Anda di halaman 1dari 21

PENERAPAN KETERAMPILAN BERBAHASA PADA TATARAN TEKNIS

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata kuliah Bahasa Indonesia pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Disusun oleh: Devi Kurniawati Elin Karlina Rahmaning Fajrin Eri Syarifah Euis Marliani Feisal Pratama Mandala Fithriyah Ilham

BANDUNG

2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan. Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah bahasa

Indonesia dengan judul Penerapan Keterampilan Berbahasa Pada Tataran Teknis pada Program Studi Pendidikan Kimia di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung Makalah ini berisikan materi definisi, ringkasan, tata cara penulisan kutipan, catatan kaki, dan bibliografi. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang keterampilan berbahasa Indonesia. Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini. Terima kasih disampaikan kepada Ibu Dra. Hj Enung Rukiati, M.Pd selaku dosen mata kuliah bahasa indonesia yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.

Bandung, 02 Desember 2011

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i DAFTAR ISI............................................................................................................1 BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................2 BAB II ISI PENERAPAN KETERAMPILAN BERBAHASA PADA TATARAN PRAKTIS ..................................................................................................................................3
A. Penyusunan Definisi........................................................................3 B. Jenis-jenis Definisi...........................................................................4 C. Reproduksi Tulisan..........................................................................6 D. Penulisan Kutipan, Catatan Kaki, dan Bibliografi............................9

BAB III SIMPULAN...........................................................................................................16 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................18

BAB I PENDAHULUAN
Kebutuhan akan komunikasi sangat penting baik berupa lisan maupun tulisan apalagi mahasiswa sebagai insan akademis yang sering mendapatkan tugas membuat makalah jurnal dan skripsi dan lain-lain hal tersebut memerlukan penulisan yang benar agar mudah di pahami oleh pembaca dan juga orang lain. Keterampilan berbahasa sangat diperlukan ketika akan membuat sebuah makalah, laporan, karya ilmiah, atau karya tulis lainnya. Tujuannya agar karya tersebut teratur dan dapat dipahami oleh pembaca. Namun disadari bahwa sekarang ini masih banyak mahasiswa yang belum menguasai keterampilan berbahasa dengan baik dan benar sehingga karya-karya ilmiah mereka kurang sempurna. Hal-hal yang sering terlupakan dan dianggap spele seperti definisi utama, ringkasan dan ikhtisar, tata cara penulisan kutipan, catatan kaki, dan bibliografi. Oleh karena itu, penulis akan membahas keterampilan berbahasa pada tataran praktis yang mencakup materi definisi, ringkasan, tata cara penulisan kutipan, catatan kaki, dan bibliografi.

BAB II ISI PENERAPAN KETERAMPILAN BERBAHASA PADA TATARAN PRAKTIS


A. Penyusunan Definisi Ketika menyusun sebuah karya ilmiah, ada suatu syarat yang harus dipenuhi yaitu berupa kekonsistenan (keajegan). Misalnya dalam penggunaan suatu kata, konsep, variabel, atau istilah. Oleh karena itu, untuk menggambarkan rujukan kata, konsep, variabel, atau istilah secara jelas, diperlukan sebuah definisi. Definisi secara sederhana dapat diartikan sebagai penetapan atau pembatasan arti dan pemakaian kata, konsep, variabel, atau istilah (Maman, 1998:17). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) (1988:191) adalah kata, frase atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktifitas. Dalam sebuah definisi terdapat referensi arti dan rujukan. Misalnya, ketika kita mengatakan kata garis, kita harus menunjukkan gambaran yang ditimbulkan oleh kata garis tadi. Referensi dari kata garis adalah kumpulan dari titik-titik sedangkan rujukan dari referen tadi adalah --------. Namun demikian, tidak semua kata, konsep, variabel dan istilah mempunyai rujukan yang dapat dilihat secara nyata, misalnya kata kehidupan dan udara. Walaupun tidak memiliki rujukan yang dapat dilihat secara nyata, referensi arti dari kata-kata tersebut dapat memberikan gambaran rujukan tertentu. Suatu definisi menurut Maman (1998:19) terdiri atas dua bagian, yaitu bagian yang didefinisikan (definiendum) dan bagian yang mendefinisikan (definiens). Contoh, ikan adalah sejenis makhluk yang hidup di air. Bagian yang didefinisikan (definiendum) adalah ikan sedangkan definiensnya sejenis makhluk yang hidup di air.

B. Jenis-jenis Definisi Jenis-jenis definisi dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu : berdasarkan sumber, pembentuk, dan isi. Berdasarkan sumbernya, terdapat definisi umum dan definisi personal. Definisi umum dibagi menjadi dua bagian yaitu definisi nominal dan definisi formal. Begitupun definisi personal dibagi menjadi dua bagian yaitu definisi operasional dan definisi luas. Berdasarkan unsur pembentuknya, definisi dibagi empat yaitu definisi satu kata, satu frasa, satu kalimat dan satu paragraph atau lebih. Sedangkan berdasarkan isinya, definisi dibagi menjadi definisi sinonim / antonim, negasi. Contoh, kontras / perbandingan, dan klasifikasi / perbandingan. 1. Definisi Umum Definisi umum terbagi menjadi : a. Definisi Nominal Definisi nominal memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.

Definiens-nya berupa sinonim. Misalnya yang dimaksud dengan anu adalah anu.

2.

Definiens-nya berupa terjemahan dalam bahasa lain. Misalnya, penggambaran ialah yang dalam bahasa Inggris disebut description.

3.

Definiens-nya berupa etimologi. Definisi nominal sering digunakan dalam sebuah kamus. Contoh :
a.

Yang dimaksud dengan shalat fardhu adalah shalat wajib.

b.

Biologi berasal dari bahasa Latin yaitu bios yang berarti hidup dan logos yang berarti ilmu.

b. Definisi Formal

Definisi formal biasa disebut dengan definisi logis, definisi klasifikasi, dan definisi diferensiasi. Syarat-syarat definisi formal adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4.
5.

Definiendum dan definisinya harus sama luas. Bukan merupakan sinonim, terjemahan atau etimologi. Tidak terdiri atas kata-kata kiasan. Dapat dipertukarkan tempatnya. Tidak boleh menggunakan kata dimana, bila dan jika. Tidak boleh dalam bentuk nagasi. Diferensia pada definiens diperlukan dan cukup.

6. 7.

Contoh: Orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mendekatkan dan berbuat berdasarkan kehendak Allah dan menjauhi perbuatan yang dibenci-Nya. 2. Definisi Personal Definisi personal dibagi menjadi: a. Definisi Operasional Definisi operasional sering digunakan dalam hal penelitian. Sesuatu yang didefinisikan berupa variabel-variabel yang akan diukur atau diteliti. Kerangka teori penelitian merupakan acuan dari pembuatan definisi operasional. Definisi operasional mencakup hal-hal penting sebagai berikut: 1. Hal yang harus kita lakukan dan cara melakukannya

2.

Sesuatu yang akan diukur dan cara mengukurnya.

Berikut ini disajikan contohnya. 1. Kekuatan gempa adalah angka yang ditunjukkan skala Richter pada waktu gempa terjadi.
2. Jumlah medali yang terkumpul dalam jangka waktu satu tahun

merupakan prestasi atlet. b. Definisi Luas Definisi luas merupakan uraian panjang lebar tentang suatu konsep yang disusun dalam bentuk satu paragraf atau lebih (Maman, 1998:23). Contoh: Ayam termasuk unggas yang banyak dipelihara orang. Pertumbuhannya relatif cepat sehingga dapat cepat pula dipanen. Pemeliharaannya pun tidak terlalu sulit. Kecepatan bertelur adalah salah satu daya tariknya. C. Reproduksi Tulisan 1. Ringkasan dan ikhtisar Keterangan membuat ringkasan dan ikhtisar sudah tidak asing lagi bagi para mahasiswa. Sejak di Madrasah Ibtidaiyah, latihan membuat ringkasan sering dimanfaatkan untuk mengukur tingkat pemahaman murid terhadap suatu isi bacaan. Begitu pun di tingkat Sanawiyah dan Aliyah, siswa di tuntut untuk mengambil ikhtisar dari sebuah pembicaraan. Jadi, membuat ringkasan dan ikhtisar bukan hal yang sulit. Walaupun demikian, pengertian di antara keduanya masih sering tumpang tindih. Orang sering menganggap bahwa ringkasan merupakan sinonim dari ikhtisar. Dengan demikian, sering diambil kesimpulan salah bahwa di antara keduanya nyaris tidak ada perbedaannya. Pendapat umum yang seperti itu salah.

Memang benar, hakikat membuat sebuah ringkasan atau ikhtisar adalah mengambil hal-hal penting dari sebuah wacana. Namun demikian, di antara keduanya terdapat perbedaan dalam teknik penyusunannya. Ringkasan disusun dengan cara menyederhanakan naskah asli, menghilangkan keindahan gaya bahasa, dan penjelasan-penjelasan terperinci. Urutan-urutan gagasan yang disusun dalam sebuah ringkasan masih harus sesuai dengan aslinya. Penulis ikhtisar dapat menuliskan intisari sebuah naskah asli melalui grafik, bagan, atau tabel. Ada empat langkah untuk menyusun ringkasan yang baik dan teratur, yaitu: a. Membaca Naskah Asli Penulis ringkasan harus membaca naskah asli seluruhnya beberapa kali untuk menangkap kesan umum, sudut pandang, dan maksud penulis. Untuk memudahkan, penulis ringkasan harus memahami judul dan daftar isi naskah asli yang akan diringkas tersebut. Hal ini penting dilakukan karena ada pertalian yang erat anatar judul dengan perincian daftar isi. b. Mencatat Gagasan Utama Setelah menangkap kesan umum, sudut pandang, dan maksud penulis, langkah selanjutnya adalah mencatat atau menandai gagasan utama. Untuk memudahkan penulis ringkasan perlu mencatat judul-judul bab, judul anak bab, paragraf yang dianggap penting, dan gagasan bawahan paragraf yang betul-betul penting untuk memperjelas gagasan utama. c. Membuat Reproduksi Hasil pencatatan gagasan utama yang telah beraturan sesuai urutan naskah aslinya disusun kembali menjadi sebuah tulisan singkat (ringkas). Keterampilan yang harus dimiliki pada langkah ini adalah membuat kalimat baru yang padat, jelas, dan mudah dipahami.

d.

Ketentuan Tambahan Beberapa hal yang harus diperhatikan agar tulisan hasil reproduksi menjadi tulisan yang baik adalah sebagai berikut: Sebaiknya menggunakan kalimat tunggal daripada kalimat majemuk. Apabila memungkinkan, ringkaslah kalimat menjadi frasa dan frasa menjadi kata. Buanglah paragraf atau kutipan yang dianggap tidak perlu. Apabila memungkinkan buanglah keterangan atau kata sifat. Pertahankan uurutan gagasan utama sesuai dengan aslinya dan ringkaslah gagasan itu dengan tidak mengganggu urutannya.

2. Resendi dan Sinopsis Resensi atau sinopsis adalah kegiatan reproduksi tulisan dengan cara meringkas tulisan tersebut ditambah pemaparan penilaian penulis terhadap kelebihan atau kekurangan sumber tulisan yang dibaca. Tujuan penulisan resensi adalah untuk memberikan pandangan kepada pembaca tentang suatu sumber bacaan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat resensi : a. Memahami sepenuhnya tujuan dari penulisan asli. Hal itu bisa dilakukan dengan cara membaca kata pengantar dan pendahuluannya. b. c. Memahami maksud pembuatan resensi tersebut. Memahami latar belakang pembaca resensi

Adapun sistematika penulisan resensi adalah sebagai berikut: a. Menuliskan latar belakang sumber bacaan Dalam tahap ini harus dituliskan identitas buku seperti jumlah halaman, nama penerbit, judul buku, dan nama penulis.

b. c.

Mengklasifikasikan jenis buku tersebut Mengungkapkan keunggulan buku baik dari segi kerangka buku, tema, bahas yang digunakan untuk pemaparannya dan keunggulan buku secara keseluruhan

d.

Nilai buku Berdasarkan empat komponen di atas, pada tahap ketiga penulis

resensi harus menilai buku tersebut dan memberikan pandangannya untuk pembaca.

D. Penulisan Kutipan, Catatan Kaki, dan Bibliografi 1. Penulisan Kutipan Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang pengarang atau ucapan seseorang yang terkenal baik yang terdapat dalam buku-buku atau majalah (Keraf, 1980: 180). Kutipan dapat bersumber dari bahasa lisan atau bahasa tulis seseorang. Kutipan digunakan untuk memperkuat atau membuktikan pendapat kita dalam sebuah tulisan. Prinsip-prinsip mengutip adalah sebagai berikut: a. b. c. Tidak mengadakan perubahan. Bila ada kesalahan tidak membetulkannya. Menghilangkan bagian kutipan bisa di awal, di akhir, atau satu paragraf. 2. Cara-cara Mengutip a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris 1. Kutipan diintegrasikan langsung dalam teks

2. Jarak antara baris dengan baris dua spasi 3. Kutipan itu diapit dengan tanda kutip 4. Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan setengah spasi ke atas atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan tersebut. b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris 1. Kutipan dipisahkan dari teks dalam jarak dua setengah spasi 2. Jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi 3. Kutipan boleh tidak diapit dengan tanda kutip 4. Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjuk setengah spasi ke atas atau dalam kurung ditempatkan nama singkat atau nama belakang pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat sesuatu yang dikutip dalam buku itu 5. Seluruh kutipan itu dimasukkan ke dalam lima sampai tujuh karakter, bila kutipan itu dimulai dengan alinea baru maka baris pertama dari kutipan itu dimasukkan lagi lima sampai tujuh karakter c. Kutipan tidak langsung 1. Kutipan diintegrasikan langsung dengan teks 2. Jarak antara baris dengan baris dua spasi 3. Kutipan itu tidak diapit dengan tanda kutip 4. Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjuk setengah spasi ke atas atau dalam kurung ditempatkan nama singkat

pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan tersebut d. Kutipan pada catatan kaki Kutipan pada catatan kaki digunakan apabila kutipan tersebut panjang.
e. Kutipan dimasukkan langsung dalam teks atau dalam catatan kaki

seandainya mengganggu teks.

3. Penulisan Catatan Kaki Catatan kaki yaitu keterangan-keterangan atas teks karangan yang ditempatkan pada kaki halaman karangan yang bersangkutan. Apabila keterangan semacam itu ditempatkan pada akhir bab atau akhir karangan, maka catatan semacam itu disebut keterangan (Keraf, 1980 : 193). a. Tujuan Tujuan pembuatan catatan kaki adalah sebagai berikut: 1) Untuk menyusun pembuktian 2) Menyatakan utang budi 3) Menyampaikan keterangan tambahan 4) Merujuk bagian lain dari teks (Keraf, 1980:195) b. Prinsip Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penulisan catatan kaki meliputi : 1) Hubungan catatan kaki dan teks

Hubungan catatan kaki dan teks menggunakan nomor urut penunjukan. 2) Nomor urut penunjukan Untuk memudahkan catatn kaki, hal yang perlu dihindari ialah memulai nomor urut baru pada setiap bab.
3) Teknik pembuatan catatan kaki

Dalam penulisan catatan kaki yang menggunakan mesin tik atau computer perlu diperhatikan teknik penempatannya (spasi)
c.

Jenis catatan kaki Jenis catatan kaki meliputi:


1) Penunjukan sumber (referensi)

2) Catatan penjelas 3) Gabungan sumber dan penjelas

d.

Unsur-unsur Referensi Dalam penulisan catatan kaki terdapat unsur-unsur sebagai berikut: 1) Pengarang 2) Judul 3) Daftar publikasi 4) Jilid dan nomor halaman

Contoh penulisan catatan kaki

a) Referensi kepada buku dengan seorang pengarang F. Grahcer. Etnologie in die Kultur der Geyenwart (Lipzig, 1923). b) Referensi kepada buku dengan dua atau tiga pengarang L. Gott Schalk. In History, Anthropology and sociology (New York: Social science Research Council, 1945) hal. 82-173. c) Referensi kepada buku dengan banyak pengarang Alton C. Morris. et al, College English, the first year (New York, 1964) hal 51-56.

4.

Penulisan Bibliografi Bibliografi atau daftar kepustakaan adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan atau sebagian karangan dari karangan yang tengah digarap (Keraf, 1980:213). Bibliografi berfungsi untuk memperjelas catatan kaki yaitu dengan penambahan keterangan. Unsur-unsur bibliografi adalah sebagai berikut: a. b. c. d. Nama pengarang Judul buku Data publikasi Untuk artikel diperlukan pencantuman judul artikel, nama majalah, jilid, nomor dan tahun. Macam-macam bibliografi adalah sebagai berikut: a. Buku-buku dasar

b. c.

Buku-buku khusus Buku-buku pelengkap

Contoh penulisan bibliografi dari buku: Aronof, Mark. 1981. Word Formation in Generative Grammar. Massachussestts: The MLT Press. Johar, Ben. 2005. Terampil Berbahasa Indonesia. Bandung: Raja Wali Press. Khaerudin, Cecep Wahyu. 2004. Narasi dan Argumentasi. Bandung: Sunan Gunung Djati Press.

Contoh penulisan daftar pustaka dari internet.


1. Dari Website

Hasibuan, Rusli. Menanam Jengkol di Bukit kapur. http://www.duniatani.or.id/riset/rusli/palawija_jengkol.html (dia kses tanggal 12 Juni2003)1.
2. Dari File Transfer Protocol (kutipan yang diunduh melalui FTP)

Johnson-Eilola, Jordan. Little Machine: rearticulating Hypertext Users. FTPdeadalis.com/pug cccc95/Johnson-eilola (diakses tanggal 10 Februari 1996)1. 3. Dari surat elektronik (Ratron / email) Rahman, Afif. Proposal Buku Sekolah Murah Meriah. afifr23@dodols.com (diaksestanggal 22 September 2009)

BAB III SIMPULAN


Ketika menyusun sebuah karya ilmiah, ada suatu syarat yang harus dipenuhi yaitu berupa kekonsistenan (keajegan). . Oleh karena itu, untuk menggambarkan rujukan kata, konsep, variabel, atau istilah secara jelas, diperlukan sebuah definisi. Definisi menurut Maman (1998:19) terdiri atas dua bagian, yaitu bagian yang didefinisikan (definiendum) dan bagian yang mendefinisikan (definiens), jenis-jenis definisi dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu : berdasarkan sumber, pembentuk, dan isi. Berdasarkan sumbernya, terdapat definisi umum dan definisi personal. Setelah kita mendefenisikan gagasan dan membahasnya, perlu kita meringkas pembahasan tersebut dalam sebuah ringkasan atau ikhtisar, urutan-urutan gagasan yang disusun dalam sebuah ringkasan masih harus sesuai dengan aslinya. Penulis ikhtisar dapat menuliskan intisari sebuah naskah asli melalui grafik, bagan, atau tabel. Bagus tidaknya suatu karya ilmiah dapat diketahui dari penilaian pakar linguistik dan khalayak umum, hal ini dapat dilakukan resensi atau sinopsis. Resensi atau sinopsis adalah kegiatan reproduksi tulisan dengan cara meringkas tulisan tersebut ditambah pemaparan penilaian penulis terhadap kelebihan atau kekurangan sumber tulisan yang dibaca. Tujuan penulisan resensi adalah untuk memberikan pandangan kepada pembaca tentang suatu sumber bacaan. Hal yang perlu dicantumkan dalam sebuah karya tulis ialah kutipan, karena apabila kita mengutip tulisan orang lain tanpa menuliskan sumber kutipannya maka kita telah melanggar hukum, karena itu merupakan hasil pemikiran orang lain dan sebagai ungkapan terima kasih kita perlu menuliskan kutipan tersebut baik berupa kutipan langsung maupun kutipan catatan kaki. Untuk penulisan karya tulis sangat penting untuk mencantumkan referensi sebagai rujukan dan sumber bacaan, sumber bacaan tersebut dapat kita tulis

16

17

dalam bibliografi, fungsinya untuk memperjelas catatan kaki yaitu dengan penambahan keterangan.

DAFTAR PUSTAKA
Johar, Ben. 2005. Terampil Berbahasa Indonesia. Bandung: Raja Wali Press.