Anda di halaman 1dari 42

Konstruktivisme dalam Pendidikan

Oleh : Agustya Dewi 110710072 Atina R. 110710219 Deta Shinta 110710233

-Sejarah KonstruktivismeGagasan Dasar Konstruktivisme.....

Hakikat Pengetahuan
Cukup lama diterima bahwa pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat (objektivisme). Pengetahuan hanyalah dianggap sebagai kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini, terlebih dalam bidang sains, diterima bahwa pengetahuan tidak lepas dari subyek yang sedang belajar mengerti.

Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan berubah. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994).

Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan (Bettencourt, 1989). Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamatan tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dengan setap kali mengadakan reorganisasi karena adanya sutau pemahaman yang baru (Piaget, 1971).

Para konstruktivis menjelaskan bahwa satusatunya alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakannya.

Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ke kepala orang lain. Seseorang itu sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaiakan terhadap pengalaman-pengalaman mereka (Lorsbach & Tobin, 1992). Tampak bahwa pengetahuan lebih merujuk pada pengalaman seseorang akan dunia dripada tentang dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman itu seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan Bagi para konstruktivis, pengetahuan bukanlah tertentu dan deterministik, tetapi suatu proses menjadi tahu

Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat ditransfer begitu saja dari pikiran orang yang mempunyai pengetahuan ke orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bahkan bila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide dan pengertiannya kepada seorang murid, pemindahan itu harus di interpretasikan dan dikonstruksikan oleh si murid lewat pengalamannya (Glasersfeld & Bettencourt, 1989).

Dalam proses konstruksi menurut von Glasersfeld, diperlukan beberapa kemampuan sebagai berikut: 1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. 2. Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan 3. Kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain

Piaget (1970) membedakan dua aspek berpikir dalam pembentukan pengetahuan ini: 1. Aspek figuratif Adalah imajinasi keadaan sesaat dan statis. Ini mencakup persepsi, imajinasi dan gambaran mental seseorang terhadap suatu objek dan fenomen. 2. Aspek operatif Sedangkan aspek berpikir operatif lebih berkaitan dengan transformasi dari satu level ke level lainnya. Ini menyangkut operasi intelektual atau sistem transformasi. Berpikir operatif inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuannya dari suatu level tertentu ke level yang lebih tinggi.

Secara ringkas gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut (von Glasersfeld & Kitchener, 1987): Pengetahuan bukanlah meruapakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Realitas dan Kebenaran


Konstruktivisme menyatakan bahwa kita tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi kita akan sesuatu objek. Menurut Bettecourt 1989, memang konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi lebih hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu. Boleh juga dikatakan bahwa realitas bagi konstruktivisme tidak pernah ada secara terpisah dari pengamat. Yang diketahui bukanlah suatu realitas yang berdiri sendiri, melainkan kenyataan sejauh dipahami oleh orang yang menangkapnya (Shapiro, 1994)

lalu bagaimana halnya dengan kebenaran? Bagaimana orang tahu bahwa pengetahuan yang kita konstruksikan itu benar? Beberapa paham ilmu pengetahuan mengatakan bahwa suatu pengetahuan itu dianggap benar bila pengetahuan itu sesuai dengan kenyataannya. Contoh: pengetahuan seseorang bahwa angsa itu putih adalah benar apabila dalam kenyataannya memang angsa itu putih dan tidak berwarna lain

Hal yang membatasi konstruksi pengetahuan


Bettencourt (1989) menyebutkan hal-hal yang dapat membarasi proses konstruksi pengetahuan manusia, antara lain : 1.konstruksi kita yang lama 2.domain pengalaman kita 3.jaringan struktur kognitif kita

Faktor yang memungkinkan perubahan pengetahuan


Banyak terdapat situasi yang dapat memaksa atau membantu seseorang untuk mengadakan perubahan dalam pengetahuannya. Bettencourt (1989) menyebutkan beberapa situasi atau kontes yang membantu perubahan, yaitu: 1. Konteks tindakan 2. konteks yang membuat masuk akal 3. konteks penjelasan 4. konteks pembenaran (justifikasi)

Asal usul konstruktivisme


Menurut Von Glasersfeld (1988) pengertian konstruktifisme kognitif muncul pada abad ini pada tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, gagasan konstruktivisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistimolog dari Italia yang menjadi cikal bakal konstruktivisme.

Pada tahun 1970 Vico dalam De antiquissima Italorum Sapientia, mengungkapkan filsafatnya dengan mengatakan bahwa tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya dia menjelaskan bahwa mengetahui berarti bahwa mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Disini bagi Vico, pengetahuan selalu menunjuk kepada struktu konsep yang dibentuk. Hal ini berbeda dengan pendapat kaum empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus menunjuk pada kenyataan luar. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang berlaku. Tetapi pendapat vico ini menurut banyak pengamat tidak membuktikan teorinya.

Rotry (dalam Von Glasersfeld,1988) menilai konstruktivisme sebagai salah satu bentuk pragmatisme, khususnya dalam hal pengetahuan dan kebenaran, karena hanya mementingkan bahwa suatu konsep berlaku atau dapat digunakan. Sekarang para konstruktivis melihat kesesuaian Vico dengan model ilmiah yang digunakan untuk menganalisis dan mengerti pengalaman atau fenomena baru.

kemudian Piaget menuliskan gagasan konstruktivisme dalam teori tentang perkembangan kognitif dan juga dalam epistimologi genetiknya. Piaget menjelaskan teori adaptasi kognitifnya, yaitu bahwa pengetahuan kita diperoleh dari adaptasi struktur kognitif kita terhadap lingkungannya, seperti suatu organisme harus beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat melanjutkan kehidupan.

Tiga macam konstruktivisme


konstruktivisme radikal Bagi para konstruktivis radikal, pengetahuan tidak merefleksikan suatu kenyataan ontologis objektif, tetapi merupakan suatu pengaturan dan organisasi dari suatu dunia yang dibentuk oleh pengalaman seseorang (Von Glasersfeld,1984)

Realisme hipotesis Pengetahuan menurut realisme hipotesis dipandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan berkembang menuju suatu pengatahuan yang sejati yang dekat dengan realitas (Munevar,1981 dalam Battencourt,1989).

konstruktivisme yang biasa Menurut aliran ini, pengetahuan kita merupakan gambaran dari realitas itu. Pengetahuan kita dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.

Konstruktivisme Piaget
Piaget yakin m.h perlu adaptasi dan mengorganisasi lingkungan fisik di sekitarnya agar m.h itu dapat bertahan hidup Piaget berpikiran bahwa perkembangan pemikiran juga perlu proses adaptasi yang sama dengan makhluk hidup yaitu beradaptasi dengan dan mengorganisir lingkungan sekitar. Piaget (1971) sendiri menyatakan bahwa teori pengetahuan itu pada dasarnya adalah teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas, seperti organism beradaptasi ke dalam lingkungannya.

Teori konstruktivis Piaget


Skema / schemata suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya
seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya

Asimilasi suatu proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan


persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.

Akomodasi pembentukan skema baru yang dapat cocok dengan skema yang
telah ada atau pilihan yang kedua adalah memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan.

Equilibration pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan


proses asimilasi dan akomodasi (proses dari disequilibrium ke equilibrium)

Teori adaptasi intelek


Bagi Piaget mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual yang dengannya pengalaman-pengalaman dan ide-ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui oleh seseorang yang sedang belajar untuk membentuk struktur pengertian yang baru (Shymansky, 1992; von Glaserfeld, 1988).

Intinya....
Pengetahuan itu dibentuk oleh individu secara terus menerus dan skemata dewasa itu dibangun dari skemata anak-anak. Dengan asimilasi seseorang dapat mencocokkan rangsangan dengan skemata yang ada, dan dengan akomodasi ia mengubah skema yang ada agar manjadi cocok dengan rangsangan yang dihadapi, sedangkan equiliberation adalah mekanisme internal yang mengatur asimilasi dan akomodasi .

Teori pengetahuan menurut Piaget


Epistemology dari Piaget epistemologi genetik
(mencoba menjelaskan pengetahuan khususnya pengetahuan ilmiah berdasarkan sejarah, sosiogenesis, dan asal psikologis dari pengertianpengertian dan operasi-operasi yang mendasarinya)

Menurut Piaget, epistemology genetic berkaitan baik dengan pembentukan dan arti dari pengetahuan Piaget beranggapan bahwa ada kesejajaran antara kemajuan yang dibuat dalam organisasi logis dan rasional dari pengetahuan dan proses formatif psikologis

Piaget membedakan antara dua aspek berpikir yang saling melengkapi, yaitu:
1. Aspek figurative, merupakan imitasi keadaan sesaat dan statis. 2. Aspek operatif, berkaitan dengan transformasi dari level pemikiran tertentu ke level yang lain.

Piaget bahwa pengetahuan manusia itu pada dasarnya adalah aktif. Mengetahui adalah mentransformasikan realitas untuk dapat mengerti bagaimana suatu keadaan tertentu itu terbentuk. pengetahuan bukanlah tiruan pasif dari realitas

Menurut Piaget ...


Pengetahuan itu merupakan suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan atau tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah itu selalu berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah sifatnya hanya sementara, tidak statis, dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus (1970). Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar, tetapi ada di dalam diri individu yang membentuknya. Setiap pengetahuan mengendalikan suatu interaksi dengan pengalaman.

Piaget membedakan adanya tiga macam pengetahuan:

1.Pengetahuan fisis

Pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu

objek atau kejadian seperti bentuk, besar, kekesaran, berat, serta bagaimana objek-objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya

2.Pengetahuan matematis-logis

Pengetahuan

yang

dibentuk dengan berpikir tentang suatu objek atau kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasarkan koordinasi, relasi ataupun penggunaan objek.

3. Pengetahuan Sosial

pengetahuan

yang

didapat

dari

kelompok budaya dan sosial yang secara bersamaan menyetujui sesuatu.

Pengetahuan anak akan dunia bukanlah tiruan dari dunia yang nyata. Setiap individu, sepanjang perkembangannya akan membentuk pengetahuan dan kenyataan melalui asimilasi dan akomodasi. Pengetahuan fisis, matematis, dan sosial itu diperoleh langsung dari konstruksi oleh anak itu sendiri (Piaget,1967 dalam Paul Suparno;1997). Kritik terhadap Piaget :
Menurut Matthews,1994 dalam Paul Suparno (1997), konstruktivisme Piaget itu terlalu personal dan individual. Piaget terlalu menekankan bagaimana seseorang itu membangun pengetahuannya dengan kegiatannya di dunia ini tetapi kurang menekankan pada pentingnya masyarakat dan lingkungan terhadap cara seseorang membangun pengetahuannya. OLoughlin (1992) juga mengkritik Piaget terlalu subjektif dan kurang sosial, padahal pada kenyataan seseorang tidak dapat lepas dari orang lain.

secara garis besar.... Menurut Mattews (1994), konstruktivisme

dibagi menjadi dua tradisi besar yaitu : * konstruktivisme psikologis * konstruktivisme sosiologis

Konstruktivisme psikologis
Konstruktivisme psikologis lebih menekankan pada perkembangan psikologis anak dalam membangun pengetahuannya. Konstruktivisme psikologis bercabang menjadi dua yaitu: * yang lebih personal, individual, dan subjektif seperti Piaget. * yang lebih sosial seperti Vygotsky

Konstruktivisme psikologis personal


Piaget lebih menakankan pada aktivitas individual dalam pembentukan pengetahuan, Piaget menyoroti tentang bagaimana seorang anak akan pelan-pelan membentuk skema, mengembangkan skema,dan mengubah skema, menekankan pada bagaimana seorang individu itu sendiri dapat mengkonstruksi pengetahuannya dari interaksi dengan pengalaman objek yang dihadapi. Dia juga menkankan bagaimana seorang anak mengadakan abstraksi baik secara sederhana maupun secara reflesi, dalam membentuk pengetahuan fisis dan matematisnya. Hal ini tampak pada perhatian Piaget yang lebih kepada keaktifan individu dalam membentuk pengetahuan. Bagi Piaget, pengetahuan lebih dibentuk oleh si anak itu sendiri dengan belajar.

Sosiokulturalisme
Vygotsky lebih menekankan pada hubungan diakletik antara individu dan masyarakat dalam pembentukan pengetahuan. belajar adalah merupakan suatu perkembangan pengertian. pengertian ini dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. pengertian spontan
pengertian yang didapat dari pengalaman anak sehari-hari. Pengertian ini tidak terdefinisikan dan terangkai secara sistematis logis.

2. pengertian ilmiah
pengertian yang didapat dari kelas. Pengertian ini adalah pengertian yang formal yang terdefinisikan secara logis dalam suatu sistem yang lebih luas. Dalam proses belajar terjadi perkembangan dan pengertian yang spontan ke yang lebih ilmiah

Konstruktivisme sosiologis
berpandangan bahwa pengetahuan itu hasil penemuan sosial dan sekaligus merupakan faktor dalam perubahan sosial. kenyataan dibentuk secara sosial dan ditentukan secara sosial. Konstruktivisme sosiologis ini menekankan bahwa pengetahuan ilmiah merupakan konstruksi sosial bukan konstruksi individual. Konstruktivisme sosiologis ini mempertahankan bahwa pengetahuan ilmiah dibentuk dan dibenarkan secara sosial. Suasana, lingkungan, dan dinamika pembentukan ilmu pengetahuan adalah sangat penting. Mekanisme psikologis individu dikesampingkan. Sebaliknya mereka lebih menekankan bahwa lingkungan sosial yang menentukan kepercayaan individu

Implikasi konstruktivisme terhadap proses belajar


Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif pelajar dalam mengkonstruksi arti. Belajar merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan

PROSES BELAJAR MENURUT KONSTRUKTIVISME


Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh seorang siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan,dan alami. Konstruksi arti adalah proses yang terus-menerus, setiap menemui fenomena atau persoalan baru maka akan diadakan rekonstruksi baik secara kuat atau lemah. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta tetapi merupakan suatu usaha pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru Proses nelajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk belajar. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia fisik dan lingkungannya. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pelajar : konsep-konsep,tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari

PERAN MURID
Dalam pengertian konstruktivisme, murid tidak dianggap sebagai suatu tabula rasa yang kosong, yang tidak mengerti apa-apa sebelumnya. Murid dipahami sebagai subyek yang sudah membawa "pengertian awal" akan sesuatu sebelum mereka mulai belajar secara formal. Pengetahuan awal tersebut, meski kadang sangat naif atau tidak cocok dengan pengertian para ahli, perlu diterima dan nanti dibimbing untuk semakin sesuai dengan pemikiran para ahli. Maka Konstruktivisme menyatakan bahwa pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Mereka sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan dengan apa yang telah diketahuinya, dan menyelesaikan ketegangan tentang apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan pada pengalamannya yang baru.

Perbedaan behaviorime dan konstruktivisme dalam pengetahuan, belajar, dan mengajar


Behaviorisme: pengetahuan itu ngumpulan pasif dari subjek dan objek yang diperkuat oleh lingkungannya Pengetahuan itu statis dan sudah jadi Mengajar adalah mengatur lingkungan agar dapat membantu belajar Konstruktivisme: Pengetahuan itu adalah kegiatan aktif pelajar yang meneliti lingkungannya Pengetahuan itu adalah proses menjadi Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis, mengadakan justifikasi, sehinggga mengajar adalah bentuk belajar sendiri.

Fungsi dan peran pengajar atau guru


Pada prinsip konstruktivisme, seorang guru atau pengajar berperan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu agar proses belajar murid dapat berjalan dengan baik. Peran guru dalam pembelajaran konstruktivis sangat menuntut penguasaan bahan yang luas dan mendalam tentang bahan yang diajarkan. Pengetahuan yang luas dan mendalam memungkinkan seorang guru menerima pandangan dan gagasan yang berbeda dari murid dan juga memungkinkan untuk menunjukkan apakah gagasan itu jalan atau tidak

Implikasi konstruktivisme terhadap proses mengajar Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannnya. Mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mencari justifikasi.

Lanjutan.
Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas yaitu sebagai berikut : Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggungjawab dalam membuat rancangan,proses, dan penelitian. Sehingga disini memeberi kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama seorang guru. Menyadiakan atau memeberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan murid dan membantu merka mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si murid berjalan atau tidak. Guru menunjukkan dan memeprtanyakan apakah pengetahuan murid itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan murid..