P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 395

Warta Bea Cukai Edisi 395

4.0

|Views: 1,985|Likes:
Dipublikasikan oleh bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

TAHUN XXXIX EDISI 395

OKTOBER 2007

Semangat Reformasi Dibidang Cukai

UU NO.39/2007
WAWANCARA

MENUNGGU IMPLEMENTASI
M. SYAWAL
“KALAU KITA KOMPAK... SEMANGAT JUANG DAN KERJA AKAN TETAP TINGGI”

PROFIL

ANWAR SUPRIJADI
“SUATU KETENTUAN IDEALNYA SEJALAN DENGAN KETENTUAN YANG LAIN”

DARI REDAKSI
TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Heru Santoso, SH Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Drs. Joko Wiyono KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Dr. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Ariohadi, SH, MA. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa, Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hilman Simbolon (Medan), Abdul Rasyid (Medan) Ian Hermawan (Pontianak) Donny Eriyanto (Makassar) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : MIRA PUSPITA DEWI BANK BNI 1946 CABANG CIPINANG RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR Nomor Rekening : 131339374 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

Keluarga Besar WARTA BEA CUKAI mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H
Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Upaya pemerintah untuk melakukan amandemen UU Cukai mendapat tanggapan dan dukungan positif karena sudah saatnya UU tersebut menyesuaikan perkembangan jaman saat ini. Simak berita lengkap amandemen UU Cukai dalam rubrik ini.

5-15

Wawancara

16-18
UU No. 39/2007 tentang Cukai diharapkan dapat menampung atau menjembatani perkembangan saat ini dan masa depan. Simak wawancara WBC dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi seputar UU Cukai.

Selak

37-39
Kali ini WBC mengajak pembaca jalan-jalan ke Kota Pacitan. Sebuah sebuah kota kecil yang terletak di pantai selatan P. Jawan dan berbatasan dengan Propinsi Jateng dan DIY. Banyak objek wisata yang menarik di kota itu, seperti pantai Klayar, ritual upacara Ceprotan dan goa Gong.

Pengawasan

32-36
KPU Tanjung Priok sita dan tegah kapal crew boat berbendera asing dan gagalkan importasi illegal MBM asal Inggris, serta menyita replika senjata api dan kayu illegal. Rubrik ini juga memuat tegahan tekstil illegal yang dilakukan oleh Kanwil DJBC Jakarta.

Daerah ke Daerah
Rubrik ini berisi berita tentang kegiatan Kembara Lintas Batas Aruk – Biawak yang diprakarsai Kanwil DJBC Kalbar, KPPBC Belawan musnahkan ribuan botol MMEA, serta sosialisasi UU No. 39/2007 di Kanwil DJBC Kaltim.

22-30

Profil

76-79
M. Syawal merupakan tokoh profil kita kali ini. Ia merupakan Korlak Operasi P2 KPPBC Tarakan yang sering bertugas sebagai Komandan Patroli. Simak perjalanan hidup dan karirnya dalam rubrik ini.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

1 3 4 19

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun per 1 Oktober 2007

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

20

KEPABEANAN INTERNASIONAL Intelligence Analysis Training and Trace Detection Training

BEASISWA
Sebagai Pegawai Bea dan Cukai, kita kan tahu bahwa kita punya suatu organisasi internasional yaitu WCO, saya sangat tertarik, walaupun mungkin tidak terlalu banyak tahu akan hal itu, dan pada kesempatan ini saya ingin menanyakan : 1. Program apa saja yang ditawarkan oleh Bea Cukai kita untuk bisa menjadi Duta atau perwakilan ke negara lain, contohnya Jepang 2. Beasiswa apa saja yang pernah ditawarkan dan apa saja persyaratannya. Demikian pertanyaan saya, atas jawabannya saya ucapkan terimakasih. FATIMAH HANNUM (060107507) Pelaksana Administrasi pada Kanwil DJBC Sumatera Utara

45 51

SEPUTAR BEACUKAI KEPABEANAN - Registrasi PPJK Untuk Mendukung Profesionalisme PPJK - Jalur Kuning dan MITA Mulai Diterapkan - Sosialisasi Blue Print Penerapan dan Rencana Ujicoba Sistem NSW di Tanjung Priok - Workshop Reformasi Pelayanan Importasi di Indonesia

58

KOLOM - Kebiasaan Manusia yang Efektif - Penyelarasan Kompetensi Individu Pegawai DJBC dan Kompetensi Inti DJBC Dalam Mewujudkan CompetenceBased Organization

Jawaban : Sehubungan dengan surat pembaca atas nama Sdri. Fatimah Hannum, dengan ini kami sampaikan tanggapan sebagai berikut : 1. DJBC, sampai saat ini melaksanakan Technical Cooperation dengan beberapa Institusi Pabean negara lain, antara lain: Amerika, Australia dan Jepang. Kerjasama tersebut dapat berupa tawaran training, workshop/lokakarya, seminar, atau kegiatan lainnya, baik dilaksanakan di dalam negeri maupun dilaksanakan di negara donor. Dari Pabean Jepang, diantaranya training Course on Chemical Analysis, Post Clearance Audit training (PCA), Customs Laboratory, dan HS Classification. 2. Beasiswa yang pernah ditawarkan, khususnya dari luar negeri, antara lain Beasiswa GRIPS-Jepang, Beasiswa PPSDM, Beasiswa KDI School of Economic Policy - Korea, Beasiswa MPM Program di Singapura 2008 dan masih banyak jenis beasiswa lainnya. Informasi mengenai beasiswa baik dalam negeri maupun luar negeri disebarluaskan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada seluruh unit eselon II DJBC, termasuk pula mengenai ketentuan persyaratannya (sesuai dengan program yang ditawarkan). Demikian disampaikan, atas kerjasamanya diucapkan terima kasih. KASUBDIT KERJASAMA INTERNASIONAL II HENDI BUDI SANTOSA NIP. 060079938 Tembusan : Direktur Kepabeanan Internasional.

63

OPINI - Mewaspadai Bahaya Distorsi dan Kontaminasi - Betah di tempat Kerja Dengan 3K

67

KOPERASI Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Koperasi di Era Kapitalisme

71 72 74 80

RUANG KESEHATAN Sakit-sakitan Karena ASI ? RENUNGAN ROHANI Kembali kepada Fitrah RUANG INTERAKSI Memaafkan APA KATA MEREKA - Darius Sinathrya - Adrian Maulana

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

LAPORAN UTAMA

UU Cukai
Ikuti Alur Perkembangan Jaman
Undang-undang cukai agak berbeda, tidak terlalu banyak melakukan akomodasi kepada pengusaha mengingat barang kena cukai itu adalah barang yang dalam peredarannya tidak diinginkan bahkan juga dibatasi serta lebih pada penegasan hukum.

Amandemen

U

Namun kedepannya, untuk menentukan suatu objek cukai paya pemerintah untuk mengamandemen Undangbaru, maka ditetapkan berdasarkan empat karakteristik yaitu Undang Nomor 11/1995(UU No.11/1995) tentang barang-barang yang konsumsinya harus dibatasi,barangCukai mendapat tanggapan dan dukungan positif barang yang distribusinya harus diawasi, barang-barang yang dari politisi Senayan. DPR mendukung inisiatif mengkonsumsinya berdampak pada rusaknya lingkungan hidup amandemen Undang-Undang Cukai, karena sudah dan sebagai sarana untuk memenuhi rasa kebersamaan dan saatnya undang-undang tersebut menyesuaikan perkembangkeadilan di masyarakat. an jaman saat ini. Dalam wawancara WBC dengan Ketua Pantia Khusus Rancangan Undang-Undang Cukai Dewan Perwakilan KARAKTERISTIK CUKAI HASIL STUDI BANDING Rakyat Republik Indonesia (Pansus RUU Cukai DPR-RI) Empat karakteristik tadi lanjut Irmadi, merupakan hasil Irmadi Lubis mengatakan, DPR tidak hanya mendukung yang didapat Pansus RUU Cukai ketika melakukan studi baninisiatif pemerintah bahkan DPR juga berinisiatif pula untuk ding ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan memperkuat tugas dan fungsi Direktorat Thailand. Hasil studi banding tersebut, lanWBC/ZAP Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam hal jut Irmadi, yang melatar belakangi ini Direktorat Cukai dalam menjalankan ekstensifikasi pada UU No.39/2009. Pada tugasnya terutama yang berkaitan dengan beberapa kali pertemuan sempat terlontar Cukai. Inisiatif DPR tersebut lanjut Irmadi wacana untuk menentukan langsung objekdapat dilihat pada pasal-pasal tentang inobjek yang dikenakan cukai seperti yang sentif bagi DJBC sebagai suatu institusi diberlakukan di Malaysia dan Thailand. dan juga adanya premi bagi para petugas Pada akhirnya hal tersebut tidak meyang berhasil menjalankan tugas terutama ngemuka dalam undang-undang mengingat yang berkaitan dengan kegiatan penindakmasih diperlukan waktu untuk bisa menean terhadap peredaran barang kena cukai tapkan langsung suatu objek dikenakan illegal. cukai. “Dari situ kita berpandangan dengan Pada amandemen undang-undang cara memperluas karakteristik sehingga cukai yang kemudian ditetapkan menjadi nantinya kita bisa menentukan barang apa UU No.39/2007, pemerintah bersama saja yang akan dikenakan cukai,”papar dengan DPR mencoba untuk meluruskan Irmadi. kembali filosofi cukai yang sebelumnya Selain perluasan objek cukai baru, dinilai tidak tepat, dimana pengenaan cupada UU No.39/2007 lanjut Irmadi, juga dicantumkan mengenai insentif yang kai pada suatu produk hanya dilihat sediberikan kepada DJBC dan juga premi bagai sarana untuk mendapatkan penghakepada para petugas maupun juga kepasilan bagi negara.”Jadi (Filosofi cukai) IRMADI LUBIS. Ekstensifikasi cukai da anggota masyarakat yang berpresharus diluruskan kembali, penerimaan masuk dalam UU No.39/2007 setelah negara dari sektor cukai merupakan sebelumnya melakuikan studi banding ke tasi.”Insentif dan premi itu kami usulkan agar masuk dalam UU No 39/2007 konsekuensi yang harus dijalankan dari beberapa negara. dengan tujuan agar petugas kita dapat maksud pengenaan cukai seperti untuk menjalankan tugas dengan baik lagi,”ujarnya kembali. meningkatkan lapangan kerja, peningkatan bahan baku, Ketika ditanya seberapa penting amandemen undangkesehatan dan lain sebagainya,”ujar Irmadi. undang cukai tersebut dilakukan, Irmadi mengatakan, amanDPR juga mendukung upaya pemerintah untuk kedemen memang diperlukan terutama mengenai perluasan mungkinan dilakukannya perluasan objek cukai yang maobjek cukai. Selain itu juga terdapat beberapa permasalahan suk dalam UU No.39/2007 yang kemungkinan berlakunya yang memang perlu dilakukan perubahan agar dalam perjatidak dalam waktu dekat ini. Menurutnya pada UU No.11/ lanannya nanti bisa mendukung tugas utama dalam pelaksa1995 pengenaaan cukai pada tiga produk yaitu hasil temnaan undang-undang tersebut. bakau, Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan Irmadi mencontohkan mengenai masalah audit, jika biaEtil Alkohol (EA) merupakan hasil penunjukkan dengan sanya ketika melakukan audit, petugas mengalami berbagai berbagai pertimbangan berdasarkan aturan jaman Belanda.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

GEDUNG CUKAI KP-DJBC. Pembayaran cukai dapat dilakukan berkala dengan jangka waktu paling lama 45 hari

halangan karena sesuatu yang sifatnya teknis seperti tidak ada pimpinan perusahaan pada saat auditor Bea dan Cukai melakukan tugasnya, maka kini sudah tidak ada permasalahan seperti itu lagi, karena bisa diganti oleh bawahan yang bertanggung jawab langsung, sehingga siapa saja harus mendukung kinerja petugas bea cukai untuk melakukan audit. “Tidak hanya itu saja pada bidang audit, jika memang diperlukan perusahaan juga harus bersedia untuk meminjamkan peralatan untuk mendukung kinerja petugas tersebut, dan itu dibenarkan oleh undang-undang,”papar Irmadi.

BERBEDA DENGAN UU LAINNYA
Undang-undang cukai hasil amandemen yang telah disahkan mempunyai karakter yang berbeda terutama yang berhubungan dengan pengusaha atau produsen barang kena cukai. Menurut Irmadi, undang-undang cukai agak berbeda, tidak terlalu banyak melakukan akomodasi kepada pengusaha mengingat barang kena cukai itu adalah barang yang dalam peredarannya tidak diinginkan bahkan juga dibatasi serta lebih pada penegasan hukum. “Jadi artinya undang-undang ini (UU No.39/2007) bukan mendorong industri agar perkembangannya menjadi pesat, karena filosofi cukai itu kan pengenaan cukai pada produk yang tidak dikehendaki, dan ini berbeda dengan undang-undang lain yang business friendly, sehingga kalau dibilang mengakomodir produsen atau tidak, kita jawab tidak,”ujar Irmadi. Tidak hanya itu, bahkan Irmadi mengatakan, dimasa yang akan datang seharusnya sarana untuk mengukur prestasi DJBC dilihat dari rendahnya penerimaan sektor 6
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

cukai, dan bukan dari tingginya penerimaan negara dari sektor cukai “Semakin rendah penerimaan dari sektor cukai, maka semakin berhasil pelaksanaan undang-undang cukai,”papar Irmadi. Dengan adanya peta jalan (roadmap) cukai, konsep pemerintah sejalan dengan konsep daerah terutama bidang industri. Pada roadmap cukai pokok perhatian tertuju pada masalah ketenagakerjaaan, penerimaan negara dan kesehatan, sehingga roadmap tersebut dijadikan acuan bagi pengusaha untuk dapat menjalankan industrinya. Dengan adanya roadmap, ketidak sinkronan antara aturan daerah dengan pusat yang berhubungan dengan cukai sangat sedikit, mengingat cukai sebagai instrumen fiskal merupakan kewenangan absolut pusat, dan tidak ada aturan daerah yang ‘menyerempet’ ke cukai. “Kalau mau kembangkan industri silahkan tapi cukainya dikenakan. Dan kedepannya sekali lagi saya sampaikan, penurunan penerimaan negara dari cukai berarti program untuk membatasi konsumsi,membatasi peredaran semakin berhasil,” paparnya. Dari sisi penegakkan hukum, UU No.39/2007 sudah memuat pengenaan sanksi yang cukup memadai dimana untuk sanksi administratif diantaranya berupa denda nominal tetap mulai dari Rp. 10 juta hingga Rp.75 juta dan sanksi pidana minimal satu tahun dan maksimal 5 tahun. Selain itu juga terdapat sanksi pidana kumulatif (pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dan pidana denda paling sedikit dua kali nilai cukai dan 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar). Lebih lanjut mengenai penegakkan hukum, Bea Cukai harus bisa menekan jumlah peredaran barang kena cukai

DOK. WBC

ilegal karena aturan dalam UU No 39/2007 memberikan kewenangan bagi aparat untuk melakukan penegakkan hukum terhadap pelaku produksi barang kena cukai ilegal. Karakter lain yang membedakan antara UU No.39/ 2007 dengan udang-undang lain adalah mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) cukai. Menurut Irmadi, DBH tersebut merupakan usul yang disampaikan DPR kepada pemerintah yang kemudian terakomodir dalam undang-undang tersebut. Irmadi mencoba meluruskan pemberitaan DBH yang selama ini beredar. Menurutnya, DBH hanya diberikan kepada daerah penghasil produk tembakau, karena di daerah tersebut bayak beredar barang kena cukai ilegal, sehingga daerah tersebut mendapat DBH yang salah satu kegunaannya adalah untuk memerangi produksi barang kena cukai ilegal, ”Kalau daerah lain ingin dapat INDUSTRI ROKOK. UU No.39/2007 bukan mendorong industri agar menjadi pesat DBH juga, itu tergantung pada kengenai penetapan besaran tarif cukai dalam rangka membijakan Menteri Keuangan yang mengaturnya,”papar Irmadi. batasi jumlah konsumsi rokok untuk menjadikan dunia semakin sehat. LINGKUP PERUBAHAN Sementara itu besaran tarif maksimal untuk barang kena Amandemen terhadap UU No. 11/1995 menghasilkan cukai lainnya dirasakan cukup memadai untuk mencapai beberapa hal yang baru termasuk didalamnya jumlah target penerimaan cukai melalui kebijakan tarif tanpa pasal yang ada didalamnya, dimana 39 pasal mengalami mengabaikan peran cukai sebagai instrumen untuk perubahan beserta dengan dua penjelasan pasal, 19 membatasi pemakaian barang tertentu serta guna pasal baru dan sembilan pasal yang dihapus, sehingga menciptakan rasa keadilan dan keseimbangan masyarakat jumlah pasal yang terdapat dalam UU No.39/2007 sebadalam pembebanan pungutan negara. nyak 82 pasal. Dalam UU No 39/2007 ruang lingkupnya Selain itu perubahan juga terdapat pada pasal 7 ayat 3(a), pun mengalami perubahan. ayat (3b) dan ayat (4) mengenai pencetakkan pita cukai. Setidaknya ada sembilan lingkup perubahan yang terPada pasal tersebut pita cukai yang digunakan sebagai bukti diri dari penegasan batasan objek cukai, tarif cukai paling pelunasan cukai yang juga alat pengawasan, tinggi, pencetakan pita cukai, peningkatan pelayanan dan pencetakkannya diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik optimalisasi penerimaan, pengawasan dan peningkatan Negara (BUMN) dan atau badan atau lembaga yang ditunjuk kepatuhan, pemberatan sanksi di bidang cukai, oleh menteri dengan syarat-syarat yang ditetapkan yang pembinaan pegawai dalam rangka kesetaraan, dana bagi hasil cukai hasil tembakau dan laDOK. WBC in sebagainya. Dalam penyusunan formulasi pasal baru dalam UU No.39/2007 kriteria barang kena cukai telah disusun dengan memperhatikan sifat kekhususan yang dimiliki oleh cukai yang menjadi faktor pembeda antara cukai dengan pajak. Tiga acuan digunakan untuk menentukan sifat dan karakteristik yang dimiliki cukai menjadi prinsip dasar pengenaan cukai seperti, pemilihan cakupan, dimana cukai hanya dikenakan terhadap beberapa jenis barang tertentu. Terdapat dua pertimbangan mengenai pengenaan tarif cukai tertinggi yaitu 57 persen yang juga merupakan salah satu dari ruang lingkup perubahan pada undang-undang cukai. Pertimbangan tersebut berasal dari organisasi kesehatan dunia (WHO) melalui Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang merekomendasikan kepada negara anggotanya meREWARD. Pada UU No.39/2007 ditujukan untuk meningkatkan kinerja petugas.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA
paling sedikit memenuhi asas keamanan, kontinuitas, efektifitas, efisiensi dan memperoleh kesempatan yang sama. tindaklanjuti melalui peraturan Menteri Keuangan. Pengalaman krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada 1997 yang menyebabkan terjadinya penutupan lapangan usaha,juga menjadi pertimbangan dalam UU No 39/2007, dimana untuk menghindari terjadinya penutupan usaha karena krisis ekonomi atau disebabkan oleh pihak ketiga, dalam melakukan pembayaran cukai hal ini dapat dilakukan secara mengangsur. Perubahan pun juga dilakukan pada pegajuan keberatan, banding dan gugatan yang terdapat pada pasal 41,43A, 43B dan pasal 43C. Pasal 41 ayat 1 dihapus karena keberatan atas hasil penutupan buku rekening barang kena cukai tidak mempunyai batasan yang jelas antara yang mengakibatkan timbulnya utang cukai maupun yang tidak. Sementara hak keberatan atas hasil penutupan buku rekening BKC telah diakomodir dalam pasal 41 ayat 2 UU No.39/2007. Selanjutnya perubahan jangka waktu pengembalian jaminan dalam bentuk uang tunai dalam UU No.39/2007 menjadi 30 hari sejak keberatan diterima. Hal ini dimaksudkan untuk memberi waktu yang cukup bagi pemerintah untuk merealisasikan pengembalian jaminan tunai setelah diterimanya keberatan. Hal baru juga terdapat pada kewenangan khusus Direktur Jenderal yang terdapat pada UU No.39/2007 pasal 40A yang berbeda dengan undang-undang sebelum amandemen. Pada UU No.11/1995, belum mengatur kewenangan Direktur Jenderal untuk melakukan pembetulan surat tagihan, pengurangan atau penghapusan denda administrasi apabila terjadi kesalahan atau kekeliruan manusiawi dalam suatu penetapan, sehingga sanksi administrasi berupa denda dapat dihapus atau dikurangi oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

HAL BARU BIDANG PENINGKATAN PELAYANAN DAN OPTIMALISASI PENERIMAAN
Mengenai peningkatan pelayanan dan optimalisasi penerimaan, UU No.39/2007 mengaturnya pada pasal 7 (3) mengenai penambahan cara pelunasan cukai. Hal ini berbeda pada undang-undang sebelumnya dimana cara pelunasan cukai dilakukan dengan cara pembayaran dan pelekatan pita cukai. Maka pada UU No.39/2007 cara pelunasan ditambah yaitu dengan pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya yang bisa dalam bentuk bar code, track and trace atau hologram. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir praktik bisnis yang berlaku dan memperhitungkan secara optimal cost of collection, compliance, administration, accountability, prinsip keadilan, serta kemungkinan perkembangan terknologi dan penambahan objek cukai Selain penambahan cara pelunasan, hal lain yang berhubungan dengan peningkatan pelayanan dan juga optimalisasi penerimaan adalah adanya pembayaran cukai secara berkala (Pasal 7A) dengan jangka waktu paling lama 45 hari, dimana hal tersebut tidak diatur dalam UU No 11/1995. Begitu juga dengan hal baru lainnya seperti jaminan dalam rangka pembayaran berkala dan penundaan cukai (Pasal 7A ayat 4, ayat 5 dan ayat 6), dimana untuk mendapatkan kemudahan tersebut pengusaha atau importir barang kena cukai wajib menyerahkan jaminan dengan tujuan untuk kepentingan pengamanan hak negara dengan prinsip kehati-hatian. Sedangkan bentuk jaminan tersebut dapat berupa jaminan tunai, jaminan bank, jaminan dari perusahaan asuransi dan jaminan tertulis yang dipertaruhkan setiap pengusaha tergantung pada tingkat kepatuhannya. Sementara peraturan lebih lanjut mengenai hal ini akan di
WBC/ATS

PENGAWASAN DAN PENINGKATAN KEPATUHAN
Hal-hal yang berkaitan dengan pengawasan dan peningkatan kepatuhan, terdiri dari lima hal seperti keabsahan data yang dikirimkan secara elektronik sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang, yang diatur dalam pasal 3A. Peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai, pada tingkat penyalur yang diwajibkan memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), mengingat sering ditemukan pelanggaran atas barang kena cukai di tempat penjualan eceran yang tidak dapat ditelusuri saluran distribusinya. Selain itu kewajiban melaksanakan pembukuan dan pencatatan (pasal 16 dan pasal 16A) juga diatur dalam UU No.39/2007 dimana pembukuan yang diwajibkan adalah pembukuan yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan dilaporkan berdasarkan standar akuntansi keuangan Indonesia, yang wajib dilakukan oleh pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importer barang kena cukai atau penyalur. Selain itu mengenai audit cukai yang terdapat pada pasal 39 UU No.39/2007, mempertegas dan mengatur lebih rinci kewenangan pejabat bea cukai untuk melaksanakan audit cukai sehingga objek audit kooperatif dalam membantu proses audit. Penerapan sanksi pada UU No.39/2007 dilakukan melalui dua jenis sanksi yaitu sanksi administrasi dan sanksi pidana, yang juga terdapat pada UU No.17/2007 tentang Kepabeanan. Sebagai bagian dari hukum fiskal, undang-uncang cukai selayaknya mengutamakan penyelesaian administrative sebagai pemulihan dan pemenuhan fiskus, sehingga penyelesaiannya cukup dengan dengan pemberian sanksi berupa denda. Namun jika terdapat unsur kejahatan seperti penggunaan pita cukai yang bukan haknya, memalsukan pita cukai dan lain sebagainya, maka dapat dikenakan sanksi pidana, baik pidana penjara dan pidana denda, maupun juga pidana penjara dan atau pidana denda. zap

PITA CUKAI. Pencetakkannya diatur dalam UU No.39/2007 dengan memperhatikan asas keamanan, kontinuitas, efektivitas, efisiensi dan memperoleh kesempatan yang sama.

8

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

UU No.39/2007
Memungkinkan Perluasan Obyek Cukai Baru
WBC/ATS

Terbuka kemungkinan, Indonesia memiliki obyek cukai baru selain dari hasil tembakau, Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan Etil Alkohol (EA) yang selama ini telah diberlakukan terhadap produk tersebut.

I

Baik pemerintah, DPR dan juga pengusani merupakan semangat yang terdapat paha bertemu guna membahas berbagai permada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 salahan menarik mengenai aturan cukai terse(UU No. 39/2007) tentang Perubahan Atas but. Frans mengatakan ketiga pihak masingUndang-Undang Nomor 11 tahun 1995 masing telah melakukan identifikasi permasa(UU No.11/1995) tentang cukai, dimana lahan yang kemudian masuk dalam Daftar pengenaan cukai terhadap barang-barang terInventaris Masalah (DIM) guna dilakukan pemtentu yang mempunyai sifat atau karakteristik bahasan. Ketika diwawancarai Menteri yang ditetapkan dalam undang-undang perlu Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan diperluas batasan dan cakupannya, sehingga hal yang sama soal dinamika pembahasan dapat memberikan keluwesan dan kekuatan RUU Cukai, menurutnya banyak hal yang sehukum dalam rangka menambah atau membelumnya tidak tertampung pada saat pengaperluas objek cukai dengan tetap memperhajuan RUU, namun berdasarkan pembahasan tikan aspirasi dan kemampuan masyarakat. dengan anggota dewan, baik yang disampaiMenurut Direktur Cukai Frans Rupang, kan dalam DIM maupun yang berkembang untuk dapat menentukan suatu komoditi dapat pada saat pembahasan, telah menghasilkan dikenakan cukai, tidak dapat diberlakukan serumusan akhir yang semakin baik. cara langsung melainkan harus melalui suatu “Amandemen telah selesai dilakukan, proses panjang yang melibatkan berbagai sekarang yang terpenting adalah bagaimana instansi terkait di pemerintahan termasuk juga kita bisa menjalankan undang-undang dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia tersebut dengan baik, sesuai dengan apa meluruskan pemberitaan yang muncul pada yang telah diamanatkan oleh undang-undang saat pembahasan RUU Cukai, dimana tersiar kabar bahwa produk-produk tertentu akan FRANS RUPANG. Pembahasan RUU Cukai tadi,”papar Frans. berlangsung penuh dinamika Ketika ditanya kesulitan yang ditemui dikenakan cukai seiring dengan selesainya dalam pembahasan RUU Cukai, Frans proses amandemen. mengatakan kesulitan tidak ditemui karena pada prinsipnya Menurutnya hingga saat ini pemerintah belum menentukan antara pemerintah dengan DPR mempunyai pandangan yang objek cukai baru, namun kedepannya kemungkinan untuk sama yaitu bagaimana suatu peraturan harus memberikan memperluas objek cukai baru memang ada, dan itu harus melalui manfaat bagi negara. Ketika ditanya proses penentuan tarif suatu tahapan yang panjang dan melibatkan instansi terkait. “Jadi maksimal terhadap produk hasil tembakau, Frans menjelashingga saat ini (wawancara dengan WBC berlangsung pada 23 kan, pada pembahasan mengenai tarif cukai maksimal pada Juli 2007-red) masih produk hasil tembakau, Minuman produk hasil tembakau, pemerintah pada pembahasan RUU Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan Etil Alkohol (EA) yang mengusulkan agar tarif maksimal cukai pada hasil tembakau dikenakan cukai,sementara yang lain belum ada, kalaupun ada 65 persen. itu harus melalui pembahasan yang cukup panjang,”papar Frans Namun dalam berbagai pembahasan, nilai tersebut menjadi yang mencoba meluruskan pemberitaan. 57 persen untuk produk hasil tembakau, sementara untuk aneka Selain itu, Frans juga menjelaskan sifat dan karakteristik ancukai tarif maksimum yang diusulkan pemerintah sebesar 65 tara UU No. 11 tahun 1995 dengan undang-undang hasil persen menjadi 80 persen. Penghitungannya dilakukan berdaamandemen terdapat perbedaan, dimana pada UU No.11/1995, sarkan HJE dan bukan berdasarkan harga penjualan pabrik. “Ini sifat dan karakteristiknya adalah dalam rangka pengawasan dan menunjukkan bahwa dalam pembahasan undang-undang pembatasan konsumsi,sedangkan pada UU hasil amandemen, tersebut terjadi dinamika,”ujarnya. karakteristiknya menjadi untuk konsumsi yang perlu dikendalikan, Selain itu, lanjut Frans Rupang, dinamika lain dalam proses peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan pembahasan RUU Cukai terlihat dengan adanya pasal yang dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup dan pemengatur mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai bagi daerah makaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan penghasil cukai hasil tembakau yang jumlahnya mencapai 2 dan keseimbangan. persen. Menurutnya usulan tersebut berasal dari salah satu fraksi di DPR yang tidak terdapat pada Daftar Inventaris Masalah (DIM) PENUH DINAMIKA yang akan dibahas sebelumnya. Pembahasan proses amandemen lanjut Frans, berlangsung Pasal yang mengatur mengenai DBH tersebut terdapat pada penuh dinamika, dimana pembahasan suatu pokok permasalahpasal 66A, 66B, 66C dan pasal 66D, dimana DBH tersebut an terus berkembang. Untuk mendapatkan masukkan mengenai merupakan bagian kapasitas fiskal dalam formula dana alokasi gambaran yang ideal mengenai undang-undang cukai, pemerinumum yang diberikan kepada provinsi penghasil cukai hasil temtah telah melakukan berbagai penelitian dan mencari berbagai bakau. DBH tersebut nantinya akan digunakan untuk mendanai masukkan dari berbagai pihak, baik dari kalangan dunia usaha, peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan lingkungan sosial, pemerintah sendiri maupun juga dengan kalangan akademisi.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

PENERAPAN CUKAI DI INDONESIA

Sebelum berlakunya UU No. 11/1995 tentang Cukai, Indonesia mengadopsi aturan mengenai cukai dari pemerintah Belanda. Aturan cukai buatan Belanda tersebut mengenakan cukai pada lima produk yaitu cukai minyak tanah yang diatur dengan ordonantie van 27 December 1886 stb. Nr. 249, cukai alkohol sulingan yang keberadaannya diatur dengan ordonantie van 27 Februari 1898 nr90 dan 92, cukai Bir yang diatur dengan Bieraaijen Ordonantie stb 1931 Nr 488, cukai tembakau yang diatur dalam tabakaccijen Ordonantie stbl 1932 Nr517 dan cukai gula yang diatur dengan suikerrraccijn ordonantie Stb 1933 Nr.451 Adanya undang-undang terhadap lima produk tersebut menurut pertimbangan pembentuk undang-undang ketika itu, karena karakteristik masing-masing produk tersebut berbeda. Misalnya alkohol sulingan dengan gula mempunyai karakteristik yang berbeda baik dari segi kenikmatan maupun kegunaannya. Alkohol bersifat merusak namun dapat meningkatkan spirit, sedangkan gula diperlukan untuk tenaga dalam batas-batas tertentu dan dapat menambah kenikmatan minuman atau makanan. Kedua produk tersebut pada saat itu dipandang sebagai barang mewah untuk kalangan tertentu. Namun dalam perkembangPENDAPAT AKHIR PEMERINTAH. Menandakan siap diberlakukannya UU No.39/2007. annya, kelima aturan tersebut tidak efektif lagi. Selain karena tidak sesuai dengan perkembangan jaman, dan karena political sosialisasi ketentuan dibidang cukai dan atau pemberantasan will dari pemerintah, maka cukai pada minyak tanah dan gula tidak Barang Kena Cukai ilegal lainnya. Dalam acara sosialisasi UU No.39/2007 kepada para diberlakukan lagi dan disatukan dengan pajak-pajak atas Bahan pegawai di lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea Bakar Minyak (BBM), sedangkan cukai gula dianggap membedan Cukai (KP-DJBC) dan juga kepada para pengusaha dan bani sebagian besar konsumen yang terdiri dari masyarakat biasa, juga asosiasi rokok dan MMEA dan EA di KP-DJBC pada 20yang kemudian berujung pada penangguhan pengenaan cukai 23 Agustus 2007 hal tersebut juga disampaikan Frans pada gula di tahun 1986. Penangguhan ini berarti cukai yang seRupang. Menurutnya UU No.39/2007 mengamanatkan DBH harusnya dibebankan kepada konsumen diambil alih oleh pemehanya diberikan kepada daerah penghasil cukai hasil rintah . tembakau.”Disini kami meminta bantuan teman-teman untuk Kembali kepada awal terbentuknya UU No.11/1995 tentang menyampaikan hal tersebut, jika ada yang menanyakan DBH cukai, pemerintah ketika itu melihat banyaknya masyarakat yang tersebut katakan bahwa undang-undang mengamanatkan mengkonsumsi barang-barang yang dulunya hanya DBH hanya diberikan kepada daerah penghasil produk cukai diperuntukkan bagi orang Belanda. Minuman keras, bir mulai hasil tembakau,”ujarnya kembali. memasuki rumah-rumah masyarakat bahkan masuk ke desaSanternya pemberitaan mengenai DBH tersebut, juga desa sebagai simbol kemewahan. Hal itu menimbulkan ekses ditanyakan kepada Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi yang tidak diinginkan akibat konsumsi barang-barang tersebut. yang ditemui setelah penyampaian pandangan akhir Ekses tersebut seperti terjadinya tindak kriminal, keresahan pemerintah mengenai RUU Cukai di gedung DPR pada 20 masyarakat dan hal lain yang bersifat negatif. Juli 2007. Kepada pers ketika itu Anwar Suprijadi Tahun 1984 hingga 1987, terbentuklah Tim Penyusunan RUU mengatakan, DBH paling cepat diterapkan pada 2008, karena Cukai yang ketika itu dipimpin oleh Drs. Kusmayadi. Walaupun masih menunggu peraturan pelaksanaan, Peraturan telah menjalankan tugasnya selama hampir empat tahun dan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dapat menyelesasikan RUU tarif beserta lampirannya, RUU yang membutuhkan waktu pembahasan satu tahun.DBH Pabean dan Cukai, namun tim ini belum berhasil menelurkan tersebut lanjutnya, tidak akan mengurangi penerimaan cukai, satu undang-undang. hanya alokasinya dibagi-bagi ke daerah penghasil tembakau, Menurut salah seorang mantan anggota Tim Penyusunan dimana dulu penerimaan dari sektor cukai masuk ke Dana Rancangan Undang-Undang Kepabeanan dan Cukai R. Soemitro, Alokasi Umum (DAU). sangat sulit untuk melebur lima undang-undang tadi kedalam satu 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

WBC/ATS

undang-undang. Alasannya ketika itu, berlaku lagi. Pengusaha hanya wajib karena sifat karakteristik, saat berlakumelaporkan jumlah produksi yang telah nya pengenaan cukai dan cara pengedicapai dalam kurun waktu tertentu. naan cukai masing-masing produk Begitu juga dengan dipungutnya berbeda, yang jika dijadikan satu akan cukai atas alkohol sulingan yang dibuat terjadi benturan-benturan dalam pelaksecara tradisional yang oleh sebagian sanaannya. masyarakat ketika itu dinilai Dengan pedoman bahwa pengenameresahkan, karena sebelum dibuatnya an cukai bukan semata-mata sebagai UU No.11/1995 alkohol tersebut tidak pengumpul dana dari masyarakat, tetapi dipungut cukai, sementara alkohol juga untuk membatasi dan mengawasi sulingan tersebut mempunyai dampak lebih ketat, maka pada tahun 1993 dinegatif. bentuk tim RUU yang diketuai Sekertaris Jenderal Departemen Keuangan SIAP DILAKSANAKAN (Sekjen Depkeu) mengenai perlunya Setelah berlaku selama kurang lebih undang-undang cukai yang baru mengsebelas tahun, dan dinilai masih banyak ingat, ordonansi cukai yang ada didayang perlu mendapat perubahan yang sarkan pada kepentingan politik, ekonosesuai dengan perkembangan jaman, mi dan sistem kolonial, dimana ketika itu pemerintah berinisiatif melakukan Indonesia masih dibawah penjajahan amandemen terhadap UU No.11/1995. Belanda. Pertimbangan selanjutnya Proses amandemen tersebut adalah untuk menjaga kevakuman dibiberlangsung mulai tahun 2005 hingga dang hukum tentang cukai, dimana berpertengahan tahun 2007,dimana dalam dasarkan Undang-Undang Dasar 1945, proses amandemen tersebut ordonansi cukai tetap diberlakukan. menghasilkan beberapa hal baru yang Selain itu, kelima ordonansi cukai diradisesuaikan dengan perkembangan sakan bersifat diskriminatif, tidak jaman. memenuhi tuntutan pembangunan dan Suksesnya amandemen UU No.11/ tidak dapat memenuhi perannya seba1995 tentang Cukai yang kini menjadi gai alat pembaharuan social. UU No.39/2007 tentunya memerlukan Pada penyusunan RUU Cukai, tim kesiapan dari aparatnya untuk dapat ROKOK. Salah satu objek cukai selain MMEA dan EA, sementara objek lain yang akan dikenakan cukai perlu mengambil beberapa acuan aturan menjalankannya. Tidak lama setelah pembahasan cukai dari beberapa negara mengingat ditandatangi presiden pada 15 Agustus terbatasnya literatur yang membahas 2007, DJBC telah melakukan sosialisasi mengenai cukai ketika itu dan mendesaknya waktu pembahasan kepada para aparatnya baik di kantor pusat,daerah dan juga undang-undang. Pada pembahasan ketika itu, usulan barang kepada para pengusaha. wajib cukai juga mengemuka yang berdasarkan pada Sosialisasi pertama kali dilakukan di Jakarta kepada para kepentingan masyarakat dan pemasukkan keuangan negara. petugas dilingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Jumlah komoditi wajib kena cukai berdasarkan aturan Belanda Cukai (KP-DJBC) maupun juga kepada para pengusaha yang berjumlah lima komoditi, dapat dikembangkan lebih lanjut. Pada dilakukanpada 27-30 Agustus 2007. Sosialisasi tersebut akhirnya setelah selesai dibuat, UU No.11/1995 tentang cukai menampilkan berbagai hal yang baru yang terdapat pada UU hanya terbatas pada tiga komoditi. No.39/2007 serta pemaparan mengenai berbagai pasal yang Dalam tulisannya yang berjudul “Mengapa dan Bagaimana mengalami perubahan, maupun juga penambahan. Undang-Undang kepabeanan dan Cukai yang Baru Lahir?”, Ali Sosialisasi tersebut menggunakan metode baru dengan Purwito M, mantan anggota Tim Rancangan Undang-Undang menggunakan sarana multi media dimana pemaparan mengenai Kepabeanan dan Cukai mengatakan, dalam pelaksanaannya, isi dari UU No.39/2007 disampaikan dalam bentuk tampilan UU No11/1995 ketika itu agak sulit untuk dijalankan terutama multimedia dengan berbagai ilustrasi audio visual dengan tujuan dalam bidang pengawasan. Jika jaman dulu produksi rokok dapat untuk mempermudah para peserta sosialisasi menerima langsung diawasi oleh petugas Bea Cukai dengan cara penjelasan mengenai materi sosialisasi tersebut. pencacahan dan sebagainya kini pengawasan demikian tidak Tentunya dalam pelaksanaan masih diperlukan penjelasan lebih lanjut yang disampaikan oleh tim sosialisasi. Dalam acara WBC/ATS sosialisasi tersebut muncul pertanyaan dari kalangan pegawai DJBC seputar masalah pembinaan pegawai dan pengenaan sanksi, serta pertanyaan yang berhubungan dengan masalah pelaksanaan tugas dilapangan yang dilakukan oleh para petugas. Sementara dari kalangan pengusaha,pertanyaan yang muncul lebih cenderung pada pertanyaan yang menitikberatkan pada masalah pembayaran berkala dan juga pemberian jaminan kepada pihak Bea Cukai dari pihak pengusaha. Dalam perjalanannya hingga saat UU No.11/1995 tentang cukai diamandemen, dinilai oleh sebagian masyarakat berjalan cukup baik, dimana berbagai aturan lain yang mendukung undang-undang tersebut dibentuk, sehingga pelanggaran dan juga tindak pidana cukai dapat ditekan. Sedangkan dari segi pendapatan, penerimaan negara dari sektor cukai terus mengalami peningkatan. Dengan adanya UU No.39/2007 yang merupakan hasil amandemen dari UU No.11/1995, diharapkan terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara pemerintah dengan masyarakat. Kini tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah menjalankan aturan tersebut dengan baik sesuai dengan apa SOSIALISASI. Suasana sosialisasi UU No.39/2007 di Kantor Pusat DJBC yang diinginkan konstitusi hasil pembahasan bersama. zap Jakarta kepada para pegawai.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA

Pengawasan di Bidang Cukai
Indikator keberhasilan bisa dilihat dengan adanya peningkatan penerimaan cukai, penurunan tingkat pelanggaran cukai, peningkatan kepatuhan pengusaha BKC serta kesadaran masyarakat untuk memenuhi/ melaksanakan ketentuan di bidang cukai.

D

tempat lain yang bukan rumah tinggal, yang di dalamnya alam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Taterdapat BKC; dan hun 1995 tentang Cukai, disadari masih terdapat d. BKC dan/ atau barang lainnya yang terkait dengan BKC hal-hal yang belum tertampung untuk mengoptimalyang berada di tempat sebagaimana dimaksud pada kan upaya pengawasan dan pengendalian atas huruf a, huruf b, dan huruf c. konsumsi dan peredaran BKC tersebut, sehingga (2). Dalam melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud menuntut perlunya penyempurnaan. pada ayat (1), pejabat bea Menurut Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Direktorat dan cukai berwenang mengambil contoh BKC. Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Heru Santoso, SH, kendala (3). Dalam melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud tersebut sekarang sudah diantisipasi dengan hadirnya Undangpada ayat (1), huruf d, pejabat bea dan cukai berwenang Undang No.39 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undangmeminta catatan sediaan barang, dokumen cukai, dan/ atau Undang Nomor 11 tahun 1995 (UU No.11/1995) tentang cukai, dokumen pelengkap cukai, yang wajib diselenggarakan khususnya pada pasal 33, pasal 35 dan pasal 37. berdasarkan undang-undang ini. Dalam penyempurnaan ketentuan tersebut, Ketentuan pasal (4). Setiap orang yang menyebabkan peja33 diubah sehingga pasal pasal 33 berbunyi DOK. WBC bat bea dan cukai tidak dapat sebagai berikut : melaksanakan ketentuan sebagaimana (1).Bahwa pejabat bea dan cukai berwedimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan nang : ayat (3) dikenai sanksi administrasi a. mengambil tindakan yang diperlukan berupa denda paling sedikit Rp. atas BKC dan/ atau barang lainnya 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) yang terkait dengan BKC berupa dan paling banyak Rp. 100.000.000,00 penghentian, pemeriksaan, penegah(seratus juta rupiah). an, dan penyegelan untuk melaksanakan undang-undang ini; Ketentuan pasal 37 ayat (1) dan ayat (4) b. mengambil tindakan yang diperlukan diubah sehingga pasal 37 berbunyi sebagai berupa tidak melayani pemesanan pita berikut : cukai atau tanda pelunasan cukai (1) Pejabat bea dan cukai berwenang untuk lainnya; dan menghentikan dan memeriksa sarana c. menegah BKC, barang lainnya yang dan/ atau barang lainnya yang terkait deterkait dengan BKC, dan/ atau sarana ngan BKC yang berada di sarana pengpengangkut. angkut. (2). Dalam melaksanakan kewenangan seba(2) Pengangkut wajib menunjukkan dokugaimana dimaksud pada ayat (1), pejabat men cukai dan/ atau dokumen pelangbea dan cukai dapat dilengkapi dengan kap cukai yang diwajibkan menurut senjata api yang jenis dan syarat-syarat HERU SANTOSO, SH. Pada dasarnya undang-undang ini. penggunaannya diatur dengan peraturan mekanisme pengawasannya sama hanya (3) Sarana pengangkut yang disegel oleh pemerintah. saja perlu dilakukan perluasan lingkup dinas pos atau penegak hokum lain, (3).Ketentuan lebih lanjut mengenai tata pengawasan sesuai dengan ketentuan UU No.39 tahun 2007. dikecualikan dari pemeriksaan cara penindakan sebagaimana dimaksebagaimana dimaksud pada ayat (1). sud pada ayat (1) huruf a dan huruf b (4) Setiap orang yang menyebabkan pejabat bea dan cukai serta penegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat melaksanakan ketentutan sebagaimana dimakhuruf c diatur dengan atau berdasarkan peraturan pemerintah. sud pada ayat (1) dan pengangkut yang tidak mengindahkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikeKetentuan pasal 35 diubah sehingga pasal 35 berbunyi nai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit Rp. sebagai berikut : 2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) dan paling (1).Pejabat bea dan cukai berwenang melakukan banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah). pemeriksaan terhadap : a. pabrik, tempat penyimpanan, atau tempat lain yang MEKANISME PENGAWASAN CUKAI digunakan untuk menyimpan BKC dan/ atau barang Mengenai pengawasan dibidang cukai, lanjut Heru, lainnya yang terkait dengan BKC, yang belum dilunasi mekanisme pengawasan di bidang cukai selama ini dilakukan cukainya atau memperoleh pembebasan cukai; melalui perijinan bagi pengusaha dibidang cukai melalui b. bangunan atau tempat lain yang secara langsung atau Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), tidak langsung berhubungan dengan bangunan atau dokumen cukai dan dokumen pelengkap cukai yang tempat sebagaimana dimaksud pada huruf a; diwajibkan, terutama dokumen pembayaran, fasilitas dan c. tempat usaha penyalur, tempat penjualan eceran atau dokumen pelindung pengangkutan Barang Kena Cukai.
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

12

DOK. WBC

Kemudian juga, kewajiban melaksanakan pembukuan dan pencatatan sehingga dapat dilakukan audit dibidang cukai terhadap perusahaan pemegang NPPBKC maupun pemilik fasilitas dibidang cukai. Serta, kegiatan yang dilakukan oleh unit pengawasan berupa pengumpulan informasi serta dengan penerapan manajemen resiko, operasi intelijen dan penindakan, juga melakukan penelitian dan analisa terhadap informasi serta isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat yang berkaitan dengan bidang cukai. Dalam hal ini yang menjadi obyek pengawasan di bidang cukai adalah produksi dan distribusi BKC mulai dari distributor sampai dengan retailer. Baik untuk BKC yang bayar cukai maupun yang mendapatkan fasilitas pembebasan atau tidak dipungut cukai. Menurut Heru, dalam hal penindakan BKC, wewenang petugas bea dan cukai dalam UU No.11 tahun 1995 adalah melakukan penghentian, pemeriksaan, penegahan dan penyegelan hanya terhadap BKC-nya saja, sehingga tidak ada dasar hukum bagi petugas di lapangan untuk melakukan penindakan terhadap barang-barang selain BKC yang terkait dengan BKC yang diduga dapat digunakan sebagai bukti awal untuk pengembangan penyelidikan. Namun di dalam UU No.39/ 2007, penindakan berupa penghentian, pemeriksaan, penegahan dan penyegelan dapat dilakukan terhadap barang lainnya yang terkait dengan BKC. Ketentuan ini memberikan kesempatan yang lebih luas untuk mengumpulkan bukti awal yang cukup bagi keperluan penyidikan jika diduga terjadi pelanggaran ketentuan cukai. Ketika disinggung mengenai perbedaan dalam pelaksanaan dan metode pengawasan antara UU No 11 tahun 1995 dengan undang-undang cukai hasil amandemen (UU No.39 tahun 2007), Heru menegaskan, pada dasarnya mekanisme pengawasannya sama hanya saja perlu dilakukan perluasan lingkup pengawasan sesuai dengan ketentuan UU No.39 tahun 2007 yang mewajibkan NPPBKC mulai dari pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importer BKC, penyalur atau pengusaha tempat penjualan eceran.

TOKO BEBAS BEA. Salah satu objek pengawasan.

POKOK PERUBAHAN BIDANG PENGAWASAN CUKAI
Lebih lanjut menurut Heru, hal-hal baru yang terdapat dalam UU Nomor 39 Tahun 2007, terutama yang berkaitan dengan bidang pengawasan, antara lain; Pertama, dokumen cukai dan dokumen pelengkap cukai secara elektronik. Hal ini untuk mengantisipasi perkembangan teknologi , karena itu diperlukan suatu kepastian hukum mengenai keabsahan data yang dikirimkan secara elektronik yang dapat digunakan sebagai alat bukti dengan menambah ketentuan yang mengatur bahwa dokumen cukai dan dokumen pelengkap cukai berupa data elektronik merupakan alat bukti yang sah menurut undang-undang ini. Kedua, penyalur yang diwajibkan memiliki ijin berupa NPPBKC. Dengan adanya ketentuan ini maka lembaga perantara yang terlibat dalam penyaluran BKC diwajibkan untuk memiliki NPPBKC sehingga lingkup pengawasan peredaran BKC dapat ditingkatkan. Ketiga, Penindakan berupa penghentian, pemeriksaan, penegahan dan penyegelan dapat dilakukan terhadap barang lainnya yang terkait dengan BKC. Ketentuan ini memberikan kesempatan yang lebih luas untuk mengumpulkan bukti awal yang cukup bagi keperluan penyidikan jika diduga terjadi pelanggaran ketentuan cukai. Untuk kasus pidana di bidang cukai, biasanya modus operandi digunakan pelaku ada dua aspek, yaitu aspek persyaratan ijin, dengan mendirikan TPE tanpa ijin (tanpa NPPBKC). Kedua, aspek pelunasan pembayaran cukai dengan menyediakan atau menjual MMEA (Minuman Mengandung Ethil Alkohol) dan Hasil Tembakau tanpa dilekati pita cukai yang diwajibkan (polos, palsu, tidak sesuai). Sedangkan jumlah kasus dan tindak lanjutnya untuk tahun 2007 saat ini sebanyak 64 kasus. Mengenai batasan sanksi minimum yang diharapkan dapat memberikan efek jera, ditegaskan Heru, bahwa bentuk pemberatan sanksi dalam Undang-Undang No.39 tahun 2007 tentang cukai dengan memberikan batasan sanksi minimum ini

diharapkan dapat lebih memberikan efek jera bagi pengusaha di bidang cukai maupun importir BKC. “Menurut saya batasan sanksi minimum itu bisa membuat pihak-pihak seperti pengusaha di bidang cukai maupun importir berpikir untuk melakukan pelanggaran,” ujar Heru. Ketika disinggung mengenai indikator keberhasilan untuk bidang pengawasan cukai bagi Direktorat P2, Heru menyatakan, bahwa indikator keberhasilan bisa dilihat dengan adanya peningkatan penerimaan cukai, penurunan tingkat pelanggaran cukai, peningkatan kepatuhan pengusaha BKC serta kesadaran masyarakat untuk memenuhi/ melaksanakan ketentuan di bidang cukai. Saat ini, lanjut Heru, pengawasan peredaran BKC yang dilakukan Bea dan Cukai hanya dapat dilakukan pada pengusaha pabrik, importir, pengusaha tempat penyimpanan (TP), dan pengusaha tempat penjualan eceran (TPE) karena entry point pengawasan berupa pemberian izin NPPBKC hanya terbatas pada pengusaha tersebut. Namun pada kenyataannya, dari pengawasan di lapangan di temukan pelanggaran-pelanggaran atas BKC di tempat penjualan eceran yang tidak dapat ditelusuri saluran distribusinya. “Karena itu, strategi pengawasan perlu ditingkatkan dengan melakukan ekstensifikasi lingkup pengawasan peredaran BKC di level distribusi dengan cara mewajibkan lembaga perantara yang terlibat dalam penyaluran BKC untuk memiliki NPPBKC sebagai entry point pengawasan,” ujar Heru yang menurutnya dalam melakukan pengawasan, kerjasama dengan instansi terkait saat ini telah dilakukan dengan pemberian informasi dari instansi lain kepada petugas bea cukai mengenai adanya pelanggaran terhadap UU Cukai. Dalam melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan dari organisasi pastinya diperlukan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan tugas. Menurut Heru, mengenai hal itu, baik dari SDM maupun sarana operasional lainnya masih diperlukan penambahan, sehubungan dengan lingkup pengawasan cukai yang semakin luas, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 39 Tahun 2007 yang meliputi proses kegiatan cukai mulai dari proses produksi oleh pabrikan, proses distribusi oleh penyalur sampai proses distribusi oleh retailer atau pedagang eceran. zap
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA

Upaya Pembinaan Bagi Pengusaha
Selesainya proses amandemen terhadap Undang-Undang Nomor 11/1995 tentang Cukai ditanggapi positif oleh kalangan dunia usaha terutama produsen hasil tembakau. Tanggapan positif muncul mengingat pada Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 (UU No.39/2007) selain pelurusan kembali filosofi cukai yang selama ini kurang tepat, masalah jaminan kepastian hukum bagi para produsen rokok dari peredaran rokok ilegal yang meresahkan pengusaha rokok legal, telah diakomodir dalam UU No.39/2007.

Penegakkan Hukum,

W

ajar saja kalangan dunia usaha menanggapi postif mengingat selama ini penegakkan hukum terhadap pengusaha rokok ilegal dinilai masih kurang memberi efek jera. Tidak hanya itu, bahkan sanksi hukum yang dikenakan kepada pengusaha rokok illegal bisa dibilang sangat rendah. Karena itu kini dalam UU No.39/2007 masalah sanksi bagi para pengusaha rokok illegal dinilai sudah cukup memadai, dimana selain adanya sanksi pidana maksimal dan minimal, pada UU tersebut juga mengenal adanya sanksi administratif yang cukup bervariasi hingga pada perampasan terhadap asset suatu perusahaan rokok ilegal. Sanksi-sanksi yang terdapat pada UU No.39/2007 meliputi sanksi denda nominal yang diatur dalam pasal 16 (4) pasal 16 (5) pasal 16 B dan pasal 39 (2). Selain itu sanksi berupa nominal bertingkat diatur dalam pasal 14 (7), pasal 25 (4a) pasal 26 (3), pasal 27 (4), pasal 31 (3), pasal 35 94) pasal 36 (2) dan pasal 37 (4). Sanksi lainnya adalah berupa persentase atau kelipatan dengan jumlah tetap yang diatur dalam pasal 7A (7dan 8), pasal 16 (6), dan pasal 25 (4). Sanksi berupa persentase atau kelipatan dengan jumlah bertingkat diatur dalam pasal 29 (2a). Selain sanksi administrasi, sanksi pidana pada UU No.39/ 2007 juga bervariatif, diDOK. ATS antaranya sanksi pidana kumulatif yaitu sanksi penjara dan pidana denda yang diatur pada pasal 50, pasal 52, pasal 53, pasal 55 dan pasal 56. Selain itu juga terdapat sanksi pidana secara kumulatif alternatif yaitu pidana penjara dan atau pidana denda yang diatur pada pasal 57, pasal 58 dan pasal 58A. Menurut Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Ismanu Soemiran, amandemen yang dilakukan atas inisiatif pemerintah, dinilai sudah mengakomodir pihaknya, terutama dalam ISMANU SOEMIRAN. Tidak hal penegakkan hukum. diperbolehkan pabrik rokok melakukan Dimana UU No.39/2007 petualangan 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

mengatur mengenai sanksi baik pidana maupun administratif kepada pengusaha rokok yang nakal. “Masalah penegakkan hukum pada UU No.39/2007 sudah mengikuti perkembangan jaman, sehingga kedepannya sanksi yang diatur dalam undang-undang tadi dapat menekan peredaran rokok illegal dan memberikan kepastian hukum bagi kami dalam melaksanakan produksi,”papar Ismanu. UU No.39/2007 lanjut Ismanu sudah mengikuti perkembangan jaman saat ini, terutama perkembangan rokok kretek di Indonesia yang secara keseluruhan menguasai pangsa pasar sebanyak 93 persen dan sudah mengglobal dengan adanya produk rokok kretek asing. “Ini menunjukkan adanya perubahan dengan bentuk inovasi dimana undang-undang cukai hasil amandemen menyesuaikannya. Tidak hanya itu, dalam bidang Teknologi Informasi (TI) dan transportasi yang semakin maju saat ini, undang-undang juga mengamanatkan penggunaan pertukaran data elektronik dan penggunaan transaksi elektronik sebagai alat bukti yang sah, jadi undang-undang ini sudah cukup bagus,”ujar Ismanu. Walaupun puas dengan hasil amandemen undang-undang cukai, namun Ismanu mengatakan, akan lebih baik lagi jika pihak pengusaha yang tergabung dalam asosiasi perusahaan juga dilibatkan dalam meruDOK. WBC muskan aturan pelaksaan agar tujuan dari undang-undang cukai untuk melakukan pembinaan kepada pengusaha dapat terlaksana, mengingat pengusaha berada di lini depan produksi yang harus terlindungi nasibnya dalam undang-undang, maupun juga dengan berbagai peraturan pelaksanaannya. Menurut Ismanu, untuk dapat menjalankan undang-undang cukai hasil amandemen, maka yang harus diperlukan kebulatan tekad untuk dapat menjalankannya dengan baik, bukan hanya pemerintah tetapi juga ka- MUHAIMIN MUFTI. Dengan adanya langan masyarakat usaroadmap maka kepastian hukum untuk ha.”Melangkah ke depan melakukan kegiatan usaha terjamin

DOK. WBC

tanpa melihat kebelakang untuk melakukan introspeksi tidak bisa,” ujarnya kembali. Tidak semua hal yang terdapat pada UU No11/1995 menurut Ismanu tidak sesuai dengan perkembangan jaman dan tidak mendukung kalangan usaha. Ia mencontohkan mengenai pembayaran cukai berkala yang dinilainya cukup bagus dan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat usaha. Ia menjelaskan, ada tiga macam pilihan yang dapat digunakan pengusaha untuk melakukan pembayaran berkala yang berupa corporate guarantee, ini memudahkan pengusaha,”jelasnya kembali.

DUKUNG HASIL AMANDEMEN
Tanggapan senada juga disampaikan oleh Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Mufti. Menurutnya hasil amandemen terhadap undang-undang cukai merupakan hasil maksimal dari berbagai pemikiran baik itu pemerintah, DPR dan juga pengusaha. Walaupun Gaprindo mendukung sepenuhnya hasil maksimal dalam amandemen tersebut, Muhaimin mempertanyakan Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai yang hanya diberikan kepada daerah penghasil produk tembakau. Menurutnya pemerintah sebaiknya menyusun kriteria daerah yang mendapat DBH Cukai tersebut dan mensosialisasikan kepada pemerintah daerah. Ia beralasan, jika hal tersebut tidak disosialisasikan dengan cepat dikhawatirkan nantinya akan ada suatu peraturan di daerah penghasil tembakau atau penghasil produk pendukung lainnya yang kontra dengan UU No.39/2007. “Misalnya jika nanti ada sa- PENEGAHAN ROKOK PALSU. Salah satu upaya penegakkan hukum. lah satu daerah yang tidak mendapat DBH mengeluarkan suatu kebijakan atau aturan yang mengharuskan asosiasi untuk melakukan pembinaan kepada para anggotanya pengenaan biaya lain jika ingin mengirim tembakau atau produk agar mematuhi aturan harus ditingkatkan, mengingat pembinaan pendukung lain keluar dari daerah penghasil tembakau, ini kan tidak hanya bisa dilakukan pemerintah sendiri tanpa adanya bisa memberatkan pengusaha, tapi semoga saja hal tersebut bantuan dan peran serta dari asosiasi. tidak terjadi dan saya yakin pemerintah dapat menyampaikan hal Ismanu mengatakan, pembinaan yang dilakukan pihaknya tersebut kepada daerah-daerah dengan baik,”harap Muhaimin. adalah dengan melakukan pertemuan rutin dengan para anggota Selain itu lanjut Muhaimin, dengan adanya UU No.39/2007 dan mencoba untuk mencari jalan keluar terhadap berbagai maka pihak pengusaha diajak dalam penetapan suatu kebijakan permasalahan yang dialami oleh para anggotanya. Dengan cara yang melibatkan pemerintah dan DPR,”Ini sesuai dengan peta demikian lanjutnya, maka para anggotanya yang mencapai 126 jalan (roadmap) cukai dimana setiap kebijakan akan Pabrik Rokok (PR) dapat mengikuti perkembangan peraturan dikonsultasikan dengan industri, semoga saja dapat dijalankan dibidang cukai. dengan baik dan kami mendukung hal tersebut,”papar Muhaimin. “Pembinaan yang dilakukan kepada para anggota kami Selain berbicara mengenai UU No.39/2007, Muhaimin diharapkan dapat mencegah mereka melakukan kegiatan illegal juga memaparkan roadmap cukai yang telah selesai dibuat. seperti penyalahgunaan pita cukai, tidak naik golongan Menurutnya dengan adanya roadmap maka kepastian hukum sementara produksinya meningkat dan lain sebagainya,”ujarnya. untuk melakukan kegiatan usaha terjamin. Ia mencontohkan, Pengenaan cukai pada pengusaha hasil tembakau jika dalam roadmap ada pembatasan produksi dan industri menurutnya juga merupakan suatu upaya pembinaan yang telah mengetahui sejak jauh-jauh hari, maka dapat dilakukan pemerintah, mengingat dengan adanya cukai yang direncanakan dan pengusaha dapat mengambil keputusan dikenakan maka kontribusi bagi penerimaan negara semakin yang cepat guna mengambil langkah lain dalam produksi. tinggi yang kesemuanya itu akan dikembalikan kepada “Kalau kita kembali pada undang-undang yang sudah masyarakat juga. Menurutnya lagi, maraknya kegiatan illegal bagus,peraturan-peraturan yang menyusul seperti peraturan yang berkaitan dengan produk hasil tembakau seperti pelaksanaannya dibuat mengikuti roadmap yang telah disepenyalahgunaan pita cukai, pita cukai palsu dan lain sebagainya tujui dalam arti industri diajak bicara dalam penyusunannya di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa kesadaran dan kita sangat mendukung,”ujarnya. pengusaha akan pentingnya cukai bagi negara masih rendah. “Pabrik rokok (PR) merupakan mitra Bea Cukai, sehingga tidak diperbolehkan pabrik rokok melakukan petualangan PEMBINAAN dengan mitranya dengan tujuan untuk mendapat keuntungan Baik Muhaimin maupun Ismanu sepakat bahwa keberadaan belaka, menjadi mitra Bea Cukai maka yang diajarkan adalah undang-undang cukai hasil amandemen ini merupakan hasil kepercayaan, keadilan dan transparansi, sehingga semakin maksimal yang diperoleh dari berbagai macam pembahasan. besar PR maka semakin besar cukai yang dikenakan, dan Terutama dalam penegakkan hukum mereka mengharapkan PR kecil akan dikenakan cukai yang sesuai dengan produksiagar aturan tersebut dapat dijalankan dengan baik oleh pemerinnya,”papar Ismanu. zap tah dan juga pengusaha. Untuk itu peran dari para pengurus
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

15

WAWANCARA

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

Drs. Anwar Suprijadi MSc, Direktur Jenderal Bea dan Cukai

Diharapkan Dapat Menampung atau Menjembatani Perkembangan Saat Ini dan Masa Depan”
Selesainya proses amandemen terhadap Undang-Undang No 11 Tahun 1995 tentang cukai yang kini menjadi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007, diharapkan dapat menampung atau menjembatani perkembangan saat ini dan masa depan serta bermanfaat dalam menciptakan iklim usaha industri di bidang cukai yang dapat membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Drs. Anwar Suprijadi MSc. Lebih lanjut mengenai pendapatnya tentang UU No.39 Tahun 2007 dan harapannya kepada DJBC, ia kemukakan melalui wawancara dengan Redaktur WBC, Zulfril Adha Putra. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana Tanggapan Bapak, mengenai berhasilnya proses amandemen terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai ? Atas nama institusi, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh Anggota Dewan yang terhormat yang telah mengorbankan tenaga, pikiran serta waktunya sehingga undang-undang ini dapat diselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan pada semua pihak yang telah banyak membantu kelancaran penyelesaian pembahasan sampai dengan Undang-Undang diberlakukan. Lalu bisa diceritakan apa yang ingin dicapai oleh pemerintah dengan adanya UU Cukai hasil amandemen ? Pertama, dengan diberlakukannya undang-undang ini, kita telah membangun dasar pembaharuan di bidang cukai yang mampu memberdayakan peranan cukai sebagai instrumen pengawasan dan pengendalian serta salah satu sumber penerimaan negara untuk disesuaikan dengan perkembangan sosial ekonomi dan kebijakan pemerintah. Kedua, undang-undang ini mempertegas sifat atau karakteristik Barang Kena Cukai sehingga memberikan landasan dan kepastian hukum dalam upaya menambah atau memperluas obyek cukai dengan tetap memperhatikan aspirasi dan kemampuan masyarakat. Ketiga, dalam rangka transparansi pembuatan kebijakan cukai, pemerintah telah membuat Roadmap Kebijakan Cukai yang mempertimbangkan aspek penerimaan, tenaga kerja, dan kesehatan. Setelah melalui diskusi yang dinamis dengan pertimbangan segala aspek yang terkait dengan bidang cukai, dan usulan dari pelaku usaha melalui Anggota Dewan, maka disepakati besarnya tarif tertinggi hasil tembakau yaitu 57 persen dan 80 persen untuk Barang Kena Cukai lainnya. Keempat, untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor cukai, undang-undang ini mengatur antara lain penyempurnaan sistim administrasi pemungutan cukai, peningkatan upaya penegakan hukum (law enforcement), penyesuaian sistim penagihan, penyesuian sistim pembukuan, dan penggunaan dokumen cukai serta dokumen pelengkap cukai dalam bentuk elektronik. Kelima, undang-undang ini mengatur mengenai kode etik pegawai, pemberian sanksi terhadap pejabat bea dan cukai yang salah dalam menghitung atau menetapkan, serta premi kepada pegawai bea dan cukai dan orang yang berjasa dalam menanggulangi pelanggaran di bidang cukai. Juga pemberikan insentif kepada DJBC atas pencapaian kinerja di bidang cukai. Pemberian insentif tersebut ditetapkan atas dasar kinerja melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Terakhir, undang-undang ini juga telah mengakomodir usulan DPR untuk mengalokasikan Dana Bagi Hasil Cukai bagi provinsi penghasil cukai hasil tembakau. Bisa diceritakan untuk bidang pengawasan dan pelayanan, apa yang membedakan dengan undangundang sebelum amandemen ? Penyempurnaan sistim pelayanan meliputi : penambahan cara pelunasan cukai yang baru dengan pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya, pengaturan pembayaran cukai secara berkala dengan jangka waktu paling lama 45 hari dari penundaan pembayarana cukai dengan jangka waktu paling lama 90 hari, kemudahan melakukan pembayaran tagihan cukai dengan cara mengangsur, penyempurnaan sistim penagihan cukai dan atau sanksi administrasi yang diselaraskan dengan skema surat paksa dan penyetoran untuk menjamin penerimaan negara. Sedangkan untuk peningkatan upaya penegakan aturan (law enforcement) meliputi; menetapkan dokumen cukai serta dokumen pelengkap cukai dalam bentuk elektronik sebagai alat bukti yang sah, pengawasan dijalur distribusi Barang Kena Cukai (BKC) dengan mewajibkan penyalur memiliki NPPBKC (Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai), pengawasan sistim pembukuan yang diselaraskan dengan perkembangan jaman dan ketentuan audit di bidang cukai, penegasan kewenangan pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan audit di bidang cukai, pemberatan sanksi dibidang cukai. Apakah karena ada “ruang kosong’ sehingga pemerintah merasa perlu untuk mengamandemen UndangUndang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai ? Dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, disadari masih terdapat hal-hal yang belum tertampung untuk memberdayakan peranan cukai sebagai instrumen pengawasan dan pengendalian serta
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

“UU Nomor 39 Tahun 2007

17

WAWANCARA
sumber penerimaan negara sehingga menuntut perlunya penyempurnaan sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dan kebijakan pemerintah. Apakah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 kapasitasnya belum mencukupi sebagai pijakan bagi aparat dalam menjalankan tugasnya, maupun juga bagi pengusaha dalam menjalankan usahanya ? Secara prinsip UU No.11 Tahun 1995 sudah baik dan cukup untuk dijadikan pijakan bagi pejabat bea dan cukai dalam menjalankan tugasnya dan pengusaha dalam menjalankan usahanya. Namun demikian, dengan perkembangan masa, UU Nomor 39 Tahun 2007 diharapkan dapat menampung atau menjembatani perkembangan saat ini dan masa depan. Undang-Undang hasil amandemen memberikan peluang guna diberlakukannya ekstensifikasi cukai, apakah sudah dilakukan konsolidasi dengan instansi terkait mengenai ekstensifikasi cukai tersebut ? Sebagai salah satu sumber penerimaan negara, pengenaan cukai terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang perlu diperluas batasan dan cakupannya sehingga dapat memberikan keluwesan dan kekuatan hukum dalam upaya menambah atau memperluas obyek cukai dengan tetap memperhatikan aspirasi dan kemampuan masyarakat. Selain itu penambahahan obyek cukai juga melalui mekanisme penyampaian kepada DPR untuk disetujui. Bagaimana tangapan Bapak dengan opini yang berkembang saat ini bahwa dengan adanya UndangUndang Cukai hasil amandemen, maka PPNBM bisa dialihkan ke cukai ? Salah satu lingkup perubahan dalam undang-undang ini adalah mempertegas sifat atau karakteristik obyek cukai. Dalam hal pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan memiliki arti bahwa pungutan cukai dapat dikenakan barang yang dikategorikan sebagai barang mewah dan/ atau bernilai tinggi, namun bukan merupakan kebutuhan pokok sehingga tetap terjaga keseimbangan pembebanan pungutan antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dengan konsumen yang berpenghasilan rendah. Salah satu hal yang menarik adalah mengenai Dana Bagi Hasil bagi daerah atau provinsi penghasil cukai hasil tembakau, bagaimana mekanismenya ? Dan bagaimana dengan daerah penyedia bahan baku yang tidak menghasilkan produk hasil tembakau ? Dana bagi hasil cukai merupakan bagian kapasitas fiskal dalam formula Dana Alokasi Umum yang diberikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2 persen dari penerimaan cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia. Dana bagi hasil cukai ini hanya dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau yang penggunaannya sudah ditentukan dalam undang-undang. Salah satu tujuan Dana Bagi Hasil tersebut adalah untuk melakukan sosialisasi dan juga pengawasan peredaran cukai hasil tembakau illegal, apakah nantinya sosialisasi dan pengawasan juga dilakukan oleh pihak daerah selain Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) ? UU Nomor 39 Tahun 2007 mengatur tentang dana bagi hasil cukai hasil tembakau yang penggunaannya untuk mendanai peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/ atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Untuk mengatur pasal tersebut 18
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

akan dibuat peraturan pelaksanaannya yang melibatkan beberapa instansi di lingkungan Depkeu antara lain Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan(DJPK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPBN), Badan Keuangan dan Fiskal (BKF), DJBC perlu duduk bersama untuk membahas mekanismenya. Bagaimana mensinkronkan aturan daerah dengan aturan DJBC terutama dalam bidang cukai ? Suatu ketentuan idealnya sejalan dengan ketentuan yang lain sehingga untuk sinkronisasi sebaiknya perlu ada koordinasi yang baik antara aparat yang berkepentingan. Pengenaan sanksi administrasi cukup berat seperti denda berdasarkan prosentase, bertingkat dan lain sebagainya. Lantas bagaimana cara mengantisipasi adanya permainan antara petugas dengan pengusaha yang dikenai sanksi administrasi tersebut ? Yang menjadi pertimbangan dilakukannya perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 antara lain untuk memberikan kepastian hukum termasuk dalam pelaksanaan penegakkan hukum itu sendiri. Dengan demikian, dengan dilakukannya pemberatan sanksi pada setiap pelanggaran dalam undang-undang di bidang cukai dapat memberikan efek jera, selain itu undang-undang ini juga mengatur tentang yang salah dalam menghitung dan menetapkan, akan diberikan sanksi sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, diharapkan dengan berlakunya undangundang ini ‘permainan’ antara petugas dan pengusaha dapat diminimalisasi atau dihilangkan. Mengapa masalah pembinaan pegawai dan juga penerapan kode etik pegawai diatur dalam undangundang hasil amandemen ? Dimasukkannya bab pembinaan pegawai dalam undang-undang ini adalah untuk mewujudkan sistim pemerintahan yang baik (good governance) dan memberikan rasa keadilan kepada stakeholder cukai. Mengenai insentif kepada DJBC bila DJBC menapai kinerja yang diharapkan, apa maksud dari diterapkannya insentif tersebut ? Pemberian insentif dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kinerja dan kemampuan DJBC dalam menjalankan fungsinya. Mengenai tarif maksimal 57 persen, apakah tidak memberatkan pengusaha dan kapan kira-kira tarif 57 persen tersebut dapat direalisasikan ? Tarif 57 persen untuk BKC hasil tembakau dan 80 persen untuk BKC lainnya adalah tariff setinggi-tingginya (maksimal) dalam undang-undang ini. Sebagai gambaran, dalam UU No.11 Tahun 1995 ditetapkan tarif setinggi-tingginya adalah 55 persen, pada kenyataannya sampai dengan saat ini tariff tertinggi yang dikenakan terhadap BKC hasil tembakau baru mencapai 40 persen. Dalam hal ini Penetapan besaran tarif cukai dengan memperhatikan kondisi industri dan aspirasi pelaku usaha industri disampaikan kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan. Harapan Bapak kepada DJBC dan juga kalangan dunia usaha dengan adanya penerapan UndangUndang Nomor 39 Tahun 2007 ? Dengan berlakukanya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 semoga bermanfaat bagi para pengusaha yang selama ini telah bermitra dengan DJBC secara harmonis, terlebih bermanfaat dalam menciptakan iklim usaha dalam industri di bidang cukai yang dapat membawa perekonomian negara kita ke arah yang lebih baik.

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 OKTOBER 2007
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 N A M A N I P 060044498 060035061 060035294 060045477 060041306 060040171 060047963 060052413 060045610 060045838 060058238 060040161 060056537 060056564 060056041 GOL IV/b IV/a III/d III/d III/d III/c III/c III/b III/b III/b III/a II/d II/c II/c II/c J A B A T A N Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kepala Sub Bagian Umum Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai IV Kepala Seksi Tempat Penimbunan VI Kepala Seksi Cukai P e l a k s a n a Korlak Administrasi TPB P e l a k s a n a Korlak Administrasi Umum Korlak Administrasi Pemeriksaan Dokumen P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a K E D U D U K A N Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I KPPBC Tipe A2 Purwakarta KPPBC Tipe A1 Tanjung Perak KPPBC Tipe A2 Tangerang Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A3 Juanda KPPBC Tipe A3 Jakarta KPPBC Tipe B Blitar KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta KPPBC Tipe A2 Malang KPPBC Tipe A3 Bandung KPPBC Tipe A4 Cilacap Kantor Wilayah DJBC Jakarta KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta Drs. Mangarapot Siregar H. Sofjan Usman, SE J u s u f H i l m i Abdul Sjukur Raden, S.Sos D j u n a e d i Maryeni Marsidin S u n a r t i , SH Achdiat Hardjasumantri Endang Sri Kusminartik S u g i h a n A c h Mamad D i k w S u d j Armadi m a d Sadjiin a n o k o Rachmad

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, Aidil Adianto, Pelaksana Pemeriksa pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Medan, pada hari Sabtu, 25 Agustus 2007, pukul 09.00 WIB. Jenazah telah dimakamkan pada hari Sabtu, 25 Agustus 2007 di Medan. Telah meninggal dunia, Fransina Sompi, Korlak Administrasi Impor pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno Hatta, pada hari Minggu, 02 September 2007, pukul 05.00 WIB. Jenazah telah dimakamkan pada hari Selasa, 04 September 2007 di Jakarta. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per September 2007
No. Nomor 1. 83/PMK.02/2007 PERATURAN Tanggal 30-07-07 PERIHAL

INFO PERATURAN

Perubahan Keenam Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per September 2007
PERATURAN No. 1. 2. Nomor P-26/BC/2007 P-25/BC/2007 Tanggal 30-08-07 30-08-07 PERIHAL Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor Yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Satu Tempat Penimbunan Sementara Ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya. Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-21/BC/2007 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor Pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per September 2007
PERATURAN No. 1. 2. Nomor SE-16/BC/2007 SE-17/BC/2007 Tanggal 09-08-07 04-09-07 PERIHAL Kewajiban Menyampaikan Laporan Realisasi Ekspor Hasil Tembakau Dengan Fasilitas Tidak Dipungut Cukai. Penyalahgunaan Nama Direktur Jenderal Untuk Kemudahan Dalam Pelayanan Di Bidang Kepabeanan Dan Cukai.

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

19

KEPABEANAN INTERNASIONAL

Intelligence Analysis Training and Trace Detection Training
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bekerjasama dengan Australian Customs Service (ACS) melakukan pelatihan bagi pegawai bea cukai mengenai analisa intelijen dan pelatihan mengenai deteksi awal yang berlangsung mulai 3- 7 September 2007.

P

WBC/ATS

bantuan teknis bagi para petugas DJBC,” ujar elatihan ini berlangsung selain di Wahyu. Kantor Pusat (KP) DJBC, juga dilakuLebih lanjut menurut Wahyu, globalisasi di kan di Kantor Pelayanan Utama seluruh dunia berjalan dengan cepat, begitu (KPU) Tanjung Priok dan Kantor Pejuga dengan tingkat kejahatan terorisme lebih ngawasan dan Pelayanan Bea dan meningkat dari sebelumnya. Seperti yang teCukai (KPPBC ) Soekarno-Hatta. lah diketahui bahwa terorisme menjadi musuh Sebelumnya, pada 3 September 2007, internasional, untuk itu training ini diharapkan pukul 8.30 WIB bertempat di Ruang Rapat dapat memberikan manfaat bagi DJBC Loka Muda Gedung B, KP DJBC berlangsung terutama dalam penanganan masalah-masapembukaan training. Hadir dalam pembukaan lah tersebut dalam rangka memberikan pertersebut Direktur Kepabeanan Internasional, lindungan kepada masyarakat. M. Wahyu Purnomo, Direktur P2, Heru Santoso, Kepala KPU Tanjung Priok, Agung Kuswandono, Consellor (ACS) Australian MENDUKUNG PELAKSANAAN TUGAS Embassy Jakarta, Ms. Kate Walker dan Mr. Dalam pelatihan ini para peserta akan Malcolm Mcalliester yang juga dihadiri para dilatih, baik secara teori maupun praktek trainers dari ACS , antara lain; Mr. Denis mengenai cara melakukan deteksi dengan Graham, Mr. Martin Kaltoum, Mr. Paul Yager menggunakan sarana yang dimiliki untuk dan para peserta training yang merupakan melakukan deteksi terhadap narkotika, pegawai DJBC yang ditunjuk untuk mengikuti bahan peledak, dan lain sebagainya. training tersebut. Diharapkan pelatihan ini dapat berjalan Dalam sambutannya Wahyu Purnomo dengan sukses sesuai dengan apa yang M. WAHYU PURNOMO. intinya adalah menyatakan penghargaan atas kedatangan untuk meningkatkan kemampuan pegawai diinginkan sehingga dapat diterapkan tim trainer dalam rangka untuk membagi dalam pelaksanaan tugas sehar-hari. bea cukai. ilmu sekaligus pengalaman dan kemampuIntelligence Training bagi pegawai DJBC an kepada para petugas bea cukai, dan merasa yakin bahbertujuan untuk memberikan pelatihan analisis intelijen kepada wa kedatangan tim dari ACS akan sangat berharga bagi para pegawai DJBC, antara lain untuk mengetahui dan DJBC untuk mencapai tujuan. Sedangkan kepada para membantu dalam hal pengiriman analisa intelijen. Sedangkan peserta training, Wahyu berharap melalui training tersebut Trace Detection Training, praktek dan teori dalam hal dapat memberikan manfaat bagi institusi DJBC. penggunaan 3 jenis narkotik dan melacak pendeteksian bahan Menurut Wahyu, untuk kesekian kalinya DJBC mendapat peledak beserta kelengkapannya dan alat pelengkap deteksi sharing experience dengan ACS, bahkan telah beberapa kali radiologi GR 100 dan GR 135. DJBC mendapatkan berbagai macam bantuan dan asistensi Dalam kegiatan yang berlangsung selama lima hari teryang intinya adalah untuk meningkatkan kemampuan pegasebut, pada hari pertama dan kedua diisi dengan kelas teori wai bea cukai dan capacity building, sehingga dapat melakdan praktek berlokasi di Kantor Pusat. Hari ketiga melakukan sanakan tugasnya menjadi lebih baik lagi. WBC/ATS praktek di Pelabuhan Tanjung Priok II di Dalam kesempatan kali ini, DJBC fasilias X-Ray Container. Hari keempat, mendapat asistensi dari ACS untuk bidang inpraktek di Bandara Soekarno-Hatta dan telijen dan detektor. “Saya yakin kita sudah hari kelima merupakan acara penutupan mempunyai pengalaman dan kita juga sudah training pada 7 September 2007. melaksanakan apa yang sudah selama ini kita Dalam acara penutupan, WBC, berkelakukan, tetapi di dalam melaksanakan tugas sempatan melakukan wawancara dengan itu, saya yakin bahwa saudara-saudara semua salah seorang peserta dan seorang trainer juga menghadapi masalah yang menjadi dari ACS. Salah seorang peserta, Munthea question mark bagi kita atau bagaimana kita Julastuti, Pelaksana pada Direktorat. P2, mengoptimalkan seluruh equipment kita.” mengemukakan kesan-kesannya selama “Karena itu, pada kesempatan ini pemengikuti training. Dirinya merasa beruntung serta perlu menyerap pengalaman dari bisa diberi kesempatan untuk mengikuti ACS, dan saya meminta saudara-saudara training ini. Training dari ACS ini dinilainya yang ditunjuk untuk mengikuti training ini sangat berguna sekali dalam pelaksanaan aktif melakukan diskusi dan menanyakan tugas-tugasnya di lapangan sebagai analis. apa yang selama ini menjadi problem kita. “Informasi yang saya peroleh dari pelatihUntuk itu, dari KPU dan Direktur P2 akan nya sendiri bilang kalau saya ini peserta ikut memonitor pelaksanaan training ini wanita pertama yang mengikuti intelligence supaya berjalan lancar dan kita aktif analysis, karena itu saya berharap untuk mengikuti latihan ini,” ujar Wahyu Purnomo. kedepannya bisa ada peserta lain selain saya. MUNTHEA JULASTUTI. Dari materi yang “Mewakili Dirjen DJBC, dan secara pribadi ia peroleh hampir 80 persen tugasnya Di Australia sendiri untuk analis hampir saya juga menyampaikan penghargaan kepa- tercakup di dalam materi yang diberikan seimbang, yaitu 50 persen wanita, 50 persen da ACS dalam penyediaan dan pengaturan pria, lalu kenapa kita tidak ?,” ujar Munthea dalam training.
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

20

WBC/ATS

PARA PESERTA berfoto bersama sesaat setelah acara pembukaan Intelligence Analysis Training And Trace Detection Training.

yang menurutnya pekerjaan sebagai analisis tidak didominasi laki-laki saja. Materi yang ia peroleh dari training tersebut hampir 80 persen berhubungan dengan tugasnya di P2 Kantor Pusat sehingga jika diterapkan didalam tugasnya sehari-hari ia merasa tidak terlalu mengalami kesulitan untuk menyesuaikannya dan dari hasil training merupakan pendalaman tugasnya di lapangan. Menurut informasi yang ia ketahui, training ini ditujukan untuk level Kepala Seksi, tetapi Munthea yang baru pelaksana diikutkan juga, karena justru petugas pelaksana yang akan menyampaikan data hasil analisanya kepada para Kepala Seksi. “Analis itu tugasnya sebagai penyaji dan Kepala Seksi seba-

gai penelaah, jadi klien kita adalah Kepala Seksi, atau paling tidak atasan kita. Sedangkan untuk Kepala Seksi dari daerah yang ikut training ini ada segi positifnya karena SDM di daerah untuk mencari analis susah, maka mau tidak mau Kepala Seksi di daerah juga harus jadi analis,” imbuh Munthea. Mengenai kendala selama mengikuti training, diakui Munthe hal itu tidak ia temui. Diakuinya, penyampaian materi sampai dengan sarana prasarananya sudah sangat lengkap. “Materi yang diberikan sangat bagus, mungkin keuntungan bagi saya adalah karena saya pernah di kantor pelayanan sehingga teori dan prakteknya pernah saya lakukan. Maka itu untuk ke depannya bagi peserta yang belum pernah bertugas di Kantor Pelayanan perlu rasanya dilakukan simulasi lapangan.” ris

Dalam kesempatan yang sama, WBC melakukan wawancara seputar Intelligence Analysis Training And Trace Detection Training, dengan salah satu trainer dari ACS, Paul Yager. Berikut petikannya : Seberapa penting pelatihan ini bagi DJBC? Saya rasa pelatihan ini tidak hanya penting bagi Indonesia atau Australia, tetapi juga bagi negara-negara lain, dimana pada pelatihan ini kami memberikan pelatihan kepada para petugas dalam memahami dasar dalam pelatihan analysis and trace detection. Secara garis besar, materi apa saja yang diberikan kepada para peserta ? Kita memberikan pelatihan dan memastikan bahwa tindakan yang diambil petugas dalam menjalankan tugas sudah benar dan untuk melakukan analisis diperlukan alat yang berbeda, terutama mengenai analysis intelligence dan trace dectection-nya Untuk itu kami datang untuk membagi pengalaman dalam bidang analisis dan juga pengoperasian alat deteksi. Pelatihan ini sangat berguna bagi petugas intelijen yang masih baru maupun juga dari petugas yang berasal dari bidang yang berbeda. Apakah ada perbedaan antara Indonesia dengan Australia dalam pelaksanaan hasil dari training? DJBC dapat mengadopsi hasil dari pelatihan ini dan agenda serta pelatihannya sehingga dapat dilaksanakan secara utuh. Kami mengharapkan bahwa DJBC dapat menerapkan hasil dari pelatihan ini. Dan menurut saya tidak begitu banyak ada perbedaannya. Bagaimana menurut anda kemampuan petugas DJBC dalam melakukan tugasnya terkait dengan pelatihan yang telah dilaksanakan? Pada prinsipnya menurut penilaian saya, mereka dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik sehingga pada saat pelaksanaan di lapangan diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Bagaimana tanggapan para peserta mengenai training ini ? Menurut saya selama memberikan training kepada mereka, para peserta sangat aktif dan mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi dalam pelatihan ini dan ini sangat menggembirakan. ris

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

21

DAERAH KE DAERAH

Malaysia-Indonesia
Salah satu kesepakatan yang telah dibuat pada sidang ke-23 kerjasama Sosek Malindo Tingkat Daerah Kalimantan Barat – Negeri Sarawak yang diselenggarakan pada tanggal 4-6 Agustus 2007 di Pontianak adalah membuka Pos Pengawasan Lintas Batas (PPLB) Aruk (Kalbar) - Biawak (Serawak) yang direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2009.

Kembara Lintas Batas

P

ada tanggal 19 - 21 Agustus 2007 diadakan kegiatan Kembara Lintas Batas Aruk-Biawak yang diprakarsai Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Kalimantan Bagian Barat dan dibantu Bupati Sambas sebagai fasilitator Kastam Diraja Malaysia untuk melakukan peninjauan langsung situasi dan kondisi perbatasan. “Saya membawa 46 anggota dalam rombongan Kembara Lintas Batas. Kembara artinya mengembara, tujuan kami mengembara adalah meninjau jalan Biawak - Sambas dan meninjau Pelabuhan Sintete,” ungkap Datuk Muhammad Hasyim bin Pardi, Pengarah Kastam Negeri Sarawak (setingkat Kepala Kanwil Bea Cukai Serawak -red) saat berpidato di Balairung Bupati Sambas. Ikut serta instansi lain terkait dalam kegiatan ini. Kegiatan Kembara Lintas Batas dimulai dari kunjungan Kastam Diraja Malaysia ke Perbatasan Aruk untuk meninjau lokasi perbatasan, sarana dan prasarana yang telah ada serta kondisi infrastruktur jalan dari Aruk menuju Sambas. “Kami berharap pembangunan infrastruktur jalan dapat dipercepat penyelesaiannya mengingat infrastruktur jalan sangat mempengaruhi kehidupan perniagaan kedua negara,” ujar Datuk Muhammad Hasyim bin Pardi, yang masih memiliki darah keturunan Jawa. Hal tersebut diakui Sekretaris Daerah Sambas saat memberikan sambutan di Balairung Sari Rumah Jabatan Bupati Sambas mewakili Bupati Sambas yang tidak bisa hadir, bahwa infrastruktur jalan menuju Aruk memang masih dalam tahap pembangunan. Pernyataan Datuk Hasyim memang bisa dimaklumi karena kondisi jalan masih mengkhawatirkan apabila dilalui, terlebih kalau hujan bisa cukup berbahaya. Tetapi itulah seninya mengembara, ada tantangan yang harus dilalui dan ditaklukan.

PERJALANAN ROMBONGAN KANWIL
Minggu siang sekitar pukul 13.30, rombongan Kanwil
FOTO : IAN

DJBC Kalimantan Barat berangkat dari Pontianak menuju Singkawang, beranggotakan sembilan orang, menggunakan dua mobil. Waktu tempuh menuju Singkawang sekitar tiga jam dengan kecepatan kendaraan lebih kurang 100 km/jam. Perjalanan ke Singkawang memang cukup melelahkan namun dapat diobati dengan keakraban dalam mengisi kejenuhan di dalam kendaraan. Apalagi di sepanjang jalan menuju Singkawang, keadaan alamnya masih terlihat asri. Di sepanjang jalan terlihat banyak perkebunan pohon kelapa. Bukit yang cukup tinggi. Ditambah di pesisir jalan terhampar pantai luas seakan berbicara bahwa inilah Indonesia. Negara dengan kekuasaan bumi yang sangat besar, kekayaan alam yang melimpah dan mampu duduk di atas kursi kerajaan dunia namun sayang banyak potensi alam yang belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh penduduk. Uniknya untuk sampai di Singkawang, kami harus melewati daerah dengan nama-nama yang diawali kata Sungai, yaitu Sungai Pinyuh, Sungai Duri, Sungai Kunyit, dan Sungai Raya. Bukan berarti kami harus berkendara di atas sungai, karena nama-nama itu diambil dari sungai-sungai yang berada di daerah tersebut. Keunikan lain yang kami lihat adalah suasana aman yang ditampilkan oleh penduduk di sekitar jalan. Konflik berkepanjangan beberapa tahun yang lalu antara Melayu, Dayak, Madura di tanah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat memang benar-benar sudah tidak ada. Sekarang mereka sudah bisa hidup berdampingan, menghilangkan rasa dendam. Sekitar pukul 16.30 WIB kami tiba di Singkawang, sebuah kota dengan mayoritas penduduk beretnis Tionghoa, sedikit melayu, dan sebagian kecil pendatang. Singkawang bukan kota yang besar ataupun luas. Kita bisa mengelilingi Kota Singkawang hanya dalam waktu lebih kurang dua jam perjalanan. Keadaan alam di Singkawang masih tergolong natural
FOTO : IAN

PPLB ARUK

KONDISI JALAN ARUK EDISI 395 OKTOBER 2007

22

WARTA BEA CUKAI

FOTO : IAN

PARA PEJABAT BEA CUKAI Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat saat tiba di Pelabuhan Sintete, tampak Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat, Muhammad Chariri (ketiga dari kanan).

terbukti dengan adanya perbukitan yang cukup tinggi dan suhu udara yang dingin. Kebersihan jalan terjaga dan tata kota cukup rapi teratur. Kegiatan perekonomian terpusat pada masyarakat Tionghoa. Hampir di sepanjang jalan tempat-tempat usaha dari yang terkecil hingga terbesar dimiliki etnis Tionghoa, termasuk tempat usaha makanan. Untuk itulah bagi seorang muslim yang berkunjung ke Singkawang, alangkah baiknya untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan agar terjaga dari makanan yang haram apalagi malam hari banyak pedagang kaki lima yang membuka tenda-tenda warung makanan di sepanjang jalan Singkawang. Beraneka makanan pun disajikan. Inilah salah satu hiburan di Singkawang untuk menikmati kelap-kelip lampu malam. Selain objek wisata tersebut, kita bisa menikmati pula keindahan pantai Singkawang seperti pantai Pasir Panjang, pantai Sinka, ataupun pantai Gosong. Nama-nama pantainya memang agak unik. Kami pun menginap di sebuah hotel, bersama rombongan Kastam yang sebelumnya telah melakukan kunjungan ke perbatasan Aruk.

KEGIATAN TIM KEMBARA LINTAS BATAS
Kegiatan Tim Kembara dimulai dengan kunjungan rombongan Kastam Diraja Malaysia ke perbatasan Aruk pada Minggu pagi 19 Agustus 2007. Aruk merupakan wilayah perbatasan Indonesia yang berbatasan langsung dengan perbatasan Biawak-Malaysia. Aruk masih berada dalam wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pos Pengawasan Lintas Batas Bea Cukai berada di bawah KPPBC tipe A4 Sintete, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat. Sarana dan prasarana daerah masih dalam tahap pembangunan, termasuk infrastruktur jalan masih dalam tahap pengerjaan. Pos Pengawasan Lintas Batas (PPLB) Bea Cukai telah ada dan sudah siap melakukan pengawasan lalu lintas barang dalam perdagangan kedua negara. Hal tersebut

dipertegas Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat, Muhammad Chariri saat berbicara dalam pertemuan di aula Administrator Pelabuhan (Adpel) Sintete. “Kami dari pihak bea cukai sudah siap dalam pembukaan border di Aruk karena kami disana sudah memiliki kantor dan perumahan, dan kami siap untuk memajukan daerah ini”. Senin pagi rombongan Bea Cukai Indonesia (Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat) berangkat menuju Pelabuhan Sintete. Sementara itu karena ada perubahan jadwal, Kastam Diraja Malaysia terpisah berkunjung ke Keraton Sambas. Bea Cukai Indonesia melakukan persiapan kunjungan Kastam Diraja Malaysia di Pelabuhan Sintete bersama Adpel, KPBC Sintete, dan Camat Sintete. Sintete adalah nama sebuah kecamatan di kabupaten Sambas. Waktu tempuh perjalanan darat dari Singkawang menuju Sintete lebih kurang satu setengah jam, melewati jalanan lurus Selakau dan Pemangkat. Kepadatan penduduk disepanjang jalan tidak tinggi. Masih cukup jauh jarak yang memisahkan antara satu rumah dengan rumah lainnya. Tanah kosong ataupun perkebunan masih terlihat luas. Keramaian pasar sudah tidak jarang ditemui. Infrastruktur jalan cukup baik untuk digunakan. Penerangan lampu di sisi-sisi jalan jarang ditemui. Penerangan jalan lebih banyak didukung oleh sorot lampu mobil yang melintas dan rumah-rumah warga di pinggir jalan jika malam telah tiba. Kunjungan Tim Kembara Lintas Batas di Pelabuhan Sintete diisi dengan kunjungan ke KPBC Sintete, meninjau pelabuhan dan melakukan pertemuan di aula Adpel. Percakapan ringan pun diadakan untuk saling mengakrabkan kembali hubungan kedua negara dalam ikatan kerja sama di wilayah perbatasan Kalimantan Barat. Setelah kunjungan di pelabuhan selesai, Tim Kembara Lintas Batas kembali ke Singkawang. Pada pukul 17.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Balairung Sari Rumah Jabatan Bupati Sambas. Tim Kembara berkonvoi mengEDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

23

DAERAH KE DAERAH
FOTO : IAN

FOTO BERSAMA Tim Lintas Batas di halaman KPBC Sintete.

gunakan 16 mobil. Suasana perjalanan seakan lebih menarik ketika kelap-kelip lampu sirine mobil dihidupkan dalam suasana jalan yang gelap. Mobil melesat beriringan. Jalan yang kami lewati sama seperti tadi siang, hanya saja harus melewati daerah Tebas baru kami bisa sampai di kediaman Bupati Sambas. Ada yang menarik dari daerah Tebas ini karena ada hubungannya dengan ‘jeruk Pontianak’. Masyarakat Indonesia lebih banyak mengenal kota Pontianak sebagai penghasil jeruk terbesar yang mempunyai rasa yang khas dibanding dengan jeruk pada umumnya. Padahal sebenarnya yang orang anggap jeruk Pontianak itu adalah Jeruk Sambas yang dihasilkan di daerah Tebas. Mungkin orang bisa beranggapan seperti itu karena jeruk Tebas ini lebih banyak diperjualkan oleh masyarakat Pontianak atau mungkin penjualannya banyak disajikan di Pontianak. Kunjungan rombongan di Balairung Sari Rumah Jabatan Bupati Sambas disambut dengan cukup meriah. Terlihat bangunan rumah yang tua namun elegan. Sepertinya ada
FOTO : IAN

PEMBICARAAN RINGAN di Kantor Administrator Pelabuhan Sintete. Rombongan Kastam Diraja Malaysia terlihat menggunakan seragam berwarna biru.

campuran kebudayaan dalam arsitektur bangunan, antara ukiran khas Kalimantan dengan kebudayaan Eropa yang diperlihatkan dengan pintu-pintu yang tinggi dan agak lebar dari biasanya. Kami disambut dengan Tarian Bubur Pedas. Salah satu tarian khas Sambas dalam menyambut tamu, diiringi nyanyian berbahasa melayu mendayu-dayu. Bubur pedas merupakan makanan khas Sambas. Bahanbahannya hampir sama dengan bubur pada umumnya. Namun lebih banyak air atau cair, warna bubur terlihat hitam kecoklatan, lebih banyak sayuran, dan yang paling penting rasanya pedas. Tidak kalah menarik, Kastam Diraja Malaysia pun menunjukkan kebolehannya dengan menarikan sebuah tarian khas Malaysia, yaitu Tarian Rampaian Kenyala, tarian kombinasi dari berbagai tarian suku di Malaysia. Suasana keakraban terlihat sudah. Semua orang duduk berbaur. Masalah yang sering terjadi antar IndonesiaMalaysia khususnya dalam hal perbatasan kepulauan, memang sudah seharusnya diselesaikan dalam suasana kekeluargaan. Sudah menjadi keharusan pula bagi Indonesia untuk lebih serius mengamankan garis perbatasan khususnya perbatasan darat. Jangan sampai terjadi lagi seperti apa yang dikatakan Sekretaris Daerah Sambas dalam pidato sambutannya, bahwa pernah terjadi pergeseran tapal batas. Namun hal tersebut sudah ditindaklanjuti untuk diperbaiki oleh instansi terkait. Bahkan diinformasikan bahwa sekarang dalam anggaran APBN pusat telah dianggarkan dana untuk pembangunan pagar batas, gerbang batas, dan perumahan untuk instansi terkait di perbatasan Aruk nantinya. Pengerjaan infrastruktur jalan pun diharapkan dapat cepat selesai, karena cukup mengkhawatirkan kondisi jalan Aruk menuju Sambas. Badan jalan masih tanah dan sebagian ada yang ditimbun dengan batu. Apalagi kalau hujan datang bisa berbahaya. Kekhawatiran itu pun dirasakan rombongan Kastam Diraja Malaysia yang berencana pulang kembali ke Malaysia tidak lagi melalui jalan Aruk tapi lewat perbatasan Jagoi Babang, karena ada informasi bahwa akan turun hujan cukup deras untuk dua hari ke depan. Kegiatan Tim Kembara Lintas Batas berakhir pada pukul 22.00 WIB. Rombongan kembali berkonvoi ke Singkawang untuk beristirahat menjelang kepulangan. ian hermawan, pontianak

24

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

Musnahkan Ribuan Botol MMEA
Pelanggaran dengan modus manipulasi manifes, berhasil digagalkan petugas penindakan dan penyidikan (P2) Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Belawan, yang bekerjasama dengan petugas P2 Kantor Wilayah (Kanwil) Sumatera Utara. Barang yang dalam manifes diberitahukan sebagai general cargo, kedapatan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) yang berjumlah ribuan botol.
WBC/ADI

KPPBC Belawan

K

AGUSTINUS DJOKO PINANJOJO. Tegahan MMEA ini merupakan koordinasi yang baik antara petugas P2 KPPBC Belawan dan petugas P2 Kanwil Sumatera Utara.

PPBC Tipe A1 Belawan pada 6 Agustus 2007 memusnahkan ribuan botol MMEA yang berhasil ditegahnya. Keberhasilan petugas KPPBC Belawan dalam menegah ribuan botol MMEA ini, diawali dengan kecurigaan petugas P2 terhadap inward manifes kapal MV. Tantor Star Voy 911 yang datang dari Singapura pada 2 April 2007. Pada salah satu manifes yang ada diberitahukan kalau barang yang di impor tersebut adalah general cargo. Berdasarkan hasil analisis manifes diketahui, ada kejanggalan dimana penerima barang diberitahukan adalah agen (perwakilan) dari pemilik kontainer, sehingga muatan kontainer tidak menggambarkan uraian barang secara spesifik. Dengan kejanggalan ini, maka Kepala Bidang P2 Kanwil Sumatera Utara, mengeluarkan nota hasil intelijen (NHI) yang ditindaklanjuti dengan pemeriksaan jabatan oleh petugas P2 KPPBC Belawan. Dari hasil pemeriksaan jabatan, diketahui bahwa barang yang disebutkan sebagai general kargo kedapatan 1.242 carton atau 11.187 liter MMEA dari berbagai merek. Sehingga potensi kerugian negara dari pungutan bea masuk, cukai, dan pajak dalam rangka impor, diperkirakan sebesar Rp. 10.423.178.343,50. Dan berdasarkan hasil penyelidikan, ternyata PT. NYK Lines yang tercantum pada manifes selaku penerima barang
WBC/ADI

DIMUSNAHKAN. Kakanwil Sumatera Utara, Heryanto Budi Santoso bersama-sama dengan pejabat dan para undangan menyaksikan pemusnahan ribuan botol MMEA yang ditandai dengan peleparan botol MMEA oleh Kakanwil. EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

25

DAERAH KE DAERAH
tidak terbukti sebagai importir MMEA, karena yang bersangkutan hanya sebagai perwakilan pemilik kontainer.

DIMUSNAHKAN
Dengan tegahan MMEA ini, dan sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan, maka ribuan botol MMEA tersebut dimusnahkan. Acara pemusnahan yang dilakukan di halaman kantor KITE Kanwil Sumatera Utara, dihadiri langsung oleh Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara, Heryanto Budi Santoso yang mewakili Direktur Jenderal Bea dan Cukai, seluruh Kepala Bidang Kanwil Sumatera Utara, Kepala KPPBC Belawan, dan Kepala KPPBC Medan. Selain itu acara pemusnahan MMEA ini juga turut dihadiri oleh, Kepala KP3 Belawan, Kepala Badan POM Belawan, Asisten Intel Danramal Belawan, Kepala Polairud Belawan, Pelindo, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Belawan, dan keluarga besar Maritim Belawan. Menurut Kepala Seksi P2 KPPBC Tipe A1 Belawan, Agustinus Djoko Pinanjojo, dalam kata sambutannya pada acara pemusnahan, berdasarkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan, maka sesuai surat Kepala KPPBC Tipe A1 Belawan, MMEA tersebut ditetapkan sebagai barang yang dikuasai negara, dan sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan, barang yang dikuasai negara yang merupakan barang kena cukai MMEA harus segera dimusnahkan. “Hasil tegahan ini merupakan upaya kerja keras dari petugas KPPBC Belawan dan Kanwil Sumatera Utara dalam memberantas segala upaya penyelundupan, khususnya MMEA dan barang kena cukai lainnya, yang hingga kini masih marak beredar bukan hanya di daerah Sumatera Utara, tapi juga diberbagai daerah lainnya,” ujar Agustinus. Menurut Kepala KPPBC Tipe A1 Belawan, Karuna, nilai sepuluh milyar mungkin tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kerugian yang diderita masyarakat akibat minuman ini. Selain itu upaya penyelundupan ini juga dapat mencemarkan nama baik para pengusaha khususnya di Belawan yang selama ini telah melakukan usahanya dengan jujur, untuk itu Karuna juga ingin memberikan penghargaan dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada para pengusaha yang telah menjalankan usahanya dengan baik. “Pemusnahan ini juga merupakan pesan bagi pelaku usaha yang ingin bertindak macam-macam atau melakukan penyelundupan di daerah kami, kalau mereka ingin bertindak macam-macam, maka mereka akan berhadapan dengan kami,” kata Karuna. Sementara itu Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara, Heryanto Budi Santoso, atas nama Direktur Jenderal Bea dan Cukai, mengucapkan selamat kepada jajaran KPPBC Belawan dan Kanwil Sumatera Utara, karena dengan kerjasama dan analisa yang baik, akhirnya dapat menegah ribuan MMEA. “Walaupun hingga saat ini belum ada tersangka dalam kasus ini, namun hingga saat ini telah dilakukan pengetatan terhadap importir MMEA, dan benar angka 10 milyar itu kecil dibandingkan dengan dampak yang diakibatkannya, untuk itu kita melakukan gebrakan untuk menangkap, dengan koordinasi yang baik diharapkan tidak ada lagi pelanggaran,” jelas Heryanto Budi Santoso. Akhirnya secara simbolis pemusnahan pun ditandai dengan pelemparan botol MMEA oleh Kakanwil dan beberapa pejabat di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara dan pejabat dilingkungan KPPBC Belawan, yang selanjutnya seluruh MMEA tersebut dimusnahkan dengan cara dilindas oleh mesin penghalus. adi 26
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

Sosialisasi UU No.39/2007
Di Kanwil DJBC Kalimantan Timur
Undang-undang No.39 tahun 2007 tentang perubahan atas Undang-undang No.11 tahun 1995 tentang Cukai merupakan bentuk manifestasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk mengoptimalkan pengawasan dan pengendalian penerimaan negara di bidang Cukai.

S

etelah dibidang kepabeanan diundangkannya Undang-undang No.17 tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang No.10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, kini DJBC berhasil mengundangkan Undang-undang No.39 tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-undang No.11 tahun 1995 tentang Cukai untuk menyempurnakan undang-undang sebelumnya sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dan kebijakan Pemerintah. Untuk menyebarluaskan perubahan tersebut maka diadakan sosialisasi baik di Kantor Pusat (KP) DJBC maupun didaerah tidak terkecuali di Balikpapan. Hari Selasa 11 September 2007 tampak cerah menyambut tamu-tamu yang menghadiri acara sosialisasi tersebut. Bertempat di Aula Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur acara dilangsungkan tepat pada pukul 09.00 WITA dengan menghadirkan Tim Sosialisasi dari KP DJBC yang diketuai oleh Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan & Cukai, Bambang Prasodjo serta empat orang pembicara yakni Aminullah Yusuf (Kepala KPPBC Lhokseumawe), Deny Surjantoro, Galih Elkam Setiawan dan Akbar Harfianto.
FOTO : MUQSITH H

SUASANA saat dilakukan sosialisasi UU No. 39/2007.

FOTO : MUQSITH H

FOTO BERSAMA Tim Sosialisasi yang diketuai Bambang Prasodjo (ketiga dari kanan) dengan Kakanwil DJBC Kalimantan bagian Timur, Ismartono (keempat dari kiri).

Hadir dalam acara sosialisasi tersebut Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono bersama segenap jajaran pejabat eselon III dan IV di Lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur; para pegawai dari Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan KPPBC Tipe A3 Balikpapan, serta para pengguna jasa di bidang cukai tentunya di wilayah Kaltim dan Kalsel. Acara sosialisasi dibuka dengan sambutan dari Kakanwil, Ismartono yang menyambut hangat akan adanya Undangundang No.39 tahun 2007 ini dan optimis bahwa melalui undang-undang yang telah diamendemen ini menjadi langkah maju DJBC menuju institusi kepabeanan yang setara internasional. Ismartono melanjutkan, adanya amandemen terhadap Undang-undang No.11 tahun 1995 selain sebagai penyempurnaan juga untuk mengoptimalkan upaya pengawasan dan pengendalian serta memberdayakan peranan cukai sebagai salah satu sumber penerimaan negara. Sementara itu Ketua Tim Sosialisasi, Bambang Prasodjo, dalam sambutannya menjelaskan mengenai garis besar yang melatarbelakangi amandemen terhadap Undang-undang No.11 tahun 1995. Adapun latar belakang amandemen tersebut meliputi : 1. Adanya hal-hal tertentu yang belum tertampung dalam undang-undang sebelumnya sehingga diperlukannya suatu penyempurnaan seiiring perkembangan sosial ekonomi. 2. Lebih mengoptimalkan upaya pengawasan dan pengendalian Barang Kena Cukai (BKC). 3. Sebagai salah satu sumber penerimaan negara tentunya dibidang Cukai perlu ditingkatkan kontribusinya. 4. Untuk memperluas batasan dan cakupan terhadap barang-barang tertentu yang memiliki sifat atau karakteristik sesuai undang-undang yang baru ini dalam upaya menambah obyek cukai. 5. Penyempurnaan sistem administrasi pungutan cukai. 6. Meningkatkan upaya penegakan hukum (law enforcement) bagi yang melanggar undang-undang ini, dan 7. Penegasan pembinaan pegawai dalam rangka tata pemerintah yang baik (good governance) untuk meningkatkan kinerja dan motivasi pegawai di lingkungan DJBC.

Bambang Prasodjo juga meminta dukungan dari segenap pihak baik pejabat bea dan cukai di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur maupun pengguna jasa untuk menjalankan aturan baru tersebut sehingga menciptakan kepastian hukum dan akuntabilitas pelayanan yang baik. Acara dilanjutkan dengan presentasi materi Undangundang No.39 tahun 2007 yang berupa pemutaran multimedia yang menggambarkan perkembangan pesat dunia industri dibidang cukai sehingga diperlukan perubahan terhadap aturan yang berlaku mengikuti kemajuan tersebut. Kemudian penyajian lengkap mengenai perubahan undang-undang dijelaskan secara rinci oleh pembicara dari Tim Sosialisasi. Secara bergantian Aminullah Yusuf, Deny Surjantoro, Galih Elkam Setiawan dan Akbar Harfianto menjelaskan dengan diselingi tanya jawab dari peserta yang hadir dalam acara sosialisasi tersebut. Undang-undang No.39 tahun 2007 merupakan pelengkap dari Undang-undang No.11 tahun 1995 karena tidak semua pasal mengalami perubahan. Terdapat 39 pasal dan 2 penjelasan pasal yang diubah, 19 pasal yang baru dan 9 pasal yang dihapus. Sehingga pada Undangundang No.39 tahun 2007 mempunyai 82 pasal dimana sebelumnya hanya terdapat 72 pasal pada Undangundang No.11 tahun 1995. Acara Sosialisasi ini dibagi dalam 2 sesi yakni pada pukul 09.00 - 12.15 WITA dikhususkan untuk stakeholders atau pengguna jasa. Sedangkan setelah jam istirahat yakni pukul 13.00 WITA acara dimulai kembali yang diperuntukkan bagi para pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur. Pada pukul 16.00 WITA acara selesai dilaksanakan dan ditutup secara langsung oleh Kakanwil, Ismartono. Secara keseluruhan Kakanwil merasa puas dengan sosialisasi yang diadakan karena berjalan dengan sukses dan lancar dengan banyaknya tamu undangan yang menghadiri acara sosialisasi ini. Sekarang tinggal menjadi tugas kita sebagai aparat bea cukai untuk menegakkan aturan tersebut, demikian ujar Ismartono. muqsith hamidi, balikpapan
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH

DJBC IndonesiaKastam Diraja Malaysia
“ Suatu Lonjakan Paradigma, Melayari Samudera, Merentasi Sempadan “ demikian kiasan yang didengungkan Kastam Diraja Malaysia dalam acara Penutupan Patkor Kastima Borneo ke-6 pada 27 Agustus 2007 di Tawao, Malaysia.

Penutupan Patkor Kastima Borneo Ke-6

P

atkor Kastima Borneo ke-6 yang berlangsung selama tujuh hari yakni dari tanggal 20 – 27 Agustus 2007 berakhir sukses dengan harapan kedepannya akan terus dilaksanakan untuk mempererat kerjasama dalam menangani masalah penyelundupan di perbatasan kedua negara. Patkor Kastima ditutup secara langsung oleh Timbalan Pengarah Kastam Bahagian Pencegahan Negeri Sabah, Malaysia, Md. Zanul Rashid, didampingi Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono. Turut hadir pula para undangan dari instansi pemerintah Negeri Sabah, Malaysia maupun Angkatan Laut Diraja Malaysia dan Kepolisian Diraja Malaysia. Dalam acara penutupan tersebut dilakukan penyerahan berkas laporan Patkor Kastima Borneo ke-6 dari masing-masing Komandan Patroli kepada masingmasing Ketua Tim Teknis Pencegahan Penyelundupan,

yaitu kepada Md. Zanul dan Ismartono, serta pelepasan balon yang menandakan ditutupnya Patkor Kastima Borneo ke-6 tahun 2007. Sebelumnya, telah dilaksanakan rangkaian acara untuk mempererat tali silaturahmi yang sudah terjalin, seperti Malam Titian Muhibah yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2007 bertempat di Belmont Marco Polo Hotel. Dimana rombongan DJBC yang mengikuti acara Penutupan Patkor Kastima Borneo ke-6 dijamu dalam Majlis Makan Malam. Malam berikutnya diadakan Majlis Penutupan yang juga berlangsung meriah karena tidak hanya acara ramah tamah dalam acara tersebut tetapi diisi juga dengan perkenalan budaya berupa tarian daerah yang memperkukuhkan ikatan budaya dan kerjasama yang erat sebagai rasa persaudaraan bangsa yang serumpun dan sebudaya. Seperti halnya pada acara pembukaan Patkor di Tarakan yang mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola, maka di Tawao diadakan pertandingan persahabatan futsal yang berakhir dengan kemenangan Kastam Diraja Malaysia dengan skor 12-8. Pada pertandingan sepakbola di Tarakan sebelumnya, DJBC berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-0. Lepas dari hasil pertandingan tersebut yang terpenting adalah terciptanya suasana kekeluargaan diantara para
DOK. KANWIL DJBC KALTIM

BARISAN PESERTA UPACARA. Tegap gagah walau lelah telah melaksanakan tugasnya.

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

DOK. KANWIL DJBC KALTIM

Kapal Patroli Cepat ( KPC ) 28M BC 9003 :
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NAMA Mugito Fridaus Abdi M. Betlajulsaju Deni Juliansyah Sutrisno Pujianto Boy Iskandar Sainal Eka Sugiharta Rizal Permana Amat Rudi Sufianto Syaifullah Azis Jati Purnomo Mujianto JABATAN Komandan Patroli Nakhoda Wakil Komandan Patroli Wakil Komandan Patroli Mualim I Mualim II Kepala Kamar Mesin Juru Motor I Juru Motor II Juru Minyak I Juru Minyak III Kelasi Kelasi Kelasi / TM

Kapal Patroli Cepat ( KPC ) 28M BC 9005 :
NO
BERKAS LAPORAN. Masing-masing Komandan Patroli menyerahkan berkas laporan kepada masing-masing Ketua Tim Teknis Pencegahan Penyelundupan yakni kepada Ismartono dan Md. Zanul Rashid.

NAMA Masdar Johannes BW Anwar Lubis Alvino Ricardo Mustamu Hanafi Anisral Dias Irwanto P. Suantono Mastur Fuad Hasan Jamaluddin Sulaiman Riyandi Gautama M. Bayu Nirwana Kiki Kusno Susilo

JABATAN Komandan Patroli Nakhoda Wakil Komandan Patroli Wakil Komandan Patroli Mualim I Mualim II Kepala Kamar Mesin Juru Motor I Juru Motor II Juru Mudi III Juru Minyak III Kelasi Kelasi Kelasi Kelasi / TM

peserta yang mengikuti keseluruhan acara penutupan Patkor Kastima Borneo ke-6. Daftar Pejabat yang mengikuti Penutupan Patkor Kastima Borneo ke-6 : 1. Drs. Ismartono (Ka Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur) 2. Wisnu Wibowo (Kabid Kepabeanan dan Cukai ) 3. Ambang Priyonggo (Kabid Pencegahan dan Penindakan) 4. Heru Hariadi (Kepala KPPBC Tipe A4 Tarakan) 5. Sudirman Mamma (Kepala KPPBC Tipe A4 Nunukan) 6. Agung M.P. (Kasi Penindakan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur) 7. Akhmad Yulianto (Pjs.Kasi P2 KPPBC Tipe A4 Nunukan) 8. Refli Feller Silalahi (Staf P2 Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur) Seminggu sudah perhelatan Patkor Kastima digelar, tentunya banyak pengalaman serta kesan yang didapat oleh para pegawai yang mengikuti Patroli terkoordinasi tersebut. Tak terkecuali Anwar Lubis, Wakil Komandan Patroli Kapal BC 9005 yang mengikuti dari awal (Pembukaan -red) hingga berakhirnya Patkor Kastima Borneo ke-6 tahun 2007. Menurutnya, waktu yang singkat merupakan salah satu kendala yang mengakibatkan hasil daripada patroli terkoordinasi ini kurang maksimal karena walaupun Patkor Kastima ini dilaksanakan dari tanggal 20-27 Agustus 2007 namun pelaksanaannya dipotong dengan berbagai acara yang diadakan ketika Pembukaan dan Penutupan. Untuk kedepannya secara pribadi Anwar Lubis menyarankan apabila Patkor Kastima ini diadakan kembali pada tahun-tahun mendatang agar tidak terekspose dulu ke media massa sebelum pelaksanaannya berakhir sehingga para pelaku

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Kapal Patroli Cepat ( KPC ) 15M BC 10014 - Nunukan :
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 NAMA Ihklas Mulyana Ilyas Muhktar Bambang Riyadi Rahmat P. Adhi Inderaputra Angga Kusumah M. Fadli Iwan JABATAN Komandan Patroli Wakil Komandan Patroli Nakhoda Juru Mudi Kepala Kamar Mesin Juru Motor Plontir I Plontir II

Kapal Patroli Cepat ( KPC ) 15M BC 15024 - Tarakan :
NO 1 2 3 4 5 NAMA M. Sabil Abdullah Irvan Hencahyo Hasanuddin Sugiyadi JABATAN Komandan Patroli Nakhoda Kepala Kamar Mesin Juru Mudi Kelasi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

29

DAERAH KE DAERAH
Titik Koordinat wilayah Indonesia yang diawasi selama Patkor Kastima berlangsung

penyelundupan dapat tertangkap, ataupun tidak menghentikan aksinya hanya saat Patroli terkoordinasi ini berlangsung lanjutnya. Pegawai yang akan pensiun pada bulan Nopember tahun ini mengungkapkan pula, jika setiap pegawai ditanya mengenai perasaannya ketika mengikuti Patkor Kastima maka tidak lain dan tidak bukan semua akan menjawab senang sekali ikut bergabung dalam Patroli terkoordinasi ini. “Selain banyak pengalaman yang akan didapat, juga bisa jalan-jalan keluar negeri” imbuhnya sambil tersenyum. Berikut nama daftar kapal beserta anak buah kapal yang digunakan selama Patkor Kastima Borneo ke-6 tahun 2007 : (Lihat Tabel)

PENCAPAIAN DAN MASALAH
Dengan dilaksanakannya patroli laut (Patkor Kastimared.), maka telah diupayakan penegakan hukum kepabeanan dan cukai di daerah kepabeanan Indonesia guna pengamanan hak-hak negara. Hal ini dapat dilihat

selama pelaksanaan Patkor Kastima tidak diketemukan adanya tindak pelanggaran penyelundupan maupun pelanggaran dibidang lain. Sesuai dengan misi yang diemban “Melaksanakan patroli secara terkoordinasi di perairan yurisdiksi nasional masing-masing negara secara optimal seperti di perairan perbatasan Kalimantan Timur dengan Tawao, Sabah-Malaysia untuk mencegah dan memberantas kegiatan penyelundupan”, akhirnya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Namun meski semua telah berakhir dengan sukses dan lancar tentunya masih ada pekerjaan rumah (PR) bagi DJBC juga KDRM seperti singkatnya waktu pelaksanaan agar dapat dipertimbangkan untuk menambah lama pelaksanaan Patkor Kastima, dan juga kurangnya informasi dari Intelijen Tim Teknis Pencegahan Penyelundupan pada unsur patroli kedua negara, agar perlunya pengumpulan informasi yang akurat sehingga mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan Patroli sehingga pada pelaksanaan Patkor Kastima berikutnya mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Muqsith Hamidi, Balikpapan
DOK. KANWIL DJBC KALTIM

TAMU KEHORMATAN. Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono (duduk no. 4 dari kiri) sebagai tamu kehormatan Timbalan Pengarah Kastam Bahagian Pencegahan Negeri Sabah-Malaysia, Md. Zanul Rashid (no. 3 dari kiri).

30

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

FOTO: DONNY

FOTO: DONNY

PENYERAHAN HADIAH. Kakanwil DJBC Sulawesi, Bachtiar, berkenan menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba.

LOMBA BAKIAK. Butuh kerjasama tim untuk memenangkan lomba.

Semarak Agustusan
di Kanwil DJBC Sulawesi
Murah meriah tapi berkesan, itulah yang tergambar dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT Republik Indonesia ke-62 di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Sulawesi. Bagaimana tidak, dengan minimnya dana yang tersedia, panitia berusaha mengemas acara tersebut sedemikian menarik. Peringatan HUT RI tersebut ditandai dengan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang menarik dan melibatkan seluruh pegawai Kanwil DJBC Sulawesi.
cara dimulai dengan penyelenggaraan kegiatan Jalan Sehat Bersama yang diadakan pada 10 Agustus 2007. Acara ini diikuti oleh para pegawai Kanwil DJBC Sulawesi, termasuk Kepala Kanwil DJBC Sulawesi, Bachtiar dan jajaran pejabat eselon III dan IV. Peserta jalan sehat ini harus menempuh jarak kurang lebih 4 Km. Start dimulai dari Kanwil DJBC Sulawesi melewati KPPBC Makassar yang berlokasi di area pelabuhan Makassar dan balik kembali ke Kanwil DJBC Makassar. Tepat tanggal 17 Agustus 2007 dilaksanakan upacara bendera peringatan HUT Republik Indonesia ke-62 di Gedung Keuangan Negara (GKN) Makassar. Selain pegawai DJBC (perwakilan Kanwil DJBC Sulawesi dan KPPBC tipe A3 Makassar), upacara tersebut diikuti oleh para pegawai dari direktorat lain di lingkungan Departemen Keuangan. Untuk acara khusus keluarga pegawai Kanwil DJBC Sulawesi diadakan sehari sebelumnya, tepatnya 16 Agustus 2007. Khusus untuk kegiatan ini, acara tidak diadakan di Kanwil DJBC Sulawesi tetapi di kompleks perumahan Bea Cukai jalan Mappaodang Makassar. Acara disini sangat menarik karena diisi dengan lombalomba yang diikuti oleh anak-anak pegawai. Polah tingkah lucu dari anak-anak tersebut menambah keceriaan di hari HUT RI. Berbagai lomba digelar untuk anak-anak, mulai dari lomba makan kerupuk, memasukkan pensil dalam botol dan lain sebagainya. Selain untuk anak-anak, panitia juga mengadakan berbagai lomba pertandingan olahraga untuk para pegawai. Pertandingan olahraga yang dilombakan sangat variatif, yaitu tenis lapangan, tenis meja, bulutangkis dan gaple. Sistem pertandingannya adalah mempertemukan perwakilan masing-masing bidang/bagian.

A

Tidak hanya para pegawai dan staff, Kakanwil dan para pejabat eselon III dan IV juga mengikuti lomba tersebut. Bahkan Kakanwil tampil sebagai pemenang juara satu lomba gaple. Sedangkan untuk juara satu lomba tenis lapangan adalah pasangan bidang Pabean, yaitu Awan Jogjantoro dan Firman Akbar. Tenis meja dimenangkan oleh pasangan Thomas/Adil (P2) dan Audit kebagian juara satu bulutangkis dengan pasangan Feris / Eva. Seminggu kemudian, tepatnya 24 Agustus 2007, sebagai puncak acara HUT RI di Kanwil DJBC Sulawesi ini digelar acara “Fun Game” di halaman depan Kanwil DJBC Sulawesi. Sengaja dinamakan “Fun Game”, dengan tujuan untuk menjalin keakraban antar pegawai. Ini dikarenakan acara yang digelar hampir semuanya berisi lomba yang mengundang suasana tawa dan ceria. “Jangan melihat lomba ini dari hadiahnya, hadiahnya memang kecil tapi acara ini dapat menambah keakraban para pegawai,” kata Kakanwil. Keakraban pegawai memang dapat terjalin di acara ini. Pasalnya, Kakanwil sendiri beserta para pejabat eselon III dan IV ikut langsung dalam lomba makan kerupuk. Jenis lomba yang dilombakan selain makan kerupuk adalah dalam bentuk permainan tim yang membutuhkan kerjasama. Seperti, lomba bakiak untuk 3 orang, roda tank (empat orang yang berjalan di dalam karet yang berbentuk roda tank), permainan memindahkan air dalam bambu yang satu tim membutuhkan 6-7 orang dan juga permainan bola kerucut. Setelah berbagai lomba tersebut selesai digelar, acara berikutnya adalah pembagian door prize yang diundi untuk para pegawai yang beruntung. Rangkaian kegiatan HUT RI ke-62 Kanwil Sulawesi akhirnya ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. dons, makassar
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

31

PENGAWASAN
WBC/ATS

ACARA PRESS RELEASE. Agung Kuswandono, Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok sedang memberikan keterangan pada pers seputar penggagalan upaya importasi MBM illegal.

KPU Tanjung Priok Gagalkan Importasi Ilegal Meat Bone Meal Asal Inggris
roma tidak sedap langsung menyeruak saat satu per satu pintu kontainer berisi meat bone meal (MBM) dibuka oleh petugas bea cukai. Rekan-rekan pers yang sedang mengantri di depan pintu kontainer untuk mengambil gambar, serempak menutup hidungnya dengan tangan dan pakaiannya. Bau MBM pun langsung menyebar ke sekitar kontainer. Siang itu, 23 Agustus 2007, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok menggelar acara press release terkait dengan penggagalan upaya importasi terhadap 112 kontainer berisi MBM ilegal. Dalam acara tersebut diantaranya hadir Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, Direktur P2, Heru Santoso, Direktur Audit, Thomas Sugijata, Kepala Laboratorium BPIB, Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan, serta rekan-rekan pers. Upaya penggagalan importasi tersebut terjadi berkat koordinasi KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok dan Balai Karantina Tanjung Priok. Dalam keterangannya pada pers, Agung Kuswandono, Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok mengatakan, importasi MBM atau tepung daging dan tulang dari ruminansia, asal Inggris tersebut, diberitahukan dalam dokumen manifestnya sebagai bird feed atau makanan burung, untuk menghindari aturan larangan/pembatasan dari pemerintah. Berdasarkan hasil kegiatan intelijen, petugas P2 KPU Tanjung Priok mencurigai indikasi pemberitahuan importasi barang yang tidak benar. Atas hasil kecurigaan tersebut, dikeluarkan nota hasil intelijen (NHI) untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik 100 persen atas partai barang dimaksud. Sebagai tindak lanjut dari NHI tersebut, diterbitkan Surat Perintah Pemeriksaan Fisik yang selanjutnya dilakukan koordinasi dengan Balai Karantina Hewan Kelas I Tanjung Priok dan Balai besar Karantina Tumbuhan Tanjung Priok untuk pengambilan contoh (sample). Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut, kedapatan serbuk warna coklat. Selanjutnya, barang tersebut dilakukan pengujian dan identifi32
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

A

Dalam pemberitahuan pabeannya, diberitahukan sebagai bird feed.

kasi di laboratorium Balai Pengujian dan Identifikasi Barang (BPIB) DJBC dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veterinary Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Pemda DKI Jakarta untuk mengetahui jenis barang yang sesungguhnya. Hasil pengujian dan identifikasi dari kedua laboratorium tersebut disimpulkan bahwa barang tersebut merupakan tepung dari daging hewan (babi, sapi dan ayam) dan sisanya dari jenis meat bone meal (MBM) yang terkena ketentuan barang larangan dan pembatasan, sehingga dilakukan penegahan atas barang-barang tersebut. Agung melanjutkan, barang bukti yang ditegah tersebut terdiri dari 22 kontainer 20 feet, berikut isinya berupa 506.380 kg tepung dari daging dan sisanya dari jenis MBM yang sudah dibuktikan dari hasil tes laboratorium BPIB DJBC Jakarta dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veterinary Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Pemda DKI Jakarta. Kemudian, sejumlah 90 kontainer 20 feet berikut isinya berupa 2.056.780 kg yang diduga berindikasi sama, yakni sebagai tepung dari daging dan sisanya dari jenis MBM yang masih dalam proses penelitian. “Jadi, total seluruh kontainer sejumlah 112 kontainer 20 feet yang diindikasikan berisi MBM yang sekarang ada dalam pengawasan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok,” tandas Agung.
WBC/ATS

MEAT BONE MEAL. Asal Inggris yang diindikasi mengandung virus sapi gila, lidah biru dan flu burung.

Jumlah yang spektakuler tersebut (112 kontainer-red), bagi KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok merupakan tegahan terbesar. “Tetapi sebelum menjadi KPU, Bea dan Cukai Tanjung Priok pernah menangkap sejumlah 279 kontainer pada tahun 2006,” ujar Heru Santoso, Direktur P2. Adapun seluruh barang illegal tersebut diimpor oleh PT. TMW. Terhadap PT. TMW masih dilakukan pemeriksaan untuk melihat apakah memang benar ada modus operandi yang menuju kearah pelanggaran di bidang kepabeanan. Ke-112 kontainer itu sendiri masuk ke Indonesia dalam kurun waktu yang berbeda, dimulai pada 30 Juni – 21 Juli 2007. Agung menambahkan, yang terpenting adalah bahan makanan ternak tersebut tidak sampai lolos dari pengawasan. “Bisa dibayangkan berapa banyak hewan yang terjangkit penyakit berbahaya ini kalau sampai barang tersebut lolos. Selanjutnya, kalau setelah dilakukan penyelidikan ternyata MBM ini tidak layak, maka akan ditindaklanjuti oleh pihak dari Karantina, opsi yang paling memungkinkan adalah barang illegal tersebut akan dimusnahkan,” lanjut Agung. Potensi kerugian negara yang timbul akibat importasi illegal ini, kurang lebih sebesar Rp. 5.155.800.000. Namun demikian, hal yang lebih membahayakan adalah potensi penyakit menular yang bisa menyebar dan menular ke manusia jika ternyata MBM yang diimpor dimaksud mengandung virus berbahaya. drh. Basir Nainggolan, Kepala Balai Karantina Hewan Tanjung Priok menjelaskan, dari tiga jenis tepung (sapi, babi dan unggasred), terdapat indikasi penyakit sapi gila atau BSE pada tepung sapi. Sedangkan pada tepung babi terdapat indikasi penyakit lidah biru dan pada tepung unggas terindikasi membawa virus flu burung. “Sehingga, barang illegal tersebut dapat menyebabkan kerugian yang besar, baik ekonomi maupun jiwa manusia dan hewan. Yang lebih parah lagi, Indonesia bisa terkena larangan untuk mengekspor produk tumbuhan dan hewan keluar negeri dengan alasan Indonesia belum bebas dari penyakit/virus yang berbahaya,” jelas Basir. Saat ini, penanganan terhadap kasus tersebut telah dilakukan dengan menyegel 112 kontainer tersebut. Namun untuk dapat mengungkap kasus tersebut menjadi lebih jelas dan memperoleh bukti atau keterangan yang cukup, kini sedang dilakukan penyelidikan untuk proses hukum lebih lanjut. Penyelidikan lebih lanjut dilakukan dengan berkoordinasi dengan Balai Karantina Hewan Kelas I atas pelanggaran terhadap UU No. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah diubah dengan UU No. 17 tahun 2006 dan UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan. ifa
WBC/ATS

Replika Senjata Api dan Kayu Ilegal Disita Bea dan Cukai
Terus dilakukan penyelidikan untuk proses hukum lebih lanjut.
WBC/ATS

TIGA KONTAINER kayu yang akan diekspor secara illegal ke negeri Cina.

MENUNGGU. Kontainer-kontainer berukuran 20 feet berisi MBM berjejer rapih menunggu penyelidikan lebih lanjut.

parat Kantor Pelayanan Utama (KPU) Tipe A Tanjung Priok, berhasil menggagalkan upaya impor illegal 75 pucuk senjata replika yang dikirim oleh Meca Storage & Club Service Ltd, Hongkong dan sebagai penerimanya berinisial NS. Importasi senjata api berupa replika senjata yang terbuat dari logam ini diberitahukan sebagai barang pindahan (personal effect) untuk menghindari aturan larangan/ pembatasan dari pemerintah. Upaya ini biasanya dimasukkan ke Indonesia melalui bandar udara dan jarang dilakukan melalui pelabuhan laut. Kasus ini terungkap berdasarkan hasil kegiatan intelijen, petugas Bea dan Cukai KPU Tanjung Priok mencurigai importasi atas barang dengan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) nomor 000871/KPU.PAB I/2007, sebagai penerimanya, NS, Warga Negara Indonesia yang tinggal di Hongkong. Atas kecurigaan tersebut kemudian dilakukan pemeriksaan fisik 100 persen atas partai barang tersebut, dan dari hasil pemeriksaan kedapatan sejumlah barang yang menyerupai senjata api terbuat dari logam beserta kelengkapannya dalam berbagai bentuk, tipe dan ukuran. Selanjutnya barang bukti berupa 75 buah replika senjata api dan kelengkapannya yang terbuat dari logam dengan rincian; 5 unit replika senjata api laras panjang kondisi terakit (built up), 2 unit replika senjata api laras panjang kondisi terurai, 13 unit replika senjata api laras pendek kondisi terakit, 55 buah kelengkapan replika senjata api, oleh petugas bea cukai dilakukan penegahan. Dalam press conference yang diadakan pada 6 September 2007 di aula ruang X-Ray, Kepala KPU Tipe A Tanjung Priok, Agung Kuswandono mengatakan, dalam dokumen pemberitahuan (PIBT) diinformasikan bahwa peti kemas itu mengangkut barang pindahan milik NS, warga Indonesia yang tinggal
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

A

33

PENGAWASAN
WBC/ATS

jen, petugas Bidang Penindakan dan Penyidikan P2 Bea dan Cukai KPU Tanjung Priok yang mencurigai tiga buah container, masing-masing kontainer berukuran 1 x 20’ dikirim oleh PT MMS ke penerima yang berbeda. KAYU EBONY ILEGAL Kontainer pertama sebagai penerima adalah Sheng Yia Dalam jum pers tersebut juga diungkap upaya pengBao Woo Co Ltd tujuan Taiwan. Kontainer kedua, Pingagalan oleh aparat bea cukai KPU Tanjung Priok atas nacle Global Logistics Co Ltd tujuan Cina dan kontainer eksportasi kayu olahan dan kayu gelondongan ebony ketiga, penerimanya adalah Shanghai Sanchang Import & ilegal. Modus operandi yang digunakan oleh pelaku, PT. Export Co. Ltd tujuan Cina. MMS dalam upaya mengekspor kayu gelondongan dan Selanjutnya, terhadap ketiga kontainer itu dilakukan Nota ebony tujuan China, diberitahukan sebagai Wooden Hasil Intelijen untuk dilakukan pemeriksaan fisik 100 persen Product Sono Keling S4S dengan tujuan untuk menghinatas partai barang tersebut dan kedapatan kayu olahan berdari aturan larangan dan pembatasan dari pemerintah. bagai ukuran berwarna hitam dam kayu gelondongan dengan Kasus ini terungkap berdasarkan hasil kegiatan intelikondisi kulit dikupas kasar berwarWBC/ATS na coklat kehitaman dan bergetah dari jenis kayu ebony. Sampai saat ini hasil pemeriksaan fisik tersebut masih dalam proses penelitian mendalam di Badan Revitalisasi Industri Kehutanan (BRIK). Dan terhadap barang bukti berupa dua kontainer berikut isinya berupa 1.052 barang = kurang lebih 40 M3 kayu olahan berbagai ukuran berwarna hitam dari jenis kayu ebony dan satu kontainer berikut isinya berupa 42 batang = kurang lebih 20 M3 kayu gelondongan dilakukan penegahan. Perbuatan ini melanggar UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan pasal 102 A dengan sanksi penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp. 5 miliar. Sedangkan nilai barang yang berhasil ditegah kurang lebih sebesar Rp. 1.200.000.000 (satu miliar dua ratus juta rupiah). Sedangkan kerugian yang bersifat imateriil yaitu kerusakan hutan dan ekosistem sebagai akibat penebangan kayu secara liar yang tidak ternilai kerugiannya. ris REPLIKA SENJATA API, yang berhasil diamankan aparat KPU Tanjung Priok. 34
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

di Hongkong. “Senjata-senjata ini dicampur dengan barang-barang rumah tangga, pelaku menggunakan modus itu supaya bisa bebas bea masuk.” “Senjata-senjata replika ini mirip dengan aslinya, baik dari tampilan visual maupun bobot. Dan biasanya diincar oleh kolektor senjata atau penggemar mainan airsoft gun,” ujar Agung yang mengaku belum dapat mengidentifikasi nilai total replika sejata impor tersebut, namun ada kerugian negara secara materiil berupa bea masuk yang tidak dibayar serta imateriil berupa potensi gangguan keamanan jika senjata tersebut beredar secara gelap dan disalahgunakan. Hingga saat ini, lanjut Agung, aparat masih memburu pelaku, NS yang tercatat sebagai pemilik barang, dan akan dijerat dengan pasal 103 UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan dengan ancaman 8 tahun kurungan dan denda maksimal Rp. 5 miliar rupiah. Untuk mengungkap kasus tersebut menjadi lebih jelas dan memperoleh bukti dan keterangan yang cukup sedang dilakukan penyelidikan untuk proses hukum lebih lanjut. Penyelidikan lebih lanjut guna mengetahui jenis barang sebenarnya akan dikoordinasikan dengan pihak Kepolisian terkait dugaan pelanggaran ketentuan berlaku, yaitu sesuai surat Direktur I Delpampol nomor B/337/VI/ 1998/ Dit Ipp perihal Pemasukan Pistol Mainan dan surat Kepala Badan Intelijen Keamanan Kepolisian Republik Indonesia nomor R/13/1/2005 perihal Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Peredaran dan Pemasukan Senjata Api/ Amunisi dan Peralatan Keamanan lainnya yang digolongkan Senjata Api.

AGUNG KUSWANDONO. Senjata-senjata replika mirip dengan aslinya, baik dari tampilan visual maupun bobot.

Kembali Tegah Tiga Kontainer Tekstil Ilegal
Modus penyalahgunaan nama perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat kembali terjadi, kali ini modus yang dilakukan adalah mengeluarkan barang dengan menggunakan dokumen BC 2.3 atas nama PT. DA yang merupakan perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat.

Kanwil DJBC Jakarta

K

antor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jakarta, kembali menegah tiga kontainer berisikan tekstil ilegal yang berusaha dikeluarkan oleh oknum yang mengatas namakan PT. DA dengan modus, penyalagunaan fasilitas kawasan berikat. Tegahan diawali dengan kecurigaan petugas Penindakan dan Penyidikan (P2) Kanwil DJBC Jakarta pada 29 Agustus 2007, yang menerima laporan akan adanya barang keluar dari tempat penimbunan sementara lapangan UPTK I pelabuhan Tanjung Priok, dengan menggunakan dokumen BC 2.3 milik PT. DA, yang merupakan perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat berupa, 176 pkg (12.290 kilogram) polyester 100 persen jersey (tenterinic), 346 pkg (13.267 kilogram) knitted fabric, dan 215 pkg (15.657 kilogram) spanTEKSTIL ILEGAL. Sebanyak tiga kontainer tekstil ilegal asal Korea berhasil ditegah petugas Bea dan Cukai dex knitted fabric. Kanwil DJBC Jakarta. Atas dokumen tersebut, petutempat lain di bawah pengawasan pabean tanpa persetujuan gas langsung melakukan penyelidikan, dan terbukti barang-bapejabat bea cukai yang mengakibatkan tidak terpenuhinya rang tersebut ternyata bukan milik PT. DA melainkan milik pungutan negara. perorangan atau perusahaan yang tidak memiliki fasilitas kawasDengan tegahan ini, maka petugas menahan tersangka an berikat. Dengan pelanggaran tersebut, petugas melakukan peID dan kawan-kawan, untuk proses penyidikan lebih lanjut, ngembangan penyelidikan, dan kedapatan barang-barang ilegal karena tersangka telah melanggar ketentuan Undangsebanyak tiga kontainer asal Korea tersebut, diperkirakan memiliUndang nomor 17 tahun 2007 tentang Kepabeanan, tepatnya ki nilai sebesar tiga kali USD. 246.784,35 dengan perkiraan tarif pada pasal 103 huruf a dan c. Sedangkan kerugian negara sebesar 27 persen (bea masuk dan pajak dalam rangka impor). diperkirakan mencapai Rp. 1,6 milyar. Menurut Kepala Kantor Wilayah DJBC Jakarta, Nasir Adenan, dengan modus ini, tersangka berusaha mengeluarkan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya dari KPPBC SOEKARNO-HATTA TEGAH HP DAN MOBIL MEWAH kawasan pabean atau dari tempat penimbunan berikat atau dari Sementara itu pada priode 15 Juni 2007 hingga 20 Agustus 2007, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai WBC/ATS (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta, telah berhasil menegah sebanyak delapan kasus upaya penyelundupan beberapa komoditi, diantaranya telepon selular (HP) Blackberry, O2, dan Nokia dengan jumlah kurang lebih 700 pcs, dan nilai barang sebesar kurang lebih Rp. 1,2 milyar, yang tidak dilengkapi dengan perijinan dan tidak diberitahukan dengan benar melalui terminal kedatangan internasional bandara Soekarno-Hatta dan Kantor Pos tukar udara Soekarno-Hatta. Komoditi lain yang juga berhasil ditegah oleh KPPBC Soekarno-Hatta pada periode tersebut, adalah delapan unit mobil bekas yang masuk tanpa memiliki perijinan dari Departemen perdagangan. Mobil-mobil mewah yang ditegah dari gudang milik PT. RPG, antara lain Mercedes Benz E240, Mercedes Benz E200 kompresor, Toyota Camry 2.0, Toyota Vios, Honda Civic 2.0, BMW 318I, Toyota Altis, dan Toyota Unser. Hingga kini baik telepon selular maupun mobil mewah, masih berada gudang milik KPPBC Soekarno-Hatta untuk proses lebih lanjut, hingga menunggu keputusan Menteri Keuangan untuk pemusnahan maupun peruntukan lainnya MOBIL MEWAH. Sebanyak delapan mobil mewah yang berhasil ditegah sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan. adi petugas KPPBC Soekarno-Hatta, menunggu proses lebih lanjut.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

WBC/ATS

35

PENGAWASAN
WBC/ATS

KAPAL CREW BOAT . Kapal Crew Boat yang berhasil disita dan ditegah petugas.

KPU Tanjung Priok Sita dan Tegah Kapal Crew Boat Berbendera Asing

B

Modus operandi memalsukan dokumen impor sementara.

erkat kerjasama dan koordinasi dengan Dit. Pol Air POLRI, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, berhasil menyita 7 (tujuh) kapal Crew Boat berbendera asing dan menegah satu Kapal Crew Boat berbendera asing. Dalam modus operandi penegahan kapal tersebut, diketahui bahwa importasi kapal-kapal Crew Boat dilakukan oleh PT. E dengan menggunakan dokumen impor sementara yang palsu atau dipalsukan dengan mengatasnamakan PT. NSS (sebuah perusahaan pelayaran dalam negeri yang memiliki hak melakukan impor sementara kapal-kapal). Selain itu, PT. E sebagai sebuah perusahaan jasa pengangkutan karyawan pengeboran lepas pantai (yang melakukan importasi-red) juga melakukan penyalahgunaan terhadap fasilitas impor sementara atas pengoperasian kapal-kapal Crew Boat karena perusahaan tersebut tidak memiliki ijin impor sementara. Untuk sementara, telah ditetapkan seorang tersangka dengan inisial “F” yang beralamat di Jakarta. Akibat importasi dengan menyerahkan dokumen impor sementara yang palsu atau dipalsukan tersebut maka potensi kerugian negara senilai kurang lebih Rp. 5.519.256.564. Selain itu juga terdapat kerugian immaterial yaitu merugikan perkembangan industri pelayaran nasional, serta terjadi perWARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

saingan yang tidak sehat antara operator pelayanan dalam negeri dan kapal berbendera asing. Dalam proses penangkapan atas 8 (delapan) kapal tersebut yang dilakukan di perairan laut Jawa, telah ditugaskan Kapal Patroli Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Priok BC 8004 untuk melakukan pengejaran dengan Surat Perintah Berlayar No. Print 01/TOPP/KPU.PRIOK/BD.08/ 2007 tanggal 9 Agustus 2007. Berdasarkan informasi awal yang diterima, petugas KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok melakukan penelitian dan pengumpulan bahan keterangan untuk mendapatkan bukti permulaan. Setelah mendapatkan bukti permulaan yang cukup, dilakukan proses penyidikan oleh PPNS KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok dengan Surat Perintah Tugas Penyidikan Nomor. STP-01/KPU.PRIOK/BD.09/2007 tanggal 1 Agustus 2007. Dalam proses penyidikan telah dilakukan tindakan hukum dengan menyita 7 (tujuh) kapal Crew Boat berbendera asing yakni Kapal dengan inisial EX. 2 (bobot mati 31,96 ton, tahun pembuatan 2004), EX. 3 (bobot mati 47,70 ton, tahun 2004), EX. 8, EX. 12, EX. 14, EX. 15, EX. 16 (kelimanya buatan tahun 1991 dengan bobot mati masing-masing 84 ton). Seluruh kapal berasal dari Singapura. Aparat juga melakukan tindakan hukum dengan menegah satu kapal Crew Boat berbendera asing dengan inisial EX. 9 dengan bobot mati 95 ton, tahun 1989 asal Singapura. Saat ini, penegahan terhadap kapal tersebut masih dalam proses penelitian dan pengumpulan bahan keterangan untuk dapat mengungkap kasus tersebut menjadi lebih jelas dan memperoleh bukti atau keterangan yang cukup untuk proses hukum lebih lanjut. Karena telah terjadi tindak pidana kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 103 huruf (a) jo. Pasal 103 huruf (c) UU No. 10/1995 tentang Kepabeanan yang telah diubah dengan UU No. 17/2006, terhadap pelaku dapat dikenakan sanksi maksimal penjara 10 tahun dan denda maksimal Rp. 5 milyar. ifa

36

SELAK

Pacitan
Kuatnya Hati, Meski Berlikunya Jalan

Kota Pacitan memang sangat kecil, mungkin hanya sekitar 10 menit kita berkeliling dalam kota, kita sudah hapal dengan rute jalan kita

M

ungkin Anda mendengar “kata” Pacitan belum lama ini. Mungkin pula Anda belum bisa menentukan dan membayangkan di mana dan bagaimana letak dan kondisi kota Pacitan itu. Memang, semenjak putraputra daerah asli Pacitan mulai berkecimpung dan mendapat kesempatan untuk memegang amanah negara pada beberapa bidang kementerian negara, terlebih dengan terpilihnya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merupakan salah satu putra daerah Pacitan sebagai Presiden RI, secara tidak langsung memberikan nilai lebih kepada kota kecil yang bernama “Pacitan” ini. Salah satunya mungkin kota ini menjadi perbincangan hangat segenap lapisan rakyat, yang mungkin lebih banyak gurauan canda yang memandang Pacitan sebagai salah satu kota kecil, terisolir, susah mendapatkan air bersih dan akses untuk mencapai lokasinya sangat susah. Ya, begitulah sebuah gambaran umum apa yang dinamakan dengan “Pacitan” itu. Perjalanan penulis ke kota Pacitan, mungkin sudah tidak bisa terhitung dengan jari, karena penulis adalah wong asli Pacitan (orang asli Pacitan). Keinginan berbagi dan menjalin silaturahmi
DOK. PENULIS

menjadi pendorong penulis untuk sedikit belajar mencurahkan “Pacitan” kepada pembaca. Kabupaten Pacitan yang terletak di Pantai Selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan pintu gerbang bagian barat dari Jawa Timur dengan kondisi fisik pegunungan kapur selatan yang membujur dari Gunung Kidul ke Kabupaten Trenggalek menghadap ke Samudera Indonesia. Adapun wilayah administrasinya terdiri dari 12 Kecamatan, 5 kelurahan dan 159 desa, dengan letak geografis berada antara 110º 55’ - 111º 25’ Bujur Timur dan 7º 55’ - 8º 17’ Lintang Selatan. Banyak orang yang mengenal kabupaten Pacitan adalah kota yang tandus, kering, terpencil, dan tertinggal. Perjalanan darat menuju kota Pacitan adalah salah satu pengalaman yang tak terlupakan, terlebih bagi Anda yang baru pertama kali kesana. Jalan panjang dan berliku-liku merupakan menu perjalanan anda. Untuk mencapai kota Pacitan dengan menempuh perjalanan darat dari arah kota Ponorogo maupun kota Solo, mungkin kita akan menikmati kurang lebih 300 kelokan jalan. Dan inilah yang menjadi simbol kekuatan dan semangat putra daerah Pacitan dalam lamunan dan moto perantauannya, “
DOK. PENULIS

POS PACITAN. Penulis di depan gedung Pos DJBC Pacitan.

SUDUT KOTA. Pemandangan salah satu sudut kota Pacitan dari atas jembatan Arjowinangun (jembatan yang membelah anak sungai Bengawan Solo). EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

37

SELAK
DOK. PENULIS

DERMAGA. Dermaga batu pada Pantai Teleng Ria

...metu soko Pacitan wis susah lan mbutuhne perjuangan, makane susah ning rantauan wis biasa...” (keluar dari kota Pacitan itu sudah susah, makanya keadaan susah diperantauan itu sudah biasa). Sadar dengan keadaan tersebut, mungkin menjadi semangat dan pemicu putra-putra daerah Pacitan untuk lebih giat, bekerja keras, ulet dan berihktiar untuk mendapatkan apa yang dicitakan dan memberikan andil terbaik bagi kota kelahiran dan nusa bangsa. Daerah yang memiliki luas 1.119,44 kilometer persegi dengan penduduk tak lebih dari satu juta jiwa ini sebenarnya memiliki potensi alam yang menarik. Selain memiliki pantai yang indah, Pacitan juga memiliki goa paling menarik di Asia Tenggara. Berbagai macam objek wisata yang masih alami, indah dan memukau dapat diketemukan di Pacitan.

PERJALANAN KE PACITAN
Perjalanan menuju kota Pacitan akan semakin cepat bila kita menggunakan sarana angkutan udara. Namun, pesawat tentu saja tidak bisa landing di Pacitan loh...namun dapat landing di bandara kota terdekat yaitu di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta ataupun Lanud Adi Soemarmo Solo. Dari perjalanan udara, perjalanan kita lanjutkan melalui darat dengan mobil travel atau taksi. Saat ini ada 3 perusahaan travel yang melayani rute Pacitan-Yogja PP dengan jam keberangkatan yang bervariasi. Biaya menggunakan travel jauh lebih murah dibandingkan menggunakan taksi, yaitu hanya sekitar Rp 50.000 sedangkan bila menggunakan taksi dari bandara Yogyakarta bisa mencapai Rp 380.000.
DOK. PENULIS

Perjalanan darat yang akan kita tempuh antara Yogyakarta – Pacitan memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Memang, jalur darat Yogyakarta – Pacitan ini terasa lebih pendek daripada jalur darat Solo – Pacitan, karena melalui Kabupaten Wonosari yang merupakan jalan tembus ke Pacitan. Namun, tantangan dan nyali kita makin teruji dijalan “tembusan” ini. Sekitar 2 jam perjalanan yang berliku-liku, akhirnya terlihat juga gapura bertuliskan “Selamat Datang Di Kota Pacitan”. Lega dan syukur tampaknya tidak berlangsung lama, karena jalan menuju kota masih berkelok-kelok. Dalam perjalanan menuju kota, kita melewati beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Pacitan. Yang pertama adalah Kecamatan Donorojo, sebuah kecamatan yang memilki berbagai obyek wisata menarik. Diantaranya adalah Pantai Klayar, yaitu sebuah pantai berpasir putih yang memiliki suatu keistimewaan yaitu adanya seruling laut yang sesekali bersiul di antara celah batu karang dan semburan ombak. Di samping itu juga terdapat Air Mancur Alami yang sangat indah. Air mancur ini terjadi karena tekanan ombak air laut yang menerpa tebing karang berongga. Air muncrat yang dapat mencapai ketinggian 10 meter menghasilkan gerimis dan embun air laut yang diyakini masyarakat sekitar memiliki khasiat sebagai obat awet muda. Di kecamatan ini juga terdapat upacara ritual adat yang masih melekat tradisinya sampai sekarang, yaitu Upacara Ceprotan. Upacara ini sudah menjadi acara/event yang masuk kalender Pariwisata Jawa Timur, upacara ini merupakan kegiatan tradisi adat di desa Sekar secara turun temurun yang selalu dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dulkangidah (lngkang) hari jum’at atau senin. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenang Legenda rakyat Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Di kecamatan ini, juga terkenal dengan berbagai batuan mulia/aji yang sudah memasuki pangsa ekspor. Lepas dari perjalanan berkelok-kelok Kecamatan Donorojo, perjalanan kita memasuki Kecamatan Punung. Obyek wisata yang kita lewati selama perjalanan adalah berbagai goa yang sungguh memukau dan membuat kita tak hentinya mengucap kebesaranNya, diantaranya adalah Goa Gong. Goa dengan stalagtit dan stalagmit yang konon terindah se-Asia Tenggara. Goa yang mempunyai kedalaman kurang lebih 256 meter itu mempunyai 5 sendang yaitu Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Ralung Nisto yang konon memiliki nilai magis untuk menyembuhkan penyakit. Keindahan stalagtit dan stalagmit-nya sangat memukau, yang diabadikan dengan nama Selo Cengger Bumi, Selo Gerbang Giri, Selo Citro Cipto Agung, Selo Pakuan Bomo, Selo Adi Citro Buwono, Selo Bantaran Angin dan Selo Susuh Angin. Tidak jauh dari lokasi Goa Gong, terdapat Goa Tabuhan. Dinamakan Goa Tabuhan karena stalagtit dan stalagmit-nya dapat ditabuh/dipukul dan mengeluarkan berbagai bunyi gamelan (pesinden atau waranggono). Dengan keunikannya tersebut, goa ini telah dikenal luas, hingga saat ini pun juga masih banyak dinikmati wisatawan maupun seniman untuk ajang pentas seni.
DOK. PENULIS

KARANG BOLONG. Salah satu batuan yang ada di Pantai Srau dilihat dari atas bukit.

PANTAI KLAYAR

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

DOK. PENULIS

Satu lagi kecamatan yang mesti kita lewati sebelum menghirup udara kota Pacitan, yaitu Kecamatan Pringkuku. Selama perjalanan kita melewati obyek wisata Pantai Srau. Pantai pasir putih ini juga sungguh memukau hati. Batuan karang yang besarbesar banyak ditemui di pantai ini. Ada batuan besar yang terbelah seperti lobang masuk gua, dan ketika air laut datang sungguh memberikan panorama yang indah sekali (disebut Karang Bolong). Tempat favorit orang yang gemar atau hobi memancing adalah di pantai ini. Akhirnya perjalanan kita memasuki kota Pacitan. Dalam perjalan menuju kota, bila kita menggunakan armada travel maka akan melewati jalur desa Sedeng, jalan tembus terdekat dengan kota, yang hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Namun, bila kita menggunakan armada bus umum dari arah Kota Solo (karena belum ada trayek bis umum dari Yogja-Pacitan), dalam perjalanan dari kecamatan Pringkuku ke kota, kita akan melewati perjalanan dengan rute melewati jalan diperbukitan di atas pantai kota Pacitan, Pantai Teleng Ria. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 1 jam, jalannya pun berkelok-kelok karena berada diatas bukit. Pantai Teleng Ria terletak menghadap ke Pantai Selatan dengan hamparan Pasir Putih sepanjang kurang lebih 3 Km. Jarak dari kota ke lokasi wisata hanya 3,5 km, dan dapat dengan mudah dicapai dengan berbagai jenis kendaraan. Berbagai sarana yang telah dibangun antara lain adanya dermaga, Gardu Pandangan untuk menikmati desiran ombak laut selatan, Gardu Baywatch, Kolam Renang dan Arena Bermain Anak-anak, arena permainan jetsky, Penginapan Bungalow Beach Pacitan, Penginapan Serba Guna Bonggo Budoyo dan Areal Perkemahan, arena pemancingan, dan areal kios makanan dan cinderamata khas Pacitan, selain itu pantai ini digunakan juga untuk Tempat Pendaratan dan Pelelangan Ikan sehingga pengunjung dapat membeli ikan segar. Banyak ikan dan kekayaan dalam laut lain yang mungkin tidak ditemukan ditempat lain terdapat di Pacitan. Tempat makan ataupun restoran di sekitar pantai, baik yang terletak di bawah maupun di atas perbukitan atau jalan bukit di atas pantai menghidangkan menu ikan-ikan khas hasil tangkapan para nelayan kota Pacitan, salah satunya adalah ikan hiu putih atau dikenal dengan iwak kalakan, yang dihidangkan dalam sayur santan pedas bersama sego tiwul (nasi yang berasal dari singkong yang dikeringkan dengan cara dijemur/gaplek) dan ditambah dengan lalapan lengkap dengan sambal bawang cabe mentahnya.

GOA GONG. Terkenal dengan stalagtit dan stalagmit yang konon terindah se-Asia Tenggara

KOTA PACITAN
Tak lama, perjalanan kita sudah memasuki wilayah kota. Dari jalan desa Sedeng dapat kita lihat pemandangan kota Pacitan dari atas, terlihat pula teluk Pacitan yang fantastis (Pantai Teleng Ria). Memasuki jalan kota, tak lupa syukur pun terucap. Perjalanan panjang penuh harapan akhirnya tercapai juga dengan izinNya. Kota Pacitan memang sangat kecil, mungkin hanya sekitar 10 menit kita berkeliling dalam kota, kita sudah hapal dengan rute jalan kita. Memang, sangat damai dan tenang keadaan kotanya. Selama perjalanan di jalanan kota, seperti kota-kota lain ditanah air, kita akan menemukan alu-alun kota, pendopo kabupaten, masjid agung, dan sarana pendukung publik yang lain. Bila malam tiba, alun-alun Pacitan diramaikan dengan pasar malam dadakan yang cukup memberikan hiburan bagi masyarakat. Rasa kangen dan keinginan menghirup udara segar kota tercinta membawa penulis berkeliling kota. Setelah berkeliling di jalan utama kota, penulis melewati RSUD Pacitan, kemudian memutar jalan di belakang jalan RSUD Pacitan, disana penulis menemukan sebuah bangunan rumah sederhana yang cukup terawat. Sekilas mata memandang, bangunan tersebut memang seperti layaknya rumah hunian. Namun, kalau lebih jeli ternyata ada papan nama cukup besar menempel ditembok bangunan rumah tersebut. Ya, bangunan tersebut adalah Pos Pacitan Kantor Inspeksi Type C.3 Madiun Kanwil VII Surabaya, begitu tulisan dalam papan nama tersebut. Bangga dan ingin tahu penulis semakin besar melihat pos tersebut. Dari hasil silaturahmi penulis, kantor pos tersebut memang berada dibawah pengawasan KPBC Madiun, dan sekarang dihuni oleh sebuah keluarga yang merawat keberadaaan kantor pos tersebut. Saat ini, di Pacitan telah berproduksi pabrik rokok Sam-

poerna (lewat Mitra Produksi Sampoerna), jadi kemungkinan besar Pos Pacitan tersebut sudah semakin aktif fungsinya, dan menjadi tempat koordinasi para pegawai dalam melaksanakan tugas. Memang ini hanyalah sebuah wacana dan sekelumit curahan perjalanan yang mungkin tidak ada kesan dan telah banyak terjadi dan dialami orang rekan-rekan kita di daerah. Mungkin dalam kondisi yang sama, ataupun lebih kurang beruntung. Tapi inilah kenyataan yang ada di depan mata kita. Tertutupnya mata bukan berarti akan sirna dan selesai apa yang ada di depan mata kita tadi. Jadi, kenyataan memang harus dihadapi, bukan dihindari. Suatu perjalanan yang jauh, berliku, dan menantang adalah cermin kehidupan kita yang sesungguhnya dalam mencapai asa dan cita. Perjalanan kita dalam melaksanakan tugas yang kita emban bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Hambatan dan tantangan seolah seperti jalan berliku yang kita tempuh, namun dengan keteguhan dan kebersihan hati, semangat berubah yang terukur, keinginan maju yang kuat, dan panjatan doa yang tulus ikhlas, maka berlikunya jalan akan selalu dapat kita lalui dengan senyum pengabdian yang tulus dan cita yang tercapai dengan sempurna dan terbaik. Jalan berliku bukan berarti kita harus berhenti dan mundur ataupun mencari jalan-jalan alternatif yang menentang kata hati kita, tapi harus kita lalui dengan ikhlas, penuh keyakinan, dan ikhtiar bahwa di depan sudah menyongsong asa dan cita pasti bagi kita. Jangan pernah menyerah rekan-rekan...tetaplah mencari jalan keluar yang benar, karena itulah jalan bagi seorang pemenang ! ...urip susah ora brarti pasrah, nanging mesti brubah, kerjo sing pener, ulet, ikhlas, lan doa sing jinabah... Wallahualam.

Tri HS (Pemeriksa pada Dit. IKC)
WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

39

Direktur dan Seluruh Staf

DIREKTORAT PENERIMAAN & PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI
Direktur dan Seluruh Staf

CUKAI
Direktur dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

FASILITAS KEPABEANAN
Direktur dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

AUDIT
Kepala dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI
Direktur dan Seluruh Staf

TEKNIS KEPABEANAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

JAWA TIMUR II
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

BALI, NTB dan NTT

KANWIL DJBC

Direktur Jenderal

Pimpinan dan Seluruh Staf

BEA DAN CUKAI
Sekretaris dan Seluruh Staf

GRESIK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

KEPULAUAN RIAU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

SEKRETARIAT
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
Dr. Fadel Muhammad
GUBERNUR GORONTALO

CIREBON
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

TANJUNG PRIOK
Pimpinan dan Seluruh Staf

PANGKALAN SARANA OPERASI

“Selamat Idul Fitri 1428 H”
Kepada : Pegawai KPPBC Tipe A4 Gorontalo dan Pegawai Bea dan Cukai pada umumnya
Direktur dan Seluruh Staf

Mengucapkan :

KOTABARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

SOEKARNO-HATTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A1

DIREKTORAT

PENINDAKAN & PENYIDIKAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

PASAR BARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

KANWIL DJBC

J A K A R TA

SANGATA

KPPBC TIPE B

Pimpinan dan Seluruh Staf

SUMATERA UTARA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

SURAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

BANDAR LAMPUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

PASURUAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

TANJUNG EMAS
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A1

KALIMANTAN BAGIAN TIMUR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

PONTIANAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

BONTANG

KPPBC TIPE A4

Pimpinan dan Seluruh Staf

Pimpinan dan Seluruh Staf

POMALAA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

KANTOR PELAYANAN UTAMA TIPE A

KENDARI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

TANJUNG PRIOK
Pimpinan dan Seluruh Staf

PANGKALAN BUN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

KPPBC TIPE A2

JUANDA
Pimpinan dan Seluruh Staf

PANARUKAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

KANWIL DJBC

BANTEN
Pimpinan dan Seluruh Staf

BANJARMASIN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

KPPBC TIPE B

TAR E M PA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KUPANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

KPPBC TIPE A2

B E K A S I
Pimpinan dan Seluruh Staf

BOGOR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

KPPBC TIPE A3

PEK ANBARU

MADIUN

KPPBC TIPE B

Pimpinan dan Seluruh Staf

Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

JAWA TIMUR I
Pimpinan dan Seluruh Staf

NANGROE ACEH DARUSSALAM
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

KPPBC TIPE A1

BELAWAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

DUMAI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

KANTOR PELAYANAN UTAMA TIPE B

B A T A M
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

MANOKWARI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

SORONG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

SULAWESI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

PROBOLINGGO
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

JAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

BPIB

KEDIRI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

JAWATENGAH & D.I. YOGYAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

TANJUNG BALAI KARIMUN

KPPBC TIPE A3

NUNUKAN

KPPBC TIPE A4

BITUNG

KPPBC TIPE A4

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

AMBON. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Wilayah DJBC Maluku, Papua dan Irian Jaya BaratAmbon pada 30 Juli 2007 dan disambut oleh Kepala Kanwil Nasar Salim. Tampak Dirjen mendengarkan penjelasan dari Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC) Ambon Munadi Radiani. Pada kunjungan tersebut seluruh staf pada Kanwil DJBC Maluku, Papua dan Irian Jaya BaratAmbon berfoto bersama dengan Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi. Gatot Hartono KBU Kanwil DJBC Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat
WBC/ATS

JAKARTA. Kantor Pusat DJBC pada 7 September 2007 menyelenggarakan lomba menembak dalam rangka ujicoba dua senjata baru yang dibuat oleh Pindad. Acara dibuka oleh Direktur P2, Heru Santoso dengan melakukan tembakan ke tempat sasaran tembak, disaksikan oleh pejabat eselon II yang hadir yakni Inspektur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Setyo, Kepala Kanwil DJBC Kepulauan Riau Jusuf Indarto dan para pejabat eselon III, IV, serta Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi yang turut menghadiri lomba tersebut. Tampak pada gambar kiri, para peserta lomba mendengarkan instruktur menjelaskan cara menggunakan senjata, dan gambar kanan, dirjen Anwar Suprijadi menyerahkan piala kepada juara I lomba menembak Kasubdit Penindakan Direktorat P2 Ucok Maressi.
WBC/ATS

JAKARTA. Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kamil Sjoeib pada 31 Agustus 2007 di ruang Auditorium gedung B melantik para pejabat eselon IV dilingkungan KP-DJBC. Pelantikan dihadiri pejabat eselon II diantaranya Direktur Cukai Frans Rupang, Direktur PPKC, Hanafi Usman, Direktur Fasilitas Kepabeanan, Kusdirman dan Direktur P2 Heru Santoso. Acara diawali dengan pembacaan naskah pelantikan, dilanjutkan dengan penandatanganan dan penyematan tanda jabatan.

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

45

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Ny. Anwar Suprijadi pada 18 Juli 2007 menyaksikan langsung acara serah terima lima Ketua Unsur Pelaksana Dharma Wanita Persatuan (UPDWP) dilingkungan KP-DJBC. Serah terima berlangsung dari Ketua UPDWP Penindakan dan Penyidikan Ny. Erlangga Mantik kepada Ny Heru Santoso, Ketua UPDWP Kepabeanan Internasional Ny. Kamil Sjoeib kepada Ny. Wahyu Purnomo, Ketua UPDWP Sekretariat Ny. Djunaedy Djusan kepada Ny. Kamil Sjoeib, Ketua UPDWP Fasilitas Kepabeanan Ny. Ibrahim A. Karim kepada Ny. Kusdirman dan Ketua UPDWP PPKC Ny. Wahyu Purnomo kepada Ny. Hanafi Usman. Serah terima dilakukan dengan penandatangan naskah serah terima jabatan (gambar kiri)Acara juga diisi dengan penyerahan cinderamata kepada Ny. Djunaedy Djusan dan para anggota yang akan menempati tugas baru (gambar kanan).
WBC/ATS

JAKARTA. Sekolah TK Bahtera Tresna yang berdiri sejak 22 Agustus 1965 telah selesai direnovasi pada 11 September 2007. Sebelum dilakukan renovasi TK sering dilakukan perbaikan-perbaikan tapi hanya tambal sulam. Pada 12 September 2007 diadakan acara peresmian renovasi, dihadiri oleh Ny. Anwar Suprijadi dan beberapa pengurus Dharma Wanita Persatuan KP-DJBC. Acara diawali dengan beberapa sambutan dan dilanjutkan penyerahan cindera mata kepada guru TK yang telah lama mengabdi dan mantan guru TK. Acara dilanjutkan dengan peresmian gedung dengan dilakukan pemotongan pita bunga melati oleh Ketua Dharmawanita Persatuan KP-DJBC Ny. Anwar Suprijadi didamping para pengurus yakni Ny. Frans Rupang, Ny. Erlangga Mantik, Ny. Heru Santoso, Ny. Kamil Sjoeib, Ny. Thomas Sugijata, Ny. Teguh Indrayana beberapa anggota pengurus. Usai peninjauan gedung, acara selanjutnya dilakukan pemotongan tumpeng dalam rangka HUT TK yang ke-42 tahun. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan tarian dari anak-anak TK.
WBC/ZAP FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Bertempat di Auditorium gedung B Kantor Pusat DJBC berlangsung acara pelantikan pejabat eselon III dilingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Jakarta. Pejabat eselon III yang dilantik pada 20 Agustus 2007 oleh Kepala Kanwil Jakarta Nasir Adenan diantaranya adalah Oyong Mardias, Adams Rudy Keembuan dan Septiatma. Pelantikan dihadiri oleh para pejabat eselon III dan IV di wilayah kerja Kanwil Jakarta.

JAKARTA. Bertempat di Mesjid Baitut Taubah gedung induk Kantor Pelayanan Utama Tipe A Tanjung Priok, Jakarta berlangsung acara pelantikan pengurus Dewan Kemakmuran Majid (DKM) pada 29 Agustus 2007. Acara juga diselingi dengan ceramah dari Ustadz Rizka Maulan Lc, Mag dari Asuransi Takaful dengan tema mesjid sebagai markas perubahan. Tampak para pengurus DKM Baituttaubah berfoto bersama dengan Kepala KPU Tipe A Tanjung Priok Agung Kuswandono. Ari Julianto, KPU Tanjung Priok

46

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

FOTO : KIRIMAN

SABANG. Pegawai KPPBC Sabang mengikuti kursus menyelam di Sabang Aceh pada Juni 2007 yang lalu dimana kursus yang diikuti adalah kursus advance diver dan kursus open water diver. Pelatihan dilakukan di Lumba-lumba diving centre Sabang selama satu minggu dengan lokasi penyelaman di berbagai tempat yaitu pantai gapang, dibawah kilometer O, Arus Baleu dan Tokong Pulau Rubiah. Pelatih (instruktur) terdiri dari 2 orang asing yaitu Maria (Denmark) dan Jeremy (USA). Selama latihan peserta dikenalkan dengan ”keindahan bawah laut Sabang” dimulai dengan teori dan praktek penyelaman dari kedalaman 9 meter sampai 30 meter. Sungguh eksotis dan indah bawah laut Sabang, pulau paling ujung barat Indonesia, tidak kalah dengan Bunaken Manado maupun Gili Terawangan di Pulau Lombok. Tampak tim selam pada gambar, febra, dody, hendra dan izan sedang berfoto usai melakukan sesi praktek penyelaman dengan membawa bendera bea cukai dengan lambang tempat penyelaman di Gapang dan Pulau Rubiah. Kiriman KPPBC Sabang BANDUNG. Dalam rangka perpisahan Kepala Seksi Pabean I KPPBC Bandung, Sukarno yang memasuki masa purna tugas pada 1 September 2007, Customs Cycling Club mengadakan acara sepeda bersama dengan rute Ciwidey hingga Situ Patenggang dengan jarak 20 kilometer. Acara sepeda bersama yang berlangsung pada 26 Agustus 2007 ini, diikuti kurang lebih 50 peserta dari Kantor Pusat, Kanwil Jawa Barat, KPPBC SoekarnoHatta, KPPBC Bandung, KPU Tanjung Priok, KPPBC Surabaya, KPPBC Denpasar, dan Kanwil Makassar. Acara yang diawali dengan sepeda bersama ini, diakhiri dengan pemberian selamat memasuki masa purna tugas kepada Sukarno dengan diiringi lagu perpisahan.
WBC/ADI

BELAWAN. Kepala Kantor Wilayah Sumatera Utara, Heryanto Budi Santoso, pada 7 September 2007, melantik sekaligus mengukuhkan 130 pejabat eselon IV dilingkungan Kantor Wilayah Sumatera Utara. Pelantikan yang berlangsung di aula Kanwil Sumatera Utara, dihadiri oleh seluruh pejabat eselon III dan IV Kanwil Sumatera Utara, dan bertindak selaku saksi pejabat adalah Kepala KPPBC Belawan dan Kepala KPPBC Medan. Dalam kata sambutannya, Kakanwil mengatakan agar seluruh pejabat mau bekerja lebih baik lagi sehingga selain target bea masuk dan cukai dapat tercapai, performa kinerja juga diharapkan meningkat lebih baik.

WBC/ADI

BANDUNG. Dalam rangka memperingati HUT RI ke-62, Kantor Wilayah Jawa Barat mengadakan berbagai macam pertandingan olah raga yang diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan Kanwil Jawa Barat dan KPPBC Bandung. Adapun perlombaan yang dipertandingkan adalah, volly, gerak jalan, tenis lapangan, dan sepak bola. Tampak pada gambar Kepala Bagian Umum Kanwil Jawa Barat, Nurkiswar Edi mewakili Kakanwil Jawa Barat, saat menyerahkan hadiah berupa domba kepada pemenang lomba di halaman olah raga gedung keuangan Bandung. Kiriman Kanwil DJBC Bandung

FOTO : KIRIMAN

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

47

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

BANDA ACEH. Pada 10 Agustus 2007 Tim Bapor KPPBC Lhokseumawe mengikuti pertandingan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-62 yang diselenggarakan oleh Kanwil DJBC NAD di Banda Aceh. Dalam pertandingan tersebut KPPBC Lhokseumawe menjadi juara umum dan membawa pulang piala bergilir Kakanwil NAD. Tampak pada gambar Tim sepak bola KPPBC Lhokseumawe. Kiriman KPPBC Lhokseumawe
FOTO : KIRIMAN

TANJUNG BALAI KARIMUN. Kepala Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riau Jusuf Indarto foto bersama dengan para pemenang lomba futsal (juara pertama diraih oleh PSO Tipe A TBK) dan tenis meja (juara pertama diraih KPPBC TBK) yang diadakan di Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepri pada 16 Agustus 2007 dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-62. Kiriman Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riau
WBC/ATS

TASIKMALAYA. Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kamil Sjoeib selaku Tim Penilai Kantor Percontohan dilingkungan Departemen Keuangan pada 23 Agustus 2007, berkunjung ke KPPBC Tipe B Tasikmalaya. Dalam kunjungan tersebut Sekretaris memberikan pengarahan tentang tugas-tugas yang berkaitan dengan kedinasan kepada para pegawai KPPBC Tipe B Tasikmalaya dan diakhiri dengan foto bersama seperti tampak pada gambar, Sekretaris DJBC Kamil Sjoeib berdiri nomor 4 dari kiri didampingi Kepala KPPBC tipe B Tholibin (nomor lima dari kiri). Kiriman KPPBC Tipe B Tasikmalaya.

BANTEN. Lima pejabat eselon III pada 22 Agustus 2007 dilantik dan diambil sumpah jabatan untukmenjabat dilingkungan Kanwil DJBC Banten. Acara pelantikan dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil DJBC Banten Iswan Ramdana, dihadiri oleh pejabat eselon III dan IV. Pejabat yang dilantik yakni Eddy Kusuma menjabat sebagai Kepala Bagian Umum, Wellington menjabat sebagai Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan, Alamsyah menjabat sebagai Kepala Bidang P2, Weko Loekitardjo menjabat sebagai Kepala Bidang Audit dan B.M. Ganot Wibowo menjabat sebagai Kepala KPPBC Tipe A2 Tanggerang.
WBC/ATS

JAKARTA. Maman Anurahman mewakili Ketua Bapors DJBC pada 9 September 2007 mengangkat bendera start pada acara Customs Funbike dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional. Customs Funbike ini diikuti kurang lebih 150 peserta dari Kantor Pusat DJBC, KWBC Jakarta, KWBC Banten, KWBC Bandung, KWBC Semarang dan dibuka oleh Direktur Kepabeanan Internasional Wahyu Purnomo. Adapun rute yang ditempuh kurang lebih 20 Km. Start dimulai dari KP-DJBC melintasi Utan Kayu – Matraman – Diponegoro – Putaran Hotel Indonesia – Monas – Taman Ismail Marzuki (TIM) – Pramuka – Pemuda dan finish kembali di KP-DJBC).

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

WBC/IFA

JAKARTA. Anjing Pelacak Narkotika (APN) DJBC Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan handler baru berikut anjing pelacaknya sejak Juni – Desember 2007. Pelatihan tersebut dibagi menjadi 2 angkatan, yakni angkatan XI dan XII. Tampak pada gambar para handler dan anjing pelacaknya sedang berpose di sela-sela pelatihan.

FOTO : BAMBANG W

WBC/ATS

AMBON. Pelantikan dan Pengukuhan Pejabat eselon IV di lingkungan Kanwil Maluku, Papua, dan Irian Barat dilakukan oleh Kakanwil DJBC Maluku, Papua dan Irian Barat Nazar Salim pada 11 April 2007 di gedung Keuangan Negara. Pelantian dihadirii pula pejabat eselon III dan para pegawai. Bambang Wicaksono, KPPBC Ambon

BANTEN. Pada 5 September 2007 bertempat di Auditorium gedung B KPDJBC diselenggarakan acara pelantikan dan serah terima jabatan pejabat eselon IV sebanyak 26 orang di lingkungan KWBC Banten. Acara diawali dengan pembacaan naskah sumpah dan dilanjutkan dengan penandatanganan naskah jabatan disaksikan para saksi. Usai penyematan tanda jabatan dan sambutan Kepala Kanwil DJBC Banten dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat kepada para pejabat yng dilantik. Tampak pada gambar, Kepala Kanwil DJBC Banten menandatangani naskah jabatan.
FOTO : KIRIMAN

MEDAN. Masjid Baitut Tahmid KPPBC tipe A3 Medan diresmikan oleh Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara, Heryanto Budi santoso pada 31 Agustus 2007. Renovasi masjid yang dibangun dibelakang KPPBC Medan imidilakukan karena masjid lama sudah tidak mampu menampung jemaah sholat jumat. Letak masjid yang strategis dan teduh membuat masjid ini selalu ramai terutama pada sholat jumat. Acara diisi dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti serta dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada Mugi Santoso selaku Ketua Panitia renovasi Masjid didampingi Kepala KPPBC Medan Supraptono (paling kiri) dan Prof. Amiruddin, MS (tengah) sebagai penceramah. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dan diakhiri dengan sholat Jumat bersama. Kiriman Bambang Prayoga H, KPPBC Tipe A3 Medan

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

49

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : MUQSITH H. FOTO : KIRIMAN

BALIKPAPAN. Pada 9 Agustus 2007 bertempat di Aula Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dilangsungkan upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan pejabat eselon III di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur. Acara dipimpin langsung oleh Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono dengan disaksikan para pejabat eselon III dan rohaniawan. Tampak dalam gambar, penandatanganan Naskah Pelantikan oleh Kepala KPPBC Tipe A3 Balikpapan, Taryono Ekso Wardoyo disaksikan Ka. Kanwil, Ismartono serta Ka Kanwil melantik pejabat eselon III yang diwakilkan oleh Kepala KPPBC Tipe A4 Tarakan, Heru Hariadi. MuQsith Hamidi, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur

JAYAPURA. Pada hari Kamis tanggal 13 September 2007 (hari pertama Bulan Ramadhan 1428 H), Kepala KPPBC Tipe A4 Jayapura beserta segenap jajarannya mengundang anak-anak yatim piatu yang di asuh oleh Pondok Pesantren Raudhatul Jannah, Sentani, Jayapura untuk mengikuti acara buka puasa bersama yang juga diisi dengan siraman rohani dari pimpinan pondok pesantren. Acara yang diselenggarakan di aula KPPBC Tipe A4 Jayapura ini adalah sebagai bentuk kepedulian sosial Bea dan Cukai kepada anak-anak yatim piatu. Tampak dalam gambar, Kepala Kantor KPPBC Tipe A4 Jayapura, Drs. Totok Purwanto (baju batik) didampingi oleh Kasi Kepabeanan dan Cukai, Puthut Sukoco, Kasi Perbendaharaan, Ferry Surfiyanto, Pimpinan Ponpes - H. Sukri (baju koko), dan Kasi P2, Wawan Hermawan. Kiriman KPPBC Tipe A4 Jayapura
FOTO : KIRIMAN

SURABAYA. Dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan tahun 1428 H Seksi Keputrian Masjid Baitut Taqwa Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I mengadakan kegiatan Ziarah Wali Limo yaitu Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Sunan Derajad di Lamongan dan Sunan Bonang di Tuban. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat juang peserta agar dapat mengikuti jejak perjuangan para Wali dalam mengembangkan ajaran Agama Islam serta memberikan pemahaman tentang adab Ziarah yang benar sesuai dengan ajaran Islam dijauhkan dari hal-hal syirik karena selama perjalanan peserta diberi tausiyah tentang sejarah Wali Limo dan adab ziarah Tampak pada gambar, para penziarah foto bersama didepan masjid Alun-Alun Tuban. Kiriman Kanwil DJBC Jawa Timur I

FOTO : MUQSITH H.

BALIKPAPAN. Bertempat di Aula Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur pada 06 September 2007 dilangsungkan upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat eselon IV yang akan bertugas dilingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur. Acara dipimpin langsung oleh Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono dengan disaksikan para pejabat eselon III dan rohaniawan. Tampak dalam gambar, Ka Kanwil tengah melantik dan mengambil sumpah para pejabat eselon IV. MuQsith Hamidi, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

KEPABEANAN

Untuk Mendukung Profesionalisme PPJK
Registrasi terhadap Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) yang sejak 12 Juli 2007 dilakukan, ternyata masih menimbulkan pertanyaan dari kalangan pengusaha, mengingat dari 4000-an PPJK yang ada di Indonesia, tercatat baru 67 PPJK yang sukses melakukan registrasi yang dilakukan melalui website Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Registrasi PPJK
WBC/ZAP

K

esulitan melakukan registrasi yang pada PPJK lanjut Mulyo mengingat PPJK medilakukan PPJK tersebut disampaimiliki tingkat resiko yang rendah. kan oleh para PPJK kepada analis “Pada acara ini kami mengundang perusatim registrasi PPJK dari Kantor haan asuransi dan juga Bank Syariah Mandiri Pusat Direktorat Jenderal Bea dan guna mempresentasikan program penjaminan Cukai (KP-DJBC) Chotibul Umam pada acara PPJK, namun pilihan untuk memilih asuransi temu wicara anggota Asosiasi Pengusaha kami kembalikan kepada anggota kami, “teJasa Kepabeanan Indonesia (Asakindo) di rang Mulyo. Jakarta, 11 September 2007. Acara temu wicara yang menghadirkan Dari temu wicara tersebut diketahui kesuSekertaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai litan yang dihadapi seperti ditolaknya proses Kamil Sjoeib, sebagai pembicara mewakili registrasi, karena kurang lengkapnya dokuDirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Menurut men yang diminta untuk melakukan registrasi. Kamil keberadaan PPJK dalam proses kepaKelengkapan dokumen tersebut seperti beanan baik di Indonesia maupun di belahan seperti surat ijin usaha, pembukuan sederhadunia manapun memiliki peran yang cukup na dan lain sebagainya. Selain itu pengusaha besar guna memperlancar urusan juga menanyakan mengenai kriteria pembukepabeanan yang dilakukan oleh importir. kuan sederhana yang diminta dalam proses Dengan adanya registrasi tersebut lanjut registrasi. Kamil, diharapkan nantinya PPJK dapat Pertanyaan yang disampaikan pengusaha menjalankan tugasnya dengan professional. dalam sesi tanya jawab tersebut dijawab lang”Dengan adanya registrasi tersebut maka sung oleh tim. Menurut Chotibul Umam, MULYO RAHARJO. Mendukung terbitnya PMK PPJK yang tidak professional akan tersingkir kelengkapan dokumen merupakan hal yang sehingga yang ada nantinya hanya PPJK yang 65 guna mencapai profesionalisme PPJK harus dipenuhi oleh pengusaha agar setelah professional dan teregistrasi sesuai dengan dilakukan registrasi dapat diproses lebih cepat untuk selanjutnya apa yang diamanatkan pada PMK.65,”terang Kamil. dilakukan pemeriksaan lapangan oleh petugas. Chotibul kembali Sebelum berlangsungnya temu wicara tersebut, para pemenjelaskan, terkadang memang ditemui ada sebagian pengusangurus Asakindo melakukan pertemuan informal dengan Dirha telah melengkapi dokumen dan telah memenuhi segala perjen Bea dan Cukai pada 20 Agustus 2007 sehubungan desyaratan yang diminta namun proses registrasinya ditolak. Untuk ngan terbitnya PMK Nomor 65, sekaligus menyampaikan unhal tersebut Chotibul menyarankan agar pengusaha dapat mengdangan untuk hadir dalam acara temu wicara tersebut. zap hubungi posko registrasi PPJK yang berada di WBC/ZAP KP-DJBC untuk dapat ditelusuri kesulitan tersebut. Sementara itu salah satu pengusaha PPJK yang dihubungi WBC disela-sela acara tersebut mengatakan, pihaknya tidak merasa registrasi tersebut merupakan hal yang menyulitkan, namun perlu dipikirkan pula bagaimana dengan nasib PPJK di daerah yang belum tersentuh dengan Teknologi Informasi (TI) yang mungkin saja mengalami kesulitan dengan registrasi. Ketua Umum Asakindo Mulyo Raharjo mengatakan, sebagai asosiasi PPJK yang mempunyai anggota sebanyak 90 PPJK, mendukung sepenuhnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 65 tentang PPJK terutama mengenai registrasi. Menurutnya registrasi merupakan tanggung jawab dalam hal mendukung kebijakan pemerintah dalam hal ini DJBC. Mengenai jaminan yang ditetapkan dalam PMK 65, Mulyo mengatakan, pihaknya telah menghubungi beberapa perusahaan asuransi dan Bank Syariah Mandiri agar mereka dapat memberikan batasan provisi serendah mungkin terkait dengan adanya jaminan tersebut. TEMU WICARA. Sebagai sarana bagi para PPJK untuk memperoleh kiat sukses registrasi dengan Keinginan agar pemberian provisi rendah ke- menampilkan pembicara dari tim registrasi PPJK.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

51

KEPABEANAN

Mulai Diterapkan

Jalur Kuning dan MITA

S

jalur MITA non prioritas ini berbeda dengan jalur merah, kuning dan hijau, dimana jalur MITA lebih jelasnya bisa dikatakan sebagai fasilitas yang diberikan DJBC kepada perusahaan, layaknya perusahaan yang menerima jalur prioritas. Dengan seleksi dan syarat yang telah ditentukan, antara lain perusahaan tersebut harus mendapatkan opini akuntan publik dengan wajar tanpa perkecualian, maka dari 500 perusahaan tersebut hanya tersaring sebanyak 187 perusahaan, sementara yang sisanya belum dapat mengikuti uji coba MITA non prioritas, etelah pada 13 Agustus 2007 tim percepatan reformasi karena mereka belum dapat memenuhi persyaratan yang telah kebijakan bidang pelayanan bea dan cukai, mengadaditentukan tersebut. Sedangkan untuk peserta MITA prioritas kan sosialisasi jalur MITA dan kuning kepada kurang hingga kini masih sebanyak 99 perusahaan yang mana perusalebih 500 perusahaan yang diharapkan dapat mengikuti haan tersebut adalah penerima fasilitas jalur prioritas. uji coba penerapan jalur MITA pada 1 September 2007, “Dengan 189 perusahaan itu kita melakukan uji coba, sekalinamun hingga waktu yang ditentukan uji coba belum dapat terlakgus penerapannya. Dan uji coba ini kita rencanakan selama tiga sanakan dengan baik dan peserta uji coba pun berkurang jumbulan, jadi kalau dari 189 itu ada yang melakukan pelanggaran lahnya setelah dilakukan seleksi dengan persyaratan yang ketat. seperti koreksi nilai pabeannya melebihi dua persen, maka secaDengan jumlah peserta uji coba tersebut, maka sesuai ra otomatis perusahaan tersebut akan dikeluarkan dari jalur MITA. dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor KepSementara itu setelah tiga bulan kedepan, ba91/BC/2007 tentang petunjuk perusahaan peWBC/ADI gi perusahaan yang berkeinginan masuk jalur serta uji coba MITA, didapati hanya 189 peruMITA prosedurnya ada di Kantor Pelayanan sahaan yang dapat mengikutinya, maka jalur Utama (KPU), yang pengajuannya juga ada di MITA non prioritas mulai diujicobakan sekaliKPU (P-21/BC/2007, sebagaimana telah diugus diterapkan pada 5 September 2007, dari bah menjadi P-25/BC/2007 tentang petunjuk rencana awal pada 1 September 2007. pelaksanaan tatalaksa kepabeanan dibidang Penundaan waktu sekitar lima hari tak lain kaimpor pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan rena sistem yang digunakan untuk penyesuaiCukai Tanjung Priok),” ungkap Lutfi. an Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang Pada hari pertama penerapan uji coba sebanyak 15 digit pada implementasinya bejalur MITA non prioritas, sebanyak 130 lum dapat diterapkan. pemberitahuan impor barang (PIB) dari 189 Menurut Ketua Sub Bidang Pengembangperusahaan sudah melakukan importasi an Mitra Utama, Lutfi Hartono, rencana awal dengan lancar, untuk itu kedepan diharappada 1 September 2007 yang bertepatan kan ada penambahan karena jika 20 perdengan hari Sabtu membuat penerapan jalur sen dari 500 perusahaan yang direncanaMITA diundur, namun pada saat pelaksanaan, kan mengikuti uji coba MITA non prioritas, masih ada kendala yang dihadapi yaitu terkait bisa mengikutinya, hal tersebut sama dengan sistem yang digunakan. dengan 35 persen jumlah importasi yang “Kendala MITA pada hari pertama adalah, ada selama ini sudah ditangani oleh jalur perbedaan NPWP antara registrasi dengan MITA non prioritas. aplikasi impor, saat kep Dirjen untuk MITA (PLUTFI HARTONO. Setelah tiga bulan Selain itu pada 10 September 2007, 24/BC/2007), NPWP yang digunakan berdakedepan diharapkan jumlah perusahaan para peserta uji coba jalur MITA non sarkan registrasi, kenyataan di aplikasi impor penerima jalur MITA dan kuning dapat prioritas, telah diperkenalkan dengan Client NPWP yang dipakai importir untuk mengimpor bertambah dari saat ini. Coordinator (CC) masing-masing, sehingga berbeda, yang disebabkan oleh adanya jika ada kendala yang dihadapi oleh perusahaan tersebut, supemekaran Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang belum tercatat di dah dapat menghubungi CC untuk penyelesaiannya. registrasi,” jelas Lutfi. Masih menurut Lutfi, solusi yang tim lakukan adalah, membentuk posko di gedung induk lantai 1 Tanjung Priok, untuk JALUR KUNING penyelesaiannya. Karena perbedaan itu hanya enam digit terakhir Jika hari pertama penerapan jalur MITA non prioritas masih saja yang biasanya menunjukan 10-12 digit untuk KPP, sehingga mengalami kendala, untuk penerapan hari pertama jalur kuning jika importir ganti KPP secara otomatis akan berganti juga, justru tidak menghadapi kendala apapun. Menurut Lutfi, jalur kemudian yang selanjutnya angka 13-15 menunjukan kuning yang ada sekarang memang layaknya penjaluran biasa perusahaannya pusat atau cabang. Untuk itu para peserta ujicoba seperti merah dan hijau, sehingga jalur ini juga bisa fleksibel dan dapat mengubahnya di posko melalui pengajuan permohonan berganti jalur namun bukan berdasarkan random, melainkan dengan menunjukan NPWP perubahan dari KPP, dan proses berdasarkan ketetapan komite penyusunan profil. importasi dapat terselesaikan juga pada hari itu. “Jadi untuk jalur kuning ini tidak memerlukan keputusan Dirjen. Suatu perusahaan untuk masuk menjadi jalur kuning cukup diubah profilnya, begitu juga jika menjadi merah, maka profil akan UJI COBA HANYA DIIKUTI 189 PERUSAHAAN berubah menjadi merah. Sehingga jalur ini merupakan penjaluran Lalu mengapa hanya 189 perusahaan saja yang dapat mengbiasa hanya mekanisme profiling saja,” ujar Lutfi. ikuti uji coba MITA non prioritas tersebut? Menurut Lutfi, pada Lebih lanjut Lutfi menjelaskan, dasar mengapa dikeluarkanawalnya Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) telah memanggil nya jalur kuning ada dua, yaitu dalam jangka pendek dan jangka sekitar 500 perusahaan yang setelah diseleksi dan diharapkan panjang. Untuk jangka pendek, DJBC ingin mengurangi tekanan dapat mengikuti peserta uji coba MITA non prioritas, karena untuk
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

Pada 5 September 2007 jalur Mitra Utama (MITA) mulai diujicobakan sekaligus diterapkan. Sementara untuk penerapan pertama jalur kuning, hampir sebagian besar importir jalur merah masuk ke jalur kuning.

52

WBC/ATS

pemeriksaan fisik baik terhadap importirnya maupun terhadap DJBC, karena setelah pemeriksaan fisik dilakukan dengan benar, akan memakan waktu yang akhirnya akan menghambat. Atas dasar tersebut maka, DJBC akan mengurangi pemeriksaan fisik dan jika pun ada pemeriksaan fisik maka hal tersebut benar-benar yang risikonya menyangkut ke fisik. Namun jika risikonya hanya dokumen DJBC tidak akan memeriksa fisik yang diperiksa hanya dokumen. Sedangkan untuk jangka panjang, jalur kuning ini sebenarnya dalam praktek kepabeanan internasional sudah ada, jadi hampir seluruh negara menerapkan jalur ini, jadi semakin banyak segment-nya, maka channel-nya semakin sempit sehingga pelayanan akan menjadi semakin fokus. “Jika kita merujuk jumlah PIB jalur merah pada bulan Juli 2007, itu sebanyak 500 PIB perhari, nah pada hari pertama jalur kuning, yang masuk itu sekitar 47 PIB, jadi hampir 10 persen importir jalur merah masuk menjadi jalur kuning, dan ini kita harap dapat bertambah terus karena kita tidak ingin menurunkan kualitas pemeriksaan fisik, namun yang akan kita lakukan adalah menyeleksi shipment-shipment yang memang harus diperiksa fisik,” kata Lutfi. Lalu apa keuntungan importir jika mereka ma- SOSIALISASI. Dari sosialisasi yang dilakukan DJBC untuk jalur MITA kepada 500 perusahaan, yang dapat memenuhi persyaratan hanya 189 perusahaan saja. suk menjadi jalur kuning? Menurut Lutfi, saat ini yang masuk jalur kuning adalah sebagian importir jalur merah dimana mereka harus diperiksa baik fisik maupun dosebagai KPU secara otomatis akan menerapkan jalur MITA. kumen. Dengan mereka masuk jalur kuning, maka yang diperiksa Sementara untuk kantor non KPU belum dapat menerapkan hanya dokumennya saja sedangkan fisik tidak diperiksa, namun jalur MITA, hal ini lebih dikarenakan, sistem yang ada di KPU barang tetap belum dapat keluar dari pelabuhan. merupakan satu paket pelayanan dan pengawasan. Sementara “Keuntungan importir dengan jalur kuning lumayan banyak. untuk pengawasan DJBC akan lebih mengoptimalkan teknologi Terkait dengan pemeriksaan fisik, saat ini untuk pemeriksaan fisik informasi, sehingga DJBC pun merasa yakin dengan memberimasih memerlukan waktu satu hingga tiga hari di Tanjung Priok, kan fasilitas tersebut maka pengawasannya tidak memerlukan akibat pemeriksaan fisik ini terkadang perusahaan banyak yang pemeriksaan lagi, namun yang diperlukan adalah monitoring. mengeluh antara lain, barangnya rusak, ketika diperiksa semua Selain itu, penerapan jalur MITA di KPU lebih dikarenakan padan saat akan dimasukkan kembali ke kontainer barang tidak da kantor ini penerapan EDI sudah berjalan dengan baik, sehingcukup, barang dicuri, harus membayar buruh yang sangat mahal. ga sistem teknologi informasinya lebih baik dari kantor lain, kareNah keluhan-keluhan itu dengan jalur kuning bisa hilang karena na di kantor non KPU masih banyak yang manual. Jika nanti petidak lagi dilakukan pemeriksaan fisik,” ungkap Lutfi. labuhan utama di Indonesia telah menjadi KPU, maka bisa dipastikan 90 persen lebih importasi yang ada melalui KPU, sedangkan sisanya melalui kantor non KPU. JALUR MITA HANYA ADA DI KPU Sedangkan untuk pengawasan yang dilakukan terkait dengan Jika jalur kuning dapat diterapkan di pelabuhan manapun, jalur kuning dan MITA ini, DJBC pada prinsipnya ingin memberibeda halnya dengan jalur MITA, untuk jalur MITA saat ini hanya kan layanan prima dan pengawasan yang efektif. Layanan prima akan ada di KPPBC yang sudah menjadi KPU, namun dengan dapat diartikan untuk orang-orang yang layak dilayani dengan berkembangnya KPU maka kantor-kantor yang akan diterapkan baik, maka akan dilayani dengan sangat baik dan mereka WBC/ATS dianggap patut untuk dilayani dengan sangat baik karena mereka sudah menunjukan mereka patuh. Jika seluruh importir yang patuh dikelola dengan jalur MITA, dengan demikian DJBC akan dapat mengefisiensikan SDM yang ada saat ini, karena pada jalur MITA hanya diperlukan CC, analis dan audit. Artinya hanya memerlukan SDM yang tidak banyak, namun volume importasinya besar. Sebagai contoh, total jumlah PIB yang masuk pada 6 hingga 13 September 2007 di KPU Tanjung Priok sebanyak 8975 PIB, dari jumlah tersebut sebanyak 1235 PIB (13,75 persen) untuk jalur prioritas, MITA non prioritas sebanyak 810 PIB (9,10 persen), jalur hijau sebanyak 4529 PIB (50,46 persen), jalur merah sebanyak 2272 PIB (25,31 persen), dan jalur kuning sebanyak 129 PIB (1,44 persen). Dengan demikian pada jalur MITA nanti tidak memerlukan banyak orang untuk mengawasinya, sehingga SDM yang ada dapat difokuskan kepada daerah lain yang memang memerlukan jumlah pengawasan yang lebih banyak dan berisiko. Selain itu, dengan jalur MITA maka perusahaan-perusahaan yang baik dengan jumlah importasi yang besar tidak mendapat hambatan dari perusahaan lain yang importasinya kecil namun kerap bermasalah. (Penjelasan lebih lanjut tentang jalur MITA dan jalur kuning, akan diulas lebih mendalam pada Rubrik Laporan Utama PEMERIKSAAN FISIK. Dengan jalur kuning, importir tidak akan diperiksa Edisi Desember 2007 mendatang) adi fisik hanya dokumen yang diperiksa, namun barang belum dapat keluar.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

53

KEPABEANAN

Sosialisasi Blue Print Penerapan dan Rencana Ujicoba Sistem NSW di Tanjung Priok

P

Untuk keperluan pelaksanaan ujicoba sistem NSW, pembangunan dan pengembangan sistem NSW dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah.

ada 28 Agustus 2007, bertempat di Hotel Borobudur, Jakarta, digelar sosialisasi blue print penerapan sistem National Single Window (NSW) dan rencana ujicoba NSW di Tanjung Priok oleh Tim Persiapan NSW. Hadir pada hari itu, para pembicara dari Satuan Tugas (Satgas) Informasi Teknologi, Satgas K2PEI (Keterpaduan Ketentuan dan Prosedur Ekspor dan Impor), Ditjen Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informatika, serta Satgas Perencanaan dan Kerjasama Internasional. Dalam kesempatan itu, Edy Putra Irawady, Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan, Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, yang sekaligus merupakan Sekretaris Tim Persiapan NSW, juga hadir untuk memberikan pandangannya. Sedangkan audience sosialisasi tersebut datang dari instansiinstansi pemerintah yang terkait dengan sistem NSW. Saat diwawancara WBC, Edy Putra mengatakan bahwa blueprint penerapan sistem NSW di Indonesia berguna untuk melakukan suatu penyesuaian antara acuan dari ASW (Asean Single Window), WCO dan kepentingan nasional. Untuk itu, pembangunan sistem elektronik Indonesia kedepan harus terintegrasi agar tidak perlu lagi membangun sistem yang baru. Ia melanjutkan, saat ini NSW memasuki tahap persiapan untuk ujicoba tahap awal pengembangan NSW di Tanjung Priok pada Desember 2007 dan secara paralel menyiapkan pengembangan untuk tahap selanjutnya atau jangka panjang, khususnya mengenai struktur NSW. Pada Januari 2008 ujicoba tersebut akan dievaluasi dan diharapkan pada Maret-April 2008 pengembangan NSW jangka panjang sudah bisa dilakukan. “Makanya sekarang kita harus sosialisasikan dahulu. Dan kita akan mulai dengan ujicoba menggunakan sistem NSW untuk makanan dan obat-obatan terlebih dahulu yang mulai dilakukan akhir September 2007 ini,” kata Edy. INDONESIA BELUM SIAP? Mengenai kendala yang dihadapi untuk Sementara itu, pada 30 Agustus 2007, berujicoba di Tanjung Priok, Edy mengaku tempat di Gedung Dhanapala, Departemen Kesaat ini masih menunggu ketentuan-ketenuangan, sosialisasi blue print penerapan dan tuan hukum yang akan memback-up sistem rencana ujicoba sistem NSW di Tanjung Priok, NSW, terutama mengenai jaminan security juga dilakukan. Kali ini audience berasal dari data, integrity data, authentication data, kalangan pengusaha atau pengguna jasa yang EDY PUTRA IRAWADY. Karena hingga availability data, non-repudiation, confiden- saat ini cyber law belum juga disahkan terlibat dengan kegiatan ekspor dan impor. tiallity serta pengendalian akses, serta Hadir sebagai pembicara dari Satgas oleh DPR, maka kita akan meminta menjamin keamanan transfer informasi dari terobosan lain dengan mengeluarkan Informasi Teknologi, Susiwijono; Satgas Peraturan pemerintah (PP) khusus untuk 5 GA (governement agecies) yang akan Perencanaan dan Kerjasama Internasional, membackup NSW. terkoordinasi dengan sistem NSW. Abdul Salam; Satgas K2PEI (Keterpaduan Sebelumnya, Edy berharap, cyber law Prosedur Ekspor dan Impor), Ahmad Syafri; tersebut dapat disahkan pada Juli 2007, tetapi hingga saat ini keSatgas Kepelabuhanan, Susetyo, serta Satgas Kebandarudatentuan hukum tersebut belum juga disahkan oleh DPR. “Untuk raan, Joko Muratmojo. itu, kita minta terobosan lain dengan mengeluarkan Peraturan peAcara sosialisasi tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal merintah (PP) khusus untuk membackup NSW,” tambahnya. Perhubungan Laut, H. Harijogi. Dalam sambutannya, ia Hasil ujicoba sistem NSW di Tanjung Priok nantinya akan dimengatakan bahwa tujuan adanya sosialisasi ini adalah kaji dan dievaluasi sebagai bahan pertimbangan dalam penetapuntuk menyebarluaskan informasi mengenai perkembangan an standar operasional NSW yang akan diberlakukan secara naNSW kepada pengusaha, terutama tentang rencana ujicoba sional. Terdapat dua kemungkinan opsi atau pilihan manajemen sistem NSW di Tanjung Priok.
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

pengoperasian sistem NSW pasca ujicoba. Pertama, melanjutkan pengoperasian pada saat tahapan ujicoba yang sepenuhnya dilakukan pemerintah, dalam hal ini oleh Tim Nasional atau badan atau lembaga khusus yang ditunjuk. Kedua, menimbang kemungkinan penerapan model public private partnership (PPP), dimana pemerintah tetap menjadi pemegang saham terbesar. “Kalau pemerintah yang menghandle, itu bagus karena security, rate, bisa kita kendalikan. Tapi kalau menggunakan sistem PPP, pemerintah tetap dapat mengontrol dan semua bisa mendapat keuntungan. Kunci dari PPP yang paling penting adalah service level agreement,” tandasnya. Edy melanjutkan, untuk ujicoba nanti, pengenaan tarif dilakukan melalui pemungutan PNBP (penerimaan negara bukan pajak) oleh masing-masing instansi. Sedangkan untuk biaya trafik atau jasa layanan publik dan jasa transaksi pertukaran data, tidak dipungut alias gratis. Saat ditanya apakah ia optimis Indonesia dapat terintegrasi dengan ASW (Asean Single Window) pada September 2008, Edy mengatakan bahwa selama ini ia hanya mengikuti schedule yang diberikan. Namun ia mengaku optimis karena Indonesia sudah memenuhi prasyarat untuk membangun sistem NSW. Ia berharap selain 5 GA (Bea dan Cukai, BPOM, Ditjen Daglu, Pusat Karantina Ikan dan Badan Karantina Tumbuhan-red) yang telah memiliki in-house sistem, instansi lain seperti Perindustrian, Perikanan, Pertambangan, Kesehatan dan instansi lain, secara bertahap juga membangun inhouse sistem. Kalaupun hal itu belum bisa dibangun, koneksi dengan NSW tetap bisa dilakukan dengan menggunakan WBC/ATS interface. “Sewaktu kita menghadiri pertemuan di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu, Asean meminta Indonesia untuk menjadi lead pilot Asean, misalnya dengan melakukan pertukaran dokumen SKA (surat keterangan asal-red) dulu, atau karantina dulu. Tapi kita belum menjawab permintaan itu, karena kita sendiri masih harus berbenah karena dari segi peraturan kita perlu backup. Hampir semua negara Asean tidak siap dalam hal cyber law kecuali Singapura,” tandasnya.

54

WBC/ATS

PESERTA SOSIALISASI. Para peserta sosialisasi yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pengguna jasa, perwakilan asosiasi pengguna jasa, pengusaha, instansi yang terkait dengan NSW dan rekan-rekan dari media massa, tampak antusias mengikuti jalannya acara.

SOSIALISASI UJICOBA NSW. Saat sosialisasi blueprint penerapan sistem NSW dan rencana ujicoba sistem NSW di Tanjung Priok, di Hotel Borobudur, Jakarta yang dilakukan pada 28 Agustus dan 3 September 2007.

lain, yakni prakteknya, menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Kita Menurutnya, manfaat blueprint system NSW adalah untuk jujur saja, ngurusin minyak tanah saja berantakan apalagi mendapatkan kejelasan arah kebijakan sistem NSW, pedoman ngurusin hal seperti ini,” tandasnya. dalam melaksanakan sistem NSW, acuan bagi seluruh entitas Salah satu komponen yang paling ditakuti kalau barang tidak yang terkait dengn NSW dan menjadi landasan hukum bagi segera keluar adalah sewa gudang. Pasalnya, sewa gudang seluruh entitas yang terkait dengan NSW. Untuk itu ia berharap, terus berjalan hingga barang keluar. Dengan demikian, agar seluruh pihak dapat memberikan dukungan dan komitmen lanjut Didiet, biaya sewa gudang akan dibebankan pada barang yang kuat bagi sistem NSW. Karena keberhasilan NSW bukan yang akan dijual, itupun kalau barangnya laku dipasaran. dari pengoperasiannya tapi hasil NSW dapat berguna bagi “Makanya, kalau pemerintah mau tanggung jawab misalnya sewa pembangunan nasional dan bermanfaat bagi semua orang. gudang berhenti dihari ketiga, walaupun barang musti nunggu 40 Kepada pers Susiwijono, Kasubdit Otomasi Sistem dan hari. Itu baru fair, tidak ada masalah walaupun besok kita Prosedur, Dit. IKC, yang juga merupakan Wakil Ketua Satgas IT langsung NSW. Contohnya lihat KPU (Kantor Pelayanan Utama mengatakan, tujuan utama sistem NSW dalam tahap awal adalah Bea dan Cukai Tanjung Priok-red), tidak ada yang mau tanggung masalah peningkatan kinerja layanan ekspor dan impor serta jawab kan soal sewa gudangnya?” papar Didiet. penurunan waktu dan biaya. Namun demikian, yang terpenting Ia melanjutkan, beberapa importir asing ada yang mengeluhadalah masalah kualitas dan akurasi data. Pada tahap awal, baru kan tingginya sewa gudang yang harus dibayar karena lamanya 5 GA atau instansi yang terkoneksi dari 36 instansi yang terkait dengan NSW. Ujicoba NSW pada Desember WBC/ATS proses customs clearance. Menurutnya hal itu disebabkan kurangnya SDM yang dimiliki KPU 2007 hanya diterapkan pada 99 importir jalur dan kurangnya sosialisasi kepada pengguna prioritas, itupun hanya untuk dokumen pemjasa. beritahuan impor barang (PIB). Sementara itu, Rustiningsih Singgih, Head “Mudah-mudahan tahun 2008 kita semua of International Business Solution, PT Bank sudah siap karena memang kita tidak ada piCentral Asia Tbk, mengatakan pada WBC, selihan. Kalau kita lihat momentum NSW ini luar tiap langkah yang dilakukan pemerintah harus biasa, bukan hanya customs saja yang meada antisipasi atau backup. Pasalnya, segala respon, tetapi lihat saja di Perdagangan yang sesuatu yang berguna bagi roda perekonomimembangun inatrade. Itu kan merubah kultur an Indonesia harus dirancang dengan tepat atau change management. Dari yang dulunya agar hal-hal yang dapat menghambat kerja bimanual nanti bisa lewat internet. Diluar itu, sa diminimalisir. masing-masing instansi seperti “dipaksakan” “Misalnya kalau ada pemadaman listrik dan untuk bisa comply dan competible dengan sistem NSW,” katanya. tidak ada genset, pasti transaksi akan berhenti. Sementara itu, saat ditemui WBC diselaJadi, tolong disaster recovery plannya harus sela acara sosialisasi, Didiet Hidayat dari PT. dipikirkan. Atau kalau ada gempa bumi bagaiMitsui Soko Indonesia mengatakan, Indonesia mana? Karena NSW itu kan nasional, kalau belum siap dari berbagai aspek dalam servernya down apakah nanti seluruh melaksanakan sistem NSW, mulai dari Indonesia akan mati? Atau kalau misalnya daHARMEN SEMBIRING. Saat ini pihaknya sumber daya manusianya, sistem, teknologi, lam satu jam sistem tidak bisa diperbaiki lantas mulai mengirim signal kepada Malaysia bahkan UU cyber law-nya saja Indonesia bisa diganti dengan manual yang seperti A, dan China yang berisi tentang kesiapan belum siap. misalnya,” ujarnya. Untuk itu ia meminta agar Indonesia untuk memulai ujicoba pengiriman SKA melalui single window ke pemerintah memikirkan masalah disaster re“Kalau Indonesia belum siap, sebaiknya kedua negara tersebut. sistem yang manual masih bisa digunakan. cover plan tersebut secara sungguh-sungguh. Karena yang sering terjadi, kalau sudah masuk ke sistem kita tidak bisa bawa dokumen. Dan sekarang UJICOBA SKA MELALUI SINGLE WINDOW KE MALAYSIA DAN CHINA kita belum siap, belum semua orang Indonesia jago komputer dan Kembali sosialisasi blue print penerapan dan rencana ujicoba ngerti masalah IT,” tambahnya lagi. Ia sendiri mengaku bahwa sistem NSW di Tanjung Priok, dilakukan di Hotel Borobudur pada perusahaan tempatnya bekerja telah siap dengan sistem IT. 3 September 2007. Audience yang hadir pada acara tersebut Menurutnya, NSW merupakan program yang dipaksakan adalah asosiasi-asosiasi yang mewakili para pengguna jasa dan karena pada dasarnya Indonesia belum siap. “Yang saya lihat ini rekan-rekan dari media massa. Pembicara pada hari itu terdiri karena gengsi kita karena sudah agreement dengan Asean dari Satgas IT, Satgas Perencanaan dan Kerjasama Internasiomakanya kita ikut. Jadi, dari segi teori ini sangat bagus tapi disisi nal, Satgas K2PEI dan moderator dari KADIN.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

55

KEPABEANAN
GAMBARAN UMUM BISNIS PROSES DALAM SYSTEM NSW

Dalam sesi tanya jawab, B.P Rambe dari GPEI cabang Sumatera Utara, Medan, menanyakan kapan NSW akan dilaksanakan di wilayah Medan. Ia juga mengeluhkan listrik yang sering padam di Medan, bahkan belakangan ini listrik padam pada pagi hari selama 5 jam dan sore hari selama 5 jam. Pemadaman itu sendiri belum diketahui kapan berakhir. Susiwijono, Wakil Ketua Satgas IT menjelaskan, untuk empat pelabuhan lain yakni Soekarno Hatta, Belawan, Tanjung Emas dan Tanjung Perak, akan diterapkan sistem NSW antara Maret September 2008. Ia mengakui bahwa ketidakstabilan tenaga listrik di Belawan sangat menganggu, sehingga banyak sekali peralatan elektronik milik Bea dan Cukai yang rusak walaupun sudah ada genset. Oleh sebab itu ia kembali menegaskan perlunya kesiapan infrastruktur IT di masing-masing daerah. Namun demikian Susiwijono menegaskan, NSW merupakan sistem virtual, sehingga kalau ujicoba di Tanjung Priok berjalan dengan lancar, maka secara otomatis, kalau sistem ini diterapkan ditempat lain tidak akan ada masalah, tinggal bagaimana menyosialisasi dan mengedukasikan sistem NSW pada pengguna sistem di sana. Masalah listrik inipun sudah disampaikan pada rapat steering comitee. Sementara itu, Ronald dari Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP), menanyakan kepada siapa ia harus melakukan komunikasi lebih mendalam karena sampai dengan saat ini pihaknya belum mendapatkan info kepada siapa harus bertanya mengenai sistem NSW tersebut. APJP sendiri akan melakukan konsolidasi internal atas sistem yang sudah digunakan atau diterapkan oleh perusahaan yang termasuk dalam jalur prioritas. APJP juga mengusulkan, sebagai langkah awal pihaknya dapat melakukan komunikasi melalui KPU mengenai NSW, seperti halnya APJP pernah mengusulkan agar tiap-tiap instansi yang terkait dengan kegiatan ekspor impor memiliki perwakilan di KPU. 56
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

Dalam wawancaranya dengan WBC usai acara sosialisasi, Harmen Sembiring, Ketua Satgas K2PEI mengatakan, saat ini bisnis proses yang dilakukan Satgas K2PEI sudah pada tahap identifikasi. Jumlah GA (government agencies) yang terlibat dalam perijinan ekspor, impor dan kepabeanan sebanyak 36 GA (level eselon I dan II). Dari 36 GA tersebut, jumlah total dokumen yang berkaitan dengan ekspor, impor dan pabean sebanyak 178 dokumen, terdiri dari 48 dokumen ekspor, 106 dokumen impor, release clearance 1 dokumen dan sisanya dokumen rekomendasi. “Selanjutnya, bisnis proses tersebut kita serahkan ke Satgas IT, untuk diolah lagi sehingga cocok dengan sistem elektroniknya. Langkah kami berikutnya adalah mengumpulkan semua form atau formulir perijinan yang ada, kemudian kita olah dengan melakukan simplifikasi prosedur,” jelas Harmen. Saat ditanya kesiapan Satgas K2PEI menghadapi ujicoba NSW di Tanjung Priok Desember 2007 nanti, Harmen mengatakan bahwa dari ke-5 GA (Bea dan Cukai, Pusat Karantina Ikan, Badan Karantina Tumbuhan, BPOM dan Ditjen Daglu-red) yang terkait dengan ujicoba NSW di Tanjung Priok, bisnis prosesnya telah diserahkan pada Satgas TI. “Satgas Tim Nas mengarahkan ujicoba NSW hanya pada produk-produk tertentu, yang masuk dalam jalur prioritas. Berarti, kami akan memantau perijinan-perijinan yang masuk dalam jalur prioritas itu apa saja. Waktu itu kita sepakat untuk fokus kepada makanan, minuman dan obat-obatan. Sekarang apa contohnya, ini yang kita serahkan ke satgas IT,” lanjut Harmen. Mengenai SKA (surat keterangan asal) yang menjadi concern Ditjen Daglu, Harmen mengatakan bahwa saat ini pihaknya mulai mengirim sinyal kepada Malaysia dan China yang berisi tentang kesiapan Indonesia untuk memulai ujicoba pengiriman SKA melalui single window ke kedua negara tersebut. “Saat ini kita sedang menunggu respon dari mereka, tapi secara sistem kita sudah siap,” tandas Harmen. ifa

WBC/ATS

WBC/ATS

SRI MULYANI INDRAWATI. Pengusaha diharapkan mendukung program reformasi birokrasi dan tidak merusaknya dengan memberikan sogokan.

Workshop
Reformasi Pelayanan Importasi Di Indonesia
WORKSHOP. Untuk reformasi pelayanan impor di Indonesia, perlu adanya kebijakan yang menguntungkan masing-masing pihak, dan dukungan dari instansi terkait lainnya.

D

Masih adanya berbagai kendala yang terkait dengan proses importasi di Indonesia, menyebabkan pengguna jasa pelabuhan diperhadapkan oleh rendahnya indeks pelayanan publik dari berbagai instansi, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya biaya ekonomi tinggi dalam kegiatan importasi.

engan terlaksananya program reformasi di jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), yang kini telah terealisirkan dengan adanya Kantor Pelayanan Utama (KPU) di Tanjung Priok dan Batam, juga dengan penambahan jalur baru untuk proses importasi, yaitu jalur kuning dan Mitra Utama (MITA), membuat para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Jalur Prioritas (APJP), merasa perlu membahasnya lebih mendalam karena hingga saat ini masih ada beberapa kendala yang dihadapi para anggotanya. Pembahasan yang berlangsung dalam workshop sehari dengan tema “Reformasi Pelayanan Importasi Di Indonesia”, berlangsung di gedung Dhanapala Departemen Keuangan, pada 27 Agustus 2007 yang dibuka langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati. Acara dimulai dengan kata sambutan dari ketua APJP, Gunadi Sindhuwinata, yang menjelaskan bahwa jalur prioritas bertujuan mempercepat arus barang sehingga biaya ekonomi tinggi dapat ditekan, Selain itu dalam menghadapi persaingan ketat ditingkat global, dengan adanya jalur prioritas tentunya pengusaha akan memperoleh penghematan biaya, sehingga daya saing dapat meningkat.

Sementara itu, Menkeu dalam kata sambutannya menyatakan, ketidakpercayaan birokrat kepada pengusaha dan pengusaha kepada birokrat, menyebabkan terjadinya tindakan kolusi yang berujung pada pemberian upeti kepada pejabat untuk memudahkan pelayanan.”Jika importir memiliki rekam jejak baik, tugas pemerintah adalah memberikan pelayanan dan fasilitas yang bagus, namun pelayanan yang bagus tersebut kita berikan setelah kami melakukan pengawasan, jika importir tidak memiliki kredibilitas, pemerintah harus melakukan pengawasan terlebih dahulu baru memberikan pelayanan dan fasilitas,” jelas Menkeu. Masih menurut Menkeu, jika perusahaan sudah memenuhi kriteria yang baik, kewajiban pemerintah adalah memberikan layanan yang lebih baik lagi, untuk itu kepada importir diharapkan mau mendukung program reformasi birokrasi. Yakni, dengan membayar seluruh kewajiban kepabeanan dengan benar, tidak melakukan penyelundupan serta tidak merusak birokrasi dengan sogokan. Jadi dua-duanya perlu reformasi. Dalam kata sambutan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, yang dibacakan oleh Direktur Audit, Thomas Sugijata, sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 6 tahun 2007 tentang kebijakan percepatan pengembangan sektor rill dan pemberdayaan usaha, mikro, kecil dan menengah, salah satu program yang dicanangkan adalah kelancaran arus barang dan kepabeanan, yang oleh DJBC telah diterjemahkan ke dalam tiga paket kebijakan, yaitu percepatan pelayanan kepabeanan (Customs Services), pengembangan fasilitas kepabeanan (Customs facilities), dan pengawasan kepabeanan (Customs Control). Sebagai pelaksanaan dari kebijakan percepatan pelayanan kepabeanan (Customs Service), DJBC telah
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

57

KOLOM
melaksanakan beberapa tindakan seperti penyempurnaan prosedur pengeluaran barang (Customs Clearance), pengembangan fasilitas jalur prioritas, penyempurnaan manajemen risiko kepabeanan, penyempurnaan penetapan nilai pabean untuk perhitungan bea masuk, pelaksanaan otomasi sistem aplikasi pelayanan BC 2.3 (pemberitahuan pabean untuk pemasukan ke tempat penimbunan berikat), dan penerapan sistem Indonesia National Single Window (NSW) untuk pelayanan customs dan cargo clearance. Workshop yang diikuti oleh 99 perusahaan penerima jalur prioritas dan 112 perusahaan peserta uji coba jalur MITA, berlangsung dalam empat sesi yang masingmasing sesi mengetengahkan topik-topik seputar pelayanan importasi, diantaranya kemudahan fasilitas impor dan pelayanan perijinan bagi importir jalur prioritas yang disampaikan oleh Direktur Utama Pelindo II, Abdullah Syaifuddin, dan Kepala Administrator Pelabuhan Utama, Capten Bobby R. Mamahit. Dan untuk sesi kemudahan fasilitas impor dan pelayanan perijinan bagi importir jalur prioritas terkait dengan makanan dan obatobatan, disampaikan oleh Badan POM. Sementara itu untuk sesi DJBC, topik pertama yang dibahas adalah KPU sebagai perwujudan reformasi birokrasi DJBC dan jalur MITA, yang disampaikan oleh ketua tim percepatan reformasi DJBC, Thomas Sugijata. Sedangkan untuk sesi kedua DJBC, dibahas tentang jalur prioritas yang disampaikan oleh Direktur Teknis Kepabeanan, Teguh Indrayana. Pada sesi fasilitas impor dan perijinan bagi importir jalur prioritas, dijelaskan mengenai upaya yang telah dilakukan oleh Pelindo II dalam menindaklanjuti Inpres nomor 54 tahun 2002, Inpres nomor 24 tahun 2004, Inpres nomor 5 tahun 2006 dan Inpres nomor 3 tahun 2006, dengan menurunkan tarif Cargo Handling Container (CHC), menata manjemen pelabuhan, pengawasan dan pengendalian terhadap pungutan biaya-biaya tidak resmi di pelabuhan, peningkatan sarana dan prasarana di lapangan, memberdayakan industri pelayaran nasional, dan mempercepat pemprosesan kargo. Sementara pada sesi DJBC pada topik bahasan KPU dan jalur MITA, dijelaskan mengenai penerapan manajemen SDM yang terbaik di KPU sehingga pelayanan yang diberikan dapat lebih prima dari saat ini, hingga pada sasaran KPU Bea dan Cukai, termasuk karateristik umum KPU Bea dan Cukai. Sedangkan untuk topik bahasan jalur MITA, dijelaskan mengenai penjaluran baru yang akan diterapkan oleh DJBC, yang mana untuk jalur mitra utama akan mulai diterapkan pada 1 September 2007 dan hanya dikhususkan pada importir yang telah terpilih sebagai penerima jalur prioritas dan 188 importir jalur hijau yang akan masih diujicobakan hingga tiga bulan kedepan. Untuk topik bahasan jalur prioritas, kembali dijelaskan mengenai manfaat yang diterima oleh importir penerima fasilitas jalur prioritas yang kini akan lebih ditingkatkan kembali pada jalur MITA prioritas, sehingga penerima fasilitas ini benar-benar mendapatkan pelayanan prima dan utama, yang pengawasannya lebih dititikberatkan pada bidang audit. Selain itu juga dijelaskan mengenai konsep On Truck On Board dalam menunjang kelancaran arus barang ekspor dari dry port ke pelabuhan Tanjung Priok. Dari seluruh topik yang dibahas, para peserta umumnya menanyakan tentang keluhan terhadap tersendatnya arus barang yang kerap kali masih sering terjadi, dan para peserta meminta jaminan apakah dengan jalur baru dan fasilitas pelabuhan yang saat ini akan lebih dikembangkan lagi dapat menjawab kendala yang dihadapi para peserta. Hingga akhir acara workshop berakhir, para peserta tampak merasa bisa mendapatkan informasi yang lebih akurat dan baik tentang apa yang dapat mereka lakukan dengan kendala-kendala yang dihadapi, dan berusaha menjadikan perusahaannya sebagai stakeholder yang baik. adi 58
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

Oleh: Bakhroni ST., Msi

ORANG YANG PROAKTIF ADALAH ORANG YANG SELALU BERPIKIR TERLEBIH DAHULU SEBELUM BERTINDAK

Manusia yang

” Kebiasaan

Efektif

“Kita adalah apa yang kita lakukan secara konsisten” (Aristoteles)

D

alam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar ungkapan; Si X mempunyai kebiasaan buruk, Si Y mempunyai kebiasaan yang baik. Atau sering pula kita jumpai orang mempunyai pendirian yang plin-plan alias mencla-mencle. Tingkah laku kita adalah kebiasaan kita, dalam bahasa Inggris disebut dengan habit yang artinya sesuatu yang dilakukan berkali-kali. Aristoteles mendefinisikan manusia berdasarkan kebiasaan, artinya kalau ia tidak memiliki perilaku yang jelas maka ia tidak termasuk manusia. Dalam hal ini berarti manusia yang mencla-mencle tidak terdefinisikan oleh Aristoteles. Sedangkan kata efektif sendiri berarti tepat sasaran atau sesuai dengan maksud dan tujuan. Di zaman modern seperti ini kita perlu mempunyai kebiasaan atau tingkah laku yang menjadikan hidup ini efektif. Menurut Dr. Steven Covey ada tujuh kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang efektif (Seven Basic Habits of Highly Effective People). Ketujuh kebiasaan tersebut adalah : 1. Proactive (Proaktif) Kadang orang salah mengartikan proaktif dengan aktif. Aktif berbeda dengan proaktif. Proaktif adalah suatu sikap dimana setiap peristiwa (stimulus) yang datang kepada seseorang diolah terlebih dahulu sebelum direspon. Orang yang proaktif adalah orang yang selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Sebagai contoh orang yang akan memotong kain pasti mengukurnya terlebih dahulu bahkan sampai diulang dua kali, sebelum memotongnya. Yang membedakan di antara kita adalah dalam hal pengolahan stimulus, ada yang cepat ada yang lambat dan ada yang tepat ada yang salah. Orang yang memberikan respon yang cepat dan benar setelah mengolah stimulus adalah mereka yang

hebat. Hal ini tidak terjadi begitu saja tapi karena latihan yang berulang-ulang. Jadi untuk menjadi orang yang proaktif, harus membiasakan diri proaktif. Seorang yang tidak pernah berpikir sebelum berbicara atau bertindak akan kesulitan tatkala ia mencoba melakukan hal itu. Proaktif memang merupakan suatu habit, yaitu sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Spontanitas tanpa kebiasaan mustahil terjadi. 2. Think End in Mind (Memikirkan Tujuan Akhir) Bagi orang yang efektif, memikirkan tujuan akhir adalah sebuah kebiasaan. Apabila ada persoalan ia akan melihat bagaimana akhir dari permasalahan tersebut. Dalam mencapai tujuan akhir tersebut manusia harus mempunyai rencana yang baik dengan membuat jadwal dalam penyelesaiannya untuk tiap-tiap tahap yang harus dilalui (time schedule). 3. Put First Thing First (Pertama Diambil Pertama Dipikir) Untuk kebiasaan yang ketiga ini menekankan pada prinsip prioritas. Seseorang apabila ingin efektif harus mempunyai prioritas dalam mengerjakan sesuatu, mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu mana yang bisa dilakukan belakangan. Seorang yang efektif dalam bertindak akan membiasakan dirinya dengan halhal yang penting dan bukan hal-hal yang genting. Ada empat kuadran dalam kategori kebiasaan seseorang berkaitan dengan manajemen waktu

c. Kuadran ketiga adalah orang yang melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak genting (not important, not urgent). Orang seperti ini tidak bertanggung jawab, bergantung pada orang lain, dan kontra produktif. d. Kuadran keempat adalah orang yang melakukan pekerjaan yang penting tapi tidak genting (important but not urgent). Orang seperti ini mempunyai visi, keseimbangan hidup, disiplin dan dapat mengontrol diri.

... KITA PERLU MEMPUNYAI KEBIASAAN ATAU TINGKAH LAKU YANG MENJADIKAN HIDUP INI EFEKTIF

“ ”

4. Win-win (Selalu Berpikir Sama-sama Menang) Artinya selalu mengutamakan orang lain tanpa menyengsarakan diri sendiri. Apabila ada permasalahan selalu diambil penyelesaian yang adil sehingga tidak ada yang kalah, tapi semua merasa menang karena prinsip adil. Adil dalam hal ini tidak berarti sama, tapi proporsional. 5. Understand to be Understood (Memahami Sebelum Minta Dipahami). Kebiasaan ini adalah berusaha memahami orang lain terlebih dahulu sebelum minta dipahami. Kebiasaan seperti ini yang sekarang jarang kita temukan. Banyak orang ingin dipahami oleh orang lain, tapi ia tidak berusaha memahami orang lain. Orang banyak berbicara demokrasi dan kebebasan tidak akan berarti apa-apa apabila kebebasannya merusak atau mengganggu kepentingan orang lain. Ia ingin diistimewakan sementara orang lain tidak boleh (tidak mempedulikan orang lain). 6. Coorperation (Mewujudkan Sinergi/Kerjasama) Menjalin kerja sama saling menguntungkan dengan manusia yang lain. Ia berusaha menciptakan kekuatan yang dahsyat dengan merapatkan barisan bersama orang lain, sebab dengan sendiri ia bukan apa-apa dan bukan siap-siap. Dengan merapatkan barisan dengan orang lain akan memperkokoh persatuan sehingga segala permasalahan menjadi ringan dan akan mudah dipecahkan. Ingatkah kita akan lidi (batang daun kelapa)? Satu batang lidi kita akan dengan mudah mematahkannya, apabila beberapa batang lidi digabungkan menjadi sapu lidi masih sanggupkah kita untuk mematahkannya ? Inilah perumpamaan dari kebiasaan ini.

IMPORTANT

U R G E N T

I
s

s

IV III

II

a. Kuadran pertama adalah orang yang selalu mengerjakan pekerjaan yang penting tapi genting (important and urgent). Orang seperti ini akan stress, sering mengalami keletihan dan selalu melakukan manajemen krisis. b. Kuadran kedua adalah orang yang selalu melakukan pekerjaan yang tidak penting tapi genting (not important but urgent). Orang seperti ini tipe orang yang fokusnya jangka pendek, menganggap tujuan dan rencana tidak berharga serta punya karakter bunglon (plin-plan).

7. Kebiasaan ketujuh adalah membiasakan keenam kebiasaan diatas. Hal terpenting setelah mengetahui enam kebiasaan tersebut diatas adalah implementasi. Mengetahui teori tanpa mempraktekkannya is nothing. Implementasi ini perlu dilakukan untuk memberikan atau menghasilkan efek spontanitas dalam kehidupan kita sehari-hari. Selamat mencoba dan semoga sukses.
Penulis adalah Pejabat Fungsional di KPU Tipe A Tanjung Priok
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

59

KOLOM

Competence-Based Organization

Penyelarasan Kompetensi Individu Pegawai DJBC dan Kompetensi Inti DJBC Dalam Mewujudkan

Oleh: Bagus Ariyanto, S.S.T., Ak

SALAH SATU VARIABEL PEMBENTUK KOMPETANSI INTI ORGANISASI ADALAH KOMPETENSI INDIVIDU

“ ”

S

alah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi adalah faktor sumber daya manusia (SDM). Tidak dapat dipungkiri, bahwa faktor SDM-lah yang membuat organisasi dapat berkembang dengan pesat, jalan di tempat atau bahkan mengalami kemunduran. Oleh karenanya, penanganan SDM harus dilakukan secara menyeluruh dalam suatu kerangka sistem pengelolaan SDM yang bersifat strategic, integrated, interrelated, dan unity (Assauri, 2000). Setiap organisasi selalu berusaha menyesuaikan diri agar mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Misalnya dengan penggunaan teknologi informasi, penerapan total quality management, redesign proses kerja, repositioning perusahaan atau bahkan melakukan perubahan radikal yang menyeluruh (business transformation). Untuk melakukan hal tersebut dengan baik, tidak bisa suatu organisasi serta-merta meniru caracara sukses organisasi lain karena kesuksesan organisasi lain mungkin tidak bisa diterapkan pada organisasi kita. Setiap organisasi mempunyai kekhasan masing-masing yang tidak mungkin sama satu dengan lainnya. Yang terpenting adalah organisasi harus meningkatkan perhatian pada “value” mereka sendiri, pada “core competences” mereka yang harus dikembangkan sepanjang waktu (Bergenhenegouwen, et. al., 1997). Kompetensi inti atau yang sering disebut dengan core competence setiap organisasi bersifat khas dan unik untuk setiap organisasi. Salah satu variabel pembentuk kompetansi inti organisasi adalah kompetensi individu. Dengan demikian, apabila organisasi mulai mengkonsentrasikan dirinya pada core competence-nya untuk menjawab segala tantangan, maka organisasi tersebut mau tidak mau harus memberikan perhatian yang lebih besar pada kompetensi individu/karyawannya (Bergenhenegouwen, et. al., 1997).

KOMPETENSI INDIVIDU
Isi dan bentuk dari kompetensi inti diciptakan melalui koneksi antara tujuan organisasi, strategi, struktur dan kultur (Sri Raharso, 2004). Skill dan motivasi karyawan adalah perangkat penting yang strategis dalam merealisasikan tujuan-tujuan perusahaan. Pengenalan keahlian dan skill karyawan adalah perlu, tetapi perhatian terhadap motivasi karyawan harus besar. Faktor-faktor yang mendasari motivasi karyawan dikenal sebagai “kompetensi individual”. Kompetensi individual berhubungan dengan karakteristik kepribadian pokok, yang tidak bisa dipisahkan dari tindakan seseorang dalam hubungannya dengan berbagai macam situasi dan tugas yang dihadapinya. Pengertian kompetensi sangat beragam tergantung pada pen60
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

dekatannya. Mc Clelland (1993) mendefinisikan kompetensi sebagai “karakteristik dasar personal yang menjadi faktor penentu sukses tidaknya seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan atau suatu situasi”. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan US approach atau didefinisikan sebagai behavioural competence (Sparrow dalam Civelli, 1997). Menurut Levy-Leboyer (dalam Civelli, 1997), kompetensi berhubungan dengan “aptitudes, personal traits, and acquired knowledge”. Menurut perspektif French approach, kompetensi merupakan resultan dari beberapa elemen psikologi seseorang dan menggunakan self-image, sebagai landasannya. Pandangan berdasarkan perspektif UK approach yang lebih dikenal dengan occupational competence, menyatakan kompetensi lebih banyak diwujudkan dalam bentuk sertifikasi dan akreditasi. Pendekatan seperti ini mendefinisikan kompetensi sebagai “ability to perform activities within an occupation to the standards expected in employment…” (Dale & Iles dalam Civelli, 1997). Secara struktural, kompetensi individu dapat digambarkan sebagai gunung es (lihat Gambar 1). Puncak gunung es dari struktur kompetensi individu berhubungan dengan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki seseorang (knowledge and skills) yang dapat dengan mudah diobservasi. Jenis kompetensi ini diperlukan seseorang untuk memungkinkan menduduki jabatan, pekerjaan, atau tugas agar dapat dilakukan dengan baik. Kompetensi ini dapat dipelajari melalui pendidikan, pelatihan professional dan vokasional dan hasilnya biasanya didokumentasikan dalam bentuk berbagai sertifikat atau diploma. Level kedua dari gunung es kompetensi adalah intermediate skills. Isi dari intermediate skills adalah keterampilan sosial dan komunikasi, general technical and vocational insight, kualitas organisasional serta pendekatan dasar terhadap pekerjaan dan situasi. Jenis keterampilan ini diperlukan untuk fleksibilitas dan deploybilitas karyawan, namun sayangnya intermediate skills ini agak sulit dipelajari, dan memerlukan supervisi dan umpan balik secara individual. Level ketiga dari gunung es kompetensi individu berisi value, standar, etika, dan moral. Value dan standar tersebut diinternalisasi oleh seseorang berdasarkan pengertian yang mendalam yang dimiliki oleh individu tersebut, pengalamanpengalaman yang telah dilewati, dan pendidikan yang pernah dia ikuti. Level ketiga ini terdiri dari frame of reference, baik bersifat personal maupun bersifat professional. Mengadopsi tipe-tipe value dan standar secara ekstrim bersifat individual dan membutuhkan proses sosialisasi yang panjang. Level ketiga ini dikenal dengan kecakapan professional. Level terbawah dari struktur kompetensi individu terdiri dari

karakteristik-karakteristik personal yang lebih mendalam, seperti citra diri, motivasi aktual, upaya diri, antusiasme dan keyakinan. Aspek kompetensi tersebut diatas hampir tidak kelihatan, sulit diidentifikasi, sulit diajarkan, namun sangat menentukan bagaimana seseorang bertindak pada situasi yang spesifik. Oleh karena itu, menurut Spencer dan Spencer (1993), karakteristik tersebut harus dilibatkan sebelum proses seleksi karena sulitnya mengajarkan keterampilan ini.

CORE COMPETENCE ORGANISASI
Hamel dan Prahalad (1990) berpendapat: organisasi akan sukses bila organisasi tersebut melandasi kegiatannya dengan kreatifitas inovasi, ilmu pengetahuan dan keahlian. Potensi sesungguhnya dari sebuah organisasi diekspresikan dalam “core competence”. Core competence organisasi merupakan kombinasi unik dan dari spesialisasi bisnis dan keterampilan manusia (human skills) yang memberikan ekspresi pada karakter tertentu dari organisasi. Bekerja secara sistematis dan terstruktur dengan core competence memberikan organisasi kekuatan strategis yang patut diperhitungkan. Core competence sulit ditiru oleh pesaing karena sifatnya yang khusus dan spesifik untuk setiap organisasi. Mengkonsentrasikan diri pada core competence membuat organisasi menjadi sangat efektif, dan selanjutnya akan menghasilkan keunggulan kompetitif. Core competence merupakan hasil dari gabungan proses pembelajaran dalam organisasi. Core competence dibentuk oleh kompetensi individual, kebijakan strategis organisasi, dan struktur pasar/kompetisi lingkungan. Sinergi dari ketiga aspek tersebut akan mampu menghasilkan produk/jasa yang unggul di pasar karena melibatkan semua bagian dalam organisasi. Jadi, peningkatan sukses organisasi didasarkan pada perbaikan dan kekuatan dari “core business” organisasi itu sendiri. Daya saing organisasi didapat dari utilisasi potensi yang dimiliki organisasi. Semakin suatu organisasi dapat mendayagunakan dengan baik seluruh kemampuan potensi yang dimiliki, akan semakin kuat pula posisi organisasi tersebut di pasar.

instansi lainnya. Tidak ada instansi lain selain DJBC yang diamanati melaksanakan keempat tugas pokok diatas. Seberapa sukses kita dalam menjalankan tugas pokok tergantung dari bagaimana Direktorat kita tercinta ini memiliki kerangka visi dan misi yang kemudian diterjemahkan ke dalam tindakan keseharian oleh para anggota organisasi. Apa indikator kita sukses memfasilitasi perdagangan? Apa indikator kita telah sukses mengumpulkan penerimaan buat Negara? Apa indikator kita telah berhasil mendorong industri? Dan apa indikator kita telah membantu memproteksi masyarakat? Semua indikator-indikator tersebut harus dapat dirumuskan dan dijawab dengan tepat oleh manajemen puncak DJBC. Tidak hanya secara kualitatif, namun juga secara kuantitatif sehingga mudah diterjemahkan oleh setiap pegawai untuk mensukseskan tugas pokok tersebut. Jika semua indikator dapat kita capai, dapat diartikan kita sukses mengemban tugas pokok tersebut sehingga Direktorat ini benar-benar memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas yang diamanatkan.

KOMPETENSI INDIVIDU YANG HARUS DIMILIKI PEGAWAI DJBC
Diatas telah disinggung bahwa kompetensi individual berhubungan dengan karakteristik kepribadian pokok seseorang, yang tidak bisa dipisahkan dari tindakannya dalam hubungannya dengan berbagai macam situasi dan tugas yang dihadapinya. Sekarang masalahnya kompetensi individu yang bagaimana yang harus dimiliki oleh pegawai DJBC yang dapat mendukung core competence Direktorat kita tercinta ini? Idealnya setiap pegawai DJBC memiliki setiap level struktur kompetensi individu seperti pada Gambar 1. Namun semuanya tergantung pada masing-masing individu karena level ketiga dan keempat dari struktur kompetensi individu tidak kelihatan, sulit diidentifikasi, dan sulit diajarkan. Menurut Lasambouw dan Lasambouw (2003), apabila diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, pegawai yang kompeten adalah individu yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku sesuai dengan syarat pekerjaannya sehingga dapat berpartisipasi aktif di tempat kerja. Secara detail ada lima dimensi kompetensi yang harus dimiliki oleh individu tersebut, yaitu: 1. task skills; keterampilan untuk melaksanakan tugas rutin sesuai dengan standar di tempat kerja 2. task management skills; keterampilan untuk mengelola

CORE COMPETENCE DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai salah satu instansi di bawah Departemen Keuangan memiliki tugas pokok sebagai trade Gambar 1 facilitator, revenue colGunung Es Kompetensi lector, industrial assistance and community protector. Tugas pokok ini sangatlah berat dan terkadang bersinggungan satu dengan yang lain. Sebagai trade facilitator dan industrial assistance misalnya Direktorat kita didorong untuk membantu memfasilitasi perdagangan yang baik dan mendorong pergerakan industriindustri dengan berbagai fasilitas yang ada, namun disisi lain juga sebagai revenue collector yang tugasnya mengumpulkan pendapatan untuk dimasukkan ke kas Negara. Tugas pokok yang diamanatkan inilah merupakan “value” kita. Value inilah yang membedakan dengan Sumber: Bergenhenegouwen, et. Al., 1997

Manusia

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

61

KOLOM
serangkaian tugas yang berbeda yang muncul dalam pekerjaan 3. contingency management skills; keterampilan mengambil tindakan yang cepat dan tepat bila timbul suatu masalah dalam pekerjaan 4. job role environment skills; keterampilan untuk bekerja sama serta memelihara kenyamanan lingkungan kerja 5. transfer skills; keterampilan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja baru gunung es kompetensi. Juga akan mendapatkan “the right man on the right place”. Jika antara kompetensi individu dan kompetensi inti organisasi sudah selaras, artinya apa yang diharapkan organisasi menjadi harapan pegawai juga, hasilnya adalah sebuah level operasi yang luar biasa hebatnya. Direktorat kita tercinta dapat memberikan service pada pengguna jasanya dengan level memuaskan. Namun level operasi yang tinggi ini harus di-maintain, dikelola, agar jangan sampai kendor. Oleh karenanya perlu dikembangkan pelatihan-pelatihan berbasis kompetensi dan pengembangan program-program berbasis kompetensi. Kedua bertujuan agar kompetensi dapat dimobilisasi, divitalisasi, dimurnikan, dan dipelihara.

Setiap pegawai Direktorat tercinta ini sebaiknya memiliki kelima dimensi kompetensi diatas agar dapat melaksanakan setiap pekerjaan yang dibebankannya kepadanya dengan baik dan mampu beradaptasi dengan situasi lingkungan kerja dimanapun dan bagaimanapun. KESIMPULAN Setiap pegawai harus memiliki ambisi masa depan dan Menumbuhkan dan mengembangkan kompetensi inti organiberkeinginan kuat untuk mengembangkan core competence sasi bukan perkara yang mudah, namun dengan adanya komitmen organisasi. Pegawai tidak hanya mampu mengatakan “How yang kuat dan keterlibatan yang sungguh-sungguh dari setiap much I can do?” , tapi elemen organisasi mulai Gambar 2. juga dapat mengatakan dari manajemen puncak, “How well I can do it?” manajemen lini sampai Pengembangan Core Competence dan pegawai, kompetensi inti Kompetensi Individu dapat terwujud sehingga PENGEMBANGAN dapat membedakan dari KOMPETENSI INDIVIDU organisasi lainnya. DAN KOMPETENSI INTI DJBC sebagai suatu ORGANISASI organisasi diharapkan Kompetensi akan mampu mengelola sumtumbuh jika ada interakber daya yang dimilikinya si yang berulang-ulang dengan baik dan antara keterampilan indimenjadikan sumber daya vidu, sistem, proses, dan tersebut menjadi suatu sumber-sumber organikompetensi inti. Untuk itu sasi baik bersifat tangible DJBC harus memberikan maupun intangible. perhatian yang lebih beUntuk itu diperlukan sar pada kompetensi inkerjasama yang baik dan dividu pegawai dengan saling mendukung antara melakukan pengembangmanajemen puncak, manajemen lini dan pegawai an kompetensi pegawai. itu sendiri. Manajemen Artinya, mulai sekarang puncak, menyediakan guseluruh proses rekrutmen, seleksi, appraisal, idance dalam mengidenmutasi, promosi, remunetifikasi core competence rasi dan pelatihan harus melalui proses manajedilihat dari perspektif men strategis. yang berbeda yaitu persManajemen lini mengunpektif kompetensi. dang dan menantang Jika kompetensi indikaryawan untuk vidu pegawai DJBC telah mengembangkan bakat selaras dengan core commasing-masing melalui manajemen kompetensi. petence DJBC, maka Individu pegawai bertujuan mengembangkan kompetensinya keakan tercipta competence-based organization, sebuah model organisasi yang memiliki kinerja yang unggul. Dengan demikian tika diberdayakan, dalam kerangka manajemen karir, artinya karir Direktorat kita tercinta ini dapat memberikan kontribusi dan sumkaryawan me- rupakan perpanjangan tangan dari kompetensi bangsih yang lebih besar pada kemajuan bangsa Indonesia. karyawan yang memiliki kontribusi pada core competence organisasi (Gambar 2). Penulis adalah Pelaksana Pemeriksa pada KPU Tipe A Tanjung Priok
SUMBER: BERGENHENEGOUWEN, ET. AL., 1997

PENYELARASAN KOMPETENSI PEGAWAI DJBC DAN KOMPETENSI INTI DJBC
Kantor Bea Cukai Utama (KPU) merupakan penegasan dari kompetensi inti DJBC. Diharapkan dengan terbentuknya KPU tersebut akan menjadi added value bagi DJBC dan termasuk upaya untuk penyelarasan antara kompetensi individu dan kompetensi inti DJBC. Bagi pegawai sendiri, keberadaan KPU akan meningkatkan motivasi mereka, yang baik secara langsung atau tidak langsung akan meningkatkan kompetensi individu mereka. Upaya perekrutan calon pegawai melalui mekanisme penyaringan tes kompetensi oleh pihak eksternal yang independen, menurut penulis, merupakan suatu langkah yang tepat. Diharapkan dengan tes kompetensi ini dapat disaring pegawai-pegawai yang berkompeten di bidangnya, yang terutama dapat menyaring level ketiga dan keempat dari struktur 62
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

Daftar Pustaka 1. Assauri, Sofjan, 2000, Strategi Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), Usahawan, Vol.26, 10, Oktober 2000 2. Bergenhenegouwen,G. J., et. al., 1997, Competence Development – A Challenge for Human Resources Proffessionals: core competence of organizations as guidelines for the development of employees, Industrial and Commercial Training, Vol. 29, 2. 3. Civelli, Franco F., 1997, New Competences, New Organizations in a developing world, Industrial and Commercial Training, Vol.29, No.7. 4. Hamel, G and Prahalad, C.K., 1990, The Core Competence of the corporation, Harvard Business Review, Vol.67, No.3, May 1990 5. Lasambouw, Carolina M., and Lasambouw, Daniel L., 2003, Competency Based Human Resources Development (CBHRD): Upaya meningkatkan daya saing SDM di era global, Buletin BRI, Vol.15, No.1, April 2003. 6. McClelland, D.C., 1993, The concept of Competence, in Spencer, L.M., and Spencer, S.M., 1993, Competence at work, New York: John Wiley and Sons. 7. Sri Raharso, 2004, Competence-Based Organization: Penyelenggaraan antara Kompetensi Individu dengan Core Competence Organisasi, Usahawan, Vol. 10, Oktober 2004.

OPINI

Distorsi dan Kontaminasi

Mewaspadai Bahaya

... JAMAN SEKARANG JAMAN SUSAH, JANGANKAN NYARI YANG Oleh: HALAL, CARI Akhmad Firdiansyah YANG HARAM AJA SUSAH!

“ ”

D

“melacurkan” apa yang memang seharusnya, sehingga terjaalam suatu pembicaraan saya dengan seorang di penyimpangan dan pemutar balikan kebenaran/fakta. Jadi teman dia berujar, “Itu lo si fulan kesandung kakedua-duanya adalah pengaruh yang tidak baik (bad influsus berat, padahal dia dulu termasuk orang yang ence) yang harus kita waspadai dan kita lawan agar tidak terlurus lo!”. Ada lagi, “Biasanya ketika ditempatjangkiti dalam diri kita. kan di tempat yang kering dia menjadi orang Ada idiom di kalangan pegawai Bea dan Cukai, jaman baik, coba kalau udah pindah ke tempat basah pasti lain, sekarang jaman susah, jangankan nyari yang halal, cari yang pokoknya pasti lain, beda ama yang dulu!”. Di haram aja susah! Kira-kira begitulah kalimat yang terlontar kesempatan yang lain saya dapat cerita lain lagi, “Ah dari orang-orang yang memahami betapa sulitnya untuk masak saya tidak percaya kalau si fulan itu sekarang jadi mencari penghasilan lebih sebagaimana para pendahulu berubah, padahal pas pendidikan dulu orangnya taat bermereka, yang mereka nilai lebih menjanjikan di saat momen agama, pintar dan baik, masak sekarang menjadi pemain keemasan pada masanya. Kalimat yang mengandung kelas berat dan udah melenceng enggak karuan?”. Yang kepasrahan akan keadaan situasi dan kondisi yang memang terakhir heran, “Masak ditempatkan di Tanjung Priok rusudah berubah seiring dengan gencarnya berbagai mahnya masih ngontrak, malu dong!” perubahan/reformasi dan otomasi institusi Bea Cukai. Ya, pegawai Bea Cukai juga manusia, bukan malaikat. Sebagaimana kita ketahui secara formal gaji PNS sama, Rambut sama hitam dalamnya siapa yang tahu, itulah makecuali di beberapa tempat ada tunjangan kemahalan, jadi nusia. Perubahan bisa terjadi pada siapa saja, kejadian di yang menjadi permasalahan adalah keinginan atas bisa menimpa semua orang termasuk pada orang-orang untuk mendapatkan penghasilan diri kita! Siapa menyangka dan menduga entambahan diluar gaji yang resmi diterima dengan ding-nya bisa seperti itu. Kalimat penyangkalan/ cara-cara yang tidak prosedural. penyanggahan yang lazim diantara kita dan biKEJUJURAN Permasalahannya adalah kata cukup atau tidak asanya menghasilkan “bad surprise”. MERUPAKAN cukup dari gaji yang kita terima adalah relatif. Fenomena ini telah menjadi realita yang tidak Pada dasarnya kita semua mempunyai kebutuhan bisa dipungkiri, memang adakalanya perubahan PONDASI dasar/primer (basic need) yang harus dipenuhi. bisa membuat manusia berubah lebih baik ke arah yang positif, namun banyak juga yang terpengaruh KEPERCAYAAN Namun sayangnya basic need ini tidak ada standar ukuran yang obyektif dan terukur. dengan pengaruh negatif, yang bisa menyerang kiJika itu semua kita jelaskan dengan bahasa ta dimana saja kita berada baik di kantor kecil maumanajemen, mungkin kebutuhan dunia (jangka pun besar, dari pegawai pangkat terendah sampai pendek, kelihatan langsung) atau kebutuhan fisik yang tertinggi. Kemudian pertanyaannya adalah kenapa hal manusia itu selalu berada pada level “urgent” dalam diri itu mesti terjadi? Apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimanusia. Sayangnya, seperti pesan Covey, kebanyakan mana cara menangkalnya? Itulah yang menggelitik penulis manusia lebih sering merasa terdesak oleh kebutuhanuntuk membahasnya dalam tulisan ini, dengan harapan kebutuhan urgent-nya dan mengabaikan kebutuhan-kejangan sampai ada yang terjerumus dalam permasalahan butuhan yang important. Covey menyebutnya dengan istiyang sebetulnya kita sendiri yang menggalinya. lah keracunan desakan. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Sebagai contohnya misalnya, adakah orang yang merasa Purwodarminto edisi ke 3 tahun 2005 dijelaskan pengertian terdesak untuk membaca buku, beramal, mengasah Kontaminasi adalah pencemaran (terutama karena potensinya, dan semisalnya? Kalau pun ada, itu jumlahnya kemasukan unusr-unsur dari luar), pengotoran. Sedangkan sedikit. Tapi, jika kita bertanya adakah orang yang terdesak Distorsi adalah penyimpangan, pemutarbalikan. Kalau kontauntuk membeli teve terbaru, handphone terbaru, atau mobil minasi itu awalnya kita bersih, kemudian tercemar (karena keluaran baru, tentu ini jumlahnya terlalu banyak. Padahal unsur/godaan eksternal) sehingga lambat laun kita menjadi desakan kebutuhan fisik itu seperti air laut. Semakin banyak kotor. Dengan kata lain ada sekat antara kebenaran dengan kita minum, semakin haus kita. keburukan karena pengaruh dari luar. Kalau distorsi, yang Alasan-alasan inilah yang dipakai sebagai pembenar bersangkutan mengetahui adanya ketidak beresan, namun untuk menggabungkan diri dalam lingkungan lingkaran setan sengaja membuatnya demikian. Dengan kata lain distorsi itu

“ ”

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

63

OPINI
yang tidak ada ujung pangkalnya. Inilah gambaran orang yang terkena distorsi dan kontaminasi. Sebenarnya persoalan gaji ansich bukan semata-mata menjadi faktor yang membuat manusia itu merasa cukup. Pada banyak contoh kasus di negara-negara maju yang gajinya besarpun ternyata yang namanya tindak KKN masih terjadi, artinya bahwa ada sebab lain, yaitu virus yang bahayanya tidak kalah dengan virus flu burung yakni bahaya distorsi dan kontaminasi. Dari sinilah kita mulai tahu bahwa ada faktor ’X’ yang menyebabkan seseorang berbuat tidak wajar karena telah terkotori virus distorsi dan kontaminasi yang menyebabkan dia gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk dapat memperolehnya. Dorongan nafsu setan telah menutupi kebenaran, sehingga dia tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah. Hal itu telah menjadi pilihan hidupnya dengan segala resiko dan konsekuensinya. Dipengaruhi atau mempengaruhi adalah masalah pengendalian diri. Pengendalian adalah manifestasi dari pikiran, perasaan, dan keyakinan positif. Jadi, pembeda mendasar antara memegang dan melepaskan kontrol (dikontrol) terletak pada unsur positif dan negatif. Semakin lama kita dipengaruhi, termakan dan berkubang oleh pengaruh negatif semakin asik kita dilenakannya dan semakin susah kita meninggalkannya. Dari penggunaan yang lazim istilah paradigma sering diartikan sebagai pola/ model tertentu yang kita anut. Paradigma berpikir tertentu akan mempengaruhi sikap, tindakan dan kebiasaan tertentu. Oleh sebab itu logislah kalau dikatakan, salah satu syarat untuk maju adalah mengganti (baca: menyempurnakan) paradigma lama dengan paradigma baru yang lebih unggul. Paradigma lama itu tak terasa menjebak kita ke dalam situasi dan kondisi yang membahayakan keselamatan dan posisi kita. Paradigma baru mengajarkan perubahan mindset (pola pikir) dari bekerja dengan integritas yang memadai berlandaskan aturan dan nilai moral yang tinggi. Kalau orang sudah berpegang pada paradigma lebih positif maka kemungkinan besar dapat dikatakan bahwa ia punya potensi lebih besar untuk menciptakan perilaku yang lebih positif dalam merespon keadaan. Nasib reward suatu pekerjaan yang kita jalani lebih sering ditentukan oleh kemampuan untuk menciptakan kualitas yang lebih kepada pihak lain bukan dibedakan oleh identitas pekerjaan atau dimana kita ditempatkan. Platform kualitas adalah pernyataan diri tentang sebuah pekerjaan yang kita geluti berdasarkan nilai, tujuan, keunggulan, pengalaman, atau pendidikan. Platform yang kita buat tanpa keputusan dan pondasi kecuali ikut-ikutan atau desakan reaktif kebutuhan sesaat atau penghindaran membuat kita mudah bongkar pasang platform yang tidak mengikuti “Growth Circle”. Artinya apa yang dilakukan hanya berfungsi seperti candu yang hanya menyenangkan sementara tapi besar menimbulkan potensi masalah di kemudian hari. orang kebanyakan, tidak ingin berbeda dengan arus, takut dimusuhi dan dikucilkan, takut dipindah, atau diancam keselamatan dirinya dan atau keluarganya. 5. Termakan oleh bujuk rayu kelompok yang mengajak berbuat KKN bahwa segala sesuatunya sudah diatur rapi dan diamankan, pokoknya terima beres. 6. Menciptakan keharusan-keharusan yang tidak semestinya, seperti mengkait-kaitkan jabatan dengan ukuran kewajaran materi, tuntutan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, tetangga maupun teman yang suka show of force tentang kekayaan materi. 7. Lemah iman dan tidak memiliki nilai-nilai pembeda antara baik dan buruk, miskin teladan/panutan.

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Adapun alternatif pemecahan masalah dari kondisi di atas adalah sebagai berikut : 1. Memahami aturan/prosedur yang benar dan mengetahui bentuk-bentuk trik-trik/modus operandi manipulasi dan implikasi bahaya yang ditimbulkannya. 2. Sejak awal hindari pikiran aji mumpung, punya citacita atau rencana busuk untuk mendapatkan limpahan materi di suatu tempat tertentu dengan cara-cara kotor, berpikirlah jangka panjang untuk masa depan. 3. Hilangkan kebiasaan melanggar aturan, jangan hanya taat kalau ada yang melihat, ingin mendapatkan pamrih atau sekedar ingin asal bapak senang (ABS). 4. Selalu membina human relation yang baik dengan semua orang, “Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan” dan tidak mudah percaya omongan orang tanpa dicek dulu kebenarannya (prinsip kehati-hatian). 5. Biasakan berkompetisi yang sehat, jangan terpengaruh kalau ada orang yang berbuat tidak semestinya, berpikir positif, tidak iri dan dengki dengan hasil yang didapatkan orang lain. Jangan senang lihat orang lain susah, susah lihat orang lain senang! 6. Berorientasi ke masa depan dan yakin bahwa setiap yang kita usahakan pasti ada balasannya. 7. Yakin akan rejeki, sabar, hidup sederhana dan mencari teladan/panutan manusia yang memiliki standar nilai yang tinggi dan kualitas hidup yang terbaik. 8. Memotivasi diri untuk mengakselerasi keahlian agar kompetensi dan nilai jual kita naik, tentu otomatis penghasilan kita juga ikut naik. 9. Melatih diri (life skill) dengan hidup yang stabil, bergaul dengan orang baik-baik, tidak gampang terpengaruh tapi juga tidak gampang menyerah. 10. Memperbaharui iman mencapai kesalehan, selalu bersihkan diri, waspada terhadap segala pemberian dan mengetahui jelas sumbernya. 11. Berusaha mencari kantor yang memberikan penghasilan lebih baik seperti Kantor Pelayanan Utama (KPU). Banyak yang sepakat mengatakan, kejujuran merupakan pondasi kepercayaan. Ini pasti benar dan sama-sama sudah kita akui sebagai kebenaran. Cuma, ada satu hal yang sering kita lupakan bahwa yang membuat kita menjadi orang yang tidak jujur, bukan saja persoalan komitmen moral, tetapi juga keahlian atau kapasitas personal. Kalau Anda hanya punya pendapatan tetap sebanyak dua juta tetapi Anda harus menanggung kredit per bulan sebanyak lima juta, maka Anda mendapatkan stimuli dan force yang cukup kuat untuk berbohong. Sebagian kita “terpaksa” berbohong bukan karena rusak imannya tetapi karena kapasitasnya belum sampai. Di sini yang diperlukan adalah kemampuan mengukur kadar diri (self-understanding), pengetahuan-diri (self knowledge) atau kemampuan membuat keputusan yang bagus (the right decision). Waspadalah !!!.

SEBAB MUSABAB ORANG TERJANGKITI DISTORSI DAN KONTAMINASI
Dari beberapa faktor kiranya penulis dapat menemukan faktor penyebab orang mudah terkena distorsi dan kontaminasi pemikiran maupun sikapnya antara lain : 1. Kelemahan ilmu/pemahaman akan adanya situasi dan kondisi yang berubah, sehingga tidak mengetahui tuntutan dan standar paradigma baru yang up to date dan reliabel. 2. Tidak mengetahui standar operating prosedur yang seharusnya, tidak mampu membedakan antara diskresi dan distorsi/penyimpangan, sehingga mudah untuk disetir dan dibohongi. 3. Lemahnya koordinasi dan hubungan human relationship dengan orang lain, sehingga tidak tahu harus berbuat apa. 4. Tidak punya pendirian/prinsip dan cenderung mengikuti 64
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

Penulis adalah PFPD pada KPU DJBC Tanjung Priok

OPINI

3K S

Betah di Tempat Kerja Dengan

Oleh: Ari Widodo

AGAR BISA BERPRESTASI, TERUTAMA SAAT KITA MEMASUKI SEBUAH BIDANG YANG BARU, KITA HARUS MULAI BELAJAR MENGENAL APA PERAN KITA, APA TUGASTUGAS KITA, APA TANGGUNG JAWAB KITA

“ ”

sa sebagai penjual jamu, sehingga dia menjawab, “Ada etiap orang tentunya ingin memiliki atau memPak... mau diminum di sini atau dibungkus Pak?”. Dan peroleh sesuatu yang sesuai dengan yang “Tak!!!!!”, muka Dicky pun lebam-lebam karena ditampar benar-benar diinginkannya. Namun dalam hidup oleh calon pembelinya. tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud. Dari ilustrasi tersebut di atas, bisa diketahui bahwa Begitu juga saat kita menginginkan sebuah Dicky belum mengenal betul peran barunya. Dia masih pekerjaan atau tempat kerja, pasti kita ingin yang sesuai terjebak dengan peran lamanya dan belum bisa segera dengan yang kita inginkan. Baik itu dari segi kesesuaian menyesuaikan diri dengan peran barunya. Hal inilah yang pekerjaan dengan latar belakang pendidikan kita, kedesering kita alami saat kita memasuki dunia kerja yang katan tempat kerja dengan tempat tinggal kita, kesesuaibaru atau pindah tugas ke tempat yang baru. an lingkungan kerja dengan keyakinan dan budaya kita. Misalnya saja si A adalah seorang verifikator yang diNamun tak selamanya semua itu bisa kita dapatkan. pindahkan sehingga menjadi seorang auditor. Pada saat Jika apa yang kita inginkan dalam pekerjaan atau menjalankan tugas yang baru sebagai seorang auditor, si tempat kerja tak sesuai dengan keinginan, maka ada 2 A masih merasa sebagai seorang verifikator, sehingga dia alternatif yang bisa kita ambil. Alternatif pertama adalah hanya melakukan penelitian terhadap dokumen kita keluar dari pekerjaan yang telah kita peroleh, kemukepabeanan (PIB dan lampirannya) dan segera mengamdian kita mencari pekerjaan atau tempat lain. Alternatif bil kesimpulan. Padahal sebagai seorang auditor si A kedua adalah kita terima apa pun pekerjaan atau tempat harus juga melakukan penelitian terhadap kerja yang kita peroleh, dengan konsekuensi data-data dan pembukuan yang dimiliki oleh kita harus beradaptasi dengan pekerjaan atau perusahaan, bahkan juga data-data dari tempat kerja tersebut. Karena tanpa adaptasi tentunya kita tidak akan betah dengan DALAM PRAKTEK pihak ketiga, baru setelah itu dia bisa mengambil kesimpulan. Oleh karena si A belum pekerjaan atau tempat kerja kita, yang pada SEHARI-HARI, KITA mengenal betul perannya yang baru sebagai akhirnya kita tidak dapat berprestasi dengan maksimal. HARUS MENGENAL seorang auditor, hasil kerjanya kemungkinan besar tidak akan sesuai dengan harapan Permasalahannya sekarang, proses adapLINGKUNGAN KITA yang disandarkan di pundaknya. tasi agar kita bisa betah atau kerasan dengan Agar bisa berprestasi, terutama saat kita pekerjaan atau tempat kerja kita tidaklah memasuki sebuah bidang yang baru, kita semudah membalikkan telapak tangan. Perlu harus mulai belajar mengenal apa peran beberapa langkah serius yang membuat kita kita, apa tugas-tugas kita, apa tanggung jawab kita. bisa betah di tempat kerja. Apa sajakah langkah-langkah Proses pengenalan peran itu tidak hanya dengan itu? Ada 3 langkah yang bisa kita tempuh, yang biasa dibertanya kiri kanan. Jika itu yang kita lakukan, maka kita sebut dengan 3K, yaitu : kenali peranmu, kenali posisiakan menjalankan tugas kita hanya seperti pendahulu mu dan kenali lingkunganmu. Mari kita bahas ketiga K terkita, tanpa tahu dasar hukumnya. Sering dalam situasi sesebut satu persatu. perti ini kita berlindung dengan kata-kata, “Biasanya begitu sih”. 1. Kenali Peranmu Namun proses pengenalan peran juga tidak hanya deSetelah lama berusaha dalam bidang jual beli jamu ngan mencari dan mempelajari dasar hukum dari tugasdengan membuka warung jamu di pinggir jalan di depan tugas kita saja. Jika itu yang kita lakukan, maka kita akan rumahnya dan merasa kurang sukses Dicky beralih menjadi kaku dan tidak fleksibel. Bahkan mungkin kita haluan dengan membuka toko tanaman dan obat-obatan akan dianggap aneh dan dikucilkan, karena yang kita untuk tanaman. Dicky berharap dengan usaha barunya itu lakukan berbeda dengan orang-orang di sekitar kita. Kita dia bisa lebih sukses dari sebelumnya. akan menghadapi kenyataan bahwa antara teori dan Hari-hari pertama dengan usaha barunya Dicky mengpraktek kadang tidak sejalan. alami sesuatu yang kurang mengenakkan. Ada seorang Yang harus kita lakukan adalah keduanya. Selain pembeli yang datang. “Ada racun tikus Pak?”. Karena bemempelajari dasar hukum dari tugas-tugas kita, kita juga lum terbiasa dengan profesi barunya, Dicky masih mera-

“ ”

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

65

OPINI
mengenal betul posisinya. Dia merasa sebagai pihak yang benar dan segera saja menuduh si lelaki sebagai pihak yang salah. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Dalam praktek kerja kita sehari-hari, kita sering menghadapi kasus yang serupa. Baik yang kita rasakan dari orang lain, maupun yang kita alami sendiri. Misalnya saja kita sedang berdebat dalam sebuah rapat atau sedang berdiskusi dengan pegawai lain ataupun sedang menghadapi sebuah kasus. Oleh karena kita merasa jabatan kita 2. Kenali Posisimu lebih tinggi kita merasa pendapat kita yang lebih baik, Dini adalah seorang public relation pada sebuah yang paling benar. Oleh karena itu kita memaksakan perusahaan terkemuka. Dia telah terbiasa untuk harus sependapat kita. Padahal seiring berjalannya waktu atau selalu ramah kepada setiap orang. Namun hari ini telah kita pelajari lagi landasan hukumnya, ternyata pensepulang kerja Dini merasa teramat sangat lelah setelah dapat orang lain itulah yang lebih baik atau lebih benar. seharian harus berpanas-panas di udara Jakarta yang Jika kita sering melakukan hal itu, maka kita akan tidak bersahabat untuk suatu tugas dari kantornya. Dia dianggap sebagai orang yang mau menang sendiri, tidak sedang tidak ingin beramah-ramah dengan orang lain. bisa membedakan mana yang salah mana yang benar, Sore ini dia ingin menikmati sendiri perjalanan pulangnya atau tidak bisa menempatkan diri. Dengan demikian dengan kereta api express dari Gambir ke rumahnya di orang akan menjaga jarak dengan kita. Hal seperti inilah daerah Bogor. Udara kereta api yang dingin karena AC yang membuat kita merasa tidak betah di tempat kerja. sangat berbeda dengan udara yang dirasakannya sehariOleh karena itu, kita harus mengenali posisi kita. Apaan tadi. kah kita berada pada posisi yang benar atau salah, posisi Dini segera mengeluarkan dari tasnya sebungkus kayang kuat atau lemah. Jika kita tahu dan mengenal posisi cang telor yang tadi dibelinya di kios dekat pintu masuk. kita, jika kita pada posisi yang benar atau kuat, maka tiNikmat rasanya bisa menikmati kesendirian sambil dak ada salahnya kita bertahan mati-matian dengan penmenikmati kacang telor kesukaannya. Namun kenikmatan dapat kita. Namun akan lebih elegan bila kita bertahan itu tidak bisa berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada namun tetap dengan menghormati pendapat orang lain. seorang lelaki yang mengusiknya, “Maaf Mbak... boleh Jika kita tahu bahwa kita berada pada posisi yang saya duduk di sini”. Sekilas Dini melihat lelaki tersebut. salah atau lemah, maka akan lebih “Hmm... lumayan juga, “pikirnya. “Silaterhormat jika kita mengakui kesalahan kan Mas”. Segera digesernya tas dan atau kelemahan dan mau mengakui berkas-berkas yang tadi ditaruhnya di kebenaran atau kekuatan pendapat kursi kosong di sebelahnya. MEMANG BAIK MENJADI orang lain. Dengan demikian, baik Lelaki tersebut segera duduk di seORANG PENTING, NAMUN dalam posisi salah atau benar, lemah belahnya. Setelah berbasa-basi sejenak Dini ingin segera menikmati JAUH LEBIH PENTING UNTUK atau kuat, orang lain akan tetap menaruh respek kepada kita. lagi kacang atom kesukaannya. Tapi MENJADI ORANG BAIK sebelum tangannya bergerak, si lelaki 3. Kenali Lingkunganmu yang lumayan tadi lebih dulu Irwin adalah pegawai baru di mengambil kacang telor tersebut dan sebuah perusahaan yang cukup besar. segera mengunyahnya. “Sialan orang Sudah lama Irwin ingin segera mendapatkan pekerjaan. ini... mengambil milik orang begitu saja, tanpa minta ijin, Setelah berjuang mengejar-ngejar lowongan, akhirnya tanpa ngomong apa-apa, dasar mental pencuri, “begitu Irwin mendapat pekerjaan yang dia impi-impikan. Sebagai pikir Dini. Namun Dini sedang malas berdebat, akhirnya pegawai baru Irwin sangat bangga dengan pekerjaan dia pun mengambil juga kacang telor tadi dan barunya. Apalagi gedung kantornya begitu megah untuk memakannya. Lelaki itu pun mengikutinya. Setiap Dini ukuran Irwin. mengambil kacang telor, dia juga ikut mengambil. Sejak Hari pertama bekerja, Irwin masih canggung dengan itu Dini tidak berbicara sepatahpun dengan si lelaki. tugas barunya. Ingin bertanya kepada pegawai lain dia Hanya saja hatinya makin kesal tatkala kacang telor malu. Akhirnya dia hanya melihat-lihat ke sekelilingnya. kesukaannya tinggal 2 biji dan dia ingin memakannya, Dilihatnya di meja kerja pegawai lain ada gelas berisi air namun lelaki tersebut telah mendahuluinya. Dini makin minum. Ada yang berisi air putih, ada yang teh, ada juga merasa tak nyaman duduk di sebelah lelaki yang yang kopi. Irwin pun jadi merasa haus. Ingin rasanya dia menyebalkan itu. Untunglah kereta api segera tiba di memesan minuman, tapi tak tau harus memesan kemana. stasiun Bogor. Sekali lagi Irwin melihat ke sekitarnya, matanya Dini segera mengambil barang-barangnya dan turun segera melihat teman di belakangnya sedang memencet tanpa menyapa si lelaki di sebelahnya. Hatinya masih telepon dan berkata, “Jang... ini Simon, kirim teh manis kesal. Setelah sampai di luar stasiun, Dini segera naik ke panas ke mejaku ya”. Irwin sempat melihat tadi kalau atas taksi yang dihentikannya tadi. Sesampai di depan tidak salah Simon memencet angka 138. segera saja rumahnya taksi berhenti. Dini segera membuka tasnya Irwin ingin meniru Simon. Dia beranjak ke meja telepon di untuk mengambil uang dan membayar taksi. Namun apa dekatnya. Diangkatnya gagang telepon dan dipencetnya yang dilihatnya, ternyata di dalam tasnya masih ada angka 138, lalu dia berkata, “Jang... ini Irwin, kirim teh bungkusan kacang telor yang masih tersisa sepertiga manis panas ke mejaku ya”. bungkus. Namun jawaban yang didengarnya sungguh tak Segera saja Dini merasa malu dan menyesal. Betapa disangka-sangka, “He!!! Siapa ini? Kamu tahu siapa tadi dia telah menuduh si lelaki sebagai orang bermental saya? Saya ini Pak Rasyid, direktur utama di sini. Jangan pencuri, sebagai orang yang tidak sopan. Ternyata justru main-main ya”. Segera Irwin sadar, dia salah sambung ke dirinyalah yang bermental pencuri, mengambil milik orang direktur utama. Namun Irwin tak kehilangan akal, segera lain tanpa ijin. Betapa baiknya lelaki tadi. Barang miliknya dijawabnya, “He!!! Kamu juga jangan main-main. Kamu aku ambil tapi dia diam saja. Sungguh Dini sangat ingin tahu siapa saya?”. Terdengar jawaban Pak Rasyid minta maaf, namun apa mau dikata, mereka telah dengan nada ragu-ragu, “Maaf Pak... Bapak siapa? berpisah dan mungkin tak akan bertemu lagi. Sungguh saya tidak tahu Pak, maaf”. Mendengar jawaban Dari ilustrasi di atas, dapat kita lihat bahwa Dini tidak harus belajar dari lingkungan. Dengan demikian kita bisa menyelaraskan antara teori dengan praktek di lapangan. Perbedaan-perbedaan di antara kedua hal tersebut dapat kita pelajari solusinya dari pengalaman para senior, namun kita tetap tahu bagaimana sebenarnya landasan hukumnya. Dengan demikian kita akan mudah diterima oleh lingkungan dan hal tersebut akan membuat kita betah di tempat kerja.

“ ”

66

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

KOPERASI
itu Irwin segera berucap, “Syukurlah...”, lalu ditutupnya gagang telepon itu. Dari ilustrasi di atas, dapat dilihat bahwa Irwin tidak mengenal lingkungannya. Dia tidak tahu dengan siapa dia berhadapan, sehingga dia menampilkan sikap yang salah yang tidak seharusnya dia tampilkan. Mungkin saat itu Irwin beruntung, karena ternyata direktur utamanya juga tidak tahu dengan siapa dia berhadapan. Namun tidak selamanya keberuntungan seperti itu akan berulang. Dalam praktek sehari-hari, kita harus mengenal lingkungan kita. Kita harus tahu siapa-siapa yang kita hadapi. Tipe dan karakter orang bermacam-macam. Ada yang temperamen, ada yang sabar, ada yang terbuka, ada yang tertutup, ada yang mudah bergaul, ada yang sulit bergaul, dan ada yang memiliki kombinasi karakter-karakter tersebut. Dengan mengenal tipe dan karakter orang-orang yang akan kita hadapi, maka kita akan mudah menentukan sikap yang akan kita ambil untuk menghadapinya. Hal ini berlaku baik terhadap atasan, teman sejawat, maupun terhadap bawahan. Pada saat menghadapi orang yang temperamen, kita sebaiknya tidak menampilkan sikap sebagai pihak yang berada pada posisi yang berlawanan. Setidaknya tidak secara frontal. Begitu juga saat menghadapi orang dengan karakter yang lain, kita juga harus mengambil sikap yang sesuai. Dengan demikian kita akan merasa berada di antara “kawan-kawan”. Setidaknya lingkungan kita menganggap bahwa kita adalah “kawan” mereka. Dengan demikian sangat masuk akal bahwa kita akan merasa betah berada di tempat kerja kita.

Juara III Lomba Karya Tulis Dalam Rangka Hari Koperasi

Koperasi
di Era Kapitalisme
Oleh: Mu’amar Khadafi

Meningkatkan Keunggulan Kompetitif

P

KESIMPULAN
Dengan melakukan 3K, kenali peranmu, kenali posisimu dan kenali lingkunganmu, diharapkan kita bisa beradaptasi dan diterima oleh lingkungan kita. Dengan mengenali peran kita, kita bisa menjalani peran sesuai dengan yang diharapkan oleh lingkungan kerja, namun tetap dalam koridor yang telah ditetapkan. Dengan demikian lingkungan akan mudah menerima kita. Dengan mengenali posisi kita, kita bisa tahu di mana kita harus menempatkan diri. Kita bisa tetap mendapat respek dari orang-orang di sekitar kita, baik saat kita berada pada posisi yang kuat atau benar, maupun pada saat kita berada pada posisi yang lemah atau salah. Dengan mengenali lingkungan kita, kita akan tahu dengan siapa saja kita akan berhadapan. Dengan demikian kita bisa menentukan sikap yang sesuai untuk menghadapi orang-orang dengan berbagai karakternya. Pada akhirnya lingkungan akan merasa bahwa kita adalah “kawan” mereka. Jika kita bisa menjalankan ketiga K secara simultan, besar kemungkinan kita akan bisa beradaptasi dengan lingkungan, sementara di lain pihak lingkungan pun akan mudah menerima kita. Pada saat kita dan lingkungan bisa saling menerima, tentunya kita akan betah dan kerasan di tempat kerja. Ingatlah selalu bahwa orang yang baik adalah orang yang ditangisi kepergiannya karena orang di sekitarnya merasa kehilangan, bukan orang yang saat dia harus meninggalkan tempat kerjanya karena dipindahkan ke tempat lain, namun orang di sekitarnya merasa bersyukur karena telah berkurang satu masalah dengan kepergian orang tersebut. Memang baik menjadi orang penting, namun jauh lebih penting untuk menjadi orang baik.

Penulis adalah Kepala Seksi Perencanaan Audit Impor, Dit. Audit DJBC

epatah bijak mengatakan, belajarlah dari sejarah karena sejarah akan terulang kembali. Bahkan Bung Karno pernah menyampaikan arti penting sejarah dalam sebuah pidatonya yang berjudul “JAS MERAH” yang merupakan singkatan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Sejarah berdirinya koperasi tidak terlepas dari dua peristiwa penting yang terjadi di Inggris dan Perancis pada abad XVIII. Lahirnya Revolusi Industri di Inggris yang didahului dengan penemuan-penemuan mesin berbasis teknologi, di satu sisi menyebabkan kerugian dan penderitaan di pihak kaum buruh, kaum petani dan rakyat kecil. Mereka menerima upah yang sangat rendah disebabkan banyaknya penawaran tenaga kerja. Jumlah pengangguran meningkat karena banyak tenaga kerja manusia digantikan dengan mesin-mesin pabrik. Pada era inilah paham kapitalisme mulai tumbuh dengan pesat. Yaitu mulai adanya dominasi sosial dan adanya eksploitasi ekonomi oleh suatu golongan yang kuat terhadap golongan yang lemah dan tidak berdaya. Kekuatan modal atau capital menjadi dasar utama dalam setiap operasional perusahaan. Keuntungan materi menjadi satu-satunya tujuan akhir yang hendak dicapai oleh perusahaan (profit oriented). Tetapi justru di tengah ketidakberdayaan atas kuatnya sistem kapitalisme inilah lahir inspirasi istilah koperasi beserta gerakannya yang awal mulanya hanya merupakan defensive reflex (gerakan otomatis untuk membela diri) dari adanya tekanan-tekanan hidup dan dominasi sosial maupun ekonomi oleh kelompok tertentu. Terjadinya Revolusi Sosial di Perancis pada tahun 1789 yang didasari atas ketidakpuasan rakyat atas kekuasaan raja-raja dan kaum bangsawan yang sangat luas dan banyak mengabaikan hak-hak rakyat jelata juga memberikan inspirasi atas timbulnya suatu tatanan sosial yang dapat memperbaiki taraf kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Inspirasi ini pada akhirnya mendorong berkembangnya koperasi produksi di Perancis. Jika kita amati kondisi sosial dan ekonomi saat ini, maka akan kita dapati keadaan yang hampir sama dengan kondisi di Inggris dan Perancis pada abad XVIII silam. Berbagai pusat perbelanjaan dengan kekuatan modal yang seperti tidak terbatas dengan sarana yang super mewah mulai dari yang ada di pusat kota sampai di kota-kota kecil dapat kita jumpai dengan mudah. Harga dan berbagai fasilitas yang ditawarkan pun membuat kita sering tak mampu menahan godaan untuk memenuhi tawarannya. Belum lagi tingkat kenyamanan berbelanja dengan ruangan yang dingin ber-AC, tempat parkir yang luas, dan tersedianya sarana bermain anak-anak. Sebut saja Carrefour, Hero, Giant, Hypermart, Superindo, Alfamart, Indomart dan lain sebagainya.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

67

KOPERASI
Setelah mengetahui perbedaan karakteristik antara Yang menjadi pertanyaan bagi kita sebagai anggota kopekoperasi dengan Bentuk Usaha lainnya yang dalam hal ini rasi adalah masih adakah tempat buat koperasi di hati kita ? diwakili oleh PT, maka koperasi dapat berkonsentrasi Jika mau jujur, mungkin dapat kita hitung dengan jari berapa pada peningkatan keunggulan kompetitifnya yaitu : kali kita berbelanja di koperasi dalam satu bulan. Berapa rupiah uang yang kita belanjakan di koperasi dari total penge1. Tujuan luaran belanja kita per bulan ? Mungkin tidak sampai 10 %, Dalam menjalankan usahanya apapun bentuk dan jeatau jangan-jangan malah tidak ada sama sekali. Atau yang nisnya (seperti koperasi konsumsi, koperasi simpan mungkin lebih parah lagi, kita tidak pernah menginjakkan kaki pinjam, dan lain-lain), koperasi harus senantiasa kita di koperasi selama lebih dari satu bulan. Kalau demikian memegang teguh tujuan yang hendak dicapai sebahalnya kapankah koperasi dapat berkembang dan pada gaimana diamanatkan dalam pasal 3 Undang-undang gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya ? No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. Kita dapat belajar dari dua peristiwa penting Disebutkan bahwa koperasi bertujuan memajuyang terjadi pada abad XVIII yang terjadi di Inggris kan kesejahteraan anggota pada khususnya dengan Revolusi Industrinya dan di Perancis dedan masyarakat pada umumnya serta ikut ngan Revolusi Sosialnya sebagaimana disebutkan MASIH membangun tatanan perekonomian nasional di atas. Paling tidak di tengah himpitan raksasa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang pemilik modal yang saat ini hampir menguasai seADAKAH mua aspek hajat hidup orang banyak, koperasi daTEMPAT BUAT maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. pat bangkit untuk kembali mendapat tempat di hati Kata kunci dari tujuan koperasi ini adamasyarakat khususnya para anggotanya sendiri. KOPERASI DI lah memajukan kesejahteraan anggotanya. Salah satu cara agar koperasi dapat mendaHATI KITA ? Tujuan koperasi yang mulia dan berdimensi pat tempat di hati para anggotanya yang dihakemanusiaan dan kebangsaan ini dapat terwurapkan dapat menjadi pelanggan setia dalam jud jika kesejahteraan anggotanya meningkat. memenuhi kebutuhan barang dan jasanya, maka Banyak aspek yang menjadi tolok ukur apakah koperasi perlu meningkatkan keunggulan komkesejahteraan anggotanya meningkat atau tidak. petitifnya yang tidak dimiliki oleh badan usaha atau benSecara riil dapat dikatakan bahwa kesejahteraan tuk usaha lainnya seperti Perusahaan Perorangan, Persemeningkat apabila pendapatan meningkat. kutuan Komanditer (CV) dan Perseroan Terbatas (PT). Peranan yang dapat diambil oleh koperasi dalam hal Untuk lebih memudahkan kita mengidentifikasi keunggulini adalah melakukan pembelian bersama dan penjualan kompetitif apa saja yang dimiliki oleh koperasi, marilah an bersama. Melalui pembelian bersama, koperasi kita lihat hal-hal karakteristik yang membedakan koperasi dapat menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan bentuk usaha lainnya (dalam hal ini perbandingan para anggotanya dengan membeli secara langsung dengan PT). kepada produsen atau agen dalam jumlah besar Menurut Prof. R.S. Soeriaatmadja sebagaimana dikusehingga mendapatkan discount atau potongan harga. tip oleh Drs. Hendrojogi, MSc. dalam bukunya yang Selanjutnya para pegawai selaku anggota dapat berberjudul “Koperasi, Azas-azas, Teori dan Praktek”, terdabelanja di koperasi dengan harga yang lebih murah. pat lima perbedaan antara koperasi dan PT sebagaimaDengan mendapatkan harga barang-barang yang lebih na diuraikan dalam bagan di bawah ini :

“ ”

Perbedaan antara Koperasi dan Perseroan Terbatas (PT)
Koperasi 1. Tujuan Tidak semata-mata mencari keuntung- an, tetapi terutama untuk memperbaiki kesejahteraan para anggota. 2. Keanggotaan, Modal dan Keuntungan Anggotanya adalah yang utama. Jadi koperasi adalah kumpulan dari orang-orang. Modal adalah sebagai alat. Keuntungan yang diperoleh dibagi kepada anggota menurut jasa masing-masing. 3. Tanda Peserta Koperasi hanya mengenal satu macam keanggotaan dan tanda peserta tidak boleh diperjual-belikan. Perseroan Terbatas (PT) 1. Tujuan Mencari keuntungan sebesar-besarnya.

2. Keanggotaan, Modal dan Keuntungan Modal adalah primer. Jadi merupakan kumpulan modal. Orang adalah sekunder. Jumlah modal menentukan besarnya hak suara dan keuntungan dibagi menurut besar/kecilnya modal. 3. Tanda Peserta Dinamakan pesero atau saham. Terdapat lebih dari satu jenis saham dan masing-masing jenis mempunyai hak yang berbeda-beda. Selain itu saham boleh diperjual-belikan. 4. Pemilikan dan Hak Suara Saham dapat terpusat pada satu atau beberapa orang, sehingga bisa terjadi konsentrasi modal, dengan konse- kuensi bahwa kebijaksanaan perusahaan tersebut bisa hanya ditentukan oleh satu atau dua orang saja, dimana saham terpusat. Hak suara boleh diwakilkan. 5. Cara Bekerja Cara bekerja tidak terbuka dan Direksi memegang peranan dalam pengelolaan usaha (organisasi).

4. Pemilikan dan Hak Suara Tidak ada perbedaan hak suara diantara sesama anggota. Satu anggota satu suara dan hak suara tidak boleh diwakilkan (no voting by proxy).

5. Cara Bekerja Koperasi bekerja secara terbuka dan diketahui oleh semua anggota.

68

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

murah dengan tingkat penghasilan yang sama berarti pendapatan riil meningkat. Melalui penjualan bersama, koperasi dapat menampung barang-barang hasil produksi anggotanya untuk kemudian bertindak atas nama anggota menjual secara bersama-sama kepada pembeli yang mampu membeli dengan harga lebih tinggi. Dengan menjual produk dengan harga yang lebih tinggi berarti meningkatkan pendapatan riil. 2. Keanggotaan dan Modal Karena di dalam koperasi anggota adalah yang utama, maka koperasi adalah kumpulan dari orang-orang. Secara otomatis modal dalam arti uang akan terkumpul dalam jumlah banyak seiring dengan bertambahnya anggota. Dalam hal ini Koperasi Pegawai Kantor Pusat DJBC (Kopesat) mempunyai keunggulan kompetitif tersendiri yaitu kemudahan untuk merekrut pegawai sebagai anggota koperasi. Dengan jumlah pegawai yang cukup besar di lingkungan Kantor Pusat ditambah pegawai kantorkantor di lingkungan Jabodetabek, maka modal dapat terkumpul dalam jumlah yang cukup signifikan. Yang mungkin dapat dipikirkan untuk menambah modal dalam kaitannya dengan jumlah anggota adalah memperluas keanggotaan pegawai tidak hanya di Jabodetabek tetapi diperluas sampai seluruh pulau Jawa.

wujud dari partisipasi mereka dalam manajemen koperasi secara tidak langsung. Kehadiran dan partisipasi anggota dalam acara Rapatrapat Anggota koperasi sangat dibutuhkan agar aspirasi, keinginan, usul, saran dan pemikiranpemikiran para anggota dapat disampaikan. Tetapi karena Rapat Anggota Koperasi tidak bisa sewaktuwaktu diadakan dan hanya merupakan sebuah forum yang tidak bisa secara aktif dan terus menerus mengelola koperasi, maka Rapat Anggota memberikan kuasa kepada pengurus untuk mengelola koperasi. Sistem pemilikan dan hak suara yang ada dalam koperasi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh anggota untuk dapat berperan dalam menentukan arah kebijakan yang akan ditempuh. Hal ini mengandung nilai positif sesuai dengan azas yang dianut yaitu azas kekeluargaan dan dapat menghindari pemaksaan kehendak atau dominasi oleh sekelompok orang tertentu yang mempunyai modal besar. Oleh karena itu sistem pemilikan dan hak suara yang ada dalam koperasi merupakan keunggulan kompetitif yang harus terus dikembangkan mekanisme pelaksanaannya.

5. Cara Bekerja Koperasi bekerja secara terbuka dan diketahui oleh semua anggota. Seiring dengan berkembangnya era keterbukaan yang ditandai dengan reformasi baik di bidang birokrasi pemerintahan maupun non pemerintahan, maka transparansi merupakan suatu keniscaya3. Tanda Peserta an yang harus dipegang erat dalam melaksanakan Koperasi hanya mengenal satu macam keanggotaan kegiatan. Peran serta anggota dalam dan tanda peserta tidak boleh diperjualmenentukan kebijakan yang dituangkan belikan. Dengan sistem keanggotaan dalam bentuk kegiatan usaha koperasi peserta yang sederhana dan hanya satu mutlak diperlukan. Kemudahan bagi anggota macam merupakan suatu keunggulan PARA PEGAWAI untuk dapat mengakses segala informasi tersendiri bagi Kopesat. Perbedaan pangkat, golongan dan jabatan bukan SELAKU ANGGOTA yang diatur sesuai Anggaran Dasar harus utama. Baik merupakan suatu halangan untuk menjaDAPAT BERBELANJA mendapat prioritasJurnal, Warta melalui Laporan Bulanan, koperasi, di anggota koperasi. Dengan kata lain Laporan Keuangan dan sebagainya. siapapun pegawai Direktorat Jenderal DI KOPERASI Cara ini dapat juga digunakan untuk Bea dan Cukai yang bertugas di lingkungDENGAN HARGA merangsang peran serta anggota untuk ikut an Jabodetabek atau bahkan seluruh pulau Jawa dapat menjadi anggota KoYANG LEBIH MURAH mengawasi jalannya pengelolaan koperasi. Hal inilah yang membedakan koperasi pesat. Begitu juga dengan pengawasan dengan Bentuk Usaha lainnya, dimana Sistem Administrasi peserta/anggota sistem dan cara bekerjanya tidak terbuka. koperasi dapat dilakukan dengan relatif Arah kebijakan dan pengelolaan usaha berlebih mudah karena sedikit banyak ada sepenuhnya di tangan Direksi. Keunggulan masih melekat pada Sistem Administrasi Kepegawaian kompetitif berupa cara bekerja yang terbuka ini juga terkait dengan mutasi pegawai. dapat dikembangkan oleh koperasi untuk dapat terus Keanggotaan koperasi yang tidak bisa diperjual-belimeningkatkan kinerja dengan dukungan penuh angkan atau dipindahtangankan mengandung arti bahwa gotanya. persyaratan untuk menjadi anggota koperasi adalah kepentingan ekonomi yang melekat pada anggota/ Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pegawai bersangkutan. Jika pegawai yang menjadi agar koperasi dapat terus berkembang di era kapitalisme angota koperasi meninggal dunia, maka keanggotaandan kembali mendapat tempat di hati anggotanya, maka nya dapat diteruskan oleh keluarga atau ahli waris koperasi harus terus meningkatkan keunggulan kompetitif yang memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dayang merupakan sifat dan karakteristiknya yang tidak lam Anggaran Dasar. Kebijaksanaan ini bertujuan agar dimiliki oleh Bentuk Usaha lainnya. kepentingan ahli waris tetap terjaga dan memberikan kemudahan untuk menjadi anggota.

“ ”

4. Pemilikan dan Hak Suara Di dalam koperasi tidak ada perbedaan hak suara diantara sesama anggota. Rapat Anggota memegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi koperasi. Karena Rapat Anggota merupakan suatu tempat dimana berkumpul suara-suara anggota dan hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu. Setiap anggota mempunyai satu suara. Penggunaan hak suara dalam Rapat Anggota tidak boleh diwakilkan (no voting by proxy). Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendorong anggota menghadiri Rapat-rapat Anggota sebagai

DAFTAR PUSTAKA : Hendrojogi, Drs. MSc., Koperasi, Azas-azas, Teori dan Praktek, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000. Sukamdiyo Ign. Drs. M.S., Manajemen Koperasi, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1996. Sumarsono Sonny, Manajemen Koperasi, Teori dan Praktek, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2003. Undang-undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Data Penulis Nama : Muamar Khadafi NIP : 060083381 Unit Kerja : Bidang Audit Kantor Wilayah DJBC Banten
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

69

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

Penyegelan Peti Kemas

P

erusahaan kami rutin melakukan impor pupuk organik non subsidi berbahan dasar batuan organik. Pada Juli 2007 ketika kami menyelesaikan formalitas kepabeanan dan mendapat PJM, diketahui peti kemas telah disegel merah oleh aparat Bea Cukai. Dengan adanya Instruksi Pemeriksaan Barang, kami ajukan Permohonan Pembukaan Segel kepada Unit Kerja Bea Cukai P2 yang memerlukan waktu 1 hari kerja karena birokrasi yang panjang. Paska pemeriksaan barang dan semua sesuai dokumen, peti kemas disegel kembali. Setelah terbit SPPB kami ajukan permintaan Pembukaan Segel agar barang dapat keluar dari wilayah pabean yang juga membutuhkan waktu 1 hari jam kerja, yang sebelumnya ditetapkan oleh Korlak Patroli & Operasi agar peti kemas ditegahi sambil menunggu hasil uji lab dari BPIB. Yang saya ketahui untuk uji laboratoris membutuhkan waktu sampai 2 bulan karena terbatasnya staff analisis dan banyaknya contoh barang PIB yang harus diuji. Sepengetahuan saya peti kemas akan disegel oleh aparat BC dalam hal jika diduga terjadi pelanggaran kepabeanan berdasarkan Nota Intelijen. Akibat penyegelan membuat biaya penumpukan membengkak, plus biaya demurrage oleh perusahaan agen pelayaran atas peti kemas. Pertanyaan saya : 1. Landasan apa saja yang membuat aparat BC melakukan segel terhadap suatu peti kemas impor ? 2. Mengapa pejabat BC masih perlukan uji lab, jika sudah dilampirkan uji lab terkini dari laboratorium terakreditasi ditambah pula impor adalah barang identik yang sudah sering di impor ? Demikian pertanyaan ini saya ajukan dengan harapan mendapat jawaban yang komprehensif. Hormat saya, IRWAN SUSANTIO, S.H Tembaga Dalam I No. L8B Letjen Suprapto, Jkt 10640

dibebankan kepada Direktorat Jenderal, pejabat Bea dan Cukai untuk mengamankan hak-hak negara berwenang mengambil tindakan yang diperlukan terhadap barang.” Penyegelan merupakan salah satu tindakan yang dapat dilakukan pejabat Bea dan Cukai dalam rangka mengamankan keuangan Negara dan menjamin dipenuhinya kewajiban Negara lainnya atas pemasukan barang ke dalam daerah pabean, sebagaimana diatur dalam Pasal 78 Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006. Mengingat terbatasnya informasi yang disampaikan dalam surat Saudara, kami belum dapat memberikan jawaban secara detil tentang penyebab penyegelan terhadap barang impor dimaksud, namun dapat kami sampaikan bahwa setiap tindakan yang dilaksanakan oleh pejabat Bea dan Cukai tentunya dilaksanakan berdasarkan pertimbangan atas risiko yang mungkin terjadi atas suatu importasi. Untuk mendapat jawaban yang lebih jelas dan pasti mengenai hal tersebut, kami sarankan untuk mengajukan pertanyaan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan dimana Saudara mendaftarkan PIB dimaksud disertai keterangan secara jelas mengenai nomor dan tanggal PIB, jumlah dan jenis kemasan, berat barang, negara asal, serta data pendukung lainnya. 2. Dalam rangka menjamin pemenuhan kewajiban pabean atas barang impor serta menetapkan tarif dan nilai pabean, pejabat Bea dan Cukai dapat meminta importir atau eksportir untuk menyerahkan contoh barang untuk tujuan pemeriksaan pemberitahuan, ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 16 dan Pasal 84 Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006. Komoditi pupuk adalah komoditi yang telah ditetapkan sebagai komoditi yang wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), sebagaimana diatur dalam Peraturan pemerintah Nomor 102 tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional, sehingga laboratorium pengujinya pun wajib terakreditasi dan telah ditetapkan oleh instansi teknis terkait, namun sekali lagi ditegaskan bahwa hal tersebut tidak mengurangi kewenangan pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pemeriksaan barang sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006. Direktur Penindakan dan Penyidikan HERU SANTOSO NIP 060051354

Tanggapan : Sehubungan dengan pertanyaan Sdr. Irwan Susantio, SH, dengan ini disampaikan jawaban sebagai berikut : 1. Bahwa berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 74 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 dinyatakan sebagai berikut : “Dalam melaksanakan tugas berdasarkan undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan lain yang pelaksanaannya 70
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

RUANG KESEHATAN

Sakit-sakitan Karena ASI ?

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

S
JAWAB :

aya punya anak lelaki berusia 7,5 bulan dan merupakan anak kedua. Anak kedua saya ini saya beri ASI ekslusif selama 6 bulan dengan harapan akan menjadi lebih kebal terhadap berbagai serangan penyakit. Teapi apa kenyataannya ? anak saya malah sering sekali sakit dibanding anak pertama. Padahal anak pertama sudah diberi susu formula sejak lahir. Dalam sebulan anak saya bisa sakit 3 kali dan setelah seminggu ia menyelesaikan ASI eksklusifnya dia kena flu, sembuh seminggu kemudian kena diare, kena lagi batuk pilek. Saya jadi pusing dibuatnya, yang ingin saya tanyakan, apakah anak saya alergi dengan ASI yang saya berikan atau apakah produksi ASI saya ini kurang baik kualitasnya? Kami mengerti kegelisahan dan kebingungan ibu. Di satu sisi ASI adalah minuman/ makanan yang terbaik yang dapat diberikan pada putra tercinta kita, tetapi disisi lain seakan ASI tidak ada pengaruhnya. Secara garis besar ada 3 faktor yang mempengaruhi seorang anak sakit atau tidak, yaitu faktor genetik, faktor perilaku dan lingkungannya. Faktor genetik atau bawaan ada sejak bayi dalam kandungan, misalnya karena pemakaian obatobatan selama kehamilan, gangguan perkembangan saat dalam kandungan, dan lain-lain. Faktor perilaku dalam hal ini pola makan anak balita, pola istirahatnya, pemberian imunisasi lengkap dan sesuai jadwal. Faktor lingkungan terutama lingkungan di sekitar anak, kebersihannya, polusinya, pembuangan sampah dan jangan lupa lingkungan pergaulan anak kita, karena tahun-tahun pertama adalah tahun-tahun rawan untuk terjangkit atau tertular penyakit dari orang sekitarnya. Ketika lahir hingga berusia 6 bulan, dianjurkan ASI menjadi satu-satunya sumber makanan anak yang dislot sebagai ASI Eksekutif. Setelah itu ASI tetap diberikan semaksimal mungkin ditambah makanan bergizi lain sesuai tahapan usianya. Pada tahun pertama putra kita akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan cepat sekali. Berat badan menjadi 3 kali berat badan saat lahir, 2 kali lebih tinggi, otak menjadi ¾ dari otak dewasa, sistim syaraf menjadi lebih sempurna, demikian juga organ-organ lain. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori. Untuk memenuhi kebutuhannya baik ASI maupun PASI (Pengganti Air Susu Ibu) sama-sama dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak kita. Walaupun demikian pemberian ASI mempunyai keuntungan lebih. Bahkan telah dibuktikan bahwa komposisi

ASI ibu yang melahirkan kurang bulan (prematur) berbeda dengan komposisi ASI pada ibu yang melahirkan cukup bulan. Kadar proteinnya lebih tinggi disesuaikan dengan kebutuhan bayi premature untuk mengejar ketertinggalannya, sehingga komposisi ASI benar-benar sesuai dengan kebutuhan putra yang kita cintai. Ada banyak macam merek susu formula dari susu formula normal maupun susu formula khusus semua didesain mendekati komposisi ASI. Namun demikian, dua keunggulan utama ASI yaitu faktor imunologis (kekbalan) dan psikologis (ikatan batin ibu anak) tidak dapat dimasukkan ke dalam susu formula. Disamping itu keunggulan lain ASI adalah ; l mudah dicerna dan diserap oleh tubuh bayi l mencegah Ibu mengalami pendarahan berlebih pasca melahirkan l mencegah kanker payudara dan kanker indung telur l salah satu cara mengatur jarak kelahiran l tidak menyebabkan alergi Sistim alergi pada seorang bayi sebetulnya belum sempurna. Dengan pemberian susu formula yang dapat bekerja sebagai protein asing akan dapat menyebabkan reaksi alergi bayi jadi aktif. Karena itu dianjurkan pemberian susu formula sedapat mungkin ditunda sampai 6 bulan agar reaksi alergi bayi jadi sangat berkurang nantinya. Bila bayi yang mendapat ASI menunjukkan gejala-gejala alergi seperti; diare, tidak nyaman di perut sehingga anak menjadi rewel dan mudan menangis, muntah, sesak dan batuk, eksim, benjol-benjol gatal, berat badan sulit naik, maka perlu ditinjau kembali diet atau asupan makanan ibu. Mungkin ada makanan-makanan tertenu yang dimakan yang membuat anak mempunyai gejala-gejala seperti di atas. Bila ada maka, hindari makanan/ minuman tersebut dan konsultasikan pada ahli gizi untuk memodifikasi asupan ibu. Dari penelitian kualitas ASI adalah teap yang terbaik. Mudahmudahan pemaparan tadi dapat memberi gambaran bagi ibu dan putra tercinta untuk menjadi lebih sehat. Berikut ini ada tips sukses menyusui, yaitu : l Asupan nutrisi ibu harus lengkap l Asupan kalori dan air harus cukup l Hindari stress, karena kesehatan dan emosi ibu sangat mempengaruhi l Berikan ASI sesering mungkin l Menyusui dengan payudara sampai habis, yang dilakukan secara bergantian. dr. Maya C.L.M, Poliklinik Umum KP DJBC
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

71

RENUNGAN ROHANI

Kembali Kepada

Maksud Allah memberikan bulan suci Ramadhan kepada manusia adalah dengan maksud agar kita mencapai derajat takwa. Oleh karena itu hendaknya pakaian takwa yang sedang kita pakai sekarang ini, yang telah kita tenun sebulan lamanya, dapat melahirkan satu sikap hidup yang penuh keteguhan, keyakinan, sekaligus kerendahhatiandan kesederhanaan. Idhul Fitri adalah suatu momen penting sebagai titik berpijak untuk melangkah ke depan.

Fitrah
“ ”

S

karena kodrat inilah maka ber-Islam berarti bersifat fitri, ecara bahasa, Idhul Fitri berasal dari kata id alami, kodrati. yang berarti kembali dan fitrah yang mempunyai bermacam-macam makna, diantaranya adalah asal kejadian/penciptaan. Idhul Fitri berarti kemFITRAH, POTENSI BAWAAN SETIAP MANUSIA bali kepada asal kejadian. Ketika kita pertama Menurut Ibnu Taimiyah, seorang ulama besar asal Dakali diciptakan. Sering kita dengar orang mengatakan maskus yang digelari Syaikhul Islam, fitrah merupakan bahwa sehabis kita melaksanakan shalat idhul fitri , kita potensi bawaan setiap manusia. Potensi bawaan ini ada seolah-olah dilahirkan kembali menjadi bayi. Bayi adalah sejak jaman permulaan penciptaan manusia, yaitu pada manusia yang masih bersih, belum ditempeli oleh apa alam pernjanjian (alam mitsaq). Potensi bawaan itu berupun. Ia suci dari segala dosa, baik dosa warisan maupun pa agama Islam, yaitu mengenai (makhrifah) dan mencindosa asal. Suci adalah makna lain dari kata fitrah. Jadi tai (mahabbah) kepada Allah Swt. Potensi ini tidak hanya idhul fitri dapat juga diartikan kembali diberikan kepada keturunan muslim, atau kembali kepada kesucian. tetapi juga kepada seluruh manusia, Makna berikutnya, fitrah berarti potermasuk keturunan kafir. Jadi Idhul tensi ber-Islam. Nabi Muhammad Saw, “...MAKNA LAIN DARI FITRAH Fitri berarti juga kembali kepada Islam. bersabda: Bukankah aku telah mencePerlu diingat bahwa sesuatu yang beritakan kepadamu tentang sesuatu rupa potensi tidak mesti terjadi dalam ADALAH KESANGGUPAN yang Allah telah menceritakan kepadakenyataan. Potensi memerlukan usaha UNTUK MENERIMA ku dalam kitabNya, bahwa Allah untuk menjadikannya actual dan nyata. menciptakan Adam dan anak cucunya Hal ini sejalan dengan apa yang KEBENARAN. SECARA FITRI untuk berpotensi menjadi orang-orang disabdakan Nabi Muhammad Saw. MANUSIA LAHIR CENDERUNG Dalam sebuah hadits :Seseorang tidak Islam yang suci. (HR. Iyadh ibn Khumair). Hadits di atas menunjukkan dilahirkan kecuali dalam keadaan UNTUK MENCARI DAN bahwa tujuan penciptaan (fitrah) manufitrah. Kedua orang tuanyalah yang MENERIMA KEBENARAN” sia adalah agar ia mampu menerima menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Islam. Dengan pemaknaan ini maka seMajusi(HR. Bukhari dan Muslim). Jadi pada mulanya setiap manusia itu tiap bayi atau anak kecil yang meningmempunyai potensi menjadi Islam. gal dunia akan masuk surga sebab Namun apakah manusia tersebut akan tetap menjadi secara otomatis ia telah berislam sebelumnya, kendatipun muslim ataukah menjadi nonmuslim, kedua orang ia dilahirkan dalam keluarga non muslim. Ketentuan ini tuanyalah (factor lingkungan) yang menentukannya. Dari berlaku sebelum anak kecil tersebut mencapai usia akhil makna ini, Idhul Fitri berarti kembali kepada Islam. baliqh (dewasa). Fitrah berarti juga mengakui keEsaan Allah (tauhid Selanjutnya adalah penyerahan dan ketundukkan (alAllah). Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid, silm), perdamaian dan keamanan (al-salm) dan atau paling tidak, ia berkecenderungan untuk keselamatan (al-salamah).Manusia secara fitri membumengEsakan Tuhan, dan berusaha secara terus-menerus tuhkan suatu system ajaran yang dapat mendamaikan dan untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut. Hal ini menyelamatkan kehidupannya. Sistim ajaran ini karena sejak berada di alam rahim manusia telah sebenarnya telah diberikan oleh Allah kepada manusia mengadakan perjanjian dengan Allah untuk berTuhan sejak di alam immateri, yaitu al-Islam. Berislam berarti kepadaNya. Allah berfirman : “Dan ingatlah ketika penyerahan dan ketundukan manusia pada hukum dan Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari aturannya yang dapat menyelamatkan dan mendamaikan sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap hidupnya. Penolakan kepada Islam sama nilainya dengan jiwa mereka (seraya berfirman), bukankah aku ini Tuhanpenolakan kepada keselamatan dan kedamaian. Oleh
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

72

mu ? Mereka menjawab, benar (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi.” (Qs. Al-Araf (7):172). Menurut Ibnu Abbas yang dikutip oleh Muhammad Rasyid Ridha fitrah semacam itu merupakan perjanjian pertama yang perlu diikrarkan kembali pada perjanjian terakhir di alam materi (dunia). Barang siapa mati di usia belum baligh maka ia dihukumi Mislim sebab ia telah mengikrarkannya di alam perjanjian, meskipun ia lahir di keluarga non muslim. Namun jika ia telah mencapai usia akhil baligh sementara ia belum mengikrarkan ketauhidannya maka perjanjian pertamanya tidak dianggap lagi. Jika ia mati maka matinya dalam keadaan kafir. Dengan makna ini maka idhul fitri berarti kembali kepada pengakuan terhadap KeEsaan Allah. Makna lain dari fitrah adalah kesanggupan untuk menerima kebenaran. Secara fitri manusia lahir cenderung untuk mencari dan menerima kebenaran, walaupun pencarian itu masih tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam. Adakalanya manusia mampu menemukan kebenarannya, namun karena factor eksternal yang mempengaruhinya maka ia berpaling dari kebenaran itu. Penerimaan terhadap kebenaran pada prakteknya merupakan hal yang sangat sulit, apalagi bila kita sudah terlalu jauh dari kebenaran itu. Penerimaan kebenaran memerlukan kesiapan mental dan keberanian yang tinggi terhadapresiko yang akan ditanggung. Firaun semasa hidupnya enggan mengakui kebenaran (Allah), tetapi ketika mulai tenggelam dan ajalnya sudah diambang kematian, barulah ia mengakui kebenaran tersebut. Dengan pemaknaan ini idhul fitri berarti kembali menerima kebenaran. Makna lain fitrah adalah potensi dasar atau perasaan untuk beribadah dan makrifat (menegal) kepada Allah. Dalam Alquran Allah menyebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. “Tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahKu.(QS.AdzDzariat (56):51). Manusia diperintahkan beribadah agar ia mengenal Allah. Ibadah merupakan sarana manusia untuk mengaktualisasikan dirinya dan ekspresi suci yang tinggi, yang dapat menentukan eksistensinya. Lalu fitrah juga bermakna tabiat atau watak asli manusia. Manusia memiliki tabiat baik dan tabiat buruk, tetapi yang pada dasarnya tabiat manusia adalah baik. Menurut Hamka, fitrah adalah rasa asli murni pada jiwa manusia yang belum dipengaruhi oleh pengaruh buruk yang lain. Sifat alami manusia adalah sesuai dengan sifat-sifat Allah yang baik (asmaul husna). Allah berfirman : “Dan Aku titipkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku (QS.Al Hijr:29). Dalam peniupan ruh itu sekaligus Allah memasukkan sifat-sifatNya ke dalam fitrah manusia. Marilah kita semua kembalikepada fitrah kita, kembali kepada asal kejadian, kembali menjadi seperti bayi yang suci dan bersih dari noda dan dosa, kembali kepada Islam dan mengakui KeEsaan Allah, serta senantiasa menerima kebenaran betapapun pahitnya. Dengan Idhul Fitri kita juga harus selalu memelihara sifat alami kita agar selalu baik dengan senantiasa menjalankan ibadah kepadaNya. Kita baru saja melalui ujian bulan Ramadhan yang diberikan oleh Allah dengan maksud agar kita mencapai derajat takwa. Oleh karena itu hendaknya pakaian takwa yang sedang kita pakai sekarang ini, yang telah kita tenun sebulan lamanya, dapat melahirnak satu sikap hidup yang penuh keteguhan, keyakinan, sekaligus kerendahhatian dan kesederhaan. Idhul Fitri adalah satu momen penting sebagai titik berpijak untuk melangkah ke depan. Apakah nanti kita mengalami kebahagiaan, kesuksesan, ditentukan oleh hasil kita latihan pada bulan Ramadhan yang ini kita rayakan. Jadikan momen Idhul Fitri ini sebagai motivator untuk kita meningkatkan amal ibadah dan kesadaran diri sebagai makhluk yang memiliki kesempurnaan. Amiin. Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat Idhul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah.

Iklan Keluarga
Mulai edisi Juni 2007, Majalah Warta Bea Cukai menyediakan halaman untuk mempublikasikan Iklan Keluarga khusus bagi keluarga besar, kerabat atau pensiunan pegawai DJBC di seluruh Indonesia tentang :

PERNIKAHAN KELAHIRAN ANAK u UCAPAN TERIMA KASIH u UCAPAN DUKA CITA u INFORMASI LAINNYA
u u
Dengan memasang iklan keluarga di majalah Warta Bea Cukai ini, apapun informasi anda tentang keluarga bisa sampai kepada kerabat anda, dengan harga yang cukup terjangkau seperta tabel berikut : UKURAN Halaman 1 1/2 1/4 1/8 Cm 21x28 14x21 10x14 7x10 HARGA Hitam/Putih 2.000.000 1.000.000 500.000 300.000 Berwarna 3.000.000 1.500.000 750.000 500.000

1/2 Halaman 14 x 21

1 Halaman 21 x 28 1/4 Halaman 10 x 14

1/8 Halaman 7 x 10

Materi iklan disediakan dan diserahkan pemasang paling lambat tanggal 15 untuk penerbitan bulan berikutnya ke alamat redaksi dan pembayaran bisa ditransfer ke rekening Warta Bea Cukai sesuai pada kolom redaksi. Informasi hubungi : Wirda, telp (021) 47865608, 47860504 fax (021) 4892353 EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

Drs. H. Makmun Thaha/ Titian Dakwah

73

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

Memaafkan
S
Alibaba menerima pengakuan anak muda dan permintaan maafnya, kemudian mereka bernegosiasi untuk memproses perbaikan mobil yang rusak. Memaafkan merupakan suatu proses. Pertama-tama ada unsur pengakuan atas suatu kesalahan. Dalam cerita di atas, anak muda menyampaikan pada tuan Alibaba bahwa ia telah menabrak mobil Alibaba ketika etiap orang pernah merasa disakiti, dikecewakan, mundur untuk keluar dari tempat parkir. Pengakuan ini ditipu, dikhianati, yang pada dasarnya mengadiucapkan oleh anak muda kepada tuan Alibaba. lami sakit hati terhadap orang diluar dirinya, baik Kedua, permintaan maaf. Dalam hal ini penabrak, itu orang dekatnya maupun orang-orang dari disaksikan petugas keamanan mal, menyampaikan dunia kriminal, dunia politik, persaingan bisnis permintaan maaf kepada tuan Alibaba, setelah mengakui atau bahkan merasa disakiti di masa kanaknya oleh kesalahannya. orangtua atau pengasuhnya. Kemudian kegetiran hati Ketiga, setelah sebuah pengakuan dan permintaan masih berkecamuk di dada, maka kita perlu memutuskan, maaf, disusul dengan kesediaan diri memperdan pilihannya hanya dua : mempertahankan tanggungjawabkan kesalahan, menerima sesak dada dengan kemarahan, atau melapenalti. Tanpa pertanggungan jawab, pengakupangkan dada agar lega kembali. Inilah bagian dan tiada paling genting dalam hidup kita. MEMAAFKAN an kesalahan fase permintaan maafmempersiapberarti. Pada ini tuan Alibaba Cerita Ibu Bunga MERUPAKAN kan diri menerima pengakuan salah dan Ibu Bunga, kehilangan Bunga setahun yang MASALAH BAGI permintaan maaf. lalu. Bunga diculik orang tak dikenal yang kemudian jazad Bunga ditemukan disuatu tempat KEBANYAKAN REAKSI TUBUH ATAS KEMARAHAN diwilayah berhutan. Sampai saat ini ibu Bunga Konsep penalti merupakan hal rumit terutaORANG masih sering terbangun mimpi buruk, marah ma tentang pertanggungan jawab legal seorang kepada pembunuh anaknya, dan bersumpah tak yang membuat penderitaan kepada korbannya. akan memaafkan. Jika perlakuan berkaitan dengan pihak hukum, pengakuan bersalah, pembuktian bersalah dan penalti dilakukan oleh penegak hukum. Dalam situasi ini Memaafkan merupakan masalah bagi kebanyakan orang, korban atau yang merasa menjadi korban perlu menurut psikologi karena seringkali arti memaafkan sendiri menempatkan diri telah terwakili oleh penegak hukum, tidak jelas. Memaafkan kadang artinya dikacaukan dengan agar ia dapat menerima kenyataan dan telah memaafkan rekonsiliasi, suatu proses besar dimana memaafkan kesalahan. merupakan bagiannya. Rekonsiliasi berasal dari bahasa latin, Namun secara psikologis seringkali keputusan penegak re berarti kembali, konsiliasi bersatu. Jadi rekonsiliasi berarti bersatu kembali, atau berkawan lagi. Dalam rekonsiliasi ada hukum tidak diterima sepenuhnya oleh korban atau memaafkan, dan setelah memaafkan mereka menjadi keluarga korban. Pengakuan bersalah dan permintaan bersatu kembali. maaf mungkin telah diterima, tetapi ketika penjatuhan keputusan menghukum, pada beberapa orang merupakan ganjalan dan menganggap diri mereka masuk dalam PROSES MEMAAFKAN kategori yang tidak dipertimbangkan secara adil. Jika Cerita Alibaba demikian maka perasaan marah pada diri korban atau Alibaba memarkir mobilnya di pelataran parkir sebuah yang merasa menjadi korban belum lagi mengalami mal, ia dan keluarga menonton film di bioskop dalam mal peleburan. Kemarahan ini akan mudah menggelegak, tersebut. Ketika film usai, ia menuju ke mobil. Disana ketika sedikit saja pencetus tertangkap oleh indera dan sudah menunggu petugas keamanan, seorang anak disampaikan ke sistem otak. muda, dan mobil Alibaba yang bagian belakangnya rusak. Maka kini diri menjadi korban kemarahan, direspon Rupanya anak muda telah menabrak mobil Alibaba. oleh seluruh sistem tubuh menjadi motor penggerak : Petugas keamanan mendampingi anak muda menyampaijantung menjadi berdebar kencang, pernafasan meningkan permohonan maafnya kepada tuan Alibaba. Tuan

Mendendam akan membuat diri teracuni yang akan menurunkan kekuatan diri dan kehilangan kemampuan menyembuhkan perasaan sakit hati.

“ ”

74

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

kat, daya kewaspadaan meninggi, tekanan darah mulai naik, sistem hormonal terganggu dan seterusnya. Jadilah diri mengalami ketidak seimbangan fungsi fisik dan sekaligus psikologik. Energi terserap kedalam kemarahan. Dendam membara, motor penggerak makin mempercepat kerjanya, keluhan fisik makin memburuk, secara psikologis energi untuk melakukan pekerjaan lain menjadi jauh menurun, akibatnya produktivitas menurun.

PROSES PENERIMAAN DIRI

Begitu situasi fisik memburuk, perasaan menjadi tidak nyaman, bukan hanya karena marah tetapi karena sakit dan menurunnya produktivitas. Problem baru menjadi muncul, pada banyak orang keadaan ini memunculkan proses tawar menawar dalam diri. Nurani dan logika melakukan MEMAAFKAN penelusuran atas apa yang dirasakan, jika proses penelusuran berjalan baik, maka akar MERUPAKAN SUATU MEMAAFKAN TIDAK SAMA DENGAN masalah dapat ditemukan. MELUPAKAN PROSES Negosiasi muncul, apakah setiap kesalahSecara psikologis melupakan artinya mean perlu dilakukan dengan perbuatan menenyimpan data jauh dari jangkauan ingatan bus dosa? Para ahli psikologi mengatakan cepat tanggap. Ia disimpan di alam bawah memaafkan dapat dilakukan tanpa penebussadar dengan cara mendorongnya jauh dari an dosa, tanpa pembalasan dendam. Jadi meski seseojangkauan ingatan, artinya direpresi. Selama simpanan rang menyakiti hati kita dan menolak memaafkan, dan data ini masih disana, maka proses memaafkan secara mungkin juga berarti bahwa hubungan tak mungkin lagi ikhlas tak mungkin terjadi. Pada keadaan seperti ini maka dilanjutkan, untuk kesehatan mental maka maafkanlah seorang profesional bidang kesehatan jiwa akan apa yang telah terjadi. Ini karena memaafkan itu sendiri membantu memprosesnya untuk muncul ke permukaan secara psikologi akan merupakan pembuangan racun dan kemudian membuat diri rela melepaskannya. agar diri merasa tidak terluka. Mendendam akan membuat diri teracuni yang akan menurunkan kekuatan Cerita Ibu Ika diri dan kehilangan kemampuan menyembuhkan perasaIbu Ika datang kepada saya karena merasa sedih dan sean sakit hati. lalu ingin menangis. Tak jelas apa yang disedihkannya. Ia Sebagai korban, kita dapat memaafkan, meski itu marah pada diri sendiri, makin ia marah makin ia tak berdaya. bukan berarti kita melupakan peristiwa yang terjadi dan Fisik menjadi sakit dan ia tak mampu lagi melakukan yang bersangkutan bebas dari hukuman legal (jika pekerjaannya sehari-hari. Kami berdua mencoba masuk ke prosesnya sampai ke pengadilan). dalam ingatan bawah sadar Ibu Ika, dan ditemukan rasa marah kepada diri sendiri yang ia coba lupakan, ia represikan. Pemicu kemunculan ingatan ini adalah kepindahan rumah TERLALU DINI MEMAAFKAN dari rumah orangtua dan ia baru saja melahirkan. Dua beban Kita dapat memaafkan bila kita dapat merasakan betapikiran ini menimbulkan keFOTO : ISTIMEWA marahan pada dirinya sendiri dan membuat tabungan ‘terlupakan’ hadir kembali. Setelah Ibu Ika rela melepaskan kemarahannya dimasa lalunya, keadaan menjadi lebih sehat.

“ ”

pa sakit hatinya kita menjadi korban. Seringkali demi etika atau ketakutan akan kekuasaan, mengatakan, “Tidak jadi apa saya ikhlas”, sementara kita membekukan diri kita dari perasan nyata dan merasakan ada sesuatu yang menyesakkan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi ? Jawabannya adalah mulut kita terlalu dini menyatakan memaafkan sementara nurani menyangkal telah memaafkan. Artinya diri masih marah, emosi masih menggelegak, jadi logika mengatakan tak apa-apa atau ikhlas, secara psikologi batin masih menyimpan kemarahan. Keadaan ini dapat menimbulkan frustasi mengingat rasa marah kita simpan didalam alam ketidak sadaran kita, sedang kesadaran mengatakan tak ada lagi masalah. Ini merupakan tabungan sakit hati kita yang jika menggunung akan meledak sehebat letusan merapi.

SIAPA YANG SALAH ATAU DISALAHKAN?
Coba bayangkan ketika terjadi bencana alam. Bencana bukan tanggung jawab seseorang. Anda kehilangan banyak harta milik, anda merasa ketakutan, tidak berdaya. Dalam ketidak berdayaan, telunjuk diacungkan dengan kemarahan kepada pemerintah. Apakah kemarahan akan memperbaiki atau mengembalikan harta milik ? Apakah kita marah kepada orang yang tidak memberikan bantuannya ? Siapa yang akan kita marahi ? Siapa juga yang akan meminta maaf atau dimaafkan ? Makin kita menyalahkan makin dalam rasa frustasi dan sakit hati.
EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

M. Syawal

Korlak Operasi P2 Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A4 Tarakan

“Tidak Mudah Menyatukan Karakter Orang yang Berbeda-beda...”
Medio Mei lalu, WBC mendapat kesempatan berkunjung ke KPPBC Tarakan. Dalam kunjungan tersebut, WBC bertemu dengan M. Syawal. Dari perbincangan kami, diketahui bahwa Syawal, begitu ia biasa dipanggil, merupakan Korlak Operasi P2 yang sering bertugas sebagai Komandan Patroli di KPPBC Tarakan. Mendengar hal itu, WBC pun tergelitik untuk mengenal lebih jauh tokoh profil kita yang satu ini.

D

engan senyum di wajah dan sapaan hangat, Syawal menyambut WBC di lobby hotel tempat kami menginap. Pada awal perbincangan kami, suasana sedikit kaku, maklumlah, waktu itu kami baru berkenalan. Selang beberapa menit, kebekuan yang tadinya menghinggap mulai mencair. Semakin lama perbincangan kami pun berlangsung seru, kadang diselingi tawa… Syawal merupakan putra daerah asli Tarakan. Ia lahir di kota itu tepatnya pada tanggal 31 Maret 1960. Ia merupakan anak ke-5 dari 8 bersaudara. Sejak kecil, Syawal sama seperti anak-anak pada umumnya. Ia kerap bermain dan berkumpul dengan teman sebayanya. Terlebih lagi, ada sungai yang melintas tak jauh dari rumahnya. Alhasil, mandi di sungai menjadi salah satu hobinya kala itu. Ia pun memiliki cita-cita yang sama seperti anak-anak pada umumnya, ingin menjadi tentara (combat). Hal itu juga dipicu oleh hobinya menonton film perang yang ditayangkan TV RTM (Malaysia) berjudul Kombet (perang antara Amerika melawan Vietnam). Tak hanya gemar mandi di sungai, ia pun giat berolahraga. Lari merupakan olahraga favoritnya. Terbukti saat ia duduk di bangku SMA, ia pernah menjuarai lari marathon 10K dan 12K tingkat Kabupaten sebanyak 4 kali (sekali juara I dan tiga kali juara II). Selain olahraga, ia juga hobi menyanyi dan sering mengikuti kejuaraan POP Singer tingkat Kabupaten. Untuk yang satu ini, ia pernah meraih juara II dan Harapan I. Ayahnya, Alm. Husin A. merupakan pegawai negeri sipil yang bekerja di Departemen Perhubungan, sebagai Pandu Laut atau Syahbandar. Sedangkan ibunya, Fatmah, bekerja sebagai ibu rumah tangga. Dalam mendidik anak-anaknya, sang ayah menerapkan disipilin yang tinggi. “Ayah saya selalu berpesan agar kami, anak-anaknya, menggunakan ilmu padi, semakin berat bulir padi, semakin menunduk padi itu. Semakin tinggi jabatan maupun kepandaian, jangan menjadikan kita sombong, tetapi harus rendah diri dan bersahaja. Hingga saat ini, saya menggunakan falsafah tersebut dalam mendidik anak-anak saya,” ucap pria yang telah meraih S1-nya dengan gelar Sarjana Ekonomi dan kini sedang menyelesaikan pendidikan S2 di STIE Mahardika. Oleh sebab itu, disiplin yang tinggi namun tidak otoriter, juga ia terapkan dalam mendidik putrinya, Dini Laxmiari (10) dan putranya, Tito Lesmana (4). Namun demikian, Syawal mengaku lebih banyak mengikuti perkembangan anak-anaknya dari jauh karena waktunya banyak tersita untuk menjalankan tugas (pekerjaan), apalagi saat harus melakukan patroli laut. Untuk itu peran
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

sang istri, Gandes Supatinah, sangat penting dalam menjaga, mengawasi dan mendidik anak-anak mereka. “Walaupun begitu, saya sangat dekat dengan anak-anak, kalau ada waktu senggang, waktu itu tidak saya sia-siakan. Biasanya saya dan keluarga refreshing… jalan-jalan ke Mall atau sekedar makan bersama di luar, soalnya kota Tarakan itu sangat kecil (hanya radius 10 km-red). Jadi, sarana hiburan untuk keluarga sangat minim,” ungkapnya. Ia pun mengatakan bahwa selama ini tidak mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara keluarga, karir maupun hobi. Pasalnya, ia selalu menerapkan segala hal dengan disiplin yang tinggi. “Jadi, meskipun saya jarang ketemu keluarga, apalagi kalau saya sedang tugas patroli laut, begitu ada waktu luang, saya dan keluarga selalu berkumpul,” terangnya. Berbicara mengenai hobi, Syawal yang memiliki jiwa petualang dan menyukai tantangan ini, aktif menekuni olahraga selam (diving). Untuk itu ia menjadi anggota customs diving club. Selain itu, ia juga aktif mendalami olahraga sepeda dengan bergabung dalam customs cycling club hingga saat ini.

TIDAK MUDAH GENTAR
Awal karirnya di Bea dan Cukai dimulai pada tahun 1984, saat itu ia bertugas di KPBC Tarakan. Mutasi pertamanya dimulai pada tahun 1987, ia dipindahkan ke Kantor Inspeksi Tipe D Pulau Bunyu, Kalimantan Timur. Kemudian, tahun 1993 ia dipindahkan ke KPBC Nunukan. Pada 1997 ia dimutasi ke KPBC Semarang. Kurang lebih selama satu tahun bertugas di Semarang, tahun 1999 ia dipindahkan ke KPBC Banjarmasin. Tiga tahun kemudian (2002), ia dimutasi ke KPBC Tanjung Priok I hingga tahun 2006. Kini, ia bertugas di KPPBC Tipe A4 Tarakan sebagai Korlak Operasi P2. Selama beberapa kali mengalami mutasi, ia mengaku memiliki pengalaman yang berkesan. Tahun 1993 ia dipercaya dan ditugaskan untuk melakukan patroli laut sebagai Komandan Patroli (Kopat) BC 8004. Padahal waktu itu ia masih Pelaksana biasa. Karena keberhasilannya dalam menegah penyelundupan melalui laut, awal tahun 1995 ia diusulkan untuk mendapat penghargaan. Anehnya, Syawal menolak usulan tersebut, ia malah memilih untuk diikutsertakan dalam Diklat DPT2. “Karena, waktu itu sulit sekali kalau kita mau ikut diklat DPT 2, kita harus melalui tes terlebih dahulu. Saya pernah ikut tes dan mendapat ranking 9 tetapi yang dipanggil hanya 7 orang saja,” jelasnya. Akhirnya, melalui rekomendasi dari Kepala Kantor KPBC Nunukan dan berdasarkan surat dari Direktur Pencegahan

76

EDISI 395 OKTOBER 2007

WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

ternyata di atas kapal tersebut terdapat oknum aparat yang mengawal barang selundupan. Namun Syawal tidak gentar, ia tetap bersikeras untuk mengambil alih tangkapan tersebut. Akibatnya pada keesokan harinya, tepatnya pada malam hari, rumah yang didiami Syawal didatangi oleh orang yang tak dikenal dengan membawa 2 dirigen, masing-masing berisi sekitar 20 liter bensin. Orang itu pun berteriak dan mengancam, “Pak Syawal… kalau tidak melepaskan tangkapan itu, rumah ini akan kami bakar.” “Bakar saja…” balas Syawal tak mau kalah. Namun, setelah ditunggu sekian lama, orang-orang itu tidak juga membakar rumahnya. “Ternyata mereka hanya menggertak saja,” terang Syawal. Ia memang mengaku tidak gentar dalam menjalankan setiap tugas yang dibebankan padanya. Apalagi Kepala KPBC Nunukan (waktu itu Abdul Rahman-red) sangat mensupport dirinya.

BAHASA TARZAN
Berbagai pengalaman menarik saat menjadi Komandan Patroli memang kerap menghampirinya. Misalnya saja pada saat ia menangkap kapal dari Vietnam yang melakukan illegal fishing di perairan Indonesia. Saat memeriksa nakhoda kapal dan seluruh ABK-nya, ternyata tidak satupun dari mereka yang bisa berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. “Alhasil, komunikasi pun terpaksa dilakukan dengan menggunakan bahasa tarzan,” katanya sambil tertawa. Melakukan pengawasan laut sudah menjadi tugasnya sebagai Komandan Patroli. Belum lama ini, sesuai Surat Perintah dari Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Nomor Sprint-150/Kalakhar/Bakorkamla/VI/2007 tanggal 26 Juni 2007 dan Surat Perintah Berlayar dari Kepala Kantor Wilayah XV Kalimantan Bagian Timur Nomor SPB-79/ WBC.15/KP.04/2007 tanggal 27 Juni 2007 tentang perintah tugas pengawasan dan penegakan hukum di perairan wilayah timur Indonesia dengan menggunakan sarana kapal patroli BC 9001, Syawal dipercaya menjadi Komandan Patroli BC 9001. Untuk itu, ia harus melakukan pengawasan di perairan wilayah timur Indonesia mulai tanggal 28 Juni - 18 Juli 2007 bersama-sama dengan Tim Bakorkamla yang terdiri dari beberapa instansi diantaranya Bea dan Cukai, DKP Pusat, Mabes Polri (Pol Air) dan Lemsaneg. Dalam pelaksanaan tugas patroli tersebut, Tim berhasil menegah 7 (tujuh) kapal diantaranya, 1 (satu) kapal berbendera Indonesia yang melakukan kegiatan ilegal ekspor yaitu dengan membawa kayu hitam dari Sulawesi tujuan Tawau, Malaysia, 2
DOK. PRIBADI

BERSAMA KELUARGA. (Ki-ka) Istri, Gandes Supartinah; M.Syawal; putri pertama, Dini Laxmiari (10); putra kedua, Tito Lesmana (4).

dan Penyidikan (waktu itu dijabat H.A. Parinding-red), Syawal dapat mengikuti DPT 2 di Jakarta. Hingga saat ini, berbagai diklat pernah ia ikuti seperti Latsarmil di Tarakan (1984), DPT 1 di Balikpapan (1985), DPI 1 di Balikpapan (1990), DPT 2 di Jakarta (1998), Intelijen Analisis di Jakarta (1999), PFPB di Jakarta (2000), Seminar BNN di Jakarta (2006) dan Seminar U.S Immigration and Customs Enforcement di Jakarta (2006). Pengalaman lain yang berkesan baginya adalah saat ia bertugas di Kantor Inspeksi (Kinsp) Tipe D Pulau Bunyu, yang terletak di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Waktu itu selain berfungsi sebagai kantor, Kinsp. Bea dan Cukai Pulau Bunyu juga dipakai sebagai tempat tinggal para pegawainya. Seluruh pegawai, mulai dari Kepala Kantor hingga Pelaksana yang jumlahnya sekitar 15 orang, tinggal dan bekerja di kantor tersebut. “Saya rasa kantor itu merupakan satu-satunya Kantor Bea dan Cukai di Indonesia, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal para pegawainya,” imbuhnya seraya tersenyum. Suatu ketika, istri Menteri Keuangan saat itu, Radius Prawiro, dan Kakanwil DJBC Balikpapan (waktu itu dijabat oleh Kristionored) datang berkunjung ke Kinsp. Bea dan Cukai Pulau Bunyu. Begitu melihat kondisi kantor dan keadaan para pegawainya, Ny. Radius Prawiro tak kuasa meneteskan airmata. Pasalnya, ia melihat para pegawai harus tidur beralaskan bekas kotak rokok gudang garam dan kain selimut yang tipis serta memakai bantal dari buku produksi (buku catatan kegiatan kantor-red). “Sekitar dua minggu setelah kejadian tersebut, kami mendapat kiriman spring bed (kasur-red) dari Kakanwil,” kenangnya. Tak hanya itu, pengalaman lainnya yang sangat berkesan adalah saat ia dinas di KPBC Nunukan. Waktu itu ia ditugaskan untuk melakukan patroli dan menangkap penyelundupan kayu melalui jalur laut. Saat ia menemukan kapal yang dicurigai, 78
WARTA BEA CUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

TANGKAPAN KAPAL ILLEGAL FISHING. Tampak kapal-kapal yang melakukan kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia, yang berhasil ditangkap.

DOK. PRIBADI

DOK. PRIBADI

PRESENTER TRANS7. Berpose bersama presenter Jejak Petualang Trans7, Riyani Djangkaru, usai diving di Pulau Kakaban.

BERSAMA LETJEN JOKO SUMARYONO (KALAKHAR) BAKORKAMLA. Sewaktu kunjungan melihat tangkapan kapal impor di pelabuhan Nunukan, 12 Juli 2007.

(dua) kapal berbendera Indonesia yang melakukan kegiatan ilegal impor yaitu dengan membawa barang campuran dari Tawau, Malaysia tujuan Tarakan, 4 (empat) kapal berbendera Malaysia yang melakukan kegiatan illegal fishing yaitu dengan melakukan kegiatan penangkapan ikan di perairan Indonesia. Ketujuh kapal tersebut merupakan hasil tangkapan Tim Bakorkamla BC 9001 dimana Syawal bertindak sebagai Komandan Patrolinya. Tentu hal itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri baginya dan institusi Bea dan Cukai, khususnya. Sebab, ketujuh kapal tersebut merupakan bagian dari 11 kapal hasil tangkapan Tim Bakorkamla Pusat.

BEKERJA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA
Sebagai Komandan Patroli, ia kerap memberikan motivasi kepada anggotanya dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tugas patroli. Hubungannya dengan para ABK kapal pun berjalan dengan baik. Ia menerapkan disiplin yang tinggi pada kru kapal. “Hal itu memerlukan strategi tersendiri, sebab tidak mudah

menyatukan karakter orang yang berbeda-beda… Kalau kita kompak, dalam menjalankan tugas operasi laut kita bisa tetap mempertahankan semangat juang dan semangat kerja yang tinggi,” paparnya. Dalam meniti karir, ia menjalankan semua apa adanya. Ia tidak pernah ngotot atau memaksakan diri untuk menjadi sesuatu, sepenuhnya ia serahkan hal itu pada atasan karena pimpinanlah yang menilai kinerjanya selama ini. Yang ia tahu, tugasnya adalah bekerja dan melaksanakan pekerjaannya tersebut dengan sebaik-baiknya dan bertanggungjawab. Oleh sebab itu, ia pun terus mengikuti perkembangan dan meningkatkan pengetahuannya, diantaranya dengan membaca UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Kedepannya, ia optimis dan yakin bahwa institusi Bea dan Cukai akan semakin lebih baik dengan adanya perubahanperubahan yang dilakukan oleh para pejabat bea cukai yang berada di Pusat. “Adanya KPU yang sudah berjalan di Tanjung Priok dan Batam, bisa dijadikan sebagai barometer keberhasilan Kantor Bea dan Cukai di seluruh Indonesia,” tandasnya. ifa
WBC/KY

BERSAMA ARTIS SINETRON. M. Syawal beserta kru kapal BC 7001 berpose bersama artis sinetron Putri Patricia. EDISI 395 OKTOBER 2007 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA
FOTO : ISTIMEWA

Darius Sinathrya “Petugas Agar Sosialisasikan Aturan Kepada Penumpang”
Bagi Darius Sinathrya, tidak ada kenikmatan lain sebagai orang tua selain mengurus buah hati mereka sendiri tanpa bantuan pengasuh bayi atau baby sitter. Menurut suami aktris sinetron Donna Agnesia, mengurus buah cinta mereka sendiri merupakan suatu seni tersendiri dan kenikmatan yang tidak terhingga bagi mereka. Ditengah kesibukkannya sebagai artis di panggung hiburan, tidak melunturkan sedikitpun perhatiannya kepada sang anak sehingga di sela-sela syuting sinetron ataupun acara televisi tidak jarang ia menanyakan keadaan sang anak kepada Donna sang istri. Sebagai publik figur tidak jarang kunjungan ke luar negeri dilakukan baik dalam rangka menjalankan pekerjaannya ataupun untuk sekedar menjalankan wisata rohani. Menurut Darius, setelah beberapa kali pulang dari luar negeri dan melalui pemeriksaan oleh petugas Bea Cukai di bandara, dirinya merasa puas dengan kinerja petugas yang terlihat tegas dan teliti ketika ada kecurigaan,”Petugas kita sudah bagus dan professional,”ujarnya. Darius menceritakan pengalamannya ketika pulang dari perjalanan luar negeri, dimana ia melihat diantara para penumpang ada yang merasa kebingungan mengenai barang yang dibawanya, apakah boleh dibawa atau tidak ke Indonesia. Untuk itu ia mengharapkan agar petugas Bea Cukai di Indonesia khususnya di bandara mampu memberikan pemberitahuan kepada para penumpang mengenai barang apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa, agar penumpang tidak bingung. “Kasihan penumpang kebingungan kalau tidak ada kejelasan mengenai barang-barang yang boleh dan tidak boleh di bawa, kalau pemberitahuannya jelas, pasti para penumpang akan mematuhinya,kalau bisa sosialisasikan ke para penumpang mengenai barang apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa (Ke Indonesia) agar penumpang tidak bingung,”kata Darius kembali. zap

Bagi Adrian Maulana, tubuh yang sehat dengan postur tubuh yang ideal dapat diperoleh dengan cara berolahraga dan menkomsumsi makanan sehat. “Tidak usah lama-lama, 30 sampai 60 menit melakukan olahraga itu sudah cukup asal dilakukan rutin dan diimbangi dengan menkomsumsi makanan sehat,” ujarnya. Bagi Adrian olahraga tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya sehari-hari sehingga ia pun di daulat menjadi icon salah satu suplemen kesehatan di Indonesia. Ketika WBC menanyakan tanggapannya mengenai Bea Cukai di bandara ketika pulang dari perjalanan luar negeri, Adrian menyoroti antrian pemeriksaan di Bea Cukai. Terkadang antrian panjang pemeriksaan menurutnya, terjadi karena adanya penumpang yang kurang mengerti bagaimana cara mengisi formulir customs declaration yang harus diisi penumpang ketika akan pulang ke Indonesia, bahkan tidak jarang pengisian formulir baru dilakukan ketika mendekati meja pemeriksaan yang menurutnya menghambat penumpang lain yang antri. “Lebih baik pihak Bea Cukai bekerja sama dengan perusahaan penerbangan untuk menyampaikan tata cara pengisian customs declaration kepada penumpang, sehingga customs declaration dapat diisi ketika dalam penerbangan jadinya antrian gak panjang hanya karena ada penumpang yang baru ngisi customs declaration,”kata Adrian yang kini banyak terlibat sebagai presenter seminar kesehatan dan olahraga Mengenai petugas, menurutnya sudah cukup tegas dan tidak kalah dengan petugas Bea Cukai di negara lain. “Teman-teman Bea Cukai di bandara sudah tegas dan selalu menyapa kepada para penumpang yang baru datang, termasuk saya, tapi gak tahu deh sama penumpang lain ramah juga apa enggak ya?,” komentar Adrian. Selain itu ia juga menyoroti penampilan petugas yang menurutnya sudah “berpeger” alias memiliki timbunan lemak di perut,” Temanteman Bea Cukai sudah tegas dan professional, tapi udah banyak yang “ber-pager” jadinya penampilan kurang prima, walau sibuk coba deh olahraga rutin setengah jam sampai 60 menit diselasela waktu luang dengan pengaturan pola makan yang sehat, pasti “pagernya” hilang tubuhpun keli-hatan prima dan sehat,” ujar Adrian sambil tersenyum. zap

Adrian Maulana

Banyak yang “Ber-pager”

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 395 OKTOBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-18/BC/2007

Pakta Integritas Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan aparat pemerintah yang profesional, berintegritas tinggi, transparan, bebas korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan tercela lainnya, diperlukan peningkatan profesionalisme dan integritas pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. bahwa sebagai upaya peningkatan profesionalisme dan integritas pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tersebut, diperlukan Pakta Integritas yang berisi pernyataan atau janji tentang komitmen untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan penuh integritas; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Pakta Integritas Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890); 2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984); 3. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 4. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3094);
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

TENTANG

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

5. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3098) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1997 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 19); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1979 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3149); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3176); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2000 Nomor 193, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4014); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001; 10. Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001; 11. Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1971 tentang Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Pegawai Departemen Keuangan; 12. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 15/KMK.01/UP.6/1985 tentang Penentuan Penegakan Disiplin Kerja Dalam Hubungan Pemberian Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Kepada Pegawai di Lingkungan Departemen Keuangan Republik Indonesia; 13. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 515/KMK.04/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 14. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/KMK.04/2002 tentang Susunan Tugas dan Wewenang Komite Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131/KMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan; 16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; MEMUTUSKAN

Menetapkan :

PAKTA INTEGRITAS PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
2 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini, yang dimaksud dengan: 1. Pegawai adalah Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam Undangundang tentang Kepegawaian yang menerima gaji atau upah dan tunjangan lainnya dari keuangan Negara berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku untuk menjalankan tugas kedinasan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 2. Pakta Integritas adalah pernyataan atau janji tentang komitmen untuk melaksanakan segala tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 2 Dalam pelaksanaan tugas Pegawai wajib mematuhi dan berpedoman pada Pakta Integritas. Pasal 3 (1) Pegawai wajib menandatangani Pakta Integritas sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal ini. (2) Pakta Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam rangkap 4 (empat) dan disampaikan kepada: a. Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. Arsip Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang bersangkutan; c. Arsip Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang bersangkutan; dan d. Arsip untuk Pegawai yang bersangkutan. (3) Pegawai yang tidak menandatangani Pakta Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebastugaskan tidak atas permintaan sendiri. Pasal 4 (1) Setiap pelanggaran terhadap Pakta Integritas merupakan pelanggaran disiplin dan/atau pelanggaran hukum lainnya. (2) Pegawai yang melakukan pelanggaran disiplin Pegawai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan sanksi atau hukuman sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. (3) Atasan Pegawai yang mengetahui adanya Pegawai yang melakukan pelanggaran Pakta Integritas namun tidak mengambil tindakan atau membantu Pegawai melakukan pelanggaran Pakta Integritas, dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(4) Besarnya Tunjangan Kegiatan Tambahan yang dibayarkan kepada Pegawai atau Atasan Pegawai yang dikenakan sanksi atau hukuman sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) adalah sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang Pemberian Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara. Pasal 5 (1) Untuk tahap pertama, Peraturan Direktur Jenderal ini berlaku terhadap Pegawai pada: a. Kantor Wilayah VII Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta I; b. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Tanjung Priok I; c. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Tanjung Priok II; d. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Tanjung Priok III; e. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Batam; dan f. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A4 Tanjung Uban. (2) Pemberlakuan Peraturan Direktur Jenderal ini terhadap Pegawai selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Direktur Jenderal. Pasal 6 Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan mempunyai daya laku surut sejak tanggal 1 Mei 2007. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 15 Juni 2007 DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: P-18/BC/2007 TENTANG PAKTA INTEGRITAS PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

Pakta Integritas
Pada hari ini …………………………………. tanggal ………..........……………………… bertempat di …………………………………, saya, ………………….......……………….. dalam jabatannya sebagai ……………………………………….…………………………. dengan ini menyatakan sebagai berikut : 1. Menggunakan segala potensi yang saya miliki berperan secara proaktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi sesuai Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2004. 2. Menggunakan segala potensi yang saya miliki berperan secara proaktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan perdagangan ilegal. 3. Akan melaksanakan tugas secara professional, berintegritas tinggi, transparan, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan perbuatan tercela lainnya, dalam arti akan mengerahkan segala kemampuan dan sumber daya secara optimal untuk memberikan hasil terbaik. 4. Akan mematuhi ketentuan Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 515/KMK.04/2002. 5. Apabila melanggar hal-hal yang telah dinyatakan dalam PAKTA INTEGRITAS ini, bersedia dikenakan sanksi moral, sanksi administrasi serta dituntut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Tempat), (Tanggal-Bulan-Tahun) Mengetahui Direktur Jenderal Bea dan Cukai Yang membuat pernyataan

(Nama Lengkap) NIP………………......………….

(Nama Lengkap) NIP ……………...........………..

Dibuat 4 (empat) rangkap, untuk : a. Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. Arsip Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang bersangkutan; c. Arsip Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang bersangkutan; d. Arsip untuk Pegawai yang bersangkutan.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 24 /BC/2007

Mitra Utama
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka terwujudnya pelayanan yang cepat, efisien, pasti, responsif, transparan dan tercapainya pengawasan yang efektif maka terhadap perusahaan yang mempunyai reputasi baik dapat diberikan kemudahan sebagai mitra utama; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Bea dan Cukai tentang Mitra Utama; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 95 tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal di Lingkungan Departemen Keuangan; 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003; 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.01/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 6. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-11/BC/2005 tentang Jalur Prioritas sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P- 06/BC/2006. 7. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-21/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Impor pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok;

TENTANG

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan :
6 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

1. Kantor Pelayanan Utama yang selanjutnya dalam peraturan ini disebut KPU adalah Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal. 2. Mitra Utama yang selanjutnya dalam peraturan ini disebut MITA adalah : a. Importir Jalur Prioritas, yang penetapannya dilakukan oleh Direktur Teknis Kepabeanan atas nama Direktur Jenderal sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tentang Jalur Prioritas; b. Orang yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan sebagai Mitra Utama oleh Kepala Kantor Pelayanan Utama atas nama Direktur Jenderal berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal ini. 3. Client Coordinator adalah pejabat bea dan cukai yang ditunjuk oleh Kepala Kantor untuk menjadi penghubung antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan orang. 4. Orang adalah orang perseorangan atau badan hukum. 5. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang selanjutnya disingkat PPJK adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengurusan pemenuhan kewajiban pabean untuk dan atas kuasa importir atau eksportir. 6. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 7. Kepala Kantor adalah Kepala Kantor Pelayanan Utama. BAB II PERSYARATAN Pasal 2 (1) MITA ditetapkan berdasarkan persyaratan: a. dapat berhubungan dengan sistem jaringan elektronik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. mempunyai pola bisnis yang jelas; c. memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk menjamin keakuratan data yang disajikan; d. memiliki rekam jejak keakuratan pemberitahuan pabean dan/atau cukai yang baik; e. telah diaudit oleh kantor akuntan publik yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian untuk 2 (dua) tahun terakhir; dan f. selalu dapat memenuhi ketentuan perizinan dan persyaratan impor dan ekspor dari instansi teknis terkait. (2) Dalam hal perusahaan mendapatkan fasilitas pembebasan, keringanan, dan atau penangguhan bea masuk, persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan melakukan penatausahaan dan pengelolaan sediaan barang yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diketahui jenis, spesifikasi, jumlah pemasukan dan pengeluaran sediaan barang yang berkaitan dengan fasilitas kepabeanan yang diperoleh dan/atau digunakan. BAB III PENGAJUAN PERMOHONAN MITA Pasal 3 (1) Untuk menjadi MITA, perusahaan mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor, dimana kegiatan impornya paling banyak dilakukan.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan: a. laporan keuangan periode 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik; b. standard operating procedure (SOP) pembelian dan pembayaran impor, dan atau penjualan dan penerimaan kas ekspor; c. standard operating procedure (SOP) pembuatan, pembayaran, dan penyerahan (transfer) PIB dan/atau PEB yang selama ini dimiliki dan dijalankan oleh perusahaan; d. surat pernyataan sesuai contoh sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal ini; dan e. keterangan lain yang dapat memberikan gambaran positif perusahaan, misalnya terdaftar sebagai wajib pajak patuh pada Direktorat Jenderal Pajak, company profile, sertifikat ISO, dan sertifikat ahli kepabeanan. (3) Dalam hal perusahaan menggunakan PPJK, permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri daftar nama PPJK yang diberi kuasa dan identitas modul PPJK yang diberi kuasa. (4) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat sesuai contoh sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 4 (1) Kepala Kantor melakukan pemeriksaan terhadap permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa : a. penelitian dan penilaian data intern Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; dan b. penelitian dan penilaian data yang diajukan perusahaan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat meliputi pemeriksaan lapangan. (4) Tatacara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 5 (1) Kepala Kantor memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya permohonan dengan lengkap. (2) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam 3 ayat (1) disetujui, Kepala Kantor menerbitkan surat penetapan. (3) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) ditolak, Kepala Kantor membuat surat penolakan dengan menyebutkan alasannya. (4) Permohonan yang ditolak sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat diajukan kembali setelah perusahaan memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam alasan penolakan. Pasal 6 Kepala Kantor atas nama Direktur Jenderal berwenang secara jabatan menetapkan status perusahaan sebagai MITA tanpa permohonan dari perusahaan tersebut sepanjang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.
8 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN MITA Pasal 7 (1) MITA mendapat kemudahan di KPU berupa: a. tidak dilakukan penelitian dokumen dan/atau pemeriksaan fisik barang, kecuali terhadap: 1. barang Impor Sementara; 2. barang Re-impor; 3. barang yang terkena Nota Hasil Intelijen (NHI); dan 4. komoditi Resiko Tinggi. b. Pemeriksaan fisik terhadap barang sebagaimana dimaksud pada huruf a butir 1 dan butir 2 dapat dilakukan di gudang importir tanpa pengajuan surat permohonan; c. tidak perlu menyerahkan hardcopy PIB/PEB; d. mendapatkan akses pelayanan client coordinator; dan e. pemuktahiran data registrasi importir. (2) Kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, tidak berlaku dalam hal dilakukan pemeriksaan fisik barang dan/atau pemeriksaan dokumen. Pasal 8 (1) MITA wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh instansi teknis terkait sebelum menyampaikan PIB. (2) MITA wajib: a. menyampaikan pemberitahuan pabean impor atau ekspor secara elektronik; b. tidak memberikan dan/atau meminjamkan modul importir kepada pihak/ perusahaan lain; c. melaporkan kehilangan dan/atau penyalahgunaan modul importir pada kesempatan pertama; d. memberitahukan perubahan nama-nama PPJK yang diberi kuasa kepada kepala kantor; dan e. menyampaikan nama pegawai perusahaan yang ditunjuk untuk berhubungan dengan Client Coordinator. BAB V PPJK YANG DIBERI KUASA Pasal 9 (1) Pengajuan pemberitahuan pabean dapat dilakukan oleh MITA dan/atau PPJK. (2) Kepala Kantor menerima atau menolak permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berdasarkan profil PPJK. (3) PPJK yang telah disetujui oleh Kepala Kantor, wajib membuat Perjanjian tentang Pertukaran Data Elektronik dengan MITA dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. BAB VI PENGAWASAN PROAKTIF DAN AUDIT Pasal 10 Terhadap MITA dilakukan pengawasan proaktif dan audit kepabeanan dan/atau audit cukai.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 11 (1) Pengawasan proaktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dilakukan dengan melakukan analisis terhadap data importasi dan hasilnya disampaikan kepada Client Coordinator atau unit terkait untuk ditindaklanjuti. (2) Hasil tindak lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk pemutakhiran profil MITA. (3) Pemutakhiran profil MITA dilakukan secara periodik. Pasal 12 (1) Audit kepabeanan dan/atau audit cukai terhadap MITA dapat menggunakan teknik audit sampling berdasarkan manajemen risiko. (2) Pelaksanaan teknik audit sampling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur tersendiri oleh Direktur Jenderal BAB VII PENCABUTAN MITA Pasal 13 (1) Kepala Kantor atas nama Direktur Jenderal melakukan pencabutan sementara selama 6 (bulan) status perusahaan sebagai MITA dalam hal perusahaan tidak lagi memenuhi salah satu ketentuan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Pencabutan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang dalam hal penanganan pelanggaran yang dilakukan MITA masih dalam proses penyelesaian. (3) Status sebagai MITA yang dicabut sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku kembali setelah berakhirnya jangka waktu pencabutan jika dalam jangka waktu tersebut MITA tidak melakukan pelanggaran lain. Pasal 14 Kepala Kantor atas nama Direktur Jenderal melakukan pencabutan status perusahaan sebagai MITA secara tetap dalam hal : a. atas permohonan perusahaan; b. dalam jangka waktu 6 (enam) bulan secara terus-menerus perusahaan tidak melakukan kegiatan kepabeanan di bidang impor dan/atau ekspor; c. perusahaan telah melakukan 2 (dua) kali pelanggaran yang menyebabkan pencabutan sementara MITA dalam 3 (tiga) tahun terakhir; d. pengadilan memutuskan perusahaan bersangkutan telah melakukan tindak pidana kepabeanan dan/atau cukai; dan/atau e. perusahaan dinyatakan pailit oleh pengadilan. Pasal 15 Status sebagai MITA berlaku di seluruh Kantor Pelayanan Utama.
10 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

BAB VIII KETENTUAN KHUSUS Pasal 16 (1) Pada tahap awal akan ditunjuk peserta uji coba MITA yang ditentukan oleh Direktur Jenderal. (2) Peserta uji coba MITA yang dalam 3 (tiga) bulan tidak melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan sebagai MITA. BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 17 (1) Selain kemudahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), Importir Jalur Prioritas mendapatkan kemudahan sebagaimana diatur dalam ketentuan Jalur Prioritas. (2) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Importir Jalur Prioritas wajib memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam ketentuan Jalur Prioritas. (3) Ketentuan mengenai pencabutan sementara sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dan pencabutan tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 untuk Importir Jalur Prioritas didasarkan pada ketentuan Jalur Prioritas. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 18 Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini mulai berlaku sejak tanggal 17 Agustus 2007. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 09 Agustus 2007 DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007

s

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-24/BC/2007

Kop Perusahaan
Nomor & tanggal surat Hal : Permohonan sebagai MITA Kepada : Yth. Kepala KPU .................................... Di ........................................................... Sehubungan dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : ....../BC/ 2007 tanggal................., bersama ini kami mengajukan permohonan untuk dapat ditetapkan sebagai MITA . Sebagai bahan pertimbangan bersama ini kami lampirkan: 1. Fotokopi hasil audit 2 (dua) tahun terakhir oleh kantor akuntan publik; 2. Standard Operating Procedure (SOP) pembelian dan pembayaran impor, dan atau penjualan dan penerimaan kas ekspor; 3. Standard Operating Procedure (SOP) pembuatan, pembayaran, dan penyerahan (transfer) PIB dan/atau PEB yang selama ini dimiliki dan dijalankan oleh perusahaan; 4. Surat Pernyataan kesanggupan untuk memenuhi kewajiban dan mematuhi peraturan; 5. Surat kuasa (penunjukan) dari perusahaan kepada PPJK jika pengajuan pemberitahuan pabean dikuasakan kepada PPJK;dan 6. Data lain yang dapat memberikan gambaran positif perusahaan: a. ..............................................; b. ..............................................; c. ............................................... Demikian permohonan ini kami ajukan untuk dapat dipertimbangkan.

Hormat kami, ttd. Nama (Pimpinan perusahaan)
12 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN II PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-24/BC/2007

Kop Perusahaan Surat Pernyataan
Pada hari ini …………… tanggal ............. bulan………………. tahun…………, saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Perusahaan Alamat : : : : (pimpinan perusahaan)

Atas nama perusahaan ………………………………….. selaku MITA, dengan ini saya menyatakan bahwa: a. tidak akan memberikan, meminjamkan, atau mempergunakan modul importir milik sendiri bagi kepentingan pihak/perusahaan lain; b. akan melaporkan secara lisan dan tertulis kepada kantor pelayanan utama tempat mengajukan permohonan MITA, tentang kehilangan dan atau penyalahgunaan modul importir milik kami pada kesempatan pertama; c. akan menganggap sah PIB kami setelah DJBC menerima data pemberitahuan dan mengirimkan pesan (Customs Response) kepada kami; d. akan mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan kemudahan sebagai MITA paling lama 30 (tiga puluh) hari sebelumnya; e. akan menyelesaikan kewajiban yang belum diselesaikan paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal berakhirnya status sebagai MITA. f. mengetahui dan memahami ketentuan mengenai perizinan dan/atau persyaratan impor atau ekspor dari instansi teknis terkait. g. tidak pernah melakukan reekspor atau pemusnahan barang impor atau ekspor yang disebabkan oleh pelanggaran ketentuan tentang perijinan dan persyaratan impor dari instansi teknis terkait. h. bertanggung jawab atas pemenuhan ketentuan tentang perijinan dan persyaratan impor atau ekspor dari instansi teknis terkait dan sanggup selalu mengirim pemberitahuan impor setelah memenuhi persyaratan tersebut; dan i. bertanggung jawab secara hukum apabila terdapat pelanggaran ketentuan tentang perizinan atau persyaratan impor atau ekspor dari instansi teknis terkait. Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Tanda Tangan materai Rp. 6000 Stempel Perusahaan Nama (Pimpinan Perusahaan)
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN III PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: P-24/BC/2007

A. Perusahaan : 1. Mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Up. kepala kantor dengan melampirkan data-data: a. fotocopy laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah di audit oleh kantor akuntan publik; b. standard operating procedure (SOP) pembelian dan pembayaran impor, dan/atau penjualan dan penerimaan kas ekspor; c. standard operating procedure (SOP) pembuatan, pembayaran, dan penyerahan (transfer) PIB dan/atau PEB yang selama ini dimiliki dan dijalankan oleh perusahaan; d. surat pernyataan sebagaimana Lampiran II; e. Daftar nama PPJK yang diberi kuasa, dalam hal perusahaan menggunakan PPJK; dan f. keterangan lain yang dapat memberikan gambaran positif perusahaan, misalnya terdaftar sebagai wajib pajak patuh pada Direktorat Jenderal Pajak, company profile, sertifikat ISO, sertifikat ahli kepabeanan. 2. Menerima tanda bukti penerimaan surat permohonan; 3. Menerima surat permintaan data tambahan dari Direktur Jenderal u.p. kepala kantor; 4. Menyerahkan data tambahan yang diminta oleh Direktur Jenderal u.p. kepala kantor dengan mendapatkan tanda terima; 5. Menerima keputusan Direktur Jenderal u.p. kepala kantor tentang penolakan atau penetapan sebagai MITA . B. Kepala Kantor Pelayanan Utama : 1. Meminta data: a. registrasi importir kepada Direktorat Audit; b. data pelanggaran kepada Direktorat Penindakan dan Penyidikan; dan c. data impor dan ekspor kepada Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai. 2. Menerima data: a. registrasi importir dari Direktorat Audit; b. data pelanggaran dari Direktorat Penindakan dan Penyidikan; dan c. data impor dan ekspor dari Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai. 3. Membuat keputusan penolakan atau penerimaan atas permohonan dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak diterimanya berkas permohonan secara lengkap dari perusahaan; 4. Mengirimkan surat pemberitahuan penolakan pemberian status sebagai MITA disertai dengan alasannya kepada perusahaan dengan tembusan kepada Direktur Audit, Direktur Penindakan dan Penyidikan, Direktur Teknis Kepabeanan; 5. Mengirimkan Surat Keputusan Direktur Jenderal tentang penetapan, pencabutan sementara, atau pencabutan perusahaan sebagai MITA kepada perusahaan yang bersangkutan dengan salinan kepada Direktur Audit, Direktur Penindakan dan Penyidikan, Direktur Teknis Kepabeanan, dan Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai.
14 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

Tata Kerja Penetapan Perusahaan Sebagai MITA

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

6. Memasang profil MITA pada sistem aplikasi pelayanan KPU; 7. Mencabut sementara atau mencabut secara tetap profil MITA pada sistem aplikasi pelayanan KPU. C. Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai Kantor Pelayanan Utama : 1. Menerima dan meneliti berkas permohonan dari perusahaan dan membukukan dalam agenda; 2. Mengirimkan surat permintaan data tambahan kepada perusahaan dan membuat catatan permintaan tersebut dalam agenda dalam hal data kurang lengkap/kurang jelas; 3. Menerbitkan surat tugas kepada pemeriksa. D. Pemeriksa pada Bidang Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai Kantor Pelayanan Utama : 1. Pemeriksa melakukan: a. pemeriksaan rekam jejak pola bisnis selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja; b. pemeriksaan pengendalian selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja; dan c. pemeriksaan rekam jejak keakuratan pemberitahuan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja; 2. Kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 1 mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : a. Kemampuan berkomunikasi secara elektronik dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilihat dari: 1) modul sendiri; dan/atau 2) modul PPJK yang disetujui oleh kepala kantor. b. Pola bisnis yang jelas dilihat dari: 1) bidang usaha tertentu sebagaimana Klasifikasi Lapangan Usaha; dan 2) Kesesuaian komoditas impor dengan kegiatan usahanya. c. sistem pengendalian yang memadai untuk menjamin keakuratan data yang disajikan dilihat dari: 1) memiliki bagian yang menangani ekspor dan/atau impor; 2) terdapat prosedur otorisasi yang jelas atas pembayaran barang impor; 3) telah memperhitungkan proceed, royalty, dan/atau assist dalam dokumen pemberitahuan impor (jika ada). 4) Standard Operating Procedure (SOP) pembelian dan pembayaran impor, dan/atau penjualan dan penerimaan kas ekspor; 5) Standard Operating Procedure (SOP) pembuatan, pembayaran, dan penyerahan (transfer) PIB dan/atau PEB yang selama ini dimiliki dan dijalankan oleh perusahaan; 6) metode negosiasi yang terdokumentasi (mekanisme terbentuknya harga transaksi); dan d. Keakuratan pemberitahuan pabean dan/atau cukai yang baik dalam 1 (satu) tahun terakhir dilihat dari: 1) keakuratan nilai pabean paling sedikit 95% dari nilai pabean secara agregat; 2) tidak memiliki catatan pelanggaran pemenuhan kewajiban persyaratan impor dari instansi terkait dan/atau batal impor karena tidak memperoleh ijin dari instansi terkait;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

3) tidak melakukan pelanggaran fisik barang di atas 5% dari nilai atau volume barang; e. tidak melakukan tindak pidana kepabeanan dan cukai. f. Rekam jejak pelanggaran pemenuhan ketentuan tentang perijinan dan persyaratan impor/ekspor dari instansi teknis terkait. g. Dalam hal perusahaan mendapatkan fasilitas pembebasan, keringanan, dan penangguhan bea masuk, mempertimbangkan juga sistem penatausahaan dan pengelolaan sediaan barang yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diketahui jenis, spesifikasi, jumlah pemasukan dan pengeluaran sediaan barang yang berkaitan dengan fasilitas kepabeanan yang diperoleh dan/atau digunakan. 3. Menyusun laporan pemeriksaan aplikasi MITA yang terdiri dari: a. rekomendasi; b. kertas kerja; dan c. profil MITA. E. Direktorat Audit : 1. Menerima surat permintaan data registrasi importir dari kepala kantor; 2. Mengirimkan data registrasi importir kepada kepala kantor; 3. Menerima tembusan surat pemberitahuan tentang penolakan pemberian status sebagai MITA ; 4. Menerima tembusan surat keputusan kepala kantor a.n. Direktur Jenderal tentang penetapan, pencabutan sementara, atau pencabutan perusahaan sebagai MITA . F. Direktorat Penindakan dan Penyidikan: 1. Menerima surat permintaan data pelanggaran dari kepala kantor; 2. Mengirimkan data pelanggaran kepada kepala kantor; 3. Menerima tembusan surat pemberitahuan tentang penolakan pemberian status sebagai MITA ; 4. Menerima tembusan surat keputusan kepala kantor a.n. Direktur Jenderal tentang penetapan, pencabutan sementara, atau pencabutan perusahaan sebagai MITA. G. Direktorat Teknis Kepabeanan : 1. Menerima tembusan surat pemberitahuan tentang penolakan pemberian status sebagai MITA ; 2. Menerima tembusan surat keputusan kepala kantor a.n. Direktur Jenderal tentang penetapan, pencabutan sementara, atau pencabutan perusahaan sebagai MITA . H. Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai : 1. Menerima surat permintaan data impor dan ekspor dari kepala kantor; 2. Mengirimkan data impor dan ekspor kepada kepala kantor; 3. Menerima tembusan surat keputusan kepala kantor a.n. Direktur Jenderal tentang penetapan, pencabutan sementara, atau pencabutan perusahaan sebagai MITA ; DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
16 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 395 OKTOBER 2007
s

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->