Anda di halaman 1dari 8

GANGUAN DAN PENYAKIT JIWA

Disusun guna memenuhi tugas. Mata kuliah Dosen Pengampu : : Psikologi Agama Rozikin, M.Ag.

Kelas RE3 C Disusun oleh: Ahmad Hafidz Muhammad Zulqornein Ach Yasir (2021210087) (2021210091) (2021210129)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN

TAHUN AJARAN 2011 BAB I PENDAHULUAN

Kita dengan mudah mengenal seseorang sakit. Ada tumor, tekanan darah tinggi, atau dia menyatakan sakit kepala. Penyakit atau sakit pada badan kita diakui adanya dan dapat dirasakan anak-anak sampai orang yang lanjut usia. Asalkan terdapat gangguan pada badan, maka orang itu dikatakan mengalami kesakitan atau secara khusus disebut sakit fisik. Sebagai analogi adanya sakit badan, maka tentunya ada penyakit, sakit, gangguan psikis atau gangguan mental. Jika sakit fisik mencakup segenap abnormalitas badan, organ, jaringan, sel dan jenis penyakit lainnya, maka gangguan mental mencakup abnormalitas mental. Dalam makalah ini, tidak dijelaskan mengenai gangguan fisik , melainkan menjelaskan ganguan dan penyakit jiwa pada seseorang. Yang akan di paparkan dalam bab selanjutnya.

BAB II PEMBAHASAN A. PSIKOPATOLOGI, NEUROSIS, PSIKOSIS Sebelum mengerti definisi psikopatologi terlebih dulu kita tahu apa itu patologi. Patologi adalah ilmu tentang penyebab dan sifat penyakit.1 Psikopatologi atau sakit mental, adalah sakit yang tampak dalam bentuk perilaku dan fungsi kejiwaan yang tidak stabil. Gangguan mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior), yang juga dianggap sama dengan sakit mental (mental illness), sakit jiwa (insanity, lunacy, madness). Gangguan mental atau gangguan jiwa dimaknai sebagai adanya penyimpangan dari norma-norma perilaku, yang mencakup pikiran, perasaan, dan tindakan. Group for Advancemen of Psychiatry (GAP) memaknakan gangguan mental sebagai suatu kesakitan yang mengurangi kapasitas seseorang untuk menggunakan (memelihara) pertimbangan-pertimbangannya, kebijaksanaannya, dan pengendaliannya dalam melakukan urusan-urusannya dan hubungan social sebagai jaminan keterikatannya pada institusi mental.2 Dari pengertian di atas, maka gangguan mental itu mencakup dua hal yakni : a. Adanya penurunan fungsi mental
b. Penurunan fungsi mental itu berpengaruh pada perilakunya yaitu tidak sesuai dengan

sewajarnya. 1. Kriteria Penentuan Gangguan Mental A. Scott (1961) melakukan penelitian secara mendalam tentang berbagai pengertian gangguan mental itu. Dia mengelompokkan terdapat enam macam kriteria untuk menentukan seseorang mengalami gangguan mental, yaitu :
1 2

M. Dahlan, dkk., 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah, (Surabaya : Target Press). h. 596. Moeljono Notosoedirjo,2002, Kesehatan Mental :Konsep dan Penerapan. hal. 36

1. Orang yang memperoleh pengobatan psikiatris,


2. Salah penyesuaian (maladjustment) social,

3. Hasil diagnosis psikiatris 4. Ketidakbahagiaan subjektif 5. Adanya simptom-simptom psikologi secara objektif, dan
6. Kegagalan adaptasi secara positif.3

Sedangkan neurosis merupakan ketidakberesan fungsional dari sistem saraf.4 Menurut doktrin-doktrin patologi umum, asumsi perkembangan tersebut akan melibatkan dua jenis bahaya, yang pertama adalah hambatan, yang kedua adalah regresi. Regresi terjadi ketika perkembangan sudah melangkah lebih jauh, namun kemudian ia dengan mudah kembali lagi pada keadaan semula, seperti pada tahap-tahap awal perkembangannya.5 Setalah mengetahui makna neurosis, maka psikosis ialah suatu gangguan mental yang parah yang berkaitan dengan kekacauan proses perkembangan mental, atau bisa di katakan keadaan mental yang terganggu.6 B. PSIKOPATOLOGI DALAM ISLAM
1. Pengertian dan asumsi psikopatologi Islam

Studi Psikopatologi paling tidak dapat bertolak dari tiga asumsi7, yang masing asumsi memiliki implikasi psikologis yang berbeda-beda. Diantara ketiga asumsi itu adalah sebagai berikut : a. Pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sakit, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sehat

3 4

Ibid., h. 37. M. Dahlan, dkk, op cit., h. 547. 5 Sigmund Freud. Pengantar Umum Psikonalisis, (edisi terjemahan oleh Haris Setiowati). Yogyakarta : Pustaka Pelajar., h. 385 6 M. Dahlan, dkk, loc.cit., h. 646. 7 Ibid., landasan berpikir yang dianggap benar; anggapan dasar yang masih harus dibuktikan dugaan, h. 69.

b. Pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan netral (tidak sakit dan tidak sehat). Sakit dan sehatnya tergantung pada proses perkembangan kehidupannya c. Pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sehat, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sakit.

Asumsi ketiga di atas menekankan kordrat normalitas manusia, bukan abnormalitasnya, normalitas manusia merupakan natur yang alami, fitri, dan dari semula dimiliki manusia, sedang abnormalitas merupakan natur yang baru datang setelah terjadi anomali (inkhiraf) pada diri manusia. Meskipun asumsi ini dikenal sebagai asumsi yang optimistik dan mengakui jiwa manusia, namun sifatnya antroposentris yang hanya menggantungkan kekuatan manusia, tanpa mengaitkan teorinya pada kehendak mutlak Tuhan. Dalam membangun teori-teori psikopatologi, islam menggunakan asumsi yang ketiga pada per, namun tidak lepas dari paradigma teosentris. Kesehatan jiwa manusia tidak sekadar alam dan fitri, melainkan telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Kholik. Dari kerangkan ini, kriteria neurosis dan psychosis dalam psikopatologi islam bukan hanya disebabkan oleh gangguan syarat atau gangguan kejiwaan alamiah, melainkan juga penyelewengan terhadap aturan-aturan Tuhan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila teori psikopatologi Islam lebih banyak memfokuskan diri pada perilaku spiritual dan religius. 2. Macam-macam psikopatologi dalam Islam Psikopatologi dalam Islam dapat dibagi menjadi dua kategori; pertama, bersifat duniawi. Macam-macam psikopatologi dalam kategori ini berupa gejala-gejala atau penyakit kejiwaan yang telah dirumuskan dalam wacana psikologi kontemporer; kedua, bersifat ukhrawi, berupa penyakit akibat penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai, spiritual, dan agama.8
8

Mujib, Abdul M.Ag, Nuansa-nuansa Psikologi Islam (Jakarta: CV. Grafindo, 2001), hlm. 167

BAB III PENUTUPAN A. Simpulan Gangguan mmental secara sederhana diartikan sebagai tiadanya dan kurangnya dalam hal kesehatan mental. Gangguan mental itu ditandai oleh adanya penurunan fungsi mental dan terjadinya perilaku yang tidak tepat atau wajar. Dalam psikopatologi Islam, menjelaskan bahwa neurosis dan psikosis bukan hanya disebabkan oleh gangguan syaraf atau gangguan kejiwaan penyelewengan terhadap aturan-aturan tuhan. alamiah, melainkan juga

B.

Penutup Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap semoga

bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan selanjutnya, tak lupa di ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

M. Dahlan, dkk., 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah, (Surabaya : Target Press). Moeljono Notosoedirjo,2002, Kesehatan Mental :Konsep dan Penerapan. Sigmund Freud. Pengantar Umum Psikonalisis, (edisi terjemahan oleh Haris Setiowati). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Harcourt Brace J. Pengantar Psikologi jilid II, (edisi terjemahan oleh Agus Darma, SH., M.Ed., Ph.D.). Jakarta :Erlangga. Mujib, Abdul M.Ag. 2001. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: CV. Grafindo. Jalaludin, Dr. 2000. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.