Anda di halaman 1dari 43

Profillia Putri, S.Si, M.

Pd

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

TUJUAN PEMBELAJARAN:
Setelah mempelajari bahan ajar ini diharapkan Anda mampu: 1. 2. 3. 4. 5. Mengidentifikasi komponen penyusun dan interaksi ekosistem Memahami rantai makanan dan jaring-jaring makanan Memahami interaksi komponen biotik Menjelaskan peran komponen biotik dan abiotik dalam kehidupan Memahami dan menerapkan konsep keseimbangan lingkungan

DESKRIPSI
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang mengamati gejala-gejala di alam. Gejala-gejala di alam sangat berkaitan dengan prilaku manusia dalam memanfaatkan dan mengelola alam. Dalam pemanfaatan dan pengelolaan alam diperlukan pengetahuan, pemahaman dan kebijaksanaan manusia agar alam tidak terganggu keseimbangannya. Oleh karena itu penting untuk menanamkan pemahaman kepada manusia agar sejak dini dapat memperlakukan alam dengan bijaksana sehingga tidak merugikan di kemudian hari. IPA di SMK adalah suatu mata diklat adaptif yang berfungsi menunjang mata diklat produktif. Kompetensi Dasar yang harus dikuasai siswa SMK mata pelajaran IPA di SMK ada 3 yaitu (1) memahami gejalagejala alam melalui pengamatan, (2) memahami polusi dan dampaknya pada manusia dan lingkungannya serta (3) memahami komponen ekosistem serta peranan manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan AMDAL. Dalam bahan ajar ini mencakup ekosistem dan peranan manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan diperoleh dengan memahami komponen penyusun ekosistem, interaksi komponen penyusun ekosistem, rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Sebagai kepedulian terhadap lingkungan maka siswa SMK harus memahami saling ketergantungan yang ada dalam lingkungan dan dampak over eksploitasi ekosistem.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

BAB I EKOSISTEM
Ekosistem adalah suatu sistem hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem dapat dikatakan juga sebagai sutu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh anatara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem juga dapat berarti sutu unit fungsional antara komunitas dengan lingkungannya. Ekosistem dapat besar dan kecil. Contoh ekosistem dalam kehidupan sehari-hari adalah ladang, hutan, kolam dan laut. Kumpulan ekosistem yang ada di seluruh dunia disebut sebagai biosfer. Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

a. Ekosistem darat
Ekosistem ekosistem fisiknya Ekosistem menjadi Bioma darat yang berupa darat beberapa adalah adalah lingkungan daratan. dibedakan bioma. kumpulan

species (terutama tumbuhan) yang mendiami tempat tertentu di bumi yang dicirikan oleh vegetasi tertentu yang dominan dan langsung terlihat jelas di tempat tersebut. Oleh karena itu biasanya Bioma diberi nama berdasarkan tumbuhan yang dominan di daerah tersebut. Contoh bioma adalah gurun,

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

padang rumput, hutan basah, hutan gugur, taiga dan tundra.

b. Ekosistem air tawar


Ekosistem air tawar digolongkan manjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, sedangkan ekosistem air mengalir adalah sungai.

c. Ekosistem air laut


Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang. Laut ditandai dengan salinitas (kadar garam) yang tinggi terutama di daerah laut tropik. Pantai letaknya berbatasan dengan darat, laut dan daerah pasang surut. Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Terumbu karang terdiri dari didominasi karang batu dan organisme-organisme lainnya, daerah ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

A. Komponen-Komponen Ekosistem
Sebelum diketahui. Populasi yang populasi sama gajah adalah jenisnya contohnya berarti membahas komponen-komponen yang menyusun suatu

ekosistem, ada beberapa istilah dalam lingkup ekosistem yang penting untuk

kelompok makhluk hidup (spesiesnya)

kelompok gajah, populasi banteng berarti kelompok banteng. Suatu makhluk hidup dapat dikatakan anggota populasi apabila: hidup bersama dalam populasi mempunyai fungsi sebagai anggota populasi mempunyai persamaan anatomi dan fisiologi dengan anggota lainnya dapat melakukan perkembangbiakan dengan anggota-anggota populasi Apabila terdapat beberapa populasi dalam suatu daerah dan saling berinteraksi maka terbentuklah komunitas. Dilihat secara umum komponen penyusun ekosistem dapat dikelompokan menjadi dua yaitu: Komponen Abiotik/pengada ragawi/tak hidup/ nir-hidup dan Komponen Biotik/pengada insani/hidup. Komponen tak hidup (abiotik) adalah bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Komponen biotik/hidup dalam ekosistem dapat digolongkan lagi menjadi: EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri
5

tersebut

a. Komponen autotrof
(Auto = sendiri dan trophikos = makanan) Autotrof adalah organisme yang mapu menyediakan/mensistesa makanan sendiri berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari. Komponen autotrof ini berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh=tumbuhan hijau.

b. Komponen heterotrof
(Heteros = berbeda, trophikos = makanan) Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia dan hewan.

c. Dekomposer (pengurai)
Dekomposer adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan oraganik kompleks). Dekomposer menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen, contohnya adalah jamur dan bakteri pengurai. Keberadaan dekomposer sangat penting dalam ekosistem. Oleh dekomposer, hewan atau tumbuhan yang mati akan diuraikan dan dikembalikan ke tanah menjadi unsur hara (zat anorganik) yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan. Aktivitas pengurai juga menghasilkan gas karbondioksida yang penting bagi fotosintesis.

B. Interaksi Komponen Ekosistem


Komponen-komponen dalam suatu ekosistem berinteraksi dan tercipta hubungan saling ketergantungan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Tanpa ketergantungan tersebut maka tak mungkin ada kehidupan. Sebagai contoh singa memakan kijang, kijang memakan rumput, rumput memerlukan tanah, sinar matahari, air dan udara untuk tumbuh. Walau tidak secara langsung maka singa juga membutuhkan rumput, karena jika tidak ada
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

rumput maka kijang akan berkurang. Jika kijang berkurang maka singa akan sulit mendapatkan makanan. Hubungan saling interaksi dalam suatu ekosistem ini menempatkan setiap jenis makhluk hidup pada tingkat tertentu dari sumber makanan atau sumber energi. Tingkatan-tingkatan makanan seperti tergambar di atas disebut tingkat trofik. Tingkat trofik kemudian disusun mulai dari tumbuhan sampai hewan pemakan daging (karnivora) maka terbentuklah suatu tingkatan yang disebut sebagai piramida trofik atau piramida makanan. Tumbuhan sebagai produsen yaitu makhluk hidup yang dapat membuat makanan sendiri, menempati tingkat trofik pertama. Konsumen yaitu hewan yang memakan tumbuhan, sebagai konsumen primer menempati tingkat trofik kedua, sedangkan hewan yang memakan daging sebagai konsumen sekunder menempati tingkat trofik ketiga. Tingkatan trofik tersebut kemudian disusun membentuk suatu piramida dimana yang paling bawah adalah tingkat trofik pertama, kemudian ke atas adalah tingkat trofik kedua dan seterusnya. Jika dilihat maka akan berbentuk piramida.

C. Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan


Materi dan energi di dalam suatu ekosistem akan selalu mengalami perubahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain melalui jalan yang rumit. Energi primer dari ekosistem berasal dari cahaya matahari. Selanjutnya oleh tumbuhan hijau diubah menjadi energi kimia, dan bila dimakan oleh herbivora, maka materi dan energi akan pindah kedalam tubuh hewan dan selanjutnya akan pindah ke karnivora, ke pengurai dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain akan di sertai pembebasan sebagian energinya. Perpindahan energi dari sinar matahari yang mula-mula dipakai oleh tumbuhan melalui serangkaian organisme dalam peristiwa makan-memakan dengan arah tertentu disebut rantai makanan (food chain). Contoh dari rantai makan yaitu sinar matahari digunakan oleh tumbuhan untuk pertumbuhannya, tumbuhan dimakan oleh ulat daun, kemudian ulat daun dimakan oleh ayam, selanjutnya ayam dimakan oleh elang.
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

Dalam kenyataannya di alam rantai makanan tersebut akan saling menjalin. Sebagai contoh rumput dan biji-bijian tidak selalu dimakan oleh tikus, tetapi juga dimakan oleh kelinci, burung, dan tupai. Sedang tikus tidak selalu dimakan ular, atau pun burung hantu, tetapi juga dimakan rubah. Gambaran tersebut menunjukkan proses saling makan, semua berpangkal pada tumbuhan hijau. Keadaan semacam itu disebut jaring-jaring makanan (food web).

Gambar Jaring-Jaring Makanan

D. Interaksi Komponen Biotik


Interaksi antara komponen biotik dalam suatu daerah dikenal sebagai komunitas. Hubungan antar komponen biotik ini mempunyai pengaruh besar

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

terhadap berbagai spesies pembentuk komunitas. Hubungan interaksi populasi ini dapat bermacam-macam sifatnya yaitu: a. Netral Interaksi yang terjadi jika bersifat netral adalah tidak saling mempengaruhi di antara komponen biotik. Contohnya adalah antara kumpulan makhluk hidup (populasi) walang sangit dengan burung gelatik dalam suatu persawahan. Walaupun walang sangit dan burung gelatik sama-sama makan biji padi, namun mereka tidak saling mempengaruhi atau bersaing. Walang sangit menghisap buah padi muda sedangkan burung gelatik makan biji. Sehingga antara populasi walang sangit dan burung gelatik tisak saling mengganggu.

b. Kompetisi Interaksi yang terjadi jika bersifat kompetisi adalah terjadi persaingan di antara komponen biotik. Contohnya adalah antara kumpulan makhluk hidup chitah dan harimau di suatu daerah. Kedua hewan tersebut sama-sama sebagai pemakan hewan lain seperti kijang, zebra, rusa dan lain sebagainya. Di antara kedua populasi hewan tersebut saling berkompetisi

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

untuk mendapatkan makanan. Siapa yang kuat akan menguasai daerah dan makanan, dan yang kalah akan menyingkir.

c. Mutualisme Interaksi yang bersifat mutualisme adalah terjadi hubungan saling

menguntungkan antara komponen biotik di suatu daerah. Contohnya adalah antara tumbuhan berbunga dengan kupu-kupu. Kupu-kupu mendapat keuntungan dengan menghisap makanan (madu) dari tumbuhan berbunga. Sebaliknya tumbuhan berbunga memperoleh keuntungan karena terbantu proses penyerbukan (reproduksi)nya ketika kupu-kupu menghisap madu.

d. Predasi Interaksi yang bersifat predasi adalah hubungan antara komponen biotik pemangsa dengan mangsanya. Pemangsa sering disebut sebagai predator. Contohnya adalah harimau dengan kijang, elang dengan anak ayam, dan

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

10

ular dengan tikus. Harimau, elang dan ular disebut sebagai pemangsa atau predator.

Sedangkan kijang, anak ayam dan tikus sebagai yang dimangsa atau disebut mangsa. Dalam interaksi ini kenaikan populasi pemangsa akan menurunkan populasi yang dimangsa, dan sebaliknya. Sifat predator dalam memangsa dibagi menjadi 2 jenis yaitu: harimau yang memangsa setelah menjadi bangkai disebut saprovor. yang memangsa dengan mentah atau hidup seperti ular dan

e. Parasitisme Interaksi ini terjadi jika komponen biotik yang satu parasit terhadap komponen biotik yang lain. Biasanya interaksi parasitisme ini dilakukan oleh tumbuhan atau hewan tingkat rendah dengan cara menumpang dan menghisap sari makanan dari hewan atau tumbuhan yang ditumpanginya. Hewan atau tumbuhan yang ditumpangi biasa disebut inang. Contohnya adalah cacing pita yang hidup
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

11

pada usus halus manusia. Cacing ini menghisap makanan di dalam tubuh manusia yang ditumpanginya.

e. Komensalisme Interaksi ini terjadi jika komponen biotik yang satu mendapat keuntungan, namun komponen biotik yang lain tidak merasa dirugikan. Contohnya adalah interaksi antara ikan hiu dengan ikan remora kecil yang menempel di tubuhnya. Ikan kecil tersebut dapat mendapat keuntungan karena bergerak mengikuti hiu tanpa

mengeluarkan energi dan juga mendapatkan makanan dari arus air yang dilewatinya. Ikan hiu tidak dirugikan dan diuntungkan.

E. Kehidupan

Peran Komponen Biotik Dan Abiotik Dalam


Komponen-komponen biotik dan abiotik yang merupakan komponen

penyusun ekosistem mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan. Karena jika satu komponen tersebut rusak atau hilang maka akan menyebabkan hancurnya keseimbangan kehidupan. Hilangnya komponen penyusun ekosistem tersebut dapat terjadi dengan 2 cara yaitu: Secara alamiah, misalnya bencana alam yaitu: kemarau panjang, banjir, gempa bumi, angin ribut, dan lain sebagainya. Dengan adanya bencana tersebut maka akan dapat mematikan komponen biotik (organisme yang hidup) dan juga merusak komponen abiotik dalam ekosistem Akibat campur tangan manusia, misalnya manangkap ikan dan memberantas hama dengan zat racun, menebang dan membakar hutan, pengeringan rawa, pembuatan jalan dan lain sebagainya.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

12

Dengan hilangnya komponen biotik dan abiotik dalam kehidupan maka akan terjadi perubahan lingkungan. Pengaruh perubahan lingkungan akan sangat mempengaruhi organisme yang hidup di dalamnya. Pengaruh perubahan lingkungan sangat bervariasi. Ada komponen biotik dan abiotik yang dapat dan tidak dapat beradaptasi. Jika tidak dapat beradaptasi maka akan menyebabkan kematian dan kerusakan. Namun jika komponen biotik dan abiotik tersebut dapat beradaptasi maka akan tetap hidup dan ada dalam kehidupan.

BAB II KONSEP KESEIMBANGAN LINGKUNGAN

A.

Saling Ketergantungan
Dari peran komponen biotik dan abiotik dalam kehidupan dapat terlihat

jelas adanya saling ketergantungan antara satu komponen dan komponen yang lain dalam membentuk suatu keseimbangan lingkungan. Ada dua hal utama yang terus berlaku dalam kehidupan makhluk di alam ini yaitu :

Semua makhluk hidup saling bergantung satu dengan yang lain Semua makhluk hidup akan mati dan jasadnya dimakan oleh makhluk hidup yang lain.

Tanpa ketergantungan maka tak mungkin ada kehidupan di bumi ini. Sebagai contoh manusia membutuhkan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari. Hewan membutuhkan tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya. Tumbuhan membutuhkan tanah yang subur agar dapat tumbuh maksimal. Tanah yang subur diperoleh jika kaya akan zatzat yang tidak lain berasal dari hewan yang mati. Hal ini membentuk suatu rantai ketergantungan menuju suatu keseimbangan dalam kehidupan di lingkungan.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

13

B.

Dampak Over Eksploitasi Lingkungan


Antara makhluk hidup dengan lingkungannya selalu terdapat saling

ketergantungan, sehingga perubahan pada salah satu komponen akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya. Manusia mampu merubah lingkungan sesuai dengan keserasian keinginannya, dan tetapi harus komponen dengan dalam mempertimbangkan keseimbangan

lingkungan yang tetap mantap. Manusia harus mengusahakan sedapat mungkin agar perubahan lingkungan tidak boleh keluar dari kisaran kemampuan adaptasi organisme yang ada. Semenjak terjadi pertambahan manusia yang pesat dan dengan perkembangan teknologi yang mempermudah manusia mengeksploitasi lingkungan maka terjadilah over eksploitasi yang menyebabkan lingkungan tidak seimbang. Beberapa faktor yang menyebabkan over eksploitasi lingkungan adalah sebagai berikut: Jumlah manusia yang berlebihan. Hal ini mendorong manusia mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan pula demi keperluan hidupnya. Pola konsumsi manusia yang boros Pola konsumsi yang boros ini terkadang menyebabkan manusia mengeksploitasi lingkungan untuk hal-hal yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat. Kemajuan teknologi Hal ini menyebabkan manusia menggunakan teknologi secara berlebihan dan membabi buta tanpa memikirkan efek penggunaan teknologi tersebut yang dapat merusak lingkungan. Krisis pengelolaan lingkungan

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

14

Hal

ini

memungkinkan

pengelolaan

lingkungan

menjadi

tidak

berkesinambungan. Selain itu kurangnya pengelolaan lingkungan yang baik menyebabkan keanekaragaman hayati di lingkungan berkurang. Dari hal-hal tersebut di atas faktor jumlah manusia dan kemajuan teknologilah yang menjadi sebab utama terjadinya over eksploitasi lingkungan. Karena kemajuan perkembangan teknologi memungkinkan manusia mengeksploitasi lingkungan alam dengan mudah. Sebagai contoh kemajuan perkembangan teknologi tersebut dalam berbagai bidang adalah:

Bidang pertanian
Menciptakan alat pertanian yang maju seperti traktor, alat pemotong dan penanam, alat penyemprot hama dan lain sebagainya. Dengan alat ini manusia dapat mengolah pertanian dengan efektif dan efisien.

Bidang industri
Menciptakan alat-alat industri sehingga pekerjaan manusia dalam mengolah hasil alam untuk keperluan manusia menjadi lebih mudah

Bidang pertambangan
Menciptakan alat-alat yang dapat mempercepat dan mempermudah manusia menambang dan mengolah hasil tambang tersebut

Bidang kesehatan
Menciptakan alat-alat mutakhir yang dapat membantu penanganan pengobatan dan juga menciptakan obat-obatan sehingga harapan hidup manusia menjadi lebih panjang.

Bidang pertahanan dan keamanan


Menciptakan wilayahnya.
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

persenjataan

yang

canggih

untuk

mempertahankan

15

Bidang transportasi
Menciptakan alat-alat tranportasi yang dapat mempermudah perjalanan dan komunikasi. Dengan perkembangan kemajuan teknologi di berbagai bidang

memungkinkan manusia untuk mengeksploitasi lingkungan alam dengan mudah dan cepat. Hal inilah yang mendorong terjadinya over eksploitasi. Jika tidak dibuat peraturan yang mengikat dan juga tidak ada kesadaran manusia tentang pentingnya keseimbangan lingkungan alam maka sedikit demi sedikit lingkungan alam tersebut akan habis tereksploitasi oleh manusia dengan berbagai macam keperluannya. alam yang nyata terlihat adalah: Dampak dari over eksploitasi lingkungan

Terjadinya pencemaran
Dengan adanya over eksploitasi terhadap lingkungan alam yang dilakukan manusia menyebabkan terjadinya pencemaran. Pencemaran yang terjadi dapat berupa pencemaran air, udara, tanah, dan suara. Sebagai contoh over eksploitasi terhadap hasil tambang, menyebabkan lingkungan di sekitar pertambangan menjadi tercemar. Bahan pencemarnya biasanya berupa logam-logam berat yang akhirnya mencemari air dan tanah. Selain itu asap dari industri pertambangan juga dapat mencemari udara. Suara bising dari alat-alat pertambangan menyebabkan polusi suara.

Hilangnya populasi suatu makhluk


Karena adanya over eksploitasi terhadap lingkungan alam memungkinkan suatu populasi makhluk hidup akan musnah. Sebagai contoh over eksploitasi terhadap kayu-kayu di hutan menyebabkan musnahnya komunitas di hutan tersebut. Komunitas yang hancur tersebut menyebabkan populasi makhluk hidup di dalamnya terancam musnah. Jika populasi makhluk tersebut tidak ada di daerah lain maka kemungkinan hilangnya populasi tersebut
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

semakin besar. Sebagai

16

contoh populasi harimau di Sumatera, orang utan di Kalimantan dan sebagainya semakin sedikit dan bukan mustahil jika populasi tersebut akan musnah karena over eksploitasi terhadap hutan.

Rusaknya keseimbangan lingkungan alam


Dengan adanya over eksploitasi lingkungan alam yang menyebabkan pencemaran dan hilangnya populasi suatu makhluk secara langsung akan merusak keseimbangan lingkungan alam. Adanya penecemaran menyebabkan makhluk yang mampu beradaptasi akan tetap hidup namun makhluk yang tidak dapat beradaptasi akan mati. Hal ini jelas menyebabkan alam menjadi tidak seimbang. Kematian yang dialami suatu populasi akan menimbulkan hilangnya salah satu komponen rantai makanan di daerah tersebut. Dengan hilangnya salah satu komponen rantai makanan bukan tidak mungkin mengakibatkan alur rantai dan jaring-jaring makanan terputus. Keseimbangan lingkungan alam akan rusak, dan efek-efek lain yang merugikan kehidupan akan bermunculan.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

17

RANGKUMAN
Ekosistem adalah suatu sistem hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem dapat dikatakan juga sebagai sutu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem juga dapat berarti suatu unit fungsional antara komunitas dengan lingkungannya. Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Dilihat secara umum komponen penyusun ekosistem dapat dikelompokan menjadi dua yaitu: Komponen Abiotik/pengada ragawi/tak hidup/ nir-hidup dan Komponen Biotik/pengada insani/hidup. Komponen tak hidup (abiotik) adalah bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Dengan perkembangan kemajuan teknologi di berbagai bidang memungkinkan manusia untuk mengeksploitasi lingkungan alam dengan mudah dan cepat. Hal inilah yang mendorong terjadinya over eksploitasi. Jika tidak dibuat peraturan yang mengikat dan juga tidak ada kesadaran manusia tentang pentingnya keseimbangan lingkungan alam maka sedikit demi sedikit lingkungan alam tersebut akan habis tereksploitasi oleh manusia dengan berbagai macam
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

18

keperluannya. Dampak dari over eksploitasi lingkungan alam yang nyata terlihat adalah: terjadinya pencemaran, hilangnya populasi suatu makhluk dan rusaknya keseimbangan lingkungan alam

TUGAS 1. EKOSISTEM
a. Bentuklah kelompok yang terdiri dari 3 4 orang b. Carilah suatu daerah untuk diamati. c. Amati daerah tersebut. d. Tulislah komponen penyusun ekosistem di daerah tersebut. e. Buatlah hasil pengamatan tersebut dalam bentuk laporan. f. Presentasikan laporan hasil pengamatan itu di depan kelas.

2. KONSEP KESEIMBANGAN EKOSISTEM


a. Carilah artikel di media massa (koran/majalah/internet) tentang eksploitasi hasil alam di suatu daerah. b. Analisislah artikel tersebut, carilah manfaat dan dampak dari eksploitasi tersebut. c. Berikan saran-saranmu agar eksploitasi tersebut tidak merugikan lingkungan c. Tuliskan hasil analisis dan saran-saranmu kemudian presentasikan di depan kelas.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

19

STUDI KASUS 1
http://www.antara.co.id/arc/2007/4/12/masalah-gajah-lampung-masuk-kampung-masih-dicarikanpenyelesaian/ 12/04/07 16:37

Masalah Gajah Lampung Masuk Kampung Masih Dicarikan Penyelesaian

Bandarlampung (ANTARA News) - Masalah gajah yang kerap memasuki areal kampung dan perladangan petani di Kabupaten Lampung Barat, segera dicarikan solusinya antar-tiga daerah, yakni Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, dan Provinsi Bengkulu. "Kami hari ini dan besok membahas masalah tersebut di Tanggamus, terutama terkait permasalahan gajah apakah akan digiring lebih ke dalam tidak di jalur Tanggamus-Lampung Barat," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Sumber Daya Alam Kabupaten Lampung Barat, Warsito, di Bandarlampung, Kamis. Dia menjelaskan, masalah utama adalah enam gajah yang beberapa waktu lalu membuat ulah dan kini masih di areal dekat perladangan, namun ada kelompok
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

20

gajah lain di Bengkunat, Lampung Barat. "Apakah gajah-gajah tersebut akan disatukan atau lainnya, nanti dibahas di pertemuan tersebut, kata dia. Terkait penduduk di Suoh Lampung Barat apakah akan dipindahkan, Warsito menegaskan, mereka menempati areal resmi sejak zaman Belanda. "Lokasinya memang berada di tengah-tengah kawasan hutan, luas areal mencapai 18.500 hektare lebih, tinggal bagaimana mengusahakan agar warga tidak merambah ke hutan sekitarnya, katanya. Sejumlah warga meminta pemerintah segera melakukan aksi terkait seringnya kawanan gajah memasuki areal perladangan. "Memang manusianya yang salah merusak habitat hewan itu, tetapi perlu penanganan jangan sampai ada korban jiwa lagi," ujar Ansori, salah seorang warga Lampung Barat. (*)

STUDI KASUS 2
http://www.antara.co.id/arc/2007/4/11/hutan-dataran-rendah-sumatera-dankalimantan-musnah-2022/ 11/04/07 17:02

Hutan Dataran Rendah Sumatera dan Kalimantan Musnah 2022


Pontianak (ANTARA News) - Jutaan hektar hutan di dataran rendah Sumatera dan Kalimantan diperkirakan habis pada 2022 apabila penebangan liar yang marak di daerah itu dibiarkan. Pembalakan liar yang berlangsung bertahun-tahun dan telah merambah 37 dari 41 taman nasional di Indonesia, juga mengancam berbagai spesies flora dan fauna yang hidup di dalamnya, kata Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Widodo AS, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Menkopolhukam, Letjend Agus Sutadi dalam sebuah lokakarya kehutanan di Pontianak, Rabu.
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

21

Kerugian yang dialami Indonesia akibat pembalakan liar mencapai Rp40 triliun setiap tahunnya. Angka tersebut lebih rendah dibanding era 1990-an dimana kerugian diperkirakan Rp200 triliun. Kerugian itu belum termasuk kehilangan yang tidak ternilai dalam bentuk kehancuran hutan dan kerusakan lingkungan. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan oleh perubahan iklim yang meningkat cepat karena kerusakan hutan tropis. "Tidaklah mengherankan, kini muncul banyak badai dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama," katanya. Sementara Menteri Kehutanan, melalui Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, Arman Mallolongan, mengatakan, penanganan pembalakan liar tidak lagi bersifat sektoral melainkan memasuki ruang publik yang lebih besar. "Sektor kehutanan kini mengalami tekanan yang kuat sehingga perlu penataan tata kelola hutan yang lebih baik," ujarnya. Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) saat land clearing yang sering menjadi modus perusahaan untuk mengambil kayu tebangan, harus diganti ke usaha yang produktif. Penegakan hukum di bidang kehutanan juga semakin baik yang terlihat dari banyaknya pengusaha kelas kakap yang selama ini belum tersentuh meski diduga kerap melakukan pembalakan liar. "Vonis hakim juga sudah menggembirakan meski di beberapa tempat belum optimal bahkan pelaku dibebaskan," kata Arman. Dengan segala kelemahan dan kekuatannya, sektor kehutanan tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi di Indonesia.(*)

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

22

STUDI KASUS 3
http://www.antara.co.id/arc/2007/4/10/kenaikan-suhu-global-1-derajat-celsiusberdampak-pada-ri/
10/04/07 08:57

Kenaikan Suhu Global 1 Derajat Celsius Berdampak Pada RI


Jakarta (ANTARA News) - Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Cuaca (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) dalam laporannya menyebutkan di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2 - 1 derajat Celcius berdasarkan data IPCC antara tahun 1970 hingga 2000. IPCC mengatakan perubahan suhu rata-rata itu dapat mengakibatkan antara lain penurunan produksi pangan, sehingga bisa meningkatkan risiko bencana kelaparan, peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai, peningkatan kasus gizi buruk dan diare, dan perubahan pola distribusi hewan dan EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri
23

serangga sebagai vektor penyakit. Hal itu diungkapkan oleh Yayasan Pelangi dalam siaran tertulisnya di Jakarta, Senin yang mengungkapkan laporan IPCC berjudul "Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability" yang dikeluarkan pada Jumat lalu (6/4). Laporan IPCC tersebut berkesimpulan bahwa ada "high confidence" (yang berarti 80% kemungkinan) untuk menyatakan perubahan suhu yang terjadi akhir-akhir ini telah berdampak kepada banyak sistem fisik dan biologis alam. Untuk wilayah Indonesia, laporan IPCC mengindikasikan hanya satu lokasi perubahan fisik alam, yaitu di Papua. Menurut IPCC, masyarakat miskin menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, karena kemampuan beradaptasi mereka yang rendah dan minimnya sumberdaya yang mereka miliki, selain karena kehidupan mereka cenderung sangat bergantung pada sumberdaya yang rentan terhadap kondisi iklim. "Usaha mengurangi gas rumah kaca sebaik apapun tidak akan mampu menghindarkan kita sepenuhnya dari dampak perubahan iklim, sehingga diperlukan usaha-usaha adaptasi terhadap dampak perubahan iklim," katanya. Beberapa tindakan adaptasi sudah mulai dilakukan, namun masih sangat terbatas, misalnya pembuatan infrastuktur untuk melindungi pantai di Maladewa dan Belanda, serta dibuatnya kebijakan dan strategi manajemen air di Australia. Salah satu cara yang diusulkan untuk meningkatkan kapasitas beradaptasi adalah dengan memperhitungkan dampak perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan, misalnya memasukkan adaptasi perubahan iklim dalam perencanaan pengunaan lahan dan pembangunan infrastruktur, serta menerapkkan cara-cara untuk menekan kerentanan terhadap perubahan iklim ke dalam strategi penanggulangan bencana. Laporan IPCC memberikan bukti bahwa perubahan iklim sudah mulai membawa dampak negatif dan bisa menjadi semakin parah di masa depan. Menurut Kuki Soejachmoen dari Yayasan Pelangi Indonesia, sebagai negara yang sangat rentan Indonesia harus segera memperhitungkan dan memasukkan aspek perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional agar ini bisa dilakukan, diperlukan data komprehensif yang terkait dengan perubahan iklim. Kuki mengajak lembaga-lembaga yang bidang kerjanya terkait dengan dampak perubahan iklim untuk mengumpulkan data mereka, agar dapat
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

24

digunakan sebagai dasar membuat strategi pembangunan nasional yang bisa memperkecil dampak negatif perubahan iklim di Indonesia. "Dengan data yang lengkap, Indonesia bisa memetakan daerah mana yang rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti apa, untuk kemudian menyusun strategi adaptasi perubahan iklim yang sesuai dengan kondisi tersebut," ujar Kuki. Dia mengatakan curah hujan, kenaikan permukaan air laut, kejadian banjir dan badai, kekeringan, gagal panen, serta kasus penyakit, merupakan contoh sebagian kecil data yang diperlukan untuk melakukan adaptasi perubahan iklim. Laporan `Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability` adalah ringkasan dari sebuah full-report dan ditujukan bagi para pengambil kebijakan. Laporan ini adalah bagian kedua dari 'The Fourth Assessment' yang akan dikeluarkan IPCC tahun ini. Pada Februari 2007, IPCC sudah mengeluarkan bagian pertama yang berjudul `The Physical Science Basis` yang memberikan bukti-bukti bahwa pemanasan global diakibatkan aktivitas manusia.

Laporan ketiga mengenai mitigasi perubahan iklim akan dikeluarkan pada Mei 2007, dan sebuah Synthesis Report pada November 2007 akan melengkapi `The Fourth Assessment, Climate Change 2007?. IPCC adalah lembaga yang dibentuk oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada 1988 dan bertugas melakukan kajian ilmiah, teknis dan sosio-ekonomi yang relevan untuk memahami perubahan iklim, potensi dampaknya serta pilihan untuk kegiatan mitigasi dan adaptasi. 2500 ilmuwan tergabung dalam IPCC dan menjadi narasumber paling berpengaruh dalam isu perubahan iklim. (*)

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

25

STUDI KASUS 4
03/04/07 23:31

Tsunami di Solomon Tewaskan 24 Jiwa


Honiara (ANTARA News) - Satu gempa besar dan tsunami yang mengguncang Kepulauan Solomon menyebabkan 24 tewas dan lebih dari 5.400 kehilangan tempat tinggal, kata kepala penanggulangan bencana, Selasa. Di saat jumlah korban tewas diperkirakan semakin banyak dan kerugian keseluruhan dari bencana belum diumumkan, seorang pejabat mengemukakan bahwa berdasarkan petunjuk awal, jumlah tewas tidak akan melonjak. "Jumlah yang tewas dari berbagai laporan yang belum dikonfirmasi kini mencapai 24, sedangkan rumah hancur 916 dan 5.409 orang kehilangan tempat tinggal," kata wakil direktur Kantor Penanggulangan Darurat, Janet Batee, kepada AFP.
EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

26

"Mereka yang hilang menjadi perhatian utama kami, tapi kami belum memeriksa data tersebut," kata Batee, setelah polisi mengemukakan 13 desa hancur dan banyak orang yang belum diketahui nasibnya. Batee mengemukakan sebagian besar korban tewas maupun kehilangan tempat tinggal adalah dari satu kota tujuan wisata selam, Gizo, di mana para saksi menyebut ombak setinggi 5 meter menyapu tempat itu. Para pejabat mengemukakan, sulitnya komunikasi darat menyebabkan tim pemeriksa bencana belum mencapai lokasi seperti pulau Choiseul, untuk memastikan besarnya bencana yang terjadi. "Kemungkinan jumlah korban tidak mencapai ratusan jiwa karena untungnya, (tsunami), terjadi siang dan banyak orang segera mengambil langkah-langkah yang seharusnya setelah merasakan gempa," kata Batee. Wakil Komisioner Kepolisian Solomon, Peter Marshall, sebelumnya mengemukakan dia mengkhawatirkan jumlah korban pada Selasa akan bertambah seiring tibanya regu penolong di lokasi yang terletak di barat negara tersebut. "Saya khawatir jumlah korban hari ini akan bertambah setelah petugas kami mencapai berbagai lokasi," katanya. Dia mengemukakan "masih banyak" orang yang belum ditemukan akibat bencana yang terjadi Senin tersebut, di mana desa-desa hancur total di provinsi Barat setelah terjadi gempa yang menyebabkan gelombang pasang. Pers Australia melaporkan ratusan orang kemungkinan hilang setelah kota Gizo diporakporandakan oleh gempa yang titik pusatnya hanya berjarak 40 kilometer, disusul gelombang pasang. Gizo adalah kota tepi pantai dengan penduduk sekitar 20 ribu orang dan terkenal dengan kegiatan selam.(*)

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

27

STUDI KASUS 5
http://www.antara.co.id/arc/2007/5/8/perkembangan-iptek-ciptakan-kesenjangan/
08/05/07 11:18

Perkembangan Iptek Ciptakan Kesenjangan


Jakarta (ANTARA News) - Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), Arief Rahman, menyesalkan perkembangan ilmu pengetahuan dunia yang justru semakin menciptakan kesenjangan dalam kehidupan manusia. "Ini seolah menuju Perang Dunia III antara orang bodoh dan pintar, dan kemudian antara masyarakat berteknologi tinggi dan yang rendah," kata Arief Rahman di sela acara "Science for All" suatu acara yang mempertemukan para ilmuwan dan para siswa SD Jakarta di TMII Jakarta, Selasa. Semakin memprihatinkan lagi ketika melihat ada teknologi tinggi, ujarnya, masyarakat justru menghindar dan tidak mau mendekati. Di sisi lain ada yang justru bangga dengan teknologi tingginya dan nyaman dengan zona aman dan tidak mau membaur dengan yang lain. "Iptek sayangnya juga menciptakan kesenjangan ekonomi dan yang miskin malahan merasa nyaman dengan kemiskinannya sehingga akhirnya sulit untuk maju," katanya. Arief Rahman juga mempertanyakan rendahnya kesadaran pemerintah untuk mengembangkan Iptek. "Saya tak mengerti tujuh institusi di bawah koordinasi Kementerian Ristek seperti LIPI dan lain-lain mempunyai anggaran keuangan yang jauh lebih rendah daripada Mal Depok," katanya. Sehingga wajarlah jika masyarakat semakin dituntun untuk hidup konsumtif, materialistis, dan hedonistis, ujarnya. "Di negara maju perbedaan penguasaan Iptek sangat "unbearable", tak tertahankan, antara sekolah negeri dengan swasta, begitu juga di Indonesia, antara sekolah internasional dan madrasah, pesantren sampai di sekolah relawan di rel KA," katanya.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

28

Ia juga menyesalkan adanya jurang pemisah antara ilmu pasti dan humaniora dan adanya arogansi IPA terhadap IPS sehingga orangtua yang memiliki anak dimasukkan ke kelas IPS seolah merasa terpuruk.(*)

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

29

STUDI KASUS 6

http://www.antara.co.id/arc/2007/4/26/belajar-dari-chernobyl-ri-mantapkan-diribangun-pltn/
26/04/07 09:50

Belajar dari Chernobyl, RI Mantapkan Diri Bangun PLTN


Jakarta (ANTARA News) - Kecelakaan nuklir terparah di dunia pada 26 April 1986 silam, di Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl, menumbuhkan kesadaran bahwa peningkatan sistem dan budaya keselamatan merupakan hal utama dalam industri nuklir. Belajar dari peristiwa Chernobyl, Indonesia sungguh-sungguh melakukan kajian dampak lingkungan serta pilihan teknologi yang akan digunakan untuk PLTN dengan memperhatikan aspek keselamatan, keamanan dan manfaat bagi bangsa di tengah pergaulan internasional, kata siaran pers Biro Kerja Sama, Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), di Jakarta, Kamis. Disebutkan, kecelakaan berupa terbakarnya PLTN tersebut didahului ledakan uap (bukan ledakan nuklir) disusul pelepasan zat radioaktif ke lingkungan sekitar. PLTN yang terletak di Ukraina, eks negara bagian Soviet itu, kini ditutup dengan semen cor (sarcophagus) dan dibersihkan (dekontaminasi). Malapetaka itu kemudian mendorong berbagai upaya internasional untuk meningkatkan keselamatan desain dan operasi, tak hanya melalui organisasi nuklir internasional (IAEA), tetapi juga organisasi lainnya, seperti Asosiasi Operator PLTN Dunia (WANO). Lewat kegiatan itu, nyatanya PLTN dunia dalam 16 tahun terakhir makin aman. PLTN di Chernobyl dikembangkan para era Perang Dingin berdasarkan desain untuk tujuan militer yang mengabaikan faktor keselamatan. Terdapat kesalahan fatal dalam desain, yaitu tak punya pengungkung (containment) pencegah kebocoran radiasi, dan memiliki koefisien temperatur positif. Artinya, jika temperatur naik, maka reaktivitas ikut naik, sehingga reaksi fisi menjadi tak

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

30

terkendali. Desain PLTN di Barat menggunakan pengungkung dan memiliki reaktivitas negatif lebih aman. Pada Desember 2005 Forum Chernobyl, yang terdiri atas beberapa badan PBB seperti IAEA, WHO, UNDP, pemerintah Belarusia, Rusia dan Ukraina mengeluarkan laporan 600 halaman berjudul "Chernobyl`s Legacy: Health, Enviromental and Socio-Ekonomic Impacts". Laporan tiga volume yang dibuat ratusan ilmuwan, ekonom dan ahli kesehatan itu menghitung dampaknya setelah 20 tahun. Hingga pertengahan 2005 jumlah korban langsung akibat radiasi dinyatakan kurang dari 50 orang. Menurut forum itu, dampak kematian secara tak langsung dari kecelakaan itu sulit ditentukan, mengingat adanya faktor lain seperti efek psikologis, depresi ekonomi, kemiskinan dan gaya hidup pasca runtuhnya Soviet. Namun begitu bahwa 99 persen dari 4000 kasus kanker thyroid yang diyakini sebagai akibat radiasi berhasil disembuhkan. Belajar dari pengalaman Chernobyl, kata siaran pers yang ditandatangani Dr. Ferthat Aziz, yang oleh sebagian pakar digolongkan sebagai PLTN generasi pertama, sekarang dunia menggunakan PLTN generasi III dan III plus. PLTN generasi terakhir ini jauh lebih aman dan ekonomis. PLTN yang kini sebagian besar beroperasi adalah berasal dari generasi II dan terbukti aman dan selamat, kata siaran pers yang ditandatangani Dr. Ferthat Aziz itu. Dewasa ini, lanjut dia, muncul konsep PLTN generasi IV yang lebih aman, ekonomis, limbah minimal dan tahan proliferasi. Dan, dalam rangka persiapan PLTN, Batan berkewajiban membantu dengan melakukan penelitian dan pengembangan teknologi dan energi nuklir, kajian tekno-ekonomi dan sosialisasi, informasi dan edukasi publik. Selama 42 tahun melakukan riset, Batan membuktikan ternyata Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia mampu mengoperasikan, memanfaatkan dan membangun, reaktor riset dengan aman dan selamat. SDM Indonesia mampu Batan juga dipercaya lembaga internasional (IAEA) untuk menyelenggarakan pelatihan ketekniknukliran secara regional, termasuk dalam bidang kesiapsiagaan nuklir, yang merupakan modal dasar menuju PLTN, katanya. Sebagian SDM Indonesia juga ada yang bekerja di lembaga nuklir internasional dan swasta di luar negeri.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

31

Karena itu, kajian tapak yang dilakukan Batan memperhatikan aspek meteorologi, angin, curah hujan, aspek geologi seperti gempa, tsunami, tektonik, patahan, stratigrafi, banjir sungai, aspek lingkungan seperti kependudukan dan ulah manusia. Batan, sebutnya lagi, merekomendasikan reaktor yang digunakan adalah dari generasi III atau III plus yang lebih ekonomis dengan sistem keselamatan secara total. Indonesia bersama masyarakat internasional telah menyepakati traktat dan konvensi yang terkait dengan pemanfatan nuklir untuk tujuan damai.

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

32

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit Andi Offset Yogyakarta Agung Mulyo, Ir., M.T., diakses dari http://www.pikiran-akyat.com /cetak/2005/ 0405/07/ cakrawala/ lainnya01.html Begon, M, J.L. Harper dan C. L. Townsend (1990). Ecology: Individuals, Populations and Communities. 2nd Ed. Blackwell Sci. Publ. , Boston, Oxford etc. Febdian, Pelangi. Diakses dari Febdian.net http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=581 PPSML UI. - - - -. Himpunan Peraturan di Bidang Lingkungan. Jakarta : PPSML UI Soemarwoto, Otto. 2005. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Supardi, Imam. 2003. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Bandung : Penerbit Pt. Alumni Tarumingkeng, PhD, Rudy C. (1994). Dinamika Populasi. Pustaka Sinar Harapan. Tim Konsultan WJEMP. 2004. Buku Acuan Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Tingkat SD, SMP, SMA, SMK. Departemen Pendidikan Nasional Wardhana, Wisnu Arya. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit Andi Offset Yogyakarta

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

33

TAYANGAN PRESENTASI

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

34

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

35

1. AIR TAWAR

2. AIR LAUT

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

36

KOMPONEN EKOSISTEM

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

37

Tingkatan Trofik

Carnivor

Herbivor Tumbuhan

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

38

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

39

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

40

1.NETRAL

: WALANGSANGIT

DAN

BURUNG GELATIK

(Buah Padi Muda) 2.KOMPETISI 4.PREDASI


5.PARASITISME

(Biji Padi) MAKANAN SAMA SALING UNTUNG KIJANG


(MANGSA) MERUGIKAN SATU UNTUNG, SATU TIDAK RUGI
41

: CHITAH DAN HARIMAU : HARIMAU


(PREDATOR/PEMANGSA) : MANUSIA DAN CACING PITA

3.MUTUALISME : BUNGA DAN KUPU-KUPU DAN

6.KOMENSALISME : HIU DAN REMORA KECIL

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

42

DAFTAR ISI

Halaman TUJUAN PEMBELAJARAN. DESKRIPSI. BAB I EKOSISTEM A. Komponen-Komponen Ekosistem.. B. Interaksi Komponen Ekosistem.. C. Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan D. Interaksi Komponen Biotik E. Peran Komponen Biotik dan Abiotik Dalam Kehidupan BAB II KONSEP KESEIMBANGAN LINGKUNGAN................ A. Saling Ketergantungan............................................. B. Dampak Over Eksploitasi.......................................... RANGKUMAN.................................................................................... TUGAS............................................................................................... DAFTAR PUSTAKA............................................................................ 2 2 3 5 6 7 8 12 13 13 13 18 19 33

EKOSISTEM/Diklat IPA 2007/Profillia Putri

43