Anda di halaman 1dari 19

TUGAS FOLKLORE DAERAH RIAU

Nama : Bungkes Wahyu Bahry Kelas : X.6

A. Folklore Lisan Provinsi Riau - Bahasa Provinsi Riau


Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh penduduk adalah bahasa Melayu, yang pada hakikatnya merupakan akar bahasa Indonesia. Sehingga siapa saja yang bisa berbahasa Indonesiadapat berkomunikasi dengan orang Riau. Di beberapa lokasi ada jugapenduduk yang menggunakan bahasa daerah asalnya, seperti bahasa Minang di pasar-pasar yang banyak dihuni pedagang asal Minang, atau bahasa Jawa di desa-desa yang banyak penduduknya berasal dari Jawa.

- Lagu Daerah Provinsi Riau

Lancang Kuning
Lancang kuning Lancang kuning berlayar malam Hey..! berlayar malam Lancang kuning Lancang kuning berlayar malam Hey..! berlayar malam Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam Lancang kuning berlayar malam Lancang kuning berlayar malam Kalau nakhoda Kalau nakhoda kuranglah faham Hey..! kuranglah faham Kalau nakhoda Kalau nakhoda kuranglah faham Hey..! kuranglah faham ***

Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam Lancang kuning berlayar malam Lancang kuning berlayar malam Lancang kuning Lancang kuning menerkam badai Hey..! menerkam badai Lancang kuning Lancang kuning menerkam badai Hey..! menerkam badai *** Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga lancang kuning berlayar malam lancang kuning berlayar malam lancang kuning berlayar malam lancang kuning berlayar malam

Tanjung Katung
Tanjung katung airnya biru Tempat dara mencuci muka Lagi sekampung hati ku rindu Kononlah jauh di mata... Asal kapas menjadi benang Benang ditenun menjadi kain Orang yang lepas jangan di kenang Sudah menjadi si orang lain Dua tiga kuda berlari Manalah sama si kuda belang Dua tiga dapat ku cari Manalah sama adik seorang Pisang Emas bawa berlayar Masak sebiji di atas peti Hutang emas boleh di bayar Hutanglah budi dibawa mati

Hangtuah
Tersebut sudah ... dalam hikayat .. Laksmana Hangtuah .. Setia amanah Menjunjung harkat ... Juga Martabat ... Jangan Melayu ... Buan Surian ... Dang Merdu bunda berjasa , Melahirkan putra perkasa Hangtuah laksmana satria Teladan negri dan bangsa Dari Bintan kepulauan Riau Dan baktimu kesegenap rantau Walau kini kau telah tiada Fatwa mu tiada tiada kan pernah ** Tlah sakti hamba negeri Esa hilang dua terbilang Patang tumbuh hilang kan berganti Takkan melayu hilang dibumi Engkau susun jari sepuluh Menghatur sembah Duduk bersimpuh Hangsudi rilsalah melayu Hangtuah hooooo Hangtuah

- Cerita Rakyat Daerah Provinsi Riau

Si Lancang Kuning
Pemberian nama pada suatu daerah atau tempat tertentu biasanya dikaitkan dengan peristiwa atau cerita menarik yang pernah terjadi di daerah tersebut. Di Propinsi Riau, Indonesia, ada beberapa daerah yang memiliki nama berkaitan dengan perstiwa atau cerita yang pernah terjadi di daerah tersebut, misalnya cerita Legenda Batang Tuaka yang kemudian menjadi nama daerah yaitu Kecamatan Batang Tuaka yang masuk wilayah Kabupaten Indragiri Hilir. Namun, dalam suatu peristiwa atau cerita terkadang tidak hanya melahirkan satu nama daerah, akan tetapi bisa lebih dari itu. Konon, di daerah Kabupaten Kampar, Riau, pernah terjadi sebuah peristiwa atau cerita menarik yang melahirkan beberapa nama daerah atau tempat yang masih dikenal sampai sekarang. Daerah dan tempat yang dimaksud yaitu Lipat Kain, ibu kota Kecamatan Kampar Kiri Hulu; Sungai Ogong berada di Kecamatan Kampar Kanan; dan Danau Si Lancang. Nama daerah atau tempat tersebut diambil dari salah satu cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Kampar yang dikenal dengan Si Lancang. Konon, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang wanita miskin dengan anak laki-lakinya yang bernama si Lancang. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk reot di sebuah negeri bernama Kampar. Ayah si Lancang sudah lama meninggal dunia. Emak Lancang bekerja menggarap ladang orang lain, sedangkan si Lancang menggembalakan ternak tetangganya. Pada suatu hari, si Lancang betul-betul mengalami puncak kejenuhan. Ia sudah bosan hidup miskin. Ia ingin bekerja dan mengumpulkan uang agar kelak menjadi orang kaya. Akhirnya ia pun meminta izin emaknya untuk pergi merantau ke negeri orang. Emak, Lancang sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Lancang ingin pergi merantau, Mak! mohon si Lancang kepada emaknya. Walaupun berat hati, akhirnya emaknya mengizinkan si Lancang pergi. Baiklah, Lancang. Kau boleh merantau, tetapi jangan lupakan emakmu. Jika nanti kau sudah menjadi kaya, segeralah pulang, jawab Emak Lancang mengizinkan.

Mendengar jawaban dari emaknya, si Lancang meloncat-loncat kegirangan. Ia sudah membayangkan dirinya akan menjadi orang kaya raya di kampungnya. Ia tidak akan lagi bekerja sebagai pengembala ternak yang membosankan itu. Emak Lancang hanya terpaku melihat si Lancang meloncat-loncat. Ia ia tampaknya sedih sekali akan ditinggal oleh anak satu-satunya. Melihat ibunya sedih, si Lancang pun berhenti meloncat-lonta, lalu mendekati emaknya dan memeluknya. Janganlah bersedih, Mak. Lancang tidak akan melupakan emak di sini. Jika nanti sudah kaya, Lancang pasti pulang Mak, kata si Lancang menghibur emaknya. Emaknya pun menjadi terharu mendengar ucapan dan janji si Lancang, dan hatinya pun jadi tenang. Lalu si Emak berkata, Baiklah Nak! Besok pagi-pagi sekali kamu boleh berangkat. Nanti malam Mak akan membuatkan lumping dodak untuk kamu makan di dalam perjalanan nanti. Keesokan harinya, si Lancang pergi meninggalkan kampung halamannya. Emaknya membekalinya beberapa bungkus lumping dodak makanan kesukaan si Lancang. Bertahun-tahun sudah si Lancang di rantauan. Akhirnya ia pun menjadi seorang pedagang kaya. Ia memiliki berpuluh-puluh kapal dagang dan ratusan anak buah. Istriistrinya pun cantik-cantik dan semua berasal dari keluarga kaya pula. Sementara itu, nun jauh di kampung halamannya, emak si Lancang hidup miskin seorang diri. Suatu hari si Lancang berkata kepada istri-istrinya berlayar bahwa dia akan mengajak mereka berlayar ke Andalas. Istri-istrinya pun sangat senang. Kakanda, bolehkah kami membawa perbekalan yang banyak? tanya salah seorang istri Lancang. IyaKakanda, kami hendak berpesta pora di atas kapal, tambah istri Lancang yang lainnya. Si Lancang pun mengambulkan permintaan istri-istrinya tersebut. Wahai istri-istriku! Bawalah perbekalan sesuka kalian, jawab si Lancang. Mendengar jawaban dari si Lancang, mereka pun membawa segala macam perbekalan, mulai dari makanan hingga alat musik untuk berpesta di atas kapal. Mereka juga membawa kain sutra dan aneka perhiasan emas dan perak untuk digelar di atas kapal agar kesan kemewahan dan kekayaan si Lancang semakin tampak. Sejak berangkat dari pelabuhan, seluruh penumpang kapal si Lancang berpesta pora. Mereka bermain musik, bernyanyi, dan menari di sepanjang pelayaran. Hingga akhirnya kapal si Lancang yang megah merapat di Sungai Kampar, kampung halaman si Lancang. Hai ! Kita sudah sampai ! teriak seorang anak buah kapal.

Penduduk di sekitar Sungai Kampar berdatangan melihat kapal megah si Lancang. Rupanya sebagian dari mereka masih mengenal wajah si Lancang. Wah, si Lancang rupanya! Dia sudah jadi orang kaya, kata guru mengaji si Lancang. Megah sekali kapalnya. Syukurlah kalau dia masih ingat kampung halamannya ini, kata teman si Lancang sewaktu kecil. Dia lalu memberitahukan kedatangan si Lancang kepada emak si Lancang yang sedang terbaring sakit di gubuknya. Betapa senangnya hati emak si Lancang saat mendengar kabar anaknya datang. Oh, akhirnya pulang juga si Lancang, seru emaknya dengan gembira. Dengan perasaan terharu, dia bergegas bangkit dari tidurnya, tak peduli meski sedang sakit. Dengan pakaian yang sudah compang-camping, dia berjalan tertatih-tatih untuk menyambut anak satu-satunya di pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan, emak si Lancang hampir tidak percaya melihat kemegahan kapal si Lancang anaknya. Dia tidak sabar lagi ingin berjumpa dengan anak satu-satunya itu. Dengan memberanikan diri, dia mencoba naik ke geladak kapal mewahnya si Lancang. Saat hendak melangkah naik ke geladak kapal, tiba-tiba anak buah si Lancang menghalanginya. Hai perempuan jelek! Jangan naik ke kapal ini. Pergi dari sini! usir seorang anak buah kapal si Lancang. Tapi , aku adalah emak si Lancang, jelas perempuan tua itu. Mendengar kegaduhan di atas geladak, tiba-tiba si Lancang yang diiringi oleh istri-istrinya tiba-tiba muncul dan berkata, Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku, teriak si Lancang yang berdiri di samping istri-istrinya. Rupanya ia malu jika istri-istrinya mengetahui bahwa wanita tua dan miskin itu adalah emaknya. Oh, Lancang , Anakku! Emak sangat merindukanmu, Nak , rintih emak si Lancang. Mendengar rintihan wanita tua renta itu, dengan congkaknya si Lancang menepis, lalu berkata, manalah mungkin aku mempunyai emak tua dan miskin seperti kamu. Kemudian si Lancang berteriak, Kelasi! Usir perempuan gila itu dari kapalku! Anak buah si Lancang mengusir emak si Lancang dengan kasar. Dia didorong hingga terjerembab. Kasihan sekali Emak Lancang. Sudah tua, sakit-sakitan pula. Sungguh malang nasibnya. Hatinya hancur lebur diusir oleh anak kandungnya sendiri. Dengan hati sedih, wanita tua itu pulang ke gubuknya. Di sepanjang jalan dia menangis. Dia tidak menyangka anaknya akan tega berbuat seperti itu kepadanya. Sesampainya di rumah, wanita malang itu mengambil lesung dan nyiru pusaka. Dia memutar-mutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiru sambil berdoa, Ya, Tuhanku. Si Lancang telah kulahirkan dan kubesarkan dengan air susuku. Namun setelah kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhan, tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!

Dalam sekejap, tiba-tiba angin topan berhembus dengan dahsyat. Petir menggelegar menyambar kapal si Lancang. Gelombang Sungai Kampar menghantam kapal si Lancang hingga hancur berkeping-keping. Semua orang di atas kapal itu berteriak kebingungan, sementara penduduk berlarian menjauhi sungai. Emaaak , si Lancang anakmu pulang. Maafkan aku, Maaak! terdengar sayupsayup teriakan si Lancang di tengah topan dan badai. Namun, malapetaka tak dapat dielakkan lagi. Si Lancang dan seluruh istri dan anak buahnya tenggelam bersama kapal megah itu. Barang-barang yang ada di kapal si Lancang berhamburan dihempas badai. Kain sutra yang dibawa si Lancang dalam kapalnya melayang-layang. Kain itu lalu berlipat dan bertumpuk menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Sebuah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk emak si Lancang di Rumbio, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang letaknya berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera kapal si Lancang itu tiba-tiba muncul ke permukaan danau, maka pertanda akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya karena durhaka kepada emaknya. Sejak peritiwa itu, masyarakat Kampar meyakini bahwa meluapnya sungai Kampar bukan saja disebabkan oleh tingginya curah hujan di daerah ini, tetapi juga disebabkan oleh munculnya tiang kapal si Lancang di Danau Lancang. Kabupaten Kampar yang masuk dalam wilayah Propinsi Riau ini, sangat rawan dengan banjir. Hampir setiap tahun Sungai Kampar meluap, sehingga menyebabkan banjir besar yang bisa merendam pemukiman penduduk di sekitarnya.

B. Folklore Sebagian Lisan Daerah Provinsi Riau - Upacara Adat Riau

a. Upacara Perkawinan Riau Perkawinan di Riau ditandai dengan berbagai acara, seperti : Merisik, Meminang, Menggantung, Malam Berinai, Akad Nikah, Tepung Tawar, BerinaiLebai, Berandam, Berkhatam Quran, Makan Bersuap-suapan, Makan Hadap-hadapan, Menyembah Mertua, Mandi Damai, Mandi Taman dan Mengantuk atau Mengasah Gigi.

sawah, ladang, dan sebagainya.

b. Upacara Betobo, adalah kegiatan bergotong royong dalam mengerjakan

c. Upacara Menyemah Laut, adalah upacara untuk melestarikan laut dan isinya, agar mendatangkan manfaat bagi manusia. d. Upacara Menumbai, adalah upacara untuk mengambil madu lebah di pohon Sialang. e. Upacara Belian, adalah pengobatan tradisional. f. Upacara Bedewo, adalah pengobatan tradisional yang sekaligus dapat dipergunakan untuk mencari benda-benda yang hilang.

- Tarian Adat Riau

a. Tari Melemang
Menurut sejarahnya, tari Melemang merupakan tarian tradisional yang berasal dari Tanjungpisau Negeri Bentan Penaga, kecamatan Bintan. Tari Melemang dimainkan kali pertama sekitar abad ke-12. Ketika itu, tari Melemang hanya dimainkan di istana Kerajaan Melayu Bentan yang pusatnya berada di Bukit Batu, Bintan. Tarian ini hanya dipersembahkan bagi Raja ketika sang Raja sedang beristirahat. Karena merupakan tarian istana, tari Melemang ditarikan oleh para dayang kerajaan Bentan. Namun sejak Kerajaan Bentan mengalami keruntuhan, tari Melemang berubah menjadi pertunjukan hiburan rakyat. Dalam sebuah pertunjukan, tari Melemang dimainkan oleh 14 orang, diantaranya seorang pemain berperan sebagai Raja, seorang berperan sebagai permaisuri, seorang berperan sebagai puteri, empat orang sebagai pemusik, seorang sebagai penyanyi, serta enam orang sebagai penari. Para pemain Melemang mengenakan kostum dan tata rias bergaya Melayu namun sesuai dengan perannya. Biasanya, pemain wanita pada pertunjukan tari Melemang mengenakan baju kurung panjang sebagai atasan dan kain atau sarung panjang sebagai bawahan. Sementara pemain lelaki mengenakan baju kurung panjang sebagai atasan dan celana panjang sebagai bawahan. Sebagai pelengkap kostum, pemain lelaki juga mengenakan topi atau kopiah berwarna hitam.

Nyanyian berbahasa Melayu yang mengisahkan kehidupan seorang raja di sebuah kerajaan menjadi ciri khas dari pertunjukan tari Melemang. Nyanyian itu menjadi pengiring dari seluruh rangkaian gerak yang ditarikan para penari Melemang. Dengan diiringi alunan musik akordion, gong, biola, serta tambur, perpaduan tari dan nyanyian ini berlangsung sekitar 1 jam. Yang menjadi daya tarik khusus dari pertunjukan tari Melemang yakni gerakannya. Dengan posisi berdiri sambil membongkokkan badan ke belakang, penari berusaha mengambil sapu tangan yang diletakkan di permukaan lantai. Melalui kepiawaian dan keterampilan yang tidak semua orang dapat melakukannya, dengan sempurna penari Melemang mampu mengambil sapu tangan itu.

Gambar Tari Melemang

C. Folklore Bukan Lisan Provinsi Riau - Rumah Adat Provinsi Riau


Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri diatas tiang dengan bangunan persegi panjang. Dari beberapa bentuk rumah, semuanya hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya identik, kecuali rumah lontik yang-mendapat pengaruh Minang.

a. Rumah Lontik/Lancang (Kampar)

Rumah lontik yang dapat juga disebut rumah lancang karena rumah ini bentuk, ciri atapnya melengkung keatas, agak runcing seperti tanduk kerbau. Sedangkan dindingnya miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal itu melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan-sesama. Rumah adat lontik diperkirakan dapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil.

b. Balai Salaso Jatuh

Balai salaso jatuh adalah bangunan seperti rumah adat tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat. Sesuai dengan fungsinya bangunan ini mempunyai macam-macam nama antara lain : Balairung Sari, Balai Penobatan, Balai Kerapatan dan lain-lain. Bangunan tersebut kini tidak ada lagi, didesa-desa tempat musyawarah dilakukan di rumah Penghulu, sedangkan yang menyangklut keagamaan dilakukan di masjid. Ciri - ciri Balai Salaso Jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah, karena itu dikatakan Salaso Jatuh. Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran. Puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebut Salembayung atau Sulobuyung yang mengandung makna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

- Pakaian Adat Provinsi Riau


Pakain Adat Melayu Riau ini adalah pakaian tradisional Riau, walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah Riau, yaitu Pakaian Adat Melayu Riau. 1. Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Indragiri Riau

2. Foto Baju Adat Melayu Bengkalis Riau

3. Foto Baju Adat, Tradisional Melayu Siak Riau

- Senjata Tradisional Provinsi Riau


Orang Melayu Riau mengenal berbagai jenis senjata tradisional, yang dikategorikan ke dalam senjata pendek (seperti jembia, keris, belati, badik, beladau, dan sabit) serta senjata panjang (tombak, kojou, pedang, seligi, dan sundang). Senjata-senjata tersebut tidak mutlak diperlukan. Dari sekian banyak jenis senjata tradisional yang ada, yang banyak dimiliki masyarakat adalah jenis pedang, tombak, keris, dan badik. Pedang jenawi merupakan sejenis senjata pedang yang dipergunakan oleh para panglima perang tempo dulu. Jenis senjata badik (sekin) yang umum digunakan adalah tumbuk lada, yang bentuknya seperti keris tetapi ukurannya lebih pendek. Senjata ini digunakan untuk berperang dan keperluan sehari-hari. Pada mata badik yang untuk berperang sering diolesi dengan racun. Penggunaan badik untuk melawan musuh tersirat dalam ungkapan: Bila badik telah ditarik dari sarungnya, maka harus ditikamkan pada suatu benda atau binatang. Barulah kemudian badik dimasukkan pada sarungnya. Ungkapan ini menggambarkan, orang Melayu Riau pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan. Contoh beberapa gambar senjata tradisional provinsi Riau :

1.1 Keris

1.2 Sabit

1.3 Beladau

- Makanan Khas Provinsi Riau


Masakan, makanan Khas Riau memang tidak jauh beda dengan makan khas, kuliner, di-beberapa daerah Indonesia seperti Sumatra Barat, Kalimantan, serta saudara mudanya Kepulauan Riau. Walaupun begitu Kuliner, Masakan Khas Riau tetap memiliki ciri khas dibandingkan masakan daerah lain. Seperti salah satu masakan khas Riau berupa Sambal terung Asam. Kuliner ini juga terdapat di Kalimantan. Lalu gulai asam pedas ikan patin mungkin juga dapat ditemukan daerah Sumatra lainnya. Berikut daftar menu kuliner, masakan Riau beserta resepnya yang-bisa ditemukan di-berbagai tempat Bumi Lancang Kuning : - Gulai Asam Pedas Ikan Patin, Masakan Khas Riau daratan - Gulai Belacan, Masakan Khas Riau pantai timur Sumatra - Gulai Sayur Lemak Kuah Santan, Kuliner Khas Riau - Sambal Terung Asam, Masakan Khas Melayu Riau - Bacah Daging, Kuliner - Makanan Khas Riau - Gulai Belacan Udang - Makanan Khas Riau

ANALISA FOLKLORE
1. Bagaimana pendapatmu tentang perkembangan folklore di daerah tersebut ? Menurut saya, perkembangan folklore di Provinsi Riau sudah baik, karena sudah banyak dan beragam macam folklore yang di lestarikan dan di perkenalkan ke berbagai bagian di Indonesia. 2. Menurutmu apa yang harus dilakukan untuk melestarikan folklore di daerah tersebut ? Kita harus selalu mengingat dan mengikuti kebiasaan hidup leluhur kita yang telah menciptakan adat yang menjadi ciri khas daerah tersendiri dan mengembangkan nya, dan menyebarluaskan nya. 3. Menurutmu faktor-faktor apa sajakah yang dapat menghambat upaya pelestarian folklore ? Menurut saya, faktor-faktor yang menjadi penghambat upaya pelestarian folklore adalah yang pertama, karena sifat masyarakat yang sangat tradisional, kedua kurang nya hubungan dengan masyarakat lain. 4. Uraikan pendapatmu apa arti penting folklore bagi sebuah bangsa/kelompok masyarakat ? Menurut saya, folklore adalah suatu adat atau tradisi yang menjadi salah satu ciri yang membedakan dengan daerah yang lain nya.