Anda di halaman 1dari 24

Propositional Logic 3

“kusnawi.S.Kom, M.Eng”

version 1.0.0 .2009

Propositional Logic 3 “kusnawi.S.Kom, M.Eng” version 1.0.0 .2009
 Adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh kalimat logika.  Ada 3 sifat logika yaitu :
 Adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh kalimat logika.  Ada 3 sifat logika yaitu :

Adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh kalimat logika.

Ada 3 sifat logika yaitu :

- Valid(Tautologi)

- Kontradiksi

- Satisfiable(Contingent).

oleh kalimat logika.  Ada 3 sifat logika yaitu : - Valid(Tautologi) - Kontradiksi - Satisfiable(Contingent).
 Suatu sentence f disebut valid, jika untuk setiap interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut valid, jika untuk setiap interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut valid, jika untuk setiap interpretation I for f, maka f
Suatu sentence f disebut valid, jika untuk setiap interpretation I
for f, maka f true
Contoh:
1.
(f and g) if and only if (g and f)
2. f or not f
3. (p and (if r then s)) if only if ((if r then s) and
3.
(p and (if r then s)) if only if ((if r then s) and p)
4.
4.

(p or q) or not (p or q) (if p then not q) if and only if not (p and q)

5.
5.
r then s)) if only if ((if r then s) and p) 4. (p or q)
 Suatu sentence f disebut contradictory, jika untuk setiap interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut contradictory, jika untuk setiap interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut contradictory, jika untuk setiap interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut contradictory, jika untuk setiap
interpretation I for f, maka f false
 Contoh:
1. p and not p
2. ((p or q) and not r) if and only if ((if p then r) and (if q then r)

(p or q) and ((not p) and (not q))

3.

p and not p 2. ((p or q) and not r) if and only if ((if
 Suatu sentence f disebut satisfiable, jika untuk suatu interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut satisfiable, jika untuk suatu interpretation I for f, maka f
 Suatu sentence f disebut satisfiable, jika untuk suatu interpretation I for f, maka f
Suatu sentence f disebut satisfiable, jika untuk suatu
interpretation I for f, maka f true
Contoh:
1. if (if p then q) then q
2. (if p then q) and (not r and s)
3. (if r then q) or p
 Suatu teknik/metode untuk menurunkan kesimpulan berdasarkan hipotesa yang diberikan, tanpa harus menggunakan tabel
 Suatu teknik/metode untuk menurunkan kesimpulan berdasarkan hipotesa yang diberikan, tanpa harus menggunakan tabel

Suatu teknik/metode untuk menurunkan kesimpulan berdasarkan

hipotesa yang diberikan, tanpa harus menggunakan tabel kebenaran

Misalkan kepada kita diberikan beberapa proposisi. Kita dapat menarik

kesimpulan baru dari deret proposisi tersebut.

Contoh Metodenya adalah :

- Modus Ponen atau law of detachment

- Modus Tollen

- Silogisme Hipotetis

- Silogisme Disjungtif

- Simplifikasi

- Konjungsi

p  q   p q  Modus ponen menyatakan bahwa jika hipotesis p dan
p  q   p q  Modus ponen menyatakan bahwa jika hipotesis p dan

p q

 

p

q

Modus ponen menyatakan bahwa jika hipotesis p dan implikasi p q benar, maka konklusi q benar.

Misalkan implikasi “Jika 20 habis dibagi 2,maka 20 adalah bilangan genap” dan hipotesis “20 habis dibagi 2” keduanya benar. Maka menurut

modus ponen, inferensi berikut:

1. Jika 20 habis dibagi 2, maka 20 adalah bilangan genap.

2. 20 habis dibagi 2.

3. Karena itu, 20 adalah bilangan genap

p  q ~ q ~ p  Misalkan implikasi “Jika n bilangan ganjil, maka
p  q ~ q ~ p  Misalkan implikasi “Jika n bilangan ganjil, maka

p q

~ q

p  q ~ q ~ p  Misalkan implikasi “Jika n bilangan ganjil, maka n

~ p

Misalkan implikasi “Jika n bilangan ganjil, maka n pangat 2 bernilai ganjil” dan hipotesis “n pangkat 2 bernilai genap” keduanya benar. Maka menurut modus tollen, inferensi berikut 1. Jika n bilangan ganjil, maka n pangkat 2 bernilai ganjil

2. n pangkat 2 bernilai genap

3. n bukan bilangan ganjil

p  q q  r p  r  Misalkan implikasi “Jika saya belajar
p  q q  r p  r  Misalkan implikasi “Jika saya belajar

p q

q  r p  r
q  r
p  r

Misalkan implikasi “Jika saya belajar dengan giat, maka saya lulus ujian”

dan implikasi “Jika saya lulus ujian, maka saya cepat menikah” adalah benar. Maka menurut kaidah silogisme, inferensi berikut:

1. Jika saya belajar dengan giat, maka saya lulus ujian

2. Jika saya lulus ujian, maka saya cepat menikah 3. Jika saya belajar dengan giat, maka saya cepat menikah

p v q ~ p q  Inferensi berikut: “Saya belajar dengan giat atau saya
p v q ~ p q  Inferensi berikut: “Saya belajar dengan giat atau saya

p v q

~ p

p v q ~ p q  Inferensi berikut: “Saya belajar dengan giat atau saya menikah

q

Inferensi berikut:

“Saya belajar dengan giat atau saya menikah tahun depan. Saya tidak belajar dengan giat. Karena itu, saya menikah tahun depan.”

Menggunakan kaidah silogisme disjungtif:

1. Saya belajar dengan giat atau saya menikah tahun depan.

2. Saya tidak belajar dengan giat.

3. Saya menikah tahun depan.

p v q p  Contoh :  “Hamid adalah mahasiswa UGM dan mahasiswa AMIKOM.
p v q p  Contoh :  “Hamid adalah mahasiswa UGM dan mahasiswa AMIKOM.

p v q

p  Contoh :
p
Contoh :

“Hamid adalah mahasiswa UGM dan mahasiswa AMIKOM. Karena itu, Hamid adalah mahasiswa UGM.”

kaidah simplifikasi, atau dapat juga ditulis dengan cara:

1.Hamid adalah mahasiswa UGM dan mahasiswa AMIKOM.

2.Hamid adalah mahasiswa UGM.

atau “Hamid adalah mahasiswa UGM dan mahasiswa AMIKOM. Karena itu, Hamid adalah mahasiswa AMIKOM”

p q p ^ q  Contoh : “Taslim mengambil kuliah Matematika Diskrit. Taslim mengulang
p q p ^ q  Contoh : “Taslim mengambil kuliah Matematika Diskrit. Taslim mengulang

p

q p ^ q
q
p ^ q

Contoh :

“Taslim mengambil kuliah Matematika Diskrit. Taslim mengulang kuliah Algoritma. Karena itu, Taslim mengambil kuliah Matematika Diskrit dan mengulang kuliah Algoritma”

kaidah konjungsi:

1.Taslim mengambil kuliah Matematika Diskrit. 2.Taslim mengulang kuliah Algoritma. 3.Taslim mengambil kuliah Matematika Diskrit dan mengulang kuliah

Algoritma.

Contoh 1 :  Diketahui hipotesa : a. a  b b. c v d
Contoh 1 :  Diketahui hipotesa : a. a  b b. c v d

Contoh 1 :

Diketahui hipotesa :

a.

a b

b.

c v d

c.

c e

d.

~b

e.

f g

f.

d a

 1. Penyelesainnya: a  b ~b hipotesa (a) hipotesa (d) ~a , modus tollen
 1. Penyelesainnya: a  b ~b hipotesa (a) hipotesa (d) ~a , modus tollen

1.

Penyelesainnya:

a b ~b

hipotesa (a) hipotesa (d)

~a

,

modus tollen

2.

d

a

hipotesa (f)

~a

kesimpulan 1 Modus tollen hipotesa (b) kesimpulan 2 silogisme disjungtif hipotesa (c) kesimpulan 2 Modus ponen

~d ,

3.

c v d ~d

c,

4.

c e

c

e,

Kesimpulannya : Pernyataan E

Contoh 2: Pada suatu hari, Anda hendak pergi kuliah dan baru sadar bahwa Anda tidak
Contoh 2: Pada suatu hari, Anda hendak pergi kuliah dan baru sadar bahwa Anda tidak

Contoh 2:

Pada suatu hari, Anda hendak pergi kuliah dan baru sadar bahwa Anda tidak memakai kacamata. Setelah diingat-ingat, ada beberapa fakta dimana

Anda yakin itu benar:

1)

2)

3)

Jika kacamataku ada di meja dapur, maka aku pasti sudah melihatnya ketika mengambil makanan kecil. Aku membaca buku pemrograman di ruang tamu atau aku membacanya di dapur. Jika aku membaca buku pemrograman di ruang tamu, maka pastilah kacamata kuletakkan di meja tamu.

aku membacanya di dapur. Jika aku membaca buku pemrograman di ruang tamu, maka pastilah kacamata kuletakkan
aku membacanya di dapur. Jika aku membaca buku pemrograman di ruang tamu, maka pastilah kacamata kuletakkan
4) Aku tidak melihat kacamataku ketika aku mengambil 5) makanan kecil. Jika aku membaca majalah
4) Aku tidak melihat kacamataku ketika aku mengambil 5) makanan kecil. Jika aku membaca majalah

4)

Aku tidak melihat kacamataku ketika aku mengambil

5)

makanan kecil. Jika aku membaca majalah di ranjang, maka kacamataku kuletakkan di meja samping ranjang.

6)

Jika aku membaca buku pemrograman di dapur, maka

kacamata ada di meja dapur.

Berdasar fakta-fakta tersebut, tentukan dimana letak kacamata tersebut!.

 Penyelesaiannya: Untuk memudahkan dalam menggunakan penggunaan metode inferensi, maka kalimat-kalimat tersebut
 Penyelesaiannya: Untuk memudahkan dalam menggunakan penggunaan metode inferensi, maka kalimat-kalimat tersebut

Penyelesaiannya:

Untuk memudahkan dalam menggunakan penggunaan metode inferensi, maka kalimat-kalimat tersebut dinyatakan dengan simbol-simbol logika,

Misalnya:

p

: Kacamata ada di meja dapur.

q

: Aku melihat kacamataku ketika aku mengambil makanan kecil.

r

: Aku membaca buku pemrograman di ruang tamu.

s

: Aku membaca buku pemrograman di dapur

t

: Kacamata kuletakkan di meja tamu.

u

: Aku membaca buku pemrograman di ranjang.

w

: Kacamata kuletakkan di meja samping ranjang.

Dengan simbol-simbol tersebut, maka fakta-fakta di atas dapat ditulis, sebagai berikut: 1. p  q
Dengan simbol-simbol tersebut, maka fakta-fakta di atas dapat ditulis, sebagai berikut: 1. p  q

Dengan simbol-simbol tersebut, maka fakta-fakta

di atas dapat ditulis, sebagai berikut:

1.

p q

2.

r

s

3.

r t

4.

~q

5.

u w

6.

s p

Hasilnya : Inferensi yang dapat dilakukan adalah: 1 . p  q ~ q ~p
Hasilnya : Inferensi yang dapat dilakukan adalah: 1 . p  q ~ q ~p

Hasilnya :

Inferensi yang dapat dilakukan adalah:

1. p q ~ q

: Inferensi yang dapat dilakukan adalah: 1 . p  q ~ q ~p , modus

~p , modus Tollen 2. s p ~p

1 . p  q ~ q ~p , modus Tollen 2 . s  p

~s,

Modus Tollen

3. r ~s

s

Tollen 2 . s  p ~p ~s, Modus Tollen 3 . r  ~s s

r, Silogisme Disjungtif 4. r t

r

3 . r  ~s s r, Silogisme Disjungtif 4 . r  t r t,

t, Modus Ponen

Kesimpulannya: Kacamata ada di meja tamu.

Kalimat yang memuat ekspresi kuantitas Obyek yang terlibat, misalnya: semua, ada, beberapa,tidak semua, dan lain-lain.
Kalimat yang memuat ekspresi kuantitas Obyek yang terlibat, misalnya: semua, ada, beberapa,tidak semua, dan lain-lain.

Kalimat yang memuat ekspresi kuantitas Obyek yang

terlibat, misalnya: semua, ada, beberapa,tidak semua, dan lain-lain.

Ada dua macam, kalimat berkuantor:

1. Universal Quantifier 2. Existential Quantifier

Universal Quantifier (for all … ) Terdapat kata-kata yg mempunyai makna umum dan menyeluruh. 
Universal Quantifier (for all … ) Terdapat kata-kata yg mempunyai makna umum dan menyeluruh. 

Universal Quantifier (for all)

Terdapat kata-kata yg mempunyai makna umum dan menyeluruh.

Notasi: , dibaca semua, seluruh, setiap

Penulisan: x

S p(x)

Semua x dalam semesta S mempunyai sifat p

Contoh:

Semua orang yang hidup pasti mati

Setiap mahasiswa pasti pandai

Existential Quantifier (for some … ) Terdapat kata-kata yg mempunyai makna khusus/ sebagian.  Notasi:
Existential Quantifier (for some … ) Terdapat kata-kata yg mempunyai makna khusus/ sebagian.  Notasi:

Existential Quantifier (for some)

Terdapat kata-kata yg mempunyai makna khusus/ sebagian.

Notasi: , dibaca terdapat, ada, beberapa

Penulisan: y S q(y) Terdapat y dalam semesta S mempunyai sifat q

Contoh:

Ada siswa di kelas ini yang ngantuk

Beberapa mahasiswa ada yang mendapat nilai A untuk mata kuliah Pemrograman.

Ingkaran Pernyataan Berkuantor (  x) p(x) (  y) q(y) Contoh: = ( 
Ingkaran Pernyataan Berkuantor (  x) p(x) (  y) q(y) Contoh: = ( 

Ingkaran Pernyataan Berkuantor

(x) p(x) (y) q(y)

Contoh:

= (y) p(y) = (x) q(x)

1. p : Semua mahasiswa di kelas ini enjoy belajar Logika dan Algoritma ~p : Ada mahasiswa di kelas ini yang tidak enjoy belajar Logika dan Algoritma 2. q : Ada pejabat yang korupsi ~q : Semua pejabat tidak korupsi