Anda di halaman 1dari 5

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu sindrom terganggunya sistem metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin (Guyton dan Hall, 2007). Seseorang yang terkena DM selalu ditandai oleh naiknya kadar glukosa darah (hiperglikemi) dan tingginya kadar glukosa dalam urin (glukosuria) (Ganiswara et al., 2007). Manifestasi klinis DM diantaranya adalah peningkatan pengeluaran urin (poliuria), peningkatan nafsu makan (polifagia), dan peningkatan rasa haus (polidipsia). Jika tidak ditangani dengan baik, dapat menyebabkan komplikasi komplikasi yang berbahaya (Price, 2006). Dalam jangka panjang, penyakit penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi, misalnya atherosclerosis pada jantung, kaki dan otot, kerusakan saraf perifer, gangguan retina dan kerusakan ginjal (Murray et al., 2003). Organisasi kesehatan dunia WHO pada 20 Desember 2006 telah mengeluarkan resolusi Nomor 61/225 yang mendeklarasikan bahwa DM adalah ancaman global. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap DM di atas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang. Data WHO yang lain menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia akan menempati peringkat nomor lima sedunia dengan jumlah penderita DM sejumlah 12,4 juta orang dan pada tahun 2030 prevalensi DM di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Suyono, 2006).

DM dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan berdasarkan kebutuhan atas insulin, yaitu DM tipe I (Insulin Dependent Diabetes Melitus atau IDDM), DM tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus atau NIDDM) (Mycek et al,2001). DM tipe II lebih banyak ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di seluruh dunia (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005). Sebagian besar pengobatan untuk DM tipe II dilakukan dengan penggunaan obat diabetic oral. Menurut Widowati et al. (1997), beberapa obat anti diabetic oral (obat sintetis) memiliki efek samping yang merugikan, antara lain hipoglikemia, gangguan pada saluran cerna, dan reaksi alergi pada kulit. Oleh karena itu masyarakat selalu berupaya untuk mencari alternative pengobatan lain misalnya pengobatan dengan bahan alam. Di Negara berkembang konsumsi masyarakat terhadap obat tradisional mencapai 80% dari jumlah populasinya (Fransworth, 1996, Sunarsih et all., 2007). Pada penderita DM penyakit periodontal merupakan penyakit umum dan tersebar luas di masyarakat. Bisa menyerang anak-anak, orang dewasa maupun orang tua. Salah satu bentuk penyakit periodontal adalah keradangan yang menyerang jaringan periodontal, dapat hanya mengenai gingiva yang disebut dengan gingivitis atau mengenai jaringan periodontal yang lebih luas yaitu ligamen periodontal, sementum dan tulang alveolar (Kurniawati, 2005). Tanda-tanda klinis gingivitis berupa : kemerahan pada jaringan gusi, perdarahan , perubahan kontur, dan adanya kalkulus atau plak. Pemeriksaan histology pada gingival yang mengalami inflamasi menyebabkan ulserasi epithelium. Adanya mediator inflamasi member efek negative pada fungsi epithelial sebagai barrier perlindungan. Perbaikan ulserasi pada epithelium ini tergantung pada proliferasi atau regenerasi dari aktivitas sel epitel (Caranza, 2006). Tanda-tanda klinis dari perubahan warna dari ginggivitis diperngaruhi oleh beberapa faktor, termasuk jumlah dan ukuran pembuluh darah, ketipisan epitelial, kuantitas dari keratinisasi dan pigmentasi dalam epitelium. Perubahan warna merupakan tanda klinis yang penting pada penyakit gingiva. Warna gingiva normal adalah pink dan diproduksi oleh pembuluh darah jaringan dan dimodifikasi oleh lapisan epithelium. Karena alasn inilah, gingiva menjadi lebih merah ketika ada

peningkatan vaskularisasi atau karena keratinisasi epitelial berkurang atau tidak terlihat dan berlaku juga sebaliknya. Dengan demikian, inflamasi kronis dapat meningkatan derajat kemerahan, ini akibat proliferasi vaskuler dan berkurangnya keratinisasi yang diakibatkan tekanan jaringan yang terinflamasi (Caranza, 2006). Peranan epitel gingiva dalam pertahanan gingiva juga terjadi dengan adanya derajat keratinisasi dan pergantian epitel secara kontinyu. Pergantian sel epitel gingiva secara kontinyu dapat menyebabkan terlepasnya bakteri yang melekat pada permukaan sel epitel gingiva. Aktivitas mitotik sel epitel gingiva adalah setiap 24 jam sekali secara periodik. Hewan percobaan, waktu pergantian sel epitel gingiva adalah 5-6 hari, sedangkan pada junctional epitelium 1-6 hari (Arina, 2005). Jaringan epitel adalah struktur labil yang sel-selnya secara tetap dan teratur diganti baru melalui aktivitas mitosis, sedangkan mitosis terjadi pada lapisan germinal yaitu sel-sel yang paling dekat pada lamina basal. Pada lamina basal ini nutrisi dan prekursor produk sel epitel akan berdifusi menembus lamina basal dan masuk ke sel epitel melalui permukaan basolateral (Junquiera dkk., 2007). Reaksi vaskuler dan seluler yang hebat, epitel dengan cepat beregenerasi untuk mengembalikan fungsi pelindungnya. Selapis tipis epitel akan menutupi luka yang dimulai dengan mitosis sel basal epidermis dan diikuti dengan perpindahan epitel ke bawah tepi luka serta melewati tepi luka. Epitel berpindah sebagai suatu lembaran sampai berkontak dengan sel-sel epitel lain, pada saat ini semua gerak terhenti. Luka matur epitel menebal tetapi tidak pernah membentuk retepeg atau struktur epitel normal lainnya (Sabitson, 1995). Banyak tanaman yang diduga memiliki khasiat sebagai anti diabetes dan telah digunakan oleh masyarakat secara turun temurun, akan tetapi kebanyakan belum ada data ilmiahnya (Widowati et all., 1997). WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degenerative dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (WHO , 2003)

Menurut Purwandari et al , (2002), salah satu tanaman yang dijadikan sebagai obat tradisional untuk penyakit DM adalah herbal pletekan (Ruellia tuberose L.) yang termasuk dalam family Aachantaceacae yang juga berkhasiat sebagai antidiabetes adalah sambiloto (Andrographis paniculata. Kandungan kimia dalam sambiloto yang diduga sebagai antidiabetes adalah glikosida flavonoid (Yulinah et al., 2001). Secara taksonomi, golongan tanaman dalam satu family kemungkinan memiliki kandungan kimia dan khasiat yang hampir sama (Fransworth, 1996). Diduga herbal platekan juga memiliki khasiat sebagai antidiabetes. Untuk membuktikan bahwa herbal platekan berkhasiat sebagai antidiabetes perlu diadakan penelitian agar dapat diketahui apakah herbal pletekan memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian bioaktivitas dari tanaman terhadap kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan mengukur kadar glukosa darah hewan coba, yakni mencit, tikus, atau kelinci. Hewan percobaan dibuat dalam keadaan DM dengan cara pankreatomi atau zat yang yang bertindak sebagai inductor (diabetogen) seperti aloksan, streptozotosin, diaksida, adrenalin, glucagon serta EDTA. Zat zat tersebut diberikan secara parenteral (Widowati et al., 1997). Berdasarkan uraian dan berbagai pertimbangan di atas, maka penulis menginginkan untuk melakukan suatu penelitian tentang potensi atau manfaat ekstrak herbal pletekan yang pada nantinya akan dapat dikembangkan untuk pencegahan penyakit periodontal pada penderita DM sehingga meningkatkan keberhasilan akan perawatan dengan efektif agar lebih mudah dan murah. Peran ekstrak herbal pletekan menjadi alternatif dalam mengetahui bagaimana pengaruh ketebalan ekstra herbal pletekan terhadap peningkatan sel epitel pada penyakit periodontal, sehingga ketebalan sel epitel dapat meningkat dan mengurangi gingivitis pada penderita DM. Hal ini penting bagi dunia kedokteran gigi, khususnya di bidang periodonsia mengingat bahwa banyak laporan yang menyebutkan adanya kecenderungan terjadinya penurunan kesehatan gigi dan mulut yang berdampak pada kesehatan umum sehingga dapat menggangu produktivitas sumber daya manusia.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas tersebut, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan tentang bagaimana efek pemberian ekstra etanol herba platekan terhadap jumlah sel epitel pada tikus wistar jantan diabetes yang diinduksi aloksan. 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian ekstrak etanol herba platekan terhadap jumlah sel epitel pada tikus wistar jantan diabetes yang diinduksi aloksan. 1.4 Manfaat penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut ini
1. Sebagai tambahan informasi kepada masyarakat terutama pemerhati bidang

kesehatan, tentang pengaruh pemberian ekstra herba pletekan terhadap ketebalan epitel pada penderita diabetes melitus.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan penelitian lebih

lanjut dan sebagai pertimbangan, terutama berkaitan dengan penyakit periodontitis yang dapat mempengaruhi ketebalan epitel di bidang kedokteran gigi.