Anda di halaman 1dari 2

Bagaimana tanggung jawab anda sebagai dokter dalam memahami keberadaannya sebagai citra Allah untuk menjawab konteks

permasalahan aborsi dan euthanasia aktif jelaskan! Didalam dunia kedokteran banyak sekali cara-cara penyelesaian permasalah medik yang seringkali bertentangan dengan konsep-konsep dan pemikiran-pemikiran yang ada dan berkembang di dalam dunia masyarakat pada umumnya atau yang bertentangan dengan norma. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para tenaga medis seringkali dianggap melanggar ajaran-ajaran agama, iman, adat istiadat dan bahkan banyak yang dinilai melanggar hak hidup seseorang. Sebenarnya didalam ilmu medis sendiri terjadi suatu pertimbangan yang benar-benar berat karena semua tindakan selalu ada resikonya. Tetapi kembali lagi kepada dasar dan tujuan tenaga medis sendiri yaitu untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dan tentu saja selalu ada satu hal yang dipertaruhkan demi mendapatkan tujuan yang dinilai lebih menguntungkan pasien secara medis. Jika dilihat dari segi iman dan kepercayaan kita terhadap Tuhan maka tindakan aborsi adalah tindakan yang tidak sesuai karena aborsi berarti mencabut hak hidup yang telah diberikan oleh Tuhan kepada makhluk ciptaannya. Namun jika dilihat dari segi medis maka tindakan yang dlakukan oleh dokter dapat dibenarkan jika dalam kondisi dan hal tertentu dan mempunyai alasan yang kuat dan pasti akan kondisi tersebut. Misalnya pada kehamilan diluar kandungan, sangat berbahaya bagi pasien, karena jika kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan nyawa ibu. Selain itu tujuan dokter juga bukanlah untuk membunuh atau mencabut hak hidup janin tersebut melalui aborsi tetapi karena dengan mempertahankan bayi itu maka dapat membahayakan nyawa sang ibu juga. Jadi, jika kita jeli menilai kasus tersebut maka meskipun aborsi dilarang dan bertentangan dengan iman kita sebagai orang yang percaya pada Tuhan tetapi didalam kasus ini dapat dibenarkan karena dokter melakukan ini semata-mata karena janin ini dapat membahayakan nyawa sang ibu. Dan pada euthanasia aktif, saya tidak setuju jika keputusan untuk melakukan euthanasia oleh seorang dokter tanpa berdasarkan pada Allah dalam pengambilan keputusan untuk euthanasia aktif dan tanpa melewati proses-proses pengambilan

keputusan menuruti bimbingan Roh Kudus. Penggunaan peraturan-peraturan (jika dokter tidak memberikan euthanasia pada pasien maka dokter bisa masuk penjara) menggeserkan perhatian kita dari Allah kepada kita. Kita tidak lagi menuruti keputusan Allah bagi kita, melainkan kita mengambil keputusan untuk diri sendiri. Roh kudus membimbing kita dalam pembentukan, pengertian dan penerapan keputusan. Kita perlu mendoakan bimbingan Roh Kudus dalam proses penggunaan prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan. Dan ketika kita melihat hal ini tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah maka kita sebagai umatnya harus mematuhi apa yang diperintahkan bagi kita. Jadi, berdasarkan pemaparan yang telah dijabarkan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tindakan untuk mengaborsi janin dalam kandungan ibu adalah tindakan yang paling tepat jika berdasarkan pada kondisi seperti yang dijelaskan diatas. Dan jika pada kasus euthanasia aktif, kita sebagai dokter yang beriman memiliki iman dimana iman itu adalah hubungan perorangan yang mengandung kepercayaan, kesetiaan dan kasih. Iman ialah penyerahan kepada kehendak Allah, dan partisipasi dalam pekerjaan Allah. Keputusan-keputusan kita juga dipengaruhi oleh kepercayaan kita kepada Allah, jadi sepatutnya kita menyandarkan keputusan kita pada Allah sesuai kehendak Allah. Jika kita dokter yang hanya seorang manusia melakukan euthanasia aktif maka kita sebagai dokter yang memiliki iman akan Allah adalah manusia yang meragukan akan pekerjaan Allah, dan hal-hal ajaib diluar pikiran kita yang dapat dilakukan oleh Allah.