Anda di halaman 1dari 7

MEANT TO BE YOURS

Hai! Boleh kenalan gak? Nama gue David. Loe siapa? Mmm Gue Vina. Oh ya, loe kelas berapa? Gue kelas X-1, kalo loe? X-1? Wah berarti kita sekelas dong Hahaha Bakalan seru nih nanti! Hahaha Begitulah perkenalan David dan Vina, 2 orang siswa SMA yang sedang dalam Masa Orientasi Siswa atau MOS. Cara perkenalan mereka memang tidak begitu spesial, sama dengan cara perkenalan remaja pada umumnya. Tetapi melalui perkenalan tersebut mereka menjadi cepat akrab sejak MOS. Vina sebenarnya berasal dari Belanda, tetapi sejak kecil ayahnya yang berkebangsaan Indonesia tetap mengajarkan bahasa Indonesia kepadanya. Dan mengapa ia pindah ke Indonesia adalah karena ayah Vina mendapat pekerjaan dari kantor untuk membuka kantor cabang di Indonesia. Sedangkan David, dia adalah seorang anak kota metropolitan yang bisa dibilang cukup mapan. Orang tuanya memiliki beberapa perusahaan di Jakarta. Tetapi David selalu diajarkan untuk berusaha sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan juga dia adalah seorang yang ramah, dia tidak pernah menyombongkan dirinya atas kekayaan yang dimilikinya. MOS pun berakhir, dan sekarang saatnya untuk para siswa baru memulai kegiatan belajarnya di sekolah. Senin pagi, David telah datang dan mengambil kursi di dekat jendela. Tak lama kemudian George, sahabat David sejak SMP datang, dan langsung duduk di sebelah David. Kemudian mereka pun mulai bercakap-cakap. Mereka membicarakan tentang kegiatan MOS yang baru saja mereka lewati. Vid, gimana kemarin MOS-nya menurut loe? tanya George. Seru banget! Apalagi gue bisa kenalan sama banyak temen baru, ujar David. Terus, ada cewek yang loe taksir gak? tanya George sambil tertawa kecil. Mmm . Kalo yang gue taksir sih belum ada, tapi ada satu cewek yang seru banget deh! Ciiee . Siapa namanya?

Nanti aja loe liat sendiri, dia dari Belanda, lumayan cakep juga sih . Kenalin ke gue dong . Bagi-bagi dong kalo ada cewek cakep! Loe kira permen dibagi-bagi? Makanya cari sendiri . Setelah mereka melakukan obrolan singkat tersebut, Vina pun datang. Tetapi karena mereka terlalu asyik ngobrol, David tidak sadar kalau ternyata Vina sudah datang. Kemudian bel tanda masuk pun berbunyi. Wali kelas mereka, Pak Yohanes pun masuk. Di hari pertama pelajaran, semua murid terlihat cukup bersemangat memulai pelajaran mereka. Kelas sangat kondusif untuk belajar. Di tengah-tengah pelajaran, Pak Yohanes mengatakan bahwa ia akan membuat denah tempat duduk. Serentak para murid mengeluh mendengar kalimat Pak Yohanes. Tetapi Pak Yohanes hanya tersenyum. Pak Yohanes memang terkenal sebagai guru yang paling murah senyum di satu sekolah tersebut. Beliau adalah guru Biologi untuk kelas X. Bel istirahat pun berbunyi, semua murid segera menuju kantin untuk membeli makanan begitu juga dengan David dan George. Sesaat sebelum mereka keluar dari kelas, terlihat Vina yang masih di kelas. Kemudian David pun mendekatinya dan mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama dengan George. David pun memperkenalkan Vina pada George. George melihat keakraban yang terjadi antara David dan Vina. Dalam hatinya George berpikir bahwa mereka memang terlihat sangat cocok. Tetapi ia hanya memendamnya sendiri, David tidak mengetahui akan hal tersebut. Di kantin, David membelikan makanan untuk Vina dan mereka makan itu bersama dengan George. George pun menyindir, Kok cuma Vina yang dibeliin, Vid? Gue juga mau dong . Hahaha . David hanya tersenyum atas sindiran George, sementara Vina tersipu malu mendengar kalimat tersebut. Saat istirahat itu dihabiskan oleh ketiga sahabat tersebut untuk lebih mengenal satu sama lain. Setelah selesai, mereka pun kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi. Kali ini, George dan David tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Karena George penasaran dengan hubungan David dan Vina. Vid, kok loe bisa sih deket banget ama si Vina? tanya George. Ya elaah George . Dia kan anak baru, terus dia belum punya banyak temen baru di sini, jadi gue kenalan ama dia n jadi deket deh sekarang, jawab David. Terus loe suka gak ama Vina?

Ya dia sih baik, cakep, n juga seru anaknya! Ciiieeee . Jadi loe suka nih ama dia? Ehem ehem . Bukannya gitu George . Masa gue gak boleh muji dia? kan emang kenyataannya dia begitu . Iya kan? Iya aja deh gue . Hahaha . Hati-hati aja nanti kalo gue deketin dia, loe malah marah ke gue! Sebelum David sempat menjawab, Bu Gita merasa terganggu dan akhirnya beliau menegur David dan George. Bapak-bapak, gosipnya lanjut nanti aja yaahh . tegur bu Gita. Seluruh kelas pun menertawakan David dan George. Termasuk Vina yang ikut tertawa mendengar teguran dari bu Gita. Sisa hari itu, akhirnya dihabiskan dengan tertib oleh seluruh siswa. Dan saat bel pulang berbunyi, seluruh siswa segera keluar. Lagi-lagi Vina menunggu hingga kelas sepi baru keluar. David yang melihat hal tersebut pun kembali mendekati Vina, dan akhirnya mereka keluar bersama. Nanti loe dijemput ya Vin? tanya David. Iya Vid, makasih ya tadi udah ngejajanin gue. Tuh mobil gue udah datang, gue duluan ya Vid! Bye! Oke deh, bye! Sepulangnya Vina dari sekolah, ia menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi kepada ibunya. Ibunya cukup senang mendengar cerita Vina tentang David. Menurut ibunya, David adalah anak yang baik. Dan dia sangat mendukung supaya putrinya tetap berteman dengan David. Di sisi lain, David yang mulai diejek oleh George mulai berpikir apakah mungkin ia dan Vina bisa menjadi pasangan. Semalaman ia memikirkan tentang hal tersebut. Ia memang memuji tentang kelebihan Vina, tetapi itu hanya sebatas kekaguman biasa tidak lebih. Semakin dipikirkan olehnya, semakin dalam kekaguman itu terhadap Vina. Keesokan harinya, ia pergi bersekolah seperti biasa. Kali ini ia telah didahului oleh Vina. Dan karena kelas masih sepi, ia pun duduk di sebelah Vina. Mereka berbicara tentang diri mereka masing-masing. Tidak lupa, mereka bertukar nomor handphone dan PIN BlackBerry. Kelas pun mulai ramai, dan George akhirnya datang. Melihat sahabatnya sedang bersama Vina, ia segera menghampirinya dan duduk di dekat mereka. Kemudian mereka bertiga saling berbicara terlihat sangat dekat. Sepanjang pagi itu, David yang duduk bersama Vina tidak bisa

menahan hasrat untuk terus berbicara dan bercanda dengan Vina. Kembali lagi saat istirahat David, Vina, dan George pergi ke kantin bersama dan menikmati jajanan kantin yang tersedia. Tetapi kali ini Vina membeli sendiri makanan yang dia mau, tidak seperti kemarin di mana David membelikannya makanan. Saat mereka duduk makan bersama, banyak teman-teman perempuan David yang ikut bergabung bersama mereka. Mereka berkenalan dengan Vina dan segera bertukar nomor handphone serta PIN BlackBerry supaya dapat mengenal Vina lebih dalam. Seusai istirahat, mereka bertiga kembali ke kelas, dan lagi-lagi, David dan Vina terus bercanda dan bercakap-cakap. Selama satu hari di sekolah, mereka berdua banyak menghabiskan waktu mereka untuk bercanda dan bercakap-cakap. Sepulang sekolah, David dan Vina yang telah bertukar PIN mulai BBM-an, seperti yang dilakukan oleh para remaja zaman sekarang. Awalnya mereka memang sering bercanda melalui BBM tersebut, tetapi lama kelamaan dengan bertambahnya frekuensi pertemuan mereka, tumbuhlah rasa suka terhadap keduanya. Saat David mulai merasakan hal tersebut, ia segera memberitahu George. Tentu saja George tidak kaget, karena dia sendiri telah memprediksikan apa yang akan terjadi dengan mereka. Dan dia sangat mendukung David jika memang David ingin berpacaran dengan Vina. Di lain pihak, Vina yang selalu terbuka kepada orang tuanya terutama ibunya, menceritakan apa yang sedang dialaminya sekarang. Ibunya cukup senang mendengar hal itu, tetapi ayahnya hanya berpikiran bahwa itu cuma cinta monyet yang sering dialami para remaja seusia Vina. Tetapi itu semua kembali kepada Vina. Setelah melalui setengah semester pembelajaran, David telah memantapkan niatnya untuk melakukan pendekatan alias PeDeKaTe terhadap Vina. Tentu saja Vina meresponnya dengan sangat baik. Sebenarnya tanpa PDKT pun, David sudah pasti akan diterima oleh Vina jika ia menyatakan perasaannya kepada Vina secara langsung. Mungkin karena Vina yang memang terlihat akrab dengan semua orang membuat David menjadi kurang yakin. Di hari ulang tahun Vina yang jatuh pada tanggal 18 Oktober, David memberikan sebuah kejutan spesial untuknya. Ia meletakkan sebuah kue ulang tahun dan sebuah surat di dalam loker Vina. Surat itu bertuliskan, This cake was specially made for you, my dear Vina. From: your classmate. Perasaan bahagia memenuhi Vina dan dengan segera, David menghampiri Vina dengan membawa sebuah kotak. HAPPY BIRTHDAY VINA! ucap David dengan penuh

semangat. Senyuman terpancar jelas di muka kedua orang ini. Tak jauh dari situ, terlihat George sedang merekam semua kejadian itu dari awal hingga selesai. Ternyata sebelumnya David telah meminta George untuk merekam kejadian tersebut. Bukan hanya George yang melihat hal tersebut, semua orang yang sedang berada dekat dengan loker Vina termasuk guru-guru pun melihat hal tersebut. Sayang sekali karena David tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan perasaannya kepada Vina. Mungkin karena terlalu banyak mata yang menyaksikan kejadian tersebut. Di malam harinya, Vina mengundang David untuk ikut makan malam bersama keluarganya. Walaupun ada sedikit rasa takut, tetapi ia memberanikan dirinya untuk datang pada acara yang diadakan oleh Vina. Setibanya ia di rumah Vina, ia disambut dengan sangat hangat oleh keluarga Vina. Keterbukaan dan kehangatan dari keluarga Vina sangat terlihat jelas ketika acara makan malam tersebut dimulai. Apa yang ditakutkan oleh David sama sekali tidak terjadi. Malah, David bisa berbaur dengan semua anggota keluarga Vina. Kian lama, hubungan David dan Vina semakin dekat. Mendekati hari-hari ulangan umum, hubungan mereka memang sedikit meregang. Namun seusai melewati semua ulangan tersebut, mereka kembali dekat. Terlebih saat hari Natal mereka merayakannya dengan penuh sukacita. David pun mulai yakin bahwa Vina juga tertarik kepadanya. Maka ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Vina tepat pada malam pergantian tahun. 31 Desember 2009, hari yang telah ditunggu-tunggu oleh David. Ia telah membuat janji bersama Vina. Mereka akan pergi menikmati makan malam di sebuah restoran yang memiliki pemandangan sangat indah. Sky dining, itulah yang direncanakan oleh David. Sebelum mereka menikmati makan malam tersebut, mereka pergi ke sebuah mall dan menonton sebuah film. Pukul 22.00, mereka datang ke restoran yang telah dipesan oleh David sebelumnya. Sebuah lilin dan suasana kota pada malam membuat semuanya terasa begitu indah. Makanan yang telah dipesan pun akhirnya datang, dan mereka mulai menyantap hidangan yang telah tersedia. Menjelang pukul 00.00, langit telah dipenuhi dengan banyak kembang api. Vina . Emmm . David menjadi gugup. Kenapa Vid? tanya Vina.

Di penghujung tahun 2009 ini, aku cuma mau bilang, kalo aku seneng banget bisa kenal sama kamu, jawab David. Aku juga Vid. Jarang banget aku punya temen cowok kayak kamu. Dan sebenarnya, udah dari beberapa bulan terakhir ini, aku suka sama kamu. Itu sebabnya malam ini aku merencanakan sebuah makan malam dengan kamu. Vina tersenyum dan berkata, Sebenarnya aku juga suka sama kamu Vid. David senang sekali mendengar hal tersebut. Jadi, maukah kamu untuk memasuki tahun baru 2010 ini sebagai pasanganku? Iya Vid aku mau! jawab Vina. David mengambil tangan Vina dan kemudian mencium tangannya. Lalu ia berkata, Terima kasih Vina. Aku sayang kamu. Aku juga sayang kamu, balas Vina. Mereka melanjutkan sisa malam itu sebagai sepasang kekasih. Langit malam yang penuh dengan warna-warni kembang api membuat atmosfir yang sangat romantis untuk kedua pasangan ini. Setengah jam kemudian, mereka meninggalkan tempat tersebut. Sisa liburan sekolah dihabiskan dengan penuh cinta oleh kedua kekasih ini. Masa liburan yang menyenangkan pun berganti menjadi kesibukan hari sekolah. Sebagai pasangan baru, belum banyak yang tahu tentang hubungan mereka. Orang pertama yang mengetahui hal tersebut tentu saja George. Dia senang sekali mendengar kabar bahagia tersebut. Saat kembali lagi ke sekolah, George sangat senang melihat David dan Vina yang sekarang telah resmi berpacaran. Ciiieee . New couple . Ehem ehemm . ucap Geore. David dan Vina hanya tersenyum ketika George mengucapkan hal tersebut. Mulailah murid-murid di kelas itu mengetahui tentang hubungan David dan Vina. Mereka juga ikut senang mendengar hal tersebut. Satu bulan sudah David dan Vina berpacaran. Menurut teman-teman David, banyak perubahan yang dialaminya. David yang dulu dicap sebagai playboy karena mudah dekat dengan semua wanita, sekarang menjadi seorang yang sangat setia dan sangat baik terhadap Vina. David yang dulu memiliki sejuta keusilan untuk mengerjai temannya, mulai meninggalkan hal tersebut. Hingga teman-teman David berpikiran bahwa Vina memang ditakdirkan untuk

David. Karena selama ini, sekalipun David sedang berpacaran pasti ia tetap dekat dengan banyak wanita sehingga seringkali ia diputuskan oleh pacar-pacarnya karena alasan tersebut. Lima bulan berpacaran keduanya terlihat semakin dekat dan semakin mesra. Namun sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian sekolah. Di semester yang lalu, hubungan mereka sempat meregang menjelang ujian. Apakah kali ini mereka akan mengulang hal yang sama? Ternyata tidak, mereka hanya mengurangi frekuensi pertemuan mereka hingga ujian berakhir. Keduanya pun dapat melalui ujian sekolah dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Setiap pasangan pastilah memiliki permasalahan dalam hubungannya entah kecil atau besar. Ini juga yang sedang terjadi dalam hubungan David dan Vina. Di bulan keenam mereka berpacaran, Vina didekati kembali oleh mantannya dari Belanda. Awalnya David memang tidak mengetahui hal tersebut karena Vina merasa bahwa hal itu tidak begitu penting untuk diketahui oleh David. Ketika mereka sedang pergi ke sebuah mall, David meminjam handphone Vina dan saat itu juga masuk sebuah SMS dari William. David tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan William, setelah ia menanyakannya kepada Vina, barulah ia mengerti dan saat itu juga David marah. Suasana kencan mereka pun menjadi sedikit terganggu karena David menjadi marah. Maka, David memutuskan untuk segera mengakhiri kencan mereka tersebut. Setibanya mereka di rumah masing-masing, Vina segera menelpon David untuk memohon maaf. Ia juga menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dan William. Setelah mendengar penjelasan Vina, David pun mau memaafkan Vina meskipun masih ada sedikit kekesalan tersimpan dalam hati David. Takut jikalau David masih marah kepadanya, Vina segera memberi tahu William bahwa dia sudah memiliki pacar lagi dan dia tidak ingin mengecewakan hati pacarnya. William memang mengerti, dan ia berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi. Namun, beberapa hari kemudian, William kembali lagi mengirim pesan kepada Vina. Kali ini Vina tidak menanggapinya. Selang beberapa hari, William mengirim pesan kembali kepada Vina.