Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS GEJALA PERALIHAN PADA RANGKAIAN RLC Vitriany Ekasari 1109100051 Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) E-mail: vitriany09@mhs.physics.its.ac.id ABSTRAK Percobaan analisis gejala peralihan pada rangkaian RLC bertujuan untuk membandingkan sinyal output dengan sinyal input. Pada percobaan ini digunakan osiloskop dan berbagai rangkaian yang terdiri dari Resistor, Kapasitor, dan induktor. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan perbedaan sinyal input dan output. Hal ini disebabkan karena terjadinya gejala transien (adanya proses mengalir tidaknya arus pada rangkaian), selain itu osiloskop dapat menggambarkan sniyal keluaran sumber tegangan, dan osiloskop dapat menggambarkan amplitudo dan frekuensi sinyal input dan output. Kata Kunci : Rangkaian RLC, Osiloskop, gejala transien. 1. Pendahuluan Dalam rangkaian listrik, terdapat komponen komponen elektronik, seperti resistor, inductor, dan kapasitor. Ketiga komponen tersebut akan menunjukkan gejala yang berbeda ketika dirangkai dengan rangkaian yang tidak sama. Gejala ini dapat diamati dengan menggunakan osiloskop. Akan terjadi perbedaan gambar sinyal jika tanpa resistor/ inductor/ kapasitor. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan untuk mengamati sinyal keluaran dari tegangan output. Osiloskop digunakan dalam praktikum ini untuk mengetahui sinyal keluaran dari sumber tegangan. Arus dapat mengalir akibat adanya beda potensial. Beda potensial, dapat digambarkan dalam suatu sinyal litrik oleh beberapa alat. Salah satunya adalah osiloskop. Dalam osiloskop. tegangan output berupa garis sinyal dalam suatu diagram kartesian dengan hubungan antara tegangan dan waktu. sniyal / gambar yang terbentuk dalam osiloskop, tergantung pada sumber tegangannya, AC atau DC . 2. Dasar Teori 2.1 Gejala Peralihan (Transien) Gejala transien adalah periode peralihan selama arus-arus cabang dan tegangan-tegangan elemen berubah dari nilai semula menjadi nilai baru akibat dari perubahan sumber tegangan atau perubahan elemenelemen rangkaian. Dan stelah transien berlalu, keadaan rangkaian disebut tunak (steady state). Pada saat terjadi transien, komponen-komponen dalam sistem tenaga listrik mengalami tekanan yang sangat besar berupa arus dan tegangan. Tegangan yang ditimbulkan berupa tegangan lebih transien dan magnitudenya dapat mengakibatkan kerusakan pada komponen sistem.[1]

Gambar 1.1 Gejala Transien pada kapasitor 2.2 Arus Transien dalam Rangkaian RC

Gambar 2.1 Rangkaian RC Menurut Hukum Kirchoff dalam rangkaian diatas berlaku: Dan dengan penurunan secara matematis diperoleh:

Seperti yang kita lihat nanti, konstanta arus awal atau arus pada t=0, sehingga:

ini adalah

Dengan I0 merupakan arus maksimum yang nilainya menurut Hukum Ohm adalah E/R. Persamaan terakhir ini menggambarkan bagaimana perilaku arus listrik jika dalam rangkaian terdapat kapasitor. Semakin lama arus akan semakin kecil, proses ini disebut arus transien (sementara). Arus transien terjadi karena kapasitor

membutuhkan waktu untuk memenuhi dirinya dengan muatan dan sebaliknya juga terjadi dalam proses mengosongkan dirinya dari muatan. 2.3 Arus Transien dalam Rangkaian RL

Skema Rangkaian 1. Rangakaian RL


3 R1 100 L1 2.5mH 2 1

2. Rangkaian RC
6 R2 7 100 C1 10uF 5 4

Gambar 2.3 Rangkaian RL Sesuai dengan Hukum Kirchoff II maka berlaku persamaan: tanda negatif pada induktor menunjukkan bahwa tegangan induksi pada induktor berlawanan dengan arah polarisasi (arah kutub + dan ) baterai, dengan demikian kita peroleh perubahan arus listrik terhadap waktu dalam rangkaian RL diatas sebagai berikut:

3. Rangkaian RLC
11 R4 L3 100 2.5mH 14 13 C2 10uF 12

4. Rangkaian RLC
C3 8 L2 10uF 2.5mH 9 R3 100 10

bila persamaan diferensial ini diselesaikan dengan syarat awal t = 0, i = 0, makadiperoleh persamaan: ) 2.2 Osiloskop Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik yang dapat memetakan sinyal listrik. Pada kebanyakan aplikasi, grafik yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana sinyal berubah terhadap waktu.[3] Gelombang listrik yang dihasilkan biasanya tercata secara visual pada layar. osiloskop ada dua macam, yakni osiloskop tipe analog (ART-analog real time oscilloscope) dan osiloskop tipe digital (DSO-digital storage oscilloscope)[4]. 3. Metodologi Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini diantaranya sebuah osiloskop, dua buah resitor 100 ohm, sebuah induktor 2,5 mH dan sebuah kapasitor 10F, generator function, serta beberapa kabel penjepit buaya. Percobaan dibagi menjadi 6 rangkaian, dimana untuk tiap rangkaian dapat dilihat pada analisa data. Frekuensi sinyal input dan V input diatur pada frekuensi 500 Hz dan amplitudo 5 Volt dengan menggunakan sinyal generator, kemudian sinyal masukan dihubungkan ke Ch.1 osiloskop dan sinyal keluaran ke Ch.2, lalu diukur pembacaan sinyal input Vin dan sinyal output V0ut pada osiloskop dan frekuensi dari sinyal tersebut.

5. Rangkaian RLC
C4 15 R5 100 10uF 16 L4 2.5mH 17

6. Rangkaian RLC
21 L5 2.5mH R6 100 20 10uF R7 100 C5 18 19

4. Analisa Data dan Pembahasan Data hasil percobaan dapat dilihat pada lampiran. Pembahasan 1.Rangkaian RL Diperoleh gambar sinyal masukan berbentuk sinyal kotak hal ini dikarenakan sumber sinyal masukan yang digunakan adalah arus AC dengan Vin 5 volt dan frekuensi 500 Hz, Ketika dilewatkan pada resistor dan Induktor sinyal keluaran menghasilkan sinyal dengan bentuk sinyal yang menurun secara fungsi eksponensial, Pada rangkaian ini terjadi High pass filter yaitu tapis lolos tinggi, Hal ini diakibatkan dari sifat inductor yang menghasilkan Induktansi kumparan, arus yang mengalir dalam kumparan tidak hanya dihambat oleh reaktansi induktif melainkan resistivitas dari kawat kumparan juga. Pada inductor, ketika ada arus yang melalui kumaparan inductor tersebut, timbul medan magnet yang dapat menghasilkan arus bolak balik dalam kumparan tersebut, sehingga pada rangkaian ini terdapat tambahan arus dari inductor. Hubungan antara arus dan tegangan adalah hubungan yang berbanding lurus

sehingga tegangan output pada rangakaian ini semakin besar. Hal inilah yang menyebabkan data amplitodu dan frekuensi pada rangkaian RL ini lebih besar dari pada tegangan input. Adapun besar konstanta waktu pada percobaan ini adalah R/L yang bernilai 4.104 nilai ini bila di eksponensialkan akan menghasilkan nilai yang sangat besar. Pergeseran fase dan arus tergantung dari frekuensi inductor dan resistivitas dalam kumparan, semakin besar frekuensi, besar R tidak berpengaruh. Berdasarkan gambar rangkaian RL kita dapat menghitung berapa besar arus yang masuk mula-mula dalam rangkaian ini sebagai Im= 0.05 Ampere. Besar arus ini dikarenakan arus baru masuk melalui resistor baru kemudian menuju inductor. Karena nilai -3 =7.854 . nilai ini sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan nilai dari resistor. Sudut fase impedansi terhadap arus sebesar 

kecil. Dengan besar konstanta waktu pada percobaan ini adalah 1 / RC yang bernilai 1000 3.Rangkaian RLC Berdasarkan gambar rangkaian arus masuk menuju resistor dan inductor, pada inductor arus yang masuk mengalami penambahan arus dari gejala GGL pada inductor, GGL inilah yang menyebabkan amplitude tegangan menjadi tinggi, pada saat arus melewati resistor, besarnya arus ini tidak mengalami perubahan yang signifikan karena sifat resistor sebagai penghambat. Ketika arus melewati kapasitor, sebagian arus ada yang disimpan dalam bentuk energy, hal ini mengakibatkan bentuk sinyal output seperti pada gambar. Amplitude tegangan yang semula meningkat secara signifikan pada amplitude maksimum kemudian menurun tetapi pada nilai tertententu amplitude tersebut menggambarkan nilai saturasi, baru kemudian menurun dan kembali membentuk sinyal periodik. Frekuensi tidak mengalami perubahan yang signifikan pada rangkaian ini. Tegangan output pada rangkaian ini sangat kecil yaitu sebesar 0.148 Volt. Hal ini dimungkinkan akibatnya timbulnya factor redaman pada rangkaian tersebut. Pada rangkaian ini arus yang masuk terbagi, ada yang menuju kapasitor dan inductor, lalu bersatu kembali dan melalui resistor. Pada sinyal output dari rangkaian ini menghasilkan sinyal yang hampir sama dengan sinyal rangkaian 3. Frekuensi output hanya sedikit mengalami perubahan, nilainya naik sedikit. Sedangkan pada tegangan output, nilai nya lebih besar dari pada rangkaian 3. Nilainya berkisar 1.1 Volt Rangkaian RLC merupakan rangkaian lolos pita atau band pass filter. Pada rangkaian ini nilai arus bergantung pada impedansi dan . Z =102.8 . Dan = 1000 . Sehingga arus maksimum Im=0.048 Ampere. sudut fase  Pada rangkaian RLC yang lain, dibedakan dengan mengganti letak komponen tersebut dalam rangkaian.. Pada rangkaian ini frekuensi output tidak mengalami perubahan yang besara terhadap frekuensi input. Akan , tetapi tegangan output, tetap kecil yaitu sekitar 1.12 Volt. Menurunya tegangan output ini dikaitkan dengan adanya factor redaman pada rangkaian RLC, baik itu rangkaian RLC seri maupun parallel. Tinggi sinyal pada rangkaian ini hanya bergantung pada harga R untuk eksitasi amplitude konstan, lebar kurva dan kecuraman sisi-sisinya tergantung pada harga kapasitor dan inductor. Daftar pustaka [1] Marhunadi A.R, 1990, Teori Rangkaian ( Dasar Dasar ), Penerbit Erlangga, Jakarta. [2] Sutrisno. 1987. Elektronika Teori dan Penerapannya. ITB. Bandung [3] Wilianto,Edi.1990. Elektronika. Jurusan Fisika FMIPA ITS. Surabaya

Karena sudut fase antara impedansi terhadap arus hamper mendekati nol berarti pada rangkaian ini yang berpengaruh adalah resistor saja. Reaktansi induktif bergantung secara linier pada frekuensi . berarti pada percobaan ini frekuensi yang digunakan termasuk frekuensi rendah karena nilai XL yang mendekati nol. Sehingga besarnya arus maksimun yang digunakan oleh rangkaian ini sebesar IL= Ampere. Nilai arus yang sangat besar sekali.nilai arus yang besar tersebut dapat dijelaskan dengan menganalisa inductor sebagai kumparan yang dapat menyimpan energy magnet yang dapat menambahnya besarnya arus bolakbalik dalam inductor tersebut. Energy yang tersimpan dalam inductor tersebut sebesar E =
2

=5x10-4 Watt

2. Rangkaian RC Rangkaian 2 ini menggambarkan Low pass filter atau tapis lolos rendah, Pada frekuensi rendah besar tegangan output hampir sama dengan tegangan input. Dan jika frekuensi naik, bagian input yang diteruskan ke output akan berkurang. Sinyal input yang semula berbentuk sinyal kotak berubah menjadi sinyal segitiga, hal ini dikarenakan sifat dari kapasitor yang mampu menyimpan muatan. Pada saat itu kapasitor mengalami proses pengisian dan pelucutan muatan keadaan ini disebut gejala transien. Pada rangkaian ini diperoleh tegangan output yang ebih kecil dari pada tegangan input, hal ini dikarenakan secara fungsi matematis kita dapat menganalisis tegangan output menjadi lebih kecil daripada tegangan input berdasarkan grafik fungsi eksponensial yang semakin menurun dan mendekati nol. Adapun konstanta waktu yang positif memberikan respon amplitude tegangan positif. Amplitudo yag timbul semakin besar bila konstanta waktunya semakin

[4]

Laboratorium Instrumentasi dan Elektronika Jurusan Fisika, (2011), Modul praktikum Analisis Gejala .

Peralihan

pada

Rangkaian

RLC,

Fisika

ITS.