P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 386

Warta Bea Cukai Edisi 386

5.0

|Views: 1,703|Likes:
Dipublikasikan oleh bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVIII EDISI 386

JANUARI 2007

LANGKAH BARU ORGANISASI BARU DI TAHUN BARU
MENUNGGU IMPLEMENTASI
SUNARYO
“JANGAN MENGHARAPKAN HASIL TANPA KERJA KERAS”

PROFIL

WAWANCARA

ANWAR SUPRIJADI
“KPU ITU BASED -NYA PADA PERFORMANCE...”

DARI REDAKSI

TAHUN BARU, SEMANGAT BARU

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Erlangga Mantik, MA Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Dr. Djunaedy Djusan WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: M. Sadiatmo S., SE DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Hanafi Usman, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. Bachtiar, M.Si., Dra. Cantyastuti Rahayu, Drs. Nasar Salim, M. Si., Ir. Agung Kuswandono, M.A., J. Didit Krisnady, SH Ir. Sucipto, M.M Ir. Azis Syamsu Arifin PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

M

emasuki tahun yang baru, sering digunakan untuk melihat ke belakang, ke perjalanan selama 12 bulan yang telah dilalui, tentang apa-apa saja yang telah dilakukan. Lalu apa yang telah dilakukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sepanjang tahun 2006? Tanpa bermaksud hiperbola, kolom redaksi ini tentu tidak cukup untuk menceritakan apa-apa yang telah dilakukan DJBC. Faktanya, banyak sekali perubahan yang terjadi di tubuh DJBC hanya dalam jangka waktu satu tahun saja. Beberapa yang bisa disebut diantaranya seperti pergantian posisi Direktur Jenderal, penerapan SAP PDE Manifes, disahkannya UU Kepabeanan yang baru, penerapan SAD, termasuk reorganisasi di tubuh DJBC, yang kami angkat dalam rubrik laporan utama edisi ini. Berbagai perubahan maupun pembenahan yang dilakukan, merupakan usaha untuk membuat DJBC semakin efisien dan efektif dalam pelayanan dan pengawasan. Dalam bahasa yang sederhana, untuk membuat DJBC lebih baik lagi di bidang kinerja dan citra. Namun, satu hal yang tidak boleh terlupakan oleh DJBC adalah, perlu adanya komunikasi kepada publik tentang apa yang telah, sedang dan akan dikerjakan. Membangun strategi komunikasi yang terencana dan intens dengan publik secara luas melalui media merupakan upaya untuk lebih terbuka dan transparan sehingga publik bisa merasa lebih kenal, lebih dekat, dan tidak sungkan untuk memberikan dukungan. Ujung dari ini semua adalah menciptakan citra yang lebih baik buat DJBC. Seorang pejabat DJBC dihadapan forum bisnis ketika menyampaikan kebijakan Bea Cukai di bidang perdagangan mengatakan, telah banyak hal positif yang telah dilakukan DJBC buat dunia usaha. Persoalannya adalah, apa-apa yang telah dilakukan tersebut kurang dipublikasikan, sehingga masyarakat melihat Bea Cukai begitu-begitu saja, tidak berubah. Menarik untuk melihat dalam re-organisasi yang dilakukan DJBC, dimasukkannya Humas dalam struktur organisasi yang baru, tepatnya pada Subbagian Rumah Tangga dan Humas. Semoga unit ini tidak menjadi hiasan belaka, sekedar untuk memperlihatkan bahwa Bea Cukai punya bagian Humas. Sangatlah penting untuk membuat unit ini bekerja secara profesional untuk membangun komunikasi, menjalin dan mempertahankan hubungan yang baik dengan berbagai komponen masyarakat. DJBC adalah instansi yang high profile, sehingga rasanya tidak pantas untuk bersikap low profile atas perbaikan dan kemajuan yang dilakukan dengan asumsi “nanti toh masyarakat sendiri yang merasakan perbaikan yang kita lakukan”. Membangun dan memperbaiki kinerja di bidang pelayanan dan pengawasan adalah tugas mutlak DJBC. Dan mempublikasikannya menjadi komponen penting lainnya untuk memperlihatkan apa yang telah dikerjakan, apa yang telah diperbaiki. Inilah yang akan membuat DJBC dikenal, didukung dan dihormati. Selamat bekerja di tahun baru, 2007. Lucky R. Tangkulung

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Sebagai tindak lanjut dari program reformasi kepabeanan, DJBC kembali melakukan reorganisasi. Selengkapnya mengenai reorganisasi ditubuh DJBC, dapat disimak selengkapnya di Laporan Utama WBC edisi kali ini.

5

Wawancara
Kebutuhan reorganisasi ditubuh DJBC merupakan salah satu jawaban dari keinginan masyarakat untuk mencapai suatu institusi kepabeanan yang reformis. Hal tersebut disampaikan Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik Wawancara

19

Selak

72
Propinsi di paling ujung barat Indonesia, menyimpan potensi wisata besar, salah satu tempat wisata yang menarik adalah Takengon. Selengkapnya mengenai Takengon dapat disimak dalam rubrik selak.

Pengawasan
Dua kasus pelanggaran kepabeanan berhasil diungkap petugas DJBC. Salah satu kasus tersebut menggunakan modus baru. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik Pengawasan, selain kegiatan intelejen dan juga kegiatan dibidang pengawasan barang larangan dan pembatasan.

54

Daerah ke Daerah
Kunjungan Dirjen DJBC Anwar Suprijadi selama enam jam di Kanwil X DJBC Balikapan, serta kunjungan Kanwil X Balikpapan ke KPBC Tarakan, dapat disimak dalam rubrik daerah ke daerah selain profil KPBC Kalianget di Pulau Garam, Madura.

30

Profil

76
Kisah masa kecil yang penuh dengan perjuangan dalam menjalani kehidupan, ternyata mampu membawanya menjadi seorang yang tangguh dan kuat dalam menjalankan tugasnya sebagai pegawai DJBC. Selengkapnya mengenai kisah hidup Soenaryo, Kasie Perbendaharaan KPBC tipe B Bontang, dapat disimak dalam rubrik profil

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

1 3 4 22

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR CUKAI Sosialisasi Kenaikan HJE dan Tarif Spesifik Cukai Hasil Tembakau KEPABEANAN - Sosialisasi BTBMI 2007 - Asosiasi Perusahaan Jalur

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

24

28

Prioritas Resmi Terbentuk INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI Tanda tangan Digital

“BEBAS PULSA”
Saya tertarik dengan tulisan yang terpajang pada Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai maupun Pos-pos Pelayanan Bea dan Cukai terutama di Bandara, Kantor Pos dan lain-lain. Di mana pada dinding-dinding Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tersebut dipasang gambar/poster yang diberi pigura dan ada tulisan yang berbunyi :

39 43

SEPUTAR BEACUKAI KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Keberatan dan Banding

44

SIAPA MENGAPA - Muhammad Suparto - Muhammad Hussein Rambe - Hasrizal

46

INFO PEGAWAI - Terjun Payung Bea dan Cukai, Olah Raga Pemacu Adrenalin - Pegawai Pensiun Per 1 Januari 2007 - Perayaan Natal DJBC

JIKA ANDA MEMILIKI INFORMASI PENYELUNDUPAN HUBUNGI KAMI : NO: 0800 1287866 (BEBAS PULSA)

53 59

INFO PERATURAN OPINI - Impor dan Impor Untuk Dipakai (IUD)

62 65

KOLOM Mari Bermain POAC PERISTIWA Jalur Serang-Anyer Sebagai Ajang Silaturahmi CCC MITRA Quality Shipment Monitoring System

Tetapi kenapa nomor Informasi Bebas Pulsa tersebut tidak bisa dihubungi, setiap dihubungi nadanya selalu berbunyi, “Maaf nomor yang anda tuju belum terpasang”. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah nomor tersebut hanya sebagai hiasan/pajangan ? Bagaimana Tindak lanjutnya ? Terima kasih atas dimuatnya surat saya ini.

66

67 68

RUANG KESEHATAN Mata Minus Turunan ? RUANG INTERAKSI Perencanaan Belanja Rumah Tangga RENUNGAN ROHANI Nilai-Nilai Haji dan Implikasinya Dalam Kehidupan

70

Wassalam,

80

APA KATA MEREKA - Lucky Octavian - Winda Viska

SARGIYATNO

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

LAPORAN UTAMA

DJBC,
S
ebagai upaya meningkatkan efektivitas dan kinerja organisasi Departemen Keuangan (Depkeu) serta pelaksanaan peraturan Presiden RI melalui Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2006 tentang perubahan keempat atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, Presiden kembali mengeluarkan peraturan. Beberapa ketentuan dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI yang telah beberapa kali diubah dengan Perpres No. 15 Tahun 2005, Nomor 63 Tahun 2005 dan Nomor 80 Tahun 2005. Dalam Pepres No.66 Tahun 2006 yang diubah yaitu pasal 15 dan pasal 16. Pasal 15 tentang unit eselon I Departemen Keuangan (Lihat Boks). Sedangkan pasal 16 mengatur tentang tugas masing-masing unit organisasi. Perpres tersebut secara tegas mengisyaratkan perlunya dilakukan penyempurnaan organisasi dan tata kerja Depkeu. Pertimbangan penyempurnaan yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006 itu bertujuan untuk lebih menunjang kelancaran pelaksanaan pembangunan yang tentu saja mengacu kepada tuntutan efisiensi dan efektifitas kerja di semua lini dalam kaitannya dengan tugas dan fungsi yang diembannya. dan standarisasi teknis di bidang kepabeanan dan cukai, merupakan salah satu unit Direktorat Jenderal yang berada di bawah naungan Depkeu yang mengalami reorganisasi. Dan rasanya memang sudah tepat, jika saatnya kini DJBC melakukan reorganisasi. Jauh-jauh hari sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah mewanti-wanti kepada seluruh jajaran birokrasi agar selalu koreksi dan

REORGANISASI
HARAPAN DAN TUNTUTAN
Untuk mempercepat proses reformasi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai salah satu instansi pemerintah, tentunya mau tidak mau harus terus melakukan pembenahan. Dipimpin Direktur Jenderal (Dirjen), Anwar Suprijadi, instansi yang dewasa ini fungsinya semakin universal mengalami reorganisasi lagi, setelah yang terakhir pada tahun 2004 melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004. Lantas sejauhmana pelaksanaan reorganisasi DJBC 2006 ?
melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Masih hangat dalam ingatan tentang penegasan Presiden SBY saat memberikan pengarahan di depan jajaran inti Depkeu pada pertengahan Januari 2006 di Auditorium Graha Sawala, Departemen Keuangan. Salah satu penegasan yang disampaikan Presiden ketika itu mengenai perlunya dilakukan penataan kembali organisasi di tubuh Depkeu, agar beban tugas yang cukup banyak di departemen yang dipimpin Dr. Sri Mulyani Indrawati ini dapat dikelola dengan baik. Dengan penataan organisasi ini, lanjut Presiden, diharapkan tidak ada kemandekan di Depkeu dalam rangka kelancaran tugas, baik pembuatan dan pengelolaan APBN yang sedang berjalan, sekaligus memikirkan isu mendasar tentang penyelesaian hutang melalui peningkatan kinerja sumbersumber pendanaan negara dan lain-lain yang berada di jajaran Depkeu. Ditekankan Presiden SBY, penataan organisasi ditujukan untuk memberi peluang dan penyegaran bagi pejabat lain dalam meningkatkan kinerja lembaga. Hal ini menyangkut banyak hal , karena tidak boleh sebuah Direktorat Jenderal menangani masalah berlebihan, akibatnya kewalahan, tidak tertangani, menghambat dan akhirnya terjadi keterlambatan. Karena itu presiden memastikan bahwa beban tugas harus sesuai dengan kapasitas dan kemampuan untuk melaksanakannya. “Jika ada dirjen yang overload, maka menteri bisa mengusulkan pada
WARTA BEA CUKAI

PASAL 15

REORGANSIASI DJBC
DJBC yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan

Departemen Keuangan terdiri dari : A. SEKRETARIS JENDERAL, B. DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN, C. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK, D. DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI, E. DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN, F. DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA, G. DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN, H. DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG, I. INSPEKTORAT JENDERAL, J. BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN, K. BADAN KEBIJAKAN FISKAL, L. BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN, M. STAF AHLI.

EDISI 386 JANUARI 2007

5

LAPORAN UTAMA
presiden untuk memisah atau menambah fungsi. Dengan demikian semua pekerjaan bisa dilakukan dengan tepat waktu dan lancar,” demikian penegasan Presiden ketika itu. Berkaitan dengan reorganisasi yang sedang dilakukan di tubuh DJBC, ada beberapa hal yang menjadi prioritas pembenahan. Penyempurnaan struktur organisasi menjadi perhatian pertama, disusul pembenahan kualitas sumber daya aparat dan pembenahan perangkat peraturan perundang-undangan untuk menjadi dasar pijak pelaksanaan tugas dan fungsi instansi ini melalui amandemen UndangUndang Kepabeanan dan Cukai. Pembahasan mengenai reorganisasi sudah dilakukan tim penyusun rencana reorganisasi sejak Januari 2005. Untuk itu Dirjen Bea dan Cukai, ketika itu Eddy Abdurachman mengeluarkan Keputusan Dirjen Nomor.10 tahun 2005 tanggal 23 Januari tentang Tim Pembahas Penyempurnaan Organisasi DJBC. Dan tahun 2006 diperpanjang lagi dengan Keputusan Direktur Jenderal No.13 tahun 2006 tanggal 23 Januari 2006. Untuk reorganisasi instansi pusat telah disahkan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 466/KMK.01/ 2006, (untuk selanjutnya istilah KMK, diganti menjadi Peraturan Menteri Keuangan/ PMK). Seiring dengan telah dilakukannya reorganisasi di tingkat pusat maka Menteri Keuangan segera melantik para pejabat eselon I dan eselon II di jajaran Departemen Keuangan, termasuk DJBC pada 10 November 2006. Sedangkan untuk Tenaga Pengkaji di lingkungan DJBC
FOTO : ISTIMEWA

telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 98/PMK 01/2006. Mengenai reorganisasi instansi vertikal, pembahasannya telah selesai dilakukan dan presiden telah mengeluarkan Peraturan Presiden yang baru untuk organisasi vertikal, melalui Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2006, tentang kedudukan, tugas, fungsi, susunan organisasi di unit kerja instansi vertikal di lingkungan Departemen Keuangan. Menyusul segera dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan tentang hal tersebut. Perlunya dilakukan penggantian Peraturan Presiden tersebut terkait dengan rencana penambahan jumlah Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai. Dimana dalam Keppres lama yang mengatur Keputusan Menteri Keuangan tentang organisasi DJBC, ditetapkan bahwa untuk Bea dan Cukai di dalam satu atau beberapa provinsi hanya dapat dibuat satu Kanwil. Namun seiring perkembangan kebutuhan tugas dan perlunya penambahan Kanwil lebih dari satu dalam satu provinsi, maka aturan itu sudah harus direvisi.

FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI
Dari hasil kajian yang dilakukan oleh Tim Reorganisasi DJBC 2006, diinventarisir masalah-masalah yang melatarbelakangi perlu dilakukannya reorganisasi di DJBC. Seperti diungkap Kepala Bagian Organisasi dan Tatalaksana Sekretariat DJBC, Drs. Nofrial MA, ada berbagai faktor melatarbelakangi perlunya reorganisasi di DJBC. Pertama, adalah perkembangan praktek perdagangan internasional. Selaku institusi pemerintah yang menyelenggarakan fungsi trade facilitation, DJBC senantiasa dituntut untuk menyempurnakan sistim dan prosedur pelayanan dan pengawasan sesuai dengan perkembangan yang terjadi dalam praktek perdagangan internasional. Ketidakmampuan DJBC dalam mengindentifikasi dan mengantisipasi perkembangan yang terjadi dapat mengakibatkan inefisiensi dibidang pelayanan yang pada akhirnya menimbulkan high cost economy dan inefektifitas dibidang pengawasan. Kedua, pendayagunaan teknologi informasi. Dalam rangka mempercepat proses penyelesaian kewajiban pabean, meminimalkan intervensi pejabat dalam pengambilan keputusan serta mengoptimalkan kinerja dibidang pengawasan, DJBC telah memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pelayanan dan pengawasan dibidang kepabeanan dan cukai. Pemanfaatan kemajuan teknologi dibidang alat bantu pemeriksaan fisik (scanner dan hi-co scanner) juga dilakukan dalam rangka membantu kecepatan dan akurasi pemeriksaan fisik barang, baik impor maupun ekspor.

PRESIDEN SBY. Penataan organisasi ditujukan untuk memberi peluang dan penyegaran bagi pejabat lain dalam meningkatkan kinerja lembaga.

6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. WBC

Tiga, meningkatnya tuntutan masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap eksistensi DJBC dalam mengawasi lalu lintas barang relatif sangat tinggi sehingga banyak pihak mengusulkan diberlakukannya kembali sistim Pre Shipment Inspection (PSI) di Indonesia. Resistensi masyarakat tersebut muncul akibat masyarakat mempunyai penilaian bahwa kinerja DJBC, baik dibidang pelayanan maupun pengawasan masih relatif sangat rendah. Dari sisi pelayanan, rendahnya kinerja DJBC masih dianggap sebagai salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya ekonomi biaya tinggi di pelabuhan. Sementara dari sisi pengawasan, DJBC masih dianggap belum mampu menangkal beredarnya barang impor illegal di dalam negeri sehingga mengakibatkan terpuruknya industri domestik. Lebih jauh, rendahnya kinerja DJBC dibidang pengawasan dinilai telah mengakibatkan kebocoran penerimaan negara berupa bea masuk dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor) dalam jumlah yang relatif cukup signifikan. Empat, perubahan kebijakan pemerintah. Perubahan kebijakan umum pemerintah dibidang organisasi pemerintahan dan perubahan kebijakan pemerintah dibidang tugas dan fungsi Depkeu termasuk reposisi tugas dan fungsi DJBC merupakan faktor pendorong lain perlunya dilaksanakan reorganisasi DJBC tahun 2006. Kebijakan umum dibidang organisasi pemerintahan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap reorganisasi DJBC adalah mengenai pembentukan eselon V yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas operasional instansi
WBC/ADI

DJBC SENANTIASA DITUNTUT menyempurnakan sisdur pelayanan dan pengawasan sesuai perkembangan yang terjadi dalam praktek perdagangan internasional.

NOFRIAL. Berharap, agar permasalahan yang selama ini belum dapat diatasi Bea dan Cukai secara organisasi dapat segera diatasi.

vertikal. Secara khusus, kebijakan pemerintah dalam mengalihkan tugas pelayanan kemudahan ekspor dari Bapeksta ke DJBC menyebabkan struktur organisasi dan tupoksi (tugas pokok organisasi) unit organisasi DJBC yang berlaku menjadi tidak relevan. Lima, reformasi bidang kepabeanan. Dalam rangka optimalisasi kinerja pelaksanaan tugas pelayanan dan pengawasan dibidang kepabeanan, DJBC telah melakukan reformasi bidang kepabeanan yang meliputi peningkatan fungsi fasilitasi perdagangan, pemberantasan penyelundupan dan undervaluation, peningkatan koordinasi dengan stakeholder, dan peningkatan integritas pegawai. Program reformasi yang meliputi berbagai aspek dalam pelaksanaan tugas tersebut tidak meliputi peyempurnaan dibidang organisasi sehingga diperlukan penyesuaian struktur, tugas dan fungsi. Enam, amandemen UU Nomor.10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan UU Nomor.11 tahun 1995 tentang Cukai yang sedang dalam proses penyelesaian di DPR. (Untuk kepabeanan telah rampung diamandemen sedang untuk cukai masih dalam proses pembahasan). Perubahan kedua undang-undang tersebut perlu diantisipasi secara organisasi sehingga pelaksanaan tugas

dibidang kepabeanan dan cukai dapat dioptimalkan. Tujuh, berdasarkan pemantauan terhadap kinerja Direktorat Jenderal, terdapat beberapa masalah organisasi yang menimbulkan dampak negatif yang relatif signifikan terhadap kinerja DJBC. Secara umum, masalah tersebut timbul karena ketidak sempurnaan struktur organisasi yang berlaku dan adanya perubahan sistim dan prosedur pelaksanaan tugas yang tidak segera diikuti dengan perubahan struktur organisasi dan tupoksi. Delapan, adanya reorganisasi Departemen Keuangan yang dilakukan dalam rangka menciptakan organisasi yang dapat berfungsi sesuai dengan prinsip good governance pimpinan Departemen Keuangan mereformulasi dan mereposisi tugas dan fungsi unitunit kerja di lingkungan departemen. “Yang lebih dominan lagi adalah pimpinan DJBC ingin mempercepat program reformasi. Itulah latar belakang yang dapat saya sampaikan mengapa diperlukan reorganisasi,” ujar Nofrial, Ketua Tim Reorganisasi DJBC 2006.

KETIDAKSEMPURNAAN STRUKTUR ORGANISASI
Mengenai masalah yang berhubungan dengan ketidaksempurnaan struktur
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

7

LAPORAN UTAMA
organisasi yang berlaku selama ini, lanjut Nofrial, ternyata mengakibatkan beberapa masalah dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi ini, antara lain; Struktur organisasi dan tupoksi tidak relevan. Perkembangan sistim dan prosedur pelayanan dan pengawasan menyebabkan tugas dan fungsi unit organisasi tertentu menjadi tidak relevan, misalnya Subdit Verifikasi dan Bidang Verifikasi pada Kantor Wilayah. Disamping itu perkembangan sistim dan prosedur pelayanan lain seperti Jalur Prioritas, Registrasi Importir belum diatur dalam tugas dan fungsi organisasi yang berlaku. Tugas tersebut untuk sementara dilaksanakan oleh tim yang tidak permanen atau dititipkan pada salah satu unit organisasi. Tugas dan fungsi tidak dapat dilaksanakan. Masalah utama tidak terlaksananya tugas dan fungsi tertentu adalah bahwa pada naskah Keputusan Menteri Keuangan mengenai Organisasi dan Tata kerja, tugas dan fungsi tidak didefinisikan secara sempurna atau tidak didelegasikan kepada pejabat dibawahnya (menyangkut masalah redaksional) Tugas dan fungsi tumpang tindih. Masalah utama organisasi yang menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja DJBC adalah terdapat tugas dan fungsi yang saling tumpang tindih antara unit-unit organisasi DJBC. Secara umum terdapat 3 kondisi yang mengindikasikan terjadinya tumpang tindih tugas dan fungsi pada unit organisasi DJBC, baik pusat maupun vertikal, yaitu: l Tugas dan fungsi operasional, baik dibidang pelayanan maupun pengawasan secara umum, diselenggarakan oleh Kantor Pusat dan instansi vertikal l Tugas dan fungsi yang sama diselenggarakan oleh 2 unit organisasi atau lebih l Tugas dan fungsi yang mempunyai out put yang identik dilakukan oleh 2 unit organisasi atau lebih. Disamping itu juga ketidaksempurnaan organisasi ini telah mengakibatkan beban kerja tidak seimbang. Baik pada organisasi pusat maupun vertikal, terdapat unit organisasi yang beban kerjanya terlalu kecil dan unit organisasi yang beban kerjanya terlalu besar sehingga tidak dapat ditangani dengan baik. Ketidakseimbangan beban kerja tidak hanya meliputi permasalahan yang berhubungan dengan volume pekerjaan, tetapi juga meliputi variasi jenis pekerjaan. Disamping itu juga pengelompokan kerja kurang relevan. Pengelompokan tugas dan fungsi pada struktur organisasi tertentu kurang relevan. 8
WARTA BEA CUKAI

Tidak relevannya pengelompokan tugas tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain; tugas tertentu tidak sesuai dengan tugas pokok lainnya, tugas tertentu tidak sejalan dengan gambaran pada nomenklatur struktur, tugas pelayanan dikelompokkan ke dalam kelompok yang sama dengan tugas pengawasan. “Kendala dalam organisasi yang terdahulu bisa saya katakan bahwa organisasi tidak dapat lagi menampung perkembangan pelaksanaan tugas. Pertama tugas hasil reformasi, kedua perkembangan akibat perubahan kebijakan pemerintah, kemudian berkembangnya tuntutan masyarakat. Nah sekarang kita akomodir itu. Jadi yang sekarang kita coba lebih akomodatif, baik untuk menghadapi tantangan-tantangan kemarin. Disamping menghapus tugas-tugas yang overlap, hapus yang sudah tidak perlu, ” demikian ungkap Nofrial. Prinsip yang digunakan dalam penyusunan reorganisasi ini adalah efisiensi dan efektifitas. Intinya, lanjut Nofrial, prinsip dilakukannya reorganisasi adalah bagaimana membuat organisasi ini benar-benar merupakan jawaban daripada permasalahan yang dihadapi Bea dan Cukai. “Jadi kita membuat organisasi yang akomodatif. Misalnya, ada yang mengatakan di satu wilayah tugas Bea dan Cukai tidak jelas, lho tolak ukurnya apa ? Siapa yang pernah melakukan evaluasi seperti semacam itu ? Lantas pengawasannya seperti apa sampai bisa mengatakan bea cukai kerjaanya amburadul, nah maka itu sekarang kita buat sistim pengawasan internal.” Menurutnya, kebutuhan organisasi dalam hal ini Bea dan Cukai, akan timbul bila Bea dan Cukai akan melakukan pengembangan atau evaluasi sistim, untuk itu diperlukan pengkajian terlebih dahulu. Lantas apakah pengkajian yang dilakukan sudah efektif dan tepat serta siapa yang melakukan pengkajian terhadap sistim yang telah dimplementasikan, ternyata saat ini belum ada. Maka itu di reorganisasi kali ini akan dibentuk tenaga pengkaji yang akan melakukan pengkajian terhadap apa yang sudah diterapkan. Tenaga pengkaji ini berbeda dengan tim evaluasi. “Jadi bedanya, kalau mengkaji, kita lihat apakah existing system sudah tepat atau belum, sedangkan evaluasi lebih banyak pada implementasi sistem itu. Apakah sistem ini sudah diimplementasikan secara benar atau belum oleh pejabat. Jadi semacam sistim pengawasan secara internal. Dan hasil dari reorganisasi sekarang kita sudah memiliki tenaga pengkaji. Memang,

selama ini ada fungsi semacam itu seperti tim evaluasi, tetapi secara tegas, tupoksinya tidak jelas, akibatnya pengawasan internal tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ini dikarenakan permasalahan redaksional di dalam tupoksi Kep Menkeu yang lama. Maka itu dipertegas lagi. Untuk tenaga pengkaji telah ditetapkan dalam Peraturan Menkeu Nomor 98/PMK.01/2006,” ungkap Nofrial. Melalui reorganisasi, Nofrial berharap, permasalahan yang selama ini belum dapat diatasi Bea dan Cukai secara organisasi dapat segera diatasi, hanya ia perlu menyampaikan disini bahwa organisasi DJBC tidak akan pernah bisa berjalan utuh jika penempatan personil di dalam tidak tepat, maka itu bidang sekretetariat harus sejalan antara organisasi dengan kepegawaian. “Antara rekrutmen dan penempatan pegawai harus sesuai. Kalau itu sudah tepat, termasuk sistim pengawasan yang tepat, harapan saya, kita tidak akan lagi mudah menjadi sasaran resistensi. Sekarang agak repot ya, kalau kita bicara pengawasan yang ngawasi itu sebenarnya siapa ? Karena semua ikut mengawasi, tetapi kalau kita lihat siapa yang paling bertangggung jawab, siapa yang mengkoordinir dan siapa yang merumuskan kebijakan itu, saya rasa pengawasan akan tepat,” ujar Nofrial. Masukan juga ia sampaikan. Kepada semua pegawai agar secara konsisten melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan apa yang diperintahkan. “Jangan melaksanakan sesuatu di luar batas kewenangan, jangan merasa diri lebih hebat dibandingkan dengan yang lain. Laksanakanlah secara maksimum dan optimum tugas yang dibebankan kepada kita sesuai dengan tupoksi masing-masing. Boleh kita berinovatif, tetapi inovatif tetap ada koridornya. Jangan inovatif cawe-cawe, maksudnya tugas orang lain kita ambil sementara tugas kita sendiri tidak terlaksana. Konsisten dan pahamilah dengan benar tugas dan fungsi kita, lalu laksanakanlah secara konsisten dan komit.” Perubahan baru pasti terjadi dalam setiap reorganisasi. Tapi itulah harapan-harapan dan tuntutantuntutan yang menjadi keharusan bahkan mutlak dilaksanakan agar semakin pasti dalam melangkah. Dan memang penyesuaian atau pembaharuan semakin menjadi tuntutan bagi organisasi atau instansi manapun, di era globalisasi dan liberalisasi perdagangan dewasa ini, tidak terkecuali DJBC. Namun, itu semua tentu berpulang kepada integritas sumber daya manusia yang menjalankan tugas dan fungsi yang diemban DJBC. ris

EDISI 386 JANUARI 2007

SEIMBANG, ANTARA PELAYANAN DAN PENGAWASAN
Berpedoman kepada latar belakang permasalahan yang dihadapi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), disusunlah konsep reorganisasi tahun 2006. Apa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai DJBC melalui reorganisasi kali ini ? Simak laporan yang telah disusun tim reorganisasi.

D

ari hasil identifikasi masalah yang dilakukan Sekretariat DJBC, menurut Sekretaris DJBC (Sekditjen), dr Djuneidy Djusan, telah tercakup semua direorganisasi DJBC 2006. Langkahlangkah yang dilakukan Sekretariat Direktorat Jenderal (Setditjen) Bea dan Cukai dalam rangka reorganisasi ini antara lain dengan membentuk tim perumusan intern Sekretariat Direktorat Jenderal, meminta masukan dari unit Eselon II Kantor Pusat, serta Kepala Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Yang dilakukan selanjutnya adalah menghimpun masukan-masukan tersebut, membentuk tim pembahas penyempurnaan organisasi dengan Keputusan Dirjen untuk menyelenggarakan rapat pembahasan dan presentasi dengan staf inti dan mengajukan usulan reorganisasi kepada Menteri Keuangan. Mengenai peran Setditjen dalam reorganisasi DJBC, dijelaskan Djuneidy, bahwa peran Sekretariat sesuai dengan salah satu fungsinya adalah sebagai penyelenggara pengelolaan urusan organisasi dan ketatalaksanaan. Dalam tim pembahasan, Setditjen sebagai pengarah dalam rangka penyempurnaan organisasi. Disinggung mengenai mekanisme reorganisasi DJBC, menurutnya, setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan lalu melakukan pembahasan dengan Biro Organta Departemen Keuangan dan kemudian dengan kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan). Tentang kemungkinan terjadinya inefisiensi akibat dari reorganisasi, ditegaskan Djuneidy, bahwa reorganisasi tidak ditentukan berdasarkan skala waktu, tetapi dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan organsasi. Menurutnya, reorganisasi dalam penyempurnaan organisasi tidak akan mengakibatkan terjadinya inefisiensi. Sebab organisasi dibentuk tentunya dengan melakukan pengkajian terlebih dahulu, apabila kedepan fungsinya semakin berkurang, maka organisasi tersebut perlu disempurnakan lagi. Setelah reorganisasi dilakukan, tugas selanjutnya adalah pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM). Mengenai hal

tersebut ia menjelaskan bahwa apabila dari organisasi menghendaki adanya kebutuhan sarana dan prasarana, hal ini telah diperhitungkan, artinya diajukan dalam anggaran tahun yang akan datang, begitu pula dengan anggaran untuk kebutuhan penempatan SDM telah dipersiapkan. Mengenai ukuran keberhasilan suatu reorganisasi, Djuneidy menegaskan, ukuran keberhasilan suatu reorganisasi dapat dilihat dari pelaksanaannya, yaitu tugas dan fungsi Direktorat Jenderal dilaksanakan secara optimal dan tidak tumpang tindih.

TUJUAN DAN SASARAN REORGANISASI
Dari kajian yang dilakukan tim reorganisasi maka diketahui tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dari reorganisasi. Seperti diungkap Ketua Tim Reorganisasi DJBC 2006, Nofrial, bahwa salah satu tujuan dilakukannya reorganisasi adalah untuk mempercepat implementasi reformasi dan peningkatan efisiensi dan efektifitas organisasi agar DJBC antisipatif terhadap perkembangan pelaksanaan tugas. “Maksud saya begini, masalah Bea
DOK. WBC

dan Cukai sekarang adalah efisiensi di bidang pelayanan, artinya tidak menimbulkan high cost, transparan dan sebagainya. Untuk itu kita harus ciptakan organisasi yang bisa mengakomodir untuk menuju efisiensi yang tidak terlalu banyak birokrasi, ini salah satunya,” ujar Nofrial. Begitu pun jika berbicara soal efektifitas, maka hubungannya dengan pengawasan. Apakah pengawasan yang dilakukan DJBC telah sesuai, atau belum. Jangan sampai yang telah dilayani Bea dan Cukai diawasi, sebaliknya yang diawasi justru dilayani. “Keseimbangan antara pelayanan dan pengawasan sangatlah penting bagi Bea dan Cukai. Terlalu berat ke pengawasan akan mengakibatkan biaya tinggi bagi pelayanan, sebaliknya, kalau terlalu longgar pada pelayanan juga menimbulkan biaya bagi pengawasan karena mengancam penerimaan negara. Nah sekarang bagaimana menyeimbangkan itu ? Maka dibuatlah sistim dan organisasi pendukungnya,”lanjutnya lagi. Selain yang telah diungkap Nofrial sebelumnya, berikut secara lengkap tujuan reorganisasi yang telah disusun oleh tim reorganisasi. Berikut tujuan dan penjelasannya.
l

Organisasi pemerintah yang sensitif dan akomodatif Melalui reorganisasi ingin menciptakan DJBC sebagai organisasi pemerintah yang sensitif dan akomodatif terhadap perkembangan praktek perdagangan internasional sehingga mampu berperan secara optimal sebagai trade facilitator. Struktur organisasi DJBC yang akomodatif Menciptakan struktur organisasi DJBC yang akomodatif terhadap perkembangan pelaksanaan tugas sebagai konsekuensi dari penyempurnaan yang dilakukan dibidang sistim dan prosedur pelayanan dan pengawasan, baik dibidang impor, ekspor maupun cukai. Terkait dengan hal tersebut, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dibidang impor, DJBC menerapkan sistim pemeriksaan pabean secara selektif dengan menggunakan indikator risiko
WARTA BEA CUKAI

l

DJUNEIDY DJUSAN. Setditjen berperan sebagai pengarah dalam rangka penyempurnaan organisasi.

EDISI 386 JANUARI 2007

9

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

MELALUI REORGANISASI, menuju organisasi yang akomodatif terhadap perkembangan kebijakan.

yang disusun berdasarkan performance dan compliance level market forces. Importir yang performance dan compliance levelnya dinilai sangat tinggi mendapat pelayanan melalui jalur prioritas. Untuk importir lainnya, tergantung indikator risiko yang ditetapkan dan dilayani, yaitu melalui jalur hijau dan jalur merah. Berdasarkan struktur organisasi yang berlaku, unit organisasi yang menyelenggarakan fungsi manajemen pengelolaan performance dan compliance level importir belum diatur sehingga tugas tersebut diselenggarakan oleh unit organisasi berbentuk tim atau ditumpangkan pada unit organisasi tertentu.
l

ya manusia tanpa menimbulkan inefisiensi dan inefektifitas organisasi juga menjadi tujuan reorganisasi. Tugas-tugas yang dapat diselenggarakan melalui komputerisasi hendaknya tidak menjadi beban sumber daya manusia (SDM) dan sebaliknya. Dengan demikian SDM dapat dialokasikan secara efisien dan efektif.
l

efektifitas organisasi melalui pengelompokan kerja yang harmonis, maka beban kerja seimbang, serta tidak terjadi tumpang tindih. Pengelompokan kerja yang diatur dalam struktur organisasi yang berlaku, baik ditingkat pusat maupun instansi vertikal masih belum sempurna sehingga perlu direformulasi dan direposisi. Disamping itu, pembagian beban kerja dirasa masih belum seimbang. Ditingkat pusat, terdapat unit organisasi yang beban kerjanya relatif kecil sehingga menimbulkan inefisiensi, baik ditinjau dari segi organisasi maupun kinerja pelayanan. Tidak seimbangnya beban kerja pada unit organisasi pusat dan instansi vertikal tersebut juga timbul sebagai konsekuensi dari reformulasi tugas dan fungsi tertentu seperti tugas bidang verifikasi. Permasalahan yang relatif paling signifikan sehubungan dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan efektifitas organisasi adalah adanya tugas dan fungsi yang tumpang tindih, baik sesama unit organisasi pada kantor pusat, maupun antara Kantor Pusat, Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan.
l

Menyelaraskan pendayagunaan TI dan komunikasi dengan SDM Menciptakan struktur organisasi DJBC yang mampu menyelaraskan pendayagunaan teknologi informasi (TI) dan komunikasi dengan pendayagunaan sumber da-

Organisasi yang akomodatif terhadap perkembangan kebijakan Yaitu dengan menciptakan struktur organisasi DJBC yang akomodatif terhadap perkembangan kebijakan pemerintah, baik kebijakan umum pemerintah dibidang pemerintahan maupun kebijakan khusus dibidang tugas pokok Drektorat Jenderal. Efisiensi dan efektifitas organisasi melalui pengelompokan kerja yang harmonis Dengan meningkatkan efisiensi dan
DOK. WBC

l

Menjamin terlaksananya tugas dan fungsi DJBC secara optimal Berdasarkan struktur organisasi yang berlaku, terdapat tugas dan fungsi yang tidak dapat diselenggarakan karena beberapa permasalahan seperti tidak terdapat struktur organisasi yang menyelenggarakan tugas tertentu. Tugas dan fungsi tidak didefinisikan secara sempurna, serta tidak terdapat pendelegasian wewenang kepada pejabat dibawahnya. Disamping itu, untuk menjamin kualitas kinerja individual pejabat dan pegawai, disamping adanya pengawasan melekat, pengawasan aparat pengawas fungsional serta pengawasan masyarakat, perlu dibentuk unit pengawasan internal tanpa harus berbenturan dengan tugas aparat pengawas fungsi. Unit pengawasan ini hendaknya dapat bertanggungjawab terhadap terselenggaranya tugas dan fungsi pengawasan kinerja seluruh unsur dilingkungan DJBC secara optimal.

SASARAN YANG AKAN DICAPAI
Sasaran yang hendak dicapai dari pelaksanaan reorganisasi ini salah satunya adalah untuk mengatasi keluhan masyarakat terhadap ketidakmampuan DJBC dalam mengakomodasi perkembangan baru dalam praktek perdagangan yang pada akhirnya menimbulkan ekonomi biaya tinggi, terutama karena waktu penyelesaiannya yang relatif lama dan birokratis. Optimalisasi kinerja DJBC dalam memfasilitasi perdagangan terutama dalam hal memberikan pelayanan yang tepat dan proposional sesuai performance (kinerja) dan compliance level market forces (tingkat kepatuhan pengguna jasa.red) , juga menjadi salah satu sasaran yang hendak dicapai melalui reorganisasi. Dalam hal ini, permasalahan utama yang terjadi saat ini dibidang pelayanan,

PENINGKATAN BIDANG PENGAWASAN melalui optimalisasi kinerja DJBC dalam memberantas penyelundupan dan perdagangan ilegal, baik untuk tujuan optimalisasi penerimaan negara maupun perlindungan terhadap industri dalam negeri. Dok. WBC.

10

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

khususnya pelayanan dibidang impor adalah rendahnya kinerja DJBC dalam menentukan dan mengimplementasikan kriteria penetapan jalur pemeriksaan, sehingga masyarakat yang mempunyai performance dan compliance level (tingkat kepatuhan) yang tinggi mendapat perlakuan pelayanan yang kualitasnya relatif sama dengan yang mempunyai performance dan compliance level rendah. Akibatnya, konsekuensi dari hal tersebut, masyarakat yang performance dan compliance level-nya relatif tinggi yang umumnya adalah perusahaan industri dan pedagang besar termasuk perwakilan principal di Indonesia menjadi complain (mengeluh.red) dan menyuarakan secara terus menerus resistennya terhadap intervensi pemerintah, khususnya Bea dan Cukai dibidang perdagangan. Sasaran selanjutnya adalah optimalisasi kinerja DJBC dalam memberantas penyelundupan dan perdagangan illegal, baik untuk tujuan optimalisasi penerimaan negara maupun perlindungan terhadap industri dalam negeri. Dampak negatif terhadap rendahnya kinerja DJBC dalam memberikan pelayanan yang tepat dan proposional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja dibidang pengawasan sehingga illegal trader dapat beroperasi dengan tingkat efisiensi yang sama bahkan dalam beberapa kasus lebih baik dibandingkan dengan legal trader. Dibidang perdagangan hal ini menyebabkan membanjirnya barang-barang ilegal di dalam pasar domestik yang pada akhirnya menghancurkan industri dalam negeri. Sementara itu dibidang penerimaan negara, terutama karena perilaku bisnis illegal trader cenderung korup dan tidak bertanggungjawab. Optimalisasi kinerja DJBC dalam melakukan pembinaan terhadap dunia usaha merupakan sasaran selanjutnya. Selama ini pelayanan DJBC yang tidak proposional berdasarkan performance dan compliance level stakeholder menimbulkan dampak negatif terhadap pembinaan dunia usaha. Akibatnya masyarakat usaha yang tidak merasakan adanya insentif dibidang pelayanan sesuai performance dan compliance level-nya cenderung pesimis terhadap kebijakan dan fasilitas yang diterapkan dan lebih memilih menggunakan illegal trader dalam penyelesaian formalitas barang impornya. Terakhir, sasaran yang hendak dicapai adalah optimalisasi kinerja DJBC dalam mengalokasikan sumber daya terutama SDM. Kemampuan DJBC dalam mengindentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokok dapat meningkatkan kinerja DJBC dalam mengalokasikan sumber daya manusia. Pemberdayaan SDM secara optimal dapat difokuskan kepada tugas yang beresiko tinggi sementara tugas yang beresiko rendah cukup dilayani oleh sistim komputerisasi atau sumber daya yang relatif kecil. ris

MENUJU ORGANISASI
YANG SELARAS DAN TERAKOMODIR
Untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, tim reorganisasi telah menyusun organisasi baru DJBC setelah melalui beberapa kali pembicaraan antara staf pimpinan DJBC dan Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan (Organta) Departemen Keuangan, maupun ditingkat Menpan dan Sekretariat Kabinet. Lantas Apa saja yang telah dihasilkan oleh Tim Reorganisasi DJBC 2006 dalam organisasi baru ini ?

D

ibandingkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/ KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004, didalam organisasi dan tata kerja yang baru terdapat beberapa perubahan. Dan inilah hasil Reorganisasi DJBC 2006. Di Sekretariat Direktorat Jenderal (Setditjen) terdapat penambahan Tata Usaha Dirjen dibawah Bagian Umum. Hal ini mengingat pada Tata Usaha Dirjen hanya terdapat staf pelaksana administrasi dibawah Subbagian Tata Usaha Sekretariat. Mengingat beban kerja yang relatif tinggi dan kompleksitas permasalahan, maka perlu dibentuk struktur organisasi setingkat subbagian untuk melaksanakan penatausahaan administrasi pada kantor Dirjen dan menangani tugas-tugas protokoler.
DOK. WBC

SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL

PENGAWASAN KINERJA seluruh unsur dilingkungan DJBC diselenggarakan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal (Sekditjen) yang selanjutnya didelegasikan kepada Bagian Ortala. EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

DIREKTORAT FASILITAS KEPABEANAN
Likuidasi Subdit Kemudahan Ekspor II yang tugas dan fungsinya direposisi ke Subdit Kemudahan Ekspor I. Lebih lanjut dilakukan reformulasi tugas dan fungsi Subdit Kemudahan Ekspor yang meliputi juga tugas dan fungsi dibidang tempat penimbunan sehingga subditnya berganti nama menjadi Subdit Kemudahan Ekspor dan Tempat Penimbunan. Juga terdapat Penambahan seksi, yaitu Seksi Pembebasan Proyek Pemerintah pada Subdit Pembebasan

DIREKTORAT PENINDAKAN DAN PENYIDIKAN
Terdapat perubahan nomenklatur, likuidasi, reformulasi dan reposisi unit kerja dilingkugan Direktorat Pencegahan dan Penyidikan. Perubahan nomenklatur yang semula Direktorat Pencegahan dan Penyidikan diubah menjadi Direktorat Penindakan dan Penyidikan. Selanjutnya, untuk meningkatkan efisiensi organisasi dan untuk mengatasi tumpang tindih tugas dan fungsi pengawasan, khususnya pengawasan terhadap barang larangan dan batasan, maka Subdit Pengawasan Barang Larangan dan Pembatasan dilikuidasi, tugas dan fungsinya direposisi ke Subdit Intelijen, Subdit Penindakan dan Subdit Sarana Operasi. Kemudian terjadi perubahan nomenklatur Subdit Pencegahan menjadi Penindakan. Terdapat penambahan seksi, yaitu Seksi Penindakan IV. Terjadi perubahan nomenklatur Seksi Perkapalan dan Penerbangan, Seksi Sarana Telekomunikasi, dan Seksi Dukungan Teknis Sarana Komunikasi pada Subdit Sarana Operasi menjadi Seksi Sarana Operasi I, II dan III. Sedangkan di Subdit Intelijen terjadi penambahan seksi yaitu Seksi Intelijen III.

PENYEDERHAAN TIPE KANTOR WILAYAH yang semula ada tiga tipe yaitu Tipe Khusus, Tipe A dan Tipe B menjadi satu tipe atau tanpa nama.

Juga penghapusan Subbagian Pengadaan II pada Bagian Perlengkapan. Disamping efisiensi organisasi, penghapusan Subbagian Pengadaan II dilakukan dalam rangka memfokuskan tugas pengadaan barang yang sifatnya sarat teknologi kepada direktorat yang mengelola barang dimaksud. Tugas dan fungsi pengadaan sarana operasi diserahkan kepada Direktorat P2, dan tugas pengadaan sarana komputerisasi diserahkan kepada Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC). . Reposisi sebagian tugas dari Subbagian Pengembangan Pegawai ke Subbagian Pemberhentian dan Pemensiunan Pegawai, termasuk reposisi sebagian tugas dari Subbagian Tata Usaha, Kearsipan dan Dokumentasi ke Seksi Penyuluhan dan Dokumentasi pada Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC). Disamping itu terdapat penambahan tugas Humas pada Subbagian Rumah Tangga. Kemudian terdapat penegasan mengenai fungsi Sekditjen selaku pejabat yang bertanggung jawab melaksanakan pengawasan internal terhadap kinerja seluruh unsur dilingkungan Direktorat Jenderal (sistim pengawasan internal). Berdasarkan struktur organisasi, tugas dan fungsi yang berlaku, pengawasan kinerja seluruh unsur dilingkungan DJBC diselenggarakan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal (Sekditjen) yang selanjutnya didelegasikan kepada Bagian Organisasi dan Tatalaksana. Namun demikian, tugas dan fungsi tersebut tidak didefinisikan secara sempurna dan tidak didelegasikan kepada pejabat yang dibawahnya, sehingga pengawasan internal terhadap kinerja pejabat dan pegawai tidak dapat diselenggarakan. 12
WARTA BEA CUKAI

Untuk itu melalui reorganisasi ini, disamping dilakukan redefinisi terhadap tugas pengawasan kinerja, fungsi tersebut diselenggarakan oleh Bagian Organisasi dan Tatalaksana (Ortala) yang juga menangani monitoring dan tindak lanjut hasil pengawasan aparat fungsional dan pengawasan masyarakat. Tugas tersebut lebih lanjut dilaksanakan oleh Subbagian Evaluasi Laporan Hasil Pemeriksaan. Mengingat beban kerja yang cukup tinggi, dalam rancangan struktur organisasi DJBC 2006, tugas pengawasan kinerja diselenggarakan oleh Subbagian Pembakuan Prestasi Kerja dan Sarana Kerja yang beban kerjanya relatif kurang. Untuk melaksanakan tugas tersebut, nomenklatur Subbagian Pembakuan Prestasi dan Sarana kerja dirubah menjadi Subbagian Pengawasan Kinerja dan Pembakuan Prestasi Kerja.

DIREKTORAT AUDIT
Di Direktorat ini terjadi perubahan nomenklatur, reformulasi dan reposisi sejalan dengan kebijakan DJBC untuk menghilangkan duplikasi dalam pemeriksaan dokumen, tugas dan fungsi dibidang verifikasi (her verifikasi) maka bidang verifikasi dihapuskan. Tugas verifikasi dokumen hanya diselenggarakan oleh pejabat pada kantor pelayanan dan pejabat dalam rangka audit dibidang kepabeanan dan cukai. Sehubungan dengan kebijakan tersebut, struktur dan tugas Subdit Verifikasi pada Direktorat Verifikasi dan Audit dihapuskan. Otomatis, nomenklatur Direktorat Verifikasi dan Audit dirubah menjadi Direktorat Audit. Tugas dan fungsi Direktorat Audit termasuk nomenklatur, tugas dan fungsi unit organisasi dibawahnya direformulasi. Bidang verifikasi pada kantor wilayah dihapuskan. Tugas verifikasi selanjutnya diredifinisikan sebagai bagian tugas dari tugas audit. Kemudian adanya pemecahan Subdit

DIREKTORAT TEKNIS KEPABEANAN
Pada Direktorat ini terdapat reposisi Subdit Tempat Penimbunan dari Direktorat Teknis Kepabeanan ke Direktorat Fasilitas Kepabeanan. Hal ini ditujukan untuk menyempurnakan pengelompokan tugas dan fungsi yang berhubungan dengan fasilitas pabean, termasuk yang berhubungan dengan kebijakan dibidang Tempat Penimbunan dan dikelompokkan ke dalam tugas dan fungsi Direktorat Fasilitas Kepabeanan. Dengan demikian Direktorat Teknis Kepabeanan difokuskan kepada tugas yang bersifat customs technique seperti prosedur impor dan ekspor, tarif dan nilai pabean. Terdapat juga penambahan seksi, yaitu Seksi Pembebasan Mutlak pada Subdit Impor Ekspor yang semula dari Direktorat Fasilitas Kepabeanan

EDISI 386 JANUARI 2007

Perencanaan dan Evaluasi Audit menjadi Subdit Perencanaan Audit dan Subdit Evaluasi Audit dan ada penambahan seksi, yaitu Seksi Registrasi Kepabeanan pada Subdit Perencanaan Audit.

DIREKTORAT KEPABEANAN INTERNASIONAL
Dilakukan penyempurnaan pengelompokan tugas pada Direktorat Kepabeanan Internasional. Disamping itu, dilakukan pengelompokan pembagian tugas. Tugas penanganan terhadap bantuan luar negeri dalam rangka kerjasama dibidang kepabeanan dimasukkan ke dalam tupoksi.

DIREKTORAT PPKC
Di Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) terdapat penambahan Seksi Bantuan Hukum pada Subdit Peraturan dan Bantuan Hukum.

DIREKTORAT INFORMASI KEPABEANAN
Untuk menyeimbangkan beban kerja termasuk dalam rangka menampung kebijakan untuk memfokuskan pengadaan barang pada direktorat teknis terkait, Subdit Pengolahan Data dan Dukungan Teknis pada Direktorat IKC dipecah menjadi Subdit Penyediaan dan Pemeliharaaan Sistim dan Subdirektorat Pengelolaan Data dan Pelayanan Informasi. Mengingat direktorat ini mempunyai akses penuh terhadap data maka tugastugas pelaporan dibidang kepabeanan dan cukai dikonsentrasikan pada Seksi Pelaporan. Dan penambahan satu subdit, yaitu Subdit Perencanaan dan Pemeliharaan Sistem. Terdapat pula penambahan tiga seksi yaitu; Seksi Perencanaan Sistem dan Sarana Otomasi, Seksi Pemeliharaan Sarana Otomasi dan Seksi Pemeliharaan Sistem

telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 98/PMK.01/2006 tentang Tenaga Pengkaji di lingkungan DJBC. Bahwa dalam upaya meningkatkan kinerja DJBC, diperlukan peningkatan kualitas telaahan dalam rangka pemecahan konsepsional berdasarkan keahlian di bidang kepabeanan dan cukai mengenai pelayanan dan penerimaan kepabeanan dan cukai, pengawasan dan penegakan hukum kepabeanan dan cukai dan pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi DJBC. Mengenai kedudukan, tugas dan fungsinya, bahwa tenaga pengkaji di lingkungan DJBC yang selanjutnya dalam Keputusan ini disebut Tenaga Pengkaji adalah pegawai negeri di lingkungan DJBC yang dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai. Tenaga pengkaji secara administratif berada di dalam lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berkaitan dengan tugasnya, tenaga pengkaji mempunyai tugas mengkaji dan menelaah masalah-masalah di bidang pelayanan dan penerimaan kepabeanan dan cukai, pengawasan dan penegakan hukum kepabeanan dan cukai, dan pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi serta memberikan penalaran pemecahan konsepsional berdasarkan keahlian. Dalam melaksanakan tugasnya, tenaga pengkaji menyelenggarakan fungsi : l Pengkajian penelaahan dan penalaran pemecahan konsepsional berdasarkan keahlian masalahmasalah di bidang pelayanan dan penerimaan kepabeanan dan cukai;

l

l

Pengkajian, penelaahan dan penalaran pemecahan konsepsional berdasarkan keahlian masalah-masalah dibidang pengawasan dan penegakan hukum kepabeanan dan cukai; Pengkajian penelaahan dan penalaran pemecahan konsepsional berdasarkan keahlian masalahmasalah di bidang pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi.

Mengenai susunan dan tugas tenaga pengkaji terdiri dari : l Tenaga pengkaji bidang pelayanan dan penerimaan kepabeanan dan cukai mempunyai tugas mengkaji, menelaah dan memberikan penalaran konsepsional berdasarkan keahlian mengenai masalah-masalah di bidang pelayanan dan penerimaan kepabeanan dan cukai. l Tenaga pengkaji bidang pengawasan dan penegakan hukum kepabeanan dan cukai mempunyai tugas mengkaji, menelaah dan memberikan penalaran konsepsional berdasarkan keahlian mengenai masalah-masalah di bidang pengawasan dan penegakan hukum kepabeanan dan cukai. l Tenaga pengkaji bidang bidang pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi mempunyai tugas mengkaji, menelaah dan memberikan penalaran konsepsional berdasarkan keahlian mengenai masalah-masalah di bidang pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi DJBC. Lebih lanjut, dalam melaksanakan tugasnya para tenaga pengkaji wajib menerapkan prinsip, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik diantara tenaga
DOK. WBC

TENAGA PENGKAJI DILINGKUNGAN DJBC
Keputusan Menteri Keuangan tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan belum secara rinci mengatur pelaksanaan tugas penelaahan dan pemecahan konsepsional secara keahlian masalah-masalah di bidang Kepabeanan dan Cukai. Guna mengoptimalkan kinerja DJBC di bidang pelayanan dan pengawasan Kepabeanan dan Cukai, maka diusulkan kembali adanya Tenaga Pengkaji di lingkungan DJBC. Dan salah satu hasil dari reorganisasi DJBC 2006 adalah pembentukan struktur tenaga pengkaji bidang pelayanan dan penerimaan, bidang pengawasan dan penegakan hukum serta bidang pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi. Latar belakang pemikiran perlunya struktur tenaga pengkaji adalah untuk membantu Direktur Jenderal dalam memantau dan mengkaji hasil implementasi kebijakan dan sekaligus membantu para direktur untuk mencari pemecahan masalah. Tentang struktur baru tenaga pengkaji,

PENGADAAN KEMBALI JABATAN ESELON V, dirasa sangat penting bagi DJBC karena tugas di lapangan lebih banyak pada hal yang bersifat pelayanan. EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

INDRA KUSUMA.Salah satu hasil dari reorganisasi DJBC 2006 adalah difungsikannya kembali jabatan eselon V.

pengkaji maupun dengan unit-unit di lingkungan DJBC. Para tenaga pengkaji wajib menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada Dirjen Bea dan Cukai dan tembusannya kepada unit kerja terkait di lingkungan DJBC. Mengenai eselonisasi, pengangkatan dan pemberhentian, tenaga pengkaji adalah jabatan setingkat eselon II b. Pejabat struktural eselon II a yang dialihtugaskan pada tenaga pengkaji tetap diberikan eselon II a. Pengangkatan dan pemberhentian tenaga pengkaji ditetapkan oleh Menteri Keuangan atas usul Dirjen Bea dan Cukai. Mengenai efektifitas Tenaga Pengkaji, mulai berlaku sejak 17 Oktober 2006 sejak ditandatangani oleh Menteri Keuangan.

si hanya terdapat satu Kantor Wilayah (Kanwil), karena perkembangan kebutuhan tugas, maka harus diganti. Yang mana dalam satu provinsi dapat dibuat satu atau beberapa Kanwil. Jadi, perubahan Peraturan Presiden nantinya berkaitan dengan adanya penambahan Kanwil DJBC. Rencana penambahan Kanwil, lanjut Nofrial, meliputi Kanwil Riau dan Sumatera Barat, Kanwil Banten, Kanwil Jakarta II dan Kanwil Jawa Timur II, termasuk dilakukannya penghapusan tipe Kanwil. Penambahan Kanwil ini tujuannya untuk mengefisienkan pelayanan dan pengawasan. Disamping itu juga ditingkat Kanwil terdapat penambahan bidang baru yaitu Bidang Informasi Kepabeanan dan Cukai (Bidang IKC). Mengenai tugas dan fungsi Kanwil, dalam reorganisasi ini ditegaskan kembali, bahwa tugas dan fungsi bidang penindakan dan penyidikan diselenggarakan seluruhnya oleh Kanwil, sehingga KPBC khusus hanya menyelenggarakan tugas-tugas bidang pelayanan. Untuk melaksanakan tugas dan fungsi dibidang pengadministrasian manifes maka dibentuk Seksi Manifes di KPBC Tipe A1 karena memang di KPBC ini volume manifesnya sangat padat. Secara umum, reorganisasi instansi vertikal meliputi: a. Penyederhaan tipe Kantor Wilayah yang semula ada tiga tipe yaitu Tipe Khusus, Tipe A dan Tipe B menjadi satu tipe (tanpa nama) b. Perubahan struktur organisasi Kantor Wilayah sebagai konsekuensi dari penyederhanaan tipe Kantor Wilayah, reformulasi tugas dibidang verifikasi, serta pendelegasian wewenang dibidang keberatan dan banding c. Penambahan satu bidang baru, yaitu Bidang Informasi Kepabean dan Cukai d. Penambahan jumlah Kantor Wilayah dari 13 menjadi 17 buah e. Penyempurnaan tipe Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dari tipe A Khusus, Tipe A, Tipe B dan Tipe C, menjadi Tipe A1, Tipe A2, Tipe A3, Tipe A4 dan Tipe B. f. Pembentukan KPBC baru, likuidasi KPBC, peningkatan serta penurunan tipe kantor sesuai perkembangan pelaksanaan tugas. g. Eselon Kepala KPBC Tipe A1, A2 dan A3 adalah eselon IIIa, sedangkan tipe A4 adalah eselon IIIB. Dan KPBC Tipe B adalah eselon IV.a. Dapat disampaikan secara singkat mengenai karakteristik tipe kantor. l Tipe A1, merupakan kantor yang volume kegiatan kepabeanannya sangat tinggi dengan sistim pelayanan yang full EDI dan terdapat jabatan fungsional. l Tipe A2, kegiatan utamanya adalah pelayanan dibidang cukai dan kawasan berikat dengan volume kegiatan yang relatif sangat tinggi.

l

l l

Tipe A3, volume kegiatan relatif sedang, tidak terdapat jabatan fungsional. Tipe A4, Volume kegiatan dibidang kepabeanan dan cukai relatif rendah. Tipe B, Volume kegiatan dibidang kepabeanan dan cukai relatif rendah dan dipimpin oleh eselon IV.

KANTOR PELAYANAN UTAMA
Saat ini, berkembang wacana di DJBC mengenai rencana pembentukan Kantor Pelayanan Utama (KPU). Yang membedakan antara KPU dengan kantor pelayanan lainnya, seperti disampaikan Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, dari sisi pegawai, KPU based-nya pada performance (kinerja) dan rencananya sistim remunerasi (penghargaan.red) dan sistim kenaikan pangkat ditetapkan berdasarkan kinerjanya. KPU memiliki performance indicator yang tidak hanya pada masalah penerimaan, tetapi juga waktu pelayanan, kecepatan waktu untuk penetapan jalur merah, jalur hijau dan jalur prioritas, keandalan dari audit dan keandalan dari Nota Hasil Intelijen, termasuk soal keluhan dari klien yang akan diukur di KPU. Begitu pula seperti diungkapkan Nofrial, bahwa KPU, adalah suatu terobosan baru di bidang organisasi yang diharapkan menjadi primadona bagi pelayanan Bea dan Cukai. “Kita harapkan tidak ada permasalahan, jadi pelayanan dan juga pengawasannya bagus. Kenapa bisa bagus? Karena sistim dan gajinya cukup bagus. Ini sesuatu yang kita harapkan ke depan.” Diharapkan, KPBC yang ada nantinya akan mengarah seperti itu dan perlu diketahui, saat ini konsep KPU masih dalam taraf piloting . Yaitu dengan mencoba satu kantor atau dua kantor pelayanan yang akan jadikan KPU (Batam termasuk wilayah Bintan dan Karimun, Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta). “Kita melihat keberhasilan kantor pelayanan pajak, makanya DJBC coba membentuknya, apakah tipe seperti itu relevan untuk Bea dan Cukai, jadi sedang mem-piloting ini. Saat ini sedang menyusun rumusannya, baik struktur maupun tupoksinya yang betul-betul lebih advance dari organisasi yang lain,” lanjut Nofrial. Mengenai konsep KPU ini, Nofrial mengingatkan perlunya kehati-hatian. Yang ia maksud disini, jangan sampai masyarakat mengimplementasikan KPU sama dengan KPBC yang lain. Hal ini dirasa sangat penting ia sampaikan karena di KPU semua kebutuhan pegawai telah dilengkapi, dimana yang selama ini masih menjadi kendala bagi pegawai negeri adalah rendahnya gaji, kesejahteraan dan sebagainya. Di KPU, lanjut Nofrial, semua kendala itu akan dipenuhi sesuai kebutuhan yang memang bukan minimal lagi untuk standar pegawai negeri, tetapi sudah di atas standar. Jika kesejahteraan sudah dipenuhi maka pegawai KPU ditun-

REORGANISASI DJBC TINGKAT VERTIKAL
Rancangan Keputusan Menteri Keuangan tentang reorganisasi instansi vertikal untuk Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan telah selesai dirumuskan dan telah diajukan kepada Menteri dengan Surat Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor S-329/BC/2006 tanggal 19 Mei 2006. Proses penyelesaian rancangan Keputusan Menteri Keuangan dimaksud saat ini telah melalui tahapan pembahasan, yaitu pembahasan di lingkungan Departemen Keuangan (dengan Biro Organta), dengan Menpan dan pembahasan rancangan perubahan Peraturan Presiden di Sekretariat Kabinet. Perubahan atas Peraturan Presiden memang harus dilakukan, menurut Kabag Ortala Sekretariat DJBC, Nofrial, hal itu dikarenakan Keputusan Presiden sebelumnya yang mengatur Keputusan Menteri Keuangan tentang organisasi khususnya DJBC, ditetapkan bahwa untuk DJBC di dalam satu atau beberapa provin14
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

tut untuk memiliki kinerja yang hebat. Untuk mencapai kinerja seperti itu, lanjutnya, tim yang ditunjuk untuk pembentukan KPU mulai menyusun sistim organisasi dan rekruitmen pegawai secara tepat. Karena jika sampai salah, bisa saja kondisinya yang terjadi, sistim dan organisasi bagus, tetapi jika SDM-nya tidak benar akan kacau. Sebaliknya jika sistim dan SDM-nya bagus, tetapi organisasinya tidak akomodatif akan kacau juga. Begitu pun jika organisasi dan SDM-nya bagus tetapi sistimnya tidak benar, akan kacau juga. “Ini perlu pembahasan yang komperehensif antar tim, misalnya dalam tim percepatan reformasi tergabung berbagai unsur, seperti pengawasan dan pelayanan, dalam konteks Direktorat Teknis, Direktorat P2, Verifikasi dan sebagainya,” tandas Nofrial.

DJBC
KANTOR PUSAT DJBC

ORGANISASI BARU

Dari hasil Reorganisasi DJBC 2006, terdapat likuidasi, reposisi dan penambahan fungsi, baik ditingkat pusat maupun vertikal (Kanwil dan KPBC). Berarti, memasuki tahun 2007, DJBC mengawali langkah barunya dengan organisasi yang baru.

DIFUNGSIKANNYA KEMBALI JABATAN ESELON V
Salah satu pokok-pokok reorganisasi DJBC 2006 yang tak kalah pentingnya adalah tim telah menyusun dan merumuskan kembali keberadaan jabatan eselon V pada organisasi tingkat vertikal DJBC. Seperti diungkap Indra Kusuma, Kasubbag Kelembagaan, Sekretariat DJBC yang juga Sekretaris Tim Reorganisasi DJBC 2006. Menurutnya, salah satu yang terpenting dalam reorganisasi ini adalah perubahan kebijakan pemerintah mengenai keberadaan eselon V. Kalau dilihat secara umum, lanjut Indra, dimungkinkannya kembali pengadaan eselon V dirasa sangat penting bagi DJBC, sebab tugas di lapangan lebih banyak pada hal yang bersifat pelayanan.”Bahkan kalau boleh saya katakan, sangat padat pelayanannya. Nah saat ini strukturalnya hanya sampai eselon IV padahal masalah-masalah teknis di bawah banyak yang tidak tertangani karena selama ini kita pakai koordinator pelaksana (Korlak). Maka itu kita bentuk lagi eselon V,” ujarnya. Lebih lanjut Indra menyampaikan dasar dari pembentukan jabatan eselon V adalah seperti yang diatur dalam pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2002, bahwa penetapan eselon V dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan organisasi serta karakteristik tugas pokok dan fungsi jabatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat. Artinya, didalam Peraturan Pemerintah (PP) tersebut telah diatur hanya instansi pemerintah yang berhubungan dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat yang dapat mengangkat jabatan eselon V. “Sebagaimana diketahui, jabatan eselon V sempat ditiadakan dengan adanya PP Nomor 100 Tahun 2000, sehingga didalam struktur organisasi vertikal lama (Kep Menteri Keuangan RI No.444/KMK 01/2001) tidak terdapat jabatan eselon V,” tandas Indra Kusuma. ris

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terdiri dari : 1. Sekretaris Direktorat Jenderal l Bagian Organta (Subbagian Kelembagaan, Subbagian Tata Laksana, Subbagian Evaluasi Kinerja dan Pembakuan Prestasi Kerja Subbagian Evaluasi Laporan Hasil Pemeriksaan) l Bagian Kepegawaian (Subbagian Umum Kepegawaian, Subbagian Mutasi Kepegawaian, Subbagian Pemberhentian dan Pemensiunan Pegawai, Subbagian Pengembangan Pegawai) l Bagian Keuangan (Subbagian Penyusunan Anggaran, Subbagian Perbendaharaan, Subbagian Akuntansi dan Pelaporan) l Bagian Perlengkapan (Subbagian Pengadaan, Subbagian Penyimpanan dan Distribusi, Subbagian Inventarisasi dan Penghapusan) l Bagian Umum (Subbagian Tata Usaha dan Kearsipan, Subbagian Rumah Tangga dan Humas, Subbagian Gaji dan Kesejahteraan, Subbagian Tata Usaha Direktur Jenderal) l Kelompok Jabatan Fungsional 2. Direktorat Teknis Kepabeanan l Subdirektorat Impor dan Ekspor (Seksi Impor, Seksi Ekspor, Seksi Penangguhan Bea Masuk, Seksi Pembebasan Mutlak) l Subdirektorat Klasifikasi Barang (Seksi Klasifikasi I, II, III dan IV) · Subdirektorat Nilai Pabean (Seksi Nilai Pabean I,II, III, IV) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional 3. Direktorat Fasilitas Kepabeanan l Subdirektorat Pembebasan (Seksi Pembebasan Relatif I,II, III, Seksi Pembebasan Proyek Pemerintah) l Subdirektorat Fasilitas Pertambangan (Seksi Fasilitas Minyak dan Gas Bumi, Seksi Fasilitas Aneka Tambang) l Subdirektorat Kemudahan Ekspor dan Tempat Penimbunan (Seksi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor , Seksi Tempat Penimbunan I, II dan III) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional 4. Direktorat Cukai l Subdirektorat Cukai Hasil Tembakau (Seksi Perijinan dan Fasilitas Hasil Tembakau, Seksi Analisis Tarif, Harga dan Produksi Hasil Tembakau) l Subdirektorat Aneka Cukai (Seksi Perizinan dan Fasilitas Aneka Cukai, Seksi Analisis Tarif, Harga dan Produksi Aneka Cukai) l Subdirektorat Pita Cukai (Seksi Penyediaan dan Penukaran, Seksi Penyimpanan dan Pendistribusian) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional) 5. Direktorat Penindakan dan Penyidikan l Subdirektorat Intelijen (Seksi Intelijen I, II, III, Seksi Pangkalan Data Intelijen) l Subdirektorat Penindakan (Seksi Penindakan I, II,III,IV) l Subdirektorat Penyidikan (Seksi Penyidikan I,II, Seksi Barang Bukti) l Subdirektorat Sarana Operasi (Seksi Sarana Operasi I,II,III) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional)
EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

15

LAPORAN UTAMA

6. Direktorat Audit l Subdirektorat Perencanaan Audit (Seksi Perencanaan Audit Impor, Seksi Perencanaan Audit Ekspor, Seksi Perencanaan Audit Cukai, Seksi Registrasi Kepabeanan) l Subdirektorat Pelaksanaan Audit (Seksi Pelaksanaan Audit Impor, Seksi Pelaksanaan Audit Ekspor, Seksi Pelaksanaan Audit Cukai) l Subdirektorat Evaluasi Audit (Seksi Evaluasi Hasil Audit Impor, Seksi Evaluasi Hasil Audit Cukai) l Subbagian Tata Usaha dan Kelompok Jabatan Fungsional

7. Direktorat Kepabeanan Internasional l Subdirektorat Kerjasama Internasional I, (Seksi WCO I, II, Seksi WTO) l Subdirektorat Kerjasama Internasional II, (Seksi Asia dan Afrika, Seksi Eropa dan Amerika, Seksi Australia dan Pasifik) l Subdirektorat Kerjasama Internasional III (Seksi ASEAN, Seksi APEC, Seksi ASEM) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional 8. Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai l Subdirektorat Penerimaan (Seksi

Pemantauan Penerimaan, Seksi Penagihan dan Pengembalian) l Subdirektorat Peraturan dan Bantuan Hukum (Seksi Peraturan Kepabeanan, Seksi Peraturan Cukai dan Peraturan Lainnya, Seksi Bantuan Hukum Kepabeanan dan Cukai) l Subdirektorat Penyuluhan dan Publikasi (Seksi Penyuluhan dan Dokumentasi, Seksi Publikasi) l Subdirektorat Keberatan dan Banding (Seksi Keberatan Banding I,II,III) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional 9. Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai. l Subdirektorat Manajemen Resiko (Seksi Pemantauan Resiko, Seksi Pengendalian Resiko) l Subdirektorat Otomasi Sistem dan Prosedur (Seksi Otomasi Sistem dan Prosedur Impor dan Ekspor, Seksi Otomasi Sistem dan Prosedur Cukai, Seksi Otomasi Sistem Penyajian Data, Seksi Otomasi Sistem Administrasi) l Subdirektorat Perencanaan Sistem dan Sarana Otomasi (Seksi Perencanaan Sistem dan Sarana Operasi, Seksi Pemeliharaan Sistem, Seksi Pemeliharaan Sistem, Seksi Pemeliharaan Sarana Otomasi) l Subdirektorat Pengelolaan Data dan Pelayanan Informasi (Seksi Pengolahan Data, Seksi Pelayanan Informasi) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional

KANTOR WILAYAH
Dari reorgansasi yang dilakukan, jika sebelumnya jumlah Kanwil sebanyak 13 16
WARTA BEA CUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

buah dengan penggolongan tipe (Tipe A, Khusus dan B) . Kini Kanwil tidak menggunakan penggolongan tipe dan jumlahnya bertambah menjadi 17. Terdapat penambahan jumlah Kantor Wilayah DJBC. Yaitu Kanwil Riau dan Sumbar, Kanwil Banten, Kanwil Jakarta II dan Kanwil Jawa Timur II. Secara otomatis susunan Kantor Wilayah DJBC juga mengalami perubahan. Berikut susunan Kantor Wilayah DJBC yang telah mengalami perubahan. 1. Kanwil I DJBC Nanggroe Aceh Darusalam, berlokasi di Banda Aceh (meliputi Provinsi Nangroe Aceh Darusalam) 2. Kanwil II DJBC Sumatera Utara, berlokasi di Medan (meliputi Provinsi Sumatera Utara) 3. Kanwil III DJBC Riau dan Sumbar, berlokasi di Pekanbaru (meliputi Provinsi Riau dan Sumatera Barat) 4. Kanwil IV DJBC Kepulauan Riau, berlokasi di Tanjung Balai Karimun (meliputi Provinsi Kepulauan Riau). 5. Kanwil V DJBC Sumatera Bagian Selatan, berlokasi di Palembang (meliputi Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung) 6. Kanwil VI DJBC Banten, berlokasi di Tangerang (meliputi Provinsi Banten) 7. Kanwil VII DJBC Jakarta I, berlokasi di Tanjung Priok Jakarta Utara (meliputi Provinsi DKI Jakarta) 8. Kanwil VIII DJBC Jakarta II, berlokasi di Jakarta (meliputi Provinsi DKI Jakarta) 9. Kanwil IX DJBC Jawa Barat, berlokasi di Bandung (meliputi Provinsi Jawa Barat) 10. Kanwil X DJBC Jawa Tengah dan DIY, berlokasi di Semarang (meliputi Provinsi Jawa Tengah dan DIY) 11. Kanwil XI DJBC Jawa Timur I, berlokasi di Surabaya (meliputi Provinsi Jawa Timur) 12. Kanwil XII DJBC Jawa Timur II, berlokasi di Malang (meliputi Provinsi Jawa Timur) 13. Kanwil XIII DJBC Bali, NTB dan

NTT, berlokasi di Denpasar (meliputi Provinsi Bali, Provinsi NTB dan Provinsi NTT)

14. Kanwil XIV DJBC Kalimantan Bagian Barat, berlokasi di Pontianak (meliputi Provinsi

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

17

LAPORAN UTAMA
13. KPBC Kotabaru 14. KPBC Tarakan 15. KPBC Nunukan 16. KPBC Kendari 17. KPBC Gorontalo 18. KPBC Bitung 19. KPBC Ambon 20. KPBC Ternate 21. KPBC Sorong 22. KPBC Jayapura 23. KPBC Amamapare 24. KPBC Sabang 25. KPBC Lok Seumawe 26. KPBC Tembilahan 27. KPBC Bontang KPBC Tipe B 1. KPBC Pangkalan Susu 2. KPBC Pematang Siantar 3. KPBC Kuala Tanjung 4. KPBC Sibolga 5. KPBC Sambu Belakang 6. KPBC Tarempa 7. KPBC Tanjung Pandan 8. KPBC Tasikmalaya 9. KPBC Pekalongan 10. KPBC Purwokerto 11. KPBC Tegal 12. KPBC Kalianget 13. KPBC Bojonegoro 14. KPBC Benoa 15. KPBC Selat Panjang 16. KPBC Bima 17. KPBC Atapupu 18. KPBC Kalabahi 19. KPBC Maumere 20. KPBC Ketapang 21. KPBC Jagoi Babang 22. KPBC Pangkalan Bun 23. KPBC Pulang Pisau 24. KPBC Sangata 25. KPBC Pare-Pare 26. KPBC Malili 27. KPBC Bajoe 28. KPBC Pomalaa 29. KPBC Pantoloan 30. KPBC Poso 31. KPBC Luwuk 32. KPBC Manado 33. KPBC Tual 34. KPBC Manokwari 35. KPBC Bintuni 36. KPBC Fak-Fak 37. KPBC Kaimana 38. KPBC Merauke 39. KPBC Biak 40. KPBC Nabire 41. KPBC Ulee-lheue 42. KPBC Iskandar Muda 43. KPBC Meulaboh 44. KPBC Kuala Langsa 45. KPBC Kantor Pos Pasar Baru 46. KPBC Bengkalis 47. KPBC Bagan Siapi-Api 48. KPBC Dabo Singkep 49. KPBC Siak Sri Indrapura 50. KPBC Tulung Agung 51. KPBC Blitar 52. KPBC Madiun 53. KPBC Panarukan 54. KPBC Banyuwangi 55. KPBC Probolinggo ris

Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah ) 15. Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur, berlokasi di Balikpapan (meliputi ProvinsiKalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Selatan) 16. Kanwil XVI DJBC Sulawesi, berlokasi di Makassar (meliputi Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Barat) 17. Kanwil XVII DJBC Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat, berlokasi di Ambon (meliputi Provinsi Maluku, Provinsi Papua, Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Irian Jaya Barat)

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

KPBC Bekasi KPBC Bogor KPBC Purwakarta KPBC Kudus KPBC Pasuruan KPBC Malang KPBC Kediri KPBC Tangerang

KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPBC)
Dari hasil reorganisasi, jika sebelumnya KPBC menggunakan golongan tipe A, Khusus, B dan C, untuk organisasi yang baru ini tipe KPBC berubah menjadi A1(7 buah), A2 (9 buah) , A3 (22 buah) , A4 (27 buah) dan B (55 buah). Jumlah KPBC yang semula berjumlah 112 buah KPBC , kini menjadi 120 buah KPBC. Dengan 89 Kantor Bantu dan 648 Pos Pengawasan. Berikut ini, nama-nama KPBC berikut penggolongan tipenya. KPBC Tipe A1 1. KPBC Belawan 2. KPBC Tanjung Priok I 3. KPBC Tanjung Priok II 4. KPBC Tanjung Priok III 5. KPBC Soekarno Hatta 6. KPBC Tanjung Perak 7. KPBC Tanjung Emas KPBC Tipe A2 1. KPBC Batam Muka Kuning 18
WARTA BEA CUKAI

KPBC Tipe A3 1. KPBC Medan 2. KPBC Tanjung Balai Karimun 3. KPBC Batam 4. KPBC Tanjung Pinang 5. KPBC Palembang 6. KPBC Jambi 7. KPBC Bandar Lampung 8. KPBC Bandung 9. KPBC Surakarta 10. KPBC Gresik 11. KPBC Juanda 12. KPBC Ngurah Rai 13. KPBC Pontianak 14. KPBC Banjarmasin 15. KPBC Balikpapan 16. KPBC Samarinda 17. KPBC Makassar 18. KPBC Jakarta 19. KPBC Merak 20. KPBC Pekanbaru 21. KPBC Dumai 22. KPBC Teluk Bayur KPBC Tipe A4 1. KPBC Teluk Nibung 2. KPBC Tanjung Uban 3. KPBC Bengkulu 4. KPBC Pangkal Pinang 5. KPBC Cirebon 6. KPBC Cilacap 7. KPBC Yogyakarta 8. KPBC Mataram 9. KPBC Kupang 10. KPBC Entikong 11. KPBC Sintete 12. KPBC Sampit

EDISI 386 JANUARI 2007

WAWANCARA
DRS. ANWAR SUPRIJADI MSC
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

“KALAU BICARA REORGANISASI TIDAK BOLEH STATIS...”
Setelah dilantik menjadi Dirjen Bea dan Cukai pada 27 April 2006, secara bertahap Anwar Suprijadi bersama seluruh jajaran DJBC menjawab tantangan masyarakat mengenai kinerja Bea dan Cukai. Salah satu tantangan yang coba dijawab oleh DJBC adalah melalui reorganisasi. Dalam reorganisasi ini, Anwar mengharapkan aparat DJBC bisa memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, termasuk harapan membaiknya citra dan kinerja DJBC. Berkaitan dengan itu, Anwar Suprijadi menyempatkan waktu menyampaikan pemikirannya mengenai reorganisasi kepada Redaktur WBC, Aris Suryantini.
Apakah organisasi DJBC saat ini sudah sesuai dengan semangat customs reforms, seperti yang didengung-dengungkan saat ini ? Saya rasa masih belum dan masih harus kita kembangkan, karena customs reforms menghendaki adanya keseimbangan antara pelayanan dan pengawasan dan kita intinya merubah paradigma teman-teman yang ada di Bea dan Cukai untuk bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Organisasi yang sekarang ini menurut saya masih sering tumpang tindih antara Kantor Pusat (KP), Kantor Wilayah (Kanwil) dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) , sehingga kita perlu tata kembali. Intinya KP berkaitan dengan kebijakan, bisa mengantisipasif kebijakan yang ditangani oleh Menteri Keuangan di bidang kepabeanan dan cukai. Kemudian Kanwil dibidang pengawasan, dan KPBC bidang pelayanan.
EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

19

WAWANCARA
Kita masih sering tumpang tindih dan kadang-kadang di dalam satu kegiatan, baik di tingkat pusat, wilayah dan pelayanan disatu kegiatannya kadangkadang timbul overlap untuk ini. Misalnya untuk pemeriksaan, kadangkadang dari P2 Pusat ada, P2 di wilayah ada, di pelayanan juga ada. Nah yang perlu ditata adalah temanteman di lapangan untuk ini. Jadi lebih kepada penegasan tugas dan fungsi ? Ya itu yang pertama. Kemudian yang kedua, memang pada beberapa perkembangan terakhir bahwa DJBC harus dedicated kepada pelayanan, misalnya di Jakarta ada Priok I, II, III dan ada Kanwil di Priok, sedangkan di Jakarta ada kawasan KITE, kawasan berikat dan sebagainya, ini membutuhkan satu pengawasan untuk itu dan berarti perlu Kanwil lagi. Lihat juga di Surabaya bagaimana masalah cukai begitu kompleksnya sehingga kita juga akan adakan Kanwil baru di sana. Kemudian di Pekanbaru kita juga melihat posisi Tanjung Balai Karimun cukup jauh padahal di Riau begitu pesat perkembangannya maka itu kita butuh Kanwil di sana. Begitu juga di Jawa sebelah barat, ternyata antara Jawa Barat dan Banten sudah terpisah untuk pelayanannya khususnya di Banten, padahal banyak pusat-pusat industri dan perdagangan yang berkembang begitu cepat. Karena kita ingin mendekatkan pelayanan kepada klien kita di sana maka dibentuk Kanwil baru. Sudah sejauhmana rencana pembentukkan Kanwil-Kanwil baru ini ? Konsepnya sudah dibahas di Sekretariat Kabinet (Seskab) pada prinsipnya mereka sudah memahami, tinggal ditandatangani oleh Presiden. Selain itu dalam reorganisasi ini, kita juga telah membentuk tenaga pengkaji. Jadi ada tiga Tenaga Pengkaji di Kantor Pusat. Tenaga Pengkaji ini kita perlukan karena saya sebagai Dirjen butuh think thank dibidang pelayanan, law enforcement di bidang peraturan perundangan. Itu yang kita perlukan. Siapa saja Tenaga Pengkaji Bea dan Cukai ini ? Jadi Tenaga Pengkaji ini merupakan pegawai Bea dan Cukai. Stratanya hampir sama dengan eselon dua, mereka terdiri dari tiga orang. Periode masa jabatannya sama dengan pejabat struktural. Yang membedakan antara Tenaga Pengkaji dengan Tim Evaluasi adalah, jika Tenaga Pengkaji dedicated tanggung jawabnya kepada Dirjen. Kalau tim evaluasi itu bisa kita yang bentuk tim, bisa juga kita tunjuk pejabat, bisa juga tim evaluasi yang anggotanya dari Tenaga Pengkaji. Tenaga Pengkaji diatur dalam Pera20
WARTA BEA CUKAI

turan Menteri Keuangan, Nomor 98/ PMK.01/2006 tentang Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang telah ditandatangani Menteri Keuangan tanggal 17 Oktober 2006. Idealnya instansi kepabeanan yang reformis itu seperti apa ? Kalau kami inginnya ya kita dedicated terhadap klien kita. Jadi ke depan menurut saya birokrasi agak dikurangi. Jangan terjadi misalnya masalah keberatan dan banding sampai berjenjangjenjang. Seharusnya kalau mereka menyampaikan keluhan di satu kantor pelayanan saja. Kedua, kalau bisa kita paperless didukung teknologi informasi (TI) kita yang sudah semakin baik. Ketiga, dalam hal rekrutmen pegawai harus transparan dalam penanganannya. Beberapa KPBC kita (KPU.red) mencoba membuka tawaran kepada teman-teman di dalam (pegawai bea cukai. red) untuk melamar dan itu sudah kita lakukan test. Kemudian yang keempat, kita ada Code of Conduct (kode etik) untuk itu, sebenarnya sudah ada aturannya tetapi kelihatannya perlu efektifitas penerapan kode etik. Dari pembahasan reorganisasi bersama tim, apakah hasil reorganisasi ini sudah mencerminkan semangat reformasi kepabeanan ? Kalau bicara mengenai reorganisasi, kita tidak boleh statis. Mengapa ? Karena tuntutan masyarakat makin cepat, minimal untuk dua atau tiga tahun masih memadai, tetapi untuk ke depannya biasanya harus kita tata kembali, sebab ke depannya kalau boleh kami ingin di dalam reformasi Bea dan Cukai ini ada Kantor Pelayanan Utama (KPU). Nah untuk KPU ini kita tidak mengenal banyak strata, harapan kami dan memang menjadi usulan kami, agar kepala kantornya setingkat eselon dua, sedangkan yang langsung membawahi bidang-bidang pelayanan adalah eselon tiga, sehingga birokrasinya makin kita kurangi. Kalau sekarang ada tiga step antara Dirjen, Kanwil dan KPBC, nanti ke depan kita uji coba kalau bisa dari Dirjen langsung ke Kepala Kantor Pelayanan. Jadi, dalam reorganisasi ini rancangan mengenai KPU merupakan embrio yang harus dilakukan secara bertahap, karena kita butuh bantuan, pengalaman dan diskusi. Sebab, konsep itu bisa jadi cocok diterapkan di negara lain, tetapi di negara kita belum tentu cocok. Makanya butuh satu macam uji coba. Untuk uji coba penerapan KPU ini, KPBC mana yang dipilih ? Rencananya kami akan uji coba dulu di Batam dengan Tanjung Balai Karimun, itu menjadi satu KPU. Dipilih-

nya KPBC ini karena tuntutan dari negara terdekat yaitu Singapura yang mengembangkan kawasan ekonomi khusus, untuk ini mereka juga menuntut Single Administration Document (SAD) dan sudah kami lakukan. Untuk pengembangan TI sudah kita lakukan di sana, kemudian juga masalah audit dan sebagainya sudah kita kembangkan. Untuk yang sekarang kita sudah ada semacam joint committee dengan Customs Singapura. Perlakuan apa yang membedakan antara pegawai KPU dengan pegawai bea cukai yang lain ? Dari sisi pegawai, kalau KPU itu based-nya pada performance (kinerja), jadi nanti di sistim remunerasi (penghargaan.red) dan sistim kenaikan pangkat ditetapkan berdasarkan kinerjanya, tetapi kalau yang biasa sama dengan pegawai negeri sipil lainnya, jadi ukurannya tidak terlalu tajam. Sedangkan di KPU ada performance indicator yang tidak hanya pada masalah penerimaan, tetapi juga waktu pelayanan, kecepatan waktu untuk jalur merah, jalur hijau dan jalur prioritas, lalu juga tentang keandalan dari audit, keandalan dari Nota Hasil Intelijen, juga masalah keluhan dari klien kita, itu akan diukur di KPU. Artinya integritas dan kualitas pegawai sangat diutamakan ? Harapan kita iya, dan kita juga butuh dedicated, artinya di kantor ini yang berhubungan dengan Kantor Pelayanan yang compliance terhadap mereka, tidak sembarang orang. Kalau sekarang di Kantor Pelayanan yang biasa kalau teman-teman juga menghadapi PPJK dari yang kurang berkualitas sampai kualitasnya baik, tetapi nanti kalau di KPU kita harus compliance dan kita akan berikan sertifikat. Untuk tahun 2007, apakah KPU sudah bisa diterapkan ? Insya Allah, tetapi baru di tiga lokasi piloting yaitu di Batam (Bintan, Karimun) kemudian Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta. Sedangkan kemungkinan tambahan KPU lain di tahap berikutnya. Apakah KPU di DJBC mengikuti konsep seperti di Direktorat Jenderal Pajak ? Agak lain ya, karena kalau di pajak masih ada Kanwil tetapi kalau kita langsung kepada tujuan untuk penyeimbangan antara pengawasan dengan pelayanan. Kalau di pajak masih ada strata Dirjen dan Kanwil, sedangkan kalau kita bisa langsung menuju satu yang tidak lebih birokratis. Apakah reorganisasi ini salah satunya karena tuntutan amandemen atas UU Kepabeanan dan Cukai ? Kalau menurut saya, kebetulan

EDISI 386 JANUARI 2007

secara bersamaan tugas kita sangat berat untuk teman-teman di Bea dan Cukai. Satu, kita harus mengamandemen UU tentang Kepabeanan dan Cukai, kita harus melakukan reformasi, kita harus menyiapkan KPU, kita dituntut citra yang lebih baik, kita harus mengembangkan TI yang single window, manifest dan sebagainya secara bersamaan. Namun kalau kita lihat itu merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. Sebagai contoh, misalnya, di dalam amandemen UU Kepabeanan yang sekarang berganti nama menjadi UU No.17 tahun 2006, aturan tentang sanksi bagi pegawai beratnya satu sepertiga kalinya sanksi kepada klien kita (importir dan eksportir). Jadi temanteman harus siap untuk good governance, clean governance. Kita harus melaksanakan kode etik untuk itu, sebab kalau itu tidak dilakukan maka karir mereka yang sudah dibina lama, belum lagi keluarganya, kalau dia miss of conduct atau menyimpang dari kode etiknya ya dia akan habis karena itu. Jadi saya mengingatkan kepada semuanya karena dengan sistim reformasi, intinya kita butuh transparansi, accountability dan persaingan lebih sehat, serta disetiap kegiatan kita harus ada aturannya. Itu yang harus kita lakukan. Karena jika hal itu tidak dilakukan kita menjadi sulit untuk mencapai reformasi yang diinginkan. Dan juga UU-nya demikian termasuk tuntutannya. Dalam UU juga diatur tentang premi bagi yang berjasa. Di dalam reformasi, kita juga berlakukan reward dan punishment Bagaimana peran dan kapasitas Anda sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai dalam reorganisasi ini ? Kalau saya ingin mendudukkan lebih jelas tentang fungsi Direktur Jenderal supaya tidak timbul bias apakah kita regulator atau mengadminstratif regulasi dibidang kepabeanan. Nah ini kelihatannya perlu kita tata kembali, sebab kalau itu jadi satu kita sebagai regulator dan kita mengadministrator akan timbul sesuatu yang tidak good governance, semacam ada duplikasi. Maka itu policy (kebijakan.red) tentang masalah kepabeanan tetap dipegang Menteri Keuangan karena based-nya di dalam Undang-Undang Dasar, kewenangan pemerintahan ada di tangan presiden, kemudian kewenangan dibidang fiskal dilimpahkan kepada Menteri Keuangan yang berkaitan dengan policy. Nah kami di Bea dan Cukai mengadministrasi policy yang dilakukan oleh Menteri Keuangan supaya bisa accountable, transparan, bisa sesuai dengan kapasitas kita dalam melaksanakan tugas, mestinya begitu.

Setelah reorganisasi berjalan, apakah akan dilakukan review atau semacam evaluasi terhadap pelaksanaan reorganisasi ? Saya kira iya, karena organisasi sesuatu yang tidak statis tetapi dinamis sesuai dengan tuntutan masyarakat yang cepat berkembang. Saya rasa itu (review.red) sesuatu yang wajar. Lantas review-nya seperti apa ? Kita punya rencana kerja tahunan, punya renstra (rencana strategi), kalau di perusahaan seperti corporate planning, itu untuk jangka waktu lima tahun, dan setiap tahunnya kita review untuk melihat perubahan lingkungan strategik yang cepat.. Di DJBC tiap akhir tahun kita review organisasinya, apa perlu kita rubah atau tidak, ini yang kelihatannya akan kita lakukan. Sebab dalam rencana kerja RPJM (Rencana Program Jangka Menengah) termasuk renstra harus di-rolling tiap tahun dikarenakan perubahan-perubahan di lingkungan strategik, misalnya kalau dulu orang menganggap Bea dan Cukai sebagai sumber penerimaan negara, tetapi sekarang kan sudah bergeser karena harmonisasi tarif, bea masuk sudah nol dan kita sekarang cenderung kepada fasilitasi. Ini yang harus kita lakukan sehingga organisasi pun harus kita rubah. Kita sekarang sudah mulai bergeser antara pelayanan dan pengawasan harus seimbang, nah untuk mencari keseimbangan ya kita tatalah organisasi ke arah sana. Kita juga siapkan SDM-nya. Hanya saja yang sering terlewat adalah mereenginering atau merekayasa personil kita di Bea dan Cukai yang dulu sebagai birokrasi sekarang sebagai pelayan, nah ini yang kadang-kadang terlambat. Maka itu kami nanti juga butuh bantuan teman-teman dari Pusdiklat. Apakah evaluasi atau review salah satunya nanti dilakukan oleh Tenaga Pengkaji ? Diantaranya iya. Tetapi tidak hanya itu saja, dari staf juga ada, seperti saat ini kita sedang membahas tentang performance dari Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang dan Pemeriksa Dokumen (PFPB dan PFPD). Dari hasil kajian itu selanjutnya kita kembangkan. Kami di sini juga dibantu staf Setditjen yang menangani organisasi di OTL (Organisasi dan Tata Laksana). Apa tujuan akhir yang diharapkan dari reorganisasi ? Kami berharap bisa memberikan pelayanan kepada dunia usaha dan masyarakat lebih optimal, karena sudah banyak kritikan mengenai hal itu. Saya juga minta dari WBC untuk memberi masukan dan kritikan

mengenai apa yang harus kita kerjakan, karena kita ini kan organisasi yang dinamis. Memasuki Tahun Anggaran baru 2007, apa yang menjadi harapan Anda, terutama berkaitan dengan kinerja Bea dan Cukai ? Kita ingin citra itu lebih baik-lah, seperti yang sudah saya sampaikan kepada teman-teman bahwa sanksi sudah berat, jadi jangan sampai kita yang sudah lama berkarir di Bea dan Cukai tetapi karena tidak bisa merubah paradigma, akhirnya kena kasus. Kalau itu terjadi, yang sakit bukan hanya dia sendiri tetapi juga istri, keluarga dan lingkungannya. Saya hanya menyarankan untuk bisa lebih baik. Bagaimana pencapaian target untuk TA 2006 ? Kalau 2006, terus terang dari sisi bea masuk kelihatannya mungkin tidak tercapai karena target yang kita harapkan dari tarif bea masuk untuk beberapa komoditi tetap atau tidak turun, ternyata turun. Dan dari cukai kenaikannya dari APBNP (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan) cukup tinggi . Kalau dari target yang lama seharusnya tercapai tetapi karena ada revisi yang lebih tinggi jadinya dari target Rp. 38,4 triliun, kira-kira Rp. 37,6 triliun tercapai. Tetapi saya sudah sampaikan kepada teman-teman kalau dulu tidak tercapai, solusinya kita sering ijon artinya menarik pendapatan tahun depan untuk menutupi kekurangan target tahun ini. Saya bilang jangan, kita sudah harus bertekad kalau itu tidak tercapai itu tanggung jawab saya sebagai Dirjen, sehingga tidak membebani Dirjen yang akan datang. Saya termasuk yang terbebani dalam hal ini. Sebab setiap kenaikan berapapun tercapai karena modelnya ijon tadi. Saya tidak ingin begitu. Pesan Anda kepada seluruh pegawai DJBC di seluruh Indonesia dalam memasuki Tahun Anggaran 2007 ? Pesan pertama, saya berterimakasih karena selama ini para pegawai sudah berbuat optimal. Kemudian yang kedua, karena tuntutan masyarakat yang makin kritis yang menginginkan Bea dan Cukai lebih baik lagi, maka kita harus bisa menyesuaikannya karena kalau tidak bisa, kita akan ditinggal oleh masyarakat. Yang ketiga, titiplah citra dan karir yang sudah sekian tahun dibina, jangan habis hanya karena kita tidak bisa merubah paradigma kita, itu saja. Karena saya khawatir sanksi makin berat. Kita berkeinginan dan sudah bertekad memilih profesi kita di Bea dan Cukai, maka kita harus solid di situ.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

21

CUKAI
WBC/ATS

SOSIALISASI. Untuk memenuhi terget penerimaan tahun 2007, dilakukan sosialisasi kebijakan cukai tahun 2007.

SOSIALISASI KENAIKAN HJE
DAN TARIF SPESIFIK CUKAI HASIL TEMBAKAU
Berdasarkan data Direktorat Cukai, jumlah nomor pokok pengusaha BKC untuk hasil tembakau (rokok) adalah 4416 pabrik, sementara produksi rokok jenis SKM, SKT, dan SPM tahun 2006 adalah 218 milyar batang. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,3 persen tahun 2007, produksi rokok ketiga jenis tersebut diperkirakan mencapai 232 milyar batang.

melakukan pengawasan dan pembinaannya. Dari jumlah tersebut, produksi rokok pun dibagi menjadi beberapa jenis seperti sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih tangan (SPT) sigaret kelembak tangan (KLM), cerutu (CRT), rokok daun atau klobot (KLB), tembakau iris (TIS), dan hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) (pasal 4 Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai dan pasal 1 PMK no.43/PMK.04/2005) Dari pembagian jenis rokok tersebut, maka pabrik rokok pun juga dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu golongan I, II, III, dan IIIA,B. Untuk masing-masing golongan ini, penetapannya telah ditentukan oleh Menteri Keuangan sebagaimana yang dituangkan dalam PMK No.43/ PMK.04/2005 pasal 2, yaitu pengusaha pabrik hasil tembakau dikelompokan ke dalam golongan pengusaha berdasarkan jenis hasil tembakau yang diproduksinya, sesuai dengan batasan produksi pabrik. Untuk SKM golongan I batasan produksi lebih dari 2 milyar batang, golongan II lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 milyar batang, dan golongan III tidak lebih dari 500 juta batang. Untuk SPM, golongan I lebih dari 2 milyar batang, golongan II lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 milyar batang, dan golongan III tidak lebih dari 500 juta batang. Untuk SKT, golongan I lebih dari 2 milyar batang, golongan II lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih 2 milyar batang, golongan IIIA lebih dari 6 juta batang tetapi tidak lebih dari 500 juta batang, dan golongan IIIB tidak lebih dari 6 juta batang. Untuk KLM, KLM atau SPT, golongan I lebih dari 6 juta batang, dan golongan II tidak lebih dari 6 juta batang. Untuk TIS, golongan I lebih dari 2 milyar gram, golongan II lebih dari 500 gram tetapi tidak lebih dari 2 milyar gram, golongan IIIA lebih dari 50 juta gram tetapi tidak lebih dari 500 juta gram, dan golongan IIIB tidak lebih dari 50 juta gram. Untuk CRT, tanpa golongan tanpa batas produksi. SedangDOK. WBC

D

i Indonesia saat ini, konsumsi rokok oleh masyarakatnya cukup tinggi, bahkan menurut WHO, Indonesia dengan jumlah jiwa sebanyak 200 juta lebih, diperkirakan sekitar 141 jiwanya adalah pengkonsumsi rokok aktif yang menghabiskan sekitar 215 milyar batang per tahunnya (Media Indonesia 11 Desember 2006). Industri rokok memang menjadi salah satu tulang punggung baik penerimaan negara maupun penyerapan tenaga kerja. Dapat dibayangkan dengan jumlah pabrik rokok yang saat ini telah mencapai 4416 pabrik ( golongan I: 6 pabrik, golongan II: 27 pabrik, golongan III: 106 pabrik, golongan IIIA: 282 pabrik, dan sisanya adalah pabrik golongan IIIB) tentunya
WARTA BEA CUKAI

jumlah tenaga kerja yang diserap pun juga telah mencapai jutaan orang. Itu dari sisi penyerapan tenaga kerja, dari sisi penerimaan negara atau yang dikenal dengan cukai hasil tembakau, rokok boleh dikatakan menjadi andalan bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang tiap tahunnya selalu mengalami kenaikan bahkan melampaui dari target yang ditentukan. Untuk tahun 2006 target yang ditetapkan APBN-P sebesar Rp 38,5 triliun dan ditahun 2007 ini target cukai juga telah ditentukan dan dinaikan menjadi Rp 42,03 triliun.

JENIS ROKOK DAN GOLONGAN PABRIK
Dengan jumlah 4416 pabrik rokok memang bukan suatu hal yang mudah untuk
FRANS RUPANG. Saat ini gap HJE dan HTP sangat tinggi antara 10 sampai dengan 50 persen.

22

EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. WBC

yang sebenarnya juga memiliki kelebihan dan kekurangannya. Untuk kelebihannya, metode ini sesuai untuk sektor tembaSOSIALISASI KEBIJAKAN kau Indonesia yang heterogen, CUKAI adil pembebanannya karena Pada Desember 2006 lalu, pabrik besar dikenakan tarif pemerintah melalui Menteri tinggi sedangkan pabrik kecil Keuangan telah menetapkan dikenakan tarif rendah, memkebijakan baru di bidang cukai beri kesempatan berusaha hasil tembakau terkait dengan bagi industri kecil, dan dapat HJE. Kebijakan tersebut menghindari monopoli di tertuang dalam Peraturan sektor industri hasil tembakau,” Menteri Keuangan Nomor 118/ jelas Frans Rupang. PMK.04/2006 tentang Lebih lanjut Frans perubahan kedua atas Rupang menjelaskan, untuk peraturan Menteri Keuangan kelemahan pada sistem Nomor 43/PMK.04/2005 advalorum adalah pemerintentang penetapan harga dasar tah mendistorsi pasar dedan tarif cukai hasil tembakau. ngan menetapkan HJE, peDalam kebijakan baru mungutan dan pengawasantersebut juga dijelaskan, nya kompleks meliputi, pengbahwa untuk tahun 2007 awasan tarif, HJE, golongan, khususnya pada bulan Majenis hasil tembakau, ret seluruh hasil tembakau kemasan, dan alat kontrol yang penetapan HJE-nya pita cukai. Kelemahan lainmasih berlaku dinaikan nya, penggunaan variabel HJE-nya 7 persen, dan paHJE sebagai instrumen da bulan Juli 2007 untuk jeutama membuat gap harga nis SKM, SKT, dan SPM ditransaksi pasar (HTP) naikan beban cukai perbadengan HJE semakin jauh, tang (cukai spesifik), kesenjangan beban cukai golongan I Rp 7, golongan antar golongan semakin jaII Rp 5, dan golongan III Rp INDUSTRI HASIL TEMBAKAU. Jumlah produksi cenderung menurun tiap uh, dan dalam hal kenaikan tahunnya, namun target penerimaan cenderung naik tiap tahunnya. 3. Sedangkan jenis hasil HJE berbentuk prosentase tembakau lainnya seperti akan membuat gap HJE antar jenis hasosialisasi tentang kebijakan cukai tahun TIS, KLB, KLM, CRT, dan HPTL tidak sil tembakau semakin jauh. 2007 khususnya kenaikan HJE dan cukai dikenakan. Kenaikan HJE dan penerapan cukai spesifik di tahun 2007. Acara dibuka oleh TARIF SPESIFIK spesifik ini tentunya tidak terlepas dari Direktur Penerimaan dan Peraturan Sementara itu untuk tarif spesifik yang target penerimaan cukai yang tahun 2007 Kepabeanan dan Cukai (PPKC), Drs. juga memiliki kelebihan dan kelemahan, Wahyu Purnomo, yang dalam kata ini dinaikan. Jika pada tahun-tahun Frans Rupang menjelaskan, untuk kelesambutannya menjelaskan bahwa sebelumnya beban penerimaan cukai bihannya dengan tarif spesifik ini pemerinpenetapan beban cukai yang saat ini telah selalu terlampaui, untuk tahun 2006 target tah tidak perlu menetapkan harga dasar penerimaan cukai tidak dapat tercapai ditentukan, pada awalnya DJBC merasa (cukup mengatur besaran cukai dan satukarena besaran asumsi produksi rokok keberatan karena untuk mencapai angka an BKC yang digunakan per batang, per dan APBN-P 2006 tidak tercapai. tersebut sangatlah sulit mengingat pada gram, per kadar, atau per kemasan). Lebih tahun 2006 saja dari angka yang telah Terkait dengan kebijakan tersebut, mudah dalam pemungutan (administrasi) ditetapkan tidak dapat terpenuhi. maka pada 4 Desember 2006 lalu, dan pengawasan, pemerintah tidak Sementara itu, penjelasan terkait Direktorat Cukai menyelenggarakan alasan pemerintah menetapkan kenaikan DOK. WBC DOK. WBC HJE dan cukai spesifik, disampaikan oleh Direktur Cukai, Frans Rupang, dalam acara sosialisasi yang juga di hadiri oleh seluruh kepala KPBC yang melayani kegiatan cukai, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, dan Seksi Cukai. Dalam kata sambutannya Frans Rupang menjelaskan, target penerimaan cukai dalam RAPBN tahun 2007 ditetapkan sebesar Rp 42,03 triliun dengan estimasi penerimaan cukai tahun 2006 diperkirakan Rp 37,4 triliun dari 38,6 triliun dalam APBN-P. Dengan hanya mengandalkan pertumbuhan produksi hasil tembakau 218 milyar menjadi 232 milyar batang, penerimaan cukai 2007 diperkirakan hanya akan mencapai Rp 40,8 triliun (97 persen dari target). Sehingga untuk mencapai target tahun 2007 diperlukan ekstra effort dan kebijakan khusus. “Saat ini penetapan HJE hasil tembaWAHYU PURNOMO. Baru tahun 2006 target SUNARYO. Salah satu sebab kenaikan harga rokok, kau menggunakan metode advalorum penerimaan cukai tidak dapat terpenuhi. untuk kepentingan penerimaan negara kan untuk HPTL tanpa golongan tanpa batasan produksi.
EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

23

KEPABEANAN
mendistorsi pasar, mendorong industri kecil untuk meningkatkan daya saing, dan sangat tepat untuk menjalankan fungsi pengaturan (pembatasan konsumsi) karena beban cukainya sama. Sedangkan kekurangan dengan pengenaan tarif spesifik ini, tidak adil pabrik besar dan kecil beban cukainya sama, jika besaran tarif sama untuk semua golongan akan mendorong oligopoli, dan belum sesuai untuk industri tembakau di Indonesia yang heterogen dan banyak jumlahnya. Menurut Kepala Seksi Analisis Tarif Harga dan Produksi Cukai Hasil Tembakau, Sunaryo, latar belakang timbulnya cukai spesifik ini lebih dikarenakan adanya gap antara HTP dengan HJE, adanya gap nominal HJE antar golongan dan jenis yang sangat tinggi. Dan sebagai entry point untuk kebijakan cukai jangka panjang, serta untuk kepentingan penerimaan negara, dan meringankan beban PPN pengusaha akibat kebijakan cukai. Untuk itu maka dibuatlah alternatif kebijakan dengan mempertimbangkan aspek legal, fakta real, dan aspek penerimaan cukai tahun 2007, yang pada akhirnya menetapkan penggunaan sistem tarif cukai yang mengkombinasikan sistem advalorum dan spesifik (tarif gabungan) “Dengan tarif gabungan ini maka kita memiliki beberapa kelebihan, diantaranya HJE tidak berubah, mendorong HTP naik, membuat persaingan yang fair di lapangan karena yang menentukan HTP pasar, mendorong pabrik kecil untuk meningkatkan daya saing, mengurangi kecenderungan mendirikan pabrik dengan motif menjual pita cukai, dan tidak mengubah desain pita cukai,” jelas Sunaryo Lebih lanjut Sunaryo menjelaskan, untuk pengawasan yang dilakukan dengan tarif gabungan ini tidak akan berbeda dengan yang telah dijalankan sebelumnya karena masih ada pita cukai. Selain itu DJBC saat ini juga telah menjalankan enam langkah pengawasan khusus untuk cukai, diantaranya dengan operasi pasar secara terbuka (terpadu), operasi intelijen, pemanfaatan data teknis dan data lapangan, sosialisasi kepada masyarakat, sosialisasi kepada instansi pemerintah, dan personalisasi. Namun upaya-upaya tersebut juga masih mengalami kendala-kendala, diantaranya keterbatasan SDM, regulasi pemerintah daerah yang memberikan kemudahan izin pabrik, koordinasi intansi terkait (terutama di daerah), hukuman yang kurang memberikan efek jera, investasi (industri HT) yang sangat murah, dan aspek sosial masyarakat. “Kalau saat ini ramai diberitakan penolakan oleh asosiasi pengusaha rokok, hal itu karena tidak ada pabrik rokok yang mau beban pungutan cukai naik tiap tahun. Namun khusus untuk penolakan cukai spesifik lebih disebabkan karena akan merubah peta persaingan di pasar dan ketakutan akan adanya tarif cukai spesifik murni,” tandas Sunaryo. adi 24
WARTA BEA CUKAI

BTBMI 2007
BTBMI 2007 diberlakukan mulai 1 Januari 2007.

SOSIALISASI
erdasarkan Keputusan Presiden RI No. 35 Tahun 1993, Indonesia menjadi contracting party dari konvensi internasional, yang dikenal dengan nama Konvensi Harmonized System atau HS, yang disusun oleh World Customs Organization (WCO). Sebagai contracting party dari Konvensi HS, Indonesia harus selalu mengikuti setiap perubahan sistem klasifikasi HS dan wajib menerapkan perubahan tersebut sesuai jadwal yang telah ditentukan WCO. Untuk mengimplementasikan perubahan-perubahan yang terjadi sehubungan dengan telah diterbitkannya Amandemen keempat Harmonized System (HS) 2007 oleh WCO dan revisi ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN) yang mulai diberlakukan 1 Januari 2007, maka pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 110/ PMK.010/2006 tanggal 15 November 2006 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor. Berdasarkan peraturan tersebut, pemerintah kemudian menyusun Buku Tarif Bea Masuk Indonesia Tahun

B

2007 (BTBMI 2007). Penerbitan BTBMI 2007 ini merupakan konsekuensi logis dari adanya amandemen keempat HS dan revisi AHTN yang wajib diimplementasikan mulai 1 Januari 2007. Oleh sebab itu, pada 14 Desember 2006, bertempat di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), digelar sosialisasi BTBMI 2007 kepada masyarakat dunia usaha dan rekan-rekan pers. Sebagai pembicara pada sosialisasi hari itu adalah anggota tim penyusunan BTBMI 2007 yakni Djoko Sutoyo Riyadi, Oza Olavia dan Ardianto dari DJBC. BTBMI itu sendiri merupakan referensi praktis bagi pegawai bea cukai, masyarakat usaha, maupun instansi teknis terkait yang digunakan sebagai dasar penetapan bea masuk (BM) dan pajak dalam rangka impor (PDRI), serta ketentuan larangan dan pembatasan terhadap barang yang diimpor ke dalam daerah pabean Indonesia. Untuk melengkapi BTBMI 2007, DJBC juga telah menyusun dua referensi penunjang BTBMI 2007 yakni Supplementary Explanatory Notes (SEN) atau catatan penjelasan tambahan dan table korelasi BTBMI 2004-BTBMI 2007. Dalam BTBMI 2007, perubahan mendasar dari BTBMI sebelumnya
WBC/ATS

SOSIALISASI. Sosialisasi BTBMI 2007 tidak hanya dilakukan di Jakarta saja, tetapi juga di beberapa kota di Indonesia.

EDISI 386 JANUARI 2007

WBC/ATS

SAAT KONFERENSI PERS. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi menggelar konferensi pers seputar maraknya pemberitaan di media massa mengenai kesalahan penafsiran dalam impor chassis untuk transjakarta atau yang biasa disebut busway.

(BTBMI 2004-red) mencakup hal-hal sebagai berikut: l Terdapat 354 Amandemen HS berkaitan dengan struktur klasifikasi 6 digit, mencakup perubahan catatan bagian/bab, penambahan pos/sub pos baru, penghapusan/penggabungan pos/sub pos tertentu, perubahan cakupan pos/sub pos tertentu, dan perubahan editorial. l Perubahan struktur klasifikasi delapan digit berdasarkan AHTN (karena mengikuti Amandemen HS dan sekaligus adanya upaya penyederhanaan struktur klasifikasi AHTN). l Perubahan stuktur klasifikasi di tingkat 10 digit untuk mengakomodasi kepentingan nasional. Dengan demikian, pada dasarnya tidak ada perubahan mendasar terhadap pembebanan bea masuk, baik bea masuk umum maupun bea masuk CEPT (Common Effective Preferential Tarif) yang berlaku untuk impor barang dari negara ASEAN. Perubahan tariff bea masuk yang ada semata-mata karena mengikuti perubahan struktur klasifikasi yang baru dan juga mengikuti program harmonisasi tariff untuk tahun 2007 yang telah ditetapkan Menteri Keuangan. Saat ditemui WBC disela-sela acara sosialisasi, Suyitno, Production Plan & Material Manager, PT. Tanashin Indonesia yang bergerak dibidang assembly electronic car audio mengatakan, dengan adanya sosialisasi ini, ia merasa ada

suatu kejelasan terutama untuk PPN, PPH dan CEPT. Ia juga melihat BTBMI 2007 lebih baik dari BTBMI sebelumnya (2004-red) terutama adanya penjelasan yang lebih rinci dalam kolom keterangan sehingga area yang tadinya bersifat ‘abuabu’, sekarang menjadi lebih jelas. “Berkat adanya website bea cukai juga, pelaku usaha dapat memberikan input-input terhadap grey area yang ada. Dan saya melihat saat ini grey area tersebut sudah mulai diperbaiki, misalnya lewat BTBMI 2007 ini, walaupun saya belum melihat isinya tapi saya berharap sekarang insya allah lebih baik,” harapnya.

CHASSIS BUSWAY
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, dengan didampingi oleh Teguh Indrayana, Direktur Teknis Kepabeanan dan Agung Kuswandono, Kasubdit Kerja sama Internasional II, Dit. Kepabeanan Internasional, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi menggelar konferensi pers mengenai maraknya pemberitaan di media massa mengenai kesalahan penafsiran dalam impor chassis untuk transjakarta atau yang biasa disebut busway. Kepada pers Anwar menjelaskan kronologis kesalahan penafsiran tersebut. PT. Bali Dufree Indonesia (BDI) merupakan perusahaan yang ditunjuk oleh beberapa perusahaan angkutan umum sebagai importir atas impor chassis bus dengan mesin terpasang untuk pembuatan angkutan komersial. Berdasarkan

Peraturan Menteri Keuangan No. 61/ PMK.010/2006 tanggal 24 Juli 2006, impor chassis bus tersebut mendapat fasilitas pembebasan bea masuk jika sesuai dengan HS nomor 8706.0021.00. Sementara itu, chassis bus dengan mesin terpasang yang diimpor PT. BDI termasuk klasifikasi dengan nomor HS 8706.0022.00. Oleh karenanya, PT. BDI mengajukan permohonan agar pada PMK No.61 tersebut, chassis yang diimpor PT. BDI termasuk yang mendapatkan fasilitas keringanan bea masuk. Mengetahui hal itu, Bea dan Cukai pun melakukan pengecekan terhadap chassis dengan mesin terpasang berbahan bakar CNG tersebut berdasarkan pos tarif. DJBC berpendapat bahwa chassis dengan engine CNG termasuk dalam HS nomor 8706.0022.00, dimana HS tersebut diklasifikasikan pada pos tariff dengan dikenakan bea masuk sebesar 40 persen, PPN 10 persen dan PPnBM 10 persen. Dengan demikian, antara importir dan Bea Cukai terdapat perbedaan dalam klasifikasi tarif. “DJBC memiliki peraturan dan tidak mungkin bermain-main dalam pos tarif. Bea Cukai juga tidak ingin menghalanghalangi masuknya chassis bus tersebut. Justru kami konsisten terhadap HS ini. Kami juga melakukan cek ke pembuat chassis yakni Daewoo hingga melakukan cross cek ke beberapa website termasuk WCO, untuk mengetahui klasifikasi barang tersebut. Hasilnya sangat jelas bahwa chassis tersebut seharusnya terkena bea masuk,” kata Anwar. Hingga berita ini
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

25

KEPABEANAN
WBC/ATS

diturunkan (15/12), jumlah bus yang masih tertahan berjumlah 24 unit bus. Untuk itu, Anwar menghimbau pada dunia usaha maupun pegawai bea cukai dan instansi terkait lainnya agar mengetahui dan memahami secara baik dan benar BTBMI. Dalam BTBMI terdapat klasifikasi tarif dan nilai pabean. Sehingga, dengan mengetahui klasifikasi barang dengan baik, tidak akan terjadi salah penafsiran dikemudian hari. Agung Kuswandono menambahkan, pada dasarnya BTBMI 2007 ini dibuat berdasarkan konvensi internasional, yakni Konvensi Harmonized System. Di dalam konvensi ini, sudah diatur bagaimana cara mengklasifikasikan suatu barang. Sehingga, DJBC tidak bisa seenaknya melakukan klasifikasi, karena yang dilihat terlebih dahulu bukan tarif (karena tarif merupakan kewenangan Menteri Keuangan-red), tapi klasifikasinya. “Ini yang terjadi pada chassis bus way ini, karena klasifikasinya salah lalu kita betulkan. Yang menjadi masalah disini adalah adanya perbedaan tarif. Jadi, bagi DJBC, kolom yang berada disebelah kanan (tarif-red) bukan kewenangan DJBC. DJBC hanya menetapkan tarifnya sesuai ketetapan tarif tadi, kemudian DJBC memungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor,” kata Agung. Untuk itu, perlu diketahui oleh masyarakat bahwa untuk mengklasifikasi barang, tidak hanya melihat kode penomoran barang saja, tapi cara mengklasifikasikannya juga harus dipahami. Di dalam buku BTBMI 2007 tersebut, tidak hanya terdapat daftar barang, tetapi juga catatan bagian, ketentuan umum menginterpretasi HS, catatan bab dan lainnya. Semua itu harus dibaca satu per satu agar dapat melakukan klasifikasi dengan benar. Dengan demikian, perbedaan persepsi tadi dapat dihindari. Teguh Indrayana menambahkan, selain untuk mengklasifikasikan barang, BTBMI juga digunakan sebagai instrumen untuk berbagai macam kegiatan, misalnya penyusunan berbagai kegiatan ekonomi yang terkait dengan perdagangan internasional, penyusunan posisi tawar Indonesia dalam berbagai negosiasi dalam rangka kerjasama RI dengan negara lain baik di tingkat bilateral maupun multilateral, penetapan asal barang (rules of origin), perhitungan bisnis bagi masyarakat usaha, penyusunan statistik perdagangan, klasifikasi barang impor dan sebagainya. Dalam BTBMI 2007, terdapat penurunan jumlah klasifikasi barang, yang semula berjumlah 11.173 barang menjadi 8.744 barang. Hal itu terjadi karena adanya penggabungan dan penyederhanaan klasifikasi barang. “Tak hanya itu, pada BTBMI 2007, barang yang dikenakan tarif rendah semakin banyak mengikuti kecenderungan dalam perdagangan internasional, dimana semakin lama tarif memang semakin turun. Untuk itu akan mempengaruhi target penerimaan dari bea masuk,” ungkap Teguh. ifa 26
WARTA BEA CUKAI

PERESMIAN APJP. Dilakukan oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi yang ditandai dengan pemukulan gong.

RESMI TERBENTUK
S

ASOSIASI PERUSAHAAN JALUR PRIORITAS
Beranggotakan 93 perusahaan yang terdiri dari 90 importir produsen dan tiga importir umum.
etelah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC ) meluncurkan program Jalur Prioritas berdasarkan Peraturan Dirjen nomor 11/BC/ 2005 Jo P.06/BC/2006 tentang Jalur Prioritas, para pengusaha yang mendapatkan fasilitas tersebut membentuk wadah komunikasi dan informasi bagi perusahaan penerima fasilitas jalur prioritas dengan instansi pemerintah terkait yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP). Peresmian APJP ini dilakukan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi di Aula Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (KP-DJBC), pada 11 Desember 2006. Acara peresmian ini diikuti oleh hampir seluruh perusahaan penerima jalur prioritas dan juga beberapa pejabat eselon dua dilingkungan DJBC. Dalam sambutannya Ketua APJP Gunadi Sindhunata mengatakan, bahwa harapan perusahaan dalam hal efisiensi waktu dimana peningkatan kecepatan pelayanan, kepastian waktu pelayanan, efisiensi biaya dimana pengurangan pada ekonomi biaya tinggi dan kemudahan prosedur dalam hal kemudahan proses pelayanan, direspon baik oleh DJBC dengan adanya jalur prioritas. Menurutnya jalur prioritas tersebut merupakan fasilitas yang diberikan DJBC kepada importir tertentu untuk mendapatkan pelayanan khusus, sehingga proses penyelesaian importasinya lebih sederhana dan cepat.“Program jalur prioritas ini merupakan program yang sangat baik patut didukung, karena dengan jalur prioritas ini tentunya akan semakin meningkatkan citra Indonesia di mata investor, bukan hanya investor dalam negeri tetapi juga investor luar negeri, dan tentunya juga para pengusaha yang mendapat fasilitas ini harus benar-benar menjaga

EDISI 386 JANUARI 2007

kepercayaan dan mengikuti syarat yang diberikan bea cukai kepadanya,’tutur Gunadi Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengatakan, bahwa jalur prioritas ini merupakan upaya dari DJBC untuk mengakomodir kepentingan pengusaha dalam hal kepastian yang diinginkan dalam mejalankan usahanya. “Para pengusaha yang mendapat jalur prioritas ini harus mematuhi ketentuan yang telah digariskan oleh DJBC, dan kami percaya kepada para pengusaha. Namun kiranya kepercayaan tersebut tidak disalahgunakan,”ujar Anwar dalam sambutannya. Perusahaan penerima jalur prioritas ini merupakan perusahaan yang mempunyai track record yang baik atau dalam kategori low risk. Hingga 11 Desember 2006, terdapat 93 importir menerima fasilitas jalur prioritas, yang terdiri dari 90 importir produsen dan 3 importir umum dengan bidang usaha seperti otomotif, kosmetik, elektronik, kertas, makanan, pengemas, aneka industri, minyak sawit, kimia dan sepatu. Lebih lanjut Gunadi mengatakan, perusahaan bisa mendapatkan jalur prioritas dengan berbagai persyaratan seperti reputasi yang baik, bidang usaha yang jelas, tidak pernah menyalahgunakan fasilitas

kepabeanan yang diberikan dalam satu tahun terakhir, tidak pernah salah memberitahukan jumlah maupun jenis dan atau nilai pabean, telah di audit oleh Kantor Akutan Publik (KAP) dan tidak mempunyai hutang berupa kekurangan pembayaran Bea Masuk (BM) kepada DJBC.

FASILITAS KEMUDAHAN
Dari data yang diperoleh menyebutkan, beberapa fasilitas jalur prioritas dapat dirasakan oleh pengusaha seperti tidak dilakukan pemeriksaan fisik kecuali untuk impor sementara, barang reimpor, terkena Nota Hasil Intelejen (NHI) dan barang tertentu yang diterapkan Dirjen Bea dan Cukai. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan di gudang importir. Fasilitas lainnya seperti truck losing, dimana pengeluaran barang impor dari kawasan pabean dengan pembongkaran secara langsung dari kapal ke atas alat angkut darat, prenotification yaitu kemudahan untuk dapat mengajukan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) terlebih dahulu sebelum barang impor tiba di pelabuhan. Selain itu juga pembayaran berkala secara khusus untuk importir produsen serta fasilitas berupa jaminan corporate guarantee untuk jalur prioritas dapat digunakan sebagai jaminan untuk pembayaran

berkala, impor sementara, Kemudahan Impor Tujuan ekspor (KITE) dan Vooruitslag adalah fasilitas lain yang dapat dimiliki oleh perusahaan. Sementara itu pengusaha jalur prioritas dalam hal ini masih mendapat keuntungan diantaranya kepastian kesederhanaan prosedur dan kecepatan dalam penyelesaian impor, penurunan biaya clearance dan inventory, keuntungan finansial yaitu kredit sampai dengan maksimal dua bulan untuk pembayaran berkala dan bargaining ke bisnis partner karena efisiensi dan efektifitas perusahaan. Mengenai fasilitas dan keuntungan yang disebutkan tadi, salah satu pengguna jasa yang diwawancarai WBC menyatakan, pihaknya sangat terbantu dengan adanya jalur prioritas tersebut dan untuk itu perusahaannya merasa kepercayaan yang diberikan melalui jalur prioritas harus tetap terjaga agar tidak mengganggu usaha. “Kalau kita tidak menjaga kepercayaan tersebut, bisabisa klien kami akan kecewa dan usaha kami bisa berantakan,”ujar perwakilan pengusaha tadi yang tidak mau disebut namanya. Ia lebih lanjut mengatakan dengan adanya APJP ini maka jika ditemukan permasalahan dilapangan dapat dicari pemecahannya antara asosiasi dengan DJBC. zap
WBC/ATS

FOTO BERSAMA. Para pengurus APJP berfoto bersama dengan Dirjen DJBC dan para pejabat eselon dua dilingkungan DJBC EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

27

INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI

DIGITAL
Seringkali tanda tangan digital ini dianggap sebagai hasil proses image scanning dari tanda tangan biasa
ering kali penulis melihat Pengguna Jasa Kepabeanan (PJK) meminta tanda tangan dan cap basah terhadap dokumen PIB, PEB, SPPB dan PE mereka di Kantor Pelayanan Bea Cukai (KPBC). Iseng-iseng penulis tanya ke PJK tersebut, kenapa mereka masih membutuhkan tanda tangan dan cap basah, padahal mereka tahu kalau Bea Cukai tidak membutuhkan tandatangan dan cap basah lagi untuk dokumen (repon) yang dikirim Server Bea Cukai ke komputer PJK. Ratarata jawaban mereka sama yaitu tanda tangan dan cap basah tersebut digunakan untuk pelindung dokumen yang mereka bawa dari pemeriksaan instansi lain. Kemudian penulis coba-coba mencari kebenaran kepada instansi pengawas lain atas jawaban PJK tadi. Sebagian besar jawaban dari instansi pengawas lain mengakui kalau mereka meragukan kevalidan atas dokumen yang di bawa oleh PJK. Selain itu ada beberapa petugas yang mengakui kalau dokumen yang asli adalah dokumen yang ada tanda tangan dan cap basah. Bea Cukai telah melakukan otomatisasi sistem dan prosedur impor dan ekspor sejak tahun 1990. Perubahan yang paling revolusioner dibidang otomasi sistem dan prosedur impor dan ekspor terjadi pada tahun 1997, dimana pada tahun tersebut Bea Cukai berani melakukan transaksi dokumen PIB secara elektronik dengan PJK

TANDA TANGAN

Tanda tangan Digital

S

pada KPBC Tanjung Priok, KPBC Soekarno Hatta dan KPBC Belawan. Metode transaksi elektronik ini terus diperluas, hingga saat ini Bea Cukai telah menerapkan transaksi elektronik pada KPBC Tanjung Priok, Soekarno Hatta, Tanjung Mas, Tanjung Perak, Belawan untuk Sistem Aplikasi dan Prosedur (SAP) Impor dan Manifest dan ditambah KPBC Bandung untuk SAP ekspor. Inti dari transaksi elektronik disini adalah PJK mengirimkan dokumen PIB/ PEB secara elektronik (menggunakan media telekomunikasi) dari kantor PJK ke Server Kantor Pelayanan Bea Cukai. Selanjutnya data yang dikirim oleh PJK tadi otomatis di proses oleh komputer Bea Cukai dan respon dari proses komputer Bea Cukai melalui media komunikasi dikirim kembali ke PJK. Respon persetujuan Bea Cukai (SPPB/PE) yang diterima oleh PJK dapat dicetak dan dijadikan dokumen yang sah dalam pengeluaran/ pemasukkan barang ke/dari TPS. Namun Dokumen yang sah menurut Bea Cukai masih diragukan oleh pihak lain sehingga dalam kenyataannya walaupun Bea Cukai sudah menyatakan bahwa dokumen yang dicetak berdasarkan respon yang dikirim komputer Bea Cukai adalah dokumen yang sah, masih banyak PJK yang rela jauh-jauh datang dari kantornya hanya untuk meminta tanda tangan dan cap basah untuk melindungi dokumen mereka.

GAMBAR 1. Dokumen SPPB Dengan Tanda Tangan Digital Topik utama dari uraian di atas adalah berbicara tentang bagaimana teknologi informasi dapat menjamin keabsahan atas dokumen yang diterima oleh pengguna. Memang harus kita sadari suatu pertukaran informasi melalui media elektronik (internet) yang terkait dengan transaksi bisnis atau perdagangan secara elektronik, memerlukan pengamanan melalui infrastruktur teknologi informasi agar informasi yang dipertukarkan hanya bisa dibaca oleh penerima yang berhak dan tidak dapat dipahami oleh pihak yang tidak berhak (Privacy/Confidentiality); identitas pihak yang terkait dapat diketahui atau dijamin otentisitasnya (Authentification); informasi yang dikirim dan diterima tidak berubah (Integrity); dan pihak yang terkait tidak dapat menyangkal telah melakukan transaksi (Non Repudiation).

TANDA TANGAN DIGITAL
Yang dimaksud dengan tanda tangan digital di sini adalah terjemahan dari “digital signature”. Dalam implementasinya, digital signature berupa rentetan angka yang panjang yang dihasilkan oleh sebuah algoritma tertentu. Seringkali tanda tangan digital ini dianggap sebagai hasil proses image scanning dari tanda tangan biasa, yang hasilnya adalah sebuah graphical image (dalam format GIF, JPEG, atau PNG). Bukan ini yang dimaksud dengan digital signature! Kalau hasil scanning tanda tangan, ini mungkin lebih tepat disebut “digitalized signature”. Tanda tangan digital ini dapat berguna untuk memastikan keaslian pesan yang disampaikan, bahwa suatu pesan yang disampaikan pada kita benar-benar berasal dari pengirim. Tanda tangan digital juga menjamin integritas pesan. Teknologi ini memungkinkan kita mendeteksi bila

GAMBAR 2. Tanda Tangan Digital 28
WARTA BEA CUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

ada orang yang menyadap pesan dan mengganti isi pesannya di tengah jalan. (gambar 1) Dibandingkan dengan tandatangan analog, tanda tangan digital lebih sulit dipalsukan. Tanda tangan digital lebih sering digunakan daripada enkripsi karena kita sering tidak peduli apakah pesan kita disadap atau tidak, tapi kita benar-benar ingin tahu apakah yang mengirim pesan pada kita benar-benar orang yang kita maksud. Sifat dimiliki oleh tanda tangan digital adalah: 1. otentik, tak bisa/sulit ditulis/ditiru oleh orang lain. Pesan dan tanda tangan pesan tersebut juga dapat menjadi barang bukti, sehingga penandatangan tak bisa menyangkal bahwa dulu ia tidak pernah menandatanganinya. 2. hanya sah untuk dokumen (pesan) itu saja atau kopinya yang sama persis. Tanda tangan itu tidak bisa dipindahkan ke dokumen lainnya, meskipun dokumen lain itu hanya berbeda sedikit. Ini juga berarti bahwa jika dokumen itu diubah, maka tanda tangan digital dari pesan tersebut tidak lagi sah. 3. dapat diperiksa dengan mudah, termasuk oleh pihak-pihak yang belum pernah bertatap muka langsung dengan penandatangan.

GAMBAR 3. Contoh Public Key Infrastructure (PKi)

BAGAIMANA TANDA TANGAN DIGITAL BEKERJA
Teknologi tanda tangan digital memanfaatkan teknologi kunci publik. Sepasang kunci publik-privat dibuat untuk keperluan seseorang. Kunci privat disimpan oleh pemiliknya, dan dipergunakan untuk membuat tanda tangan digital. Sedangkan kunci publik dapat diserahkan kepada siapa saja yang ingin memeriksa tanda tangan digital yang bersangkutan pada suatu dokumen. Proses pembuatan dan pemeriksaan tanda tangan ini melibatkan sejumlah teknik kriptografi seperti hashing (membuat ‘sidik jari’ dokumen) dan enkripsi asimetris. Teknologi kunci publik juga bisa dipergunakan untuk menyandikan/ merahasiakan isi dokumen. (gambar 2) Sebagai contoh, katakanlah ada Bea Cukai hendak mengirim kunci publiknya (PbA) kepada PJK A yang digunakan untuk mengamankan dokumen PIB yang akan dikirim ke Bea Cukai. Tapi saat kunci itu dikirim lewat jaringan publik, Maling mencuri kunci PbA. Kemudian maling menunggu PJK A mengirim dokumen PIBnya lewat jaringan publik. Saat PJK A hendak mengirim dokumen yang telah ditandatanganinya dengan kunci publiknya (PbA) kepada Bea Cukai, sekali lagi Maling mencurinya. Namun ketika Maling tersebut hendak membuka dokumen PIB PJK A dengan kunci yang sebelumya di curi tadi, dokumen PJK A tetap tidak bisa dibuka, karena kunci yang bisa membuka dokumen tersebut hanyalah kunci Privat yang tetap disimpan pada Bea Cukai.

GAMBAR 4. Contoh Smart Card Pihak ketiga terpercaya akan membantu menjamin identitas dari para pihak pelaku transaksi elektonik melalui infrastruktur kunci publik dan menyediakan mekanisme untuk melakukan transaksi elektronik secara aman. Selanjutnya pihak ketiga terpercaya akan memberikan layanan tersebut melalui suatu institusi yang lazim dikenal sebagai Certification Authority (CA). CA menerbitkan sertifikat elektronik dalam bentuk Sertifikat Digital (SD) (Digital Certificate) yang digunakan para pihak untuk menyatakan identitasnya dalam melakukan transaksi elektronik. Infrastruktur yang mengelola kunci publik sering dikenal sebagai Public Key Infrastuctute (Pki). (gambar 3) Perkakas terbaik yang digunakan untuk membuat tanda tangan digital adalah smart card (gambar 4). Di dalam smart card tersimpan kunci privat dan sertifikat digital, namun yang bisa dikeluarkan dari smart card hanya sertifikat digital saja (untuk keperluan verifikasi tanda tangan). Sedangkan kunci privat tidak bisa diintip oleh apapun dari luar smartcard, karena hanya dipakai untuk proses penandatanganan yang dilakukan di dalam smart card.

PENUTUP
Penerapan tanda tangan digital dalam pengamanan terhadap informasi (pesan) yang dikirim PJK dan Bea Cukai dalam suatu transaksi melalui media elektronik, dapat menjamin keabsahan dari dokumen yang di transaksikan. Apalagi pada tahun ini Bea Cukai mulai menggunakan teknologi web base (jaringan publik) sebagai media pertukaran dokumen. Namun perlu diingat, setelah kita menerapkan suatu sistem baru, sosialisasi sebaiknya tidak hanya diberikan ke PJK tetapi juga diberikan ke instansi lain dan juga ke seluruh pegawai Bea Cukai agar terdapat satu pemahaman, sehingga kejadian yang terjadi pada cerita penulis di awal tulisan ini tidak akan terjadi lagi.

*Yan Inderayana,ST, MT - Pelaksana pada Subdit OSPKC-DIKC Analys &Programmer team

Referensi 1. Budi Rahardjo, “Panduan Cyberlaw Untuk Orang Biasa“ 2. NN, “Digital Signature Guidelines Tutorial”, http://www.abanet.org/scitech/ ec/isc/dsg-tutorial.html 3. Wikipedia, “Digital Signature”, http:// en.wikipedia.org/wiki/Digital_signature WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

29

DAERAH KE DAERAH

KPBC TIPE C KALIANGET
DI PULAU MADURA
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali) dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi empat kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

KPBC KALIANGET tampak dari depan.

S

ekilas, Madura hanyalah sebuah kepulauan yang tandus dan panas. Siapa sangka di balik ‘kegarangan’-nya itu pulau ini menyimpan pesona alam penuh keelokan?. Tandus dan panas sepertinya itulah kesan pertama yang didapat orang, begitu mendengar nama Pulau Madura disebut. Anggapan ini berlaku terutama bagi warga luar daerah yang belum pernah datang ke sana. Madura memang gambaran masyarakat bertemperamen keras, memiliki budaya karapan sapi dan carok (perkelahian dengan senjata clurit antar lelaki hingga tewas, Red). Tipologi tanah tandus dan udara panas itu, kian mengesankan Madura sebagai pulau yang tak punya pepohonan hijau dan panorama alam yang elok dipandang mata. Anggapan tersebut tidak seutuhnya benar. Pulau terbesar di Provinsi Jawa Timur ini memang tandus dan panas. Namun, ini tak berarti Pulau Madura tidak memiliki potensi wisata yang mempesona. Contohnya saja di daerah paling timur ‘’Pulau Garam’’ tersebut, tepatnya Kabupaten Sumenep. Daerah ini memiliki ragam objek wisata, mulai pantai, kepulauan, keraton, masjid peninggalan hingga sejumlah situs makam raja-raja Madura masa silam. Seperti Pantai Lomban, Pantai Slopeng dan Pantai Camplong dan tempat wisata religius yaitu makam Syekh Yusuf. Untuk Pantai Lomban, keindahannya sungguh menakjubkan, karena disana keindahannya hampir menyerupai Pantai Kuta Bali, sayangWARTA BEA CUKAI

nya belum ditunjang dengan sarana dan prasarana yang mumpuni. Sumenep juga terkenal dengan salah satu peninggalan sejarahnya yaitu Asta Tinggi ( makam para rajaraja) yang terletak di Desa Lenteng sebelah selatan Kabupaten Sumenep. Konon menurut cerita di Kabupaten Sumenep ini Raden Aria Wiraraja dari kerajaan Kediri menyusun kekuatan untuk menghancurkan pasukan Tar-Tar dari China sehingga namanya diabadikan menjadi nama universitas swasta di Kabupaten Sumenep. Hanya saja potensi wisata di SumeFOTO : BAMBANG WICAKSONO

nep ini belum terpublikasikan secara memadai. sehingga di benak masyarakat luar, khususnya yang belum pernah datang ke sana, Pulau Madura hanyalah gugusan tanah yang gersang dan panas. Hingga pelancong enggan datang ke sana. Mungkin tidak semua pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Nusantara ini yang tahu kalau di Pulau Madura terdapat KPBC Tipe C Kalianget tepatnya di Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep. Letak Kabupaten Sumenep yang berada di ujung Timur Pulau Madura merupakan wilayah yang unik karena selain terdiri wilayah daratan juga terdiri dari kepulauan yang tersebar berjumlah 126 pulau. Gugusan pulau-pulau yang ada di Sumenep, pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian yang terletak di Kecamatan Masalembu dengan jarak ±151 mil laut dari Pelabuhan Kalianget, dan pulau yang paling Timur adalah Pulau Sakala dengan jarak ±165 MiI laut dari Pelabuhan Kalianget. Sumenep memiliki batas-batas sebagai berikut : 1. Sebelah selatan berbatasan dengan : - Selat Madura 2. Sebelah Utara berbatasan dengan : - Laut Jawa 3. Sebelah Barat berbatasan dengan : - Kabupaten Pamekasan 4. Sebelah Timur berbatasan dengan : - Laut Jawa / Laut Flores Sumenep (bahasa Madura : Songanab) adalah sebuah kabupaten

HERAWATI. Kepala Kantor KPBC Kalianget.

30

EDISI 386 JANUARI 2007

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093.45 km² dan populasi kurang lebih 1 juta jiwa. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep (+/- 18 km dari Kalianget )

KPBC KALIANGET
Untuk menuju Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe C Kalianget ini dapat ditempuh melalui perjalanan darat setelah melalui penyeberangan ferry Ujung-Kamal Surabaya. Kalau dari Surabaya sampai di KPBC Tipe C Kalianget diperkirakan kurang lebih empat jam. Perjalanan darat menuju Kalianget sungguh sangat menyenangkan karena jalannya halus tapi agak kecil dan kita bisa menikmati suasana pedesaan dengan rumah-rumah yang teratur rapi dan perbukitan. Sampai di Sampang sepanjang Pamekasan dan sepanjang Kalianget kita akan bisa menikmati suasana laut seperti di Pantai Utara Jawa, tapi dengan panorama laut yang masih alami. KPBC Kalianget berlokasi di pelabuhan Kalianget, tepatnya di Jl. Pelabuhan No.1 Kalianget, Kabupaten Sumenep. Berdiri di atas lahan 500m2 dan luas bangunan 400 m2, meskipun hanya berlantai satu kondisi kantor tertata rapi. KPBC Kalianget dipimpin oleh Herawati dan merupakan satusatunya pegawai wanita di kantor tersebut.

PELABUHAN KALIANGET hanya melayani penumpang dan angkutan perdagangan garam antar pulau

TARGET DAN REALISASI PENERIMAAN
Beban target penerimaan bea masuk dan cukai di KPBC Kalianget merupakan yang terkecil dibandingkan dengan KPBC lainnya di Jawa Timur. Targetnya untuk tahun 2006 Bea Masuk sebesar Rp. 161.300.000. dan cukai sebesar 1.300.800.000. Sampai dengan awal bulan Desember 2006 target cukai hampir 99 persen persen terpenuhi sementara untuk Bea Masuk masih 65 persen terpenuhinya dikarenakan importasi yang dilayani oleh KPBC Kalianget kebanyakan impor sementara yaitu impor untuk kebutuhan pengeboran minyak yang berdasarkan PMK No. 615 dan PMK 20 dibebaskan. Dalam setahun hanya terdapat 36 dokumen PIB ( Pemberitahuan Impor Barang) dan 36 dokumen PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang)

Pelayanan berada di bawah Kantor Wilayah VII DJBC Surabaya memiliki wilayah kerja yang luas meliputi wilayah Madura dan Kepulauan disekitar Madura. Pelabuhan Kalianget hanya melayani penumpang dan pengangkutan garam antar pulau sehingga praktis tidak ada kegiatan ekspor dan impor di pelabuhan tersebut. KPBC Kalianget membawahi 10 pos Bea dan Cukai yang tersebar di seluruh pelosok kepulauan di pulau Madura yaitu : l Pos Bea dan Cukai Pasean l Pos Bea dan Cukai Sampang l Pos Bea dan Cukai Dungkek

l l l l l l l

Pos Bea dan Cukai Branta Pos Bea dan Cukai Telaga Biru Pos Bea dan Cukai Bandara Trunijyo Pos Bea dan Cukai Kalianget Pos Bea dan Cukai Sapudi Pos Bea dan Cukai Kangean Pos Bea dan Cukai Pagerungan

Namun keberadaan pos-pos tersebut sudah tidak difungsikan lagi dan kondisi bangunannya banyak yang memprihatinkan. Keberadaan pos-pos tersebut terakhir digunakan sampai tahun 1985 karena DJBC mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan barang-barang antar
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

LINGKUP PELAYANAN
Di bidang pelayanan KPBC Kalianget berusaha untuk memberdayakan sumber daya yang ada untuk memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri khususnya dalam rangka menjamin kelancaran arus barang dan dokumen, mengurangi ekonomi biaya tinggi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif . KPBC Kalianget sebagai Kantor

PABRIK ROKOK Gudang Mangga Pamekasan, 80 org pegawai, SKT gol.3b. EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH
TARGET & REALISASI PENERIMAAN
TAHUN 2006 T NO. 1. 2. T CUKAI = BEA MASUK = TOTAL A R G E REALISASI s/d DESEMBER Rp.1,258,363,600 Rp.105,720,458 Rp.1,364,084,058 PROSENTASE 99% 65% 93% kedepannya akan banyak perusahaan rokok yang berdiri dan kegiatan impor sementara yang membutuhkan pembinaan dan pengawasan dari pegawai-pegawai Bea dan Cukai dari Kalianget. DOKUMEN CK 1 TAHUN 2006 BULAN JUMLAH DOKUMEN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER NIHIL 4 29 10 18 17 9 15 13 14 27 -

Rp. 1,300,800,000 Rp.161,300,000 Rp.1,462,540,000

pulau saat itu. Saat ini yang masih aktif hanya Pos Bea dan Cukai Telaga Biru dan disana ditempatkan seorang pegawai untuk melakukan pengawasan. Untuk jangka pendek pos-pos tersebut tidak diaktifkan namun apabila suatu saat akan ada pengawasan antar pulau akan diaktifkan dan tentunya diperlukan pegawai yang banyak lagi, demikian diungkap Herawati Kepala KPBC Kalianget. Tingkat perekonomian di Sumenep bisa dikatakan cukup tinggi dari sektor tembakau hampir bisa dikatakan pabrikpabrik rokok besar seperti Gudang Garam dan HM. Sampoerna memiliki gudang tembakau dari Madura. Selain itu Kabupaten Sumenep memiliki potensi kekayaan alam berupa bahan galian Golongan C, dan juga memiliki bahan tambang strategis berupa galian golongan A yang terletak di Pulau Pagerungan Kecamatan Sapeken. Berdasarkan data menunjukkan bahwa dua pabrik pengolahan gas yang berada di Pulau Pagerungan Besar menghasilkan gas alam sebagai hasil produksinya sebesar 175 MSCF/hari/pabrik yang disalurkan melalui pabrik pipa bawah laut sepanjang 450 Km menuju ke Porong (sebagai Home Base). Dari sini kemudian dipasok antara lain ke

Semen Gresik, Petro Kimia, dan PT.Aneka Gas Industri Kekayaan hasil tambang gas dan minyak bumi sampai saat ini masih dikelola oleh Production Sharing(CPS) antara lain 1. ARCO-Kangean Block 2. Trend Java Sea Block 3. Masalembu Shell 4. BritishPetroleum Sakala Timur 5. Mobile Oil 6. Amco Indonesia 7. Hudbay Oil International 8. Santos Oil dan sebagainya. Di wilayah Madura banyak Perusahaan Rokok (PR) berdiri, sekitar 56 perusahaan rokok yaitu 3 golongan III A dan 53 golongan III B. Seiring dengan perkembangan perekonomian di Madura yang menunjukan trend naik dan ada perhatian dari bupati di seluruh Madura terhadap eksistensi pabrik rokok yang bersifat home industri ini, maka KPBC Kalianget tentunya akan menjadi ramai dan tidak menutup kemungkinan akan dinaikkan juga tipenya. Untuk itu diperlukan pegawai yang lebih handal dalam menjalankan tugas, sehingga menghasilkan bentuk pelayanan yang serba cepat dan efisien. Kalianget adalah kantor yang potensial untuk dikembangkan karena
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

RUANG LINGKUP PENGAWASAN
Dalam pelaksanaan operasi cukai di wilayah KPBC ini masih banyak ditemukan adanya pelanggaran di bidang cukai, terutama cukai Hasil Tembakau yang terdiri dari rokok polos yang beredar di pasaran. Dan adanya salah personalisasi pita cukai Untuk menghadapi masalah tersebut , dilakukan beberapa langkah yang harus diambil yaitu : 1. Dilakukan operasi pasar dimana operasi tersebut sifatnya pembinaan dan sosialisasi peraturan tentang cukai, langkah tersebut diambil karena perusahaan rokok-rokok di Madura benar-benar masih bersifat home Industri, lain dengan di Jawa. Berdirinya pabrik-pabrik rokok di Madura terutama di Pamekasan dan Sumenep akibat tidak tertampungnya hasil panen tembakau oleh petani tembakau di Pamekasan dan Sumenep selama empat tahun berturut-turut. 2. Melakukan sosialisai dalam hal ini berkoordinasi dengan Disperindag dan Pemda (untuk sampai saat ini koordinasi yang sudah jalan dengan Disperindag dan Pemda Kabupaten Pamekasan dan Sumenep). Bahkan awal Oktober kemarin pegawai Kalianget diminta oleh Bupati Pamekasan untuk memberikan sosialisi UU No. 11/1995 kepada APROLIN ( Asosiasi Perusahaan Rokok Lintingan) di Kabupaten Pamekasan.

KENDALA-KENDALA
Ketika ditanya mengenai kendala, Herawati mengatakan ada kendala internal dan eksternal. “Kendala utama dalam menciptakan layanan prima di KPBC Kalianget adalah masalah keterbatasan sumber daya manusia. Untuk yang akan datang kiranya perlu ditambah. Sekarang jumlah pegawai hanya 13 orang termasuk kepala

POS BEA DAN CUKAI BRANTA yang kondisinya memprihatinkan.

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

FOTO BERSAMA Kepala Kantor dan para staf

kantor dan ini dirasa kurang, idealnya 20 orang termasuk korlak perbendaharaan yang kosong. Dibutuhkan pegawai tambahan itu karena wilayah pelayanan dan pengawasan yang sangat luas yaitu seluruh pulau Madura dan gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya”, tutur Herawati Kendala internal kedua adalah sarana kapal patroli yang ada sangat kecil dan tidak sesuai dengan medan perairan Madura yang banyak ombak,.sehingga untuk sementara kapal tidak dapat digunakan. Apabila ada boatzooking maka dari pihak pemberitahu menyediakan fasilitas kendaraan kata Herawati. “Kendala lainnya yang juga penting adalah perlunya penambahan kendaraan dinas untuk melakukan pengawasan dan pembinaan/ bimbingan yang optimal kepada pengusaha Barang Kena Cukai (BKC), mengingat luasnya wilayah pengawasan. Selain itu juga perlu penambahan rumah dinas karena hanya ada satu untuk Kepala Kantor,” tutur Herawati Selanjutnya untuk kendala eksternal adalah law enforcement belum bisa dilakukan secara tegas, karena pesan dari Bupati untuk sedikit toleransi mengingat banyak pengusaha rokok

yang hanya home industry dan juga mengingat karakteristik dari penduduk,” kata Herawati “Kendala lainnya adalah pernah terjadi keterlambatan pengiriman pita cukai dari Kantor Pusat sehingga diklaim oleh pengusaha hasil tembakau. Untungnya sejauh ini mereka mau mengerti ketika diberikan penjelasan atas keterlambatan tersebut. Keterlambatan tersebut bisa sampai satu bulan,”kata Herawati. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah banyaknya pengusaha rokok yang berada di luar daerah Kalianget, Sumenep, sementara posisi KPBC Kalianget berada paling timur di Pulau Madura. “Maka perlu kiranya pertimbangan untuk pemindahan kantor pelayanan ke daerah Pamekasan sehingga mempermudah pelayanan dan pengawasan. Hal ini pernah kami utarakan pada Biro Organta Departeman Keuangan saat itu, “ ujar Herawati. Dengan berbagai kendala dan kekurangan yang ada KPBC Kalianget tetap bertekad memberikan pelayanan yang terbaik bagi stakeholder sebagai trade facilitator. KPBC Kalianget juga selalu berusaha mencapai target yang ditentukan oleh Ditjen Bea dan Cukai. Selain itu KPBC Kalianget berusaha

untuk menerapkan pola Good Governance dimana ada transparasi, profesionalisme, aksesibilitas, responsibilitas, dan akuntabilitas. KPBC Kalianget selalu mendekatkan diri dengan stakeholder secara proporsional. Sehingga dengan model customer driven dapat mengeliminir pelanggaran, misadministrasi, dan mis-komunikasi yang mungkin terjadi. KPBC Kalianget juga menyerap masukan dari stakeholder dalam beberapa hal termasuk lokasi kantor yang jauh dari jangakauan. Sesuai dengan prinsip pelayanan prima yaitu customer driven antara provider dan customer dapat mendekatkan diri dalam hal daya jangkau. Ketika ditanya mengenai harapan ke depan yang utama,Herawati mengatakan tidaklah berlebihan ke depan lokasi KPBC Kalianget ditempatkan pada posisi representatif dengan mempertimbangkan keseimbangan demografis pulau Madura. Selain itu dengan mempertimbangkan target yang telah dicapai, perpindahan kantor KPBC Kalianget dapat dijadikan prioritas oleh Ditjen Bea dan Cukai dengan tetap memperhatikan posisi keuangan negara.

Bambang Wicaksono/Koresponden Surabaya
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

33

DAERAH KE DAERAH
DOK. KPBC TARAKAN

HASIL TANGKAPAN. Kakanwil, X DJBC balikpapan Ismartono melihat hasil tegahan diantaranya berupa kayu hitam (ebony) yang mempunyai nilai jual tinggi

KUNJUNGAN KERJA

KAKANWIL X DJBC BALIKPAPAN KE KPBC TARAKAN
Kakanwil melihat langsung situasi kantor sekaligus melihat hasil tangkapan kapal patroli bea cukai diantaranya kayu hitam (ebony)
eberapa hari setelah dilantik oleh Menteri Keuangan RI, Kakanwil X Balikpapan Ismartono langsung melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pelayanan dibawah wilayah kerjanya, untuk mengetahui kondisi dan situasi serta kendala yang dihadapi dilapangan. Kunjungan pertama Kakanwil X Balikpapan adalah ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Tarakan sekaligus dalam rangka membuka acara Patroli Bersama antara Kanwil X Balikpapan, KPBC Tarakan, KPBC Nunukan. Tepat pada pukul 12.00 WIT tanggal 29 Nopember 2006 pesawat yang membawa Kakanwil X mendarat mulus di Bandara Juwata Tarakan, dimana beberapa hari sebelumnya bandara ini selalu diliputi kabut tebal sehingga sangat mengganggu penerbangan. Dengan didampingi Kepala Bagian Umum Rudy Hernanto, dan Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Aflah Farobi, Kakanwil disambut langsung oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tarakan Munady Radiani dan Kepala KPBC Nunukan Martediansyah yang telah lebih dulu tiba. Kakanwil X Balikpapan langsung menuju Dermaga Malundung Tarakan untuk membuka Patroli Bersama dan memberikan pengarahan kepada para Kopat, Nakhoda dan ABK Kapal Patroli BC. Dalam pengarahannya Kakanwil antara lain menekankan beratnya tantangan yang diemban oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kedepan terutama pengawasan barang-barang illegal yang merugikan keuangan negara, dimana secara geografis Tarakan dan Nunukan yang berbatasan langsung dengan Tawao Malaysia sangat riskan dengan tindak penyelundupan, sehingga pengawasan perlu dilakukan secara terus menerus. Terbukti dengan tangkapan Kapal Patroli BC dalam dua bulan terakhir yaitu pada tanggal 3 Oktober 2006 berupa kayu ulin sebanyak 60 m3 dan pada 24 Nopember 2006 berupa kayu hitam (ebony) sebaDOK. KPBC TARAKAN

B

nyak 154 batang. Kakanwil meminta agar keberhasilan ini terus ditingkatkan. Pada kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh para ABK kapal patroli bea cukai untuk memberikan masukan serta kendala yang dihadapi diantaranya mohon agar adanya peningkatan uang lauk pauk atau ransum. Harapan tersebut dijawab oleh Kakanwil bahwa hal tersebut telah disampaikan oleh Dirjen dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta untuk peningkatan kesejahteraan para pegawai bea cukai. Untuk itu diminta kepada seluruh ABK Kapal Patroli untuk terus dapat meningkatkan kinerjanya. Setelah memberikan pengarahan kepada para ABK, dilanjutkan dengan melakukan peninjauan ke KPBC Tarakan yang tidak jauh letaknya dari dermaga. Pada kesempatan kali itu Kakanwil melihat langsung situasi kantor sekaligus melihat hasil tangkapan kapal patroli bea cukai diantaranya berupa kayu hitam (ebony) yang mempunyai nilai jual tinggi. Setelah melakukan peninjauan dilanjutkan dengan pengarahan kepada seluruh Pejabat/Pegawai BC Tarakan. Dalam pengarahannya Kakanwil antara lain mengingatkan untuk tetap optimis khususnya untuk mencapai target penerimaan Bea Masuk diantaranya dengan cara melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi dan tidak lupa pula disampaikan untuk segera menerapkan standar pelayanan publik sesuai surat edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Keesokan harinya dengan menggunakan kapal patroli bea cukai, Kakanwil berkesempatan melakukan patroli laut mengelilingi Tarakan dan sekitarnya yang termasuk dalam wilayah pengawasan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tarakan untuk mengetahui kondisi medan tugas pengawasan yang sangat luas. Perlu diketahui bahwa pengawasan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tarakan meliputi satu Kotamadya yaitu Tarakan dan tiga kabupaten yaitu Bulungan, Malinau dan Berau. Dengan melihat secara langsung kondisi dilapangan tentunya dapat menjadi masukan dalam mengambil langkah dan kebijakan yang diperlukan. Karena keterbatasan waktu, serta padatnya tugas maka hari itu juga Kakanwil harus kembali Ke Balikpapan.

warman, kpbc tarakan
DOK. KPBC TARAKAN

PENGARAHAN. Para pegawai yang hadir dalam pengarahan yang diberikan Kakanwil.

FOTO BERSAMA. Ismartono berfoto bersama dengan para ABK yang ikut dalam patroli.

34

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

FOTO : DONNY

TINJAU PELABUHAN SEMAYANG. Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi meninjau kondisi , Pelabuhan Semayang, Balikpapan.

ENAM JAM KUNJUNGAN DIRJEN BEA DAN CUKAI
DI BALIKPAPAN
Selasa 21 November 2006, tepat sehari setelah kunjungan Presiden AS, George W. Bush, ke Indonesia, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi melakukan kunjungan untuk pertama kali ke Balikpapan. Walaupun lamanya kunjungan sama-sama enam jam, kunjungan Dirjen Bea cukai ini tidak memerlukan persiapan yang berlebihan sebagaimana kunjungan Bush. Maklum kunjungan Dirjen Bea cukai ini terbilang mendadak.

S

iang itu suasana Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Balikpapan berjalan seperti biasa. Di sudut ruang depan kantor, belasan orang PPJK dan importir hilir mudik mengurus dokumen PIB. Para pegawai Bea dan Cukai juga tampak sibuk melayani mereka. Sedang diluar, hujan gerimis masih mengguyur kota Balikpapan sedari pagi. Sekitar pukul 10.30 WITA, suasana kantor sedikit berubah ketika tiba-tiba

Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi datang mengunjungi KPBC Balikpapan. Kunjungan orang nomor satu di Bea dan Cukai ini sebetulnya sangat dinantikan oleh para pegawai di Balikpapan. Pasalnya, Dirjen Bea dan Cukai telah melakukan kunjungan ke beberapa daerah lain sebelumnya. Sehingga wajar pula bila para pegawai di Balikpapan mengharapkan kedatangan Dirjen Bea dan Cukai yang baru ini. Dirjen yang datang seorang diri ini

mendarat di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan sekitar pukul 09.30 WITA dengan menumpang pesawat Garuda. Sebelum menuju ke KPBC Balikpapan, Dirjen Bea dan Cukai terlebih dulu mengunjungi Kanwil X Balikpapan. Kedatangan Anwar Suprijadi ini disambut oleh Kepala Bagian Umum Kanwil X Balikpapan, Rudy Hernanto yang mewakili Kepala Kantor Wilayah X Balikpapan, Ismartono yang berhalangan hadir. Selanjutnya Anwar Suprijadi mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat eselon III di lingkungan Kanwil X Balikpapan. Pertemuan tersebut berlangsung singkat, untuk kemudian diteruskan dengan meninjau kondisi kerja dan ruangan yang ada di Kanwil X Balikpapan. Setelah puas memeriksa seluruh ruangan di Kanwil X Balikpapan, Anwar Suprijadi dengan didampingi Kepala Bidang P2 Kanwil X Balikpapan, Aflah Farobi, melanjutkan kunjungan ke KPBC Balikpapan. Di KPBC Balikpapan, Dirjen Bea dan Cukai disambut langsung oleh Kepala KPBC, Muqoddam, yang selanjutnya mendampingi Anwar Suprijadi berkeliling memeriksa sarana dan prasarana yang digunakan oleh KPBC Balikpapan dan kinerja pegawai dalam melakukan pelayanan terhadap market forces. Ruangan pertama yang dikunjungi adalah ruang Pabean. Disini Anwar melihat secara langsung proses pengurusan PIB dan mengamati komputer aplikasi impor yang menginformasikan status PIB. Berikutnya, Anwar menuju ke ruang perbendaharaan yang letaknya bersebelahan. Kepada Suyono, Kasi Perbendaharaan, Anwar menanyakan beberapa hal. “Pembayarannya lancar semua, ya, Pak? Selamat kerja, ya. Hati-hati, nggih,” kata Anwar. Di ruang P2, Anwar mengamati pelaksanaan penanganan manifes dan selanjutnya hampir semua ruangan dikunjungi pula, termasuk ruang Hanggar II Pelabuhan Semayang. Disini Anwar mendapat laporan adanya sejumlah barang yang kelebihan bongkar (unmanifest) tanpa diketahui pemiliknya serta, barang perkusor (hydrochloride Acid) yang tidak dilengkapi ijin Depkes. Mendapat laporan tersebut, Anwar memeriksa manifes barang tersebut dan menginstruksikan untuk dilakukan penyegelan. Agar lebih mengetahui situasi dan wilayah kerja KPBC Balikpapan, Anwar Suprijadi mencoba menggunakan speedboat melihat wilayah kerja KPBC Balikpapan lainnya. Untuk diketahui, wilayah kerja KPBC Balikpapan selain daratan Balikpapan, juga daerah Penajam, Grogot, Tanjung Batu dan Jenebora yang untuk mencapai ke daerah tersebut harus ditempuh dengan speedboat. Anwar yang didampingi Muqoddam,
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

35

DAERAH KE DAERAH
Aflah Farobi, Evy Octavia (Kasi Cukai), Laode Rachmat (Pelaksana P2) dan WBC sendiri menggunakan speedboat BC 7001 S. Rombongan hanya berputar-putar di sekitar Teluk Balikpapan. Anwar sendiri sempat sedikit bernostalgia ketika melewati perusahaan pertambangan Petrosea. Pasalnya, ia pernah berkarir di Petrosea beberapa waktu lampau. Speedboat yang ditumpangi rombongan sempat dua kali berhenti karena baling-baling speedboat tersangkut oleh sampah dan sekali berhenti kehabisan bahan bakar. BC 7001 S ini merupakan armada Bea Cukai yang cukup tua. Speedboat merk Raiders ini buatan tahun 1992/1993. Panelpanel di ruang kemudi bahkan sudah tidak berfungsi. ”Speedboat ini masih bisa dipakai karena perawatan kita saja yang bagus. Di daerah lain, speedboat seperti ini pasti sudah pada rusak, Mas,” kata Laode yang kerap menggunakan BC 7001 S ini untuk boatzoeking. Didalam perjalanan ini, Anwar Suprijadi sempat memberikan beberapa wejangan. ”Kita dalam bekerja itu harus berpegang pada dua hal, yaitu Tuhan dan peraturan. Kalau anda melihat atasan anda salah, anda jangan segan untuk menegurnya. Itu berarti anda sayang pada pimpinan,” kata Anwar dengan tutur kata yang halus. Setelah kurang lebih 45 menit berkeliling, rombongan kembali ke KPBC Balikpapan. Setelah sholat Dhuhur berjamaah dan dilanjutkan makan siang bersama, Anwar Suprijadi berpamitan balik menuju Jakarta. Sebelum menaiki pesawat, Anwar Suprijadi berkesempatan mampir ke Gudang Cargo Angkasa Pura Bandara Sepinggan, tempat ruang Hanggar III Bandara Sepinggan dan DHL berada. Di tempat ini, Anwar berkeliling sejenak mengamati kondisi gudang. Di gudang DHL, Anwar mendapat beberapa penjelasan dari pihak DHL dan Anwar berjanji untuk menindaklanjutinya ( baca wawancara dengan Dirjen Bea dan Cukai ). Sekitar pukul 15.30 WITA, Anwar Suprijadi akhirnya bertolak menuju Jakarta dengan pesawat Adam Air. Walaupun hanya enam jam, kunjungan Dirjen Bea Cukai ini sangat bermakna terutama bagi pegawai di Balikpapan karena kinerjanya akan semakin termotivasi dengan mendapat perhatian dari pimpinan pusat Bea Cukai. Tentunya Dirjen Bea Cukai juga mengetahui secara langsung kondisi dan potensi pegawaipegawai di daerah khususnya Balikpapan yang tidak kalah dengan daerah lain. Sampai jumpa di Balikpapan lagi.

WAWANCARA EKSKLUSIF DIRJEN BEA DAN CUKAI

“KITA HARUS PERBAIKI DATABASE DAN BUTUH TALENT SCOUTING UNTUK MENCARI POTENSI PEGAWAI DI DAERAH...”
Mungkin bisa dibilang sangat jarang selama ini, seorang Dirjen Bea dan Cukai yang berkunjung ke daerah, khususnya Balikpapan. Untuk itu ketika Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi berkunjung ke Balikpapan, Koresponden WBC, Donny Eriyanto mencoba mencari kesempatan mewawancarainya di ruang executive lounge Bandara Sepinggan, Balikpapan sebelum kepulangan beliau. Untuk mengetahui lebih jauh tujuan dan hasil kunjungannya, berikut petikan wawancara :
Bagaimana pendapat Bapak mengenai Balikpapan selama kunjungan ini ? alau saya lihat, ya kinerjanya cukup baik. Tapi perlu beberapa peningkatan karena tuntutan yang lebih baik. Sebagai salah satu contoh, sebelum ke bandara ini, (saya) mampir di DHL. Di DHL ini ada problem di dia, (yaitu) pesawat (yang datang pada hari) Jum’at itu tiba di Balikpapan jam 17.00 WITA. Kalau harus ngurus SPPB atau disket ke kantor dekat pelabuhan itu butuh waktu, sehingga tutup. Problem yang dihadapi kalau tutup, (barang itu) nginap. Barang kena (sewa) gudang. Tadi saya sudah minta waktu ke Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, Pak Muqoddam, bisa nggak mereka layani, diex-kan waktunya. Lembur, misalnya kalau Jum’at sampai jam delapan malam. Kelihatannya Pak Kepala Kantor bisa memahami hal ini. Sehingga terjadi optimalisasi dari keinginan klien dengan keinginan kita. Prosedur kita penuhi dan mereka juga bisa menyampaikan barang dengan delivery yang cukup baik. Bapak sudah berkunjung ke daerah-daerah lain, menurut Bapak, bagaimana kondisi Balikpapan dibandingkan dengan daerah lain tersebut ? Kelihatannya tidak bisa apple to apple, karena tergantung dari kondisi, jumlah importasi, kemudian juga ekspor. Jadi saya tidak bisa membandingkan antara sini (Balikpapan) dengan Priok, tidak bisa membandingkan sini dengan Makassar. Tapi intinya, temanteman semangat kerjanya cukup bisa diandalkan. Menurut Bapak, apa kira-kira yang perlu dibenahi dari kondisi kantor Balikpapan ini ? Kalau saya, kelihatannya harus ada pemikiran baru, inovasi baru supaya perubahan lingkungan itu bisa kita penuhi. Misalnya, tadi kita, kan ikut kapal (Speedboat BC 7001.S -Red), itu kan sudah berkembang (perusahaan) Petrosea, berkembang (perusahaan perusahaan) batubara. Kemudian kita kan terbatas kepada (sumber daya) manusianya. Ke depan, kita harus memikirkan sistem bagaimana bisa online dengan mereka. Balikpapan ini secara geografis jauh dari pusat. Kira-kira bisa tidak mengejar ketertinggalan atau keterlambatan informasi dan bagaimana mengatasinya ? Itu harusnya dibangun dengan webnya Bea Cukai, supaya teman-teman disini (Balikpapan -Red) bisa tidak terlambat. Misalnya kemarin, case, ada rencana untuk ikut (beasiswa) S2/S3, tapi teman-teman di Balikpapan, kan tidak pada tahu. Ini karena mungkin kebetulan kita di pusat (seharusnya ber-

K

Don’s, Balikpapan

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

kewajiban) untuk menyampaikan di dalam web-nya Bea Cukai. Harusnya disampaikan dong, supaya ada transparansi. Selama Bapak menjabat sebagai Dirjen Bea dan Cukai, program apa yang telah, sedang dan akan Bapak laksanakan ? Yang terang kita akan melakukan reformasi di bidang Bea dan Cukai karena ada empat fundamental yang harus kita benahi. Yang pertama, pelayanan kita masih belum memuaskan karena masih banyak dokumen yang dipersyaratkan. Kedua, di bidang law enforcement, ketiga, masalah kode etik kita dan keempat, masalah manajemen kita dengan stakeholder. Itu kan belum kita kembangkan dengan baik. Yang berkaitan dengan dokumen yang banyak, kita mengarah ke single administrasi dokumen dengan base pada IT. Untuk law enforcement, ya keandalan dari teman-teman termasuk P2 dan sebagainya, penyidikan, intelijen itu lebih harus ditingkatkan dan kode etik harus kita tingkatkan tapi diimbangi dengan sistim penggajian yang memadai (based performance). Dan manajemen stakeholder kita jangan terlalu pasif. Kalau lihat pelabuhan semrawut gitu ya, harusnya

bagaimana itu comply dengan Customs. Harusnya dilaksanakan ISPS Code, memisahkan antara kontainer ekspor dengan domestik. Itu harus dipisahkan. Bagaimana menurut Bapak, progress dari program tersebut apakah telah berjalan atau belum? Kita kembangkan untuk reform tiga Kantor Pelayanan Utama (KPU) yang rencananya Batam Bintan Karimun, Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta. Kemudian konsep desain, blue print (cetak biru) itu sudah disiapkan. Saya kira kita terbuka saja untuk personil yang menangani KPU. Kita buka secara transparan dan kita adakan tes. Kita seleksi dengan baik. Bapak yakin proses perekrutan pegawai KPU nanti berjalan fair ? Harapan saya begitu, ya…Terus kita kawal nanti itu. Selama ini yang sering dipertanyakan teman-teman di daerah adalah masalah proses promosi mutasi yang selama ini banyak yang belum ter- cover dengan data di pusat ? Itu memang harus kita perbaiki database kita. Kemarin saya rapat dengan teman-teman kakanwil dan

direktur. Mbok, saya diberikan data, misalnya untuk calon eselon II terbaik saya punya kira-kira 15, calon eselon III terbaik kira-kira saya punya 25 dan eselon IV terbaik kita punya 50. Itu mestinya kita bisa punya database untuk itu. Disamping masalah-masalah yang berkaitan dengan segi administrasi, masalah pangkat dan sebagainya. Dan kita bisa menghindari like dan dislike. Kita butuh talent scouting, termasuk saya ke daerah atau lapangan kadang-kadang juga sering mendadak, juga ingin melihat temanteman yang punya potensi baik untuk itu. Jadi salah satu tujuan utama Bapak berkunjung ke daerah untuk itu ? Salah satunya… guna memotivasi terus mengecek. Kemudian adanya perubahan keinginan dari masyarakat untuk lebih baik. Untuk masalah peningkatan SDM, rencana atau program Bapak ke depannya ? Yang terang kita harus punya database, kemudian sistem manajemen kita seharusnya based pada performance. Kalau seperti sekarang ini, kan nggak mungkin kita (menggunakan) DP3. DP3 kita kan nggak terlalu tajam. Kita seharusnya mengembangkan kit performanFOTO : DONNY

DI HANGAR PELABUHAN SEMAYANG. Tampak Dirjen Anwar Suprijadi didampingi Ka KPBC Balikpapan, Muqoddam ketika berada di hanggar Pebuhan Semayang. EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

37

DAERAH KE DAERAH
FOTO : DONNY

kan lebih tinggi karena kita mengamankan penerimaan negara, kita sebagai fasilitator, kita juga melindungi masyarakat dari narkotik dan sebagainya. Resiko kita yang tinggi itu seharusnya diimbangi dengan sistim penggajian yang memadai untuk itu. Jadi tidak bisa disamakan antara pegawai Bea Cukai dengan pegawai instansi pemerintah yang lain karena tingkat resikonya berbeda. Sekarang kita menghadapi hal yang kadangkadang homogen tetapi tidak mengacu pada reward and punishment. Harapan dan pesan Bapak untuk teman-teman Bea Cukai secara umum dan yang di Balikpapan khususnya ? Yang terang saya meminta semua pegawai di semua jajaran, bahwa kita bertekad untuk memperbaiki citra. Bila citra kita tidak baik, problema yang dihadapi adalah orang nanti berpikir lain. Ada yang berpikir PSI (Preshipment Inspection), kemudian juga masalahmasalah yang kadang-kadang dipolitisir. Saya minta, marilah kita bertekad untuk (memperbaiki) citra ini. Inilah bagian yang tidak lepas dari keinginan kita untuk memperbaiki kinerja kita. Kemudian khusus untuk temanteman di Balikpapan, saya minta apa yang sudah dihasilkan dipertahankan, tapi yang belum ditingkatkan. Kita harus mau mendengar kritik juga dari client kita. Seperti tadi di lapangan, (saya) juga melihat banyak temanteman yang ingin memperbaiki pelayanan tapi terbentur pada aturan, ya kita carikan jalan keluar dengan sistem kerja lembur dan sebagainya. Jadi inovasilah diperlukan…
FOTO : DONNY

SPEEDBOAT. Anwar Suprijadi menaiki speedboat BC 7001.S untuk mengelilingi Teluk Balikpapan.

ce indicator yang intinya punya evaluasi dan pekerjaan. Jadi sistim penggajian, kenaikan pangkat dan sebagainya harus based pada performance itu. Bagaimana dengan masalah reward and punishment ? Itu harusnya dilakukan. Jadi mereka yang berprestasi mendapat perhatian kita, tapi yang salah diberikan punishment. Kadang-kadang kita menghadapi masalah, banyak temanteman yang punya potensi bagus tapi karena masalah kepangkatan jadi
FOTO : DONNY

sering dikalahkan. Terus pertanyaan saya adalah bagaimana mereka mendapat fast track. Track khusus guna membina dengan baik tanpa menyalahi masalah administrasi. Karena kalau itu terjadi, mereka juga timbul kejenuhan. Kemudian kalau diambil instansi lain yang rugi kan Bea Cukai juga. Untuk masalah tingkat kesejahteraan sendiri bagaimana ? Sebenarnya kalau dibanding dengan PNS yang lain (Bea Cukai) lebih baik. Tapi kelihatannya resiko kita

PERIKSA DOKUMEN. Anwar Suprijadi tengah memeriksa dokumen manifest dan mendapat penjelasan dari Laode Rachmat (P2) dengan disaksikan Ka KPBC, Muqoddam.

DIALOG. Untuk mengetahui keadaan pegawai, Anwar Suprijadi berdialog dengan beberapa pegawai KPBC Balikpapan.

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

KEBERATAN DAN BANDING
Saya mohon informasi mengenai proses Keberatan dan Banding. Saya telah masuk ke website BC dan mendapatkan tata cara pengajuan dan monitoring prosesnya, namun saya tidak dapat menemukan formulir yang dimaksud, dan dimana dapat mengadukan/bertanya, apabila terjadi penolakan. Perusahaan saya telah di Audit dan didapatkan dan telah diterbitkan SPKPBM, Cukai Denda Administrasi dan Pajak dalam rangka impor tertanggal 14 Oktober 2006 yang diterima oleh kami tanggal 6 Nopember 2006. Dimana sesuai tata cara pengajuan keberatan menyangkut sanksi administrasi, keberatan dapat diajukan 30 hari sejak tanggal diterima surat pemberitahuan. Namun, pada saat kami menyampaikan di BC Soekarno-Hatta pada tanggal 13 Nopember 2006 dinyatakan sudah terlambat dan tidak diterima keberatan kami tanpa penjelasan dengan baik, hanya merujuk pada isi SPKPBM dimaksud bahwa, “sebelum tanggal jatuh tempo”, yaitu 13 Nopember 2006. Kami mohon kiranya dapat diinformasikan pada forum dan jalur mana dapat kami komunikasikan masalah ini atau bantuan jalan keluar dari persoalan ini. Terima kasih. Hormat kami, Direktur PPKC RAYMOND SOETJAHJO PT. Sika Indonesia Jl. Raya Cibinong – Bekasi Km. 20 Limusnunggal, Cileungsi, Bogor 16820 - Indonesia www.sika.co.id Jawaban : Menanggapi Surat Sdr. Raymond Soetjahjo dari PT. SIKA Indonesia, dengan ini kami sampaikan sebagai berikut : 1. Pengajuan keberatan melalui Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dengan menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam M. WAHYU PURNOMO NIP 060054842 Catatan Redaksi : Dalam jawaban tertulis yang dikirimkan oleh Dit. PPKC ke Redaksi, dilampirkan pula Petunjuk Pengisian Formulir Pengajuan Keberatan (Lampiran I Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 380/ KMK.05/1999). Mengingat banyaknya materi, maka lampiran yang dimaksud tidak kami muat. 2. Lampiran I Keputusan Menteri Keuangan nomor : 380/KMK.05/1999 tanggal 9 Juli 1999 atau Lampiran II Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor : Kep-64/BC/1999 tanggal 11 Oktober 1999. Keberatan atas penetapan tarif/nilai pabean oleh Pejabat Bea dan Cukai berikut sanksi administrasinya sebesar yang tercantum dalam SPKPBM, wajib diajukan dalam jangka waktu 30 hari sejak tanggal SPKPBM, sebagaimana diatur dalam Pasal 93 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 1995. Keberatan atas pengenaan sanksi/denda administrasi wajib diajukan dalam jangka waktu 30 hari sejak tanggal diterimanya pemberitahuan, sebagaimana diatur dalam Pasal 94 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 1995. Mengingat SPKPBM yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimaksud merupakan tagihan karena hasil audit (bukan merupakan penetapan Pejabat Bea dan Cukai mengenai tariff dan atau nilai pabean), maka Saudara dapat mengajukan banding hanya kepada Pengadilan Pajak.

3.

4.

Demikian disampaikan, dan atas kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

KITE
Bersama ini saya ingin mengajukan pertanyaan sebagai berikut : Dalam Kep-152/BC/2003 mengenai Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor untuk Barang Ekspor yang mendapat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dijelaskan bahwa untuk Eksportir dapat melakukan ekspor bahan baku asal impor (Re-Ekspor) dengan terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan setempat dengan melampirkan dokumen impor, invoice, P/L, surat pembatalan order, sales contract dan lain-lain. Dikarenakan kami adalah PKB merangkap PDKB, bagaimana prosedur pelaksanaan re-ekspor di PKB/PDKB, apakah juga harus mengajukan permohonan kepada Kepala KPBC yang mengawasi PKB/ PDKB tersebut ? Atas segala perhatian dan jawabannya saya ucapkan terimakasih. YUS YULIUS, S.E PT Dewhirst Menswear Jl. Raya Rancaekek Km. 27 Sumedang 40394 Jawaban : Menanggapi surat pertanyaan Sdr. Yus Yulius , dengan ini disampaikan sebagai berikut : 1. Bahwa Sdr. Yus Yulius mengajukan permohonan penjelasan prosedur pelaksanaan reekspor di PKB/PDKB, apakah harus mengajukan permohonan kepada Kepala KPBC yang mengawasi PKB/PDKB tersebut. 2. Butir 1 SE DJBC No. SE-10/BC/2004 tanggal 23 April 2004 menyatakan bahwa terhitung mulai tanggal 1 Mei 2004, kegiatan ekspor oleh PDKB dari Kawasan Berikat diberlakukan ketentuan Kep. DJBC No. KEP-151/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003 tentang 3. Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor. Kep. DJBC No. KEP-151/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor selanjutnya mengatur hal-hal sebagai berikut : Pasal 1 butir 17 : Barang diekspor kembali adalah barang asal impor atau asal impor sementara yang dibawa atau dikirim kembali ke luar negeri. Pasal 2 ayat (1) : Barang yang akan diekspor wajib diberitahukan oleh eksportir/kuasanya dengan menggunakan PEB. Pasal 6 ayat (1) : PEB didaftarkan oleh eksportir/kuasanya ke Kantor Pemuatan. Selanjutnya tatalaksana pendaftaran PEB diatur dalam Lampiran II Kep. DJBC No. KEP-151/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003. Berdasarkan hal tersebut, hemat kami dapat disampaikan bahwa pelaksanaan reekspor di PKB/PDKB dilakukan dengan mendaftarkan PEB di Kantor Pemuatan dan Tatalaksana pendaftaran tersebut dilakukan sesuai tatalaksana yang diatur dalam Lampiran II Kep. DJBC No. KEP-151/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003 jo. Surat Edaran DJBC No. SE-10/BC/2004 tanggal 23 April 2004. Demikian untuk dimaklumi. DIREKTUR JENDERAL u.b. Pjs. Direktur Teknis Kepabeanan ISWAN RAMDANA NIP 060044391

4.

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

39

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Ketua Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas Gunadi Sindhunata memberikan cendera mata kepada Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, dalam rangka peresmian Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas pada, 11 Desember 2006 di Auditorium KPDJBC. Dalam kesempatan yang sama Dirjen Bea dan Cukai memberikan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 (Perubahan dari Undang-Undang nomor 10 tahun 1995) tentang Kepabeanan kepada Ketua Asosiasi.
WBC/ATS

JAKARTA. Diruang Loka Muda gedung B lantai 5 diselenggarakan rapat kerja pengawasan di bidang Kepabeanan dan Cukai. Raker P2 yang diselenggarakan pada 1 Desember 2006, dibuka Direktur P2 Erlangga Mantik dan dihadiri Kepala Bidang P2 serta Kepala Seksi diseluruh Kantor Wilayah DJBC. Raker satu hari ini diisi dengan pemaparan dan evaluasi kegiatan serta rencana kegiatan yang terbagi menjadi tiga sesi yakni sesi I, Kanwil I DJBC Medan, Kanwil II DJBC TBK, Kanwil IV DJBC Jakarta, Kanwil V DJBC Bandung dan Kanwil VI DJBC Semarang. Sedangkan sesi II, Kanwil VII DJBC Surabaya, Kanwil IX DJBC Pontianak, Kanwil X DJBC Balikpapan, Kanwil III DJBC Palembang, Kanwil VIII DJBC Denpasar dan Kanwil XI DJBC Makasar. Sementara di sesi terakhir Kanwil XII DJBC Ambon dan Kanwil XIII DJBC Aceh.
FOTO : KIRIMAN

BANDA ACEH. Pada 25 November 2006 berlangsung acara pisah sambut Kepala Kantor Wilayah XIII DJBC Banda Aceh dari pejabat lama Drs. Muhammad Chariri kepada pejabat yang baru Drs. Bachtiar, M.Si. Acara diisi dengan penyerahan buku profil Kantor Wilayah XIII DJBC Banda Aceh kepada pejabat baru. Selain itu juga diserahkan kenangkenangan mewakili seluruh pegawai Kanwil yang diserahkan oleh Sjamsul Arifin (Kabag Umum KWBC XIII Banda Aceh) kepada Muhammad Chariri yang akan meninggalkan Banda Aceh menuju Pontianak. Kiriman Handoko Nindyo - Kanwil XIII DJBC Banda Aceh

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Pada 6-10 Nopember 2006 bertempat di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang (BPIB) Tipe A Jakarta, Jl.Letjen Suprapto no.66 Jakarta diadakan Training Course On Customs Laboratory. Training lima hari yang terselenggara atas kerja sama DJBC dan JICA ( Japan International Cooperation Agency), menampilkan tiga orang pemberi materi dari JICA Expert yakni Fumio Nakamura, Naoki Kurashima dan Tanaka Sumino. Materi yang disajikan meliputi antara lain pengujian Meat Bone Meal (MBM), Poultry Meat Meal (PMM), Drug/Narkotika dan Pelumas. Kiriman BPIB Tipe A Jakarta
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Perwakilan dari Departemen Keuangan yakni Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai, Ditjen Pajak dan unit Manajemen Risiko pada 1 Nopember 2006 ikut serta dalam Pameran Indonesia Infrastructure Conference and Exhibition (IICE) 2006 di Jakarta Convention Center (JCC) yang diselenggarakan Pemerintahan RI dan Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI). Pameren tiga hari ini dibuka Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dan diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang transportasi, telekomunikasi, kelistrikan dan infrastruktur. Tampak pada gambar di stand Bea dan Cukai, Nasrudin (Dit Fasilitas) dan Tutung Budikarya (Dit Teknis) sedang memberikan penjelasan kepada pengunjung. Kiriman Subdit. Publikasi dan Penyuluhan Dit. PPKC
FOTO : DONNY ERIYANTO

BALIKPAPAN. Sebagai wujud pengungkapan terimakasih selama kepemimpinan sebagai Kakanwil X Balikpapan, pada 15 November 2006 diadakan acara perpisahan Kakanwil X Balikpapan, Faried Syibli Barchia yang berpindah tugas sebagai Kakanwil VIII Denpasar. Acara yang diadakan di Ocean restaurant ini dihadiri oleh para pejabat eselon III, IV dan korlak di lingkungan Kanwil X balikpapan. Tampak dalam gambar, Kabid P2 Kanwil X Balikpapan, Aflah Farobi menyerahkan cinderamata kepada Faried S. Barchia. Selamat jalan, Pak… Don’s, Balikpapan EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

41

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : DONNY ERIYANTO FOTO : KIRIMAN

BALIKPAPAN. Untuk mempererat tali silaturahmi antar pegawai, pada 15 November 2006 Kanwil X Balikpapan mengadakan acara Halal Bihalal yang diikuti segenap pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil X Balikpapan. Acara yang bertempat di Aula Kanwil X Balikpapan ini diisi oleh ceramah agama oleh Ustadz Sartono. Tampak dalam gambar, para pegawai sedang serius mendengarkan sambutan. Don’s, Balikpapan JAYAPURA. Dalam rangka memperingati Hari Keuangan ke-60 tepatnya tanggal 30 Oktober 2006 diselenggarakan Upacara Pengibaran Bendera yang dilaksanakan dihalaman Gedung Keuangan Negara Jl. A. Yani No. 8 Jayapura. Bertindak sebagai pembina upacara Kepala Perwakilan Departemen Keuangan Propinsi Papua R. Prajono Soewongso didampingi perwira upacara Novian Dermawan (Kepala Seksi OKDD KPBC Jayapura) dan sebagai Komandan Upacara Reinold Sahara (Pelaksana KPBC Jayapura). Upacara sederhana ini dihadiri keluarga besar Departemen Keuangan setempat diisi dengan pemberian piagam penganugerahan Satyalencana Karya Satya dan pemberian piagam penghargaan pensiun tahun 2006. Kiriman Novian Dermawan, SH, Kasi OKDD KPBC Jayapura

SURABAYA. Pisah sambut Kakanwil VII DJBC Surabaya dari pejabat lama Zeth A. Likumahwa kepada pejabat baru Bambang Prasodjo diselenggarakan di aula Kanwil VII DJBC Surabaya pada 29 November 2006, dihadiri pejabat dan pegawai dilingkungan, dan stake holder. Dan dilakukan penyerahan cindera mata dari pegawai diwakili oleh Kabid P2 Kanwil VII DJBC Surabaya Supriadi diserahkan kepada Zeth A. Likumahuwa. Bambang Wicaksono, Surabaya
FOTO : KIRIMAN

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Masih dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1427 H, Dharma Wanita Persatuan Keluarga Besar DJBC Kanwil IV Jakarta mengadakan acara halal bihalal dan silaturahmi antar anggota yang diselenggarakan di gedung induk KPBC Tanjung Priok Jakarta. Acara halal bihalal ini berlangsung pada 22 November 2006 dengan penyelenggara Dharma Wanita Persatuan KPBC Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Acara diisi dengan ceramah oleh Hj. Ratu Fauziah dari Majelis Taklim Bekasi. Tampak pada foto, sebagian anggota berfoto bersama dengan Ketua Dharma Wanita Persatuan Kanwil IV Jakarta, Ny. Heru Santoso. Kiriman Dharma Wanita Persatuan Kanwil IV

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri 1427 H yang baru lalu, Dharma Wanita Persatuan Kanwil IV Tanjung Priok Jakarta, melakukan anjang sana sosial ke panti asuhan yang dikelola oleh Yayasan Murni Jaya di Jalan Kramat Jaya Jakarta Utara pada 13 Oktober 2006. Pada acara tersebut diserahkan sejumlah dana dan bantuan sembako kepada panti asuhan tersebut. Hadir pada acara tersebut Ketua Dharma Wanita Persatuan Tanjung Priok Jakarta Ny. Heru Santoso. Kiriman Dharma Wanita Persatuan Kanwil IV
WBC/ATS

JAKARTA. Di Auditorium gedung utama KP-DJBC pada 13 Desember 2006 diselenggarakan Sosialisasi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) Tahun 2007 kepada para pegawai. Sosialisasi ini diawali dengan sambutan dan sekaligus pembukaan oleh Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana dan dilanjutkan dengan pemaparan BTBMI yang dibawakan oleh Kasubdit Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Djoko Sutoyo Riyadi dan dibantu oleh beberapa tim BTBMI. Sosialisasi ini dihadiri oleh pejabat eselon III, IV dan pelaksana, dan hadir pula dalam sosialisasi Direktur PPKC Wahyu Purnomo Direktur Kepabeanan Internasional Kamil Sjoeib, serta Direktur Fasilitas Ibrahim A. Karim.
FOTO : KIRIMAN

BEKASI. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1427 H, Dharma Wanita Persatuan KPBC Bekasi bersama karyawati melakukan kegiatan Bakti Sosial mengujungi Panti Asuhan “Muthmainnah” Bekasi dan memberikan santunan berupa uang dan sembako. Kiriman KPBC Bekasi EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA
H A Z R I Z A L Cita-citanya menjadi nahkoda saat ini telah tercapai, setelah bekerja satu tahun lamanya diperusahaan pelayaran nasional yang cukup terkemuka, akhirnya dirinya lebih memilih untuk mengabdi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dengan harapan apa yang dicitacitakan dapat segera terwujud. Pegawai di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Jambi ini, memang relatif muda dan belum banyak hal yang dilaluinya di DJBC. Namun demikian dirinya yang masuk ke DJBC pada Januari 2005 lalu melalui penerimaan D3 Pelayaran untuk ditempatkan sebagai awak di sarana operasi, kini telah menjabat sebagai nahkoda di kapal patroli BC.0303. “Awalnya itu saya melihat di surat kabar kalau DJBC membuka kesempatan bagi lulusan pelayaran untuk ditempatkan di bagian sarana operasinya, melihat itu saya sangat tertarik, karena pekerjaan yang saya jalani sebelumnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, walaupun itu sesuai dengan ijasah yang saya miliki,” jelas Hazrizal yang memiliki gelar ANT-III Penempatan pertamanya di KPBC Tipe A Batam, memang memberikannya pengalaman yang cukup berarti, karena dengan diterjunkan langsung untuk melakukan patroli laut, dirinya merasa tantangan untuk mengabdi kepada negara sangat teruji dimana banyak sekali tegahan-tegahan yang dilakukan pada saat patroli. “Di KPBC Jambi memang patroli yang dilakukan tidak seperti di M U H A M M A D S U P A R T O Takdir dan nasib manusia adalah rahasia Tuhan, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Karena manusia hanya berencana dan Tuhan yang menentukan. Demikian pula yang dialami oleh Suparto. Ia tidak pernah menyangka nasib baik berpihak kepadanya dengan menjadi pegawai Bea dan Cukai. Semua bermula dari ayahnya (alm) Summo yang bekerja sebagai tenaga teknisi lepas di Kanwil VII DJBC Surabaya pada 1952 sampai dengan 1987, sekaligus mengelola warung di halaman belakang kantor. Selepas SLTA karena keterbatasan biaya tidak dapat melanjutkan pendidikan, Suparto sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara turut membantu ayahnya mulai tahun 1985. Sehingga dia pun banyak mengenal pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil VII DJBC Surabaya. Selama empat belas tahun ia pun menjadi tenaga teknisi harian mewarisi keahlian ayahnya. Keahlian tekhnisi itu didapat dari belajar sendiri tanpa kursus atau sekolah. Pada tahun 1999 ada lowongan pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berbekal ijasah SMA ia mencoba ikut test dan hasilnya ia lulus dan diterima dengan tujuh orang lainnya dari dua puluh tujuh peserta untuk wilayah Jawa Timur. Penempatan awalnya di Subag. Tata Usaha dan Rumah Tangga sesuai dengan keahliannya. Sampai ini selama enam tahun menjadi pegawai Bea dan Cukai ia belum pernah berpindah tugas. Dia sangat menikmati bertugas di rumah tangga karena banyak berhubungan dengan masalah teknis. Setiap ada acara atau kegiatan Suparto pasti didapuk menjadi seksi perlengkapan karena berhubungan dengan segala perlengkapan termasuk perangkat sound systems. Berbicara mengenai sound system dan perlengkapannya ia pernah mengalami pengalaman pahit. “ Ketika ada kunjungan pejabat Direktur Cukai yang berkunjung ke Kanwil VII dan memberikan pengarahan dan sosialisasi tiba-tiba listrik padam sedangkan genset pun mati, akhirnya saya kena tegor bapak-bapak pejabat,” kenang pegawai yang memiliki semboyan hidup bekerja adalah ibadah. MUHAMMAD HUSEIN RAMBE Masa depan anak-anak berada dipundak orangtuanya. Hal itu yang menjadikan Muhammad Husein Rambe, Pelaksana KPBC Pematang Siantar, bersama istrinya Sunariaty Nasution, (membantu menopang ekonomi suami dengan berjualan di pasar pagi), bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Alhamdulillah… hasil dari kerja kerasnya itu, putri saya yang paling besar telah lulus di STAN jurusan Pajak pada 2004 dan sekarang sudah bekerja di Kantor Pelayanan Pajak Cianjur. Tinggal dua orang lagi anak saya yang masih sekolah dan memerlukan bimbingan agar menjadi anak yang berguna,” ujar Rambe. Rambe sendiri menjadi pegawai di Bea dan Cukai karena mengikuti jejak sang ayah (Alm. Batarain Rambe yang dulu bertugas di KPBC Sibolgared). Orangtuanya menganjurkan Rambe untuk mengikuti tes penerimaan pegawai bea cukai di KPBC Sibolga (1982). Ia pun melakukannya dan berhasil diterima. Selama bertugas di Bea dan Cukai, Rambe pernah mengikuti beberapa diklat. Diantaranya, diklat DTSD I Pabean dan Cukai tahun 2003 di Medan. Sepanjang karirnya, sejak 1983 hingga saat ini, Rambe mengaku hanya dua daerah yang pernah disinggahinya saat mutasi bergulir. KPBC Sibolga menjadi tempat pertamanya mengabdi pada Bea dan Cukai (1983 - 1993). Setelah itu, ia dimutasi ke KPBC Siantar hingga saat ini. Ia mengaku sangat senang ditugaskan di dua tempat tersebut. Ia memang tidak memiliki keinginan untuk pindah ke tempat lain yang mempunyai beban volume kerja lebih banyak. “Saya nggak mau

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007 385 DESEMBER 2006

Batam, disini kami hanya menyelusuri Sungai Batang Hari yang sebenarnya juga cukup jauh dan memiliki risiko pengawasan yang cukup besar, selain itu di sungai ini juga terkadang dilalui oleh kapal-kapal yang membawa barang antar pulau,” kata Hazrizal. Selain itu Hazrizal menuturkan, seperti halnya pengalaman pada saat patroli yang dilakukan beberapa waktu yang lalu, saat itu wilayah Jambi tengah diselimuti kabut asap yang cukup tebal, sehingga perlu ekstra hati-hati dalam melakukan patroli. Setiap kapal yang melalui sungai tersebut memang sulit untuk didekati karena kabut asap yang tebal dan aliran sungai yang cukup deras. Disinilah dirinya berperan dalam mengendalikan kapal, dengan dibantu oleh tim P2 KPBC Jambi, akhirnya patroli yang dilakukannya pun dapat berjalan lancar dan jalur yang dilaluinya pun memang aman dari upaya penyelundupan. Sebagai generasi muda dan tulang punggung DJBC dalam melaksanakan operasi laut, Hazrizal memang memerlukan pengalaman yang lebih banyak lagi, untuk itu dirinya pun siap ditugaskan dimanapun untuk menjalankan patroli laut dan mengamankan negara ini dari upaya penyelundupan. adi Ditanya mengenai pengalaman berkesan selama bertugas ia bercerita pernah dipercaya menjadi pengawas dan penanggung jawab renovasi rumah dinas Kakanwil yang waktu itu dijabat Eddy Abdurrachman. “Saya merasa bangga dipercaya oleh bapak pimpinan,”kenang suami Aminah ini. Di luar tugas kantor Parto memiliki aktivitas antara lain menjadi pengurus RT di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Simogunung Barat Surabaya, uniknya ia juga selalu menjadi seksi perlengkapan apabila di kampungnya ada hajatan. “Benar-benar saya kena ‘kutuk’ menjadi teknisi sekaligus perlengkapan di mana pun berada”, ujar ayah dari empat orang putera ini. Selama menjadi pegawai dia sempat mengikuti berbagai pendidikan antara lain Diklat Kesamaptaan pada 2003 di Malang, Diklat SAAT (Sistem Akuntansi Aset Tetap) pada 2003 di Malang, dan DTSD I pada 2006 di Jakarta. Di usia yang menginjak 43 tahun ini Parto merasa bersyukur dan bangga menjadi pegawai DJBC dan akan selalu berpikir dan berbuat yang terbaik bagi institusi yang dicintainya. Pada saat ini dia pun tengah dipercaya menjadi pengawas proyek renovasi gedung arsip Kanwil VII di Tegalsari. Parto memiliki suatu harapan kepada Pegawai DJBC. “Saya mengharapkan kinerja Bea dan Cukai semakin baik sesuai dengan sisdur yang ada dan perlunya sosialisasi terus menerus semua peraturan baru,” harap pria kelahiran Bangkalan 9 September 1963. bambang wicaksono, sby mengambil resiko tinggi karena tempat seperti itu banyak godaannya,” ujar Rambe. Saat ditanya suka dukanya selama melaksanakan tugas, pria yang lahir di Natal (Tapanuli Selatan) pada 12 Januari 1963 ini mengaku semuanya berjalan biasa saja. Tetapi ia merasa lebih senang bertugas di bagian pembukuan. Oleh sebab itu, hingga saat ini ia lebih banyak ditempatkan di bagian perbendaharaan. Walaupun begitu, Rambe pernah merasakan bertugas di bagian P2. Untuk yang satu ini, ia punya pengalaman yang sangat berkesan. Saat bertugas di KPBC Sibolga, beberapa kali ia turut serta dalam menegah peredaran rokok illegal. Demikian pula saat bertugas di KPBC Pematang Siantar, ia turut terlibat dalam menegah MMEA eks impor dan rokok illegal asal Sidoarjo. Saat ditanya harapannya terhadap insitusi Bea dan Cukai, pria yang memiliki moto bekerja sesuai aturan dan tetap mengingat sumpah ketika diangkat menjadi PNS ini mengatakan, “Semoga Bea dan Cukai maju terus, bisa berjaya dan memusnahkan semua yang berbau KKN. Intinya, apalah gunanya punya rumah seperi istana dan mobil mewah kalau dari hasil yang tidak benar.” ats

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2005
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 386 JANUARI 2007

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

WARTA BEA CUKAI

45

INFO PEGAWAI

ONE HUNDRED WAY OVER BALI. Sebanyak 105 orang penerjun dari seluruh dunia, memecahkan rekor kerjasama diudara 100 Way Over Bali, Agustus 2004. Baharudin, salah satu diantara 8 orang penerjun Indonesia dari Bea dan Cukai, yang ikut andil dalam rekor dunia tersebut.

TERJUN PAYUNG BEA DAN CUKAI OLAHRAGA PEMACU ADRENALIN
Olahraga terjun payung merupakan salah saru sarana membangun karakter bangsa yang kuat.

O

lahraga terjun payung di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kini ibarat mati suri. Pasalnya, sepanjang tahun 2006, tim Persatuan Terjun Payung Bea dan Cukai (PTPBC) tidak memiliki aktivitas yang bersifat continue, seperti latihan maupun mengikuti event-event terjun payung. Demikian pula dengan regenerasi penerjun di Bea dan Cukai. Hingga saat ini, (PTPBC) hanya memiliki 38 penerjun, itu pun tidak semuanya aktif. Memang, berbagai faktor ikut andil dalam keaktifan para penerjun bea cukai. Diantaranya, mutasi yang terus bergulir ke berbagai daerah di belahan Nusantara, membuat intensitas latihan atau refreshing untuk menambah jumlah penerjunan, secara otomatis berkurang. Apalagi bagi penerjun perempuan, yang ketika menikah biasanya lebih memilih mundur dari kegiatan terjun payung. Terjun payung di lingkungan Bea dan Cukai sendiri sudah berdiri sekitar tahun 1970-an. Pada saat kemunculannya tersebut, PTPBC sudah memiliki kegiatan latihan yang continue dan turut serta dalam eventevent internasional di berbagai negara seperti Turki, Spanyol, Uni Emirat Arab, Australia, Paris, Amerika Serikat dan
WARTA BEA CUKAI

sebagainya. Hal itu terus berlanjut hingga tahun 1990-an. Memasuki tahun 2000, kegiatan terjun payung di Bea dan Cukai pun mulai berkurang dan kini mati suri. Berbagai faktor dianggap sebagai penyebab mati surinya terjun payung di Bea dan Cukai. Selain karena mutasi pegawai, banyak yang beranggapan bahwa olahraga terjun payung merupakan olahraga yang terbilang ekseklusif dan mahal. Tak hanya itu, keselamatan jiwa para penerjun juga menjadi taruhan yang cukup membuat banyak orang tidak berani menggeluti olahraga yang sangat memacu adrenalin ini. Lantas, semahal dan se-ekseklusif apakah olahraga terjun payung ini? Adakah cara untuk menyiasati mahalnya biaya yang harus dikeluarkan? Lalu, bagaimana tingkat keamanan olahraga tersebut? Dan bagaimanakah kondisi terjun payung di Bea dan Cukai saat ini?

sendirian. Artinya, si penerjun menyewa sendiri pesawat, pilot, peralatan terjun dan sebagainya. Tetapi, jika terjun payung dilakukan oleh banyak orang, misalnya
WBC/ATS

MAHAL JIKA DILAKUKAN SENDIRIAN
Permana Agung, Inspektur Jenderal Departemen Keuangan, yang juga merupakan salah satu pembina PTPBC mengatakan, olahraga terjun payung dapat digolongkan menjadi olahraga yang ekseklusif dan mahal jika dilakukan
NISFU CHASBULLAH. Saat ini tim terjun payung bea cukai sedang memulai kembali program latihannya, untuk ikut serta dalam ajang PON XVII di Kaltim, Agustus 2007.

46

EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. BAHARUDIN

dalam satu tim, maka biaya yang dikeluarkan dapat diminimalisir. Apalagi kalau ada sponsor yang dilibatkan untuk mendanai kegiatan terjun payung, memungkinkan penerjun tidak mengeluarkan biaya sama sekali. “Jadi, mahal tidaknya dilihat dari jumlah penerjunnya, semakin sedikit penerjunnya, biaya yang dikeluarkan semakin banyak. Tapi kalau jumlah penerjunnya banyak maka biayanya bisa di share, apalagi kalau ada sponsor,” imbuh Agung yang menyarankan agar Bea dan Cukai dapat memanfaatkan stakeholder yang selama ini menjadi mitra kerja DJBC untuk menjadi sponsor PTPBC. Agung, yang ditemui WBC diselasela acara Silaturahmi Perkumpulan Terjun Payung Bea dan Cukai, November lalu, menegaskan bahwa olahraga terjun payung dapat membangkitkan citra Bangsa Indonesia, diantaranya membangun karakter bangsa atau character building nation. Jika suatu bangsa memiliki pemimpin yang berkarakter kuat, maka akan berguna bagi diri pemimpin itu sendiri dan masyarakat. “Sehingga, jangan dilihat berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk latihan atau mengikuti event, tapi lihat implikasinya terhadap kebanggaan bangsa Indonesia. Nah, itu yang biasanya tidak dilihat oleh banyak orang,” lanjutnya. Oleh sebab itu, ia merasa prihatin jika olahraga tersebut harus mati hanya karena dikecam dan dikatakan bahwa olahraga tersebut mahal dan sebagainya. Agung menambahkan, dengan menggeluti olahraga terjun payung, seorang penerjun akan memiliki rasa percaya diri yang luar biasa. Karena dalam tiap penerjunan, penerjun telah terbiasa menghadapi situasi yang berbahaya dan harus mampu mengatasinya dengan baik Hal tersebut diamini Heru Santoso, Kepala Kantor Wilayah IV DJBC. Ia juga mengatakan bahwa olahraga terjun payung mampu membuat penerjun berani dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat, tanpa bantuan siapapun jika terjadi suatu masalah. “Pasalnya, setelah exit dari pesawat, seorang penerjun akan bergantung pada dirinya sendiri. tidak bisa meminta tolong pada orang lain,” tambahnya. Untuk itu, ia sangat mendukung perkembangan olahraga terjun payung di Bea dan Cukai. Lantas, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti latihan dan pendidikan terjun payung? Baharudin, Pelaksana KPBC Jambi yang juga merupakan jump master terjun payung Bea dan Cukai mengatakan, sebenarnya olahraga terjun payung bukan olahraga yang mahal karena biasanya orang yang menggeluti olahraga tersebut tergabung dalam sebuah klub terjun payung. Walaupun tidak tertutup kemungkinan dilakukan perorangan. Selama ini dalam mengikuti pendidikan terjun payung, PTPBC bekerjasama dengan Paskhas (Pasukan Khas-TNI AU)

KEJUARAAN ASIANA. Penerjun PTPBC saat berada di Guangzhou, China, saat mengikuti kejuaraan terjun payung Asiania (2002). Untuk kategori kerjasama di udara, Indonesia (yang diwakili 2 orang penerjun dari PTPBC-red bergabung dengan tim internasional yang terdiri dari Jerman (1 orang) dan Taiwan (1 orang). red) red Tim tersebut berhasil meraih juara III.

yang membuka pendidikan terjun payung dengan metode AFF (Acarilic Free Fall). Jadi, pada saat Paskhas menargetkan 50 siswa yang mengikuti pendidikan dan ternyata jumlah tersebut tidak terpenuhi (misalnya hanya 47 siswa-red), biasanya Paskhas akan mengirim surat resmi ke PTPBC dan menawarkan apakah PTPBC berkenan untuk mengikuti pendidikan AFF tersebut, dengan jumlah siswa dari PTPBC misalnya 3 orang (untuk menutupi kekurangan tadi-red). Kalau PTPBC berminat dan memiliki
WBC/ATS

PERMANA AGUNG. Prihatin jika olahraga terjun payung harus mati hanya karena dikecam dan dikatakan bahwa olahraga tersebut mahal.

siswa yang sudah diseleksi sebelumnya, maka PTPBC dapat mengirim siswanya untuk mengikuti pendidikan AFF. Untuk itulah biaya pendidikan terjun payung di PTPBC tergolong murah (karena nebeng dengan Paskhas-red), yakni sekitar Rp 6 juta hingga selesai pendidikan. Bandingkan dengan penerjun solo yang ingin mengikuti pendidikan AFF. Penerjun tersebut harus merogoh kocek lebih dalam, yakni sekitar Rp 18 juta hingga selesai pendidikan. Pendidikan AFF yang dilakukan penerjun solo atau tim lain diluar Bea dan Cukai tersebut, diantaranya diadakan di Lido, Puncak, Jawa Barat. Pendidikan yang harus dijalani para siswa terdiri dari 9 level dengan standar pendidikan berkualitas internasional. Salah satu kelebihan metode AFF ini adalah adanya dua orang jump master yang mendampingi siswa saat melakukan penerjunan. Baharudin, yang juga merupakan salah satu jump master sekolah AFF di Lido mengatakan, siswa yang mengikuti pendidikan AFF di Lido tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Australia (di Australia biaya pendidikannya lebih mahal-red). Metode AFF merupakan metode yang digunakan dalam pendidikan terjun payung di seluruh Indonesia saat ini, kecuali untuk tim terjun payung Jogjakarta yang bernama PTP Mataram. PTP Mataram merupakan satu-satunya klub yang mengadakan pendidikan terjun payung secara konvensional dengan biaya pendidikan yang relatif murah, sekitar Rp 3 juta. Murahnya biaya tersebut lantaran Jogjakarta hanya memiliki sebuah pesawat Cessna 172 yang merupakan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

47

INFO PEGAWAI
DOK. WBC

BAHARUDIN. Ada tiga faktor pendukung terjadinya kecelakaan dalam terjun payung, yakni faktor manusia, alam dan peralatan.

pesawat kecil yang tidak mampu terbang tinggi. Biasanya pendidikan tersebut ditujukan bagi penerjun yang berasal dari Jogjakarta itu sendiri. Sementara itu, untuk latihan terjun payung atau refreshing, Lido juga menyediakan sarana untuk itu. Khusus untuk penerjun asing, dikenakan biaya sebesar US$ 18. Tetapi untuk penerjun Indonesia dikenakan biaya sebesar Rp 50 ribu dengan catatan harus menunggu slot (tempat di pesawat-red) yang kosong dan hal ini tidak berlaku bagi penerjun asing. Bagi penerjun mahir yang tidak memiliki perlengkapan terjun pun tidak perlu khawatir karena dapat menyewa semua perlengkapan terjun payung ditempat itu. Bandingkan lagi jika latihan terjun payung dilakukan sendirian. Penerjun harus menyewa sebuah pesawat secara utuh dan pemakaiannya dihitung per jam, satu jamnya sekitar US$ 750. Dan kalau pendidikan terjun payung dilakukan perorangan, jauh lebih mahal lagi. Pasalnya siswa harus membayar sendiri lapangan terbang (run way), tower, pesawat, jump master dan perlengkapan terjun. Untuk itu, disarankan agar penerjun pemula tergabung dalam suatu klub terjun payung supaya biaya yang dikeluarkan lebih ringan. PTPBC sendiri dalam kegiatan latihan terjunnya bekerjasama dengan TNI. Dalam kegiatannya, PTPBC paling sering ikut serta dalam latihan yang dilakukan oleh TNI-AU Pas-khas yang berlokasi di Margahayu, Bandung.

red) risiko tersebut dan terus berdoa pada Tuhan. Misalnya saja, mentaati tata cara yang harus dilakukan sebelum penerjunan, seperti melipat payung dengan benar, exit yang baik, cukup tidur dan sebagainya. Itu semua adalah langkah-langkah untuk memperkecil risiko dalam penerjunan. Baharudin menambahkan, pada dasarnya terjun payung merupakan olahraga yang sangat aman sepanjang si penerjun disiplin dan tidak over confident. Ada tiga faktor pendukung terjadinya kecelakaan dalam terjun payung, yakni faktor manusia, alam dan peralatan. Penerjun yang tidak disiplin, berisiko tinggi mengalami kecelakaan. Misalnya saja, jika saat terjun cuaca tiba-tiba mendung tetapi tetap melakukan penerjunan, maka risiko kecelakaan akan tinggi. Demikian pula pada peralatan. “Kita tahu bahwa payung cadangan harus dicek dan dilipat ulang tiap 3 bulan sekali. Kalau si penerjun misalnya ingin demo disuatu tempat, sementara payung cadangannya sudah 4 bulan tidak dilipat ulang, maka ketika payung cadangan dibuka, payung tidak mengembang sempurna. Itu juga dapat menyebabkan kecelakaan,” jelas Bahar yang memperoleh license The Double Falcon dari United State Parachute Association, di Amerika Serikat, pada 1993. Bahar melanjutkan, saat ini peralatan terjun payung sudah sangat canggih. Diantaranya dilengkapi dengan alat automate dimana payung bisa terbuka dengan sendirinya ketika penerjun berada diketinggian 1.500 m. Akurasi terbukanya payung tersebut mencapai 99,90 persen. Nisfu Chasbullah, ketua Podirga Terjun Payung, FASI, juga mengatakan

pada WBC bahwa olahraga terjun payung merupakan olahraga yang aman sepanjang persiapan yang teliti dilakukan sebelum penerjunan dan mengikuti aturanaturan yang sudah ditentukan. Salah satu langkah untuk memperkecil risiko dalam penerjunan adalah harus memiliki ijin terjun. Setiap penerjun yang ingin terjun disuatu tempat harus memiliki ijin terjun terlebih dahulu. Jika tidak, terjun tersebut akan dianggap terjun illegal. Lantas, sulitkah untuk memperoleh ijin tersebut? Agung menjawab tidak sulit. Para penerjun memiliki sebuah log book dimana setiap kali penerjun ingin melakukan terjun payung, pemberi ijin terjun harus mencatat dalam log book tersebut, berapa kali jumlah penerjunan yang telah dilakukan dan apakah tiap penerjunan tersebut aman atau tidak. Ijin itu sendiri berguna jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada penerjun. Tak hanya itu, menurut Bahar, ijin terjun harus didapatkan dari pimpinan tim terjun payung (kalau di Bea Cukai adalah Ketua PTPBC yang dilanjutkan ke Sekretariat DJBC-red). Kemudian ijin keramaian dari polisi, ijin dari koramil, ijin mendarat darurat, ijin melintas untuk pesawat (notam) dan tembusan ke Podirga Terjun Payung. Untuk PTPBC sendiri, tidak sulit mengurus ijin-ijin tersebut. Pasalnya, konsep perijinan tersebut telah disusun sedemikian rupa dalam suatu file. Ditambah lagi PTPBC diisi oleh tim yang sudah mengetahui tugas masingmasing, seperti bagian perlengkapan, bendahara, ketua, sekretaris dan sebagainya, termasuk yang mengurus perijinan.

PRESTASI PTPBC
Bahar yang jumlah terjunnya sekitar
DOK. BAHARUDIN

TERJUN PAYUNG OLAHRAGA YANG AMAN
Saat ditanya tanggapannya mengenai olahraga terjun payung termasuk olahraga yang berbahaya, Agung mengatakan bahwa apapun olahraga yang dilakukan pasti memiliki risiko. Tinggal bagaimana memperkecil (kalau tidak bisa menghilangkan48
WARTA BEA CUKAI

DI DALAM PESAWAT. Para penerjun dari PTPBC saat berada di dalam pesawat Dakota atau Divi 3 sebelum melakukan penerjunan refreshing (latihan).

EDISI 386 JANUARI 2007

2340 kali ini mengakui, pada 2006 perkembangan terjun payung di Bea dan Cukai bisa dikatakan mati. Padahal, sekitar tahun 1990-an, PTPBC kerap meraih berbagai penghargaan, diantaranya pada 1993, penerjun bea cukai berhasil masuk dalam 12 besar kejuaraan dunia di Turki, yang diikuti oleh 48 negara. Kemudian, untuk penerjun putri bea cukai, pernah memperoleh juara III dalam PON XIV tahun 1996. Untuk tim ketepatan mendarat putra, PTPBC pernah masuk di lima besar nasional, berada dibawah tim Kopasus, Angkatan Udara, DKI-Jakarta dan Jawa Barat. Itu berarti, PTPBC membawahi Kodam, Polisi, dan perkumpulan terjun payung sipil lainnya. Untuk itu, Nisfu menyarankan agar para penerjun yang berada di daerah, harus bisa jemput bola. Misalnya, pergi ke Lanud setempat dan bertanya pada ketua Fasida provinsi setempat, yakni Komandan Pangkalan, apakah ditempat itu ada kegiatan terjun payung. Jika ditempat itu ada kegiatan terjun payung, maka penerjun dapat meminta ijin untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut.

“Tetapi, kalau para penerjun tadi sedang libur, mereka bisa datang ke Jakarta atau Bandung dan ikut latihan. Sebab, tiap Sabtu dan Minggu, di Jakarta ada kegiatan terjun payung, seperti di Kalijati dan Pondok Cabe. Nah, itu adalah hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi krisis latihan,” imbuh Nisfu. Namun demikian, Nisfu melihat bahwa saat ini tim terjun payung Bea dan Cukai sedang memulai kembali program latihannya, terutama para penerjun yang berada di Jakarta. Pasalnya, beberapa penerjun bea cukai sedang mempersiapkan diri untuk ikut serta dalam ajang PON. Para penerjun tersebut mencoba untuk mewakili beberapa provinsi (Jawa Barat dan Kepulauan Riau-red) dalam ajang PON XVII yang rencananya akan digelar pada bulan Agustus 2007. Hal senada juga disampaikan Bahar. Untuk itu ia berharap agar para penerjun dari PTPBC dapat lolos dalam babak praPON XVII yang rencananya digabung dengan kejuaraan nasional terjun payung pada Maret 2007 di Kalimantan Timur.

Saat ditanya tentang regenerasi penerjun bea cukai, Bahar mengusulkan agar pada 2007, pegawai atau calon pegawai bea cukai yang masih muda (tidak lebih dari 22 tahun-red) dapat dididik menekuni olahraga terjun payung. “Setelah direstui oleh pimpinan, rencananya tim ini akan diarahkan dengan benar. Dengan demikian saya yakin tim ini nantinya mampu berbicara di dunia internasional,” lanjut Bahar yang menyarankan agar penderita penyakit epilepsy tidak menekuni olahraga terjun payung. Perekrutan itu sendiri rencananya dilakukan setelah selesai pra-PON XVII atau setelah bulan Maret 2007. Tetapi tidak tertutup kemungkian dilakukan sebelum pra-PON XVII. Diakhir wawancara Bahar berharap agar kedepannya PTPBC jauh lebih baik dan para penerjun dapat menerapkan manfaat terjun payung dalam pekerjaannya sehari-hari. “Karena dalam terjun diperlukan disiplin tinggi dan kerjasama tim yang kompak. Jadi, tidak perlu ada persaingan,” tandasnya. ifa

PEGAWAI PENSIUN
T.M.T 01 JANUARI 2007
NIP 060035503 060035407 060034188 060035739 640009694 060045834 060070724 060041427 060045523 060041267 060045482 060045376 060059106 060058252 060056868 060057826 060041431 060032120 060071208 060056598 060045419 GOL IV/c IV/b IV/a IV/a IV/a III/d III/c III/b III/b III/b III/b III/b III/a II/d II/d II/d II/d II/b II/b II/b II/b JABATAN Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kepala Kantor Pelayanan Kepala Seksi Pembebasan Relatif I Kepala Seksi Perbendaharaan Kepala Seksi Tempat Penimbunan IV Kepala Seksi Kepabeanan V Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 NAMA Harjono, SH., MM Pratomo Bachtar Zul Drs. M. Amin Suradinata Subandi Hastani Siswanto Budijono Sonta Silalahi Bijanto Djumadi Franciscus Xaverius Dulhadi Holid Amir Hamzah Eduard Wetangky Marwata Sundusen Abd. Rahman A Risman Dudung Abdullah Rais Syamsir Tukidjo KEDUDUKAN Kanwil IX DJBC Pontianak KPBC Tipe A Tanjung Pinang Direktorat Fasilitas Kepabeanan KPBC Tipe A Bandar Lampung KPBC Tipe A Tanjung Emas KPBC Tipe A Merak Sekretariat DJBC KPBC Tipe A Jakarta KPBC Tipe A Khusus Tanjung Priok II KPBC Tipe A Khusus Tanjung Priok III KPBC Tipe C Kantor Pos Pasar Baru Pangsarop Tipe A Tg. Balai Karimun Pangsarop Tipe B Pantoloan KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta Pangsarop Tipe B Pantoloan KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPBC Tipe A Pekanbaru KPBC Tipe B Bogor KPBC Tipe A Batam KPBC Tipe A Medan Pangsarop Tipe A Tg. Balai Karimun

Telah meninggal dunia, SANEM RUSTINAH (48 tahun), Pelaksana pada Direktorat Cukai, pada hari Minggu, 03 Desember 2006, pukul 07.30 WIB. Jenazah telah dimakamkan pada hari Minggu 03 Desember 2006, pukul 23.00 WIB di Kebumen. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa
EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

BERITA DUKA CITA

49

INFO PEGAWAI
DOK. PANITIA

SUASANA Perayaan Natal DJBC di Auditorium Kantor Pusat.

PERAYAAN NATAL DJBC
Sore hari 16 Desember 2006 terlihat keramaian di pojok Kantor Pusat DJBC Jakarta. Auditorium Kantor Pusat DJBC terlihat sedang berbenah.

L

DOK. PANITIA

agu-lagu gerejawi berkumandang sejak pagi, mengiringi pemasangan dekorasi sederhana menghiasi panggung dan pintu masuk. Ruangan auditorium yang cukup luas telah ditata rapi. Sebuah pohon Natal kerlap kerlip menjulang di pojok kanan panggung. Senyum sukacita dan tawa canda disertai jabat tangan erat terdengar disana-sini. Itulah suasana awal Perayaan Natal tahun 2006 DJBC yang mengambil tema “Dialah damai sejahtera yang telah mempersatukan kita”, dari Efesus 2:14. Tepat jam 17.00 Lucia Itaning dan Ignatius Hendro Y., yang bertugas sebagai MC membuka ibadah dengan mengajak umat menyanyikan lagu Natal klasik Hai Mari Berhimpun. Para tamu yang terdiri pegawai, pejabat, dan pensiunan Kristiani DJBC beserta keluarganya larut dalam hikmat iringan kidung-kidung Natal. Selanjutnya pengisi acara silih berganti memeriahkan ibadah natal. Parasian Silitonga mempersembahkan lagu Above All, paduan suara PMKKMK STAN mengiringi ibadah dengan mengidungkan Hark the Herald Angels Sing dan Kubersujud di PalunganMu,
WARTA BEA CUKAI

dan tak lupa syahdunya O Holy Night yang dibawakan oleh Vanstenes KD. Ibadah dipimpin secara bergantian oleh Romo St. Sumardiyo Adipranoto Pr dan Pdt. Y. Sipahelut. Dalam renungan Natal, Romo Adipranoto menyatakan bahwa institusi bea dan cukai telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Kisah-kisah Injil yang diilhami kejadiankejadian kurang lebih 2000 tahun yang lalu, banyak memuat kisah tentang pemungut cukai. Hanya saja, bagi orang Yahudi jaman itu, pemungut cukai terkesan sebagai orang yang penuh dosa. Pesan Romo, kesan itu sebaiknya sudah tidak terjadi lagi di tahun-tahun ini. “Tahun 2006, DJBC sudah tidak termasuk dalam 12 besar institusi terkorup di Indonesia. Semoga ditahuntahun mendatang, DJBC juga tidak masuk dalam 20 besar, 50 besar dan seterusnya menjadi instansi yang bersih dari korupsi,” kata Romo sambil juga menekankan perlunya umat Kristiani dalam Natal kali ini menunjukkan kepedulian dan kepekaan sosial kepada sesama dan lingkungan. Sementara Pendeta Y. Sipahelut dalam doa syafaat memimpin umat

PENYAPU JALANAN. Panitia bakti sosial hari Natal PWK KP DJBC, memberikan bantuan kepada 50 orang penyapu jalan yang berlokasi di Jalan Jend. A. Yani, Jakarta Timur. Tampak dalam gambar salah seorang panitia baksos, Vanstenes KD (kanan) sedang menyerahkan bantuan ke salah satu penyapu jalan.

50

EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. PANITIA

mendoakan para pemimpin bangsa serta para pejabat dan aparatnya agar semakin bijaksana memimpin dan mengelola negara ini. Setelah doa berkat, ibadah natal ditutup dengan bersamasama menyanyikan lagu Hai Dunia Bembiralah. Tetapi sukacita belum selesai. Beberapa saat setelah ibadah, pejabat-pejabat eselon II dan III DJBC yang non Kristiani, memasuki auditorium dan bergabung dengan jemaat yang baru selesai beribadah. Kedatangan mereka disambut Panitia bersama Frans Rupang (Direktur Cukai) dan Thomas Sugijata (Direktur Audit) yang juga menjabat selaku Penasehat Persekutuan Warga Kristiani DJBC. Terlihat diantara pejabat DJBC yang hadir antara lain PENYALAAN LILIN, dilakukan oleh Thomas Sugijata dan Frans Rupang, didampingi Pdt. Y. Sipahelut dan Rm. St. Sumardiyo Wahyu Purnomo (DiAdipranoto, Pr, dan Ketua Panitia Natal DJBC Bagus Nugroho TP. rektur PPKC) dan CF. kan betapa seriusnya penari-penari cilik Sidjabat (Kakanwil XII DJBC Ambon). menyentuh sesama yang kurang berunitu berputar, berjingkrak jenaka, dan Suasana senyap diganti dentum tung lewat aksi-aksi sosial. Untuk tahun ini berteriak kegirangan dalam tariannya. riang lagu Jingle Bells. Mata hadirin kegiatan sosial antara lain dilakukan Ada rasa haru ketika Ketua Panitia, tertuju ke panggung menyaksikan kakimelalui pemberian bantuan ke petugas Bagus Nugroho TP (Kepala Seksi Verifikaki kecil dan tangan-tangan mungil cleaning service di lingkungan Kantor kasi Cukai, Direktorat Audit) menyampaiterayun lincah jenaka mengikuti irama Pusat DJBC, dan penyapu jalan di sepankan laporan kegiatan Natal tahun 2006 musik. Panitia menyebutnya BC Kids jang jalan Jend. A. Yani, Jakarta Timur. DJBC yang diiringi dengan penayangan Dance, karena yang sedang menari Gambar-gambar slide juga memperslide di latar belakang. Selain ibadah dan adalah 7 puteri cilik dari pegawai DJBC. lihatkan kunjungan sosial panitia natal perayaan, Natal DJBC diupayakan selalu Hadirin tersenyum-senyum menyaksiDJBC dan pemberian bantuan ke LemDOK. PANITIA DOK. PANITIA

PANTI ASUHAN. Rangkaian kegiatan bakti sosial diantaranya melakukan kunjungan ke Panti Asuhan Cacat Ganda Dwi Tuna Rawinala yang berlokasi di Condet, Jakarta Timur. Dalam kunjungan ini panitia memberikan bantuan berupa dana dan makanan kecil. EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

51

INFO PEGAWAI
baga Pemasyarakatan Tangerang, Rumah Singgah anak jalanan yang dikelola Romo Sandyawan di tepi Kali Ciliwung, Panti Asuhan Dwi Tuna Rawinala, dan lain-lain. Menurut Ketua Panitia, kegiatankegiatan sosial Natal DJBC dari tahun ke tahun akan terus ditingkatkan untuk memenuhi esensi Natal itu sendiri. Dari ibadah Natal malam itu, juga terkumpul sumbangan umat sejumlah lebih dari 7 juta rupiah yang langsung disumbangkan ke sebuah yayasan yang bergerak dalam pelayanan kepada para penderita kusta di Maumere, NTT. Sementara itu Direktur Jenderal Bea Cukai, Anwar Suprijadi dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Cukai, Frans Rupang, menghimbau perlunya kebersamaan dan kesatuan langkah untuk mengakomodasi berbagai perubahan akibat kemajuan teknologi dan ekonomi dunia. Sebagai pelayan bangsa, pegawai DJBC harus selalu siap belajar dan bekerja keras untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas pelayanan kepada masyarakat (selengkapnya lihat boks). Perayaan Natal DJBC tak kalah meriah dari ibadahnya. Meski acara disusun dengan konsep ‘dari kita untuk kita,’ acara tetap meriah dalam kesederhanaan yang megah. Di sesi perayaan, tampil mengisi acara antara lain PS Purna Bhakti yang terdiri dari para pensiunan DJBC membawakan lagu Gloria, si kecil Regina Dyah Saraswati memuji Tuhan dengan lagu Bapa yang Kekal. Tak ketinggalan PS Customs Voice yang terdiri dari para pegawai DJBC mengeluarkan kemampuan vokal mereka lewat lagu Season of the Hearts, And the Glory of the Lord, dan Jingle Bells. Satu-satunya pengisi acara yang bukan komponen DJBC malam itu adalah grup acapella ‘Jamaica Café’ yang tampil membawakan lagu-lagu Silent Night, Let it Snow, Santa Claus is Coming to Town, You Rise Me Up, Dengar Dia Panggil Nama Saya dan We Wish You a Merry Chritmas. Meski kelompok vokal yang bermula dari kantin SMU Gonzaga ini menyanyi tanpa iringan musik, paduan vokal yang ditampilkan sungguh prima memainkan komposisi nada dengan hampir sempurna. Sukacita Natal semakin terasa ketika di akhir perayaan, hadirin berkesempatan bersalaman dengan para pejabat DJBC dan saling mengucapkan selamat Natal. “Tahun depan saya akan datang lagi bersama keluarga. Di acara ini saya ketemu banyak teman-teman dari daerah lain,” kata salah seorang pegawai DJBC yang datang dari Kalimatan Barat. Selamat Natal dan Tahun Baru 2007.

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI PADA PERAYAAN NATAL DJBC WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYA 16 DESEMBER 2006
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat malam dan Salam Sejahtera bagi kita semua Mengawali sambutan saya, marilah kita bersama-sama mengucap syukur pada Tuhan yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan kasihNya bagi kita semua, hingga malam ini kita dapat berkumpul di sini dengan hati penuh suka cita. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, malam ini kita hadir di sini sebagai satu keluarga besar, yang rukun penuh damai dan kasih, memperingati kelahiran Yesus Kristus. Lebih daripada itu, selayaknya kita bersyukur karena malam ini kita bersamasama berkesempatan untuk merenungi kembali karya dan kehidupan kita selama setahun ini. Saudara saudari sekalian, Dalam beberapa tahun terakhir, kita dapat merasakan betapa denyut kehidupan bangsa Indonesia bergerak begitu cepat dan dinamis serta diwarnai perubahan-perubahan yang signifikan di segala bidang. Hal itu tidak lepas dari pengaruh perubahan perekonomian dunia serta kemajuan teknologi yang sangat cepat. Seiring perubahan itu, sebagai pelayan masyarakat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, kita harus ikut merespon perubahan ini dengan sebaik-baiknya. Masyarakat yang kita layani sehari-hari menuntut perbaikan kualitas atas pelayanan yang kita berikan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus memperbaiki kualitas sumber daya manusia kita serta infrastruktur pendukung tugas yang ada. Dalam beberapa tahun ke depan kita akan melakukan langkah-langkah pembenahan dan perubahan untuk meningkatkan kinerja pelayanan bagi masyarakat. Saudara saudari yang berbahagia, Tidak ada salahnya juga bila dalam kesempatan yang indah penuh sukacita ini saya mengingatkan kembali visi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu: sejajar dengan institusi kepabeanan dan cukai dunia dalam citra dan kinerja. Visi ini mengandung makna yang dalam untuk memacu kita terus memperbaiki kualitas pribadi dalam pelaksanaan tugas. Kita sadar bahwa untuk mewujudkan visi ini tidak mudah, tetapi juga bukanlah hal yang tidak mungkin dicapai. Sebagai pelayan masyarakat, kita harus merelakan diri untuk terus belajar dan belajar setiap saat demi perbaikan kualitas pribadi. Tanpa semangat dan usaha untuk berubah ke arah yang lebih baik, visi DJBC akan tetap jauh dari harapan. Saudara saudari terkasih, Menyimak tema Natal nasional tahun ini: Dialah damai sejahtera yang telah menyatukan kita, saya mengajak kita untuk menyatukan pandangan, bersama-sama melangkah sehati-sepikir mengupayakan yang terbaik bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Baik buruknya institusi kita ditentukan oleh sikap kita saat ini dan dimasa mendatang. Rencana-rencana dan kebijakan yang telah disusun tidak akan berhasil efektif tanpa kesatuan dan kebersamaan kita semua dalam implementasinya. Tunjukkanlah kebersamaan dan kesatuan itu dengan terus memberikan kontribusi terbaik bagi DJBC dalam keseharian pelayanan kita. Mengakhiri sambutan ini, saya mengajak kita semua menghadapi tahun 2007 dengan penuh semangat pengabdian. Meski tantangan dan pekerjaan berat menanti, kita percaya bahwa Allah yang Maha Kuasa akan selalu memberikan yang terbaik bagi umatNya. Demikian juga bagi kita semua di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, kita yakin bahwa kita akan semakin diberkati Tuhan dimasa-masa yang akan datang. Karena itu, persembahkanlah yang terbaik dari diri kita dalam melayani bangsa dan negara. Saudara saudari sekalian, Dalam kesempatan yang indah ini, perkenankan saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja keras kita bersama di tahun 2006. Marilah dengan penuh optimisme kita menyongsong tahun baru 2007 yang penuh tantangan sekaligus penuh harapan. Akhirnya, bagi saudara saudari pegawai Kristiani dan para pensiunan DJBC beserta keluarga, saya mengucapkan selamat hari Natal. Semoga kita semua senantiasa diterangi oleh kebijaksanaan Ilahi dalam berkarya bagi bangsa dan negara. Sekian dan terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jakarta, 16 Desember 2006 Direktur Jenderal, ANWAR SUPRIJADI

(AL/PWK KP DJBC)

52

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

INFO PERATURAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Desember 2006
No. 1. 2. Peraturan Nomor 103/PMK.04/2006 104/PMK.010/2006 Tanggal 31-10-06 3-11-06 P E R I H A L

Penggunaan Pemberitahuan Pabean Single Administrative Document Di Pulau Batam, Bintan Dan Karimun. Pencabutan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.010/ 2005 tentang Penetapan Kembali Tarif Bea Msuk Dalam Rangka Skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Atas Impor Produk Otomotif Completely Knock Down (CKD) Dan Completely Built Up (CBU) Dari Malaysia. Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Impor Barang Dalam Rangka Asean Integration System Of Preferences (AISP) Untuk Negara-Negara Anggota Baru Asean (Cambodia, Laos, Myanmar, dan Vietnam). Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.04/2004 Tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut Dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut. Penyediaan Dan Desain Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol asal Impor. Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/ PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar Dan Tarif Cukai Hasil Tembakau.

3.

105/PMK.010/2006

7-11-06

4.

108/PMK.04/2006

7-11-06

5. 6.

112/PMK.04/2006 118/PMK.04/2006

27-11-06 1-12-06

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Desember 2006
No. 1. PERATURAN Nomor P-18/BC/2006 Tanggal 22-11-06 P E R I H A L

Tatacara Penggunaan Pemberitahuan Pabean Single Administrative Document Untuk Pemasukan Barang Impor Dan Pengeluaran Barang Ekspor Ke dan Dari Pulau Batam, Bintan, Dan Karimun. Perubahan Kedua Atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-10/BC/2006 Tentang Tata Cara Penyerahan Dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, Dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut. Perubahan atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-27/BC/2004 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran Dan Penatausahaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

2.

P-19/BC/2006

28-11-06

3.

P-20/BC/2006

30-11-06

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Desember 2006
No. 1. 2. SURAT EDARAN Nomor SE-35/BC/2006 SE-36/BC/2006 Tanggal 21-11-06 22-11-06 P E R I H A L

Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping Terhadap Impor Pisang Cavendish Dari Filipina. Penyusunan, Sosialisasi Dan Penerapan Standar Pelayanan Publik Di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

53

PENGAWASAN
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) kini tengah melakukan reorganisasi di masing-masing unit kerjanya, salah satu unit kerja yang juga dilakukan penataan kembali adalah unit Direktorat Pencegahan dan Penindakan (P2). Pada direktorat ini, terdapat satu Sub Direktorat yang dilikuidasi yaitu Subdit Pengawasan Barang Larangan dan Pembatasan (PBLP), yang tugas dan fungsinya direposisi ke Subdit Intelijen dan Subdit Penindakan dan Operasi. Pada tulisan kali ini, WBC akan mengulas mengenai tugas dan fungsi dari penggabungan kedua Subdit tersebut yaitu Subdit Intelijen dan PBLP, dan tulisan ini akan diturunkan secara berseri. Untuk edisi kali ini selain menjelaskan tugas dan fungsi dari kedua Subdit tersebut juga akan dijelaskan sekilas mengenai kinerja dari Handler dan anjing pelacak yang menjadi tugas dari seksi Narkotika dan Psikotropika yang berada di bawah Subdit PBLP. Dan untuk edisi selanjutnya akan mengulas mengenai masalah Lingkungan Hidup dan HAKI. Redaksi

INTELIJEN dan PBLP
S
ebagai penjaga pintu gerbang negara kesatuan Republik Indonesia, DJBC memang memiliki tugas dan fungsi yang cukup strategis. Maraknya upaya penyelundupan barang-barang yang dapat menghancurkan perekonomian bangsa ini, menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan, selain itu mencegah masuknya barang-barang berbahaya juga menjadi tugas utama yang diemban DJBC. Untuk menjalankan itu semua, DJBC telah menunjukan kepada masyarakat akan tugas tanggung jawab dan fungsinya melalui hasil-hasil tegahan yang telah banyak diberitakan baik melalui media elektronik maupun media cetak. Berbicara tentang keberhasilan dalam melakukan penegahan, hal ini tentunya tidak terlepas dari upaya dan kerja keras dari unit pengawasan yang bekerja tanpa mengenal lelah. Tanpa ingin mengecilkan tugas dan fungsi unit lainnya di DJBC yang memang masing-masing unit tersebut memiliki tugas dan fungsi yang juga sangat penting, pada unit pengawasan memang memiliki keunikan dan karateristik tersendiri dalam menjalankan tugasnya. Untuk menjalankan tugas dengan baik, maka di unit pengawasan terdapat dua subdit yang sebenarnya menjadi ujung tombak dalam keberhasilan tegahan selama ini. Berbicara soal pengawasan, tentunya tidak terlepas dari pengolahan informasi yang akurat dan tepat terhadap upaya-upaya penyelundupWARTA BEA CUKAI

MERUPAKAN UJUNG TOMBAK UNIT PENGAWASAN DJBC
Secara alamiah tanggung jawab dan lingkup kerja intelijen berlandaskan pada manajemen risiko yang tidak semata-mata berfungsi sebagai penopang kegiatan taktis, tetapi menjadi suatu unit yang dapat menyajikan produk intelijen untuk kepentingan strategis organisasi di masa mendatang.
an. Pengolahan informasi tersebut saat ini dijalankan oleh kedua subdit tersebut, sehingga kalau dikatakan sebagai ujung tombak, memang benar juga karena dengan informasi tersebut unit lain di unit pengawasan dapat melakukan tugasnya dengan mudah dan baik. Kedua subdit tersebut adalah Subdit Intelijen dan Subdit Pengawasan Barang Larangan dan Pembatasan (PBLP) yang keduanya kini setelah dilakukan reorganisasi menjadi satu unit. Lalu kenapa kedua
DOK. WBC

subdit ini digabungkan, bagaimana dengan kinerja kedua subdit ini?

KINERJA PBLP
Secara teknis sebenarnya kedua subdit ini memiliki kesamaan dalam tugasnya, yaitu pengolahan data. Oleh sebab itu tugas dan fungsi Subdit PBLP saat ini pada hakekatnya memiliki unsur/sifat pengumpulan dan analisa informasi/data sebagaimana yang dilakukan oleh Subdit Intelijen dan unsur/sifat operasional yang dilaksanakan oleh Subdit Pencegahan. Untuk menghindari tumpang tindih dan sekaligus mengoptimalkan tugas dan fungsi yang diemban Subdit PBLP tersebut, maka Subdit PBLP direposisi ke Subdit Intelijen dan Penindakan, yang tentu saja dengan konsekuensi akan ada penambahan jumlah pejabat dibawahnya. Menurut Kepala Sub Direktorat Intelijen, Drs. Nasar Salim, MSi Subdit PBLP mempunyai tugas melaksanakan penyiapan penyusunan perumusan kebijakan dan standarisasi teknis, evaluasi dan bimbingan serta pemantauan dan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi teknis pencegahan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai di bidang barang larangan dan pembatasan. Dengan tugas tersebut, maka PBLP memiliki tiga fungsi yang harus dijalankan, pertama, menyiapkan bahan penyusunan perumusan dan standarisasi teknis, evaluasi dan bimbingan serta pemantauan pelaksanaan dan standarisasi teknis

DRS. NASAR SALIM, MSI. Selama ini peran dan fungsi intelijen hanya dipandang sebagai unit penangkap.

54

EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. WBC

pencegahan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang narkotika dan psikotropika, serta pelaksanaan urusan perencanaan, pengadaan dan pengelolaan sarana operasi narkotika dan psikotropika. Kedua, menyiapkan bahan penyusunan perumusan dan standarisasi teknis, evaluasi dan bimbingan serta pemantauan pelaksanaan dan standarisasi teknis pencegahan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang benda bernilai budaya dan sejarah, flora dan fauna yang dilindungi, limbah dan bahan berbahaya dan beracun serta barang atau bahan lainnya yang berbahaya atau merusak kesehatan atau lingkungan hidup. Dan ketiga, menyiapkan bahan penyusunan perumusan dan standarisasi teknis, evaluasi dan bimbingan serta pemantauan pelaksanaan dan standarisasi teknis pencegahan dan penindakan pelanggaran perundang-undangan di bidang barang hasil hak atas kekayaan intelektual, uang dan surat berharga palsu, senjata api, film, rekaman gambar dan barang fornografi, buku atau barang cetakan, barang larangan atau pembatasan lainnya. “Dengan kesamaan tugas dan fungsi Subdit PBLP tersebut, maka kinerjanya menjadi kurang efektif, karena tugas dan fungsi Subdit PBLP saat ini lebih dititikberatkan pada pengumpulan dan analisa informasi/ data komoditi impor/ekspor sebagaimana halnya yang dilaksanakan oleh Subdit Intelijen. Pengumpulan dan updating peraturan barang larangan dan pembatasan, serta rapat koordinasi dengan instansi terkait mengenai penanganan impor/ ekspor barang larangan dan pembatasan, sementara pada tahap tataran implementasi, dan pengawasan di lapangan, Subdit PBLP tidak dapat melaksanakannya,” jelas Nasar. S Lebih lanjut dijelaskan oleh Nasar. S, khusus untuk handler dan anjing pelacak narkotika, unit ini juga akan digabungkan ke Subdit Penindakan, sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat lebih efektif. Untuk anjing pelacak narkotika (APN) hingga saat ini yang dimiliki oleh DJBC dan masih aktif berjumlah 29 ekor, namun demikian jumlah tersebut dirasakan masih kurang memadai dan efektif jika dibandingkan dengan pintu-pintu masuk barang dan orang di seluruh wilayah Indonesia. Namun demikian DJBC juga berusaha semaksimal mungkin dengan cara melakukan targeting berdasarkan indikator resiko tertinggi, seperti pada jam-jam sibuk, pelabuhan dengan kegiatan tertinggi dan sebagainya.

LARANGAN PEMBATASAN. Hasil tegahan barang larangan pembatasan seperti narkotika, umumnya berdasarkan hasil informasi unit intelijen dan PBLP.

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui kalau kegiatan unit APN bukan hanya pada bandara saja, memang fokus utama terletak pada bandara internasional, akan tetapi pelabuhan juga menjadi targeting dengan skala yang lebih kecil, misalnya jika ada informasi dan hasil intelijen atau permintaan dari kantor setempat. “Saat ini DJBC memiliki 29 APN yang operasional, dengan dua kriteria, yaitu aggressive response dan passive response yang ditempatkan di kota-kota besar seperti, Medan, Batam, Jakarta, Surabaya, dan Bali. Dari ke-29 APN, saat ini juga tengah dilakukan pengadaan lagi sebanyak 17 ekor dari Australia dengan jenis Labrador Retriever yang umurnya antara 10 bulan hingga 24 bulan, anjing pelacak ini nantinya akan dilatih menjadi anjing pelacak narkotika, dan kemungkinan besar dilatih menjadi anjing pelacak narkotika aggressive response dan multi response, sehingga diharapkan akan dapat menambah kekuatan tim anjing pelacak narkotika DJBC,” ujar Nasar. S.

KINERJA INTELIJEN
Lalu bagaimana dengan kinerja dari Subdit Intelijen itu sendiri? Menurut Nasar, pada prinsipnya subdit intelijen DJBC tidak banyak berbeda dengan

Customs Intelligence negara-negara lain. Secara alamiah tanggung jawab dan lingkup kerja intelijen berlandaskan pada manajemen risiko yang tidak semata-mata berfungsi sebagai penopang kegiatan taktis, tetapi menjadi suatu unit yang dapat menyajikan produk intelijen untuk kepentingan strategis organisasi di masa mendatang. “Bertolak dari perspektif enforcement, intelijen adalah sebuah produk yang proaktif yang langsung terkait perencanaan, tanpa mengindahkan tingkat manajemen, yang masingmasing dilayani sebagai user (client). Dengan demikian tidak akan ada pertentangan atau kompetisi antara strategic intelligence maupun tactical intelligence, tetapi justru saling melengkapi pada tingkatan yang berbeda dalam suatu organisasi,” ujar Nasar. S. Dari penjelasan tersebut dapatlah diartikan bahwa, setiap tipikal aparat penegak hukum, sangatlah muskil berargumen bahwa perannya tidak bergantung (independent) pada pihak lain, selalu saja melibatkan komunikasi dan informasi. Intelijen adalah suatu keharusan bagi setiap organisasi yang mengaku mengadopsi dan mengimplementasikan risk management, termasuk DJBC. Maka, intelijen perlu ruang lingkup yang lebih
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

55

PENGAWASAN
WBC/ATS

KEMAMPUAN SDM. Pengembangan intelijen strategis menuntut adanya sumber daya dan sumber dana. .

luas lagi dari pada sekedar untuk kepentingan taktis. Sehingga dalam implementasinya, tanpa mengindahkan tingkatannya, proses intelijen yang dilakukan oleh Subdit Intelijen melibatkan sebuah proses yang sering didefinisikan sebagai intelligence cycle atau siklus intelijen. Ada sembilan langkah esensial dalam sebuah proses atau siklus intelijen, mulai dari perencanaan dan penugasan, pengumpulan informasi, evaluasi, kollasi atau penggabungan, analisa, pelaporan, penyebaran dan review. Dari sembilan tahap tersebut, tentu tidak semua tahapan siklus intelijen tersebut telah dilakukan secara sempurna, masih banyak prasyarat yang perlu dikembangkan untuk tercapainya kondisi ideal dari unit intelijen ini. Kalau penugasan intelijen sifatnya taktis, biasanya produk intelijennya dalam bentuk nota hasil intelijen (NHI) atau rekomendasi. Namun dalam kerangka intelijen strategis, produk yang dihasilkan adalah berupa kajian atau rekomendasi atas sistem, prosedur, sarana maupun prasarana yang sifatnya jangka panjang dan nationwide. “Subdit Intelijen juga mempunyai fungsi penyiapan bahan penyusunan perumusan dan standarisasi teknis, evaluasi dan bimbingan serta pemantauan pelaksanaan dan standarisasi teknis pengelolaan database intelijen dan dokumentasi pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan, cukai dan ketentuan perundang-undangan lainnya. Tugas tersebut cukup penting, karena menyangkut dengan profiling importir yang terkait langsung dengan sistem 56
WARTA BEA CUKAI

penjaluran (channeling system) pada sistem aplikasi prosedur impor,” tutur Nasar. S. Lebih lanjut Nasar. S menjelaskan, ke depannya nanti profiling ini coverage akan lebih luas lagi, assessment-nya tidak hanya importir tetapi perusahaan (company profile), apakah importir, eksportir, PPJK, pengusaha BKC, pengusaha tempat penimbunan berikat. Profiling berdasarkan perusahaan akan memudahkan petugas intelijen dalam melakukan analisa intelijen, karena semua data yang terkait dengan sebuah perusahaan dapat di browsing.

IT UNTUK MENDUKUNG KINERJA INTELIJEN
Akan mekanisme yang telah dan akan dijalankan tersebut, tentunya juga dibutuhkan suatu mekanime sistem teknologi informasi yang akurat dan tepat. Terkait dengan teknologi informasi ini, pada Subdit Intelijen tidak bisa disebutkan sistem yang ada telah berjalan dengan sempurna, walaupun secara sadar diakui telah banyak progress yang telah dibuat. Memang idealnya perlu pengembangan sistem intelijen yang berbasis teknologi informasi dan dikemas dalam fitur intelijen yang efektif dengan tahapan ideal (intelligence cycle) yaitu penugasan intelijen (intelligence tasking), perencanaan (planning), koleksi (collection), evaluasi (evaluation), kollasi (collation), analisa (anaysis), pelaporan (reporting), penyebaran (dissemination) dan review. Sehingga dengan sistem intelijen yang berbasis teknologi informasi, atau yang dikenal dengan Customs Intelligence Database System (CIS), akan

sangat diperlukan untuk menghasilkan sebuah produk intelijen yang efektif, intelijen yang mendukung pembuatan keputusan yang ditandai oleh tiga fitur: berawal dengan tujuan dan pembatasan penugasan yang jelas, diserahkan tepat waktu, dan memungkinkan pembuat keputusan untuk proaktif. Untuk tujuan dengan pembatasan yang jelas, masalah pertama untuk analis intelijen adalah mempertimbangkan, mendefinisikan tugas intelijen dengan sejelas-jelasnya dan dipahami oleh mereka semua yang terlibat dalam proses tersebut. Ini termasuk analis, klien manager (yang sering namun tidak selalu klien) dan pihak yang berkepentingan lainnya. Pengumpulan dan pemrosesan informasi tanpa sasaran yang jelas akan sering menjadi penggunaan sumber daya yang sia-sia. Untuk intelijen diserahkan tepat waktu, karena produk intelijen mendukung pembuatan keputusan, hal tersebut harus didistribusikan kepada klien tepat waktu. Kedalaman analisa akan tergantung pada kerangka waktu dalam mana kajian diminta. Untuk memungkinkan pembuatan keputusan proaktif, produk intelijen paling berharga ketika mereka memungkinkan klien untuk mempersiapkan kejadian di masa depan, dari pada melakukan reaksi atau memberi tanggapan terhadap kejadian yang telah berlangsung. Ini berarti produk intelijen harus berisi unsur prakiraan. Peran analis intelijen melampauai fakta yang telah diketahui, disini termasuk membicarakan kemungkinankemungkinan di masa depan. “Faktor lingkungan internal, khususnya berkaitan dengan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai merupakan determinan penting, seperti sistem aplikasi pelayanan impor, sistem aplikasi pelayanan ekspor , sistem pelayanan pemesanan pita cukai secara elektronik, dan Customs Executive Information System,” kata Nasar. S. Dengan teknologi yang dimiliki oleh Subdit Intelijen saat ini, tentunya juga masih membutuhkan koordinasi dengan unit lainnya yang ada di Direktorat P2. Menurut Nasar, sejauh ini koordinasi antar subdit sangat baik, Subdit Intelijen tidak bisa bekerja sendirian, pada level penugasan manapun. Di level intelijen taktis, misalnya hasil analisa intelijen di tindaklanjuti dengan produk NHI atau disampaikan ke Subdit Penindakan untuk dilakukan upaya penegahan dan penindakan. Dalam hal hasil penindakan mengindikasikan adanya tindak pidana di bidang kepabeanan atau cukai, kasusnya akan diserahkan kepada Subdit Penyidikan atau dibuat terang perkaranya. Sehingga semua saling terkait, satu

EDISI 386 JANUARI 2007

dengan lainnya. Demikian juga Subdit Sarana Operasi, merupakan supporting unit demi lancarnya pelaksanaan tugas Direktorat P2.

HAMBATAN DAN KENDALA
Jika sistem yang dimiliki telah memadai dan berjalan walau belum sempurna, hal tersebut bukan berarti Subdit Intelijen tidak memiliki hambatan dalam pelaksanaan tugasnya. Ada beberapa kendala yang saat ini dihadapi oleh Subdit Intelijen yang kedepan harus segera dipikirkan secara lebih bijak. Pertama, menyangkut pendanaan (the cost of intelligence), intelijen tidak dapat diciptakan tanpa biaya. Perlu dipertimbangkan konteks segala bentuk biaya yang timbul sebagai akibat aktivitas intelijen. Fakta yang nyata adalah biaya yang timbul sebagai konsekuensi logis pengumpulan dan pengolahan data dan informasi. Bagaimana juga, pendanaan dalam pekerjaan intelijen mempunyai cakupan yang luas, yang dibentuk setidaknya oleh beberapa komponen, diantaranya : Biaya yang dapat diukur, seperti SDM, pendidikan dan pelatihan pengembangan sistem, pembelian peralatan, biaya-biaya administratif, waktu, biaya terkait mekanisme pengumpulan data dan informasi, serta biaya diseminasi dan pelaporan produk intelijen. Biaya-biaya lain terkait pengaruh perubahan prioritas, seperti ekspektasi yang tidak dapat dipenuhi dan kemungkinan rasa frustasi. “Dalam kaca mata umum, keberadaan unit intelijen seolah-olah merupa-

kan aktivitas ekonomi tinggi, yang ditekankan pada pengumpulan data, data base, dan komunikasi. Dengan demikian menjadi semakin jelas pekerjaan intelijen,” kata Nasar.S. Kendala lain yang juga tengah dihadapi oleh Subdit Intelijen adalah, pengembangan intelijen strategis menuntut adanya sumber daya dan sumber dana. Data yang sudah terkumpul oleh agen pengumpul haruslah disimpan dalam media penyimpanan data (data storage) baik secara manual maupun secara elektronik untuk suatu priode tertentu dan pada saat diperlukan, data-data ini akan dipanggil kembali (retrieve), aktivitas-aktivitas semacam ini memerlukan biaya. Memproduksi sebuah intelijen strategis tidaklah pernah merupakan sebuah pekerjaan mudah dan sederhana. Prasyarat untuk sebuah assessment untuk mendefinisikan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh organisasi membutuhkan waktu yang lama, konsisten dan berpandangan secara objektif. Seleksi tenaga analis yang mumpuni, pengumpulan data dan perencanaan yang matang untuk setiap kali melakukan penilaian (assessment) adalah komponen yang sangat penting dalam sebuah proses intelijen, masing-masing menimbulkan dampak biaya intrinsik. Selain itu, terkait dengan SDM, siklus aktivitas intelijen menuntut adanya perangkat sistem dan pemenuhan kebutuhan kemampuan dan teknis. Hal ini yang melatarbelakangi perlunya seleksi personil yang melakukan tugas. Fungsi intelijen seringkali lebih sulit dari
DOK. WBC

HANDLER DAN ANJING PELACAK. Keberadannya sangat diperlukan untuk membatu unit lain dalam melakukan penegahan.

yang diperkirakan dan tentunya bukanlah hal yang mudah sebagaimana yang diharapkan. Perlu ditekankan bahwa, program pelatihan dan pengembangan analis intelijen yang telah ada, harus dibangun secara terstruktur mulai intelijen taktis sampai akhirnya intelijen strategis. Doktrin yang selalu dipegang teguh dalam pelatihan analis intelijen adalah, sedinamis apapun siklus pelatihan dan pengembangan personil, diperlukan adanya penyegaran (refreshment) dan kesempatan untuk menimba skill dan teknik-teknik baru. “Suksesnya strategi seleksi dan pelatihan intelijen memerlukan pemetaan yang jelas tentang tipe pekerjaan secara rinci dan menempatkan analis secara tepat sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, teknik dan sarana yang tersedia untuk melakukan pekerjaan yang dibebankan. Pada sisi lain, rotasi staf unit intelijen secara berlebihan tanpa alasan yang logis akan menghalangi suksesnya penugasan yang dibebankan kepada unit intelijen, sekalipun tampaknya seolah-olah merupakan ketidakmampuan unit intelijen untuk memanifestasikan potensi secara penuh,” jelas Nasar. S. Selain itu Nasar S. menambahkan, esensi dan pekerjaan intelijen adalah kemampuan untuk mengolah beragam data, terkait dengan permasalahan yang telah didefinisikan semua untuk mendiskripsikan kemungkinan apa yang akan terjadi dan bagaimana dampak serta penanganannya. Kendala lain yang juga dihadapi oleh Subdit Intelijen saat ini adalah, terkait konsep pemikiran yang kurang komprehensif tentang intelijen. Selama ini, peran dan fungsi intelijen hanya dipandang sebagai “unit penangkap”, artinya hanya berkutat pada tactical intelligence, sehingga penilaian performanya lebih dititikberatkan pada data tangkapan atau kasus. Pandangan semacam ini, akan secara moril menggerogoti semangat untuk melaksanakan atau menambah porsi aktivitas strategic intelligence. “Opini semacam ini mengedepankan intelijen hanya dipandang sebagai unit taktis, sedangkan “planning” dipandang sebagai bagian terpisah yang berada diluar lingkup intelijen. Faktanya, sampai saat ini intelijen sudah menjadi alat yang sangat berguna dalam penyelenggaraan kegiatan operasional, taktis dan dalam pengambilan keputusan (decision making). Aura kesalahan yang mendasar juga adalah berpandangan bahwa pada level strategis implementasi dari kegiatan intelijen (intelligence practice) ditujukan untuk menguji atau menilai kelompok serta gradasi risiko dan peluang,” tandas Nasar .S. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

57

PENGAWASAN

DUA KASUS PELANGGARAN KEPABEANAN DIUNGKAP BEA DAN CUKAI
Modus baru yang disebut cloning, dicoba untuk mengelabui petugas
WBC/ATS

GYPSUM. Yang dimasukkan kedalam kontainer yang di cloning untuk mengelabui petugas

D

ua kasus pelanggaran dibidang kepabeanan berhasil diungkap petugas bea dan cukai. Hal tersebut disampaikan Kasubdit Intelijen Nasar Salim kepada pers di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (KPDJBC) Jakarta, 8 Desember 2006. Pada kasus pertama yang berhasil diungkap pada 6 Desember 2006, para pelaku yang diotaki FM dan NS mengeluarkan barang impor secara ilegal dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta sebanyak dua kontainer yang berisi tekstil. Penegahan dua kontainer garmen ini menurut Nasar, didasari pada serangkaian operasi intelijen yang dimulai dari adanya informasi pengeluaran barang berupa tekstil dengan menggunakan SPPB palsu. Atas informasi tersebut, petugas bea cukai langsung melakukan pengumpulan informasi dan penilaian terhadap akurasi informasi yang mengarah pada kesimpulan dugaan pengeluaran barang impor secara ilegal dengan modus cloning Untuk mengelabui petugas, kedua kontainer tekstil ilegal itu dipindah lokasikan ke gudang milik PT.Lautan Tirta untuk dilakukan pemeriksaan fisik. Namun dalam perjalannya lanjut Nasar, kedua kontainer tersebut dibawa ke guWARTA BEA CUKAI

dang TTJ di kawasan Cakung-Cilincing. Pada saat penegahan berlangsung di gudang tersebut, pelaku sempat mengeluarkan isi kontainer dengan menggunakan 12 truk kecil dan masih tersisa 15 balles garmen. Untuk memuluskan usaha tersebut pelaku telah menyiapkan kontainer hasil cloning dengan nomor dan warna yang sama dengan kontainer yang ditegah tadi, yang berdasarkan hasil pemeriksaan berisi gypsum. Sementara kerugian negara dari Bea Masuk (BM) dan pajak yang ditimbulkan akibat kegiatan tersebut menurut Nasar, mencapai Rp.5,1 Milyar dengan nilai barang diperkirakan sebesar Rp.30,5 Milyar. Sedangkan pasal yang dijerat kepada para pelaku yaitu pasal 102 d dimana pelaku dapat dipidana paling sedikit satu tahun dan paling lama 5 tahun dan denda paling sedikit Rp.10 juta dan paling banyak Rp.1 Milyar.

(KITE) oleh beberapa perusahaan produsen. Lebih lanjut mengenai kasus ini, Nasar menyampaikan penegahan barang impor berupa tekstil dan produk tekstil (TPT) bermula dari analisa terhadap keluhan produsen dan pemberitahuan yang mengindikasikan maraknya perdagangan tekstil dan garmen (diluar kewajaran.red) di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat. Barang-barang yang ditegah tersebut masih menurutnya, diduga berasal dari barang yang diimpor dengan menggunakan fasilitas kepabeanan baik dengan penangguhan atau pengembalian BM, atas importasi bahan baku untuk di ekspor dengan fasilitas penangguhan dan pengembalian. “Seharusnya diolah dulu yang kemudian diekspor, diduga pelanggaran sejenis semakin jamak dilakukan oleh perushaan penerima fasilitas dan diduga langsung dijual ke pasar,”papar Nasar. Ia kembali menambahkan, investigasi awal diperoleh fakta, pemilik barang berupa tekstil dan garment adalah PT. GT , PT. SP yang berkedudukan di Bandung, dan PT DL yang berkedudukan di Solo yang menerima fasilitas Kawasan Berikat (KB). Sementara PT. KH dan PT DW yang berkedudukan di Bandung selaku perusahaan penerima fasilitas KITE. Saat ini lanjut Nasar, pihaknya masih melakukan investigasi secara mendalam untuk mendapatkan bukti-bukti adanya pelanggaran atau tidak. Barang bukti sebanyak 10 truk berupa tekstil dan garmen yang ditegah tersebut di tahan di KP-DJBC, dan berdasarkan pasal 26 (4) Undang-Undang nomor 17 tahun 2006, orang yang terlibat dalam kegiatan ilegal tersebut wajib membayar BM yang terutang dan dikenai sanksi administrasi paling sedikit 100 persen dari BM yang seharusnya dibayar, dan paling banyak 500 persen dari BM yang seharusnya dibayar. zap
WBC/ATS

PENYALAHGUNAAN FASILITAS
Masih dalam kesempatan yang sama, petugas bea dan cukai juga menegah produk tekstil yang diduga berasal dari impor dengan fasilitas kawasan berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Impor
TPT. Truk yang Berisi TPT ilegal yang menyalahi prosedur yang berhasil ditegah di Pasar Tanah Abang

58

EDISI 386 JANUARI 2007

OPINI

Oleh: Sutardi

IMPOR DAN IMPOR
(Bagian II) KURANG SOSIALISASI TERMINOLOGI IMPOR UNTUK DIPAKAI
erus terang memang sangat kurang atau boleh dibilang hampir tidak pernah sosialisasi maupun penjelasan khusus masalah Impor untuk dipakai dalam arti sebenarnya. Hal ini dapat dimengerti karena dalam mind set pejabat Bea Cukai andaikata mereka membahas masalah impor yang dipikirkan adalah impor dalam arti impor untuk dipakai, meskipun sadar atau tidak instansi lain menafsirkan sebagai impor sebagaimana dimaksud pada butir 13 ayat 1 Undang-Undang Nomor 10/ 1995, sehingga setelah ada dispute atau protes disadari bahwa yang dimaksud pejabat tadi adalah diimpor untuk dipakai bukan sekedar diimpor sebagaimana dimaksud pada butir 13 ayat 1 Undang-Undang Nomor 10/ 1995 tersebut. Pada bagian pertama dari tulisan ini (WBC edisi 385 Desember 2006) telah kami jelaskan bahwa, ”Bagi negaranegara yang mempunyai perbatasan darat dengan negara-negara tetangganya, pengawasan lalu lintas barang yang akan keluar daerah pabean tidaklah sulit karena pengawasan dapat dilakukan di daerah perbatasan dengan cara membangun Kantor-kantor Pabean di Entry Point (Pos Lintas Batas)”, sehingga pengertian impor dan impor untuk dipakai dapat diimplementasikan bersama-sama, karena begitu barang melalui perbatasan negara (masuk ke dalam daerah pabean, hampir pada saat yang bersamaan barang tersebut diimpor untuk dipakai, kecuali barang tersebut ditujukan untuk ditimbun/ diproses di Tempat Penimbunan Berikat). Lihat gambar 1. Barang yang belum diimpor untuk dipakai belum subyek pada BM dan PDRI. Adapun contoh barang yang belum/tidak diimpor untuk dipakai adalah antara lain terhadap barang-

UNTUK DIPAKAI (IUD)
barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Ayat (7) huruf b s/d f UndangUndang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah kita bahas tadi. Jadi jelas bahwa barang yang tidak diimpor untuk dipakai, terhadap barang tersebut tidak dipungut Bea Masuk, demikian juga barang yang belum diimpor untuk dipakai, terhadap barang tersebut belum dipungut Bea Masuk dan tentu saja dengan PDRI-nya, karena PDRI dipungut oleh petugas Bea Cukai bersama-sama dengan Bea Masuk. Barang-barang yang berasal dari luar daerah pabean yang masih berada pada zona berwarna putih pada gambar 1 dan zona berwarna abu-abu pada gambar 2 merupakan barang yang belum diimpor untuk dipakai belum subyek pada BM dan PDRI, demikian pula segala kegiatan yang dilakukan pada zona tersebut semuanya belum subyek pada pungutan bea masuk dan pajak, pada zona kawaan tersebut Kyoto Convention mendefinisikannya sebagai Free Zone (daerah bebas). Lihat Kyoto Convention Specific Annex Chapter 2 E1/F1 Free Zones yang menyatakan bahwa :
GAMBAR 1

T

”Free Zone” means a part of the territory of the contracting party where any goods introduced are generally regarded, insofar as import duties and taxes are concerned, as being outside the Customs territory. ( “Kawasan Bebas” adalah suatu bagian dari daerah Contracting Party dimana setiap barang yang dibawa masuk kedalamnya, sepanjang menyangkut bea masuk dan pajak, pada umumnya dianggap sebagai berada di luar daerah pabean). Dalam free zone tersebut belum dilakukan pemungutan bea masuk dan pajak, bahkan dalam praktek kepabeanan internasional (intenational best customs practices), belum juga diberlakukan trade regulations. Apabila dilihat pada gambar 2 nampak bahwa barang yang dibawa dari luar daerah pabean yang dibawa ke TPS kemudian dari TPS dibawa ke TPB merupakan barang yang belum diimpor untuk dipakai dan barangbarang tersebut masih berada dibawah pengawasan pabean, sejak barang tersebut melewati batas daerah pabean, ditimbun ke TPS diangkut ke

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

59

OPINI
TPB sampai barang barang barang tersebut di release dari TPS maupun TPB. Titik hitam (black dot) pada gambar 1 maupun gambar 2 merupakan titik pelepasan (releasing point) barang dari pengawasan pabean sehingga bea masuk dan pajak baru diberlakukan sejak barang tersebut direlease dari pengawasan pabean. Dalam gambar 2 nampak bahwa TPB (KB, GB, ETP maupun TBB) merupakan zona perpanjangan dari TPS. Kyoto Convention menyebut pengeluaran barang ke peredaran bebas (free circulation) sebagai clearance for home use atau penyelesaian untuk dipakai yang disyaratkan dengan membayar bea masuk dan pajak yang berlaku, dan menyelesaikan semua formalitas pabean yang diperlukan. Apabila dikaitkan dengan tulisan ini clearance for home use adalah saat me-release barang dari TPS maupun TPB melewati black dot sebagaimana di gambar 1 dan gambar 2. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3638) menganut prinsip yang direkomendasikan oleh Kyoto Convention tersebut.
GAMBAR 2

adalah terminologi impor sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 butir 13, akan tetapi aplikasinya harus diartikan sebagai diimpor untuk dipakai. Menurut Undang-undang UU No. 8 tahun 1983 tentang PPN dan PPn BM jo. UU No. 18 tahun 2000 dinyatakan bahwa PPN dan Ppn BM dipungut saat impor Barang Kena Pajak, dan pemungutannya dilakukan melalui DJBC. Ini harus diartikan bahwa terhadap barang tersebut dilakukan pemungutan PDRI pada waktu DJBC melakukan pemungutan atas barang impor tersebut, meskipun dalam banyak kasus, sebagaimana telah kami kemukakan dimuka, justru Bea Masuk yang dipungut adalah 0 %. Sedangkan atas PDRI tetap dilakukan pemungutan (Pemungutan PDRI dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan waktu pemungutan Bea Masuk), oleh karenanya PDRI dipungut pada saat BM dipungut yaitu pada saat barang diimpor untuk dipakai, dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, pada saat barang direlease dari pengawasan Bea Cukai (dikeluarkan dari TPS atau TPB) ke peredaran bebas atau secara teknis pabean diberi istilah Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL). Hal inilah yang hingga sekarang

Penimbunan Berikat (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3638); 3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 291/KMK.05/1997 Tanggal 26 Juni 1997 Tentang Kawasan Berikat, Sebagaimana telah diubah dan ditambah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 101/ KMK.05/2005 Tanggal 19 Oktober 2005; 4. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : 63/BC/ 1997 Tanggal 25 Juli Tentang Tata Cara Pendirian dan Pemasukan dan Pengeluaran ke dan dari Kawasan Berikat. B. Fasilitas di Kawasan Berikat. Sebelum kita bahas mengenai Fasilitas di Kawasan Berikat perlu kita ketahui definisi Tempat Penimbunan Berikat dan Kawasan Berikat sebagai berikut : Tempat Penimbunan Berikat adalah bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu di dalam Daerah Pabean yang digunakan untuk menimbun, mengolah, memamerkan, dan/atau menyediakan barang untuk dijual dengan mendapatkan perlakuan khusus di bidang Kepabeanan, Cukai, dan perpajakan yang dapat berbentuk Kawasan Berikat, Pergudangan Berikat, Entrepot untuk Tujuan Pameran, atau Toko Bebas Bea. Sedangkan definisi Kawasan Berikat adalah suatu bangunan, tempat, atau kawasan dengan batasbatas tertentu yang di dalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, dan pengepakan atas barang dan bahan asal impor atau barang dan bahan dari dalam Daerah Pabean Indonesia lainnya, yang hasilnya terutama untuk tujuan ekspor. Berdasarkan pasal 3 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 291/KMK.05/1997 Tentang Kawasan Berikat, perusahaan yang dapat diberikan persetujuan sebagai PKB adalah perusahaan : a. Dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN); b. Dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA), baik sebagian atau seluruh modal sahamnya dimiliki oleh peserta asing; c. Non PMA/PMDN yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT); d. Koperasi yang berbentuk badan hukum; atau e. Yayasan. Terhadap impor barang yang dimasukkan ke Tempat Penimbunan

Untuk lebih jelasnya berkenaan dengan pemungutan PDRI oleh DJBC lihat Penjelasan Pasal 4 huruf b, UU No. 8 tahun 1983 tentang PPN dan PPn BM jo. UU No. 18 tahun 2000 yang menyatakan Pajak juga dipungut saat impor Barang Kena Pajak. Pemungutan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai…..dst., sehingga menurut hemat penulis norma pemungutan pajak yang dilakukan aparat Bea Cukai dalam melakukan pungutan PDRI sama dengan norma pemungutan bea masuk dan pelaksanaannya pun dilakukan bersama-sama yaitu saat barang diimpor untuk dipakai, meskipun terminologi impor yang dipakai dalam UU No. 8 tahun 1983 tentang PPN dan PPn BM jo. UU No. 18 tahun 2000 60
WARTA BEA CUKAI

berlaku yaitu pengeluaran barang impor dari KB ke DPIL berlaku ketentuan umum di bidang impor yang secara yuridis formal diatur dalam PP 33 tahun 1996.

FASILITAS KAWASAN BERIKAT, IMPOR DAN IMPOR UNTUK DIPAKAI
A. Dasar Hukum mengenai Kawasan Berikat diatur dalam : 1. Pasal 44 sampai dengan pasal 47 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3612); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat

EDISI 386 JANUARI 2007

Berikat (Gudang Berikat; Kawasan Berikat; Toko Bebas Bea; dan Entrepot Tujuan Pameran), penyerahan Barang Kena Pajak dalam negeri, dan pemasukan Barang Kena Cukai yang berasal dari dalam Daerah Pabean Indonesia lainnya sepanjang bukan merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri, diatur dalam Pasal 2 PP33/ 1966 sebagai berikut : (1) Barang atau bahan impor yang dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat diberikan fasilitas berupa: a. penangguhan bea masuk; b. pembebasan cukai; c. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. (2) Atas penyerahan Barang Kena Pajak dalam negeri ke Tempat Penimbunan Berikat diberikan fasilitas berupa tidak dipungut PPN, dan PPn BM. (3) Atas pemasukan Barang Kena Cukai yang berasal dari dalam Daerah Pabean Indonesia lainnya dibebaskan dari pengenaan cukai. (4) Barang atau bahan yang mendapatkan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) bukan merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri di Tempat Penimbunan Berikat yang bersangkutan. Jadi jelas bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3638), pedoman yang dipakai untuk menentukan apakah penyerahan suatu Barang Kena Pajak dalam negeri ke Tempat Penimbunan Berikat diberikan fasilitas berupa tidak dipungut PPN, dan PPn BM atau tidak, adalah apakah barang tersebut merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri di Tempat Penimbunan Berikat yang bersangkutan atau tidak. Apabila Barang Kena Pajak dalam negeri yang dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat tersebut merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri, maka terhadap barang tersebut dipungut PPN, dan PPn BM. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa berdasarkan penafsiran a contrario maka terhadap barang yang bukan merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri, penyerahannya ke Tempat Penimbunan Berikat tidak dipungut PPN, dan PPn BM. Selanjutnya juga diatur tentang pemberian fasilitas terhadap impor barang, pemasukan Barang Kena Pajak (BKP), pengiriman hasil produksi, pengeluaran barang, penyerahan kembali BKP, peminjaman mesin, pemasukan

Barang Kena Cukai (BKC) ke dan/atau dari KB yaitu berdasarkan pasal 14 Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 291/KMK.05/1997 Tentang Kawasan Berikat. Adapun fasilitas yang diberikan tersebut adalah sebagai berikut : a. Atas impor barang modal atau peralatan dan peralatan perkantoran yang semata-mata dipakai oleh PKB termasuk PKB merangkap sebagai PDKB diberikan penangguhan Bea masuk (BM), tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 Impor. b. Atas impor barang modal dan peralatan pabrik yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi PDKB yang semata-mata dipakai di PDKB diberikan penangguhan BM, tidak dipungut PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22 Impor.

perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal, tidak dipungut PPN dan PPnBM. i. Atas pemasukan BKC dari DPIL ke PDKB untuk diolah lebih lanjut, diberikan pembebasan Cukai. j. Penyerahan barang hasil olahan produsen pengguna fasilitas Bapeksta Keuangan dari DPIL untuk diolah lebih lanjut oleh PDKB diberikan perlakuan perpajakan yang sama dengan perlakuan terhadap barang yang diekspor. k. Pengeluaran barang dari KB yang ditujukan kepada orang yang memperoleh fasilitas pembebasan atau penangguhan BM, Cukai dan Pajak dalam rangka impor, diberikan pembebasan BM, pembebasan Cukai, tidak dipungut PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22 Impor. Ada sedikit perbedaan parameter yang dipakai antara Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri Keuangan mengenai dalam hal bagaimana penyerahan suatu Barang Kena Pajak dalam negeri ke Tempat Penimbunan Berikat diberikan fasilitas berupa tidak dipungut PPN, dan PPn BM atau tidak. Sebagaimana telah kami jelaskan dimuka bahwa dalam PP dinyatakan bahwa apabila Barang Kena Pajak dalam negeri yang dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat tersebut merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri, maka terhadap barang tersebut dipungut PPN, dan PPn BM, dengan demikian berdasarkan penafsiran a contrario maka terhadap barang yang bukan merupakan barang untuk dikonsumsi sendiri, tidak dipungut PPN, dan PPn BM, sedangkan dalam KMK Nomor : 291/ KMK.05/1997 Tentang Kawasan Berikat dinyatakan bahwa : a. Atas pemasukan BKP dari DPIL ke PDKB untuk diolah lebih lanjut, tidak dipungut PPN dan PPnBM. b. Atas pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut, tidak dipungut PPN dan PPnBM. Dari cuplikan anak ayat KMK Nomor : 291/KMK.05/1997 Tentang Kawasan Berikat, yang kita tulis pada huruf a dan b paragraf diatas, berdasarkan penafsiran a contrario maka terhadap pemasukan BKP dari DPIL ke PDKB untuk tidak diolah lebih lanjut, dipungut PPN dan PPnBM, dan terhadap barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk tidak diolah lebih lanjut, dipungut PPN dan PPnBM. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan tersebut memang nampak adanya perbedaan sehingga memang sedikit membingungkan dalam pelaksanaannya. Tentu saja berdasarkan
WARTA BEA CUKAI

TERUS TERANG MEMANG SANGAT KURANG ATAU BOLEH DIBILANG HAMPIR TIDAK PERNAH SOSIALISASI MAUPUN PENJELASAN KHUSUS MASALAH IMPOR UNTUK DIPAKAI DALAM ARTI SEBENARNYA
c. Atas impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB diberikan penangguhan BM, pembebasan Cukai, tidak dipungut PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22 Impor. d. Atas pemasukan BKP dari DPIL ke PDKB untuk diolah lebih lanjut, tidak dipungut PPN dan PPnBM. e. Atas pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut, tidak dipungut PPN dan PPnBM. f. Atas pengeluaran barang dan/atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka sub-kontrak, tidak dipungut PPN dan PPnBM. g. Atas penyerahan kembali BKP hasil pekerjaan sub-kontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal, tidak dipungut PPN dan PPnBM. h. Atas peminjaman mesin dan/atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada

EDISI 386 JANUARI 2007

61

OPINI
prinsip Lex superiori derogat lex inferiori bahwa ketentuan yang lebih tinggi dapat menyampingkan ketentuan yang lebih rendah tingkatannya, namun sebaiknya hal ini dilakukan melalui amandemen dan dibahas antar Direktorat Jenderal dan bila perlu diundang pula instansi terkait sehingga bukan masalah rechtmatigheids saja tapi juga masalah doelmatigheids-nya juga, sehingga tercipta suatu iklim untuk berinvestasi yang baik dan juga tercapainya target penerimaan negara disektor bea masuk dan pajak. Apabila dikaji lebih mendalam tersirat bahwa fasilitas yang diberikan kepada Tempat Penimbunan Berikat dalam hal ini Kawasan Berikat adalah dikarenakan barang yang dimasukkan ke dalam lokasi Kawasan Berikat serta kegiatan pemindahan barang antar Kawasan Berikat, kendati telah diimpor sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir 13 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, akan tetapi masih merupakan barang dalam pengawasan Bea Cukai (Under Customs Control), yang belum dimanfaatkan di dalam daerah pabean (dalam negeri) dan barang tersebut masih dalam proses pengolahan. Dengan demikian, terhadap barang-barang tersebut belum wajib dilunasi Bea Masuk dan pungutan negara lainnya, karena barang-barang tersebut tidak/ belum diimpor untuk dipakai. Dalam Customs Modernization Handbook, pada Bab 10 yang berjudul Duty Relief And Exemption Control, Andrien Goorman pada halaman 217 mengatakan : The economic justification for relieving export producers of the payment of duties on imported inputs rest on the destination principle of taxation, under which no indirect taxes should be levied on goods that are not destined for domestic consumption. Jadi jelas apa yang dikatakan Andrien Goorman bahwa BM dan pajak tidak langsung tersebut baru dikenakan terhadap barang hasil produksi KB pada saat barang tersebut diimpor untuk dipakai (dikonsumsi/dimanfaatkan di dalam daerah pabean). Barang hasil produksi KB yang dipindahkan ke KB lain apapun alasannya tidak subject pada indirect taxes tersebut karena tidak ditujukan untuk konsumsi dalam negeri (yang dalam teknis kepabeanan disebut “diimpor untuk dipakai”). (Bersambung)

Oleh: Fauzan

POAC
K
ata orang, untuk menjalankan suatu usaha, ada baiknya bila kita menggunakan ilmu manajemen dengan benar. Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk memulai suatu usaha, dan yang paling sederhana adalah POAC. Sebelum melakukan POAC, perlu kita terlebih dahulu menentukan: Pertama, apakah usaha yang akan kita jalani bersifat profitable atau non-profitable. Bila usaha bersifat profitable, maka semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan usaha haruslah mengikuti kaidah teori ekonomi, yaitu harus bersifat efektif dan efisien. Apa itu ? Efektif, artinya tindakan kita harus tepat pada sasaran, tidak berbelitbelit atau berputar-putar untuk mencapai sasaran yang jelas di depan mata, dalam jangkauan kita. Janganlah untuk membunuh seekor nyamuk saja harus digunakan meriam yang dapat menghancurkan nyamuk itu berikut rumah yang dimasukinya, termasuk manusia yang dihisap darahnya. Efisien, artinya setiap tindakan kita tidak boros biaya, bahkan kalau perlu tanpa biaya dengan memanfaatkan segala sumber daya kita yang banyak menganggurnya itu. Jangan hamburkan uang untuk membeli peluru meriam, bila untuk membunuh nyamuk nakal itu cukup dengan cara menepukkan tangan saja. Bila usaha kita bersifat nonprofitable atau mungkin bersifat sosial, maka tindakan yang dibutuhkan cukup bersifat efektif saja. Dengan efektifitas, hasilnya akan tampak jelas dan akan memuaskan bagi para anggota organisasi. Artinya, kalau mau bekerja bakti di hari Minggu yang cerah bersama para tetangga merapikan tanah dan rumput lapangan bola di kampung, maka tentunya peralatan yang dibawa adalah alat pemotong rumput, bisa berupa mesin atau sabit, cangkul, keranjang sampah, yah seapes-apesnya cethok lah. Jangan membawa peralatan buldoser atau obeng untuk acara kerja bakti itu, mau pamer, merusak, atau mengorek kuping ? Jangan jadi bahan fitnah ah ! Bagaimana dengan efisiensi? Yah, bolehlah sedikit diperhatikan agar agak sinkron dengan efektifitas tadi. Tetapi kalau mau kerja bakti tadi, semakin banyak orang, semakin banyak makanan, minuman, dan rokok yang harus disediakan nooo.. problem. Biar keluar banyak biaya, yang penting, kumpul-kumpul sama tetangga, mempererat silaturrahim,

MARI BERMAIN

Penulis adalah Kasubdit Tempat Penimbunan
WARTA BEA CUKAI

JADI, KALAU SDM MELEMPEM DAN MANAJERNYA SENDIRI JUGA MEMBLE, YA GOOD BYE

62

EDISI 386 JANUARI 2007

tali persahabatan dan persaudaraan, syukur-syukur dapat menggaet simpati bapak itu agar diterima jadi mantunya. Kedua, apa dan bagaimana visi dan misi usaha yang akan kita dirikan ? Apakah visi ke depannya mau menjadikan usaha kita sebesar dan seprofesional IBM atau Microsoft ? Boleh-boleh saja, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit,” kata Bung Karno, walau kenyataan hasilnya hanya setinggi kawat jemuran di depan rumah. Bagaimana cara untuk mewujudkan tercapainya visi tersebut, bagaimana langkah tindakan kita dalam setiap periode tahapan yang perlu kita lalui ? Untuk itu, diperlukan misi strategis. Kalau mau profesional seperti IBM atau Microsoft, maka tentunya perlu rangkaian misi-misi yang bersinergi dan berkesinambungan, saling melengkapi, tidak dibuat secara acak-acakan tanpa pola, tumpang tindih persis sampah di Bantar Gebang. Lha wong mau tidur saja perlu mengatur strategi kok. Agar tidak digigit bangsat dan nyamuk pakai baygon, agar bisa mimpi indah bersama si dia baca mantera dari mbah dukun, dan sebagainya. Kok mau profesional nggak mau mikir dikit. Strategi usaha kita antara lain melalui POAC tadi, yaitu : a. P (Planning) atau perencanaan. Sebelum memulai usaha, kita bentuklah semacam tim kecil, Tim Perencanaan, sambil kongkowkongkow, merencanakan bidang usaha apa yang akan dijalani, visinya, misi awalnya, bentuk organisasinya, visi dan misinya, indikator kinerja dan parameternya, apakah perlu dilakukan R&D oleh konsultan, modal awal dari mana, dan banyak hal lainnya yang perlu dibahas oleh Tim Perencanaan tersebut. b. O (Organization) atau organisasi. Untuk merealisasikan perencanaan awal yang dibuat tadi, dibentuklah organisasi. Pertama, kita bentuk dulu unit organisasi inti. Misalnya kita bergerak di bidang produksi, unit apa yang perlu dibentuk lebih dulu ? Bila jaman dulu, sebelum banyak pesaing, unit produksi yang pertama dibentuk. Unit ini akan berusaha produksi sebanyak mungkin dengan berbagai cara, sesuai dengan jumlah kebutuhan (needs) konsumen. Tanpa ada pesaing, mau bengkok, mau jamuran, mau mbregidhil kek hasil produksi, masa bodoh, toh

konsumen mau nggak mau akan membelinya, karena butuh dan tidak ada barang substitusi maupun produk pesaing. Jaman sekarang beda, banyak pesaing Om !!! Konsumen sudah makmur dan pinter memilih. Oleh karena itu, sekarang, unit pemasaran yang maju pertama, meneliti apa sih keinginan (wants) konsumen atas kebutuhannya (needs) terhadap produk itu ? Berdasarkan hasil penelitiannya, unit Pemasaran melakukan perencanaan varian produk yang akan dibuat, mulai dari jenis, warna, fungsi, dan semua hal yang dapat ditonjolkan sebagai keunggulan produk tersebut terhadap pesaing, dimana daerah pemasarannya, kapan harus dipasarkan, berapa lama produk dapat dipasarkan dan kapan harus diganti dengan inovasi produk yang baru, sub-unit

JANGAN MEMBENTUK UNIT-UNIT YANG MEMILIKI TUGAS DAN FUNGSI HAMPIR MIRIP DAN TUMPANG TINDIH
pemasaran mana yang bertanggung jawab terhadap sirkulasi produk itu, apakah perlu dibentuk sub-unit pemasaran yang baru untuk menunjang keberhasilan pemasaran, berapa kebutuhan SDM, kualitas dan keahlian SDM, dan berbagai detil lainnya. Nah, untuk menunjang ide produk dan pemasarannya itu, dibentuk unit organisasi inti yang kedua, yaitu unit produksi. Unit ini bertanggung jawab untuk merealisasikan ide produk dari unit pemasaran ke dalam proses produksi. Unit produksi melakukan perencanaan, mau mesin yang bagaimana, berapa biaya, subunit baru apa perlu dibentuk, tempat produksi, lay out, SDM, dan sebagainya. Penting bagi unit produksi, bagaimana produksi dapat dibuat secara efektif dan efisien, sehingga dapat memenuhi jadwal pemasarannya. Meski saat ini harga hampir tidak lagi menjadi kendala bagi konsumen, namun efisiensi biaya sangat menunjang profit organisasi, yang ujung-ujungnya juga akan menjadi sumber kesejahteraan anggota. Kedua, setelah unit pemasaran

dan produksi terbentuk, maka masih perlukah adanya unit lain yang bersifat menunjang kegiatan kedua unit inti ? Mungkin, seperti unit-unit : 1. Umum atau Administrasi atau Kepegawaian, yang merupakan kolektor dan distributor administrasi surat masuk dan keluar, melayani kebutuhan pengadaan peralatan, sarana, dan bahan baku untuk produksi, pemasaran, melayani kebutuhan pengadaan SDM dan berbagai pelayanan kepada unit-unit dalam organisasi 2. Unit Keuangan, yang mengelola keuangan organisasi, bagaimana menjaga cash flow, melakukan penagihan piutang, pembayaran utang, membuat Laporan Keuangan, menghitung kalkulasi harga jual produk, likuiditas-rentabilitas, sumber keuangan organisasi, dan lainnya. 3. Unit Audit Intern, yang melakukan pengawasan intern terhadap kinerja semua unit organisasi, apakah sudah sesuai dengan perencanaan, prosedur kerja, berdasarkan indikator dan parameter yang telah dibuat sebelumnya. Penilaian kinerja dari unit Audit Intern dapat dijadikan referensi bagi pimpinan organisasi, dalam rangka rewards atau punishment. 4. Unit Hukum, yang menyediakan bantuan hukum bagi unit pemasaran dalam masalah peraturan perundangundangan hak cipta, monopoli, oligopoli, persaingan usaha, tenaga kerja, dan sebagainya. Dalam hal ada masalah yang berkaitan dengan pemalsuan produk oleh pesaing misalnya, Unit Hukum bekerja sama dan meminta pendapat unit Pemasaran atau Produksi untuk memastikan apa ada pemalsuan atau penjiplakan produk, sebelum melakukan tuntutan hukum. 5. Unit-unit organisasi penunjang lainnya, yang mungkin dipandang perlu bagi organisasi. Kesemua unit organisasi ini, pada dasarnya dibentuk untuk saling menunjang, membentuk sinergi, dengan ujung tombaknya adalah unit Pemasaran. Dalam beberapa literatur, semua unit-unit organisasi digambarkan setara tingkatannya, ini hanya untuk menunjukkan tingkat level jabatan saja, tetapi secara operasional, gambar struktur organisasi adalah sebagaimana gambar berikut ini :
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

63

OPINI

STRUKTUR OPERASIONAL ORGANISASI

Dalam membentuk organisasi perlu diingat, jangan membentuk unit-unit yang memiliki tugas dan fungsi hampir mirip dan tumpang tindih. Sebuah pabrik mobil mempekerjakan beberapa montir spesialis 1 bagian belakang, spesialis 2 bagian kanan, spesialis 3 bagian depan, dan spesialis 4 bagian kiri mobil. Untuk mengetahui kebutuhan persediaan ban mobil yang akan diproduksi, kepala pabrik memerintahkan para montir sesuai dengan bidang spesialisasinya menghitung kebutuhan ban tersebut. Spesialis 1 menghitung ada 2 ban sebelah belakang dan berdasarkan ingatannya ada sebuah ban serep yang dibutuhkan. Spesialis 2 menghitung ada 2 ban sebelah kanan dan berdasarkan ingatannya ada sebuah ban serep yang dibutuhkan. Spesialis 3 menghitung ada 2 ban sebelah depan dan berdasarkan ingatannya ada sebuah ban serep yang dibutuhkan. Spesialis 4 menghitung ada 2 ban sebelah kiri dan berdasarkan ingatannya ada sebuah ban serep yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian para montir spesialis, kepala pabrik atas dasar kepercayaan terhadap keahlian montir spesialis menetapkan ada kesamaan kebutuhan ban serep sebanyak 1 buah, ditambah kebutuhan akan 2 64
WARTA BEA CUKAI

ban belakang, 2 ban kanan, 2 ban depan, dan 2 ban kiri, maka kebutuhan ban untuk masingmasing mobil adalah sebanyak 9 buah. Apa ya demikian ? c. Actuating (Penggerakan) Penggerakan ini senantiasa harus dilakukan oleh pimpinan unit terhadap bawahannya, dan senantiasa memberikan motivasi agar mau bekerja, bersama-sama dalam satu tim, untuk mencapai tujuan organisasi. Tidak semua SDM memiliki motivasi dan semangat kerja yang setara. Ilmu manajemen memanfaatkan kinerja orang lain untuk secara sinergi mencapai tujuan bersama. Jadi, kalau SDM melempem dan manajernya sendiri juga memble, ya good bye. d. Controlling (Pengawasan) Fungsi pengawasan secara intern fungsi dan tugas unit, dilakukan oleh masing-masing pimpinan unit untuk setiap tugas kerja yang diberikan kepada bawahan maupun kepada sub-unit di bawahnya. Khusus untuk unit Pemasaran yang banyak berkecimpung di luar organisasi, ada tambahan pengawasan ekstern terhadap kemungkinan pemalsuan produk oleh maupun pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pesaing. Dalam

masalah hukum, unit Pemasaran dapat meminta bantuan dari unit Hukum. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa : 1. Tim Perencanaan hanya dibentuk pada awal dimulainya suatu usaha, dan setelah organisasi dengan unit-unit organisasi terbentuk, maka selanjutnya tim tersebut dibubarkan. 2. POAC merupakan fungsi tugas dari semua pimpinan, dari pimpinan puncak (ketua organisasi) sampai ke pimpinan terendah (supervisor), tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi tugas tersendiri dari unitunit organisasi tertentu, misalnya Planning merupakan tugas unit Perencanaan, Organizing merupakan tugas unit Organisasi atau SDM, Actuating merupakan tugas unit SDM atau Diklat, Controlling merupakan tugas unit Audit Intern atau unit Hukum, dan sebagainya. Kalau terjadi yang sedemikian, lantas siapa membantu siapa ? Siapa sih yang sebenarnya merupakan unit intinya, yang perlu dibantu oleh unit penunjang ? Siapa sih yang berfungsi melayani kebutuhan unit-unit organisasi yang ada ? Siapa sih ? Siapa sih ? Siapa sih ? (Ah, main-main atuh...).

Penulis adalah Kepala Seksi Analisis Tarif Harga dan Produksi Aneka Cukai, KP DJBC

EDISI 386 JANUARI 2007

PERISTIWA
WBC/ADI

JALUR SERANG-ANYER

SEBAGAI AJANG SILATURAHMI CCC
TETAP SEMANGAT. Setelah melewati jalur datar di kota Serang, peserta pun tetap semangat kendati mulai menghadapi jalur menanjak yang cukup jauh.

Customs Cycling Club (CCC) kembali mengadakan acara bersepeda santai. Acara yang juga sekaligus sebagai ajang silaturahmi ini, memilih daerah Serang hingga Anyer sebagai jalur tantangan yang harus dilalui.

C

CC yang merupakan wadah bagi penggemar olah raga bersepeda di lingkungan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), kembali menggelar acara sepeda santai dengan jarak tempuh sejauh 43 Km. Acara yang juga sekaligus sebagai ajang silaturahmi ini, memilih jalur Kota Serang hingga Anyer dengan tantangan yang cukup mengasyikan. Acara yang digelar pada 26 Nopember 2006 lalu, yang juga bertepatan dengan acara pesta demokrasi pemilihan kepala daerah propinsi Banten, menambah pemandangan dan suasana yang cukup menarik sepanjang jalur yang dilalui. Menurut Kepala Bidang P2 Kanwil V DJBC Bandung, Edi Nurkiswar, rute yang dilalui oleh peserta ini cukup bagus terutama bagi pemula, karena jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dan tidak ada rintangan berupa tanjakan yang tinggi. “Dari segi safety, jalan yang dilalui juga cukup aman, karena bukan jalan yang biasa dilalui kendaraan umum. Namun untuk lokasi finish memang tidak terlalu representatif, karena dengan finish di daerah pantai namun pemandangan pantai tidak kita jumpai. Mungkin untuk acara selanjutnya yang direncanakan di daerah Tanjung Pinang namun untuk waktu belum dapat ditentukan, kegiatan ini dapat berjalan lebih baik lagi,” tutur Edi Nurkiswar. Sementara itu, Kepala Seksi P2 Kanwil V DJBC Bandung, Darsim menyatakan, CCC dalam setiap event nya belum pernah menyelenggarakan acara yang ru-

tenya melewati pegunungan dan finish di daerah pantai, untuk itu sebelumnya dilakukan survei dan akhirnya memilih Serang hingga Anyer sebagai jalur yang cukup menarik untuk acara kali ini dengan waktu tempuh yang diperkirakan selama 2 jam. Lebih lanjut menurut Darsim, setelah dua bulan absen maka acara kali ini juga dikhususkan sebagai ajang silaturahmi dan halal bil halal bagi kalangan penggemar sepeda di DJBC. Berkaitan dengan jumlah peserta yang turut serta dalam kegiatan CCC di Serang ini, menurut Kepala KPBC Cirebon, Bambang Wahyudi, penyelenggaraan kegiatan CCC kali ini yang dilaksanakan bersama-sama oleh pegawai Kanwil V DJBC

Bandung, diikuti kurang lebih 35 peserta yang berasal dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Bogor, Merak dan Surabaya. Dengan memilih lokasi start di halaman alun-alun kota Serang tepatnya di depan Hotel Mahadria, pada pukul 7.30 wib perjalanan dimulai dengan melewati jalur yang mendatar dan sedikit menanjak. Namun setelah perjalanan dilalui kurang lebih 10 Km, maka dimulailah tantangan bagi para peserta karena harus melewati jalur tanjakan yang cukup jauh dengan pemandangan alam yang cukup asri. Di jalur inilah para peserta mulai terlihat kepiawayannya sebagai pecinta olah raga sepeda sejati, kendati usia rata-rata sudah tidak muda lagi, namun semangat dan tenaganya membuat kagum para peserta lain yang usianya lebih muda. Terlebih lagi di jalur tanjakan yang cukup jauh ini peserta juga dihibur oleh aroma buah durian yang cukup menggoda, karena sepanjang jalur ini banyak ditumbuhi pohon durian yang memang sedang berbuah. Setelah melewati Pos I, peserta pun mulai dihibur dengan jalur yang lebih banyak menurun dengan pemandangan warga sekitar yang sedang mengikuti pemilihan kepala daerah. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 Km, maka di Pos II tepatnya di daerah cagar alam Rawa Danau, seluruh peserta beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah sambil menikmati pemandangan alam cagar alam yang cukup indah dan sejuk. Setelah beristirahat minum di Pos II, maka perjalanan dilanjutkan hingga finish ke daerah Anyer. Perjalanan menuju finish memang relatif cukup mudah karena jalur yang dilalui lebih banyak menurun sehingga para peserta pun dapat mempercepat laju sepeda hingga tepat waktu untuk sampai di finish. Tepatnya di rumah makan Sambolo Anyer, pukul 10.00 wib para peserta satu persatu memasuki garis finish dengan waktu tempuh yang cukup cepat, yaitu 2 jam. Dan setelah seluruh peserta sampai, sambil melepaskan lelah acara dilanjutkan dengan makan bersama dan kembali ke kota Serang untuk kembali ke daerah masing-masing. adi
WBC/ADI

MELEPAS LELAH. Di Pos II ini seluruh peserta beristirahat sejanak sambil melepaskan lelah untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh. EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

65

MITRA

QUALITY SHIPMENT MONITORING SYSTEM
Memungkinkan mengidentifikasi masalah-masalah potensial yang muncul serta merekomendasikan perbaikan strategi sebelum situasi semakin memburuk.
WBC/ATS

PRESENTASI. Maria Christina, National Operations Manager dan Amelia Angelica, Operations Performance Manager PT Birotika Semesta/DHL Express, saat melakukan presentasi QSMS di depan pers.

P

ada 12 Desember 2006, DHL, penyedia layanan ekspres dan logistik, menggelar jumpa pers sehubungan dengan dimulainya penggunaan generasi terbaru dari sistem manajemen pengiriman gobal yang dinamakan Quality Shipment Monitoring System (QSMS). Sistem QSMS merupakan sistem yang memungkinkan DHL secara pro aktif memonitor semua pengiriman (yang dimulai dari pengambilan kiriman oleh kurir sampai ke service center DHL lalu dilanjutkan dengan armada pesawat sampai ke tujuan akhir). Pengiriman tersebut dapat langsung dimonitor di 17 check point yang berbeda, dengan menunjukan real time dari seluruh kawasan yang dilintasi. Dengan demikian DHL dapat mengidentifikasi masalahmasalah potensial yang muncul serta merekomendasikan perbaikan strategi sebelum situasi semakin memburuk. Menurut Maria Christina, National Operations Manager, PT Birotika Semesta/DHL Express, sistem QSMS telah dipasang pada QCC (Quality Control Centers) DHL, yang berada di lokasi-lokasi strategis yang melewati semua wilayah dan terhubung ke DHL’s Asia Pasific Quality
WARTA BEA CUKAI

Control (APQCC) di Singapura. QCC DHL dapat setiap saat memonitor semua pengiriman DHL baik melalui udara maupun darat. QCC beroperasi selama 24 jam da-

lam sehari, tujuh hari dalam seminggu untuk menjamin karyawan DHL dapat merespon dengan cepat dan efisien semua kemungkinan terjadinya masalah pengiriman. Sistem ini merupakan suatu lompatan dalam meningkatkan teknologi customer service DHL. Sistem QSMS mempunyai kemampuan dan fitur yang unik untuk memberikan sinyal pada para analis yang berada di Quality Control Centers (QCC) DHL ketika suatu aksi operasional tertentu tidak terjadi dalam waktu yang telah ditentukan. Sebagai contoh, pada saat terjadinya penundaan keberangkatan pesawat karena ganggunan cuaca, informasi ini hanya dapat diterima oleh jaringan DHL secara reaktif setelah pesawat tersebut berangkat. Namun, dengan teknologi yang ditawarkan oleh QSMS, status penerbangan terakhir dapat diketahui oleh para analis QCC dalam waktu lima menit setelah pesawat ditunda. Dengan demikian, DHL dapat memonitor pengiriman dengan real time dan secara proaktif menginformasikan pada para pelanggannya mengenai status kiriman mereka, serta dengan segera dapat merespon masalah penundaan pengiriman sehingga dapat menghemat waktu dan biaya para pelanggan. Sistem QSMS sendiri telah disosialisasikan di lebih dari 10 negara di Asia Pasifik. Termasuk Australia, China, Hongkong, India, Jepang, Korea, Sri Lanka, Thailand, Filipina, Singapura, Kamboja dan Taiwan. Sampai dengan akhir 2007, sistem ini diperkirakan akan beroperasi di 41 negara dan wilayah di Asia Pasifik. ifa
WBC/ATS

RUANG QCC. Di ruang inilah semua informasi penerbangan serta data pengiriman dokumen/paket mulai pada saat dokumen/paket diambil dari pelanggan hingga tiba ditempat tujuan, dapat dimonitor.

66

EDISI 386 JANUARI 2007

RUANG KESEHATAN

MATA MINUS

TURUNAN ?
A
da beberapa pendapat yang mengatakan, jika ayah ibunya menggunakan kacamata maka itu akan menurun ke anaknya. Apakah itu benar dok ? Bagaimana cara menghindari anak agar saat dewasa tidak menggunakan kacamata ? AFI – DEPOK JAWAB : Problem pada mekanisme pemfokusan mata dikenal dengan kesalahan refraktif (pembiasaan) dimana kesalahan refraktif ini akan menyebabkan pandangan kabur sampai beberapa tingkat. Kesalahan refraktif cenderung berlaku pada satu keluarga. Ada tiga tipe kesalahan refraktif yaitu : 1. Rabun jauh (myopia) 2. Rabun dekat (hypermetropia) 3. Astigmatisma (silindris). Rabun dekat dan Astigmatisma seringkali sudah ada sejak lahir. Ada baiknya untuk memperjelas mengapa bisa terjadi kesalahan refraktif yang akhirnya harus memakai kacamata kita bahas mengenai pandangan normal, rabun jauh, rabun dekat dan Astigmatisma.

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

suatu objek terfokus di belakang retina, dan terlihat kabur.

tidak menimbulkan gejala dapat terasa diusia pertengahan.

ASTIGMATISMA
Kurva kornea tidak seimbang sehingga terjadi ketidakmampuan fokus pada semua bagian suatu objek pada saat bersamaan. Contoh : garis horisontal bisa fokus. garis vertikal tampak kabur. Ada beberapa gejala yang secepatnya harus anda perhatikan sehingga bila anak anda mengalami kesalahan refraktif (rabun jauh, rabun dekat atau Astigmatisma) dapat sedini mungkin diketahui. Jika anak Anda mengalami rabun jauh atau astigmatisma ia mungkin tidak menyadari bahwa ada yang salah. Kemungkinankemungkinan gejalanya terjadi bila anak anda : l Duduk terlalu dekat dengan televisi l Bermasalah dengan pelajaran di sekolah atau terlihat tidak tertarik, karena ia tak dapat melihat apa yang terjadi di depan kelas. l Anak mengeluh melihat sesuatu di kejauhan kabur. Jika anak Anda mengalami rabun dekat akut terdapat beberapa gejala : l mata terlihat juling l mengeluh bahwa melihat sesuatu yang dekat menjadi kabur. Untuk menghindari pemakaian kacamata diwaktu dewasa terutama ditujukan untuk rabun jauh atau astigmatisma adalah dengan membiasakan anak membaca atau belajar dengan lampu yang penerangannya cukup dan harus dalam keadaan duduk dengan jarak yang cukup baik dikala menulis, membaca atau mengerjakan suatu hal jangan dalam keadaan sedang tidur-tiduran dan penerangan kurang cukup karena kebiasaan-kebiasaan ini dalam waktu lama membuat bola mata terlalu lelah dan mempercepat keadaan pada mekanisme pemfokusan mata.
WARTA BEA CUKAI

RABUN DEKAT
Bola mata terlalu panjang dan kekuatan fokus pada kornea yang melengkung tajam terlalu kuat. Gambar suatu objek terfokus didepan retina dan terlihat kabur.

PANDANGAN NORMAL
Bentuk bola mata dan kekuatan fokus pada kornea terhubung dengan benar. Gambar suatu objek terfokus pada retina, dan dapat dilihat secara jelas. Anak dengan rabun dekat, ringan atau sedang mampu melihat dengan jelas karena pada mata muda, akomodasi (proses penyesuaian mata terhadap fokus dekat) cukup kuat untuk memungkinkan bintik fokus dibawa kebagian depan retina. Namun, karena kekuatan akomodasi berkurang sesuai umur, rabun dekat yang sebelumnya

RABUN JAUH
Bola mata terlalu pendek dan kekuatan focus pada kornea yang cukup datar terlalu lemah. Gambar

EDISI 386 JANUARI 2007

67

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

BELANJA RUMAH TANGGA
Menabung termasuk kegiatan yang diingat setiap saat agar pada saat darurat menghadang, ada dana tersedia

PERENCANAAN

B

elanja merupakan pengeluaran sehari-hari yang sering membuat kita terperanjat ketika mengetahui sisa uang di dalam kocek tak lagi memadai. Belanja rumah tangga seperti juga anggaran negara atau kantor, perlu dibuatkan rancangannya, agar tidak terperosok ke dalam hutang. Sebelum memulai, renungkanlah dari mana sumber uang anda: gaji bulanan, honorarium konsultan, dagang sampingan, sewa tanahrumah-mobil, dan sebagainya. Kemudian mulailah dengan menelusuri kemana saja uang itu pergi, didasarkan atas pengalaman lalu. Ini merupakan tugas lumayan pelik, namun harus dijalani. Bersama pasangan anda, lihatlah pengeluaran sepanjang minggu lalu, baik yang dibayar tunai, kartu kredit atau kartu debit, arisan dan cicilan, tuliskan semua ini. Melihat pengeluaran ini kita akan disadarkan berapa banyak uang telah meleleh dari kocek. Gambaran yang dapat diperoleh misalnya beli bensin, uang parkir, tip, belanja mingguan, arisan, tagihan cicilan motor, makan siang di tempat kerja, minum kopi bersama kawan, mentraktir teman, menonton, dan seterusnya. Lumayan besar bukan !

Langkah 2 Kelompokkan dan catat pengeluaran bulanan, golongkan dalam 2 kategori , a. pengeluaran tidak rutin b. pengeluaran bulanan rutin a. Pengeluaran Tidak Rutin Catatlah semua pengeluaran yang tidak rutin artinya yang tidak dikeluarkan hampir di setiap bulan. Pengeluaran ini memang tidak tetap dalam setiap bulan, namun harus dibayar pada suatu saat dalam tahun berjalan. Contohnya : l Pajak : PBB, pajak mobil, motor l Kendaraan : pemeliharaan, perbaikan l Rumah : pemeliharaan, perbaikan

Asuransi : kendaraan, rumah, kebakaran, kesehatan, jiwa l Liburan : piknik, jalan-jalan l Dan pengeluaran lain di rumah tangga anda Jumlahkan seluruh pengeluaran ini, catatlah dalam kelompok pengeluaran tidak rutin, bagilah dalam 12, sehingga didapat ratarata pengeluaran tidak rutin dalam satu bulan. Besaran uang ini perlu diadakan terpisah dari pengeluaran rutin, sisihkan anggaran yang anda terima untuk kepentingan ini. Jadi ketika anda menerima uang masuk, sisihkan sejumlah yang dapat disisihkan untuk keperluan ini dan bayarkan pada masanya.
l

HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN LAINNYA ADALAH PENGELUARAN TIDAK TERDUGA
l

CIPTAKAN RUMAH TANGGA BEBAS HUTANG
Langkah 1 Hitung uang masuk anda, bisa mingguan, dapat juga bulanan. Hitunglah dalam bulan, termasuk uang pemasukan di luar gaji dan penghasilan dari pasangan anda. Atau jika anda berpenghasilan mingguan, anda dapat menghitung masukan bulanan sebagai 4,33 X uang mingguan, kalikan 52 minggu dan bagilah dalam 12 bulan, sehingga didapat uang bulanan. Angka 4,33 berasal dari hitungan satu bulan, seringkali ada 4 atau 5 minggu. Tulislah angka ini dalam Perencanaan Belanja Rumah Tangga sebagai “Total Masukan Bulanan.” 68
WARTA BEA CUKAI

l

l l

l

Binatang peliharaan : kandang, vaksinasi, pemeliharaan Hadiah : uang kado perkawinan, ulang tahun, kunjungi orang sakit, bantuan kepada keluarga, uang lebaran, tajilan buka puasa masjid, uang saku pulang keluarga yang berkunjung Kesehatan : pemeriksaan kesehatan, obat, alat kesehatan Perlengkapan sekolah : buku, pakaian seragam, tas, jas hujan, payung, alat olah raga, musik Pakaian : menjahitkan seragam pengantin, beli seragam pengajian, pesta

b. Pengeluaran Rutin Catat semua pengeluaran rutin setiap bulan dalam buku Perencanaan Belanja Rumah Tangga anda. Jika terdapat pengeluaran bulanan yang fluktuatif, hitunglah rata-ratanya setiap bulan, masukkan angka rata-rata ini dalam buku, sediakan kolom untuk ralat jika ditemui kesalahan hitung. Pengeluaran rutin rumah tangga, misalnya : l Bahan bakar : minyak tanah, gas, listrik, batere l Makanan dan minuman : beras, gula, teh, kopi, sirup, kecap, bumbu, air minum dan seterusnya l Keperluan pribadi : bedak, pembersih muka,deodoran, pasta gigi, sabun, shampo, parfum, gel rambut l Alat kebersihan : kain pel, pembersih, sikat, sapu l Perawatan anak : baby sitter, popok, susu, makanan bayi, vitamin l Asuransi : kesehatan l Komunikasi : telepon , HP, Internet, TV kabel l Hiburan : nonton, makan diluar, tenis, golf

EDISI 386 JANUARI 2007

Catat dan jumlahkan seluruh pengeluaran tidak rutin dan rutin anda.

kolom cicilan hutang tentu, yang jumlah pengeluarannya dilakukan setiap bulan

LANGKAH 3
Catat cicilan hutang anda Cicilan hutang tak tentu perlu dimasukkan dalam catatan untuk dibayarkan setiap masanya dalam kolom Pengeluaran Cicilan Hutang bulanan. Pastikan anda telah mencatat semuanya termasuk hutang/cicilan pembayaran sekolah. Cicilan hutang pasti seperti cicilan rumah, kendaraan, barang lainnya dimasukkan dalam

LANGKAH 4 :
Tabungan dan hadiah Memberi adalah bagian hidup sosial orang dalam masyarakat. Belanja pemberian dimasukkan dalam kolom hadiah/pemberian. Selain anda menghitung kewajiban membayar sesuai perintah agama (zakat, kolekte, dan sebagainya), sisihkan 10% dari penghasilan bulanan untuk keperluan ini, jika penghasilan anda memadai. Jika ada
FOTO : ISTIMEWA

HITUNG UANG MASUK ANDA, BISA MINGGUAN, DAPAT JUGA BULANAN
rencana perkawinan keluarga, sunatan, dan upacara budaya lainnya yang anda dapat catat, sisihkan juga dalam kolom ini. Menabung termasuk kegiatan yang diingat setiap saat agar pada saat darurat menghadang, ada dana tersedia. Ahli keuangan mengatakan 5% dari penghasilan bulanan, masukkan dalam kolom ini, jika mungkin tabungan dapat terus dinaikkan sesuai penghasilan anda, kalau dapat sampai 10%. Jumlahkan seluruh catatan dalam kolom hadiah, kalikan 0,5. Menabung tidak dapat dilakukan oleh semua keluarga, terutama buat mereka dengan hutang yang cukup tinggi. Hal yang perlu mendapat perhatian lainnya adalah pengeluaran tidak terduga. Hutang dan pengeluaran yang besar mengajarkan kita untuk berupaya memperkecil pengeluaran yang dapat diperkecil dan jaga diri untuk dalam kendali tak membelanjakan uang jika tak perlu. Menyerah akan keadaan dan tak menghiraukan hitungan membuat anda dalam kekacauan keuangan. Bilamana penghasilan meningkat, upayakan besarannya digeser ke arah menabung. Sebelum anda menutup penghitungan anda, pastikan semua pengeluaran dan pemasukan telah tercatat. Dan mainkanlah! Jika ingin kelanjutannya, website berikut dapat memberi informasi : Personal Finance Guide Hot stock picks for tomorrow. Penny stock tip investments, undervalued situations, IPOs, obscure penny stocks, and other great stock picks. Free report. www.rocketstockpicks.com Personal Finance and the Stock Market Learn how to invest wisely and successfully in ‘The Little Book that Beats the Market’, by top performing hedge fund manager Joel Greenblatt. www.littlebook.com Personal Finance Compare free quotes from up to 4 lenders. Lower your monthly payments. Bad credit okay. No obligation. We make banks compete for your business. Refinance with a trusted and reputable lender. www.quotescompete.com

EDISI 386 JANUARI 2007

WARTA BEA CUKAI

69

RENUNGAN ROHANI

NILAI NILAI HAJI
“Tiadalah ganjaran bagi haji mabrur itu kecuali surga.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN M
enunaikan ibadah haji bagi Muslim tentu menjadi keinginan semua orang. Namun Al-qur’an sendiri telah menggariskan bahwa kewajiban itu hanya bisa dilakukan untuk orang-orang yang memiliki kemampuan, yaitu mampu secara fisik materil, spirituil dan terpenuhinya syarat-syarat yang lain. Orang-orang yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji berkeinginan pula agar ibadah haji yang dikerjakannya mendapat predikat haji mabrur. Yang dimaksud dengan haji mabrur menurut salah seorang Ulama hadis Al-Hafidh Ibn Hajar al’Asqalani dalam kitab Fathul Baarii, syarah Bukhori Muslim menjelaskan: “Haji mabrur adalah haji yang maqbul yang diterima oleh Allah SWT.” Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, haji mabrur tidak sekedar haji yang diterima, tetapi haji mabrur berarti haji yang dapat menjadikan pelakunya berkeinginan kuat untuk mengekspresikan dan meningkatkan kebajikan yang berkesinambungan setelah yang bersangkutan menunaikan ibadah haji. Menurut hadits Rasulullah ada tiga indikator seseorang dipandang hajinya mabrur yaitu memiliki kemauan memberi makan, berusaha bertutur kata yang baik dan berguna dan selalu menebarkan kedamaian. Ketiga indikator ini kemudian ditafsirkan oleh Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali sebagai berikut: memberi makan menurutnya sebagai simbol kesediaan kita untuk berbagi keni’matan dengan sesama serta kesanggupan untuk menginfakkan sebagian hartanya kepada kaum dhu’afa yang membutuhkan. Bertutur kata yang baik menurut al-Ghazali berarti berbudi luhur dan berakhlak mulia. Akhlak ini selain diimplementasikan di tanah suci juga diterapkan di tanah air dalam kehidupan sehari-hari. Dari akhlak yang mulia inilah kemudian di kembangkan untuk menyebarkan rasa perdamaian, kasih sayang demi misi kemanusiaan sebagai rangkaian tugas hablum minan nas. Dari indikator-indikator di atas, maka jama’ah haji dari kelompok masyarakat manapun hendaknya bercermin terhadap nilai-nilai dan falsafah ibadah haji yang dapat meningkatkan kualitas perilaku seseorang, baik secara vertikal (kesalehan individual) maupun horizontal (kesalehan sosial), diantara nilai-nilai ibadah haji adalah sebagai berikut : Pertama, pada saat memakai pakaian ihram yang pelaksanaannya jauh dari nuansa kesemarakan, keglamoran atau kemegahan duniawi. Dengan warna pakaian yang sama (putih), tanpa perhiasan, wangi-wangian, dan tanpa pelindung dari sengatan terik matahari, seseorang seakan diingatkan kembali kepada fitrah dan makna hidupnya yang meliputi aspek eksoteris dan esoteris. Secara simbolik ini bermakna ketika berhaji manusia harus mencopot pakaian kebesarannya. Pakaian sehari-hari yang menciptakan “keakuan” berdasarakan ras, suku, warna kulit, eselon kepangkatan, dan semacamnya harus ditanggalkan dan diganti dengan pakaian “ihram” yang sederhana, tidak membedakan kayamiskin, ningrat-jelata, penguasa-rakyat, dan status sosial lainnya. Egoisme “keakuan” lebur dalam “kekitaan”, kebersamaan, kesamaan sebagai manusia yang hadir, berada dan menuju hanya kepada Sang Pencipta. Kedua, pada saat thawaf mengelilingi ka’bah dimana kita bercampur dengan berbagai bangsa yang berbeda-beda, dan dalam suasana berdesak-desakan, memberi arti bahwa untuk meraih suatu tujuan dalam kehidupan di dunia ini kita harus berani bersaing dengan bangsa manapun dan dengan suku apapun. Akan tetapi meskipun hidup ini harus dijalani dengan persaingan, tetapi jangan main serobot, sikut kanan kiri, injak atas injak bawah, hingga merampas hak-hak

MENURUT HADITS RASULULLAH ADA TIGA INDIKATOR SESEORANG DIPANDANG HAJINYA MABRUR YAITU MEMILIKI KEMAUAN MEMBERI MAKAN, BERUSAHA BERTUTUR KATA YANG BAIK DAN BERGUNA DAN SELALU MENEBARKAN KEDAMAIAN.

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

FOTO : ISTIMEWA

orang lain. Tidak boleh sedikitpun menyakiti dan mendzalimi orang lain. Jalani kehidupan ini sesuai dengan yang telah digariskan Allah SWT. Jangan melanggar walau hanya garis, seperti anda terlatih untuk tidak melanggar garis hijir Ismail saat anda melaksanakan thawaf. Ketiga, pada saat sa’i, seseorang diingatkan kembali pada peristiwa pengorbanan istri Nabi Ibrahim, yaitu Siti Hajar dan anaknya, Ismail. Usaha dan kerja keras Siti Hajar mencari setetes air di tengah padang pasir yang terik dan tandus untuk bayinya, Ismail, tidak hanya membangkitkan sikap percaya diri dan etos kerja, tetapi juga menimbulkan rasa kagum yang pada gilirannya akan memotivasi diri mereka untuk menakar tingkat keimanannya di saat berhadapan dengan berbagai cobaan. Inilah makna simbolik dari prosesi sa’i. Keempat, pada saat wukuf di Arafah, kita diingatkan dengan satu peristiwa akbar yang akan di alami oleh semua manusia di Padang Mahsyar, pada hari kebangkitan kembali manusia dari kuburnya yang disebut yaum alba’ts. Itulah sebabnya ritus wukuf di Arafah begitu penting agar kaum muslimin jama’ah haji mencoba berintrospeksi menyangkut bekal untuk kehidupan yang abadi. Kelima, akhlak kepada Allah SWT. Jika disimak secara cermat, seluruh do’a yang di ucapkan dalam prosesi ibadah haji, baik yang berisi pujian maupun pengakuan akan kelemahan diri serta komitmen kesetiaan, mencerminkan ketinggian akhlak kepada Allah SWT. Disini, segala pengorbanan dalam melaksanakan ibadah haji, baik berupa biaya, waktu, tenaga, penderitaan dan lain-lain dihayati sebagai sebuah persembahan dan ekspresi kesetiaan serta loyalitas terhadap perintah-Nya. Keenam, akhlak kepada sesama manusia. Inti dari akhlak kepada sesama manusia yang diekspresikan dalam ibadah haji adalah prinsip egalitarian dan solidaritas sosial. Digunakannya pakaian serba putih, larangan menggunakan perhiasan dan wewangian, secara simbolik mengindikasikan persamaan derajat dan anti diskriminasi sosial. Adanya kewajiban berkurban (menyembelih binatang yang dagingnya diberikan kepada fakir miskin), merupakan cermin anjuran solidaritas sosial untuk mereka yang secara ekonomis dan politis selalu tertindas dan di dzalimi. Bagi yang sudah melaksanakan ibadah haji, segala perbuatannya haruslah mencerminkan seorang haji. Jangan sampai, sudah punya titel haji, tetapi masih gemar melakukan perbuatan maksiat. Apalagi merasa bangga dengan titel haji yang ia sandang, seperti ingin disapa Pak Haji atau Bu Hajah. Karena tidak

sedikit orang yang menunaikan ibadah haji lantaran ingin mendapat prestise “Haji” sehingga dijadikan sebagai alat memperkuat status sosialnya, khususnya untuk mendapatkan legitimasi sosial dari masyarakat. Dan makna substantip ibadah haji itu tidak terletak pada huruf “H” atau “Hj” di muka nama seseorang. Tetapi pada aktualisasi nilai-nilai simbolik peribadatannya yang mencerminkan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa kemabruran subtansial dari ibadah haji adalah ketika yang bersangkutan mampu meningkatkan kualitas amal saleh, saling berbagi, saling bergandeng tangan untuk mewujudkan satu

cita-cita besar, membentuk khoiru ummah. Untuk mewujudkan dream menjadi satu kenyataan, setidaknya ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh calon atau alumni haji Indonesia. Pertama to know (mengetahui) to fiil (internalisasi), dan to act (aktualisasi), dan to spread (menyebarluaskan). Perpaduan secara organis dan dinamis keempat faktor dalam jiwa haji Indonesia, insya Allah akan membawa terwujudnya mimpi haji menjadi wahana kebangkitan dan kejayaan bangsa Indonesia, khususnya ummat Islam di masa mendatang.

Dadan Hamdani, S.Sos. (Imam Masjid Agung Baitut Tahmid)
WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

71

SELAK
DOK. PRIBADI

KOTA WISATA

TAKENGON ACEH TENGAH
Kabupaten Aceh Tengah dengan ibu kota Takengon, berlokasi di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut dengan pemandangan alamnya yang indah, suhu rata-rata 20 derajat Celcius.
anau Laut Tawar, sebuah danau yang terbesar di Aceh bukan saja memberikan tambahan keindahan alam di wilayah ini tetapi memberikan tambahan potensi lain diantaranya potensi ikan. Di sektor perkebunan, kopi adalah komoditi kebanggaan Aceh Tengah. Terkenal dengan nama Kopi Gayo, jenis kopi Arabica yang tumbuh subur di kawasan dataran tinggi Gayo dengan ketinggian antara 1.200 - 1.600 m di atas permukaan laut. Takengon oleh pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sejak awal memang dirancang sebagai kota wisata, dengan diwujudkan pada motto Kota Takengon yaitu sebagai Kota Wisata, hal ini dilatarbelakangi potensi wisata Kabupaten Aceh Tengah yang memiliki kurang lebih 20 obyek wisata yang dapat dinikmati disana, seperti Danau Laut Tawar, Gua Loyang Koro, Loyang Sekam, Loyang Datu, Tempat Pacuan Kuda, Air Terjun, Pemandian Air Panas Wih Sekam, hiking ke Atu Tingok dan Puncak Gunung Burni Telong, Monumen Radio, Taman Buru, Singah Mata dan lain-lain.
WARTA BEA CUKAI

D

TRANSPORTASI
Semenjak perjanjian damai (MoU) antara pemerintah Indonesia dan GAM ditandatangani pada bulan Agustus 2005, faktor keamanan secara keseluruhan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam sudah kondusif dan aman. Jalan darat menuju Takengon saat ini setiap hari sudah ramai dilalui baik oleh kendaraan angkutan umum baik bis maupun L 300 dan kendaraan pribadi, bahkan transportasi udara dengan pesawat kecil jenis SMAC sudah rutin dilakukan satu minggu sekali pada hari Rabu, penerbangan dari Medan jam 07.00 WIB dan penerbangan dari Banda Aceh jam 10.00. Dengan jarak tempuh 297 km dari Banda Aceh dan 480 km dari Medan serta 4 jam dari Meulaboh ke Takengon, dan kondisi jalan yang baik serta keadaan geografi yang masih alami dengan pemandangan alam yang menarik membuat perjalanan menuju Takengon terasa menyenangkan.

PERJALANAN MENUJU TAKENGON.
Keindahan panorama alam (wisata) Takengon membuat kami ingin menikmatinya, apalagi ditunjang bahwa

kota Takengon merupakan kota tempat berdomisili orang tua Bp. Safuadi, Kepala KPBC Sabang sehingga informasi tempat pariwisata menjadi semakin lengkap. Untuk mendapatkan pengalaman menikmati wisata kota Takengon yang maksimal dan ditunjang dengan rencana yang mau ikut ke Takengon sebanyak 26 pegawai Bea Cukai serta rencana bermalam dengan menggunakan tenda (kemping) selama 2 hari di Danau Laut Tawar, maka kami mencoba jauh-jauh hari merencanakan secara baik pergi ke Takengon. Setelah persiapan selesai dilakukan dan setelah mendapatkan kepastian yang ikut berjumlah 18 orang pegawai terdiri dari pegawai KPBC Sabang dan KPBC Meulaboh, sedangkan pegawai dari Kanwil DJBC Banda Aceh, KPBC Ismud, Ulee-Lheeu tidak jadi ikut karena ada keperluan, maka schedule awal adalah membagi tim yang berangkat ke Takengon menjadi 2 bagian. Hal ini disebabkan antara Sabang dan Meulaboh jaraknya jauh (kurang lebih 16 jam ditempuh jalan darat) dan lebih efektif apabila berangkat dari tempat masing-masing

72

EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. PRIBADI

sehingga disepakati titik temu di sekitar Danau Laut Tawar Takengon. Pada hari Jumat pagi, tanggal 25 Agustus 2006, 13 orang start dengan memakai 2 mobil dari Sabang dan 4 orang dengan mengendarai 1 mobil start dari Meulaboh untuk menuju Takengon, sedangkan satu orang (pegawai BC asli dari Takengon) sudah berangkat lebih dahulu ke Takengon untuk mempersiapkan tempat kemping dan keperluan lainnya, Setelah menempuh perjalanan selama 2,5 jam dengan kapal ferry dari Sabang ke Banda Aceh, perjalanan dilanjutkan menuju Sigli terus ke Bireuen, dan sampai di Bireuen kurang lebih 3 jam. Sehabis sholat jumat dan makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Kota Takengon yang jaraknya ‘tinggal’ 102 km. Sepanjang jalan menuju Takengon, deretan pinus berjajar dengan latar belakang bukit-bukit hijau, hawa dingin angin pegunungan berpadu serasi dengan harum bau pinus-pinus itu, belum lagi semaraknya bunga kopi gayo yang tengah mekar. Jalan yang banyak berkelok-kelok kami namakan dengan ‘1000 kelokan’ karena hampir tiap 100 – 200 meter jalan berbelok ke kiri dan ke kanan, ditunjang dengan kondisi jalan yang menanjak dan menurun membuat perjalanan semakin menarik. Tak terasa perjalanan 3 jam berlalu dan tiba di Takengon pada pukul 16.30 WIB. Sedangkan rekan kami dari Meulaboh sudah lebih dahulu sampai di Takengon pada pukul 14.00 WIB.

ANGGOTA TIM DI PUNCAK GUNUNG BURNI TELONG

GUA LOYANG KORO
Setelah sampai di dekat Danau Laut Tawar, kami tidak menyia-nyiakan wak-

tu, sebelum menuju tempat kemping, kami singgah dulu di Gua Loyang Koro. Gua ini terletak persis menghadap ke Danau Laut Tawar Takengon, sekitar 15 menit dari Kota Takengon. Setelah memarkir kendaraan, dan membeli tiket di gerbang masuk gua seharga 2.000 per orang, kami berjalan beriringan melewati jalan setapak dan 5 menit berlalu sampailah kami ke depan gua yang cukup lebar sekitar 6 x
DOK. PRIBADI

7 meter. Berdasarkan informasi penjaga gua, Gua Loyang Koro panjangnya 3,5 km dan merupakan penghubung antara satu bukit dengan bukit lainnya, dan saat ini untuk wisata gua diberi penerangan lampu baru sedalam 100 meter. Pada awal masuk gua, kami masih dapat berjalan dengan tegak dan dapat menikmati dengan santai, tapi sekitar berjalan 20 meter kami harus berjalan secara menunduk karena banyak staklamit dan staklatit yang menonjol, dan baru bisa lega berjalan santai setelah sampai di kedalaman 90-100 meter. Sungguh pemandangan di dalam gua cukup bagus, dimana keindahan ciptaan Allah SWT memang tersebar dimana-mana. Setelah puas menikmati selama 1 jam, kami keluar gua untuk menuju tempat kemping.

DANAU LAUT TAWAR
Danau Laut Tawar Takengon merupakan danau yang terluas di propinsi NAD, terletak di sela-sela perbukitan di kaki Gunung Geureundong. Letaknya yang berada di pinggiran kota membuat danau mudah dijangkau orang yang singgah di kota tersebut. Lokasi Danau Laut Tawar memang strategis. Dapat dikatakan, keindahan danau ini menjadi semacam ucapan selamat datang kepada pengunjung yang pertama kali memasuki Takengon. Sambil duduk di pinggiran danau, kita dapat memandang air yang biru, panorama alam danau laut tawar yang indah dikelilingi oleh perbukitan, udara yang sejuk, kota Takengon terlihat
EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

RADIO RIMBA RAYA (RRR)

73

SELAK

JALAN SETAPAK DARI GUA

secara keseluruhan. Sungguh ketenangan alam membuat hati siapapun bertambah nyaman. Selain itu di Danau Laut Tawar, dapat digunakan untuk kemping, memancing ikan, menyewa perahu atau melalui jalan darat untuk mengelilingi danau. Perjalanan menuju ke tempat kemping yang telah ditentukan oleh rekan kami cukup jauh sekitar 25 menit dengan menelusuri (mengelingi) Danau Laut Tawar. Sambil berjalan kami tak henti-hentinya menikmati pemandangan Danau Laut Tawar diwaktu senja, air tenang beriak sedikit diterpa angin semilir diselingi penduduk yang membawa perahu kecil mencari ikan. Terasa benar ketenangan kehidupan. Tiba-tiba kabut datang dan hujan gerimis dan deras menerpa kami, memang daerah pegunungan cuaca tidak dapat kita pastikan, tapi… alhamdulillah saat kami sampai di tempat kemping hujan hanya rintikrintik, dan kami lanjutkan dengan menurunkan perbekalan untuk dimasukkan ke tenda sudah didirikan. Acara berikutnya membuat api unggun dan masak-memasak dengan menu ikan bakar dan kopi khas Takengon, tak terasa makanan siap dan kami menyantapnya dengan riang gembira diselingi gurauan. Mengingat agenda besok cukup banyak, maka setelah makan kami langsung tidur di tenda ‘tentara’ yang lebar, dengan 74
WARTA BEA CUKAI

beralasan tikar dan memakai bantal tas masing-masing.

HIKING GUNUNG BURNI TELONG
Bangun pagi terasa segar dengan terpaan angin danau apalagi ditunjang dengan cuaca yang cerah, setelah menunaikan sholat subuh, kami berkemas-kemas untuk menuju ke kaki Gunung Burni Telong yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan memakai kendaraan. Gunung Burni Telong mempunyai ketinggian 2.624 meter adalah salah satu gunung berapi yang masih aktif di Provinsi NAD, selain Seulawah Agam di Aceh Besar dan Gunung Peut Sagoe di Pidie. Gunung Burni Telong terletak pada sebuah gugusan keluarga gunung berapi, di sebelah utara Burni Telong terdapat Gunung Geureudong dan Gunung Burni Pepanyi yang kini tidak aktif lagi. Burni Telong diambil dari bahasa Gayo yang artinya gunung terbakar, sementara dalam bahasa Aceh disebut Gunong Tutong. Ditinjau dari statusnya, status gunung berapi dibagi empat kategori tergantung dengan tingkat bahayanya. Tingkatan status tersebut masingmasing aktif normal, waspada, siaga dan paling tinggi awas. Gunung Burni Telong berada pada status aktif normal, pernah meletus pada tahun 1856, 1924 dan 1929, bandingkan dengan Gunung Merapi di Yogyakarta yang sekarang masuk kategori waspada.

Untuk kalangan pendaki di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam, Gunung Burni Telong merupakan tempat yang baik untuk melakukan pendakian bagi para pemula atau yang jarang naik gunung. Pendaki dari Banda Aceh, Lhokseumawe, Bireuen dan sekitarnya tidaklah asing untuk pergi ke puncak gunung. Bahkan pada tanggal 17 Agustus 2006 yang lalu, dilakukan pendakian masal sebanyak kurang lebih 150 pendaki dari berbagai daerah untuk melakukan upacara peringatan hari kemerdekaan RI di puncak gunung. Perjalanan menuju kaki gunung terasa indah, setelah sampai kami sarapan pagi dan dilanjutkan hiking ke puncak gunung yang diikuti oleh 15 orang, 12 orang pegawai Bea Cukai dan ditambah penduduk asli 3 orang sebagai guide ke puncak. Perjalanan dimulai dengan start melewati perkebunan dan persawahan penduduk, kemudian setelah berjalan 30 menit, disambut lebatnya hutan pinus, kondisi jalan yang semakin terjal membuat perjalanan membutuhkan banyak istirahat, tak terasa setelah berjalan kurang lebih 1,5 jam kami mencapai satu bukit yang merupakan landasan awal menuju ke puncak. Selanjutnya perjalanan melalui pohon-pohon kecil dan rumput ilalang dan jalan menanjak, setelah 20 menit diganti dengan ilalang dengan batangbatang kecil yang sudah terbakar. Disini kami harus ekstra hati-hati karena

EDISI 386 JANUARI 2007

kondisi jalan yang semakin curam dan di kanan kiri jurang, diselingi aksi memanjat bebatuan. Setelah berjalan selama 4 jam, sampailah kami semua dengan selamat di puncak gunung Burni Telong. Pemandangan alam yang indah dari puncak membuat rasa capek hilang dimana terlihat di kejauhan lapangan udara Rembele Takengon, Danau Laut Tawar dan Kota Takengon dan indahnya hamparan bunga edelweis. Setelah istirahat dan makan siang di puncak dengan menu utama nasi bungkus, kami memasang bendera Bea Cukai dan langsung berkibar diterpa angin, Jayalah Bea Cukai. Dan setelah 30 menit, kami turun ke bawah, cuaca yang cerah membuat perjalanan turun lebih cepat dan kurang lebih 3 jam 5 menit, sampailah kami di shelter terakhir.

perjalanan naik gunung dan menuju air terjun membutuhkan ekstra tenaga.

PEMANDIAN AIR PANAS
Setelah beristirahat semalam, pagipagi kami bangun untuk melanjutkan agenda ke pemandian air panas. Pemandian air panas di Takengon terkenal dengan nama Air Panas Wih Sekam, dinamakan demikian karena terletak di Kecamatan Wih Sekam Kota Takengon yang jaraknya sekitar 20 km dari Danau Laut Tawar. Letak persisnya di kelurahan Simpang Balik, kecamatan Wih Sekam. Posisinya berada di lereng gunung Merapi Burni Telong, dengan kiri kanan perbukitan dan perumahan penduduk. Setelah membereskan semua barang-barang, karena kami akan langsung menuju ke Sabang atau Meulaboh. Menuju lokasi air panas, perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam 20 menit Sampailah kami di lokasi, cukup ramai juga penduduk yang mandi di sana, segera kami juga menyusulnya, dan, saat menyentuh air panas, terasa sekali hangatnya apalagi pagi hari ini dengan kondisi cuaca yang sejuk. Pemandian air panas yang mempunyai luas kurang lebih 30 x 50 meter, tiap hari dikunjungi oleh penduduk. Setelah puas berendam, kami sarapan pagi di kedai dekat pemandian air panas.

AIR TERJUN
Air Terjun berada kurang lebih 3 km dari desa Angkup, Kecamatan Silin Nora (sayangnya nama air terjun belum diberikan oleh Pemda Kota Takengon). Setelah melakukan pendakian, kepada rekan-rekan yang masih kuat, diberikan kesempatan untuk pergi ke Air Terjun dan diikuti oleh 8 orang. Perjalanan agak sedikit ringan karena untuk menuju ke Air Terjun, kebanyakan jalannya menurun, dalam waktu 30 menit sampailah kita di lokasi air terjun. Kelelahan sirna setelah melihat air terjun yang meluncur jatuh ke bawah dengan derasnya. Untuk menyegarkan badan, kami mandi dan terasa air terjun sedingin es, sedikit menggigil kami dibuatnya. Setelah puas menikmati, kami kembali ke tempat kemping. Sampai di tenda, kami langsung memasak dan dalam waktu sekejap makanan yang terhidang langsung habis, maklum

Kabupaten Aceh Tengah. RRR merupakan siaran radio yang berhasil menyelamatkan Indonesia saat-saat berada diambang kritis ketika ibu kota Indonesia di Yogyakarta berhasil direbut Belanda, 19 Desember 1948. Saat itu, RRI yang biasa menyiarkan kemerdekaan Indonesia juga berhasil dikuasai Belanda. Radio Belanda Hilversum saat itu menyiarkan berita bahwa Indonesia sudah hancur. Pada saat genting itu, tanggal 20 Desember RRR mengudara dari rimba belantara untuk menyatakan bahwa Indonesia masih ada. Untuk mengumandangkan siaran RRR, tentara Indonesia dari Divisi Gajah X harus berjuang mati-matian dan bergerilya setiap saat menghindari deteksi musuh. Monumen yang terlihat sekarang dibangun tahun 1990, diresmikan Bustanul Arifin yang saat itu menjabat Menteri Koperasi.

PENUTUP
Perjalanan selama tiga hari dua malam dengan menikmati beberapa tempat wisata kota Takengon merupakan kenikmatan tersendiri. Kota Takengon memang cocok untuk tempat wisata, panorama pegunungan yang indah, udara sejuk, penduduk yang ramah yang mempunyai tradisi unik, kopi gayo yang terkenal, danau, gua, air terjun, gunung, taman hutan, pacuan kuda, wisata sejarah radio memikat kedatangan banyak orang dari daerah lain, pulau lain maupun turis dari luar negeri. Modal tersebut cukup untuk meningkatkan kota takengon menjadi daerah tujuan wisata dunia. Bagi rekan-rekan yang berkesempatan pergi ke Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kami sarankan jangan sampai lupa untuk menikmati indahnya panorama Kota Wisata Takengon. febra
DOK. PRIBADI

MONUMEN RADIO RIMBA RAYA
Dalam perjalanan back to home, satu lagi obyek wisata di Kota Takengon tidak kami lewatkan yaitu Monumen Radio Rimba Raya (RRR) yang merupakan wisata sejarah mengenang keberhasilan merebut kemerdekaan dengan siaran radio. Monumen RRR berada di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah,
DOK. PRIBADI

DANAU LAUT TAWAR

GUNUNG BURNI TELONG EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

SUNARYO, SE. MM
KASI PERBENDAHARAAN KPBC TIPE B BONTANG

“JALANKAN TUGAS DI LAPANGAN DENGAN

CERDAS, BERANI, DAN SANTUN”
Dalam menjalani hidup, Sunaryo, tokoh profil kali ini, berusaha untuk selalu memadukan antara iman, ilmu dan seni. Karena baginya dengan iman membuat hidup lebih terarah, dengan ilmu membuat hidup lebih mudah dan dengan seni membuat hidup lebih indah.
aya berbicaranya yang tegas dan caranya mengenakan baret seragam Bea dan Cukai, adalah ciri khas Sunaryo diantara rekan-rekan seprofesinya. Mulai dari berjalan sampai berpakaian rapi ala tentara bisa terlihat bahwa Sunaryo, pernah mengenyam pendidikan militer. Tak heran, semasa ia bertugas di Tanjung Balai Karimun (TBK), Sunaryo yang merupakan veteran Kawah Candradimuka Bukit Tidar Magelang ini dijuluki rekan-rekannya sebagai ’Si Mayor Kopassus’. Namun begitu, meski sempat mengenyam pendidikan militer, sikap kurang terpuji atau melanggar kepatutan yang semena-mena ia tinggalkan. Yang ada, sikap disiplin dan kerapihan ala militer yang sampai kini ia terapkan dalam hidupnya. Mengawali kisah hidupnya, Sunaryo anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah pada 1 Mei 1957 ini merupakan anak dari pasangan H. Abdullah dan Syarifah. Sunaryo pada tahun 1964 meninggalkan kampung halamannya karena diajak bibinya ke Jakarta, setelah ibunya meninggal dan kemudian ayahnya menikah kembali. Saat meninggalkan Pemalang, Sunaryo ketika itu masih duduk di kelas 2 SD. Di Jakarta seharusnya melanjutkan kelas 2 SD, namun karena ia belum bisa berbahasa Indonesia secara lancar maka dimasukkan ke kelas 1 SD. Setelah duduk dibangku kelas 2 SD, Sunaryo diajarkan berjualan berbagai macam makanan jajanan seperti combro, misro dan kue-kue untuk dijual keliling kampung di Jakarta. Berangkat berjualan pukul 5.30 sampai 7.00 dilakoninya, setelah itu berangkat sekolah. Pulang sekolah pukul 12.00 siang, lalu pukul 14.00 sampai 17.00 berjualan keliling lagi sampai ke Jatinegara hingga Tanjung Priok di atas kereta api Gujes ( sebutan untuk kereta api berbahan bakar batu bara,). Terkadang jika sore hari menjelang magrib sudah sampai rumah dan mandi, Sunaryo sudah ada di mushola untuk mengumandangkan suara adzan magrib untuk berjamaah sholat magrib dan kemudian mengaji sampai selesai Isya. Ada pengalaman yang sampai sekarang tidak ia lupakan. ”Mungkin karena kelelahan, sekitar pukul 20.00 saya tertiWARTA BEA CUKAI

G

dur pulas sampai stasiun Jatinegara. Saya kira kereta baru sampai di Stasiun Kemayoran atau Senen, ternyata sudah sampai Jatinegara, padahal saya harus turun di Stasiun Kramat, Rawasari. Maka sambil membawa dagangan saya jalan kaki menyusuri rel kereta api dari Stasiun Jatinegara ke Pos Kramat Rawasari. Tiba di rumah pukul 23.00 semua keluarga menunggu dengan cemas dan was-was,” kenang Sunaryo. Ia juga pernah mengalami razia karcis. Kejadiannya di stasiun Tanjung Priok, kebetulan ia tidak punya karcis, akhirnya langsung digiring oleh Polsus Kereta Api ke Stasiun Tanjung Priok. ”Saking takutnya saya kabur, dan pulang sambil membawa dagangan menyusuri rel kereta api dari Tanjung Priok-Ancol-Rajawali-KemayoranKramat Sentiong. Bisa dibayangkan jarak yang cukup jauh saya tempuh dengan berjalan kaki.” Di bangku SMP, Sunaryo menyambi berjualan koran sebelum berangkat sekolah masuk siang pukul 12.00. Pulang sekolah pukul 17.00 ia lanjutkan sambilannya dengan ikut menjadi kernet oplet jurusan Jatinegara – Kota/Beos dan pulang sampai di rumah pukul 21.00. Bakat seni juga mengalir dalam diri Sunaryo, sekitar tahun 1974 sampai 1975 semasa remaja, ia mulai menyenangi dunia seni peran, maka itu Sunaryo aktif di teater calon Bintang Grup Pos Film di Gelanggang Remaja Planet Senen, Jakarta Pusat dengan instrukturnya ketika itu Wim Umboh (sutradara) dan para artis, diantaranya Hadi Syam Tahak, Hendra Cipta, Ratno Timur, Sophan Sophian, Kusno Sujarwadi dan lain-lain. Namun itu dianggapnya hanya mencari pengalaman saja meski beberapa peran figuran pernah ia lakoni dalam beberapa film.

VETERAN KAWAH CANDRADIMUKA BUKIT TIDAR MAGELANG
Setamat dari SLTA tahun 1976, Sunaryo melanjutkan ke AKABRI Darat di Magelang. Ia merasakan yang namanya digojlok di Kawah Candradimuka Bukit Tidar Magelang. Namun baru setahun di Bukit Tidar ia dinyatakan Drop Out (DO). Saat itu Gubernur AKABRI Darat adalah Mayjen Wiyogo Atmodarminto dan Komandan Jenderal AKABRI Letjen Susilo Soedar-

man. Meski kecewa dan berat hati, ia pun bisa menerima keputusan itu. Beberapa rekannya yang di-DO tidak sedikit mengalami stres berat bahkan ada yang sampai hilang ingatan karena kecewa yang mendalam. Namun Sunaryo sangat bersyukur karena iman kuat dan pengalaman hidup sejak kecil yang mengharuskannya mandiri dan tangguh menjalani hidup, kejadian yang seperti dialami teman-temannya tidak ia alami. “Maka itu, dengan iman jadi terkendali karena kita memiliki filter sehingga terarah. Dengan ilmu, paling tidak mempunyai wawasan luas, baik cara berpikir maupun untuk mengambil keputusan dan akan mempermudah segalanya. Dengan seni semuanya akan menjadi indah, penuh warna dalam menjalani hidup ini, jadi tidak mudah stres,” begitu kiatnya. DO dari AKABRI, Sunaryo lantas bekerja sebagai rekanan pengadaan peralatan laboratorium di wilayah Jalan Hayam Wuruk Jakarta. Kemudian tahun 1978 ada pembukaan lowongan di Departemen Keuangan (Depkeu), ia pun melamar untuk dapat bekerja di Depkeu, ketika itu lamaran dikirim ke Kantor Departemen Tenaga Kerja Jakarta Pusat samping Taman Ismail Marzuki. Menjalani testing awal tahun 1979 di Senayan dan setelah dinyatakan lulus test, Sunaryo ditempatkan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akhir tahun 1979 ia dikirim ke Pusdik Litbang Tel Perumtel Bandung, tepatnya sejak Maret 1980 sampai dengan Maret 1981 untuk dididik sebagai Telegrafis Radio (Markonis). Juli 1981, Sunaryo, menginjakkan kaki di pulau Karimun Kepulauan Riau. Pertama kali menginjakkan kaki di Tanjung Balai Karimun, ketika itu terasa agak aneh dan unik kesannya tentang pulau ini, sebab di tingkat kecamatan terdapat Kantor Wilayah DJBC dan transportasi bis bentuknya unik dan supirnya warga Tionghoa. Amoy (gadis-gadis Tionghoa) di sana memikul air untuk dijual, ada juga yang menjadi pramuwisma (pembantu rumah tangga), beda dengan di Jakarta yang berpenampilan perlente. Awal 1982, Sunaryo mendapat tugas BKO GUSKAMLA (Gugus Keamanan Laut) di Belawan. Saat itu ia membawa rombongan Pangdam Bukit Barisan dari

76

EDISI 386 JANUARI 2007

Sabang menuju Ulee-Lheue. Setibanya di Dermaga Ulee-Lheue saat Kapal BC 2001 akan sandar, ABK melempar tali ke dermaga, namun tak satupun masyarakat di sekitar dermaga membantu mengambilkan tali untuk dililitkan ke dermaga, entah mengapa, padahal ombaknya cukup besar. Setelah mengetahui situasinya, ternyata masyarakat kurang berkenan dengan kehadiran rombongan TNI, karena Aceh ketika itu menjadi daerah operasi militer.

MENIKAH SAAT MENUNGGU PERBAIKAN KAPAL
Akhir Desember 1982, di suatu hari libur, Sunaryo beserta awak patroli yang berada dibawah Komando Kantor Pusat DJBC yaitu Kasubdit Operasi yang saat itu dijabat oleh Bambang Soebadi melakukan patroli laut. Dalam patroli itu dikerahkan 3 buah kapal patroli di sekitar perairan Pulau Jawa. Kapal patroli BC yang satu ditugaskan di perairan Cirebon – Semarang, Kapal BC yang kedua di perairan Tanjung Kerawang – Cirebon dan Sunaryo yang berada di kapal ketiga yaitu Kapal BC 7004 dengan nakhoda (alm) Utama dan Kopat Ethus M bertugas di perairan Tanjung Karawang – Panjang / Teluk Betung Lampung. Namun naas, di pagi hari libur Desember 1982 itu, BC 7004 dengan kecepatan cukup tinggi kandas menabrak karang muda di sekitar Pelabuhan Panjang, Lampung, dan posisi kapal langsung terduduk. “Untung tidak ada kebocoran pada kapal, namun propeller, Bracket dan as bengkok semua. Keesokannya Kapal BC 7004 ditarik dengan tug boat ke Pelabuhan Panjang namun tak berhasil, kemudian mengerahkan 2 tug boat diselingi acara ritual kepercayaan masyarakat setempat akhirnya

kapal bisa ditarik ke dermaga panjang. Keesokan harinya BC 7004 ditarik 2 tug boat menuju Tanjung Priok selama 2 hari 2 malam,” ujar Sunaryo. Setelah kapal di perbaiki dan masuk di Dok PT. INGGOM Tanjung Priok, para ABK mulai resah karena tidak ada kegiatan yang signifikan. Uniknya, waktu tersebut Sunaryo manfaatkan secara spontan untuk melangsungkan pernikahan dengan mojang Cimahi, Bandung. Dialah Edeh Djubaedah pujaan hatinya yang ia kenal di Bandung saat mengikuti pendidikan Markonis di Bandung yang saat bertemu pertama kali merupakan mahasiswi IKIP Bandung. Pernikahan pun dilangsungkan pada 28 Januari 1983. Meski semula orang tua dari pihak istrinya kaget dan terheran-heran dengan keputusan Sunaryo untuk menikah secara mendadak namun setelah dijelaskan bahwa ia memanfaatkan waktu disamping tugasnya yang terus berpindah-pindah tempat, akhirnya pernikahan itu berlangsung. Dari pernikahannya Sunaryo dengan Edeh Djubaedah yang kini berprofesi sebagai guru SMPN 216, mereka telah dikaruniai dua orang anak, masing-masing Dimas Wicaksono (22) yang kini sedang berkuliah di Osaka Jepang melalui program beasiswa Mombuso dari Pemerintah Jepang dan Diani Paramita Ayuningtyas (16) yang saat ini duduk dibangku kelas tiga SMA.

BANYAK PENGALAMAN DI PATROLI LAUT
Berbagai pengalaman menarik selama patroli laut telah ia alami. Seperti kisah saat patroli di sekitar Perairan Selat Singapura dengan BC 3002 yang di komandani J.A. Andih. Ketika sedang memeriksa dan menyegel kapal motor dari Singapura tujuan TBK, tiba-tiba ada kapal patroli laut dari instansi lain yang nomor lambungnya sudah tidak diingatnya lagi menghampiri BC 3002. Kemudian Kopat kapal BC 3002 dipanggil menaiki kapal patroli tersebut. “Setelah menghadap salah satu awak di kapal patroli tersebut, saya bertanya kepada Kopat kami, sebenarnya apa yang terjadi. Kemudian Kopat menjawab, ah sudah biasa, mungkin awak kapal patroli tadi tersingung karena kita memeriksa dan menyegel kapal tersebut terlalu lama,” kenang Sunaryo. Begitu juga saat mencurigai sebuah kapal penyelundup ketika patroli di sekitar perairan Tanjung Pinang. Timnya menjumpai oknum patroli laut dari instansi lain sedang mengawal kapal motor bermuatan barang kelontong. Ketika didekati kapal patroli
EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

Nakhoda M. Palumbara sekitar BC, salah satu oknum patroli Juni 1994, Sunaryo dan tim laut dari instansi lain tersebut patroli ditugaskan menjemput stand by dengan senjata laras Menkeu RI, waktu itu Mar’ie panjang. Lantas Kopat BC, TuMuhammad. giman memerintahkan Sunaryo Sunaryo dan tim patroli untuk menanyakan hal tersebut. menjemput Mar’ie Muhammad “Salah satu oknum tersebut di Dermaga WTC Singapura. Di saya suruh naik ke kapal kami, atas BC 8006 juga ada Kakanwil kemudian saya tanyakan kepaII DJBC TBK, Thomas Sugijata da yang bersangkutan. waktu itu , Kabid P2, Djasman Dikatakannya bahwa kapal moSutedjo. Kapal BC 8006 lalu tor tersebut merupakan barang menuju Perairan Tanjung Berakit tangkapan mereka. Langsung Hosbore dekat Laut Cina Selasaya gertak sambal bahwa tan mengantar Mar’ie Muhamakan kami laporkan hal ini ke mad yang ingin memancing di atasannya. Mereka pun ketakutsekitar lokasi tersebut. an dan minta tolong untuk tidak Setelah berselang kurang dilaporkan ke atasannya.” lebih 1 jam, ada salah satu ang“Jadi sebaiknya kalau kita gota rombongan Menkeu memelaksanakan tugas di ngatakan dengan sedikit takabur lapangan jangan kalah gertak bahwa ombaknya belum sebesambal oleh para oknum di rapa besar. Baru saja diucaplapangan, namun kita harus kan, berselang beberapa menit cerdas, berani, dan santun,” kemudian datang ombak sangat begitu kiat Sunaryo yang besar, maka BC 8006 terbiritmenerapkan pedoman hidup birit menuju dermaga Kabil, Bajangan mengharapkan hasil tam. Di tengah perjalan menuju tanpa kerja keras. Kabil, Sunaryo menawarkan kePengalaman patroli bersapada Mar’ie Muhammad untuk ma dengan instansi lain pun juberistirahat di kamar Kopat ga ia alami. Seperti waktu patnamun beliau menolak dan lebih roli di Perairan Selat Malaka, tim patroli BC termasuk Sunaryo BERSAMA KELUARGA saat wisuda pasca sarjana, 28 Oktober 2002. (Dari suka duduk di ruang kemudi. Ketika tiba Mar’ie ditugaskan membawa kiri ke kanan). Dimas Wicaksono (anak pertama), Edeh Djubaedah (istri), Muhammad nyaris terjatuh di rombongan ABRI Masuk Desa Sunaryo, Diani Paramita Ayuningtyas (anak kedua). Dermaga Kabil karena cuaca (AMD) dari Dumai menuju Bayang sangat buruk saat itu. “Bagaimana tam Tanjung Pinang. Pada saat kapal BC didekati terapung-apung sebuah perahu seandainya seorang Menkeu sampai tiba di perairan dekat Pulau Pisang dalam posisi terbalik dengan penumpang terjatuh atau terpeleset ke laut? Lantas Malaysia, kapal mereka dihantam ombak kira-kira 15 orang yang seluruhnya kami satu kapal BC 8006 nasibnya akan besar dan para anggota TNI yang selamat dan telah terapung-apung selama seperti apa ? Saya hanya bisa bergumam berjumlah kurang lebih 60 orang hampir 2 hari. Lantas tim patroli menolong para dalam hati saja ketika itu,” kata Sunaryo seluruhnya mabuk laut. Senjata mereka korban kapal terbalik dan mengangkatnya menceritakan kembali pengalamannya. pun berserakan di kamar ABK Kapal BC. ke Kapal BC 401 untuk kemudian diantar Juli 1994 Sunaryo dimutasi ke “Saya iseng tanya kepada para prajurit ke tempat tujuan, yaitu Sambu Belakang Kantor Inspeksi Tipe A khusus Tanjung TNI AD, saya kira TNI AD yang sudah terPadang setelah sebelumnya diberikan Priok I sebagai Validator / Pendok III. latih tidak mabuk laut, mereka jawab agak pakaian pengganti dan makan seadanya. Awal 1997 Pendok III dan IV kesal, saya kan bukan AL tetapi saya AD. Pengalaman lain, sewaktu Sunaryo dilikuidasi. Lepas dari jabatan tersebut Betul juga sih mereka tugasnya di darat,” masih menjadi operator radio tepatnya takemudian ditugaskan sebagai staf gumam Sunaryo ‘Si Mayor Kopassus’ hun 1990-an saat sedang patroli di Perairperbendaharaan kemudian staf pabean. yang memiliki pedoman dalam menjalan an Selat Singapura, tim patroli ditugaskan Selanjutnya sebagai staf penimbunan, tugas harus dengan semangat, tekad, oleh Kabid P2 Kanwil II DJBC untuk mempetugas P2 lapangan, dan kepala disiplin dan profesional. bawa Panglima TNI (Pangab) Jenderal L hanggar. Pada September 2003, ia Begitu juga sewaktu membawa romBenny Moerdani dari Batu Ampar, Batam dimutasikan ke Kantor Wilayah IV bongan TNI AL Lantamal Tanjung Pinang ke Singapura. Ketika itu kapal BC dikoDJBC Jakarta sebagai Verifikator, lalu ke Dabo Singkep dalam rangka latihan mandani Ethus M Setelah tiba di Dermadimutasi ke KPBC Kantor Pos Pasar pendaratan tank amphibi. Dalam setengah ga Finger Fier Singapura, Sunaryo agak Baru Maret 2004 sebagai Korlak perjalanan Tanjung Pinang-Dabo Singkep, heran juga, mengapa yang disalami (dijaAdministrasi Perbendaharaan. salah seorang anggota TNI AL berpangkat bat tangan) malah dirinya yang didahuluAwal Desember 2005, Sunaryo Letnan satu mabuk laut, Sunaryo dan kan, padahal waktu itu ia masih sebagai dipromosikan ke KPBC Bontang rekannya berinisiatif untuk menolongnya, romeo oscar (radio operator). Sebelum LB sebagai Kepala Seksi Perbendaharaan. namun ternyata dilarang oleh rekan-rekan Moerdani menyalaminya terlebih dahulu Baru 1,5 bulan bertugas di KPBC TNI AL. “Mereka larang kami untuk dia menatap dengan tatapan matanya Bontang, Sunaryo dipanggil Diklat menolong, katanya biarkan saja sampai yang tajam kepada dirinya dan Sunaryo Pengadaan Barang dan Jasa di Ciawi muntah kuning,” ujar Sunaryo. merasakan ada kebanggaan tersendiri Bogor. Pada saat akan berangkat ke Namun diantara kisah tadi ada juga buat dirinya. Ciawi, di Bandara Bontang, Sunaryo pengalaman yang menyentuh rasa kemadihampiri Kabid P2 Kanwil X DJBC nusiaannya, seperti misalnya ketika itu JADI KOMANDAN PATROLI Balikpapan, M. Aflah Parobi. “Beliau tahun 1984, sekitar Pukul 05.15 WIB, KaSetelah selesai DPT II angkatan XIX minta tolong saya untuk membimbing pal BC 401 mengejar sasaran di perairan akhir tahun 1993, selanjutnya Sunaryo diatau mengajarkan para calon Kopat antara Pulau Karimun Riau dengan tugaskan sebagai Komandan Patroli. baru, karena di Kanwil X DJBC BalikpaTanjung Piai Malaysia. Tim patroli mengira Saat patroli di sekitar Selat Singapura depan kekurangan tenaga Kopat. perahu penyelundup ternyata setelah ngan kapal patroli BC 8006 dengan 78
WARTA BEA CUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

DOK. PRIBADI

DOK. PRIBADI

AKAN BERTUGAS DI OFFSHORE di lepas Pantai Cilamaya tahun 1998.

BERSAMA KASUBSI P2 Kinsp Sambu, Belakang Padang (ketika itu dijabat Septia Atma, saat ini Kabid P2 Kanwil II TBK) di Dermaga Sambu tahun 1990-an.

Setelah selesai Diklat di Ciawi Bogor, Sunaryo di BKO-kan di Kanwil X selama 1 bulan sebagai Komandan Patroli BC 5001 bertugas di perairan Tarakan, Nunukan, Perairan Laut Sulawesi, Ambalat, Karang Unarang. Pesan Kabid P2, M Aflah Parobi masih diingatnya saat briefing kepada para kopat. Ia menekankan bahwa target minimal satu tangkapan dalam melaksanakan patroli laut, harus menguasai peta laut, dapat me-manage ABK kapal patroli BC dan harus menguasai dan mengerti intelijen/ informasi. Dan ternyata memang tidak sia-sia, sebab operasi membuahkan hasil dengan dua tangkapan, yaitu satu kapal berisi gula pasir dan beras, dan satu kapal berisi kayu hitam. Sewaktu menangkap kapal motor bermuatan gula dan beras, kapal tersebut

dari Tawao Malaysia tujuan Tarakan, kebetulan tangkapan tersebut diserahkan untuk proses lebih lanjut di KPBC Nunukan, tujuannya agar tidak terjadi contact person di Tarakan. Namun selama Sunaryo berada di Nunukan dalam proses serah terima barang tangkapan, HP-nya berdering terus, setelah ia angkat ternyata si penelepon mengaku-ngaku sebagai pemilik kapal dan barang yang minta tolong jangan ditangkap, maksudnya diselesaikan secara damai. “Saya jelaskan secara persuasif, oh itu gampang pak tenang saja, selesai proses hukum insya allah anda yang akan menang lelang. Jadi maksud dan tujuan saya agar si penelepon tidak rewel dan enggak meneleponnelepon saya lagi,” begitu taktik Sunaryo yang mengaku menyukai tugas
DOK. PRIBADI

yang penuh tantangan dan reaksi cepat. “Saya berharap agar patroli dapat dilakukan secara optimal, sehingga pelanggaran di bidang kepabeanan terutama di perbatasan perairan Kalimantan Timur dan Serawak dapat menurun,” ujar Sunaryo, seperti mengutip pendapat M Aflah Parobi, bahwa tenaga patroli yang berpengalaman, mengetahui kondisi perairan Kalimantan Timur dan mampu mengendalikan ABK serta mempunyai integritas tinggi masih kurang, termasuk kurangnya sarana patroli yang dimiliki oleh Kanwil X DJBC Balikpapan. Dari pengalamannya selama bertugas di laut, bagaimana ia merasakan suka duka sebagai awak kapal patroli terutama minimnya kesejahteraan, Sunaryo berharap agar kesejahteraan, uang makan dan ransum ABK kapal patroli BC dapat ditingkatkan lebih baik lagi, mengingat tugas yang diemban sangat berat dan resiko yang cukup tinggi. Dan kepada pegawai DJBC yang menjelang pensiun agar mendapat prioritas atau perhatian yang lebih dalam hal mutasi, misalnya ditempatkan di daerah asal pegawai tersebut untuk lebih dekat dengan keluarganya menjelang pensiun. Begitu juga harapan kepada pegawai DJBC, semoga seluruh pegawai DJBC selalu meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya. Tinggalkan sifat tak terpuji, mari samasama meningkatkan kinerja dalam melayani masyarakat. Khusus pada pegawai yang bertugas di laut, ia berharap agar DJBC benar-benar menggemblengnya, karena kapal patroli yang dibawa harganya mencapai miliaran rupiah dengan perlengkapan senjata, dan diterpa ombak yang luar biasa. Sehingga sangat dibutuhkan pegawai yang tangguh dan profesional di bidangnya masing-masing yang nota bene saat ini tenaga patroli laut usianya banyak yang masih relatif muda. ”Jadi kalau sudah terjun ke bidang laut, tolonglah krunya sudah betul-betul yang profesional, tangguh kemampuan intelektualnya dan siap pakai, karena situasi di laut serba krusial,” tandas Sunaryo. ris
DOK. PRIBADI

BERSAMA KAKANWIL X DJBC BALIKPAPAN, Drs. Faried Syibli Barchia, MA, usai pelantikan/ pengambilan sumpah PNS KPBC Bontang, Juni 2006 (Sunaryo, baris depan no.4 dari kanan).

BERSIAP untuk patroli laut. Sedang mengambil senjata berat dan ringan di gudang senjata KPBC TBK (tahun 1994, saat Sunaryo menjadi Komandan patroli). EDISI 386 JANUARI 2007 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA
Minggu itu (10/12) masyarakat tumpah ruah membanjiri sirkuit Sentul, Bogor. Pasalnya, pada hari itu untuk yang kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan akbar, A1 Grand Prix World Cup of Motorsport 2006. Duapuluh tiga negara mengirim para pembalap handalnya untuk bersaing di pentas bergengsi itu. Indonesia sendiri diwakili oleh pembalap nasional, Ananda Mikola. Walaupun Indonesia tidak mampu duduk dalam 10 besar (Ananda berada diposisi ke12-red), namun perhelatan itu bisa menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik. Ditemui WBC sebelum dimulainya A1 GP, Lucky Octavian, Indonesian Idol, mengatakan bahwa A1 GP memang tidak sekelas Formula 1, tapi tetap merupakan kejuaraan dunia antar negara. Sehingga ia merasa bangga karena Indonesia mampu menjadi tuan rumah. Oleh sebab itu ia tidak ragu untuk memberikan dukungannya pada pembalap Indonesia. Saat ditanya mengenai kesannya terhadap petugas bea cukai di bandara Soekarno Hatta, Lucky mengaku tidak pernah mengalami masalah yang berarti dengan petugas saat pulang dari luar negeri. “Biasanya suka ditanya ini itu, tapi nggak terlalu ribet,” ungkap Lucky yang pada event A1 GP tersebut tampil bersama Winda Viska menyanyikan sebuah lagu berjudul We Are The Champion dari grup musik legendaris Queen. Barang-barang bawaannya pun tidak pernah ditegah atau ditahan oleh petugas. Hingga saat ini semuanya masih aman-aman saja. “Paling kalau bawa makanan diperiksa dan aku gak pernah bawa yang aneh-aneh. Jadi di travel bag aku hanya ada baju, sepatu, peralatan mandi dan alat cukur hehehe…udah itu aja, aku gak pernah bawa yang macem-macem,” imbuhnya. Saat ditanya apakah ia tahu tugas dan fungsi Bea dan Cukai, Lucky mengatakan bahwa Bea Cukai merupakan suatu badan yang bertugas sebagai keamanan dimana para wisatawan atau siapapun yang berkunjung ke suatu negara, harus melalui prosesproses yang sudah ditetapkan Bea Cukai. “Hanya saja, disetiap negara kan berbeda-beda prosesnya. Seperti yang aku dengar, kalau ke Singapura bawa rokok maka akan ditanyain sama petugas bea cukainya,” katanya. Ketika diminta sarannya bagi petugas bea cukai di Indonesia, Lucky langsung nyeletuk, “Kalau lagi meriksa jangan galak-galak ya, soalnya kadang bikin sport jantung juga. Jadi kalau senyum kan lebih baik. Tapi apa memang sikapnya sudah seharusnya begitu kali ya. Kalau aku ngadepin itu ya bersikap nice aja lah, supaya prosesnya lancar hehe….” Lucky sendiri mengaku selama ini pergi ke luar negeri dalam rangka “ngamen”. Untuk saat ini, negara yang ia kunjungi dalam rangka “ngamen” masih di sekitar Asia, seperti Brunai Darussalam dan Singapura. Selain “ngamen”, kegiatan Lucky saat ini adalah mempromosikan album singlenya yang berjudul Interload, yang saat ini sudah beredar dipasaran. Tak hanya itu, ia pun sedang sibuk membuat album yang akan menjadi salah satu soundtrack film Indonesia (namanya masih dirahasiakan-red) yang rencananya akan keluar sekitar Januari 2007. ifa

W

i

n

d

a

V

i

s

k

a

“Ada Teman yang Mengurus Semuanya...”
Bagi anda penggemar serial komedi OB (Office Boy-red) yang diputar di salah satu televisi swasta Indonesia, anda pasti akrab dengan sosok perempuan mungil penggemar warna ungu yang bernama Shachya. Shachya yang memiliki nama asli Winda Viska ini, mulai meroket namanya sejak ia masuk dalam lima besar Indonesian Idol yang pertama. Kini, wajahnya pun semakin dikenal masyarakat setelah ia membintangi serial OB. Winda yang kini lebih sering dipanggil orang dengan nama Shachya mengatakan aktingnya yang lucu dalam serial OB lebih dikarenakan ia mengikuti apa yang ditulis dalam skrip. Namun ia mengaku, kalau skrip yang bagus tidak didukung dengan pemain yang bagus maka jadinya tidak akan bagus. “Kebetulan semua pemain-pemain di serial OB itu aktingnya natural. Walaupun aku sebenarnya gak seperti Shachya lho, tapi aku berusaha bermain tanpa beban,” ungkapnya. Selain syuting OB, Shachya tidak lupa dengan kegiatan nyanyinya. Hanya saja ia mengaku sulit untuk mengatur jadwalnya menyanyi karena syuting OB yang begitu menyita waktu (senin-jumat-red). Beberapa tawaran untuk bermain film pun sempat ditolaknya karena untuk saat ini Shachya memilih berkosentrasi di serial OB dan nyanyi. Ditemui WBC disela-sela kejuaraan A1 GP, Shachya mengatakan, kejuaraan A1 di Indonesia digelar untuk yang kedua kalinya dan hal itu merupakan suatu kehormatan bagi Indonesia. “Yang aku tahu, pada April lalu seharusnya negara lain yang ketempatan menjadi tuan rumah, tapi karena negara itu mengundurkan diri maka Indonsia langsung mengajukan diri. Yang jelas Indonesia keren banget udah bisa menyelenggarakan event internasional dengan persiapan yang sepanjang aku tahu cuma 3 minggu,” ujarnya. Saat disinggung apakah ia pernah kesulitan berhadapan dengan petugas bea cukai di bandara Soekarno Hatta, Shachya mengaku tidak pernah mengalami kesulitan saat berhadapan dengan petugas bea cukai. “Semuanya biasa-biasa aja. Dan biasanya yang ngurusin semuanya saat aku ada di bandara ya teman aku, jadi aku nggak pernah mengalami kesulitan dengan petugas, baik yang di Indonesia maupun yang diluar negeri,” imbuh Shachya yang biasanya pergi keluar negeri dalam rangka nyanyi dan berlibur. Ketika ditanya apakah ia tahu tugas dan fungsi bea cukai, Shachya terlihat berpikir sejenak dan mengatakan, “Aduh… aku pernah belajar dulu waktu di SMA, untuk barang-barang yang masuk ke Indonesia misalnya barang belanjaan harus kena bea cukai. Aku sendiri nggak pernah bayar karena kalau aku belanja kotaknya dibuang hehe….” Shachya menyarankan pada petugas bea cukai agar keep smiling dalam bertugas. Ia juga berharap agar petugas lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya dan lebih taat pada peraturan. Kalau mengenai korupsi dan kolusi, semata-mata bukan hanya milik Bea dan Cukai tetapi juga instansi lain yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, semuanya kembali pada diri masing-masing. Aparat birokrasi harus memulainya dengan memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu. Akur deh Sha…

Lucky Octavian

“Gak Pernah Bawa yang Aneh-aneh...”

ifa

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 386 JANUARI 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89 /PMK.04/2006 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI ETIL ALKOHOL ATAU ETANOL

MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Menteri Keuangan diberi kewenangan untuk mengatur besarnya tarif cukai untuk setiap jenis Barang Kena Cukai; b. bahwa besaran tarif cukai spesifik Etil Alkohol atau Etanol yang berlaku dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan harga yang terjadi; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan Tarif Cukai Etil Alkohol atau Etanol; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1612); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1613); 3. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI ETIL ALKOHOL ATAU ETANOL. Pasal 1 Tarif cukai sebagai dasar perhitungan besarnya pungutan cukai atas Etil Alkohol atau Etanol yang dibuat di dalam negeri atau yang diimpor ditetapkan berdasarkan sistem tarif cukai spesifik sebesar Rp 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per liter. Pasal 2 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemungutan cukai Etil Alkohol atau Etanol diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 3 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 230/KMK.05/1996 tentang Penetapan Tarif Cukai Etil Alkohol Atau Etanol dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 November 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 2006 MENTERI KEUANGAN ttd SRI MULYANI INDRAWATI

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 90/PMK.04/2006 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI MINUMAN DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Menteri Keuangan diberi kewenangan untuk mengatur besarnya tarif cukai untuk setiap jenis Barang Kena Cukai; b. bahwa tarif cukai spesifik Minuman dan Konsentrat Yang Mengandung Alkohol yang berlaku dinilai kurang efektif untuk membatasi konsumsi kedua jenis Barang Kena Cukai tersebut; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan Tarif Cukai Minuman dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1612); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1613); 3. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI MINUMAN DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL. Pasal 1 Tarif cukai sebagai dasar perhitungan besarnya pungutan cukai atas Minuman dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol ditetapkan berdasarkan sistem tarif cukai spesifik sebesar sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 2 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemungutan cukai Minuman dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasal 3 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.05/2000 tentang Penetapan Tarif Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol Dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol sebagaimana diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 125/KMK.04/2002 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 November 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 2006 MENTERI KEUANGAN ttd SRI MULYANI INDRAWATI

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90/PMK.04/2006 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI MINUMAN DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

TARIF CUKAI MINUMAN DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL I. MINUMAN YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL TARIF CUKAI (PER LITER) GOLONGAN A1 A2 B1 B2 C KADAR ETIL ALKOHOL DALAM NEGERI Sampai dengan 1 % Lebih dari 1 % sampai dengan 5 % Lebih dari 5 % sampai dengan 15 % Lebih dari 15 % sampai dengan 20 % Lebih dari 20 % Rp 2.500,00 Rp 3.500,00 Rp 5.000,00 Rp 10.000,00 Rp 26.000,00 IMPOR Rp 2.500,00 Rp 5.000,00 Rp 20.000,00 Rp 30.000,00 Rp 50.000,00

II. KONSENTRAT YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL TARIF CUKAI (PER LITER) GOLONGAN KADAR ETIL ALKOHOL DALAM NEGERI Dari semua jenis konsentrat, kadar, dan golongan, sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan Minuman Yang Mengandung Etil Alkohol Rp 50.000,00 IMPOR Rp 50.000,00

MENTERI KEUANGAN ttd SRI MULYANI INDRAWATI
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor P-90/PMK.04/2006 tentang Penetapan Tarif Cukai Minuman Dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal tentang Penetapan Harga Jual Eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1612); 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1612); 3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor P-90/PMK.04/2006 tentang Penetapan Tarif Cukai Minuman Dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL. Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan : 1. Kalkulasi Harga Jual Eceran adalah semua komponen yang meliputi : a. untuk Minuman Mengandung Etil Alkohol produksi dalam negeri : seluruh biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Cukai (Harga Pokok, keuntungan pengusaha, Cukai, PPN, PPnBM, keuntungan penyalur dan pengecer).
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

6

K E P U T U S A N
b.

&

K E T E T A P A N

2. 3. 4.

untuk Minuman Mengandung Etil Alkohol impor: Nilai Pabean, Bea Masuk, Cukai, PPN Impor, PPnBM, biaya lain-lain, keuntungan importir, keuntungan penyalur dan pengecer. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Kantor Wilayah adalah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kantor Pelayanan adalah Kantor Pelayanan Bea dan Cukai

Pasal 2 Pengusaha Pabrik atau Importir minuman mengandung etil alkohol wajib memberitahukan Harga Jual Eceran dari minuman mengandung etil alkohol yang diproduksi atau diimpor untuk setiap jenis dan merk minuman mengandung etil alkohol kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang mengawasi, dengan tembusan kepada Direktur Cukai dan Kepala Kantor Wilayah. Pasal 3 (1) Pengusaha Pabrik atau Importir minuman mengandung etil alkohol mengajukan Pemberitahuan Harga Jual Eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol dengan menggunakan formulir CK-18 disertai dengan surat pengantar sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I dan II Peraturan Direktur Jenderal ini. (2) Pemberitahuan Harga Jual Eceran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan: a. kalkulasi Harga Jual Eceran untuk masing-masing jenis dan merek sesuai dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III dan IV Peraturan Direktur Jenderal ini. b. label untuk masing-masing jenis dan merek minuman mengandung etil alkohol sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku; c. contoh barang, kecuali untuk produk yang pernah diajukan; Pasal 4 Dalam hal terdapat keragu-raguan atas kadar etil alkohol dalam minuman mengandung etil alkohol yang diberitahukan, Direktur Cukai atau Kepala Kantor Pelayanan dapat melakukan pengujian laboratorium atas biaya pengusaha pabrik atau importir yang bersangkutan. Pasal 5 Untuk keperluan pengawasan, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai wajib mencatat/membukukan Harga Jual Eceran yang diberitahukan dalam Buku Pengawasan khusus untuk itu dalam bentuk lajur sesuai format Lampiran V Peraturan Direktur Jenderal ini.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 6 Kepala Kantor Pelayanan wajib membuat laporan triwulan monitoring Harga Jual Eceran minuman mengandung etil alkohol kepada Direktur Cukai dengan tembusan Kepala Kantor Wilayah dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran VI Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 7 Pada saat Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku, Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-01/BC/2001 tentang Pemberitahuan Harga Jual Eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol dan peraturan pelaksanaan lainnya yang bertentangan dengan Peraturan Direktur Jenderal ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 8 Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Nopember 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2006 DIREKTUR JENDERAL Ttd,ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

Nomor Tanggal

: :

CK-18 Lembar : Asli/Kedua/Ketiga/Keempat

PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL
Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ..................................................... Jabatan dalam Perusahaan : ..................................................... Alamat Perusahaan : ..................................................... ..................................................... Nomor dan Tanggal NPPBKC : ..................................................... Dengan ini memberitahukan Harga Jual Eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol Jenis : .................................................................................................................. .................................................................................................................. yang akan diproduksi di Pabrik / diimpor melalui pelabuhan *) : ................................ ...................................................................................................................................... Dengan Perincian sebagai berikut : No. Merek Dagang Negara Asal*) Kadar Kemasan Etil Alkohol (%) Isi Harga (ml) Jual Eceran (Rp.) Harga Jual Eceran perLiter (Rp.) Tarif Cukai Per liter (Rp)

Demikian Pemberitahuan ini kami buat dengan sebenarnya dan apabila di kemudian hari ternyata pemberitahuan ini tidak benar, kami bersedia dituntut dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ......................., tanggal ..................... Pengusaha Lembar Lembar Lembar Lembar asli untuk Kepala Kantor Pelayanan Kedua untuk Pengusaha Pabrik/Importir Ketiga untuk Kepala Kantor Wilayah DJBC Keempat untuk Direktur Cukai DIREKTUR JENDERAL, Ttd,ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

*) Coret yang tidak perlu

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran II PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

Kepada Yth. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ……........………… di ……….......…………

SURAT PENGANTAR
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Pekerjaan : Alamat : dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama ……………................…………………… berkedudukan di …………............... pemegang NPPBKC Nomor: ………….......…….. dengan ini mengajukan Pemberitahuan Harga Jual Eceran minuman mengandung etil alkohol produksi dalam negeri / asal impor*) sebagaimana tersebut pada CK -18 terlampir. Bersama ini juga dilampirkan: a. Kalkulasi Harga Jual Eceran untuk masing-masing jenis dan merek minuman mengandung etil alkohol; b. Etiket/label untuk masing-masing jenis dan merek; c. Contoh barang untuk masing-masing jenis dan merek **) . Minuman mengandung etil alkohol yang akan diproduksi/diimpor*) tersebut, daerah pemasarannya meliputi ……………………………………………………………….. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi. Dibuat di………………………………. Pada tanggal ………………………… Pengusaha Pabrik/Importir, ………………….. Tembusan : 1. Direktur Cukai; 2. Kepala Kantor Wilayah. *) **) coret yang tidak perlu khusus untuk jenis dan merek baru

DIREKTUR JENDERAL, Ttd,ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran III PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

KALKULASI HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL PRODUKSI DALAM NEGERI
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nama Perusahaan NPPBKC Jenis MMEA Merek Jenis Kemasan Isi per Kemasan Kadar Etil Alkohol Tarif Cukai : : : : : : : :

Kalkulasi Harga Jual Eceran per liter : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bahan Baku Bahan Penolong Kemasan Biaya Produksi Biaya Penjualan dan Pemasaran Biaya Umum dan Administrasi Harga Pokok Keuntungan Pengusaha Cukai Sub Total 10. PPN ( …..% x Rp. ………) 11. PPnBM ( …..% x Rp. ………) 12. Keuntungan Penyalur dan Pengecer Harga Jual Eceran per Liter Harga Jual Eceran per Kemasan (………Liter x Rp. …….) Rp. ……….....…… Rp. …….....……… Rp. ……….....…… Rp. ………….....… Rp. …….....……… Rp. ……….....…… Rp. ………….....… Rp. ……….....…… Rp. ………….....… Rp. ……….....…… Rp. ………….....… Rp. ……….....…… Rp. ………….....… Rp. ……….....…… Rp. ………….....…

(tempat), (tanggal) PENGUSAHA, (nama) DIREKTUR JENDERAL, Ttd,ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran IV PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

KALKULASI HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL ASAL IMPOR
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Importir NPPBKC Jenis MMEA Merek Negara Asal Jenis Kemasan Isi per Kemasan Kadar Etil Alkohol Tarif Cukai : : : : : : : : :

Kalkulasi Harga Jual Eceran per kemasan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nilai Pabean Bea Masuk (……% x Rp. …………..) Cukai PPN Impor ( …...% x Rp. ……….…) PPnBM ( …..% x Rp. ……………) Biaya Lain-lain Keuntungan Importir Keuntungan Penyalur dan Pengecer Harga Jual Eceran per kemasan Rp. …….....……… Rp. ……….....…… Rp. ….....………… Rp. ………….....… Rp. ……….....…… Rp. ……….....…… Rp. ………….....… Rp. ……….....…… Rp. ……….....……

(tempat), (tanggal)

PENGUSAHA, (nama) DIREKTUR JENDERAL, Ttd,ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

12

K E T E T A P A N

Lampiran V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

BUKU PENGAWASAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL
NO. NAMA PERUSAHAAN /IMPORTIR JENIS ISI PER KADAR NPPBKC JENIS MEREK NEGARA ETIL MMEA ASAL*) KEMASAN KEMASAN (ml) ALKOHOL (%) 3 4 5 6 7 8 9

&

TARIF CUKAI (Rp./ liter)

HARGA JUAL ECERAN (Rp)

KETERANGAN**)

PERPERKEMASAN LITER

K E P U T U S A N

1 2

10

11

12

13

*) **)

khusus impor Diisi tanggal pemberitahuan HJE, dll

DIREKTUR JENDERAL,

Ttd,-

ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KANTOR WILAYAH : KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI :

13

K E T E T A P A N

Lampiran VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-17/BC/2006 TENTANG PEMBERITAHUAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

................................. S.D. .....................................

LAPORAN TRIWULAN MONITORING HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL
NO. JENIS MEREK NAMA JENIS ISI PER KADAR TARIF KODE MMEA PABRIK/ KEMASAN KEMASAN ETIL CUKAI PRODUKSI **) NEGARA (ml) ALKOHOL (Rp./liter) ASAL (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9

HARGA JUAL ECERAN (Rp)

KETERANGAN***)

PERPERKEMASAN LITER

K E P U T U S A N

10

11

12

*) Khusus yang dilekati pita cukai **) diisi bila pada etiket/kemasan tercantum kode produksinya ***) diisi keterangan tempat/lokasi pemantauan, dll

(tempat), (tanggal) Kepala Kantor, ..............................

DIREKTUR JENDERAL,

Ttd,-

14

ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

KANTOR WILAYAH KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI PERIODE BULAN

: : :

&

K E P U T U S A N
catatan :

&

K E T E T A P A N

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

15

K E P U T U S A N
catatan :

&

K E T E T A P A N

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 386 JANUARI 2007

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->