Anda di halaman 1dari 2

Bisnis Indonesia, Edisi: 17-AUG-2008

Memilih arbitrase untuk atasi sengketa

Masalah yang timbul dalam praktik governance pada tingkat tertentu dapat memicu ke tingkat sengketa. Seperti kasus Jamsostek, yang pada awalnya merupakan masalah hubungan tidak harmonis antara dirut dan dewan komisaris, berkepanjangan hingga sampai tingkat RUPSLB. Dalam perspektif hukum kejadian ini merupakan hal yang kurang tepat. Terlebih lagi dalam perspektif GCG, kasus Jamsostek ini mencerminkan contoh governance yang kurang baik.

Demikian juga dengan kasus PT Dirgantara Indonesia yang pada awalnya merupakan masalah manajemen di perusahaan tersebut, diperburuk oleh faktor krisis moneter, dan berlanjut dengan berbagai gejolak ketidakpuasan berbagai pihak atas cara penyelesaian yang ditempuh oleh perseroan hingga kasusnya berakhir di MA.

Menyimak kedua kasus di atas, maka sudah selayaknya kasus yang berkaitan dengan praktik governance dapat diselesaikan melalui jalur di luar pengadilan, yaitu arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.

Berbagai manfaat praktis dapat diperoleh dengan penyelesaian sengketa melalui arbitrase, antara lain tidak perlu mengikuti formalitas yang kaku, biaya yang relatif murah, keputusan yang lebih memuaskan karena ditangani oleh arbiter yang dipilih para pihak berdasarkan keahliannya, dan dari segi bisnis merupakan pilihan yang paling efisien.

Menurut Mariam Darus, lembaga arbitrase ini mempunyai kelebihan dibandingkan lembaga peradilan, yakni jaminan atas kerahasiaan sengketa para pihak, dan menghindari kelambatan yang diakibatkan oleh aspek administratif.

Menurut Pasal 1 Angka (1) UU No. 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Selanjutnya, Angka (10) Pasal yang sama menyebutkan bahwa Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) adalah lembaga penyelesaian sengketa melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

Dengan demikian, UU membuka peluang untuk penyelesaian sengketa yang bersifat perdata melalui jalur di luar pengadilan, yaitu arbitrase atau APS. Selanjutnya, Pasal 5 Ayat (1) UU Arbitrase & APS, menyebutkan bahwa "Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan sengketa hak yang menurut peraturan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa."

Jalur arbitrase

Dalam hubungannya dengan masalah sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase, Remy Sjahdeini pernah berpendapat bahwa sengketa kepailitan merupakan sengketa yang seyogyanya dapat diselesaikan melalui jalur arbitrase.

Dengan kata lain lembaga arbitrase seharusnya berwenang untuk menyelesaikan sengketa kepailitan, di samping Pengadilan Niaga. Berdasarkan Keputusan MA, Putusan No. 21 PK/N/1999, ditentukan bahwa perkara kepailitan tidak dapat diajukan penyelesaiannya kepada arbitrase, karena telah diatur secara khusus dalam UU No. 4/1998 tentang Kepailitan. Sesuai

dengan ketentuan Pasal 180 Ayat (1) UU Kepailitan, yang berwenang memeriksa dan memutus perkara kepailitan adalah Pengadilan Niaga.

Sejalan dengan hal ini pula, apabila ketentuan dalam Pasal 5 Ayat (1) UU Arbitrase & APS ini dihubungkan dengan masalah corporate governance, maka sengketa terhadap masalah corporate governance sebagaimana telah diuraikan, pada dasarnya dapat digolongkan pada jenis sengketa yang kedua.

Dengan demikian, terbuka peluang bagi para pihak yang bersengketa dalam masalah corporate governance untuk membawa masalah ini ke forum arbitrase, apabila jalur penyelesaian secara internal tidak memperoleh titik temu.

Namun, ada beberapa syarat lain agar suatu sengketa dapat diselesaikan melalui arbitrase. Hal

ini merupakan prasyarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 UU Arbitrase & APS yaitu

apabila para pihak yang bersengketa "telah mengadakan perjanjian arbitrase yang secara tegas menyatakan bahwa semua sengketa atau beda pendapat yang mungkin timbul dari hubungan hukum tersebut akan diselesaikan dengan cara arbitrase atau melalui APS."

Prasyarat ini dapat menjadi kendala utama bagi sengketa corporate governance untuk dapat diselesaikan melalui arbitrase, mengingat anggaran dasar perseroan yang menjadi payung hukum dalam suatu perseroan, lazimnya tidak mencantumkan klausul arbitrase.

Di samping itu, ketentuan hukum yang lebih generik, seperti UU PT tidak mencantumkan

ketentuan yang membuka peluang penyelesaian melalui arbitrase, melainkan melalui Pengadilan Negeri.

Dalam kerangka hukum perusahaan, kedudukan anggaran dasar perseroan memiliki fungsi strategis yang dapat memuat ketentuan yang lebih luas dan rinci dibandingkan UU PT dan UU sektoral lainnya.

Dengan demikian, pada dasarnya perusahaan memiliki peluang untuk mencantumkan klausul arbitrase dalam anggaran dasar perseroannya. Format anggaran dasar yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman yang digunakan notaris, merupakan model yang masih dapat disisipi klausul oleh para pihak sepanjang tidak bertentangan dengan asas-asas hukum.

Oleh karenanya, apabila klausul arbitrase dapat dicantumkan dalam anggaran dasar perseroan, maka prasyarat arbitrase sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dapat dipenuhi terlebih dahulu. Misal pencantuman klausul arbitrase dalam perjanjian kerja yang dibuat antara manajemen dan karyawan atau perjanjian dengan pemasok, mitra bisnis, kreditur, dan debitur.

Dengan pencantuman pactum arbitrii dalam setiap dokumen hukum perusahaan, maka hal ini membuka pintu dimungkinkannya penyelesaian masalah corporate governance melalui jalur arbitrase.

Mas Achmad Daniri Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance

Ratna Januarita Anggota Komite Nasional Kebijakan Governance