Anda di halaman 1dari 12

Topik Khusus:

Analisis Risiko dan Pemberian Pinjaman


presentasi

Kelompok 12 Sagita Adjani Seviana Putri A CA (0910230023) (0910230025)

Yanti Trie Handayani (0910230027)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

ANALISIS RISIKO: ANALISIS RASIO ANALISIS SUMBER RESIKO Tabel 1. Sumber Risiko Sumber Contoh risiko yang timbul Internasional Ketidakstabilan pemerintah local Ketidakstabilan kebijakan pemerintah setempat Risiko perubahan kurs mata uang Resesi dunia Domestik Resesi Inflasi atau deflasi Perubahan tingkat bunga Perubahan demografis Perubahan kebijakan dalam negeri Perubahan politik dalam negeri Industri Perubahan teknologi Persaingan Perubahan kekuatan tawar menawar dalam industri Peraturan pemerintah yang berkaitan dengan industry Perusahaan Perubahan manajemen Perubahan strategi Risiko terkena bencana Risiko terkena tuntutan hukum Meskipun risiko-risiko diatas secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi perusahaan, tetapi perusahaan harus memperhatikan risiko-risiko yang mempunyai konsekuensi keuangan perusahaan.

Tabel 2. Kegiatan perusahaan dan aliran kas yang dihasilkan atau dibutuhkan Kegiatan perusahaan Operasi Investasi Pendanaan Kemampuan perusahaan menghasilkan kas Profitabilitas perusahaaan Penjualan aset perusahaan Kapasitas meminjam Kebutuhan investasi pada aktiva baru Membayar hutang dengan bunga dan kewajiban lainnya Analisis risiko dibagi menjadi dua bagian: 1. analisis risiko jangka pendek: memfokuskan pada kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (kurang dari satu tahun) 2. Analisis risiko jangka panjang: memfokuskan pada kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya (lebih dari satu tahun) Risiko dikelompokkan menjadi dua: 1. 2. Risiko spesifik: dapat dihilangkan dengan diversifikasi Risiko sistematis: risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi Kebutuhan yang menggunakan kas Kebutuhan modal kerja Analisis yang digunakan Likuiditas jangka pendek Likuiditas jangka panjang Likuiditas jangka panjang

Tabel 3. Skema analisis risiko Likuiditas jangka pendek Rasio lancar Rasio quick Rasio aliran kas operasional terhadap hutang lancar Analisis rasio aktivitas modal kerja Rasio Interest Coverage Rasio aliran kas operasional terhadap total hutang Rasio aliran kas operasional terhadap pengeluaran modal Perputaran piutang dagang dan persediaan Pendapatan sebelum bunga dan pajak Aliran kas dari operasi Aliran kas dari operasi Perputaran hutang dagang Biaya bunga Total hutang Pengeluaran modal Kemampuan Aktiva lancar Aktiva lancar Aliran kas dari operasi Kebutuhan Hutang lancar Hutang lancar Hutang lancar

RISIKO LIKUIDITAS JANGKA PENDEK Ada enam rasio yang bisa dipakai untuk memperkirakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendeknya. Tiga rasio berkaitan dengan besarnya sumber daya yag tersedia untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, yaitu: rasio lancar, rasio quick dan rasio aliran kas operasional terhadap hutang lancar. Tiga rasio lainnya berkaitan dengan besarnya modal kerja yang diperlukan untuk tingkat penjualan yang tertentu: perputaran piutang, perputaran persediaan, dan perputaran hutang dagang Rasio lancar Rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio ini menunjukkan besarnya kas yang dipunyai perusahaan ditambah aset-aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap besarnya hutang-hutang yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat (tidak lebih dari satu tahun), pada tanggal tertentu seperti tercantum pada neraca. Rasio lancar dipengaruhi beberapa hal: 1. Apabila perusahaan menjual surat-surat berharga yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar dan menggunakan kas yang diperolehnya untuk membiayai akuisisi perusahaan tersebut terhadap beberapa perusahaan lain atau untuk aktivitas lain, rasio lancar bisa mengalami penurunan. 2. Apabila penjualan naik, sementara kebijakan piutang tetap, piutang akan naik dan memperbaiki rasio lancar. 3. Apabila supplier melonggarkan kebijakan kredit mereka, misal dengan memperpanjang jangka waktu hutang, hutang akan naik dan ini akan mengurangi rasio lancar. 4. Perubahan prinsip akuntansi juga akan mempunyai pengaruh terhadap rasio lancar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang bisa menyulitkan interpretasi rasio lancar:

1. Jika rasio lancar > 1, kenaikan aktiva lancar dan hutang lancar dalam jumlah yang sama akan menurunkan rasio lancar. Sebaliknya, jika rasio lancar < 1, kenaikan aktiva lancar dan hutang lancar dalam jumlah yang sama akan menaikkan rasio lancar. Jika mendekati atau sekitar 1, maka interpretasi rasio lancar akan semakin sulit. 2. Rasio lancar yang tinggi barangkali justru mencerminkan kondisi bisnis yang kurang menguntungkan, sementara penurunan rasio lancar barangkali akan mencerminkan kondisi bisnis yang menguntungkan. 3. Perubahan-perubahan yang dilakukan manajemen bisa membuat rasio lancar lebih baik. Rasio Quick Rasio ini menggunakan aset-aset yang akan berubah menjadi kas dengan lebih cepat. Karena persediaan dianggap sebagai aktiva lancar yang paling lama untuk berubah menjadi kas, maka dalam perhitungan rasio quick persediaan dikeluarkan dari angka yang dibagi (numerator). Meskipun demikian, analis harus berhati-hati dengan klasifikasi semacam ini. Pada beberapa industri barangkali persediaan akan berubah cepat menjadi kas, lebih cepat dibandingkan piutang dari industri lain. Rasio quick bisa mengalami penurunan. Penurunan ini bisa disebabkan karena penjualan surat-surat berharga. Secara umum rasio lancar dengan rasio quick mempunyai korelasi yang tinggi. Kecuali apabila terjadi perubahan-perubahanpada persediaan, maka kedua rasio tersebut mungkin akan menghasilkan informasi yang berbeda. Rasio aliran kas terhadap hutang lancar Rasio ini digunakan untuk melengkapi rasio-rasio sebelumnya sekaligus untuk mengatasi kelemahan-kelemahan rasio-rasio di atas. Aliran kas dari operasi dilaporkan dalam laporan aliran kas. Kas tersebut merupakan kelebihan kas yang diperoleh dari operasi setelah semua kebutuhan modal kerja dan pembayaran hutang lancar telah dipenuhi. Karena angka yang dibagi dalam persamaan ini adalah aliran kas dalam satu periode, maka pembagi, agar konsisten, yang dipakai adalah rata-rata hutang lancar pada periode tersebut.

Rasio aliran kas terhadap hutang lancar = aliran kas dari operasi (sebelum item-item luar biasa)/ rata-rata hutang lancar Rasio aktivitas modal kerja Siklus suatu bisnis bisa digambarkan sebagai berikut ini. Kas keluar Untuk membayar bahan mentah kas masuk Dari pembeli

Pertama kali perusahaan mengeluarkan kas untuk membayar bahan mentah dan membayar karyawan. Pembelian bisa dilakukan dengan kas, tetapi juga bisa dilakukan dengan kredit yang berarti perusahaan memperoleh subsidi dari supplier. Setelah itu barang diproduksi dan kemudian disimpan dalam persediaan. Apabila penjualan terjadi dan penjualan tersebut dalam bentuk kredit, maka timbul piutang. Setelah piutang tersebut dibayar, perusahaan menerima kas kembali. Siklus kas dihitung dengan formula semacam ini: Siklus kas = rata-rata umur piutang + rata-rata umur persediaan rata-rata umur hutang. Hutang dipakai sebagai pengurang karena dengan menggunakan hutang perusahaan tidak perlu membayar kas terlebih dulu (menunda kas keluar), dan ini akan memperpendek siklus kas. Untuk melihat rata-rata umur piutang, hutang, dan persediaan, kita harus menghitung perputaran aktiva-aktiva tersebut. Berikut ini perhitungannya. Perputaran piutang = penjualan/rata-rata piutang Perputaran persediaan = harga pokok penjualan / rata-rata persediaan Perputaran hutang = pembelian/ rata-rata hutang Pembelian = harga pokok penjualan + persediaan akhir persediaan awal Setelah perputaran tersebut dihitung, langkah selanjutnya dalah menghitung jangka waktu rata-rata untuk tiap aktiva atau hutang tersebut. Rata-rata umur piutang = 365 / perputaran piutang Rata-rata umur persediaan = 365 / perputaran persediaan Rata-rata umur hutang = 365 / perputaran hutang Misalkan dua perusahaan mempunyai siklus kas sebagai berikut ini.:
keterangan Perusahaan A Perusahaan B

siklus piutang siklus persediaan siklus hutang siluas kas

30,9 hari 68,9 hari (43,5 hari) 56,3 hari

32,6 hari 89,0 hari (41,5 hari) 80,1 hari

Siklus perusahaan A lebih pendek dibanding siklus perusahaan B. Perusahaan A dalam hal ini mempunyai risiko likuiditas jangka pendek yang lebih kecil dibandingkan perusahaan B.
Perusahaan A th 1 th 2 th 3 400 410 450 200 667 250 661 240 692 Perusahaan B th 1 th 2 th 3 600 610 650 300 124 320 1173 340 1300

Kas operasi Kas investasi penjualan (pembelian) pabrik Hutang lancar

Rasio lancar Rasio Quick Rasio Aliran kas terhadap hutang lancar

Perusahaan A th 1 th 2 th 3 1,75 1,74 1,72 0,7 0,6 0,55 0,6 0,62 0,65

Perusahaan B th 1 th 2 th 3 1,55 1,55 1,51 0,69 0,65 0,61 0,49 0,52 0,5

Dari data di atas nampak bahwa perusahaa A ,mempunyai kemampuan likuiditas yang lebih baik dibandingkan perusahaan B. Secara umum kedua perusahaan mengalami penurunan pada rasio lancarnya, meskipun tidak begitu besar penurunannya. Rasio quick untuk kedua perusahaan tersebut mengalami penurunan yang cukup berarti. Hal ini barangkali disebabkan karena kedua perusahaan tersebut menjual surat berharga mereka untuk membiayai program ekspansi mereka. Secara umum penurunan rasio quick menunjukkan meningkatnya risiko likuiditas mereka, apalagi kalau program ekspansi tersebut masih berlangsung lama. Tetapi rasio aliran kas terhadap hutang lancar kedua perusahaan tersebut masih stabil, bahkan menunjukkan kecenderungan meningkat. Meningkatnya risiko likuiditas yang diimbangi oleh kemampuan menghasilkan kas yang stabil, menunjukkan risiko likuiditas tidak terlalu menjadi masalah bagi kedua perusahaan tersebut.

RISIKO LIKUIDITAS JANGKA PANJANG

Risiko likuiditas jangka panjang mencerminkan ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Risiko likuiditas jangka panjang dapat dihitung dengan rasio-rasio dibawah ini : 1. Rasio hutang (debt ratio) 2. Rasio interst coverage (kemampuan membayar bunga) 3. Rasio aliran kas operasional terhadap total hutang 4. Rasio aliran kas terhadap pengeluaran modal Kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan aliran kas masuk. Profitabilitas yang bagus mencerminkan kemampuan perusahaan memperoleh aliran kas yang baik dan risiko yang lebih kecil. 1. Rasio Hutang

Untuk mengukur besarnya hutang jangka panjang dalam struktur modal suatu perusahaan. Ada beberapa variasi perhitungan rasio hutang. total aset Rasio total hutang total aset = total hutang/ total aset Rasio hutang jangka panjang = hutang jangka panjang/ (hutang jangka panjang + modal saham) Rasio hutang modal saham = hutang jangka panjang/ modal saham Rasio hutang jangka panjang total aset = hutang jangka panjang/

Keempat rasio tersebut akan memberikan informasi yang sama mengenai kondisi hutang jangka panjang suatu perusahaan. Item-item Off Balance Sheet Rekening off balance sheet kelihatannya tidak mempunyai pengaruh terhadap neraca karena tidak tercantum di neraca, meskipun sebenarnya mempunyai pengaruh. Penyesuaian bisa dilakukan dengan memasukkan item-item off balance sheet ke dalam analisis. Penghilangan semacam ini membuat neraca nampak lebih baik, total kewajiban bisa berkurang dan perusahaan nampak akan lebih kecil risikonya.

Contoh beberapa item yang bisa dihilangkan dalam neraca yaitu sewa aset (leasing). Leasing bisa masuk ke neaca apabila jenisnya capital lease. Tapi jika jenisnya operating lease, maka sewa hanya akan dicatat sebagai beban sewa dan masuk dalam laporan laba rugi. Tapi walaupun tidak masuk dalam neraca, itu termasuk contoh biaya yang bersifat tetap. Item lain yang mirip leasing adalah cadangan pensiun karyawan. Itu termasuk kewajiban tetap yang harus dipenuhi perusahaan. Dengan memasukkan item-item off balance sheet, likuiditas jangka panjang akan semakin tinggi. 2. Rasio Interest Coverage

Untuk mengukur berapa kali pendapatan sebelum bunga dan pajak bisa menutup bunga (EBIT). EBIT dipakai karena bunga dibayar dengan menggunakan EBIT (bunga dikurangkan dari EBIT) Rasio Interst Coverage = (laba bersih+ biaya bunga +pajak penghasilan) / biaya bunga Biasanya rasio lebih kecil dari sekitar 2 dipandang sebagai situasi yang cukup berisiko. Jika perusahaan mempunyai kewajiban tetap seperti leasing dan dana pensiun tadi, jumlah pembayaran tetap ini bisa dimasukkan ke dalam rumus. Rasio itu kemudian dinamakan fixed charge coverage ratio (rasio kemampuan pembayaran tetap). 3. Rasio Aliran Kas terhadap Total Hutang

Rasio hutang dan rasio interest coverage tidak mengkaitkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas untuk memenuhi utangnya. Dalam hal ini dapat digunakan rasio aliran kas dari operasi terhadap total hutang. Aliran kas ini merupakan angka yang sama dengan aliran kas pada rasio yang digunakan untuk menganalisis risiko likuiditas jangka pendek. Rasio Aliran Kas terhadap Total Hutang = aliran kas dari operasi kas/ rata-rata total hutang

Ada tiga komponen operasi dalam aliran kas, yaitu Operasi, Pendanaan, Investasi. Rata-rata hutang disini dapat dihitung dengan (hutang tahun lalu+hutang tahun ini)/2. Untuk rasio ini, angka sekitar 20 % merupakan hal yang biasa untuk perusahaan yang sehat keuangannya. 4. Rasio Aliran Kas terhadap Pengeluaran Modal (Investasi)

Memberikan informasi besarnya aliran kas untuk menutup pengeluaran modal yang diperlukan untuk investasi. Sedangkan kelebihan kasnya dapat dipakai untuk membayar hutang dengan bunganya. Rasio Aliran Kas operasional terhadap Pengeluaran Modal Aliran kas = Laba bersih + depresiasi = Aliran kas dari operasi/ pengeluaran modal

Besar kecilnya aliran kas untuk pengeluaran investasi bergantung pada siklus produk yang dipunyai. Rasio ini bisa dianalisis lebih lanjut dengan mengevaluasi setiap segmen dalam perusahaan. Segmen perusahaan bisa berupa segmen berdasarkan produk. Rasio Aliran Kas operasioanl terhadap Pengeluaran Modal untuk Segmen =(aliran kas dari operasi segmen + depresiasi segmen)/pengeluaran modal segmen Rasio aliran kas operasioanl terhadap pengeluaran modal tidak mempertimbangkan besarnya hutang secara eksplisit seperti dalam rasio-rasio hutang, juga rasio yang dipengaruhi oleh tindakan manajemen. Apabila perusahaan mengalami kesulitan profitabilitas tetapi perusahaan tersebut ingin mempunyai rasio aliran kas terhadap pengeluaran modal yang baik, manajemen bisa mengurangi pengeluaran modal (investasi) dan akibatnya malah merusak daya saing perusahaan.

ANALISIS PEMBERIAN PINJAMAN KETENTUAN DAN RISIKO KEUANGAN Beberapa aspek dalam pemberian pinjaman oleh bank : 1. Evaluasi oleh bank 2. Penyusunan perjanjian simpan pinjam, seperti penentuan tingkat bunga, penentuan berapa batasan yang bertujuan melindungi kepentingan pemberi pinjaman (bank). 3. Monitoring oleh pihak bank. 4. Restrukturisasi hutang (jika terjadi gagal bayar). Sumber-sumber informasi untuk membantu pengambilan keputusan pinjaman: 1. Nasabah: informasi ini meliputi informasi laporan keuangan masa lalu, informasi proyeksi keuangan, deskripsi asset yang dijadikan jaminan, detail perencanaan bisnis, dan pengalaman manajemen. 2. File pihak pemberi dana. 3. Asosiasi bisnis: memberikan informasi mengenai perilaku dan kondisi anggota-anggotanya. 4. Informasi pihak eksternal, seperti rangking surat-surat berharga. 5. Informasi pasar modal. 6. Laporan industri dan ekonomi secara umum. Tahapan dalam proses pinjaman mencakup tiga hal, yaitu : 1. Persetujuan pinjaman 2. Monitor pinjaman 3. Pelunasan pinjaman Rasio-rasio keuangan yang dianggap penting dalam pengambilan keputusan pinjaman: 1. Hutang / modal saham 2. Rasio lancar

3. Aliran kas/proporsi hutang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini 4. Fixed charged coverage 5. Profit margin bersih sesudah pajak 6. Bunga bersih yang diperoleh 7. Profit margin bersih sebelum pajak 8. Degree of Financial Leverage 9. Perputaran persediaan (hari) 10. Perputaran piutang dagang (hari) Keterangan : 1,2,3 Kurang penting 4,5,6,7 Penting secara umum (rata-rata) 8,9,10 Sangat penting

BEBERAPA MASALAH DALAM PENGGUNAAN METODE KUANTITATIF Dalam penggunaan metode kuantitatif, ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan. Data antar industri relatif heterogen. Analis bisa membuat data ini menjadi lebih homogen dengan membuat angka-angka relatif. Masalah lain adalah dalam pemilihan sample. Kalau sample dipilih dari file perusahaan saat ini, barangkali sample tidak representatif karena sample tersebut hanya mewakili pupulasi yang terseleksi oleh sistem yang ada saat ini di perusahaan, bukan populasi secara keseluruhan. Pemilihan variabel juga menjadi masalah, karena saat ini masih sedikit teori yang dikembangkan yang bisa mengarahkan pemilihan variabel-variabel untuk analisis kredit. Meskipun demikian teknik-teknik kuantitatif semakin berkembang, semakin banyak digunakan, terutama untuk analisis kredit.