Anda di halaman 1dari 5

RAMUAN OBAT ALAMI UNTUK PENYAKIT MALARIA DARI SIMPLISIA TINOSPORA CRISPA

OLEH : Kelompok 8
Wisda Pradja(09613146) Aprianto(09613127) Trifitria handayani (09613129) Famela mentari (09613130) Farida Ulfa(09613150)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

A. PENDAHULUAN Malaria adalah penyakit infeksi Plasmodium yang penyebarannya di dunia sangat luas dan menyebabkan tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp yang terinfeksi. Berat ringan infeksi tergantung jumlah parasit plasmodium dalam tubuh, yang akan terlihat dari gejala klinis (demam periodik, splenomegali, dan anemia ). Pertumbuhan malaria terjadi secara seksual yaitu di dalam tubuh nyamuk anopheles sp dan secara aseksual di dalam tubuh manusia. Parasitemia adalah suatu keadaan dimana parasit malaria kita temukan dalam darah penderita, kadarnya bisa sangat tinggi terutama pada penderita yang berada dalam keadaan imunocompromised. Angka parasitemia yang dianggap positif jika mempunyai angka parasitemia minimal 2-3%. Pemberantasan malaria menghadapi kendala antara lain resistensi obat malaria. Hal inilah yang mendorong perlunya diteliti obat anti malaria baru.

B. LATAR BELAKANG Dengan semakin berkembangnya penggunaan tanaman sebagai pengobatan disamping penggunaan obat-obat kimia,oleh karena itu kami mencoba untuk ikut serta dalam perkembangan pembuatan simplisia dari tanaman obat.dengan memperhatikan kemudahan memperoleh simplisia, harga ekonomis, dan bukti ilmiah kami memilih simplisia tinospora crispa.

C. TUJUAN Penggunaan batang tinospora crispa untuk mengobati penyakit malaria dibandingkan dengan klorokuin.

D. TANAMAN Sinonim : Tinospora tuberculata, T. rumphii Nama daerah : jenu, andawali, putrawali, bratawali Brotowali adalah tanaman perdu memanjat, dengan tinggi batang umumnya sampai 2,5 cm, batang berkutil-kutil rapat, pegangan mudan terkelupas.daun bertangkai,

panjang 16 cm, bentuk seperti jantung atau agak bundar telur berujung lancip, tumbuh liar di hutan atau ladang. Tempat tumbuh :berasal dari Asia Tenggara (Melayu, Filipina, Jawa, Bali,Ambon). Bagian yang digunakan : Batang Kandungan kimia : Glikosida pikroretosida, alkaloid berberin dan palmatin dan harsa.

E. PERUMUSAN T. crispa telah banyak digunakan untuk pengobatan. Ekstrak kasar dari T. crispa dapat digunakan sebagai anti inflamasi, anti diabetik, antimalaria, dan analgetik. Secara umum di dalam tanaman T. crispa terkandung. Dalam penelitian sebelumnya Ekstrak batang Tinospora crispa yang mengandung senyawa tinokrisposid terbukti mampu menekan perkembangan P. berghei dalam darah mencit dan memperpanjang hidup mencit yang terinfeksi. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian T.crispa dapat menurunkan tingkat parasitemia sehingga dapat digunakan sebagai antimalaria, tetapi tidak didapat perbedaan yang bermakna antara T.crispa dengan klorokuin.Tingkat parasitemia dipengaruhi oleh sistem imun dan non imun. Pada sistem imun, sejumlah sitokin yang berbeda diproduksi selama perjalanan malaria. Ini mencakup IL-1. IL-2, IFN- , TNF, LT, dan IL-6. Diduga sitokin-sitokin ini berkontribusi dalam memperbesar imunitas dan juga patofisiologi penyakit. TNF dan LT berinteraksi dengan neutrofil melalui reseptor permukaan. Pada neutrofil ditemukan kedua jenis reseptor TNF. Efek keseluruhan dari interaksi TNF-sel menyebabkan peningkatan ekspresi reseptor integrin dan meningkatkanadherence terhadap berbagai substrat dan sel. Limfosit T yang distimulasi melalui pengikatan pada neutrofil dan melalui pelepasan LT dan IFN- , mengaktifkan dan memancing neutrofil untuk meningkatkan pembunuhan parasit malaria. Disamping ini, sel T dapat mengaktifkan makrofag menginduksi pelepasan TNF dan IL-1 yang menarik netrofil untuk meningkatkan pembunuhan parasit. Pada sistem non imun bekerja di fase eritrositer

dengan cara menghambat pertumbuhan parasit di dalameritrosit. Berdasar penelitian yang telah dilakukan oleh Zambrut, T.crispa dengan adanya senyawa tinokrisposid dapat bekerja dengan menghambat pertumbuhan parasit. Akan tetapi sampai saat ini mekanisme penghambatan pertumbuhan parasit tersebut masih belum diketahui. T. crispa dapat digunakan sebagai antimalaria karena diharapkan memiliki mekanisme kerja yang hamper sama dengan klorokuin yaitu berhubungan dengan sintesis asam nukleat dan nukleoprotein yaitu menghambat DNA polimerase dan RNA polimerase, akan tetapi efek klorokuin lebih cepat dibandingkan dengan T. crispa yang baru timbul pada hari kelima sedangkan klorokuin mulai menimbulkan efek pada hari keempat.

F. PROSES PEMBUATAN RAMUAN. R/ batang tinospora crispa 2 jari tangan

Pembuatan : batang brotowali dirajang tipis , direbus dengan air 3 gelas sampai tersisa 2 gelas, saring kemudian tambahkan gula/madu secukupnya

G. DOSIS

Anak 6-8 th 3x sehari gelas Anak 9-12 th 3x sehari 1/3 gelas Dewasa 3x sehari gelas

H. HARAPAN KEDEPAN Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut terhadap brotowali dan efek sampingnya

I. DAFTAR PUSTAKA
1. Zambrut Adek, Gusmali M. Desy, Mukhtar Husni M. Aktivitas Antimalaria

Senyawa Tinokrisposid Secara In vivo. Cermin Dunia Kedokteran No.131. 2001

2. Sawitri,Retno,2006,Pengaruh pemberian ekstrak batang tinospora crispa

dibandingkan dengan klorokuin terhadap tingkat parasitemia mencit swiss yang di infeksi plasmodium berghei,Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro,Semarang.
3. Kresnady Budi. Khasiat dan Manfaat Brotowali Si Pahit yang

Menyembuhkan. Jakarta: Agromedia Pustaka,2005 ; 10-14