Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS KONTAP WANITA (MOW) Dosen Pengampu: Ratifah, SST, M.

Kes

Disusun Oleh : Aditya Antony Iis Prihastuti Kuat Prasetyo Kukuh Pambudi Maritha Wahyu R Siti Solikhah Kelas 2A (P17420209001) (P17420209015) (P17420209019) (P17420209020) (P17420209025) (P17420209039)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PURWOKERTO 2011

BAB I PENDAHULUAN

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi pertumbuhan penduduk yang terlalu pesat. Upaya yang telah dilakukan, antara lain dibuatnya undangundang perkawinan dan diberlakukannya program Keluarga Berencana. Keluarga Berencana merupakan program pemerintah yang bertujuan antara lain meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Program ini dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya kehamilan pada ibu. Oleh karena itu, dikenal istilah kontrasepsi. Kata ini berasal dari kata kontra yang berani melawan, dan konsepsi berarti pembuahan. Jadi, kontrasepsi dapat diartikan sebagai usaha mencegah pertemuan sel sperma dan sel telur agar tidak terjadi pembuahan. Untuk keperluan itu, berbagai alat dan cara kontrasepsi digunakan dalam teknik tersebut, antara lain kondom pada pria, diafragma pada wanita, dan IUD (Intra Uterine Device) dalam bentuk spiral pada wanita. Ketiga alat kontrasepsi tersebut berfungsi mencegah bertemunya sperma dengan sel telur sehingga tidak terjadi proses pembuahan. Cara lain yang digunakan untuk mencegah bertemunya sperma dengan sel telur adalah dengan sterilisasi. Cara ini bersifat permanen, karena orang yang menggunakan cara ini tidak akan rnempunyai anak lagi. Kontrasepsi ini dilakukan dengan cara operasi pada saluran kelamin, baik pada pria maupun wanita. Pada pria dikenal dengan vasektomi atau MOP (Metode Operasi Pria), sedangkan pada wanita disebut tubektomi atau MOW (Metode Operasi Wanita). Biasanya cara sterilisasi ini dilakukan oleh ibu yang tidak memungkinkan untuk hamil lagi karena faktor kesehatan ibu dan bayi. Dari kedua jenis kontrasepsi mantap diatas kami akan membahas mengenai MOW ( Metode Operasi Wanita ) yaitu tubektomi.

BAB II ISI

A. PENGERTIAN Kontrasespsi mantap merupakan terjemahan dari bahasa Inggris secure

contraception. Nama lain dari kontap adalah sterilisasi (sterilization) atau kontrasepsi operatif(surgical contraception). Kontrasepsi mantap (kontap ) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu yang tidak terbatas dan dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami isteri atas permintaan yang bersangkutan secara mantap dan sukarela. Kontap dapat diikuti baik oleh wanita maupun pria. Tindakan kontap pada wanita disebut kontap wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita ). Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi, yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma. Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan secara permanen (Saifuddin, 2003). Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan orang tidak akan mendapat keturunan lagi (Prawirohadjo, 2002). Selain pengertian diatas tubektomi juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan memotong tuba Fallopii / tuba uterina. Tubektomi merupakan tindakan medis berupa penutupan tuba uterina dengan maksud tertentu untuk tidak mendapatkan keturunan dalam jangka panjang sampai seumur hidup. (http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/kontrasepsi-mantap-untukwanita/) B. CARA TINDAKAN Tubektomi (MOW) menyebabkan perjalanan sel telur terhambat karena saluran sel telur tertutup.

Pada prinsipnya tubektomi dilakukan dengan membuat buntu atau oklusi tuba uterine. Pendekatannya dapat dilakukan dengan operasi baik operasi kecil (laparatomi mini) ataupun bersamaan dengan operasi sesar (seksio caesaria). Oklusi tuba dapat dilakukan secara laparoskopik. Tuba dibuat buntu dengan memasang cincin plastic (falopering) atau memasang klip atau dengan menggunakan kalter listrik. Pada dasarnya sterilisasi laparoskopi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih nyaman untuk klien. Pada awal tahun 1990-an dilakukan uji coba penutupan tuba dengan menggunakan pellet kuinakrin dan hasilnya cukup menjanjikan sebagai alternative sterilisasi wanita tanpa operasi. Ada 4 cara tindakan untuk mencapai tuba uterina yaitu laparatomi biasa, laparotomi mini, kolpotomi dan laparoskopi : a. Laparatomi Biasa Tindakan ini paling banyak dilakukan pada tubektomi di Indonesia sebelum tahun 70-an. Tubektomi dengan tindakan laparatomi biasa dilakukan terutama pasca persalinan. Selain itu, dapat dilakukan bersamaan dengan seksio sesarea. b. Laparatomi Mini Tindakan ini paling mudah dilakukan 1-2 hari pasca persalinan. Saat itu, uterus masih besar, tuba uterina masih panjang dan dinding perut masih longgar sehingga mudah dalam mencapai tuba uterina dengan sayatan kecil 1-2 cm dibawah pusat. Pasien dibaringkan. Lipatan kulit dibawah pusat yang berbentuk bulan sabit ditegangkan antara 2 buah doek klem hingga menjadi lurus. Pada tempat lipatan itu, dilakukan sayatan kecil 1-2 cm sampai hampir menembus rongga peritoneum.

c. Kolpotomi Kolpotomi ada dua jenis yaitu: 1. Kolpotomi posterior(culdotomy) a. Cara ini yang sering dipakai b. Cul-de-sac atau cavum douglas, yang terletak diantara dinding depan rectum dan dinding belakana uterus, dibuka melalui vagina untuk sampai pada tuba fallopii. Prosedur kolpotomi posterior : 1) Persiapan pre-operatif Pengosongan kandung kencing sendiri(sebaiknya jangan dilakukan kateterisasi) Tindakan antisepsis pada perineum, vulva, dan vagina dilakukan dengan penderita dalam posisi lithotomi 2) Neurolept-analgesia+anastesi local Anestetik local disuntikkan pada pangkal ligamentum sacro-uterinum 3) Insisi dinding vagina transversal sepanjang 3-5cm dengan gunting atau scalpel Insisi vertical menyebabkan timbulnya jaringan parut di fornix posterior dengan akibat timbul dyspareunia. 2. Kolpotomi anterior a. Sudah jarang dilakukan pada saat sekarang (di Jepang yang masih suka melakukannya) b. Tuba fallopii dicapai melalui peritoneum vesico-uterina. c. Dibuat insisi vertical pada fornix anterior vagina, kandung kencing didorong, peritoneum dibuka, kemudian uterus diputar sehingga terlihat tuba falopii. d. Cara ini lebih sulit dan resiko perlukaan kandung kencing lebih besar dibandingkan dengan kolpotomi posterior. e. Mungkin dalam kasus-kasus tertentu, cara ini berguna misalnya bila ada sistokel, dilkukan kolpotomi anterior untuk kontap sambil sekaligus memperbaiki sistokelnya.

d. Laparoskopi Laparoskopi adalah melihat isi rongga perut dengan menggunakan lensa, sejenis teleskop. Laparoskopi bisa bersifat diagnostik, hanya sekedar melihat, tetapi bisa juga untuk sebuah tindakan operasi sterilisasi wanita yakni menutup tuba dengan bantuan laparoskop. Laparoskopi bukan merupakan operasi terbuka sehingga resiko infeksi lebih rendah asal semua syarat asepsis diperhatikan. Laparoskopi tidak boleh dikerjakan pada wanita yang pernah mengalami operasi laparotomi karena adanya perlengketan pada organ dalam menyebabkan usus mudah terluka terutama pada saat memasukkan trokal. Pada dasarnya ada dua cara untuk menutup tuba secara

Laparoskopik yakni secara elektris dan mekanis. Secara elektrik satu segmen tuba sepanjang 3-4 cm di daerah isthmus, dijepit dengan penjepit yang beraliran listrik. Dengan cara ini segmen tuba yang terjepit akan mengalami koagulasi ( electrocoagulation ). Secara mekanik tuba di buntu dengan memasang sebuah klip atau cincin yang terbuat dari karet silikon. Cara oklusi tuba falopii Cara oklusi tuba falopii adalah dengan ligasi tuba falopii. Ligasi atau pengikatan tuba falopii untuik mencegah perjalanan dan pertemuan spermatozoa dan ovum . tekhnik ligasi tuba falopii antara lain: 1. Ligasi biasa Ligasi biasa jarang dikerjakan lagi sekarang karena angka kegagalan tinggi. Pernah dicoba untuk melakukan ligasi dengan dua ikatan tetapi menyebabkan terjadinya hydrosalpinx diantara dua ikatan sehingga cara ini tiadak dipakai lagi. 2. Ligasi +penjepitan tuba falopii Teknik Madlener Bagian tengah tuba falopii diangkat sehingga membentuk suatu loop. Dasar dari loop dijepit dengan klem kemudian diikat dengan benang yang tidak diserap(silk,silicon). 3. Ligasi + pembelahan/pembagian+penanaman Ada dua teknik ligasi ini, yaitu : Teknik irving a. Tuba falopii diikat pada 2 tempat dengan benang yang dapt diserap kemudian dibagi diantara kedua ikatan. b. Ujung atau puntung proximal ditanamkan dalam myometrium uterus

c. Ujung atau puntung distal ditanamkan kedalam mesosalpinx Teknik wood a. Pars ampularis tuba falopii dibelah /dibagi(division) b. Kedua ujung atau puntung yang dibelah atau dibagi diikat dengan benang yang dapat diserap c. Ujung /puntung medial ditanamkan kedalam kantong yang dibuat dalam mesosalpinx. Teknik Cooke Suatu segmen tuba fallopii dijepit dan dirusak, kemudian ujung proximal ditanamkan dalam ligamentum rotundum. 4. Ligasi + Reseksi tuba fallopii Ada empat teknik dalam ligasi ini, yaitu : a. Salpingektomi Sebagai suatu cara kontap wanita yang biasa / rutin , tidak / jarang dikerjakan karena prosedurnya luas, reversibilitas tidak ada dan morbiditas lebih tinggi ( perdarahan ) b. Teknik Pomeroy 1) Merupakan teknik kontap wanita yang paling sering dikerjakan. Bagian tengah tuba fallopii dijepit dengan klem lalu diangkat sehingga membentuk suatu loop. Dasar dari loop diikat dengan benang yang dapat diserap ( plain catgut ). Bagian loop diatas ikatan dipotong. 2) Dengan diserapnya benang ikatan maka ujung-ujung tuba fallopii akan saling terpisah. 3) Teknik Pomeroy memusnahkan tuba fallopii sepanjang kurang lebih 3-4 cm. Gambar teknik pomeroy

c. Teknik Pritchards = Teknik Parkland 1) Suatu segmen kecil dari tuba fallopii dipisahkan dari mesosalpinx. 2) Masing-masing ujung dari segmen tersebut diikat dengan benang chromic kemudian dipotong diantara kedua ikatan dan segmen tuba fallopii dibuang.

d. Fimbriektomi Kroener Bagian 1/3 distal tuba fallopii diikat dengan dua ikatan benang silk dan ujung fimbrae dieksisi. Pada teknik ini tidak didapatkan gangguan suplai darah ovarium. 5. Ligasi + Reseksi + Penanaman tuba fallopii Ada dua teknik dalam ligasi ini,yaitu : a. Reseksi Cornu Merupakan prosedur yang ekstensif yang memerlukan laparotomi. Utero tubal junction diikat dengan benang yang dapat diserap. Insisi tuba fallopii proximal dari ikatan, membebaskannya dari mesosalpinx kemudian membuang 1 cm dari tuba fallopii. Myometrium uterus disekitarnya dieksisi terbentuk baji(

untuk mencegah endometriosis dan kehamilan ektopik ) dan bagian proximal dari segmen distal tuba fallopii ditanam kedalam ligamentum latum. b. Teknik Uchida 1) Larutan garam fisiologis- adrenalin ( 1 : 1000 ) disutikan dibawah serosa pars ampularis, sehingga terjadi spasme vaskuler local dan pembengkakan dari mesosalpinx, dan terjadi pemisahan dari permukaan serosa dengan bagian muskularis tuba fallopii. 2) Serosa diinsisi dan dibebaskan kebelakang. 3) Segmen sepanjang 5 cm dari bagian proximal tuba fallopi diputuskan / dipotong, ujung yang pendek diikat dengan benang yang tidak diserap dan segmen tuba fallopii dibuang. Maka ujung tuba fallopii yang telah diikat secara otomatis membenamkan dirinya dibawah serosa . 4) Pinggir dari insisi serosa dikumpulkan sekitar ujung distal tubafallopii dan diikat secara ikatan rangkaian kantong sehingga tuba fallopii ditinggalkan menonjol ke dalam cavum abdomen.

Elektro-koagulasi / termo koagulasi (fulgurasi) Elektro-koagulasi adalah tindakan membakar suatu segmen dari tuba falopi dengan arus listrik frekuensi tinggi atau dengan panas, sehingga terjadi oklusi dari tuba falopii. Dikenal 2 macam elektro-koagulasi : a. Elektro-koagulasi Uni polar Dikembangkan pada tahun 1960 an Arus listrik mengalir dari forsep laparoskop melalui tubuh wanita ke suatu lempeng logam yang diletakan di bawah bokong atau paha wanita. Bahaya koagulasi Unipolar dapat terjadi luka bakar pada jaringan atau organ lain, terutama luka bakar usus Elektro-koagulasi Uni polar merusak 20-50 % dari tuba falopi

b. Elektro-koagulasi Bipolar Dikembangkan pada tahun 1970an, untuk mengurangi terjadinya luka bakar usus. Arus listrik mengalir di antara kedua jepitan dari forsep laparoskop sehingga hanya sebagian kecil saja dari tuba falopi yang terlibat.

Thermo-koagulasi Merusak Tuba falopi dengan panas sehingga shock dan luka bakar elektrik tidak terjadi pada jaringan/organ lain.Thermo-koagulasi belum banyak dipakai dan efektivitasnya masih belum diketahui dengan jelas. Dengan memakai aliran listrik voltase rendah (6 volt ) atau temperature rendah(umumnya <1400C), resiko terjadinya luka pada jaringan/organ sekitarnya dapat dikurangi.

Tubal Clips Tubal clips tidak dipakai sesering seperti ligasi atau fulgurasi tuba fallopi disebabkan karena angka kegagalannya cukup tinggi. Tubal clips dipasang pada isthmus tuba falopii 2-3 cm dari uterus melalui laparotomi, laparoskopi, kolpotomi atau kuldoskopi. Tubal clips menyebabkan kerusakan yang lebih sedikit/ kecil pada tuba falopii (kirakira 4 mm)dibandingkan cara-cara oklusi tuba falopii lainnya. Dengan tubal clips, kerusakan tuba falopii < 1 cm dibandingkan denagan 1-3 cm pada tubal rings, 3-4 cm pada pomeroy dan 3-6 cm elektrokoagulasi. Macam-macam tubal clips: 1. Tantalum hemo-clips Terbuat dari tantalum, suatu logam yang tidak bereaksi dengan jaringan(non tissue reactive), mempunyai alur-alur pada bagian dalamnya agar lebih kuat menjepit tuba falopii. Tantalum hemo-clips kurang efektif, dengan angka kegagalan lebih dari 10 % yang disebabkan karena: Terlepas/merosot dari tuba falopii Klips membuka sedikit sehingga timbul lagi tubal patensi (mungkin disebabkan oleh tekanan sekresi intra luminal yang meninggi ) Klips memutuskan/ memotong tuba falopi sehingga terjadi rekanalisasi.

Untuk mengurangi angka kegagalan dan mempertinggi efektivitasnya dicoba dengan memasang dua tubal clips pada masing-masing tuba

falopii(wheeless dan penelitian-penelitian lain) tetapi ternyata angka kegagalannya masih tetap tinggi. 2. Spring - loaded clips Ditemukan dan dipakai awal 1970-an oleh Hulka- Clemens. Terdiri dari 2 rahang bergigi palstik yang dipegang oleh suatu pegas stainless steel yang harus didorong kedepan agar cipsnya menutupi dan menjepit tuba falopii, bila dipasang dengan benar angka kegagalan < 0,5 per 100 wanita dengan model spring loaded clips

mutahkir(dikanal dengan sebagai

Rocket Clips di inggris dan Wolf Clips di

amerika serikat). Morbiditas dengan tuba clips hanya minor saja: Reflex vaso-vagal seperti mual, pingsan, brankhikardia dan hipotensi. Nyeri atau kejang perut.

3. Filshie=nothingham clips a. Dikembangkan pada tahun 1973 oleh G.M Filshie, terbuat dari titanium dengan permukaan dalam clips dilapisi silicon. b. Setelah dipasang pada tuba falopii silicon akan ditekan sehingga terjadi atrofi jaringan tuba falopii, yang disusul dengan mengembangnya silicon sehingga tuba falopii tetap tersumbat. c. Terdapat 6 model Filshie clips yang telah dicoba pada > 10.000 wanita di seluruh dunia dengan angka kegagalan 0,6 per 100. Pada model mutakhir filishe clips yaitu Mark-6, angka kegagalan lebih rendah lagi yaitu hanya 1 kehamilan pada 1.200 wanita. Sejak januari 1983 telah dilakuakan 43.000 kontap wanita. Dengan Mark-6 clips dan dilaporkan terjadi hanya 20 kehamilan.

Gambar filshie clips

4. Bleier Clips a. Dikembangkan awal 1970-an oleh W.Bleier di jerman mempunyai panjang 10 mm dan lebar 4 mm terbuat dari plastic b. Sekarang bleier clips tidak dibuat dan tiadak dipakai lagi oleh karena angka kegagalannya yang tinggi sekali dan sering timbul persoalan-persoalan dengan aplikatornya.

Tubal bands = tubal ring Dikenal juga sebagai: Falope ring = Yoon band = silastic band. Dikembangkan tahun 1973 oleh In Bae Yoon (John Hopkins School of Medicine), berbentuk cincin silicon berdiameter (dalam) 1 mm yang telah diapasang dengan aplikatornya akan kembali 90-100 % keukuran aslinya asal saja tidak teregang 6 mm. tubal ring dapat dipakai pada minilaparatomi, laparoskopi, dan cara trans vaginal dan pada ampula atau ampulari isthmic junction, 2-3 cm dari uterus. Tubal ring merusak tuba falopii sepanjang 1-3 cm. C. KEUNTUNGAN Secara umum keuntungan kontap wanita dibandingkan dengan kontrasepsi lain adalah : 1. Lebih aman, karena keluhan lebih sedikit dibandingkan dengan cara kontrasepsi lain 2. Lebih praktis, karena hanya memerlukan satu kali tindakan saja 3. Lebih efektif, karena tingkat kegagalannya sangat kecil dan merupakan cara kontrasepsi yang permanen 4. Lebih ekonomis, karena hanya memrlukan biaya untuk satu kali tindakan saja Secara khusus keuntungan kontap wanita adalah : 1. Sangat efektif dan permanen 2. Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99% 3. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang 4. Tidak mempengaruhi proses menyusui 5. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi local 6. Tidak menggangu hubungan seksual

D. KERUGIAN 1. Rasa sakit/ketidak nyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan 2. Ada kemungkinan mengalami resiko pembedahan 3. Klien dapat menyesal dikemudian hari 4. Risiko komplikasi kecil (meningkat bila digunakan anestesi umum) 5. Rasa sakit atau ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan 6. Dilakukan oleh dokter yang terlatih 7. Tidak melindungi diri dari Infeksi Menular Seksual (IMS)

E. SYARAT Setiap peserta kontap harus memenuhi 3 syarat, yaitu: 1. Sukarela Setiap calon peserta kontap harus secara sukarela menerima pelayanan kontap; artinya secara sadar dan dengan kemauan sendiri memilih kontap sebagai cara kontrasepsi 2. Bahagia Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat bahagia; artinya : a. Calon peserta tersebut dalam perkawinan yang sah dan harmonis dan telah dianugerahi sekurang-kurangnya 2 orang anak yang sehat rohani dan jasmani. b. Bila hanya mempunyai 2 orang anak, maka anak yang terkecil paling sedikit umur sekitar 2 tahun. c. 3. Umur isteri paling muda sekitar 25 tahun.

Kesehatan Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat kesehatan; artinya tidak ditemukan adanya hambatan atau kontraindikasi untuk menjalani kontap. Oleh karena itu setiap calon peserta harus diperiksa terlebih dahulu kesehatannya oleh dokter, sehingga diketahui apakah cukup sehat untuk dikontap atau tidak. Selain itu juga setiap calon peserta kontap harus mengikuti konseling (bimbingan tatap muka) dan menandatangani formulir persetujuan tindakan medik (Informed Consent)

F.

WANITA YANG DAPAT MENJALANI 1. 2. 3. 4. 5. 6. Usia lebih dari 26 tahun Sudah punya anak cukup (2 anak), ank terkecil harus berusia minimal 5 (lima) tahun Yakin telah mempunyai keluarga yag sesuai dengan kehendaknya Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius Ibu pascapersalinan Ibu pasca keguguran

G. WANITA YANG SEBAIKNYA TIDAK MENJALANI 1. 2. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai) Menderita tekanan darh tinggi

3. 4. 5. 6. 7.

Kencing manis (diabetes) Penyakit jantung Penyakit paru-paru Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi) Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau dikontrol)

8. 9.

Ibu yang tidak boleh menjalani pembedahan Kurang pati mengenai keinginannya untuk fertilisasi di masa depan

10. Belum memberikan persetujuan tertulis

H.

WAKTU PELAKSANAAN 1. Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional klien tersebut tidak hamil 2. 3. Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi Pascapersalinan Minilap: di dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu Laparoskopi: tidak tepat unntuk klie-klien pasca persalinan

4. Pasca keguguran Triwulan pertama: dalam wakru 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik)

minilap atau laparoskopi) Triwulan kedua: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik

(minilap saja)

I.

TEMPAT PELAYANAN Rumah sakit. Jika ada keluhan, pemakai harus ke Rumah Sakit

J.

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN Hal-hal yang perlu dilakukan oleh calon peserta kontap wanita adalah: 1. Puasa mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6 jam sebelum operasi. Bagi calon akseptor yang menderita Maag (kelaianan lambung agar makan obat maag sebelum dan sesudah puasa

2.

Mandi dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai bersih, dan juga daerah perut bagian bawah

3. 4. 5. 6.

Tidak memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dll Membawa surat persetujuan dari suami yang sudah ditandatangani atau di cap jempol Menjelang operasi harus kencing terlebih dahulu Datang ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan ditemani anggota keluarga; sebaiknya suami.

K.

PERAWATAN SETELAH TINDAKAN 1. 2. Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari Kebersihan harus dijaga terutama daerah luka operasi jangan sampai terkena air selama 1 minggu (sampai benar -benar kering) 3. 4. Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk Senggama boleh dilakukan setelah 1 minggu, yaitu setelah luka operasi kering. Tetapi bila tubektomi dilaksanakan setelahmelahirkan atau kegugurang, senggama baru boleh dilakukan setelah 40 hari zietraelmart.multiply.com/journal/item/58

L.

KOMPLIKASI Komplikasi akibat sterilisasi dapat dibagi dalam dua kategori yakni komplikasi akibat anestesi dan komplikasi akibat tindakan operasi. Komplikasi akibat anestesi antara lain adalah perasaan mual sampai muntah, pusing, pneumonia aspirasi, alergi sampai shock anafilaksis ( terutama terhadap lidokain ) dan pada keadaan yang sangat, dapat berakibat kematian. Oleh karena itu, persiapan minimal dalam sebuah tindakan sterilisasi adalah tersedianya obat anti anafilaksis ( adrenalin, antihistamin, kortikosteroid, dopamin ) cairan infus dan oksigen.

Efek samping dan komplikasi akibat tindakan operasi oleh WHO dibagi dalam komplikasi minor dan komplikasi mayor. Komplikasi minor antara lain adalah rasa sakit pada tempat irisan, demam, perdarahan ringan, dan infeksi luka maupun PRP yang tidak memerlukan pemondokan. Komplikasi mayor adalah perdarahan banyak yang membutuhkan operasi lebih jauh dan atau transfusi, perlukaan usus, atau kandung kencing, infeksi panggul berat, sepsis dan kematian. Komplikasi minor bervariasi antara 1,5 % (PRP ringan ), 2 % ( infeksi pada luka irisan ) Sampai 18,6 % ( sakit ditempat irisan ). PRP dan infeksi luka irisan dengan mudah dapat diatasi dengan pemberian antibiotika sedang rasa sakit dengan analgesika. Perdarahan dapat terjadi baik dari tempat irisan maupun dari mesosalpink dan jarang memerlukan tambahan transfusi. Komplikasi mayor bervariasi antara 0,5 % - 1,5 % sedang kematian karena sterilisasi wanita bervariasi antara 3-9 per 100.000 wanita, meskipun beberapa negara pernah melaporkan angka kematian yang sangat tinggi yakni 99 ( Bangladesh ), 76 ( India ), dan 71 ( Thailand ) masing-masing per 100.000 wanita. Di Indonesia kematian akibat sterilisasi wanita bervariasi antara 2-30 per 100.000 wanita. Sebab kematian pada umumnya adalah komplikasi anestesi, perdarahan dan infeksi. Bagaimanapun angka kematian akibat sterilisasi wanita masih lebih kecil ketimbang angka kematian maternal, yang di Indonesia masih cukup tinggi, yakni antara 360-400 ribu per 100.000 persalinan. Efek samping jangka panjang ( late side effect ) adalah penyesalan ( regret ) yang telah dibicarakan didepan. Pengobatannya sangat sukar, tetapi pencegahannya justru lebih mudah yakni dengan konseling yang sebaik-baiknya.

ASUHAN KEPERAWATAN

I.

Pengkajian Dilakukan pada tanggal A. Identifikasi pasien dan penanggung jawab B. Keluhan utama Penderita datang pada tanggal..jam.ingin menjadi akseptor KB kontap ( tubektomi ) C. Riwayat KB Riwayat KB sebelumnya yang digunakan D. Riwayat penyakit dahulu Penyakit keturunan, menular dan berat E. Riwayat keluarga Penyakit keturunan, menular, dan berat F. Riwayat haid Menarche, lama haid, siklus, banyaknya, dismenorhea, keputihan G. Riwayat perkawinan Umur waktu perkawinan, berapa kali, berapa lama H. Riwayat psikososial Ketidaktahuan ibu tentang kontrasepsi ( tubektomi ) I. Kebiasaan sehari hari Nutrisi, eliminasi, PH, istirahat, tidur, spiritual J. Pemeriksaan fisik 1) System kardiovaskular : untuk mengetahui tanda tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, edema, dan kelainan bunyi jantung 2) System hematologi : untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan perdarahan, mimisan, splenomegali. 3) System urogenital : ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang . 4) System musculoskeletal : untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakan, sakit pada tulang sendi, dan terdapat fraktur atau tidak.

K. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi 2) Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca bedah. II. Diagnosa keperawatan A. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi pada abdomen bawah post operasi tubektomi B. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak sekunder terhadap nyeri C. Resiko Tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive tubektomi III. Intervensi Keperawatan A. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi pada abdomen bawah post operasi tubektomi y Tujuan Nyeri berkurang / hilang y Kriteria Hasil Tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat y Intervensi 1. Kaji skala nyeri lokasi,karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat. R : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien. 2. Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler R : Berguna dalam pengawasan dan keefisian obat, kemajuan penyembuhan, perubahan dan karakteristik nyeri. 3. Berikan aktivitas hiburan R : Meningkatkan relaksasi 4. Kolaborasi tim dokter dalam pemberian analgetik R : Menghilangkan nyeri B. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak sekunder terhadap nyeri y Tujuan Toleransi aktivitas

Kriteria Hasil 1. Klien dapat bergerak tanpa pembatasan 2. Tidak berhati-hati dalam bergerak

Intervensi 1. Catat respon emosi terhadap mobilitas R : Imobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan 2. Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien R : Menghindari risiko cidera. 3. Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif R : Memperbaiki mekanika tubuh 4. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan R : Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.

C. Resiko Tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive tubektomi y Tujuan Infeksi tidak terjadi y Kriteria Hasil Tidak terdapat tanda tanda infeksi dan peradangan y Intervensi 1. Ukur tanda vital R : Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi 2. Observasi tanda tanda infeksi R : Deteksi dini terhadap infeksi akan mudah 3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan prinsip septik dan aseptic R : Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran infeksi 4. Observasi luka insisi R : Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi, yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma. Ada 4 cara tindakan untuk mencapai tuba uterina yaitu: a. Laparatomi biasa b. c. d. Laparotomi mini Kolpotomi Laparoskopi

Keuntungan kontap wanita adalah : a. b. c. d. Sangat efektif dan permanen Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99% Tidak ada efek samping dalam jangka panjang Tidak mempengaruhi proses menyusui

Syarat Setiap peserta kontap harus memenuhi 3 syarat, yaitu : 1. 2. 3. Sukarela Bahagia Kesehatan

B. Saran Kontap merupakan salah satu alternative yang dapat dilakukan oleh wanita untuk mencegah terjadinya pembuahan. Oleh karena itu bagi para wanita yang tidak ingin memiliki keturunan lagi dapat melakukan KB dengan menggunakan kontap ( tubektomi ).

DAFTAR PUSTAKA

Emilia, Ova, dkk. 2001. Teknologi Kontrasepsi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hartanto, Hanafi. 1991. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC. Wiknjosastro, Hanifa.1999.Ilmu Kebidanan, ed. III. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Doengoes, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed 3. Jakarta : EGC. Nanda. 2005. Diagnosis Keperawatan Nanda: Definisi & Klasifikasi 2005-2006. Jakarta : prima Medika. http://www.kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/kontrasepsi-mantap-untuk-wanita/