Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Anemia didefinisikan sebagai berkurangnya kadar hemoglobin darah1.

Anemia ditandai oleh menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit , dan hitung eritrosit. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11%, pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 % pada trimester 2. Nilai batas tersebut perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodulusi, terutama pada trimester ke 2. Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisiensi besi yang paling parah, yang ditandai dengan penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau hematokrit yang menurun. Pada kehamilan, anemia defisiensi besi akan timbul jika keperluan (kira2x 1000mg pada kehamilan tunggal) tidak dapat dipenuhi dari cadangan besi dan dari besi yang diabsorpsi dari traktus gastroeintestinal. 3 Frekuensi ibu hamil dengan anemia cukup tinggi di Indonesia yaitu 63,5 % sedangkan di amerika serikat hanya 6 %. Kekurangan gizi dan perhatian terhadap ibu hamil merupakan predisposisi anemia defisiensi besi pada ibu hamil di Indonesia.Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan.Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh anemia defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi.Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan, baik di negara maju maupun negara berkembang.3 Anemia defisiensi besi pada wanita hamil mempunyai dampak yang jelek,baik pada ibunya maupun terhadap janinnya. Ibu hamil dengan anemia berat lebih memungkinkan terjadinya partus prematur dan memiliki bayi dengan berat badanlahir rendah serta dapat meningkatkan kematian perinatal. Menurut WHO 40% kematian ibu dinegara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Merchan and Agarwal (1991) melaporkan bahwa hasil persalinan pada wanita hamil yang
1

menderita anemia defisiensi besi adalah, 12 -28 % angka kematian janin, 30 % kematian perinatal, dan 7 -10 % angka kematian neonatal.7 Mengingat besarnya dampak buruk dari anemia defisiensi zat besi pada wanita hamil dan janin, oleh karena itu perlu kiranya perhatian yang cukup terhadap masalah ini, Dengan diagnosa yang cepat serta penatalaksanaan yang tepat komplikasi dapat diatasi serta akan mendapatkan prognosa yang lebih baik. Menurut dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), MSi, anak yang kekurangan besi pada masa bayi memiliki resiko gangguan pertumbuhan & perkembangan jangka panjang yang lebih serius, seperti gangguan kognitif (kecerdasan) & perilaku anak. Hal ini karena kekurangan besi sejak anak dalam kandungan sampai berumur 2 tahun akan mengganggu perkembangan cabang-cabang & sambungan (sinaps) antara sel-sel otak. Selain itu, kekurangan besi sejak bayi juga akan menghambat pembentukan zat neurotransmiter yang penting untuk pengendalian emosi, pemusatan perhatian & perilaku anak. Kekurangan besi juga dapat mengganggu pembentukan selubung syaraf (mielin), yang penting dalam kecepatan berpikir anak. Meninjau dari semua hal-hal tersebut, patutlah anemia defisiensi zat besi pada wanita hamil ini menjadi suatu kasus yang perlu mendapat perhatian lebih. Seperti yang telah disebutkan tadi frekuensi anemia defisiensi besi pada wanita hamil di indonesia cukup tinggi dan mempunyai dampak yang buruk pada ibu beserta janinnya. Dengan demikian, sumber daya manusia akan terancam di masa yang akan datang. Oleh karena itulah angka kejadian atau prevalensi anemia akibat defisiensi zat besi ini harus ditekan agar tidak lagi muncul kasus-kasus baru.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apakah Definisi Anemia?
2. Pengertian Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil? 3. Etiologi dari Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil?

4. Bagaimana Gejala Anemia pada Ibu Hamil? 5. Pengaruh Anemia Defisiensi Besi terhdap Kehamilan? 6. Mengapa Frekuensi Anemia pada Wanita Hamil Cukup Tinggi?
2

7. Penagruh Anemia Defisiensi Besi Terhadap Kehamilan? 8. Bagaimana Pemeriksaan Laboratorium, Diagnosis, dan Diagnosis Banding dari Anemia Defisiensi Besi
9. Bagaimana Penatalaksanaan dari Anemia Defisiensi Besi pada Ibu

Hamil?
1.3

Tujuan
Adapun tujuan pembuatan ringkasan jurnal ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui tentang Anemia Defisiensi Defisiensi Ibu Hamil ( etiologi, gejala, dampak terhadap kehamilan, pemeriksaan laboratorium, diagnosis, diagnosis banding, dan penatalalaksanaannya) 2. Untuk mengurangi angka kejadian anemia defisiensi besi pada ibu hamil, dengan pemberian informasi kepada masyarakat.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anemia


Anemia didefinisikan sebagai berkurangnya kadar hemoglobin darah1. Anemia ditandai oleh menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit , dan hitung eritrosit. Cut off point yang umum dipakai ialah kriteria WHO tahun 1968.2 Dinyatakan Anemia bila:
-

Laki-laki dewasa : <13 g/dl Wanita Dewasa Wanita hamil Anak 6-14 th Anak 6 bl-6 th : <12 g/dl : <11 g/dl : <12 g/dl : <11g/dl

Alasan praktis kriteria anemia di klinik (di rumah sakit atau praktik klinik) untuk Indonesia pada umumnya adalah:2 -

Hb <10 g/dL Hct < 30 % Eritrosit < 2,8 juta mm3

Derajat anemia antara lain ditentukan oleh kadar hemoglobin. Derajat anemia perlu disepakati sebagai dasar pengelolaan kasus anemia. Klasifikasi derajat anemia yang umum dipakai adalah sebagai berikut:2
1. Ringan sekali : Hb 10 g/dl-cut off point 2. Ringan

: Hb 8 g/dl-Hb 9,9 g/dl


4

3. Sedang 4. Berat

: Hb 6 g/dl-Hb 7,9g/dl : Hb <6 g/dl

2.2 Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil


Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11%, pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 % pada trimester 2. Nilai batas tersebut perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodulusi, terutama pada trimester ke 2. Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisiensi besi yang paling parah, yang ditandai dengan penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau hematokrit yang menurun. Pada kehamilan, anemia defisiensi besi akan timbul jika keperluan (kira2x 1000mg pada kehamilan tunggal) tidak dapat dipenuhi dari cadangan besi dan dari besi yang diabsorpsi dari traktus gastroeintestinal. 3 Volume darah bertambah cepat pada kehamilan trimester kedua, sehingga kekurangan besi seringkali terlihat pada turunnya kadar hemoglobin. Meskipun volume darah tidak bertambah cepat pada trimester ke 3, tetapi keperluan akan besi tetap banyak, karena penambah HB ibu terus berlangsung dan lebih banyak besi yang diangkut melalui plasenta ke neonatus.3 Pada kehamilan, kehilangan zat besi akibat pengalihan zat besi maternal ke janin untuk eritropoesis, kehilangan darah saat persalinan dan laktasi yang jumlah keseluruhannya mecapai 900 mg atau setara 2 liter darah. Oleh karena sebagian besar perempuan mengawali kehamilan dengan cadangan zat besi yang rendah, maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi. Beberapa istilah:4 Mean Corpuscular Volume (MCV) eritrosit(juta/mm3). = nilai hematokrit x 10/Jumlah

Normal: 76-96 c. MCV <76 c disebut mikrositik, sedangkan bila >96 c disebut makrositik. Mean Copuscular Hemoglobin (MCH)= nilai Hb x 10/jumlah eritrosit (juta/mm3). Normal : 27-32 g, sedangkan bila MCH <27 g disebut hipokrom, sedangkan bila >32 g disebut hiperkromik ( istilah hiperkromik ini sudah tidak digunakan lagi, karena biasanya normokromik). Mean corpuscular haemoglobin concentration (MCHC)= nilai Hb(g%) x 100/nilai hematokrit. Normal: 32-27%, bila MCHC <32% disebut hipokromik, sedangkan bila > 37%disebut hiperkromik.

2.3 Epidemiologi
1. Frekuensi ibu hamil dengan anemia cukup tinggi di Indonesia yaitu 63,5 % sedangkan di amerika serikat hanya 6 %. Kekurangan gizi dan perhatian terhadap ibu hamil merupakan predisposisi anemia defisiensi besi pada ibu hamil di Indonesia.
2. Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan

dengan anemia dalam kehamilan. 3. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh anemia defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi.
4. Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan,

baik di negara maju maupun negara berkembang.3

2.4 Etiologi
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya sebagai berikut : a. Kurang gizi b. Kurang zat besi dalam diit c. Malarbsorpsi d. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
6

e. Penyakit-penyakit kronik sperti TBC paru, cacing usus, malaria, dll Anemia defisiensi besi pada kehamilan disebabkan oleh : a. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma c. Kurangnya zat besi dalam makanan d. Kebutuhan zat besi meningkat

2.5 Anemia pada Wanita Hamil


a. Selama kehamilan seorang wanita mengalami peningkatann plasma darah

hingga 30%, sel darah 18% tetapi HB hanya bertambah 19%. Akibatnya frekuensi anemia pada kehamilan cukup tinggi 10-20% b. Wanita hamil cenderung akan terkena anemia pada 3 bulan terakhir, karena pada masa itu janin menimbun cadangan zat besi untuk diri sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. c. Asupan yang kurang seperti pada kasus sangat mempengaruhi anemia yang timbul pada ibu.
d. Karena pertambahan volume plasma lebih banyak dibanding dengan

pertambahan eritrosit, maka kadar Hb, Ht, dan RBC relatif menurun. Namun, apabila kadar Hb <11gr% terutama pada akhir kehamilan, merupakan keadaan abnormal yang disebabkan oleh kekurangan Fe.3

2.6 Gejala Anemia pada Ibu Hamil


Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah ,sering pusing, mata berkunang- kunang,malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia),konsentrasihilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.5 . Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tidak dijumpai pada anemia jenis lain, seperti:6
1. Atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena

papil lidah menghilang.


2. Glositis: iritasi lidah 7

3. Keilosis: bibir pecah-pecah 4. Koilonikia: kuku jari tangan pecah-pecah dan bentuknya seperti sendok.

2.7 Pengaruh Anemia Defisiensi Besi terhadap Kehamilan


Anemia defisiensi besi pada wanita hamil mempunyai dampak yang jelek, baik pada ibunya maupun terhadap janinnya. Ibu hamil dengan anemia berat lebih memungkinkan terjadinya partus prematur dan memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah serta dapat meningkatkan kematian perinatal. Menurut WHO 40% kematian ibu dinegara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Merchan and Agarwal (1991) melaporkan bahwa hasil persalinan pada wanita hamil yang menderita anemia defisiensi besi adalah, 12 -28 % angka kematian janin, 30 % kematian perinatal, dan 7 -10 % angka kematian neonatal.7 Mengingat besarnya dampak buruk dari anemia defisiensi zat besi pada wanita hamil dan janin, oleh karena itu perlu kiranya perhatian yang cukup terhadap masalah ini, Dengan diagnosa yang cepat serta penatalaksanaan yang tepat komplikasi dapat diatasi serta akan mendapatkan prognosa yang lebih baik. Menurut dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), MSi, anak yang kekurangan besi pada masa bayi memiliki resiko gangguan pertumbuhan & perkembangan jangka panjang yang lebih serius, seperti gangguan kognitif (kecerdasan) & perilaku anak. Hal ini karena kekurangan besi sejak anak dalam kandungan sampai berumur 2 tahun akan mengganggu perkembangan cabang-cabang & sambungan (sinaps) antara sel-sel otak. Selain itu, kekurangan besi sejak bayi juga akan menghambat pembentukan zat neurotransmiter yang penting untuk pengendalian emosi, pemusatan perhatian & perilaku anak. Kekurangan besi juga dapat mengganggu pembentukan selubung syaraf (mielin), yang penting dalam kecepatan berpikir anak.

2.8 Pemeriksaan Laboratorium


8

Kelainan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang dapat dijumpai adalah : 1. Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit : didapatkan anemia hipokrom mikrositer dengan penurunan kadar hemoglobin mulai dari ringan sampai berat. MCV, MCHC dan MCH menurun. MCH < 70 fl hanya didapatkan pada anemia difisiensi besi dan thalassemia mayor. RDW (red cell distribution width) meningkat yang menandakan adanya anisositosis.Indeks eritrosit sudah dapa mengalami perubahan sebelum kadar hemoglobin menurun. Kadar hemoglobin sering turun sangat rendah, tanpa menimbulkan gejala anemia yang mencolok karena anemia timbul perlahan-perlahan. Apusan darah menunjukkan anemia hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis, anulosit, sel pensil, kadangkadang sel target. Derajat hipokromia dan mikrositosis berbanding lurus dengan derajat anemia, berbeda dengan thalassemia. Leukosit dan trombosit normal. Retikulosit rendah dibandingkan derajat anemia. Pada kasus ankilostomiasis sering dijumpai eosinofilia.4 2. Apus sumsum tulang : Hiperplasia eritropoesis, dengan kelompok-kelompok normo-blast basofil. Bentuk pronormoblast-normoblast kecil-kecil, sideroblast.2 3. Kadar besi serum menurun <50 mg/dl, total iron binding capacity (TIBC) meningkat >350 mg/dl, dan saturasi transferin < 15%. 4. Feritin serum. Sebagian kecil feritin tubuh bersirkulasi dalam serum, konsentrasinya sebanding dengan cadangan besi jaringan, khususnya retikuloendotel. Pada anemia defisensi besi, kadar feritin serum sangat rendah, sedangkan feritin serum yang meningkat menunjukkan adanya kelebihan besi atau pelepasan feritin berlebihan dari jaringan yang rusak atau suatu respons fase akut, misalnya pada inflamasi. Kadar feritin serum normal atau meningkat pada anemia penyakit kronik. 5. TIBC (Total Iron Banding Capacity) meningkat. 6. Feses : Telur cacing Ankilostoma duodenale / Necator americanus.
9

7. Pemeriksaan lain : endoskopi, kolonoskopi, gastroduodenografi, colon in loop, pemeriksaan ginekologi.4

2.9 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil temuan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat mendukung sehubungan dengan gejala klinis yang sering tidak khas.Kriteria diagnosis ADB menurut WHO:6
1. Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia

2. Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata < 31% (N:32-35%) 3. Kadar Fe serum <50 g/dl (N: 80-180g/dl) 4. Saturasi transferin <15 % (N:20-50%)

2.10 Diagnosis Banding


Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya, seperti : 1. Thalasemia (khususnya thallasemia minor) :

Hb A2 meningkat Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun.

2. Anemia kaena infeksi menahun :

Biasanya anemia normokromik normositik. Kadang-kadang terjadi anemia hipokromik mikrositik. Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun.

3. Keracunan timah hitam (Pb) :

10

Terdapat gejala lain keracunan P. Terdapat ring sideroblastik pada pemeriksaan sumsum tulang.4 Anemia sideroblastik :

2.11 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar 80-85 % ADB dapat diketahui, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara peroral atau parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan sama efektifnya dengan pemberian parenteral, pemberian secara parenteral dilakukan pada penderita yang tidak dapat memakan obat peroral atau kebutuhan besinya tidak dapat terpenuhi secara peroral karena ada gangguan pencernaan.6 Untuk menghindari akibat yang tidak diinginkan tersebut perlu penatalaksanaan yang adekuat untuk menangani anemia defisiensi besi pada kehamilan. Tujuan penatalaksanaan anemia defisiensi besi adalah menaikkan nilai hemoglobin dan mencukupi simpanan besi dalam tubuh.

2.11.1 Pemberian preparat besi peroral


Pada wanita hamil, pemberian folat (500 g) dan zat besi (120 mg) akan bermanfaat, sebab anemia pada kehamilan biasa diakibatkan oleh defisiensi kedua zat tersebut. Tablet kombinasi yang cocok, mengandung 250 g folat dan 60 mg zat besi, diminum 2x sehari.6 Efek samping zat besi peroral dapat menimbulkan keluhan gastrointestinal berupa rasa tidak enak di ulu hati, mual , muntah dan diare.Sebagai tambahan zat besi yang dimakan bersama dengan makanan akan ditolelir lebih baik daripada ditelan pada saat perut kosong, meskipun jumlah zat besi yang diserap akan berkurang.6

2.11.2 Pemberian preparat besi parenteral


11

Pemberian besi secara intramuscular menimbulkan rasa sakit dan harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati regional dan reaksi alergi. Oleh karena itu pemberian besi parenteral diberikan bila hanya dianggap perlu, misalnya : pada kehamilan tua, malabsorpsi berat, dan radang pada lambung. Kemampuan untuk menaikkan kadar Hb tidak lebih baik dibandingkan peroral. Preparat yang paling sering dipakai adalah dekstran besi. Larutan ini mengandung 50 mg besi/ml Dosis dapat dihitung berdasarkan: Dosis besi (mg)= BB (kg) x kadar Hb yang diinginkan (g/dL) x 2,56

2.12 Prognosis
Prognosis baik apabila penyebab anemian hanya kekurangan besi saja dan diketahui penyebabnya serta dilakukan penanganan yang adekuat. Gejala anemia dan manifestasi klinis lainnya akan membaik dengan pemberian preparat besi.6 Prinsip penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar 80-85 % ADB dapat diketahui, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara peroral atau parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan sama efektifnya dengan pemberian parenteral, pemberian secara parenteral dilakukan pada penderita yang tidak dapat memakan obat peroral atau kebutuhan besinya tidak dapat terpenuhi secara peroral karena ada gangguan pencernaan.6

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


Anemia didefinisikan sebagai berkurangnya kadar hemoglobin darah1. Anemia ditandai oleh menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit , dan hitung eritrosit. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11%, pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 % pada trimester 2. Nilai
12

batas tersebut perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodulusi, terutama pada trimester ke 2. Volume darah bertambah cepat pada kehamilan trimester kedua, sehingga kekurangan besi seringkali terlihat pada turunnya kadar hemoglobin. Pada kehamilan, kehilangan zat besi akibat pengalihan zat besi maternal ke janin untuk eritropoesis, kehilangan darah saat persalinan dan laktasi yang jumlah keseluruhannya mecapai 900 mg atau setara 2 liter darah. Anemia defisiensi besi pada kehamilan disebabkan oleh : a. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma c. Kurangnya zat besi dalam makanan d. Kebutuhan zat besi meningkat Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tidak dijumpai pada anemia jenis lain, seperti:6 1. Atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang. 2. Glositis: iritasi lidah 3. Keilosis: bibir pecah-pecah 4. Koilonikia: kuku jari tangan pecah-pecah dan bentuknya seperti sendok. Anemia defisiensi besi pada wanita hamil mempunyai dampak yang jelek, baik pada ibunya maupun terhadap janinnya. Ibu hamil dengan anemia berat lebih memungkinkan terjadinya partus prematur dan memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah serta dapat meningkatkan kematian perinatal. Menurut WHO 40% kematian ibu dinegara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Kelainan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang dapat dijumpai anemia hipokrom mikrositer dengan penurunan kadar hemoglobin mulai dari ringan sampai berat. MCV, MCHC dan MCH menurun.

13

Diagnosis

ditegakkan

berdasarkan

hasil

temuan

dari

anamnesis,

pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat mendukung sehubungan dengan gejala klinis yang sering tidak khas. Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya, seperti :Thalasemia (khususnya thallasemia minor), anemia kaena infeksi menahun, keracunan timah hitam (Pb). Prinsip penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar 80-85 % ADB dapat diketahui, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara peroral atau parenteral. Pada wanita hamil, pemberian folat (500 g) dan zat besi (120 mg) akan bermanfaat, sebab anemia pada kehamilan biasa diakibatkan oleh defisiensi kedua zat tersebut. Tablet kombinasi yang cocok, mengandung 250 g folat dan 60 mg zat besi, diminum 2x sehari.6 Pemberian besi secara intramuscular menimbulkan rasa sakit dan harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati regional dan reaksi alergi. Oleh karena itu pemberian besi parenteral diberikan bila hanya dianggap perlu, misalnya : pada kehamilan tua, malabsorpsi berat, dan radang pada lambung. Kemampuan untuk menaikkan kadar Hb tidak lebih baik dibandingkan peroral. Preparat yang paling sering dipakai adalah dekstran besi. Larutan ini mengandung 50 mg besi/ml Dosis dapat dihitung berdasarkan: Dosis besi (mg)= BB (kg) x kadar Hb yang diinginkan (g/dL) x 2,5.6

3.4 Saran-saran
1. Sebaiknya ibu hamil makan-makanan yang bervariasi memberikan nutrisi yang cukup terhadap kehamilan. 2. Mendeteksi secara dini anemia defisiensi besi pada ibu hamil dan segera mengobatinya, agar tidak memberi dampak buruk terhadap ibu sendiri dan kehamilannya.

14

3. Setelah bayi tersebut lahir, berikanlah nutrisi yang baik kepada bayi, agar bayi tersebut tidak mengalami anemia defisiensi besi yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkebangan bayi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hoffbrand, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H., 2005. Kapita Selekta

Hematologi. Jakarta : EGC.


2. Bakta, I.M ., 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC. 3. Anemia Defisiensi Besi Pada Ibu Hamil. Available from:

http://www.scribd.com/doc/49089105/. 2011.

Acessed

December

2,
15

4. Anemia

Defisiensi

Besi.

Available

from:

.http://www.docstoc.com/docs/36663185/. Acessed December 4, 2011.


5. Anemia

Dalam

Kehamilan.

Available

from:

http://med.unhas.ac.id/obgin. Acessed November 30, 2011.


6. Anemia Defisiensi Besi (Fe). Available from: http://belibis-

a17.com/2011/08/19/. Acessed November 30, 2011.


7.

Anemia Defisiensi Besi Pada Wanita Hamil. Available from: http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam %20riswan.pdf. Accessed December 4, 2011. muhammad

16