Anda di halaman 1dari 33

PROPOSAL SKRIPSI

IDENTIFIKASI LOKASI TANAM DAN PERLAKUAN TERHADAP PRODUKSI TANAMAN BAWANG MERAH (Alium cepa) SEBAGAI KAJIAN PADA MATA KULIAH EKOLOGI TUMBUHAN

Oleh : Nama NIM Kelas Jurusan : Ramlin : 151 085 024 : VII A : IPA Biologi

JURUSAN PENDIDIKAN IPA BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM 2011

PROPOSAL SKRIPSI
KAJIAN EKOLOGI TUMBUHAN TERHADAP PRODUKSI BAWANG MERAH (ALIUM CEPA) DENGAN VARIASI LOKASI TANAM DAN PERLAKUAN SERTA KONSTRIBUSINYA PADA JURUSAN PENDIDIKAN IPA BIOLOGI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM

Oleh : Nama NIM Kelas Jurusan : Ramlin : 151 085 024 : VII A : IPA Biologi

JURUSAN PENDIDIKAN IPA BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM 2011

BABI PENDAHULUAN

A. Konteks penelitian Indonesia merupakan salah satu Negara dunia yang memilki tingkat kesuburan tanah cukup tinggi sehingga berbagai tanaman dapat tumbuh dan berkembang di negeri tercinta ini. Dalam upaya meningkatkan produksi tanaman Ekologi merupakan ilmu pengetahuan tentang hubungan antara organisme dengan lingkungannya atau ilmu yang mempelajari pengaruh faktor lingkungan terhadap jasad hidup.1 Ada juga yang mengatakan bahwa ekologi adalah suatu ilmu yang mencoba mempelajari hubungan antara tumbuhan, binatang dan manusia dengan lingkungannya dimana mereka hidup, bagaimana kehidupannya, dan mengapa mereka ada disitu. Ekologi yang akan disinggung dalam penelitian ini adalah ekologi tumbuhan, yaitu hubungan timbal balik antara tumbuhan dengan lingkungannya. Dalam hal ini tananaman bawang menjadi objek dalam kajiannya. Bawang merah merupakan salah satu jenis tanaman yang sudah dikenal cukup lama oleh masyarakat dunia. Beberapa ribu tahun lalu, bawang merah sudah dikenal dan digunakan orang, terutama untuk obat. Tanaman ini diduga berasal dari daerah Asia Tengah, yaitu di sekitar India, Pakistan samapai Palestina.2 Tidak ada catatan resmi sejak kapan tanaman bawang merah mulai dikenal dan digunakan. Namun diduga sudah dikenal sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu. Mesir Kuno yang sejak

1 2

Zoeraini Djamal Irawan, prinsip-prinsip ekologi(Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2010), h. 6. Wibowo Singgih, Budi Daya Bawang(Jakarta: Penebar Swadaya, 2005), h.85.

zaman beheula sudah mengenal bawang putih, ternyata juga mempunyai catatan sejarah paling kuno tentang bawang merah. Tanaman bawang merah ini merupakan tanaman yang memiliki tingkat permintaan dan nilai jual cukup tinggi di era modern ini sehingga tanaman ini menjadi salah satu tanaman yang sangat diperhatikan. Tanaman yang memiliki nama latin Alium cepa ini sangat dicari karena mengingat fungsinya yang sangat penting terutama dalam penggunaan sebagai bumbu dapur atau bumbu masakan karena mengandung berbagai zat yang membuat baunya beraroma khas seperti kandungan minyak asiri, sikloaliin, metilaliin, kuersetin, dan zat-zat lainnya. Tidak hanya sebagai bumbu masak atau bumbu dapur, Alium cepa ini juga bisa dimanfaatkan sebagai salah satu tanaman obat untuk gangguan kesehatan tertentu seperti : tekanan darah tinggi, sembelit, luka, bisul pada kulit, jamuran pada vagina, penurun panas, dan masuk angin. Mengingat fungsinya yang cukup penting tersebut, tidak sedikit petani yang berusaha menanamnya untuk menghasilkan bawang merah yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu peneliti merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana tanaman bawang dapat merespon atau beradaptasi dengan lingkungannya dengan mengkajinya melalui pembahasan dalam ekologi tumbuhan. Dengan hasil penelitian ini,paling tidak peneliti berharap bisa diaplikasikan oleh peneliti sendiri dalam bentuk penyuluhan mulai dari lingkup keluarga sampai ke lingkup yang lebih luas, yang meliputi : lingkungan yang cocok untuk bertani bawang merah sehingga hasilnya memuaskan.

Kajian ekologi tumbuhan yang dimasudkan dalam penelitian ini adalah dibatasi pada bagaimana bertani bawang merah (Alium cepa) yang dilakukan oleh para petani. Untuk lebih jelasnya mengenai latar belakang peneliti dalam penelitian ini, ada beberapa hal yang menjadi alasan peneliti dalam melakukan penelitian ini, baik terkait objek penelitiannya mapun pemilihan lokasinya, yaitu : 1. Tanaman bawang merah merupakan tanaman yang memiliki permintaan tinggi di pasaran sehingga sangat patut untuk diperhatikan dalam pembudidayaannya. 2. Peneliti sendiri ingin mengetahui lebih banyak mengenai lingkungan yang kondusif untuk pembudidayaan bawang merah sehingga peneliti memilih model penelitian ini dengan cara melakukan observasi terhadap beberapa lokasi yang sejauh peneliti ketahui bahwa lokasi tersebut biasa dijadikan sebagai lokasi untuk berbudidaya tanaman bawang merah. 3. Penelitian ini dilakukan di Bima (Kab. Bima ) karena peneliti merupakan hamba Allah Swt yang terlahir dan dititipkan di tanah tersebut, dimana daerah ini dikenal sebagai daerah yang bersuhu sedikit panas dibanding wilayah NTB lainnya sehingga dengan keadaan yang demikian sangat cocok untuk bercocok tanam bawang merah. Karena salah satu persyaratan tanaman bawang merah dapat dihasilkan hasil yang maksimal adalah suhu yang panas yaitu 25-32oC.3 B. Fokus penelitian

Sunaryono Hendro dan prasodjo Soedomo. Agribisnis Bawang Merah (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2010), h. 20.

Dalam penelitian ini, yang menjadi fokus dalam kajiannya adalah bagaimana lokasi tanam dan perlakuan yang tepat untuk memproduksi bawang merah yang berkualitas. C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lokasi tanam dan perlakuan yang tepat dalam memproduksi bawang merah yang berkualitas. D. Manfaat penelitian 1. Manfaat teoritis Adapun manfaat teorits yang bisa didapatkan dalam penelitian ini adalah sebagai penambah khasanah atau pengetahuan, baik bagi peneliti sendiri maupun bagi orang banyak khususnya dalam memahami mengenai pembudidayaan bawang merah. 2. Manfaat praktis Adapun manfaat praktis yang bisa didapatkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai pengetahuan atau panduan dalam membudidayakan bawang merah dan sebagai bahan belajar dan referensi ilmu terkait. E. Ruang lingkup dan setting penelitian 1. Ruang lingkup Penelitian Ruang lingkup pada penelitian ini khususnya di Daerah pulau Sumbawa yaitu di Kabupaten Bima dengan penelitian terhadap lokasi tanam dan perlakuan dalam memproduksi bawang merah (Alium cepa ) yang berkualitas. 2. Setting Penelitian

Tempat atau lokasi penelitian ini bertempat di beberapa lokasi di Kabupaten Bima, yaitu di Kec. Lambu , Kec. Langgudu, dan Kec. Belo. Catatan : (lokasi penelitian bisa berubah apabila lokasi yang terrencana tidak memungkinkan untuk mengadakan penelitian, namun penelitian ini tetap akan dilaksanakan di Bima). F. Kerangka teoritik 1. Lokasi Tanam dan Perlakuan a. Lokasi Tanam b. Perlakuan Perlakuan adalah suatu keadaan tertentu yang akan dikenakan pada satuan percobaan dalam suatu pola percobaan. Perlakuan juga merupakan suatu prosedur yang akan diukur pengaruhnya dan diperbandingkan satu dengan yang lain.4 Berbeda dengan uraian definisi di atas, perlakuan yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah segala tindakan atau proses yang dilakukan oleh petani bawang dalam usaha menghasilkan bawang merah yang berkualitas, yaitu mulai dari pemilihan benih sampai pada perlakuan pasca panen. 2. Produksi Bawang Merah Beberapa ahli memberikan ilustrasi bahwa produksi tanaman (crop production) merupakan gabungan antara ilmu pengetahuan berbudi daya tanaman

Kusriningrum, Perancangan Percobaan (Surabaya: Air Langga University Press, 2010), h. 11.

dan sekaligus seni dalam mengatur dan memanfaatkan potensi alam, lingkungan dan teknologi budi daya (crop production as an art and a science).5 Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan produksi bawang merah adalah hasil bawang merah yang dihasilkan setelah proses pembudidayaan dilakukan oleh petani bersangkutan Beberapa ulasan mengenai bawang merah sebagai berikut : a. Gambaran umum mengenai bawang merah(Alium cepa) Seperti halnya bawang putih, bawang merah dan bawang bombay juga termasuk family lilyaceae. Herba ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Bawang-bawangan mempunyai varietas yang bermacam-macam. Namun umumnya berbentuk bulat putih, bulat kuning, bulat merah, atau bulat hijau. Bawang merah mengandung berbagai komponen sulfur organic. Selain itu, bawang ini juga mempunyai enzim Allinase yang timbul saat disayat atau dihancurkan.6 Bawang merah juga mengandung flatonoid, asam fenol, sterols, saponin, pectin, ellagic, caffeic, sinapic, asam p-coumaric, dan minyak vilatil. Semua senyawa ini tergolong zat non gizi yang berfungsi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan tubuh. Bawang merah mengandung senyawa Allyl propyl disulphide (APDS) yang berguna untuk menurunkan aktifitas gula darah, sehingga dapat membantu menyembuhkan diabetes mellitus dengan jalan

Heddy Suwasono,DKK. Pengantar Produksi Tanaman Dan Penanganan Pasca Panen (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1994), h. 1-2. 6 Ir.W.P. Winarto dan Tim Karyasari, Memanfaatkan Bumbu Dapur Untuk Mengatasi Aneka Penyakit (Tangerang: PT. Agromedika Pustaka, 2004),h. 24.

meningkatkan metabolism hati dari glukosa atau meningkatkan ekskresi insulin.7

b. Syarat hidup atau tuntuntan Ekologi bawang merah(Alium cepa) Ada beberapa persyaratan atau tuntutan untuk dipeneuhi, sekurangkurangnya diusahakan untuk dipenuhi. Salah satunya yang penting adalah Ekologinya. Hal ini terasa lebih menonjol karena banyak kegagalan budidaya bawang merah yang disebabkan karena tidak cocoknya lingkungan. Berikut adalah uraian mengenai kondisi yang cocok untuk tanaman bawang merah: 1) Iklim Bawang merah paling menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu yang agak panas dan cuaca cerah. Daerah yang sering berkabut kurang baik untuk bawang merah dan sering

menimbulkan bencana penyakit. Angin yang kencang juga kurang baik. Demikian juga tempat yang terlindung dan teduh. Lingkungan yang paling baik untuk budidaya bawang merah adalah daerah beriklim kering yang cerah dengan suhu udara panas.8 Daerah yang cukup mendapat sinar matahari juga sangat diutamakan, dan lebih baik jika lama penyinaran matahari lebih dari 12 jam.

7 8

Ibid.,h. 25. Wibowo Singgih, Budi Daya Bawang (Jakarta : Penebar Swadaya, 2005), h. 93.

2) Suhu dan ketinggian tempat Berbeda dengan bawng putih yang baik untuk ditanam di dataran tinggi yang bersuhu sejuk, bawang merah justru tidak baik pada tempat yang demikian. Sampai pada ketinggian 30 m dpl. Pertumbuhan tanaman maupun umbinya paling baik. Pada ketinggian 10-250 m dpl juga dapat tumbuh cukup baik, tetapi yang terbaik adalah sampai ketinggian 30 m dpl, yang berarti pada daerah dataran rendah. Tanaman bawang merah(Alium cepa) sebaiknya ditanam pada suhu yang agak panas. Pada suhu 22 0 C memang masih muda untuk membentuk umbi, tetapi umbinya tidak sebaik jika ditanam didataran rendah yang bersuhu panas. 3) Tanah Secara ekologis tanah tersusun oleh tiga kelompok material, yaitu material hidup (factor biotik) berupa biota (jasadjasad hayati), factor abiotik berupa bahan organik, dan factor abiotik berupa pasir, debu, dan liat.9 Bawang merah dapat ditanam disawah setelah panen padi dan dapat juga ditanah darat seperti tegalan dan pekarangan. Tanah yang gembur, subur, banyak mengandung bahan organis atau humus sangat baik untuk bawang merah. Tanah yang gembur dan subur akan mendorong perkembangan umbi sehingga hasilnya

Kemas Ali Hanafiah,DKK, Biologi Tanah Ekologi Dan Makrobiologi Tanah ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 1.

besar-besar. Jenis tanah yang paling baik adalah tanah lempung yang berpasir atau berdebu karena sifat tanah yang demikian ini mempunyai aerasi yang bagus dan drainasenya pun baik.10

c. Ciri-ciri bawang merah(Alium cepa) Adapun ciri-ciri brambang atau bawang merah(Alium cepa) adalah sebagai berikut : 1) Pada umumnya tanaman menghasilkan beberapa umbi lapis secara bergerombol dan bentuknya lebih kecil dari pada bawang Bombay. 2) Tanaman bawang merah biasa ditanam di dataran rendah yang beriklim agak kering dengan suhu udara agak panas hingga panas. 3) Ukuran umbi yang menggerombol (saling menempel pada induk ) memiliki diameter antara 3 cm-4 cm. 4) Umbi bawang merah berwarna kuning kemerahan hingga merah tua. 5) Rasa bawang merah ini sangat merangsang, kandungan minyak etherisnya cukup tinggi hingga menimbulkan rasa pedas pada mata. 6) Daun membentuk bulatan memanjang dan di dalamnya berongga membentuk pipa.11
10

Ibid., h. 94

d. Klasifikasi bawang merah (Alium cepa) Klasifikasi adalah cara-cara pengelompokkan atau penggolongan makhluk hidup berdasarkan cirri-ciri yang dimilikinya.12 Alam tumbuhan yang ditaksir 300.000 jenis itu dalam klasifikasinya dibagi-bagi menjadi sejumlah divisi. Tiap divisi seterusnya berturut-turut dibagi-bagi lagi dalam takson yang lebih rendah, yaitu kelas, bangsa, suku, marga, dan jenis. Masing-masing diberi nama sesuai dengan ketentuan yang dianut dalam Kode Internasional Tata Nama Tumbuhan (KITNT), yang selain sebagai sarana referensi sekaligus memberikan indikasi untuk kategori takson yang mana nama-nama tersebut dimaksudkan.13 Klasifikasi bertujuan untuk mempermudah atau menyederhanakan obyek studi dengan mencari keseragaman dalam keanekaragaman.14 Adapun klasifikasi dari bawang merah secara umum(7 tingkatan takson) adalah sebagai berikut: Regnum Plantae, Divisi

Spermatophyta, Klas Monocotyledoneae, Ordo Liliflorae, Family Amaryllidaceae, Genus Alium, dan Species Alium cepa.15

Untuk lebih memahami tentang klasifikasi bawang merah, berikut adalah susunan tujuh taksonnya: Regnum Divisi Class 0rdo
11

: Plantae : Spermatophyta : Monokotyledoneae : Liliflorae

AAK, Pedoman Bertanam Bawang(Yogyakarta: Kanisius, 2010),h. 16. Tarigan, Kamus Lengkap Biologi Bergambar(Bandung: Penabur Ilmu, 2005), h. 133. 13 Tjirosoepomo Gembong, Taksonomi Tumbuhan (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press2009,), h. 1. 14 Tjitrosoepomo Gembong, Taksonomi, h. 5. 15 Sunaryono Hendro dan Soedomo Prasodjo, Agribisnis, h. 9.
12

Family Genus Species

:Amaryllidaceae : Alium : Alium cepa

e. Cara Menanam Bawang Merah 1) Pemilihan benih Bawang merah berkembang biak dengan umbi dan biji. Tetapi yang sering ditanam adalah umbinya. Ciri-ciri benih bawang merah yang bagus ditanam adalah : y berasal dari varietas unggul yang berumur cukup tua, yakni kirakira berumur 70-80 hari. y y Kondisi umbi utuh, sehat, dan bulat. Umbi tidak terlalu besar, sebaiknya berdiameter antara 1,5-2 cm, bentuknya simetris. y y y Umbi telah disimpan selama 2-3 bulan. Setiap umbi dapat menghasilkan 4-6 umbi anakan. Umbi segar, keras dan kulitnya mengkilat.

Umbi yang akan ditanam terlebih dahulu dipotong ujungnya, lebih kurang bagian umbi dibuang. Pemotongan dilakukan pada waktu 1-2 hari sebelum ditanam. 2) Pengolahan tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah dan menyikirkan tumbuh-tumbuahan pengganggu. Jika tanah tidak

dipersiapkan(dicangkul, dibajak) secara sempurna, lebih-lebih pada tanah padat atau becek, maka daun tanaman bawang merah bisa menguning dan akhirnya mati sebelum umbi terbentuk.

3) Penanaman Penanaman bawang merah ditanam hingga potongan bekas melintang pada umbi rata dengan permukaan tanah. Jarak tanam bervariasi tergantung pada varietas dan kesuburan tanah. Jarak tanam tersebut misalnya 15 x 20 cm, 20 x20 cm, dan 25 x 25 cm. Benih yang ditanam ditutup tipis dengan tanah halus.  Waktu penanaman yang baik : y Pada saat akhir musim hujan (kira-kira bulan Mei/Juni) atau menjelang akhir musim kemarau(kira-kira bulan Oktober). y Saat umbi bawang sudah mulai ada tanda-tanda akar dan daun mulai tumbuh. y Kira-kira 27 hari sesudah petakan selesai sikerjakan.

 Cara penanaman yang baik : y Bibit dibagi-bagi terlebih dahulu menjadi beberapa bagian, sesuai dengan jumlah bagian yang ada. y Setiap bibit dipotong bagian pada bagian atas.

Benamkan 2/3 bagian bibit di dalam tanah dan 1/3 bagian di permukaan tanah.

Jika tanah terlalu kering harus dibasahi terlebih dahulu, tetapi jangan sampai menjadi becek.

Membuat lubang-lubang di tempat yang akan ditanami dengan penugal yang bisa dibuat dari sebilah bambu.

Setelah umbi bawang merah selesai ditanam, harus disirami setiap hari selama 4-5 hari berturut-turut.

4) Pemupukan Untuk memperoleh hasil yang baik, tanaman bawang merah perlu dipupuk. Pupuk kandang sangat baik diberikan sebagai pupuk dasar karena dapat menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah. Jumlahnya dapat mencapai 15 ton per hektar. Selain itu, tanaman bawang merah juga perlu diberi pupuk buatan. Untuk tiap hektar tanah diperlukan 100 kg Nitrogen (450 kg urea), 150 kg P2 O5 (300 KG TPS) dan 100 kg K2 O (200 kg KCL). Pupuk P2O5 dan K2O diberikan sekaligus pada saat tanaman berumur 2 minggu. Sedangkan pupuk Nitrogen diberikan dua kali, yaitu setengah dosis bersamaan dengan pemberian pupuk P2O5 dan K2O kemudian setengah dosis diberikan pada waktu tanaman bawang berumur 4 minggu. Cara pemberian pupuk kandang dengan disebar rata dan diaduk dengan tanah, sedangkan pupuk buatan dimasukkan dalam larikan dekat barisan tanaman.

5) Penyiangan dan pembumbunan Penyiangan bertujuan untuk menyingkirkan tumbuh-tumbuhan pengganggu dan mengemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak tanaman bawang merah. Penyiangan dilakukan sedini mungkin karena tanaman bawang merah yang masih muda sulit bersaing dengan tumbuhan penganggu. Penyiangan biasannya dilakukan setelah tanaman bawang merah berumur 21 hari. Bersamaan dengan penyiangan, pembumbunan juga dilakukan dengan tujuan untuk menggermbukan tanah dan menimbun perakaran bawang merah supaya tidak terbuka. 6) Pengairan Setelah umbi bawang merah ditanam hingga daun pertama tumbuh, maka tanaman bawang merah perlu disiram. Penyiraman dilakukan pada pagi hari sebelum pukul 09.00 dan pada sore hari setelah setelah pukul 15.30 sehingga tanah tetap lembab. 7) Panen Masa panen tergantung dari varietas yang ditanam dan tujuan penggunaannya. Untuk tujuan konsumsi, bawang merah sebaiknya dipanen setelah ada tanda-tanda sebagian besar daun sudah mongering dan tampak lemas serta umbi sudah tampak dipermukaan tanah. Sedangkan untuk keperluan benih, bawang merah sebaiknya dipanen setelah umbinya tampak lebih tua. 8) Pengeringan

Pengeringan bawang merah adalah dengan melakukan penjemuran dengan tujuan untuk menghilangkan air yang ada dalam umbi bawang merah tersebut. Pengeringan yang dilakukan dengan penjemuran ini dikenal dengan istila THOMPSON et al. Pengeringan ada 2 macam, yaitu pengeringan tradisional(field curing) dan pengeringan buatan (field curing). Pengeringan tradisional dilakukan dengan menjemur umbi bawang yang telah diikat di bawah sinar matahari pada alas anyaman bamboo. Biasanya penjemuran ini berjalan antara 1-2 minggu bergantung keadaan cuaca pada waktu penjemuran. Awal penjemuran umbinya di bawah dan daunnya di atas supaya daunnya cepat layu hingga menjadi kilat dan umbinya tidak lepas dan busuk. Selanjutnya dibalik ketika hampir kering, dan setelah umbi mencapai kadar air antara 80-85% baru disimpan di gudang. Sedangkan pengeringan secara buatan dapat dilakukan dengan panas dari kompor atau energy surya seperti yang dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI).16 9) Penyimpanan Untuk menjaga kualitas bawang yang telah dihasilkan, langkang bselanjutnya adalah penyimpanan. Penyimpanan yang dimaksudkan adalah penyimpanan bawang merah pada tempat yang terlindung dari serangan penyakit. Pada umumnya petani menyimpan bawang merah yang telah kering dengan jalan menggantungkan umbu-umbi tersebut di atas tungku di dapur tempat menanak nasi, supaya mendapatkan asap udara kering. Dengan cara ini umbi bawang dapat disimpan sampai 6 bulan tanpa mengalami serangan penyakit busuk umbi. Tetapi menurut hasil penelitian Laboratorium Lembaga Penelitian Holtikultura di Jogjakarta, bawang merah itu dapat disimpan secara gantungan di dalam ruangan terbuka pada suhu 26-29oC dengan kelembaban udara relative 70-80% (HOLTIKULTURA,1982).17

f. Hama dan penyakit pada tanaman bawang merah 1) Hama a) Hama ulat daun (laphyguma exigua)

16 17

Sunaryono Hendro dan Soedomo Prasodjo, Agribisnis, h. 36-38. Ibid., h. 38

Hama ini suka menyerang tanaman sayuran bawang merah pada bagian daunnya. Pada daun yang terserang terdapat bekas gigitan. Hal ini sangat merugikan karena mengganggu jalannya proses fotosintesis. Untuk menanggulangi hama ini (laphyguma exigua) disemprotkan Insektisida Bayrusil dengan konsentrasi formulasi 0,2 %. b) Hama lier (thrips tabaci) Hama ini menyerang daun seperti hama ulat daun. Tanaman sayuran yang terserang hama ini dapat menunjukan gejala-gejala: ujung daun kering, kemudian daunnya mongering semua. Hama ini dapat diatasi dengan menyemprotkan Bayrusil dengan konsentrasi formulasi 0,2%. 2) Penyakit Penyakit-penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah diantaranya penyakit busuk umbi dan penyakit mati pucuk. a) Penyakit busuk umbi Penyebab timbulnya penyakit ini adalah sebangsa cendawan, yaitu Botrytisalli. Cendawan ini aktif sekali menyerang mulai dari areal pertanaman sampai penyimpanan di gudang. Hama ini menyerang tanaman bawang merah pada bagian umbinya. Umbi-umbi yang terserang akan busuk baik itu masih ada di areal penanaman maupun pada penyimpanan di gudang.

Pemberantasanya yaitu dengan penyemprotan menggunakan Dithane M. 45 b) Penyakit mati pucuk Penyakit mati pucuk disebabkan oleh Phytopltho porri. Tanaman yang terserang oleh penyakit tersebut menunjukan gejala-gejala: mula-mula bagian daunnya menguning kemudian lama-lama menjadi putih dan kering. Pemberantasannya dengan menyemprotkan BB 2% dan Dithane M. 45 dengan konsentrasi formulasi 0,2%. 3) Gulma Pada tanaman yang berumur 3 minggu biasanya sudah dilakukan penyiangan. Rumput-rumput harus dibersihkan karena kalau tidak dibersihkan akan terjadi persaingan dalam menyerap makanan. Tujuan penyiangan ini selain membersihkan rumput-rumput juga menggemburkan tanah. Dalam penyiangan ini sekaligus dilakukan pembumbunan, dan pemberian pupuk. g. Manfaat atau kegunaan bawang merah(Alium cepa) Selain untuk keperluan masak-memasak agar makanan terasa enak dan lezat, bawang merah (Alium cepa) juga bias difungsikan sebagai obat tradisional yang murah, aman, tanpa efek samping; antara lain untuk mengobati : tekana darah tinggi, sembelit, luka, bisul pada kulit, jamuran pada vagina, penurunan panas, dan masuk angin.18

18

Suhaeni Neni, Petunjuk Praktis Menanam Bawang Merah (Bandung : Jembar, 2007 ), h. 42.

Adapun langkah-langkah dalam upaya pengobatan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Tekanan darah tinggi. Ambil satu suing bawang merah. Kupas dan cuci bersih dengan air. Kemudian, suing yang sudah bersih dimakan utuh atau dalam bentuk potongan. Cara memakannya bias juga dicampur ketimun sebagai resep acar. 2) Sembelit. Ambil satu siung bawang merah. Kupas dan cuci bersih dengan air. Suing yang bersih dimakan utuh atau sebelumnya diaduk dalam minyak kacang. Ulangii beberapa hari (sehari sekali) hingga penyakitnya sembuh. 3) Luka. Ambil satu siung bawang merah. Kupas dan cuci bersih dengan air. Siung yang bersih dengan air. Suing bawang merah yang sudah bersih lalu dihancurkan dengan cara digerus. Tempelkan gerusan halus bawang merah tersebut di bagian yang luka. 4) Bisul pada kulit. Ambil satu suing bawang merah. Kupas dan cuci bersih dengan air. Siung bawang merah yang sudah bersih lalu dihancurkan dengan cara digerus. Balurkan gerusan halus bawang merah tersebut di bagian kulit yang bisulan. 5) Jamuran pada vagina. Ambil satu suing bawang merah. Kupas dan cuci bersih dengan air. Suing bawang merah yang sudah bersih lalu dihancurkan dengan cara digerus. Saring gerusannya. Dengan bantuan kapas, bubhkan cairan bawang merah pada wilayah yang jamuran. 6) Penurun panas. Ambil kira-kira 20 gram bawang merah. Bersihkan kemudian parut. Campur hasil parutan bawang merah dengan minyak kelapa, lalu balurkan ke ubun-ubun dan sekujur tubuh sembari dilakukan pemijatan. 7) Masuk angin. Ambil bawang merah. Kupas dan bersihkan. Lalu, belah dann kerokkan ke kulit badan. Cara lain : remas bawang merah kemudian campurkan ke minyak kelapa. Gunakan campuran tersebut untuk kerokkan. Banyak orang percaya bahwa mengkonsumsi bawang merah mentah seperti pada acar mampu mengatasi serangan masuk angin.19

19

Ibid., h. 43-44.

3.

Ekologi Tumbuhan Sebelum masuk ke ekologi tumbuhan, penulis akan menguraikan beberapa pengertian atau devinisi yang dikemukakan oleh para ahli mengenai ekologi. Berikut adalah beberapa pengertian mengenai ekologi : Ekologi merupakan ilmu pengetahuan tentang hubungan antar organisme dan lingkungannya atau ilmu yang mempelajari pengaruh faktor lingkungan terhadap jasad hidup.20 Ekologi adalah ilmu yang mempelajari makhluk hidup dalam rumah tangganya atau ilmu yang mempelajari seluruh pola timbale balik antara makhluk hidup sesamanya dan dengan komponen di sekitarnya.21 Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal atau tempat hidup atau habitat, dan logos yang berarti ilmu, telaah, studi, kajian. Oleh karena itu, secara harfiah ekologi adalah ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau ilmu tentang tempat tinggal makhluk hidup.22 Ekologi adalah kajian mengenai hubungan antara tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan dengan lingkungannya.23 Dari beberapa uraian mengenai devinisi ekologi tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa ekologi tumbuhan adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan yang membahas mengenai hubungan antara satu tumbuhan dengan lingkungannya, baik lingkungan yang bersifat biotis(tumbuhan lain,

20 21

Zoeraini Djamal Irawan, prinsip-..., h. 6. Ibid., h. 7. 22 Indriyanto, ekologi hutan (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), h. 2. 23 Surasana Syafei Eden, Pengantar Ekologi Tumbuhan (bandung :ITB, 1994), H. 1.

hewan, mikroba, dan lain-lain) maupun lingkungan yang bersifat abiotis (tanah, udara, suhu, air, dan lain-lain). Kajian mengenai ekologi tumbuhan bukan lagi hal yang baru, pada tahun 1305 Petrus de Crescentius sudah menulis suatu karangan mengenai adanya sifat persaingan hidup dalam tumbuhan, kemudian King (1685) merupakan orang pertama yang menguraikan tentang konsep suksesi dalam komunitas tumbuhan.24 Ekologi tumbuhan berusaha untuk menerangkan rahasia kehidupan pada tahapan individu, populasi dan komunitas. Ketiga tingkat utama ini menuntut system ekologi yang dikaji dalam ekologi tumbuhan. Masing-masing tingkatan bersifat nyata, tidak bersifat hipotetik seperti species, jadi dapat diukur dan diobservasi struktur dan operasionalnya. Berdasarkan tingkat integrasinya maka secara ilmu, kajian ekologi tumbuhan dapat dibagi dalam dua pendekatan, yaitu : sinekologi dan auteknologi. Sinekologi, berdassarkan falsafah dasar bahwa tumbuhan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang dinamis. Masyarakat tumbuhan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu keluar masuknya unsure-unsur tumbuhan dan turun naiknya berbagai variable lingkungan hidup. Dalam sinekologi komunitas tumbuhan atau vegetasi dianggap mempunyai perilaku sebagai suatu organism utuh. Vegetasi bisa lahir, tumbuh, matang dan akhirnya mati. Dua bidang kajian utama dalam sinekologi adalah bidang kajian tentang klasifikasi komunitas tumbuhan dan bidang kajian tentang analisis ekosistem. Auteknologi, falsafah yang mendasarinya adalah dengan memandang tumbuhan sebagai ukuran yang menggambarkan kondisi lingkungan sekitarnya. Clements menyatakan bahwa setiap tumbuhan adalah alat pengukur bagi keadaan lingkungan hidup tempat ia tumbuh. Dalam hal ini paling sedikit yang dimaksud dengan alam lingkungannya adalah iklim dan tanah.25

4.

G. Penegasan Istilah
24 25

Ibid., h. 9. Ibid., h. 10-11

Proposal skripsi dengan judul Kajian Ekologi Tumbuhan Terhadap Produksi Tanaman Bawang Merah Dengan Variasi Lokasi Tanam Dan Perlakuan Serta Kontribusinya Pada Jurusan Pendidikan IPA Biologi IAIN Mataram untuk nmengantisipasi adanya perbedaan pendapat mengenai istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka akan diuraikan secara rinci beberapa istilah tersebut. 1. Kajian 2. Ekologi Tumbuhan 3. Produksi 4. Lokasi tanam 5. Perlakuan

BAB II METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian Setiap pendekatan memerlukan pendekatan yang menunjukkan rencana pengumpulan agar konsisten sesuai dengan tujuan peneliti, dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif atau metode kualitatif. Menurut Dr. Sugiyono dalam bukunya metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D mengatakan bahwa metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,(sebagai lawannya adalah ekperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, tekhnik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.26 Pendekatan kualitatif mempunyai ciri-ciri berikut ini : a) Natural setting yakni data yang dikumpulkan langsung dari lingkungan nyata dalam situasi bagaimana adanya keadaan subjek penelitian. b) Manusia sebagi instrument, yakni peneliti dengan bantuan orang lain (Responden) merupakan alat pengumpul data utama. Maka sangat tidak mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan dilapangan. Selain dengan cara tersebut, peneliti mendatangi subjek penelitian dengan wawancara untuk mengumpulkan data yang diperlukan.

26

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D ( Bandung: Alfabeta, 2010), h. 9.

c) Bersifat deskriptif, memaparkan apa adanya (sesuatu bentuk atau kenyataan yang ada). d) Lebih mementingkan proses dari pada hasil. e) Desain yang bersifat sementara, artinya dapat berkembangkan terus selama pengumpulan data dilapangan.27

Ada tiga hal yang membedakan metode kualitatif dan metode kuantitatif, yaitu perbedaan aksioma, proses penelitian, dan karakteristik penelitian itu seendiri. 1. Perbedaan aksioma Aksioma adalah pandangan dasar. Aksioma penelitian kulitatif dan kuantitatif meliputi : aksioma tentang realitas, hubunganpeneliti dengan yang diteliti, hubungan variable, kemungkinan generalisasi, dan peranan nilai. Tabel perbedaan aksioma antara metode kualitatif dan metode kuantitatif : Aksioma dasar Sifat realitas Metode kualitatif konkrit, Ganda, holistik, dinamis, hasil konstruksi dan pemahaman Hubungan peneliti Independen, supaya terbangun Interaktif dengan dengan yang obyektivitas sumber data supaya diteliti memperoleh makna Hubungan variable Sebab-akibat (kausal) Timbale balik/ interaktif Kemungkinan Cenderung membuat generalisasi Transferability (hanya generalisasi mungkin dalam ikatan konteks dan waktu) Peranan nilai Cenderung bebas nilai Terikat nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data. 2. Perbedaan Proses Penelitian Dalam proses penelitian kedua metode (kuantitatif-kualitatif) ini dikatakan bahwa perbedaannya adalah proses penelitian metode kuantitatif bersifat linier sedangkan proses penelitian metode kualitatif bersifat sirkuler. 3. Perbedaan Karakteristik
27

Metode kuantitatif Dapat diklasifikasikan, teramati.

Moleong. J. Lexy, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosada karya, 2001), hlm. 4-7.

Perbedaan karakteristik dari kedua metode (kauntitatif-kualitatif) dapat dilihat pada table berikut : No Aspek perbedaan Metode kuantitatif Metode kualitatif 1 Desain a. Spesifik, jelas, a. Umum rinci b. Fleksibel b. Ditentukan c. Berkembang, dan secara mantap muncul dalam sejak awal proses penelitian c. Menjadi pegangan langkah demi langkah 2 Tujuan a. Menunjukan a. Menemukan pola hubungan antar hubungan yang variable bersifat interaktif b. Menguji b. Menemukan teori teori c. Menggambarkan c.Mencari realitas yang generalisasi yang kompleks mempunyai nilai d. Memperoleh prediktif pemahaman makna. 3 Teknik a. Kuesioner a. Participant pengumpulan b. Observasi dan observation data wawancara b. In depth interview terstruktur c. Dokumentasi d. tringulasi 4 Instrument a. test, angket, a. peneliti sebagai penelitian wawancara instrument(human tertstruktur intrument) b. instrument yang b. buku catatan, tape telah terstandar recorder, handycam,dll 5 Data a. kuantitatif a. deskriptif b. hasil pengkuran kualitatif variable yang b. dokumen pribadi, dioperasionalkan catatan lapangan, dengan ucapan dan menggunakan tindakan instrument responden, dokumen dll a. besar a. kecil b. representative b. tidak c. sedapat mungkin representative random c. purposive, d. ditentukan sejak snowball

Sampel

awal

Analisis

Hubungan dengan responden

a. Setelah selesai pengumpulan data b. Deduktif c. Menggunakan statistic untuk menguji hipotesis a. Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya objektif b. Kedudukan peneliti lebih tinggi dari pada responden c. Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan

Usulan desain

a. Luas dan rinci b. Literature yang berhubungan dengan masalah, variable yang teliti. c. Prosedur yang spesifik dan rinci langkahlangkahnya. d. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas. e. Hipotesis dirumuskan dengan jelas. f. Ditulis

d. berkembang selama proses penelitian a. Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian b. Induktif c. Mencari pola, model, tema, teori a. Empati, akrab supaya memperoleh pemahaman yang mendalam b. Kedudukan sama bahkan sebagai guru, konsultan c. Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat ditemukan hipotesis atau teori a. Singkat, umum bersifat sementara. b. Literature yang digunakan bersifat sementar, tidak menjadi pegangan utama. c. Prosedur bersifat umum, seperti akan merencanakan tour/piknik. d. Masalah akan bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuljuan. e. Tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan menemukan

secara rinci dan jelas.

10

Kapan penelitian dianggap selesai?

11

Kepercayaan terhadap hasil penelitian

Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat terselesaikan Pengujian validitas dan realibilitas instrument.

hipotesis. f. Focus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan. Setelah tidak data yang dianggap baru.

Pengujian kredibilitas, depeabilitas, proses dan hasil penelitian.28

B. Kehadiran Peneliti Sebagai mana telah dipaparkan, bahwa pendekatan yang digunakan dalam penelitain ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan diketahui bahwa dalam pendekatan kualitatif peneliti perlu terjun langsung dalam kehidupan subjek sehingga peneliti dapat memperoleh data yang valid agar memperoleh informasi dan

mengumpulkan data tentang bagaimana para petani bawang merah dalam bercocok tanam. C. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Sumbawa khususnya di daerah kabupaten Bima dengan beberapa lokasi, yaitu : di Kec. Langgudu, Kec. Lambu, dan Kec. Belo .

28

Sugiyono, Metode , h. 14-16.

D. Sumber Data Sumber data maksudnya disini adalah subjek dari mana data atau informasi itu dipaparkan . Arikunto menjelaskan bahwa sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan lisan maupun tertulis.29 Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data-data yang diperoleh dari para subjek petani bawang di tempat-tempat yang telah direncanakan.

E. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka digunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data dilapangan adalah metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. 1. Metode observasi Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Observasi adalah dasar ilmu pengetahuan. Para ilmuan dapat bekerja berdsarkan fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.30

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 129. 30 Beni Ahmad S, Metode Penelitian, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hlm. 168.

29

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang

menggunakan

pengamatan terhadap objek penelitian. Observasi dapat digunakan dengan cara langsung maupun tidak langsung. Observasi secara langsung adalah mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) tarhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan di dalam situasi buatan yang harus diadakan.31 Berdasarkan jenis observasi di atas dalam penelitian ini, maka peneliti terjun langsung dalam kehidupan subjek. Adapun yang diobservasi adalah para petani bawang dalam bercocok tanam, metode observasi ini akan sangat bermanfaat sekali karena peneliti langsung bisa mengamati objek penelitian yang sekaligus menjadi pengalaman bagi peneliti. Selain itu apabila ada hal yang belum terserap dari wawancara maka bisa dilengkapi dengan hasil pengamatan yang dilakukan karena pengamatan akan langsung diperankan oleh peneliti sendiri.

2. Metode wawancara Wawancara adalah suatu Tanya jawab secara tatap muka yang dilaksanakan oleh pewawancara dengan orang yang diwawancarai untuk memperoleh informasi yang dibituhkan.32 Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.

32

Yatim Rianto, Metodelogi Penelitian Pendidikan, (Surabaya: Anggota IKAPI, 2001), hlm. 96. Sandjaja dan Albertus Heriyanto. Panduan penelitian (Jakarta : Prestasi Pustaka, 2006), h. 145.

31

Ada 3 jenis wawancara berdasarkan ada/tidaknya pedoman wawancara, yaitu: wawancara bebas, wawancara terpimpin, dan wawancara bebas terpimpin.33 1. Wawancara bebas : Tidak menggunakan pedoman wawancara sehingga Tanya jawab yang terjadi tidak terfokus pada satu arah, melainkan bisa kemana-mana. 2. Wawancara terpimpin : Dalam pelaksanaannya pewawancara menggunakan pedoman wawancara yang sudah disiapkan jauh hari sebelumnya yang dapat menunjukan arah tanya jawab yang dilakukan. 3. Wawancara bebas terpimpin : Gabungan antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Kebaikan dari jenis wawancara bebas dan wawancara terpimpin terdapa dalam jenis wawancara ini sehingga wawancara ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi informasi secara mendalam. F. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dan memerlukan ketelitian serta kekritisan dari peneliti. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu pengumpulan data berupa kata-kata bukan dalam bentuk angka-angka. Hal ini dikarenakan adanya penerapan metode kualitatif. Dalam menganalisis data ini, peneliti mendeskripsikan dan menguraikan tentang serangkaian perlakuan para petani bawang dalam berbudidaya tanaman bawang merah. Peneliti akan menganalisis data yang diperoleh melalui tahapan yang diawali dengan mencatat semua hasil temuan di lapangan, mengumpulkan semua data-data yang diperoleh, kemudian melakukan pemilihan-pemilihan terhadap data-data mana

33

Ibid, h. 146

yang tidak sesuai dan mana yang sesuai dengan penelitian, selanjutnya dari kegiatan pemilihan-pemilihan tersebut peneliti akan melakukan klasifikasi-klasifikasi atau pengelompokkan data-data sesuai dengan jenis data tersebut, dan kemudian mencari hubungan-hubungan antara data yang satu dengan data yang lain sehingga dapat membuat kesimpulan akhir yang objektif dari data hasil penelitian ini. G. Validasi Data Setelah data dikumpulkan dan dianalisa, langkah selanjutnya adalah pemeriksaan keabsahan data. kredibilitas dapat diartikan sebagi derajat kepercayaan terhadap data apakah menggambarkan keadaan yang sebenarya ataukah sebaliknya. Untuk memperoleh keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan, antara lain: Triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi dan kecukupan referensi. 34

34

Moleong. J. Lexy, Metode,h. 173.

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN BAB III PEMBAHASAN BAB IV PENUTUP