Anda di halaman 1dari 17

USULAN PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN POLA KOPING MAHASISWA DIII KEPERAWATAN TERHADAP PEMBERIAN TUGAS MATA KULIAH PADA MAHASISWA PRODI KEPERAWATAN PURWOKERTO

DISUSUN OLEH : KUKUH PAMBUDI P17420209020

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PURWOKERTO 2011

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses interaksi edukatif antara pendidik

dan peserta didik, yang selanjutnya di dalam perkuliahan disebut dosen sebagai pendidik dan mahasiswa sebagai peserta didik. Tujuan dari interaksi edukatif tersebut meliputi tiga aspek, yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk mencapai tujuan secara baik, diperlukan peran maksimal dari seorang guru, baik dalam penyampaian materi, penggunaan metode, pengelolaan kelas dan sebagainya. Sebagai indikator keberhasilan guru

menyampaikan materi pada siswa perlu dilakukan sebuah evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan melalui berbagai macam cara tergantung pada guru yang bersangkutan, salah satunya melalui pemberian tugas (B. Suryosubroto, 2004). Pemberian tugas merupakan salah satu cara pendidik dalam mengevaluasi proses kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukaan pada peserta didik. Pemberian tugas ini diberikan di luar jam pelajaran. Tetapi dalam pelaksanaannya tidak jarang pula pemberian tugas dilakukan pada saat jam pelajaran. Jenis tugas yang diberikan bermacam-macam sesuai dengan guru yang bersangkutan dan mata pelajaran yang disampaikan. Berbeda guru dan mata pelajaran yang disampaikan berbeda pula tugasnya. Begitu pula dengan tingkat pendidikan yang sedang di tempuh berbeda juga jenis tugasnya (Suharsimi Arikunto, 1989). Di dalam perkuliahan juga mengenal adanya pemberian tugas kuliah. Pemberian tugas dalam setiap mata kuliah sudah ada persentase tersendiri di dalam pembagian nilai. Prosentase ini biasa dijelaskan di dalam kontrak pembelajaran antara dosen dan mahasiswa. Biasanya tidak jarang tugas mendapat persentase hingga 20% di dalam prosentase penilaian akhir sebuah mata kuliah. Jadi dapat dikatakan tugas kuliah mempunyai peran yang cukup penting dalam pembuatan nilai akhir. Dari paparan singkat di atas bahwa tugas mata kuliah mempunyai peran yang penting di dalam proses kegiatan belajar mengajar. Tetapi setiap hal pasti mempunyai pro dan kontra, begitu juga dengan tugas ini. Di Kampus VII Prodi Keperawatan Purwoketo bermacammacam reaksi yang muncul dari para mahasiswa terhadap pemberian tugas kuliah. Mulai dari mereka yang merasa senang sampai mereka yang merasa terbebani dengan pemberian tugas kuliah tersebut. Tidak jarang pula reaksi mereka ini mereka share ke jejaring sosial. Dari

jumlah keseluruhan mahasiswa Prodi Keperawatan Purwokerto yang berjumlah 231 mahasiswa ternyata pola koping yang para mahasiswa munculkan juga bermacam-macam. Mulai dari mereka yang senang langsung mengerjakannya begitu mendapat tugas dari dosen sampai mereka yang merasa terpaksa dan terbebani sehingga malas-malasan untuk mengerjakannya. Berdasarkan dari hasil prasurvey yang dilakukan ternyata sekitar 70% atau sekitar 160 orang mahasiswa ternyata respon mereka kurang menyukai terhadap pemberian tugas mata kuliah, sedangkan 25% atau sebanyak 60 orang mahasiswa berespon positif terhadap pemberian tugas mata kuliah, sedangkan sisanya 5% atau sekitar 11 orang mahasiswa mengatakan tidak tahu. Berdasarkan hasil prasurvey di atas terlihat berbagai macam reaksi dan pola koping yang timbul dari para mahasiswa terhadap pemberian tugas mata kuliah. Terdapat pola koping yang positif dan ada pula pola koping yang negatif. Untuk melihat gambaran pola koping para mahasiswa peneliti merasa tertarik untuk menelitinya dengan judul Gambaran Pola Koping Mahasiswa Prodi Keperawatan Purwokerto Terhadap Pemberian Tugas Mata Kuliah.

B.

Rumusan Masalah Bagaimana gambaran pola koping mahasiswa terhadap pemberian tugas mata kuliah

pada mahasiswa keperawatan di Prodi Keperawatan Purwokerto ?

C.

Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran pola koping mahasiswa DIII Keperawatan terhadap pemberian tugas kuliah di Prodi Keperawatan Purwokerto. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pola koping positif mahasiswa DIII Keperawatan terhadap pemberian tugas kuliah. b. Mengetahui pola koping negatif mahasiswa DIII Keperawatan terhadap pemberian tugas kuliah. c. Mengetahui prosentase gambaran pola koping mahasiswa.

D.

Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis a. Mahasiswa memperoleh pengalaman survey kesehatan jiwa sebagai bekal menjadi perawat.

b. Mahasiswa mampu melaksanakan organisasi materi meliputi identifikasi masalah, prioritas masalah, pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data. 2. Manfaat Praktis a. Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam meningkatkan proses belajar mengajar keperawatan jiwa. b. Diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dan bahan pustaka keperawatan jiwa.

BAB II

A. 1.

Landasan Teori Pengertian Mekanisme Koping Dalam kehidupan sehari-hari, individu menghadapi pengalaman yang

mengganggu ekuilibirium kognitif dan afektifnya. Individu dapat mengalami perubahan hubungan dengan orang lain dalam harapannya terhadap diri sendiri cara negatif. Munculnya ketegangan dalam kehidupan mengakibatkan perilaku pemecahan

masalah (mekanisme koping) yang bertujuan meredakan ketegangan tersebut. Equilibrium merupakan proses keseimbangan yang terjadi akibat adanya proses adaptasi manusia terhadap kondisi yang akan menyebabkan sakit. Proses menjaga keseimbangan dalam tubuh manusia terjadi secara dinamis dimana manusia berusaha menghadapi segala tantangan dari luar sehingga keadaan seimbang dapat tercapai. Coping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut. Seorang ahli medis bernama ZJ Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme coping: all cognitive and motor activities which a sick person employs to preserve his bodily and psychic integrity, to recover reversibly, impaired function and compensate to limit for any irreversible impairment. (Secara bebas bisa diterjemahkan: semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya, memulihkan fungsi yang rusak, dan membatasi adanya kerusakan yang tidak bisa dipulihkan). Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1999). Sedangkan menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Mekanisme coping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat, yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari dampak stressor tersebut. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi eksternal dan internal, sehingga yang

berperan bukan hanya bagaimana lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu, persepsi, serta kognisi terhadap stressor tersebut. Efektivitas coping memiliki kedudukan sangat penting dalam ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan penyakit (fisik maupun psikis). Jadi, ketika terdapat stressor yang lebih berat (dan bukan yang biasa diadaptasi), individu secara otomatis melakukan mekanisme coping, yang sekaligus memicu perubahan neurohormonal. Kondisi neurohormonal yang terbentuk akhirnya

menyebabkan individu mengembangkan dua hal baru: perubahan perilaku dan perubahan jaringan organ. Lipowski membagi coping menjadi: coping style dan coping strategy. Coping style adalah mekanisme adaptasi individu yang meliputi aspek psikologis, kognitif, dan persepsi. Coping strategy merupakan coping yang dilakukan secara sadar dan terarah dalam mengatasi rasa sakit atau menghadapi stressor. Apabila coping dilakukan secara efektif, stressor tidak lagi menimbulkan tekanan secara psikis, penyakit, atau rasa sakit, melainkan berubah menjadi stimulan yang memacu prestasi serta kondisi fisik dan mental yang baik. Mekanisme koping menunjuk pada baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Mekanisme koping merupakan suatu proses di mana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu: problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres; dan emotion-focused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus & Folkman, 1984). Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang dan sejauhmana tingkat stres dari suatu kondisi atau masalah yang dialaminya. Contoh: seseorang cenderung menggunakan problem-solving focused coping dalam menghadapai masalahmasalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan

sekolah atau pekerjaan; sebaliknya ia akan cenderung menggunakan strategi emotionfocused coping ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker atau Aids. Hampir senada dengan penggolongan jenis coping seperti dikemukakan di atas, dalam literatur tentang coping juga dikenal dua strategi coping, yaitu active & avoidant coping strategi (Lazarus mengkategorikan menjadi Direct Action & Palliative). Active coping merupakan strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stres, sementara avoidant coping merupakan strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stres dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stres. Apa yang dilakukan individu pada avoidant coping strategi

sebenarnya merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu karena cepat atau lambat permasalahan yang ada haruslah diselesaikan oleh yang bersangkutan. Permasalahan akan semakin menjadi lebih rumit jika mekanisme pertahanan diri tersebut justru menuntut kebutuhan energi dan menambah kepekaan terhadap ancaman. 2. Faktor Yang Mempengaruhi Strategi koping Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi. a. Kesehatan Fisik Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar. b. Keyakinan atau pandangan positif Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (external locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping. c. Keterampilan memecahkan masalah Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.

d. Keterampilan sosial Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. e. Dukungan sosial Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya f. Materi Dukungan ini meliputi sumber daya daya berupa uang, barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibel 3. Metode Koping Ada dua metode koping yang digunakan oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis seperti yang dikemukakan oleh Bell (1977), dua metode tersebut antara lain: a. Metode koping jangka panjang, cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis dalam kurun waktu yang lama, contonhya: 1) Berbicara dengan orang lain. 2) Mencoba mencari informasi yang lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapi. 3) Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural. 4) Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan. 5) Membuat berbagai alternative tindakan untuk mengurangi situasi. 6) Mengambil pelajaran atau pengalaman masa lalu. b. Metode koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stress dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektf untuk digunakan dalam jangka panjang. Contohnya: 1) Menggunakan alkohol atau obat 2) Melamun dan fantasi. 3) Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyenangkan. 4) Tidak ragu dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil. 5) Banyak tidur 6) Banyak merokok. 7) Menangis 8) Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.

4.

Penggolongan Mekanisme Koping Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua) (Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu :

a. Mekanisme Koping Adaptif Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. b. Mekanisme Koping Maladaptif Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek, salah satunya adalah aspek psikososial (Lazarus dan Folkman, 1985; Stuart dan Sundeen, 1995; Townsend, 1996; Herawati, 1999; Keliat, 1999) yaitu : a. Reaksi Orientasi Tugas Berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stress secara realistis, dapat berupa konstruktif atau destruktif. Misal : - Perilaku menyerang (agresif) biasanya untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan. - Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber-sumber ancaman baik secara fisik atau psikologis. - Perilaku kompromi digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang. b. Mekanisme pertahanan ego, yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. Adapun mekanisme pertahanan ego, adalah sebagai berikut: 1) Kompensasi : Proses di mana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan/ secara tegas menonjolkan keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki. 2) Penyangkalan (denial) : Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalahyang paling sederhana dan primitive. 3) Pemindahan (displacement): Pengalihan emosi yang ditujukan pada seorang atau benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.

Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perangperangan dengan temann 4) Disosiasi : Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya. 5) Identifikasi : Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran, perilaku, dan selera orang tersebut. 6) Intelektualisasi : Pengguna logika dan alasan berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya, 7) Introjeksi : Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil atau melebur nilai-nilai dan kualitas seseorang atau suatu kelompok ke dalam struktur egonya sendiri, merupakan hati nurani. 8) Isolasi : Pemisahan unsure emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau dalam jangka waktu yang lama. 9) Proyeksi : Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan, perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya. 10) Rasionalisasi : Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima. 11)Reaksi Formasi : Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari, yang bertentangan dengan yang sebenarnya ia rasakan atau ia ingin lakukan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. 12)Regresi : Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan cirri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini. 13)Represi : Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan dari kesadaran seseorang; merupakan pertahanan yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil

bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya. 14)Pemisahan (splitting) : Sikap mengelompokkan orang atau keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk; kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif dalam diri sendiri. 15)Sublimasi : Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyaluran secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah 16)Supresi : Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan, tetapi sebetulnya merupakan suatu analog represi yang disadari.

B.

Kerangka teori

Mata Kuliah

Pemberian Tugas Mata Kuliah

Faktor yang mempengaruhi pola koping : 1. Kesehatan fisik 2. Keyakinan/pandangan positif 3. Keterampilan memecahkan masalah 4. Keterampilan sosial 5. Dukungan sosial 6. Materi

Gambaran Pola Koping Mahasiswa DIII Keperawatan

Adaptif

Maladaptif

C.

Kerangka Konsep

Variabel Independen
Tugas Mata Kuliah

Variabel Dependen Gambaran Pola Koping

Variabel Confounding Kesehatan fisik Keterampilan memecahkan masalah Dukungan sosial Materi

BAB III

A.

Metode Penelitian Untuk menemukan gambaran pola koping mahasiswa DIII Keperawatan terhadap

pemeberian tugas mata kuliah pada mahasiswa Prodi Keperawatn Purwokerto, dengan unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan butir-butir rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian, maka digunakan jenis penelitian kuantitatif yaitu dengan mencari gambaran pola koping yang ditimbulkan oleh mahasiswa DIII Keperawatan pada mahasiswa Prodi Keperawatan Purwokerto.

B.

Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi merupakan keseluruhan subjek sebagai sumber data yang meminlki cirri-

ciri/karakteristik tertentu dalam suatu penelitian. Karakteristik dalam penelitian ini adalah; (a) mahasswa tingkat I, II, dan III, (b) bukan mahasiswa pindahan, dan (c) bukan mahasiwa yang sedang cuti, (d) mahasiswa program reguler. Berdasarkan karakteristik tersebut maka jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 251 orang. 2. Sampel Teknik sampling yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling maksudnya adalah teknik yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sample. Selanjutnya untuk penentuan sample yang digunakan adalah teknik sistematik random sampling. Alasannya karena peneliti mengetahui nama atau identifikasi dari satuan-satuan individu populasi melalui daftar hadir mahasiswa dimasing-masing kelas. Peneliti akan mengambil sampel sebanyak 30 orang mahasiswa yang terdiri dari 10 mahsiswa tingkat I, 10 nahasiswa tingkat II, dan 10 orang mahasiswa tingkat III.

C.

Waktu dan Tempat Penelitian Dikarenakan faktor lokasi dan keadaan dimana penelitia merasa perlu melakukan

penelitian ini, maka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian ini selama 1 bulan, yaitu pada bulan Januari. Penelitian ini bertempat di Prodi DIII keperawatan Purwokerto.

D.

Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Pemberian tugas mata kuliah. 2. Variabel terikat Gambaran pola koping mahsiswa DIII Keperawatan.

E.

Definisi Operasional

Variabel Gambaran Pola Koping

Definisi Operasional

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala

Mekanisme untuk Kuesioner mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima

Baik jika skor Ordinal jawaban benar 76-100% Cukup baik jika skor jawaban benar 56-75% Kurang baik jika skor jawaban benar 40-55% Tidak baik jika skor jawaban < 40%

Tugas Mata Kuliah

Salah satu cara pendidik dalam mengevaluasi proses kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukaan pada peserta didik dalam jenjang perguruan tinggi

F.

Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrument yaitu berupa kuesioner untuk

mendapatkan hasil-yang akurat. Adapun contoh-contoh kuesionernya yaitu: 1. Pernahkan anda mendapat tugas mata kuliah ? A. Pernah B. Tidak pernah C. Belum pernah

2. Seberapa sering anda mendapat tugas mata kuliah ? A. Sering B. Jarang C. Tidak sama sekali

3. Apakah anda mengerjakan tugas mata kuliah tersebut ? A. Ya B. Tidak C. Tidak tahu

G.

Teknik Pengambilan Data Untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan gambaran pola koping mahasiswa DIII

Keperawatan maka peneliti akan menggunkan teknik langsung terjun kelapangan yang berupa observasi. Karena dengan instrumen pengumpulan data semacam ini peneliti rasa data yang akan dikumpulkan lebih akurat bila kita mengamati sendiri apa yang akan terjadi dilapangan tersebut.

H.

Pengolahan dan Analisa Data Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka

ringkasan dengan menggunakan cara cara atau rumus rumus tertentu (Hasan, 2004). Pada penelitian ini pengolahan data menggunakan langkah langkah sebagai berikut (Notoatmodjo, 2006) 1. Edting Dilakukan proses pemeriksaan penelitian dat di lapangan sehingga dapat menghasilkan data yang akurat 2. Coding Melakukan pengkodean data untuk memudahkan dalam penafsiran serta menarik kesimpulan dari data yang ada. 3. Scoring Memberikan nilai pada setiap pertanyaan yang diajukan untuk menganalisa data. 4. Tabulating Mengelompokan data kedalam suatu data tertentu menurut sifat sifat yang dimiliki sesuai tujuan penelitian. Analisa data dilakukan dengan uji unvariat yaitu untuk mengetahui distribusi,

frekuensi, dan proporsi variable yang diteliti. Analisa ini dilakukan dengan cara mentabulasi data hasil skor jawaban responden, kemudian susun dalam table sesuai rumus sebagai berikut (Arikunto, 2006). Analisis statistik yang digunakan untuk menilai gambaran pola koping mahasiswa DIII keperawatan terhadap pemberian tugas kuliah adalah dengan menggunakan SPSS.

P!

X x 100% N

Keterangan: P = Prosentase

X N

= Jawaban benar = Jumlah seluruh item soal

I.

Hipotesis Terdapat berbagai macam gambaran pola koping mahasiswa DIII keperawatan terhadap

pemberian tugas mata kuliah.

Daftar Pustaka

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Ke IV. Jakarta : PT Rineka Cipta. Hasan, Iqbal. 2004. Analisa Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Notoatmojo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam .2003.Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Setiadi. 2007.Konsep Penulisan Riset Keperawatan Edisi 1. Yogyakarta : Graha Ilmu Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Cet 3. Bandung : Alpabeta. Suryosubroto. 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta. Videbeck, Sheila. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.