Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH MATA KULIAH AL QUAN DAN PEMBELAJARANNYA

SURAT AL KAFIRUUN
Dosen : Bpk. Dr. Mahmud Arif

Nama : Bintang Firstania (10410093) Nur Ahmad ( 10410092 ) Muhammad Nur Fadli

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA JL.MARSDA ADISUCIPTO YOGYAKARTA 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat, taufiqdan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini secara tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Makalah Surat Al Kafiruun ini merupakan sebuah karya ilmiah, hasil penelitian pustaka sejumlah kitab-kitab tafsir klasik, diantaranya adalah merujuk pada kitab tafsir al Jalalain karangan Jalaluddin al suyuthi dan Jalaluddin al Mahalli, dan kitab tafsir Ibn Katsir karangan Syaikh Ibn Katsir. Selain kedua kitab tersebut masih ditambah dengan merujuk pada pendapat ulama yang telah tercantum dalam program software maktabah syamillah. Dalam pengerjaannya, penulis tentu mendapat banyak kesulitan, terutama menyangkut tentang kekurang mafhuman penulis tentang bahasa arab yang lancar, sehingga ternyata agak menyulitkan. Akan tetapi, berkat dorongan rasa semangat akan selesainya tugas dari dosen kami tercinta, Dr. Mahmud Arif, Dosen Al Quran dan pembelajarannya, maka kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Kritik dan saran yang membangun sangat kami perhatikan,jika dalam proses perjalanannya nanti, ternyata memang banyak kekhilafan. Atas perhatiannya, kami ucapkan teri,a kasih.

ttd

Penulis

PEMBAHASAN

A. Pendahuluan Keyakinan terhadap suatu agama merupakan hak asasi seseorang yang didasari adanya kesadaran dan tidak bersifat pemaksaan. Sebagaimana diketahui dalam kehidupan berbangsa di Indonesia, terdapat lebih dari lima jenis agama yang dianut masyarakat. Hal ini mengharuskan setiap orang mau menerima adanya perbedaan tersebut. Jika seseorang atau segolongan amat tidak menerima orang atau umat lain, akan tercipta suatu kondisi yang kacau. Kondisi ini sangat tidak sejalan dengan ajaran semua agama yang selalu mengajarkan kebajikan. Bagaimanakah sikap Anda menghadapi perbedaan keyakinan agama yang ada di lingkungan Anda? Surah al-Kafirun [109] ayat 1-6 mengandung ajaran tentang cara bersikap menghadapi perbedaan keyakinan beragama. Hal ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw. saat menghadapi kaum musyrikin Quraisy. Sebagaimana dipahami, Rasulullah selalu mendakwahkan kebenaran ajaran yang dibawanya, yaitu Islam. Namun, jika ada orang atau pihak yang menolak atau mengecam ajaran beliau, yang dilakukan pertama kali adalah mendoakan orang-orang yang menolaknya. Berikut adalah surat al kafirun,

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku."1
1

Lihat Tafsir al Jalalain, karangan Jalaluddin al Suyuthi dan Jalaluddin al Mahalli. Sekedar referensi; kedua kitab ini merupakan kitab tafsir klasik karangan ulama pertengahan yang beraliran latterlijk ( terjemah perkata).

Surat ini adalah surat makkiyah, surat yang diturunkan pada periode Makkah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa, surat ini turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat ini adalah surat penolakan (baraa) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang murni. B. Asbabun nuzul Disebutkan bahwa sebab turunnya (sababun nuzul) surat ini adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama satu tahun jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (lihat atsar riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra). Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, 'As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, "Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya". Beliau menjawab, "Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya". Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka. Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah. C. Keutamaan Surat Ini Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa, nilai surat ini setara dengan seperempat AlQuran. Diantaranya riwayat dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu

alaihi wasallam bersabda, Qul huwaLlahu ahad setara dengan sepertiga Al-Quran, dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun setara dengan seperempat Al-Quran (HR Ath-Thabrani). Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa membaca Surat Al-Kafirun dan Surat Al-Ikhlas dalam berbagai macam shalat, diantaranya dalam dua rakaat shalat sunnah fajar (HR Muslim dari Abu Hurairah ra), shalat sunnah badiyah maghrib (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra), shalat sunnah thawaf (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah ra), dan shalat witir (HR Al-Hakim dari Ubay bin Kaab ra).2 Beberapa riwayat juga menyebutkan disunnahkannya membaca Surat Al-Kafirun sebelum tidur, diantaranya hadits riwayat Naufal bin Muawiyah Al-Asyjai, dimana beliau meminta diajari sebuah bacaan yang sebaiknya dibaca sebelum tidur. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafirun sampai akhir surat, lalu langsung tidurlah sesudah itu, karena sesungguhnya surat tersebut adalah penolakan terhadap kesyirikan. (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain)3 D. Kandungan Umum Secara umum, surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (tauhid ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu urgen dan mendasar sekali, sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini. Pertama, Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khitab (panggilan) Yaa ayyuhal kafirun (Wahai orang-orang kafir), padahal Al-Quran tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Quran adalah khitab semacam 'Yaa ayyuhan naas' (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. Kedua, pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka, dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah, bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Dan dalam ayat ini juga Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orangorang kafir, bahwa "Tuhan" yang kamu sembah bukanlah "Tuhan" yang saya sembah, karena kamu menyembah "tuhan" yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan. Sedang saya menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagiNya; tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu
2 3

Disebutkan secara eksplisit dalam kitab hadits Shahih al Bukhori. Shahih al Bukhori.

tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung. Maksudnya; perbedaan sangat besar antara "tuhan" yang kamu sembah dengan "Tuhan" yang saya sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah Ketiga, pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi pernyataan yang disuruh sampaikan kepada orangorang kafir dengan menyatakan, "Kamu tidak menyembah Tuhanku yang aku panggil kamu untuk menyembah-Nya, karena berlainan sifat-sifat-Nya dari sifat-sifat "tuhan" yang kamu sembah dan tidak mungkin dipertemukan antara kedua macam sifat tersebut: Keempat, Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat, dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash, sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh, yang mencakup seluruh waktu (yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya), dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. Kelima, Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: Lakum diinukum wa liya diin (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka. E. Lakum Diinukum Waliya Diin Ayat pamungkas yang merupakan ringkasan dan kesimpulan seluruh kandungan surat AlKaafiruun ini, secara umum semakna dengan firman Allah yang lain dalam QS. Yunus [10]: 41, dan mungkin juga QS. Al-Qashash [28]: 55, serta yang lainnya. Dimana semuanya berintikan pernyataan dan ikrar ketegasan sikap setiap orang beriman terhadap setiap orang kafir, tanpa adanya sedikitpun toleransi, kompromi dan pencampuran, jika terkait secara khusus tentang masalah dan urusan agama masing-masing, yakni yang meliputi aspek aqidah, ritual ibadah dan hukum.

Namun demikian dari sisi yang lain, jika kita renungkan, surat inipun dari awal sampai akhir, sebenarnya juga mengandung makna sikap toleransi Islam dan kaum muslimin terhadap agama lain dan pemeluknya. Yakni berupa sikap pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya. Meskipun yang dimaksud tentulah sekadar pengakuan terhadap realita, dan sama sekali bukan pengakuan pembenaran Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa, tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam, apalagi agama yang lain, yakni dalam firman Allah: Laa ikraaha fiddiin (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul, berhubungan, berinteraksi dan bekerjasama dengan kaum kafirin dalam berbagai bidang kehidupan umum, seperti bidang sosial kemasyarakatan, ekonomi, bisnis dan perdagangan, politik, pemerintahan dan kenegaraan, dan lain-lain. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah, ritual ibadah dan hukum. Nah bahwa ada dua sikap terkait pola hubungan antara ummat Islam dan ummat lain tersebut, haruslah dipahami secara benar dan proporsional, baik oleh kaum muslimin maupun juga oleh kaum non muslimin, agar tidak terjadi kerancuan-kerancuan, atau pencampuranpencampuran, atau bahkan pembalikan-pembalikan sikap, sebagaimana yang sering terjadi selama ini. Yakni bahwa, dalam bidang-bidang kehidupan umum, dibenarkan seorang mukmin bersikap toleransi dengan berinteraksi dan bahkan bekerjasama dengan anggota masyarakat non mukmin. Namun khusus di bidang urusan agama yang terkait masalah aqidah, ritual ibadah dan hukum, sikap tegaslah yang harus ditunjukkan, seperti yang telah dijelaskan diatas.

PENUTUP

KESIMPULAN Sebagai penutup, berikut ini poin-poin kesimpulan umum dari kandungan makna surat AlKaafiruun, khususnya kalimat pamungkasnya: Lakum diinukum waliya diin: (1) Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganut-penganutnya. Disamping dari kalimat "Lakum diinukum waliya diin", makna tersebut juga diambil firman Allah yang lain seperti "Laa ikraaha fid-diin", yang berarti Islam mengakui adanya kebebasan beragama bagi setiap orang, dan bukan kebebasan mengganggu, mempermainkan atau merusak agama yang ada. (2) Dan karenanya, Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummatummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum. (3) Namun di saat yang sama Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah, ritual ibadah ataupun hukum, yang terdapat di dalam agama-agama lain. (4) Maka tidak boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang aqidah, ritual ibadah dan hukum. (5) Begitu pula antar ummat muslim dan ummat kafir tidak dibenarkan saling mencampuri urusan-urusan khusus agama lain. (6) Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan aqidah, ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka. Meskipun kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum (lihat QS Luqman [31]: 15, QS Al-Mumtahanah [60]: 8 dan yang lainnya), namun khusus dalam masalah agama yang meliputi aqidah, ritual ibadah, hukum, dan semacamnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat ini, kita harus bersikap tegas kepada mereka, dengan arti kita harus bisa memurnikan dan tidak sedikitpun mencampuradukkan antara agama kita dan agama mereka Selain itu, saat ada pihak yang ingin mencampuradukan keyakinan suatu agama sehingga menjadi samar, beliau menolaknya. Hal ini menunjukkan bahwa konsep kebenaran hakiki hanya satu, kebenaran dari Tuhan, yaitu Allah SWT. Dalam aplikasinya antarmanusia atau kelompok tertentu, memiliki penafsiran berbeda terhadap kebenaran. Dengan demikian, setiap orang yang telah meyakini kebenaran suatu ajaran tidak serta merta dapat menyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman. Tindakan yang paling tepat

adalah menyampaikan konsep kebenaran yang dipahami dengan konsep dakwah, di antaranya melalui dialog.

Dengan adanya perbedaan, setiap orang harus mempunyai sikap tasamuh (toleransi) terhadap orang lain. Toleransi sangat dibutuhkan untuk menjaga hubungan baik antarsesama demi terciptanya persahabatan, persaudaraan, dan persatuan masyarakat. Sikap toleran juga dapat memberi peluang terhadap adanya dialog antarorang yang memiliki perbedaan pemahaman untuk menemukan persamaan. Persamaan yang dimaksud adalah persamaan prinsip, di antaranya penyembahan terhadap Tuhan yang sama. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, dalam Surah Ali-Imran [3] ayat 64, yang artinya: Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Marifah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak menjanjikan satu sama lain tuhan-tuhan Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim. yUmmat Islam tidak dibenarkan melibatkan diri dan bekerja sama dengan penganut agama lain dalam bidang-bidang yang khusus terkait dengan keyakinan aqidah, ritual ibadah dan hukum agama mereka.

DAFTAR PUSTAKA al Suyuthi, jalaluddin, Tafsir al Jalalain. 2006. Dar-e-Ilmi. Beirut, Lebanon, al Mahalli, Jalaluddin, Tafsir al Jalalain. 2006. Dar-e-ilmi. Beiut, Lebanon. Ibn Katsir. Tafsir Ibn Katsir. 2008. Dar-e-Ilmi. Beirut. Lebanon. Software Maktabah Syamillah. Corp Version 3 2009.