Anda di halaman 1dari 10

METODE TEMPORAL

Dengan menggunakan metode temporal, translasi mata uang merupakan proses konversi pengukuran atau penyajian ulang nilai tertentu. Metode tidak mengubah atribut suatu pos yang diukur, malainkan hanya mengubah unit pengukuran. Translasi saldo-saldo dalam mata uang asing menyebabkan pengukuran ulang denominasi pos-pos tersebut, tetapi bukan penilaian sesungguhnya. Metode ini merupakan modifikasi dari metode moneter/non moneter. Perbedaannya, dalam metode moneter/non moneter, persediaan (inventory) selalu dikonversi dengan kurs histories. Sedang dalam metode temporal, persediaan umumnya dikonversi dengan kurs histories, namun bisa saja dikonversi dengan kurs saat ini apabila persediaan tersebut dicatat dalam neraca dengan nilai pasarnya. Secara teoritis, metode temporal lebih menekankan pada evalusai biaya (histories ataukah pasar). Berdasarkan metode temporal, pos-pos moneter seperti kas, piutang, dan utang ditranslasikan berdasarkan kurs kini. Berdasarkan GAAP AS, kas diukur berdasarkan jumlah yang dimiliki pada tanggal neraca. Piutang dan utang dinyatakan sebesar jumlah yang diperkirakan akan diterima atau akan dibayarkan pada saat jatuh temponya. Aktiva dan kewajiban lain-lain diukur sebesar harga uang yang terkait pada saat pos tersebut diakuisisi atau terjadi (harga historis). Namun demikian, beberapa pos diukur sebesar harga yang terjadi per tanggal laporan keuangan (harga kini), seperti persediaan berdasarkan aturan mana yang lebih rendah antara biaya perolehan atau harga pasar. Karena kemiripannya dengan metode moneternon moneter, metode temporal memiliki keuntungan dan kerugian yang sama.

TRANSLASI MATA UANG ASING LATAR BELAKANG

Translasi tidak sama dengan konversi. Translasi hanyalah perubahan satuan unit moneter, seperti halnya sebuah neraca yang dinyatakan dalam pound Inggris disajikan ulang kedalam nilai ekuivalen dollar AS. Tidak ada pertukaran fisik yang terjadi, dan tidak ada transaksi terkait yang terjadi seperti bila dilakukan konversi. Saldo-saldo dalam mata uang asing ditranslasikan menjadi nilai ekuivalen mata uang domestic berdasarkan kurs nilai tukar valuta asing yaitu harga satu unit suatu mata uang yang dinyatakan

dalam mata uang lainnya. Mata uang Negara dagang utama dibeli dan dijual dalam pasar global. Dengan dihubungkan lewat jaringan telekomunikasi yang canggih, para pelaku pasar mencakup bank dan perantara mata uang lainnya, kalangan usaha, para individu, dan pedagang professional. Dengan menyediakan tempat bagi para pembeli dan penjual mata uang, pasar mata uang asing memfasilitasi transfer pembayaran internasional (contoh: dari importer kepada eksportir), memungkinkan terjadinya pembelian atau penjualan internasional secara kredit (contoh: letter of credit suatu bank yang memungkinkan barang dikirimkan kepada pembeli yang belum dikenal sebelum dilakukan pembayaran), dan meyediakan alat bagi para individu atau kalangan usaha untuk melindungi diri mereka dari resiko nilai mata uang yang tidak stabil. Transaksi mata uang asing terjadi pada pasar spot, forward, atau swap. Mata uang yang dibeli atau dijual pada spot umumnya harus dikirimkan secepatnya, yaitu dalam waktu 2 hari kerja. Kurs pasar spot dipengaruhi oleh banyak factor, termasuk perbedaan tingkat inflasi antar Negara, perbedaan suku bunga nasional dan ekspektasi terhadap arah nilai tukar di masa mendatang. Transaksi pada pasar forward adalah perjanjian untuk melakukan pertukaran suatu mata uang dengan jumlah tertentu ke dalam mata uang lain pada suatu tanggal di masa depan. Kuotasi pada pasar forward dinyatakan dengan diskonto atau premium dari kurs spot. Transaksi swap melibatkan pembelian spot dan penjualan forward atau penjualan spot atau pembelian forward, atas suatu mata uang secara bersamaan. Investor sering memanfaatkan transaksi swap untuk mengambil keuntungan dari tingkat suku bunga yang lebih tinggi di suatu Negara asing, dalam kesempatan yang sama melindungi diri terhadap pergerakan yang tidak menguntungkan dari kurs nilai tukar valuta asing.

ALASAN-ALASAN UNTUK MELAKUKAN TRANSLASI Perusahaan dengan operasi luar negeri yang signifikan menyusun laporan keuangan konsolidasi yang memungkinkan para pembaca laporan untuk mendapatkan pemahaman yang holistic atas operasi perusahaan, baik domestic dan luar negeri. Untuk mencapai hal ini, laporan keuangan anak perusahaan luar negeri yang berdenominasi dalam mata uang asing disajikan ulang dengan mata uang pelaporan induk perusahaan. Proses penyajian ulang informasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya disebut sebagai translasi. Kebanyakan masalah yang berkaitan dengan translasi mata uang berasal dari fakta bahwa nilai relative mata uang asing jarang sekali ditetapkan. Kurs nilai tukar variable, yang digabungkan dengan berbagai

macam metode translasi yang dapat digunakan dan perbedaan perlakuan atas keuntungan dan kerugian translasi, membuat perbandingan hasil keuangan satu perusahaan dengan perusahaan lain, atau perbandingan hasil suatu perusahaan yang sama dari satu periode ke periode lain sulit dilakukan. Keadaan ini merupakan tantangan tersendiri bagi perusahaan multinasional untuk menyediakan pengungkapan informasi hasil operasi dan posisi keuangan. Alasan tambahan untuk translasi mata uang asing adalah untuk mencatat transaksi mata uang asing, mengukur risiko suatu perusahaan terhadap pengaruh perubahan mata uang dan berkomunikasi dengan para pihak berkepentingan dari luar negeri. Untuk keperluan akuntansi, suatu aktiva dan kewajiban mata uang asing dikatakan menghadapi resiko mata uang jika suatu perubahan kurs nilai tukar mata uang menyebabkan mata uang induk perusahaan (pelaporan) juga berubah. Pengukuran resiko ini akan berbeda-beda tergantung dari metode translasi yang dipilih untuk digunakan oleh perusahaan.

Transaksi dengan mata uang asing Ciri utama yang istimewa dari sebuah transaksi mata uang asing adalah penyelesainnya dipengaruhi dalam suatu mata uang asing. Jadi, transaksi dalam mata uang asing terjadi pada saat suatu perusahaan membeli atau menjual barang dengan pembayaran yang dilakukan dalam suatu mata uang asing atau ketika perusahaan meminjam atau meminjamkan dalam mata uang asing. Suatu transaksi mata uang asing dapat berdenominasi dalam satu mata uang, tetapi diukur atau dicatat dalam mata uang yang lain. Untuk memahami mengapa hal ini terjadi, petimbangkanlah pertama-tama istilah mata uang fungsional. Mata uang fungsional sebuah perusahaan diartikan sebagai mata uang lingkungan ekonomi yang utama dimana perusahaan beroperasi dan menghasilkan arus kas. Jika suatu operasi anak perusahaan luar negeri relative berdiri sendiri dan terintegrasi dalam Negara asing (yaitu sutau anak perusahaan yang menghasilkan produk untuk distribusi setempat), umumnya akan menghasilkan dan mengeluarkan uang dalam mata uang local (Negara-negara domisili). Dengan demikian mata uang local (contoh euro untuk anak perusahaandari suatu perusahaan AS yang berada di Belgia) adalah mata uang fungsionalnya. Untuk menggambarkan perbedaan antara suatu transaksi yang berdenominasi dalam suatu mata uang tetapi diukur dalam mata uang lainnya, misalkan sebuah anak perusahaan AS di Hong

Kong membeli persediaan barang dagangan dari Republik Rakyat Cina yang dibayarkan dalam renmimbi. Mata uang fungsional anak perusahaan adalah dollar AS. Dalam kasus ini, anak perusahaan akan mengukur transaksi mata uang asing yang berdenominasi dalam renmimbi ke dalam dollar AS, mata uang yang digunakan dalam catatan bukunya. Dari sudut pandang induk perusahaan, kewajiban anak perusahaan berdenominasi dalam renmimbi, tetapi diukur dalam dollar AS, mata uang fungsionalnya, untuk keperluan konsolidasi.

KONSEP DAN TRANSAKSI MATA UANG ASING Transaksi Mata Uang Asing Selaian Kontrak Berjangka Transksi LN : transksi yang terjadi antar negara atau antar perusahaan dari Negara yang berbeda. Transaksi mata uang asing : transaksi dimana nilau tukarnya dinyatakan dalam mata uang selain mata uang fungsional suatu entitas.

PSAK No. 10 untuk Transaksi Mata Uang Asing Dan Untuk Laporan keuangan Mata Uang Luar Negeri. Untuk transaksi mata uang asing selaian kontrak berjangka, maka: 1. Pada tanggal transaksi diakui, setiap aktiva, kewajiban, penerimaan, pengeluaran, keuntungan dan kerugian yang timbul dari transaksi tersebut harus dicatat dan dinilai dalam mata uang fungsional dari entitas yang melakukan pencatatan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. 2. Pada setiap tanggal neraca, saldo yang dicatat dalam mata uang selain mata uang fungsional dari entitas yang mencerminkan kurs sekarang. 3. Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan kedalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila ada kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca maka dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia. 4. Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. 5. Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. melakukan pencatatan harus disesuaikan untuk

Penjabaran kurs spot Sebuah perusahaan Indonesia mengimpor persediaan dari perusahaan Malaysia ketika kurs spot yang terjadi Rp 730 per Ringgit Malaysia. Dalam transaksi ditentukan pembayaran 10.000 Ringgit dalam 30 hari. Importir Indonesia mencatat: Persediaan Hutang dagang (ma) Rp 7.300.000 Rp 7.300.000

Jika hutang dibayar saat kurs spot Rp 720, maka pembayaran transaksi tersebut dicatat: Hutang dagang (ma) Kas Keuntungan pertukaran Mata Uang Rp Rp 7.300.000 Rp 7.200.000 100.000

Pembelian yang Dinyatakan Dalam Mata Uang Asing PT Abuba di Indonesia membeli barang dagangan dari perusahaan Kebangsaan Malaysia, pada tanggal 1 Des. 2007 sebesar 10.000 Ringgit saat kurs spot Rp 770. Saat tutup buku 31 Des 2007 kurs spot Rp 765, saat pelunasan hutang 30 Jan 2008 kurs spot Rp 775. Pencatatan transaksi tersebut adalah: 1 Des 2007 Persediaan Hutang dagang (ma) Rp 7.700.000 Rp 7.700.000

31 Des 2007 Hutang dagang (ma) Keuntungan pertukaran mata uang Rp 50.000 Rp 50.000

30 Jan 2008 Hutang dagang (ma) Kerugian pertukaran mata uan Rp 7.650.000 Rp 100.000

Kas Penjualan yang Dinyatakan Dalam Mata Uang Asing

Rp 7.750.000

Pada tanggal 16 Des 2007 PT Abuba di Indonesia menjual barang dagangan kepada perusahaan Kebangsaan Malaysia seharga 20.000 Ringgit, saat kurs spot Rp760. Saat tutup buku 31 Des 2007 kurs spot Rp 765. Perusahaan Kebangsaan Malaysia melunasi hutang 15 Jan 2008 saat kurs spot Rp 770, dan PT Abuba mengkonversi Ringgit ke dalam Rupiah pada tangga 20 Jan. 2008 dengan kurs spot Rp 772,5. Pencatatan transaksi tersebut adalah:

16 Des 2007 Piutang dagang (ma) Penjualan Rp 15.200.000 Rp 15.200.000

31 Des 2007 Piutang dagang (ma) Keuntungan pertukaran mata uang Rp 100.000 Rp 100.000

15 Jan 2008 Kas(ma) Piutang dagang (ma) Keuntungan pertukaran mata uang 20 Jan. 2008 Kas Kas (ma) Keuntungan pertukaran mata uang Rp Rp 15.450.000 Rp 15.400.000 100.000 Rp Rp 15.400.000 Rp 15.300.000 100.000

KONTRAK FORWARD MATA UANG DAN PERJANJIAN-PERJANJIAN LAINNYA

Operasi hedging : kontrak penjualan atau pembelian mata uang asing untuk mengindari resiko memegang hutang atau piutang dalam mata uang asing. Kontrak berjangka (forward rate ): perjanjian untuk melakukan pertukaran mata uang yang berbeda pada satu waktu tertentu di masa yang akan datang dan pada kurs tertentu yang disepakati 4 situasi dimana kontrak berjangka digunakan, yaitu: 1. Untuk berspekulasi dalam pergerakan harga nilai tukar 2. Untuk melakukan hedging komitmen mata uang asing 3. Untuk melakukan hedging investasi bersih di entitas luar negeri

Ad 1 Untuk berspekulasi dalam pergerakan harga nilai tukar Tanggal 2 Nop. 2007 Astra Internasional menyetujui kontrak berjangka 90 hari untuk membeli 10.000 Ringgit Malaysia pada saat kurs forward 90 hari untuk Ringgit Rp 615. Kurs spot untuk Ringgit pada tanggal 2 Nop. 2007 adalah Rp 619. Kurs pada tanggal 31 Des 2007 dan 30 Jan. 2008 sbb: 31 Des. 2007 30 Jan. 2008

Forward 30 hari Kurs spot

Rp 620 Rp 625

Rp 623 Rp 628

Jurnal pembukuan Astra Internasional sbb:

2 Nop. 2007 Piutang kontrak (ma) Hutang kontrak Rp 6.150.000 Rp 6.150.000

31 Des.2007 Piutang kontrak (ma) Keuntungan pertukaran mata uang Rp 50.000 Rp 50.000

30 Jan. 2008 Kas (ma) Keuntungan pertukaran mata uang Piutang kontrak (ma) Rp 6.280.000 Rp 80.000 Rp 6.200.000

Hutang kontrak Kas

Rp 6.150.000 Rp 6.150.000

Ad 2 hedging atas posisi aktiva bersih dan kewajiban bersih Pertamina menjual minyak ke Monato Company- Selandia Baru seharga 150.000 Nf pada tanggal 1 Des. 2007. Pembayaran jatuh tempo dalam 60 hari, yaitu 30 Jan. 2008. Bersamaan dengan penjualan itu pertamina melakukan kontrak berjangka dengan nilai 150.000 Nf tersebut dengan pialang valuta asing dalam jangka waktu 60 hari juga. Kurs Nf adalah sbb: 1 Des. 2007 Kurs spot Kurs forward 30 hari Kurs forward60 hari Rp 1.015 Rp 1.014 Rp 1.014 31 Des. 2007 30 Jan. 2008 Rp 1.014,8 Rp1.013,9 Rp1.013,8 Rp 1.014,7 Rp 1.013,8 Rp 1.013,6

Kurs yang digarisbawahi adalah kurs yang relevan untuk tujuan akuntansi.

1 Des.2007 Piutang dagang (ma) Penjualan (Mencatat penjualan ke Monato 150.000 x Rp 1.015) Rp 152.250.000 Rp 152.250.000

Piutang Kontrak Diskon atas kontrak berjangka Hutang Kontrak (ma)

Rp 152.250.000 Rp 150.000 Rp 152.250.000

(Mencatat kontrak berjangka untuk 150.000Nf dalam 60 hari, piutang 150.000Nf X Rp1.014; hutang 150.000Nf x Rp 1.015)

31 Des. 2007 Kerugian pertukaran mata uang Piutang dagang ml Rp. 30.000 Rp 30.000

(untuk menyesuaikan piutang dagang dengan kurs sekarang 150.000Nf x(Rp1.015 Rp1.014,8) = Rp 30.000)

Hutang kontrak (ma) Keuntungan pertukaran mata uang

Rp 30.000 Rp 30.000

(Untuk menyesuaiakan hutang kontrak kpd pialang valuta aung dengan kurs sekarang. Hutang 150.000Nf x Rp 1.014,8 = Rp 125.220.000) Rp 75.000 Rp 75.000

Amortisasi Diskon kontrak berjangka Diskon atas kontrak berjangka

(mencatat amortisasi diskon Rp150.000 x 30/60 hari)

30 Jan.2008 Kas (ma) Kerugian pertukaran mata uangRp. Piutang dagang (ma) Rp 125.205.000 15.000 Rp 125.220.000

(Mencatat penerimaan pembayaran dari Monato Company 150.000Nf xRp 1.014,7)

Hutang kontrak (ma)

Rp 125.220.000 Rp 15.000 Rp 125.205.000

Keuntungan pertukaran mata uang Kas (ma)

(Mencatat delivery 150.000Nf dari Monato kepada pialang valuta asing dalam pengakuan atas kewajiban )

Kas Piutang kontrak

Rp 125.100.000 Rp 125.100.000

(mencatat penerimaan kas dari pialang valuta asing)

Amortisasi dari Diskon atas kontrak berjangka

Rp 75.000

Diskon atas kontrak berjangka (mencatat amortisasi diskon Rp150.000 x 30/60 hari)

Rp 75.000

Hedging atas Posisi Kewajiban Bersih yang Diekspos Kontrak berjangka untuk menerima 10.000Dollar Australia pada 60 hari setelahnya memiliki forward Rp 1.575 pada saat kurs spot adalah Rp 1.560. Maka kontrak berjangkanya dicatat:

Piutang Kontrak (ma) Premium atas Kontrak Berjangka Hutang Kontrak

Rp 15.600.000 Rp 150.000 Rp 15.750.000