Anda di halaman 1dari 28

Presentasi Kasus

SEORANG PEREMPUAN 31 TAHUN DENGAN TB PARU BTA (+)

Oleh : Pramadya V. M. Septia R. Yovan Indra Bayu P. Adhitya Indra P. G0007129 G0007155 G0007174 G0007178

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT PARU FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

BAB I 1

PENDAHULUAN Penyakit tuberkulosis (TB paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok usia kerja produktif, kebanyakan dari kelompok sosial ekonomi rendah dan berpendidikan rendah. Meningkatnya kasus HIV/AIDS yang menurunkan daya tahan tubuh juga berhasil mengendalikan penyakit ini. Banyaknya menyebabkan meningkatnya kembali penyakit TB (reemerging disease) di negaranegara yang tadinya sudah penderita yang tidak berhasil disembuhkan, penderita dengan basil tahan asam (BTA) positif berisiko menularkan penyakitnya pada orang lain. Diperkirakan setiap tahun ada 9 juta penderita TB baru dengan kematian 3 juta orang (Depkes, 2000), 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang dan beban terbesar terutama adalah di Asia Tenggara. Hasil Surkesnas tahun 2001 penyakit saluran pernafasan merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan penyakit infeksi pada semua golongan umur, penyakit TB paru penyebab kematian nomor 2 dari golongan penyakit infeksi (Depkes, 2002). Penyakit TB paru yang tidak diobati setelah 5 tahun, 50% akan meninggal, 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular dan 25% akan sembuh sendiri karena daya tahan tubuh tinggi (Depkes, 2000). Cara yang paling efektif memberantas penyakit TB paru adalah dengan menghentikan TB pada sumbernya (stop at the source) yang dikenal dengan strategi DOTS (direct observed treatment, short course) (WHO, 2003). Diharapkan pengobatan dengan strategi DOTS dapat memberikan kesembuhan 85%. Namun dalam pelaksanaannya di lapangan, keberhasilan pengobatan dengan strategi DOTS ini mengalami beberapa hambatan antara lain putus berobat (termasuk pindah berobat) dan meninggal sehingga tidak memberikan hasil yang maksimal. Selain itu, ketepatan dan kecepatan mendapatkan pengobatan juga mempengaruhi hasil pengobatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi dan Etiologi Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi, merupakan batang aerobik tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar Ultraviolet. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah terpajan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun. Klasifikasi Tuberkulosis Paru Merupakan tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA), tuberkulosis paru dibagi atas: Tuberkulosis paru BTA (+) adalah: Sekurang- kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan hasil biakan positif Tuberkulosis paru BTA (-) adalah: Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan Mycobacterium tuberculosis positif Berdasarkan tipe pasien, dibagi atas: 3

Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan Obat Anti Tuberculosis (OAT) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan. Kasus kambuh Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasi pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. Kasus defaulted atau drop out Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan OAT 1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut- turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai Kasus gagal Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali lagi positif pada akhir bulan ke-5 atau akhir masa pengobatan. Kasus kronik Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik. Kasus bekas TB Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA negatif dan gambaran radiologi menunjukkan lesi tuberkulosis yang tidak aktif, atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT yang adekuat akan lebih mendukung. Tuberkulosis Ekstra Paru Merupakan tuberkulosis yang menyerang organ tubuh selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamindan lainlain.Tuberkulosis ekstraparu dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu: Tuberkulosis ekstra paru ringan, misalnya: tuberkulosis kelenjar limfe, pleuritis

eksudativa unilateral, efusi pleura unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal. Tuberkulosis ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, tuberkulosis tulang belakang, tuberkulosis usus, tuberkulosis saluran kemih dan alat kelamin. Gejala Klinis Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala sistemik. Bila organ yang terkena adalah paru, maka gejala lokalnya adalah gejala respiratori seperti batuk lebih dari 2 minggu, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada. Sedangkan jika tuberkulosis menyerang bagian tubuh di luar paru, maka gejala yang timbul berdasarkan organ yang terlibat. Misalnya, pada limfadenitis tuberkulosis akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, sedangkan pada meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala meningitis. Sedangkan gejala sistemik tuberkulosis yang dapat timbul adalah demam, malaise, keringat malam, anoreksia dan berat badan menurun. Patogenesis Tuberkulosis primer Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara di sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk serta kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap, kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulanbulan. Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat, maka partikel tersebut akan menempel pada saluran nafas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel < 5 mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian dilanjutkan oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan keluar dari percabangan trakeobronkial oleh makrofag bersama gerakan silia dan sekretnya (Amin et al., 2007). Bila kuman menetap di jaringan paru, maka kuman akan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh 5

lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terbentuk di setiap jaringan paru. Bila menjalar sampai pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat juga masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit sehingga terjadi limfadenopati regional. Bakteri dapat masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ tubuh seperti paru, otak, ginjal dan tulang. Bila kuman tersebut masuk ke arteri pulmonalis, maka akan terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru dan menjadi tuberkulosis milier. Dari sarang primer, akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal), diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis lokal dan limfadenitis regional disebut kompleks primer (Ranke). Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi : Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik dan kalsifikasi di hilus. Keadaan ini terdapat pada lesi pneumonia yang luasnya > 5 mm dan 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant. Berkomplikasi dan menyebar secara per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya; secara bronkogen, pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya;secara hematogen, ke organ tubuh lainnya serta dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus (Amin et al., 2007). Tuberkulosis Post Primer (Tuberkulosis Sekunder) Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahuntahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis post primer/tuberkulosis pasca primer/ tuberkulosis sekunder). Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun, seperti malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS dan gagal ginjal. Tuberkulosis pasca primer ini dimulai dari sarang dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apikal-posterior lobus superior atau inferior). Tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari bagian lain sehingga bagian apikal ini

merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Invasinya adalah ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru. Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu, sarang ini menjadi tuberkel, yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat (Amin et al., 2007). TB pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua, tergantung dari jumlah kuman, virulensinya, dan imunitas pasien. Sarang dini ini dapat menjadi: Sarang yang direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat. Sarang yang mula-mula meluas tetapi segera menyembuh dengan sebukan jaringan fibrosis. Sarang dapat membungkus diri menjadi keras sehingga menimbulkan perkapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis sehingga menjadi lembek lalu membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar, maka terjadilah kavitas. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis, namunsemakin lama dindingnya akan menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar sehingga menjadi kavitas sklerotik (kronik). Terjadinya perkejuan dan kavitas disebabkan oleh hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh enzim yang diproduksi oleh makrofag serta proses yang berlebihan oleh sitokin dengan TNF-nya. Bentuk perkejuan lain yang jarang terjadi adalah cryptic disseminate tuberculosis yang biasa tampak imunodefisiensi dan usia lanjut. Pada tuberkulosis pasca primer, lesi sangat kecil tetapi berisi banyak bakteri. Kavitas dapat meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. Kavitas juga dapat memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. Tuberkuloma ini dapat mengapur dan menyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan menjadi kavitas lagi. Selain itu, kavitas juga dapat bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity atau dapat juga membungkus diri menjadi kecil. Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas yang terbungkus, menciut, dan berbentuk seperti bintang yang 7 pada pasien dengan

disebut stellate shaped (Amin et al., 2007). Penegakkan Diagnosis Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda- tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah, dll), tanda- tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum, sekret di saluran nafas dan ronki serta suara amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronkus. Pada pemeriksaan bakteriologi dapat dilakukan dengan menggunakan dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar, urin, faeces dan jaringan biopsi. Pada pemeriksaan dahak dapat dilakukan dengan cara SPS, yaitu Sewaktu (dahak sewaktu pada saat kunjungan), Pagi (Keesokan harinya), Sewaktu (pada saat mengantarkan dahak pagi keesokan harinya). Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya basil tahan asam pada pemeriksaan hapusan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif bila sedikitnya 2 dari 3 spesimen dahak ditemukan BTA (+). Bila hanya 1 spesimen yang positif, perlu pemeriksaan foto toraks atau SPS ulang. Bila foto toraks mendukung TB maka didiagnosis sebagai BTA (+). Bila foto toraks tidak mendukung maka perlu dilakukan pemeriksaan SPS ulang. Bila SPS ulang hasilnya negatif berarti bukan penderita TB. Bila SPS positif berarti penderita TB BTA (+). Pada pemeriksaan radiologis tuberkulosis aktif dapat ditemukan bayangan berawan/ nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah, kavitas, bayangan bercak milier dan efusi pleura. Sedangkan pada pemeriksaan tuberkulosis inaktif dapat ditemukan fibrotik, kalsifikasi dan schwarte. Pengobatan Tujuan pengobatan ini adalah untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah relaps, menurunkan penularan ke orang lain, dan mencegah terjadinya resistensi terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis). OAT ini mempunyai

3 aktifitas, yaitu kemampuan bakterisidal (isoniazid, rifampisin, pirazinamid), kemampuan sterilisasi (rifampisin, pirazinamid), dan kemampuan mencegah resistensi (rifampicin dan isoniazid). Pengobatan tuberkulosis sendiri terdiri dari 2 fase, yaitu: Tahap awal (intensif) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Tahap Lanjutan Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. Paduan OAT yang Digunakan di Indonesia Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia adalah: Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru TB paru BTA positif, pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif atau pasien TB ekstra paru Tabel 1. Dosis OAT kategori 1 Berat badan (kg) Tahap intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) 30-37 38-54 55-70 71 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT

Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) 9

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya, yaitu pasien kambuh, pasien gagal, atau pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Berat badan Tahap intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30-37 2 tablet 4KDT + Streptomisin 500 mg 3 tablet 4KDT + Streptomisin 750 mg 4 tablet 4KDT + Streptomisin 1000 mg 5 tablet 4KDT + Streptomisin 1000 mg Selama 28 hari 2 tab 4KDT Tahap lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E(400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab Etambutol 3 tab 2KDT + 3 tab Etambutol 4 tab 2KDT + 4 tab Etambutol 5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol

38-54

3 tab 4KDT

55-70

4 tab 4KDT

71

5 tab 4KDT

Efek Samping OAT Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tapa efek samping. Namun sebagian kecil mengalami efek samping, oleh akrena itu pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan dalam pengobatan. Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat, bila efek samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simptomatis maka pemberian OAT dapat dilanjutkan. Isoniazid (INH) Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi seperti kesemutan, rasa terbakar di kaki dan nyeri otot. Efek ini dapat dikurangi dengan peberian piridoksin dengan dosis 100 mg per hari atau dengan pemberian vitamin B kompleks. Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan. Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang dapat timbul kurang lebih pada 0,5% pasien. Bila terjadi hepatitis imbas obat ikterik,

hentikan penggunaan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada keadaan khusus. Rifampicin Efek samping ringan yang dapat terajdi dan hanya memerlukan pengobatan simtomatis adalah: sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah terkadang diare sindrom kulit seperti gatal-gatal dan kemerahan Efek samping berat yang kadang terjadi adalah: hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus distop dulu dan penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada penatalaksanaan khusus purpura, anemia hemolitik yang akut, syok, dan gagal ginjal. Bila salah satu dari gejala ini terjadi, rifampisin harus dihentikan dan diberikan lagi walaupun gejalanya telah hilang sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak nafas Rifampisin dapat menyebabkan warna merah apda air seni, keringat, air mata, dan air liur. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada pasien agar mereka mengerti dan tidak khawatir. Pirazinamid Efek samping utama adalah hepatitis imbas obat. Nyeri sendi juag dapat terjadi dan kadang-kadang dapat menyebabakan serangan arthritis gout. Hal ini kemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. Kadang-kadang terjadi reaksi demam, mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain. Etambutol Etambutol dapat menyebabkan ganguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman, buta warna utnuk warna merah dan hijau. Meskipun demikian, keracunan tersebut bergantung pada dosis yang dipakai. Jarang seklai bila dosisnya 15-25 mg/kgBB perhari atau 30mg/kgBB yang diberikan tiga kali seminggu. Gangguan penglihatan akan kembali normal setelah dalam beberapa 11

minggu setelah obat dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit dideteksi. Streptomisin Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan keseimbangan adn pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan dosis yang diguankan dan umur pasien. Risiko tersebut akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi sekresi ginjal. Gejala efek samping yang terlihat adalah telinga mendenging (tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan. Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi 0,25gr. Jika pengobatan diteruskan maka kerusakan alat pendengaran akan semakin parah dan menetap (kehilangan keseimbangan dan tuli). Reaksi hipersensitiviti yang terjadi berupa demam yang timbul disertai sakit kepala, muntah dan eritema pada kulit. Efek samping yang ringan dan sementara (jarang terjadi) seperti kesemutan di sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah penyuntikan. Bila reaksi ini terjadi maka dosis dapat dikurangi 0,25gr. Streptomisin dapat menembus sawar plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada pasien hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin.

BAB III STATUS PASIEN IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat No. RM Tanggal masuk : Ny. S : 31 tahun : Perempuan : Ibu Rumah Tangga : Sawahan 01/08 Pablengan Matesih Surakarta : 01083089 : 27 Agustus 2011

Tanggal pemeriksaan : 5 September 2011 ANAMNESIS Keluhan utama : Batuk lama Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan batuk yang lama selama lebih dari 2 bulan. Batuk berdahak dengan dahak warna putih, tidak ada batuk darah. Tidak ada perbedaan waktu batuk pada pagi, siang, atau malam hari. Sejak 1 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam yang hilang timbul, juga merasakan sesak napas saat aktivitas. Keringat malam (-), nyeri dada (-), mengi (-). Selama sakit ini, pasien mengatakan nafsu makannya menurun, dan berat badannya mengalami penurunan 5 kg. Pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati sejak 4 bulan yang lalu, disertai dengan rasa mual dan muntah. Nyeri ulu hati juga dirasakan tambah berat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, disertai dengan sulit BAB. Pasien juga merasakan nyeri kepala, nyeri otot (-). Pasien belum pernah minum obat untuk sakit perut. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit serupa Riwayat hipertensi 13 : disangkal : disangkal

Riwayat diabetes mellitus Riwayat penyakit jantung Riwayat asma Riwayat alergi Riwayat terapi OAT Riwayat kontak TB Riwayat mondok sakit lambung Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit serupa Riwayat hipertensi Riwayat diabetes mellitus Riwayat penyakit jantung Riwayat asma Riwayat alergi Riwayat terapi OAT Riwayat lingkungan sakit serupa Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok (-).

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : (-) : (+) tetangga pasien : Juli 2011 di Puskesmas Matesih karena

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : (+) Tetangga ada yang sakit TBC

Riwayat Gizi Berat badan : 43 kg Tinggi badan : 160 cm Indeks masa tubuh: 16,79 Kebiasaan makan: Pasien biasa makan dua hingga tiga kali sehari dengan lauk tahu dan tempe. Pasien merasa nafsu makan menurun sejak dua bulan ini dan mengalami penurunan berat badan sekitar 5 kg. Anamnesis Sistemik Kulit Kepala Mata Hidung Telinga : gatal (-), kering (-), sianosis (-) : nyeri kepala (+), pusing (+) : pandangan kabur (-), berkunang-kunang (-) : pilek (-), mimisan (-), bersin (-) : keluar cairan (-), darah (-), pus (-)

Mulut Leher Pernafasan Kardiovaskuler Pencernaan Genitourinaria

: mulut kering (-), sariawan (-), bibir biru (-) : nyeri leher (-), benjolan (-) : sesak (-), nyeri dada (-), batuk (+), dahak (+) putih kental : berdebar-debar (-) : mual (+), muntah (+), nafsu makan turun (+) : nyeri BAK (-), BAK merah (-) bawah : bengkak (-), dingin (-)

Ekstremitas atas : bengkak (-), dingin (-) Neuropsikiatri PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : Keadaan umum Derajat kesadaran Tanda vital Nadi Respirasi Suhu Tensi Kulit Kepala Mata Hidung Mulut Tenggorokan Telinga Tenggorok Leher Limfonodi : 110x/menit, reguler, kuat, isi dan tegangan cukup : 22x/menit, reguler, tipe thorakoabdominal : 38,3 C (per axiler) : 110/60 mmHg : kulit sawo matang, kelembaban cukup, ujud kelainan kulit (-), sianosis (-), eritem (-), ikterik (-) : bentuk mesocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut : konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil (isokor 3mm/3mm), : napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), darah (-/-) : mukosa basah (+), sianosis (-) : hiperemis (-), tonsil membesar (-) : sekret (-/-) : uvula di tengah, tonsil membesar (-), faring hiperemis(-) : limfonodi tidak membesar, JVP tidak meningkat. : tidak membesar 15 : sakit sedang : compos mentis : gelisah (-), sulit tidur (-), cemas (-)

Thoraks Cor Inspeksi Palpasi Perkusi Kanan atas Kiri atas Kiri bawah

: retraksi (-), pelebaran sela iga (-) : iktus kordis tidak tampak : iktus kordis tidak kuat angkat di SIC IV linea midclavicularis sinistra : : SIC II linea parasternalis dextra : SIC II linea parasternalis sinistra : SIC V linea midclavicularis sinistra

Kanan bawah: SIC IV linea parasternalis dextra

Kesan batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : Bunyi jantung I II intensitas normal, reguler, bising (-). Pulmo depan Inspeksi : statis : simetris kanan = kiri; dinamis : pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : fremitus raba kanan = kiri Perkusi : sonor / sonor Auskultasi: suara dasar vesikuler (+/+), RBK (+/+) di SIC IV kanan-kiri. Pulmo belakang Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi
Abdomen

: statis : simetris kanan = kiri; dinamis: pengembangan dada kanan = kiri : fremitus taktil kanan = kiri : sonor / sonor : suara dasar vesikuler (+/+), RBK (+/+) : dinding perut // dinding dada, venektasi (-) : peristaltik (+) normal : timpani, shifting dullness (-) : supel, nyeri tekan (+) di epigastrium, hepar dan lien tidak teraba : edema - sianosis -

Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Ekstremitas Akral dingin

Capillary refill time < 2 Arteri dorsalis pedis teraba kuat PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium (tanggal 27 Agustus 2011) Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit AL AT AE GDS Goldarah ABO Albumin Natrium Kalium Klorida Globulin Asam urat Ureum Kreatinin SGOT SGPT HbSAg Gamma GT Alkali fosfatase Bilirubin total Bilirubin direk Bilirubin indirek 14 0,4 57 33 u/L u/L mg/dL mg/dL mg/dL 17 127 3,8 92 Hasil 7,7 23,1 14,9 344 2,97 98 O g/dl Mmol/L Mmol/L Mmol/L g/dL mg/dL mg/dL mg/dL u/L u/L Negatif 2,4-6,1 <50 0,8-1,3 0,0-35 3,2-5,4 136-145 3,3-5,1 98-106 Satuan g/dL % Ribu/ul Ribu/ul Juta/ul mg/dL Rujukan 11,5-15,5 35-45 4,5-14,5 150-450 4,00-5,20 80-110

Radiologi Foto thorak atas nama Ny. S umur 31 tahun. Foto diambil di Rumah Sakit Dr. Moewardi tanggal 27 Agustus 2011, foto proyeksi postero-anterior (PA)/Lateral. Cor besar dan bentuk normal Pulmo : tampak infiltrat di suprahiler kanan-kiri, parahiler kiri, dan paracardial kanan. Sudut costophrenicus kanan-kiri, antero-posterior tajam Retrosternal space sebagian tertutup perselubungan, retrocardial space normal Diaphragma normal Trachea simetris Tulang-tulang tak tampak kelainan Kesan : curiga proses spesifik RESUME Pasien datang dengan keluhan batuk yang lama selama lebih dari 2 bulan. Batuk berdahak dengan dahak warna putih, tidak ada batuk darah. Tidak ada perbedaan waktu batuk pada pagi, siang, atau malam hari. Sejak 1 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam yang hilang timbul, juga merasakan sesak napas saat aktivitas. Keringat malam (-), nyeri dada (-), mengi (-). Selama sakit ini, pasien mengatakan nafsu makannya menurun, dan berat badannya mengalami penurunan 5 kg. Pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati sejak 4 bulan yang lalu, disertai dengan rasa mual dan muntah. Nyeri ulu hati juga dirasakan tambah berat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, disertai dengan sulit BAB. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tensi 110/60 mmHg, nadi 110 kali/menit, respirasi 22 kali/menit, suhu 38,3oC, pemeriksaan paru pengembangan dinding dada kanan kiri simetris, fremitus raba kanan=kiri, perkusi sonor/sonor, dan tidak ditemukan suara tambahan. Pemeriksaan laboratorium darah Hb 7,7 , leukosit 14,9 , hiponatremi, dan hipokloremi. DIAGNOSIS KERJA TB paru BTA (?) lesi luas kasus baru dengan infeksi sekunder bronkopneumonia

dengan:
Dispepsia Anemia Peningkatan enzim transanimase Hiponatremia, hipokloremia

PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam PENATALAKSANAAN Terapi O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit Injeksi cefotaxime 1 gram/12 jam Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Planning Konsul Interna Foto thorak PA dan lateral kanan DR2, LED I/II Sputum BTA 3x/U/R Sputum Mo/Gr K/R : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

19

FOLLOW UP
DPH I Tanggal 28/08 Keluhan/KU/VS Keluhan Utama : Batuk (+) Sesak (-) Nyeri ulu hati (+) Pemeriksaan/Diagnosis Pemeriksaan Fisik : - Mata : CA (-/-), SI (-/-) - Leher : JVP tidak meningkat, KGB tidak membesar - Thoraks : retraksi (-) Abdomen: supel, NT (+), BU (+), Penatalaksanaan Terapi : O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit Injeksi ceftriaxone 1 gram/12 jam Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Planning : - DR2, LED I/II - Sputum BTA 3x - Sputum Mo/Gr/K/R

KU/VS : Keadaan Umum: - Cor : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-) Sedang, CM, gizi - Pulmo: kesan baik. I: statis (ka=ki) Vital Sign : dinamis (PD ka=ki) BP=110/70mmHg P: FR ka=ki HR= 88x/ P: sonor/sonor RR= 16x/ A: SDV (+/+), ST (-/-) 0C S= 36,7 hepar lien tak teraba - Ext : sianosis (-), oedem (-) Pemeriksaan Penunjang Foto Thorax: Cor besar dan bentuk normal Pulmo : tampak infiltrat di suprahiler kanan-kiri, parahiler kiri, dan paracardial kanan. Sudut costophrenicus kanan-kiri, antero-posterior tajam Retrosternal space sebagian tertutup perselubungan, retrocardial space normal Diaphragma normal Trachea simetris Tulang-tulang tak tampak kelainan Kesan : curiga proses spesifik Hasil AGD 27/08 pkl 16.48: PO2 : 108,1 pH : 7,583 PCO2 : 25,3 HCO3 : 27,0 BE : 3,1 FiO2 : 0,21 HS : 450,41

AaDO2 : 31,395 Diagnosis : TB paru BTA (?) lesi luas kasus baru dengan infeksi sekunder bronkopneumonia CAP III PORT 51 dengan: - Dispepsia - Anemia - Peningkatan enzim transanimase - Hiponatremia, hipokloremia II 29/08 Keluhan Utama : Batuk (+) Sesak (-) Nyeri ulu hati (+) Pusing (+) Pemeriksaan Fisik : - Mata : CA (-/-), SI (-/-) - Leher : JVP tidak meningkat, KGB tidak membesar - Thoraks : retraksi (-) Abdomen: supel, NT (+), BU (+), hepar lien tak teraba - Ext : sianosis (-), oedem (-) Pemeriksaan Penunjang Bakteriologis: Sputum BTA tgl 29/08 ditemukan gram + coccus BTA 1+ Laboratorium darah tgl 29/08: Terapi : O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit Injeksi ceftriaxone 1 gram/12 jam Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Planning : - DR3 post transfusi - Foto thorax 5 hari post AB - Streptomycin 750 mg IM (skin test dulu)

KU/VS : Keadaan Umum: Sedang, CM, gizi kesan baik. Vital Sign : BP=100/70mmHg HR= 84x/ RR= 22x/ - Cor : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-) S= 37,30C - Pulmo: I: statis (ka=ki) dinamis (PD ka=ki) P: FR ka=ki P: sonor/sonor A: SDV (+/+), ST (-/-) Hb : 6,2 Hct : 22 MCH : 23,3 MCHC : 28,5 Limfosit : 11,3 Monosit : 8,7 Gamma GT : 143 Alkali fosfatase : 143 Protein total : 6,0 Albumin : 2,60 Na : 134 Ca : 1,01 Diagnosis : TB paru BTA (+) lesi luas kasus baru dengan infeksi sekunder bronkopneumonia CAP III PORT 51 dengan: - Dispepsia - Anemia - Peningkatan enzim transanimase - Hiponatremia, hipokloremia III 30/08 Keluhan Utama : Pemeriksaan Fisik : Batuk (+) - Mata : CA (-/-), SI (-/-) Sesak (-) - Leher : JVP tidak meningkat, KGB Nyeri ulu hati (+) tidak membesar Sebah (+) - Thoraks : retraksi (-)

Terapi : O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit

21

Demam (+) KU/VS : Keadaan Umum: Sedang, CM, gizi kesan baik. Vital Sign : BP=100/70mmHg HR= 88x/ RR= 24x/ S= 390C

Abdomen: supel, NT (+), BU (+), hepar lien tak teraba - Ext : sianosis (-), oedem (-) Pemeriksaan Penunjang Diagnosis : TB paru BTA (+) LLK dengan infeksi sekunder bronkopneumonia CAP III PORT 51 dengan: - Dispepsia - Anemia - Peningkatan enzim transanimase - Hiponatremia, hipokloremia Pemeriksaan Fisik : - Mata : CA (-/-), SI (-/-) - Leher : JVP tidak meningkat, KGB tidak membesar - Thoraks : retraksi (-) Abdomen: supel, NT (+), BU (+), hepar lien tak teraba - Ext : sianosis (-), oedem (-) Pemeriksaan Penunjang

Injeksi ceftriaxone 1 gram/12 jam Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Streptomycin 750 mg IM Planning : Terapi : O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit Injeksi ceftriaxone 1 gram/12 jam Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Streptomycin 750 mg IM Planning : -

IV

31/08

Keluhan Utama : Batuk (+) di dada sakit Sesak (-)

KU/VS : Keadaan Umum: Sedang, CM, gizi kesan baik. Vital Sign : BP=110/80mmHg HR= 80x/ Diagnosis : RR= 24x/ - Cor : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-) S= 36,90C - Pulmo: I: statis (ka=ki) dinamis (PD ka=ki) P: FR ka=ki P: sonor/sonor A: SDV (+/+), ST (-/-) TB paru BTA (+) LLK dengan infeksi sekunder bronkopneumonia CAP III PORT 51 dengan: - Dispepsia - Anemia - Peningkatan enzim transanimase - Hiponatremia, hipokloremia V 1/9 Keluhan Utama : Pemeriksaan Fisik : Batuk (+) - Mata : CA (-/-), SI (-/-) Sesak (-) - Leher : JVP tidak meningkat, KGB Sebah (+) tidak membesar Nyeri perut (+) sekitar - Thoraks : retraksi (-) epigastrium Abdomen: distended, NT (+), BU (+), hepar lien tak teraba KU/VS : - Ext : sianosis (-), oedem (-) Keadaan Umum: Pemeriksaan Penunjang Sedang, CM, gizi Lab Darah: kesan baik. SGOT/PT : 218/69 Vital Sign : Gamma GT : 126 BP=110/80mmHg Alk fosfat : 128 HR= 84x/ Albumin : 2,5 RR= 20x/ Diagnosis : S= 37,10C TB paru BTA (+) LLK dengan infeksi sekunder bronkopneumonia CAP III PORT 51 dengan: - Dispepsia

Terapi : O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit Injeksi ceftriaxone 1 gram/12 jam Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Streptomycin 750 mg IM Planning : USG abdomen

VI

2/9

- Anemia - Peningkatan enzim transanimase - Hiponatremia, hipokloremia Keluhan Utama : Pemeriksaan Fisik : Batuk (+) - Mata : CA (-/-), SI (-/-) Sesak (-) - Leher : JVP tidak meningkat, KGB Sebah (+) tidak membesar Nyeri perut (+) sekitar - Thoraks : retraksi (-) epigastrium Abdomen: distended, NT (+), BU (+), hepar lien tak teraba KU/VS : - Ext : sianosis (-), oedem (-) Keadaan Umum: Pemeriksaan Penunjang Sedang, CM, gizi Laboratorium darah tgl 2/9 kesan baik. Hb : 8,7 MCV: 85,5 Eos: 0,5 Vital Sign : Hct : 28 MCH: 26,5 Bas: 0,7 BP=110/70mmHg AL : 4,2 MCHC: 31,2 Netr: 78,5 HR= 80x/ AT : 254 RDW: 21,9 Limf: 13,3 RR= 20x/ AE: 3,27 HDW: 4,2 Mono: 7,0 S= 370C Bilirubin total: 0,92 Bilirubin direk: 0,54 Bilirubin indirek: 0,38 Diagnosis : TB paru BTA (+) LLK dengan infeksi sekunder bronkopneumonia

- Cor : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-) - Pulmo: I: statis (ka=ki) dinamis (PD ka=ki) P: FR ka=ki P: sonor/sonor A: SDV (+/+), ST (-/-) CAP III PORT 51 dengan: - Dispepsia - Anemia - Peningkatan enzim transanimase - Hiponatremia, hipokloremia

Terapi : O2 2 liter/menit IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit Injeksi ceftriaxone 1 gram/12 jam RHE 450/300/1000 Paracetamol 500 mg (k/p) Ambroxol 3x30 mg OBH 3xCI Antasid Streptomycin 750 mg IM Omeprazole 0-0-1 Planning : - Foto thorax 5 hari post AB - Sputum Mo Gr K/R ulang - BTA II/III - Transfusi PRC II - PT/APTT - USG Abdomen

BAB IV 23

ANALISA KASUS Pada kasus ini pasien didiagnosis sebagai TB paru BTA (+) Lesi Luas Kasus Baru dengan Infeksi Sekunder (Bronkopneumonia) CAP III PORT 51 Perbaikan. Adapun dasar diagnosis pasien ini adalah :
Anamnesis :

Pasien merupakan pasien rujukan dari dokter umum di Matesih dengan observasi febris suspect pneumonia. Pasien mengeluh batuk sudah lebih dari dua bulan dengan dahak berwarna putih kental, tetapi tidak ada batuk darah. Beberapa hari SMRS dahak berubah warna menjadi kuning kehijauan. Tidak ada perbedaan waktu batuk pada pagi, siang, atau malam hari. Sejak 1 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam yang hilang timbul, juga merasakan sesak napas saat aktivitas. Namun, 2 minggu terakhir, pasien mengeluh demam tinggi dan terus menerus. Keringat malam (-), nyeri dada (-), mengi (-). Selama sakit ini, pasien mengatakan nafsu makannya menurun. Pasien hanya makan 3 4 sendok makan setiap kali makan. Pasien mengaku bahwa berat badannya mengalami penurunan 6 kg dalam 2 bulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati sejak 4 bulan yang lalu, disertai dengan rasa mual dan muntah. Nyeri ulu hati juga dirasakan tambah berat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, disertai dengan sulit BAB. Pasien juga merasakan nyeri kepala, nyeri otot (-). Pasien belum pernah minum obat untuk sakit perut. Pasien menyangkal adanya riwayat konsumsi OAT, DM, hipertensi, dan penyakit jantung. Pasien mondok terakhir 4 bulan yang lalu di Puskesmas Matesih karena penyakit lambung. Dari lingkungan tempat tinggal pasien ternyata ada tetangga pasien yang juga menderita batuk yang sedang menjalani pengobatan lama. Kondisi rumah pasien lantainya masih berupa plester dan sebagian tanah, dengan ventilasi dan pertukaran udara cukup.
Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum : sedang, CM, kesan gizi kurang VS Mata Lidah : TD 110/60 mmHg; N 110x/menit; RR 28x/menit; t 38,30C : CA (+/+), SI (-/-) : hiperemis (+) typhoid tongue

Leher Thorax Cor

: JVP tidak meningkat, KGB tidak membesar : simetris, retraksi (-) : BJ I-II int N, reg, bising (-) P : fremitus raba kanan = kiri P : sonor / sonor A: SDV (+/+), RBK (+/+)

Pulmo: I : pengembangan dada kanan = kiri

Pemeriksaan Penunjang :

Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan 27/8/11 Hemoglobin Hematokrit AL AT AE GDS Goldarah ABO Albumin Natrium Kalium Klorida Globulin Asam urat Ureum Kreatinin SGOT SGPT HbSAg 14 0,4 57 33 neg 218 69 Neg 25 127 3,8 92 3,3 7,7 23,1 14,9 344 2,97 98 O O 2,5 143 3,4 139 3,7 8,7 28 14,2 254 3,27 Hasil 01/9/11 03/09/11 8,8 29 14,2 330 3,33 154 O g/dl mmol/L mmol/L mmol/L g/dL mg/dL mg/dL mg/dL u/L u/L 2,4-6,1 <50 0,6 - 1,2 0 35 0 45 Negatif 3,2-5,4 136-145 3,3-5,1 98-106 g/dL % ribu/ul ribu/ul juta/ul mg/dL 11,5 - 15,5 35 45 4,0 11,3 150 450 4,0 - 5,20 80 - 110 Satuan Rujukan

Gamma GT Alkali fosfatase Bilirubin total Bilirubin direk Bilirubin indirek

126 128 0,92 0,54 0,38

u/L u/L mg/dL mg/dL mg/dL

< 38 42 98 0.00 1.00 0.00 0.30 0.00 0.70

Pemeriksaan Sputum tanggal 29 Agustus 2011 Ditemukan gram + coccus Ditemukan BTA 1+ Pemeriksaan rontgen thorax tanggal 27 Agustus 2011 Hasil pemeriksaan foto thorax PA/Lateral: Cor besar dan bentuk normal Pulmo : tampak infiltrat di suprahiler kanan-kiri, parahiler kiri, dan paracardial kanan. Sudut costophrenicus kanan-kiri, antero-posterior tajam Retrosternal space sebagian tertutup perselubungan, retrocardial space normal Diaphragma normal Trachea simetris Tulang-tulang tak tampak kelainan Kesan : curiga proses spesifik Diagnosis TB pada pasien ditegakkan karena ditemukannya gejala respiratorik berupa batuk 2 minggu dan sesak napas serta gejala sistemik berupa demam, malaise, anoreksia, dan penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisik juga didapatkan peningkatan respirasi rate dan terdengarnya RBK. Diagnosis tersebut semakin ditunjang dengan hasil pemeriksaan sputum BTA yang menunjukkan +1 dan hasil rontgen yang menunjukkan gambaran infiltrat multiform, suatu ciri dari lesi TB aktif. Pada pasien ini disebut lesi luas karena infiltrat terdapat di kedua lapang paru dan luasnya melebihi dari SIC II anterior. Selain TB, pada (CAP, pasien juga didapatkan acquired infeksi sekunder berupa bronkopneumonia community pneumonia). Diagnosis

bronkopneumonia ditegakkan karena pada foto thorax didapatkan infiltrat baru dengan gejala tambahan berupa : Batuk yang makin bertambah Perubahan karakteristik dahak, dari yang berwarna putih kental menjadi kuning kehijauan (purulen) Demam tinggi terus menerus (pada pasien 380C) Terdengarnya ronki pada auskultasi Peningkatan leukosit 10000 (14200) Penentuan skor PORT 51 berasal dari usia pasien (31-10), hiponatremi (20), dan hematokrit < 30% (10). Sebenarnya skor PORT 51 bukan merupakan indikasi rawat inap, tetapi pasien ini tetap memerlukan rawat inap karena foto thorax paru menunjukkan kelainan bilateral dan melibatkan > 2 lobus. Injeksi ranitidine 1 ampul/12 jam Ambroxol 3x30 mg Paracetamol OBH 3xCI Antasid Pengobatan pada pasien ini meliputi pengobatan TB dan bronkopneumonia. Pada pasien tidak diberikan pirazinamid karena didapatkan peningkatan enzim-enzim hati meliputi SGOT, SGPT, alkali fosfatase, dan gamma GT. Sedangkan untuk bronkopnemonianya diberikan pengobatan secara empiris yaitu injeksi cefotaxim sambil menunggu hasil kultur sputum. Terapi oksigen pada pasien bertujuan memperbaiki ventilasi. Karena pada bronkopneumonia terjadi gangguan pada komponen volume dari ventilasi akibat kelainan langsung di parenkim paru. Terhadap gangguan ventilasi akibat gangguan volume ini, tubuh akan berusaha mengkompensasi dengan cara meningkatkan volume tidal dan frekuensi napas sehingga secara klinis terlihat takipnea dan dispnea dengan tanda-tanda inspiratory effort. Pemberian ambroxol pada pasien bertujuan mengurangi dahak dan membantu pengeluaran dahak sehingga jalan nafas menjadi lebih longgar. Sedangkan paracetamol adalah terapi simptomatis untuk demam. Ranitidine dan antasid diberikan karena pada pasien juga dicurigai terdapat gangguan lambung berupa sindrom dispepsia.

27

DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI. 2000. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke-5. Jakarta: hal 2. Laporan studi mortalitas 2001. Pola Penyakit Departemen Kesehatan RI. 2002.

Penyebab Kematian di Indonesia.Laporan penelitian tidak diterbitkan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta:hal 19. Herryanto et al. 2004. Riwayat Pengobatan TB Paru meninggal di Kabupaten Bandung http:// www.who.int. http://www.pusat3.litbang.depkes.go.id/data/vol%203/Herryanto_1.pdf Word Health Organization., 2003, Direct Observed Treatment, Short Course.

Anda mungkin juga menyukai