Anda di halaman 1dari 33

Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi cahayacahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi,

ni, u) pada prisma lewat pembiasan atau pembelokan. Hal ini membuktikan bahwa cahaya putih terdiri dari harmonisasi berbagai cahaya warna dengan berbedabeda panjang gelombang. Warna Panjang gelombang

Ungu

400-440nm

Biru

440-495nm

Hijau

495-580nm

Kuning 580-600nm

Orange 600-640nm

Merah 640-750nm Sebuah prisma atau kisi kisi mempunyai kemampuan untuk menguraikan cahaya menjadi warna warna spektralnya. Indeks cahaya suatu bahan menentukan panjang gelombang cahaya mana yang dapat diuraikan menjadi komponen komponennya. Untuk cahaya ultraviolet adalah prisma dari kristal, untuk cahaya putih adalah prisma dari kaca, untuk cahaya infrared adalah prisma dari garam batu. Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya. Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi terbesar. Sudut dispersi: F = du - dm F = (nu - nm)b dm = sudut deviasi merah du = sudut deviasi ungu nu = indeks bias untuk warna ungu nm = indeks bias untuk warna merah

Catatan : Untuk menghilangkan dispersi antara sinar ungu dan sinar merah digunakan susunan Prisma Akhromatik. Ftot = F kerona - Fflinta = 0

Untuk menghilangkan deviasi suatu warna, misalnya hijau, digunakan susunan prisma pandang lurus. Dtot = Dkerona - Dflinta = 0

Pelangi disebabkab adanya peristiwa pembiasan dan peristiwa disversi pada titik-titik uap air. Apa itu Disversi ???? Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromarik (putih) menjadi cahayacahaya monokromatik (merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu) Kapan DISPERSI itu terjadi ??

Dsversi cahaya terjadi jika seberkas cahaya polikromatik (cahaya putih) jatuh pada sisi prisma. Cahaya putih tersebut itu akan diuraikan menjadi warna-warna pembentuknya yang disebut spektrum cahaya., seperti gambar diatas. Mengapa DISPERSI cahaya bisa terjadi ??? Karena cahaya merah mempunyai kecepatan paling besar maka cahaya mengalami deviasi paling kecil. Sedangkan cahaya ungu yang mempunyai kecepatan paling kecil mengalami deviasi paling besar sehingga indeks bias cahaya ungu lebih besar dari pada cahaya merah Apakah sudut dispersi itu ??

Sudut dispersi adalah sudut yang dibentuk oleh sinar merah dan sinar ungu setelah keluar dari prisma. Besar sudut dispersi adalah = ungu merah

Bila sudut pembias prisma kecil = ( nungu nmerah ) Apabila sudut-sudut pembias kecil maka rumus tersebut dapat ditulis dalam bentuk (n1k 1) 1 = (n2k 1) 2 Sudut deviasi total dapat ditentukan dari hubungan berikut : total = (n1m 1) 1 - (n2m 1) 2 = (n1u 1) 1 - (n2u 1) 2

DISPERSI CAHAYA POLIKROMATIK


Dispersi

adalah peristiwa penguraian cahaya polikromarik (putih) menjadi cahaya-cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma.

Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya. Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi terbesar. Sudut dispersi F = du - dm F = (nu - nm)b dm = sudut deviasi merah du = sudut deviasi ungu nu = indeks bias untuk warna ungu nm = indeks bias untuk warna merah Catatan : Untuk menghilangkan dispersi antara sinar ungu dan sinar merah kita gunakan susunan Prisma Akhromatik. Ftot = F kerona - Fflinta = 0 Untuk menghilangkan deviasi suatu warna, misalnya hijau, kita gunakan susunan prisma pandang lurus. Dtot = Dkerona - Dflinta = 0 3. Pembiasan Cahaya pada Prisma Bahan bening yang dibatasi oleh dua bidang

permukaan yang bersudut disebut prisma. Besarnya sudut antara kedua permukaan itu disebut sudut pembias (). Apabila seberkas cahaya masuk pada salah satu permukaan prisma, cahaya akan dibiaskan dari permukaan prisma lainnya. Karena adanya dua kali pembiasan, maka pada prisma terbentuklah sudut penyimpangan yang disebut sudut deviasi. Sudut deviasi adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan dari perpanjangan cahaya datang dengan perpanjangan cahaya bias yang meninggalkan prisma. P, Q, R, dan S menyatakan jalannya cahaya dari udara masuk ke dalam prisma.

Dispersi

adalah peristiwa penguraian cahaya polikromarik (putih) menjadi cahayacahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma.

Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya. Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi terbesar. Sudut dispersi = u- m = (nu - nm) m = sudut deviasi merah u = sudut deviasi ungu nu = indeks bias untuk warna ungu nm = indeks bias untuk warna merah Catatan : Untuk menghilangkan dispersi antara sinar ungu dan sinar merah kita gunakan susunan Prisma Akhromatik.

tot

kerona

flinta

=0

Untuk menghilangkan deviasi suatu warna, misalnya hijau, kita gunakan susunan prisma pandang lurus. Dtot = Dkerona - Dflinta = 0

PRAKTIKUM II A. Judul B. Tujuan : Penguraian cahaya (Dispersi) : Mengamati penguraian cahaya oleh prisma

C. landasan teori : Cahaya merupakan radiasi gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi mata manusia. Cahaya selain memiliki sifat-sifat gelombang secara umum misal dispersi, interferensi, difraksi, dan polarisasi, juga memiliki sifat-sifat gelombang elektromagnetik, yaitu dapat merambat melalui ruang hampa.Gejala dispersi cahaya adalah gejala peruraian cahaya putih (polikromatik) menjadi cahaya berwarna-warni (monokromatik). Cahaya putih merupakan cahaya polikromatik, artinya cahaya yang terdiri atas banyak warna dan panjang gelombang. Jika cahaya putih diarahkan ke prisma, maka cahaya putih akan terurai menjadi cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Cahaya-cahaya ini memiliki panjang gelombang yang berbeda. Setiap panjang gelombang memiliki indeks bias yang berbeda. Semakin kecil panjang gelombangnya semakin besar indeks biasnya. Disperi pada prisma terjadi karena adanya perbedaan indeks bias kaca setiap warna cahaya. D. Alat Dan Bahan : Meja optik Rel presesisi Pemegang slide diagfragma Bola lampu Catu daya Kabel penghubung merah Kabel penghubung hitam Tumpakan berpenjepit Prisma siku-siku Lensa bertangkai E. Langkah langkah percobaan : Menyusun alat-alat yang diperlukan Melipat ujung kanan kertas kira-kira 2 cm dari ujung sehingga bagian berdiri tegak. Ujung yang tegak akan digunakan untuk menangkap sinar bias yang keluar dari prisma. Mengatur kesesuain rangkaian sumber cahaya dengan catu daya maupun sumber listriknya. Menyalakan sumber cahaya, mengatur listrik prisma sehingga sinar yang keluar dari prisma mengenai lipatan kertas. Mengamati sinar yang mengenai lipatan kertas. Adakah terlihat warna ditempat jatuhnya sinar? Sambil memperhatikan sinar yang mengenai lipatan, prisma perlahan-lahan diputar. Memutar dengan arah sesuai putaran jarum jam dan dengan arah berlawanan dengan putaran jarum jam. F. hasil pengamatan: Jam 12 1 2 3 Sesuai arah jarum jam Warna Orange Merah, kunin, violetg, biru, hijau Orange, hijau, biru Orange

4 5 6 7 8 9 10 11

Orange Orange Merah, biru, kuning Merah, kuning, biru Biru, merah, kuning Merah, hijau, kuning, biru Merah, biru, hijau Merah, biru hijau Berlawanan arah jarum jam Warna Merah, hijau, kuning, biru Biru, hijau, kuning, merah Biru, hijau, kuning, merah Merah, kuning, hijau Merah, kuning, hijau Merah, kuning, hijau Merah, kuning,hijau biru Merah, kuning, hijau,biru Merah, kuning, hijau Merah, kuning, hijau Merah, kuning, hijau Biru, hijau, kuning, merah

Jam 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

G. Analisis Data: Dari hasil pengamatan data diatas apabila prisma diputar sesuai dengan arah jarum jam akan menghasilkan cahaya berwarna : oranye, kuning, biru, hijau, merah, dan violet.Dan apabila prisma diputar berlawanan dengan arah jarum jam akan menghasilkan cahaya berwarna : merah, hijau, kuning, dan biru. H. Kesimpulan : Bahwa penguraian cahaya oleh prisma apabila diputar sesuai dengan arah jarum jam akan menghasilkan warna yang berbeda, dan sebaliknya apabila diputar berlawanan dengan arah jarum jam menghasilkan warna yang berbeda pula.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jika seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan, maka berkas cahaya tersebut ada yang dibelokkan sewaktu memasuki medium baru tersebut, dimana pembelokan itu disebut dengan pembiasan. Indeks bias atau indeks bias suatu zat adalah ukuran dari kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Hal ini dinyatakan sebagai rasio dari kecepatan cahaya dalam vakum relatif terhadap yang dalam medium dipertimbangkan.

Sebagai media keluar cahaya, seperti udara, air atau gelas, juga bisa mengubah arah propagasi dalam proporsi ke indeks bias ( Hukum Snell ). Indeks bias bahan bervariasi dengan frekuensi cahaya yang terpancar . Yang melatar belakangi peneliti melakukan praktikum ini adalah untuk mengetahui indeks bias dan membandingkan sudut deviasi hasil pengamatan dengan sudut deviasi hasil pengukuran B. Rumusan Masalah 1. Berapakah besar sudut deviasi prisma melalui pengamatan dan pengukuran ? 2. Berapakah besar indeks bias bahan prisma ?

C. Tujuan 1. Menentukan besar sudut deviasi prisma melalui pengamatan dan pengukuran. 2. Menentukan indeks bias bahan prisma.

BAB II DASAR TEORI Prisma adalah benda bening yang dibatasi oleh dua bidang datar yang membentuk sudut tertentu satu sama lain.Prisma merupakan salah satu benda optik yang dapat menguraikan sinar putih (polikromatik) menjadi sinar-sinar penyusunnya.Sudut pembias prisma (). Sudut pembias prisma ini dibentuk oleh kedua bidang pembias prisma. Atau disebut juga sudut puncak prisma. A. Sinar datang dari medium (n ) menuju medium kaca/prisma dengan sudut datang i mengalami pembiasan pertama kali dengan sudut bias r . B. Sinar datang dari prisma/kaca keluar dari medium (n ) dengan sudut datang i akan dibiaskan kedua kali dengan sudut bias r . Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromarik (putih) menjadi cahayacahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma lewat pembiasan atau pembelokan. Hal ini membuktikan bahwa Cahaba putih terdiri dari harmonisasi berbagai cahaya warna dengan berbeda-beda panjang gelombang. Sudut deviasi adalah sudut yang dibentuk antara perpanjangan sinar yang menuju prisma dengan perpanjangan sinar yang keluar dari prisma. Persamaan yang digunakan pada pembentukan sudut deviasi adalah :
1 1 1 1 2 2

(i). Persamaan snellius untuk sinar datang menuju prisma : (ii). Sudut pembias prisma :

(iii). Persamaan Snellius untuk sinar yang keluar dari prisma : Adapun besar sudut deviasi prisma adalah : (www.wikkipedia.co.id tanggal 12 Agustus 2010 pukul 14.00WIB) BAB III METODE ILMIAH A. Alat dan bahan a. Prisma siku siku b. c. d. e. f. g. Jarum pentul Mistar Busur derajat Kertas putih ( HVS ) Steorofom Alat tulis

B. Cara kerja a. Membuat garis silang ditengah tengah kertas putih ( HVS ) sumbu x dan sumbu meletakkan prisma siku siku dengan posisi seperti gambar.( sumbu x lebih dekat dengan sudut pembias ), lukis dengan pensil sisi sisi prisma. Sb y Sb x

b. Membentuk sudut 20 ,25 ,55 dengan sumbu x, dan disebut dengan sudut datang ( i ) menancapkan 2 jarum di titik A dan B, dengan melihat dari sisi prisma yang lain menancapkan jarum C dan D seperti di bawah sehingga bila dilihat keempat jarum yaitu A, B,C dan D tampak satu garis ( berimpit ). Ukur sudut pembias prisma ( ).
0 0 0

Sb y Sb x A D c. Kemudian prisma diangkat, garis C-D dihubungkan hingga memotong garis perpanjangan AB, dengan busur derajat mengukur sudut deviasi (sudut yang dibentuk antara perpanjangan garis AB / sinar datang dengan perpanjangan garis CD/ sinarbias terakhir). Sb y B C

Sb x r C A D d. Besar sudut bias terakhir ( r ) yakni sudut antara garis C-D dengan garis yang tegak lurus sisi miring prisma melalui titik P juga diukur. e. Mengulangi percobaan diatas dengan sudut sudut yang lain yaitu sudut 20, 25, 39, 35, 40, 36, 40, 45, 50, 55 derajat dan hasilnya dimasukkan ke dalam table data. f. g. h. Membuat grafik hubungan antara sudut datang ( i ) dengan sudut deviasi ( ). Dari grafik mencari sudut deviasi minimum. Lalu mentukan nilai indeks bias kaca prisma yang digunakan. B

i. Jika pengukuran r benar,dengan menggunakan rumus = i + r , maka bandingkan hasil pengukuran sudut deviasi dengan perhitungan ! Apa pendapatmu !

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. Tabel Pengamatan Sudut datang (i) 20 25 30 35 40 45 50 55


0

Sudut bias terakhir ( r ) 54


0

Sudut deviasi () pengamatan 27,5


0

45,5 41 35 28 26
0

28 27 24 23 25

20,5 18
0

27,5 28
0

C. Analisis Data 1. Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh data sudut deviasi, perbandingan pengukuran dengan rumus dan pengamatan (tinta merah) adalah sebagai berikut : Sudut pembias prisma ( ) adalah 44 a. = I + r - = 20 + 54-44 = 30 ~ 27,5
o 0 .

b.

= I + r -
o

= 25 + 45,5-44 = 26,5~28 c. = I + r -

= 30 + 41 -44 = 27~27 d. = I + r -

= 35+35-44

= 26~24 e. = I + r -

= 40+28-44 =24~23 f. = I + r -

=45+26-44 =27~25 g. = I + r -

= 50+20,5-44 = 26,5~27,5 h. = I + r -

= 55+18-44 = 29~28 Dari hasil perhitungan sudut deviasi dari sudut 20-50 hasilnya sesuai (mendekati) dengan rumus a. Sudut datang ( i ) ; 20 , sudut bias terakhir ( r ) ; 54 , serta sudut deviasi ( ) ; 27,5 . b. Sudut datang ( i ) ; 25 , sudut bias terakhir ( r ) ; 45,5 , serta sudut deviasi ( ) ; 28 . c. Sudut datang ( i ) ; 30 , sudut bias terakhir ( r ) ; 41 , serta sudut deviasi ( ) ; 27 . d. Sudut datang ( i ) ; 35 , sudut bias terakhir ( r ) ; 35 , serta sudut deviasi ( ) ; 24 . e. Sudut datang ( i ) ; 40 , sudut bias terakhir ( r ) ; 28 , serta sudut deviasi ( ) ; 23 . f. Sudut datang ( i ) ; 45 , sudut bias terakhir ( r ) ; 26 , serta sudut deviasi ( ) ; 25 . g. Sudut datang ( i ) ; 50 , sudut bias terakhir ( r ) ; 20.5 , serta sudut deviasi ( ) ; 27,5 .
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

h. Sudut datang ( i ) ; 55 , sudut bias terakhir ( r ) ; 18 , serta sudut deviasi ( ) ; 28 . Sudut deviasi minimum adalah sudut deviasi yang terkecil yang dapat terbentuk.Dan berada saat sudut datang dan sudut bias akhir bernilai sama Dari data tersebut di atas seharusnya diperoleh bahwa sudut deviasi minimum ( m ) yaitu 24 Tetapi setelah sudut deviasi 24 masih ada sudut yang lebih kecil, yaitu sudut deviasi 23 Dapat disimpulkan bahwa besarnya nilai sudut bias terakhir ( r ) berbanding terbalik dengan besarnya nilai sudut datang ( i ). Apabila besarnya nilai sudut datang ( i ) semakin naik, maka besarnya nilai sudut bias terakhir ( r ) semakin turun. Besarnya nilai sudut bias terakhir (r) berbanding terbalik pula dengan besarnya nilai sudut deviasi ( ). Dan , dalam suatu pengukuran sudut deviasi kita akan menemukan sudut deviasi minimum ( m ). 2. Indeks bias kaca prisma Dengan menggunakan rumus :
0 0 0 0 . 0 0

n= sin r

sin i

untuk mencari nilai indeks bias ( n ) kaca prisma yang digunakan, maka diperoleh data sebagai berikut ; Untuk i = 20 dan r = 54 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 0,37. Untuk i = 25 dan r = 45,5 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 0,54. Untuk i = 30 dan r = 41 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 0,73. Untuk i = 35 dan r = 35 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 1. Untuk i = 40 dan r = 28 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 1,4. Untuk i = 45 dan r = 26 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 1,7. Untuk i = 50 dan r = 20,5 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 2,4. Untuk i = 55 dan r = 18 , maka nilai indeks bias ( n ), yaitu 3,05. Dengan seluruh rataan nilai indeks bias ( n ) kaca prisma adalah 1,4. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Sudut deviasinya adalah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Sudut datang (i)

Sudut bias terakhir ( r )

Sudut deviasi () pengamatan

Sudut deviasi () pengukuran

20 25

54

27,5
0

30

45,5 41
0

28 27

26,5 27
0

30 35

35

24 23 25
0

26 24 27
0

40 45

28 26

50 55 2.

20,5 18
0

27,5 28
0

26,5 29,5

Indeks bias prisma adalah 1,4

B. Saran 1. Lebih teliti dalam mengamati jatuhnya sinar bias 2. Pastikan mata lurus dengan sudut bias

DAFTAR PUSTAKA Wikipedia.com

Cahaya
Mengapa kamu dapat melihat benda-benda di sekitarmu? Apakah kamu dapat melihat ketika lampu di rumahmu padam? Kamu dapat melihatnya karena ada cahaya. Pada malam hari atau dalam sebuah kamar yang gelap kamu tidak dapat melihat apa-apa karena tidak ada cahaya. Bisa dibayangkan kalau Tuhan tidak menciptakan cahaya, apakah kamu dapat melihat benda-benda di sekeliling kamu? Adanya matahari sebagai sumber cahaya yang paling besar serta mata kamu yang begitu indah merupakan ciptaan Tuhan yang maha kuasa sehingga kamu dapat melihat benda di sekitar kamu. Oleh karena itu, marilah bersyukur dengan cara memelihara alam ini dan mempelajari segala kejadian di alam ini. Cahaya adalah salah satu bentuk gelombang. Cahaya dapat merambat di ruang hampa udara karena termasuk jenis gelombang elektromagnetik. Jika cahaya mengenai suatu benda, seperti halnya gelombang mekanik, cahaya tersebut dapat dipantulkan dan dibiaskan. Pada bab ini, kamu akan mempelajari beberapa sifat cahaya, di antaranya cahaya dapat merambat lurus, dapat dipantulkan, dapat dibiaskan, dan dapat mengalami penguraian warna. Selain itu, akan dipelajari pula sifat-sifat lensa dan cermin. Sifat-sifat cahaya pada cermin dan lensa banyak dimanfaatkan untuk membuat alat yang bermanfaat bagi manusia, misalnya mikroskop, lup, teleskop, dan lensa.

A. Pengertian Cahaya
Di bawah terik matahari kamu dapat melihat bayanganmu bergerak sesuai dengan gerakanmu. Secepat apapun kamu bergerak, bayanganmu tetap ada di dekatmu. Ketika hari berubah menjadi

mendung, bayanganmu tidak terlihat. Ke manakah bayanganmu itu? Apakah yang menyebabkan bayanganmu ada? Bayangan terjadi karena adanya cahaya. Cahaya merupakan salah satu bentuk gelombang. Cahaya dapat merambat tanpa medium termasuk jenis gelombang elektromagnetik. Tuhan telah menciptakan Matahari dan cahayanya sedemikian rupa sehingga makhluk yang berada di Bumi dapat memanfaatkan cahaya tersebut.

1. Cahaya Merambat Lurus


Bagaimanakah cahaya itu bergerak, apakah merambat lurus atau berkelok-kelok? Pernahkah kamu memperhatikan seberkas cahaya yang masuk pada sebuah lubang kecil di ruang yang relatif gelap? Bagaimanakah perambatan cahaya yang kamu lihat? Untuk membuktikan jawabanmu, Jika kamu melakukan kegiatan tersebut dengan baik, cahaya akan keluar dari karton terakhir ketika lubang ketiga karton tersebut berada pada satu garis lurus. Hal ini membuktikan bahwa cahaya merambat lurus. Hal yang sama terjadi pada saat kamu melihat perambatan cahaya melalui lubang kecil di suatu ruang yang gelap. Jika sumber cahaya tersebut adalah Matahari, kamu akan melihat perbedaan arah rambat cahaya di ruang gelap tersebut ketika Matahari terbit sampai Matahari terbenam. Akibat cahaya merambat lurus, benda yang tidak tembus cahaya seperti buku, pohon, kertas, atau tubuh manusia akan membentuk bayangan apabila terkena cahaya.

2. Bayangan Umbra dan Penumbra


Coba kamu perhatikan, ketika kamu berada di bawah cahaya lampu, adakah bayangan tubuhmu yang dapat kamu lihat? Bagaimanakah terjadinya pembentukan bayangan tersebut? Jika sebuah benda tidak tembus cahaya dikenai cahaya, di belakang benda tersebut akan terbentuk dua bayangan, yaitu bayangan inti dan bayangan kabur. Bayangan inti disebut umbra dan bayangan kabur disebut penumbra. Gerhana bulan total terjadi karena Bulan masuk ke dalam bayang-bayang umbra Bumi. Pada gerhana matahari total, sebagian tempat di Bumi masuk ke dalam bayangbayang umbra bulan.

B. Pemantulan Cahaya
Pernahkan kamu melihat indahnya Bulan purnama dan bertaburnya Bintang pada malam hari yang cerah? Tentunya hal itu akan mengingatkanmu pada Sang Pencipta. Begitu indah ciptaan-Nya sehingga patut kamu syukuri dan kamu pelajari agar keimananmu bertambah. Terangnya bendabenda langit tersebut karena adanya cahaya. Bintang bersinar karena dia memiliki cahaya sendiri, sedangkan Bulan tampak bercahaya karena pantulan dari cahaya Matahari. Akan tetapi, manusia di Bumi seolah-olah melihat Bulan tersebut memancarkan cahayanya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, kamu tidak dapat melihat benda-benda di sekitarmu tanpa adanya cahaya. Pada malam hari ketika lampu listrik rumahmu padam, kamu tidak dapat melihat apapun di sekitarmu. Hal tersebut terjadi karena tidak ada cahaya yang dipantulkan oleh benda di sekitarmu. Jadi, kamu dapat melihat suatu benda apabila ada cahaya yang dipantulkan oleh benda tersebut ke matamu.

1. Pemantulan Teratur dan Pemantulan Baur


Pemantulan cahaya pada benda yang tidak tembus cahaya, ada yang teratur dan ada pula yang tidak teratur. Kamu dapat melihat cahaya yang dipantulkan benda-benda di sekitarmu tidak menyilaukan mata, tetapi terasa teduh dan nyaman. Namun, cahaya yang dipantulkan cermin ke mata akan sangat menyilaukan. Mengapa demikian? Untuk mengetahuinya, lakukanlah kegiatan Ayo Coba 14.3 berikut.

Cermin datar memiliki permukaan yang rata dan licin, sedangkan permukaan papan triplek kasar atau tidak rata. Hal tersebut menyebabkan sinar pantul pada cermin datar menghasilkan berkas yang sejajar menuju suatu arah tertentu. Sebaliknya, permukaan triplek tidak rata, penuh tonjolan, dan lekukan yang menyebabkan sinar pantul tidak menuju ke satu arah tertentu, tetapi menuju berbagai arah secara tidak teratur. Pemantulan cahaya oleh permukaan rata disebut pemantulan teratur, sedangkan pemantulan cahaya oleh permukaan yang tidak rata disebut pemantulan baur. Pada saat melihat benda-benda di sekitarmu atau melihat pemandangan, matamu akan terasa nyaman. Hal tersebut karena sinar pantul yang terjadi termasuk pemantulan baur. Intensitas cahaya yang mengenai matamu tidak terlalu besar karena tidak semua sinar pantul menuju mata. Jika cahaya mengenai suatu benda, sebagian yang lain akan diteruskan dan sebagian akan dipantulkan, misalnya pada kaca bening.

2. Hukum Pemantulan
Pemantulan teratur terjadi pada benda yang tidak tembus cahaya dan permukaannya rata. Cermin merupakan suatu benda yang permukaannya sangat halus dan rata sehingga hampir semua cahaya yang datang padanya dapat dipantulkan.

C. Cermin dan Sifat Bayangan 1. Cermin Datar


Ketika kamu akan berangkat ke sekolah, setelah mandi pasti kamu akan mencari cermin untuk merapikan penampilanmu sehingga menambah percaya diri. Mengapa menggunakan cermin? Cermin apakah yang kamu gunakan? Cermin yang kamu gunakan adalah cermin datar. Mengapa tidak menggunakan cermin cekung atau cermin cembung? Permukaan cermin datar sangat halus dan memiliki permukaan yang datar pada bagian pemantulannya, biasanya terbuat dari kaca. Di belakang kaca dilapisi logam tipis mengilap sehingga tidak tembus cahaya. Ketika kamu bercermin, bayangan wajahmu ada di belakang cermin tersebut berhadap-hadapan denganmu seakan kembaran yang persis sama. Akan tetapi, posisimu menjadi berubah, tangan kanan menjadi tangan kiri, telinga kirimu menjadi telingan kanan, begitu juga seluruh anggota badanmu.

2. Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar


Ketika kamu bercermin, bayanganmu tidak pernah dapat dipegang atau ditangkap dengan layar. Bayangan seperti itu disebut bayangan maya atau bayangan semu. Bayangan maya selalu terletak di belakang cermin. Bayangan ini terbentuk karena sinar-sinar pantul yang teratur pada cermin. Oleh karena itu, kamu dapat menentukan sifat-sifat bayangan pada cermin datar. Sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh cermin datar adalah sebagai berikut. a. Bayangannya maya. b. Bayangannya sama tegak dengan bendanya. c. Bayangannya sama besar dengan bendanya. d. Bayangannya sama tinggi dengan bendanya. Keteraturan sinar-sinar pantul pada cermin datar dapat digunakan untuk menggambarkan bayangan secara grafis dengan cara menggambarkan sinar datang dan sinar pantulnya. Perhatikan Gambar 14.10. Cara menggambar bayangan dengan perjalanan cahaya adalah sebagai berikut. a. Buatlah dua berkas sinar datang sembarang ke permukaan cermin dari bagian atas benda dan dari bagian bawah benda. b. Buatlah sinar pantul dengan menggunakan Hukum Pemantulan Cahaya, yaitu sudut datang sama dengan sudut pantul. c. Perpanjang sinar pantul tersebut hingga bertemu pada satu titik. d. Pertemuan titik itu adalah bayangan dari benda tersebut, terbentuk bayangan A' B'. e. Bayangan yang terbentuk adalah hasil perpotongan perpanjangan sinar-sinar pantul sehingga disebut sinar maya. Skema percobaan untuk memperoleh bayangan pada cermin datar

3. Cermin Cekung
Selain cermin datar, ada pula cermin lengkung. Cermin tersebut adalah cermin cekung dan cermin cembung. Cermin cekung memiliki permukaan pemantul yang bentuknya melengkung atau membentuk cekungan. Garis normal pada cermin cekung adalah garis yang melalui pusat kelengkungan, yaitu di titik M atau 2F. Sinar yang melalui titik ini akan dipantulkan ke titik itu juga. Cermin cekung bersifat mengumpulkan sinar pantul atau konvergen. Ketika sinar-sinar sejajar dikenakan pada cermin cekung, sinar pantulnya akan berpotongan pada satu titik. Titik perpotongan tersebut dinamakan titik api atau titik fokus (F). Perhatikan Gambar 14.12.

Ke manakah arah sinar pantul pada cermin cekung jika sinar datang melalui titik fokus? Ketika sinarsinar datang yang melalui titik fokus mengenai permukaan cermin cekung, ternyata semua sinar

tersebut akan dipantulkan sejajar dengan sumbu utama. Akan tetapi, jika sinar datang dilewatkan melalui titik M (2F), sinar pantulnya akan dipantulkan ke titik itu juga. Dari hasil kegiatan Ayo Coba 14.6 dan Ayo Coba 14.7, kamu dapat menyimpulkan bahwa pada cermin cekung terdapat sinarsinar istimewa sebagai berikut. a. Sinar datang sejajar dengan sumbu utama akan dipantulkan melalui titik fokus.

4. Pembentukan Bayangan pada Cermin Cekung


Jika kamu bercermin pada cermin cekung, kamu tidak akan mendapatkan bayanganmu selalu di belakang cermin. Mengapa demikian? Bagaimanakah pembentukan bayangan pada cermin cekung? Ketika kamu meletakkan sebuah benda dengan jarak lebih besar daripada titik fokus cermin cekung, bayangan benda yang terjadi selalu nyata karena merupakan perpotongan langsung sinar-sinar pantulnya (di depan cermin cekung). Akan tetapi, ketika benda kamu letakkan pada jarak di antara titik fokus dan cermin, kamu tidak akan mendapatkan bayangan di depan cermin. Bayangan benda akan kelihatan di belakang cermin cekung, diperbesar, dan tegak. Jika gambar jalannya sinar yang kamu buat pada kegiatan Ayo Coba 14.8 benar, kamu dapat membandingkannya dengan Gambar 14.17 dan Gambar 14.18.

5. Cermin Cembung
Selain cermin datar dan cermin cekung, terdapat pula cermin cembung. Pada cermin cembung, bagian mukanya berbentuk seperti kulit bola, tetapi bagian muka cermin cembung melengkung ke luar. Titik fokus cermin cembung berada di belakang cermin sehingga bersifat maya dan bernilai negatif. Bagaimanakah sifat-sifat cahaya pantul pada cermin cembung? Jika sinar datang sejajar dengan sumbu utama mengenai cermin cembung, sinar pantul akan menyebar. Cermin cembung memiliki sifat menyebarkan sinar (divergen). Jika sinar-sinar pantul pada cermin cembung kamu perpanjang pangkalnya, sinar akan berpotongan di titik fokus (titik api) di belakang cermin. Pada perhitungan, titik api cermin cembung bernilai negatif karena bersifat semu.

Sinar-sinar pantul pada cermin cembung seolah-olah berasal dari titik fokus menyebar ke luar. Seperti halnya pada cermin cekung, pada cermin cembung pun berlaku sinarsinar istimewa, tetapi dengan sifat yang berbeda. a. Sinar datang sejajar dengan sumbu utama akan dipantulkan seolah-olah dari titik fokus.

6. Pembentukan Bayangan pada Cermin Cembung


Bayangan yang terbentuk pada cermin cembung selalu maya dan berada di belakang cermin. Mengapa demikian? Secara grafis, kamu cukup menggunakan dua berkas sinar istimewa untuk mendapatkan bayangan pada cermin cembung, perhatikan Gambar 14.23. sebuah lilin yang diletakkan di depan cermin cembung akan memiliki bayangan maya di belakang cermin.

7. Penomoran Ruang Benda dan Bayangan pada Cermin


Untuk memudahkan pengecekan sifat-sifat bayangan pada cermin, dibuat nomor-nomor ruang beda dan bayangan, sebagai berikut.

D. Pembiasan Cahaya
Ketika kamu memasukkan sebagian pensil ke dalam air, apa yang terjadi? Seakan-akan pensilmu menjadi patah. Mengapa demikian? Kamu telah mempelajari sifat-sifat cahaya pada benda yang tidak tembus cahaya. Bagaimanakah jika cahaya tersebut mengenai benda bening yang tembus cahaya? Berkas cahaya dari udara yang masuk ke dalam kaca akan mengalami pembelokan. Peristiwa tersebut disebut pembiasan cahaya. Hal ini disebabkan medium udara dan medium kaca memiliki kerapatan optik yang berbeda. Jadi, kamu dapat menyimpulkan bahwa pembiasan cahaya terjadi akibat cahaya melewati dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Sinar bias akan mendekati garis normal ketika sinar datang dari medium kurang rapat (udara) ke medium lebih rapat (kaca). Sinar bias akan menjauhi garis normal ketika cahaya merambat dari medium lebih rapat (kaca) ke medium kurang rapat (udara). Terjadinya pembiasan tersebut telah dibuktikan oleh seorang ahli matematika dan perbintangan Belanda pada 1621 bernama Willebrord Snell. Kesimpulan hasil percobaannya dirumuskan dan dikenal dengan Hukum Snellius.

Hukum Snellius menyatakan sebagai berikut. 1. Sinar datang, sinar bias, dan garis normal terletak pada satu bidang datar. 2. Jika sinar datang dari medium yang kurang rapat menuju medium yang lebih rapat, sinar akan dibiaskan mendekati garis normal. Jika sinar datang dari medium yang lebih rapat menuju medium yang kurang rapat, sinar akan dibiaskan mendekati garis normal.

1. Indeks Bias
Berkas cahaya yang melewati dua medium yang berbeda menyebabkan cahaya berbelok. Di dalam medium yang lebih rapat, kecepatan cahaya lebih kecil dibandingkan pada medium yang kurang rapat. Akibatnya, cahaya membelok. Perbandingan laju cahaya dari dua medium tersebut disebut indeks bias dan diberi simbol (n). Jika cahaya merambat dari udara atau hampa ke suatu medium, indeks biasnya disebut indeks bias mutlak. Secara matematis dituliskan.

Jika salah satu medium tersebut bukan udara, perbandingan laju cahaya tersebut merupakan nilai relatif atau indeks bias relatif. Misalnya, berkas cahaya merambat dari medium 1 dengan kelajuan v1 masuk pada medium 2 dengan kelajuan v2, indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1 adalah:

2. Sudut Deviasi
Prisma adalah benda bening, seperti kaca plan paralel yang ujungnya membentuk sudut. Pada saat kamu mempelajari perjalanan cahaya pada kaca plan pararel, kamu tahu bahwa cahaya yang datang dari udara akan sejajar setelah melewati kaca dan kembali ke udara. Ketika sinar dilewatkan pada prisma, ternyata terjadi penyimpangan arah sinar datang pertama dengan sinar bias akhir. Hal ini diakibatkan karena ujung-ujung prisma membentuk sudut. Sudut yang dibentuk antara perpanjangan sinar datang pertama dan sinar bias akhir disebut sudut deviasi atau sudut penyimpangan.

E. Lensa
Ketika kamu melihat ikan di dalam akuarium bundar, kamu akan melihat ukuran ikan lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Mengapa demikian? Pernahkah kamu melihat ikan di dalam akuarium bundar yang berada di Sea World Ancol? Akuarium berbentuk bundar berfungsi seperti lensa. Lensa biasanya digunakan untuk membantu supaya orang yang cacat mata bisa melihat objek dengan jelas. Apakah lensa itu? Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua permukaan berdasarkan

bentuk permukaannya. Lensa dibedakan menjadi enam macam, yaitu lensa cembung rangkap (bikonveks), lensa cembung datar (plan konveks), lensa cembung-cekung (konkaf-konveks), lensa cekung rangkap (bikonkaf), lensa cekung datar (plan konkaf), dan lensa cekungcembung (konvekskonkaf).

1. Lensa Cembung
Lensa cembung memiliki ciri lebih tebal di tengahtengahnya daripada pinggirnya (Gambar 14.29 a, b, dan c). Apabila kamu raba, akan terasa permukaan di bagian tengahnya lebih cembung. Bagaimanakah sifat-sifat lensa cembung apabila dikenai cahaya? Jika sinar-sinar sejajar kamu lewatkan pada lensa cembung, sinar-sinar biasnya akan berkumpul pada satu titik. Sifat lensa cembung adalah mengumpulkan sinar (konvergen). Titik pertemuan sinar-sinar bias disebut titik fokus (titik api).

Arahkanlah sebuah lensa cembung pada sinar matahari, kemudian letakkan di bawahnya secarik kertas. Aturlah jarak kertas ke lensa sampai titik api lensa tepat pada kertas. Diamkan beberapa saat. Apakah yang terjadi? Jika Matahari cukup terik, sinar bias cahaya matahari akan membakar kertas. Hal tersebut membuktikan bahwa titik fokus lensa cembung bersifat nyata dan bernilai positif.

2. Lensa Cekung
Lensa cekung adalah lensa yang bagian tengahnya berbentuk cekung lebih tipis dari bagian tepinya. Beberapa bentuk lensa cekung diperlihatkan pada Gambar 14.29 d, e, dan f. Bagaimanakah sifat-sifat lensa cekung? Jika sinar-sinar sejajar dikenakan pada lensa cekung, sinar-sinar biasnya akan menyebar seolah-olah berasal dari satu titik yang disebut titik fokus.

F. Bayangan pada Lensa


Ketika kamu menggunakan kacamata, lup, teropong, atau alat lainnya yang menggunakan lensa, yang kamu lihat adalah hasil pertemuan sinar-sinar bias. Bagaimanakah sifatsifat bayangan ini? Ketika kamu dekatkan lensa cembung pada jarak tertentu ke tulisan di bukumu, kamu dapat melihat jelas tulisanmu membesar. Akan tetapi, jika jarak lensa dan tulisanmu diperbesar ternyata bayangan tidak terus membesar, tetapi menghilang. Mengapa hal ini terjadi? Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh duA permukaan lengkung sehingga pada lensa terdapat dua titik fokus seperti diperlihatkan pada Gambar 14.33 dan Gambar 14.34.

1. Pembentukan Bayangan pada Lensa Cembung


Sinar-sinar istimewa pada lensa cembung adalah sebagai berikut.

Sama halnya seperti ketika kamu melukis bayangan pada cermin maka ketika melukis bayangan pada lensa cembung pun cukup menggunakan dua sinar istimewa. Bayangan yang tejadi merupakan hasil perpotongan sinar-sinar bias atau perpanjangan sinar-sinar bias. Misalnya, benda diletakkan pada jarak lebih besar daripada F2. Di manakah bayangannya? Perhatikan Gambar 14.38.

Sinar datang sejajar dengan sumbu utama (sinar a) akan dibiaskan melalui titik fokus F1 (sinar c) dan sinar datang melalui titik fokus F2 (sinar b) akan dibiaskan sejajar sumbu utama (sinar d). Hasil perpotongan sinar-sinar bias (sinar c dan d) membentuk satu titik ujung bayangan. Jika kamu tarik

garis tegak lurus dari sumbu utama ke titik itu akan terbentuk bayangan nyata. Jika benda diletakkan pada jarak lebih besar dari pada 2F, sifat bayangannya adalah nyata, terbalik, dan diperkecil.

2. Pembentukan Bayangan pada Lensa Cekung


Seperti halnya pada lensa cembung, untuk menggambarkan bayangan pada lensa cekung pun dapat digunakan perjalanan tiga sinar istimewanya. Tiga sinar istimewa pada lensa cekung adalah sebagai berikut.

Untuk melukiskan bayangan pada lensa cekung cukup digunakan dua berkas sinar istimewa saja. Perhatikan Gambar 14.46 berikut.

3. Pembagian Ruang pada Lensa


Untuk memudahkan pemeriksaan bayangan, kamu dapat membagi-bagi ruang benda dan ruang bayangan, yaitu:

Aturan pemakaian ruang benda dan bayangan adalah sebagai berikut. a. Jumlah ruang benda dan ruang bayangan sama dengan 5 (lima). b. Jika nomor ruang bayangan lebih besar dari ruang benda, bayangan akan diperbesar. c. Jika nomor ruang bayangan lebih kecil daripada ruang benda, bayangan akan diperkecil. d. Jika bayangan berada di belakang lensa, sifatnya nyata dan terbalik. e. Jika bayangan berada di depan lensa, sifatnya maya dan sama tegak.

G. Dispersi Cahaya
Kamu akan melihat suatu benda sesuai dengan warnanya ketika cahaya matahari atau cahaya putih mengenai benda tersebut. Akan tetapi, kamu tidak akan melihat warna sebenarnya jika yang dikenakan padanya adalah cahaya warna lain. Mengapa demikian? Warna benda akan terlihat ketika ada warna cahaya tertentu yang dipantulkan ke mata kamu. Kamu akan melihat orang memakai baju berwarna merah apabila dari baju orang tersebut ada warna merah yang dipantulkan ke mata kamu. Kamu akan melihat daun pisang berwarna hijau jika daun pisang tersebut memantulkan warna hijau

ke matamu. Kamu dapat melihat warna sebuah benda ketika cahaya matahari menerangi suatu benda. Semua warna cahaya, seperti merah, kuning, biru, jingga, atau hijau dapat dibedakan oleh mata kamu ketika matahari meneranginya. Hal ini menunjukkan bahwa cahaya matahari memiliki semua warna cahaya. Cahaya seperti ini disebut cahaya polikromatik. Ketika cahaya putih (polikromatik) dilewatkan pada prisma, ternyata sinar biasnya akan terurai menjadi beberapa cahaya yang dikenal dengan warna pelangi. Warna pelangi yang terbentuk membentuk deretan warna kontinu. Kadangkala, kamu tidak dapat membedakan batas satu dengan yang lainnya. Hasil pengamatan menunjukkan ada tujuh warna cahaya yang diuraikan, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Penguraian warna putih menjadi warna-warna cahaya pembentuknya disebut dispersi cahaya.

Pembiasan Cahaya pada Prisma


Top of Form

Search

Bottom of Form

>>>

Prisma adalah zat bening yang dibatasi oleh dua bidang datar. Apabila seberkas sinar datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal. Pada bidang pembias I, sinar dibiaskan mendekati garis normal, sebab sinar datang dari zat optik kurang rapat ke zat optik lebih rapat yaitu dari udara ke kaca. Sebaliknya pada bidang pembias II, sinar dibiaskan menjahui garis normal, sebab sinar datang dari zat optik rapat ke zat optik kurang rapat yaitu dari kaca ke udara. Sehingga seberkas sinar yang melewati sebuah prisma akan mengalami pembelokan arah dari arah semula. Marilah kita mempelajari fenomena yang terjadi jika seberkas cahaya melewati sebuah prisma seperti halnya terjadinya sudut deviasi dan dispersi cahaya. 1. Sudut Deviasi

Gambar 2.1 menggambarkan seberkas cahaya yang melewati sebuah prisma. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa berkas sinar tersebut dalam prisma mengalami dua kalipembiasan sehingga antara berkas sinar masuk ke prisma dan berkas sinar keluar dari prisma tidak lagi sejajar. Sudut yang dibentuk antara arah sinar datangdengan arah sinar yang meninggalkan prisma disebut sudut deviasi diberi lambang D. Besarnya sudut deviasi tergantung pada sudut datangnya sinar. D = i1 + r2 - B .... (2.1) Keterangan : D = sudut deviasi i1 = sudut datang pada prisma r2 = sudut bias sinar meninggalkan prisma B = sudut pembias prisma Besarnya sudut deviasi sinar bergantung pada sudut datangnya cahaya ke prisma. Apabila sudut datangnya sinar diperkecil, maka sudut deviasinya pun akan semakin kecil. Sudut deviasi akan mencapai minimum (Dm) jika sudut datang cahaya ke prisma sama dengan sudut bias cahaya meninggalkan prisma atau pada saat itu berkas cahaya yang masuk ke prisma akan memotong prisma itu menjadi segitiga sama kaki, sehingga berlaku i1 = r2 = i (dengan i = sudut datang cahaya ke prisma) dan i2 = r1 = r (dengan r = sudut bias cahaya memasuki prisma). Sudut deviasi minimum dapat dinyatakan:

dengan : n1 = indeks bias medium di sekitar prisma n2 = indeks bias prisma B = sudut pembias prisma Dm = sudut deviasi minimum prisma 2. Dispersi Cahaya Dispersi yaitu peristiwa terurainya cahaya putih menjadi cahaya yang berwarna-warni, seperti terjadinya pelangi. Pelangi merupakan peristiwa terurainya cahaya matahari oleh butiran-butiran air hujan. Peristiwa peruraian cahaya ini disebabkan oleh perbedaan indeks bias dari masing-masing cahaya, di mana indeks bias cahaya merah paling kecil, sedangkan cahaya ungu memiliki indeks bias paling besar. Cahaya putih yang dapat terurai menjadi cahaya yang berwarna-warni disebut cahaya polikromatik sedangkan cahaya tunggal yang tidak bisa diuraikan lagi disebut cahaya monokromatik. Peristiwa dispersi juga terjadi apabila seberkas cahaya putih, misalnya cahaya matahari dilewatkan pada suatu prisma.

Cahaya polikromatik jika dilewatkan pada prisma akan terurai menjadi warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kumpulan cahaya warna tersebut disebut

spektrum. Lebar spektrum yang dihasilkan oleh prisma tergantung pada selisih sudut deviasi antara cahaya ungu dan cahaya merah. Selisih sudut deviasi antara cahaya ungu dan merah disebut sudut dispersi yang dirumuskan : 0 = Du - Dm .... (2.4) Jika sudut pembias prisma kecil (<15o) dan n menyatakan indeks bias prisma serta medium di sekitar prisma adalah udara, maka besarnya sudut dispersi dapat dinyatakan : 0 = (nu nm) B .... (2. 5) dengan : 0 = sudut dispersi Dm = sudut deviasi cahaya merah Du = sudut deviasi cahaya ungu nm = indeks bias cahaya merah nu = indeks bias cahaya ungu B = sudut pembias prisma. 3. Prisma Akromatik

Prisma akromatik adalah susunan dua buah prisma yang terbuat dari bahan yang berbeda, disusun secara terbalik yang berfungsi untuk meniadakan sudut deviasi yang terjadi pada prisma tersebut. Misalkan sebuah prisma terbuat dari kaca kerona yang mempunyai indeks bias untuk sinar merah nm, sinar ungu nu dan sudut pembiasnya B disusun dengan prisma yang terbuat dari kaca flinta yang memiliki indeks bias untuk sinar merah nm, sinar ungu nu dan sudut pembiasnya B' maka pada prisma akromatik berlaku bahwa besarnya sudut deviasi pada prisma flinta dan prisma kerona adalah sama. Karena pemasangan yang terbalik, sehingga kedua sudut deviasi saling meniadakan sehingga berkas sinar yang keluar dari susunan prisma tersebut berupa sinar yang sejajar dengan berkas sinar yang masuk ke prisma tersebut. Pada prisma akromatik berlaku :

4. Prisma Pandang Lurus Prisma pandang lurus yaitu susunan dua buah prisma yang disusun untuk menghilangkan sudut deviasi salah satu warna sinar, misalnya sinar hijau atau kuning. Sebagai contoh sebuah prisma yang terbuat dari kaca flinta dengan indeks bias untuk sinar hijau nh dan sudut pembiasnya B disusun dengan prisma yang terbuat dari kaca kerona dengan indeks bias sinar hijau nh dan sudut pembiasnya B'. Untuk meniadakan sudut dispersi sinar hijau maka akan berlaku :

DEVIASI CAHAYA
kurang rapat ke zat optik lebih rapat yaitu dari udara ke kaca.

Posted by ekasrimulyasari | Filed under Uncategorized

Prisma adalah zat bening yang dibatasi oleh dua bidang datar. Apabila seberkas sinar datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal. Pada bidang pembias I, sinar dibiaskan mendekati garis normal, sebab sinar datang dari zat optik Sebaliknya pada bidang pembias II, sinar dibiaskan menjahui garis normal, sebab sinar datang dari zat optik rapat ke zat optik kurang rapat yaitu dari kaca ke udara. Sehingga seberkas sinar yang melewati sebuah prisma akan mengalami pembelokan arah dari arah semula. Marilah kita mempelajari fenomena yang terjadi jika seberkas cahaya melewati sebuah prisma seperti halnya terjadinya sudut deviasi dan dispersi cahaya.

1. Sudut Deviasi

Gambar 2.1 menggambarkan seberkas cahaya yang melewati sebuah prisma. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa berkas sinar tersebut dalam prisma mengalami dua kalipembiasan sehingga antara berkas sinar masuk ke prisma dan berkas sinar keluar dari prisma tidak lagi sejajar. Sudut yang dibentuk antara arah sinar datangdengan arah sinar yang meninggalkan prisma disebut sudut deviasi diberi lambang D. Besarnya sudut deviasi tergantung pada sudut datangnya sinar. D = i1 + r2 B . (2.1) Keterangan : D = sudut deviasi i1 = sudut datang pada prisma r2 = sudut bias sinar meninggalkan prisma B = sudut pembias prisma Besarnya sudut deviasi sinar bergantung pada sudut datangnya cahaya ke prisma. Apabila sudut datangnya sinar diperkecil, maka sudut deviasinya pun akan semakin kecil. Sudut deviasi akan mencapai minimum (Dm) jika sudut datang cahaya ke prisma sama dengan sudut bias cahaya meninggalkan prisma atau pada saat itu berkas cahaya yang masuk ke prisma akan memotong prisma itu menjadi segitiga sama kaki, Read more | Comments (0) | December 14th, 2010

DISPERSI CAHAYA
Posted by ekasrimulyasari | Filed under Uncategorized
Cahaya merupakan radiasi gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi mata manusia. Cahaya selain memiliki sifat-sifat gelombang secara umum misal dispersi, interferensi, difraksi, dan polarisasi, juga memiliki sifat-sifat gelombang elektromagnetik, yaitu dapat merambat melalui ruang hampa. Gejala dispersi cahaya adalah gejala peruraian cahaya putih (polikromatik) menjadi cahaya berwarnawarni (monokromatik). Cahaya putih merupakan cahaya polikromatik, artinya cahaya yang terdiri atas banyak warna dan panjang gelombang. Jika cahaya putih diarahkan ke prisma, maka cahaya putih akan terurai menjadi cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Cahaya-cahaya ini memiliki panjang gelombang yang berbeda. Setiap panjang gelombang memiliki indeks bias yang berbeda. Semakin kecil panjang gelombangnya semakin besar indeks biasnya. Disperi pada prisma terjadi karena adanya perbedaan indeks bias kaca setiap warna cahaya. Perhatikan Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Dispersi cahaya pada prisma Seberkas cahaya polikromatik diarahkan ke prisma. Cahaya tersebut kemudian terurai menjadi cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Tiap-tiap cahaya mempunyai sudut deviasi yang berbeda. Selisih antara sudut deviasi untuk cahaya ungu dan merah disebut sudut dispersi. Besar sudut dispersi dapat dituliskan sebagai berikut: = u - m = (nu nm) 2.1 Keterangan: = sudut dispersi nu = indeks bias sinar ungu nm = indeks bias sinar merah u = deviasi sinar ungu m=deviasi sinar merah Penerapan Dispersi: Contoh peristiwa dispersi pada kehidupan sehari-hari adalah pelangi. Pelangi hanya dapat kita lihat apbila kita membelakangi matahari dan hujan terjadi di depan kita. Jika seberkas cahaya matahari mengenai titik-titik air yang besar, maka sinar itu dibiaskan oleh bagian depan permukaan air. Pada saat sinar memasuki titik air, sebagian sinar akan dipantulkan oleh bagian belakang permukaan air, kemudian mengenai permukaan depan, dan akhirnya dibiaskan oleh permukaan depan. Karena dibiaskan, maka sinar ini pun diuraikan menjadi pektrum matahari.Peristiwa inilah yang kita lihat di langit dan disebut pelangi. Bagan terjadinya proses pelangi dapat dilihat pada Gambar 2.2.