P. 1
HUKUM KEDOKTERAN

HUKUM KEDOKTERAN

|Views: 163|Likes:
Dipublikasikan oleh Devia_Aprilianti_R

More info:

Published by: Devia_Aprilianti_R on Jan 03, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2012

pdf

text

original

HUKUM KEDOKTERAN

Dr H Tatang Kartawan 2010

RUANG LINGKUP
1. Pengantar 2. Perbandingan Etika dan Hukum 3. Hubungan Dokter dan Pasien 4. KUHAPidana, KUHPidana dan KUHPerdata 5. UU No 13/1992 tentang Kesehatan 6. UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran 7. UU No 22/1997 tentang Narkotika 8. UU No 5/1997 tentang Psikotropika 9. UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen 10.Kasus Jurisprudensi

PENGANTAR (1)
‡ Hukum Kedokteran adalah subsistem dari Ilmu Hukum (Bandingkan dengan ilmu Kedokteran Forensik yang merupakan subsistem dari Ilmu Kedokteran) ‡ Dokter harus mengenal dan memahami Hukum Kedokteran, karena dengan demikian ia : tahu rambu-rambu hukum dalam melakukan praktek rambuprofesi dokter agar tidak gegabah dilanggar siap menyiapkan pembelaan/upaya hukum bila dituntut pasien atau pihak lain tahu menggunakan haknya dalam upaya hukum bila berperkara yang menyangkut profesinya.

dll). KUHPerdata. tetapi juga tidak perlu menjadi ahli hukum ‡ Hukum Kedokteran sangat luas meliputi KUHPidana. PP terkait. dll. Alkes. UU No 36/2009. Ketentuan/Keputusan Menkes /Dirjen /Badan POM. . Bahan. UU lain yang berkaitan dengan Kedokteran dan Kesehatan (Kefarmasian.PENGANTAR (2) ‡ Dokter jangan jadi bulan-bulanan oknum hukum bulankarena tidak tahu hukum ‡ Jangan menghindari hukum.

petunjuk.PERBANDINGAN ETIKA DAN HUKUM (1) ‡ Persamaannya : Berisi aturan. keharusan dan larangan Ada yang tertulis maupun yang tidak tertulis .

fleksibel dan himbauan HUKUM KEDOKTERAN Dibuat oleh Negara atau Institusi Kenegaraan Publik Melindungi masyarakat Lebih bersifat dinamis dan rigid .PERBANDINGAN ETIKA DAN HUKUM (2) PERBEDAANNYA ETIKA KEDOKTERAN Terjadinya Kepentingan Tujuan Ciri-ciri Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi Kelompok profesi Menjaga/memelihara martabat dan kehormatan Lebih bersifat statis.

PERBEDAAN ETIKA DAN HUKUM (3) PERBEDAANNYA ETIKA HUKUM KEDOKTERAN KEDOKTERAN Lama berlakunya Sanksi Relatif lebih lama Sanksi moral Sanksi psikologis Sanksi sosial Sanksi spiritual (Sanksi dijatuhkan oleh Kelompok Profesi -> MKEK) Diajukan kepada Kelompok Profesi Relatif berubah lebih cepat Sanksi hukum (pidana/perdata) -> Hukum badan (kurungan. denda) -> Ganti rugi -> Administratif (ijin dicabut) => dijatuhkan oleh MDTK Diajukan oleh yang dirugikan atau oleh MDTK dan juga MKEK Prosedur Pelanggaran .

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN (1) ‡ Kedudukan menurut hukum sama ‡ Wujud hubungannya transaksional profesional yang bersifat kontrak berdasar upaya (inspanningsverbintennis) dan bukannya kontrak berdasar hasil. ‡ Masing-masing memiliki hak dan Masingkewajiban ‡ Secara umum yang menjadi kewajiban pasien adalah hak dokter .

7. 3. 2. Faktor-faktor lingkungan.HUBUNGAN DOKTER-PASIEN (2) DOKTER‡ Keberhasilan suatu prosedur medis tergantung pada 1. Kepatuhan pasien. Kompetensi para dokter dan stafnya. (Kekuasaan Allah). ‡ . Tidak semua faktor-faktor diatas dapat dikendalikan faktordokter. 4. 8. Kondisi penyakit. Faktor konstitusional pasien sendiri. Tersedianya alat peralatan yang memadai. 5. Faktor6. Tersedianya waktu.

e. 36/2009) Hak untuk mendapat informasi Hak untuk memberi persetujuan Hak untuk merahasiakan Hak untuk memilih dokter Hak untuk mendapatkan second opinion Hak untuk memilih Rumah Sakit Hak untuk menolak suatu tindakan medik Hak untuk menolak pengobatan Hak untuk mengakhiri pengobatan Hak untuk mati secara bermartabat Hak untuk mendapatkan dukungan moral/spiritual . The right of self determination dan The right of having care. dan dari UU No 36/2009) : care.HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN (3) ‡ Hak Pasien (menurut Declaration of Human Right i.

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN (4) ‡ Kewajiban pasien : Memberi keterangan yang benar dan jujur tentang penyakitnya Menaati anjuran/instruksi dokter Menaati ketentuan-ketentuan Rumah ketentuanSakit dan beberapa kewajiban lain Memberi imbalan/jasa .

HUBUNGAN DOKTER PASIEN (5) ‡ Hak dokter : Hak untuk menolak melakukan tindakan medis yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dipertanggungsecara profesional Hak untuk menolak melakukan tindakan medis yang menurut hati nuraninya (conscience) adalah tidak atau kurang baik Hak atas imbalan/jasa Hak untuk membela diri HakHak-hak lain .

melaksanakan Ketetapan Hakim ‡ Penuntutan Tindakan untuk melimpahkan ke Pengadilan.KUHAPidana (1) Pengertian (1) ‡ Penyidik Pejabat Polri/PNS untuk penyidikan (Mencari/mengumpulkan bukti tindak pidana) ‡ Penyelidik Pejabat Polri utk penyelidikan (Menemukan peristiwa sebagai tindak pidana => Dapat/tidak dilakukan penyidikan) ‡ Jaksa wewenang Penuntut Umum. .

grasi.KUHAPidana (2) Pengertian (2) ‡ Hakim Mengadili ‡ Pra Peradilan Wewenang Pengadilan Negeri untuk => Sah/tidak penangkapan => Sah/tidak penghentian penyidikan => Permintaan ganti rugi/rehabilitasi ‡ Putusan Pengadilan Vonis ‡ Upaya hukum Upaya tersangka/terdakwa/ terhukum untuk menggunakan haknya minta keadilan (banding. kasasi. peninjauan kembali. dll) . didampingi Penasihat Hukum/Pembela. menuntut balik.

KUHAPidana (3) Pengertian (3) ‡ Penasehat Hukum Mendampingi tersangka/terdakwa/terhukum melakukan tindakan upaya hukum ‡ Tersangka Diduga Pelaku tindak pidana ‡ Terdakwa Sedang diselidiki/diadili ‡ Terhukum/terpidana Sudah dijatuhi vonis ‡ Keputusan dengan kekuatan hukum tetap -> Vonis yang sudah diterima oleh semua pihak atau yang sudah diupayakan maksimal maksimal. .

l.KUHAPidana (4) ‡ Pasal 20 s/d 31 (terutama 21) Penahanan terhadap tersangka Pasal 21 ayat 4 : Penahanan hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal : => Tindak pidana dengan ancaman penjara 5 tahun atau lebih (Penyakit/luka derajat III dan IV) => Tindak pidana termaksud dalam a. Pasal 351 ayat 1 (Penyakit/luka derajat II) .

KUHAPidana (5) ‡ Untuk memberi bukti bahwa minimal telah terjadi penyakit/luka derajat II dikeluarkan suatu Visum et Repertum Sementara (VRS) yang menerangkan tentang penyakit atau luka yang diderita korban serta penyebabnya dan bahwa korban masih dlm perawatan. karena perawatan belum selesai dan blm dpt diambil kesimpulan Tidak termasuk KUHP pasal 352 ayat 1 => Menahan si pelaku tanpa adanya suatu VRS dan hanya karena korban masih dirawat di rumah sakit tidak dapat dibenarkan secara yuridis. derajat luka blm dpt ditentukan. .

Dokter dapat dituntut ahli waris mayat : => Secara pidana. . dokter telah melanggar hukum menimbulkan kerugian bagi orang lain (KUHPerdata Pasal 1365 dan 1366). kalau permintaan penyidik seperti tsb diatas dilakukan.KUHAPidana (6) ‡ Pasal 133 ayat 1 : Permintaan keterangan Ahli kepada Dokter (termasuk pemeriksaan mayat) Permintaan penyidik yang tidak disertai alasan kuat atau masuk akal harus ditolak Jangan berlindung dibalik KUHP Pasal 50. dokter dikatakan merusak mayat (KUHPidana Pasal 406 ayat 1) => Secara perdata.

menentukan sebab kematian dan menjawab apakah perbuatan si tertuduh merupakan satu-satunya penyebab kematian satuataukah pada si korban juga terdapat penyakit atau kelainan (bawaan) yang mempermudah atau mempercepat kematiannya. dengan ini tidak mungkin ditentukan sebab kematian => Pemeriksaan bedah mayat (pemeriksaan luar dan dalam). .KUHAPidana (7) ‡ Pasal 133 ayat 2 : Ada dua jenis pemeriksaan mayat : => Pemeriksaan mayat (pemeriksaan luar saja).

KUHPidana (1) ‡ Pasal 10 -> Pembagian Pidana ‡ Pasal 35 -> Hak terpidana yang dapat dicabut ‡ Pasal 44 -> Tidak dipidana perbuatan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dipertanggung‡ Pasal 48 -> Perbuatan karena pengaruh daya paksa ‡ Pasal 50 -> Perbuatan utk melaksanakan ketentuan UU ‡ Pasal 51 -> Perbuatan utk melaksanakan perintah jabatan .

.KUHPidana (2) ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Pasal 89 -> Membuat orang pingsan Pasal 90 -> Luka berat Pasal 222 -> Menghalangi pemeriksaan mayat Pasal 224 -> Dipanggil sebagai saksi Pasal 242 -> Keterangan palsu diatas sumpah Pasal 263 -> Membuat surat palsu Pasal 267 dan 268 -> Dokter yang sengaja memberikan surat/keterangan palsu.

KUHPidana (3) Pelanggaran susila ‡ Pasal 284 -> Penyerangan seksual ‡ Pasal 286 -> Bersetubuh dengan wanita yang pingsan (diluar perkawinan) ‡ Pasal 287 -> Bersetubuh dengan wanita dibawah umur (diluar perkawinan) ‡ Pasal 290 -> Perbuatan cabul dengan seseorang yang pingsan dan belum cukup umur ‡ Pasal 291 -> Jika perbuatan dalam pasal 286-290 286mengakibatkan luka berat atau kematian ‡ Pasal 294 -> Perbuatan cabul dengan anak atau bawahannya yang belum dewasa (Termasuk yang dilakukan dokter) .

KUHPidana (4) Pengguguran ‡ Pasal 299 -> Mengobati wanita untuk menggugurkan ‡ Pasal 346 -> Sengaja menggugurkan ‡ Pasal 347 -> Menggugurkan kandungan tanpa persetujuan ‡ Pasal 348 -> Menggugurkan kandungan dengan persetujuan ‡ Pasal 349 -> Dokter yang membantu perbuatan dalam pasal 346-348 346- .

KUHPidana (5) ‡ Pasal 304 -> Sengaja membiarkan orang yang perlu ditolong ‡ Pasal 322 -> Membuka rahasia ‡ Pasal 338 -> Sengaja merampas nyawa orang lain ‡ Pasal 340 -> Sengaja merampas nyawa dengan rencana ‡ Pasal 341 -> Ibu yang merampas nyawa anaknya pada waktu melahirkan .

KUHPidana (6) Penganiayaan -> Penyakit/luka ‡ Pasal 351 ayat 1 -> Penyakit/luka sedang (derajat II) ‡ Pasal 351 ayat 2 -> Penyakit/luka berat (derajat III) ‡ Pasal 351 ayat 3 -> Penyakit/luka yang menyebabkan kematian (derajat IV) ‡ Pasal 352 ayat 1 -> Penyakit/luka ringan (derajat I) .

KUHPidana (7) ‡ Jika orang luka dibawa ke rumah sakit. maka terdapat kemungkinan sebagai berikut : ‡Tidak dirawat/ tidak perlu ‡ORANG HIDUP istirahat (I) ‡Hidup ‡KUHPidana Ps 90 (III) ‡Mati (IV) ‡KUHPidana Ps 90 (II) ‡Dirawat ‡Selesai perawatan .

KUHPidana (8) ‡ Pasal 359 -> Karena kelalaiannya menyebabkan orang lain mati (Ini sebenarnya untuk pelanggaran lalu lintas) ‡ Pasal 360 -> Karena kelalaiannya menyebabkan orang lain luka berat (Ini juga untuk pelanggaran lalu lintas) ‡ Pasal 361 -> Kejahatan yang menyebabkan mati/luka karena menjalankan suatu jabatan .

KUHPidana (9) ‡ Pasal 372 jo Pasal 209 -> Pidana perpajakan ‡ Pasal 382 -> Penipuan dan misrepresentasi ‡ Pasal 406 -> Sengaja merusak barang/hewan (termasuk mayat) milik orang lain. .

KUHPidana (10) ‡ Pasal 512 -> Melakukan praktek tidak legal ‡ Pasal 512a -> Dokter yang tidak punya surat ijin ‡ Pasal 522 -> Dipanggil sebagai saksi ahli tidak datang ‡ Pasal 531 -> Tidak memberi pertolongan terhadap orang yang sedang menghadapi maut ‡ Pasal 534 -> Terang-terangan menunjukkan Terangsarana mencegah kehamilan. .

KUHPerdata ‡ Pasal 1365 -> Kewajiban memberi ganti rugi kepada orang lain yang mengalami kerugian karena perbuatan melanggar hukum ‡ Pasal 1366 -> Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya. tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hatihati-hatinya. ‡ Pasal 1370 dan 1371 -> Mempertimbangkan kedudukan. . kemampuan dan keadaan kedua belah pihak.

UU No 23/1992 TENTANG POKOK-POKOK KESEHATAN POKOKPengantar ‡ UU No 23 tahun 1992 merupakan produk hukum (semacam Health Act) dan sekaligus sebagai guidelines tentang sistem kesehatan di negara kita yang menggantikan berbagai UU terdahulu yang berkaitan dengan kesehatan ‡ Sebagai salah satu hukum pidana berisikan materi hukum serta sanksinya yang dapat melengkapi KUHPidana yang sudah ada .

20. 4. 32. 19. 37. dst. 24. 7. 5. 9.UU No 23/1992 Pengantar (2) ‡ Namun ada pula yang tidak bersifat normatif yaitu tidak jelas sanksinya bila dilanggar. 13. . 3. 18. dimana harus ada : Unsur kerugian Hubungan kepentingan Hakikat norma yang dilanggar ‡ Contohnya pasal-pasal 2. 30. pasal17. 29. 28. 12.

78 tentang Pengawasan -> Pasal 72 ayat 1 tentang pembentukan Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional (yang baru dibentuk pada 17/2/1995) . 53. 51.UU No 23/1992 Pengantar (3) ‡ Selain itu UU ini juga memiliki aspek lain yaitu : -> Pasal 50. 55 tentang hukum administrasi -> Pasal 76. 52. 77. 54.

peran Pemerintah dan masyarakat. kaitan dengan keberhasilan pembangunan) ‡ Perangkat hukum kesehatan . bagaimana diselenggarakan.UU No 23/1992 Umum ‡ Dasar hukum : UUD 1945 pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) ‡ Penyempurnaan/Pengintegrasian ‡ Dasar Penyusunan ‡ Dasar Pertimbangan ‡ Pembangunan Kesehatan (sasaran. orientasi.

Umum (2) ‡ Hal-hal pokok : HalAsas dan tujuan (Bab II) Hak dan kewajiban Bab III) Tugas dan tanggung jawab (Bab IV) Upaya kesehatan (Bab V) Sumberdaya kesehatan (Bab VI) Ketentuan pidana (Bab X) ‡ Validitas ketentuan hukum : 9 UU tidak berlaku lagi Yang tidak bertentangan masih berlaku 29 ketentuan memerlukan PP 2 ketentuan memerlukan Keppres ‡ Isi : 12 bab. 90 pasal. .

UU No 23/1992 ‡ Bab I Pasal 1 Ketentuan Umum Pengertian ‡ Bab II Asas dan Tujuan ‡ Pasal 2 Definisi kesehatan dan asas penyelenggaraan pembangunan kesehatan ‡ Pasal 3 Tujuan Pembangunan Kesehatan ‡ Bab III Hak dan Kewajiban ‡ Pasal 4 Hak seseorang ‡ Pasal 5 Kewajiban seseorang memelihara kesehatan .

UU No 23/1992 ‡ Bab IV Tugas dan Tanggung Jawab ‡ Pasal 6 Upaya kesehatan dan tugas Pemerintah ‡ Pasal 7 Bagaimana upaya kesehatan diselenggarakan ‡ Pasal 8 Peran serta masyarakat ‡ Pasal 9 Tanggung jawab Pemerintah .

‡ ‡ ‡ ‡ Pasal 12-19 Kesehatan Keluarga 12Pasal 12 Sasaran Pasal 13 Kesehatan Suami-istri SuamiPasal 14 Kesehatan Istri .UU No 23/1992 Bab V Upaya Kesehatan ‡ Pasal 10 Upaya kesehatan yang bagaimana ‡ Pasal 11 Kegiatan melaksanakan upaya kesehatan (ada 15 kegiatan). Pengertian Kesehatan Matra.

348 dan 349. 347. 346.Bab V Upaya Kesehatan (2) ‡ Pasal 15 Tindakan medis tertentu terhadap wanita hamil Syaratnya : => Berdasarkan indikasi medis => Oleh tenaga kesehatan yang ahli/berwenang => Persetujuan yang bersangkutan atau suami atau keluarga => Pada sarana kesehatan tertentu Bandingkan dengan istilah Pengguguran pada KUHP Pasal 299. .

syaratnya : Hasil pembuahan ditanamkan ke asalnya Oleh tenaga kesehatan yang ahli /berwenang Pada sarana kesehatan tertentu Sesuai norma hukum.Bab V Upaya Kesehatan (3) ‡ Pasal 16 Kehamilan diluar cara alami. norma agama. norma kesusilaan dan norma kesopanan. .

Bab V Upaya Kesehatan (4) ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Pasal 17 Kesehatan Anak Pasal 18 Peran keluarga dan Pemerintah Pasal 19 Kesehatan Manula Pasal 20 Perbaikan Gizi Pasal 21 Pengamanan Makanan dan Minuman Harus berlabel. memuat : => Bahan => Komposisi tiap bahan => Tanggal/bulan/tahun kedaluwarsa => Ketentuan lain .

pihak penyelenggara ‡ Pasal 25 Kewajiban Pemerintah ‡ Pasal 26 Penderita -> Gangguan keamanan ‡ Pasal 27 Peranan . kegiatan.Bab V Upaya Kesehatan (5) ‡ Pasal 22 Kesehatan Lingkungan (lingkungan sehat) ‡ Pasal 23 Kesehatan Kerja (Kualitas dan produktivitas kerja) ‡ Pasal 24 -27 Kesehatan Jiwa ‡ Pasal 24 Sasaran.

Bab V Upaya Kesehatan (6) Pemberantasan Penyakit ‡ Pasal 28-31 Pemberantasan Penyakit 28‡ Pasal 28 Tujuan dan terhadap apa (penyakit menular/tidak) -> Angka sakit dan angka kematian menurun ‡ Pasal 29 Sasaran pemberantasan penyakit tidak menular ‡ Pasal 30 Bagaimana dilaksanakan ‡ Pasal 31 Wabah dan karantina .

Bab V Upaya Kesehatan (7) Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan Kesehatan Pasal 32-37 32Pasal 32 Sasaran dan Bagaimana. Syarat dan Tata cara Pasal 35 Yang berwenang Transfusi darah dan Tata cara Pasal 36 Yang berwenang Implan obat/alat Pasal 37 Bedah Plastik dan Rekonstruksi => Semuanya sesuai 4 norma. ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ . Transplantasi dan Implan. Pengobatan dan Perawatan berdasar cara lain Pasal 33 Transplantasi/Implan/Transfusi darah Tujuan kemanusiaan Pasal 34 Yang berwenang Transplantasi dan sarana.

Bab V Upaya Kesehatan (8) ‡ Pasal 38 Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Sasaran dan Ketentuan ‡ Pasal 39-43 Farmasi dan Alat Kesehatan 39‡ Pasal 39 Definisi. Sasaran Pengamanan ‡ Pasal 40 Ketentuan Dasar Sediaan Farmasi ‡ Pasal 41 Peredaran ‡ Pasal 42 Upaya Pengamanan ‡ Pasal 43 Ketentuan pengamanan sediaan Farmasi/Alkes ditetapkan PP .

Bab V Upaya Kesehatan (9) Pasal 44 Zat adiktif Pasal 45 Kesehatan Sekolah Pasal 46 Kesehatan Olah Raga Pasal 47 Pengobatan Tradisional -> Definisi. Obat tradisional ‡ Pasal 48 Kesehatan Matra Kesehatan Lapangan Kesehatan Kelautan/Bawah Laut Kesehatan Kedirgantaran ‡ ‡ ‡ ‡ . Ketentuan Dasar.

Sarana. Perbekalan.UU No 23/1992 Bab VI Sumberdaya Kesehatan ‡ Pasal 49 Pengertian : Tenaga. Penelitian-pengembangan Penelitian‡ Pasal 50 Tugas Tenaga Kesehatan ‡ Pasal 51 Pengadaan Tenaga Kesehatan ‡ Pasal 52 Penempatan Tenaga Kesehatan ‡ Pasal 53 Tugas dan Kewajiban Tenaga Kesehatan Standar Profesi Hak Pasien : => Informasi => Persetujuan => Rahasia Kedokteran => Pendapat Kedua (Second Opinion) . Pengelolaan. Pembiayaan.

Memperoleh perlindungan hukum Karena belum ada standar profesi. b. ‡ Hak Tenaga Kesehatan : a. b. Melaksanakan tugas sesuai profesinya. Menghormati Hak Pasien.HAK DAN KEWAJIBAN TENAGA KESEHATAN ‡ Kewajiban Tenaga Kesehatan : a. Mematuhi Standar Profesi Belum ada PP nya. Hakim berpatokan pada KUHP. .

Bab VI Sumberdaya Kesehatan (2) ‡ Pasal 54 Sanksi MDTK ‡ Pasal 55 Ganti Rugi Pasal 56-59 Sarana Kesehatan 56Pasal 56 Pengertian Pasal 57 Fungsi (Dasar. Penunjang) Fungsi Sosial Pasal 58 Bentuk Hukum Badan Hukum dan Tidak Pasal 59 Izin Ketentuannya dengan PP ‡ ‡ ‡ ‡ . Rujukan.

. Obat tradisional Pasal 63 Pekerjaan Kefarmasian Pasal 64 Ketentuan Pelaksanaan Pasal 65-66 Pembiayaan Kesehatan 65‡ Pasal 65 Peran masyarakat dan Pemerintah ‡ Pasal 66 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Badan Hukum dan Izin.Bab VI Sumberdaya Kesehatan (3) ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Pasal 60-64 Perbekalan Kesehatan 60Pasal 60 Pengertian Pasal 61 Pengelolaan Pasal 62 Produksi.

Bedah Mayat (Klinis. Forensik) . Anatomis.Bab VI Sumberdaya Kesehatan (4) Pasal 67-68 Pengelolaan Kesehatan 67‡ Pasal 67 Sasaran dan Upaya ‡ Pasal 68 Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 69-70 Penelitian & Pengembangan 69‡ Pasal 69 Sasaran dan bagaimana pelaksanaannya. Harus sesuai 4 norma ‡ Pasal 70 Ketentuan Pelaksanaan.

UU No 23/1992 Bab VII Peran Serta Masyarakat ‡ Pasal 71 Sejauh mana? Posisi Pemerintah ? Ketentuan Pelaksanaan ? ‡ Pasal 72 Ikut dalam Politik Pemerintah Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional (BPKN) .

UU No 23/1992 Bab VIII Pembinaan dan Pengawasan Pasal 73-75 Pembinaan 73‡ Pasal 73 Yang melaksanakan : Pemerintah ‡ Pasal 74 Sasaran : Derajat kesehatan masyarakat optimal Kebutuhan masyarakat (pelayanan dan perbekalan kesehatan) Perlindungan terhadap gangguan/ bahaya kesehatan Kemudahan meningkatkan upaya kesehatan Peningkatan mutu profesional tenaga kesehatan ‡ Pasal 75 Ketentuan Pelaksanaan .

Bab VIII Pembinaan dan Pengawasan (2) Pasal 76-78 Pengawasan 76‡ Pasal 76 Pengawasan oleh Pemerintah ‡ Pasal 77 Wewenang Pemerintah terhadap pelanggaran oleh tenaga kesehatan dan sarana kesehatan Tindakan Administratif : => Izin Usaha dicabut => Izin Praktek dicabut => Izin lain dicabut => Hukuman disiplin bagi tenaga kesehatan (Setelah mendengar MDTK atau Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan) ‡ Pasal 78 Ketentuan Pelaksanaan .

Bab IX Penyidikan ‡ Pasal 79 Penyidik Tindak Pidana : => Polisi => PNS Khusus Ketentuan : => UU No 8/1981 tentang KUHAPidana .

Ps 36.UU No 23/1992 Bab X Ketentuan Pidana Pasal 80-83 Tindak Kejahatan 80‡ Pasal 80 Ps 15 (1) terhadap ibu hamil Ps 66 (2) izin/badan hukum JPKM Ps 33 (3) transplantasi/transfusi darah Ps 21. Ps 40 (4) makanan/obat ‡ Pasal 81 Ps 34. Ps 37 (1) tanpa keahlian/wewenang tindakan donor sembarangan produksi non-standar nonmengedarkan tanpa izin penelitianpenelitian-pengembangan yang ngawur melakukan Ps 34 (2) Ps 40 (2) Ps 41 (2) Ps 69 (2) .

Bab X Ketentuan Pidana (2) ‡ Pasal 82 Ps 32 (1) tanpa keahlian/wewenang melakukan pengobatan Ps 35 (1) tanpa keahlian/wewenang melakukan transfusi Ps 36 (1) melakukan implan tanpa wewenang Ps 63 (1) melakukan kefarmasian tanpa wewenang Ps 70 (1) bedah mayat tanpa wewenang Ps 16 (2) kehamilan diluar alami tanpa ketentuan Ps 40 (2) produksi/edar obat dan kosmetika tidak memenuhi persyaratan Ps 41 (2) sediaan farmasi/alkes yang tanpa penandaan informasi Ps 44 (2) zat adiktif tanpa persyaratan standar ‡ Pasal 83 Tindak pidana bila menimbulkan luka berat atau kematian. .

Bab X Ketentuan Pidana (3) ‡ Pasal 84 Tindak Pelanggaran Ps 21 (1) edar makanan tanpa label Ps 22 (2) lingkungan jelek Ps 23 (3) tempat kerja jelek Ps 26 (4) menghalangi perawatan penderita jiwa Ps 58. . 59 (5) sarana tanpa izin ‡ Pasal 85 Tindak pidana kejahatan dan pelanggaran ‡ Pasal 86 Pelaksanaan UU -> PP -> Ketentuan pidana berupa pelanggaran -> Denda Rp10J.

.UU No 23/1992 ‡ Bab XI Ketentuan Peralihan ‡ Pasal 87 Sembilan buah UU masih berlaku sepanjang belum diganti ‡ Pasal 88 Penyesuaian ‡ Bab XII Ketentuan Penutup ‡ Pasal 89 Sembilan buah UU dinyatakan tidak berlaku ‡ Pasal 90 Pemberlakuan UU tanggal 17 September 1992.

UU baru ini terdiri dari 205 pasal.UU No 36/2009 Sejak 13 Oktober 2009. . Sebagai penggantinya adalah UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

UU NO 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN (UUPK) PENDAHULUAN ‡ Naskah UUPK disetujui DPR 7/9/2004. ‡ Awal 2004 s/d Agustus 2004 diadakan pembicaraan intensif menghasilkan rumusan akhir. ‡ Draft inisiatif DPR disampaikan kepada Presiden ditanggapi Pemerintah dan dibuat Naskah tandingan. . PB IDI dan Biro Hukum Depkes Draft diserahkan kepada DPR. disyahkan Presiden / /2004 dan berlaku 1 tahun sejak diundangkan. ‡ Dimulai adanya gagasan membentuk Konsil Kedokteran pada awal 1980-an. 1980‡ Perumusan RUU 1988 oleh para ahli dari CHS.

Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan. . Memberikan kepastian hukum. 3. Standar pendidikan. 2. ‡ Tujuan UUPK : 1.SUBSTANSI DAN STRUKTUR UUPK (1) ‡ Mengatur banyak hal : Konsil Kedokteran (KKI). regristrasi. dll. Memberikan perlindungan kepada pasien. perizinan.

Melakukan registrasi. ‡ Tugas KKI : 1. . 3. Mengesahkan standar pendidikan dokter.SUBSTANSI DAN STRUKTUR UUPK (2) ‡ KKI dibentuk untuk melindungi masyarakat penerima jasa dan meningkatkan mutu pelayanan. 2. Melakukan pembinaan praktik dokter.

Disiplin dokter. Azas dan Tujuan. 5. 7. 9. 4. Setiap unsur dalam UUPK dielaborasi lebih detil dan dalam beberapa hal ada mandat tindak lanjut. Pendidikan dan Pelatihan. Konsil Kedokteran. 2. .RUANG LINGKUP 1. Ketentuan Umum. 8. Standar Pendidikan Profesi Dokter. Registrasi dokter. 3. 6. Pembinaan dan Pengawasan. Penyelenggaran Praktik Kedokteran.

Mempunyai tempat praktik. Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). ‡ SIP diberikan maksimum untuk 3 tempat praktik. STR masih berlaku. Tempat praktik masih sesuai. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi. ‡ Untuk memperoleh SIP harus : 1. ‡ SIP berlaku sepanjang : 1. 2. 3.PENGATURAN PRAKTIK KEDOKTERAN Setiap dokter yang melakukan praktik : ‡ Wajib memiliki SIP. . ‡ SIP diterbitkan oleh Dinas Kesehatan. 2. ‡ Satu SIP untuk satu tempat.

‡ Pimpinan harus membuat daftar dokter yang berpraktik ‡ Wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran. ‡ Wajib memasang papan nama. ‡ Pimpinan sarana pelayanan kesehatan hanya boleh memperkerjakan dokter yang memiliki SIP.PRAKTIK KEDOKTERAN (1) ‡ Diselenggarakan berdasarkan kesepakatan atara dokter dan pasien. .

. ‡ Wajib membuat rekam medis yang harus dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan.PRAKTIK KEDOKTERAN (2) ‡ Setiap tindakan harus mendapat persetujuan setelah pasien mendapat penjelasan lengkap. ‡ Setiap tindakan yang mengandung risiko harus diberikan dengan persetujuan tertulis.

‡ Setiap dokter wajib menyimpan rahasia kedokteran . permintaan penegak hukum. .PRAKTIK KEDOKTERAN (3) . ‡ Dokuman RM merupakan milik dokter atau sarana pelayanan kesehatan. hanya boleh dibuka untuk kepentingan pasien. permintaan pasien dan perintah undangundang-undang. sedangkan isi RM merupakan milik pasien.

Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya. 2. 3. 4. Menerima imbalan jasa. . Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional.HAK DOKTER 1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional.

3. 5. 4. Merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik. 2. kecuali apabila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. . Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran. apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan dan pengobatan. bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien.KEWAJIBAN DOKTER 1.

3. Mendapatkan isi rekam medis. 4. Menolak tindakan medis. 2. 5. . Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis. Meminta pendapat dokter lain.HAK PASIEN 1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis.

Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. 2. Memberikan informasi lengkap dan jujur tentang masalah kesehatan. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter. 4.KEWAJIBAN PASIEN 1. 3. . Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan.

DISIPLIN DOKTER Untuk menegakkan disiplin dokter dalam menyelenggarakan praktik kedokteran dibentuk Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (disingkat MKDKI). .

Keanggotaanya terdiri dari 3 dokter. 6. 5. 2. Bertanggung jawab kepada KKI. . Berkedudukan di ibu kota negara RI. Dapat mengusulkan kepada KKI untuk membentuk MKDK daerah. 3 dokter gigi dan 3 sarjana hukum. Dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. Merupakan lembaga otonomi KKI.MKDKI (1) 1. 3. 4.

Tugas : a.MKDKI (2) 7. Keanggotaannya ditetapkan oleh Menteri atas saran organisasi profesi. Menerima pengaduan. memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter. . Masa bhakti lima tahun. 8. Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter. 9. b.

. ‡ MKDKI memeriksa dan memberikan keputusan terhadap pengaduan yang berkaitan dengan disiplin dokter. MKDKI meneruskan pengaduan kepada organisasi profesi. ‡ Apabila dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran etika.PENGADUAN (1) ‡ Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua MKDKI.

Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan. atau 2. ‡ Sanksi disiplin dapat berupa : 1. Pemberian peringatan tertulis. dan atau 3. ‡ Keputusan dapat berupa : 1. . Dinyatakan tidak bersalah.PENGADUAN (2) ‡ Keputusan MKDKI mengikat dokter. 2. Pemberian sanksi disiplin. Rekomendasi pencabutan STR atau SIP. dokter gigi dan KKI.

PENGADUAN (3) ‡ Pengaduan atas adanya dugaan pelanggaran disiplin pada saat belum terbentuknya MKDKI ditangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di tingkat pertama dan Menteri pada tingkat banding. .

2. 3. . Menyalahgunakan gelar dokter oleh yang tidak berhak. Melakukan praktik tanpa SIP. Melakukan praktik tanpa memiliki STR.KETENTUAN PIDANA (1) Sanksi hukuman pidana penjara dan atau denda dapat diberikan kepada mereka yang : 1.

Tidak memasang papan nama. tidak membuat RM dan tidak memenuhi kewajiban. . Memperkerjakan dokter dan dokter gigi yang tidak memiliki SIP. 5. Menggunakan alat. 6. metoda dll yang ingin mengesankan penggunanya seolah-olah seolahdokter.KETENTUAN PIDANA (2) 4.

‡ Membuat 6 Peraturan KKI. Kompetensi dokter. . 3. 5. 4. ‡ Membuat 8 Peraturan Menteri. Prosedur Operasional. Pendidikan profesi. ‡ Membuat Standar : 1. Pelayanan kedokteran.TANTANGAN UNTUK ORGANISASI PROFESI Proaktif dan memberikan masukan terhadap : ‡ Pembentukan KKI. Profesi. 2.

III. II.UU No 22/1997 TENTANG NARKOTIKA ‡ Narkotika Zat/obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman (sintetis/ semisintetis) yang dapat menyebabkan : => Penurunan/perubahan kesadaran => Hilangnya rasa => Mengurangi/menghilangkan rasa nyeri => Dapatmenimbulkan ketergantungan Dibedakan kedalam Gol I. .

NARKOTIKA (2) ‡ Gol I Hanya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang untuk kepentingan lain ‡ Gol II dan III Yang berupa bahan baku dapat diedarkan tanpa wajib daftar pada Depkes ‡ Tujuan UU : Menjamin ketersediaan untuk pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan Mencegah penyalah gunaan Memberantas peredaran gelap. .

Peredaran. Impor/Ekspor. Label dan Publikasi.NARKOTIKA (3) ‡ Kandungan isi : 15 bab. PenyidikanPenyidikan-Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan. Tujuan. Ketentuan lain. Pemusnahan. Peran serta masyarakat. Ketentuian pidana. Pengobatan dan Rehabilitasi. Pengadaan. 104 pasal ‡ Ruang lingkup : Umum. Ketentuan Peralihan . Pembinaan dan Pengawasan.

NARKOTIKA (4) ‡ Gol I : Papaver somniferum L (kecuali bijinya) Opium mentah Tanaman koka (Erythroxylaceae) Kokain mentah Kokaina (Metil-ester-l-bensoil-ekgonina) (Metil-ester.bensoilTanaman ganja dan derivatnya Asetorfin dan derivatnya Heroina (diasetil morfina) MPPP (metil-fenil-piperidinol-propionat) (metil-fenil-piperidinolDerivat Fentanil .

.NARKOTIKA (5) ‡ Gol II : Morfina dan derivatnya Ekgonina Furetidin Fentanil Metadona Metopon Opium Petidina GaramGaram-garam tersebut diatas.

.NARKOTIKA (6) ‡ Gol III : Kodeina Derivat kodeina Campuran Opium dan bahan lain Campuran narkotika lain dan bahan lain EtilEtil-morfina Dihidrokodeina.

UU No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika
Sejak 12 Oktober 2009, UU No 22 Tahun 1997 tentang Narkotika dan Lampiran mengenai jenis Psikotropika Golongan I dan Golongan II sebagaimana tercantum dalam Lampiran UU No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika yang telah dipindahkan menjadi Narkotika Golongan I menurut UU ini, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. UU baru ini terdiri dari 155 pasal.

UU No 5/1997
TENTANG PSIKOTROPIKA ‡ Psikotropika zat/obat alamiah/sintetis bukan narkotika, berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada SSP yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku, berpotensi mengakibatkan sindroma ketergantungan ‡ Penggunaan : hanya untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan terbatas (Gol I barang terlarang dan dilarang diproduksi).

PSIKOTROPIKA (2)
‡ Tujuan UU : Menjamin ketersediaan untuk pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah penyalah-gunaan, memberantas penyalahperedaran gelap ‡ Kandungan : 16 bab, 74 pasal ‡ Ruang lingkup : Umum, Tujuan, Produksi, Peredaran, Ekspor-Impor, Label dan Iklan, EksporKebutuhan, Penggunaan ,Pemantauan, Pembinaan/Pengawasan, Pemusnahan, Penyelidikan, Ketentuan Pidana.

DMT.PSIKOTROPIKA (3) ‡ Gol I : Brol Amfetamin dan derivatnya (DOB. STP. DMA. PCPY. DMHP. DET. Meskalin) Metkatinona (MMDA. TMA) . (LSDMDMA. MDA lain) Psilosibina Rolisiklidina (PHP. DOM) Tenosiklidina (TCP. DOET) Etisiklidina (PCE) Lisergida dan derivatnya (LSD-25.

PSIKOTROPIKA (4) ‡ Gol II : Amfetamin dan derivatnya (Met--. dll. Lev--) Fenetilin Fenmetrazin Fensiklidin Sekobarbital. ‡ Gol III : Flunitazepam Norpseudoefedrin Pentobarbital Siklobarbital. Amobarbital. . Lev--) (Met--.

PSIKOTROPIKA (5) ‡ Gol IV : Allobarbital dan --tal lain --tal Alprazolam dan --lam lain --lam Bromazepam. Diazepam dan --pam --pam lain Etil amfetamin Klordiazepoksida Meprobamat .

UU NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN PASIEN MERUPAKAN KONSUMEN Konsumen adalah setiap orang pemakai produk barang dan jasa (Pasal 1 ayat 2 UUPK) Produk barang : Obat. . suplemen makanan. jasa asuransi kesehatan. alat kesehatan Produk jasa : Jasa pelayanan dokter/drg.

UU NO. Mendapatkan advokasi. pendidikan dan perlindungan konsumen. 4. keamanan dan keselamatan. 5. 6. 7. jujur dan tidak diskriminatif. 8. 8 TAHUN 1999 HAK KONSUMEN SEBAGAI PASIEN MENURUT UUPK 1. Kenyamanan. Memilih. gantiHak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangHakperundang-undangan lain. 3. 2. benar-jelasDidengar pendapat dan keluhannya. Memperoleh kompensasi. ganti-rugi dan/atau penggantian. Informasi yang benar-jelas-jujur. . Dilayani secara benar.

UU NO. . Membayar sesuai nilai tukar yang disepakati. informasi dan prosedur. Beritikad baik. Mengikuti upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. 4. 8 TAHUN 1999 KEWAJIBAN PASIEN SEBAGAI KONSUMEN 1. Membaca atau mengikuti petunjuk. 3. 2.

Reliability (kehandalan) yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan. 3. tenaga kesehatan dan sarana komunikasi. 5. perlengkapan. Responsiveness (daya tanggap) yaitu keinginan tenaga kesehatan untuk membantu pasien/konsumen dan memberikan pelayanan dengan tanggap. sifat dapat dipercaya yang dimiliki tenaga kesehatan dan bebas dari resiko bahaya atau keragu-raguan. keraguEmphaty (empati) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan. komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pasien/konsumen. 8 TAHUN 1999 PENILAIAN KONSUMEN TERHADAP JASA PELAYANAN KESEHATAN 1. . Assurance (jaminan) mencakup kemampuan. Tangibles (bukti langsung dan nyata) meliputi fasilitas fisik. 2. 4.UU NO. kesopanan.

Dilayani secara benar. keamanan dan keselamatan. 9. Rahasia kedokteran. ganti-rugi dan/atau penggantian gantidalam hal tenaga kesehatan terbukti melakukan kesalahan. 6.UU NO. jujur dan tidak diskriminatif. Memberikan persetujuan. Memperoleh kompensasi. 10. 7. 2. benar-jelas4. 8. Memilih. 5. 8 TAHUN 1999 HARAPAN KONSUMEN DALAM MEMPEROLEH PELAYANAN KESEHATAN 1. . Pendapat kedua (second opinion). 3. Informasi yang benar-jelas-jujur. Hubungan kesetaraan antara Pemberilayanan dengan Konsumen. Didengar pendapat dan keluhannya. Kenyamanan.

4. 2. Catheter tertinggal dalam tubuh pasien bedah ESWL selama 2. Pengangkatan ginjal pasien berumur 17 tahun tanpa informasi kepada keluarganya. 3. .UU NO. Pasca operasi usus buntu tanpa pengawasan dokter. Kain kasa tertinggal saat operasi Caesar.5 tahun. pasien mengalami komplikasi Pyoderma Gangrenosa sehingga harus dilakukan operasi Skin Graft (peneneman kulit). 8 TAHUN 1999 CONTOH KASUS PENGADUAN TERHADAP TENAGA KESEHATAN MELALUI YPKKI (YAYASAN PEMBERDAYAAN KONSUMEN KESEHATAN INDONESIA) 1.

8 TAHUN 1999 CONTOH KASUS PENGADUAN (2) 5. 8. Wajah menjadi keloid akibat proses pelaseran. Komplikasi jantung akibat suntik lemak oleh dokter umum bersertifikat perawatan kulit tingkat dasar dan lanjut. Operasi payu dara hingga empat kali tanpa persetujuan medis. Pemberian obat untuk obesitas yang menimbulkan ketagihan /adiksi pada pasien . 6.UU NO. 7. .

11. Apotiker mengganti resep obat generik menjadi obat paten tanpa sepengetahuan dokter. Pasien miskin disandera. vaksin BCG pada bayi dilakukan sebanyak dua kali. Dokter khilaf. 12. Adanya kerjasama antara pabrik obat dengan rumah sakit dengan sistem target.UU NO. . hanya 2 kasus yang ke Pengadilan. 10. apakah rumah sakit sudah berubah fungsinya menjadi Rumah Sandera ? ------.Sebagian besar kasus tersebut dapat diselesaikan secara Mediasi. 8 TAHUN 1999 CONTOH KASUS PENGADUAN (3) 9.

Hugh. The term medical law. In its medicine. Press). It first took its rise in Germany. it does not word). 1911) ed.). and was perceived long before medical jurisprudence was formally recognized. widest sense. medical jurisprudence also includes forensic medicine. both this and medical jurisprudence proper being distinct branches of state medicine. properly include sanitation or hygiene. is not really appropriate. The connection between medicine and the law is ancient. . jurisprudence. elsewhere. since the subject is strictly a branch of medicine rather than of jurisprudence (as lawyers understand the word). appellation. Cambridge University Press).MEDICAL JURISPRUDENCE Medical jurisprudence has been defined as that branch of state medicine which treats of the application of medical knowledge to certain questions of civil and criminal law. and more tardily received recognition in Great Britain and elsewhere. or had obtained a distinct appellation. (Chisholm. ed (1911). Encyclopædia Britannica (Eleventh ed. medicine. though sanctioned by long usage.

and hair to identify the body of a victim and to compare the DNA of the criminal to that of the defendant through DNA fingerprinting. poison) and eg. blood. use such specimens as semen. An autopsy may be done to help violence. fingerprinting. resulting from violence. Forensic medicine is dead. Modern techniques rape. conversely. Medical problems. a gun shot. paternity testing) or injury or death eg. also important in cases involving rape.MEDICAL JURISPRUDENCE Medical jurisprudence: The branch of the law that deals jurisprudence: with the application of law to medicine or. determine the agent of death (eg. jurisprudence may be involved in cases concerning genetic relationships (eg. the application of medical science to legal problems. how long the person has been dead. .

administrative tribunals. science that deals with the relation and application of medical facts to legal problems. Medical problems. inquests. licensing agencies. bodies. persons giving legal evidence may appear before courts of law. boards of inquiry or certification.MEDICAL JURISPRUDENCE Medical Jurisprudence. also called Legal Medicine. . or other investigative bodies.

. hari.MEDICAL JURISPRUDENCE ‡ Kasus baru yang belum ada dasar hukumnya dalam UU atau Ketentuan lain ‡ Biasanya Hakim memutuskan berdasarkan hati nuraninya dengan mempertimbangkan bukti-bukti buktikedokteran di Pengadilan. Pengadilan. ‡ Keputusan Hakim ini menjadi Medical Jurisprudence untuk boleh diterapkan bagi kasus-kasus lain yang serupa yang kasusakan muncul di kemudian hari.

When she was 21. and alcohol. After dextropropoxyphene. the paramedics arrived and took Karen Ann to the hospital. 1985) was an important person in the history of the right to die controversy in the United States. she collapsed and stopped breathing twice for 15 minutes or more. where she lapsed into a persistent vegetative state. 1954 ± June 11. She had consumed diazepam.MEDICAL JURISPRUDENCE Karen Ann Quinlan (March 29. Quinlan became unconscious after coming home from a party. . dextropropoxyphene.

MEDICAL JURISPRUDENCE After she was kept alive on a ventilator for several months without improvement. The tribunal eventually ruled in her parents' favor. . her parents requested the hospital discontinue active care and allow her to die. she lived on in a persistent vegetative state for almost a decade until her death from pneumonia in 1985. and the subsequent legal battles made newspaper headlines and set significant precedents. Although Quinlan was removed from mechanical ventilation during 1976. The hospital refused.

Trinitas · Tony Bland · Mordechai Dov Brody · Coleman v. Regents of the University of California · Spiro Nikolouzos · Giovanni Nuvoli · Karen Ann Quinlan · Sue Rodriguez · Ramón Sampedro · Terri Schiavo case · Tuskegee syphilis experiment · Jana Van Voorhis · Piergiorgio Welby · Willowbrook State School · .Legal cases in medical ethics : Andrew Bedner · Betancourt v. Lantz · Betty and George Coumbias · Dax Cowart · Carol Carr · Nancy Cruzan · Doctors' Trial · Eluana Englaro · Tirhas Habtegiris · June Hartley · Rom Houben · Sun Hudson case · Baby K · Jack Kevorkian · Jesse Koochin · Robert Latimer · Moore v.

4. KUHPidana. KUHAPidana. UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 5. KUHPerdata. UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 2. . 3.Referensi : 1. 6.

Narkotika. Publikasi dan Artikel lain.Publikasi 13. UU No 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. UU No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Sakit.UU 12. UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.8. Kedokteran. 13. 12.UU 10. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. 11. Psikotropika. . UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Narkotika. 10. 9.UU 11.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->