Anda di halaman 1dari 4

Piagam ASEAN: Sebuah Delusi Politik Identitas ASEAN

Sejak kemunculan Piagam ASEAN kritik dan klaim keberhasilan bermunculan bagai sebuah dua sisi koin yang berbeda. Disatu sisi kritik terhadap piagam ini lebih menekankan ketidak mampuan Piagam ASEAN memberikan seuatu terobosan dalam dinamika kawasan yang sangat kompleks dengan menjuluki sebagai pendekar kertas. Disisi lain, klaim-klaim terhadap kemajuan Piagam ASEAN juga terus diberitakan oleh pemprakarsa piagam tersebut. Argumen mereka menekankan bahwa piagam tersebut sebagai suatu keberhasilan ASEAN dalam proses evolusi menuju kerjasama dan pembentukan identitas ASEAN.1 Inilah yang akan menjadi titi kritik didalam essai ini, penulis berpikir argumen terhadap klaim keberhasilan Piagam ASEAN tersebut hanya sebuah apologi dari ketidak jelasan piagam tersebut pada tataran implikasi. Lebih lagi, jika dikaitkan dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini seperti memanasnya kembali hubungan antara Indonesia dan Malaysia terkait masalah perbatasan hingga menyebabkan rakyat bertindak anarkis. Menurut penulis ketegangan tersebut notabene adalah murni permasalahan elit yang implikasinya bisa menghalangi terbentuknya identitas ASEAN sebagai penunjang ASEAN Community 2015. Oleh karena itu, penulis berpendapat Piagam ASEAN yang dikatakan sebagai alat untuk menuju identitas ASEAN adalah sebuah delusi dari politik identitas yang ingin dibangun ASEAN. Argumen itu dipilih karena dua alasan, pertama identitas adalah sebuah konsep yang kompleks berdasarkan landasan moral dan landasan legal yang saling bersinergi. Dan kedua penulis percaya harus berpola bottom up yang berarti berorientasi pada masyarakat. Sedikit mengenai identitas, Jenis identitas dibedakan menjadi dua oleh Erik H. Erikson (1989) yaitu identitas pribadi dan identitas ego. Pola dari identitas individu yaitu melihat pada pengalaman individu pribadi yang walaupun terdapat perubahan, namun pribadi tersebut tidak semerta-merta berubah. Kemudian indentitas ego, titik beratnya adalah melihat indvidu sebagai pribadi yang otonom, mampu memperlihatkan kualitas eksistensialnya untuk keluar dari masalah kebatinannya serta masyarakatnya. 2

http://id.voi.co.id/berita-internasional/asia-pasifik/452-satu-tahun-piagam-menuju-masyarakat-asean2015.html. diaskes pada tanggal Agustus 29, 2010, pukul 9:36 PM WIB Ibid.

Melalui konsep diatas dapat dikatakan pembentukan identitas awalnya dimulai dari individu-individu sebelum mencapai kerangka yang lebih luas yaitu identitas kelompok. Pola identitias yang dipaparkan membutuhkan landasan moral yang kuat sebagai penopang landasan legal yang terpusat pada pengembangan individu/masyarakat (bottom up). Oleh karena itu, dalam kerangka ASEAN untuk mencapai sebuah konsensus identitas yang positif, kerangka bawah-atas harus menjadi prioritas, bukan mementingkan pragmatisme dari pola pikir realis para pembuat kebijakannya. Walaupun pada akhirnya identitas yang definisinya masih bisa diperdebatkan akan berakhir pada stereotype dari masyarakat diluar kelompok. Namun, inilah yang sebenarnya juga dicari, apakah penilaian itu berupa hal yang positif atau hal yang negatif. Dalam hal ini penulis berposisi apa yang dihasilkan ASEAN dalam pembentukan identitas belumlah mencapai nilai positif dengan contoh yang akan dibahas selanjutnya yaitu mengenai Piagam ASEAN. Dapat dikatakan delusi itu adalah sebuah istilah dimana situasi yang melebihi khayalan. Ada dua hal yang akan dianalisa didalam delusi piagam tersebut pertama, isi dari piagam yang utopis dan beberapa statement dari HLTF (The High Level Task Force) yang optimis terhadap keberhasilan Piagam ASEAN. Dalam konten dari piagam, ada poin yang sangat jelas kontradiksi dengan kenyataan yang ada dan percepatan visi ASEAN semakin menambah konyol kawasan ini dalam berdinamika. Pasal 1 ayat 1 mengenai stabilitas, pasal 1 ayat 4 dan 7 mengenai keadilan dan demokrasi, pasal 1ayat 6 sebagai mengenai pasar bebas, dan pasal 1 ayat 13 mengenai orientasi terhadap masyarakat (ASEAN Secretary, 2009). adalah pasal-pasal yang sangat delutif untuk implementasi di ASEAN apalagi dilakukan percepatan. Pertama mengenai stabilitas kawasan, kenyataanya sampai sekarang konflik yang terjadi tidak dapat diselesaikan oleh ASEAN, kasus perbatasan Indonesia-Malaysia hingga krisis demokrasi Thailand membuat ASEAN terlihat hanya menjadi penonton setia. Kemudian pasal 4 dan 7, mengenai demokrasi, sesuai data dari freedom house yang tercatat benar-benar sebagai negara demokrasi adalah Indonesia, setengah demokrasi ada 5 negara, dan sisanya tidak bebas. Walaupun isu demokrasi masih dapat di perdebatkan, analisa tersebut sudah mencerminkan betapa sulitnya mencapai demokrasi di negara Asia Tenggara. Dikaitkan dalam konteks identitas, pertama pola bawah-atas yang penulis percaya akan dapat berhasil jika kebebasan individu dan emansipasi manusia berjalan dengan baik. Oleh

karena itu paham demokrasi harus segera diterapkan pailng tidak 4 pilar utama dan penghargaan manusia secara intersubjektif. Dengan cara itu, identitas akan sendirinya terbentuk ketika masyarakat akan mencapai konsensus dari dialektika yang diciptakan. Masalah demokrasi bukan menjadi satu-satunya masalah, pragmatisme juga disinyalir menjadi salah satu penghambat terbentuknya identitas ASEAN. dipasal 6 mengenai pasar bebas, Veronika Saraswati dalam analisanya mengatakan ASEAN terbentuk berdasarkan kepentingan korporasi dengan ditandatanganinya Piagam ASEAN. Hal tersebut hanya akan menambah dominasi pasar asing yang menguntungkan mereka sendiri karena ASEAN adalah pasar yang sangat potensial dengan 600 juta warga.3 Melihat argumen ini, penulis jadi teringat sebuah konsep fail state tentang bagaiaman siklus negara maju yang akan mencapai peak point dan mengalami kematian. Disanalah, negara maju harus mencari negara berkembang untuk menopang ekonomi mereka agar tetap berjalan. Dalam hal ini, para kaum globalis menggunakan neo-liberal institusionalis sebagai sistem pendukung. Lalu sesuai fakta, ASEAN memang menjadi negara yang direbutkan pasarnya dengan persaingan Amerika Serikat dan China. Pengakaitan dengan konsep indetitas, menurut penulis jelas pola ini tidak memihak pada rakyat, dan akan menghilangkan esensi dari identitas yang harus muncul dari kebudayaan dan norma. Selanjutnya, beberapa argumen dari pengagas yang pertama dari, Tan Sri Ahmad Fuzi bin Abdul Razak dari Malaysia, argumennya mengatakan kritik terhadap piagam ASEAN tidak berdasar karena mereka tidak mengahargai bagaiamana kompleksitas yang dilakukan untuk membentuk piagam ini.4 Anggota HLTF telah melalui proses yang menyakitkan, oleh karena itu piagam tersebut harus dihargai karena tidak ada satupun negara yang dapat mengklaim piagam itu sebagai perumus dominan. 5 Kemudian, Termsak Chalermpalanupap, juga mengatakan banyak sekali yang kritik yang tidak adil dalam pembuatan piagam ASEAN. Dia mengatakan ada 10 hal yang menyatakan kenapa kita butuh dengan piagam ASEAN diantaranya yang dianggap penting, Piagam ASEAN bukan sebuah ide baru, kepemimpinanan Indonesia dan Malaysia

http://www.globaljust.org/index.php?option=com_content&task=view&id=246&Itemid=165. Diakses pada May 20, 2010, 1:28 PM 4 Tommy Koh, Rosario G Manalo, and, Walter Woon. The Making of Asean Charter , page 19-20. 5 Ibid.

menghidupkan kembali tentang pentingnya piagam, dan ASEAN dan EU bukan suatu variabel yang dapat dibandingkan. 6 Namun yang menjadi pikiran penulis, hal ini sangat manipulatif, karena melihat dari keadaan saat pembuatan piagam dimana belum semua negara menganut sistem demokrasi, bagaiamana piagam ini dapat diratifikasi. Hal ini buat penulis menguatkan bahwa ASEAN hanyalah regional yang dimiliki pemerintah. Untuk konteks identitas, jelas ini tidak bisa, jika ingin mencari identitas yang valid. Sekali lagi kita membutuhkan orientasi masyarakat yang sepenuhnya dalam pembentukan identitas. Hal ini sangat menghambat, lebih lagi, walaupun tidak berpola masyarkat, ASEAN sendiri tidak jelas berfokus pada pilar yang mana, ekonomi, keamanan, atau sosio-politik. Ini jelas menegaskan pragmatisme memang muncul di ASEAN. Jadi dari semua yang dipaparkan tersebut, akankah tercipta identitas? masihkan kita percaya ASEAN akan mencapai ASEAN Community 2015? Atau berganti nama menjadi Paguyuban ASEAN?

Ibid. page 118-134.