Anda di halaman 1dari 12

REKAYASA GENETIKA

Bioteknologi merupakan suatu penerapan ilmu dan rekayasa dalam mengelola bahan organik atau anorganik dengan menggunakan jasa makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, maupun mikroba seperti jamur dan bakteri. Tanpa disadari, nenek moyang kita sudah menggunakan teknik bioteknologi dg memanfaatkan makhluk hidup, khususnya mikroba untuk pembuatan berbagai macam makanan seperti roti dengan proses fermentasi alkohol. Dalam bioteknologi, peran mikroba sangat penting karena mampu mengubah bahan pangan menjadi bentuk lain. Contohnya adalah proses pembuatan tape, tempe, nata de coco, protein sel tunggal (SCP) serta makanan dan minuman dari fermentasi susu. Selain mampu mengubah dalam bentuk lain, mikroba juga mampu menghasilkan obat-obatan sebagai vaksin ataupun berperan dalam bidang lain yang bermanfaat (Zakrinal dan Purnama, 2009). Seiring dengan perkembangan zaman, para ilmuwan berusaha mengembangkan bioteknologi menjadi lebih modern (Zakrinal dan Purnama, 2009). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebuah fenomena dan fakta yang jelas dan pasti terjadi sebagai sebuah proses yang berlangsung secara terus-menerus bagi kehidupan global (Zamroni, 2007). Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, menjadi semakin sulit untuk menentukan apa yg berguna dan apa yg berbahaya bagi masyarakat. Inilah mengapa bioteknologi, termasuk rekayasa genetika, telah menjadi fokus pada begitu banyak perdebatan (Murakami, 2004). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini juga memicu bertambahnya produk-produk perdagangan, salah satunya adalah produk rekayasa genetika, yang mana memiliki segi positif dan negatif sekaligus meningkatkan kesadaran konsumen akan mutu dan keamanan produk yang dikonsumsinya (Tobing, 2009). Penelitian tentang rekayasa genetika telah dimulai pada awal 1950-an. Sebelumnya, rekayasa genetika dianggap sebagai suatu impian saja. Akan tetapi, kini kemampuan untuk mencangkokkan bahan genetik dan membongkar kembali informasi keturunan memberikan hasil nyata dan telah terbukti sangat bermanfaat. Bahan genetik DNA mengandung informasi keturunan yang dimiliki oleh makhluk hidup. Bahan genetik DNA berupa pita ganda yang berbentuk spiral (double helix). Jika diumpamakan, salah satu pita ini menyerupai sebuah pita kaset rekaman. Pita ini dapat dihapus untuk kemudian diganti dg rekaman yang lain (Karmana, 2006). Secara umum, rekayasa genetika adalah istilah dalam ilmu biologi yang artinya adalah usaha manusia dalam memanipulasi (rekayasa) sel atau gen yang terdapat pada suatu organismee tertentu dengan tujuan menghasilkan organisme jenis baru yang identik secara

genetika (Zamroni, 2007). Tindakan rekayasa genetika adalah tindakan sengaja untuk memodifikasi DNA (substansi kimiawi dalam kromosom yg bertanggung jawab atas pewarisan sifat) (Chang, 2009). Rekayasa genetika adalah teknik yang dilakukan manusia mentransfer (memindahkan) gen (DNA) yang dianggap menguntungkan dari satu organisme kepada susunan gen (DNA) dari organisme lain (Kandary, 2010). Teknik rekayasa genetika adalah suatu cara mengganti atau menambah DNA dari organisme lain ke susunan DNA asli dalam suatu sel dari suatu organisme. Teknik ini juga disebut rekombinasi genetika (Abdulah dkk, 2007). Rekayasa genetika adalah proses pembentukan rekombinan baru dari material genetik dengan cara penyisipan suatu molekul asam nukleat asing (yang dihasilkan di luar sel) ke dalam suatu vektor sehingga memungkinkan penggabungan dan kelanjutan berkembang/diperbanyak di dalam sel inang yang baru (Malik, 2009). Proses rekayasa genetika dapat juga dikatakan sebagai proses perkembangbiakan dengan memanfaatkan bahan-bahan baku yang telah ada untuk menghasilkan organisme atau produk (keturunan) baru melalui cara memanipulasi dengan menggunakan alat atau prosedur tertentu (Zamroni, 2007). Rekayasa genetika dapat diaplikasikan sebagai ilmu yang berkaitan dengan usaha untuk mengubah struktur, transmisi dan efek gen yang mengarah pada hereditas. Rekayasa genetika pada dasarnya mampu mengubah genotip suatu makhluk hidup dengan cara meletakkan gen yang tidak pernah dimiliki sebelumnya (Zakrinal dan Purnama, 2009). Secara sederhana, adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam rekayasa genetika memiliki urutan sebagai berikut : (Gambar)

1. DNA suatu organisme dipotong menggunakan enzim restriksi. 2. DNA organisme lain juga dipotong dengan enzim restriksi. 3. DNA yang telah terpotong. 4. DNA dari dua organisme dicampur. 5. DNA dari suatu organisme yang telah tersisipi DNA organisme lain. 6. Sel-sel yang mengandung DNA hasil rekayasa. 7. Pemanenan produk. (Abdulah dkk, 2007)

Selain itu, beberapa manfaat dari rekayasa genetika antara lain: a. Meningkatnya derajat kesehatan manusia, dengan diproduksinya berbagai hormon manusia seperti insulin dan hormon pertumbuhan. b. Tersedianya bahan makanan yang lebih melimpah. c. Tersedianya sumber energi yang terbaharui. d. Proses industri yang lebih murah. e. Berkurangnya polusi. (Kandary, 2010) Kloning merupakan salah satu contoh dari rekayasa genetika. Prosesnya

membutuhkan gen yang mengandung sifat utama dari gen yang diisolasi. Gen tersebut dimasukkan ke dalam makhluk hidup yang akan direkayasa (Zakrinal dan Purnama, 2009). Secara harfiah, kata klon (Yunani: klon, klonos) berarti cabang atau ranting muda. Kloning berarti proses pembuatan (produksi) dua atau lebih individu (makhluk hidup) yang identik secara genetik. Kloning organisme sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa ribu tahun lalu dalam bidang hortikultura. Tanaman baru, misalnya, dapat diciptakan dari sebuah ranting. Dalam dunia hortikultura (dunia perkebunan), kata klon masih digunakan hingga abad ke-20 (Chang, 2009). Selain dapat menghasilkan tanaman yang baru dan unggul, rekayasa genetika juga mampu membuat tanaman kebal terhadap hama dan sejenisnya. Tanaman semacam ini disebut sebagai organisme transgenik (Zakrinal dan Purnama, 2009). Selain dalam dunia hortikultura, metode kloning juga telah diterapkan dalam dunia reproduksi hewan untuk membuat salinan molekul, elektron atau organisme multiseluler yang identik. Pada kloning reproduksi, hal tersebut dilakukan untuk menghasilkan individu yang sama dengan induknya (Firmansyah dkk, 2007). Teknik kloning ini umumnya dilakukan dengan cara memelihara blastosit (sel telur yang telah dibuahi dan membelah) dalam suatu medium khusus sehingga dapat tumbuh (Abdurahman, 2008). Secara mendetail, dapat dibedakan dua jenis kloning, yaitu kloning reproduktif dan kloning terapeutik. Prosedur kloning reproduktif dimaksudkan agar memperoleh keturunan melalui teknologi biomedis ini. Salah satu proses kloning reproduktif yang terkenal adalah kloning domba Dolly. Dolly adalah kembar dari induknya yang tujuh tahun lebih tua. Hal ini menjadi berita menggemparkan yang bergema di seluruh dunia ketika majalah Nature pada bulan Februari 1997 melaporkan bahwa dalam Roslin Institue di Edinburgh, Skotlandia, telah lahir seekor anak domba yang diklon dari sel kambing domba dewasa (Bertens, 2008). Kloning tersebut dilakukan pada 1996 dan Dolly hidup hingga 2003. Kelahiran domba hasil kloning ini mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Pada kloning Dolly, ilmuwan

mengisolasi inti sel somatik kelenjar mamae domba dan memasukkannya ke dalam sel telur yang telah dihilangan inti selnya. Sel telur yang mengandung inti sel donor tersebut diberi kejutan listrik atau zat kimia untuk memicu pembelahan sel. Ketika klon embrio mencapai tahap yang sesuai, embrio tersebut dimasukkan dalam uterus domba betina (Firmansyah dkk, 2007). (Gambar) Kloning reproduktif dapat digunakan untuk menghasilkan ternak yang identik dengan induknya, tetapi ilmuwan mengetahui bahwa kloning mempunyai potensi yang lebih berguna. Para ilmuwan berusaha melakukan kloning reproduksi pada hewan-hewan yang telah punah. Beberapa hewan punah telah dicoba dikloning. Pada 2003, seekor banteng Jawa berhasil dikloning, kemudian diikuti oleh tiga kucing liar Afrika dari embrio yang dibekukan. Hasil ini memberikan harapan bahwa teknik yang sama dapat dilakukan pada hewan ternak lainnya (Firmansyah dkk, 2007). Di lain pihak, penilaian etis terhadap kloning terapeutik cenderung lebih sulit dilakukan. Dalam prosedur bioteknologis ini diklon sel-sel embrio yang disebut stem cells atau sel-sel induk. Sel-sel ini belum mempunyai diferensiasi sehingga dapat berkembang menjadi sel semua organ tubuh: otak, jantung, kulit, darah dan lain-lain. Harapan para ilmuwan adalah dengan memanfaatkan sel-sel induk ini, dapat dikembangkan terapi-terapi baru untuk penyakit yang sampai sekarang belum ada obatnya, seperti penyakit Alzheimer, Parkinson dan leukemia. Stem cells itu barangkali akan memungkinkan kita untuk mengganti sel-sel yang rusak dalam otak atau jantung. Seandainya usaha ke arah itu akan berhasil, kita akan memiliki terobosan revolusioner untuk mengobati penyakit yang sampai sekarang selalu membawa kematian (Bertens, 2008). Kesulitan etis dengan kloning terapeutik adalah bahwa stem cells ini merupakan selsel embrio (bukan sel-sel somatik). Jadi, sel-sel embrional ini adalah kehidupan manusiawi yang baru dan-jika perkembangannya berlangsung secara normal-akan lahir sebagai manusia (bayi) baru, yang secara genetik berbeda dari ayah dan ibunya. Karena itu tentu tidak etis bila kehidupan manusiawi yang satu dikorbankan demi menyelamatkan kehidupan manusiawi yang lain. Karena alasan itu, Amerika Serikat telah melarang memakai dana negara (public fund) untuk penelitian yang menuju ke pengembangan sel-sel induk embrional. Tetapi larangan ini tidak mengikat sektor swasta dan proses dibentuknya undang-undang khusus yang melarang semua macam kloning akan memakan waktu terlalu lama. Dengan demikian tidak mengherankan, ketika akhir tahun 2001 muncul berita bahwa perusahaan bioteknologi Amerika yang bernama Advanced Cell Technology (ACT) telah berhasil melakukan kloning

manusiawi pertama (terapeutik) yang sempat membelah sampai enam sel. Tentu saja tujuan mereka bersifat komersial. Mereka memang ingin mengembangkan terapi-terapi baru, tapi dengan harapan memperoleh untung. Dengan masuknya bisnis dalam wilayah penelitian ini, maka masalah etis menjadi lebih kompleks (Bertens, 2008). Jika embrio-walaupun baru pada taraf sel-harus diakui sebagai kehidupan manusiawi yang baru, kloning terapetik dengan motif apapun sulit diterima, karena menghalangi sel-sel embrio ini berkembang menurut tujuannya yang alamiah, yaitu lahir sebagai manusia. Semua agama menuntut bahwa kehidupan manusiawi yang individual harus dihormati. Apalagi, menurut beberapa ilmuwan tersedia metode lain lagi untuk memperoleh sel-sel induk, yaitu dari sel-sel manusia dewasa, khusunya dari sel-sel sumsum. Hanya saja, rupanya metode ini secara teknis lebih sulit dan barangkali juga lebih mahal (Bertens, 2008). Rekayasa genetika khususnya masalah kloning manusia akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang cukup drastis dan meminta perhatian yang cukup serius, sebab selain kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungannya, juga memunculkan persoalan-persoalan mendasar yang perlu dicermati lebih serius untuk mengawali perkembangan bioteknologi di masa mendatang (Zamroni, 2007). Fenomena kloning kini ramai dibicarakan, baik dalam kalangan ilmiah maupun dalam masyarakat luas. Berbagai media massa memberi perhatian yang relatif besar kepada topik ini. Hal ini disebabkan karena timbul dugaan bahwa dengan prosedur teknologis ini ilmuilmu biomedis bertindak terlalu gegabah. Rupanya disini ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) melangkah terlalu jauh. Mereka melakukan a step too far, seperti pernah ditulis dalam suatu majalah kedokteran Inggris. Seolah-olah iptek melewati tapal batas yang tidak pantas dilanggar. Fenomena ilmiah yang baru ini merupakan topik yang sulit dikuasai oleh awam justru karena terkait dengan ilmu dan teknologi canggih. Hanya sejumlah kecil pakar yang mengerti betul segala seluk-beluknya penelitian ilmiah ini, yaitu para ahli biologi molekuler atau biologi sel. Para awam justru bisa terbawa terlalu jauh oleh imajinasi, sehingga mengandaikan banyak hal yang belum tentu sesuai dengan kenyataan ilmiah sekarang ini. Karena itu, beberapa negara maju sudah membentuk komisi yang terdiri dari ahli-ahli untuk melaporkan tentang semua aspek permasalahan kloning, termasuk juga aspek etisnya (Bertens, 2008). Kembali pada tahun 1971, James Watson telah meramalkan mengenai perdebatan yang akan terjadi sehubungan dengan adanya kloning manusia. Watson, bersama dengan Francis Crick, memenangkan hadiah Nobel untuk penemuan struktur spiral ganda DNA. Ia

meramalkan bahwa reaksi pertama kebanyakan orang terhadap anak-anak yang dihasilkan secara aseksual ini adalah berupa keputusasaan. Ia selanjutnya mengemukakan bahwa orangorang dengan latar belakang keagamaan yang kuat akan ingin menghilangkan penekanan pada semua bentuk penelitian tersebut yang akan mencegah proses reproduktif seksual yang lazim. Dalam jumpa pers pada tanggal 22 Februari 1997, Donald Bruce, Direktur Proyek Masyarakat, Agama dan Teknologi dari Gereja Skotlandia, mengatakan bahwa kloning manusia secara etis tidak dapat diterima sebagai suatu hal yang prinsipil. Menurut keyakinan Kristen, katanya, kloning akan melanggar keunikan manusia yang telah diberikan Tuhan kepada kita masing-masing. Argumen bahwa tiap-tiap orang memiliki identitas unik yang akan dilanggar dengan kloning ini telah cukup sering diulang dalam lingkungan religius maupun sekuler (Peters and Bennett, 2002). Pada tanggal 10 Juli 2002, penasihat Presiden AS dalam bidang Bioetika mengeluarkan laporan, Human Kloning and Human Dignity: An Ethical Inguiry (Kloning Manusia dan Martabat Manusia: Sebuah Persoalan Etis), yang menganjurkan larangan total terhadap kloning untuk memproduksi anak-anak. Para kritikus khawatir bahwa kloning, bersama dengan teknologi-teknologi genetika lainnya, mungkin akan menguntungkan kekuatan-kekuatan ekonomi yang akan cenderung mengkomodifikasi anak-anak yang baru lahir. Komodifikasi, bukan keunikan genetika, akan mengingkari kesucian kehidupan manusia secara perseorangan (Peters and Bennett, 2002). Proses kloning manusia pada dasarnya mirip dengan proses kloning yang dilakukan pada domba Dolly. Kloning manusia hanya membutuhkan pengambilan sel somatik (sel tubuh)-bukan sel reproduktif (seperti sel telur atau sperma)-dari seseorang, kemudian DNA dari sel itu diambil dan ditransfer ke dalam sel telur seorang wanita yang belum dibuahi, yang sudah dihapus semua karakteristik genetisnya dengan cara membuang inti sel (yakni DNA) yang ada dalam sel telur itu. Kemudian, arus listrik dialirkan pada sel telur itu untuk mengelabuinya agar merasa telah dibuahi sehingga ia mulai membelah. Sel yang sudah dibuahi ini kemudian ditanam ke dalam rahim seorang wanita yang ditugaskan sebagai ibu pengandung. Bayi yang dilahirkan secara genetis akan sama dengan genetika orang yang mendonorkan sel somatik tersebut (Ebrahim, 2007). Untuk menentukan dan membenarkan pengambilan manfaat terapeutik dari kloning manusia, maka harus dilakukan evaluasi lebih lanjut mengenai perbandingan antara keuntungan dan kerugian dari proses ini. Dengan berpijak pada kerangka pemikiran ini, maka manfaat-manfaat terapeutik dari kloning manusia dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Mengobati penyakit Teknologi kloning kelak dapat membantu manusia dalam menemukan obat kanker, menghentikan serangan jantung dan membuat tulang, lemak, jaringan penyambung atau tulang rawan yang cocok dengan tubuh pasien untuk tujuan bedah penyembuhan dan bedah kecantikan. Dalam hal ini, perlu ditegaskan bahwa pengujian tentang ada tidaknya penyakit keturunan pada janin-janin hasil kloning guna menghancurkan janin yang terdeteksi mengandung penyakit tersebut dapat melanggar hal hidup manusia (Ebrahim, 2007).

2. Infertilitas Kloning manusia memang dapat memecahkan problem ketidaksuburan, namun kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Ian Wilmut, A.E. Schnieke, J. McWhir, A.J. Kind dan K.H.S. Campbell harus melakukan 277 kali percobaan sebelum akhirnya berhasil mengkloning Dolly. Kloning manusia tentu akan melewati prosedur yang jauh lebih rumit. Pada eksperimen awal untuk menghasilkan sebuah klon yang mampu bertahan hidup, akan terjadi banyak sekali keguguran dan kematian. Lebih jauh, dari sekian banyak embrio yang dihasilkan, hanya ada satu embrio yang akhirnya ditanam ke rahim wanita pengandung, sehingga embrio-embrio lainnya akan dibuang atau dihancurkan. Hal ini tentu akan menimbulkan problem serius karena penghancuram embrio adalah sebuah kejahatan. Selain itu, teknologi kloning melanggar proses normal penciptaan manusia, yaitu bereproduksi tanpa pasangan seks dan hal ini akan membutuhkan unstitusi perkawinan (Ebrahim, 2007).

3. Organ-organ untuk transplantasi Ada kemungkinan bahwa kelak manusia dapat mengganti jaringan tubuhnya yang terkena penyakit dengan jaringan tubuh embrio hasil kloning atau mengganti organ tubuhnya yang rusak dengan organ tubuh manusia hasil kloning. Manipulasi teknologi untuk mengambil manfaat dari manusia hasil kloning ini dipandang sebagai kejahatan karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hidup manusia. Namun, jika penumbuhan kembali organ tubuh manusia benar-benar dapat dilakukan, maka pelaksanaan prosedur ini diperbolehkan untuk dilakukan dalam rangka menumbuhkan kembali organ yang hilang dari tubuh seseorang, misalnya pada korban kecelakaan kerja di pertambangan atau kecelakaan-kecelakaan lainnya. Tetapi, akan muncul

pertanyaan mengenai kebolehan menumbuhkan kembali organ tubuh seseorang yang telah dipotong akibat kejahatan yang pernah ia lakukan (Ebrahim, 2007). Selain kloning, adapun beberapa peristiwa penting lain yang sudah berhasil dan masih giat diusahakan dalam proses rekayasa genetika diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Rekayasa genetika dalam bidang kedokteran a. Pembuatan insulin manusia oleh bakteri Pasien penderita kencing manis (diabetes mellitus) tidak mampu membentuk hormon insulin dalam jumlah tertentu yang diperlukan untuk mengatur kadar gula dalam darah. Pasien diabetes memerlukan suntikan insulin tambahan (Karmana, 2006). Insulin ini dibuat dari kelenjar pankreas sapi atau babi. Untuk mendapatkan 0,45 kg insulin bagi 750 pasien diabetes selam setahun, diperlukan 3.600 kg kelenjar pankreas dari 23.500 ekor hewan. Melalui teknik rekayasa genetika, para peneliti berhasil memaksa mikroorganismee (bakteri) untuk membentuk insulin yang sangat mirip dengan insulin yg dihasilkan oleh manusia (Karmana, 2006).

b. Terapi gen manusia Satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit genetik pada manusia adalah menggantikan gen penyebab penyakit tersebut dengan salinannya yang dapat berfungsi normal. Terapi penggantian gen sekarang sedang dikembangkan untuk mengobati sejumlah penyakit genetik (Brookes, 2005). Saat ini, terapi gen sedang diupayakan dalam tahap eksperimental dalam biakan sel atau hewan dan, pada beberapa kasus, pada subjek manusia (Marks dkk, 2000). Namun, pertimbangan moral dan etis tidak memungkinkan penggunaan terapi gen pada embrio manusia. Oleh karena itu, para ilmuwan memutuskan untuk mencari cara memasukkan gen ke dalam sel-sel pada jaringan yang paling dipengaruhi oleh suatu penyakit. Misalnya, karena penyakit sistik fibrosis paling mempengaruhi paru-paru dan organ paru-paru itu sendiri cukup mudah dijangkau, maka organ tersebut menjadi kandidat yang cukup menjanjikan untuk terapi gen (Brookes, 2005). Terapi gen merupakan teknik-teknik yang disempurnakan untuk manipulasi gen yang dikombinasikan dengan pemahaman yang mendalam atas fungsi gen dalam tubuh, mungkin suatu ketika membuat para saintis kedokteran dapat memperbaiki kelainan genetik dalam suatu individu (Campbell dkk, 2002). Percobaan terapi gen pertama dimulai pada tahun 1990 oleh French Anderson dari University of Southern

California. Ia mengobati anak-anak yang menderita severe combined immune deficiency (SCID) (Brookes, 2005). Upaya-upaya pada terapi gen manusia belum menghasilkan manfaat pada pasien yang bisa dibuktikan, bertentangan dengan beberapa pengakuan dalam media populer. Akan tetapi, untuk setiap kelainan genetik yang bisa ditelusuri hingga ke alel rusak tunggal, seharusnya secara teoretis ada kemungkinan untuk mengganti atau melengkapi alel rusak itu dengan alel yang masih berfungsi normal dengan menggunakan teknik DNA rekombinan. Alel baru dapat diselipkan ke dalam sel somatik dari jaringan yang dipengaruhi kelainan tersebut dalam diri seorang anak atau orang dewasa, atau bahkan mungkin juga ke dalam sel germinal atau sel embrionik. Dari percobaan terapi gen yang sekarang sedang dilakukan pada manusia, terapi yang paling menjanjikan ialah terapi yang melibatkan sel sumsum tulang tetapi tidak harus ditujukan untuk memperbaiki kelainan genetik (Campbell dkk, 2002).

c. Antibodi monoklonal Setiap saat tubuh kita dapat terkena serangan virus, bakteri, jamur dan zat-zat lain dari lingkungan sekitarnya. Zat-zat tersebut dapat membahayakan tubuh. Secara alami, manusia dapat menghasilkan antibodi bagi kuman atau antigen tersebut. Namun, agar sistem kekebalan tubuh aktif, tubuh harus pernah diserang kuman tersebut. Terkadang jika tubuh tidak mampu bertahan, akibatnya akan fatal (Firmansyah dkk, 2007). Untuk memicu kekebalan tubuh, dapat dilakukan dengan menyuntikkan vaksin yang mengandung antigen penyakit tersebut. Dengan demikian, dapat terbentuk antibodi pada tubuh yang dapat melawan patogen. Oleh karena kemampuan melawan patogen ini, antibodi monoklonal dikembangkan untuk mengatasi penyakit spesifik (Firmansyah dkk, 2007). Cara yang umum digunakan untuk menghasilkan antibodi monoklonal adalah dengan menyuntikkan sedikit antigen pada tikus atau kelinci. Tubuh kelinci atau tikus akan merespon antigen dengan menghasilkan antibodi yang secara langsung dapat diambil dari darahnya. Akan tetapi, biasanya antigen direspon oleh beberapa macam sel. Antibodi yang dihasilkan adalah antibodi poliklonal, yaitu campuran berbagai antibodi yang dihasilkan oleh berbagai sel (Firmansyah dkk, 2007). Sekitar 1970, sebuah teknik dikembangkan untuk menghasilkan antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal adalah antibodi yang dihasilkan dari satu sel yang

sama dan spesifik terhadap satu antigen. Antibodi monoklonal ini didapat dari kultur sel. Pembuatan antibodi monoklonal adalah melalui fusi sel antara sel B dari hati dan sel penghasil tumor. Sel B hati digunakan karena sel inilah yang menghasilkan antibodi. Adapun sel tumor digunakan karena dapat membelah diri terus-menerus (Firmansyah dkk, 2007). Langkah pertama untuk membuat antibodi monoklonal adalah hewan disuntikkan antigen sel B tersebut. Kemudian, sel B hewan diisolasi dan difusikan dengan sel tumor. Hasilnya adalah sel hibrid yang menghasilkan satu antibodi tertentu dan terus membelah (Firmansyah dkk, 2007). (Gambar) Keuntungan dari antibodi monoklonal antara lain: -Dapat digunakan untuk keperluan diagnosa. -Untuk mendeteksi hormone chorionic gonadotropin (HCG) dalam urin wanita hamil. -Mengikat racun dan menonaktifkan racun. -Mencegah penolakan jaringan terhadap hasil transplantasi jaringan lain. (Karmana, 2006)

2. Rekayasa genetika dalam bidang farmasi Keuntungan rekayasa genetika di bidang farmasi adalah dalam usaha pembuatan protein yang sangat diperlukan untuk kesehatan, misalnya pencangkokan gen. hasil-hasil farmasi yang diperoleh melalui pencangkokan gen itu berupa senyawa-senyawa yang dengan dosis kecil saja sudah dapat memperlihatjan pengaruhnya. Misalnya, senyawa tersebut berpengaruh pada faktor tumbuh, protein pengatur, penyembuhan luka dan ketenangan hati (Karmana, 2006).

3. Rekayasa genetika dalam bidang pertanian a. Mengganti pemakaian pupuk nitrogen Pupuk nitrogen yang mahal harganya dapat digantikan oleh penggunan bakteri yang dapat melakukan fiksasi nitrogen secara alami. Bakteri tersebut akan berinteraksi dengan akar tumbuhan sehingga dihasilkan bintil-bintil pada akar. Salah satu jenis bakteri yang dapat bersimbiosis dengan akar untuk menambat nitrogen adalah Rhizobium sp. Bakteri tersebut diisolasi, kemudian diinokulasi (ditanam) pada tumbuhan sehingga terbentuklah bintil akar (Karmana, 2006).

b. Pembuatan bibit unggul hasil mutasi Kedelai merupakan komoditi pertanian yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Kedelai dapat dikonsumsi dan dapat pula digunakan sebagai bahan agroindustri, seperti tempe, tahu, kecap dan keperluan industri pakan ternak (Karmana, 2006). Sebagai lembaga penelitian, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sejak 1972 telah melakukan penelitian dalam bidang pertanian dengan teknologi mutasi radiasi. Penelitian tersebut bertujuan mendapatkan varietas baru yang unggul, yaitu varietas Muria (Karmana, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M., Saktiyono, Lutfi., 2007. Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu. Jakarta: Penerbit Erlangga. Abdurrahman, D. 2008. Biologi: Kelompok Pertanian dan Kesehatan. Bandung: Grafindo Media Pratama. Bertens, K. 2008. Sketsa-sketsa Moral: 50 Esai Tentang Masalah Aktual. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Brookes, M. 2005. Bengkel Ilmu: Genetika. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Campbell, N.A., J.B. Reece and L.G. Mitchell. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid Satu. Jakarta: Penerbit Erlangga. Chang, W. 2009. Bioetika: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Ebrahim, A.F.M. 2007. Fikih Kesehatan: Kloning, Eutanasia, Transfusi Darah, Transplantasi Organ dan Eksperimen Pada Hewan. Jakarta: Serambi. Firmansyah, R., A.M. Hendrawan dan M.U. Riandi. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Bandung: PT. Setia Purna Inves. Kandary, A. 2010. Rekayasa Genetika. (cited May 16, 2011). http://id.shvoong.com/exact-sciences/1999578-rekayasa-genetika/ Karmana, O. 2006. Cerdas Belajar Biologi. Jakarta: Grafindo Media Pratama. Malik, A. 2009. Bioteknologi Farmasi. (cited May 16, 2011). Available at: staff.ui.ac.id/internal/131882470/material/BIOTEKNOLOGIFARMASI.pdf Available at:

Marks, D.B., A.D. Marks and C.M. Smith. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Murakami, K. 2004. The Divine Message Of The DNA. Jakarta: Mizan. Peters, T. and G. Bennett. 2002. Menjembatani Sains dan Agama (Bridging Sains and Religion). Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Zakrinal dan Purnama, S. 2009. Jago Biologi. Jakarta: Media Pusindo.