Anda di halaman 1dari 15

KURANG ENERGI PROTEIN DALAM RISKESDAS 2010

Makalah: Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah PPG Disusun Oleh: Anis Karomah 109101000078

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M 1432 H

BAB I PENDAHULUAN Masalah gizi merupakan masalah yang dianggap cukup serius di Indonesia ini. Mengapa? Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya kasus kesehatan, terutama dalam masalah gizi seperti defisiensi zat gizi, gizi kurang, gizi lebih, maupun gizi buruk seperti marasmus, kwasiorkhor, dan marasmus kwasiorkhor. Masalah-masalah tersebut lebih khususnya adalah merupakan maslah yang sangat erat kaitannya dengan balita, karena pada umur-umur tersebut, imunitas tubuh mereka masih rentan. Masalah-masalah tersebut harus segera ditanggulangi agar para balita, sebagai calon generasi masa depan tidak kehilangan kesempatan mereka untuk dapat belajar banyak hal tanpa masalah-masalah gizi yang baik secara langsung ataupun tidak akan mengganggu belajar mereka, bahkan mungkin dapat mempengaruhi kemampuan kognisi mereka. Masalah gizi merupakan masalah yang harus ditangani tidak hanya oleh pemerintah saja. Banyak peran yang dibutuhkan di sini untuk dapat terlaksana dan suksesnya program penanggulangan dan pencegahan terhadap masalahmasalah ini. Melibatkan banyak pihak seperti orang tua, guru, petugas kesehatan, serta pemerintah. Maka diharapkan adanya kerjasama yang baik antara seua pihak demi terselesaikan masalah-masalah gizi di negeri kita tercinta.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Riskesdas 2010 merupakan kegiatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. Tujuan menganalisis yang potong lintang Riskesdas data 2010 adalah mengumpulkan dan 2010 dan faktor adalah riset kesehatan mengevaluasi

pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs)

indikator

MDGs kesehatan Riskesdas penelitian

mempengaruhinya.

Desain

dan merupakan

non-intervensi.

Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS. Besar sampel sebanyak 2800 BS, diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB). Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota. Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut:

Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17,9 persen diantaranya 4,9 persen yang gizi buruk. Prevalensi balita gizi

kurang menurut (30,5%), dan Sementara

provinsi terendah

yang balita

tertinggi adalah Provinsi NTB Provinsi pendek Sulut (stunting) (10,6%). secara

adalah

itu prevalensi

nasional adalah sebesar 35,6 persen, dengan rentang 22,5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58,4 persen (NTT). Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13,3 persen, dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%), dan terendah adalah Bangka Belitung (7,6%).. 5 Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40,6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan tahun 2004. Berdasarkan kelompok minimal (kurang 24,4 dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan umur dijumpai persen Balita, 41,2 persen anak usia sekolah, 54,5 persen remaja, 40.2 persen Dewasa, serta 44,2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46,6%), dan Bengkulu (23,7%). Sedangkan hasil untuk pemberian ASI eksklusif secara terendah adalah provinsi

keseluruhan pada umur 0-1 bulan, 2-3 bulan, dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45,4 persen, 38,3 persen, dan 31,0 persen. ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan.

BAB III PEMBAHASAAN 3.2 Prioritas Masalah

Dalam prioritas masalah ini, masalah yang diambil adalah masalah terkait gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu masalah kurang energi protein (KEP), masalah ASI non esklusif, dan maslah defisiensi vitamin A (KVA). 3.2.1 Analisis Masalah dan Langkah Penentuan Prioritas Masalah a. Masalah : kasus gizi yang ada di dalam riskesdas 2010 b. Kelompok A (Besarnya masalah): prevalensi status gizi dan cakupan program c. Kelompok B (Serriousness ) : penyakit yang ditimbulkan, SPM dan menyebabkan kematian atau tidak d. Kelompok C (Kemudahan penanggulangan) : petugas yang menjalankan program e. Kelompok D (PEARL):
a. Appropriate: kesesuaian antara keberhasilan

program dengan prevalensi penyakit


b. Economy

: kemampuan individu untuk

mememenuhi kebutuhannya terhadap tuntutan masalah (termasuk biaya pengobatan)


c. Accept ability

: penerimaan masyarakat maupun

pihak penentu kebijakan terhadap msalah melalui tingkat kegawatan dan penyakit yang ditimbulkan d. Resources availability : petugas kesehatan (promosi kesehatan) yang memadai.
e. Legality

: kebijakan yang mengatur tentang

pentingnya maslah kesehatan tersebut untuk ditanggulangi

* Prioritas masalah ini menggunakan teknik Hanlon dalam menganalisisnya 3.2.1.1 Langkah 1 Besarnya Masalah Range: 1-10 Masalah Prevalens i KEP balita ASI non eksklusif KVA 3 9 12 6 8 4 Cakupan program 10 8 18 12 9 6 Total Rata-rata

Prevalensi KEP balita: Prevalensi (balita

balita

kurang

gizi

yang mempunyai berat badan kurang) secara

nasional adalah sebesar 17,9 persen diantaranya 4,9 persen yang gizi buruk. Ini berarti jumlah balita yang gizi kurang melebihi indikator maslah kesehatan masyarakat yaitu > 10 persen berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggraan perbaikan gizi masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. Prevalensi Asi non eksklusif: Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan, 2-3 bulan, dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45,4 persen, 38,3 persen, petunjuk dan 31,0 teknis persen. Sedangkan target untuk ASI standar perbaikan gizi pelayanan masyarakat minimal yang esklusif adalah 80 persen berdasarkan SPM berdasarkan penyelenggraan

dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. Prevalensi KVA: Persentase distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6-59 bulan sebesar 69,8%. Persentase tersebut bervariasi antar provinsi dengan persentase terendah di Papua Barat (49,3%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (91,1%). Sedangkan target distribusi kapsul vitamin A adalah 90 persen berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggraan perbaikan gizi masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. Cakupan program : Salah satu program penanggulangan KEP adalah pemberian minimal MP-ASI dengan target 100% gizi berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan penyelenggraan perbaikan masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. Cakupan program ASI non eksklusif: target bayi yang diberikan ASI ekslusif adalah 80 % berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggraan Gizi Masyarakat. Cakupan KVA : target distribusi kapsul vitamin A adalah 90 % berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggraan perbaikan gizi masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. 3.2.1.2 Langkah 2 Serriousness (Kegawatan) perbaikan gizi masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat

Range : 1-10 Masalah Pykt yg dtmbulk an KEP balita ASI non eksklusif KVA 4 9 4 17 8,5 8 7 10 8 8 6 26 21 13 10,5 SPM Keletalan Total Ratarata

Penyakit marasmus,

yang

ditimbulkan

oleh

masalah kwasiorkhor

KEP: dan

kwashiorkhor,

marasmus

penyakit infeksi seperti diare dan ISPA, Penyakit yang ditimbulkan oleh masalah ASI non eksklusif: gangguan pencernaan dan imunitas rendah sehingga rentan terhadap penyakit. Penyakit yang ditimbulkan oleh masalah KVA : merusak kebutaan. SPM KEP: Salah satu program penanggulangan KEP adalah pemberian minimal MP-ASI dengan target perbaikan 100% gizi berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan penyelenggraan masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. SPM ASI non eksklusif: target bayi yang diberikan ASI ekslusif petunjuk adalah 80 % berdasarkan gizi SPM berdasarkan minimal yang teknis standar perbaikan pelayanan masyarakat jaringan mata hingga dapat menyebabkan

penyelenggraan

dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. SPM KVA : target distribusi kapsul vitamin A adalah 90 % berdasarkan SPM berdasarkan petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggraan perbaikan gizi masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. Keletalan penyebab tubuh fungsi KEP: sangat besar karena energi akan kemungkinan penyakit secara melambat menjadi kematian marasmus, yang dengan

kwashiorkhor, marasmus kwasiorkhor yang menyebabkan kekurangan organ tubuh ekstrim seiring mengakibatkan hilangnya tenaga dan lama kelamaan sedikitnya pasokan energi dalam tubuh. Keletalan ASI non eksklusif : lebih kronik, karena penyebab kematian baru bisa dimungkinkan dengan adanya infeksi yang berat. Keletalan KVA : dampaknya terbatas pada penglihatan dan tidak sampai menimbulkan kematian.

3.2.1.3 Langkah 3 Kemudahan Penanggulangan Range : 0,5-1,5 Masalah KEP balita ASI non eksklusif KVA Petugas yang menjalankan program 1,0 1,0 1,0

Petugas yang menjalankan program KEP balita, ASI eksklusif, dan KVA : Dalam setiap puskesmas memiliki unit pelaksana teknis fungsional yang melakukan upaya kesehatan masyarakat, sehingga ketiga program tersebut juga sudah pasti masuk ke dalam upaya kesehatan masyarakattersebut 3.2.1.4 Langkah 4 PEARL Range : 1 or 0 Masalah Appro priate Econo mic feasib ility KEP balita ASI non eksklusif KVA 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 Accep t ability Resou rces Legalit y PxExAxR xL

Appropriate Masyarakat)

Pemerintah

(Direktorat stock

Bina MP-ASI

Gizi untuk

menyediakan

Buffer

daerah bencana, KLB gizi, dan situasi sulit lainnya. Pada kenyataanya, pemerintah memang memberikan MP-ASI pada anak gizi buruk. Berdasarkan perhitungan deteksi ASI eksklusif yang dilakukan oleh Kemenkes, Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat pada pedoman pelaksanaan surveilans gizi di Kabupaten/ Kota, menyatakan bahwa dari cakupan ASI eksklusif yang seharusnya terkoreksi adalah 80 persen, dalam perhitungan ini hanya terkoreksi 40 persen saja yang ASI eksklusif. Pada kasus KVA, kesesuaian target

distribusi

dengan

jumlah

kapsul

vitamin

yang

terdistribusi hanya mencapai 2/3 dari yang ditargetkan. Economic feasibility KVA: kapsul vitamin A dapat diperoleh secara gratis melalui program pemberian kapsul vitamin A setahun 2 kali yaitu pada bulan Februari dan Agustus. ASI eksklusif : ASI sangatlah mudah didapat karena tidak harus membeli, dan walaupun si ibu bekerja, ibu tetap dapat memberikan ASI eksklusif bagi bayinya (memompa dan menyimpannya dalam botol). KEP : pemerintah telah memeberikan MP-ASI kepada balita penderita gizi buruk secara gratis . Accept ability dengan melihat pada kegawatan dan keseriusan ketiga masalah tersebut, maka ketiga masalah tersebut dapat diambil kesimpulan yaitu dapat diterima oleh masyarakat dan penentu kebijakan untuk langkah penanggulangan yang lebih baik. Resource puskesmas merupakan unit kesehatan strata pertama yang paling dekat dengan masyarakat yang bertugas untuk menjalankan program yang ditetapkan oleh dinas kesehatan pusat. Dalam setiap puskesmas memiliki unit pelaksana teknis fungsional yang melakukan upaya kesehatan masyarakat, sehingga ketiga program tersebut juga sudah pasti masuk ke dalam upaya kesehatan masyarakattersebut. Legality pada ketiga masalah tersebut telah ada penanggulangannya menurut standar pelayanan minimal penyelenggraan perbaikan gizi masyarakat yang dikeluarkan oleh depkes RI Dikjen Bina Kesmas Direktorat Gizi Masyarakat. KEP ditanggulangi dengan pemberian MP_ASI. ASI non eksklusif ditanggulangi dengan

penyuluhan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan untuk masalah KVA ditanggulangi dengan pemberian kapsul vitamin A. 3.2.1.5 Analisis Menetapkan Skor Masukkan nilai ke dlm formula: Nilai Prioritas Dasar (NPD) : (A+B) C Nilai Prioritas Total (NPT) : (A+B)C*D Masalah KEP balita = NPD = (9+13)1,0= 22,0 Masalah ASI non eksklusif = NPD = (6+10,5)1,0=16,5 Masalah KVA = NPD = (6+8,5)1,0=14,5 Masalah NPD Nilai PEARL KEP balita ASI non eksklusif KVA 14,5 0 0 III 22,0 16,5 1 0 22,0 0 NPT Urutan prioritas I II

Dari skor yang telah dihitung, maka kita dapat mengetahui bahwa masalah KEP pada balita merupakan urutan prioritas yang pertama, diikuti dengan masalah ASI non eksklusif, kemudian masalah KVA. 3.3 Identifikasi Masalah Analisis Pohon Masalah
KEMATIAN

Bertambahnya paling cepat) Kehilangan masa emas (perkembangan otakpenyakit kronik (termasuk juga penyakit infeksi) ()((

DAUN

KEKURANGAN ENERGI PROTEIN

MASALAH

3.4. Program dan Tujuan Program Program yang akan dilakukan untuk menanggulangi dan mencegah masalah kurang energi protein pada balita ini bertema Aku Sayang Anakku dengan beberapa program di dalamnya. Program yang akan dilakukan antara lain:

Program pelatihan petugas kesehatan tentang masalah gizi masyarakat dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Program perbaikan gizi rumah tangga Program pendidikan bagi ibu rumah tangga Program pemberian makanan tambahan kepada balita gizi buruk

3.4.1 Tujuan Umum


Menanggulangi dan mencegah masalah KEP pada balita

dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu terhadap kebutuhan gizi balita serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan tentang masalah gizi di masyarakat dan pelayanannya kepada masyarakat. 3.4.2 Tujuan Khusus

Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan petugas dalam memberikan pelayanan dan penanganan gizi yang berkualitas. Memberikan informasi dan pendidikan kepada masyarakat terkait upaya perbaikan gizi Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu terhadap kebutuhan gizi balita Memperbaiki gizi rumah tangga masyarakat Meningkatkan berat badan balita dengan program pemberian makanan tambahan (PMT)

Reference: Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Riskesdas 2010 Minarto, MPS, DR. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat (RAPGM) TAHUN 2010-2014 diakses pada 27 desember 2011 dari : http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/658