan hitung trombosit kurang dari 50000/ml3 b. Anemia hemolitik 1) Anemia hemolitik Pada anemia hemolitik,eritrosit memiliki rentang usia yang memendek. Untuk mengkompensasi hal ini biasanya sumsum tulang memproduksi sel darah merah baru 3x/ lebih disbanding kecepatan normal. Pada pemerikasaan anemia hemolitik ditemukan jumlah retikulosis meningkat, fraksi bilirubin indirect meningkat,dan haptok globin biasanya rendah. 2) Anemia hemolitika turunan 2.1 Sferositosis turunan Sferositosis turunan merupakan suatu anemia hemolitika ditandai dengan sel darah merah kecil berbentuk feris dan pembesaran limfa (spenomegali). Merupakan kelainan yang jarang, diturunkan secara dominant. Kelainan ini biasanya terdiagnosa pada anak-anak, namun dapat terlewat sampai dewasa karena gejalanya sangat sedikit. Penangananya berupa pengambilan limpa secara bedah. 2.2 Anemia sel sabit

Adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri. Anemia sel sabit ini merupakan ganggaun genetika resesif auto somal yaitu individu memperoleh Hb sabit (Hb s) dari kedua orang tua. Pasien dengan anemia sel sabit biasanya terdiagnosa pada kanak-kanak karena mereka nampak anemis ketika bayi dan mulai mengalami krisis sel sabit pada usia 1-2 tahun. 3.Etiologi Etiologi anemia dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Factor intrinsic 1. Gagal genetic.hal ini disebabkan karena seseorang hanya mempunyai Hb yang diperoleh dari orang tua yang sama-sama trait sel sabit. 2. Perdarahan 3. Infeksi, infeksi dapat menyebabkan meningkatnya metabolisme diarea infeksi tersebut sehingga sirkulais kejaringan perifer yang lain berkurang. b.Factor ekstrinsik 1. Makanan : defisiensi Fe, vitamin B12, dan asam folat 2. Bahan-bahan kimia seperti obat=obatan dan zat kimia lainnya (nikotin, arsen dll) 3. Radiasi : mengakibatkan kematian sel darah merah. 4. Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau akibat dari keduanya .kegagalan sum-sum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,pajanan toksik,invasi tumor atau akibat kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui (idiopatik).sel darah merah dapat hilang melalui pendarahan atau hemolisis. Lisis sel darah merah terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial,terutama Dallam hati dan limfa.sebagai hasil samping proses ini ,bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah merah(hemolisis) segera di refleksikan dengan peningkatan billirubin plasma. Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik,maka Hb akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia).apabila konsentrasi plasmanya malebihi kapasitas haptoglobin plasma maka Hb akan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan akan dikeluarkan melalui urine (hemoglobinuria) 5. Manifestasi klinis a. Anemia Aplastik 1. Klien terlihat lemah.pucat,sesak nafas pada saat latihan 2. Pendarahan abnormal akibat trombositopenia 3. Klien demam dan faringitis akut 4. Pemeriksaan labor : sel darah merah normositik dan normokromik b. Anemia defisiensi besi 1. Nilai Hb berkurang disbanding hitung sel darah merah

2. Hipokromik 3. Lidah klien halus,nyeri dan pica 4. Pemeriksaan labor:Hb rendah dibandingkan Ht dan hitung sel darah merah,kadar besi. 5. Serum rendah,angka sel darah putih biasanya normal dan angka trombosit berbeda-beda c. Anemia Megaloblastik 1. Klien tampak lemah dan pucat 2. Nyeri lidah 3. Diare ringan d. Anemia sel sabit 1. Klien tampak lemah dan pucat 2. Nyeri dan demam 3. Terdapat kristal-kristal dalam sel darah merah. 6. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan laboratorium Terdiri dari : 1. Pemeriksaan penyaring Pemeriksaan penyaring untuk kasus anemia terdiri dari pengukuran kadar Hb,indeks eritrosit dan hapusan darah tepi 2. Pemeriksaan darah seri anemia Pemeriksaan ini meliputi hitung leukosit,trombosit,hitung retikulosit dan laju endap darah. 3. Pemeriksaan sum-sum tulang Pemeriksaan ini memnerikan informasi yang sangat berharga mengenai system hematopoesis.pemeriksaan ini dibutuhkan untuk diagnosis definitive pada beberapa jenis anemia (anemia aplastik,anemia megaloblastik,serta kelompok hematomegalis) 4. Pemeriksaan khusus Pemeriksaan ini hanya dikerjakan atas indikasi khusus .misalnya pada: a. Anemia defisiensi besi : serum iron.TIBC (Eatal iron binding capacity),saturasi transferin,protoporfirin,eritrosit,feritin serum,siseptor transferin dan pengecatan besi pada sum-sum tulamng (Perls Stain) b. Anemia megaloblastik : folat serum,vitamin B12 serum,tes supresi deoksiuridin dan tes schilling c. Anemia hemolitik : bilirubin serum,Ees colomb,elektroforesis hemoglobin dll.

d. Anemia aplastik : biopsy sum-sum tulang ,juga diperlukan pemeriksaan non hemologik tertentu seperti pemeriksaan faal hati,faal ginjal dan faal tiroid. 7. Penatalaksanaan medik a. anemia aplastik 1. Tranfalasi sum-sum tulang dilakukan untuk memberikan persediaan jaringan hematopoesti yang masih dapat berfungsi 2. Terapi immuno supretif dengan ATG (globulin anti timosit) diberikan untuk menghentikan fungsi imunologis yang memperpanjang aplasia sehingga memungkinkan sum-sum tulang mengalami penyembuhan 3. Terapi suportif ,pasien disokong dengan tranfusi sel darah merah dan trombosit secukupnya unntuk mengatasi gejala anemia. b. anemia defisiensi besi Pemberian obat-obatan secara oral dengan berbagai preparat besi (sulfat sterusus,glukonat ferusus,dan fumarat femosus) c. anemia megaloblastik 1. Pemberian vitamin B12 2. Dengan penyuntikan AM,asam folat 1mg/hari d. anemia sel sabit 1. Pemberian obat anti sabit (cetiedil citrate) 2. Pemberian obat-obatan yang menurunkan kekentalan tahanan vaskuler perifer (pentoxifyline) 8. Komplikasi a. Jantung Menyebabkan gagal jantung kongestif b. Paru Menyebabkan infark paru,pneumonia,pneumonia,pneomokek c. SSP Menyebabkan trombosis serebral d. Genito urinaria Menyebabkan disfungsi ginjal,pria pismus e.GI Menyebabkan kolesisfitis,fibrosis hati dan abses hati f. Ocular

Menyebabkan ablasia retina,penyakit pembuluh darah perifer,pendarahan g. Skeletal Menyebabkan nekrosis aseptic kaput femoris dan kaput hemeri,daktilitis (biasanya pada anak kecil) h. Kulit Menyebabkan ulkus tungkai kronis. B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Data demografi b. Riwayat kesehatan a) Riwayat kesehatan dahulu - Kemungkinan klien pernah terpajan zat-zat kimia atau mendapatkan pengobatan seperti anti kanker,analgetik dll - Kemungkinan klien pernah kontak atau terpajan radiasi dengan kadar ionisasi yang besar - Kemungkinan klien kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung as. Folat,Fe dan Vit12. - Kemungkinan klien pernah menderita penyakit-penyakit infeksi - Kemungkinan klien pernah mengalami perdarahan hebat b) Riwayat kesehatan keluarga Penyakit anemia dapat disebabkan olen kelainan/kegagalan genetik yang berasal dari orang tua yang sama-sama trait sel sabit c) Riwayat kesehatan sekarang - Klien terlihat keletihan dan lemah - Muka klien pucat dan klien mengalami palpitasi - Mengeluh nyeri mulut dan lidah c. Kebutuhan dasar 1) Pola aktivitas sehari-hari - Keletihan,malaise,kelemahan - Kehilangan produktibitas : penurunan semangat untuk bekerja 2) Sirkulasi - Palpitasi,takikardia,mur mur sistolik,kulit dan membran mukosa ( konjungtiva,mulut,farink dan bibir) pucat

- Sklera : biru atau putih seperti mutiara - Pengisian kapiler melambat atau penurunan aliran darah keperifer dan vasokonstriksi (kompensasi) - Kuku : mudah patah,berbentuk seperti sendok - Rambut kering,mudah putus,menipis dan tumbuh uban secara prematur 3) Eliminasi Diare dan penurunan haluaran urin 4) Integritas ego Depresi,ansietas,takut dan mudah tersinggung 5) Makanan dan cairan - Penurunan nafsu makan - Mual dan muntah - Penurunan BB - Distensi abdomen dan penurunan bising usus - Nyeri mulut atau lidah dan kesulitan menelan 6) Higiene Kurang bertenaga dan penampilan tidak rapi 7) Neurosensori - Sakit kepala,pusing,vertigo dan ketidak mampuan berkonsentrasi - Penurunan penglihatan - Gelisah dan kelemahan 8) Nyeri atau kenyamanan Nyeri abdomen samar dan sakit kepala 9) Pernafasan Nafas pendek pada istirahat dan aktivitas (takipnea,ortopnea, dan dispnea) 10) Keamanan Gangguan penglihatan,jatuh,demam dan infeksi 11) Seksualitas - Perubahan aliaran menstruasi ( menoragia/amenore)

- Hilang libido - Impoten d. Pemeriksaan diagnostik - Jumlah darah lengakap (JDL) : Hb dan Ht menurun - Jumlah eritrosit menurun - Bilirubin serum ( tak tergonjugasi) : meningkat - Tes schilling : penurunan ekskresi Vit12 di urin - Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urin dan feses 2. Diagnosa keperawatan 1) Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen atau nutrien ke sel (Doengoes,Marilyn.1999 hal 573) 2) Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna / ketidakmampuan untuk mencerna makanan / absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal (Doengoes,Marilyn.1999 hal 575) 3) Intoleransi aktivitas b.d ketidak mampuan antara suplai oksigen dan kebutuhan (Doengoes,Marilyn.1999 hal 574)

DIAGNOSA KEPERAWATAN Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen atau nutrien ke sel Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna / ketidakmampuan untuk mencerna makanan / absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal Intoleransi aktivitas b.d ketidak mampuan antara suplai oksigen dan kebutuhan

TUJUAN&KRITERIA HASIL Setelah dilakuakan intervensi keperawatan,perubahan perfusi jaringan dapat diatasi dengan kriteria hasil : Menunjukkan perfusi adekuat,misalnya TTV stbil,membran mukosa merah muda,pengisian kapiler baik Haluaran urin adekuat Ssetelah dilakukan intervensi keperawatan Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan BB/BB stabil dengan nilai laboratorium normal Tidak mengalami tanda mal nutrisi Menunjukkan prilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan BB yang sesuai Setelah dilakukan intervensi keperawatan, intoleransi aktivitas dapat diatasi dengan kriteria hasil : Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas seharihari) Menunjukkan penurunan tanda fisilogis intoleransi,mis : nadi,pernafasan,dan TD masih dalam rentang normal Mandiri

INTERVENSI

RASIONAL Memberikan informasi tentang derajat atau keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenisasi untuk kebutuhan seluler Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark Vasokonstriksi ( keorgan vital ) menurunkan sirkulasi perifer.kenyamanan pasien/kebutuhan rasa hangat untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi ( penurunan perfusi organ ) Termoresptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respon terhadap terapi Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen : memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan Memaksimalkan transpor kejaringan Mengidentifikasi defisiensi,menduga kemungkinan intervensi Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan Mengawasi penurunan BB/efektivitas intervensi nutrisi Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan

Awasi TTV,kaji pengisian kapiler,warna kulit/mebran mukosa,dasar kuku Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi Selidiki keluhan nyeri dada,palpitasi Catat keluhan rasa dingin,pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi Hindri penggunaan bantalan penghangat atau botol air panas,ukur suhu air mandi dengan termometer Kolaborasi Awasi pemeriksaan laboratorium mis: Hb/Ht dan jumlah SDM Berikan SDM darah lengkap/packed,produk darah sesuai indikasi.awasi ketat untuk komplikasi transfusi Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi Mandiri Kaji riwayat nutrisi,termasuk makanan yang disukai Observasi dan catat masukan makanan pasien Timbang BB tiap hari Berikan makanan sedikit dengan frekuensi sering dan makan diantara waktu makan Observasi dan catat kejadian mual an muntah,flatus dan gejala lain

yang berhubungan Berikan dan bantu higiene mulut yang baik sebelum dan sesudah makan.gunakan sikat gigi yang halus untuk penyikatan yang lembut.berikan pencuci mulut yang diencerkan bila mukosa oral luka Kolaborasi Konsul pada ahli gizi Pantau pemetriksaan laboratorium mis : Hb/Ht,albumin protein,transferin,besi serum,Vit12,as.folat dan elektrolit serum Berikan obat sesuai indikasi,mis : - vitamin dan suplemen mineral,mis:sianokbalamin - as.folat (flovite) :as. Askorbat - besidrex : tran (IM/IV) - tambahan besi oral,mis : fero sulfat (feosol),feroglukonat (fergon),as. Hidroklorida (HCl) anti jamur/pencuci mulut anestetik jika diindikasikan berikan diet halus,rendah serat,menghindari makanan panas,pedas/terlalu asam sesuai indikasi berikan suplemen nutrisi,mis : ensure,isokal Mandiri kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas.Catat laporan kelelahan dan kesulitan menyelesaikan tugas kaji keseimbangan/gangguan keseimbangan gaya jalan,kelemahan otot

meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia )pada organ Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral,menurunkan pertumbuhan bakteri,meminimalkan kemungkinan infeksi.Teknik perawatan mulut kusus mungkin diperluakan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi kebutuhan induvidual Meningkatkan efektifitas program pengobatan,termasuk sumber diet nutrisiyang dibutuhkan Kebutuhan pergantian tergantung pada tipe anemia dan/ adanya masukan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi Mungkin diperlukan pada adanya stomatitis/glositis untuk meningkatkan penyembuhan jaringan mulut dan memudahakan masukan Bila ada lesi oral,nyerindapat membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi pasien Meningkatkan masukan protein dan kalori Mempengaruhi pilihan intervensi atau bantuan Menunjukkan perubahan neuralogi karena defisiensi Vit12, mempengaruhi keamanan pasien atau resiko cidera Manifestasi kardiopulmonal dari jantung dan paru

awasi TD,nadi,pernafasn selama dan sesudah aktifitas.Catat respons terhadap tingkat aktifitas (mis : peningkatan denyut jantung/TD,disritmia,pusing,dispnea,takipnea dsb) berikan lingkungan tenang,pertahankan tirah baring jika diindikasikan.Pantau dan batasi pengunjung dan telepon ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing berikan bantuan dalam aktivitas atau ambulasi bila perlu memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin rencanakan kemajuan aktivitas dengan pasien termasuk aktivitas yang dipandang pasien perlu,tingkatkan tingkat aktivitas seauai toleransi gunakan teknik penghematan energi,mis : mandi dengan dduduk,duduk dalam melakukan aktivitas dll anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi nyeri dada,nafas pendek,kelemahan atau pusing terjadi

untuk membawa jumlah oksigen yang kuat kejaringan Meningkatkan istirahat untk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan tegangan paru Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing,bedenyut dan peningkatan resiko cidera Membantu bila perlu,harga diri meningkat bila pasien melakukan aktivitas sendiri Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan.Meningkatkan harga diri dan rasa terkontrol Mendorong pasien melakukan banyak kegiatan dan membatasi penyimpangan energi dajn mencegan kelemahan Regangan/stres kardiopulmonal berlabihan/stres dadat menimbulkan dekompensasi/kegagalan

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Anemia bukan merupakan suatu penyakit melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh.Anemia hanyalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh berbagai macam panyebab.Pada dasarnya anemia disebabkan oleh gangguan pembentukan eritrosit sumsum tulang,kehilangan darah (perdarahan) dan proses penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis). Gejala klinis yang biasa terjadi pada seseorang yang gangguan anemia dapat berupa : nyeri pada mulut dan lidah,muka pucat,kelemahan dan keletihan,palpitasi,tkikardia.mur mur sistolik,diare dan penurunan haluaran urin,penurunan nafsu makan,mual dan muntah,distensi abdomen dan penurunan bising usus,rambut kering,mudah putus,menipis dan tumbuh uban secara prematur,nafas pendek,gangguan penglihatan dan demam. Pengkajian yang dilakukan pada klien yang anemia dapat dirumuskan diagnosa keperawatan sebagai berikut : perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi,perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna dan ketidakmampuan mencerna makanan dan absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal serta intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan. Implementasi keperawatan pada klien anemia harus sesuai dengan intervensi atau rencana keperawatan yang telah dibuat.Oleh karena itu perawat harus memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif sehingga meminimalkan kemungkinan terjadi komplikasi Diposkan oleh mE pOetrie di 00:02 2 komentar: Anonim mengatakan... hi..... makasi ya Askepnya......... upz lam knl ja ya,,,,,,,, 16 April 2009 00:40 Anonim mengatakan... mbak....tulisan nya bnyak yang kepotong tuh...tolong ya mbak dibenerin. mungkin karena pengaruh template nya. 15 Januari 2010 20:31 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)