P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 370

Warta Bea Cukai Edisi 370

4.67

|Views: 2,571|Likes:
Dipublikasikan oleh bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVII EDISI 370

SEPTEMBER 2005

Menjadikan Perbatasan
SEBAGAI HALAMAN DEPAN NEGARA

MENUNGGU IMPLEMENTASI
ABDUL LATIEF NALENG
“JANGAN MENGHITUNG HARI DAN BERHARAP SEGERA PINDAH “

PROFIL

WAWANCARA

HIKMAHANTO JUWANA
“KITA HARUS PUNYA PERANGKAT TERTENTU UNTUK DUKUNG KEINGINAN PRESIDEN...”

DARI REDAKSI

Penyelundupan

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Eddy Abdurrachman PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Sjahrir Djamaluddin Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Cukai Drs. Erlangga Mantik, M.A. Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Sofyan Permana Direktur Verifikasi & Audit Drs. Djoko Wiyono, M.A. Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Irwan Ridwan Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Drs. Jody Koesmendro Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Toto Sugiatno Samingan, S.H. Inspektur Bea dan Cukai Drs. Bambang Heryanto, Ak KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Thomas Sugijata WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Ariohadi, SH. MA. DEWAN PENGARAH Ir. Oentarto Wibowo, MPA; Ir. Agus Sudarmadi, M.Sc; Ir. Agung Kuswandono, MA.; Drs. Murjady; Drs. Bachtiar, M.Si.; Sugiarto, SH.; Drs, Sindarto Diwerno Putro, Ak.; Dra. Istyastuti Wuwuh Asri, M.Si.; Suwito, SH; Drs. Ahmad Dimyati PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Ignatius Agus Nugraha (Medan), Leksi Andre Serumena (Jayapura), Syamsul Gunawan (Makassar) Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

B

etulkah penyelundupan lebih berbahaya daripada tsunami? Pertanyaan ini menjadi judul sebuah tulisan dalam rubrik opini di edisi ini yang ditulis oleh Sdr. Donny Eriyanto dari Balikpapan. Kalau anda baca tulisan tersebut selanjutnya, tentu saja penulis tidak bermaksud untuk membandingkan apalagi menafikan fakta bahwa tsunami seperti yang terjadi di NAD pada akhir tahun lalu yang telah meminta korban ratusan ribu jiwa, tidaklah lebih berbahaya dari aksi penyelundupan. Judul tersebut termasuk tulisan didalamnya tepatnya lebih melihat kepada dampak yang ditimbulkan oleh penyelundupan ternyata bisa menjadi sama seperti sebuah peristiwa alam maha dahsyat bernama tsunami. Opini soal penyelundupan tersebut punya benang merah dengan topik laporan utama yang redaksi hadirkan pada edisi ini yaitu tentang kondisi perbatasan negara Indonesia. Selain masalah keterasingan, keterbelakangan serta kemiskinan khususnya bagi penduduk di wilayah perbatasan, masalah penyelundupan menjadi fakta yang sangat erat dengan wilayah perbatasan negara, baik darat maupun laut. Tapi yang namanya penyelundupan, tidak melulu soal barang-barang yang dibawa keluar masuk secara ‘diam-diam’ melewati perbatasan negara, apakah itu di wilayah Kalimantan, TBK atau Papua misalnya. Seperti yang sudah umum diketahui, banyak dan bahkan sering terjadi penyelundupan barang juga melalui bandar udara internasional maupun pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia. Apa akibat penyelundupan, Anda sebagai pembaca yang datang dari berbagai macam latar belakang pasti lebih ahli dalam menjawabnya secara lebih detail. Dalam tulisannya, Sdr. Donny juga mencuplikannya dari berbagai segi. Yang pasti, kita semua sepakat, bahwa penyelundupan, apabila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, tidak hanya berakibat buruk bagi masa sekarang tapi juga buat masa depan ekonomi bangsa ini. Lalu bagaimana cara memberantasnya? Banyak sekali jawaban untuk pertanyaan ini, berbagai opini dan kebijakan telah diumbar, namun kenyataannya penyelundupan masih saja terjadi. Mengharapkan seluruh pengusaha importir dan eksportir menjalankan usahanya secara jujur mungkin ibarat kata pepatah, bagai pungguk merindukan bulan. Salah satu jawaban yang logis adalah memperkuat “aturan main” yang diawasi oleh instansi yang berwenang, yang dalam hal ini oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Dan ini sedang dilakukan melalui amandemen Undang-Undang No. 10/1995 tentang Kepabeanan. Dalam draf RUU amandemen undang-undang tersebut, selain pengertian penyelundupan diperluas dan terperinci, sanksi buat para penyelundup juga semakin diperberat. Contohnya, hukuman pidana buat para penyelundup menjadi minimal dua tahun maksimal 10 tahun, dan denda menjadi maksimal 500 miliar. Ketentuan pidana tersebut bahkan masih bisa berubah dalam pembahasan di DPR. Selain amandemen tersebut, yang tidak kalah logisnya tentu saja adalah mengharapkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai khususnya para aparatur di lapangan bekerja secara profesional. Mengutip tulisan di salah satu koran ibukota, pemberantasan penyelundupan menjadi ‘pekerjaan rumah’ yang tidak ringan bagi pegawai negeri Ditjen Bea dan Cukai, selain dukungan teknologi informasi dan peralatan yang masih kurang, lembaga itu juga harus memperbaiki sejumlah pegawainya yang masih nakal. Lucky R. Tangkulung

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Dalam kunjungannya kebeberapa wilayah perbatasan, presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin menjadikan wilayah perbatasan sebagai halaman muka Indonesia. Untuk mengetahui mengenai masalah perbatasan serta peran DJBC diwilayah perbatasan, dapat disimak dalam Laporan Utama.

5

Wawancara
Rubrik wawancara kali ini akan menampilkan pengamat hukum internasional Prof DR. Hikmahanto Juwana, SH.LLM yang berbicara mengenai wilayah perbatasan dari perspektif hukum Internasional.

22

Kepabeanan
Kunjungan Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan di Batam dan Bintan dapat disimak dalam rubrik Kepabeanan edisi kali ini.

70

Pengawasan
Kerjasama yang baik antara Kanwil IV Tanjung Priok dengan Kepolisian KP3 menegah masuk mobil mewah illegal. Selain itu juga rapat koordinasi satgas AI Juanda serta pelatihan precursor dan optimalisasi ship search, dapat dilihat dalam rubrik Pengawasan kali ini.

26

Daerah ke Daerah
KPBC Kota Baru dan KPBC Kendari adalah dua kantor pelayanan yang menarik untuk disimak keberadaannya serta berbagai dinamikanya. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik daerah.

37

Profil

76
“Merasa enjoy ditempatkan dimana saja”, itulah yang dirasakan oleh oleh Drs. Abdul Latief Naleng Kepala KPBC Tipe A Banjarmasin. Lebih lanjut mengenai jalan hidupnya sampai akhirnya menjadi pegawai DJBC, dapat disimak dalam rubrik profil

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

1 3 4

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR & CUKAI Gudang berikat

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

25 KONSULTASI KEPABEANAN

23 KONSULTASI KEPABEANAN & CUKAI Hasil Tembakau Di luar Pabrik 32 OPINI - Aparat DJBC : Melayani Sekaligus Mengawasi - Penyelundupan lebih berbahaya daripada Tsunami ? 46 RUANG INTERAKSI Kesalahpahaman 48 PPKC Mengenal Lebih Dekat Wajah Baru Website Resmi DJBC 53 PERISTIWA - RAPBN 2006, Sektor Pajak Akan Mengalami Kenaikan - Bea dan Cukai Isi jabatan Kosatgas di BNN - CCC Gathering Fun Bike 2005 - Talk Show Jalur Prioritas 58 SEPUTAR BEACUKAI 62 KOLOM Menyikapi Pengaruh Pemberitaan media Masa Bagi Anggota Keluarga 63 RUANG KESEHATAN Alergi Makanan Pada Penderita Authis 64 SIAPA MENGAPA - Sjarkawi - Stefanus Okto Kamau - Artihah AZ 66 SEKRETARIAT Peraturan Atau keputusan ? 68 INFO PEGAWAI - Pegawai Pensiun per 1 September 2005 68 INFO PERATURAN 69 BIMBINGAN ROHANI Doa Sebagai Kebutuhan 76 APA KATA MEREKA - Attalarik Syah - Cornelia Agatha

Pengangkatan CPNS
Redaksi Yth. Pernah suatu saat Saya mengirimkan surat ke Warta Bea dan Cukai tentang pengangkatan tenaga honor menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Saya sangat berterima kasih kepada Warta Bea dan Cukai, surat saya itu dimuat di halaman surat pembaca. Memang pada saat itu telah diberi jawaban langsung yang menyatakan bahwa formasi untuk itu belum ada. Tapi setelah dimuatnya surat saya itu tidak selang berapa lama ternyata ada kesempatan bagi para Pegawai Honor untuk dapat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil dengan mengikuti seleksi ujian penyaringan. Dan hal itu telah berlangsung selama 2 (dua) tahun berturut-turut. Akhirnya Saya dan juga rekan-rekan yang senasib dengan saya sudah diterima di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kebahagiaan yang tiada taranya kami rasakan, impian yang selama ini kami dambakan terwujud. Terima kasih Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, akhirnya kami bisa menjadi bagian dalam instansimu. Besar harapan saya buat teman-teman yang belum diangkat menjadi CPNS bersabarlah, yakinlah suatu saat kalian juga dapat menjadi seperti kami. Demikianlah surat ini saya kirimkan, terima kasih WBC atas dimuatnya surat saya ini. FITRIA KPBC Tipe C Pangkalan Susu

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

LAPORAN UTAMA

PERBATASAN INDONESIA
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar 81.900 km, terdiri dari 33 provinsi, 349 kabupaten, 91 kota dengan luas kurang lebih 8,70 juta km2, luas daratan kurang lebih 2,90 juta km2 dan kepulauan kurang lebih 5,80 juta km2 dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 buah.
KRI memiliki wilayah yang berbatasan dengan 10 negara, baik di darat maupun di laut. Di Wilayah darat Republik Indonesia (RI) , berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia, Papua Nugini (PNG) dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Sedangkan di wilayah laut RI, berbatasan dengan 10 negara yaitu, India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Palau, Australia, Republik Demokratik Timor Leste dan Papua Nugini. Wilayah perbatasan darat Indonesia berada di tiga pulau, yaitu Pulau Kalimantan, Papua dan Pulau Timor, serta tersebar di empat provinsi dan 15 kabupaten/ kota yang masing-masing memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda-beda. Wilayah perbatasan laut meliputi : 1. Batas Laut Teritorial (BLT) 2. Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 3. Batas Landas Kontinen (BLK) 4. Batas Zona Tambahan (BZT) dan 5. Batas Zona Perikanan Khusus (Special Fisheries Zone / SFZ) Batas Laut Teritorial (BLT), Batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan Batas Landas Kontinen (BLK) diukur jaraknya dari titik dasar/ garis pangkal kepulauan, yang penetapannya bergantung pada keberadaan pulaupulau terluar, yang jumlahnya hingga saat ini kurang lebih 92 pulau, termasuk pulau kecil yang beberapa diantaranya hingga kini memerlukan penataan dan pengembangan yang lebih intensif karena memiliki potensi terhadap upaya ekspansi oleh negara lain. Setiap negara mempunyai kewenangan untuk menetapkan sendiri batas-batas wilayahnya. Namun

Wajah

N

mengingat batas terluar wilayah negara senantiasa berbatasan dengan wilayah atau perairan kedaulatan (yuridiksi) otoritas negara lain, maka penetapan tersebut harus memperhatikan kewenangan otoritas negara lain sehingga perlu dibangun suatu kerjasama yang adil dan saling menguntungkan.

KONDISI UMUM KAWASAN PERBATASAN ANTARNEGARA
Dalam Platform Penanganan Permasalahan Perbatasan Antar Negara oleh Tim dari Departemen Dalam Negeri, Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Direktorat Wilayah Administrasi dan Perbatasan, telah mengidentifikasi, bahwa permasalahan perbatasan yang dihadapi kawasan perbatasan Indonesia berbeda sifat dan kondisinya dengan kawasan lain. Permasalahan yang terjadi di perbatasan dipengaruhi oleh faktor yang
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

5

LAPORAN UTAMA
FOTO : ISTIMEWA

bersama maupun di beberapa wilayah laut yang belum dirundingkan. Deliniasi (pemetaaan) dan demarkasi (batas pemisah) garis batas di darat dan laut antara RI dengan negara tetangga adalah sebagai berikut : 1. DELINIASI DI DARAT : 1. RI - Malaysia Panjang garis batas kurang lebih 1900 km, 10 segmen batas belum disepakati, yaitu 5 segmen RI-Serawak dan 5 segmen RI-Sabah. 2. RI - Papua Nugini (PNG) Panjang garis batas kurang lebih 770 km, seluruhnya telah disepakati dalam perjanjian tahun 1973, namun terdapat aspek kultural (tanah ulayat) yang berpotensi menjadi konflik 3. RI - Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Panjang garis batas kurang lebih 150 km sektor timur dan 120 km sektor barat, 10 persen batas darat belum disepakati.
POTENSI PERBATASAN. Wilayah perbatasan. termasuk pulau-pulau kecil terluar memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar, serta merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan negara.

berbeda seperti geografis, ketersediaan sumber daya manusia dan alam, kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya serta tingkat kesejahteraan masyarakat negara tetangga. Satu permasalahan utama yang dihadapi oleh seluruh kawasan perbatasan di Indonesia adalah kemiskinan serta keterbatasan sarana dan prasarana dasar sosial dan ekonomi. Di Provinsi Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, kondisi sosial ekonomi negara tetangga masih jauh lebih baik. Selain itu, di kawasan perbatasan ini terjadi pula penurunan kualitas sumber daya alam akibat perambahan hutan secara secara illegal serta adanya pengiriman sumber daya manusia secara illegal (woman and children trafficking). Di kawasan perbatasan PapuaPNG, kondisi sosial dan ekonomi Indonesia yang masih relatif lebih baik serta masih adanya keterikatan keluarga dan suku bangsa sehingga menyebabkan terjadinya arus orang dan perdagangan barang yang bersifat tradisional (barter) melalui pintu-pintu perbatasan yang belum resmi. Kegiatan perdagangan yang bernilai ekonomi tinggi dan bersifat resmi masih terbatas. Sebagian besar kawasan perbatasan di Papua terdiri atas areal hutan, baik hutan konservasi maupun hutan lindung , bergunung dan berbukit yang sulit dijangkau kendaraan roda dua atau roda empat. Satu-satunya sarana perhubungan yang dapat menjangkau kawasan perbatasan 6
WARTA BEA CUKAI

pegunungan tersebut adalah pesawat udara perintis atau helikopter. Di kawasan perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT), secara umum masih belum berkembang dan sarana serta prasarananya masih bersifat darurat. Secara umum kondisi kawasan perbatasan di NTT ini relatif lebih baik dibanding dengan kawasan perbatasan di wilayah Timor Leste (RDTL). Kegiatan perdagangan barang dan jasa yang dibutuhkan masayarakat Timor Leste disediakan oleh masyarakat Indonesia dengan nilai jual yang relatif cukup tinggi. Dalam jangka panjang kawasan ini perlu diantisipasi sebagai negara tetangga yang cepat berkembang dengan tingkat kesejahteraan yang relatif lebih baik daripada kesejateraan masyarakat NTT pada umumnya, mengingat perhatian dan bantuan dunia internasional termasuk PBB terhadap RDTL.

KERJASAMA REGIONAL PENEGASAN PERBATASAN
Kerjasama regional dibidang survei dan penegasan batas di wilayah darat antara RI dengan negara tetangga, selama ini baik yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) maupun perjanjian-perjanjian penetapan garis batas laut telah diundangkan dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1971, sedangkan sisanya masih ada perbedaan pandangan pada segmen-segmen tertentu tersebar di sepanjang perbatasan negara yang belum bisa disepakati

2. DELINIASI DI LAUT : 1. RI – Filipina BLT, ZEE, dan BLK belum didelimitasi, terdapat perbedaan pendapat dalam penentuan garis batas. 2. RI – Singapura BLT belum didelimitasi 3. RI - Australia Memerlukan penataan ulang di kawasan eks- Timor gap 4. RI- India ZEE belum didelimitasi. 5. RI – Republik Palau ZEE belum didelimitasi 6. RI – Thailand ZEE belum didelimitasi 7. RI – Malaysia BLT, ZEE, BLK belum didelimitasi 8. RI – Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) BLT, ZEE belum didelimitasi 9. RI – Vietnam BLK belum didelimitasi Sedangkan demarkasi yang telah dilakukan antara Republik Indonesia dengan negara yang berbatasan meliputi : RI – Malaysia, RI – Papua Nugini (PNG), RI – Republik Demokratik Timor Leste (RDTL)

POS LINTAS BATAS
Keberadaan Pos Lintas Batas (PLB) dan Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) beserta fasilitas Bea dan Cukai, Imigrasi, Karantina dan Keamanan (CIQS) sebagai gerbang yang mengatur arus keluar masuk orang dan barang di wilayah perbatasan sangat penting. Sebagai pintu gerbang negara, sarana dan prasarana ini diharapkan

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : ISTIMEWA

bersih, irigasi, kesehatan, pendidikan sehingga membuat pulau-pulau sulit berkembang. Padahal, itu dari ribuan pulau-pulau kecil tersebut banyak yang memiliki keindahan untuk dijadikan obyek pariwisata bahari, disamping itu pulaupulau kecil juga punya potensi untuk dikembangkan menjadi kota-kota pantai berbasis industri perikanan. Secara garis besar pulau-pulau terluar yang memerlukan perhatian khusus adalah sebagai berikut; Pulau Rondo, Pulau Berhala, Pulau Nipah, Pulau Sekatung,Pulau Marampit, Pulau Marore, Pulau Miangas, Pulau Fani, Pulau Fanildo, Pulau Bras, Pulau Dana dan Pulau Batek, yang tersebar di sekitar wilayah Provinsi Nangroe Aceh Darusalam, Sumut, Kep. Riau, Sulut, Papua dan NTT.

PENGELOLAAN PERBATASAN BELUM TERPADU
TERTINGGAL. Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan adalah arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi ‘inward looking’ sehingga kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang.

dapat mengatur hubungan sosial dan ekonomi antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat di wilayah negara tetangga. Disamping itu, adanya sarana dan prasarana perbatasan ini akan mengurangi keluar masuknya barangbarang illegal. Namun demikian, jumlah sarana dan prasarana PLB, PPLB dan CIQS di wilayah perbatasan secara faktual masih minim. Pulau-pulau kecil di Indonesia khususnya pulau-pulau di perbatasan dengan negara tetangga diyakini memiliki nilai strategis, terutama berkaitan dengan penentuan titik dasar penetapan wilayah perairan Indonesia. Selain itu karena letaknya yang berada di wilayah perbatasan dengan negara tetangga menyebabkan wilayah tersebut menjadi lebih strategis dari sisi ideologi, politik ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan dan keamanan. Saat ini jumlah pulau-pulau terluar maupun kecil sebanyak 92 pulau, sedangkan dari 92 pulau tersebut, yang perlu mendapat perhatian khusus sebanyak 12 pulau yang kesemuanya perlu dikelola dan dikembangkan dengan lebih terencana, sistematis serta berdasarkan pada kebijakan yang bersifat komprehensif dan disertai dengan optimalisasi peran masingmasing instansi terkait. Pulau-pulau kecil memang dicirikan oleh keterisolasian penduduknya dengan daratan besar, jumlah penduduknya sedikit dan umumnya sulit dijangkau karena keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi laut, air

Jika dikelola dengan baik, sesungguhnya wilayah perbatasan termasuk pulau-pulau kecil terluar memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar, serta merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Namun demikian, pembangunan di beberapa wilayah perbatasan masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan pembangunan di wilayah negara tetangga. Kondisi sosial ekonomi masyarakat perbatasan yang tinggal di daerah ini umumnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi warga negara tetangga. Hal ini telah mengakibatkan timbulnya berbagai ke-

giatan ilegal di daerah perbatasan yang dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerawanan sosial. Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan dikarenakan arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi ‘inward looking’ sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan negara. Akibatnya, wilayah-wilayah perbatasan dianggap bukan merupakan wilayan prioritas pembangunan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Sementara itu pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah. Pengelolaan wilayah perbatasan belum dilakukan secara terpadu dengan mengintergrasikan seluruh sektor terkait. Sampai saat ini permasalahan beberapa wilayah perbatasan masih ditangani secara ad-hoc (khusus), sementara (temporer), parsial serta lebih didominasi oleh pendekatan keamanan (security) melalui beberapa kepanitiaan (committee), sehingga belum memberikan hasil yang optimal. Komite-komite kerjasama penanganan masalah perbatasan yang ada saat ini antara lain General Border Committee (GBC) RI – Malaysia, Joint Border Committee (JBC) RI – Papua Nugini, dan Joint Border Committee RI – Republik Demokratik Timor Leste. ris

UCAPAN TERIMA KASIH
Puri Gita Nusantara mengucapkan terima kasih kepada Kopesat DJBC atas pelayanan penggunaan Gedung Pertemuan Bojana Tirta pada Pagelaran Seni Budaya Bali tanggal 20 Agustus 2005 dengan sangat memuaskan. Semoga dapat dipertahankan untuk pengembangan usaha Kopesat DJBC. Pimpinan Ttd Dr. RB. Permana Agung, Msc.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

Mewujudkan Paradigma Baru Pengembangan Wilayah Perbatasan
Sudah saatnya kita menyadari dan segera mengubah paradigma penanganan wilayah perbatasan, dimana wilayah perbatasan tidak dipandang sebagai wilayah belakang, melainkan memposisikan wilayah perbatasan sebagai beranda depan dalam setiap aktifitas pembangunan maupun pemberdayaan masyarakatnya
FOTO : DITJEN PUM

RAPAT KOORDINASI PERBATASAN ANTAR WILAYAH. Dirjen Pemerintahan Umum, diwakili Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan (selaku moderator) memandu acara pengarahan Menteri Perencanaan Pembangunan (Kepala Bapenas) dan Menteri Kelautan dan Perikanan.

K

alau kita berpikir tentang perbatasan, maka yang akan terbayang identik dengan pengawasan ketat karena sering menjadi tempat lalu lintas penyelundupan, pelarian narapidana dari negara tetangga, jalur TKI ilegal dan tindak pelanggaran lainnya. Maka tak heran diperbatasan lebih menitikberatkan pada pengawasan dibandingkan dengan menjadikannya sebagai obyek kesejahteraan. Dan kebanyakan terlihat, wilayah perbatasan jauh dari pusat kegiatan dan sasaran pembangunan, akibatnya kondisi wilayah perbatasan miskin dan terbelakang. Jika dahulu pemerintah negara yang berbatasan seringkali mengabaikan wilayah perbatasan antarnegaranya, kini wilayah perbatasan antar negara menjadi pertaruhan yang cenderung berujung pada sengketa konflik wilayah perbatasan. Apalagi bila kawasan itu memiliki signifikansi ekonomi, mengandung persediaan minyak yang melimpah misalnya. Sentakan itu sungguh kita alami, ketika Indonesia dikalahkan oleh Mahkamah Internasional di Den Haag yang memenangkan Malaysia dalam pengklaiman Pulau Sipadan dan Ligitan. Bahkan negeri jiran itu melangkah lebih jauh dengan mengklaim perairan Ambalat sebagai teritorialnya yang sah. Padahal, blok itu
WARTA BEA CUKAI

secara historis sudah dimiliki Indonesia. Belajar dari pengalaman tersebut dalam menangani perbatasan antar negara, sudah saatnya kita menyadari dan segera mengubah paradigma penanganan wilayah perbatasan, dimana wilayah perbatasan tidak dipandang sebagai wilayah belakang, melainkan memposisikan wilayah perbatasan sebagai beranda. Wilayah perbatasan perlu digali keunggulannya dan masyarakatnya pun perlu diberdayakan . Kuncinya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan (border communities) dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan pembinaan ideologi-politik, serta pemantapan ketahanan nasional. Dikatakan, Ir. Suwarno P. Rahardjo, M.Si, Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan, Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Departemen Dalam Negeri, jika berbicara mengenai perbatasan, sesungguhnya ada dua dimensi utama yang perlu diperhatikan.Dimensi pertama yang berkaitan dengan kedaulatan negara, maka erat hubungannya dengan batas negara itu sendiri, sedangkan dimensi kedua, yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat diperbatasan, karena hal itu

erat kaitannya dengan bagaimana mengembangkan wilayah perbatasan. Jadi tugas pokok dan fungsi pemerintah atau penyelenggara negara di dalam kaitannya dengan wilayah perbatasan, lanjut Suwarno, adalah berkaitan dengan kedaulatan negara, makanya perlu undang-undang batas wilayah negara Indonesia. Selanjutnya, upaya untuk mengembangkan batas wilayah supaya bermanfaat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Berkaitan dengan dimensi pertama, menjaga kedaulatan negara seharusnya ada ketegasan untuk itu. “Wilayah kita itu mana saja sih garis batasnya, maka itulah menurut saya perlunya dibuat UU batas wilayah NKRI dimana sampai saat ini kita belum punya. Karena yang ada baru UU batas wilayah NKRI dengan negara tetangga di segmen-segmen tertentu, tetapi batas wilayah NKRI secara keseluruhan itu yang mana..?,” tanya Suwarno. Maka itu lanjutnya, jangan sampai masyarakat ‘buta’ akan batas wilayah negaranya, tanpa sadar nelayan melewati batas tiba-tiba ditangkap. Itulah pentingnya mengenal batas wilayah. Dimana secara hukum juga merupakan amanat pasal 25 a UUD 1945. “Makanya kita perjuangkan terus, dan mengenai UU batas wilayah ini relatif semuanya sudah setuju, yang belum seratus persen tinggal Departemen Luar Negeri, mungkin mereka memiliki alasan tersendiri,” ujarnya. Kemudian yang kedua, berkaitan dengan dimensi pengembangan wilayah perbatasan dalam upaya meningkatkan masyarakat perbatasan khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Untuk hal ini perlu adanya rencana induk pengembangan wilayah perbatasan. Untuk itu, lebih lanjut menurut Suwarno, telah dibuat rencana supaya pihak yang hendak melakukan pembangunan tidak sekedar membangun tetapi tahu arahnya. Itulah paradigma yang sudah lama 3-4 tahun didengungkan. Bagaimana menjadikan wilayah perbatasan menjadi beranda depan negara yang selama ini selalu dijadikan sebagai wilayah belakang bahkan terbelakang. “Nah kita sebagai bangsa mestinya malu, seharusnya pihak asing melihat semakin ujung wilayah Indonesia semakin tertib, semakin bagus, tetapi saat ini sebaliknya. Karena itu, dalam

8

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : ISTIMEWA

menciptakan wilayah perbatasan menjadi halaman depan negara, konsensinya harus jelas,” ujarnya. Sehubungan dengan upaya pengembangan wilayah, maka dibuatlah visi pengembangan wilayah perbatasan, yang berbunyi : “Terwujudnya halaman depan negara dan wilayah perbatasan yang mencerminkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, aman, sejahtera dan antisipatif terhadap perubahan global”. Di dalam pernyataan visi pengembangan wilayah perbatasan tersebut yang dimaksud dengan : 1. Halaman depan negara, , bahwa wilayah perbatasan merupakan wilayah yang harus diperhatikan dan dijaga sebagai halaman pintu masuk negara. 2. Aman, bahwa pengembangan wilayah terbebas dari segala ancaman keamanan yang pada akhirnya mengancam keamanan negara secara keseluruhan. 3. Tatanan global, berarti pemberlakuan sistem harus berlaku secara umum baik ditingkat nasional maupun internasional. 4. Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, berarti upaya pegembangan wilayah perbatasan diupayakan untuk tetap menjaga keutuhan wilayah Negara Republik Indonesia. Diakui Suwarno, untuk menjadikan wilayah perbatasan menjadi halaman depan negara, secara paradigma sudah terwujud dan saat ini tinggal mengimplementasikannya. Hal ini memang membutuhkan komitmen semua pihak. “Kalau mau bangun wilayah perbatasan tidak ada komitmen yang kuat, sulit rasanya terwujud. Misalnya, kalau perbatasan itu dibangun tapi selalu dicomparative (dibanding-bandingkan-red), mau bangun jalan, aah disitu belum ada yang lewat kok, mau bangun sekolah
WBC/ZAP

PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYON0. Pembangunan wilayah perbatasan merupakan salah satu prioritas yang akan dilakukan pemerintah. Presiden ingin mengubah pandangan daerah perbatasan sebagai halaman belakang menjadi halaman depan sebuah negara.

Ir. SUWARNO P RAHARDJO, Msi. Perlu dirumuskan suatu grand design yang mengatur berbagai aktivitas dan keterlibatan instansi nasional dalam memberdayakan masyarakat di perbatasan antar negara.

wong yang sekolah cuma 10 orang bangun aja di pusat kabupaten, akhirnya tidak terbangun-bangun selamanya. Maka itu dibutuhkan komitmen kuat” ujarnya. Menjadikan wilayah perbatasan sebagai wilayah depan sangat diperlukan komitmen semua pihak. Sebagai contoh Korea Selatan dengan Korea Utara, dimana wilayah perbatasannya justru dijadikan kompetisi. Setiap kali Korsel membangun fasilitas baru, Korea Utara mengikutinya, begitu pula sebaliknya. Perbatasan Amerika dengan Kanada saat ini lebih bagus wilayah perbatasan Kanada dibandingkan Amerika, karena Kanada sadar ia kalah populer dengan Amerika, maka itu digenjot pembangunan di perbatasan sedemikian rupa supaya orang tertarik mau datang ke Kanada. Kondisi ini harusnya juga demikian, seperti di Indonesia, antara Entikong (Indonesia) dengan Tebedu (Malaysia), kita akan lihat perbedaan, wilayah Tebedu lebih menarik dibandingkan Entikong. “Sebagai bangsa mestinya kita malu, paling tidak harus sama, … syukur-syukur lebih bagus,” ujar Suwarno. Begitu juga perbatasan-perbatasan lain seperti Papua dengan PNG, NTT dengan Timor Leste, katakanlah sekarang Indonesia memiliki posisi yang lebih baik, tetapi kalau tidak diperhatikan, maka suatu saat bisa kalah (bisa diakui seperti Sipadan Ligitan). Kondisi seperti itu sebenarnya sangat disayangkan, karena itulah, mulai sekarang yang dibutuhkan adalah komitmen mulai dari atas sampai bawah, komitmen dari semua pihak. Diakui Suwarno, sebenarnya penanganan masalah perbatasan sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Ketika itu bahkan ada usulan satu badan khusus pengelola perbatasan. Saat itu dibuat suatu seminar, dan memang masalah perbatasan harus dikelola secara khusus. Cuma problema-

tiknya saat itu ada dua alternatif untuk pengelolanya. Satu, berbentuk dewan (antara lain; dewan otonomi daerah, dewan maritim), kedua, badan yang berbentuk operasional, dan kedua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya dewan, terdiri dari instansi terkait (pimpinan-pimpinannya), di dalam policy-nya relatif komprehensif, tetapi implementasinya relatif nihil. Karena rata-rata hanya kebijakan, tidak ada yang mau mengoperasionalkan karena dianggap ditindaklanjuti oleh masing-masing sektor, namun kenyataannya belum. Sebaliknya, kalau badan operasional, memang kelebihannya sudah ada visi, misi, desain, rencana sampai bisa dioperasionalkan. Kelemahannya, sementara yang mengurusi masalah perbatasan terdiri dari beberapa departemen, apakah lantas komponenkomponen yang ada di perbatasan harus ditarik masuk ke dalam badan itu misalnya; bea cukai, karantina, pengamanan, imigrasi? Tentunya tidak mudah. Sebagai salah satu komitmen nyata pemerintah mengenai pengembangan wilayah perbatasan, beberapa waktu yang lalu presiden sudah menyatakan akan dibangun jalan sepanjang 2.000 km di perbatasan Kalimantan. Jalan sepanjang lebih dari 2000 kilometer paralel dengan garis batas darat Indonesia dan Malaysia ini menghubungkan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Pembangunan ini bertujuan untuk menghidupkan ekonomi rakyat di perbatasan dan untuk menjaga kedaulatan Indonesia. Untuk itu, dalam waktu dekat pemerintah akan segera membuat aturan hukumnya dalam bentuk peraturan presiden mengenai pembangunan wilayah perbatasan dan kemudian membentuk badan pelaksananya yang akan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Presiden mengemukakan, pembangunan wilayah perbatasan merupakan salah satu prioritas yang akan dilakukan pemerintah. Presiden ingin mengubah pandangan daerah perbatasan sebagai halaman belakang menjadi halaman depan sebuah negara. Ada jaring-jaring jalan yang menghubungkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur sehingga mobilitas meningkat. Sebaliknya penyelundupan yang merugikan rakyat dapat dikontrol, bahkan ditutup. Untuk menghidupkan ekonomi rakyat di sepanjang garis perbatasan Indonesia dan Malaysia yang kondisi geografisnya tidak sama, pemerintah tengah memikirkan peruntukan wilayahnya dengan pokok utama untuk perkebunan, misalnya kelapa sawit.Untuk membangun wilayah yang kondisi geografisnya sulit, Presiden mempertimbangkan untuk mengerahkan TNI dari satuan-satuan zeni tempur.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN WILAYAH PERBATASAN NKRI
Memperhatikan berbagai potensi dan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

9

LAPORAN UTAMA
FOTO : ISTIMEWA FOTO : ISTIMEWA

MASYARAKAT PERBATASAN. Kebanyakan, wilayah perbatasan jauh dari pusat kegiatan dan sasaran pembangunan, akibatnya kondisi wilayah perbatasan miskin dan terbelakang.

SARANA JALAN DI PERBATASAN. Untuk menghidupkan ekonomi rakyat di perbatasan dan untuk menjaga kedaulatan Indonesia.

keunggulan wilayah perbatasan, baik dari sumber daya alam hayati maupun non hayati lainnya, lanjut Suwarno, maka perlu dirumuskan suatu grand design yang mengatur berbagai aktivitas dan keterlibatan instansi nasional dalam memberdayakan masyarakat di perbatasan antar negara. Setidaknya melalui Rencana Induk Pengembangan Wilayah Perbatasan NKRI, dapat menjadi starting point untuk menggarap secara lebih konkret berbagai kebutuhan di wilayah perbatasan. Selain itu nantinya akan menjadi motor penggerak perekonomian, sehingga keberadaan wilayah perbatasan merupakan wujud kedaulatan dan rasa bangga kita sebagai sebuah bangasa dan NKRI. Sebenarnya dalam pengembangan wilayah perbatasan dilihat dari sisi fisiknya wilayah perbatasan pada hakekatnya ada tiga (laut, darat dan udara), tetapi yang menonjol hanya dua, yaitu darat dan laut. Berkaitan dengan darat, pada hakekatnya secara fisik sumber daya alam umumnya tinggi sedangkan sumber daya manusianya relatif tertinggal. Sedangkan komunikasi antara wilayah perbatasan dengan pusat-pusat penyelenggaraan pemerintahan relatif jauh jaraknya, sarana dan prasarana juga sangat terbatas. Sebaliknya, di negara-negara tetangga sudah relatif maju terutama di Kalimantan, kondisi ini lambat laun jika tidak diantisipasi sangat berbahaya. “Bisa jadi orang Kalimantan lebih bangga menyebutnya sebagai orang Malaysia, ini lebih berbahaya, mereka lebih kenal ringgit daripada rupiah. Maka itu kita ajak sedemikian rupa supaya masyarakatnya bangga jadi orang Indonesia, itulah tantangan kita” ujar Suwarno. Maka itu, saat ini sudah diupayakan, baik dari sisi konsep, bagaimana 10
WARTA BEA CUKAI

konsepsi tentang sarana dan prasarana, konsepsi tentang kesehatan masyarakat, konsepsi pendidikan untuk masyarakat, ekonomi masyarakat di perbatasan. Tentang hal itu telah dikoordinasikan dengan menteri terkait, antara lain, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kesehatan, Menteri Diknas dan Menteri Perdagangan. Sedangkan dari sisi implementasinya masih terus ditunggu. “Seperti kemarin dalam rapat koordinasi tentang wilayah perbatasan, datang dari unsur terkait, seperti Bapenas, dari Menteri Kelautan, Menteri Perdagangan, Alhamdulillah, akhirnya beliau-beliau mendengar langsung keluhan masyarakat di perbatasan. Jadi konsensinya demikian,” ujar Suwarno. Departemen Dalam Negeri (Depdagri) sebagai Koordinator Penanganan Permasalahan Perbatasan Antar Negera, berupaya mengkoordinasikan sedemikian rupa, semua pihak terkait sudah diajak, dan pihak Depdagri telah memberikan realisasi. Walaupun diakui Suwarno, realisasinya masih kecil , karena terus terang Depdagri bukanlah institusi pemegang anggaran, tetapi pihaknya terus melakukan pembicaraan dengan Departemen Keuangan untuk membantu. Terutama dalam pengadaan sarana mobil, motor, pos perbatasan, monitor dan lain-lain. “Itu sebenarnya hanya untuk merangsang teman-teman di departemen lain mau secara riil kembangkan perbatasan. Kan kalau mau membangun selalu dikoomperatif terus oleh pusat-pusat pemerintahan, jadinya tidak akan terbangun secara efektif perbatasan itu. Secara tertulis memang komitmen dari instansi terkait sudah ada, hanya implementasinya masih terus kita gali,” ujarnya.

KUNCI UTAMA, KOMITMEN DAN TEKAD
Dalam melakukan pengembangan

wilayah perbatasan, sebenarnya yang sangat pokok menjadi kunci utamanya adalah semangat untuk berkomitmen. Apapun baiknya konsep pengembangan jika komitmennya sendiri lemah, rasanya akan jauh untuk bisa terlaksana. Dan komitmen dari pemerintah sendiri, lanjut Suwarno, Presiden telah menunjukkan komitmen yang memang sejak dulu sudah concern dengan masalah tersebut, maka itu saat ini yang penting adalah implementasinya. Kemudian, setelah ada komitmen dari semua pihak harus ada ajakan dari semua pihak dan image kepercayaan harus ditumbuhkan. Kemudian, faktor yang lain adalah konsepsi. Konsep dianggap sudah bagus, lalu diujicobakan kemudian diharapkan implementasinya, baik implementasi sektoral maupun pemerintah daerah setempat harus support. Dan menurut Suwarno, dari sisi kemauan, Pemda setempat tekadnya besar, cuma bagaimanapun juga, jika dirasa memberatkan Pemda biasanya akan diserahkan ke pusat, sebaliknya jika ada hasilnya merasa menjadi hak daerah. Menjadi tugas kita saat ini adalah bagaimana menjadikan masalah perbatasan sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah pusat juga bertanggung jawab karena batas negara terkait dengan luar negeri, tetapi pengembangan wilayah di dalam wilayah-wilayahnya supaya pemda juga ikut mendukung dan memprioritaskan dalam APBD-nya (Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah). Tentunya tidak diinginkan, bila wilayah perbatasan dijadikan bagian wilayah pusat dan pihak daerah hanya ‘melihat’ saja. “Itulah gunanya kami melakukan rapat-rapat koordinasi membahas penanganan masalah perbatasan.” ujar Suwarno. ris

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KARANTINA
DI PERBATASAN
T
ugas dan fungsi Badan Karantina Pertanian adalah mencegah masuknya Hama Penyakit dan Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dari luar negeri serta penyebarannya di wilayah Indonesia dalam rangka melindungi kesehatan hewan, tumbuhan dan manusia serta kelestarian lingkungan hidup Karantina pertanian juga berperan mencegah keluar masuknya hama dan penyakit tertentu melalui komoditas yang dilalu-lintaskan antar negara dalam perdagangan internasional. Dalam pengembangan ekonomi wilayah perbatasan sangat dimungkinkan dibukanya pos lintas batas baru, sehingga diperkirakan terjadi penambahan pos-pos lintas batas secara signifikan . penyebarannya ke wilayah Negara Indonesia. Keempat, Disparitas harga dan lemahnya suplai bahan pangan dari wilayah lain di dalam negeri. Kenyataan harga bahan pangan lebih mudah dibeli di negara tetangga dibandingkan jika dibeli di dalam negeri, serta kurang mencukupinya suplai bahan pangan dari wilayah lain di dalam negeri menyebabkan masyarakat perbatasan tergantung dari bahan pangan yang berasal dari negara tetangga. Adanya larangan impor bahan pangan seperti daging dan telur dari negara tetangga karena alasan penyakit, menyebabkan usaha penyelundupan daging dan telur tersebut cenderung meningkat. Untuk mewujudkan misi pemerintah

KEBERADAAN

Penyelenggaraan pelayanan prima Karantina Pertanian di perbatasan menjadi perhatian khusus pemerintah dalam rangka melindungi usaha agribisnis, memfasilitasi perdagangan dan mendukung pembangunan ekonomi wilayah perbatasan.
melindungi kesehatan hewan, tumbuhan dan manusia serta kelestarian lingkungan, belum klop rasanya kalau kita tidak mengetahui situasi dan kondisi karantina pertanian di perbatasan. l Stasiun Karantina Hewan dan Tumbuhan Kelas II Entikong Terletak di perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia. Perbatasan kedua negara tersebut merupakan dataran bergelombang, berbukit yang sebagian sudah diratakan untuk akses jalan menghubungkan kedua negara. Pos Lintas Batas (PLB) Entikong dibuka mulai pukul 05.00-1700, tanpa mengenal hari libur. Terletak 3 Km dari Tebedu, merupakan kota terdekat.
FOTO : ISTIMEWA

ANCAMAN POTENSIAL
Ada beberapa faktor yang menjadi ancaman potensial bagi masuknya hama dan penyakit baru, antara lain; Pertama, Meningkatnya perdagangan antar negara dan arus lalu lintas orang dan barang menjadi ancaman potensial terhadap masuknya HPHK OPTK baru. Kedua, Meningkatnya pintu masuk/ keluar tidak resmi (ilegal) dimanfaatkan untuk penyelundupan barang yang potensial membawa HPHK dan OPTK. Kebijakan perdagangan menaikkan bea impor merangsang terjadinya penyelundupan barang yang potensial membawa HPHK dan OPTK. Ketiga, Kondisi hama dan penyakit di negara tetangga. Status negara tetangga terutama Malaysia yang belum bebas penyakit hewan seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan adanya penyakit yang tidak ada di Indonesia merupakan ancaman yang harus diwaspadai dan dicegah

KARANTINA PERTANIAN. Juga berperan mencegah keluar masuknya hama dan penyakit tertentu melalui komoditas yang dilalu-lintaskan antar negara dalam perdagangan internasional. EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
FOTO : ISTIMEWA

sanakan pencegahan terhadap masuk dan menyebarnya OPTK antara lain, banyaknya jalan masuk dan keluar baik yang resmi dan tidak resmi, keterbatasan personil karantina, lemahnya sistem, prosedur dan pedoman/ petunjuk teknis. l Stasiun Karantina Hewan Kelas I dan Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas II Tenau, Nusa Tenggara Timur Unit pelaksanaan Teknis SKH Kelas I dan SKT kelas II Tenau, Nusa Tenggara Timur terletak di perbatasan antara Atambua dengan Timor Leste. Perbatasan antara kedua negara tersebut merupakan daratan berbukit dengan barier alam berupa sungai yang memisahkan kedua negara. PLB Tenau terletak 20 Km dari Atambua dibuka mulai pukul 06.0016.00. Komoditi yang sering dilalulintaskan di PLB Tenau antara lain; telur untuk konsumsi, daging sapi, buah segar dan sayuran. Komoditi wajib periksa karantina lewat PLB Tenau sering tidak disertai sertifikat karantina, ini terjadi karena kurangnya sosialisasi dan tingkat pendidikan pelintas batas pada umumnya masih rendah, sehingga kurang memahami fungsi dan peran karantina. Tindakan karantina dilakukan oleh petugas SKH dan SKT Tenau masih terbatas pada pemeriksaan dokumen dan fisik serta penolakan. Sama seperti di Entikong, koordinasi antar instansi CIQS di PLB Tenau untuk SKH sudah berjalan, tetapi pelaksanaannya belum efektif, diseFOTO : ISTIMEWA

PERAN BADAN KARANTINA. Berperan mencegah keluar masuknya hama dan penyakit tertentu melalui komoditas yang dilalu-lintaskan antar negara dalam perdagangan internasional.

Selain PLB terdapat lebih dari 64 pintu masuk dan keluar tidak resmi, sering digunakan pelintas batas menyelundupkan komoditi yang dilarang masuk ke Indonesia.Komoditi yang sering dilalulintaskan di PLB Entikong adalah daging sapi, daging ayam, sosis, buah segar, sayuran, kacang hijau, kedelai, kacang tanah dan bawang putih. Berbicara tentang koordinasi antar instansi Customs, Imigration, Quarantine, Security (CIQS) di PLB Entikong sudah berjalan, tetapi pelaksanaannya belum bisa dilakukan terpadu. Ini disebabkan belum adanya koordinator yang ditetapkan secara definitif. Saat ini koordinator dijabat oleh Camat Entikong dengan tugas dan fungsi yang tidak jelas, tidak mempunyai kewenangan kaitannya dengan CIQS di PLB. Mengingat keterbatasan tempat pemeriksaan, maka pemeriksaan dilakukan di luar areal PLB. Ketersediaan petugas semua unsur CIQS juga sangat terbatas. Sebenarnya, ketentuan yang termuat dalam kesepakatan Sosek Malindo memperbolehkan masyarakat pelintas batas berbelanja 600 Ringgit Malaysia tanpa dikenakan bea masuk. Tetapi ternyata, ketentuan disalahartikan masyarakat pelintas batas menjadi bebas dari semua persyaratan termasuk persyaratan karantina. Maka itu, perlu dijelaskan pada masyarakat, ketentuan karantina tetap berlaku terhadap barang bawaan. Adanya pelarangan pemasukan 12
WARTA BEA CUKAI

beberapa komoditi karantina hewan seperti hewan dan produknya termasuk unggas ditambah harga barang yang lebih murah di Sarawak mendorong penyelundupan terutama komoditi daging dan produk unggas. Kelemahan dirasakan dalam melak-

ANCAMAN POTENSIAL. Perdagangan antar negara serta arus lalu lintas orang dan barang yang makin meningkat merupakan ancaman potensial terhadap masuknya HPHK OPTK baru.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : ISTIMEWA

babkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta alat mobilisasi belum memadai. Sedangkan di SKT koordinasi antar instansi CIQS tidak berjalan karena masing-masing memiliki portal kecuali karantina. l Wilayah Kerja Skou-Wutung, Pos Pelaporan Lintas Batas Laut Hamadi Jayapura, Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas II Sorong, Stasiun Karantina Hewan Kelas I Sentani dan Stasiun Tumbuhan II Merauke Wilayah Kerja (Wilker) SkouWutung dan Wilker Pos Pelaporan Lintas Batas (PPLB) Laut Hamadi terletak antara Jayapura dengan Papua Nuginea (PNG). Perbatasan antara kedua negara tersebut berupa dataran tinggi dan pegunungan. PPLB Laut Hamadi berjarak 50 km dari negara tetangga dan kota terdekat Jayapura berjarak 60 km. Pintu gerbang perbatasan dibuka pukul 08.00-16.00. Berdasarkan peraturan dari Badan Perbatasan memperbolehkan pelintas batas tradisional berbelanja sampai batas Rp. 3 juta dan itu tanpa dikenakan bea masuk. Komoditi yang dilalulintaskan PLB Skau-Wutung maupun Laut Hamadi adalah vanili, coklat dan buah pinang, merupakan komoditi wajib periksa karantina. Komoditi wajib periksa karantina masih sering tidak disertai sertifikat dari negara asal dan ijin pemasukan. Tindakan karantina yang dilakukan petugas masih terbatas pada pemeriksaan dokumen dan fisik. SKT kelas II Sorong dan Merauke, berupa dataran mendatar dan bergelombang. Secara alami barier alam memisahkan negara tersebut berupa dataran padang rumput campur tumbuhan perdu. Posisi dari PLB berkisar antara 2030 km. Komoditi yang dilalulintaskan berupa hasil pertanian dan hasil hutan sering mengalami kesulitan menerapkan peraturan karantina karena sebagian besar penumpang menolak diperiksa barang-barangnya oleh petugas karantina. Ini diakibatkan karena tingkat pengetahuan, kesadaran dan kepatuhan masyarakat masih rendah serta peraturan karantina pertanian belum dipahami. SKH kelas I Sentani berupa dataran bergelombang, barier alam yang membatasi berupa hutan alam. Keberadaan pintu gerbang perbatasan dengan negara tetangga (PNG) dimulai dari pukul 07.00-16.30 WIT. Arus komoditas masih sangat kurang karena ada peraturan khusus bahwa pedagang dari PNG tidak boleh berdagang di Jayapura, tetapi hanya diperbolehkan di perbatasan saja. Koordinasi antar instansi CIQS di Wilker Skau-Wutung, Laut Hamadi, SKT kelas II Sorong, SKH kelas I

BATAM-RIAU. Laju pembangunan Batam dan Riau yang cukup tinggi akan meningkatkan lalu lintas barang di antara Batam dan Riau dengan ke dua negara tetangga.

Sentani dan SKT kelas I Merauke sudah berjalan baik. Hal ini dapat dilihat dalam penerapan sistem pelayanan CIQS terpadu diantaranya, Jika ada pelintas batas, pemeriksaan dilakukan oleh CIQS masing-masing sesuai dengan fungsi dan tugasnya. Setelah petugas karantina melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan barang. imigrasi melakukan pemeriksaan paspor dan sejenisnya. Jika tidak ada masalah atau setelah ada clearence dari karantina dan imigrasi, maka proses selanjutnya ditangani oleh Bea dan Cukai l Sub Direktorat Karantina Otorita Batam dan Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas II Sultan Syarif Kasim Pekan Baru. Subdirektorat Karantina Otorita Batam merupakan unit pelayanan teknis yang terdiri dari karantina hewan, ikan dan tumbuhan. Subdit Karantina Otorita Batam terletak di perbatasan antara pulau Batam dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Sedangkan SKT kelas II Sultan Syarif Kasim Pekan Baru terletak di perbatasan antara Kepulauan Riau, Malaysia dan Singapura. Secara alamiah antara Batam dan Riau dengan Malaysia dan Singapura dibatasi oleh Selat Malaka yang dapat dihubungkan de-

ngan kapal Ferry kurang dari satu jam. Sebagai kawasan berikat (bonded zone), Batam mempunyai ketentuanketentuan khusus yang dijadikan landasan hukum instansi-instansi terkait seperti ketentuan Bea dan Cukai dalam memberikan pelayanan kepabeanan untuk mengatur tata cara pemasukan dan pengeluaran serta pemindahan barang di daerah bonded zone berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1978 yang merupakan landasan hukum bagi Bea dan Cukai dalam melayani kepabeanan di Batam. Laju pembangunan Batam dan Riau yang cukup tinggi akan meningkatkan lalu lintas barang di antara Batam dan Riau dengan ke dua negara tetangga. Kondisi geografis Batam dan Riau berupa dataran pantai yang landai sehingga sangat mudah untuk pendaratan kapal atau perahu (di Batam terdapat sekitar 72 pintu masuk tidak resmi). Tipe perumahan pantai yang dapat digunakan sebagai tempat berlabuhnya kapal/ perahu, adanya hubungan dagang tradisional antara Batam dan Riau dengan negara tetangga menyebabkan nelayan/ kapalkapal kecil dapat leluasa keluar masuk tanpa pemeriksaan. Peran aktif petugas karantina di Batam dan Riau sangat diperlukan untuk mencegah masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK. ris
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

13

LAPORAN UTAMA

Personil dan Anggaran

Harapan Sarana Operasi,

yang Memadai
Malaysia di Kalimantan kurang lebih 1.200 km di-mana sepanjang kurang lebih 847 km berada di provinsi Kalbar dan baru sebagian mempunyai patok batas. Zona perbatasan Kalbar berada di 5 Kabupaten dengan luas 2.035,164 Km2 dengan jumlah penduduk 152.720 orang dan kepadatan 8 org/km2 Dari kesepakatan Sosek Malindo ditetapkan 16 exit/entry point dimana selain PPLB(Pos Pemeriksaan Lintas Batas) Entikong akan dibuka 4 titik pos lintas batas (Aruk-Biawak, Jagoibabang-Serikin, Nanga BadauLubuk Hantu), namun sepanjang perbatasan banyak sekali jalan tidak resmi digunakan sebagai pintu keluarmasuk kegiatan lintas batas, yang

Di perbatasan darat dan laut, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki peran sebagai pelayan dan pengawas, bagi pelintas batas dari wilayah RI atau ke negara tetangga.

B

erbicara soal lingkup pengawasan DJBC di wilayah perbatasan, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) II DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun (TBK) Heru Santoso, SH mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan atas dua provinsi, yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau yang berbatasan dengan negara Malaysia dan Singapura. Sedangkan di Kanwil IX Pontianak menurut Kakanwilnya, Drs. Teguh Indrayana MA, mempunyai wilayah kerja provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang membawahi daerah perbatasan dan berhadapan langsung dengan Serawak Malaysia. Berdasarkan letak geografis, perbatasan Republik Indonesia-Sarawak

SEKTOR PATROLI KWBC II TBK. Wilayah pengawasan Kanwil II TBK.

mengakibatkan maraknya perdagangan ilegal di sepanjang perbatasan Berdasarkan kondisi sosial ekonomi, secara sosial penduduk perbatasan punya keterikatan dengan penduduk Sarawak. Mata pencaharian sebagian besar adalah petani tradisional dengan perbedaan tingkat kesejahteraan sangat mencolok dibandingkan dengan penduduk Sarawak. Pengawasan sulit dilakukan karena terbatasnya sarana, prasarana ditambah kondisi geografis dan segala keterbatasan sosial masyarakat perbatasan menimbulkan perilaku mudah sekali terprovokasi untuk mengedepankan people power daripada dialog serta gampang terhasut melakukan kegiatan ilegal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kepala Kanwil X Balikpapan, Drs Faried Syibli Barchia, MA, menjelaskan, pos perbatasan darat wilayah kerja Kanwil X DJBC Balikpapan merupakan perbatasan darat antara Provinsi Kalimantan Timur-Negara Bagian Sabah, Malaysia, yang sampai saat ini belum ada. Yang ada hanyalah Pos Pengawasan di Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Sementara itu wilayah kerja Kanwil XII DJBC Ambon meliputi; Provinsi Maluku, Maluku Utara dan Papua. Dijelaskan, Kakanwil XII DJBC Ambon, Drs. Ismartono, Wilayah kerja di Papua, Kanwil Bea dan Cukai Ambon berbatasan dengan PNG (Papua New Guinea) dan terdapat dua pos perbatasan darat dan satu pos perbatasan laut yang sering dilewati para pelintas batas dari masyarakat Papua (RI) dan PNG, yaitu pos darat Skouw-Wutung dan Pos Laut Hamadi di bawah pengawasan KPBC Tipe A Jayapura dan Pos darat Sota di bawah pengawasan KPBC Tipe C Merauke. Sebetulnya, lanjut Ismartono, masih ada beberapa pos darat, tetapi belum dapat ditempatkan pegawai DJBC, karena belum tersedia sarana dan prasarananya, yaitu di Kabupaten Keerom, dan Kabupaten Pegunungan Bintang di bawah

14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

DOK. WBC

DOK. WBC

FARIED SYIBLI BARCHIA. Pos perbatasan darat antara Provinsi Kaltim- Sabah, Malaysia, sampai saat ini belum ada. Yang ada hanya Pos Pengawasan di Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan.

pengawasan KPBC Jayapura, serta Bupul dan Mindiptana di bawah pengawasan KPBC Merauke. Wilayah laut berbatasan langsung negara tetangga Australia dan Timor Leste.

KEBIJAKAN STRATEGIS MASALAH PERBATASAN
Di Kanwil TBK, masalah perbatasan dilakukan dengan cara mendukung kerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Riau dan Kepulauan Riau dalam rangka kerja sama antara Provinsi Riau dengan Provinsi Kepulauan Riau dengan Johor dan Malaka, terutama bidang Perdagangan Lintas Batas. Jenis barang yang diperbolehkan dan dilarang dalam perdagangan lintas batas
DOK. WBC

ISMARTONO. Diperlukan kapal patroli besar dan personil yang cukup ditunjang anggaran memadai untuk pengawasan wilayah Maluku dan Papua.

dan nilai harganya ditetapkan Pemda. Pemda mengusulkan nilai barang pelintas batas per orang per trip 6000 Ringgit Malaysia (RM) atau USD 1.500, namun berdasarkan Keputusan Menkeu Nomor: 490/KMK.05/1998 sebesar RM 600 atau USD 150. Yang berlaku sekarang, keputusan Menkeu tersebut. Peraturan larangan dan pembatasan dari Pemerintah Pusat (Departemen perdagangan dan Instansi terkait) tetap diberlakukan pada kegiatan perdagangan lintas batas. Di Provinsi Riau sendiri tercatat ada 11 exit/entry point. Sementara itu, kerjasama dengan pihak Kastam Diraja Malaysia Serawak (KDRM) memerangi perdagangan illegal kedua negara dalam kerangka SOSEK MALINDO disamping Kerjasama dengan aparat lainnya; TNI, Polri, Pemda, Imigrasi dan lain-lain.mencegah dan menanggulangi perdagangan ilegal di daerah perbatasan. Begitu juga di Kanwil X DJBC Balikpapan, secara nasional telah dilakukan kerjasama beberapa bidang antara Indonesia-Malaysia dalam payung kerjasama Sosek Malindo. Secara regional dilakukan kerjasama antara Peringkat Negeri Sabah, Malaysia dan Tingkat Daerah Kalimantan Timur (Kaltim) yang berlangsung selama 10 tahun, secara berkala dievaluasi dan untuk ditindaklanjuti sesuai kesepakatan. Dalam persidangan ke-10 yang dilaksanakan Balikpapan, pada 21-23 Juli 2005, telah mengagendakan antara lain; kerjasama pembangunan Pos Lintas Batas Laut (PLBL), Sungai Imam-Pasir Putih, Tawao, Sabah, Malaysia dengan Nunukan dan Sungai Nyamuk, Kabupaten Nunukan, Kaltim. Pembangunan PLBD, Serudong, Sabah Malaysia-Simanggaris, Kaltim. Kemudian, pencegahan, penertiban, penanggulangan penyelundupan di kawasan sempadan,perbatasan Negeri Sabah-Kaltim, Kerjasama bidang sosial, pendidikan,kesehatan,ekonomi dan perdagangan Negeri Sabah-Kaltim. Sebagai tindak lanjut dari kerjasama pencegahan, penertiban dan penanggulangan penyelundupan di Kanwil X DJBC Balikpapan secara khusus telah melakukan kerjasama dengan Jabatan Kastam Negeri Sabah Malaysia dalam bentuk Operasi Patroli Laut Terkoordinasi (Patkorkastima) yang sampai saat ini telah dilaksanakan selama 4 kali. Selain itu, akan dilakukan kerjasama khususnya menyangkut pemasukan dan pengeluaran barang-barang ilegal dan yang diatur tata niaga impor dan ekspor (barang larangan dan pembatasan). Di Kanwil XII DJBC Ambon, sesuai rencana strategis DJBC berkaitan dengan hubungan internasional yaitu meningkatnya kerjasama di bidang kepabeanan sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan PNG, maka rencana strategisnya adalah tersusunnya Memorandum of Understanding (MoU) antara DJBC-Customs PNG. Disamping

HERU SANTOSO. Agar kerjasama instansi terkait dan negara tetangga dapat lebih ditingkatkan.

itu, setiap tahun dilakukan pertemuan antara pemerintah Indonesia dengan PNG membicarakan berbagai masalah, salah satunya adalah MoU on Exchange of Customs Related Information antara DJBC dengan Customs PNG.

PELAYANAN DAN PENGAWASAN DI PERBATASAN
Pengawasan bea cukai di pos exit/ entry point Kanwil II DJBC TBK, dilakukan dengan memeriksa fisik barang yang dibawa pelintas batas, yang ke Malaysia atau pulang ke Indonesia. Apabila nilai barang melebihi ketentuan, kelebihannya dikenakan Bea Masuk dan/ Cukai serta Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) Arus pelintas batas pada masingmasing exit/entry point (pos keluar masuk) yang berada di pengawasan Kanwil TBK tidak begitu ramai, berbeda dengan arus
DOK. WBC

TEGUH INDRAYANA. Di Kanwil Pontianak merupakan daerah perbatasan yang rawan tindak pelanggaran UU Kepabeanan karena banyak jalan tembus ilegal sepanjang perbatasan serta minimnya SDM dan sarana pengawasan. WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

15

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

dibangun dan masih dalam pembicaraan dengan Malaysia, arus pelintas batas dilayani sebagai penumpang sarana pengangkut dan perahu-perahu kecil yang keluar masuk ke atau dari Tawao melalui Sungai Nyamuk dan Tonuntaka, Nunukan. Sementara itu, arus pelintas batas masyarakat RI-PNG tidak ramai setiap saat, tetapi saat-saat tertentu saja, yaitu saat panen vanili dan coklat. Komoditi yang dibawa masuk ke wilayah RI oleh pelintas batas dari PNG umumnya berupa vanili, coklat dan makanan ringan yang jumlahnya beberapa kilogram saja (antara 1-10 kg). Kontribusi terhadap penerimaan negara dari komoditi yang dibawa oleh pelintas batas pada tahun anggaran 2004 hanya mencapai Rp. 246.445.238. Sedangkan komoditi yang dibawa keluar wilayah RI oleh pelintas batas dari RI umumnya barang kebutuhan hidup. Pelintas batas pada umumnya petani yang berada di perbatasan RI-PNG yang satu sama lainnya masih merasa bersaudara, mereka tidak mengerti mengenai ketentuan kepabeanan dan peraturan lainnya. Disamping itu perbatasan tersebut sangat luas dan sulit dijangkau sehingga sangat rawan terjadi tindak pelanggaran kepabeanan.
KAPAL PATROLI. Pengawasan penyelundupan hasil hutan dan hasil laut di perairan luar diperlukan kapal patroli ukuran besar yang dapat menjangkau lautan luas.

SARANA DAN PRASARANA DI POS PERBATASAN
Sarana operasi pengawasan di perbatasan laut, Kanwil II TBK, saat ini sudah memadai dengan kapal patroli jenis FPB 28, VSV 15 atau speed boat didukung pengolahan data-data intelijen, patroli darat, patroli rutin atau khusus di laut dan melakukan peningkatan SDM dengan pendidikan dan latihan.Saat ini sarana operasi yang dapat digunakan sebagai berikut; FPB 28 alumunium ada 4 unit, FPB 28 kayu ada 13 unit, VSV 15 ada 3 unit dan Speed boat ada 5 unit. Sementara kerjasama dengan aparat terkait dilakukan dengan cara pertukaran informasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pengawasan dan patroli terkoordinasi. Setiap tahun tahun diadakan pertemuan koordinasi secara rutin dengan instansi terkait seperti dengan dinas perindustrian dan perdagangan serta pemerintah daerah setempat dan patroli terkoordinasi (Operasi Hiu Macan). Di wilayah kerja Kanwil IX Pontianak, sarana dan prasarana diperbatasan sangat minim dan hanya PPLB Entikong yang sudah dilengkapi dengan X Ray, namun hal ini tidak optimal karena mesin X Ray dimaksud sulit berfungsi dan sering rusak dikarenakan tidak normalnya tegangan listrik di Entikong. Sedangkan pos lainnya lebih minim sarana dan prasarana yang dimiliki baik alat transport, komunikasi, bahkan gedungnya sudah banyak tidak layak huni. Sarana operasi di perbatasan masih kurang memadai karena Kanwil Pontianak tidak memiliki kapal patroli untuk di laut lepas, sarana patroli yang dimiliki saat ini

pelintas batas daratan seperti di Entikong karena lintas batas pada Kanwil II TBK semuanya melalui lautan. Sama seperti diperbatasan lainnya, umumnya, pelintas batas ke Malaysia membawa hasil pertanian dan kerajinan yang dihasilkan masyarakat perbatasan, seperti; kopra, kelapa bulat, ikan segar, nenas, dan arang batik, kelapa. Sedangkan pelintas batas yang datang dari Malaysia membawa; kacang hijau, ikan bilis, cabe kering, sarden, kecap, kerupuk ikan, bawang putih, bawang merah, biscuit. Menurut Heru Santoso, pelanggaran terhadap UU Kepabeanan relatif tidak ada, karena pelintas batas tingkat pendapatannya relatif rendah dan barang bawaan ke atau dari Malaysia atau Singapura adalah kebutuhan pokok seharihari.Pelanggaran potensial memang tidak ada, hanya pelanggaran kecil, misalnya membawa barang yang terkena ketentuan barang larangan dan pembatasan. Kontribusi pungutan BM dan/ cukai PDRI pada pos exit dan entry point, adalah kecil sekali bahkan tidak ada. Sedangkan komoditi rawan diselundupkan, ada beberapa jenis. Untuk ke luar negeri antara lain; komoditi biji timah, BBM dan kayu. Sedangkan ke dalam wilayah Indonesia antara lain; daging sapi beku, pakaian bekas (ball pres), gula pasir, beras. Di Kanwil IX Pontianak merupakan daerah perbatasan yang rawan tindak pelanggaran UU Kepabeanan karena banyak jalan tembus ilegal sepanjang 16
WARTA BEA CUKAI

perbatasan serta minimnya SDM dan sarana pengawasan. Barang bawaan pelintas batas umumnya kebutuhan pokok sehari-hari dengan batas RM 600 per orang per bulan. Sedangkan komoditas rawan diselundupkan melalui lintas batas adalah semua barang-barang impor yang diatur tata niaganya (beras, gula, daging, makanan minuman olahan/kaleng), sedangkan barang ekspor yang rawan diselundupkan adalah kayu, pupuk dan produk hasil hutan lainnya yang dilarang. Lalu lintas perdagangan yang resmi dibuka kedua negara hanya PPLB Entikong sedangkan lainnya dalam taraf persiapan menyediakan sarana dan prasarana walaupun secara prinsip ditetapkan 15 titik akan dibuka (baik PPLB maupun PLB). Hal ini sangat menyulitkan pangawasan karena rentang perbatasan sepanjang kurang lebih 847 Km dengan tempat pelayanan resmi hanya di PPLB Entikong, sedangkan disepanjang perbatasan sudah terjadi arus barang dan orang keluar masuk kedua negara. Ini jadi kendala pelayanan dan pengawasan kegiatan perdagangan lintas batas karena di luar PPLB Entikong belum bisa diberikan pelayanan lintas batas (sampai sekarang belum resmi dibuka, belum ada CIQS secara lengkap di lokasi dimaksud) Di Kanwil X DJBC Balikpapan, mengingat PLBD maupun PLBL belum ada, pelayanan dan pengawasan dilakukan di Pos Pengawasan Sungai Nyamuk dan Pelabuhan Tonuntaka, Nunukan. Meskipun Pos Lintas Batas, baik PLBD maupun PLBL belum

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

hanya mampu untuk patroli diperairan sungai saja. Adapun sarana penunjang pelaksanaan tugas yang dimiliki Kanwil IX DJBC Pontianak antara lain : Speedboat/ alat angkutan apung sebanyak 15 unit, 12 unit kondisinya baik namun daya jangkaunya terbatas (hanya di sungai-sungai) karena sudah tua, dan 2 unit dalam kondisi rusak dan 1 unit rusak sama sekali. Sedangkan untuk kendaraan bermotor roda empat sebanyak 33 buah, 1 buah rusak dan 1 buah dalam kondisi rusak sama sekali. Kendaraan bermotor roda dua sebanyak 50 buah, 5 buah rusak dan 3 buah dalam kondisi rusak sama sekali. Alat komunikasi Radio SSB sebanyak 19 unit, 5 unit rusak, 1 unit rusak sama sekali dan alat komunikasi Radio UHF sebanyak 14 unit dalam kondisi baik. Saat ini di Kanwil Pontianak dilengkapi dengan 241 personil dan jumlah itu dirasa masih kurang ideal dibandingkan beban kerja pelayanan dan pengawasan yang harus dilakukan. Untuk saat ini masih terdapat kekurangan pegawai sebanyak 90 pegawai. Guna mengantisipasi penambahan volume kegiatan di masa depan khusunya rencana pengembangan wilayah perbatasan maka lebih banyak lagi pegawai yang dibutuhkan, untuk itu diusulkan adanya peningkatan status kantor/ kantor bantu/ pos pengawasan diperbatasan dan penambahan SDM sekitar 108 pegawai dengan rincian 2 orang pejabat eselon IV, 21 orang Korlak dan 85 Pelaksana dengan kualifikasi teknis kepabeanan dan cukai. Secara resmi Kanwil IX DJBC Pontianak telah mengusulkan kepada pemda dan instanti terkait lainnya untuk mengantisipasi perdagangan lintas batas yaitu : PPLB / PLB yang sudah disepakati agar segera direalisasikan pembangunan sarana dan prasarananya karena telah ditempatkan personil CIQS secara resmi, bisa berbentuk Pos Pengawasan Terpadu guna mengantisipasi kegiatan lintas batas.

kerja Kanwil X Balikpapan, di perbatasan sangat kurang memadai, komoditi rawan diselundupkan melalui laut berupa; ammonium nitrat, kayu gergajian, kayu log, kayu bantalan, rotan, pakaian bekas, gula, telur, BBM dan sebagainya. KPBC Nunukan dan Tarakan awal 2005 telah memperoleh pembagian masing-masing 1 unit kapal patroli laut. Di perairan perbatasan juga diperoleh bantuan kapal Patroli Cepat dari Kanwil XI DJBC Makassar yang di BKO ke Kanwil X DJBC Balikpapan. Sarana operasi yang dimiliki Kanwil Balikpapan berjumlah 7 buah kendaraan roda empat dengan 97 orang personil dan dirasa sangat kurang mengingat wilayah yang diawasi sangatlah luas. Untuk Pos Perbatasan Skouw, (Wilayah XII Kanwil DJBC Ambon) Pemda Jayapura melalui Badan Perbatasan dan Kerjasama Daerah menyediakan gedung yang ditempati berbagai instansi terkait dengan lalu lintas barang dan orang dari dan ke wilayah RI maupun PNG, termasuk di Pos Laut Hamadi telah disediakan ruangan khusus untuk Bea dan Cukai melayani kegiatan impor dan ekspor. Khusus untuk PLB Skouw, direncanakan pada akhir tahun 2005 sudah dapat melayani kendaraan yang masuk dan keluar wilayah RI maupun PNG. Sedangkan di Pos Sota tersedia rumah dinas pegawai yang sekaligus dijadikan tempat untuk melayani kegiatan kepabeanan yang melalui Pos Lintas Batas. Sarana yang tersedia di pos perbatasan hanya berupa peralatan kerja dan alat komunikasi saja, tanpa dilengkapi dengan peralatan lainnya seperti X-Ray dan lainlain. Sampai saat ini Kanwil DJBC Ambon tidak memiliki sarana operasi memadai untuk melakukan pengawasan. Hanya beberapa KPBC memiliki speed boat ukuran 15 M, yang hanya mampu untuk boatzoecking di perairan dalam saja.

lokasi PPLB maupun PLB yang sudah resmi ditetapkan dan akan dibuka dapat segera direalisasikan sarana dan prasarananya untuk personil CIQS secara resmi, sedangkan yang belum resmi dibuka dapat dibuatkan suatu Pos Pengawasan Terpadu guna mengantisipasi kegiatan yang lintas batas yang terjadi Sedangkan Faried Syibli Barchia, sesuai program kerja TA 2005, seperti; pembinaan pegawai dapat berjalan baik, peningkatan pelayanan sesuai harapan masyarakat usaha, peningkatan pencegahan penyelundupan dan peredaran barang ilegal sehingga tidak terjadi lagi pelanggaran di bidang kepabeanan dan cukai serta optimalisasi penerimaan negara dengan harapan target penerimaan Kanwil X DJBC Balikpapan dapat tercapai. Ismartono, dalam harapannya menekankan perlunya penanganan yang komprehensif melihat kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang dimiliki Maluku dan Papua dengan kekayaan sumberdaya alam sangat tinggi dan rawan penyelundupan sementara sarana transportasi minim. Untuk itu diperlukan penanganan yang komprehensif dengan meningkatkan sarana operasi dan personil pengawasan yang memadai. Diperlukan pula kapal patroli besar dan personil yang cukup ditunjang anggaran memadai dan dapat dibuat pangkalan kapal patroli agar DJBC dapat melakukan pengawasan sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang diberikan UU sebagai penjaga perbatasan wilayah RI dari masuk dan keluarnya barang impor maupun barang ekspor. ris
DOK. WBC

KETERBATASAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)
Kondisi keterbatasan BBM dirasakan kanwil yang mempunyai tugas melakukan patroli laut. Tingginya harga dan ketersediaan BBM menjadi kendala operasi kapal patroli. Padahal untuk perhitungan anggaran sebelumnya masih menggunakan harga BBM yang lama. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, dilakukan patroli waktu-waktu tertentu yang sering digunakan untuk penyelundupan dengan menggunakan risk management melalui analisis. Di Pontianak, yang menjadi kendala utama pengawasan laut adalah tidak adanya sarana kapal patroli dibawah Kanwil IX DJBC Pontianak, sehingga pelaksanaan patroli di laut lepas sangat tergantung pada BKO kapal patroli dari Kanwil TBK yang diperpanjang setiap sebulan sekali. Sementara, sarana prasarana yang dimiliki kantor-kantor pelayanan, wilayah

HARAPAN UNTUK PERBAIKAN
Sebuah harapan disampaikan dalam upaya meningkatkan pengawasan di perbatasan. Seperti disampaikan Heru Santoso. Ia berharap agar kerjasama instansi terkait dan negara tetangga dapat lebih ditingkatkan. Sementara, Teguh Indrayana, menyampaikan harapan-harapan yang ingin disampaikan kepada pimpinan untuk perbaikan pelayanan dan pengawasan di wilayah perbatasan, yaitu peningkatan status kantor pelayanan, kantor bantu dan pos pengawasan untuk dapat dibahas dalam reorganiasasi, kekurangan SDM dapat segera dipenuhi sesuai usulan yang telah diajukan, segera dilakukan pembangunan, perbaikan, pengadaan sarana dan prasarana di semua kantor dan pos pengawasan, adanya peningkatan anggaran biaya perjalanan dinas pegawai yang ditugaskan di perbatasan karena sampai saat ini masih sangat minim serta dilakukan pembahasan ditingkat Pusat supaya di

KOMODITI RAWAN. Kayu dan rotan rawan diselundupkan melalui jalur laut. WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

17

LAPORAN UTAMA

DI WILAYAH PERBATASAN
Kami tampilkan dua profil KPBC yang melakukan pelayanan dan pengawasan di wilayah perbatasan, antara lain; KPBC Entikong berbatasan dengan Malaysia dan KPBC Atapupu berbatasan dengan Timor Leste

Aktivitas KPBC
PBC Tipe C Atapupu berlokasi di Jalan Pelabuhan No.2, Atapupu, Nusa Tenggara Timur dengan dilengkapi 26 personilnya. Menurut Kepala KPBC Tipe C Atapupu, M. Gauss Sitompul, SH, pelaksanaan pengawasan, baik ekspor maupun impor, di wilayah kerja KPBC ini meliputi tiga wilayah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu Belu di Atambua, Timor Tengah Utara di Kefamenanu dan Kalabahi di Pulau Alor. Artinya untuk pengawasan tidak saja lintas darat, namun juga meliputi wilayah laut. Lebih lanjut Gauss menjelaskan, rentang panjang perbatasan darat meliputi 200 Km dengan 9 titik pos resmi di luar perbatasan laut di Kabupaten Alor dimana terdapat satu pelabuhan resmi yaitu Pelabuhan Laut Kalabahi dan pelabuhan laut yang sedang dikembangkan di Moratain di ujung Pulau Alor yang berjarak kurang lebih 3 mil dari Timor Leste. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 444 tahun 2002, untuk sementara telah ditetapkan 3 titik resmi lintas batas darat, yaitu Motaain, Metamasin dan Napan, selebihnya berdasarkan MoU tahun 2003 antara pemerintah Indonesia dan Timor Leste yang sampai saat ini masih belum berjalan. Sementara itu, Pos yang menjadi gerbang utama di perbatasan darat RITimor Leste adalah Motaain kurang lebih 12 Km darat dari KPBC Atapupu dan berstatus Kantor Pos Bantu yang dikepalai oleh seorang Kepala Kantor Pos Bantu dengan 2 atau 3 anggota personil. Berdasarkan data pelintas batas yang ada di KPBC Atapupu, dalam sehari tercatat sebanyak 75-100 orang pelintas yang umumnya adalah pedagang Indonesia yang menjual atau mensuplai barangnya ke Timor Leste. Artinya volume ekspor dalam satu tahun dapat dirataratakan sampai dengan 1200 dokumen PEB dan 1500 dokumen PIB. Arus barang ekspor umumnya barang keperluan sehari-hari yang di produksi di Indonesia, sedangkan impor hanya komoditi hasil bumi berupa; kopi, kopra, kemiri, kacang tanah dengan jumlah impor sangat terbatas dan masih bersifat tradisional.

K

PEMERIKSAAN IMPOR YANG KETAT.
Lebih lanjut dijelaskan Gauss, untuk pelintas/ perlintasan barang yang melalui pos resmi, maka standar pemeriksaan dilakukan secara khusus. Untuk impor pemeriksaan dilakukan sangat ketat dengan melibatkan unsur yang ada di perbatasan, yaitu; TNI, Polri, Bea dan Cukai dan Karantina sekaligus. Hal ini dikarenakan dahulu sering ada keluhan dari importir bahwa barang yang diperiksa ulang

di luar daerah pabean, menimbulkan biaya tinggi dan ini dianggap sebagai hambatan. Proses pelayanan untuk impor di KPBC Atapupu diusahakan menyesuaikan dengan ketentuan impor terbaru yang dikeluarkan oleh Kantor Pusat Bea dan Cukai di Jakarta, walaupun hal ini sempat membuat importir ‘pontang-panting’ dalam menyelesaikan masalah administrasinya, namun kelebihan dari cara itu diakui Gauss, tidak ada tetek bengek bayar sewa gudang dan lain-lain. Hal ini pun tidak dikeluhkan importir. Lantas, mengingat kondisi yang ada di wilayah perbatasan sampai saat ini proses pengelolaan dokumen dilakukan secara manual. Untuk sarana dan prasarana penunjang, terus terang saja diakui Gauss, masih jauh dari memadai, namun tidak dijadikan kendala untuk tidak bekerja, sebab dalam keseharian pihaknya sudah mempunyai Standar Operasi Bersama dengan Satgas Pengamanan di Perbatasan (Pamtas) TNI dan Polri, dimana sepanjang tidak di pos resmi, pengawasan diserahkan kepada Satgas Pamtas TNI dan Polri untuk selanjutnya bila didapatkan adanya pelanggaran diserahkan kepada Bea dan Cukai untuk ditindak lanjuti sesuai ketentuan.

BBM DAN GULA RAWAN DISELUNDUPKAN
Komoditi yang rawan diselundupkan sepanjang perbatasan darat dan laut adalah BBM untuk ke Timor Leste, sedangkan gula untuk maupun dari Timor Leste. BBM memang sangat sulit diawasi dikarenakan menjadi mata pencaharian penduduk. Dan menurut Gauss, pelaku sangat memahami seluk-beluk daerah perbatasan yang dikenal dengan ‘jalan tikus’. Sedangkan untuk gula (asal Dubai atau Thailand) masuk dari Timor Leste ke Indonesia melalui jalur laut. Diakui Kepala Kantor Atapupu ini, kasus yang diungkap memang sangat sederhana, yaitu selisih lebih atau kurang denda administrasi, namun pihaknya sering menjadi saksi ahli, baik di kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan untuk kasus-kasus yang tidak terlalu rumit seperti di KPBC tipe yang lebih besar. Mengenai kerjasama dengan instansi terkait, dirasakan Gauss telah berjalan

PETA PERBATASAN NTT-RDTL . Tiga titik resmi lintas batas darat, yaitu Motaain, Metamasin dan Napan, selebihnya berdasarkan MoU tahun 2003, antara pemerintah Indonesia dan Timor Leste yang sampai saat ini belum berjalan.

18

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

DOK/ WBC

dengan baik didukung oleh seluruh unsur Pemda, kejaksaan dan Polda maupun seluruh Polres. Tahun ini KPBC Tipe C Atapupu diberi target Rp. 100 juta untuk bea masuk, dan harapan Gauss, mudah-mudahan target itu dapat terpenuhi, dimana sebelumnya tahun 2004 target sebesar Rp. 50 juta dapat terpenuhi sebesar Rp. 123 juta. Mengenai kendala, menurut Gauss, memang ditemui dalam pelaksanaan pengawasan, baik secara teknis maupun operasional termasuk alat-alat penunjangnya. “Namun hal ini tidak kami jadikan hambatan dalam bekerja. Harapan kami, agar bapak-bapak di pusat hanya ingat….bahwa kami masih ada dan terus bekerja sesuai motto kami we are here for you,” demikian tegas Gauss.

PPLB ENTIKONG.
Penggambaran kondisi kerja di wilayah perbatasan, tepatnya di KPBC Entikong yang berlokasi di Jalan Raya Perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat tidak jauh berbeda dengan di Atapupu, Nusa Tenggara Timur. Arus pelintas batas di wilayah kerja KPBC Entikong cukup ramai, hanya saja, menurut Kepala KPBC Entikong, Gusli M Tambunan, SH, pelintas batas yang berjalan kaki berkurang sedangkan pelintas batas yang berkendaraan roda empat semakin meningkat. Dalam sehari, warga negara Indonesia berangkat ke Malaysia, sekitar 550 orang dan masuk kembali 450 orang per hari. Sedangkan warga negara asing masuk ke Indonesia sekitar 50 orang dan kembali ke Malaysia sekitar 40 orang. Barang yang dibawa masuk (impor) ke wilayah Indonesia, antara lain; gula, susu, mentega, terigu,makanan olahan, minuman ringan, buah-buahan, ikan telur dan daging. Barang yang dibawa keluar (ekspor) antara lain; lada hitam/putih, karet basah, kacang tanah, jahe, kusen pintu/ jendela, seprai,selimut, kelambu,tikar rotan, mie instan dan buah-buahan. Sedangkan komoditi rawan diselundupkan ke wilayah Indonesia (impor), antara lain; gula, tepung terigu, telur, daging dan obatobatan. Untuk komoditi ekspor antara lain; kayu gergajian dan pupuk urea.

M. GAUSS SITOMPUL, SH, pelaksanaan pengawasan, baik ekspor maupun impor, meliputi tiga wilayah kabupatern di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

l Pelayanan impor yang dibawa anggota masyarakat pelintas batas. Masyarakat pelintas batas yang memiliki KILB (Kartu Ijin Lintas Batas) / BPBLB (Buku Pengangkutan Barang Lintas Batas), memberitahukan bawaannya secara lisan atau tertulis kepada petugas bea cukai atau koordinator pelaksana bea cukai di tempat kedatangan atau Hanggar Bea dan Cukai. Lantas diperiksa KILB/ BPBLB, meliputi jumlah, jenis dan harga barang. Apabila untuk kebutuhan sehari-hari tidak diperdagangkan, tidak lebih 600 Ringgit Malaysia (RM) per orang/ bulan dibebaskan pungutan Bea Masuk (BM) dan Pajak Impor (PI). KILB/BPBLB dikembalikan ke pemiliknya, barang disetujui diimpor. Sementara apabila lebih dari RM 600 per orang/ bulan, hasil pemeriksaan barang tersebut (KILB/BPBLB) diteruskan ke Kasi Kepabeanan dan Cukai untuk penetapan BM dan PI. Bendaharawan Pembantu di PPLB menerima pembayaran BM dan Pajak
DOK/ ADI

PELAYANAN IMPOR
Proses pelayanan di KPBC Entikong kepada pelintas batas yang akan mengimpor barang dapat dilakukan dengan empat cara sesuai dengan jenis importirnya. l Proses pelayanan impor umum. Mengisi dan menandatangani PIB dan menyerahkan ke Pejabat Penerima Dokumen /Kasi Kepabeanan dan Cukai untuk diteliti. Selanjutnya diperiksa fisik barang oleh pemeriksa barang didampingi petugas P2 dan importir/ kuasanya. Jika hasilnya sesuai diterbitkan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB), apabila tidak dikenakan tambah bayar dan denda berupa sanksi administrasi.

Impor dengan menyerahkan bukti Pembayaran Pabean, Cukai dan Pajak (BPPCP). Selanjutnya barang bawaan pelintas batas setuju di impor. l Barang Impor yang Dibawa Penumpang. Penumpang bus atau sarana pengangkut lainnya, memberitahukan bawaannya dengan Customs Declaration (CD). CD diserahkan pada petugas yang memeriksa bus, dilakukan pemeriksaan barang. Untuk keperluan diri tidak dikenakan BM dan PI. Apabila barang dagangan atau lebih US $ 250 per orang, hasil pemeriksaan CD diteruskan ke Kasi Kepabeanan dan Cukai untuk menetapkan BM dan PI. Pembayaran diserahkan pada Bendaharawan Pembantu dengan menerima BPPCP, selanjutnya setuju impor. l Barang Impor Kendaraan Bermotor (Ranmor) yang dibawa Wisatawan. Wisatawan pembawa ranmor mengisi formulir rangkap 3 yang disediakan Bea dan Cukai berdasarkan paspor, Lesen Pemandu (SIM) dan Green Card (STNK), kemudian diserahkan pada Kasi Kepabeanan dan Cukai, diperiksa dokumen dan Ranmor dengan menunjuk petugas pemeriksa didampingi petugas P2 dan wisatawan/ pemandu. Bila hasilnya sesuai diberikan persetujuan impor, formulir lembar 1 untuk wisatawan/ pemandu, lembar II untuk Polantas dan lembar III untuk Dishubtel. Izin penggunaan ranmor selama 30 hari dan dapat diperpanjang 30 hari lagi. Apabila ranmor digunakan di luar Kalimantan Barat, wisatawan menjaminkan Customs Bond sebagai jaminan BM dan PI. Bila ranmor dibawa kembali ke Malaysia, formulir I diserahkan ke pejabat bea cukai di pintu kedatangan dari Indonesia. Petugas bea cukai yang bertugas di pintu kedatangan memeriksa ranmor dan memberi catatan pada formulir I bahwa ranmor telah kembali ke Malaysia. KPBC Entikong membuat laporan secara periodik setiap bulan untuk ranmor yang kembali dan belum kembali ke Malaysia. Laporan dikirim kepada Polri, Dihubtel dan Kanwil IX DJBC Pontianak.

PELAYANAN EKSPOR

GUSLI M TAMBUNAN, SH, Pelintas batas yang berjalan kaki berkurang sedangkan pelintas batas berkendaraan roda empat semakin meningkat.

l Pelayanan Ekspor Umum.Eksportir mengisi dan menandatangani Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) diserahkan pada Kasi Kepabeanan dan Cukai. PEB dan lampiran dokumen pelengkap pabean diteliti kebenarannya. Kasi Pabean menetapkan, apakah barang perlu dilakukan pemeriksaan fisik atau tidak. PEB yang tidak diperiksa fisik diberikan persetujuan ekspor dan PEB yang diperiksa fisik jika kedapatan sesuai diberikan persetujuan ekspor, tidak sesuai dilakukan penegahan/ Nota Pembetulan PEB.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

19

LAPORAN UTAMA
DOK/ WBC

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Kesepakatan Indonesia Dengan Negara Tetangga
MENGENAI PERBATASAN
Kondisi perbatasan antar negara baik darat maupun laut di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga, terutama perbatasan Malaysia di Pulau Kalimantan, dan perlu diakui, pemerintah Indonesia selama ini bukan tidak berbuat apa-apa, karena berbagai upaya pembangunan perbatasan termasuk pengawasan telah dilakukan, mulai dari perundingan bilateral menangani kasus perbatasan yang terjadi, pembangungan pintu masuk perbatasan, sampai penyusunan berbagai peraturan.

RAWAN DISELUNDUPKAN DI PPLB ENTIKONG. Komoditi rawan diselundupkan ke wilayah Indonesia (impor) antara lain; gula, tepung terigu, telur, daging dan obat-obatan. Untuk komoditi ekspor antara lain; kayu gergajian dan pupuk urea.

l Pelayanan Ekspor yang Dibawa Anggota Masyarakat Pelintas Batas. Dalam jumlah RM 600 tidak diberlakukan ketentuan umum di bidang ekspor. Barang Ekspor diberitahukan secara lisan dan dicatat oleh petugas bea cukai pada buku catatan barang yang dibawa pelintas batas (Daftar pengangkutan Barang Ekpor/ Impor).

D

KENDALA PENGAWASAN
Beberapa kasus pelanggaran pabean yang dilakukan pelintas batas berhasil diungkap KPBC Entikong antara lain pada komoditi ; importasi gula, obat,CD bajakan, pakaian bekas, sepatu dan daging, kendaraan bermotor roda dan eksportasi kayu gergajian. Secara formal, menurut Gusli, kerja sama instansi terkait cukup baik, instansi terkait seperti Polri dan TNI membantu petugas bea cukai bila ada ancaman keamanan dan pemaksaan pemasukan atau pengeluaran barang dari PPLB Entikong. Kerjasama ini memerlukan biaya operasional yang tinggi. Karena keterbatasan biaya operasioanl kantor, sering juga Bea dan Cukai terpaksa melakukan sendiri tugas pengamanan. Kendala di KPBC yang memiliki 30 personil ini juga dirasakan. Kendala itu antara lain; instansi terkait belum sepenuhnya mendukung KPBC mencegah penyelundupan dan pemasukan barang secara paksa di PPLB. Masih ada oknum instansi terkait dan tokoh masyarakat membiarkan/ bekerjasama dengan pelintas batas melakukan impor illegal. Kemudian, biaya pencegahan perdagangan illegal tidak memadai untuk biaya harian petugas Polri/TNI yang diperbantukan KPBC Entikong. Perlu kerjasama operasional Bea dan Cukai, Dit. Perdagangan Luar Negari dan Pemerintah Provinsi atau Kabupaten, lanjut Gusli. Kerjasama itu, dalam hal pelayanan dan pengawasan barang impor/ekspor yang diatur tata niaganya, pemberian izin impor gula, pupuk dan terigu kepada pedagang lintas batas serta sinkronisasi Kep Dirjen Bea dan Cukai Nomor 78 tahun 1997 jo Kep. Menkeu No. 490/KMK.05/1996 tentang Tata Laksana Impor Barang Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, Kiriman Pos dan Kiriman melalui Perusahaan Jasa Titipan dengan Keputusan Menteri Perdagangan No. 36/KP/III/95 tentang Perdagangan Lintas Batas melalui Pos Perbatasan Lintas Batas Entikong di Provinsi Kalimantan Barat. ris 20
WARTA BEA CUKAI

alam menangani persoalan perbatasan terkait dengan penanganan perbatasan, selama ini berbagai upaya telah ditempuh pemerintah, namun penanganan yang dilakukan masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Selama ini penanganan permasalahan kawasan perbatasan masih bersifat parsial dan ad hoc (panitia khusus) yang terbagi ke dalam beberapa kepanitiaan (committee), antara lain; 1. General Border Committee (GBC) RI-Malaysia yang diketuai Panglima TNI 2. Joint Border-Committee (JBC) yang diketuai Menteri Dalam Negeri. 3. Joint Border Committee RI-RDTL yang diketuai oleh Ditjen PUM Depdagri 4. Joint Comission Meeting RI-Malaysia (JCM) yang diketuai oleh Menteri Luar Negeri yang sifatnya adalah kerjasama bilateral Beberapa perundingan dan pertemuan yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain; 1. Perundingan JBC Meeting RI-PNG di PNG 2. Perundingan JBC Meeting RI-PNG di Indonesia 3. Penandatanganan Review Basic Agreement di PNG pada Maret 2003 4. GBC Meeting antara RI-Malaysia di Malaysia 5. Sidang Sosek Malindo di Kuala Lumpur, Malaysia 6. Pertemuan khusus antara DOK/ ADI RI-Malysia dalam rangka pembahasan Masalah Batas Tanjung Datu 7. Special JBC Meeting antara Pemerintah RI dengan Timor Leste Upaya percepatan penanganan masalah perbatasan, baik mengenai pengembangan kawasan perbatasan maupun garis batas telah dilakukan. Selain penyusunan peraturan perundangan serta perundingan bilateral antar dua negara, juga telah dilakukan kajian, studi, penelitian, seminar, lokakarya dan sebagainya yang bertujuan menyusun kebijakan penanganan perbatasan.

PERAN AKTIF BEA DAN CUKAI
Salah satu bentuk dukungan nyata dari upaya yang

ATONG SUHERMAN. Kita belajar dari Australia adanya sinergi dengan mengenyampingkan ego sektoral pihak terkait maka penanganan perbatasan akan lebih mudah dan dari sisi tugas Bea dan Cukai akan lebih ringan

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

DOK/ WBC

PATKOR KASTIMA. Kerjasama dalam rangka pencegahan penyelundupan dilakukan dalam bentuk Operasi Patroli Laut Terkoordinasi (Patkorkastima) yang masih berada dibawah payung Sosek Malindo.

telah dilakukan pemerintah dalam menangani soal perbatasan, Bea dan Cukai terutama di wilayah perbatasan berperan aktif melaksanakan hasil-hasil kesepakatan tersebut yang dilakukan secara periodik. Seperti yang dilakukan Kanwil II DJBC TBK, Kanwil IX DJBC Pontianak, Kanwil X DJBC Balikpapan, Kanwil XII DJBC Ambon dan KPBC yang berada di PPLB seperti Entikong dan Atapupu, selalu melakukan pertemuan tahunan antar kedua negara termasuk permasalahan di perbatasan. Kerjasama pengawasan dengan negara tetangga Malaysia (Wilayah Kanwil TBK, Pontianak dan Balikpapan) termasuk KPBC Entikong dilakukan dalam kerangka Sosek Malindo melalui Tim Teknis Pencegahan Penyelundupan yang diketuai oleh masing-masing Kepala Kanwil. Pertemuan Sosek Malindo ini dilakukan secara rutin minimal setahun dua kali dan akan dilakukan koordinasi langsung apabila terjadi kendala dan hambatan diwilayah perbatasan kedua negara. Dalam kerja sama ini telah ditanda tangani nota kesepakatan untuk mencegah dan memberantas penyelundupan serta kesepakatan pengaturan keluar masuk barang lintas batas. Dengan adanya kesepakatan diatas maka diharapkan efektifitas pengawasan dapat ditingkatkan karena kedua belah pihak telah bersedia untuk saling membantu, walaupun masih dirasakan belum optimal. Kerjasama dalam rangka pencegahan penyelundupan dilakukan dalam bentuk Operasi Patroli Laut Terkoordinasi (Patkorkastima) yang masih berada dibawah payung Sosek Malindo. Sedangkan di Kanwil XII DJBC Ambon, Setiap tahun antara delegasi pemerintah RI dan delegasi PNG menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk membahas permasalahan kedua

negara termasuk permasalahan di perbatasan. Delegasi tersebut dipimpin oleh Departemen Luar Negeri dan DJBC menjadi salah satu anggota delegasi yang mewakili Departemen Keuangan. Pertemuan terakhir dilakukan pada 28-30 Nopember 2004 di Jakarta yang merupakan pertemuan ke 23. Disamping itu setiap kali ada pertemuan antara Pemda Papua dan Pemda PNG, Kanwil Ambon yang diwakili KPBC Jayapura selalu aktif ambil bagian, salah satunya adalah Rapat Kerja Daerah Wilayah Perbatasan antara Negara Provinsi di Merauke pada 29-30 Juni lalu. Sementara itu, seperti di Atapupu, setiap tiga bulan sekali TNI melakukan TCL Meeting (Tactical Coordination Line) di Atambua atau Dili. Di sini Bea dan Cukai berkoordinasi dengan Bea dan Cukai Timor Leste termasuk juga dengan LO dari UNMISET. Untuk Kanwil Ambon, salah satunya akan melakukan MoU Exchange of Customs Related Information antara DJBC dengan Customs PNG. Untuk materinya telah dibahas antara Direktorat Kepabeanan Internasional DJBC dan Customs PNG dan tinggal menunggu penandatanganannya saja. Menurut Kepala Seksi Kerjasama Bilateral, Dit. Kepabeanan Internasional, Atong Soekirman, mengenai proposal MoU tersebut, sudah disepakati antara kedua belah pihak artinya sudah tidak ada kendala, hanya saja masih meminta waktunya saja. Dalam hal ini draft, baik dari pihak DJBC maupun Customs PNG sudah disetujui. Secara detail, MoU itu berisi mengenai sharing information, bantuan-bantuan teknis, seperti bantuan mengenai masalah importasi yang bisa ditanyakan kepada DJBC, jadi sifatnya resiprokal karena

mutual sistem, jadi saling memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Keinginan ke depan dari perjanjian ini, lanjut Atong, adalah bea cukai saling kerjasama untuk keefektifan khususnya untuk penegakan hukum, mapun dari sisi audit contohnya ada dokumen yang dijadikan alat-alat informasi kedua belah pihak dan bila belum menemui kejelasan, bisa dilakukan bantuan salah satu negara untuk umpamanya memberikan informasi pabean dan lain sebagainya. Belum lama ini di Batam, tepatnya pada 11-12 Agustus lalu diadakan rapat yang dihadiri Duta Besar Malaysia, Panglima Armada Barat (Pangamabar) Angkatan Laut, enam Kapolda seSumatera dan Gubernur. Pertemuan yang diberi nama Rapat Koordinasi Penanganan Masalah Politik Keamanan Perbatasan RI-Malaysia di wilayah Sumatera ini mengenai perbatasan pengamanan Selat Malaka yang sering menimbulkan masalah politik dan keamanan. Pertemuan Ini merupakan rapat koordinasi perbatasan pertama yang disampaikan pihak Departemen Luar Negeri dan dari pertemuan ini akan menjadi moment untuk rapat-rapat selanjutnya. Mengenai isi dari pertemuan tersebut, antara lain secara global Indonesia harus mulai menyadari posisinya sebagai NKRI dengan perbatasan wilayahnya. Dari pertemuan itu juga akan mulai dilakukan pemberian nama untuk pulau-pulau terluar di Aceh. Sebab mulai dilakukan pemberian nama itu, menurut Atong, akan mempengaruhi batas-batas negara Indonesia dengan batas negara yang lain (Landas Kontinen, ZEE dan lain-lain) yang disadari saat ini kita belum memperhatikan masalah itu. Maka itu akan ditindaklanjuti dengan pemberian nama di pulau-pulau terluar. Yang terpenting dari pertemuan itu, khususnya mengenai perbatasan di sekitar Malaysia, saat ini sudah mulai digiatkan koordinasi. Jika sebelumnya ada Bakorkamla, mungkin sifatnya sama tetapi koordinasinya berbeda. “Kebetulan yang hadir kemarin, penegak hukum dari enam Kapolda, Pangamabar AL, Bea dan Cukai diwakili Heru Santoso (Kakanwil TBK ) dan dari Pusat saya sendiri,” ujar Atong. Kita belajar dari Australia, dengan adanya sinergi dengan mengenyampingkan ego sektoral pihak-pihak terkait maka penanganan perbatasan akan lebih mudah dan dari sisi tugas Bea dan Cukai akan lebih ringan karena adanya koordinasi antar instansi. Dari sisi Bea dan Cukai, lanjut Atong, kita berusaha membentuk suatu badan atau agensi yang selama ini belum ada dan kalaupun ada tapi belum dikembangkan lagi. Hal ini menurutnya dipandang positif karena koordinasi yang baik antara instansi penegak hukum di laut sekali lagi ditegaskan hal itu akan memudahkan tugas Bea dan Cukai. ris
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

21

WAWANCARA
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setelah melakukan kunjungan ke beberapa wilayah perbatasan darat Indonesia dengan negara tetangga, ingin mengubah image mengenai wilayah perbatasan yang selama ini diibaratkan sebagai halaman belakang yang tidak mendapat prioritas. Presiden ingin menjadikan wilayah perbatasan Indonesia dengan beberapa negara tetangga sebagai halaman muka Indonesia. Untuk itu, dukungan instansi terkait dan masyarakat menjadi senjata ampuh bagi Presiden untuk memuluskan niat tersebut. Lebih jauh mengenai wilayah perbatasan dan seluk beluk permasalahannya dari sisi hukum internasional, WBC berkesempatan mewawancarai Dekan sekaligus Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang juga pengamat hukum internasional Prof. DR Hikmahanto Juwana, SH. Berikut petikan wawancara redaktur WBC Aris Suryantini dan Zulfril Adha Putra.
Bagaimana Anda memandang wilayah perbatasan suatu negara ? Secara yuridis di wilayah perbatasan, terutama darat, terdapat dua negara yang punya dua yurisdiksi dan kedaulatan masing-masing. Namun prakteknya ada semacam liniensi atau fleksibilitas pengaturan. Fleksibilitas itu timbul agar kedua negara tadi bisa melakukan kegiatan komersial, perdagangan dan sebagainya. Kalau kita pergi ke Papua (Papua Nugini-red) atau perbatasan, biasanya tidak terlalu strict (keras/kaku-red) untuk masalah kepabeanannya. Misalnya di Kalimantan. Di satu sisi

Prof. DR. Hikmahanto Juwana, SH.LLM

TITIK MASALAH YANG MUNGKIN JADI SENGKETA”
22
WARTA BEA CUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

“..Sejak Awal, Pemerintah Harus Mengidentifikasi .

ide ini bagus agar perdagangan diantara masyarakat bisa terjadi, karena biasanya masyarakat tidak begitu memperhatikan soal kedaulatan negara. Kegiatan mereka alamiah saja dari dulu sampai sekarang. Setelah ada negara dan perbatasan mereka harus patuhi aturan, namun kebanyakan tidak memperhatikan. Negara biasanya memahami masalah tersebut. Itu baru di satu sisi. Di sisi lain ada masyarakat ingin memanfaatkan biasanya pelaku usaha kaliber besar. Kondisi ini bisa memancing untuk memanfaatkan keadaan sehingga bisa memasukkan barang luar negeri tanpa kena peraturan perundang-undangan atau pajak impor, bea masuk dan lain sebagainya, ini permasalahan, sebab yang melakukan secara besar-besaran ini bukan untuk kepentingan masyarakat tapi untuk kepentingan lebih luas. Contohnya begini, Samsung, punya produk Handphone (HP) di Indonesia. Sedangkan dari Kuala Lumpur bisa masuk padahal mereknya sama, Samsung. Samsung Indonesia pasti akan marah karena melihat kok Samsung Indonesia tidak laku, sebab masyarakat lebih memilih Samsung buatan Malaysia, harganya lebih murah karena tidak bayar bea masuk atau diselundupkan. Ini dampak buruk bagi perekonomian. Perlu mendapat perhatian. Saya sepakat dengan keinginan presiden menjadikan wilayah perbatasan sebagai muka negara supaya ada kegiatan yang lebih aktif dan meningkat di wilayah perbatasan. Tetapi juga jangan sampai disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, kita harus mempunyai perangkat-perangkat tertentu untuk mendukung keinginan presiden, termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk ikut memikirkannya. Kehidupan masyarakat diperbatasan tertinggal dibanding negara tetangga, lantas apa yang harus dilakukan pemerintah untuk masalah ini ? Sangat tergantung pemerintah daerah untuk meningkatkan kemampuan dan daya beli masyarakat. Pemda harus melihat peluang apa saja yang baik untuk kesejahteraan masyarakat. Kita berharap Pemda setempat bisa memberdayakan dan melihat peluangpeluang dan memfasilitasi masayarakat untuk bisa meningkatkan taraf hidup, seperti dicarikan peluang-peluang apa saja bisa dijual ke luar negeri. Sehingga ada orang dari negara tetangga datang ke kita. Jangan sampai ada barangbarang tertentu dari negara tetangga lebih murah daripada di Indonesia. Jadi tugas Pemda untuk mengidentifikasi dan melihat peluang. Selanjutnya, ada

strategi untuk menjalankan peluang dan bagaimana menghadapi masalah yang ada. Ini harus dapat dukungan pemerintah pusat, meski platformnyanya dari pemerintah daerah. Upaya apa saja yang harus dilakukan instansi terkait untuk mendukung keinginan presiden tadi ? Kalau kita lihat pendahulu kita seperti Pak Juanda (Mantan Menteri Luar Negeri), kegigihan Prof Mochtar Kusumaatmaja (Mantan Menteri Luar Negeri dan ahli Hukum Laut) beliaubeliau itu sudah menetapkan dasar. Kalau Pak Juanda menetapkan bahwa negara kita adalah negara kepulauan dimana antara satu pulau dengan pulau yang lainnya tidak terpisah-pisah. Itu sudah dilakukan, dan itu merupakan klaim sepihak yang tidak diakui oleh masyarakat internasional. Ini kemudian diperjuangkan oleh Prof Mochtar ketika menjabat menteri luar negeri. Sehingga konsep negara kepulauan diakui internasional dan Indonesia sebagai negara kepaulauan dapat diterima dan masuk dalam konvensi hukum laut tahun 1982 tentang archipelago state atau negara kepulauan. Yang sekarang harus dilakukan, bagaimana Indonesia dalam hal ini instansi terkait menggunakan konvensi hukum laut tahun 1982 untuk berunding dengan negara-negara yang wilayah lautnya berhubungan dengan Indonesia baik itu landas kontinennya, laut teritorialnya dan lain sebagainya. Karena tidak bisa hanya berdasarkan konvensi hukum laut tahun 1982 masalah perbatasan ini beres dan tidak ada masalah. Ini yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam menjaga kedaulatan. Bagaimana dengan pengamanan wilayah perbatasan ? Kita ini memiliki banyak wilayah, sehingga harus dilakukan pemetaan, perundingan dan penamaan pulau. Bahkan kita perlu melakukan patroli yang dilakukan oleh TNI AL, Kepolisian dan lain sebagainya diwilayah yang dianggap bagian NKRI. Itu yang pertama. Selain itu penegakkan hukum terhadap kapal asing yang masuk ke wilayah kita secara ilegal. Yang kedua untuk perbatasan darat, masyarakat supaya lebih banyak berinteraksi dan bisa memanfaatkan border (batas) ini dengan lebih baik. Disatu sisi harus ada pengawasan yang ketat sehingga kita tidak melarang masyarakat, tapi menindak mereka yang menyalahgunakan fleksibilitas yang diberikan negara. Penyalahgunaan oleh oknum tertentu akan berimplikasi pada perekonomian nasional dan juga pada produksi dalam negeri. Bisa saja

diperbatasan dilakukan penyelundupan. Bisa saja BBM diselundupkan lewat tempat-tempat tertentu. Subsidi yang ada pada BBM tersebut seharusnya untuk rakyat, tapi bagi mereka (penyelundup) digunakan untuk menjual BBM keluar negeri dengan harga murah. Penyalahgunaan ini harus diberantas dan sistem pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) harus dilakukan. Sehingga kalau kita buat aturan yang sangat bagus tapi tidak ditegakkan oleh aparatur negara, maka tidak ada artinya. Supaya bisa menegakkan aturan maka kesejahteraan aparatur harus diperhatikan. Kalau tidak ada kesejahteraan sementara mereka punya wewenang untuk melakukan tindakan , ini yang kemudian bisa dikompromikan.Penting diperhatikan oleh pemerintah. Idenya bagus tapi harus dikembangkan oleh para pihak untuk bisa mengamankan ini. Kalau kita ambil contoh Korea Utara dengan Korea Selatan, mereka berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan wilayah perbatasannya, apakah itu bisa diterapkan di Indonesia? Menurut saya bisa kalau ada kemauan, terutama bagi pemda. Kalau pemda bisa melihat ini sebagai potensi pemasukan pendapatan asli daerah dan mau menjadikan ini sebagai potensi bagi kesejahteraan masyarakat setempat kenapa tidak? Kalau pemda melihat itu untuk kemajuan masyarakat setempat. Tapi kalau masa bodoh ya…tidak bisa. Bagaimana cara menentukan perbatasan antar negara yang sesuai dengan aturan hukum internasional? Untuk menentukan wilayah perbatasan ditentukan berdasarkan kesepakatan dua negara. Batas wilayah kita sampai dimana. Lalu dibuat dalam suatu perjanjian. Untuk menentukannya dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dilihat dari sisi historis. Misalnya Indonesia, karena Indonesia bekas jajahan Belanda dan Malaysia bekas jajahan Inggris, maka apa yang telah disepakati Inggris dan Belanda ketika itu mengenai perbatasan, harus kita anggap sebagai perbatasan Indonesia dan Malaysia. Mengenai perbatasan ini harus dituangkan dalam suatu perjanjian Internasional yang mengatur mengenai perbatasan ini seperti penetapan tapal batas. Setelah ditentukan tapal batas itu, biasanya akan dibangun pos-pos diperbatasan sehingga masyarakat menjadi jelas. Tapi perbatasan yang panjangnya sekian kilo itu ada posnya, dan biasanya disana ada pagar-pagar.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

23

WAWANCARA
Kadang-kadang masyarakat masuk ke wilayah negara lain melalui jalan-jalan yang tidak terlihat oleh pos pengawasan. Oleh pemerintah harus dipantau, ada gak wilayah-wilayah yang seperti itu. Tadi anda mengatakan adanya kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia, lalu mengapa Sipadan dan Ligitan bisa lepas? Masalah Sipadan dan Ligitan. Merupakan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh dua negara atau secara bilateral, sehingga Malaysia dan Indonesia sepakat menyelesaikan masalah itu dengan melibatkan pihak ke-3. Mereka bernegosiasi dan memberi argumen mengenai masalah ini dan tidak selesai. Pada titik tertentu mereka sepakat untuk memberikan masalah ini kepada pihak ketiga untuk memutuskan apakah Sipadan dan Ligitan itu sebenarnya ada di kedaulatan siapa. Karena sudah sepakat, apapun keputusannya kita akan terima. Malaysia dan Indonesia sepakat untuk itu. Sebenarnya ada alternatif lain yaitu perang. Tapi kita kan gak mau perang. Atau keterlibatan pihak ketiga sebagai mediasi. Tapi Indonesia dan Malaysia lebih memilih melibatkan pihak asing sebagai pengambil keputusan itu yang dimasukan kedalam International Court of Justice (ICJ). Dan di ICJ itu harus didengar argumentasi kedua belah pihak tersebut mengenai klaim mereka terhadap dua pulau yang disengketakan. Dan akhirnya pada satu titik, ICJ mengambil putusan untuk menetapkan Sipadan dan Ligitan milik Malaysia. Bagaimana cara pemerintah mengantisipasi agar kasus seperti Sipadan dan Ligitan tidak terulang kembali? Sejak awal pemerintah harus mengidentifikasi titik masalah yang mungkin jadi sengketa Misalnya laut kita sampai dimana dan pulau kita sampai dimana. Kemudian kita buat petanya. Lalu kita identifikasi wilayah mana yang bisa jadi potensi sengketa. Pokoknya semuanya itu harus diidentifikasi secara detail dan menyeluruh. Jadi kalau suatu saat ada sengketa dengan negara tetangga mengenai suatu masalah kita sudah ada antisipasi masalah dengan berbagai strategi. Kalau negara tetangga bilang A, maka kita kan jawab dengan A. Kemudian juga dengan patroli, harus ditingkatkan tapi dengan syarat harus didukung dengan anggaran. Sekarang ini dimana perkembangan informasi sudah pesat, segala macam masalah dapat diketahui, termasuk juga mengenai masalah perbatasan. Kalau dulu seolah-olah kita dibuat aman tidak ada sengketa perbatasan dengan 24
WARTA BEA CUKAI

negara lain. Sebetulnya ada tapi karena tidak diekspos jadi kita tidak tahu. Kemudian juga kita harus mengetahui gerak gerik negara tetangga mengenai suatu pulau atau suatu wilayah perbatasan Ada aturan internasional yang mengatur mengenai penentuan wilayah perbatasan laut yaitu Konvensi Hukum Laut UNCLOS (United Nation Convention on the Law of the Sea). Tapi tidak semua negara menandatangani UNCLOS? Benar, saat ini masih ada dua aturan yang digunakan kalau kita berbicara mengenai hukum laut. Yang pertama adalah UNCLOS tahun 1982 dan Geneva Convention on the Law of the Sea tahun 1958. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Australia dan lain sebagainya masih menggunakan Geneva Convention tahun 1958. Maka tidak heran waktu Timor-timor (Repulik Demokrasi Timor Leste) masih menjadi bagian Indonesia, terjadi klaim tumpang tindih di palung timur karena Indonesia pakai Unclos sementara Australia menggunakan konvensi hukum laut tahun 1958. Disitu ada suatu wilayah yang bermasalah. Ini terjadi karena Indonesia dan Australia menggunakan dua instrumen hukum internasional yang berbeda dan secara hukum internasional kedua aturan tadi diakui dan berlaku. Tidak seperti hukum nasional, dimana kalau ada undang-undang baru, maka undang-undang lama tidak berlaku. Ini bukan berarti kalau ada perjanjian internasional yang baru perjanjian internasional lama tidak berlaku. Tergantung siapa yang menandatangani. Bagaimana menentukan batas di wilayah laut? Ada di konvensi hukum laut kalau ada dua negara berbatasan ada yang namanya equal distance, ada juga yang disepakati dengan peraturan tertentu dengan menterjemahkan bunyi pasal dan dilihat di peta seperti apa. Itu yang dari pihak Bakorsurtanal dan TNI AL ada Hydros. Itu yang tahu betul bagaimana memetakan. Jadi peta itu yang dipakai untuk berlayar. Melihat dari kasus blok Ambalat, apakah masih ada wilayah-wilayah kita yang potensi menjadi sengketa dengan negara tetangga? Masih…dan jumlahnya banyak. Kalau hanya pulau bebatuan yang tidak memiliki sumber daya alam itu tidak masalah. Tapi kalau pulau yang memiliki potensi sumber daya alam, ini yang jadi masalah. Seperti Sipadan dan Ligitan, kalau untuk dijadikan resort

bisa. Tapi kan tidak didiami. Tapi yang penting buat Indonesia dan Malaysia sumber daya alam. Disini ada perbedaan cara pandang antara Indonesia dan Malaysia. Malaysia melihat sumber daya alamnya. Sedangkan Indonesia melihat kedaulatan yang tidak bisa diambil oleh orang lain. Ada nelayan asing masuk ke Indonesia diurus beres dan gampang, sementara kalau nelayan Indonesia masuk ke negara lain sampai ditembaki, menurut Anda penegakkan hukum di wilayah perbatasan itu sudah cukup atau masih lemah ? Ini menjadi pertanyaan. Penegakkan hukum kita sangat lemah bukan karena peraturannya tapi kalau kita bicara penegakkan hukum di laut harus ada infrastrukturnya dan lain sebagainya. Kenyataannya infrastruktur di Indonesia sangat minim. Karena anggaran untuk pertahanan lebih banyak di darat daripada di laut dan lain sebagainya. Mungkin dengan kejadian-kejadian kemarin (Kasus Sipadan-Ligitan dan Blok Ambalat) kita menjadi sadar bahwa di laut dan udara ada potensi yang besar untuk dilanggar. Untuk menegakkan hukum di laut dan udara itu sangat penting dengan catatan didukung peralatan yang memadai. Kalau ada kapal tradisional asing masuk wilayah kita dimana kapal itu tidak punya peta, radar dan alat navigasi lainnya untuk menentukan posisi, tidak bisa begitu saja ditangkap. Karena dalam konvensi hukum laut 82 harus diakui bahwa mereka bisa melakukan itu. Tapi Kalau itu sudah diajukan secara komersial dengan menggunakan trawl (pukat harimau), kemudian kapalnya dilengkapi dengan radar dan alat navigasi lainnya, itu baru bisa ditangkap. Nah… yang terjadi di Australia, nelayan kita melanggar batas laut dan mungkin nelayan itu salah, tapi kalau salah tidak bisa diperlakukan semenamena. Kalau sampai terbakar, seperti yang terjadi di wilayah laut Australia, harus dilihat apakah itu terbakar karena memang dilakukan aparat Australia atau tidak sengaja terbakar, saya tidak tahu, tapi kalau dilakukan sengaja tidak boleh. Sama seperti kalau kita menangkap maling tidak boleh kita hakimi sendiri, ada proses hukumnya. Itu yang harus diperhatikan. Bagaimana dengan perbatasan darat? Realatif aman tapi yang rentan adalah pergerakan separatis. Kalau ada negara tetangga melindungi dan memberi suplai senjata dan lain sebagainya itu yang bahaya.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KONSUL Cukai TASI Kepabeanan &
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

GUDANG BERIKAT
S
aya Alexander, bekerja di salah satu perusahaan otomotif yang mendapatkan fasilitas Gudang Berikat. Hal yang ingin saya tanyakan adalah sebagai berikut : 1. Apakah barang impor dari Gudang Berikat dimasukkan ke ETP untuk pameran harus mendapat persetujuan dari Dirjen Bea dan Cukai ? 2. Apakah setelah pameran selesai maka barang impor yang semula dari Gudang Berikat dapat dimasukkan kembali ke dalam Gudang Berikat asal? Dan, bagaimana ketentuan yang sebenarnya? Demikianlah hal yang ingin saya tanyakan pada rubrik ini, atas bantuannya saya ucapkan terima kasih. ALEXANDER Komp. Kodam Jaya Cililitan II Blok W No. 7 Kramatjati Jakarta Timur 13510 JAWABAN : Sehubungan surat pertanyaan Saudara Alexander, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. Undang-Undang No. 10 tahun 1995 pasal 45 ayat (1) huruf d menyebutkan bahwa Barang dapat dikeluarkan dari Tempat Penimbunan Berikat atas persetujuan Pejabat Bea dan Cukai untuk antara lain diangkut ke Tempat Penimbunan Berikat lain; 2. Keputusan Menteri Keuangan No. 399/KMK.01/1996 tanggal 6 Juni 1996 tentang Gudang Berikat jo. Keputusan DJBC No. Kep-09/BC/1997 tanggal 31 Januari 1997 tidak mengatur pengeluaran barang impor dari GB ke ETP, melainkan hanya mengatur pengeluaran barang impor dari GB ke DPIL, dari GB ke KB, dan dari GB ke LDP; 3. Keputusan Menteri Keuangan No. 123/KMK.05/2000 tanggal 11 April 2000 tentang Entrepo Tujuan Pameran (ETP) antara lain menyatakan : a. pemasukan barang impor keperluan pameran ke ETP dapat dilakukan dari TPS, GB, KB, ETP lainnya. b. pemasukan barang impor tersebut dilakukan dengan menggunakan formulir BC 2.3 dilampiri B/L /AWB dengan mencantumkan uraian jenis barang, jumlah dan golongan barang berikut nilai pabeannya secara rinci dan benar, serta dilakukan pemeriksaan pabean dan penetapan golongan barang pameran. c. pengeluaran barang impor keperluan pameran yang telah selesai dipamerkan dapat dilaksanakan dengan : - menggunakan BC 2.3 apabila dikeluarkan dari ETP ke KB atau ETP lainnya. - menggunakan PIB dengan melunasi BM, Cukai dan PDRI sesuai ketentuan impor yang berlaku setelah mendapatkan persetujuan Direktur Jenderal apabila dikeluarkan dari ETP untuk tujuan DPIL. - menggunakan PEB (BC 3.0) apabila dikeluarkan dari ETP untuk tujuan diekspor kembali. 4. Penelitian administratif : - Keputusan Menteri Keuangan No. 399/KMK.01/1996 tanggal 6 Juni 1996 tentang Gudang Berikat jo. Keputusan DJBC No. Kep-09/BC/1997 tanggal 31 Januari 1997 tidak mengatur pengeluaran barang impor dari GB ke ETP; - Keputusan Menteri Keuangan No. 123/KMK.05/2000 tanggal 11 April 2000 tentang Entrepo Tujuan Pameran (ETP) jo. Keputusan DJBC No. Kep-02/BC/ 2003 tanggal 15 Januari 2003 tidak mengatur pengeluaran barang impor dari ETP kembali ke GB asal; 5. Berdasarkan ketentuan di atas, menurut hemat kami perlu disampaikan penjelasan kepada yang bersangkutan mengenai hal-hal sebagai berikut : a. Pemasukan barang impor dari GB ke ETP untuk pameran tidak perlu mendapat persetujuan dari Dirjen Bea dan Cukai, namun cukup dengan persetujuan KPBC yang mengawasi ETP, yaitu dilakukan mengacu pada KMK No. 123 /KMK.05/2000 tanggal 11 April 2000 jo. Keputusan DJBC No. Kep-02/BC/2003 tanggal 15 Januari 2003 sebagai berikut : - pemasukan barang dari GB ke ETP dilakukan dengan menggunakan formulir BC 2.3 dilampiri form PAM yang telah diisi dengan lengkap dan benar; - pengusaha ETP mengajukan formulir BC 2.3 yang telah diisi secara lengkap dan benar kepada Pejabat Bea dan Cukai di ETP; - pengusaha ETP atau kuasanya menyerahkan formulir BC 2.3 yang telah didaftarkan dan ditandasahkan kepada Pejabat Bea dan Cukai di GB untuk pengeluaran barangnya; b. Setelah pameran selesai, barang impor asal GB dapat dimasukkan kembali dari ETP ke GB dengan persetujuan Kepala KPBC yang mengawasi ETP, yang pelaksanaannya mengacu pada ketentuan pengeluaran untuk tujuan KB atas barang pameran yang berasal dari KB, namun terhadap barang pameran golongan A harus dilakukan dengan persetujuan Direktur Jenderal up Direktur Teknis Kepabeanan. Demikian disampaikan untuk dimaklumi. Direktur Teknis Kepabeanan Ibrahim A. Karim NIP 060027872
EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

25

PENGAWASAN

Ship Search
DALAM MENCEGAH PENYELUNDUPAN
ewasa ini hampir disetiap negara, tak terkecuali Indonesia, ancaman bahaya narkotika dan terorisme sudah menjadi ancaman yang nyata. Perdagangan narkotika serta barangbarang keperluan terorisme (seperti senjata api, bahan peledak dan lainlain) dapat diperoleh melalui jaringan tertentu baik yang berskala nasional maupun internasional melalui proses impor atau ekspor. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) merupakan salah satu instansi yang mempunyai tanggung jawab besar dalam mencegah masuknya barangbarang ilegal tersebut, sesuai dengan salah satu fungsinya sebagai community protector. Dalam usaha mencegah barangbarang ilegal tersebut, DJBC telah melakukan berbagai upaya dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Hasilnya, DJBC telah beberapa kali mengagalkan penyelundupan narkotika dan senjata api di beberapa pelabuhan udara seperti di Bandara Internasional Jakarta dan Denpasar. Suatu hal yang SANGAT MEMBANGGAKAN!! Penyelundupan narkotika yang berhasil digagalkan tersebut umumnya dilakukan dengan modus sebagai barang bawaan penumpang atau awak pesawat. Barang bawaan tersebut terjaring setelah melewati pos pemeriksaan petugas bea cukai. Namun demikian, walaupun sistem keamanan di bandara cukup baik, antara lain dengan didukung beberapa alat penunjang, resiko atas penyelundupan tidak serta merta berkurang. Untuk menghindari pemeriksaan X-Ray, awak pesawat dapat saja menyembunyikan atau sengaja meninggalkan barang-barang ilegal tersebut di dalam pesawat untuk kemudian diambil oleh ‘petugas’ lainnya… (hal yang sangat mungkin terjadi). Begitu pula dengan kapal laut. Dengan moda (alat transportasi) ini resiko terjadi penyelundupan atas

Optimalisasi

Sebagaimana diketahui, kapal laut memiliki struktur yang sangat kompleks dan menjadikannya sebagai sarana yang sangat ‘baik’ untuk menyembunyikan barang-barang ilegal.

D

barang-barang seperti narkotika dan keperluan terorisme sangat tinggi. Sebagaimana diketahui, kapal laut memiliki struktur yang sangat kompleks dan menjadikannya sebagai sarana yang sangat ‘baik’ untuk menyembunyikan barang-barang ilegal tersebut. Ditambah lagi dengan kondisi sistem keamanan yang kurang menunjang, baik ketika kapal sedang lego jangkar maupun sandar (hal tersebut dapat dilihat dari cukup bebasnya orang-orang yang naik turun kapal). Dari bahan pelatihan yang penulis dapatkan dari Australia Customs Service (ACS) diperoleh informasi tentang beberapa kapal yang berusaha menyelundupkan narkotika yang berhasil ditangkap. (Seperti tampak dalam gambar 1) Lalu, bagaimana upaya DJBC untuk mencegah penyelundupan yang dilakukan oleh awak sarana pengangkut? Berdasarkan peraturan perundang-

GAMBAR 2. Confined Spaces Ballast Tank. Manhole Cover Hidden under Wooden Floor Boards.

GAMBAR 3. 9,5 ton ganja disembunyikan di dalam tangki Ballast.

26

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

GAMBAR 1. 10 kg kokain disembunyikan di Forepeak Store, 10 kg kokain disembunyikan di Rope Locker, 6 kg kokain disembunyikan di ventilasi udara di toilet.

undangan yang berlaku, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh DJBC adalah dengan melakukan ship search atau boatzoeking atau pemeriksaan kapal. Kualitas pelaksanaan ship search perlu dioptimalkan lagi, tidak hanya melakukan kegiatan ship’s document collecting, tetapi juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Kapabilitas Petugas dalam melakukan tugas ship search; b. Peralatan pemeriksaan serta peralatan pelindung keselamatan; c. Standard Operating Procedure

75 persen). Dengan demikian, materi yang bersifat teori dapat langsung diaplikasikan. Selain itu, praktek tersebut juga dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan “ship search” oleh petugas dari KPBC tempat sandar kapal, sehingga secara langsung turut membantu pelaksanaan tugas petugas tersebut.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut diatas, sangatlah tepat bagi DJBC untuk lebih mengoptimalkan kegiatan ship search di tempat-tempat kedatangan kapal dari luar negeri, yang dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Meningkatkan jumlah petugas bea cukai yang memiliki kapabilitas dengan meningkatan frekuensi pelatihan ship search baik di Kantor Pusat maupun di Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan, sehingga dapat dibentuk tim pemeriksa kapal terutama di kantor yang sering kedatangan kapal dari luar negeri. 2. Pengadaan peralatan pemeriksaan dan peralatan pelindung keselamatan, dengan skala prioritas berdasarkan tingkat kebutuhannya. 3. Membuat Standard Operating Procedure khusus mengenai ship search. Pelaksanaan ship search berdasarkan Standard Operating Procedure oleh petugas bea cukai (yang memiliki kapabilitas yang tinggi dalam pemeriksaan kapal) dan ditunjang oleh peralatan pemeriksaan serta peralatan pelindung keselamatan, akan dapat menemukan barang-barang yang sengaja disembunyikan di dalam kapal (baik itu berupa narkotika, senjata api, bahan peledak, atau barang lainnya yang diimpor secara illegal). Sehingga, upaya penyelundupan barang-barang tersebut dapat dicegah.
Sonny Wibisono, Pelaksana pada Direktorat Teknis Kepabeanan, yang juga sebagai Instruktur Ship Search
WARTA BEA CUKAI

PERALATAN PEMERIKSAAN DAN PERALATAN PELINDUNG KESELAMATAN
DJBC telah memiliki beberapa peralatan pemeriksaan dan peralatan pelindung keselamatan. Peralatan tersebut merupakan bantuan dari ACS dalam rangka kerjasama ACSDJBC dalam rangka Indonesian Customs Security Capacity Building project. Saat ini, peralatan tersebut disimpan di Kantor Pusat dan telah digunakan dalam pelatihan ship search pada bulan Juli lalu.

KAPABILITAS PETUGAS
Untuk meningkatkan kapabilitas Petugas dalam melakukan ship search, pada bulan Juli lalu telah dilatih sebanyak 32 orang petugas dari berbagai Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan di seluruh Indonesia. Dalam pelatihan tersebut mereka dilatih oleh 2 orang instruktur dari ACS dan 4 orang instruktur dari DJBC (yang telah menjalani pelatihan ship search di Australia), dengan materi pelatihan: 1. Pemahaman kapal; 2. Manajemen informasi; 3. Keselamatan dan kesehatan kerja; 4. Penggunaan dan perawatan peralatan pemeriksaan dan peralatan pelindung keselamatan; dan 5. Praktek pemeriksaan kapal. Praktek pemeriksaan kapal adalah materi yang dominan dalam pelatihan tersebut (dengan alokasi kurang lebih

STANDARD OPERATING PROCEDURE
Standard Operating Procedure sangat diperlukan sebagai panduan dan petunjuk dalam melakukan ship search. Sehingga, petugas dapat melakukan pemeriksaan kapal secara sistematis dan seksama. Selain itu, Standard Operating Procedure juga diperlukan mengingat struktur kapal yang sangat kompleks dan berpotensi tingginya resiko atas keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan demikian, petugas dapat melakukan pemeriksaan dengan mengurangi resiko tersebut.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

27

PENGAWASAN

Operasi Bersama DJBC Dengan KP3

Berhasil Tegah

Tiga Mobil Mewah
Maraknya aksi penyelundupan mobil mewah dengan dalih antar pulau di pelabuhan Tanjung Priok, kini dapat dibendung dengan adanya operasi bersama antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) khususnya Kantor Wilayah (Kanwil) IV Jakarta dengan kepolisian yang diwakili oleh Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3).
Tegahan yang awalnya dilakukan oleh pihak KP3, dan setelah dilakukan penyelidikan awal, diketahui kalau mobil-mobil mewah dan beberapa barang lainnya tersebut tanpa dilengkapi dokumen. Sementara mereka masuk melalui Pontianak dan Batam dengan kapal-kapal besar yang diberitahukan sebagai general cargo. Ketiga mobil mewah tersebut adalah, jenis LEXUS RX300 dengan nomor polisi BY 7803, Land Cruiser Prado QME 9555, dan Mitsubishi Turbo QKU 9137, yang kesemuanya diangkut oleh KM Tanto Harmoni. Menurut Kepala Kepolisian Resor KP3 Luki Hermawan, seperti yang dikutip pada media beberapa waktu lalu, akan menyerahkan sepenuhnya perkara tersebut kepada instansi terkait

S

ebanyak tiga unit mobil mewah asal Malaysia yang dicoba untuk diselundupakan melalui Pontianak dengan dalih antar pulau ke Jakarta, berhasil ditegah oleh operasi bersama DJBC dengan KP3 pada 7 Agustus 2005. Tidak hanya itu beberapa kontainer yang berisikan obat-obatan dan sparepart juga ditegah karena tanpa dilengkapi dokumen dan merupakan barang eks-impor asal Singapura yang masuk melalui Batam. Kanwil IV DJBC Jakarta yang sebelumnya juga telah menerima informasi dari Kanwil IX DJBC Pontianak akan masuknya mobil-mobil mewah ex-impor asal Malaysia dan beberapa barang lainnya dari Batam dengan dalih antar pulau, langsung melakukan penegahan bersama KP3.

yaitu, Bea dan Cukai.”Untuk kontainer yang melanggar kepabeanan akan diserahkan kepada bea dan cukai, sementara untuk pelanggaran yang dilakukan oleh mobil mewah khusunya dokumen pelengkapnya, pihak KP3 yang akan menuntaskan penyelidikannya,” tutur Luki Hermawan. Sementara itu menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan (P2) Kanwil IV DJBC Jakarta, Jusuf Indiarto, pihaknya memang sering menerima informasi akan masuknya mobil-mobil mewah asal Pontianak dengan dalih antar pulau. Selain melakukan analisa intelejen juga telah berkoordinasi dengan pihak KP3, yang diwujudkan dengan operasi bersama di pelabuhan. “Dengan operasi bersama tersebut kita dapat menegah masuknya mobilmobil mewah asal Malaysia yang penyidikan awalnya telah dilakukan oleh KP3, dan pada 10 Agustus 2005 lalu perkaranya telah dilimpahkan kepada kami untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut, berkaitan dengan pelanggaran kepabeanannya,” ujar Jusuf Indiarto. Sedangkan untuk obat-obatan dan sparepart kini juga telah dilakukan penyelidikan lebih lanjut dan sebagian perkaranya juga telah dilimpahkan kepada bea cukai. Namun untuk mengetahui lebih lanjut berapa kerugian negara hingga kini masih dalam proses penyelidikan, karena selain pemilik barang tidak diketahui dan memang ternyata tidak ada, maka mobil mewah, obat-obatan dan sparepart tersebut akan disita oleh negara, dan proses selanjutnya bisa dilelang. adi
DOK KANWIL IV JAKARTA

TIGA MOBIL MEWAH. Dengan melakukan operasi bersama antara DJBC dan KP3, upaya penyelundupan tiga mobil mewah asal Malaysia dengan dalih antar pulau berhasil ditegah.

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WBC/ATS

FOTO BERSAMA. Para peserta berfoto bersama dengan Direktur P2 Drs. Sofyan Permana dan juga para pelatih dari ACS.

Kerjasama DJBC dan ACS
Dalam Illicit Drug Precursor Training Course
Diikuti oleh 29 peserta dari berbagai KPBC di seluruh Indonesia
irektorat Jenderal Bea dan Cukai bekerja sama dengan Australia Customs Service, pada tanggal 8-9 Agustus 2005 mengadakan Illicit Drug Precursor Training Course yang dibuka langsung oleh Direktur P2 DJBC Drs. Sofyan Permana. Dalam sambutannya Sofyan mengatakan bahwa selain mewaspadai narkoba masuk ke Indonesia, petugas juga harus mewaspadai masuknya precursor illegal masuk ke Indonesia. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan WBC Sofyan mengatakan, precursor merupakan suatu zat kimia yang digunakan oleh kalangan industri, dan jika disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, precursor tersebut bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan narkoba. Oleh sebab itu lanjut Sofyan, penyaluran precursor tersebut harus dilakukan oleh suatu institusi yang berwenang dan tidak bisa dibawa oleh pribadi tanpa izin dari lembaga yang terkait dengan masalah precursor tersebut Untuk itu Sofyan mengatakan dengan adanya pelatihan ini para petugas dilapangan harus bisa mengidentifikasi precursor yang masuk secara illegal dengan berbagai macam cara, dan diharapkan para petugas yang mengikuti pelatihan ini dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik. Robert Rushby selaku Director Law Enforcement Strategy dari Australian Customs Service memimpin enam personil yang memberikan pelatihan dari Austrlian Customs Service (ACS), dalam sambutannya mengatakan, pihaknya merasa sangat senang bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan kerja sama dengan pihak DJBC dalam penanganan masalah precursor ini dan bisa memberikan pengetahuan yang lebih luas tentang precursor bagi para petugas DJBC. Dalam wawancaranya dengan WBC disela-sela waktu pelatihan, Rushby mengatakan bahwa pelatihan yang diberikan kepada para peserta ini adalah pelatihan yang pernah ia dan timnya sampaikan kepada petugas bea dan cukai Australia. “Ini adalah pelatihan yang bisa dibilang penting karena precursor ini

D

selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan dunia industri,”ujar Rushby. Mengenai penanganan masalah precursor di Indonesia apakah
WBC/ATS

ROBERT RUSHBY. Precursor selalu mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan dunia industri WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

29

PENGAWASAN
WBC/ATS

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

SATGAS AI
BANDARA JUANDA SURABAYA
Letak dan kondisi geografis Indonesia yang strategis untuk jalur perdagangan dunia juga telah dimanfaatkan oleh para sindikat perdagangan gelap narkoba, bahkan dalam perkembangannya Indonesia tidak hanya digunakan sebagai jalur transit namun juga dijadikan sebagai sumber produksi narkoba, khususnya psikotropika jenis ekstasi.

RAPAT KOORDINASI

H

SUASANA PELATIHAN. Para peserta dari berbagai KPBC di Indoneisa mengikuti pelatihan yang dilakukan antara DJBC dengan ACS

berbeda dengan Australia, Rushby mengatakan, memang ada perbedaan, mungkin dalam produk hukum mengenai peran DJBC dalam penanganan masalah precursor ini dan teknologi yang digunakan antara ACS dan DJBC dalam penanganan masalah precursor .”Tapi secara umum tugas kami (ACS) dengan DJBC tidak berbeda yaitu melakukan penegahan terhadap masuknya precursor illegal dari luar negeri yang dapat disalahgunakan,”ujar Rushby. Lebih lanjut Rushby mengatakan pelatihan ini diikuti oleh para peserta dengan antusias dan tidak jarang sering terjadi diskusi yang menarik antara para pelatih dengan para peserta, sehingga pelatihan ini berlangsung dengan dinamis. “Para peserta selalu menggali hal-hal baru dan menarik kepada kami sehingga pelatihan ini sangat menarik,”ujarnya kembali. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini ditutup oleh pejabat sementara Direktur Hubungan Internasional DJBC DR. Heri Kristiono. Heri mengucapkan terimakasih atas kesediaan ACS memberikan pelatihan ini kepada para peserta dan diharapkan para petugas bisa mengimplementasikan apa yang telah didapat dalam pelatihan ini. zap 30
WARTA BEA CUKAI

asil penelitian Universitas Indonesia pada tahun 2004 di sepuluh kota besar Indonesia bahwa kebutuhan pemakai narkoba dalam satu bulan untuk ekstasi dan sejenisnya adalah 1,7 ton dan kokain dan sejenisnya adalah 0,5 ton. Bandara Internasional Juanda Surabaya, merupakan salah satu pintu lalu lintas perdagangan dan orang. Hal tersebut terlihat adanya rute penerbangan dari dan ke Hongkong, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Arus manusia berikut barang (cargo) dapat berbanding lurus dengan jumlah penerbangan, hal ini dapat merupakan peluang kepada para pelaku perdagangan gelap narkoba. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam hal ini Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Juanda senantiasa melakukan langkah-langkah optimalisasi penegakan hukum baik dari segi kemampuan SDM, strategi, dan metode pengungkapan maupun perlatannya. Dalam rangka membangun keterpaduan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, KPBC Juanda melaksanakan kerja sama lintas sektoral bersamasama instansi terkait baik pertukaran informasi maupun operasional. Keterpaduan itu dapat dilihat pada keputusan Ketua Badan Penanggulangan NAPZA dan AIDS Propinsi (BPNA) Jawa Timur Nomor : 188/1473/031/2004 tanggal 29 September 2004 tentang Pembentukan Satuan Tugas Airport Interdiction (AI). Satuan Tugas tersebut terdiri atas KPBC Juanda, Direktorat Narkoba Polda Jatim, Polres Sidoarjo, Polsek Sedati, PT Angkasa Pura Bandara Juanda, Stasiun Karantina Hewan Bandara Juanda, Stasiun Karantina Tumbuhan Bandara Juanda, Balai Besar POM Surabaya, dan Badan Narkotika Propinsi Jawa Timur.

Rapat koordinasi yang dilaksanakan di ruang gedung TKI Bandara Internasional Juanda Surabaya, pada 26 Juli 2005, telah memutuskan beberapa kebijakan yang diantaranya susunan organisasi Satgas AI daerah provinsi Jawa Timur. Adapun susunan Organisasi Satuan Tugas Airport Interdiction Daerah Propinsi Jawa Timur sebagai berikut : 1. Ketua BPNA, (Wagub Jatim), 2. Wakil Ketua, Wakapolda Jatim.
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

SAMBUTAN. Ketua Satgas AI, Roeslan M. Soetedjo yang juga merupakan Kepala KPBC Tipe A Juanda, memberikan kata sambutan saat acara rapat Koordinasi AI.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

DIALOG KOORDINASI. Kepala Kantor Wilayah VII DJBC Surabaya, Drs. Heryanto Budi Santoso, melakukan dialog koordinasi dengan jajaran AI, antara lain Perum Angkasa Pura, Kepolisian, dan perwakilan Polda Jatim.

3. Ketua Satgas AI, Kepala KPBC 4. Wakasatgas AI, Direktur Narkotika Polda Jatim Unit I Analisa Intelejen : Bea dan Cukai, BPNA, POLRI, Imigrasi, Angkasa Pura, Balai POM, dan Balai Karantina. Unit II Pencegahan: Bea dan Cukai, Imigrasi, Angkasa Pura, POLRI (Control Delivery), dan Karantina. Unit III Penyidikan dan Penyelesaian Perkara : POLRI, BPNA, Bea dan Cukai, Imigrasi, dan Balai Karantina. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas Airport Interdiction Bandara Internasional Juanda sebagai berikut : A. Menyusun rencana kegiatan dan anggaran satgas B. Menerima laporan/ pengaduan/ informasi serta menganalisisnya dari sumber kasus Narkotika dan Psikotropika C. Menyusun langkah-langkah dalam melaksanakan upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap Narkotika dan Psikotropika melalui bandara Juanda berdasar hasil intelejen

D. Melaksanakan kegiatan intelijen dalam rangka pengumpulan informasi dan data E. Melaksanakan kegiatan pencegahan terhadap perdagangan gelap Narkotika dan Psikotropika melalui Bandara Juanda berdasarkan hasil intelijen F. Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas serta menyusun evaluasinya G. Melakukan penyelidikan/ penyidikan atas kasus Narkotika dan Psikotropika untuk menyelesaikan perkara serta melaporkan perkembangannya Sejauh ini sejak ditetapkan pembentukan Satgas Airport Interdiction Bandara Internasional Juanda belum ditemukan kasus penangkapan Narkoba melalui kedatangan Internasional Bandara Juanda. Menurut informasi dari Mr.Brian Connely, agent Drug Enforcement Administration (DEA) di Singapura serta laporan dari RILO (Regional Intelligence Laison Office for Asia and The Pacific) bulan November 2004, bahwa jalur peredaran gelap Narkoba Internasional di Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta dan Denpasar Bali. Sedangkan di luar kedua Bandara Internasional tersebut tidak cukup bukti

menjadi jalur peredaran narkoba internasional. Namun demikian diduga telah terjadi pemetaan lokasi Bandara Internasional Juanda akan dijadikan sebagai pintu masuk perdagangan gelap Narkoba oleh sindikat Internasional, dengan penangkapn dua orang warga Kongo yaitu Nzuba Bantola dan Yean Pierre Ilanga Engondo oleh Mabes Polri Jakarta. Pemetaan tersebut dimulai dengan kedatangan kedua orang itu di Bandara Internasional Juanda pada tanggal 13 Mei 2005 dari Yohannesburg, transit di Singapura. Hasil penyelidikan bahwa kedua orang tersebut setibanya di Juanda melakukan pergerakan ke PontianakJakarta-Medan-Jakarta (ditangkap mabes POLRI di bandara Soekarno Hatta karena disamping menjadi Target Operasi juga membawa tujuh buah paspor palsu). Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Juanda dalam waktu dekat akan mendapat 3 (tiga) Anjing Pelacak Narkotika Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (APN DJBC) berikut pawang APN dari Kantor Pusat Bea dan Cukai Jakarta untuk mendukung pelaksanaan tugas Airport Interdiction di Bandara Internasional Juanda.

Bambang Wicaksono/Surabaya

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

31

OPINI

Oleh: Agung Kuswandono

APARAT DJBC: Melayani Sekaligus

Mengawasi
K
alau pembaca WBC yang pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) ditanya: mana yang lebih penting dan harus didahulukan, revenue collection, trade facilitation/industrial assistance, atau community protection, apa jawabnya? Jawaban yang paling “arif” adalah memungut pajak sebesar-besarnya dan melayani masyarakat usaha secara prima tanpa meninggalkan pengawasan dalam rangka melindungi masyarakat.

APARAT PENEGAK HUKUM
Memang susah untuk menentukan mana yang lebih dominan di antara ketiga aspek di atas. Pemungutan pajak tidak bisa dinomor-duakan karena DJBC adalah lembaga fiskus (pemungut pajak), bahkan sampai saat ini penerimaan pajak merupakan tolok ukur keberhasilan DJBC. Melayani masyarakat? Ini juga bukan hal yang dapat disepelekan. DJBC merupakan salah satu instansi yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan ekonomi dan industri karena bidang tugasnya berkaitan dengan kelancaran arus barang ekspor-impor. Kalau mengenai aspek 32
WARTA BEA CUKAI

perlindungan masyarakat, silakan baca di berbagai media massa betapa DJBC menjadi sorotan publik berkaitan dengan maraknya penyelundupan narkoba, senjata api, bahan pembuat bom, satwa dan flora langka, pornografi, daging berpenyakit, dan sebagainya. Itu semua menunjukkan betapa pentingnya fungsi DJBC dalam rangka perlindungan masyarakat. Kembali ke pertanyaan awal, mana yang paling penting? Kalau kita hanya membandingkan ketiga aspek tadi, maka kita akan terus terjebak dalam lingkaran “mana yang lebih dulu, telur atau ayam”. Apabila kita menggunakan pembandingan

YANG AGAK “MEMBAHAYAKAN” ADALAH APABILA KITA MENGANGGAP KETIGA ASPEK TERSEBUT BERJALAN SENDIRISENDIRI...

seperti ini, maka yang akan muncul adalah pemisahan masing-masing tugas pokok yang seolah-olah berdiri sendiri. Yang agak “membahayakan” adalah apabila kita menganggap ketiga aspek tersebut berjalan sendiri-sendiri, misalnya, “saya orang pengawasan, urusan pelayanan urusan anda”. Atau, “kita terima saja pemberitahuannya, toh nanti ada verifikasi dan audit yang punya tugas mengawasi”. Pola pikir semacam ini sedikit banyak sudah ada di antara kita lho. Sebenarnya kita tidak perlu membandingkan tugas pokok mana yang lebih penting dari yang lain, karena ketiga tugas pokok tersebut memang harus dijalankan bersamasama. Ada benang merah yang menghubungkan ketiga tugas pokok tersebut (dan aspek-aspek kepabeanan lainnya) yaitu Penegakan Hukum! Ya, jati diri seorang aparat DJBC sebenarnya adalah aparat penegak hukum bahkan pada saat ia memberikan pelayanan prima kepada masyarakat usaha. Ibarat sebuah bangunan, pemungutan penerimaan negara, fasilitasi perdagangan, dan

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

perlindungan masyarakat adalah pilar-pilar yang mendukung atap bangunan (yaitu keadilan dan kesejahteraan masyarakat). Berapa pun jumlah pilar yang dibutuhkan, yang paling penting adalah fondasinya. Itulah kepastian hukum. Percaya atau tidak, apapun tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan aparat DJBC, semuanya harus berlandaskan hukum, sejak dari undang-undang sampai ke peraturan pelaksanaannya. Kita memungut Bea Masuk, melaksanakan pemberian keringanan/pembebasan Bea Masuk, karena diperintah oleh Undangundang Kepabeanan, kita memungut cukai karena diperintah oleh Undangundang Cukai. Kita melakukan audit, penggeledahan, penangkapan, penahanan dan tindakan-tindakan pengawasan semacam itu juga berlandaskan hukum. Bila kita bertitik tolak dari fondasi ini, yaitu penegakan hukum, maka mudah sekali kita menjawab pertanyaan di awal tulisan ini. Mana yang didahulukan? Ya penegakan hukumnya. Jadi, barangkali lebih tepat kita menjelaskan kepada khalayak bahwa tugas pokok DJBC adalah penegakan hukum yang meliputi aspek penerimaan negara, fasilitasi perdagangan, dan perlindungan masyarakat. Atau, silakan menambah berapapun aspek yang diinginkan asalkan ada dasar hukumnya, maka itulah tugas pokok DJBC. Perlu dipahami bahwa semua aspek tersebut harus ada dalam diri seorang petugas DJBC di manapun dia bertugas. Hanya mungkin kedalaman masing-masing fungsi tersebut berbeda tergantung uraian pekerjaannya. Bayangkan, betapa buruknya citra DJBC apabila seorang pegawai DJBC yang bertugas melakukan pengawasan tidak memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat usaha, misalnya dalam bentuk kecepatan pemeriksaan, ketaatan terhadap sistem dan prosedur, dan sebagainya. Demikian juga sebaliknya, apabila seorang pegawai DJBC yang bertugas memberikan pelayanan tidak membekali diri dengan keahlian pengawasan, maka dapat dibayangkan betapa akan suburnya yang namanya penyelundupan atau manipulasi. Sekali lagi, semua bidang keahlian baik pelayanan maupun pengawasan harus dimiliki dan diterapkan oleh setiap pegawai DJBC di manapun dia ditugaskan. Kita tidak perlu takjub kalau suatu saat nanti ada kasus manipulasi dokumen impor/ ekspor dapat dibongkar berkat kejelian seorang pegawai tata usaha. Itu-

lah “the real” aparat Bea dan Cukai!

l

DIREKTORAT PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI?
Karena penegakan hukum adalah tugas utama kita, maka alangkah baiknya kalau kita memberikan perhatian khusus kepada peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar bagi kita dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Kita sudah mempunyai Undang-undang Kepabeanan dan Undang-undang Cukai. Ini merupakan dasar hukum yang paling esensial bagi DJBC dan menjadi payung hukum bagi berbagai peraturan pelaksanaan tugas seharihari. Belum lagi berbagai “peraturan titipan” dari berbagai instansi yang selama ini kita laksanakan dengan patuh tanpa membantah. Karena begitu inginnya memberikan pelayanan terbaik, kita tanpa sadar telah menjadi “pelayan”

l

l

l l

Peraturan yang tidak sesuai/ bertentangan dengan peraturan lain atau peraturan di atasnya; Peraturan yang diterbitkan tidak berdasarkan hirarki perundangan yang berlaku; Peraturan yang diterbitkan oleh pihak yang tidak kompeten atau tidak berwenang; Peraturan yang tidak jelas apakah masih berlaku atau sudah dicabut; Peraturan yang tidak applicable isinya; dan lain-lain.

...SEHINGGA PEMBENTUKAN “DIREKTORAT PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI” RASANYA BUKANLAH HAL YANG BERLEBIHAN
berbagai instansi dimaksud, padahal ada tatacara pelaksanaan tugas dari instansi lain yang dengan jelas diatur dalam Pasal 53 UU Kepabeanan. Tanpa sadar kita memberikan pemahaman yang keliru kepada instansi lain bahwa siapapun dan peraturan apapun dapat dititipkan kepada DJBC untuk dijalankan tanpa pandang bulu. Padahal berdasarkan Pasal 53 UU Kepabeanan peraturan titipan tersebut seharusnya baru dijalankan DJBC setelah ada perintah atau penetapan dari Menteri Keuangan sebagai “bos” DJBC. Kita begitu memfokuskan diri pada “pilar pelayanan” tetapi tanpa sadar mengabaikan “fondasi hukum” yang menjadi dasarnya. Inilah yang selama ini (menurut saya) sedikit terlupakan. Berbagai peraturan pelaksanaan kita susun, berbagai tim dibentuk, berbagai “juklak” diterbitkan, namun sedikit yang peduli akan pengelolaannya. Kalau kita mau sedikit meluangkan waktu mempelajari peraturanperaturan pelaksanaan yang menjadi acuan kita bekerja sehari-hari, barangkali kita akan melihat fenomena seperti ini:

Tatacara penyusunan atau penyempurnaan peraturan pelaksanaan yang ada selama ini cenderung bersifat “ad hoc” dan menjadi tanggungjawab sektoral. Padahal fondasi hukum yang kita bangun seharusnya bersifat holistik dan mencakup semua pilar tugas pokok DJBC. Karena itulah, barangkali sudah saatnya kita mulai memikirkan sebuah unit kerja setingkat eselon II yang khusus mengelola dasar hukum dan peraturan perundang-undangan kebea-cukaian ini. Kita tidak usah malu-malu mencontoh saudara kita Direktorat Jenderal Pajak yang mempunyai direktorat khusus yang bertugas mengkaji dan mengelola peraturan-peraturan perpajakan. Dari sisi dasar hukum, DJBC jelas lebih kompleks dari DJP, sehingga pembentukan “Direktorat Peraturan Kepabeanan dan Cukai” rasanya bukanlah hal yang berlebihan. Dengan adanya unit kerja yang khusus bertugas mengkaji, menyempurnakan, dan mengelola peraturan kepabeanan dan cukai ini, diharapkan kelemahan-kelemahan hukum yang ada sebagaimana disebutkan di atas dapat dihilangkan dan tidak perlu lagi dibentuk berbagai tim ad hoc yang outputnya sering harus dikaji kembali oleh tim ad hoc berikutnya. Saya yakin, unit kerja ini akan diperlukan secara permanen karena peraturan perundang-undangan di negeri kita ini begitu kompleks dan begitu dinamis sehingga memerlukan perhatian yang serius oleh DJBC. Barangkali ide ini sudah ada dalam pikiran sebagian pembaca jauh hari sebelum tulisan ini dimuat. Yang paling penting adalah bahwa ide ini nampaknya layak untuk segera diwujudkan. Semoga temanteman yang mempunyai kompetensi di bidang ini dapat menangkap intisari pandangan ini dan sudi menjadikannya bahan pertimbangan demi kemaslahatan DJBC. Mari kita selau berusaha menjadi aparat Bea dan Cukai yang utuh, di manapun kita bertugas.

Penulis adalah Kasubdit Kemudahan Ekspor II, Direktorat Fasilitas Kepabeanan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

33

OPINI

Oleh: Donny Eriyanto, SE, MM

Tsunami?
P
emerintahan baru dibawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla di dalam salah satu program 100 harinya menyatakan akan melakukan upaya serius untuk pemberantasan penyelundupan. Bahkan untuk menegaskan pernyataannya tersebut, genap seminggu sejak pelantikannya yaitu tanggal 27 Oktober 2004, Presiden berkenan menyempatkan diri berkunjung ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Dalam kunjungannya, Presiden kembali menekankan dan memerintahkan kepada DJBC sebagai instansi yang berwenang melakukan pengawasan keluar masuknya barang, untuk berupaya lebih serius dalam menangani pemberantasan penyelundupan. Pada tanggal 26 Desember 2004, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut) dilanda gempa tektonik dan gelombang tsunami yang sangat dahsyat sehingga menewaskan lebih dari 100.000 orang penduduk. Menurut Wapres M. Jusuf Kalla, selaku Ketua Bakornas, nilai kerugian yang ditaksir atau dana yang dibutuhkan untuk membangun kembali NAD dan Sumut adalah berkisar antara Rp. 5-10 triliun. Dua kejadian di atas tentunya kita sudah mengetahui semua, tetapi dengan tanpa mengurangi rasa duka dan belasungkawa kepada korban tsunami serta tidak bermaksud memberi perbandingan (karena sifatnya kualitatif), penulis terusik untuk berusaha membahas masalah penyelundupan dilihat dari seberapa pentingkah arti pemberantasan penyelundupan dan seberapa parahkah dampak yang timbul akibat penyelundupan tersebut, sampai–sampai untuk pertama kalinya seorang Presiden harus datang ke DJBC untuk menginstruksikan hal tersebut. selama ini tentunya menjadi konsekuensi tugas kita sebagai aparat DJBC untuk melakukan pemberantasan sesuai dengan fungsi DJBC sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 2/KMK.01/2001 tanggal 3 Januari 2003 tentang Organisasi dan Tata kerja Departemen Keuangan. Arti penyelundupan ( Smuggling ) sebenarnya selama ini belum banyak diketahui secara pasti oleh masyarakat awam dalam menginterpretasikannya. Pengertian penyelundupan secara hukum sendiri terdapat di dalam UU No.10 tahun 1995 pasal 102 yang menyebutkan bahwa, barangsiapa yang mengimpor atau mengekspor atau mencoba mengimpor atau mengekspor barang tanpa mengindahkan ketentuan undangmengimpor atau mengekspor barang yang telah mengindahkan ketentuan undang-undang ini, walaupun tidak sepenuhnya, tidak termasuk perbuatan tindak penyelundupan.

PENYELUNDUPAN LEBIH BERBAHAYA DARIPADA

DAMPAK PENYELUNDUPAN
Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEMUI) melakukan penelitian mengenai penyelundupan dengan kesimpulan bahwa potensi kerugian negara akibat praktek penyelundupan yakni antara US$ 1,6 miliar dan US$1,9 miliar per tahun. Dengan asumsi kurs rupiah terhadap dollar AS Rp. 9.500, maka kerugian yang harus ditanggung negara akibat penyelundupan mencapai sekitar Rp. 16 triliun per tahun. Jumlah ini didapat dengan cara melihat perbedaan antara angka yang diekspor oleh negara asal dan angka yang diimpor yang tercatat di Indonesia. Angka kerugian sebesar Rp. 16 trilliun itu belum termasuk kerugian yang harus ditanggung produsen lantaran usahanya tergencet atau bahkan gulung tikar akibat serbuan produk selundupan. Lalu bagaimana dengan penyelundupan yang dilakukan ke luar Indonesia (ekspor)? Total nilai kerugian negara akibat penyelundupan minyak mencapai Rp. 56 triliun per tahun. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah utang yang dinegosiasikan pemerintah dengan para donor CGI setiap tahunnya ! Belum lagi aksi ilegal loging yang menurut catatan Depatemen Kehutanan, setiap tahun sedikitnya 10 juta meter kubik kayu diselundupkan dari Kalimantan, Papua, Sumut, Jambi, Riau dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dengan tujuan antara lain Malaysia, Cina, India dan Vietnam. Nilai kerugian kayu-kayu hutan yang dijarah sekitar US$ 3-4 miliar. Data penyelundupan yang ada dalam website Bea Cukai (hanya terdapat data untuk empat tahun, yaitu 1996-2000) menunjukkan angka yang fluktuatif dima-

KEGAGALAN SISTEM BEA DAN CUKAI ? MUNGKINKAH?
undang ini dipidana karena melakukan penyelundupan dengan pidana penjara paling lama delapan tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah). Hal inilah yang belum dimengerti sepenuhnya oleh masyarakat, umumnya mereka menganggap semua pemasukan barang ke dalam daerah pabean baik yang tidak diberitahukan maupun yang diberitahukan secara tidak benar dianggap sebagai penyelundupan. Padahal menurut pengertian UU No. 10/1995 diatas, perbuatan mereka baru dapat dikategorikan penyelundupan hanya apabila dalam hal tanpa mengindahkan ketentuan undang-undang tersebut, dalam arti kata, apabila seseorang

PENGERTIAN PENYELUNDUPAN
Adanya penyelundupan yang terjadi 34
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

na penyelundupan ekspor jauh lebih tinggi dari impor. (Lihat Tabel) Melihat data-data yang telah dijabarkan, terlihat begitu besar dampak kerugian negara yang ditimbulkan akibat penyelundupan. Hal ini baru dilihat dari sisi ekonomis saja, belum termasuk bahaya atau kerugian lainnya, yaitu antara lain mengacaukan data statistik yang real dan hilangnya lapangan pekerjaan akibat banyaknya industri yang gulung tikar sebagai imbas dari kalah bersaingnya dengan produk impor ilegal. Dari segi lingkungan hidup, akibat maraknya illegal loging dan illegal trading membuat hutan gundul dan kerusakan lingkungan yang amat dahsyat. Kerugian bertambah besar bila ditambah dengan kerusakan lingkungan lainnya, seperti pasir laut dan satwa langka. Segi hankam, penyelundupan senjata akan mengakibatkan maraknya kriminalitas dan gangguan keamanan bangsa. Sedangkan dari sisi sosial, banyaknya penyelundupan narkoba mengakibatkan kejahatan sosial, ketergantungan obat dikalangan remaja dan yang mengkhawatirkan adalah ancaman lost generation bagi bangsa Indonesia. Jadi, dampak penyelundupan ini tidak hanya dirasakan oleh satu pihak saja tetapi oleh hampir seluruh bangsa Indonesia yang berjumlah lebih dari 210 juta penduduk!

DATA PENYELUNDUPAN
No 1. Tahun 1996/1997 Bidang Impor Ekspor 2. 1997/1998 Impor Ekspor 3. 1998/1999 Impor Ekspor 4. 1999/2000 Impor Ekspor
SUMBER : Website DJBC (www.beacukai.go.id)

Jumlah kasus 2 214 35 26 2 159 10 155

Kerugian negara 298.304.122,00 18.023.763.589,00 651.600.972,00 399.282.863,00 543.875.360,00 19.023.073.091,00 124.019.020,00 6.689.710.341

pada terciptanya perbedaan harga barang domestik dengan harga di luar negeri. Kegagalan sistem Bea dan Cukai ? Mungkinkah? Kalau acuannya dari pasal 102 UU No.10/1995 mungkin bisa dimaklumi karena pasal tersebut membuat suatu “lubang besar” bagi pengawasan tindak penyelundupan dengan minimnya kriteria suatu tindak penyelundupan sehingga memberikan toleransi sangat besar bagi penyelundup atau pihak-pihak yang berkepentingan. Sistem self assessment yang dianut Bea dan Cukai selama ini mengundang suatu dilema dimana di satu sisi lebih mengutamakan pelayanan dengan kelancaran arus barang dan dokumen, tapi disisi lain dituntut untuk melakukan pengawasan lebih mendalam. Salah satu bentuk pengawasan terhadap sistem self assessment ini adalah post clearence audit. Efektifkah sistem audit selama ini dalam mengatasi masalah penyelundupan ? Hal ini yang masih bisa diperdebatkan.

SEBAB TIMBULNYA PENYELUNDUPAN
Seringkali apabila ada upaya penyelundupan atau beredarnya barang-barang impor ilegal di kalangan masyarakat, maka masyarakat condong untuk memojokkan bahkan memvonis aparat DJBC sebagai salah satu “biang kerok” timbulnya hal tersebut. Kalangan masyarakat umumnya menuding DJBC sebagai ‘part of the problem’ bukan sebagai ‘solve the problem’. Tudingan tersebut walaupun sangat naïf, tapi tentu dapat kita maklumi karena DJBC adalah satu-satunya aparat yang berwenag dalam pengawasan keluar masuknya barang. Masalah penyelundupan adalah masalah yang sangat complicated dengan melibatkan banyak kepentingan atau perorangan yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu (vested interest ) yang bermain disana. Mereka itulah yang berusaha mengeruk keuntungan dengan adanya penyelundupan. Pengamat Ekonomi, Chatib Basri, bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEMUI) telah melakukan penelitian ihwal penyelundupan yang terjadi di Indonesia, mulai dari dampak, akibat, penyebab, hingga solusinya. Dari penelitian tersebut, Chatib menyimpulkan bahwa penyelundupan bisa terjadi akibat tiga hal yang saling berkaitan, yaitu : 1. Kegagalan sistem Bea dan Cukai. 2. Aparat yang korup. 3. Kebijakan pemerintah yang menuntun

...KERUGIAN YANG HARUS DITANGGUNG NEGARA AKIBAT PENYELUNDUPAN MENCAPAI SEKITAR RP. 16 TRILIUN PER TAHUN

Secara teknis, proses importasi relatif kompleks dan ruwet dengan melibatkan banyak kepentingan atau pihak, baik itu kegiatan-kegiatan sebelum barang tiba, proses pada saat barang tiba, proses customs clearence hingga pada proses pengeluaran barang tiba. Sebagus apapun sistem yang digunakan apabila tidak didukung oleh aparat yang bersih atau profesional ditambah oleh pihak-pihak yang berusaha memanfaatkan kelemahan peraturan yang ada untuk kepentingan pribadi, tentunya sistem tersebut tidak akan bisa berjalan dengan baik atau malah sia-sia. Masalah penyelundupan punya substance sangat dalam dan ruwet. Aspek formal dan kegiatan-kegiatan prosedural, utamanya yang berkaitan dengan pencegahan dan penindakan penyelundupan relatif tidak sulit. Permasalahan selalu timbul begitu kita mulai “menyimpang” dari proses standar. Penyebab penyimpangan bisa banyak, bervariasi dan punya tingkat kedalaman beda-beda yang satu sama lain tergantung pada modus “intervensi” yang ada. Semua keruwetan peraturan, sistem, prosedur, bertumpuk dan tumpang tindihnya institusi, hanyalah merupakan aspek-aspek yang dapat menjadi “kambing hitam” dari persepsi yang tidak sama dari pimpinan-pimpinan, pejabatpejabat, pegawai-pegawai yang punya “relevansi” dengan upaya mencegah dan memberantas penyelundupan. Tahun lalu dilansir hasil penelitian oleh Transparency Internasional Indonesia (TII) yang menyebutkan bahwa Bea dan Cukai menduduki rangking kedua dibawah parpol dan parlemen sebagai
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

35

OPINI
instansi terkorup di Indonesia ( Jawa Pos edisi 10 Desember 2004). Sungguh suatu “prestasi” yang sangat menampar muka kita, ditengah-tengah usaha kita untuk membangun citra Bea Cukai di mata masyarakat. Hasil penelitian itu mungkin masih bisa diperdebatkan, akan tetapi yang lebih utama bagi kita adalah hal itu bisa menjadi bahan untuk lebih instropeksi. Bea Cukai sendiri punya segudang masalah internal, antara lain aspek infrastruktur, anggaran, sistem dan prosedur sampai kualitas SDM termasuk kepemimpinan (leadership) dari tiap strata yang sudah pekat dengan suasana yang tidak kondusif. Masalah-masalah tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait bahkan disebabkan oleh sumber-sumber masalah di luar institusi Bea dan Cukai. Keruwetan dan tumpang tindih kewenangan antar instansi yang ada di pelabuhan, sebagai akibat banyaknya kepentingan pihakpihak institusi-institusi yang bercokol di pelabuhan-pelabuhan, menjadikan suatu permasalahan tersendiri, yang walau ada di luar Bea dan Cukai, tapi punya imbas kepada permasalahan internal Bea Cukai. Banyaknya instansi tersebut tentunya harus diiringi dengan penyamaan visi dan persepsi serta koordinasi antar instansi yang jelas dalam menangani upaya pemberantasan penyelundupan. Realitasnya, kecurigaan antar instansi dan koordinasi yang masih lemah dalam menangani dan menegakkan hukum bagi pelaku menjadi hambatan dalam upaya pemberantasan penyelundupan di Tanah Air. Masing-masing instansi bisa berbedabeda visi dan misinya dalam menangani penyelundupan. Apalagi, masing-masing instansi punya aturan atau kebijakan sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, seharusnya Bea Cukai harus bisa menjadi “lokomotif” atau leader bagi instansiinstansi lain dalam menangani upaya pemberantasan penyelundupan. Hal ini sangat dimungkinkan karena apabila kita mengacu pada UU No.10 tahun 1995 pasal 76 (1) yang menyebutkan, “dalam melaksanakan tugas berdasarkan undang-undang ini, Pejabat Bea dan Cukai dapat meminta bantuan angkatan bersenjata dan/atau instansi lainnya.” Dengan demikian jelas bahwa berdasarkan undang-undang ini, yang mempunyai wewenang penuh dalam menangani pemberantasan penyelundupan adalah tetap pada “pundak” Bea Cukai. Sedangkan instansi lainnya hanya bersifat membantu saja, itupun apabila diminta oleh Pejabat Bea dan Cukai sehubungan dengan segala kegiatan yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai berdasarkan peraturan perundang-undangan. Realitasnya, kalau kita lihat di media, justru instansi lainnya terutama TNI/Polri lebih banyak diekspos dalam keberhasilannya menangkap 36
WARTA BEA CUKAI

penyelundup. Dikhawatirkan apabila terbentuknya opini masyarakat yang akan mendiskreditkan Bea Cukai dalam kemampuannya untuk mengatasi masalah pemberantasan penyelundupan dibanding instansi lainnya. Kebijakan pemerintah yang menuntun pada terciptanya perbedaan harga barang domestik dengan harga di luar negeri turut menyumbang timbulnya penyelundupan. Semakin tinggi perbedaan harga, maka semakin besar kemungkinan terjadinya penyelundupan karena adanya disparitas harga. Sistem yang tidak efektif tentulah akan berimplikasi pada tingkat harga jual produk yang semakin besar. Sebut misalnya kasus harga gula dengan tata niaganya yang panjang dan tidak efisien. Akibatnya, harga gula menjadi mahal dan orang pun menjadi cenderung menyelundupkan gula. Penyebab lain maraknya penyelundupan adalah seperti yang ditengarai oleh Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) yaitu akibat adanya Importir Umum (IU) yang memiliki

SETIDAKNYA ADA GOODWILL DARI KITA UNTUK SERIUS BERSAMASAMA BAHU MEMBAHU MEMERANGI PENYELUNDUPAN DAN KALAU PERLU…SAY GOODBYE WITH “IMPORTIR FAMILI”...
Angka Pengenal Impor (API) Produsen, sehingga produk yang diimpor oleh perusahaan IU tidak masuk jalur merah. Hal ini tentunya bisa dihindari apabila Depperindag lebih selektif memberikan ijin untuk API Produsen karena DJBC kesulitan menindaklanjuti kasus ini bila alamat yang tercantum dalam dokumen IU tersebut fiktif. Banyaknya tangkahan-tangkahan (pelabuhan kecil milik perorangan) juga menyulitkan Bea Cukai untuk memberantas penyelundupan karena tidak memungkinkan untuk mengawasi satu-persatu tangkahan tersebut. Para penyelundup dalam modusnya seringkali dalam memasukkan barang tidak melalui kawasan pabean tetapi melalui tangkahan tersebut.

KAPAN SIH BERAKHIRNYA ?
Pertanyaan di atas mudah diucapkan,

tapi untuk menjawabnya sangat sulit. Tidak ada satupun orang bisa menjamin kapan penyelundupan bisa berakhir. Segala teori mungkin bisa dijabarkan dan masuk logika tapi dalam prakteknya susah sekali penerapannya. Penyelundupan tidak mungkin dihapuskan sama sekali, tapi yang memungkinkan adalah diminimalisir seminim mungkin tingkat penyelundupan, baik dari kuantitas maupun kualitasnya. Upaya untuk meminimalkan penyelundupan bisa dimulai dari kita sendiri sebagai aparat DJBC yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk memberantas penyelundupan. Komitmen dan integritas penuh serta dilandasi keseriusan aparat sangat diperlukan.Visi, misi, strategi harus menjadi komitmen praktis dan filosofis agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya. Tanpa hal itu tidak heran jika sikap-sikap aparat yang tampak dipermukaan adalah tidak adanya professional judgement positif, aparat tidak kompeten, tidak konsisten, tertutup, penuh intimidasi dan dalam banyak hal timbulkan kebingungankebingungan. Setidaknya ada goodwill dari kita untuk serius bersama-sama bahu membahu memerangi penyelundupan dan kalau perlu…say goodbye with “importir famili”… Kesatuan visi, persepsi, komitmen, saling percaya, saling koordinasi dan bekerja sama antar instansi menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk memberantas penyelundupan. Dengan demikian diharapkan tumbuh united effort antar instansi untuk mengatasi lemahnya koordinasi antar instansi, sehingga dapat bersama-sama memberantas penyelundupan demi menyelamatkan negara dari ambang kehancuran Langkah berikutnya mungkin dengan penurunan PPnBM dimana diharapkan dapat meningkatkan kembali kepercayaan luar negeri kepada Indonesia dari berkurangnya penyelundupan. Dengan demikian produksi barang-barang di dalam negeri menjadi lebih kompetitif. Dampaknya, perusahaan lokal menjadi lebih bergairah dengan pasar yang lebih terbuka sehingga permintaan barang menjadi meningkat dan pada akhirnya pajak bisa ditarik dari sana. Sekali lagi, cara-cara di atas adalah sekedar teori belaka dan tidak akan berlaku tanpa adanya usaha nyata dari kita sebagai aparat DJBC. Tentu kita tidak akan pernah menginginkan sistem PSI yang selalu menghantui kita diterapkan disini. Atau seperti yang pernah diusulkan oleh Gus Dur untuk mengimpor hakim, berlaku juga buat kita. Tidak pernah terbayangkan bagaimana bila pemerintah mengimpor Bea Cukai asing atau malah ada yang membentuk “Bea Cukai Tandingan” seperti yang lagi ngetrend belakangan ini. Jadi, kapan penyelundupan berakhir? Wallahualam…

Penulis adalah Pelaksana pada Kanwil X DJBC Balikpapan

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

s

KOTABARU
KPBC TIPE B KOTABARU. Unik, karena posisi kantor yang berada di bukit, pengawasan terhadap kapal- kapal asing yang datang dapat pula dilakukan dari depan kantor dengan menggunakan teropong.

KPBC Tipe B Kotabaru

Berkat Importasi Alat-alat Berat, Target Penerimaan Berhasil Terlampaui
Target penerimaan TA. 2005 telah terlampui sebesar 220,86 persen dari target yang telah ditetapkan.

P

agi itu (7/7) sekitar pukul 07.30 WITA, mobil yang mengangkut WBC tengah melaju di Jalan Ahmad Yani, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju bandara Syamsudin Noor. Hari itu, WBC hendak menuju KPBC Kotabaru yang lokasinya berada di sebuah pulau kecil di sebelah tenggara Pulau Kalimantan, yang bernama Pulau Laut. Setibanya di bandara, pesawat yang akan kami tumpangi telah menunggu di landasan pacu. Sebuah pesawat jenis Cassa yang menggunakan mesin balingbaling akan membawa kami terbang menuju Pulau Laut. Tepat pukul 08.00 WITA, pesawat pun tinggal landas dengan membawa sekitar 40 penumpang. Setengah jam kemudian, kami mendarat di Bandara Stagen, Kabupaten Kotabaru, Kalsel. Perjalanan via udara ini memang relatif singkat dibanding via darat (baca boks: Duabelas jam Kotabaru Banjarmasin via darat). Begitu turun dari pesawat, hembusan angin segar langsung menyapa WBC. Bandara Stagen merupakan sebuah bandara kecil yang baru dibuka sekitar satu tahun yang lalu untuk jalur penerbangan Banjarmasin – Kotabaru. Di bandara, kami dijemput oleh Asep Munandar, Kasi P2 KPBC Kotabaru dan segera meluncur menuju pusat kota yang

berjarak sekitar 10 km dari bandara. Jalan raya dari bandara menuju pusat kota hanya satu jalan saja, jadi jangan khawatir bakal nyasar. Dua puluh menit kemudian kami tiba di KPBC Tipe B Kotabaru. WBC sempat terhenyak melihat gedung KPBC Kotabaru. Pasalnya, gedung KPBC Kotabaru menyerupai sebuah vila (tempat peristirahatan). Bangunan kantor terletak di dataran tinggi sehingga untuk masuk ke dalam kantor harus melewati anak tangga yang lumayan tinggi (setelah dihitung, jumlah anak tangganya ada 43-red). Tak hanya itu, dari pintu masuk kantor WBC dapat melihat laut. Sebab, tak jauh dari depan kantor membentang lautan biru nan luas. Menurut Nurtjahjo Budidananto, Kasubag Umum KPBC Tipe B Kotabaru, pada waktu perencanaan pembangunan KPBC Kotabaru, sebenarnya gundukan tanah yang tinggi di lokasi kantor hendak diratakan sesuai dengan jalan raya di depannya. Namun, di dalam gundukan tanah tersebut terdapat batu-batu besar yang sebagian besar tidak dapat dikikis. Alhasil, kantor pun dibangun di dataran yang tinggi dimana pembangunannya selesai pada April 1992. Tak heran jika kini KPBC Kotabaru dikenal dengan istilah kantor diatas bukit.

KPBC Kotabaru itu sendiri baru tiga tahun (tepatnya sejak 2002) beralih menjadi Tipe B (sebelumnya Tipe C-red) dengan wilayah kerja yang meliputi dua kabupaten, yakni Tanah Bumbu dan Kotabaru. Wilayah kerja KPBC Tipe B Kotabaru terdiri dari laut dan pantai yang mengelilingi Pulau Laut dan pesisir daratWBC/ATS

HARMANTO. Akan mengoptimalkan fungsi pelayanan dan pengawasan dengan sarana dan sumber daya manusia yang ada. WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

37

DAERAH KE DAERAH
an Kalimantan Selatan bagian tenggara. Pelabuhan yang ada (seperti Pelabuhan Stagen-red), tidak memungkinkan bagi kapal-kapal dengan bobot besar untuk bersandar. Dengan demikian, kegiatan bongkar muat terjadi di tengah laut atau disepanjang pantai. Contohnya saja untuk pemuatan ekspor batubara. Pemuatan ekspor batubara dilakukan di lokasi yang paling dekat dengan tempat penimbunannya (batubara-red). Itu berarti, pemuatan batubara dilakukan disepanjang pantai. Saat ini, ada tiga perusahaan besar penambang batubara yang berada dibawah pengawasan KPBC Kotabaru, yakni PT. Arutmin Indonesia, PT. Bahari Cakrawala Sebuku, dan PT. Adaro Indonesia. Terdapat dua pelabuhan besar tempat pemuatan batubara (terminal coal) yaitu North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT) di Tanjung Pemancingan, khusus pemuatan batubara milik PT. Arutmin, dan Indonesia Bulk Terminal (IBT) di daerah Mekar Putih. Menurut Harmanto, Kepala KPBC Tipe B Kotabaru, 95 persen kegiatan ekspor di Kotabaru didominasi oleh batubara. Sehingga pihaknya juga harus mengawasi banyaknya kegiatan ekspor ditempat yang terpisah-pisah. Dalam satu bulan, sekitar 40 kapalkapal besar parkir di tengah laut menunggu pemuatan batubara (yang dibawa oleh kapal-kapal tongkang) untuk diekspor ke Eropa dan Asia, antara lain Philipina, Thailand, Jepang, Malaysia, India, Pakistan, Korea, dan Cina. Dalam satu bulan pula, KPBC Kotabaru melayani sekitar 40 dokumen PEB. Selain batubara, komoditas ekspor lain yang ditangani KPBC Kotabaru adalah CPO (Crude Palm Oil), hasil laut (udang) serta semen (yang dilakukan oleh PT. Indocement Tunggal Perkasa) yang diekspor ke Bangladesh dan Singapura.

Duabelas Jam KOTABARU-BANJARMASIN
VIA DARAT

K

otabaru gunungnya bak mega… itulah sepenggal lirik lagu yang sangat akrab di telinga WBC. Sebuah lagu yang menggambarkan sebuah kota kecil di Propinsi Kalimantan Selatan. Kotabaru berada di sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Laut (yang karena kecilnya, dari ujung ke ujung pulau bisa ditempuh via darat dengan memakan waktu kurang lebih 12 jam-red). Masyarakat Kotabaru terdiri dari suku Banjar, Bugis dan pendatang (mayoritas transmigran dari Pulau Jawa-red) yang bekerja sebagai nelayan, petani dan pedagang. Kota kecil yang nyaman dan sangat khas dengan suasana lautnya menyapa WBC ketika berkunjung ke Kotabaru. Seperti malam itu (7/7), WBC singgah di Siring Laut, sebuah tempat rekreasi yang selalu ramai dikunjungi warga menjelang senja. Siring Laut merupakan suatu tanah lapang di pinggir laut dimana banyak berdiri warung tenda yang menjajakan sea food. Tanpa memperdulikan angin malam, WBC pun mencoba sea food yang dijajakan di tempat itu dan ternyata enak… Selain Siring Laut, tempat rekreasi

yang ramai dikunjungi warga adalah pantai Gedambaan. Pantai Gedambaan merupakan pantai yang sangat landai dengan panorama yang indah. Namun sayang, kelihatannya tempat tersebut kurang dikelola oleh pemda setempat. Hal itu bisa dilihat dari minimnya sarana untuk berekreasi dan banyaknya sampah yang berserakan di areal pantai. Pagi itu (9/7) sekitar pukul 09.30 WITA, WBC meninggalkan Kotabaru untuk kembali ke Banjarmasin dengan menggunakan kendaraan roda empat. Perjalanan kali ini memang sengaja kami pilih via darat karena tertarik dengan ‘pesona’ yang ditawarkan disepanjang perjalanan. Dengan ditemani oleh Sjarkawi, Kasi Cukai dan Kepabeanan I, KPBC Tipe B Kotabaru, kendaraan yang kami tumpangi pun meluncur menembus jalan-jalan di Kotabaru. Menurut Sjarkawi, jalan di luar kota masih tergolong angker. Banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa warga yang melewati jalan luar kota ketika malam tiba. Terang saja… untuk menuju pelabuhan fery Tanjung Serdang, terkadang kami masih harus melewati
WBC/ATS

KURANGNYA SARANA PENGAWASAN
Luasnya wilayah perairan yang harus diawasi KPBC Kotabaru tidak didukung oleh sarana yang memadai. Kondisi kapal patroli yang hanya satusatunya sering mengalami kerusakan. Untuk menyiasati hal itu, ada beberapa cara yang dilakukan dalam melakukan pengawasan. Antara lain dengan memanfaatkan pengguna jasa, misalnya agen pelayaran, selaku perwakilan untuk clearance atas kapal yang bersangkutan. “Jadi, dengan menggunakan speedboat yang diusahakan oleh agen pelayaran, kami melakukan boatzooking atau pemeriksaan pada kapal-kapal asing yang baru datang maupun pemeriksaan terhadap kapalkapal berbendera asing yang 38
WARTA BEA CUKAI

PANTAI PAGATAN

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

hutan-hutan kecil. Selain itu, sepanjang jalan luar kota penuh dengan lubang dan turun naik, sehingga kami harus ekstra hati-hati melaluinya. Jalan yang kami lewati juga hanya cukup untuk dua mobil saja. Sehingga, kalau ada mobil truk besar yang berjalan lambat, maka antrian dibelakangnya pun tak bisa dihindari. Tak berapa lama kami melewati Desa Sunggup dan menjumpai Perkebunan Tanaman Hutan Rakyat, dengan berbagai jenis tanaman didalamnya antara lain, sengon, jati dan buah-buahan. Setelah mampir sebentar di perkebunan, kami pun melanjutkan perjalanan melewati Desa Cenaro. Uniknya, di Desa Cenaro inilah kami bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang asyik memperbaiki jalan raya yang berlobang. Jalan-jalan tersebut ditutupinya dengan tanah merah yang diambil dari pinggir jalan. Suatu usaha yang patut diacungi jempol… beberapa pengguna jalan pun memberikan uang sekedarnya… Tak berapa lama kemudian, sekitar pkl. 10.00 WITA kami tiba di pelabuhan fery Tanjung Serdang. Lima belas menit kemudian, fery bergerak menyusuri selat Laut. Dari atas fery, WBC melihat sebuah gunung yang bernama Gunung Saranjana. Menurut legenda masyarakat setempat, gunung tersebut merupakan Kab. Saranjana yang dihuni oleh makhluk halus. Masyarakat Kotabaru percaya bahwa makhluk halus tersebut merupakan bagian dari masyarakat Kotabaru. Hm… kabarnya banyak kejadian-kejadian aneh di sekitar gunung tersebut. Sekitar pkl. Pkl.11.50 WITA kami tiba di pelabuhan fery Batu Licin. Jarak dari Batu Licin ke Banjarmasin yang harus kami tempuh sekitar 315 km. Batu Licin merupakan pusat kota Kab. Tanah Bumbu. Pendapatan masyarakat Batu Licin cukup tinggi, sebab daerah tersebut merupakan daerah yang tengah berkembang pesat akibat adanya tambang batubara. Pkl. 13.15 WITA, kami tiba di Pagatan (Kab. Tanah Bumbu) dan berhenti untuk makan siang di Warung Alan Z. H. Kami pun memesan ikan bakar dan ternyata rasanya sangat lezat… pantas saja kalau warung tersebut sangat ramai pengunjung... Setelah beristirahat sejenak, perjalanan pun kami lanjutkan. Tak jauh berbeda dengan keadaan jalan luar kota Kotabaru, jalan di Kab. Tanah Bumbu juga rusak parah. Sepanjang jalan kami temui jalanan yang berlubang. Tak heran, jika kendaraan roda empat yang berkeliaran di jalan-jalan merupakan kendaraan off road, karena kendaraan jenis itulah yang mampu melewati jalanan yang penuh dengan lubang. Selain itu di kiri kanan jalan, sering kami jumpai padang savanna yang luas.

WBC/ATS

TAMBANG BATUBARA

Konon, dulunya adalah hutan rimba yang kini telah habis dibabat, menyedihkan … Masih di Pagatan, kami kembali berhenti sejenak untuk menikmati indahnya Pantai Pagatan. Di pantai ini terdapat tempat wisata yang bernama Pulau Selak. Dari Pagatan, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Kec. Satui sekitar pkl.14.45 WITA. Selain jalan yang berlubang, kami temui banyak sekali tempat penumpukan batu bara (stockpail) yang berada tak jauh dari pinggir jalan. Selain itu juga truk-truk pengangkut batubara pun ramai hilir mudik disepanjang jalan. Otomatis, jalan raya pun penuh dengan debu dan ceceran batubara. Untungnya, tak berapa lama kami berpapasan dengan truk air yang memang khusus menyiram jalanan. Di Satui kami melewati sebuah kota yang bernama Sungai Danau. Kota tersebut merupakan kota yang terdekat dengan tambang batubara dan stockpailnya. Melihat begitu banyaknya tambang batubara, WBC pun hendak mengabadikannya lewat kamera. Namun, ternyata tidak semudah itu kami bisa mengambil foto. Ketika kami ingin mengambil foto di sebuah tambang yang tak jauh dari jalan raya, ada ‘penjaga’ yang mengawasi tambang tersebut. Kami pun mengurungkan niat. Namun, rasa penasaran membuat kami terus mencari. Tak berapa lama kami pun melewati sebuah tambang batubara dan akhirnya bisa mengabadikannya, syukurlah… Menurut Sjarkawi, biasanya para

penambang batubara hanya sebentar melakukan penambangan. Pasalnya, dalam waktu 2 –3 hari saja, sebuah bukit yang didalamnya terkandung batubara bisa habis dan rata dengan tanah. Penambang pun biasanya langsung mencari lokasi tambang baru. Hmm… habis digunduli hutannya, sekarang isi buminya yang diambil… Di sepanjang jalan, berkali-kali kami melihat tulisan ‘lintasan batubara’. Itu berarti, di tempat itu ada tempat penimbunan batubara berikut pelabuhan yang akan mengangkut batubara tersebut. Tak berapa lama, kami melewati Desa Ampar-Ampar yang berada di Kec. Kintap. Di desa ini juga terdapat tambang batubara. Mulai dari Kintap, jalan yang kami lalui mulai bagus, tidak berlubang. Setelah itu kami melewati daerah Jorong yang terletak di Kab. Tanah Laut. Di Desa Tajau Pecah, kami berhenti sejenak di Warung Kaganangan untuk beristirahat, waktu telah menunjukan pukul. 18.00 WITA. Kami memesan mie jepit (mie instant diseduh langsung dibungkusnya dan dijepit dengan jepitan atau garpu-red). Setelah beristirahat kurang lebih 40 menit, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Banjarmasin. Sekitar pkl. 21.00 WITA kami tiba di Kota Banjarmasin. Suatu perjalanan yang melelahkan… tapi sangat berkesan… ifa

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

39

DAERAH KE DAERAH

PT. Arutmin Indonesia NPLCT
WBC/ATS

PT. ARUTMIN INDONESIA NPLCT

K

etika berada di Kotabaru, WBC juga berkesempatan mengunjungi Pelabuhan NPLCT (North Pulau Laut Coal Terminal) milik PT Arutmin. Sebuah pelabuhan yag dibangun khusus untuk pemuatan batubara dari tempat penumpukan (stockpile) ke kapal besar ( mother vessel). Berdiri pada tahun 1994, coal

terminal yang dimiliki Arutmin merupakan ketiga yang terbesar di Indonesia dan diakui sebagai world class terminal. Terletak di Tanjung Pemancingan, Kab. Kotabaru, Kalsel, Arutmin menempati lahan seluas 11 hektar dan diperkuat oleh 500 karyawan yang terdiri dari pegawai Arutmin dan kontraktornya. Karena lokasinya berada di Kab. Kotabaru, Arutmin berada dibawah

pengawasan KPBC Tipe B Kotabaru. Maka pelayanan dokumen ekspor batubara dilakukan di KPBC Kotabaru. Demikian pula untuk kegiatan impor, yang berupa alatalat berat dan sparepartnya untuk menunjang kegiatan produksi batubara di daerah tambang Satui, Batulicin dan Senakin. Sebagai coal terminal, NPLCT merupakan tempat penampungan/ penimbunan batubara milik PT. Arutmin yang berasal dari daerah tambang tersebut diatas. Pengangkutan batubara dari daerah tambang ke NPLCT menggunakan kapal tongkang. Selanjutnya batubara yang siap diekspor disalurkan ke ship loader melalui conveyor yang panjangnya sekitar 1.300 m. Batubara tersebut kemudian di ekspor ke berbagai negara, seperti Korea, Taiwan, Jepang dan negara-negara Eropa. Untuk pasaran di dalam negeri, Arutmin juga mengirim batubara tersebut ke PT.Indonesia Power di Suralaya, tapi jumlahnya relatif sedikit Pada awal berdirinya, Arutmin menargetkan 6 juta ton batubara pertahun yang dapat diangkut. Namun, sejalan dengan waktu, targetpun berkembang menjadi 18 juta ton pertahun pada 2005. Target tersebut sudah termasuk transhipment offshore. ifa

mendapat fasilitas impor sementara,” imbuh Harmanto. Satu hal yang unik, pengawasan terhadap kapal-kapal asing yang datang dapat pula dilakukan dari depan kantor dengan menggunakan teropong. Hal itu dikarenakan posisi kantor yang berada di bukit dan didepannya langsung berhadapan dengan laut. Jadi, kalau ada kapal-kapal asing yang belum melapor dapat segera diketahui. Selain sarana yang kurang memadai, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki juga masih dirasa kurang, khususnya tenaga-tenaga muda. Pasalnya, medan pengawasan terlalu berat. Contohnya saja, jarak antara kantor lokasi bongkar muat sangat jauh (misalnya, jarak dari kantor ke ke Muara Satui, salah satu tempat pemuatan ekspor batubara milik PT. Arutmin, sekitar 120 km dan memakan waktu 5 jam sekali jalan-red). Selain itu, pegawasan juga harus dilakukan disepanjang pesisir pantai. Dengan demikian, ketahanan fisik maupun mental sangat diperlukan. 40
WARTA BEA CUKAI

RUMAH DINAS. Rumah dinas yang jumlahnya 10 rumah, dirasa kurang memenuhi kebutuhan pegawai.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. S
etelah mengunjungi Arutmin, keesokan harinya (8/7) kami bergerak menuju PT. Indocement Tunggal Prakarsa dengan menggunakan speed boat. Berdiri pada 1992, Indocement beberapa kali mengalami perubahan nama dan pergantian kepemilikian saham, hingga akhirnya pada 2000 kepemilikan saham Indocement sepenuhnya dimiliki oleh Indocement Tunggal Prakarsa. Pabrik yang berlokasi di delta (diantara dua sungai) tepatnya di Tarjun, Kab. Kotabaru, Kalsel, ini merupakan pabrik yang ke 12 dari grup Indocement. Pabrik pertama hingga ke delapan berada di Citereup, yang ke sembilan dan sepuluh berada di Cirebon. Kesebelas berada di Citereup dan yang terakhir di Tarjun yang menempati areal seluas 586,10 hektar. Indocement memiliki beberapa areal pertambangan, antara lain di daerah Sidomulyo, Batu Asung dan Suarga. Kapasitas semen yang mampu dihasilkan sebanyak 2,45 juta ton pertahunnya. Semen-semen yang dihasilkan Indocement adalah bag cement (semen kantong) dan clinker curah (semen yang masih mentah atau belum digiling masih berupa butiran seperti batu). Namun, pada 2005 Indocement lebih menfokuskan pada semen curah atau clinker dengan tujuan
WBC/ATS

PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA

ekspor ke Bangladesh, Singapura dan Brunai. Dalam satu bulan, rata-rata terjadi 3 - 4 shipment, yang kalau dilihat dari jumlah tonasenya sekitar 40 - 50 ribu ton ekspor clinker curah per bulan. Selain melakukan kegiatan ekspor, Indocement juga melakukan kegiatan impor, yakni impor gypsum natural (salah satu material untuk pembuatan semen agar daya rekatnya tinggi). Gypsum tersebut diimpor dari Thailand dan tergantung pada kebutuhan dan musim. Rata-rata pertahun impor dilakukan 2 - 3 kali shipment, yang Menkeu Nomor: 615/PMK.04/2004, dimana jangka waktu impor sementara 12 bulan dan dapat diperpanjang paling banyak dua kali 12 bulan. Sjarkawi, Kasi Kepabeanan dan Cukai I KPBC Tipe B Kotabaru menjelaskan bahwa banyak alat-alat berat dan spare part yang dimasukkan dengan impor umum artinya dengan membayar Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI). Tingginya harga alat-alat berat dan spare part tersebut menyebabkan pemasukan untuk negara menjadi besar. Hal itu bisa dilihat dari terlampauinya target penerimaan bea masuk untuk TA. 2004 yakni 282,56 persen atau sebesar 11.003.104.357 rupiah dari target yang ditetapkan yakni 3.894.096.896 rupiah. Demikian pula untuk target penerimaan bea masuk TA. 2005 sebesar 7.882.914.900 rupiah, telah terealisasi sebesar 17.277.366.000 rupiah (sampai dengan bulan Juni 2005) atau 220,86 persen melampaui target.

kalau dalam satu kali shipment membawa sekitar 7000 - 8000 ton gypsum. Untuk pelaksanaan pengawasan impornya (impor gypsum-red), PT. Indocement menyediakan tempat atau ruang khusus sebagai pos pengawasan untuk petugas bea cukai. Jumlah pegawai tetap di Indosement Tajur ini sekitar 411 pegawai. Namun untuk pegawai yang tidak resmi, jumlahnya mencapai 2000 pegawai yang direkrut dari masyarakat setempat. ifa Sementara itu, ketika ditanya mengenai objek cukai, Harmanto menjelaskan bahwa tidak ada pabrik rokok dibawah pengawasan KPBC Kotabaru, demikian pula dengan MMEA. Pasalnya, masyarakat Kotabaru tergolong masyarakat agamis yang menentang peredaran minuman keras. Sedangkan untuk ilegal loging, pengawasan yang dilakukan KPBC Kotabaru dilaksanakan melalui monitoring pengangkutan kayu antar pulau. Hasil kayu dari daerah Kotabaru banyak dikirim ke luar daerah, terutama ke Jawa dan Bali. KPBC Kotabaru juga melakukan pengawasan antar pulau dengan berkoordinasi bersama Syahbandar dan KP3. Apalagi berkaitan dengan keluarnya Inpres No.4 Tahun 2005 tentang pengawasan antar pulau khususnya ilegal loging, Harmanto menegaskan akan melakukan pengawasan semaksimal mungkin terhadap kemungkinan ilegal loging dengan sarana yang ada.
WARTA BEA CUKAI

PALING BANYAK IMPOR ALAT-ALAT BERAT
Selain impor sementara kapal, kegiatan impor yang paling banyak ditangani KPBC Kotabaru adalah alat-alat berat dan spare part untuk kebutuhan perusahaan pertambangan besar seperti PT. Arutmin, yang dilakukan perusahaan kontraktor PT. THIESS Indonesia. Alat-alat berat tersebut sangat dibutuhkan untuk perluasan areal pertambangan batubara yang banyak terdapat di daerah Satui, Senakin dan Batu Licin. Namun demikian, menurut Redy Bambang S.G, Kasi Perbendaharaan KPBC Tipe B Kotabaru, impor alat-alat berat tersebut sifatnya insidentil. Perusahaan mengimpor alat-alat berat tersebut 2 – 3 tahun sekali. Sebab, alatalat berat yang digunakan untuk pertambangan hanya dipakai untuk jangka waktu 2 - 3 tahun saja. Setelah jangka waktu tersebut, pihak perusahaan (yang mengimpor alat-alat berat-red) mere-ekspor alat-alat berat yang lama ke luar negeri dan mendatangkan alat-alat berat yang baru. Ini sejalan dengan Kep.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

41

DAERAH KE DAERAH
KANTOR BANTU PERLU PERBAIKAN
Sesuai dengan daftar inventaris, secara fisik Kantor Bantu Bea dan Cukai (KB) yang berada dibawah KPBC Kotabaru berada di Batu Licin, sedangkan untuk Pos Pelayanan Bea dan Cukai berada di Pagatan. Namun demikian, kondisi bangunan KB Batu Licin dan Pos Pengawasan Pagatan mengalami kerusakan dan perlu perbaikan. Menurut rencana, tahun depan anggaran rutin pemeliharaan kantor akan dialokasikan untuk perbaikan atau pemeliharaan KB Batulicin dan Pos Pengawasan Pagatan. Sementara itu, kalau ada suatu perusahaan yang melakukan kegiatan ekspor atau impor memerlukan pengawasan petugas bea cukai, maka pihak perusahaan tersebut akan menyediakan tempat atau ruang khusus bagi petugas bea cukai. Seperti pos pengawasan bea cukai di Tanjung Pemancingan yang menumpang pada perusahaan PT. Arutmin Indonesia dan pos pengawasan di Tajur yang menumpang pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa (baca boks: PT. Arutmin Indonesia dan PT. Indocement Tunggal Prakarsa). Redi menambahkan, keberadaan Pos Pengawasan Pagatan dan KB Batu Licin tersebut bermula pada pelayanan antar pulau seperti rotan dan kayu sebelum keluarnya Inpres No.4 Tahun 1985. Namun demikian, pengawasan antar pulau secara insidentil dan bersifat monitoring sampai saat ini masih tetap dijalankan sesuai dengan sifat pengawasan dan ketersediaan personil. Harmanto memprediksi bahwa kegiatan ekspor dan impor di Batulicin akan meningkat di masa yang akan datang. Pertimbangannya, selain Kabupaten Tanah Bumbu (yang membawahi Batulicin-red) merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu juga memiliki sumber daya alam yang beragam sehingga memiliki prospek untuk berkembang dan mampu mengundang investasi asing. Beberapa waktu lalu, Batulicin juga sempat menjadi salah satu dari sebelas daerah yang akan dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET). 24 pegawai dimana untuk pegawai pelaksana, diroling setiap empat bulan sekali. Hal ini untuk penyegaran dan pembinaan pegawai. Berbicara mengenai pembinaan pegawai, Harmanto menjelaskan, “Sebulan sekali kami juga memberikan pengarahan untuk menambah pengetahuan pegawai. Sebulan sekali juga kami melakukan pertemuan dengan instansi lain untuk melakukan koordinasi dan berbagi pengetahuan,” imbuh Harmanto Asep Munandar, Kasi P2 KPBC Tipe B Kotabaru menambahkan, pertemuan dengan instansi lain tersebut sangat penting mengingat keterbatasan sarana pengawasan yang dimiliki KPBC Kotabaru. Koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya itu dikenal dengan istilah KIS (Koordinasi Integrasi Sinkronisasi). Kerjasama dengan pihak pemda setempat memang perlu dilakukan untuk meningkatkan pengawasan. Sebab, terkadang Bea dan Cukai Kotabaru menerima aturan titipan dari pemda setempat, contohnya seperti pengawasan terhadap ekspor batubara. Selain itu, di Kotabaru juga terdapat forum yang disebut Komunitas Intelijen Daerah (KOMINDA) dimana Bea dan Cukai menjadi salah satu anggotanya. Secara rutin KOMINDA melaksanakan pertemuan untuk membahas berbagai masalah strategis yang terjadi di Kabupaten Kotabaru. Selain bekerjasama dengan pemda setempat, Bea dan Cukai Kotabaru juga menjalin kerjasama dengan masyarakat dan pengusaha dengan memberikan WBC/ATS sosialisasi mengenai kepabeanan. “Masyarakat di Kotabaru dan pengguna jasa di Kotabaru sudah cukup paham bagaimana prosedur kegiatan ekspor, tetapi masih kurang memahami prosedur impor, khususnya impor sementara,” kata Redi. Untuk itu, petugas bea cukai secara aktif memberikan pengarahan dan sosialisasi terhadap peraturanperaturan baru, antara lain dengan mengundang para pengguna jasa serta penyebaran pamflet dan brosur yang berisi aturan kepabeanan kepada masyarakat. ifa

RUMAH DINAS
Kendala lain yang dihadapi KPBC Kotabaru adalah masalah rumah dinas yang jumlahnya 10 rumah, dirasa kurang memenuhi kebutuhan pegawai. Tak hanya itu, kondisi kantor pun perlu dilakukan perluasan. Saat ini KPBC Kotabaru berdiri diatas lahan seluas 800 m2 dengan luas bangunan kantor sekitar 400 m2. Karena posisinya yang berada diatas bukit, KPBC Kotabaru tidak memiliki tempat parkir kendaraan roda empat (tempat parkir mobil hanya cukup untuk satu mobil-red). Harmanto menjelaskan, pihaknya sudah mengajukan permintaan untuk penambahan luas dan rehabilitasi kantor seperti penambahan ruangan, aula, tempat parkir untuk mobil dan motor. Tetapi, anggaran yang disetujui hanya untuk perbaikan rumah dinas. Dengan dana sebesar 120 juta rupiah, perbaikan yang dilakukan pun hanya cukup untuk perbaikan atap seluruh rumah dinas saja. Saat ini KPBC Kotabaru didukung oleh

FOTO BERSAMA. Kepala Kantor beserta seluruh pegawai KPBC Tipe B Kotabaru berpose bersama.

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : SIGIT

KPBC TIPE B KENDARI. Dengan wilayah kerja yang luas namun minim sarana, berusaha untuk tetap optimal dalam melakukan pelayanan dan pengawasan

Menatap Masa Depan
Era global adalah sebuah kepastian. Era ini ditandai dengan meningkat pesatnya volume perdagangan internasional. Persaingan antar negara menjadi kian ketat, mengingat pola perdagangan yang makin borderless.

KPBC Kendari

E

ra global merupakan sebuah realitas yang harus direspon dengan cermat oleh bangsa Indonesia. Persaingan dunia yang meningkat menuntut peningkatan kompetensi yang bangsa kita miliki. Era ini menghadirkan dua kemungkinan sekaligus. Tantangan untuk menjadikan kita bangsa yang maju, apabila kita siap menghadapinya, sekaligus ancaman untuk memperburuk perekonomian kita, bila industri kita tak mampu bersaing. Di era global, kepentingan bisnis akan sangat ditentukan oleh Administrasi Pabean, termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Intensitas perdagangan yang meningkat akan meramaikan pertumbuhan perekonomian. Menjadi tugas Bea dan Cukai untuk memfasilitasinya, yaitu dengan memeperlancar arus barang tersebut. Fungsi customs sebagai trade facilitator lebih menonjol di sini.

Namun, melihat peta perdagangan internasional secara makro, tidaklah akan sedasyat bila kita melihatnya secara mikro. Seiring dengan tidak meratanya persebaran industri, tidak merata pula persebaran pintu perdagangan internasional di tanah air kita. Dan menjadi tidak merata pula pertumbuhan perekonomiannya. Termasuk di Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.

SEKILAS KPBC KENDARI
KPBC Kendari berubah status dari tipe C menjadi tipe B sejak tahun 2001. Wilayah kerjanya mencakup seluruh Provinsi Sulawesi Tenggara minus Pomalaa yang berdiri KPBC sendiri. Untuk menjalankan fungsinya, KPBC Kendari memiliki 1 Kantor Bantu di Bau-Bau (Buton), dan 9 Pos Bea dan Cukai, masing-masing di Raha, Banabungi, Wanci, Sikeli, Ereke, Wawonii, Lasolo, Pelabuhan Udara

Woltermonginsidi, dan Pelabuhan Laut Nusantara Kendari. Volume kerja di KPBC Kendari relatif rendah. Tercatat sampai tengah tahun 2005 ini saja baru 14 PIB dan 38 PEB yang diajukan. Atau rata-rata 2 PIB dan 6 PEB per bulan. Itupun hanya berasal dari 5 importir dan 11 eksportir. Meskipun demikian, target penerimaan untuk tahun 2005 telah tercapai sejak bulan April yang lalu. Sampai dengan bulan April, sudah terkumpul penerimaan sebesar Rp 3.384.435.303,00, padahal target yang ditetapkan hanyalah sebesar Rp. 1.032.190.000,00. Hal ini tidak lain karena adanya importasi gula untuk Sulawesi Tenggara. Namun, sebagaimana kita ketahui, fungsi Bea dan Cukai belum tentu optimal meski target penerimaan telah tercapai. Tercapainya target penerimaan menjadi salah satu indikator saja.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

43

DAERAH KE DAERAH
FOTO : SIGIT FOTO : SIGIT

PARA PEGAWAI. Jumlah pegawai yang cukup minim, memungkinkan seluruh pegawai kumandah bergiliran ke kantor bantu dan pos-pos yang ada.

PELABUHAN LAUT NUSANTARA KENDARI. Di pelabuhan laut yang cukup besar sarana pengawasan masih kurang memadai.

Dari sisi pelayanan, KPBC Kendari memang hanya melayani kegiatan pabean saja. Kegiatan pabean tersebut hanya melalui laut, belum termasuk barang via pos. Dari kegiatan cukai, sampai saat ini belum ada pengusaha

Barang Kena Cukai yang wajib membayar cukai. Yang ada hanya tempat penjualan saja. Berbeda dari sisi pelayanan (dalam arti yang lazim), pengawasan yang menjadi tanggung jawab KPBC Kendari

merupakan tantangan yang besar. Wilayah kerja yang luas, sayangnya tidak diimbangi dengan jumlah SDM dan sarana yang memadai (selengkapnya lihat di Kendala yang Dihadapi)

PROPINSI SULAWESI TENGGARA

KENDALA YANG DIHADAPI
1. Dengan jumlahnya yang sedikit, komoditi dalam transaksi ekspor impor di Kendari belum lah beragam. Selama 2005 ini, selain gula, barang impor lainnya hanyalah spare parts kapal dan peralatan industri, sedang komoditi ekspor hanya berasal dari hasil laut saja. 2. Keberadaan importir dan eksportir di Kendari dan Sulawesi Tenggara sangat minim. Dari 11 eksportir sebagaimana di atas, hanya 4 yang berasal dari Kendari, itupun 2 di antaranya adalah branch dari perusahaan di Jakarta. Ditambah 1 di Unaaha dan 2 di Bau-Bau, berarti hanya 7 eksportir dari Sulawesi Tenggara, yang keseluruhannya bergerak di bidang hasil laut. Belum lagi adanya pelaku usaha yang belum mengerti prosedur kepabeanan, sehingga azas self assessment untuk pemberitahuan pabean belum dapat diterapkan sepenuhnya. 3. Wilayah pengawasan yang sangat luas memunculkan kemungkinan terjadinya penyimpangan Undangundang yang terbuka lebar, seperti penyelundupan ataupun illegal loging. Belum lagi untuk

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

s

Kendari

menghadapi wilayah seperti Wanci yang oknum masyarakatnya terkenal ganas. 4. Keterbatasan SDM untuk melakukan pengawasan. Sampai saat ini KPBC Kendari terdiri dari 20 orang pegawai dan 3 calon pegawai. Selama ini tugas pengawasan dijalankan melalui kumandah bergilir ke Kantor Bantu dan Pos-pos yang ada (tidak semua pos, karena tidak semua terdapat bangunan posnya). Namun terlihat belum optimal karena tiap lokasi hanya ditempatkan maksimal 2 (seringnya 1) petugas saja, mengingat letak, medan, dan sarana kumandah yang sangat terbatas. 5. Sarana yang dimiliki juga terbatas. Selain tidak semua pos terdapat bangunan, KPBC Kendari juga hanya memiliki satu buah motor boat kecil yang sudah lama tidak digunakan. Padahal dengan wilayah pengawasan yang sebagian besar di laut, keberadaan kapal patroli yang layak merupakan sebuah konsekuensi. Apalagi untuk melaksanakan Inpres No. 4 tahun 2005 tentang penebangan kayu illegal yakni mengawasi lalu lintas kayu dalam daerah pabean.

lainnya di Sulawesi Tenggara. Sebagai ibukota provinsi, Kendari memang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan. Visinya, yang merupakan visi provinsi, adalah Sultra Raya 2020, yakni menjadikan Kendari kota dalam taman. Program yang dicanangkan adalah Stelseel Masyarakat Sejahtera (SMS). Setelah menetapkan 2004 sebagai tahun investasi, Kendari bersiap menjadi tuan rumah MTQ Nasional di tahun 2006. Proyek-proyek prestisius pun direncanakan. Dari revitalisasi kawasan Kota Lama, pendirian bangunan super megah untuk pelaksanaan MTQ, sampai pembangunan bandara internasional Kendari. Pembangunan Kendari sebagai ibukota, merupakan bagian integral dari pembangunan Sulawesi Tenggara. Meskipun masih dikritik dari berbagai pihak, keinginan Pemprov Sulawesi Tenggara untuk membangun, merupakan sebuah goodwill yang patut kita hargai. Dengan segenap potensi kekayaan alam, baik hutan maupun laut, pertanian, perkebunan, kerajinan, dan lainnya, Kendari dan Sulawesi Tenggara pada umumnya seharusnya memiliki tingkat perekonomian yang

tinggi. Saat ini yang diperlukan adalah mengundang investor untuk menanamkan modalnya dan tentu saja menggerakkan perekonomian rakyat semaksimal mungkin, melalui pemberian kredit, pembinaan dan lain sebagainya. Bergeraknya Kendari dan Sulawesi Tenggara dalam pembangunan, menjadi sebuah harapan besar bagi KPBC Kendari untuk dapat melaksanakan fungsinya secara optimal di masa yang akan datang. Hal ini mengandung konsekuensi akan perlunya keberadaan SDM yang profesional (kompeten) dan berintegritas tinggi. Secara makro, mungkin pemerintah pusat perlu mencontoh China yang menumbuhkan industri di 8 wilayahnya, dengan tiap bagian itu disediakan sewa lahan yang murah dan fasilitas listrik gratis. Sehingga penyebaran industri di negara kita merata, yang berujung pada tingkat perekonomian dan kesejahteraan yang merata pula. Dan Indonesian Customs pun memperoleh kesempatan yang layak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa DJBC mampu berdiri sejajar dengan Customs negara lain.

Darmawan Sigit Pranoto, Pelaksana pada KPBC Tipe B Kendari Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis
FOTO : SIGIT

TANTANGAN KE DEPAN
Kota Kendari terletak di sepanjang Teluk Kendari, dan dikelilingi oleh hutan yang hijau. Dengan keindahannya itu, Kendari menyimpan sejuta potensi. Dari keberadaan Teluk Kendari saja, dapat diambil beragam manfaat. Keindahan Teluk Kendari yang kesohor merupakan potensi wisata yang sangat bernilai. Kekayaan laut yang dikandungnya adalah potensi industri perikanan yang dapat diandalkan untuk ekspor. Dengan pelabuhan laut yang dikembangkan, sarana transportasi dapat pula turut berkembang. Dari hutan yang ada, terbuka peluang untuk pemanfaatan hasil hutan yang besar dan bernilai ekspor. Termasuk di dalamnya industri kerajinan kayu yang keberadaannya sekarang sudah lumayan. Meski diakui bermutu internasional, sampai saat ini belum ada yang tergerak untuk mengekspornya. Belum lagi potensi dari pertanian dan perkebunan. Kendari, dan juga Sulawesi Tenggara pada umumnya, adalah penghasil mete yang besar. Namun belum ditopang oleh industri setempat yang dapat mengelola dengan baik sehingga layak ekspor. Padahal kita tahu mete banyak dikonsumsi masyarakat dunia. Selain mete ada juga coklat, kopi, dan lainnya, yang semuanya juga belum terkelola dengan baik. Itu potensi dari Kendari yang secara umum mewakili beragam potensi

BUNDARAN MANDONGA. Merupakan pusat kota Kendari yang memiliki potensi wisata cukup besar. EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

45

RUANG INTERAKSI

Oleh: Ratna Sugeng

Kesalahpahaman
Kesalahpahaman hal yang amat sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di tempat kerja, di rumah, di masyarakat luas. Meski manusia mengklaim dirinya berkomunikasi dari bangun tidur sampai tidur lagi, namun kesalahpahaman tetap menjadi atribut sehari-hari. Kesalahpahaman sumber peperangan dan penyebab perceraian. Kesalahpahaman terjadi jika kita pikir kita memahami tetapi sebenarnya tidak, apalagi jika bahasanya berbeda dan antar planet pula, seperti kata John Gray, perempuan dari Venus dan laki-laki dari Mars.

S

PERBEDAAN KERANGKA PIKIR

etiap orang dibesarkan dengan cara yang berbeda, karena itu kerangka pikirnya berbeda pula. Kalau kembali kepada perbedaan perempuan dan laki-laki, Deborah Tannen dalam You Just Don’t Understand, mengatakan bahwa laki-laki lebih dididik untuk mandiri dan perempuan diasuh dalam tatacara untuk memelihara relasi. Nampak dalam kehidupan seharihari saat laki-laki menghadapi kesulitan ia akan mengutak-atiknya lebih dahulu sampai ia memang tak dapat melakukannya, sementara jika anak perempuan mengalami kesulitan, ayahnya akan mendekat dan membantunya. Seorang perempuan berlari memohon bantuan melalui hubungan antar manusia, seorang lakilaki mencoba mengatasinya sendiri. Perempuan tak pernah malu meminta pertolongan, laki-laki merasa malu minta tolong. Kebanyakan laki-laki dibesarkan dengan cara langsung menuju tujuan yang menghasilkan seperti mencari uang, dan dengan sedikit hal yang mempengaruhi tujuan langsungnya. Jadi semacam menggiring ke dalam lorong searah, fokus pada gol, tak banyak menoleh. Menurut Jay Carter dalam Nasty Men, laki-laki seperti kesebelasan bermain bola, ia bekerja untuk memasukkan bola ke gawang. Perempuan diasuh dengan cara meletakkan orang sebelum bola menuju gawang. Perempuan sangat memikirkan orang demi orang agar permainan dapat cantik dan bola menuju ke gawang. Didalam keluarga dan organisasi perbedaan ini sering menimbulkan
WARTA BEA CUKAI

konflik. Seorang pemimpin laki-laki, atau seorang suami pikirannya terpusat pada gol, sehingga setiap orang yang berada pada jalan perlintasannya akan bersama diprosesnya menuju goal dan tak peduli apa perasaan mereka. Sementara perempuan jika melakukan proses, seringkali pikirannya turut diramaikan oleh hal-hal lain dijalur utamanya. Jadi ketika seorang laki-laki sedang memproses pekerjaan, maka yang ia lihat hanyalah tujuan akhir tanpa menoleh manusia yang mengikuti prosesnya, dan ia akan bingung ketika perempuan mengeluh tentang

JIKA ATASAN ANDA SEORANG LAKILAKI, MAKA GOAL ORIENTED LEBIH DISUKAI DARIPADA PROSES
kesertaan mereka membereskan banyak hal yang berserakan dari pekerjaan tersebut, tak mendapat penghargaan, seperti membereskan file, pesan tempat pertemuan dan sebagainya.

sampai ke rumah kembali, Windo melihat gelagat yang tidak menyenangkan dari istrinya, yang segera menunjukkan suatu daftar panjang ketidak beresan seperti kaus kaki yang tergeletak di lantai, sajadah yang diletakkan di sofa, handuk yang tergantung digantungan baju kamar (yang tadi pagi tak jadi masalah bagi keduanya). Windo segera mengambil solusi, seperti biasanya laki-laki lebih cekatan dengan mengambil solusi, membereskan semua hal yang berantakan. Ia bingung mengapa Windy menjadi memasalahkan hal tersebut, sementara diantara mereka tak ada masalah apapun yang terjadi dari berangkat kantor sampai pulang. Menurut Jay Carter, laki-laki modus utama komunikasinya adalah melalui kata-kata, maka ia mendengarkan kalimat yang mengalir dari mulut isterinya tanpa memaknai perasaan Windy. Windo bahkan tak memperhatikan perasaan Windy, dan ini membuat Windy makin marah, serta membuat Windo makin jauh.

SISI PANDANG PEREMPUAN
Seorang perempuan senantiasa melibatkan perasaan dalam komunikasinya, jadi dalam menjalin relasi maka konversasi diiringi perasaan, baik di kantor maupun di rumah. Sementara seperti telah dikatakan diatas laki-laki kurang memperhatikan perasaan, dengan demikian perempuan tak punya banyak kesempatan berbicara pada laki-laki tentang perasaannya. Sehingga perempuan seringkali merasa diabaikan. Sedikit pemahaman akan perasaan satu sama lain akan banyak membantu

SISI PANDANG LAKI-LAKI
Windo dan Windy, pasangan suamiistri, keduanya bekerja. Pagi itu mereka berangkat dengan riang, Windy menyediakan semua yang harus dibawa dalam perjalanan ke kantor. Berkas kantor suaminya dan berkasnya sendiri. Mereka bekerja di kantor yang berbeda. Malam hari ketika mereka

46

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

mengatasi kesenjangan ini, seperti sapaan tentang bagaimana keadaanmu hari ini. Jika laki-laki makhluk yang goal directed, maka duduklah bersama dan bicarakan perempuan mempunyai kesempatan masuk di dalam jadwal harian, misalnya berbicara mengenai pembenahan atau pengaturan rumah atau kantor.

...PEREMPUAN MELONTARKAN EMPATI, LAKI-LAKI MEMBERIKAN SOLUSI
hal yang baik untuk memudahkan mencapai goal, seberat apapun perjalanan. Bagi laki-laki, kata mempunyai beribu arti yang dapat membakar otaknya untuk merespon. Rasa percaya diri laki-laki sangat dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan mitranya tentang dirinya. Citra dirinya lebih banyak ditopang oleh apa yang dikatakan orang yang ia ‘miliki’. Perempuan jika ingin perasaannya didengar, maka ia perlu mengatakan, ”Saya akan menceriterakan perasaan saya. Ini perlu bagi saya, saya tidak berharap anda melakukan apapun tentang itu“. Sebaiknya perempuan perlu memahami laki-laki dengan tidak mengambil alih perasaannya, jika seorang laki-laki berbicara tentang perasaan, dengarkan saja, jangan berasumsi anda tahu selalu lebih tahu perasaannya daripada dirinya.

daripada perjalanan. Bagi perempuan perjalanan seringkali menjadi penting, proses baginya sangat berarti. Jika dikombinasikan merupakan hal yang indah, perempuan menikmati proses perjalanan dan laki-laki dapat diimbas kesenangan menikmati perjalanan. Ketika sampai tujuan laki-laki akan relaksasi dan melepas ketegangan.

KOMUNIKASI
Perempuan diasuh oleh budaya untuk mengetahui perasaannya dan membangun intuisinya. Perempuan akan merasa nyaman memulai pembicaraan dengan saling berbagi pengalaman. Sebaliknya lelaki, sedikit sekali berbicara tentang perasaan, kalau boleh dikatakan tak usah dibicarakan, bagi mereka berbicara yang nyata ada sekarang seperti sport lebih memberikan arti. Bila seorang perempuan berbicara dengan perempuan, ia akan memperhatikan perasaan orang itu, lebih daripada orang laki-laki memperhatikan. Ketika ia mengatakan, ”Saya bingung bagaimana menyelesaikan seluruh tagihan pengeluaran bulan ini”, maka perempuan lain akan berespon, “Hmm…. bulan yang sedang banyak pengeluaran ya, saya juga lagi berat”. Mungkin respon laki-laki, ”Baik, saya punya sekian, kalau kau mau pinjam dulu, bulan depan kembalikan”. Bedanya adalah perempuan melontarkan empati, laki-laki memberikan solusi. Sejak dahulu, entah mulai kapan, laki-laki senantiasa berjalan lebih banyak dengan mengatasi masalah dengan menyisihkan perasaan. Suatu

BAGAIMANA BEKERJA BERDAMPINGAN
Jika bos anda seorang perempuan, maka anda perlu belajar bagaimana memproses dengan baik setiap pekerjaan sesuai visi dan misi organisasi. Maka rapikanlah setiap lini proses, pekerjaan yang rapi akan mengesankan anda memperhatikan sisi empati seorang perempuan. Jika atasan anda seorang laki-laki, maka goal oriented lebih disukai daripada proses. Mungkin ketika berproses dengan susah payah anda merasa tak dihargai, namun ketika hasil akhirnya berjaya, maka anda akan mendapat penghargaan karena kelegaannya. Bila pengikut anda sebagian barisan perempuan yang tahu benar visi-misi organisasi, dan nakhodanya laki-laki, pekerjaan akan tampak rapih dari sisi proses, dan memuaskan dalam pencapaian gol. Perlu diingat, ulasan diatas merupakan sisi laki-laki dan sisi perempuan tanpa memandang bahwa perempuan mempunyai sisi laki-laki dan laki-laki mempunyai sisi perempuan. Beberapa laki-laki ditempat kerja saya mempunyai sisi feminitas, dalam arti memahami perasaan seseorang, lebih besar daripada perempuan sendiri. Bagaimana ditempat anda?

MOTIVASI
Prioritas tertinggi bagi lak-laki adalah keinginan untuk bebas, yang kedua baru relasi atau kedekatan. Sementara buat perempuan, prioritas tertinggi adalah relasi dengan intimasi, dan mandiri pada posisi kedua. Karena laki-laki goal oriented, maka sampai tujuan baginya lebih penting

KESALAHPAHAMAN. Hal yang amat sangat sering terjadi antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari. EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

47

PPKC

Mengenal Lebih Dekat

WAJAH BARU
(http://www.beacukai.go.id)
(BAGIAN II)
FITUR WEBSITE
Home Merupakan tampilan awal website (index), anda dapat segera melihat perbedaannya melalui desain baru yang lebih menarik serta tampilan warna yang lebih sejuk dipandang mata.

WEBSITE RESMI DJBC
Melanjutkan tulisan mengenai website baru DJBC yang ditulis oleh Ir. Agus Sudarmadi M.Sc, Kasubdit Penerimaan dan Faldi Jazztra A Pelaksana, pada Direktorat PPKC, tulisan kali ini A, mengangkat mengenai fitur-fitur yang terdapat dalam website baru DJBC. Dan pada edisi mendatang akan diangkat mengenai data statistik pengunjung situs DJBC dan e-mail DJBC.

GAMBAR 4. Tampilan halaman Tentang Kami

GAMBAR 3. Tampilan Halaman Home
Tentang kami Berisi tentang profil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, tugas fungsi, visi, misi, logo, kode etik, logo, mars, alamat kantor-kantor DJBC dan perwakilannya di luar negeri (berdasarkan update terakhir). Berita Berisi dua jenis pemberitaan yaitu berita dari DJBC dan berita dari surat kabar. Terima Kasih kepada teman-teman di Warta Bea dan Cukai yang telah membantu dalam memberikan materi pemberitaan yang terkini seputar kegiatan DJBC untuk mengisi kolom berita dari DJBC disamping berita lainnya yang diangkat dari surat kabar yang beredar di Jakarta untuk bagian berita dari surat kabar. 48
WARTA BEA CUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

GAMBAR 5. Tampilan Halaman Berita

mengenai hasil registrasi akan dapat dipantau oleh si pendaftar secara real time melalui website ini pada menu status registrasi, paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya formulir isian secara lengkap dan benar. Di perkenalkan pertama kali pada tahun 2002, aplikasi ini merupakan pelopor e-services di website DJBC dan suatu bentuk baru dari pada transparansi dan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan DJBC.

GAMBAR 6. Tampilan Halaman Pustaka DJBC
Pustaka DJBC Berisi lima kategori yaitu Peraturan, Prosedur tentang berbagai jenis kegiatan terkait, Leaflet, majalah Warta Bea dan Cukai (versi online), Galeri foto, dan info terkini. Cukai Sesuai dengan permintaan dan saran dari berbagai pihak pada website baru ini ditampilkan menu tersendiri untuk permasalahan cukai. Berisi dua buah sub menu yaitu untuk menampilkan data mengenai NPPBKC dan Merk serta data lainnnya seputar permasalahan cukai.

GAMBAR 8. Tampilan Aplikasi Registrasi Importir
Aplikasi Keberatan dan Banding Aplikasi ini dibuat dengan maksud untuk mempermudah dan meningkatkan pelayanan DJBC khususnya di bidang Pelayanan atas pengajuan Keberatan dan Banding. Pada aplikasi ini permohonan akan langsung diajukan oleh KPBC melalui jaringan yang terhubung ke Kantor Pusat DJBC, yang kemudian akan diproses oleh sistem Keberatan dan Banding. Dalam aplikasi ini si pemohon, akan dapat melihat status pergerakan dokumen keberatan yang diajukan, dengan terlebih dahulu mengisikan data SPKPBM, tanggal/bulan/ tahun, dan Kantor tempat pengajuan dilakukan. Sebagai perwujudan transparansi dan akuntabilitas pelayanan DJBC, anda juga akan dapat melihat nama dan NIP pegawai/pejabat DJBC yang sedang memproses dokumen tersebut serta waktu pemrosesannya. Aplikasi ini juga nantinya akan dapat dimanfaatkan oleh

GAMBAR 7. Tampilan Halaman Cukai
E-Services Sebagai salah satu menu unggulan website baru DJBC, menu e-services ini terdiri dari: Aplikasi Registrasi Importir Aplikasi ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui bahwa importir yang akan dilayani oleh Direktorat Jenderal telah memenuhi persyaratan untuk dapat melakukan kegiatan kepabeanan di bidang impor. Pada aplikasi ini importir yang belum terdaftar dapat mengajukan permohonan secara online, yang kemudian akan mendapatkan Tanda Terima setelah proses pengisian formulir online selesai yang kemudian akan diproses oleh tim registrasi. Keputusan

GAMBAR 9. Tampilan Aplikasi Keberatan dan Banding
EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

49

PPKC
KPBC terkait untuk melihat status keberatan dan banding perusahaan yang mengajukan melalui kantor tersebut, hal ini dilakukan dalam kaitannya dengan proses selanjutnya setelah keluarnya keputusan mengenai suatu pengajuan. Aplikasi Importasi Mobil Aplikasi ini dibuat agar publik dapat mengetahui dan melihat secara langsung data dan pergerakan importasi kendaraan bermotor, khususnya mobil, yang masuk ke Indonesia melalui kantor-kantor Pelayanan DJBC di seluruh Indonesia. Pada aplikasi ini anda akan dapat melihat Jenis kendaraan, KPBC tempat pemasukan, dokumen pemasukan, nomor rangka, pre number, importir dan data-data lainnya, sehingga masyarakat akan benar-benar mengetahui kegiatan importasi mobil yang terjadi di Indonesia. ada. Status dan hasil pengajuan anda dapat terus anda pantau melalui website ini pada menu hasil PKSI tentunya setelah anda melakukan login dengan menggunakan NPWP dan SRP anda. Hasil dari aplikasi ini nantinya juga akan bermanfaat bagi Subdit Keberatan dan Banding dalam melakukan tugas dan fungsi mereka, khususnya dalam melihat history penetapan yang pernah ditetapkan. Dengan keberadaan aplikasi ini diharapkan DJBC akan dapat memberikan dan mempermudah pelayanan PKSI, bagi semua pengguna jasa dimanapun mereka berada. Aplikasi Tarif Bea Masuk Indonesia Aplikasi ini dibuat dengan maksud untuk mempermudah dan meningkatkan pelayanan DJBC khususnya di bidang pelayanan Tarif Bea Masuk Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai e-BTBMI. Aplikasi terintegrasi ini akan dapat mempermudah dan mempercepat anda dalam mencari dan menentukan tarif suatu jenis barang, anda tinggal mengetikkan kata kunci barang yang anda cari tarifnya maka dalam beberapa saat maka anda akan mendapatkan apa yang anda cari. Karena sifatnya yang terupdate secara otomatis (real time) dan pengklasifikasian yang langsung memisahkan antara barang berbahasa Inggris dan Indonesia anda tidak perlu khawatir lagi mengenai keabsahan data tersebut. Dengan keberadaan aplikasi-aplikasi e-services ini diharapkan berbagai kegiatan pelayanan DJBC akan mendapatkan dukungan yang maksimal dari pihak terkait dalam usahanya mewujudkan dan meningkatkan pelayanan yang cepat, tepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

GAMBAR 10. Tampilan Aplikasi Importasi Mobil
Aplikasi PKSI Aplikasi ini dibuat dengan maksud untuk mempermudah dan meningkatkan pelayanan DJBC khususnya di bidang Penetapan Klasifikasi Sebelum Importasi (PKSI)/Pre Entry Classification. Pada aplikasi ini anda dapat melakukan pengajuan PKSI dengan terlebih dahulu melakukan login dengan memasukkan nomor NPWP dan SRP perusahaan anda. Kemudian anda dapat melakukan pengajuan dengan memasukkan data-data sesuai dengan formulir isian yang

GAMBAR 12. Tampilan Aplikasi BTBMI
Kurs Mata Uang Berisi materi Kurs mingguan yang digunakan sebagai nilai kurs dasar penghitungan pengenaan Bea Masuk. Download Berisi dua sub menu yaitu download umum yang dikelola oleh Dit. PPKC dan download aplikasi kepabeanan dan cukai yang berisi materi download dari Dit. IKC. Forum Diskusi Berisi dua sub menu yaitu Forum Diskusi dan mailing list DJBC. Forum Diskusi DJBC Forum ini dibuat dengan maksud untuk menjadi wadah komunikasi dan pertukaran informasi mengenai berbagai permasalahan di bidang kepabeanan dan cukai. Dengan

GAMBAR 11. Tampilan Aplikasi PKSI
50
WARTA BEA CUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

Selain itu forum DJBC ini dapat juga dimanfaatkan sebagai media bagi para pejabat dan pegawai DJBC untuk mengetahui saran, kritik, maupun permasalahan yang sekiranya perlu mendapatkan tindakan atau menjadi bahan pemikiran dalam menentukan kebijakan di masa yang akan datang. Keberadaan forum ini cukup mendapatkan respon yang positif dari masyarakat, hal ini terbukti dimana hingga saat ini forum DJBC telah beranggotakan 1413 orang yang cukup aktif dalam melakukan komunikasi dan pertukaran informasi melalui forum ini. Mailing List DJBC Mailing List DJBC dibuat dengan maksud sebagai salah satu media dalam pertukaran informasi dan komunikasi dengan memanfaatkan fasilitas email masing-masing anggota. Dengan mendaftarkan diri pada mailing list (baca: milis) DJBC maka anda akan mendapatkan informasi dan permasalahan terbaru seputar kepabeanan dan cukai di mana anda dapat melakukan interaksi dengan ikut serta dalam memberikan sumbangan ide atau pemikiran mengenai permasalahan yang sedang terjadi. Laporan Tahunan Berisi materi data-data statistik kegiatan yang berhubungan dengan kepabeanan dan cukai.

GAMBAR 13. Tampilan Halaman Kurs Mata Uang

GAMBAR 14. Tampilan Halaman download
berbagai bidang permasalahan yang lengkap dan terkini forum diskusi ini menjadi media yang efekif dalam menjembatani komunikasi dan pertukaran informasi yang terjadi baik antar masyarakat usaha dengan masyarakat usaha, masyarakat usaha dan pegawai DJBC maupun antar pegawai DJBC itu sendiri.

GAMBAR 16. Tampilan Halaman Laporan Tahunan
Poling Berisi materi poling baik yang pernah atau sedang dilakukan oleh DJBC melalui website, sebagai media untuk

GAMBAR 15. Tampilan Halaman Forum

GAMBAR 17. Tampilan Halaman Poling
EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

51

PPKC
melihat tanggapan masyarakat terhadap suatu kebijakan atau hal yang dianggap perlu oleh DJBC. Pada menu poling ini juga dilengkapi dengan fitur komentar sehingga anda dapat mengirimkan pendapat anda mengenai suatu hal yang sedang dipolingkan. Link Berisi sub menu link-link menuju ke website organisasi regional, internasional, PBB, organisasi lainnya, dan pada menu ini terdapat penambahan sub menu baru yaitu link menuju situs departemen-departemen RI lainnya.

Gambar19. Tampilan Halaman Hubungi DJBC
Pada menu ini berisi halaman dimana anda dapat mengajukan pertanyaan dan saran serta kritik seputar permasalahan yang anda hadapi langsung kepada unit kerja terkait, khususnya unit kerja yang terdapat pada Kantor Pusat DJBC. Anda akan dapat melihat unit-unit kerja/subdirektoratsubdirektorat yang terdapat pada direktorat-direktorat terkait dan penjelasan tentang jenis permasalahan yang dapat anda sampaikan pada unit/subdit tersebut beserta dan melalui alamat email mereka. Dengan adanya fitur ini, merupakan suatu terobosan baru dalam sistem informasi DJBC khususnya dalam pemanfaatan teknologi informasi guna menunjang pelaksanaan pelayanan dan pemberian informasi kepada masyarakat, dimana masyarakat dapat secara langsung menyampaikan permasalahan mereka kepada pihak yang berhubungan langsung dengan hal tersebut. FAQ (Frequently Asked Question) Pada menu ini anda dapat melihat pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan dan jawaban dari pertanyaanpertanyaan tersebut. Search engine Menggunakan teknologi yang didukung oleh google (www.google.com) sebagai salah satu situs pencari paling populer saat ini, search engine ini juga dilengkapi beberapa menu kriteria pencarian sehingga akan semakin mempermudah anda dalam melakukan pencarian di website ini. Ir. Agus Sudarmadi M.Sc dan Faldi Jazztra A
(B E R S A M B U N G)

GAMBAR 18. Tampilan Halaman Link
Email Berisi sub menu webmail DJBC dan Daftar Email DJBC. Pada sub menu webmail anda akan diantarkan menuju ke halaman webmail DJBC, dimana anda dapat melakukan login dengan menggunakan user name dan password yang diberikan dan dapat anda ubah sesuai dengan keinginan anda. Webmail ini dipersiapkan untuk semua pegawai DJBC yang ingin memiliki email account dengan domain beacukai.go.id sebagai corporate identity masing-masing pegawai. Sedangkan pada sub menu daftar email DJBC berisi daftar email yang dimiliki oleh unit-unit kerja yang ada di DJBC.

GAMBAR 19. http://mail.beacukai.go.id
Hubungi DJBC Fitur ini dibuat dengan maksud untuk mempermudah dan mengelompokkan pertanyaan, kritik, dan saran seputar permasalahan yang berhubungan dengan DJBC agar dapat secara langsung ditujukan dan mendapatkan jawaban atau respon dari unit-unit kerja terkait dengan permasalahan tersebut. 52
WARTA BEA CUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

GAMBAR 20. Tampilan Search Engine

PERISTIWA

RAPBN Tahun 2006,

SEKTOR PAJAK
Akan Mengalami Kenaikan
ntuk memberikan kejelasan tentang tentang RAPBN 2006 yang telah dibacakan Presiden di hadapan DPR, bertempat di Graha Sawala Departemen Keuangan (Depkeu), pada 16 Agustus 2005 diadakan jumpa pers oleh beberapa Menteri terkait, seperti Menkeu Jusuf Anwar, Menko Ekuin Aburizal Bakrie, Kepala Bappenas Sri Mulyani, Menteri ESDM Poernomo Yusgiantoro, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menhub Hatta Rajasa, Menristek Kusmayanto Kadiman, Meneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, dan Meneg BUMN Sugiharto. Pada RAPBN 2006 telah ditetapkan tujuh prioritas pembangunan, yaitu penanggulangan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan, peningkatan kesempatan kerja, investasi dan ekspor, revitalisasi pertanian dan kesehatan, peningkatan aksesibilitas dan kuantitas pendidikan dan kesehatan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi, penguatan kemampuan pertahanan, pemantapan keamanan, ketertiban serta penyelesaian konfik, dan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias. Dengan prioritas ini maka sektor pendidikan mendapat alokasi anggaran terbesar yang disusul dengan sektor kesehatan. Selain itu RAPBN 2006 yang disusun dalam rangka menjaga kesinambungan fiskal agar defisit APBN tetap berada dalam tren penurunan, sehingga memungkinkan rasio utang pemerintah terus mengalami penurunan. Dengan defisit yang direncanakan sebesar 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan tahun 2005 mencapai 1 persen, maka diharapkan rasio utang pemerintah mengalami penurunan dari 49,1 persen dari PDB akhir tahun 2005 menjadi 42,8 persen pada akhir tahun 2006. Selain itu target kesinambungan fiskal dilakukan dengan peningkatan pajak nonmigas, dari 11,3 persen (2005) menjadi 12,5 persen pada RAPBN 2006. Sehingga pemerintah mengharapkan sektor perpajakan, termasuk cukai dan bea

Untuk pertama kalinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2005 di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam pidato tersebut Presiden mengatakan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2006 sebesar Rp 559,3 triliun, sementara penerimaan sebesar Rp 539 triliun. Sehingga ada kenaikan dari realisasi RAPBNP 2005 yang ditetapkan sebesar Rp 542,4 triliun.

U

PAJAK DIGENJOT. Dengan adanya defisit 0,7 persen dari PDB, maka RAPBN tahun 2006 akan menggenjot sektor pajak sebagai tulang punggung penerimaan.

masuk, mampu menyumbang Rp 402 triliun, sementara di tahun 2005 penerimaan dari sektor tersebut diperkirakan mencapai Rp 347 triliun. Hal ini dikarenakan peningkatan rasio pajak non-migas telah memperhitungkan kemungkinan dampak dari implementasi paket UU pajak dan Pabean yang akan disampaikan segera ke DPR. Sementara itu, Menkeu menyatakan disektor penerimaan pajak, khususnya pajak perdagangan internasional (bea masuk) dan cukai, pada tahun 2006 nanti akan ada kenaikan, yaitu dari Rp16.012,7 triliun pada RAPBNP 2005 untuk bea masuk, menjadi Rp 17.044,8 triliun di tahun 2006. Sedangkan cukai dari Rp 33.387,9 triliun pada RAPBNP 2005, menjadi Rp 36.058,0 triliun di tahun 2006. Penambahan ini tentunya juga akan didukung dengan adanya amandemen UU Kepabeanan dan Cukai, seperti perluasan cakupan pengertian penyelundupan dan pemberatan sanksi, penambahan jumlah barang yang mendapatkan pembebasan, serta perluasan objek cukai dan penyesuaian tarif cukai.

Di sektor migas sendiri Menteri ESDM mengatakan, dalam kurun waktu 2002 hingga 2003 harga rata-rata minyak WTI (West Texas Intermediate) adalah US$28 per barel, ditahun 2003 harga minyak mentah mulai melonjak dan hingga Agustus 2005 ini telah mencapai US$ 54 per barel. Penyebab utamanya adalah pertumbuhan ekonomi dunia yang besar sehingga terjadi lonjakan peningkatan permintaan minyak dunia yang luar biasa tinggi. Di samping itu makin terbatasnya kapasitas cadangan produksi minyak mentah OPEC serta kapasitas cadangan kilang-kilang dunia, menimbulkan persepsi kecemasan akan terhambatnya suplai bila terjadi suatu kerawanan geopolitik di negara produsen minyak. Sehingga faktor kecemasan di tahun 2005 ini menjadi lebih besar, akibatnya harga tetap bertahan lebih tinggi mencapai US$ 67 per barel. Dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian anggaran (prudent budgeting), maka pemerintah mengusulkan harga minyak Indonesia sebesar US$ 40 per barel untuk tahun 2006. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

53

PERISTIWA

Kosatgas di BNN
Program jangka pendek yang harus dikerjakan adalah penyediaan peralatan yang mendukung untuk mendeteksi narkoba yang masuk, baik melalui pintu pelabuhan laut dan udara,.

BEA DAN CUKAI ISI JABATAN

D

yang masih segar dalam ingatan, bidang permasalahan prekusor irektorat Jenderal Bea dan pabrik ekstasi di Tangerang, kasus untuk Kosatgas III, sedangkan Cukai, kini menempatkan salah produksi gelap ekstasi di Bojong Kosatgas V membidangi tugas yang satu personilnya di Jaipong Bogor, kasus peracik shabu berkaitan dengan koordinasi kepengurusan Badan Narkotik di perumahan Green Garden Jakarta pelaksanaan tugas operasional Nasional (BNN). Untuk mengisi salah Utara dan masih banyak lagi kasussatuan tugas airport dan seaport satu jabatan Kosatgas yang kasus seperti itu yang memberikan interdiction. merupakan posisi strategis terutama satu gambaran bahwa Indonesia Mencermati tugas di atas maka dalam mendinamisir pelaksanaan sudah menjadi produsen gelap menurut pendapatnya jabatan tugas operasional BNN melalui narkoba. kosatgas ini merupakan jabatan satuan-satuan tugasnya. Bahan bakunya sangat jelas yaitu yang sangat strategis terutama Bertempat di aula Pamardi Siwi prekusor, yang berasal dari luar dalam mendinamisir pelaksanaan lantai dua, gedung BNN pada Jumat, negeri. Hal ini lanjut Arifin, tugas operasional BNN melalui 3 Juni 2005, telah dilakukan acara menunjukkan adanya importasi baik satuan-satuan tugas. pelantikan dua pejabat Koordinator legal maupun ilegal yang kemudian Ia contohkan, beberapa kasus Satuan Tugas. Pejabat yang dilantik disalahgunakan menjadi ilegal. terbongkarnya pabrik gelap ekstasi masing-masing Richard Situmorang Berarti pula ada praktek sebagai Koordinator Satuan DOK. WBC pengawasan yang lemah telah Tugas III dan Drs. Arman dilakukan. Secara Singgih (mantan Kepala administrasi bisa saja Kantor Pelayanan Bea dan dikatakan mampu melakukan Cukai Semarang) sebagai pengawasan, baik melalui Koordinator Satuan Tugas V. aturan menteri perindustrian, Pengangkatan itu perdagangan atau menteri dipandang perlu dalam rangka kesehatan maupun kepala pelaksanaan tugas dinas Badan POM, tetapi belum lingkup Kosatgas pelaksana memiliki legal trading yang harian BNN untuk jelas. melaksanakan tugas sesuai “Kita akan berpikir strategis dengan lingkup bidang tugas untuk perlindungan kepada koordinator satuan tugas masyarakat dan pelayanan kalakhar BNN. Dan dalam kepada publik, untuk itu saya pelaksanaan tugasnya menghendaki agar koordinasi tersebut agar dilakukan satgas III lebih intensif lagi koordinasi dengan dinas melakukan langkah-langkah instansi terkait secara koordinasi dalam rangka seksama dan penuh rasa mengatasi permasalahan tanggung jawab. tersebut”, ujar Arifin. Pengangkatan kedua pejabat ini sesuai dengan surat perintah BNN nomor BKERJASAMA POTONG JALUR 31/V/2005 yang dikeluarkan PEREDARAN pada 12 Mei 2005 di Jakarta Disisi lain, saat ini BNN oleh Kepala Lakhar BNN juga telah mampu membuat ketika itu Drs. Soetanto peta peredaran gelap narkoba, Komjen Polisi . maupun peta jaringan gelap Usai memimpin internasional, mulai dari pengambilan sumpah, Brigjen golden cresent maupun golPolisi Arifin Rachim den triangle, yakni bagaimana (Wakalakhar BNN) yang narkoba masuk ke Indonesia mewakili Kalakhar BNN, melalui pelabuhan-pelabuhan menyampaikan sambutannya. laut dan udara. Bahkan sudah Kosatgas yang baru saja bisa mengidentifisir jumlah PEREDARAN NARKOBA. Saat ini BNN telah mampu membuat peta dilantik ini, menurut Airifin, dokumen penyalahgunaan peredaran gelap narkoba, maupun peta jaringan gelap nantinya akan berkoordinasi narkoba. internasional, mulai dari golden cresent maupun golden dalam pelaksanaan tugas Faktor-faktor tadi kemudian triangle, yakni bagaimana narkoba masuk ke Indonesia melalui operasional satuan tugas dibandingkan dengan hasil pelabuhan-pelabuhan laut dan udara.
WARTA BEA CUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

54

WBC/ADI

PELANTIKAN. Dua pejabat baru Kosatgas III dan V menandatangani surat pelantikan setelah membaca sumpah jabatan.

pengungkapan kasus tanpa mengurangi arti keseriusan pelaksanaan tugas di lapangan dalam rangka untuk lebih meningkatkan kerjasama dalam memotong jalur peredaran narkoba dari sektor hulu. Salah satu tugas berat ini ada pada satuan tugas airport dan seaport interdiction. Karena itu kepada Kosatgas V, Wakalakhar mempersyaratkan agar lebih mengintensifkan aktivitas satgas tersebut melalui langkah-langkah koordinasi didukung perencanaan yang matang dengan sarana dan prasarana yang memadai. Kepada seluruh jajaran Kosatgas, Arifin menekankan agar melakukan rapat lengkap dalam rangka mengoperasionalkan satuan tugas yang telah terbentuk secara terkoordinasi, inovatif dan kreatif dalam rangka mengemban tugas operasional BNN. Bahkan menurutnya, sangat memungkinkan satgas ini akan terbentuk di BNN propinsi, namun dengan memperhatikan situasi dan kondisi setempat dan berbekal pengalaman

di instansi masing-masing diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi BNN. Usai acara pelantikan dan pemberian selamat kepada kedua pejabat Kosatgas, Kosatgas V, Arman Singgih berkesempatan diwawancarai sejenak. Ketika WBC menanyakan posisinya di BNN, Arman mengutarakan, bahwa posisi yang baru dipegangnya ini untuk membantu Kepala BNN dalam rangka pemberantasan narkoba di pintu-pintu pelabuhan laut dan udara melalui satgas, baik airport interdiction maupun seaport interdiction. “Jadi kita memutus jalur , kalau kita lebih awas diharapkan jalur itu akan terputus,” ujar Arman yang jabatannya sebagai Kepala Kantor Semarang telah diserahterimakan pada pejabat yang ditunjuk sementara sebagai Kepala KPBC Semarang. Mengenai masa tugasnya di BNN ini, menurut Arman, tergantung pada kebijksanaan Menteri Keuangan dan Kepala BNN. Program jangka pendek yang harus dikerjakannya adalah

penyediaan peralatan yang mendukung untuk mendeteksi narkoba yang masuk baik melalui pintu pelabuhan laut dan udara,. karena untuk mendeteksi narkoba menurutnya masih cukup sulit dan harga alat tersebut masih mahal. Sedangkan untuk program jangka yang lebih panjang, fungsi BNN menurut Arman adalah menjadikan Indonesia tahun 2015 sebagai negara yang bebas dari narkoba. Ketika disinggung sumbangan pemikiran yang akan diberikan kepada BNN sebagai Kosatgas V, Arman mengatakan, tentunya pengetahuannya sebagai aparat bea cukai yang pernah bertugas di air port dan cukup lama di pelabuhan laut ini akan membantunya mengetahui celah-celah yang bisa ia gunakan untuk menempatkan peralatan deteksi tadi, baik deteksi barang maupun cara melihat orang yang dicurigai termasuk juga melihat jalur-jalur datangnya barang. “Nah peranan-peranan yang mana nantinya akan saya terapkan mudah-mudahan berguna di sini (BNN-red). ris
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

55

PERISTIWA
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

CCC Gathering Fun Bike 2005
SINGGAH SEJENAK. Para peserta singgah sejenak di Cangar setelah menempuh perjalanan Pacet- Batu Malang.

K

ali ini Customs Cycling Club (CCC) mengadakan kegiatan di wilayah Jawa Timur, pada 30-31 Juli 2005 dengan menempuh rute Pacet-BatuFOTO : BAMBANG WICAKSONO

DITAMBAL DI PINGGIR JALAN. Karena medan yang terjal menyebabkan ban sepeda bocor dan terpaksa ditambal di pinggir jalan.

Selorejo. Acara yang dilaksanakan dalam rangka latihan, wisata, sekaligus sebagai pertemuan anggota klub. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 76 orang dari berbagai kantor Bea dan Cukai, antara lain : Medan, Gorontalo, Tasikmalaya, Bandung, Bali, Bitung, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Juanda dan Kantor Pusat. Pada kesempatan ini yang menjadi tuan rumah adalah KPBC Juanda yang dimotori oleh Roeslan M. Soetedjo (Ka.KPBC Juanda). Turut hadir pula pejabat eselon II DJBC Thomas Sugijata, Sofyan Permana, dan Wahyu Poernomo. Pada hari pertama rute yang ditempuh adalah Pacet (Kabupaten Mojokerto) Cangar-menuju Batu (Malang). Jarak yang ditempuh kurang lebih 26 km. Medan yang ditempuh cukup berat terdiri dari tanjakan, tikungan dan turunan, itupun terdapat pula jalan yang tidak bersahabat karena penuh pasir dan berdebu. Beberapa peserta ada yang terjatuh dari sepeda dan ada pula ban sepeda yang bocor. Meskipun demikian semangat peserta tak pantang menyerah mereka tetap mengayuh sepeda menembus keindahan alam dan dinginnya hawa pegunungan. Setelah menempuh waktu kurang lebih tiga jam peserta satu-persatu

mencapai finish di Hotel Grand Palem Batu. Pukul 12.00 seluruh peserta makan siang bersama dan istirahat di Hotel Grand Palem Batu Malam hari pukul 19.30 acara dilanjutkan dengan ramah tamah bertempat di Rumah Makan Inggil Malang, pada kesempatan tersebut juga bertepatan dengan ulang tahun Sofyan Permana (Ketua CCC ) yang ke-53. Seluruh peserta hadir dan juga beberapa pejabat di lingkungan Kanwil VII DJBC Surabaya. Suasana rumah makan yang khas tempo dulu, diiringi musik gamelan, masakan khas Jawa Timur, dan dinginnya hawa kota Malang melupakan kepenatan sejenak setelah bersepeda sepanjang siang. Hari kedua pukul 07.30 setelah sarapan pagi peserta mulai start dari Grand Palem Batu menuju Selorejo, Ngantang. Kali ini medan yang ditempuh tidak begitu sulit dari hari sebelumnya. Jarak yang ditempuh kurang lebih 25 km dan jalanan beraspal halus dan banyak turunan. Waktu menunjukkan pukul 09.00 satu persatu masuk garis finish di Waduk Selorejo, Ngantang. Setelah acara santai dan makan siang para peserta segera berkemas dan mengepak sepeda masingmasing untuk pulang karena esok harinya harus melaksanakan tugas kembali. Bravo CCC ! Bambang Wicaksono-Surabaya

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

Jalur Prioritas
DI PAMERAN POTENSI 60 TAHUN INDONESIA MERDEKA
Diadakan pada pameran potensi 60 tahun Indonesia Merdeka di arena Pekan Raya Jakarta.

Talk Show

WBC/ATS

U

takan, bahwa jalur prioritas tidak hanya bisa dinikmati oleh para importir produsen tetapi juga bisa dinikmati oleh para importir umum, sejauh mereka telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh DJBC. Ketika ditanya mengenai syarat yang cukup banyak, Ibrahim A. Karim mengatakan bahwa syarat tersebut dikeluarkan agar tidak terjadi penyalahgunaan fasilitas tersebut yang berpotensi memberikan kerugian bagi negara oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.”Karena hanya perusahaan yang patuh yang tidak menyalah gunakan fasilitas tersebut,”ujar Ibrahim Karim WBC/ATS I Made Dana, General Manager (GM) PT Toyota Motor Manufacture yang mendapat fasilitas jalur prioritas mengatakan, bahwa pihaknya merasa sangat terbantu dengan adanya jalur prioritas ini dan sangat membantu proses produksi. “Kami merasa terbantu dengan adanya fasilitas jalur prioritas ini, sehingga kelancaran produksi kami dapat berjalan dengan baik, ”ujarnya dalam PAVILIUN DJBC. Menampilkan mengenai keberadaan DJBC beserta dengan acara tersebut. tugas dan fungsi DJBC

ntuk lebih mengenalkan program jalur prioritas kepada kalangan usaha, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyelenggarakan talk show mengenai jalur prioritas pada acara Pameran Potensi 60 tahun Indonesia Merdeka di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ). Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim yang hadir sebagai pembicara utama pada talk show tersebut memberikan pemaparan secara mendetail mengenai jalur prioritas kepada para pengusaha dari berbagai perusahaan. Dalam acara tersebut Ibrahim A. Karim mengatakan bahwa jalur prioritas merupakan suatu sarana yang diberikan kepada para pengusaha yang patuh dan tidak bermasalah,”Jalur prioritas merupakan suatu fasilitas yang diberikan kepada pengusaha yang tidak bermasalah dan patuh, jadi mereka tidak perlu lagi dilakukan pemeriksaan fisik dan dokumen,”ujar Ibrahim A. Karim. Lebih lanjut Ibrahim A. Karim menga-

TALK SHOW. Direktur Teknis Kepabeanan Ibrahim. A. Karim (tengah) memaparkan mengenai program jalur prioritas dalam talk show yang dipandu oleh Parwito pemred Bisnis Indonesia (kiri) dan pembicara lain I Made Dana (Kanan) Gm. Toyota Motor Manufacture

Talk show yang diikuti oleh 20 peserta dari berbagai perusahaan, juga diselingi tanya jawab dari para peserta kepada narasumber baik itu pertanyaan mengenai syarat untuk mendapatkan fasilitas jalur prioritas sampai pada pertanyaan yang sifatnya teknis dilapangan. Pertanyaanpertanyaan tersebut langsung ditanggapi oleh Ibrahim A. Karim.

PAMERAN POTENSI 60 TAHUN INDONESIA MERDEKA
Pameran Potensi Pembangunan yang diselenggarakan di kawasan arena Pekan Raya Jakarta dibuka langsung oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla pada tanggal 12 Agustus 2005. Pameran yang diikuti oleh berbagai instansi pemerintahan ini, juga diikuti oleh kalangan dunia usaha, dimeriahkan dengan talk show mengenai keberadaan instansi tersebut dan juga hiburan yang dimeriahkan oleh artis ibu kota. Sementara itu Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang turut dalam pameran tersebut menempati paviliun berdekatan dengan paviliun Departemen Keuangan. Selain talk show, DJBC juga memeriahkan pavilunnya dengan atraksi anjing pelacak dari Direktorat P2. Secara keseluruhan, pameran ini tampaknya kurang mendapat minat dari masyarakat walaupun pameran ini dibuka langsung oleh Wakil Presiden dan dipromosikan ke masyarakat dalam bentuk iklan yang dilakukan oleh media massa. Hal ini tampak terlihat dari sepinya pengunjung dan kurang antusiasnya masyarakat untuk melihat pameran di setiap stand dan paviliun yang diikuti oleh instansi pemerintah. zap
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

57

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Pada 10 Agustus 2005 lalu Menteri Keuangan Jusuf Anwar melakukan latihan menembak di ruangan tembak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Basement gedung utama Kantor Pusat DJBC. Dalam latihan menembak sambil sekaligus melihat fasilitas senjata Bea dan Cukai ini, Menkeu didampingi Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman, Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai Thomas Sugijata, Direktur P2 Sofyan Permana, Direktur Verifikasi Audit Joko Wiyono, Direktur Teknis Kepabeanan dan Cukai Ibrahim A. Karim dan beberapa pejabat eselon III dan IV lainnya. Dalam latihan ini juga hadir mantan Direktur P2 Nisfu Chasbullah dan beberapa pelatih serta pejabat dari kepolisian. JAKARTA. Menteri Keuangan RI Jusuf Anwar (kanan) memimpin langsung upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-60 di halaman gedung Departemen Keuangan Lapangan Banteng pada 17 Agustus 2005 lalu. Dalam upacara ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bertindak sebagai pemandu dalam jalannya upacara, diantaranya sebagai komandan upacara Kepala Bagian Kepegawaian Oentarto Wibowo (kiri). Upacara dihadiri seluruh pegawai dan para pejabat yang berada dilingkungan Departemen Keuangan diantaranya Direktur Jenderal Pajak Hadi Purnomo dan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman serta pejabat eselon III dan IV lainnya.
FOTO : SIAHAAN/DEPKEU

WBC/ATS

JAKARTA. DJBC Direktorat P2 berkerjasama dengan Australia Customs Service (ACS) pada 8 Agustus 2005 lalu menyelenggarakan acara Illicid Drug Precursor Training Course. Training yang diikuti 28 pegawai dibuka oleh Direktur P2 Sofyan Permana. Usai pemberian sambutan dilakukan penyerahan cindera mata dari Dir P2 Sofyan Permana kepada para instruktur dari ACS (gambar kiri). Keesokan harinya pada 9 Agustus 2005 lalu Heri Kristiono Pjs Direktur Kepabeanan Internasional menutup acara Illicid Drug Precursor Training Course dengan ditandai penyerahan sertifikat kepada dua perwakilan peserta dan juga dilakukan penyerahan cindera mata dari kedua belah pihak (gambar kanan).

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WBC/ATS

JAKARTA. Masjid Baitut Taqwa terpilih menjadi juara I se-Jakarta Timur dalam kategori masjid yang berada di lingkungan kantor, dan masjid ini diikutsertakan dalam lomba Masjid tingkat Propinsi DKI Jakarta. Pada 4 Agustus 2005 lalu tim juri Binaul Masajid Tingkat Propinsi DKI Jakarta datang ke Masjid Baitut Taqwa diterima oleh pengurus masjid Joko Sutoyo Riyadi dan beberapa pengurus lainnya serta Lurah Pisangan Timur, pejabat dari Departemen Agaman, Pejabat Pemda DKI Jakarta, dan Kepolisian. Kunjungan Tim Juri ini yang akan melihat dan memberi nilai kepada Masjid Baitut Taqwa, diawali dengan beberapa sambutan dari pengurus masjid Baitut Taqwa, Pejabat dari Pemda dan sambutan ketua tim juri. Kemudian dilanjutkan dengan Joko Sutoyo Riyadi penyerahan buku panduan tentang profil masjid kepada ketua tim juri (gambar kiri) dan dilanjutkan dengan pemutaran film sejarah berdirinya Baitut Taqwa dan beberapa kegiatan yang telah dilakukannya (gambar kanan). Ikut dalam lomba masjid tingkat DKI Jakarta yakni diantaranya masjid RCTI dan masjid Bank Indonesia.
WBC/ATS

JAKARTA. Kepala Seksi Keberatan dan Banding Dit. PPKC, Usman Rusmen, menerima cindera mata dari pimpinan rombongan mahasiswa Universitas Lampung pada 20 Juli 2005 lalu di Aula Loka Muda Gedung B lantai 5. Rombongan mahasiswa Universitas Lampung sebanyak 50 mahasiswa/mahasiswi dan 5 Dosen melakukan kunjungan belajar dalam rangka Praktek Kerja Lapangan Hukum untuk lebih mengenal hukum perdagangan internasional dan juga ada diantara mahasiswa yang ingin membuat tugas akhir.
WBC/ATS

JAKARTA. Sekolah Yayasan Bhakti Tugas Cabang Pasar Minggu Jakarta Selatan pada 17 Agustus 2005 lalu menyelenggarakan Upacara Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-60 dipimpin oleh Kepala Sekolah SD Yohanes Gunawan dan dihadiri seluruh murid Sekolah Dasar dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) dan para guru serta para pengurus sekolah Yayasan Bhakti Tugas. Hadir juga dalam upacara para mantan pegawai Bea dan Cukai yang pernah menjadi tentara dalam membela negara RI dan Pengurus Pusat Yayasan Kesejahteraan Bhakti Tugas. Usai upacara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Yayasan Kesejahteraan Bhakti Tugas Cabang Jakarta Selatan Sri Soemaryati (Yayok) dan diserahkan kepada Kepala Sekolah SMP Katena Spd, dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah Yayasan Bhakti Tugas yang ke-19. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada juara I, II, III dari masing-masing kelas dalam lomba mengarang, menggambar untuk SD, dance, voli, basket, dan futsal, parcel untuk SMP.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

59

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Kepala Badan Pelaksana Olahraga Bea dan Cukai, Maimun menyerahkan piala kepada kapten tim voli Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (Dit. IKC) yang menjadi jura I dalam lomba voli antar Direktorat Bea dan Cukai di Lapangan parkir KP-DJBC (gambar kanan). Final voli yang diselenggarakan pada 12 Agustus 2005 lalu dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke-60 mempertemukan tim Dit. IKC (kostum hijau) melawan tim Dit. Teknis Kepabeanan (kostum biru tua). Dalam pertandingan final ini Direktur Teknis Kepabeanan hadir dalam memberi dukungan kepada tim Teknis Kepabeanan. Gambar kiri, sebelum bertanding kedua tim berfoto bersama. SURABAYA. Sosialisasi Asean – China Free Trade Area di Aula Kanwil VII DJBC Surabaya pada 29 Juli 2005 lalu, dihadiri oleh pejabat di lingkungan Kanwil VII DJBC dan beberapa asosiasi stake holder. Sosialisasi ini menghadirkan pembicara yakni Sekretaris Bappeki (Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional), Winarno, Kasubdit Tarif KP-DJBC, Joko Sutoyo dan Kepala Pusat Pengkajian Perpajakan, Kepabeanan dan PNBP, Budi Sitepu. Bambang Wicaksono/ SBY
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

SURABAYA. Pada 29 Juli 2005 lalu Kanwil VII DJBC Surabaya menyelenggarakan perpisahan purnabakti A. Husni Pjs Kabid Verifikasi KWBC VII Surabaya di Aula kanwil. Perpisahan ini dihadiri beberapa pejabat dan para pegawai dilingkungan Kanwil. Bambang Wicaksono/ SBY

60

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : SIGIT (IKC)

JAKARTA. Pameran Potensi 60 Tahun Indonesia Merdeka dilaksanakan pada 12 Agustus 2005 di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf kalla. Dalam pameran potensi ini seluruh unit eselon I di lingkungan Departemen Keuangan turut berpartisipasi dengan membuka paviliun Departemen Keuangan. Untuk Bea dan Cukai selain membuka paviliun juga menyelenggarakan talk show dengan tema jalur prioritas pada tanggal 16 Agustus 2005 dan demo anjing pelacak narkotika pada tanggal 13 Agustus dan 17 Agustus 2005 serta mengadakan kuis dengan hadiah menarik.

JAKARTA. Bertempat di Auditorium KP-DJBC, dilakukan sosialisasi pemberlakuan EDI Manifes pada 16 Agustus 2005. Sosialisasi ini mengundang para pengusaha yang tergabung dalam asosiasi perkapalan dan juga pengusaha yang terlibat dalam kegiatan ekspor impor. Hadir sebagai pembicara Direktur P2 Drs. Sofyan Permana, Kakanwil IV DJBC Jakarta Drs. Frans Rupang dan Kepala Seksi Intelijen Susiwiyono. EDI Manifes sudah diujicobakan sejak tanggal 1 Desember 2004 di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
WBC/ATS

WBC/ADI

MALANG. Pada 30 Mei hingga 1 Juni 2005 bertempat di pabrik hasil tembakau PT. Rothmas of Pall Mall Indonesia, dilakukan pemusnahan Pita Cukai sebanyak 401434 keping dengan nilai cukai sebesar Rp. 725.996.384. Pemusnahan yang didasarkan atas Kep. Menkeu nomor 442/KMK.05/1996 tentang pengembalian Cukai, dan Kep. Dirjen nomor 62/BC/1996 tentang tatacara pemasukan dan pemusnahan atau pengolahan kembali barang kena cukai yang telah dilunasi cukainya dari peredaran bebas untuk mendapatkan pengembalian Cukai, dilakukan dengan cara merusak pita cukai. Acara pemusnahan yang dihadiri oleh pejabat Kantor Pusat DJBC karena melebihi nilai Rp. 100 juta ini. Untuk pemusnahan ini, PT. Rothmas mendapatkan pengembalian nilai Cukai sebesar Rp. 18 per keping dan dikenakan PNBP sebesar 2,5 persen dari nilai cukai yang ada. Kiriman Dit. Cukai
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Pelepasan Kasubdit Otomasi Sistem dan Prosedur Kepabeanan dan Cukai Dit. Informasi Kepabeanan dan Cukai (OSPKC Dit. IKC) Suwito dilaksanakan pada 10 Agustus 2005 di Aula Gedung B lantai dasar. Dalam pelepasan ini diawali dengan beberapa sambutan yakni Direktur IKC, Jody Koesmendro, Kepala Sub Direktorat Pengolahan Data dan Dukungan Teknis, Purwanto mewakili sambutan dari pegawai dan Kepala Seksi OSPKC Dit. IKC, Jamin. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter perjalanan Suwito, pembacaan puisi dan nasyid IKC. Dalam acara tersebut juga diisi dengan penyerahan cinderal mata dari Direktur IKC Jody Koesmendro.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

61

KOLOM

Oleh: Edy Setyo

Menyikapi Pengaruh
S
ekali lagi kita menghadapi ujian besar dalam menjalankan tugas negara, berita adanya pungli di instansi yang kita cintai, menjadi suatu pertanyaan besar bagi keluarga kita. Terlepas benar atau tidaknya berita tersebut, kita tetap harus menjelaskan kepada keluarga yang sekarang ini juga sudah mulai merasakan pengaruhnya. Diterima atau tidak, berita tentang pungutan liar atau pungli di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang mencapai Rp. 7 triliun di beberapa media massa di Jakarta maupun daerah pada minggu terakhir bulan Juni 2005, merupakan informasi yang tidak terbendung dan masuk ke dalam anggota keluarga kita, baik secara langsung atau tidak Penulis berharap, dengan tulisan ini dapat berperan sebagai masukan/ informasi bagi pembaca (yang sebagian besar adalah pegawai DJBC dan keluarganya) akan berita di media massa, yang cukup mengejutkan dan menyita sebagian pikiran setiap orang yang membaca atau yang mendengarnya. Namun sekali lagi penulis menekankan, terlepas dari benar/tidaknya pemberitaan tersebut. Bagi anggota keluarga yang menerima informasi pemberitaan tersebut, tentunya cukup terpengaruh pikirannya. Memang tidak dapat dipastikan seberapa banyak yang membaca, tetapi dapat diperkirakan betapa besar pengaruhnya, terutama bagi putra-putri, meskipun tidak semua. Menyikapi hal tersebut, tentunya masing-masing pegawai Bea dan Cukai perlu sikap bijaksana dalam menjelaskan hal tersebut kepada anggota keluarga, sehingga
WARTA BEA CUKAI

Pemberitaan Media Massa
BAGI ANGGOTA KELUARGA
tidak mendiamkan yang akhirnya timbul suatu pertanyaan. Penjelasan yang diberikan kepada keluarga ini, tentunya merupakan suatu tanggung jawab akan kepedulian pegawai, khususnya kepada keluarga masing-masing. Peran humas (hubungan masyarakat) dalam skala keluarga memang perlu dilakukan pegawai saat ini juga, agar anggota keluarga dapat mengetahui kejelasan pemberitaan dari sisi seorang tanpa putra/putri, juga orangtua dan saudara (bagi yang belum berumah tangga). Sehingga agar penyampaian penjelasaan dapat tepat sasaran, kiranya perlu juga disesuaikan atau dipertimbangkan kapasitas dari masing-masing anggota keluarga. Namun demikian, prioritas utama berkaitan dengan pengaruh kejiwaan, tentunya dirasakan oleh anak/putraputri kita, sehingga mereka perlu mendapatkan informasi yang disesuaikan dengan kemampuan nalarnya. Karena tidak menutup kemungkinan anak/putra-putri kita, justru mendapatkan pertanyaanpertanyaan tentang pemberitaan tersebut sesuai kapasitasnya sebagai pelajar, mahasiswa, bahkan sebagai pekerja, atau di tempat aktivitas mereka masing-masing. Bukankah hal ini menjadi beban pikiran bagi anak/putra-putri kita, bahkan hal ini juga dapat mempengaruhi kejiwaan mereka ke depan (terkecuali yang masa bodoh dan tidak peduli)? Akankah kita biarkan beban jiwa anak/putra-putri kita? Kalau begitu sampai kapan hal tersebut akan membekas dalam jiwa mereka? Selain kepada anak/putra-putri kita, beban pikiran ini tentunya juga akan dihadapi oleh anggota keluarga kita lainnya, yaitu orangtua, saudarasaudari kita (bagi yang belum berkeluarga). Apa yang menjadi beban jiwa orangtua dan saudarasaudari kita? Akhirnya setelah kita memberikan penjelaskan kepada anggota keluarga, kini muncul pertanyaan besar dalam diri kita, apakah cukup dengan kata-kata saja? Sulit memang…

BAGI ANGGOTA KELUARGA YANG MENERIMA INFORMASI PEMBERITAAN TERSEBUT, TENTUNYA CUKUP TERPENGARUH PIKIRANNYA
pegawai Bea Cukai yang sekaligus keluarganya. Apalagi di era keterbukaan saat ini, terkadang penyampaian informasi akan membawa dampak yang bermacammacam, dari tingkat kebenaran dan akurasinya. Dalam penyampaian penjelasan ini, diperlukan suatu sikap yang terbuka/objektif namun tanpa menghilangkan kata-kata bijaksana. Karena penjelasan ini ditujukan kepada anggota keluarga, yang terdiri dari suami/istri dengan atau

Penulis adalah Kepala Kantor KPBC Tipe A Medan

62

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

RUANG KESEHATAN

Alergi Makanan Pada Penderita Authis
A
nak saya (5) adalah penderita authis. Saya mendengar kalau makanan dari bahan tepung tidak baik untuk anak penderita authis, benarkah dok ? JAWAB : Saya ikut prihatin atas keadaan anak ibu, semoga diberi kesabaran oleh Tuhan Yang Maha Esa pada ibu dan keluarga. Pada penderita authis terdapat kelainan/gangguan pada sistem imun dimana sistem ini mendasari terjadinya alergi makanan pada individu tersebut. Sebagian besar sistem imun berlokasi di dalam atau dibuat dengan saluran cerna, ini merupakan usaha dari tubuh untuk mencegah masuknya bendabenda asing ke dalam berbagai bagian tubuh yang lain. Akibat dari gangguan pada sistem imun tadi, dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan mikroorganisme (kuman) tertentu seperti jamur Candida albicans didalam saluran cerna. Pertumbuhan ini menyebabkan kerusakan pertahanan di dalam saluran cerna sehingga terjadi reaksi alergi terhadap berbagai makanan. Salah satunya ya bu makanan dari bahan tepung terigu (gandum, wheat). Selain itu jewawut, nye (Beras Belanda sejenis gandum, jagung, nasi/padi/beras (rice). Tepung terigu mengandung protein gandum (gluten) yang tidak akan tercerna sempurna dan hanya menjadi molekul dipeptida saja yang disebut gluteomorphin. Gluteomorphin ini dapat diserap oleh saluran cerna anak authis yang mengalami peradangan menuju ke otak dan menjadi neurotransmitter (penghubung) palsu berikatan dengan reseptor morphin sehingga terjadi gangguan perilaku. Gangguan perilaku akibat reaksi alergi dapat berupa hiperaktif (aktivitas berlebihan), kurang perhatian, tidak disiplin, perilaku yang kurang baik disekolah. Selain gangguan perilaku terdapat manifestasi lain dari alergen makanan dengan gejala alergi yang tergantung pada kepekaan penderita. Gejala alergi yang sering timbul adalah pada organorgan sebagai berikut : 1. SALURAN CERNA Terdapat gejala gangguan pencernaan, seperti kram pada perut disertai mual, muntah, kembung dan diare. 2. HIDUNG Terdapat PILEK ALERGI NON RHINITIS ALERGIKA dengan gejala tersering : bersin, hidung gatal dan tersumbat, dan mengeluarkan ingus yang encer. 3. MATA Terdapat mata gatal, mata merah dan berair. 4. PARU-PARU Terdapat ASMA ALERGIKA dengan gejala tersering : sesak nafas, nafas pendek, bunyi mengi pada waktu bernafas, dan dada terasa tertekan. 5. KULIT Terdapat EKSIM, URTIKARIA/ Biduran/Kaligata dengan gejala, bentol-bentol dengan berbagai ukuran berwarna merah, hangat, dan sangat gatal pada sebagian atau seluruh permukaan tubuh. Ada beberapa jenis alergen makanan yang barangkali perlu ibu ketahui dapat terkena pada anak authis seperti : susu sapi, telur ayam, kacang-kacangan dan kacang kedelai, ikan, makanan laut seperti udang, lobster dan kepiting. Cara penanggulangannya barangkali ada baiknya kita bicarakan juga disini jika anak ibu terkena alergi makanan yaitu dengan mengadakan pemeriksaan Ig E RAST dalam darah karena Ig E merupakan IMUNOGLOBULIN ESPESIFIK sebagai antibody/zat anti khusus terhadap alergen tertentu. Dengan demikian kita lakukan eliminasi (menghilangkan) alergen makanan tersebut dari diet anak ibu. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan menjaga flora usus anak dalam keadaan seimbang (saluran pencernaan anak tidak terkena peradangan) barangkali diberikan antioksidan dan beberapa vitamin serta mineral sebagai suplemennya. Flora usus ini terganggu akibat pertumbuhan jamur Candida Albicans dalam pencernaan anak authis karena terjadinya gangguan pada sistem imun (kekebalan). Terdapat beberapa cara untuk mence-

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC
gah pertumbuhan jamur Candida Albicans yaitu : 1. Pemberian diet berupa pengurangan gula, pengurangan ragi yang dapat menyuburkan Candida Albicans. 2. Obat-obat anti jamur kadang-kadang perlu diberikan. Jadi sebaiknya untuk anak ibu dilakukan dulu tes alergi dengan pemeriksaan Ig E RAST dalam darah, sehingga diketahui makanan yang alergi saja yang dipantang olehnya dan tidak terjadi kekurangan gizi. Pemeriksaan Ig E dan Ig G spesifik ini akan diperoleh hasil dengan 4 kategori yaitu : tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Makanan yang harus dipantang adalah makanan dengan kategori tinggi dan sedang. Dari hasil pemeriksaan Ig E dan Ig G Spesifik tersebut, anak ibu melakukan diet rotasi 4 hari, yaitu dengan merotasikan makanan-makanan yang memiliki kategori rendah dan sangat rendah. Susu sapi dan gandum (tepung terigu) sebaiknya dihindari karena adanya protein casein dan protein glutein dalam susu sapi/gandum menyebabkan kerusakan enzim untuk mencerna protein tersebut pada anak authis dan sisa pencernaannya menimbulkan gangguan pada otak. Sedangkan Minuman yang dianjurkan adalah air suling. Salam untuk keluarga.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

63

SIAPA MENGAPA

S J A R K A W I

Ketika pertama kali WBC bertemu dengannya, sosok pegawai yang satu ini terlihat tenang dan berwibawa. Tetapi ketika sudah mengenalnya lebih lama, barulah terlihat bahwa pria yang lahir pada tahun 1952 ini penuh humor dan asyik diajak berbicara. Kalau sudah ngobrol dengannya, waktu berjam-jam pun bisa dihabiskan tanpa terasa. “Itulah kiat saya dalam menjalani hidup, kalau tidak begini kita akan stress. Makanya harus kita selingi dengan humor atau kegiatan yang lainnya,” ujar ayah empat anak ini. Ketika diwawancara WBC, Sjarkawi bercerita banyak tentang dirinya dan pengalamannya di Bea dan Cukai. Ketika ia hendak mengikuti tes penerimaan pegawai negeri di Departemen Keuangan pada 1978, ia menggunakan ijasah SLTP sebagai salah satu syaratnya. Pasalnya, kalau menggunakan ijasah SMA, persaingannya sangat ketat. Ketika itu yang mendaftar dari lulusan SMA sekitar 5000 orang, sedangkan untuk SLTP hanya 800 orang. Selain ketatnya persaingan dari lulusan SMA, trik ini ia pergunakan karena pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya dimana ia pernah ikut tes dengan menggunakan ijasah SMA namun tidak lulus. “Selain itu, seandainya saya diterima dengan menggunakan ijasah SLTP, teman-teman saya ada yang bilang nanti dengan sendirinya akan ada penyesuaian ijasah,” tutur Sjarkawi yang sejak kecil hingga lulus SMA, akrab dengan dunia wiraswasta. Setelah ikut tes dengan menggunakan ijasah SLTP, ia pun diterima menjadi pegawai Bea dan Cukai. Namun, harapannya untuk bisa disesuaikan tidak terjadi. Kalau mau disesuaikan ijasah SLTAnya, ia harus mengikuti tes lagi. Sjarkawi pun terpaksa melakoni tes tersebut dan berhasil

STEFANUS OKTO KAMAU

Kalau kebanyakan pegawai masih berpikir keras mengenai kegiatan apa yang akan dilakukan untuk mengisi masa pensiunnya, Stefanus (yang pensiun pada 1 Nopember 2005-red) tidak perlu memikirkan hal itu. Pasalnya, sewaktu masih aktif bekerja ia telah merintis usaha kecil-kecilan di bidang garmen. Tetapi karena krisis moneter, usaha garmennya di Kupang, NTT, saat ini dalam kondisi kembang kempis. Sehingga untuk sementara waktu, ia pun menangguhkan usahanya sambil melihat perkembangan selanjutnya. Alhasil, kegiatan yang dilakukannya saat ini hanyalah berkumpul dengan keluarga. Untuk itu ia berharap agar usaha garmen dapat segera membaik. Pasalnya, hasil dari usaha tersebut dapat membantunya memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai anak-anaknya yang masih kuliah. Bapak lima anak ini bekerja di Bea dan Cukai sejak tahun 1971. Awalnya ia menjadi pegawai harian yang tugasnya membersihkan kamar kecil, membersihkan halaman, membersihkan setiap ruangan kantor dan sebagainya. Selama 4 tahun ia melakukan pekerjaan itu sampai akhirnya pada 1 Otober 1975, ia diusulkan menjadi calon pegawai bea cukai dengan menggunakan ijasah SLTP. Dua tahun kemudian, ia resmi diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan ditempatkan di Kupang. Pada 1993 ia dipindahkan ke Jakarta, tepatnya di KPBC Tanjung Priok III sebagai Pelaksana. Sebelas tahun kemudian ia dipindahkan lagi hingga sekarang di KPBC Jakarta juga sebagai Pelaksana.

A R T I N A H

A Z

Tidak ada waktu lagi yang tersisa bagi Artinah untuk mengabdi kepada negara. Agustus lalu, Kepala Seksi OKDD KPBC Banjarmasin ini memasuki masa pensiunnya. Bagi Artinah, masa pensiun seharusnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. “Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengisi masa pensiun, salah satunya usaha wiraswasta,” ujar Artinah. Namun, ia tidak dapat melakukan hal itu karena uang gaji pensiunnya habis digunakan untuk membiayai kedua anaknya yang masih kuliah. Tetapi paling tidak, kegiatan yang bermanfaat yang dapat dilakukannya adalah berkumpul dengan anak-anak, yang selama ini sering ia tinggal karena pindah tugas. Artinah, pegawai yang merangkap sebagai single parent, mulai berkarir di Bea dan Cukai sejak tahun 1971. Waktu itu ia menjadi tenaga honorer di KPBC Samarinda. Selama menjadi honorer, ia aktif dalam kegiatan Drumband Bea dan Cukai Samarinda. Setelah tujuh tahun dua bulan bekerja sebagai tenaga honorer, ia diangkat menjadi pegawai Bea dan Cukai melalui tes penerimaan pegawai. Ia pun ditempatkan di Samarinda. Selama 12 tahun bertugas di KPBC Samarinda, ia sempat mengikuti DPT II dan pernah menjabat sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga. Pada 1998 ia dipindahtugaskan ke Surabaya pada Kantor Pos sebagai Kepala Urusan Umum selama 5 tahun. Lantaran Kantor Pos Surabaya dilikuidasi, semua pegawai dialihkan ke KPBC Juanda. Di KPBC Juanda, ia menjabat sebagai pelaksana di bagian Operasional Komputer Distribusi Dokumen (OKDD). Dua bulan di KPBC Juanda, Artinah diangkat menjadi Korlak Ekspor Fasilitas. Setelah itu ia dipindahkan ke KPBC Banjarmasin dan menjabat sebagai Kepala Seksi OKDD hingga pensiun.

64

WARTA BEA CUKAI

EDISI 369 SEPTEMBER 2005 370 AGUSTUS 2005

lulus dengan pangkat II A. Penempatan pertamanya di KPBC Banjarmasin, kemudian pada 1980 ia dipindahkan ke KPBC Balikpapan selama 13 tahun. Setelah itu pada 1994 dipindahkan ke KPBC Tanjung Priok II sebagai Asisten PFPD. Empat tahun di KPBC Tanjung Priok, ia dimutasi ke KPBC Kotabaru hingga saat ini dan menjabat sebagai Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai I. Sebelum diterima menjadi pegawai di Bea dan Cukai, Sjarkawi pernah kuliah diploma I di IKIP Yogyakarta jurusan Crash Program yakni jurusan Bahasa Inggris untuk mengajar di SMP. Baru sembilan bulan kuliah, tiba-tiba ia mendapat kabar dari keluarganya di kampung bahwa ia diterima di Bea dan Cukai. Akhirnya, kuliahnya pun ditinggalkan. Namun demikian, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pernah padam. Walaupun usianya telah lanjut, ketika ia bertugas di KPBC Tanjung Priok, ia mencoba kuliah di Universitas Terbuka pada 1995 dan berhasil lulus. Diakhir cerita, pegawai yang menikah dengan Sri Rahayu pada 1980 ini berharap agar pegawai bea dan cukai bekerja dengan jujur serta menjalankan visi dan misi Bea dan Cukai, sehingga akan dipercaya oleh masyarakat. “Pesan saya bagi generasi muda, jangan lupa meningkatkan pengalaman, pengetahuan dan pendidikan,” ujar Sjarkawi yang pernah mengikuti diklat DPI I, DPI III dan DPT II, serta DIKLATPIM IV. ats

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2004
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2004 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 100.000

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

Ibu tiga anak ini bercerita, ada pengalaman yang lucu yang tak terlupakan ketika ia mengikuti Diklat DPT II. Kejadiannya begini, waktu usai makan malam salah seorang temannya mendapat kabar bahwa malam itu akan ada kontra apel (sidak). Mendengar kabar tersebut, terpaksa ia tidak tidur. Ketika malam tiba semua siswi perempuan telah siap berbaris dilapangan. Namun setelah ditunggu selama 10 menit, tidak ada yang datang untuk melakukan kontra apel. Pengalaman lucu lainnya terjadi ketika ia ikut serta dalam mengisi acara perpisahan DPT II. Pada acara tersebut, Artinah yang memiliki hobi menari ini, menari tarian Gong. “Pada saat pentas diatas panggung, lagu yang mengiringi saya menari tiba-tiba mati, disitulah saya sangat malu sekali,” ujarnya mengenang. Ketika ditanya kiatnya dalam bekerja, Artinah menjawab, “Dalam bekerja, yang penting kita harus enjoy dengan pekerjaan apapun yang dipercayakan pada kita. Dengan demikian, kita tidak akan stress. Jadi, pekerjaan seberat atau sesulit apapun akan mampu kita kerjakan dengan baik,” ujar Artinah. Oleh karena itu, jika ia di tugaskan atau diberikan beban kerja yang sama porsinya dengan laki-laki, Artinah tidak keberatan, bahkan ia sangat senang sekali. Namun apa boleh buat, pekerjaan yang selama ini dibebankan kepadanya disesuaikan dengan beban kerja seorang perempuan yang telah berkeluarga. Untuk itu Artinah berharap pada DJBC, agar kaum perempuan saat ini diberikan kesempatan yang sama untuk maju kedepan sebagaimana halnya dengan kaum pria. ats

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 370 SEPTEMBER 2005

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Menurutnya, keakraban yang terjalin antar pegawai maupun dengan masyarakat dimana ia bekerja, tidak ada perbedaan alias sama. Yang berbeda hanyalah pengalaman mengenai masalah Bea dan Cukai yang ia peroleh di daerah yang satu dengan daerah lainnya. Pegawai yang pernah mengikuti diklat DPI dan DPT ini mencontohkan, kalau di Jakarta, ia banyak memperoleh ilmu dan pengalaman tentang kebeacukaian. Ilmu tersebut juga dapat langsung diterapkannya ketika bertugas di lapangan. Sementara di Kupang, penerapan dari ilmu kebeacukaian yang diperolehnya agak berbeda. Menurut Stefanus, dalam bekerja sudah pasti ada suka dan duka. Baginya hal itu merupakan suatu keseimbangan. “Bekerja itu yang penting harus tekun, ulet dan disiplin. Jadi, untuk kesuksesan dalam berkarir kita harus disiplin,” ujar suami dari Doritje ini. Ia menambahkan, rasa disiplin yang ia tanam pada dirinya diperoleh dari orangtuanya yang bekerja sebagai petani. Untuk yang terakhir kalinya melalui majalah WBC, Pegawai kelahiran Alor-Panter Kupang NTT, 17 Oktober 1949 ini mengucapkan terimakasih kepada DJBC. Ia berharap agar ditahun-tahun yang akan datang, DJBC dapat sejajar dengan Bea Cukai dunia dan dapat dipercaya oleh masyarakat. ats

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

WARTA BEA CUKAI

65

SEKRETARIAT

PERATURAN ATAU KEPUTUSAN ?
Peraturan dan keputusan merupakan produk hukum yang bersifat pengaturan dan penetapan.

S

ejak diundangkannya UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan-undangan, produk hukum berupa peraturan mulai banyak diterbitkan dan dikenal masyarakat, seperti Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, dan peraturan lainnya. Produk hukum berupa peraturan yang biasa kita kenal sebelumnya adalah Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. Pertanyaannya adalah kapan kita menggunakan peraturan dan kapan menggunakan keputusan ? Uraian berikut ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai persamaan dan perbedaan antara peraturan dan keputusan.

apa dan bagaimana melakukan suatu kegiatan, berupa produk hukum yang bersifat pengaturan dan penetapan, naskah yang bersifat bimbingan, serta naskah yang bersifat perintah melaksanakan tugas. Peraturan dan keputusan merupakan produk hukum yang bersifat pengaturan dan penetapan.

DASAR HUKUM
Tata cara, bentuk, dan susunan dalam menyusun rancangan keputusan di lingkungan DJBC berpedoman pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 283/KMK.01/2003 tanggal 23 Juni 2003 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan terdiri dari 2 jenis, yaitu keputusan yang bersifat mengatur dan keputusan yang bersifat menetapkan. Berdasarkan Surat Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan No. S-472/SJ.5/

NASKAH DINAS ARAHAN
Naskah Dinas Arahan adalah naskah yang berisi informasi mengenai

2005 tanggal 25 Pebruari 2005 Jo. Pasal 56 UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan-undangan disebutkan bahwa Keputusan Menteri yang sifatnya mengatur yang berlaku sebelum tanggal 1 November 2004 harus dibaca Peraturan. Sehingga sejak tanggal 1 November 2004, penggunaan istilah Keputusan Menteri Keuangan yang sifatnya mengatur berubah menjadi Peraturan Menteri Keuangan, sedangkan Keputusan Menteri Keuangan yang sifatnya menetapkan menggunakan istilah Keputusan Menteri Keuangan. Hal tersebut berlaku juga di lingkungan DJBC, yaitu menggunakan istilah Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk materi keputusan yang sifatnya mengatur, dan menggunakan istilah Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk materi keputusan yang sifatnya menetapkan.

PERBANDINGAN ANTARA PERATURAN DAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL
URAIAN Pengertian PERATURAN DIREKTUR JENDERAL Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai adalah keputusan yang memuat kebijakan DJBC dan merupakan pelaksanaan peraturan yang lebih tinggi atau yang sederajat, yang bersifat mengikat/berlaku untuk masyarakat luas (umum), abstrak, dan pada umumnya berlaku terus menerus serta dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Contoh : Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Penundaan Pembayaran Cukai atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Wewenang Penetapan dan Penandatanganan Direktur Jenderal atau pejabat eselon II atas nama Direktur Jenderal sesuai pelimpahan wewenang. Dalam hal keadaan mendesak dan Direktur Jenderal berhalangan, maka Peraturan Direktur Jenderal ditandatangani oleh Pjs. Direktur Jenderal. (a) Kata “Menimbang” diletakkan di margin kiri, dengan huruf awal kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:) diikuti dengan abjad dan kata “bahwa” dengan huruf awal kecil yang memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan peraturan ; (b) Kata “Mengingat” dicantumkan setelah konsiderans “Menimbang” dengan huruf awal kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:) diikuti dengan angka arab yang memuat peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan peraturan atau yang mempunyai kaitan langsung dengan materi yang akan diatur diawali dengan huruf kapital; (c) Kata “Memperhatikan” apabila dipandang penting dapat dicantumkan setelah konsiderans “Mengingat” yang KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL Keputusan Direktur Jenderal adalah keputusan yang memuat kebijakan Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan yang merupakan pelaksanaan peraturan yang lebih tinggi atau yang sederajat, yang bersifat mengikat secara individual dan konkrit, dan berlaku untuk jangka waktu tertentu serta tidak dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Contohnya adalah Keputusan tentang l l Pembentukan Tim; Pemindahan Pegawai.

Direktur Jenderal, pejabat eselon II, atau eselon dibawahnya atas nama Direktur Jenderal, sesuai dengan pelimpahan wewenang. Dalam hal keadaan mendesak dan Direktur Jenderal berhalangan, maka Keputusan Direktur Jenderal ditandatangani oleh Pjs. Direktur Jenderal. Konsiderans pada Keputusan Direktur Jenderal sama dengan konsiderans pada peraturan Direktur Jenderal, kecuali: (a) Dalam pembukaan dapat diawali dengan kata “Membaca”, dicantumkan setelah jabatan pembentuk keputusan pada margin kiri dengan huruf kapital pada awal kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:); (b) Membaca pada umumnya memuat surat, nomor surat dan tanggal surat, perihal adanya suatu permohonan atau usulan tentang suatu hal dari suatu instansi tertentu atau pihak lain kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai;

Konsiderans

66

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

memuat nomor surat/keputusan/peraturan dari suatu instansi terkait tentang persetujuan atau rekomendasi atau keterangan lain sebagai rujukan untuk mendukung penerbitan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Penulisannya ditempatkan di margin kiri sejajar kata “Menimbang” dan “Mengingat” yang diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda baca titik dua (:). Apabila persetujuan atau rekomendasi berasal lebih dari satu instansi, maka setiap persetujuan atau rekomendasi didahului dengan angka arab 1, 2, 3, dan seterusnya sesuai dengan tingkatannya Diktum (a) Diktum dimulai dengan kata “MEMUTUSKAN” ditulis dengan huruf kapital tanpa spasi, dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:) serta diletakkan ditengah margin; (b) Kata “Menetapkan” dicantumkan setelah kata “MEMUTUSKAN” yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:); (c) Substansi kebijakan yang ditetapkan, dicantumkan setelah kata “Menetapkan” ditulis dengan huruf kapital. (d) Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan jenis/bentuk Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai serta ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik (.). (a) Batang tubuh Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai memuat semua substansi peraturan; (c) Substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: Ketentuan Umum; Materi Pokok yang diatur; Ketentuan Sanksi Administratif (bila diperlukan); Ketentuan Peralihan (bila diperlukan); Ketentuan Penutup. (d) Jika Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai mempunyai materi yang ruang lingkupnya sangat luas dan karena itu mempunyai banyak pasal, maka pasal-pasal tersebut dapat dikelompokkan menjadi bab, bagian, dan paragraf; (e) Pengelompokan materi peraturan perundang-undangan dalam bab, bagian, dan paragraf tidak merupakan keharusan; (f) Pengelompokan materi dalam bab, bagian, dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi; (g) Pada umumnya urutan pengelom-pokan adalah sebagai berikut: 3 Pasal-pasal (tanpa bab, bagian, dan paragraf); 3 Bab dengan pasal-pasal tanpa bagian dan paragraf; 3 Bab dengan bagian dan pasal-pasal, tanpa paragraf; 3 Bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasalpasal. (a) Untuk peraturan tanpa dicantumkan salinan peraturan, maka salinan yang disahkan didistribusikan kepada masyarakat melalui Berita Negara Republik Indonesia dan pejabat yang terkait. (b) Untuk peraturan dengan salinan peraturan, maka salinan yang disahkan didistribusikan kepada pemohon, para pejabat yang tertulis pada salinan, dan para pejabat lain yang terkait dengan materi peraturan. 1. 2. 3. 4. 5. Pada dasarnya diktum pada keputusan sama dengan diktum pada peraturan

Batang Tubuh

(a) Batang tubuh Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang bersifat menetapkan memuat materi yang dikelompokkan dalam diktum: Pertama, Kedua, dan seterusnya sebagai pengganti pasal, ditempatkan sejajar dibawah kata “Menetapkan”, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri tanda baca titik dua (:); (b) Materi atau isi pengelompokan Pertama, Kedua, dan seterusnya pada umumnya berisikan uraian tentang persetujuan atas permohonan atau usul, dari instansi terkait atau pihak lainnya;

Distrinusi

Salinan / petikan keputusan, didistribusikan kepada yang bersangkutan, pejabat yang tercantum pada salinan, dan pejabat lain yang terkait dengan materi keputusan.

Hal Yang Perlu Diperhatikan

Pengabsahan merupakan suatu pernyataan bahwa sebelum digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu peraturan/ keputusan telah dicatat dan diteliti sehingga dapat disahkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal atau pejabat yang bertanggungjawab di bidang administrasi umum yang ditunjuknya. Pengabsahan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, terdiri atas kata salinan/petikan dan dibubuhi tanda tangan pejabat yang berwenang dan cap dinas unit organisasi pejabat penandatangan. Salinan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai wajib disampaikan kepada Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan dan Kepala Biro Hukum. Kepala Biro Hukum mengumumkan Salinan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai dalam Berita Negara Republik Indonesia. Salinan Peraturan / Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Pejabat Eselon II atau eselon dibawahnya di Kantor Pusat DJBC, dibuat oleh Sekretariat Direktorat Jenderal atau pejabat yang ditunjuknya dan disampaikan kepada unit organisasi eselon II pemrakarsa (konseptor). Salinan Peraturan / Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang ditandatangani oleh Kepala Kantor Wilayah atau eselon dibawahnya, dibuat oleh Unit organisasi yang menangani administrasi umum dan disampaikan kepada unit organisasi pemrakarsa (konseptor).

Sumber : Rancangan Pedoman Tata Naskah Dinas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Oleh : Bagian Organisasi dan Tatalaksana Sekretariat DJBC

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

67

INFO PEGAWAI
PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 SEPTEMBER 2005 PERIODE T.A 2005
NO. NAMA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sunarno, SH Sudradjad Artinah Anang Zainuddin Latief Ramli Ali Hotma Pohan R. Sjachrif Abdullah Hasyim Suryati Sadin Kenari Tarsisius Suharto Sopandi Sjahdan M. Noor Johardizal NIP 0600 40842 35502 51480 43558 45302 45983 58492 40664 45983 40847 49454 27489 57927 59587 GOL IV/a IV/a III/d III/d III/c III/b III/a III/a II/d II/d II/d II/c II/c II/b JABATAN Kepala Seksi Kepabeanan II Kepala Seksi Tempat Penimbunan II Kepala Seksi Operasional Komputer Kepala Seksi Kepabeanan I Korlak Administrasi Ekspor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana KEDUDUKAN KPBC Tipe A Gresik KPBC Tipe A Khusus Tg. Perak KPBC Tipe A Banjarmasin KPBC Tipe B Teluk Nibung KPBC Tipe A Tg. Balai Karimun KPBC Tipe A Belawan KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Tg. Balai Karimun KPBC Tipe A Jakarta KPBC Tipe B Yogyakarta KPBC Tipe A Bandung KPBC Tipe C Bagan Siapiapi Kanwil I DJBC Medan

INFO PERATURAN
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN Per Agustus 2005
P E R I H A L

KEPUTUSAN Nomor Tanggal 46/PMK.04/2005 47/PMK.04/2005 48/PMK.04/2005 60/PMK.04/2005 61/PMK.04/2005 18/PMK.010/2005 26/PMK.010/2005 49/PMK.010/2005 62/PMK.010/2005 17-06-05 17-06-05 21-06-05 21-07-05 21-07-05 03-03-05 27-04-05 21-06-05 26-07-05

Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 98/KMK.05/2000 Tentang Keringanan Bea Masuk Atas Bahan Baku/Subkomponen/Bahan Penolong Untuk Pembuatan Komponen Elektronika Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 135/KMK.05/2000 Tentang Keringanan Bea Masuk Atas Impor Mesin, Barang dan Bahan, Dalam Rangka Pembangunan/Pengembangan Industri/Industri Jasa Perubahan Kedelapan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 Tentang Pemberitahuan Pabean Tempat Penimbunan Berikat Di Pulau Batam, Bintan dan Karimun Perlakuan Perpajakan Dan Kepabeanan Dalam Rangka Proyek Pengembangan Pulau Bintan Dan Pulau Karimun Penurunan Tarif Bea Masuk Cordless Handset Dengan Nomor Hs. 8517.11.00.00 Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Untuk Kegiatan Usaha Panas Bumi Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Komponen/Suku Cadang Untuk Industri Perkapalan Dan Jasa Pelayaran Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Bagian Dan Perlengkapan Kendaraan Bermotor Untuk Pembuatan Kendaraan Bermotor Tujuan Ekspor

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Agustus 2005
No. 1. 2. 3. KEPUTUSAN Nomor Tanggal 09/BC/2005 10/BC/2005 14/BC/2005 10-06-05 10-06-05 29-07-05 P E R I H A L

Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 26/PMK.010/2005 Tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Untuk Kegiatan Usaha Panas Bumi Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PMK.010/2005 Tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.010/2005 Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-205/BC/2003 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL Per Agustus 2005
No. 1. 2. 3. Nomor EDARAN Tanggal 01-07-05 20-07-05 20-07-05 P E R I H A L

16/BC/2005 18/BC/2005 19/BC/2005

Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor Mobil CBU Dari Malaysia Penghematan Energi Di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tanda Pengenal Baru Di Lingkungan DJBC

INSTRUKSI DIREKTUR JENDERAL Per Agustus 2005
No. 1. 2. Nomor INSTRUKSI Tanggal 12-07-05 13-07-05 P E R I H A L

INS-01/BC/2005 INS-02/BC/2005

Peningkatan Upaya Pengawasan Dan Pembinaan Pegawai Di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Peningkatan Pelayanan Kepabeanan Dan Disiplin Pegawai

68

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

RENUNGAN ROHANI

do’ a
SEBAGAI KEBUTUHAN
“Berdoalah kalian, karena doa merupakan permintaan dari Allah yang dapat menolak bencana yang telah lalu dari sisi qadha dan qadar, dan doa tidaklah lain kecuali penyempurnaan.” (Iman Musa bin Ja’far al-Kazhim as).

B

erdoa termasuk salah satu kebutuhan manusia, sebab doa adalah panggilan jiwa manusia. Dalam kehidupan seorang muslim, doa menempati posisi strategis. Bahkan frekwensi doa dapat dijadikan barometer sampai sejauhmana kedekatan dan keharmonisan seorang hamba dengan Rabbnya. Orang yang banyak berdoa adalah seorang hamba yang tawadhu’, rendah hati di hadapan Allah Swt. Sedangkan mereka yang tidak pernah berdoa adalah orang yang sombong dan angkuh, sebab ia menyangka dengan kemampuan pribadinya segala persoalan dapat diatasi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw mengingatkan kita agar jangan melalaikan unsur doa dalam kehidupan beliau, beliau Bersabda, “Barang Siapa tidak berdoa kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.”(HR.Bukhari). “Berdoalah kalian, karena doa merupakan permintaan dari Allah yang dapat menolak bencana yang telah lalu dari sisi qadha dan qadar, dan doa tidaklah lain kecuali penyempurnaan.” (Iman Musa bin Ja’far al-Kazhim as). Sesungguhnya kita adalah miskin dan tidak punya apa-apa. Apa yang kita klaim sebagai milik kita adalah nisbi sifatnya, dan kapan pun bisa lepas dari kita. Bagaikan mobil inventaris yang diklaim seseorang sebagai miliknya. Instansi atau perusahaan sebagai pemilik sebenarnya kapan pun dapat mengambilnya kembali, setelah masa kerjanya berakhir atau karena dinilai telah disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Semua yang kita miliki pada hakikatnya bukanlah miliki kita, melainkan milik Sang Pemberi (al-Mu’thy). Ia hanyalah barang inventaris sebagai fasilitas yang dianugerahkan kepada kita untuk menjalankan seluruh perintah-Nya, dan saat terjadi penyalahgunaan, Ia berhak mencabut kembali seluruhnya. Allah Swt adalah tuan yang paling mengerti akan segala kebutuhan hambahamba-Nya dan karena itu ia berjanji dan ia tidak pernah ingkar pada janji-Nyasebagaimana firman-Nya, maka sesungguhnya Allah tidak akan memungkiri janjiNya? (QS. Al Baqarah:80) akan menganugerahkan berbagai fasilitas untuk kebahagiaan dan kesempurnaannya

kepada Siapa pun yang memintanya. Bahkan menantang dan memerintahkannya mereka memohon apa saja, dan Ia berjanji akan mengabulkannya. Dan Tuhanmu berfirman : Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang akan menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Mukmin : 60). Setiap keberadaan seseorang selalu dikelilingi problem; kefakiran, kemiskinan dan kebutuhan, dan pada dasarnya orang yang mengingkari atau tidak mengetahui bahwa ia butuh dan bergantung kepada Sang Pemberi Azza wa Jalla adalah orang sombong yang telah Allah janjikan neraka jahanam. Alangkah tidak tahu diri apabila seorang miskin, yang tidak punya apa-apa, dan memiliki ketergantungan yang tinggi kepada-Nya tidak mau memohon dan membentangkan tangannya kepada Dzat yang Maha Kaya (Al-Ghany). Sebuah doa mempunyai peranan penting dan mendasar dalam pemenuhan berbagai kebutuhan. Doa memiliki berbagai macam fungsi dan manfaat yang tidak terhitung, di mana seseorang dapat memperoleh manfaatnya dalam kehidupan. Doa-doa tersebut akan mengajari dan mengantarkan seseorang kepada kondisi yang lebih baik dan lebih pantas. Berdoa merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi setiap saat, pada kondisi senang atau sedih, kondisi beruntung atau pun merugi. Kebutuhan akan doa bagaikan kebutuhan meminum air dan menghirup udara yang dibutuhkan setiap orang dalam setiap kondisi dan waktu. Demikian pula kebutuhan seseorang kepada Sang Pemberi Azza Wajalla. Allah Swt berfirman, Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah : dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir:15), dan doa adalah perwujudan ketergantungan seorang hamba kepada Rabbnya. Keinginan memperoleh keutamaankeutamaan dan selamat dari segala bencana dan kebejatan telah terkandung dalam berbagai doa, dan ketika seseorang berdoa, ia dapat melewati jalan

kesempurnaan dan sampai pada sebuah tingkat dan kedudukan tinggi di sisi-Nya Swt. Oleh karenanya, semua orang diharuskan membentangkan tangantangannya sebagaiwujud permintaan tolong atas penjagaan Ilahiah yang suci. Dalam kondisi apapun, ketika seseorang telah keluar dari segala kegelisahan, atau saat ia hidup dalam kenyamanan dan kemakmuran dan saat ia telah mendapatkan apa yang ia cita-citakan, maka tidaklah berarti ia tidak lagi membutuhkan doa, karena doa merupakan kebutuhan fitri yang mendasar, yang dengannya seseorang dapat menggapai ketinggian maqam dan selamat dari berbagai keterjurumusan dan kehancuran. Bahkan, doa adalah sebaik-baiknya perantara dalam ikhtiar seseorang, yang dengannya ia dapat memperkokoh hubungannya dengan Allah dan mencari ampunan serta kedermawanan-Nya terhadap dosa-dosa dan maksiat yang ia lakukan, seperti yang kita baca dalam doa Kumail,”Wahai yang cepat keridhaannya, ampunilah orang yang tidak memiliki apa-apa selain doa.” Doa adalah wujud ketulusan hati, realisasi kesungguhan dan gambaran sebuah harapan. Melalui doa seorang hamba merefleksikan seluruh harapan, ikhtiar, dan permohonannya kepada Allah. Dengan berdoa seseorang membangun harapan dan semangat dalam dirinya, sehingga dengan doanya yang tulus, seorang hamba akan terjauh dari rasa frustasi, keputusasaan dan keterasingan, karena Allah Swt senantiasa bersamanya. Dia mendengar, melihat dan memperhatikan apa yang diminta hambanya, seperti yang disebutkan dalam al-Quran, Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya keapda mu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdoa kepadaKu. (QS. Al-Baqarah: 186). Akhirnya doa akan melahirkan kekuatan jiwa dan kebersihan hati dari prasangka buruk terhadap Allah, sehingga akan tumbuhlah rasa optimis dan gairah dalam hidup. Dan akhirnya, selamat berdoa dan bekerja.

Hasan Mawardi, SPd. Akademik ICAS Jakarta
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

69

KEPABEANAN

Kunjungan Kerja Menkeu dan Mendag
DI PULAU BATAM DAN BINTAN
Tanpa bermaksud untuk mengistimewakan, ketiga pulau tersebut kini telah diberikan beberapa fasilitas kemudahan dalam bidang, perdagangan, kepabeanan dan perpajakan. Ketiga pulau ini merupakan wilayah yang terdekat dengan negara tetangga dan juga menjadi jalur perekonomian yang cukup vital bagi perdagangan antara Indonesia dengan negara tetangga, sehingga perlu upaya peningkatan investasi.

P

ulau Batam, Bintan, dan Karimun yang kesemuanya berada dalam provinsi Riau kepulauan, merupakan wilayah yang cukup diandalkan bagi Indonesia dalam hal perdagangan. Selain itu wilayah yang terhubungkan dengan selat Malaka ini, yang juga menjadi selat pemisah antara Indonesia dengan negara Malaysia dan Singapura, sejak dahulu memang sudah menjadi sentra perdagangan dan jalur perdagangan yang cukup padat. Untuk dapat lebih meningkatkan peranan dari ketiga pulau tersebut, pada akhir bulan Juli Menteri Keuangan (Menkeu) Jusuf Anwar bersama dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu, dan juga didampingi oleh Dirjen Bea dan Cukai Eddy Abdurracahman dan Dirjen Pajak Hadi Poernomo termasuk Kepala

Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional (Bappeki) Anggito Abimanyu dan Irjen Depkeu, Agus Muhamad, melakukan sosialisasi kebijakan fasilitas di bidang perdagangan, kepabeanan dan perpajakan, di ketiga pulau tersebut. Acara yang berlangsung sejak 22 hingga 24 Juli 2005, dimulai dengan sosialisasi di Pulau Batam, dimana sejak tanggal 21 Juli 2005 telah ditetapkan satu peraturan pemerintah, dua peraturan Menkeu dan satu peraturan Mendag (Ulasan lengkap akan ketiga peraturan dan fasilitas tersebut dapat dilihat pada tulisan “Kebijakan Pemerintah Dalam rangka Mendorong Peningkatan Investasi di Pulau Batam, Bintan , dan Karimun, pada halaman berikutnya ). Setelah di Batam acara
FOTO : ARIF/P2

dilanjutkan dengan sosialisasi di pulau Bintan dan Karimun.

PERTEMUAN SELURUH JAJARAN DEPKEU
Sebelum melakukan sosialisasi di Batam, Menkeu terlebih dahulu mengadakan pertemuan dengan seluruh jajaran Depkeu yang ada di provinsi Riau, baik jajaran Depkeu yang ada di Riau daratan, maupun Riau kepulauan, seperti pajak, bea cukai, anggaran, perbendaharaan dan lainnya, di gedung Otorita Batam. Dalam pertemuan tersebut, Menkeu mengharapkan agar seluruh jajaran Depkeu untuk meningkatkan kinerja dan memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat atau para penggguna jasa. “Di era saat ini dimana tuntutan akan pelayanan yang cepat dan prima dari jajaran Depkeu, harus diwujudkan dengan sesegera mungkin. Untuk itu kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat khususnya kebutuhan industri harus diberikan dengan sebaik mungkin, sehingga dapat meningkatkan investasi yang ada, dan memberikan kenyamanan pada investasi tersebut,” ujar Menkeu. Di hari kedua tepatnya 23 Juli 2005, Menkeu dan Mendag melakukan acara patroli bersama di sekitar Perairan Philip dan Selat Malaka. Dimulai dari pelabuhan Batu Ampar Batam, Menteri beserta rombongan dengan menggunakan kapal patroli BC 10001 dan di kawal oleh BC 8005 dan BC 5002, termasuk dua VSV BC 1601 dan BC 1602, menuju ke perairan internasional dan melihat kegiatan di Perairan Philip hingga ke Pulau Labun yang berhadapan dengan Singapura. Di tengah acara patroli dan setelah cukup lama memantau kegiatan yang ada di perairan internasional tersebut, tiba-tiba cuaca tidak mendukung hujan turun dengan lebat dan ombak cukup

DITEGAH. Direktur P2 Sofjan Permana, memberikan penjelasan kepada Menkeu dan Mendag yang menyempatkan diri untuk melihat KM Bulan Purnama, yang berhasil di tegah oleh patroli Bea dan Cukai.

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : ARIF/P2

PATROLI BERSAMA. Menkeu dan Mendag meninjau perairan Philip dan selat Malaka yang merupakan salah satu perairan tersibuk di dunia namun rawan upaya penyelundupan. Tampak pada gambar Menkeu dan Mendag yang didampingi oleh Dirjen Bea dan Cukai dan Kepala Bappeki, saat berada di kapal patroli BC 10001

tinggi. Dengan keadaan ini membuat rombongan kembali berbalik arah dan melanjutkan tujuan patroli ke Pulau Lima yang berhadapan dengan Malaysia.

MELIHAT HASIL TEGAHAN LANGSUNG
Namun ditengah perjalanan, rombongan menerima kabar kalau kapal patroli BC 1512 yang merupakan speedboat milik Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe C Sambu Belakang Padang, dan di komandoi oleh Yudi Setia Dharma, berhasil menegah KM Bulan Purnama di perairan Pulau Nipah, yang membawa barang-barang larangan asal Singapura dengan tujuan Dumai. Dengan adanya berita tersebut, Menteri memerintahkan untuk melihat langsung hasil tegahan tersebut dan melihat barang-barang larangan apa saja yang di bawa oleh KM Bulan Purnama tersebut. Menurut Kopat BC 1512, Yudi Setia Dharma, timnya yang terus memantau kegiatan kapal-kapal kayu asal Indonesia dari Pulau Layang, melihat ada satu kapal yang cukup mencurigakan dan setelah dilakukan pemeriksaan dokumen, ternyata kapal

tersebut tanpa dilengkapi dengan manifes, dan hanya ada manifes antar pulau saja. “Barang-barang yang dibawa oleh KM Bulan Purnama merupakan barangbarang bekas yang masuk dalam barang larangan, seperti sepeda, kulkas, mesin cuci, kasur dan lain-lain yang jika dilihat kerugian negaranya tidak terlalu besar, namun akibatnya cukup besar bagi masyarakat. Selain barang tersebut belum tentu layak pakai, kerugian di sektor perekonomian juga cukup besar,” tutur Yudi. Masih di Pulau layang dimana disitu juga terdapat pos bantu Bea dan Cukai yang berada di bawah KPBC Tipe C Sumbu Belakang Padang. Menkeu menyempatkan diri untuk melihat salah satu keajaiban yang ada di pulau tersebut, yaitu sebuah sumur dekat pantai yang airnya tawar. Dari Pulau Layang Menteri beserta rombongan melanjutklan patroli ke Pulau Lima yang berhadapan langsung dengan Malaysia, dan langsung menuju pulai Bintan tepatnya ke daerah Lobam. Sesampainya di Lobam, Menkeu dengan didampingi oleh Kepala Bappeki,

Irjen Depkeu, Direktur P2, Kakanwil II TBK, dan Kepala Seksi Pencegahan, mencoba untuk merasakan langsung kehebatan dari kapal patroli VSV BC 1601 yang dikenal sebagai macan pemburu. Dalam uji coba tersebut kapal patroli VSV BC 1601 dengan kecepatan penuh 60 knot/jam mencoba untuk menempuh jarak antara Lobam hingga ke Lagoy dengan waktu tempuh 15 menit. Tidak hanya itu kapal patroli VSV yang cukup canggih dan dapat menembus ombak tersebut, juga melakukan manuver berputar 180° tanpa ada hambatan, dan ini juga dirasakan langsung oleh Menkeu beserta rombonganya. Setelah melakukan uji coba dengan kapal patroli VSV, Menkeu dan Mendag beserta rombongan, langsung melakukan sosialisasi di pulau Bintan yang juga menerima fasilitas kemudahan dalam bidang, perpajakan, kepabeanan, dan perdagangan. Dan acara sosialisasi tersebut ditutup dengan melihat langsung maket dari Bintan Industrial Estate yang merupakan sentra industri yang ada di Pulau Bintan. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

71

KEPABEANAN

MENDORONG PENINGKATAN INVESTASI
DI PULAU BATAM, BINTAN DAN KARIMUN
Sebagai upaya untuk mempertahankan investasi dan kelangsungan usaha bagi industri dan dalam rangka mendorong peningkatan investasi di Pulau Batam, Bintan dan Karimun maka perlu ditetapkan kebijakan pemerintah melalui pemberian berbagai kemudahan dan fasilitas bagi sektor industri, terutama yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi, menurunkan biaya-biaya produksi dan memberikan kepastian waktu dalam proses produksi sehingga mampu mendorong sektor industri untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksinya.

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM RANGKA

U

ntuk memberikan kepastian hukum dan kejelasan usaha maka berbagai kebijakan Pemerintah tersebut dituangkan dalam bentuk aturan hukum berupa : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2005 tanggal 19 Juli 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2003 Tentang Perlakuan PPN dan PPnBm di Kawasan Berikat (Bonded Zone) Daerah Industri Pulau Batam; 2. Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 60/PMK.04/2005 Tanggal 21 Juli 2005 tentang Tempat Penimbunan Berikat di Pulau Batam, Bintan dan Karimun; 3. Peraturan Menteri Keuangan RI

Nomor 61/PMK.03/2005 Tanggal 21 Juli 2005 tentang Perlakuan Perpajakan dan Kepabeanan dalam rangka Proyek Pengembangan Pulau Bintan dan Pulau Karimun; 4. Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 14/M-DAG/PER/7/2005 Tanggal 21 Juli 2005 tentang Ketentuan Impor Beberapa Produk Untuk Kawasan Berikat Daerah Industri Pulau Batam, Kawasan Industri di Pulau Bintan, dan Kawasan Industri di Pulau Karimun. Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan daya saing industri di Pulau Batam, Bintan dan Karimun sehingga akan mampu menjadikan
FOTO : ARIF/P2

Batam, Bintan dan Karimun sebagai tujuan utama investasi.

KERANGKA PEMIKIRAN
l

l

l

l

MAKET. Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan, saat melihat maket Bintan Industrial Estate . yang menerima fasilitas.

Untuk lebih menarik investasi maka dalam tahap awal harus diberikan kemudahan dalam menyelesaikan berbagai ijin dan persyaratan industri sehingga perlu dilakukan penyederhanaan proses perijinan Tempat Penimbunan Berikat. Untuk dapat meningkatkan efisiensi proses produksi dan peningkatan kuantitas dan kualitas produksi, perlu dilakukan penyederhanaan prosedur pemasukan dan pengeluaran barang ke/dari TPB, simplifikasi dokumen pabean, efisiensi pengawasan dan minimalisasi pelaporan. Untuk menekan biaya-biaya produksi dan untuk menjamin keberlangsungan usaha, perlu diberikan fasilitas perpajakan dan kepabeanan berupa tidak dipungutnya PPN atas Jasa dan pengenaan tarif BM terhadap barang jadi apabila tarif barang jadi lebih kecil dari bahan baku, serta tidak lagi diperlukan jaminan terhadap kegiatan sub kontrak. Untuk lebih mendorong pendirian industri baru dan pengembangan industri yang sudah ada maka diberikan kemudahan dengan memberikan fasilitas di bidang perdagangan atas pemasukan dan pengeluaran barang-barang modal dengan menghilangkan kewajiban untuk memperoleh persetujuan impor dan kewajiban pemeriksaan oleh Surveyor atas pemasukan barang modal bukan baru, diperbolehkannya impor barang modal bukan baru sepanjang merupakan bagian dari barang yang diimpor dalam rangka relokasi

72

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

FOTO : ARIF/P2

pabrik dan menghilangkan kewajiban untuk memiliki Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK).

KEBIJAKAN PEMERINTAH
Secara umum kebijakan pemerintah yang dituangkan kedalam 2 (dua) Peraturan Menteri Keuangan dan 1 (satu) Peraturan Menteri Perdagangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : A. KEBIJAKAN DI BIDANG KEPABEANAN : Kebijakan di bidang Kepabeanan ini lebih ditujukan untuk memberikan kemudahan, kecepatan dan kepastian dalam proses pelayanan kepabeanan serta memberikan fasilitas berupa tidak dipungutnya Bea Masuk dan Pajak-pajak dalam rangka impor : l Penyederhanaan perijinan yang terkait dengan pendirian dan perubahan keputusan pendirian Tempat Penimbunan Berikat di Batam, Bintan dan Karimun, dimana kalau sebelumnya diberikan Menteri Keuangan atau Direktur Jenderal maka sekarang hanya oleh Kepala Kantor Pelayanan l Penyederhanaan prosedur pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Tempat Penimbunan Berikat dimana untuk beberapa hal menjadi tidak lagi diperlukan dokumen pabean, dilakukan simplifikasi dokumen pabean, efisiensi pengawasan dimana hanya dilakukan di kawasan pelabuhan serta menghilangkan kewajiban pelaporan penggunaan bahan baku dan barang jadi. l Pemberian fasilitas kepabeanan berupa Pembebasan Bea Masuk atas impor Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha di Pulau Bintan dan Pulau Karimun, yang melakukan proyek pengembangan di Pulau Bintan dan Pulau Karimun. B. KEBIJAKAN DI BIDANG PERPAJAKAN : l Pemberian fasilitas perpajakan berupa tidak dipungutnya PPN Jasa atas penyerahan Jasa Kena Pajak dari dan ke Tempat Penimbunan Berikat di Pulau Batam, Bintan dan Karimun. l Tidak dipungutnya PPN, PPnBm dan PPh Pasal 22 impor, atas impor Barang Kena Pajak maupun pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak yang berasal dari Luar Daerah Pabean Indonesia, serta atas perolehan dalam negeri Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak

SOSIALISASI. Menteri Keuangan Jusuf Anwar bersama Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, yang juga didampingi oleh Dirjen Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman dan Dirjen Pajak Poernomo Hadi, melakukan sosialisasi akan fasilitas perdagangan, kepabeanan dan pajak khusus untuk pulau Batam, Bintan, dan Karimun.

oleh Pengusaha di Pulau Bintan dan Pulau Karimun, yang melakukan proyek pengembangan di Pulau Bintan dan Pulau Karimun. Pemberian fasilitas ini mempunyai daya laku surut sejak 1 Januari 2004 dan berlaku sampai dengan 31 Desember 2008 C. KEBIJAKAN DI BIDANG PERDAGANGAN : l Pembebasan dari keharusan untuk memperoleh persetujuan impor dan pemeriksaan Surveyor atas impor barang dalam keadaan bukan baru; l Barang modal dalam keadaan bukan baru diperbolehkan diimpor sepanjang barang tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari keseluruhan barang yang diimpor dalam rangka pemindahan (relokasi) pabrik; l Tidak ada lagi kewajiban untuk memiliki Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK) terhadap semua barang yang dikenakan kewajiban memiliki NPIK.

POKOK-POKOK KEBIJAKAN DALAM PERATURAN PEMERINTAH DAN PERATURAN MENTERI TERKAIT :
Secara umum berbagai kebijakan yang dituangkan dalam 4 (empat) produk hukum tersebut dapat diuraikan secara sebagai berikut : A. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2005 :

Secara umum Peraturan Pemerintah ini merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2003 yang mengatur mengenai perlakuan perpajakan di Kawasan Berikat (Bonded Zone) Daerah Industri Pulau Batam : l Atas penyerahan / impor BKP selain yang digunakan untuk menghasilkan BKP yang diekspor, terutang PPN dan/ atau PPnBm atas penyerahan / impor BKPdi / ke Kawasan Berikat Batam yang pengenaannya dilakukan secara bertahap : a. Mulai 1 Januari 2004 è Kendaraan Bermotor segala jenis, Rokok dan hasil tembakau lainnya, Minuman mengandung alkohol b. Mulai 1 Maret 2004 è Barang Elektronik segala jenis dengan tenaga baterai atau listrik l Atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan atau JKP di Kawasan Berikat Batam, yang berasal dari Luar Daerah Pabean, diberikan fasilitas Tidak Dipungut PPN sejak 1 Januari 1995 s.d 31 Desember 2003, maka sejak 1 Januari 2004 Dikenakan PPN. B. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 60/PMK.04/2005 : Secara umum ada empat hal yang diatur dalam Permenkeu ini yaitu mengenai masalah Perijinan, Prosedur, Fasilitas Kepabeanan dan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

73

KEPABEANAN
Perpajakan, serta Fasilitas di Bidang Perdagangan : l Penyederhanaan perijinan yang terkait dengan pendirian TPB dan perubahan keputusan pendirian TPB, dimana kalau sebelumnya diberikan oleh Menteri Keuangan atau Direktur Jenderal maka sekarang diubah menjadi oleh Kepala Kantor Pelayanan l Penyederhanaan prosedur pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari TPB dimana untuk beberapa hal menjadi tidak lagi diperlukan dokumen pabean, dilakukan simplifikasi dokumen pabean, efisiensi pengawasan dimana hanya dilakukan di kawasan pelabuhan serta menghilangkan kewajiban pelaporan penggunaan bahan baku dan barang jadi. l Pemberian fasilitas perpajakan dan kepabeanan berupa tidak dipungutnya PPN Jasa atas penyerahan Jasa Kena Pajak dari dan ke TPB, pengenaan tarif Bea Masuk yang lebih rendah apabila ada perbedaan tarif antara barang jadi dan bahan baku serta tidak perlu lagi dipertaruhkan jaminan atas pengeluaran barang dalam rangka sub kontrak. l Pemberian fasilitas di bidang Perdagangan dengan menghilangkan kewajiban meminta ijin Depperdag dan meniadakan kewajiban Certificate of Inspection dari Surveyor atas pemasukan barang modal bukan baru serta pemberian ijin atas pengeluaran barang modal bukan baru yang cukup diberikan oleh Dinas Perdagangan Pemerintah Daerah setempat. C. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.04/2005 : l Diberikan Pembebasan Bea Masuk dan Tidak Dipungut PPN, PPnBm dan PPh Pasal 22 atas : a. Impor Barang Kena Pajak (BKP) maupun pemanfaatan BKP tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak (JKP) yang berasal dari Luar Daerah Pabean; b. Perolehan dalam negeri BKP atau JKP; yang dilakukan oleh Pengusaha di Pulau Bintan dan Pulau Karimun yang melakukan Proyek dalam lingkup kerjasama ekonomi antara Pemerintah RI dan Republik Singapura dalam rangka pengembangan : a. Kawasan yang dikembangkan untuk usaha kepariwisataan; b. Kawasan Industri di Pulau Bintan; c. Kawasan Pengembangan Sumber-sumber air di Pulau Bintan; d. Kawasan penimbunan, distribusi, dan pengolahan minyak bumi serta kawasan industri maritim (galangan kapal) dan konstruksi lepas pantai di Pulau Karimun Besar dan pulau-pulau sekitarnya. l Jangka waktu pemberian
l

fasilitas Kepabeanan dan Perpajakan tersebut mempunyai daya laku surut sejak 1 Januari 2004 dan berlaku sampai dengan 31 Desember 2008 (selama lima tahun); Atas Bea Masuk, PPN, PPnBm dan PPh Pasal 22 yang telah terlanjur dipungut atau dibayar, dapat dimintakan pengembalian;

D. Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 14/M-DAG/PER/7/2005 Tanggal 21 Juli 2005: l Pembebasan dari keharusan untuk memperoleh persetujuan impor dan pemeriksaan Surveyor atas impor barang dalam keadaan bukan baru; l Barang modal dalam keadaan bukan baru diperbolehkan diimpor sepanjang barang tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari keseluruhan barang yang diimpor dalam rangka pemindahan (relokasi) pabrik; l Tidak ada lagi kewajiban untuk memiliki Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK) terhadap semua barang yang dikenakan kewajiban memiliki NPIK.

PERBANDINGAN TPB – TPB BBK
Untuk dapat melihat lebih jelas berbagai kemudahan dan fasilitas yang diberikan kepada TPB di Pulau Batam, Bintan dan Karimun sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 60/PMK.04/2005 maka dapat dilihat perbandingan antara TPB di kawasan lainnya dengan TPB di Pulau Batam, Bintan dan Karimun (TPB BBK) sebagai berikut :
FOTO : ARIF/P2

FOTO BERSAMA. Menteri Keruangan dan Menteri Perdagangan menyempatkan diri berfoto bersama dengan jajaran Bea dan Cukai, saat berkunjung ke Batam, Bintan dan Karimun.

74

WARTA BEA CUKAI

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

PERBANDINGAN TPB – TPB BBK
NO
I.

TPB Umum (di Kawasan Lainnya)

TPB BBK

PERIJINAN : 1 Perizinan pendirian KB diberikan oleh Menteri Keuangan dan perizinan GB, TBB dan ETP diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan Izin Perubahan Keputusan pendirian TPB, izin menerima sub kontrak dari DPIL, izin daftar putih diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan Penambahan pintu gerbang (gate) pemasukan dan pengeluaran barang di TPB diperlukan izin dari Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan Peminjaman barang antar TPB atau dari TPB ke DPIL diperlukan izin dari Direktur Jenderal Perizinan pendirian KB, GB, TBB dan ETP diberikan dengan persetujuan Kepala KPBC atas nama Menteri Keuangan Izin Perubahan Keputusan pendirian TPB, izin menerima sub kontrak dari DPIL, izin daftar putih diberikan oleh Kepala KPBC atas nama Menteri Keuangan Penambahan pintu gerbang (gate) pemasukan dan pengeluaran barang di TPB tidak diperlukan izin Peminjaman barang barang dari TPB ke TPB lainnya di Batam atau dari TPB Batam ke DPIL Batam tidak memerlukan izin

2

3

4

II. PROSEDUR : 1 2 Pemasukan Barang dari LDP ke TPB dilakukan penyegelan oleh Bea dan Cukai Pengiriman Barang antar TPB yang berada dalam pengawasan satu KPBC dilakukan penyegelan oleh Bea dan Cukai Pengeluaran barang dari TPB ke DPIL menggunakan dokumen Pabean Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari TPB menggunakan dokumen BC 2.3 kecuali pengeluaran barang dari TPB ke DPIL menggunakan dokumen BC 2.0 (PIB) Pengeluaran hasil produksi KB ke DPIL dapat dilakukan setelah ada realisasi ekspor dengan ketentuan sebesar 50% dari nilai realisasi ekspor (untuk barang yg dapat berfungsi sendiri) atau sebesar 100% dari nilai realisasi ekspor (untuk barang yg masih perlu diproses lebih lanjut) Pengawasan kepabeanan dilakukan mulai dari Pelabuhan pemasukan, kegiatan di TPB, sampai pengeluaran barang dari TPB Kewajiban membuat dan menyampaikan laporan tiga bulanan tentang penggunaan bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi ke KPBC Pengawasan kepabeanan Di TPB dilakukan dengan menempatkan pegawai BC di TPB Pemasukan Barang dari LDP ke TPB tidak dilakukan penyegelan oleh Bea dan Cukai zPengiriman Barang antar TPB di BBK yang berada dalam satu KPBC tidak dilakukan penyegelan oleh Bea dan Cukai Pengeluaran barang dari TPB di Batam ke DPIL Batam tidak menggunakan dokumen Pabean (kecuali terhadap barang yang wajib dipungut BM dan PDRI) Pemasukan barang dari LDP ke TPB menggunakan dokumen BC 2.3 BBK dan pengeluaran barang dari TPB menggunakan dokumen BC 2.5 BBK. Dokumen BC 2.3 BBK dan BC 2.5 BBK lebih sederhana. Pengeluaran hasil produksi KB ke DPIL : l tidak dipersyaratkan untuk dilakukan ekspor terlebih dahulu l tidak dikaitkan dengan nilai realisasi ekspor(semua hasil olahan PDKB dapat dijual ke DPIL) Pengawasan kepabeanan hanya dilakukan di kawasan pelabuhan pada saat pemasukan atau pengeluaran Tidak diwajibkan membuat laporan penggunaan bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi Di TPB tidak dilakukan Pengawasan kepabeanan

3

4

5

6

7

8

III. FASILITAS PERPAJAKAN DAN KEPABEANAN : 1 2 Penyerahan Jasa Kena Pajak dari dan ke TPB dipungut PPN atas jasa Pembayaran BM berdasarkan tarif BM bahan baku Penyerahan Jasa Kena Pajak dari dan ke TPB tidak dipungut PPN atas jasa Pembayaran BM berdasarkan tarif BM bahan baku atau berdasarkan tarif BM barang jadi dalam hal pembebanan tarif BM barang jadi lebih kecil dari tarif BM bahan bakunya (Optional) Pengeluaran hasil olahan dari PDKB di Batam ke DPIL di Batam tidak dipungut BM dan PDRI kecuali terhadap 4 komoditi (Kendaraan bermotor, Hasil Tembakau, Minuman Mengandung Alkohol dan produk elektronik) yang berdasarkan ketentuan yang berlaku dipungut BM dan PDRI Pengeluaran barang asal impor dari PDKB Batam ke DPIL Batam dalam rangka sub kontrak, peminjaman dan perbaikan tidak perlu dipertaruhkan jaminan

3

Pengeluaran hasil olahan dari PDKB ke DPIL dipungut BM dan PDRI

4

Pengeluaran barang asal impor dari PDKB ke DPIL dalam rangka sub kontrak, peminjaman dan perbaikan harus dipertaruhkan jaminan

IV. FASILITAS PERDAGANGAN : 1 Importasi barang modal bukan baru (termasuk relokasi pabrik) perlu izin Deperdag dan Certificate of Inspection dari Surveyor. Pengeluaran barang modal bukan baru dari TPB ke DPIL diperlukan izin Deperdag Importasi barang modal bukan baru (termasuk relokasi pabrik) tidak perlu izin Deperdag dan tidak perlu Certificate of Inspection dari Surveyor. Pengeluaran barang modal bukan baru dari TPB di BBK ke DPIL, izin cukup diberikan oleh Dinas Perdagangan Pemkab/Pemkot

2

(Bahan Presentasi Direktur Jenderal Bea dan Cukai di Batam, 22 Juli 2005)
EDISI 370 SEPTEMBER 2005 WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

Drs. Abdul Latief Naleng
KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE A BANJARMASIN

Berharap Segera Pindah”
M
enjalani hidup bagaikan air mengalir. Itulah yang selama ini dilakoni oleh profil WBC kali ini, Drs. Abdul Latief Naleng, Kepala KPBC Tipe A Banjarmasin. Latief, begitu ia biasa dipanggil, sangat bersyukur dengan keadaan yang diberikan Allah SWT padanya saat ini. Betapa tidak, anak terakhir dari sembilan bersaudara ini mengalami hidup yang penuh keprihatinan pada masa kecilnya. Latief lahir pada 5 Mei 1954 di suatu desa di daerah terpencil di daerah pedalaman Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ayahnya, La Naleng (alm) dan Ibunya, Hani (alm) bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang minim. Dengan latarbelakang pendidikan yang kurang, orangtua Latief pun tidak mampu mengarahkan Latief dalam hal pendidikan. Apalagi pada saat itu didaerahnya terjadi pergolakan pemberontakan DI-TII pimpinan Kahar Muzakar, yang menyebabkan kondisi keamanan kurang stabil, sehingga keluarga Latief sering berpindah-pindah tempat. Namun demikian, Latief berhasil menyelesaikan SD-nya. Setelah lulus SD, Latief pun melanjutkan pendidikan ke Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP). Setiap hari ia harus berjalan kaki sejauh sekitar 10 km untuk bersekolah. Ketika di SLTP, Latief berhasil menorehkan kebahagiaan bagi diri dan orangtuanya, ia memperoleh nilai ujian kelulusan terbaik se-Kab. Barru. Dengan demikian, ia pun memperoleh rekomendasi untuk melanjutkan sekolah ke SMU di Ujung Pandang (Makasar-red) tanpa tes. Pada saat itulah Latief berpisah dari orangtuanya dan tinggal bersama familinya di Ujung Pandang. Setelah lulus SMU, Latief melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin (Unhas), Ujung Pandang, Sulsel. Pada saat sekolah maupun kuliah, Latief tidak memiliki banyak kegiatan. Ia pun tidak penah aktif dalam suatu organisasi di kampusnya. Sepulangnya dari sekolah maupun kampus, ia langsung pulang ke rumah. Latief sadar bahwa ia
WARTA BEA CUKAI

“JANGAN MENGHITUNG HARI DAN
Menjalani hidup bagaikan air mengalir dan mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT menjadi kunci suksesnya. Tak heran jika ia merasa enjoy dimanapun ia ditugaskan.
tinggal di rumah sanak familinya sehingga sepulang sekolah atau kuliah, ia harus membantu pekerjaan di rumah. Namun demikian, ketekunan dan rasa percaya diri yang tinggi tidak pernah hilang dari dirinya. Misalnya saja, ia masih memakai sepeda untuk pergi ke sekolah maupun ke kampus, padahal temantemannya yang lain memakai motor. “Saya tidak pernah merasa malu atau minder sebab saya tidak melihat yang pakai motor tapi saya melihat saudara saya masih banyak yang jalan kaki,” ujarnya seraya tersenyum. tidak menyangka kalau bisa diterima sebagai PNS di Depkeu. Dengan rasa setengah percaya, Latief memutuskan untuk pergi ke Ujung Pandang melihat pengumuman kelulusan tersebut di kampusnya, Unhas. Begitu melihat namanya tertera di secarik kertas yang ditempel di papan pengumuman, barulah ia percaya bahwa ia diterima sebagai CPNS di Depkeu. Setelah itu, ia pun bergegas pulang untuk memberitahukan pada orangtuanya bahwa ia lulus tes dan diterima bekerja di Depkeu Jakarta. Sementara ia tengah mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta, pengumuman penerimaan sebagai dosen dari Dep. P&K keluar dan Latief dinyatakan lulus. Tetapi kesempatan itu ia tolak, ia tetap berpikir dan berusaha bagaimana caranya agar bisa berangkat ke Jakarta dan bekerja di Depkeu. Waktu itu, Latief belum tahu akan ditempatkan di direktorat mana. Walaupun demikian, baginya kesempatan tersebut merupakan berkah dari Allah SWT. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk berangkat ke Jakarta sekalipun teman-teman, keluarga, termasuk orangtuanya melarang. Karena keberangkatannya kurang mendapat dukungan dari keluarga, maka dengan pakaian dan uang seadanya, ia berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ia menumpang di rumah sanak familinya. Tiba di Jakarta, Latief langsung melapor ke Gedung Keuangan di Lapangan Banteng. Pada saat itu baru diketahui kalau ia ditempatkan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Padahal pada saat itu Latief sama sekali tidak mengetahui apa itu DJBC. Tetapi ia ingat bahwa salah seorang temannya yang sama-sama dari Unhas Ujung Pandang, yaitu Patarai Pabotinggi (sekarang Ka. KPBC Kudusred), ditempatkan di direktorat yang sama. Latief pun merasa senang dan cukup puas dengan penempatannya di DJBC. Kemudian Latief diberi surat pengantar dari Sekjen Depkeu dan pergi ke Kantor Pusat DJBC pada keesokan harinya. “Nah, ketika mau masuk ke Kantor Pusat Bea dan Cukai, saya dicegah oleh PKD (Penjaga Keamanan

DITERIMA BEKERJA DI TIGA TEMPAT
Seperti orang lain pada umumnya, setelah menamatkan kuliah dan meraih gelar Sarjana Ekonomi, Latief ingin segera bekerja untuk membantu meringankan beban orangtuanya. Kebetulan pada saat itu ada penerimaan pegawai negeri di Departemen Dalam Negeri (Depdagri), ia pun mencoba ikut tes. Tak berapa lama kemudian (kira-kira satu bulan), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) melalui Kopertis Wilayah III Ujung Pandang menerima tenaga dosen, Latief juga mencoba ikut test. Selang beberapa waktu kemudian, Departemen Keuangan bekerjasama dengan Unhas juga membuka lowongan penerimaan PNS. Latief pun lagi-lagi mencoba mengadu nasib dengan mendaftar dan menjalani tes. Dari ke tiga lowongan pekerjaan tersebut, pengumuman penerimaan pegawai yang paling cepat keluar adalah Depdagri. Latief diterima sebagai CPNS dan ditempatkan di lingkungan Pemda Kabupaten Barru, tepatnya di bagian Perencanaan Pembangunan Daerah (sekarang Bappedalak-red). Bekerja di kampung halamannya sendiri membuat Latief merasa tidak puas. Ia merasa kurang bisa berkembang. Berbeda dengan orangtuanya yang begitu bahagia melihat Latief bekerja di pemda kampung halamannya. Selang dua minggu, teman-temannya di Unhas memberitahukan bahwa Latief diterima di Departemen Keuangan (Depkeu). Latief merasa kaget, sebab ia

76

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
WBC/ATS

BERSAMA KELUARGA. (ki-ka) Putri kedua (Amalia), A. Latief Naleng, putri pertama (Herlina), istri (drg. Mouna Megasuri) dan putri bungsunya (Amirani).

Dalam-red). Mereka ragu dengan penampilan saya yang berpakaian seadanya dengan postur tubuh yang kecil dan kurus,” kenang Latief. Namun, setelah ia memperlihatkan SK dari Depkeu, ia pun diperbolehkan masuk. Setelah surat pengantar penempatan (SK) di proses, pada 1981 Latief ditempatkan di Direktorat Harga pada Subdit Pengendalian Teknis. Selama di Dit. Harga (sejak 1981-1986), Latief memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman, khususnya berkaitan dengan proses dan penetapan harga barang impor. Pada saat F. Simlae menjabat sebagai Direktur Harga, Latief dipercaya untuk menangani tata usaha atau administrasi Tim Harga Patokan Barang Impor. Tugas tersebut cukup penting, sebab disamping mempersiapkan bahan-bahan tim, setiap hari juga harus selalu mendampingi direktur harga untuk mengikuti rapat Tim Terpadu bersama instansi terkait di Departemen Perdagangan.

MUTASI BUKAN BEBAN
Pada 1986 atau setelah Inpres No. 4 Tahun 1985, terjadi reorganisasi. Latief dipindahkan ke Kantor Inspeksi (Kinsp) Soekarno Hatta Cengkareng sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga. Tugas tersebut bagi Latief dirasa cukup berat karena sewaktu Kinsp Soekarno Hatta masih berstatus Kanwil, tugas-tugas rumah tangga atau perlengkapan ditangani pejabat setingkat eselon III. 78
WARTA BEA CUKAI

Di kantor ini pun Latief sangat bersyukur, sebab selama bertugas ia dapat melayani tiga kepala kantor, yakni Parinding (pensiun-red), B. Lirungan (pensiun-red) dan Ibrahim Karim (sekarang Direktur Teknis Kepabeanan-red). Kemudian, pada 1990 Latief dipromosi menjadi Kepala Kantor Inspeksi Tipe D Muntok. Selama bertugas di Kinsp Muntok (sejak 1990-1992), ia merasakan perbedaan yang amat sangat dibandingkan ketika ia bertugas di Jakarta. Muntok, yang biasa disebut Mentok, merupakan suatu kota kecil yang terletak di ujung timur Pulau Bangka. DOK. PRIBADI Walaupun kecil, kota tersebut merupakan kota bersejarah karena di kota itu, Presiden RI yang pertama, Soekarno pernah diasingkan oleh penjajah (tepatnya di Gunung Manumbing). Di kota itu pula, Latief memiliki kenangan manis yang takkan terlupa. Ia bertemu dengan seorang dara manis berdarah campuran Aceh - Betawi ACARA PERPISAHAN. Acara perpisahan A. Sjauranie Kasi Kepabeanan dan Cukai bernama drg. II KPBC Banjarmasin, yang memasuki masa purnabakti di Banjarmasin.

Mouna Megasuri, yang sekarang menjadi ibu dari anak-anaknya. Lalu, pada 1992 ia dimutasi ke Kinsp Tipe C Pare-Pare sebagai kepala kantor. Ditempat ini Latief juga merasa senang, sebab jarak dari Pare-Pare ke kampung halamannya (Kab. Barru) relatif dekat. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1994 ia dimutasi ke Kanwil IX DJBC Pontianak sebagai Kasubag Rumah Tangga. Selanjutnya, pada 1997 Latief dimutasi ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok III sebagai Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD). Setelah itu, pada 2001 Latief diangkat menjadi Kepala Seksi Impor pada Kanwil VIII Denpasar, Bali. Kemudian pada 2002, ia dipromosi menjadi Kepala Bidang Kepabeanan pada Kanwil II DJBC Tanjung Balai Karimun. Hampir semua daerah tempatnya bertugas, memiliki kesan tersendiri. Misalnya saja ketika ia bertugas di Kanwil II TBK, ia pernah ditunjuk untuk mewakili Ka.Kanwil dalam pertemuan Sosek Malindo Tingkat Daerah Riau dengan Johor – Malaka (Malaysia) di Kota Johor. Selain itu, pengalaman lain yang berkesan ketika di TBK, ia harus menjelajahi banyak pulau dengan alat transportasi speed boat. Baginya, bertugas di daerah tersebut sangat menyenangkan. Namun, harus dibarengi dengan ketahanan fisik atau mental yang prima. Betapa tidak, dengan keadaan alam yang sebagian besar terdiri dari perairan, serta berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia, menyebabkan daerah tersebut sangat rentan akan kegiatan penyelundupan. Ditempat ini pula Latief merasa bersyukur bertemu dengan Sofyan Permana (pada saat itu sebagai Ka.Kanwil II TBK). Sebab, kepemimpinannya sangat demokratis dan bijaksana, serta tegas tapi tidak kaku. “Selain itu, beliau juga sangat peduli dengan anak buah sehingga menjadi bawahan beliau sangat menyenangkan,” kata Latief. Namun demikian, Latief merasa enjoy

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

WBC/ATS

SIDANG KEDUA. Sidang kedua KK/JKK Sosek Malindo Tingkat Daerah Riau Peringkat Negeri Johor/Malaka, 13 – 15 Agustus 2003 di Pekanbaru.

dan tidak pernah menganggap penempatannya di daerah-daerah tersebut menjadi suatu beban. Bahkan ia justru menganggapnya sebagai suatu rahmat yang tidak ternilai harganya. Ia tidak pernah berpikir bagaimana caranya agar bisa pindah dari tempat itu secepatnya. Menurutnya, tiga bulan pertama adalah masa orientasi dan penyesuaian pada lokasi atau lingkungan kerja, setelah itu ia merasa enjoy. Seperti saat ini, setelah ia bertugas hampir dua tahun lamanya di Banjarmasin, ia merasa senang. Sebab selama penugasan, ia hampir tidak menemui kendala yang berarti. Tentu saja hal itu berkat dukungan segenap jajaran Bea dan Cukai Banjarmasin dan kerjasama yang baik dengan instansi setempat. Latief mengatakan bahwa dalam memanage pekerjaan, termasuk hubungan dengan bawahan, ia menerapkan sistem demokrasi terbuka dan fleksibel. Artinya, faktor lingkungan sangat ia perhatikan, sehingga tercipta rasa percaya diri dan saling menghargai antara atasan dan bawahan. Jadi, kalau ditanya kiat suksesnya selama ini, ia tidak pernah merasa ngoyo dalam melakukan ataupun menginginkan sesuatu. Semuanya dibiarkan mengalir

bagai air, apa adanya. Ia berpikir bahwa memiliki cita-cita itu boleh tapi jangan dengan ambisi yang berlebihan. “Jadi, saya merasa betah dimanapun ditugaskan. Kita jangan menghitung hari dan berharap segera pindah kalau kita ditempatkan disuatu daerah tapi kita harus berusaha bagaimana caranya agar bisa bekerja dengan baik dan tetap enjoy,” tandas Latief, apalagi ia telah terbiasa hidup diperantauan. Alhasil, berpisah dengan keluarga merupakan resiko yang harus ia jalani. Kebetulan istrinya, drg. Mouna Megasuri bekerja sebagai dokter gigi di Jakarta, sehingga sulit untuk menemaninya pindah. Namun Latief bersyukur antara tugas dan keluarga, keduanya bisa ia jalani tanpa rintangan. Hubungan dengan istri dan anak-anaknya yang berada di Jakarta pun tidak pernah terputus. Setiap hari

menjadi panutan bagi anak-anaknya. “Alhamdulillah, ketiga putri saya termasuk anak-anak yang lucu dan menyenangkan,” ujar Latief. Ketika ditanya mengenai hobi, Latief mengaku bahwa ia tidak memiliki hobi yang special. Hampir semua cabang olahraga ia senangi. Namun saat ini, sesuai dengan usia, ia cenderung mengikuti cabang olahraga yang tidak memerlukan faktor emosional tinggi, tetapi lebih kepada faktor ketenangan, keseimbangan dan pengendalian. Lewat olahraga golf ketiga faktor tersebut dapat diperolehnya. Menurut Latief, olahraga golf juga bermanfaat bagi orang yang menderita kelainan jantung, seperti yang pernah ia alami. Namun, setelah berlatih golf (dimana ia harus mengendalikan emosi, menjaga keseimbangan dan banyak berjalan),
DOK. PRIBADI

SIDANG PERTAMA. Latief (baris kedua dari atas, empat dari kiri) pada Sidang pertama JKK/KK Sosek Malindo Peringkat Negeri Johor/Melaka – Tingkat Daerah Riau Johor Bahru, 22 – 24 Des 2002.

Latief menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan keluarga via telepon. Ayah dari Herlina (21), Amalia (12) dan Amirani (8) ini selalu berusaha menjadikan posisinya sebagai orangtua yang dapat
DOK. PRIBADI

lambat laun gejala kelainan jantung yang dideritanya pun hilang. Tak heran jika diusianya yang menginjak 51 tahun, Latief tetap terlihat bugar. Untuk itu ia memberikan resep. “Kalau sedang marah, kita harus secepatnya sadar dan meredamnya, setelah itu segera lakukan sesuatu yang bisa membuat kita senang. Jadi, kita harus berusaha merasa senang dalam kondisi yang buruk sekalipun,” tandas Latief.

HARAPAN PADA BEA DAN CUKAI
Sekitar empat tahun lagi, Latief akan memasuki masa purna bhakti. Untuk itu, Latief menaruh harap besar pada instansi DJBC, agar reformasi di segala bidang yang telah dan sedang dilaksanakan tetap dilanjutkan. “Jika reformasi tersebut didukung oleh segenap jajaran Bea dan Cukai, termasuk mitra usaha, Insya Allah suatu waktu nanti, citra Bea dan Cukai di mata masyarakat dan bangsa akan lebih baik dan tetap menjadi kebanggaan,” imbuh Latif yang mengaku merasa senang dan bangga menjadi pegawai bea cukai. ifa
WARTA BEA CUKAI

SOSIALISASI. Sosialisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) tahun 2004, di Banjarmasin, 21 Januari 2004.

EDISI 370 SEPTEMBER 2005

79

APA KATA MEREKA

“ Petugas Punya Naluri Tajam”
“Perjalanan ke luar negeri paling tidak dua atau tiga kali dalam satu tahun,”tutur Attalarik Syah kepada WBC. Bagi artis sinetron yang mengawali karirnya dari dunia model, petugas bea cukai sudah bertindak sesuai dengan aturan yang ada.”Saya tahu kalau petugas bea cukai itu pasti bekerja pakai naluri, kalau ada yang mencurigakan pasti diperiksa, tapi kalau enggak ada yang dicurigai ya gak diperksa, nalurinya tajam”tuturnya kembali. Walaupun dirinya adalah seorang public figure yang sudah di kenal masyaratkat luas, dirinya lebih nyaman jika ia mengikuti prosedur pabean yang sudah ada tanpa mendapat keistimewaan.”Kalau pulang dari luar negeri saya gak pernah diperlakukan istimewa oleh petugas, saya lebih nyaman begitu daripada dapat keistimewaan seperti didahulukan dari penumpang lain atau tas saya tidak diperiksa sama sekali,”ungkapnya kembali. Arik demikian sapaan akrabnya mengatakan, bahwa petugas diluar negeri atau di negara lain dianggapnya terlalu paranoid (ketakutan.red) kalau menemukan benda yang mencurigakan dalam tas seorang penumpang.”Mereka kadang paranoid kalau melihat hal yang mencurigakan, jadi penumpang tadi harus bongkar tas, kalau sudah diperiksa tidak dibantu untuk merapihkan isi tas penumpang tadi, kan dia (penumpang.red) jadi repot,”ujarnya lagi. zap

ATTALARIK SYAH

CORNELIA AGATHA

“Banyakin

Senyum Dong ”
Cornelia Agatha atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Sarah dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, kini mencoba peruntungannya sebagai penyanyi untuk album rohani. “Peluncuran album rohani ini sudah dilakukan pada hari Jumat (12 Agustus 2005),”tutur Lia kepada WBC disela-sela acara final Indonesian Idol di JHCC. Ketika ditanya siapa yang ia dukung dalam final Indonesian Idol, Lia mengatakan kedua-duanya bagus dan bingung untuk memilih siapa yang menjadi idola,”Kedua-duanya bagus, boleh gak milih dua-duanya,”ujar Lia disertai dengan tawanya yang khas. Ketika ditanya mengenai petugas bea dan cukai yang pernah ia temui ketika pulang dari luar negeri, Lia mengatakan, petugas bea cukai sudah menjalankan tugasnya dengan baik. “Petugas bea cukai di bandara itu saya rasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik, buktinya walau saya artis saya diperlakukan sama dengan penumpang lain,”tuturnya lagi. Lebih lanjut Lia mengatakan setiap dirinya pulang dari luar negeri ia tidak pernah bawa barang-barang yang tidak perlu karena bisa mempersulit dirinya kalau barang yang dibawanya itu barang yang dilarang. “Aku gak pernah bawa barang yang berlebihan kalau pulang dari luar negeri…ribet, bisa nyusahin,” ujarnya lagi. Di akhir wawancara Lia mengatakan petugas boleh bertindak tegas dan harus bekerja secara professional.”Tegas sih boleh tapi jangan lupa senyum dong biar orang yang diperiksa itu nyaman, kalo bisa banyakin senyum dong” tutur Lia kembali. zap 80
WARTA BEA CUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN
LAMPIRAN III PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

CK-21B
KALKULASI HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU IMPOR
Yang didasarkan atas perhitungan per Nama Importir Alamat Tempat Usaha Nama Pemilik Alamat Pemilik NPPBKC Nomor API/APIT NPWP Nomor PKP Jenis Hasil Tembakau Merek Isi per kemasan Berat per batang Harga Jual Eceran per kemasan Tarif Cukai Perhitungan Kurs US$ 1.00 No 1 2 3 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. kemasan : : : : : : : : : : : : : Rp : : Rp

Batang/gram Gram

HARGA BAHAN-BAHAN DAN BIAYA-BIAYA Nilai Pabean (CIF) Bea masuk Bea masuk Tambahan Cukai : …… % x Rp Nilai Impor PPh Impor ….. % x Rp PPN HT : 8,4 % x Rp Pungutan Negara lainnya : Biaya Perusahaan Biaya lain-lain Total Harga Pokok Keuntungan Importir Harga Transaksi Pabrik Keuntungan distributor, agen, dan pengecer Harga Jual Eceran (HJE) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

JUMLAH

(angka 15) (angka 5) (angka 15)

+

+ + +

Mengetahui, KEPALA KANTOR PELAYANAN

…………………………… Pengusaha Pabrik

DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

1

LAMPIRAN IV PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

2 2
ATAS NAMA NNPBKC Jenis HT Nomor 6 7 Tarif Cukai (%) 5 Isi Keputusan Terakhir Penetapan HJE (Merek Baru) Tanggal 8 9 : : HJE (Rp) 4 Kota……., Tanggal/Bulan/Tahun Pengusaha Pabrik Nama DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

DAFTAR HARGA JUAL ECERAN MEREK HASIL TEMBAKAU YANG MASIH BERLAKU

No.

Merek

Kode Merek

1

2

3

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN

Mengetahui, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ……..

Nama NIP

KEPUTUSAN & KETETAPAN
LAMPIRAN V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya : Nama : Jabatan : Alamat : selaku Pemilik / kuasa dari : Nama Perusahaan : NPPBKC : NPWP : Nomor PKP : Alamat : dengan ini menyatakan dengan sebenarnya, bahwa merek/desain merek hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Surat Permohonan Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Merek Baru atas nama ………………………....……………… nomor : ……...……….. tanggal …….......….........................…. yang kami ajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai … ………....………...........…..., adalah : a. tidak memiliki kesamaan nama, baik tulisan maupun pengucapannya, atau kemiripan dengan merek/desain kemasan hasil tembakau lainnya sehingga tidak mudah untuk membedakannya, yang telah terlebih dahulu dimiliki oleh Pengusaha Pabrik atau Importir lainnya dan tercatat pada administrasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; atau b. tidak memiliki kesamaan pada pokoknya atau pada keseluruhannya dengan merek/desain kemasan milik orang lain yang telah terlebih dahulu didaftarkan dan telah mendapat hak merek dari instansi yang berwenang. Dalam hal pernyataan ini tidak benar adanya, maka saya selaku pemilik/kuasa dari ……………………………………… bersedia menerima sanksi pembatalan Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Merek Baru, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau. Demikian Surat Pernyataan ini saya buat untuk memenuhi persyaratan Permohonan Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Merek Baru. Yang Membuat Pernyataan,

Meterai ……………………. DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

3 3

KEPUTUSAN & KETETAPAN
LAMPIRAN VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU Nomor Hal : ………….….,…………. : Permohonan Penetapan Kenaikan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau a.n . …………………………….. di ………………………………

Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ………………………………………… di…………………………. Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Alamat Kuasa/Pemilik dari NPPBKC NPWP Nomor PKP Alamat Perusahaan : : : : : : : :

dengan ini mengajukan permohonan Penetapan Kenaikan Harga Jual Eceran untuk hasil tembakau yang sebelumnya telah mendapatkan Keputusan Penetapan HJE dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran Permohonan Penetapan Kenaikan HJE ini. Permohonan ini dibuat untuk memenuhi ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau. Demikian untuk dimaklumi. Diterima tanggal Nomor Agenda Nama Pejabat BC NIP Tanda tangan : : : : : Pemohon,

Meterai …….........……

Catatan : Contoh format ini dapat diubah / disesuaikan dengan kebutuhan DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

4 4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

Lampiran Permohonan Kenaikan HJE Hasil Tembakau Nomor : Tanggal :

RINCIAN DAFTAR MEREK HASIL TEMBAKAU YANG DIAJUKAN KENAIKAN HARGA JUAL ECERANNYA

ATAS NAMA NNPBKC Keputusan Terakhir Penetapan HJE ( Merek Baru) Nomor 7 8 Tanggal

: : HJE (Rp) LAMA 9 BARU 10

No 4 5 6

Merek

Kode Merek

Jenis HT

Tarif Cukai (%) Isi

1

2

3

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005
Pengusaha Pabrik, Nama NIP DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

KEPUTUSAN & KETETAPAN

5

KEPUTUSAN & KETETAPAN
LAMPIRAN VII PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
KANTOR WILAYAH ........… KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI … ……………. KEPUTUSAN KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI NOMOR KEP- … /WBC. …/KP. …/…. TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU MEREK BARU ATAS NAMA ………………………… KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI … …………, Menimbang : bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau, perlu menetapkan Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea Dan Cukai ….…......………..tentang Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Merek Baru atas nama ………………....................………….. ; 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 43/ PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar Dan Tarif Cukai Hasil Tembakau; 4. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau; Surat permohonan …………………… di ……. nomor ……………… tanggal ………. hal Permohonan Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Merek Baru atas nama. …………......….. di …………….…..; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ......... TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU ATAS NAMA.....…………………………..…….. DI ……….......………….. Memberikan Penetapan Nama Pengusaha Alamat NPPBKC NPWP Nomor PKP Harga Jual Eceran Hasil Tembakau kepada : : : : : :

Mengingat

:

Memperhatikan

:

Pertama

:

6 6

dengan rincian merek sebagai berikut :

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN
a. Merek : Jenis Hasil Tembakau Harga Jual Eceran Tarif Cukai Isi kemasan Bahan kemasan Warna dasar bahan kemasan Tampilan kemasan : l Sisi depan Sisi belakang Sisi kiri Sisi kanan Sisi atas Sisi bawah : : : : : :

: : : : : :

l

l

l

l

l

b.

Merek : Jenis Hasil Tembakau Harga Jual Eceran Tarif cukai Isi kemasan Bahan kemasan Warna dasar bahan kemasan Tampilan kemasan : l Sisi depan
l

: : : : : :

: : : : : :

Sisi belakang Sisi kiri Sisi kanan Sisi atas Sisi bawah

l

l

l

l

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

7

KEPUTUSAN & KETETAPAN
Kedua : Keputusan ini dapat dicabut dalam hal : a. merek/desain kemasan hasil tembakau yang bersangkutan memiliki kesamaan nama, baik tulisan maupun pengucapannya atau kemiripan dengan merek/desain kemasan milik Pengusaha Pabrik atau Importir lainnya sehingga tidak mudah untuk membedakannya, yang telah terlebih dahulu dimiliki oleh Pengusaha Pabrik atau Importir lainnya dan tercatat pada administrasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. atas permohonan/gugatan Pengusaha Pabrik atau Importir lainnya, yang berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, bahwa merek atau desain kemasan yang bersangkutan memiliki kesamaan pada pokoknya atau pada keseluruhannya dengan merek atau desain kemasan miliknya yang telah terlebih dahulu didaftarkan dan telah mendapat sertifikat merek dari instansi yang berwenang. Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku terhitung sejak (tanggal ditetapkan/ atau tanggal tertentu).

Ditetapkan di ………… pada tanggal …………….. KEPALA KANTOR PELAYANAN, NAMA NIP.

Catatan : Format dan lainnya dapat disesuaikan Sesuai dengan materi yang diperlukan.

DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

8 8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN
LAMPIRAN VIII PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KANTOR WILAYAH … KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ……………. KEPUTUSAN KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI NOMOR KEP- … /WBC. …/KP. …/...... TENTANG PENETAPAN KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU ATAS NAMA …………………………NPPBKC …………. KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI …………, Menimbang : bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau, perlu menetapKan Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea Dan Cukai ………………………………… tentang Penetapan Kenaikan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau atas nama ……………… NPPBKC……………..…; : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 43/PMK.04/ 2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau; 4. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau; : Surat permohonan ………………..…… di ……..…. nomor ……………… tanggal ………. hal Permohonan Kenaikan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau a.n. …………NPPBKC…….. di ……..; MEMUTUSKAN : : KEPUTUSAN KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ……. TENTANG PENETAPAN KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU ATAS NAMA ……………..NPPBKC....... DI ……………….. : Menaikan HJE hasil tembakau untuk merek yang tersebut pada lajur 2 dari HJE dan tarif cukai sebagaimana tersebut pada lajur 9 menjadi sebagaimana tersebut pada lajur 10 lampiran surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ini. : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan/kesalahan/kekurangan di dalamnya akan diadakan pembetulan seperlunya.

Mengingat

Memperhatikan

Menetapkan PERTAMA

KEDUA

Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ini mulai berlaku terhitung sejak (tanggal ditetapkan/atau tanggal tertentu). Ditetapkan di ………… pada tanggal …………….. KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI …………………………………., NAMA NIP DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

9

Lampiran Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Nomor : Tanggal :

10 10
Isi Nomor 7 8 6 Keputusan Terakhir Penetapan HJE (Merek Baru) Tanggal HJE (Rp) LAMA 9 BARU 10 4 5 Kota…........…., Tanggal/Bulan/Tahun Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai …........… Nama NIP DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

DAFTAR KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

ATAS NAMA NNPBKC

: :

No

Merek

Kode Merek

Jenis HT Tarif Cukai (%)

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN

1

2

3

KEPUTUSAN & KETETAPAN
LAMPIRAN IX PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 07/BC/2005 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
KANTOR WILAYAH … KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ……………. KEPUTUSAN KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI NOMOR KEP- … /WBC. …/KP. …/2005 TENTANG PENETAPAN KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU ATAS NAMA …………………………NPPBKC………… KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI …………, Menimbang : bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau, perlu menetapkan Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ……………………………………………… tentang Penetapan Kenaikan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau atas nama ……………………………….NPPBKC……….; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 43/PMK.04/ 2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau; 4. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau; Memperhatikan : Pasal 11 Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau; Menetapkan MEMUTUSKAN : : KEPUTUSAN KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ........… TENTANG PENETAPAN KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU ATAS NAMA ……...….. NPPBKC…….....… DI …………….. : Menaikan HJE hasil tembakau untuk merek yang tersebut pada lajur 2 dari HJE sebagaimana tersebut pada lajur 9 menjadi sebagaimana tersebut pada lajur 10 lampiran Keputusan Kepala Kantor Pelayanan ini. : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan/kesalahan/kekurangan di dalamnya akan diadakan pembetulan seperlunya. Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ini mulai berlaku tanggal 1 Juli 2005. Ditetapkan di ………… pada tanggal …………….. KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI …………………………………., NAMA NIP DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

PERTAMA KEDUA

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

11

Lampiran Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Nomor : Tanggal :

12 12
Isi Nomor 7 8 6 Keputusan Terakhir Penetapan HJE (Merek Baru) Tanggal HJE (Rp) LAMA 9 BARU 10 4 5 Kota…........…., Tanggal/Bulan/Tahun Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai …........… Nama NIP DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

DAFTAR KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

ATAS NAMA NPPBKC

: :

No

Merek

Kode Merek

Jenis HT Tarif Cukai (%)

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN

1

2

3

KEPUTUSAN & KETETAPAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
Jalan Jenderal A. Yani Jakarta – 13230 Kotak Pos 108 Jakarta – 10002 Yth. Para Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Di seluruh Indonesia Telepon : 4890308 Faksimili : 4890871

Nomor SE-13/BC/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENETAPAN KENAIKAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU DAN PELAYANAN PEMESANAN PITA CUKAI
Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau jo Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran, dipandang perlu menyampaikan petunjuk pelaksanaan penetapan kenaikan HJE hasil tembakau dan pelayanan pita cukai sebagai berikut : 1. Penggolongan Pengusaha Pabrik a. Batasan penggolongan Pengusaha Pabrik yang berlaku 1 Juli 2005 adalah sesuai Pasal 2 ayat (1) jo. Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005. Penghitungan produksi hasil tembakau dilakukan berdasarkan pemesanan pita cukai (dokumen CK-1). Sebagai contoh : Pengusaha Pabrik pada tahun takwim 2004 memproduksi (sesuai dokumen CK-1) Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebanyak 2,4 milyar batang dan klobot (KLB) sebanyak 5,2 juta batang, maka Pengusaha tersebut termasuk golongan II untuk jenis KLB (tidak lebih dari 6 juta batang). b. Untuk Pabrik yang mempunyai lokasi di bawah pengawasan lebih dari satu KPBC, maka golongan Pengusaha Pabrik ditentukan berdasarkan gabungan CK-1 dari keseluruhan lokasi pabrik. c. Pengusaha Pabrik baru dapat mengajukan permohonan untuk ditetapkan golongannya berdasarkan rencana produksi untuk setiap jenis hasil tembakau dalam jangka waktu satu tahun takwim. d. Kenaikan golongan Pengusaha Pabrik dapat terjadi apabila dalam satu takwim berjalan produksinya melebihi batasan produksi untuk golongannya. Sebagai contoh : 1) Pengusaha Pabrik padaTahun 2004 untuk jenis SKT termasuk golongan II (lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 milyar batang), dalam tahun 2005 yaitu pada tanggal 15 Oktober 2005 Pengusaha yang bersangkutan untuk jenis SKT produksi berdasarkan CK-1 sudah mencapai 2 milyar batang, terhadap pemesanan pita cukai (CK-1) berikutnya harus mengikuti ketentuan HJE dan tarif sesuai golongan I.

SURAT EDARAN

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

13 13

KEPUTUSAN & KETETAPAN
2) Pengusaha Pabrik untuk jenis SKM termasuk golongan III (tidak lebih dari 500 juta batang), berdasarkan penelitian administrasi pada tanggal 20 September 2005 produksi berdasarkan CK-1 telah mencapai 700 juta batang, atas kelebihan produksi dari batas maksimum, sebanyak 200 juta batang ditagih kekurangan cukai dan pungutan lain dengan menggunakan ketentuan HJE dan tarif golongan II dan untuk pemesanan pita cukai (pengajuan CK-1) selanjutnya harus menyesuaikan HJE dan tarifnya sesuai dengan golongan II. e. Penurunan golongan Pengusaha Pabrik dapat dilakukan apabila dalam satu tahun takwim produksinya kurang dari batasan produksi untuk golongannya. Penurunan golongan tersebut harus ditetapkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dan penurunan golongan yang diperkenankan hanya untuk satu tingkat lebih rendah dari golongan sebelumnya. Sebagai contoh : 1) Pengusaha Pabrik SKT golongan II tarif cukai 16 % selama Tahun 2005 memproduksi sebanyak 489 juta batang, maka Pengusaha yang bersangkutan dapat mengajukan penurunan golongan menjadi golongan III/A dengan tarif cukai 8 % untuk tahun takwim berikutnya (tahun 2006). 2) Pengusaha Pabrik SKM golongan I tarif cukai 40 % selama Tahun 2005 hanya memproduksi sebanyak 450 juta batang, maka Pengusaha yang bersangkutan hanya diperkenankan menurunkan golongannya menjadi golongan II tarif cukai 36 % untuk tahun takwim berikutnya (tahun 2006). f. Pengusaha Pabrik yang mengalami penurunan golongan dilarang menurunkan HJE.

2. Perhitungan dan Penetapan Harga Jual Eceran a. HJE semua jenis hasil tembakau yang masih berlaku, mulai 1 Juli 2005 dinaikkan sebesar 15 % (lima belas persen) sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005. Perhitungan kenaikan HJE : HJE Baru = {(HJE per bungkus dibagi isi per bungkus) dikali 115 % } dikali isi per bungkus. Hasil perhitungan dibulatkan ke atas kelipatan 100 rupiah. Sebagai contoh : 1) Merek “A” jenis SKM isi 12 batang merupakan produk Pengusaha Pabrik golongan I maka perhitungannya sebagai berikut : HJE yang berlaku saat ini Rp 5.900,00 HJE per batang sebesar Rp 491,67, mulai 1 Juli 2005 HJEnya dinaikkan 15 % per batang menjadi Rp 565,42 atau Rp 6.785,04 per bungkus, dibulatkan menjadi Rp 6.800,00 perbungkus. 2) Merek “X” jenis TIS isi 100 gram merupakan produk Pengusaha Pabrik golongan III/B, maka perhitungannya sebagai berikut : HJE yang berlaku saat ini Rp. 2.200,00, HJE per gram sebesar Rp 22,00, mulai 1 Juli 2005 HJEnya dinaikkan 15 % per gram menjadi Rp 25,30 atau Rp 2.530,00 per 100 gram, dibulatkan menjadi Rp 2.600,00 per 100 gram. b. Atas kenaikan tersebut Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai segera menetapkan kenaikan HJE untuk semua HJE yang masih berlaku tanpa harus menunggu permohonan dari Pengusaha Pabrik atau Importir, dengan catatan HJE baru, berlaku terhitung mulai tanggal 1 Juli 2005. c. Penetapan HJE hasil tembakau merek baru untuk semua jenis hasil tembakau

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

KEPUTUSAN & KETETAPAN
mulai tanggal 1 Juli 2005 berlaku HJE minimum sesuai Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005, dan tidak boleh lebih rendah dari HJE untuk jenis tembakau yang sama yang dimiliki Pengusaha yang bersangkutan yang masih berlaku. d. HJE hasil tembakau untuk tujuan ekspor ditetapkan sama besarnya dengan HJE hasil tembakau dari jenis dan merek yang sama yang dipasarkan di dalam negeri. e. Tembusan Penetapan Kenaikan HJE paling lambat dalam 5 hari kerja.

3. Tarif Cukai a. Tarif cukai yang berlaku mulai 1 Juli 2005 untuk setiap jenis hasil tembakau yang dibuat di dalam negeri adalah tarif cukai sesuai yang ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005. b. Tarif cukai yang berlaku mulai 1 Juli 2005 untuk setiap jenis hasil tembakau yang dibuat di dalam negeri untuk tahun anggaran berjalan, yang jumlah ekspornya melebihi jumlah produksi dari jenis yang sama yang dipasarkan di dalam negeri sebelum tahun anggaran berjalan adalah tarif cukai sesuai yang ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005. Perhitungan jumlah hasil tembakau yang diekspor berdasarkan realisasi ekspor dengan menggunakan Dokumen Cukai CK-8 dan perhitungan jumlah hasil tembakau yang dipasarkan di dalam negeri dilakukan berdasarkan Dokumen Cukai CK-1. c. Tarif cukai hasil tembakau untuk tujuan ekspor ditetapkan sama dengan tarif cukai dari jenis dan merek hasil tembakau yang sama, yang ditujukan untuk pemasaran di dalam negeri. d. Dalam hal terjadi kenaikan atau penurunan golongan Pengusaha Pabrik, maka tarif yang berlaku mulai 1 juli 2005 setelah terjadi kenaikan atau penurunan golongan adalah tarif cukai sesuai dengan yang ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005.

4. Pita Cukai a. Jumlah pemesanan pita cukai non personalisasi pada bulan Juni 2005 yangdiperkenankan maksimum 150% (seratus lima puluh persen) dari rata-rata produksi per bulan berdasarkan pemesanan pita cukai (CK-1) selama bulan Januari sampai dengan April 2005, untuk setiap tarif dan HJE yang sama. Sebagai contoh : Pesanan pita cukai PR. “ABC” dengan Tarif 40%, HJE Rp. 5.900 : Bulan Januari : 100.000 lembar Bulan Pebruari : 150.000 lembar Bulan Maret : 120.000 lembar Bulan April : 110.000 lembar Rata-rata per bulan : 120.000 lembar Pesanan pita cukai (CK-1) bulan Juni 2005 maksimum : (150 % X 120.000) = 180.000 lembar b. Jumlah pemesanan pita cukai personalisasi pada bulan Juni 2005 yang diperkenankan maksimum 150 % (seratus lima puluh persen) dari rata-rata produksi per bulan berdasarkan pemesanan pita cukai (CK-1) selama bulan Januari sampai dengan bulan April 2005 atau 100 % (seratus persen) dari jumlah pemesanan pita cukai (CK-1) tertinggi dalam satu bulan antara bulan Januari sampai dengan April 2005, untuk setiap tarif dan HJE yang sama.

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

15 15

KEPUTUSAN & KETETAPAN
Sebagai contoh : Pesanan pita cukai PR. “XYZ” dengan Tarif 4%, HJE Rp. 2.600 : Bulan Januari : 0 lembar Bulan Pebruari : 200 lembar Bulan Maret : 100 lembar Bulan April : 300 lembar Rata-rata per bulan : 150 lembar 150 % dari rata-rata : (150 % X 150) = 225 lembar atau 100 % dari tertinggi : Bulan April = 300 lembar Pesanan pita cukai (CK-1) bulan Juni maksimum : 300 lembar. Jumlah pemesanan pita cukai pada bulan Juni 2005 untuk Pabrik baru, Pabrik yang belum melakukan pemesanan pita cukai (Januari s.d. April 2005) atau Pabrik yang naik golongan pada Tahun 2005 diperkenankan maksimum 100% (seratus persen) dari 1/12 batasan produksi untuk golongannya. Permohonan Penyediaan Pita Cukai Personalisasi (PPPCP), Permohonan Penyediaan Pita Cukai (PPPC), Daftar Permohonan Penyediaan Pita Cukai (DPPPC), Daftar Permohonan Penyediaan Pita Cukai Tambahan (DPPPCT) sudah harus diterima di Direktorat Cukai paling lambat tanggal 10 Juni 2005. (Fax 021-4897544, dan konfirmasi ke 021-4890308 ext. 403 atau fax 021-4891472 dan konfirmasi ke 021-4890308 ext. 424, 425). CK-1 untuk Pita Cukai HJE lama, yang pita cukainya disediakan di KPBC paling lambat diterima di KPBC pada tanggal 20 Juni 2005, untuk pita cukai yang disediakan di Kantor Pusat DJBC, CK-1 paling lambat diterima di Kantor Pusat tanggal 20 Juni 2005. Pengadaan pita cukai dengan personalisasi memerlukan waktu sekitar 1 bulan, maka PPPCP, PPPC, DPPPC dan DPPPCT untuk pita cukai dengan HJE baru, sudah dapat diajukan sejak HJE baru ditetapkan oleh Kepala KPBC. Sebagai contoh : apabila DPPPC diajukan pada tanggal 13 Juni 2005 maka pita cukai HJE baru tersedia di KPBC paling cepat pada tanggal 13 Juli 2005. Batas waktu pelekatan pita cukai HJE lama adalah tanggal 9 Agustus 2005. Batas waktu pencacahan sisa pita cukai HJE lama yang tidak habis dilekatkan sampai batas waktu pelekatannya adalah tanggal 19 Agustus 2005. Batas waktu pengiriman hasil pencacahan (BACK-1) pita cukai HJE lama yang tidak habis dilekatkan sampai batas waktu pelekatannya dari KPBC ke Kantor Pusat DJBC adalah tanggal 24 Agustus 2005. Batas waktu pengembalian sisa pita cukai HJE lama yang tidak habis dilekatkan sampai batas waktu pelekatannya adalah tanggal 8 September 2005. Batas waktu peredaran hasil tembakau dalam negeri yang dilekati pita cukai HJE lama adalah tanggal 7 Nopember 2005. Batas waktu penarikan hasil tembakau yang dilekati pita cukai HJE lama untuk pemusnahan atau pengolahan kembali dengan mendapatkan pengembalian cukai adalah tanggal 22 Nopember 2005. Kepala Kantor wajib memperhatikan batas waktu sesuai huruf g, h, i, j, k, l dan melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap pelaksanaannya.

c.

d.

e.

f.

g. h. i. j. k. l. m.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 8 Juni 2005 DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ttd EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 370 SEPTEMBER 2005

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->