P. 1
Skripsi Ferdi Fadly _final

Skripsi Ferdi Fadly _final

5.0

|Views: 7,189|Likes:
Dipublikasikan oleh Etjih Tasriah

More info:

Published by: Etjih Tasriah on Jan 02, 2012
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

dan Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Indonesia

Dari persamaan structural IV, dapat dinyatakan bahwa pertumbuhan

ekonomi tidak terbukti signifikan dalam menurunkan persentase penduduk miskin

secara langsung. Namun demikian, sesuai dengan teori Okun’s Law dan bukti

empiris dari persamaan structural II, dengan tingkat keyakinan 95 persen,

pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat

menyerap tenaga kerja, dimana penyerapan tersebut dapat menyebabkan

penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) dengan signifikan. Setiap

pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen menyebabkan penurunan TPT sebesar

18,98 persen saat kondisi cateris paribus.

94

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang turun menyebabkan penurunan

persentase penduduk miskin (HCI). Dengan tingkat keyakinan 95 persen, setiap

penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 1 persen dapat

menyebabkan persentase penduduk miskin turun 0,38 persen. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa meskipun secara langsung tidak memiliki pengaruh, namun

dengan menurunkan tingkat pengangguran terbuka, pertumbuhan ekonomi secara

tidak langsung dapat menyebabkan penurunan persentase penduduk miskin di

Indonesia.

Hasil yang diperoleh sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh BPS

dalam publikasi “Analisis Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan Distribusi

Pendapatan” tahun 2009. Dalam publikasi tersebut, BPS menyatakan bahwa

pertumbuhan ekonomi tidak terbukti signifikan menurunkan tingkat kemiskinan.

Adapun yang signifikan mempengaruhi tingkat kemiskinan adalah tingkat

pengangguran terbuka (TPT). Dimana setiap pertumbuhan tingkat pengangguran

terbuka sebesar 1 persen dapat menyebabkan tingkat kemiskinan meningkat 0,071

persen. Hasil ini tentu saja memperkuat dugaan bahwa pengangguran merupakan

salah satu penyebab kemiskinan.

Dari persamaan structural III, dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat

keyakinan 95 persen pertumbuhan ekonomi secara langsung signifikan

menyebabkan distribusi pendapatan semakin timpang di Indonesia. Setiap

pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen dapat menyebabkan pertumbuhan indeks

gini ratio sebesar 1,31 persen. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi hanya

dinikmati oleh sebagian kecil penduduk saja. Berdasarkan data BPS tahun 2008,

hampir 45 persen dari “kue pembangunan” dinikmati oleh 20 persen penduduk

95

dengan pendapatan tertinggi, sedangkan 40 persen penduduk dengan pendapatan

terendah hanya menikmati 19,5 persen saja.

Menurut Todaro (2003), pembangunan sudah jelas memerlukan produk

domestik bruto (PDB) yang tinggi dan pertumbuhannya yang cepat. Namun

masalah dasarnya bukan hanya bagaimana menciptakan pertumbuhan PDB, tetapi

siapakah yang menumbuhkan PDB, sejumlah besar masyarakat yang ada di dalam

negara ataukah hanya segelintir orang saja. Jika yang menumbuhkannya hanyalah

orang-orang kaya berjumlah sedikit, maka manfaat pertumbuhan PDB itupun

hanya akan dinikmati oleh mereka saja, sehingga ketimpangan pendapatan akan

semakin parah. Namun jika pertumbuhan dihasilkan oleh orang banyak, mereka

pulalah yang akan memperoleh manfaat terbesarnya, dan buah pertumbuhan

ekonomi akan terbagi secara lebih merata.

Tabel 7. Distribusi pendapatan (%) dan rasio gini Indonesia 2002 - 2008

Kelompok Penduduk 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
(1)

(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

40% terendah

20,9 20,6 20,8 18,8 19,8 19,1 19,5

40% menengah

36,9 37,1 37,1 36,4 38,1 36,1 35,7

20% teratas

42,2 42,3 42,1 44,8 42,2 44,8 44,8

Rasio Gini

0,33 0,32 0,32 0,34 0,36 0,38 0,37

Sumber : Kuncoro (2010)

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi akan mengurangi tingkat

pengangguran terbuka, dimana pengurangan ini akan berdampak negatif pada

pertumbuhan indeks gini ratio. Dengan kata lain, berkurangnya tingkat

pengangguran terbuka (TPT) dapat menyebabkan distribusi pendapatan lebih

merata. Dari persamaan structural III, dengan tingkat keyakinan 95 persen dapat

disimpulkan bahwa setiap penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT)

sebesar 1 persen dapat berdampak negatif pada pertumbuhan indeks gini ratio

96

sebesar 0,018 persen. Sehingga secara tidak langsung, dapat dikatakan bahwa

pertumbuhan ekonomi berdampak negatif pada pertumbuhan ketimpangan

distribusi pendapatan.

Berkurangnya ketimpangan distribusi pendapatan dan persentase

penduduk miskin akibat penurunan TPT, secara tidak langsung akan semakin

mempercepat pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan dengan penurunan

persentase penduduk miskin dan distribusi pendapatan yang lebih merata,

pengeluaran konsumsi masyarakat menjadi meningkat, dimana peningkatan

tersebut secara langsung akan memacu pertumbuhan ekonomi. Dari persamaan

structural I, dengan tingkat keyakinan 95 persen, dapat disimpulkan bahwa setiap

pertumbuhan konsumsi sebesar 1 persen menyebabkan pertumbuhan ekonomi

sebesar 0,42 persen. Menurut Keyness, pengeluaran agregat, dalam hal ini

pengeluaran masyarakat atas barang dan jasa, merupakan faktor utama yang

menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai suatu negara.

Namun sebaliknya, jika persentase penduduk miskin meningkat dan

distribusi pendapatan melebar maka pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung

akan terhambat. Dari persamaan structural V, dengan tingkat keyakinan 95

persen dapat disimpulkan bahwa peningkatan Head Count Index (HCI) ataupun

persentase penduduk miskin sebesar 1 persen dapat berdampak negatif pada

pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 0,023 persen. Sedangkan dari

persamaan yang sama, setiap pertumbuhan indeks gini ratio sebesar 1 persen

dapat berdampak negatif pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 0,037

persen. Hasil ini sesuai dengan teori virtuous circle, Soeharsono Sagir dalam

buku “Kapita Selekta Ekonomi Indonesia” tahun 2009, dimana peningkatan

97

pendapatan penduduk miskin, dalam hal ini penurunan persentase penduduk

miskin dan distribusi pendapatan yang lebih merata akan menyebabkan

peningkatan konsumsi dan secara tidak langsung akan memacu pertumbuhan

ekonomi.

Sumber : Sagir (2009)
Gambar 16. Teori Lingkaran Setan Kemiskinan (Virtuous Circle)

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi memiliki kaitan yang erat dan

peran yang penting sekali dalam mengatasi permasalahan pengangguran,

kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi

harus dipacu terutama pada sektor-sektor tradeable yang dapat menyerap tenaga

kerja yang banyak sehingga menurunkan tingkat pengangguran terbuka.

Penurunan tingkat pengangguran terbuka dapat menyebabkan

pengurangan tingkat kemiskinan dan distribusi pendapatan yang lebih merata.

Kemudian penurunan persentase penduduk miskin dan distribusi pendapatan yang

lebih merata secara tidak langsung akan berimplikasi terhadap percepatan laju

Economic
Growth

Productive
Capacity

Employment
With Rising
Productivity

Higher income
of the Poor

Higher
Expenditure

Increased
productive
capacity

98

pertumbuhan ekonomi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Faisal Basri dalam buku

“Lanskap Ekonomi Indonesia” tahun 2009. Beliau menyatakan bahwa bagi

negara berkembang yang jutaan penduduknya masih menganggur, sektor

tradeable atau barang lebih menguntungkan untuk dikembangkan, karena dapat

menyerap begitu banyak tenaga kerja dan keuntungannya dapat dinikmati oleh

banyak pihak.

Namun faktanya, seperti yang telah dijelaskan pada analisis deskriptif,

sektor tradeable justru semakin tertekan di Indonesia. Sektor tradeable tumbuh 3-

4 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan sektor non-tradeable justru berkisar

antara 8 – 9 persen per tahun. Menurut Faisal Basri, pertumbuhan ekonomi yang

timpang inilah yang menjadi salah satu penyebab utama, mengapa pengangguran

dan kemiskinan sulit teratasi serta ketimpangan distribusi pendapatan semakin

melebar padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar antara 5-6 persen per

tahun. Penjelasan lebih lanjut mengenai pertumbuhan PDB sektor apa yang harus

dikembangkan akan dijelaskan pada sub bab terakhir pada bab ini.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->