Anda di halaman 1dari 9

MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH TERANG BANGSA DENGAN

METODE PRACETAK (PRECAST) DAN SISTEM RANGKA GEDUNG (BUILDING


FRAME SYSTEM)
Nama Mahasiswa : Zahrial Firman R
NRP : 3105 100 092
Jurusan : Teknik Sipil FTSP-ITS
Dosen Konsultasi : Ir. Kurdian Suprapto, MS
Abstrak
Adanya peningkatan kebutuhan pembangunan di Indonesia mendorong
berkembangnya metode konstruksi di bidang teknik sipil. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan
tersebut, tuntutan akan pekerjaan konstruksi yang efektif dan efisien makin besar. Sistem
Pracetak, sebagai salah satu metode konstruksi, merupakan alternatif tepat karena memiliki
keunggulan dalam hal kecepatan, kontrol kualitas, dan kemudahan dalam pelaksanaan.
Dalam tugas akhir ini, Gedung STB akan direncanakan menggunakan metode pracetak pada
elemen balok dan pelat. Sedangkan elemen kolom, tangga dan poer menggunakan metode cor
di tempat.
Modifikasi yang dilakukan pada gedung ini antara lain menambah jumlah lantai
dalam struktur menjadi 10 lantai, mereduksi bentang balok yang semula 8 meter menjadi 6
meter dan menambahkan elemen dinding geser dalam memikul gaya lateral untuk mengatasi
sambungan pracetak yang tidak terlalu kaku. Sistem sambungan yang digunakan pada
gedung ini adalah sambungan basah dengan pertimbangan kemudahan pelaksanaan di
lapangan.
Jumlah jenis tipe dari elemen struktur yang berbeda dibuat seminimal mungkin. Hal
ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah cetakan dan menyeragamkan detail penulangan
dan sambungan. Akhirnya secara keseluruhan, struktur gedung ini tidak hanya ekonomis,
tetapi juga kuat dalam menerima gaya gravitasi dan gaya gempa sesuai zona gempa gedung
ini berada.
Kata Kunci : Pracetak (precast), Sistem Rangka Gedung (Building Frame System),
Dinding Geser (Shearwall).
1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Adanya peningkatan kebutuhan
pembangunan di Indonesia mendorong
berkembangnya metode konstruksi di bidang teknik
sipil. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan tersebut,
tuntutan akan pekerjaan konstruksi yang efektif dan
efisien makin besar. Sistem Pracetak, sebagai salah
satu metode konstruksi, merupakan alternatif tepat
karena memiliki kelebihan dalam hal kecepatan,
control kualitas, dan kemudahan dalam pelaksanaan.
Dalam pelaksanaannya, Sistem pracetak
(precast) lebih tepat dan efisien apabila diaplikasikan
pada beberapa hal. Diantaranya adalah
pengaplikasian pada gedung yang berada pada daerah
dengan zona gempa relatif rendah (zona gempa I dan
zona II) serta pada gedung yang bertipe tipikal. Zona
gempa relatif rendah (I dan II) memiliki frekuensi
gempa yang tidak terlalu sering dengan intensitas
yang tidak terlalu besar. Maka dari itu metode
pracetak sangat tepat, karena pada metode pracetak
(precast) ikatan yang terjadi tidak terlalu kaku.
Sedangkan pengaplikasian metode pracetak pada
gedung dengan tipe tipikal (typical) lebih efisien
karena pada gedung dengan tipe ini mempunyai
elemen yang tipikal sehingga lebih mudah dalam
pengerjaan dan pelaksanaannya.
Gedung Sekolah Terang Bangsa sendiri,
merupakan struktur dengan 8 tingkat dan berada di
zona gempa 2. Gedung ini dikerjakan dengan
menggunakan sistem beton cor di tempat
(konvensional) yang mengakibatkan kualitas
pengerjaan yang kurang terkontrol serta memakan
waktu yang relatif lama. Dari sisi konfigurasi,
bangunan ini memiliki bentuk yang sama tiap
lantainya (tipikal). Sehingga sangat tepat dan efisien
apabila metode pracetak diaplikasikan.
Berdasarkan hal di atas, maka dalam
penulisan tugas akhir ini saya melakukan modifikasi
Struktur Gedung Sekolah Terang Bangsa menjadi
gedung dengan 10 lantai yang dirancang dengan
Sistem Rangka Gedung (Building Frame System)
menggunakan metode pracetak (precast) serta
memiliki konfigurasi yang teratur. Dengan pemakaian
Sistem Rangka Gedung (Building Frame System),
maka beban gravitasi dipikul oleh rangka sedangkan
beban lateral dipikul oleh dinding geser (shearwall).
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang timbul pada metode beton
pracetak berbeda dengan metode cor setempat, antara
lain :
1. Bagaimana merencanakan elemen beton
pracetak untuk struktur atas Gedung Sekolah
Terang Bangsa termasuk dalam hal
pengangkatan dan pemasangan elemen beton
pracetak?
2. Bagaimana merencanakan struktur bangunan
penahan gaya lateral ?
3. Bagaimana merencanakan detail
sambungan pada komponen pracetak ?
4. Bagaimana menuangkan hasil perhitungan
dan perencanaan ke dalam gambar teknik?
1.3 TUJUAN
Perancangan struktur sekolah Terang Bangsa
dengan metode pracetak dan shearwall mempunyai
tujuan diantaranya :
1. Merencanakan elemen beton pracetak
untuk struktur atas Gedung Sekolah
Terang Bangsa. termasuk dalam hal
pengangkatan dan pemasangan elemen
beton pracetak.
2. Merencanakan struktur bangunan penahan
gaya lateral.
3. Merencanakan detail sambungan pada
komponen- pracetak.
4. Menuangkan hasil perhitungan dan
perencanaan ke dalam gambar teknik.
1.4 BATASAN MASALAH
Permasalahan dalam penggunaan pracetak
sebenarnya cukup banyak yang harus diperhatikan,
namun mengingat keterbatasan waktu,
perancangan ini mengambil batasan :
1. Beton pracetak yang digunakan adalah
beton pracetak biasa (non prestress).
2. Komponen struktur yang menggunakan
beton pracetak adalah pelat dan balok.
3. Tidak meninjau masalah perubahan
volume akibat perubahan temperatur,
creep, dan shrinkage oleh beton.
4. Tidak meninjau kecepatan konstruksi.
5. Perencanaan tidak termasuk sistem
utilitas, kelistrikan dan sanitasi.
6. Analisa struktur menggunakan progam
bantu ETABS 9.07.
2. METODOLOGI
Penjelasan tahapan atau metode yang digunakan
dalamperancangan gedung ini :
1. Studi literatur, yakni :
- Mempelajari literatur mengenai perancangan
elemen pracetak.
- Mempelajari literatur mengenai perencanaan
struktur.
2. Pencarian data dan penentuan kriteria desain
yaitu penentuan gedung sebagai obyek
perancangan, tinggi gedung, peruntukan gedung
dan lokasi dibangunnya gedung tersebut beserta
wilayah gempanya.
3. Preliminary design merupakan awal dari
perancangan. Pada preliminary design ini kita
menentukan dimensi elemen struktur gedung
untuk digunakan dalam tahap perancangan
selanjutnya.
4. Perencanaan struktur sekunder meliputi :
a. Pelat
b. Tangga
c. Balok anak
5. Analisa beban-beban yang bekerja pada struktur
bangunan atas, meliputi beban gravitasi dan
beban lateral.
6. Pemodelan struktur dan analisa gaya-gaya akibat
pembebanan menggunakan software ETABS
9.07
7. Perencanaan struktur utama meliputi :
a. Balok
b. Kolom
c. Sambungan
d. Dinding geser
8. Hasil dari perancangan akan dituangkan dalam
gambar teknik. Dalam penggambaran ini
menggunakan program AutoCAD 2007.
3. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Umum
Teknologi pracetak adalah teknologi
konstruksi struktur beton dengan komponen-
komponen penyusun yang dicetak terlebih dahulu
pada suatu tempat khusus, terkadang komponen-
komponen tersebut disusun dan disatukan terlebih
dahulu (pre-assembly), dan selanjutnya dipasang di
lokasi (installation). Dengan demikian, sistem
pracetak ini akan berbeda dengan konstruksi beton
cor ditempat pada aspek perencanaan yang
tergantung atau ditentukan oleh metoda
pelaksanaan dari fabrikasi, penyatuan, dan
pemasangannya, serta ditentukan pula oleh cara
penyambungan antar komponen(joint). Beberapa
prinsip beton pracetak tersebut dapat memberikan
manfaat lebih dibandingkan beton monolit antara
lain terkait dengan pengurangan waktu dan biaya,
serta peningkatan jaminan kualitas (Gibb, 1999).
3.2 Perbedaan antara Beton Pracetak dan
Beton Konvensional
3.3 ELEMEN STRUKTUR PRACETAK
YANG UMUM DIPAKAI
3.3.1 Pelat
Pelat dianggap sebagai diafragma yang sangat
kaku untuk mendistribusikan gempa. Pada waktu
pengangkutan atau sebelum komposit, beban yang
bekerja adalah berat sendiri pelat, sedangkan beban
total yang diterima oleh pelat terjadi saat pelat sudah
komposit. Untuk pelat pracetak (precast slab), ada
beberapa jenis yang umum digunakan yaitu :
1. Pelat pracetak berlubang (Hollow Core Slab)
Pelat pracetak dimana ukuran tebal lebih besar
dibanding dengan pelat pracetak tanpa lubang.
Biasanya pelat tipe ini menggunakan kabel pratekan.
Keuntungan dari pelat jenis ini adalah lebih ringan,
tingkat durabilitas yang tinggi dan ketahanan
terhadap api sangat tinggi. Pelat jenis ini memiliki
lebar rata-rata 2 hingga 8 feet dan tebal rata-rata
4inchi hingga 15 inchi.
2. Pelat pracetak tanpa lubang (Solid Slabs)
Adalah pelat pracetak dimana tebal pelat lebih
tipis dibandingkan dengan pelat pracetak dengan
lubang. Keuntungan dari penggunaan pelat ini
adalah mudah dalam penumpukan karena tidak
memakan banyak tempat. Pelat ini bisa berupa
pelat pratekan atau beton bertulang biasa dengan
ketebalan dan lebar yang bervariasi. Umumnya
bentang dari pelat ini antara 5 hingga 35 feet.
3. Pelat pracetak Double Tees dan Single Tee
Pelat ini berbeda dengan pelat yang sudah
dijelaskan sebelumnya. Pada pelat ini ada bagian
berupa dua buah kaki sehingga tampak seperti dua
T yang terhubung.
3.4 SAMBUNGAN
3.4.1 Sambungan Daktail Dengan Cor
Setempat
Sambungan ini merupakan sambungan
dengan menggunakan tulangan biasa sebagai
penyambung / penghubung antar elemen beton
baik antar pracetak ataupun antara pracetak
dengan cor ditempat. Elemen pracetak yang sudah
berada di tempatnya akan di cor bagian ujungnya
untuk menyambungkan elemen satu dengan yang
lain agar menjadi satu kesatuan yang monolit.
Sambungan jenis ini disebut dengan sambungan
basah.
3.4.2 Sambungan Daktail Dengan
Menggunakan Las
Ochs dan Ehsani (1993) mengusulkan dua
sambungan las pada penempatan di lokasi sendi
plastis pada permukaan kolom sesuai dengan
konsep Strong Column Weak Beam. Pada konsep
ini, sendi plastis direncanakan terjadi pada ujung
balok dekat kolom. Sebagai gambaran, akan
dicontohkan sambungan balok dengan kolom
dengan menggunakan las. Untuk pertemuan antara
balok dengan kolom, pada balok dan kolom
dipasang pelat baja yang ditanam masuk pada
daerah tulangan kolom dan kemudian di cor pada
waktu pembuatan elemen pracetak. Pada kedua
ujung balok, pelat baja ditanam pada bagian atas
dan bawah. Pada perakitan komponen pracetak
yang menggunakan las, untuk kolom terlebih
ITEM KONVENSIONAL PRACETAK
Desain Sederhana
Membutuhkan wawasan yang luas
terutama yang ada kaitannya dengan
fabrikasi sistem, transportasi serta
pelaksanaan atau pemasangan
komponen, sistem sambungan dan
sebagainya.
Bentuk dan
ukurannya
Efisien untuk bentuk
yang tidak teratur dan
bentang-bentang yang
tidak mengulang.
Efisien untuk bentuk yang
teratur/relatif besar dengan jumlah
bentuk-bentuk yang berulang
Waktu
pelaksanaan
Lebih lama.
Lebih cepat, karena dapat
dilaksanakan secara pararel sehingga
hemat waktu 20-25%
Teknologi
pelaksanaan
Konvensional
Butuh tenaga yang mempunyai
keahlian
Koordinasi
pelaksanaan
Kompleks
Lebih sederhana, karena semua
pengecoran elemen struktur pracetak
telah dilakukan di pabrik.
Pengawasan
/kontrol
kerja
Bersifat kompleks, serta
dilakukan dengan cara
terus menerus.
Sifatnya lebih mudah karena telah
dilakukan pengawasan oleh kualitas
kontrol di pabrik.
Kondisi
lahan
Butuh area yang relatif
luas karena butuh
adanya penimbunan
material dan ruang
gerak.
Tidak memerlukan lahan yang luas
untuk penyimpanan material selama
proses pengerjaan konstruksi
berlangsung, sehingga lebih bersih
terhadap lingkungan.
Kondisi
cuaca
Banyak dipengaruhi
oleh keadaan cuaca.
Tidak dipengaruhi cuaca karena
dibuat di pabrik.
Ketepatan/a
kurasi
ukuran
Sangat tergantung
keahlian pelaksana.
Karena dilaksanakan di pabrik, maka
ketepatan ukuran lebih terjamin.
Kualitas
Sangat tergantung
banyak faktor, terutama
keahlian pekerja dan
pengawasan.
Lebih terjamin kualitasnya karena di
kerjakan di pabrik dengan
menggunakan sistem pengawasan
pabrik.
cor ditempat
Penampang A
Penampang B
Sambungan Daktail dengan Cor Ditempat
Penampang B
Penampang A
cor ditempat
Expected Relocated Hinging Zone
Top of Beam
Bottom of Beam
d
1.5 d
Skematis dari detail balok dengan penempatan sendi plastis
dahulu berdiri kemudian dilakukan pengelasan pada
kedua pelat tersebut untuk menyambungnya dengan
balok. Keuntungan dari cara ini adalah dari segi
pengerjaan dan pelaksanaannya, karena elemen-
elemennya tunggal dan berbentuk lurus,
pengangkutan dan pengangkatannya lebih mudah
sehingga lebih ekonomis. Kerugiannya adalah
sambungan pada balok kolom sangatlah rawan, biaya
relatif besar dan pekerjaan lebih sulit karena
memerlukan ketelitian dalam pengelasan.
3.4.3 Sambungan Daktail Mekanik
French and Friends (1989) mengembangkan
sambungan yang menggunakan post-tension untuk
menghubungkan antara balok dan kolom. Pada
sambungan post-tension ini dirancang pelelehan
terjadi pada daerah lokasi antara pertemuan balok dan
kolom. Sebagai alat penyambung, digunakanlah
treaded coupler yang dipasang pada ujung tulangan.
Dengan adanya treaded coupler, maka ujung tulangan
baja dapat dimasukkan pada lubang tersebut. Satu hal
yang perlu mendapat perhatian adalah ketelitian,
ketrampilan dan keahlian khusus dalam memasang
alat ini.
3.4.4 Sambungan Daktail Dengan Menggunakan
Baut
Englekirk dan Nakaki, Inc. Irvine California dan
Dywidag System International USA, Inc. Long Beach
California telah mengembangkan sistem dengan
menggunakan penyambungan daktail yang dikenal
dengan DPCF System (Ductile Precast Concrete
Frame System). Penyambungan ini dilakukan
menggunakan baut untuk menghubungkan elemen
satu dengan yang lain.
4. KONSEP DESAIN
1. Data bangunan :
Nama bangunan : Sekolah Terang Bangsa
Lokasi : Kota Surabaya
(Termasuk wilayah zona gempa 2)
Fungsi : Sekolah
Tinggi gedung : 40 meter
Jumlah lantai : 10 lantai
Struktur gedung : Beton bertulang
Jenis tanah : Tanah lunak
2. Mutu bahan :
Beton : fc = 35 Mpa
Baja : fy = 400 Mpa
Analisa pembebanan
Berdasarkan RSNI 3 Tata Cara
Penghitungan Pembebanan Untuk Bangunan
Rumah Dan Gedung dan SNI 03-1726-2002
Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Bangunan Gedung adalah :
1. Beban mati
- Berat seluruh bahan konstruksi gedung yang
terpasang, termasuk dinding, lantai, atap,
plafon, tangga, dinding partisi, finishing,
komponen arsitektural dan struktural lainnya
dan peralatan layan termasuk berat keran.
2. Beban hidup
- Beban yang dihasilkan akibat penggunaan dan
penghunian gedung :
Ruang Kelas LL = 1.92 kN/m
2
Koridor LL = 3.83 kN/m
2
3. Beban gempa
- Untuk struktur gedung dengan tinggi 40 meter,
pengaruh Gempa Rencana terhadap struktur
gedung tersebut harus ditentukan melalui
analisis respons dinamik 3 dimensi.
- Pembebanan gempa secara dinamis
menggunakan bantuan program ETABS v9.0.7
dengan analisa dinamis respon spektrum.
Sebelumnya dilakukan pemodelan 3D struktur
terlebih dahulu. Pemodelan struktur tersebut
dilakukan dengan menggunakan asumsi
sebagai berikut:
- Tiap balok didefinisikan sebagai balok T
- Pertimbangan adanya retak sepanjang
bentang komponen, maka komponen
struktur direduksi momen inersianya
menjadi: untuk balok T= 2 x Ig = 0.7 Ig
Untuk kolom persegi = 0.7 Ig
post-tensioning rod
grout
coupler
bearing strips
3. Pada SNI 03-1726-2002 Tabel 1, untuk sekolah
yang dianggap sebagai gedung umum, faktor
keutamaan, I = 1.
Pada tabel 3, sistem dan subsistem struktur
gedung termasuk Sistem Rangka Gedung dengan
dinding geser memikul beban gempa, R
m
= 5,5.
Dan pada tabel 6, spektrum respons gempa
rencana untuk wilayah gempa 2 dan jenis tanah
lunak, Tc = 1,0 detik
4. Sistem struktur rangka yang dipakai adalah
Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa
(SRPMB). Karena bangunan berada di wilayah
gempa zona 2, maka perencanaan desain
berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 3 sampai
pasal 20.
KOMPONEN METODE
Kolom cor ditempat
Balok Pracetak
Pelat Pracetak
Over topping cor ditempat
Tangga cor ditempat
Balok, dan pelat menggunakan beton pracetak
karena memiliki bentuk yang seragam dan
jumlah berulang yang dimaksudkan untuk
optimasi. Sedangkan kolom tidak menggunakan
beton pracetak melainkan menggunakan beton
konvensional, karena proses di pelaksanaan
sedikit rumit.
Permodelan struktur :
Saat pemasangan, balok dimodelkan sebagai
balok sederhana di atas dua tumpuan. Pada akhir
konstruksi (setelah diberi topping) dimodelkan
sebagai balok menerus.
Tangga mempunyai tumpuan rol pada balok
bordes dan sendi pada balok lantai.
5. Untuk elemen pelat pracetak digunakan pelat
pracetak tanpa lubang (Solid Slabs) dan untuk
balok digunakan balok berpenampang persegi
(Rectangular Beams).
6. Pengangkatan material pracetak dilakukan pada
umur beton 3 hari.
7. Sambungan yang dipakai adalah sambungan cor
di tempat atau disebut sambungan basah (Wet
Connection). Sambungan ini diletakkan di
pertemuan balok pracetak dengan kolom cast in
situ. Sambungan juga diletakkan di pertemuan
balok pracetak dengan pelat pracetak.
4. PERENC. STRUKTUR SEKUNDER
4.1 DATA BANGUNAN
Nama bangunan : Sekolah Terang Bangsa
Lokasi bangunan : Kota Surabaya
Zona gempa : Zona 2
Mutu beton (fc) : 35 Mpa
Mutu baja ( fy ) : 400 Mpa
4.2 PERENCANAAN AWAL
4.2.1. BALOK
Dimensi balok :
- Balok Induk : 35 cm x 55 cm
- Balok Anak : 30 cm x 45 cm
4.2.2. KOLOM
Dimensi kolom 55 x 55 cm
4.2.3. PELAT
m 0,2 maka tebal pelat minimum tanpa
penebalan, 120 mm.
0,2 < m 2 maka tebal pelat minimum harus
memenuhi :
, tidak boleh < 120 mm
m > 2 maka tebal pelat minimum harus
memenuhi
, tidak boleh < 90 mm
Dipakai Tebal pelat lantai 12 cm
4.3 PELAT PRACETAK
Perincian elemen pelat yang merupakan
pelat pracetak adalah :
a. Tebal pelat pracetak = 7 cm
b. Tebal overtopping = 5 cm
Penulangan pelat lantai terpasang
Tulangan Terpasang mm
2
Tulangan
Lapangan
Tulangan
Tumpuan
Tipe
Pelat
Arah X Arah Y Arah X Arah Y
B : 3
m x 6
m
| 10-
200
As =
392,5
mm
2
| 10-
200
As =
392,5
mm
2
| 10-
200
As =
392,5
mm
2
| 10-
200
As =
392,5
mm
2
4.4 BALOK ANAK PRACETAK
Data-data perencanaan :
- Dimensi : 30x45
- panjang : 5,65 m
- tinggi balok pracetak sebelum komposit : 33cm
- tinggi balok pracetak setelah komposit : 45cm
- decking : 30 cm
- mutu tulangan fy = 400 Mpa
- mutu beton fc = 35 Mpa
- Tinggi efektif untuk Sebelum komposit :
330 30 10 .18 = 281 mm
- Tinggi efektif untuk Sesudah Komposit :
450 30 10 .18 = 401 mm

16
1
h =
0 2
b
h
5 1 . s s .
( ) 0.2 m 5 36
1500
fy
8 0 ln
h
+
|
.
|

\
|
+ .
=
o |
| 9 36
1500
fy
8 0 ln
h
+
|
.
|

\
|
+ .
=
Pembebanan (Ekivalen)
- Segitiga
- Dua Segitiga
- Trapesium
Penulangan Balok anak
Perhitungan Tulangan
Tulangan tumpuan
3 D18 (As = 763,41 mm
2
)
Tulangan lapangan
3 D18 (As = 763,41 mm
2
)
Tulangan Geser
10-140 mm
I. PERENC. STRUKTUR PRIMER
4.1. ANALISA STRUKTUR UTAMA
Gedung sekolah ini dimodelkan sebagai Building
Frame System, yaitu dimana beban gravitasi dipikul
oleh frame dan Beban lateral sepenuhnya dipikul oleh
Dinding Geser. Analisa gempa mengunakan analisa
beban dinamis mengingat tinggi gedung mencapai 40
meter.
4.2. BALOK INDUK PRACETAK
- Dimensi : 35 x 55 cm
- panjang : 5,45 m
- BI memanjang pracetak sebelum komposit : 43 cm
- BI memanjang pracetak setelah komposit : 55 cm
- decking : 40 cm
- mutu tulangan fy = 400 Mpa
- mutu beton fc = 35 Mpa
- Tulangan utama D22
- Tulangan sengkang D12
- Tinggi efektif untuk BI Sebelum komposit : 430
40 12 .22 = 367 mm
- Tinggi efektif untuk BI Sesudah Komposit :
550 40 12 .22 = 487 mm
Pembebanan (Ekivalen)
- Segitiga
- Dua Segitiga
- Trapesium
Perhitungan Tulangan Pakai:
a. Tumpuan
Atas Bawah
Tipe Balok
n
As
pakai n
As
pakai
Jarak
Sengkang
(mm
2
) (mm
2
) (mm)
Balok Anak 3 763,02 2 763 140
Eksterior
Memanjang 8 3039 3 1139.82 100
Interior
Memanjang 9 3419 3 1139.82 100
Ekterior
Melintang 3 1139 2 763 225
Interior 8 3039 3 1139.82 100
Melintang
c. Lapangan
Tipe Balok
n
As
pakai n
As
pakai
Jarak
Sengkang
(mm
2
) (mm
2
) (mm)
Balok Anak 2 763 2 763,02 140
Eksterior
Memanjang 2 763 4 1519 225
Interior
Memanjang 2 763 4 1519 225
Ekterior
Melintang 2 763 4 1519 225
Interior
Melintang 2 763 5 1899 225
4.3. PERHITUNGAN KOLOM
- Perhitungan tulangan dengan Program bantu
PCACOL
- Hasil perhitungan tulangan :
Lt.1-5 16D28 (3,26%)
Lt.6-10 16D16 (1,04%)
4.4. PERHITUNGANDINDING GESER
Tinggi tiap lantai = 400 cm
Tinggi total dinding = 4000 cm
Tebal dinding = 35 cm
Mutu Baja (fy) = 400 Mpa
Decking = 40 mm
Lx x q x
3
1
qek =
Lx x q x
4
1
qek =
Ly
Lx
3
1
- 1 Lx x q x
2
1
qek
2

|
|
.
|

\
|
=
Lx x q x
3
1
qek =
Lx x q x
4
1
qek =
Ly
Lx
3
1
- 1 Lx x q x
2
1
qek
2

|
|
.
|

\
|
=
16 D 28
D12-200
Dari hasil ETABS v9.20 didapat kombinasi 0,9D +
RSPX yang
membuat struktur lebih kritis
Kontrol kapasitas Dinding Struktur dalam menerima
beban akasial lentur
5. SAMBUNGAN PRACETAK
Sambungan basah mengandalkan panjang
penyaluran dari tulangan masing-masing elemen
pracetak.
5.1. SAMBUNGAN BALOK INDUK-KOLOM
5.2. SAMBUNGAN BALOK ANAK-BALOK
INDUK
5.3. SAMBUNGAN PELAT-BALOK
6. KESIMPULAN
1. Pemanfaatan elemen pracetak dapat dibuat
mendekati sifat monolit dari pekerjaan yang
dilakukan dengan system cor setempat, dengan
pemilihan tipe sambungan yang disesuaikan
dengan keadaan dari struktur yang
direncanakan, misalnya lokasi zone gempa
dari gedung yang ditinjau.
2. Sistem pracetak dapat dipergunakan pada
berbagai permodelan struktur, salah satunya
adalah permodelan sebagai Building Frame
System dimana perencanaan elemen frame
dimungkinkan menggunakan elemen pracetak
untuk mencapai sifat permodelan struktur
yang dikehendaki.
3. Pelaksanaan metode pracetak sangat
dimungkinkan untuk dilaksanakan, namun
membutuhkan ketelitian dan keahlian dalam
proses pembuatan hingga pemasangannya.
SARAN
1. Perlunya pengembangan teknologi dan riset
tentang beton pracetak serta memasyarakatkan
penggunaan metode pracetak pada jasa
konstruksi di Indonesia.
2. Perlu dibuatnya standar perencanaan beton
pracetak di Indonesia sehingga dengan demikian
pracetak akan lebih banyak dapat diterapkan.
3. Demi efektifitas dan efisiensi dari metode
pracetak , pembatasan jumlah elemen seragam
yang dibuat perlu diperhatikan.