Anda di halaman 1dari 9

OBYEK PENDIDIKAN KELOMPOK ORANG (QS.

AT TAUBAH 122)
Disusun guna memenuhi tugas. Mata kuliah : Tafsir Tarbawi Mohammad Hasan

Dosen Pengampu : Bisyri,M.Ag.

Kelas RE3 C Disusun oleh: Muhammad Zulqornein Dewi Ermaningsih (2021210091) (2021210093)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN

TAHUN 2011 BAB I PENDAHULUAN

Al Quran merupakan sumber ajaran, pengetahuan dan informasi. Al Quran di samping berisi tentang masalah keimanan, nilai-nilai moral, juga berisi tentang beberapa hal yang terkait dengan masalah hukum dan etika. Dalam makalah ini, pemakalah mencoba sedikit membahas tafsir ayat Qs. Al taubah: 122, dengan judul makalah objek pendidikan dalam kelompok orang. Kemarin telah di bahas mengenai surat at-Taubah ayat 122 ini, yang menjelaskan sebaiknya tak mengikuti peperangan dengan keseluruhan, tetapi sebagian tuk mencari Ilmu sebagai peringatan begitu pentingnya mencari Ilmu. Dan disini akan lebih dijelaskan lagi mengenai pentingnya pembagian tugas antara peperangan dan menuntut ataupun mencari Ilmu.

BAB II PEMBAHASAN A. Ayat Al-Quran


122. tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. B. Makna Mufrodat Seluruhnya/ semuanya Keluar/ pergi Golongan Kelompok/ beberapa orang Untuk mereka yang memperdalam Mereka menjaga diri/ hati-hati

C.Penafsiran Secara Umum Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan kewajiban menuntut ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu-ilmu agama Islam, yang juga merupakan salah satu cara dan alat dalam beristihad. Menurut ilmu serta mendalami ilmu agama, juga merupakan suatu perjuangan yang meminta kesabaran dan pengorbanan tenaga serta harta benda. Peperangan bertujuan untuk mengalahkan musuh-musuh Islam serta mengamankan jalan dakwah Islamiyah. Sedang menutut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agar bertujuan untuk mencerdaskan umat dan mengembangkan agama Islam, agar dapat disebarluaskan dan dipahami oleh segala macam lapisan masyarakat.1 Pengertian secara ijmal, ayat ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum yang menyangkut perjuangan, yakni : hukum mencari ilmu dan mendalami agama, artinya: bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak syariatkan kecuali untuk jadi benteng pagar dari dakwah tersebut. Agar jangan dipermainkan orang-orang ceroboh dari orang kafir. Menurut riwayat Al-Kalabi dari Ibnu abbas, bahwa dia mengatakan setelah Allah mengencam keras terhadap orang-orang yang tidak menyertai Rasul dalam peperangan, maka tidak seorangpun di antara kami yang tinggal untuk tidak menyertai bela tentara atas utusan perang buat selama-lamanya. Sehingga Rasul sendirian maka turunlah wahyu.

1 Prof. H. Bustami A. Gani dkk, Al-Quran dan Tafsirnya 4, CV. Wicaksana, semarang, 1993, hal 278

Berkata dhahak, jika Rasul mengajak ijtihad maka tidak boleh tinggal dibelakang kecuali mereka yang beruzur, akan tetapi Rasul menyerukan sebuah sariyah, maka hendaklah segolongan lainnya tinggal bersama Rasul, memperdalam pengetahuan tentang agama untuk diajarkan kepada kawan bila kembali.2 Menurut Ali bin Abi Thalhah, bahwa pendapat Ibnu Abbas mengenai ayat ini, bahwasanya ayat ini bukan mengenai ijtihad tapi mengenai suatu peristiwa, tatkala Rasul berdoa mengutuk suku mudha, terjadilah kekeringan di tempat itu, sehingga terpaksa pindah ke madinah, kedatangan mereka membuat bancana dan membawa kesukaran bagi sahabat Rasul penduduk Madinah, ayat ini memberi tahu Rasul bahwa mereka itu bukan orang mukmin, maka kembalilah mereka oleh Rasul kekampung dan kepada kawan sesuku mereka diperingatkan untuk tidak berbuat serupa.3 Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kelompok kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu Agama Islam, supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan. Orang-orang yang berjuang dibidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah SAW telah bersabda:


Di hari kiamat kelak, tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang). Tugas ulama umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta

mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut adalah merupakan tugas umat dan tugas
2 Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi 11, CV.Toha Putra, semarang, hal 83-86 3 Penerjemah H. Salim Bahreisy dkk, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1988, hal 163-164.

setiap pribadi muslim, sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah SAW telah bersabda :


sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) dari padaku, walaupun hanya satu ayat Al-Quran saja. Akan tetapi, tentu saja setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk bertekun menuntut dan mendalami ilmu pengetaahuan serta mendalami ilmu agama, karena sebagiannnya sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya. Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama, agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut, serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.4 B. Asbabun Nuzul Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat di bawah ini.

jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih. (QS At-Taubah: 39). Ada beberapa orang yang jauh dari kota yang tidak ikut berperang, karena mereka mengajar kaumnya. Berkatalah kaum munafik: celakalah orang-orang di kampung itu karena ada orang-orang meninggalkan diri yang tidak turut berjihad bersama Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (S. At-Taubah: 122) yang membenarkan orang-orang yang meninggalkan diri untuk memperdalam ilmu dan menyebarkannya pada kaumnya. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Muminin karena kesungguh-sungguhnya ingin berjihad, apabila diseru oleh Rasulullah
4 Prof. H. Bustami A. Gani dkk, Al-Quran dan Tafsirnya 4, CV. Wicaksana, semarang, 1993, hal. 279-280

saw, untuk diutus ke medan perang, mereka serta merta berangkat meninggalkan Nabi saw berserta orang-orang yang lemah. Ayat ini (S. At-Taubah: 122) turun sebagai larangan kepada kaum Muminin untuk serta merta berangkat seluruhnya, tapi harus ada yang menetap untuk memperdalam pengetahuan Agama.5

BAB III PENUTUPAN


5K.H.Q. Shaleh, Asbabun Nuzul (latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al-Quran), CV. Diponegoro, Bandung, 1986, hal. 268

A. Simpulan Setelah mengetahui tentang apa yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa sebagian dari kaum Muslimin harus ada yang bertekun menuntut ilmu pengetahuan dan mendalami ilmu-ilmu agama, agar mereka kemudian dapat menyebarkan ilmu serta menjalankan dakwah lebih baik, kecuali jika dalam peperangan besar mememerlukan tenaga manusia yang banyak, maka dalam hal inilah seluruh umat Islam harus dikerahkan untuk menghadapi musuh. B. Penutup Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap semoga bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan selanjutnya, tak lupa di ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. H. Bustami A. Gani dkk, Al-Quran dan Tafsirnya 4, CV. Wicaksana, semarang, 1993. Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi 11, CV.Toha Putra, semarang. Penerjemah H. Salim Bahreisy dkk, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1988. K.H.Q. Shaleh, Asbabun Nuzul (latar belakang historis turunnya ayat-ayat AlQuran), CV. Diponegoro, Bandung, 1986.

Anda mungkin juga menyukai