Anda di halaman 1dari 20

Para pembaca yang budiman, pernahkah anda mendengar tentang Kristen Tauhid?

Bagi yang belum, biarlah kiranya penonton mencoba menjelaskannya untuk anda sekalian.Berhubung masalah ini saling berkaitan satu dengan yang lain, dan juga sedang menjadi topik hangat di komunitas maya di Indonesia. Apa sih yang disebut dengan Kristen Tauhid? Apakah ada gereja yang menjalankan tata cara ibadah secara kristen Tauhid di Indonesia? Apakah mereka syah dimata hukum? Biarlah kiranya melalui kesempatan ini, kita akan mencoba mengulasnya bersama-sama... Para pembaca yang budiman, Kristen Tauhid adalah sebuah aliran atau kelompok yang berbeda dengan kebanyakan aliran Nasrani.Perbedaan yang paling mendasar antara Kristen Tauhid dan aliran Nasrani lainnya adalah dari pada ketidak-percayaan Kristen Tauhid kepada Doktrin Trinitas. Berdasarkan kesaksian salah seorang yang pernah mengikuti kebaktian secara Kristen Tauhid, kita dapat mengetahui beberapa hal menarik yang menjadi ciri khas Kristen Tauhid. Seperti kebanyakan penganut Islam, dalam kebaktian mereka (Kristen Tauhid) juga mengucapkan sejenis sahadat.Mereka memanggilnya dengan sahadat kristiani. Mereka mengucapkan laillahailallah Isarukhallah. "yang merupakan shahadat Kristiani, artinya tiada Tuhan selain Allah, Isa adalah roh Allah". Di Semarang anda dapat menemukan sebuah gereja dengan tata cara penyembahan secara Kristen Tauhid atau UNITARIAN.Gereja tersebut mempunyai nama Gereja Jemaat Allah Global Indonesia atau disingkat dengan JAGI.Gereja tersebut berada dibawah pimpinan Pendeta Aryanto Nugroho sebagai pengajar doktrin kontra Trinitas. Selain menetapkan hari sabtu sebagai hari untuk beribadat, gereja tersebut juga cukup banyak menarik minat pengunjung.Tidak banyak yang dapat dilihat dari sebuah Gereja Kristen Tauhid , jika hanya sekedar dilihat dari luar. Anda harus turut dalam tata cara kebaktian mereka untuk dapat menyadari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Sebagai tambahan, aliran Kristen Tauhid telah disahkan oleh Bimas Kristen Departeman Agama RI pada tahun 2000 lalu. Di Indonesia aliran kristen Tauhid kembali membuat gebrakan dan serangan kepada aliranaliran besar lainnya (Katolik, Protestan, Reform, dan semua yg mengakui doktrin Trinitas) setelah FransDonald menuliskannya dalam sebuah buku. Pemikiran yang memprotes dasar iman Kristiani tentang Allah dan Yesus ini dituangkan oleh Frans Donald dalam buku Allah dalam Al Kitab dan Al Quran. Buku tersebut juga dikatakan mendapat sambutan yang luar biasa dari Pendeta Dr Tjahjadi Nugroho, MA. Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia sebagai buku yang menggebrak dasar-dasar kepercayaan injil yang paling dasar.

Di dalam persatuan Uniterian Internasional (yang sering memakai lambang yg mirip dengan lampu teplok minyak), kita juga akan menemukan doktrin-doktri sejenis, mirip dengan yang terdapat dalam buku-buku Frans Donald. Di Indonesia pada khususnya, orang-orang Kristen Tauhid sering kali disangka sama dengan aliran Saksi Yehova. Orang-orang Kristen Tauhid juga memainkan peranan di dalam kelompok lintas agama di Indonesia (oleh karena doktrin mereka yang memungkinkan mereka berjalan bersamaan tampa saling bertabrakan dengan kaum muslim). Mungkinkan Kristen Tauhid bakal menjadi seperti cerita Ahmadiah di Indonesia? Untuk sementara waktu, tidak ada tanggapan dari organisasi gereja tentang sesat atau tidaknya Kristen Tauhid.Organisasi pusat Gereja di Indonesia seperti biasanya terkesan lambat dalam menyampaikan pendapat ataupun sekedar mengambil tindakan pencegahan, demi menghindari bentrokan antara ormas-ormas kristen. Banyak pihak-pihak yang sedang menyoroti perkembangan golongan Kristen Tauhid yg dirasakan sebagai gerakan arus bawah yang benar-benar bisa menggoyahkan pondasi kepercayaan iman dasar ke-Kristenan. Dalam blog-nya penonton dapat menyimpulkan bahwa Kristen Tauhid di Indonesia tentunya mempunyai dasar-dasar argumentasi yang tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Frans Donald sendiri (yang juga dikenal sebagai tulang punggung kristen Tauhid), telah menuliskan sebuah surat terbuka kepada Pdt Stephen Tong, sebagai sanggahan beberapa komentar Pdt Tong terhadap aliran Kristen Tauhid. Dalam blog tertulis jug dapat dengan jelas terlihat dasar-dasar argument mereka (Kristen Tauhid), yang dengan jelas telah menolak kebenaran Doktrin Trinitas. Terlepas daripada keberadaan Kristen Tauhid yang dipercaya dapat meredam bentrokan antara Kristen dan Islam, penonton berpendapat bahwa aliran tersebut masih banyak perlu melewati proses pengujian. Oleh karenanya maka penonton akan mencoba menuliskan masukan-masukan dan juga perkembangan-perkembangan berita tentang hal-hal yang menyangkut Kristen Taulid, dalam bentuk tulisan bersambung dalam kolom komentar. Biarlah kiranya sepenggal informasi penonton, dapat menjadi masukan bagi para pembaca sekalian,juga agar kiranya kita dapat semakin waspada dalam menyadari kehadiran doktrindoktrin baru yang telah berada di tengah-tengah masyarakat.

Campur adukkan ajaran agama, Kemenag usut aliran Millah Abraham


Rasul Arasy Kamis, 18 Agustus 2011 15:42:30 Hits: 1568

DEPOK (Arrahmah.com) Diduga mencampur adukkan ajaran Islam, Yahudi, dan Kristen, Kementerian Agama mulai mengusut adanya aliran Komunitas Millah Abraham (Komar) di Kota Depok. Kami mulai melakukan penelitian mendalam tentang aliran Komar ini, kata peneliti pada Badan Litbang Kehidupan Beragama Kemenag Reslawati di Depok, Rabu (17/8/2011). Pihaknya meminta informasi aliran tersebut dari kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok dan berharap mendapatkan banyak informasi terkait aliran Komar untuk dijadikan bahan kajian. Kemenag tidak dalam porsi memberikan fatwa, dan yang menentukan sesat atau tidaknya ya Komisi Fatwa MUI, ujarnya. Reslawati mengungkapkan dari hasil pertemuannya dengan Ketua MUI Depok diketahui bahwa dalam ajaran aliran tersebut diketahui telah mencampuradukan antara ajaran Islam dan ajaran Yahudi. Tidak hanya itu, aliran Komar juga membumbui unsur Kristen dalam doktrinnya. Pengikutnya sudah cukup banyak, jelasnya. Sebelumnya, Sekretaris MUI Khaerulloh Ahyari mengungkapkan bahwa aliran Komar menganggap orang lain yang belum dibaiat adalah kafir. Mereka juga hanya melakukan salat malam tanpa shalat lima waktu. Mereka juga mencampuradukkan tiga agama, yaitu Nasrani, Yahudi, dan Islam. Ia menjelaskan, aliran Komar diduga merupakan lanjutan dari Al Qiyadah yang pernah muncul di Depok pada tahun 2007. Meskipun sudah mendapat panggilan dari pihak MUI,

aliran Komar tidak pernah memenuhi panggilan saat MUI ingin mengadakan pertemuan. (ans/arrahmah.com)

Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk


oleh Marthen Manggeng 1. Realitas kepelbagaian dunia saat ini Saat ini hampir tidak ada negara-negara besar yang tidak multikultural dan multi religius. Ada beberapa negara yang sebelumnya agama yang dianut penduduknya didominasi oleh satu agama tetapi sekarang justeru menjadi sangat multi religius, misalnya: a. Inggris. Dahulu hampir semua penduduk Inggris beragama kristen. Saat ini Inggris merupakan salah satu negara yang multi kultural dan multi religius. Penduduk Inggris saat ini banyak yang datang dari Arab, khususnya Turki. Mereka datang membawa budaya dan agama yang dianutnya. Agama dan budaya tersebut bertumbuh menjadi suatu realitas baru di tengah-tengah agama dan budaya yang telah ada. Karena itu, saat ini Inggris menjadi salah satu pusat kajian dan studi Islam. b. India. Negara ini banyak dikenal sebagai tempat dan pusat agama Hindu. Tetapi saat ini agama-agama besar lainnya (seperti agama Islam dan Agama Kristen) sudah mempunyai pengaruh yang cukup besar di negara tersebut. c. Amerika Serikat. Negara adikuasa ini termasuk negara yang sangat multi kultural. Selain penduduk asli yang sudah semakin kecil jumlahnya, ada begitu banyak penduduk USA yang berasal dari berbagai belahan bumi ini. Mereka membawa kebudayaan dan agama mereka masing-masing. Salah satu agama yang sangat pesat perkembangannya adalah agama Islam. 2. Kepelbagaian sebagai tantangan terhadap PAK Ada begitu banyak pengalaman yang menarik yang dialami oleh orang-orang percaya di berbagai belahan dunia dalam konteks kepelbagaian agama dan budaya. Kita dapat belajar dari pengalaman yang sangat berharga yang telah dialami mereka sehingga

kita dapat memikirkan suatu pendekatan yang relevan dalam konteks demikian tanpa mereduksikan nilai-nilai religius dalam masingmasing agama atau budaya yang ada. a. Seorang kepala sekolah di sebuah sekolah Kristen khusus para wanita menjadi kebingungan sebab sekolah yang dikelolanya harus menjadi bagian dari sistem pendidikan negara tersebut. Kekhasan sebagai sekolah Kristen sudah sangat berkurang sebab kurikulum dan sistem pendidikan diatur oleh negara. b. Di Inggris, seorang kepala sekolah di sekolah yang didirikan oleh gereja menjadi kebingungan sebab sebagian besar muridnya tidak beragama kristen tetapi beragama Islam dan Hindu. Masalahnya ialah Pendidikan Agama Kristen merupakan salah satu mata pelajaran wajib bagi setiap nara didik. Selain itu, kegiatan studi Alkitab merupakan kegiatan wajib tetapi pesertanya sangat sedikit.1 c. Sorang pendeta baru di suatu Jemaat di kanada. Pada saat tiba di Pastori yang berdekatan dengan gedung gereja, ia agak kaget sebab dia mendengar suara seperti orang Hindu yang sembahyang. Ia mengenal bahasa Karena itu, yang penting ialah kita mendidik mereka bukan saja untuk mengerti imannya secara sadar....tetapi juga mampu melihat aliran atau agama lain secara obyektif tanpa harus terpengaruh. Budaya-budaya lain dan budaya tradisional dapat dijadikan sebagai sarana dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen.

22

Tinjauan Teologis
INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005
yang dipakai sebab ia berasal dari India Timur. Namun anehnya sebab suara itu justru datang dari gedung kompleks gereja. Ia lalu mencari dari mana datang suara itu, ternyata salah satu ruangan di kompleks gedung gereja tersebut dipakai oleh orang yang beraga Hindu untuk beribadah.

d. Pengalaman orang Kristen di tengah keluarga Muslim di Kenya. Umumnya keluarga mereka adalah orang Muslim tetapi mereka hidup dalam kerukunan dan saling menghormati satu terhadap yang lain.2 e. Pengalaman seorang Ibu yang hanya tahu Alkitab dan kekristenan. Anaknya menjadi penginjil di India. Ibu itu hanya tahu bahwa anaknya adalah seorang penginjil yang tahu tentang kekristenan, tetapi kenyataannya bahwa anak (pendeta) itu kekristenannya telah diperkaya dengan pengalaman bersama dengan penganut agama Hindu di India. 3. Kemajemukan di Indonesia a. Kepelbagaian Agama Menurut para teolog Asia (Aloysius Pieris, SJ dan A. Yewangoe) bahwa konteks khas Asia adalah kepelbagaian Agama dan kemiskinan yang sangat mencolok. Di Asia lahir dan bertumbuh dengan sangat kuat agama-agama besar yang ada di dunia seperti agama Budha, Agama Hindu, Agama Yahudi, Agama Kristen, Agama Islam dan Agama Kong Hu Cu.3 Di Indonesia, hampir semua agama-agama besar tersebut di atas berkembang dengan baik. Walaupun pemerintah hanya mengakui lima agama resmi, yakni: Agama Islam, Agama Kristen, Agama Hindu, Agama Budha, dan agama Kristen Katholik tetapi kenyataannya ada banyak penganut agama-agama di luar daftar tersebut. Dalam kenyataannya banyak warga negara Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa, yang sesungguhnya masih menganut agama Kong Hu Cu. Demikian pula adanya Sinagoge di Surabaya menjadi bukti bahwa ada atau pernah ada penganut agama Yahudi di sana. Kemajemukan penganut agama tersebut di atas hanya dilihat dari agama-agama monotheisme. Pada hal kalau kita mau jujur mengakui bahwa agamaagama polytheisme juga masih begitu banyak penganutnya di Indonesia. Di daerah-daerah di seluruh Indonesia masih ada penganut-penganut agama suku setempat walaupun eksistensinya tidak diakui oleh hukum negara tetapi keberadaannya tidak terbantahkan. Di daerah Pitu Ulanna Salu di Kabupaten Mamasa masih banyak penganut Aluk Mappurondo. Demikian pula penganut Aluk Todolo di Tana Toraja juga masih ada. Di Kalimantan penganut agama Kaharingan tidaklah sedikit. Kemajemukan agama di Indonesia tidak hanya dapat dilihat dari beragamnya agama yang dianut oleh masyarakat tetapi harus juga dilihat dalam keragaman aliran atau paham/mazhab masing-masing agama. Masing-masing agama masih ada aliran dan sektesekte. Dalam agama Islam kita mengenal dua lairan yang menonjol, yaitu mazhabi dan non mazhabi. Golongan mazhabi menganut mazhab fikih yang

banyak dikenal di kalangan Sunni, yakni mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Mazhab yang paling banyak penganutnya di Indonesia adalah Syafii. Sedangkan golongan non Mazhabi mereka tidak menganut salah satu mazhab tetapi langsung berpegang pada Al-Quran dan Hadis. Selain ini masih ada kelompok-kelompok lain seperti penganut Syiah yang berkembang setelah terjadinya revolusi Islam di Iran . Dalam agama Kristen, khususnya Protestan, aliran dan kelompok nampak lebih bervariasi. Kepelbagaian pada agama Kristen tidak hanya dalam bentuk oragnisasinya tetapi hetereogenitas nampak lewat faham teologis yang dianut. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktornya ialah pengaruh teologi zending yang yang memberitakan Injil. Zending yang datang dari Belanda dan Inggris umumnya beraliran Calvinis sedangkan zending yang berasal dari Jerman umumnya beraliran Lutheran. Pekabar Injil dari Spanyol dan Portugis adalah aliran Katholik. Bahkan dalam kalangan Calvinis sendiri masih ada perbedaan-perbedaan satu dengan yang lain. Kepelbagaian tersebut akan lebih nampak jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok atau aliran Kristen yang berlatar belakang Evangelikal. Saat ini sudah ada ratusan atau bahkan ribuan aliran Kristen Protestan di Indonesia. Menurut Djohan Effendi, Agama Hindu mempunyai Heterogenitas yang jauh lebih kompleks lagi. Kompleksitasnya aliran dan kelompok dalam agama Hindu umumnya disebabkan oleh sikap akomodatif agama Hindu sendiri. Penganut agama-agama suku di beberapa daerah seperti Toraja (Mamasa), Dayak dan Tengger kemudian di-Hindu-kan tanpa harus meninggalkan agama suku mereka. Lagi pula kita tidak bisa menyamakan begitu saja agama Hindu yang dianut oleh orang-orang Bali dengan orangorang keturunan India yang ada di Indonesia. Agama Hindu yang berkembang di India masih terbagi tiga kelompok, yaitu: Agama Weda Purba, Agama Brahmana dan agama Upanisad.4

23

Tinjauan Teologis
INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005
Agama Budha juga mempunyai kelompok-kelompok dan aliran yang mempunyai perbedaan satu dengan yang lain. Secara garis besar, agama Budha dibagi atas dua aliran besar, yaitu: Hinayana dan Mahayana. Tetapi masih ada sekte-sekte yang lain yang dikenal di Indonesia misalnya, sekte Tridharma yang dipengaruhi oleh ajaran Kong Hu Cu dan juga ada sekte Nicerent Syosyu yang berasal dari Jepang. Kedua aliran itu dianggap oleh umat Budha di Indonesia sebagai aliran sempalan.

Terjadinya heterogenitas internal agama menurut J. B. Banawiratma, SJ disebabkan oleh perbedaan analisis terhadap situasi konkret dan perbedaan tafsiran terhadap tradisi imani (termasuk Kitab Suci dan warisan dogma/ajaran).5 b. Kemajemukan Kultural. Menurut Patrick Johnstone yang kemudian dikutip oleh Iman Santoso bahwa Indonesia merupakan negara kedua yang paling multi etno-linguistik sesudah Papua New Guinea. Indonesia terdiri atas 702 kelompok etno-linguistik yang berbeda-beda sedang Papua New Guinea sebanyak 869 etno-linguistik.6 Kepelbagaian etnis tersebut menyebabkan perbedaan budaya antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Di Sulawesi Selatan saja kita mengenal tiga etnis besar, yaitu: Bugis, Makassar dan Toraja. Khusus etnis Toraja masih terbagi-bagi atas beberapa sub etnis yang mempunyai perbedaan-perbedaan baik bahasa/dialek maupun kebiasaan-kebiasaan. Apalagi kalau kita menerima pembagian yang dilakukan oleh A. C. Kruyit yang memasukkan Suku Pamona, Mori, dan Kaili di Sulawesi Tengah sebagai bagian dari suku Toraja, maka perbedaan-perbedaan itu akan semakin besar. Perbedaan etnis dan budaya tidak dapat disangkal banyak menjadi penyebab perpecahan dalam persekutuan orang percaya. Alasannya kadang agak klise yakni dapat melayani warga sesuai dengan kebudayaan dan adatistiadatnya. Kemajemukan kultural di Indonesia tidak hanya dapat dilihat secara teritorial (berdasarkan wilayah tempat tinggal atau suku) seperti yang dikemukakan di atas tetapi harus juga dilihat secara kategorial. Harus disadari bahwa penduduk Indonesia saat ini tidak hanya terdiri atas para petani, tetapi ada kelompok buruh, pegawai negeri, mahasiswa, pengusaha, profesional dan lain-lain. Kelompok-kelompok kategorial seperti ini harus mendapat perhatian dari gereja khususnya di daerah perkotaan sebab jika tidak, gereja akhirnya akan ditinggalkan oleh anggotanya. Mereka akan pergi mencari masakan yang dapat menjawab perngumulan kesehariannya. Indikasi awal yang dapat mejadi lampu kuning bagi gereja ialah menjamurnya persekutuan-persekutuan kristen berdasarkan kategori profesi. c. PAK dalam Masayarakat Pluralistik Dengan memperhatikan realitas konteks seperti diuraikan di atas, maka menjadi sangat jelas bagi bahwa upaya merumuskan Pendidikan Agama Kristen dalam konteks masyarakat pluralistik adalah sesuatu yang sangat mendesak di Indonesia saat ini. Kita tidak dapat membangun kekristenan kita terlepas realitas kemajemukan tersebut. Memang harus diakui bahwa pada masa lalu gereja seakan-akan membangun diri tanpa bersentuhan dengan kepelbagaian itu.

Dalam sejarah umat Israel sebagai umat pilihan Allah, sikap eksklusif dibangun dengan rapihnya. Mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa kafir bahkan memusuhi mereka. Mereka lupa bahwa keterpilihan mereka adalah untuk menjadi saluran berkat Tuhan (Kejadian 12:1-9). Sikap eksklusif itulah yang kemudian dikritik oleh penulis Kitab Rut dan Yunus. Kesahan umat Israel tersebut kemudian diulangi kembali oleh gereja sejak bertumbuhnya kekristenan ke Eropa. Kekristenan yang berkembang ke Eropa berhasil menjadi pemenang atas agama-agama suku dan budaya bangsa-bangsa Eropa. Karena itu dapat dikatakan bahwa keberhasilan kekristenan di Eropa adalah keberhasilan di atas pengorbanan keyakinan, budaya dan adat istiadat orang lain. Hal itu sangat berbeda dengan kekristenan yang bertumbuh di Asia seperti Irak, Mesir, dan daerah Timur Tengah yang lain. Kekristenan di daerah timur tengah berkembang bersama-sama dengan keyakinan yang lain dan konteks khasnya. Kekristenan yang dibawa ke Indonesia adalah kekristenan yang sudah berkembang dalam situasi Eropa. Karena itu, sikap triumphalistik melekat pada kekristenan tersebut. Datang ke Indonesia, sikap seperti itu masih tetap dipertahankan. Karena itu tidak heran kalau para zendeling melihat budaya, adatistiadat dan keyakinan lain selain Eropa dan Kristen adalah kafir dan harus dikristenkan dan di-Eropa-kan. Memang zending telah pergi dan gereja-gereja di Indonesia telah mandiri tetapi sebenarnya gerejagereja di Indonesia belum mampu menjadi gereja yang yang khas Indonesia. Masih ada gereja-gereja yang masih sangat setia dengan warisan teologi zending yang sesungguhnya sangat tidak relevan dengan konteks Indonesia saat ini. Dalam situasi seperti inilah Pendidikan Agama Kristen harus memainkan peranan yang sangat penting. Generasi muda kita yang kita didik baik di gereja

24

Tinjauan Teologis
INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005
maupun di sekolah adalah generasi yang hidup dalam konteks yang sangat pluralistik. Kita tidak dapat mendidik mereka dengan mempertentangkan terusmenerus perbedaan di antara agama-agama dan budaya yang ada. Mereka jangan kita didik hanya untuk memperlihatkan kelemahanan aliran ataukah agama lain, sehingga bertemu saja dengan orang yang beraliran dan beragama lain sudah harus menyimpang atau menghindar. Pendidikan Agama Kristen dalam gereja, seperti Katekisasi, mungkin belum ada yang memasukan tentang agama-agama lain dalam kurikulum. Kalaupun ada lebih banyak membahas agama-agama lain yang pada akhirnya

menjelaskan superioritas agama Kristen. Atau dengan kata lain belajar agama-agama lain untuk mencari kelemahannya kemudian menjadikannya sasaran proselitisme. Pendekatan ini seperti ini sama sekali tidak menolong nara didik untuk merelasikan diri secara positif dengan orang yang berkepercayaan lain. Pendekatan yang dikembangkan oleh Dr. Harun Hadiwidjono dalam membahas pokok iman Kristen dalam buku yang berjudul Iman Kristen baik untuk diperhatikan. Ia biasanya membahas topik tersebut dari sudut pandang agama-agama lain kemudian membahasnya dari sudut pandang iman Kristen. Pendekatan seperti itu juga yang ditawarkan oleh Dr. Kadarmanto Harjowasito dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen dalam konteks masyarakat majemuk. Ia memberi contoh pembahasan tentang Tuhan dan hakekat manusia. Membahas tentang topik tersebut sebaiknya dibahas dari sudut pandang iman Kristen tetapi juga kita bahas dari sudut pandang agama lain. Pendekatan ini akan menolong nara didik untuk melihat secara tajam kekhasan iman kristen dan sekaligus belajar dari cara pandang iman lain. Maksudnya ialah membangun nara didik untuk memiliki identitas dan komitmen yang jelas tentang imannya dan sekaligus membangun relasi dengan orang yang bekepercayaan lain dan berinteraksinya secara positif tanpa saling mengorbankan.7 Karena itu, yang penting ialah kita mendidik mereka bukan saja untuk mengerti imannya secara sadar (bukan dihapal)8 tetapi juga mampu melihat aliran atau agama lain secara obyektif tanpa harus terpengaruh. Demikian pula dengan budaya-budaya lain dan budaya tradisional dapat dijadikan sebagai sarana dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen. Tidak terlalu bijaksana jika kita terlalu cepat mengklaim bahwa budaya tradisional adalah kafir. Harus diakui bahwa begitu banyak unsur budaya lokal/tradisional yang sangat baik untuk menjadi sarana dalam pendidikan agama Kristen. Misalnya, kebiasaan mendongeng yang dilakukan oleh orang-orang tua pada masa lalu ada baiknya dihidupkan kembali dalam hidup rumah tangga orang Kristen. Kalau kita periksa Alkitab secara seksama, ternyata bahwa isi Alkitab awalnya adalah cerita lisan secara turun temurun. Pdt. Marthen Manggeng, M.Th adalah dosen STT INTIM Makassar di bidang Pendidikan Agama Kristen Catatan Kaki: 1 Martin Palmer, What Should We Teach? (Genewa: WCC Publication), 1991, hal. 1. 2 Eka Darmaputra, Imanku dan Iman Sesamaku, (Jakarta: BPK GM, 1987), hal. 1. 3 Salah satu faktor yang menjadi penyebab tidak berkembangnya agama Kristen dengan pesat di Asia

dibandingkan di Eropa karena di Asia penyebaran agama kristen sudah berhadapan dengan agamaagama besar dan dengan kebudayaan yang sudah sangat tinggi. 4 H. Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), hal. 15-22. 5 J.B.Banawiratma, Iman, Pendidikan dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: Kanisius, 1991), halaman 47. 6 Iman Santoso, Memasuki Abad XXI Umat Kristiani dlm Pergumulan Jati Diri Serta Pembangunan Bangsa yang Terus menerus dlm Peran Serta Gereja dalam Pembangunan Nasional (Jakarta: Sinar Harapan, 1998), hal. 174. 7 Kadarmanto Hardjowasito, Pendidikan Agama Kristen dalam Konteks Masyarakat Indonesia yang Majemuk dalam R.P. Borrong, dkk (Peny.), Berakar di dalam Dia dan Dibangun di Atas Dia. 80 Tahun Prof. Dr. P.D. Latuihamallo (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1998), hal. 107-123.t 8 Paulo Freire seorang tokoh pendidik di Brazilia menentang pendidikan yang hanya menghafal sebab metode itu menindas nara didik karena tidak sadar akan apa yang dihafalnya.

PENDAHULUAN Sejarah bagaikan roda yang terus berputar, berjalan dan melaju di atas peradaban manusia, yang dimulai dengan kelahiran, perkembangan, pertumbuhan, kehancuran atau malah akan semakin maju, sebagimana agama Nasrani. Melihat aspek historis nenek moyang Agama Nasrani yang biasa dikenal dengan sebutan agama Kristen adalah agama yang diwahyukan serangkaian dengan agama Yahudi dan berkaitan dengan agama Islam yakni dari Nabi Ibrahim (Abraham). Dan ada juga yang berpendapat ketiganyaYahudi, Kristen, Islam merupakan buah dari Proses Evolusi Agama-agama primitive.[1] Dari semua agama yang dianut oleh umat manusia, agama Nasrani/Kristenlah yang paling luas tersebar di muka bumi ini, dan yang paling banyak pengikutnya. Dalam sejarahnya yang telah berusia lebih dari 2000 tahun itu, agama Kristen telah tumbuh dalam berbagai bentuk yang mengagumkan. Meskipun, secara internal terpecah menjadi tiga Gerakan yaitu Gereja Roma Katolik, Gereja Ortodok Timur, dan Gereja Kristen Protestan. Berangkat dari inilah, dalam makalah ini akan mencoba menguraikan salah satu aliran atau gerakan Kristen tersebut, yaitu agama Katolik, yang dimulai dari pengertian, asal-usul dan perkembangnya, kemudian dilanjutkan dengan sumber-sumber dan pokok-pokok ajarannya serta agama Katolik di Indonesia sebagai suatu pemahaman. Hal ini tidak berarti

bahwa setiap orang akan setuju segala hal-hal yang akan diuraikan. Agama Kristen merupakan suatu fenomena yang demikian kompleksnya, sehingga sukar untuk mengatakan suatu yang penting mengenainya yang akan disetujui oleh semua orang. Karena itu perlu diingat, bahwa apa yang akan diuraikan adalah suatu penafsiran. Namun telah diusahakan agar penafsiran tersebut menyangkut hal-hal yang dipercayai bersama, setidak-tidaknya mengenai hal-hal yang pokok.

PEMBAHASAN A. Pengertian Asal-Usul dan Perkembangan Agama Katolik Agama katolik adalah suatu agama yang digunakan untuk menyebut agama Kristen yang berpusat di Vatikan, Roma. Agama ini dikenal dengan nama Agama Kristen Katolik, hal ini karena dari histories sangat erat kaitannya dengan agama Kristen di Nazerat (Nasirah) dengan tokohnya adalah Yesus kristus pada tahun ke-4 SM, tetapi sebagian ada yang berpendapat antara tahun 7-5 SM. Istilah katolik berasal dari bahasa Yunani kathoikos yang berarti am maksudnya agama katolik adalah agama yang bersifat universal, dalam arti untuk semua manusia, sehingga gereja harus menyebarluaskan ajarannya ke seluruh dunia atau juga yang berarti ajarannya terbesar di seluruh dunia.[2] Lebih lanjut lagi dari arti katolik dianggap sebagai nama ajaran gereja yang dipandang benar, hal ini diperkuat dengan adanya doktrin kepercayaan katolik sebagimana tercantum dalam kredo (Sumpah Setia) Nicea. Hasil konsili tahun 325 M, dan konsili konstantinopel tahun 381 M, yang menyatakan bahwa aku percaya gereja yang suci, am, dan rasuli. Bisa juga berarti nama dari ajaran Gereja yang benar atau kepercayaan ortodoks sebagai lawan ajaran-ajaran bidah. Bila dikaitkan; gereja bisa berarti am maksudnya : perkembangan gereja itu merupakan pertanda kebenaran ajaran para rasul selain bahwa fereja bersifat universal.[3] Tidak diketahui dengan pasti kapan dan siapa yang membawa agama Kristen masuk untuk kali pertama ke Roma, karena sejumlah pendapat dapat dianggang sebagai kemungkinan-kemungkinan. Pertama, adanya seorang warga Roma yang bernama Korneilus bersama keluarganya telah Dibaptis oleh Petrus untuk masuk agama Kristen, yang kemudian menyebarluaskan ajaran ini setelah ia kembali ke Roma. Kedua, Petrus sendirilah yang menyebarkan di Roma. Ketiga, adanya hubungan dagang yang baik antar Roma dan Palestina. Keempat,. adanya golongan Kristen yang terdiri dari orang Yahudi-Roma, hadir pada Pantekosta di Yarussalem. Keenam, agama Kristen dibawa oleh Paulus ke Roma, karena Pauluslah orang yang dianggap sangat gigih untuk keluar batas keYahudian meskipun ia

tidak termasuk salah satu dari murid Yesus.[4] Dan yang terahir inilah yang banyak disepakati. Di tangan Paus Pauluslah agama Kristen menyebar menjelajahi wilayah Mediterania Timur hingga mencapai Roma sehingga berhasil membentuk komunitas kecil atau gerejagereja.[5] Di Roma agama Kristen berkembang pesat, bahkan pada tahun 380 M, menjadi agama kekaisaran Roma.[6] Akan tetapi ketika bangsa Hun di bawah pimpinan Attila abad ke-5 mengobrak-abrik Roma ibukota Imperium Roma, resmi ibu kota Roma pindah ke Konstantinopel. Kondisi ini berpengaruh kepada adanya persaingan antar Paus di Roma dan di Konstantinopel dalam masalah kedudukan secara politik. Dan dari sinilah kemudian pada tahun 1054 M, agama Kristen terjadi pemisahan menjadi Gereja Roma katolik di Barat dan Gereja Grik Ortodoks di Konstantinopel. Lebih jauh lagi pada abad ke-16 terjadi protes atas otoritas Paus di Vatikan yang melahirkan Kristen Protestan. Oleh karena itu, dalam agama Kristen terdapat perbedaan-perbedaan ajaran di antara tiga gerakan tersebut.

B. Sumber-Sumber Pokok Agama Katolik 1. Kitab Suci Sebagaimana agama lain, agama Kristen mengakui bahwa merekapun memiliki kitab suci yang mereka yakini sebagi sumber dan pandangan hidup. Kitab suci agama Kristen adalah Kitab Injil atau Bibel dan juga bisa dinamakan Alkitab yang terdiri dari perjanjian lama dan perjanjian baru. 1. a. Perjanjian Lama, menurut gereja katolik, jumlah kitab suci yang terhimpun adalah 49 buah, selisih lebih banyak dari yang diakui protestan, kesepuluh kitab yang tidak diakui disebut Deuterokanomika yaitu kitab-kitab dongeng atau jiplakan yang tidak termasuk kanon Yahudi. b. Perjanjian Baru, istilah ini mempunyai arti, tata cara keselamatan yang diadakan Allah dalam diri Yesus. Isi perjanjian baru mencakup 27 kitab, yang terdiri dari 4 injil, yaitu Markus (60 M), Matius (70 M), Lukas (75 M), dan Yahya (100 M). Dari keempat ini dikarang oleh manusia, namun menurut kepercayaan kristiani penulisnya mendapat bimbingan dari Roh Kudus yang diinspiratori oleh Allah. 2. Tradisi Tradisi yang ada dalam gereja dipandang sebagai sumber kebenaran, yang disamakan dengan kitab suci. Kekuasaan gereja terbagi menjadi dua macam, yaitu pertama, Traditio Dekratative yang artinya gereja merupakan satu-satunya badan yang dapat menerangkan isi

kitab tanpa berbuat salah. Kedua, Traditio konstituve, yaitu gereja mempunyai tradisi yang melengkapi isi kitab Suci. 1. Penagakuan Iman Rosuli Pengakuan Iman Rosuli merupakan ringkasan yang di hasilkan dari kesepakatankesepakatan antar jemaat mengenai keyakinan iman (rumusan-rumusan hasil konsili), lazimnya dipakai dan diucapkan oleh siapa saja yang menerima pembaptisan. Termasuk juga Kalekismus yaitu sebuah buku yang disusun dalam bentuk tanya jawab tentang keimanan.

C. Pokok-pokok Ajaran Agama Katolik Pada dasarnya Yesus belum komprehensip meninggalkan ajaran-ajaran agama Kristen termasuk di dalamnya juga masalah teologi. Itulah sebabnya pembahasan tentang teologi dalam agama Kristen terjadi perbedaan pendapat. Namun berdasarkan konsili-konsili ditetapkan bahwa teologi Kristen katolik adalah sebagaimana tercantum dalam Kredo Iman Rasuli, yaitu Tritunggal yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Tuhan Roh Kudus.[7] Hal ini merupakan monoteisme dalam agama Kristen. Yang ketiga oknum tersebut terdiri dari satu Zat (Tuhan). Sedangkan ajaran tentang Syariatnya dan etika identik dengan ajran agama Yahudi yang tertuang dalam Taurat (Perjanjian Lama dalam agama Kristen). Di samping ajaran teologi yang harus dijadikan dasar (iman Kristen) ada juga amal wajib yang harus dilakukan yang disebut Sakramen, yaitu suatu perbuatan dan perkataan sebagai rahmat serta keselamatan, yang pada prinsipnya dikerjakan oleh roh kudus dengan perantara seorang iman (Uskup atau Pastur), amal tersebut meliputi tujuh rangkaian, yaitu; 1) Pembaptisan yaitu sakramen pensucian. 2) Pengukuhan yaitu pengukuhan kembali atas pembaptisan pada masa kanak-kanak. 3) Jamuan suci, yaitu sakramen pemecahan roti suci dan pembagian anggur yang sudah distabilkan. 4) Pengakuan yaitu sakramen taubat. 5) Sakarat, yaitu sakramen yang dilakukan padan saat menghadapi sakarat. 6) Pentasbihan Sakramen atas penobatan iman. 7) Sakramen pada waktu perkawinan berlangsung. Kemudian ajaran dasar yang lain adalah ajaran tentang paham Kuasa Mengajar Gereja yaitu hak otoritas menafsirkan Alkitab oleh gereja yang dilakukan oleh mahkamah agung, Gereja yang utama adalah gereja yang ada di Vatikan sebagai sentra agama Kristen Katolik. Kemudian paham tentang kuasa mengajar ini menimbulkan paham bahwa Paus tidak

sesat (infiibitasi). Ajaran tentang infiibitasi Paus, menyatakan bahwa jika Paus secara resmi berbicara mengenai masalah iman dan moral, Tuhan melindunginya dari kemungkinan keliru.[8]

D. Agama Katolik di Indonesia Ada dugaan bahwa agama Kristen sudah sampai ke Indonesia lebih seribu tahun lalu. Tetapi data sejarah yang ada mengungkapkan bahwa agama Kristen masuk ke Indonesia bersamaan dengan datangnya bangsa barat pada Abad XVI. Kemudia orang Indonesia mulai masuk Kristen kali pertama di Maluku, oleh pekerjaan imam Gereja Roma Katolikyang datang bersama pedagang Portugis. Pada masa itu terjadi persaingan antar kekuatan politik,dengan bangsa belanda yang notabennya Kristen Protestan. Persaingan itu akhirnya dimenagkan oleh Belanda dengan perusahaan dagang VOC. Pihak portugis terusir meninggalkan jemaat-jemaat Roma Katolik yang kemudian besarnya diprotestankan.[9] Setelah peristiwa ini, kemudian Gereja Protestanlah yang lebih pesat perkembangannya di Indonesia. Pada abad XVIII VOC bangkrut dan membubarkan diri yang diakibatkan karena korupsi pegawainya. Kemudian pemerintah kolonial menangani secara langsung kehidupan umat Kristen dengan membentuk suatu gereja Protestan pemerintah-Inische Kerrk- tepatnya pada tahun 1835. Dari Inische Kerrk inilah lahir Gereja-gereja Etnis yang besar di Indonesia bagian Timur, yaitu Gereja Masehi Injili Minahasa, gereja Protestan Maluku, dan Gereja Masehi Injili di Timor. Jemaat-jemaat lainya tergabung dalam satu sinode tersendiri, yaitu Gereja protestan di Indonesia bagian Barat. Meskipun demikian, ternyata perlahan tapi pasti gereja katolikpun masih ikut berkembang dan masih eksis sampai sekarang. Hal ini dibuktikan dengan jumlah gereja katolik yangterdapat di 33 (34) wilayah di Indonesia. Dengan lebih kurang lima juta anggota Gereja[]. [10]

EVALUASI KRITIS Agama katolik merupakan salah satu gerakan yang terdapat dalam agama Kristen atau Nasrani yang dibawa oleh Yesus, dan disebar luaskan oleh Paulus. Ia adalah seorang yahudi yang dahulunya pernah menganiaya orang Kristen, namun ia sadar dan merasa dimarahi yesus. Kemudian untuk membalas dosa-dosanya ia berusah menyebarkan agama Kristen keluar Nazaret.

Nama katolik sendiri dipergunakan untuk menyebut agama Kristen yang berpusat di Vatikan, Roma. Ketika dikaitkan dengan pembawa pertamanya, seolah-olah ajaran Katolik sudah terputus, karena Paulus tidak bertemu langsung dengan Yesus. Meskipun demikian, menurut kepercayaan mereka Paulus dalam membuat rumusan ajaran Kristen baik dalam teologi ataupun etika mendapat bimbingan langsung dari Allah dan Paulus adalah orang suci yang tidak mungkin salah. Agama katolik mempunyai kepercayaan Monoteis yang konsepnya berbeda dengan agama monoteis lainnya. Yaitu konsep Trinitas, Tuhan memang Esa tetapi dia bisa menjadi Esa jika Dia Bertiga, dan tidak ada Tuhan yang Esa, kecuali di dalam dan melalui Trinitas. Tentu saja, Yudaisme dan Islam mengemukakan keberatan-keberatan terhadap doktrin Kristen. Namun, setidaknya kita sebagai umat yang masih mengakui adanya Tuhan tidak sepantasnya saling mengklaim yang paling benar. Karena kebenaran itu sifatnya relative dan kebenaran hanya hakiki hanya milik ilah semata. Serta pada dasarnya kita semua mengarah pada satu dzat yang Mutlak. Kemudian yang terpenting bagi warga Indonesia, dalam hal meyikapi keberagamaan adalah bagaimana kita dapat hidup berdampingan secara damai, rukun dan saling toleransi antar umat beragama tanpa adanya konflik apapun. Meskipun kita sebagai umat Muslim jika dilihat baik ajaran teologi maupun Historisnya yaitu masuk lewat ekspansi yang dilakukan oleh para penjajahan Barat, tetapi mengenai ajaran tentang kemanusiaan memiliki nilai-nilai filosofis yang sama[].

Kristen-Katholik dan Hindu Bertingkah


21 October 2008 2 Comments

Jika Anda baru berkunjung, mungkin Anda tertarik untuk Berlangganan Gratis. Terima kasih atas kunjungannya!

Kristen-Katholik dan Hindu Bertingkah


Oleh Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri

Mereka di zaman penjajahan menyusu penjajah, kemudian sejak mau merdeka selalu bertingkah. Berikut ini sebagian data kejahatan minoritas kafir penjajah Belanda terhadap umat Islam dalam hal memberi dana sangat besar kepada Kristen dan Katolik, sebaliknya sangat kecil terhadap Islam.

Semenjak masa pemerintah kolonial Belanda, Katolik terutama Protestan memperoleh dana bantuan yang besar sekali, tidak demikian dengan Islam. Sebagai contoh pada tahun 1927 alokasi bantuan untuk modal dalam rangka pengembangan agama, adalah sebagai berikut: Protestan memperoleh Katolik memperoleh Islam memperoleh 31.000.000 10.080.000 80.000.[1]

Sejak awal telah bertingkah Sejak awal kemerdekaan, orang-orang Kristen-Katholik memang sudah menunjukkan ketidak-loyalannya kepada NKRI. Mereka sejak awal kemerdekaan sudah gemar mengumbar ancaman dan gertakan mau memisahkan diri dari NKRI, untuk membungkus tabiat mereka yang suka memaksakan kehendak dan mau menang sendiri, serta tidak toleran. Kasus Piagam Jakarta, berupa penolakan atau penghapusan tujuh kata yang menjadi anak kalimat dalam Pembukaan UUD yang berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya adalah bukti sejarah yang sampai saat ini masih hidup di dalam benak bangsa kita. Padahal, kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya itu tentu saja tidak mengikat mereka yang tidak beragama Islam. Namun mereka tetap menolak dengan alasan hal itu merupakan bentuk diskriminasi terhadap minoritas. Artinya, mereka memang menolak Syariat Islam sama sekali, meski syariat itu hanya diberlakukan khusus untuk orang Islam. Pendirian seperti itu jelas pendirian iblis. Bangsa iblis yang sudah pasti ditempatkan di neraka oleh Allah SWT, tentu tidak mau umat manusia menjalankan syariat yang datangnya dari Allah, sebab kalau syarat itu dijalankan, maka bangsa manusia tidak ada yang menemani bangsa iblis di neraka kelak. Ancaman mau memisahkan diri dari NKRI tetap diumbar pada masa-masa sekarang ini. Misalnya, dalam perkara pelaksanaan eksekusi mati terhadap Fabianus Tibo dan kawan-kawan. Beberapa bulan sebelum akhirnya Fabianus Tibo dan kawan-kawan dieksekusi mati, mengalir pembelaan agar Tibo dan kawan-kawan tidak dieksekusi mati, dengan berbagai dalih. Di antara dukungan itu datangnya dari Frans Seda, yang sepanjang Orde Baru berkuasa selalu menduduki posisi penting. Frans Seda ketika itu pernah menggemakan ancaman akan memisahkan diri dari NKRI bila Fabianus Tibo dan kawan-kawan tetap dieksekusi mati, yaitu akan mendirikan negara Timor Raya. Akhirnya, Tibo dieksekusi pada 22 September 2006. Ancaman kosong itu, tak terbukti hingga kini. Begitu juga ketika terjadi bentrokan antara Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (SETIA) dengan warga Kampung Pulo, Pinang Ranti, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur. SETIA yang didirikan pada tanggal 11 Mei 1987, memiliki fasilitas yang mampu menampung 1.500 orang. Selain itu, SETIA memiliki 6 program studi yakni Teologi, Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Guru TK/SD (PGTK/PGSD), PGSLTP jurusan matematika dan bahasa Inggris, D3 Akademi Perawatan, dan Sekolah Menengah Teologi Kristen. Sebagaimana diberitakan detikcom, pada hari Selasa tanggal 29 Juli 2008, sekitar 200 mahasiswa SETIA yang didampingi perwakilan dosen, rektor dan pimpinan Gereja Nasional mengadu ke DPR. Mereka ditemui perwakilan Fraksi PDIP (Gayus Lumbuun), dan Fraksi PDS (Ruyandi Hutasoit dan Carol Daniel Kadang Ketua FPDS) di ruang rapat Komisi VII DPR.

Pada kesempatan itu, mereka juga mengumbar ancaman, Kita minta ada kepastian, kita ingin kembali belajar dengan tenang di sana. Memang di sini kami ini minoritas, tetapi di daerah kami, kami mayoritas. Kami siap mendirikan negara baru, kata salah satu perwakilan dari SETIA. (Detikcom 29/7/2008). Ancaman mau mendirikan negara baru atau mau memisahkan diri dari NKRI, selalu diumbar, karena menurut pengalaman sejarah, senior-senior mereka di awal-awal kemerdekaan setelah mengumbar gertakan kosong seperti itu apalagi dengan mendapat dukungan dari nasionalis sekuler seperti Moh Hatta terbukti berhasil menggagalkan dimasukkannya tujuh kata yang berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya. Keberhasilan di masa lampau dengan mengumbar gertakan kosong seperti itu, setiap ada kesempatan terus diulang-ulang, sebagaimana terjadi pada konflik antara mahasiswa SETIA dengan warga sekitarnya, dan tentu saja pada kasus penolakan terhadap RUU APP (kini menjadi RUU Pornografi) yang dicurigai membawa misi Islamisasi. Keberanian kalangan Kristen-Katholik ini semakin menjadi-jadi karena mendapat dukungan dari nasionalis sekuler, penganjur kesesatan, ulama su dan sebagainya, termasuk dukungan dari sejumlah media massa (cetak dan elektronik). Bila pada masa sebelum reformasi, yang gemar menggertak dan mengumbar ancaman kosong itu hanya kalangan Kristen-Katholik saja padahal sepanjang Orde Baru kebijakan rezim saat itu menguntungkan mereka kini umat Hindu (terutama yang berada di Bali) juga ikut latah mengadopsi gaya seperti itu, yaitu mengancam dan menggertak mau memisahkan diri dari NKRI hanya karena persoalan tidak esensial. Misalnya, ketika pada Januari 2000 salah satu tokoh PPP dan tokoh ICMI AM Saefudin mempertanyakan apa agama yang sesungguhnya dianut oleh Megawati, karena kedapatan sedang melakukan sembahyang (ritual agama Hindu) di salah satu Pura di Bali, saat Mega berkunjung kesana. Hal yang tidak esensial seperti itu saja, sudah mampu membuat orang Bali beringas. Sesungguhnya, yang beringas dan gemar menggertak mau memisahkan diri dari NKRI itu, adalah orang Bali yang sudah jadi politisi. Mereka mengajak masyarakat yang sebelumnya sudah terbakar (emosional) dengan iming-iming imbalan tertentu. Masyarakat Bali pada umumnya, tidak mempunyai watak demikian. Hal itu bisa terjadi, karena di Bali parpol yang dominan adalah PDI-P, dan khususnya adalah PDI-P faksi Kristen-Katholik yang kental muatan Islamophobia-nya. Anggota PDI-P di luar Bali yang bukan Kristen-Katholik saja, mencemooh sikap beringas dan gemar mengancam seperti itu. Apalagi kini, ada PDS. Maka makin sempurnalah. Ditambah lagi Gubernur Bali saat ini dijabat oleh Mangku Pastika, yang ke-Hinduan-nya sudah kian luntur karena bertahun-tahun menjadi kaki tangan CIA di dalam memberantas terorisme. Nampaknya, Mangku Pastika punya dendam tersendiri terhadap apa-apa saja yang berbau Islam. Dan, RUU Pornografi, menurut pandangan Mangku Pastika, membawa misi Islam, sehingga harus ditolak.

RUU Pornografi Ade Armando yang turut hadir pada acara Rapat Dengar Pendapat Umum dengan para wakil masyarakat di Bali sekitar pertengahan Oktober lalu, menggambarkan keadaan forum itu dengan ungkapan sangat buruk. Bali merupakan salah satu dari tiga Provinsi yang menjadi basis

penolakan RUU Pornografi. Selain Bali, juga Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta. Keadaan yang sangat buruk itu dijabarkan Ade Armando sebagai berikut:

1.

Suasana sungguh tak terkendali, bahkan oleh Gubernur. Walau ada sejumlah tokoh masyarakat Bali berbicara dengan tenang, puluhan undangan datang bukan untuk berdiskusi tapi untuk marah dan memaki-maki. Tujuh anggota DPR yang mendukung RUU Pornografi dan berusaha menjelaskan argumen mengapa RUU ini penting, ternyata diteriaki, dimaki-maki, disuruh turun dan pulang ke Jakarta. Tak ada dialog. Bahkan memang salah satu pembicara menyatakan dirinya mewakili kaum preman. Gubernur Bali menyatakan: Kami bukan saja menolak RUU Pornografi tapi juga menolak membahasnya! Pasal-pasal RUU yang dipersoalkan sama sekali tak dibicarakan. Sebagian peserta masih berbicara bahwa kalau disahkan, RUU ini akan mengkriminalkan para turis berbikini di pantai-pantai Bali, mengkriminalkan arca-arca dan patung-patung Bali dan akan mengkriminalkan adat istiadat Bali. Nyata sekali para pembicara ini termakan propaganda dan disinformasi yang menyesatkan tentang isi RUU.

2.

3.

4. Kelompok Islam tidak diundang dalam acara ini. Wakil MUI Bali akhirnya bisa hadir setelah bergerilya mencari cara untuk bisa masuk ke ruangan. Sepanjang acara, mereka, tentu saja, tidak punya kesempatan untuk berkomentar (walau kemudian, saya katakan pada mereka: tak perlulah MUI bicara dalam suasana panas begini). 5. Wakil PDS di DPR jelas-jelas berusaha memanfaatkan acara ini. Tanpa bicara isi RUU, ia memanfaatkan waktu untuk bicara dengan satu pernyataan singkat: Sejak awal PDS menolak RUU Pornografi ini. Tepuk tangan pun bergemuruh. Kampanye negatif dengan sangat kasar sangat terasa. Ketua MUI Bali menunjukkan pada saya berita Media Indonesia yang memuat informasi bohong dengan seolah-olah mengutip pernyataan Ketua MUI Bali bahwa dia mendukung penolakan atas RUU Pornografi. Saya sarankan pada dia, kirimkan surat ke Media Indonesia dan Dewan Pers dan koran-koran besar lain bahwa Ketua MUI Bali tidak pernah menyatakan hal itu. Saya katakan, kalau Bapak tidak membantah, orang akan menyangka bahwa MUI Bali memang mendukung penolakan. Bagaimanapun kondisi Bali lebih baik daripada Rapat Dengar Pendapat Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara, seorang pendukung RUU Pornografi dipukul tatkala menyatakan dukungannya atas RUU Pornografi. Sepanjang acara, ancaman bahwa Bali akan memisahkan diri dari NKRI kalau RUU ini disahkan berulang-ulang disampaikan.

6.

7.

8.

Gambaran Ade Armando itu dipublikasikan di milis journalisme. Mengakhiri laporannya itu Ade Armando mengatakan, Di Bali, saya belajar, perjalanan kita menuju masyarakat demokratis yang beradab memang masih jauh dari kenyataan. FPI cuma salah satu contoh. Contoh-contoh lainnya tersebar di mana-mana. Tapi, memang, kata siapa hidup ini mudah? Demikian ungkapan Ade Armando.

Dalam masalah ini perlu kita ingat, FPI adalah organisasi tanpa badan hukum, dan berada di luar sistem. Bila diibaratkan, FPI hanyalah anak-anak nakal. Sedangkan DPRD adalah lembaga tinggi negara, Gubernur adalah pejabat negara. Mereka ibarat pejabat nakal, bapak yang nakal, guru yang kencing berlari. Bali, Sulawesi Utara, dan Yogyakarta adalah daerah wilayah NKRI yang sah. Kalau terhadap FPI kemarahan sejumlah orang sudah sedemikian tingginya, bagaimana kalau yang menerapkan premanisme itu adalah Gubernur, anggota DPRD, dan petinggi partainya? Boleh jadi, kelahiran FPI justru disebabkan oleh adanya premanisme yang dianut para gubernur dan anggota DPRD seperti di Bali dan Sulawesi Utara. Boleh jadi, kelahiran FPI dimungkinkan oleh sikap arogan ala Mahasiswa SETIA, atau oleh bapak yang nakal seperti Frans Seda. Boleh jadi, kelahiran FPI didorong oleh adanya rohaniwan yang nakal dan suka memprovokasi jemaatnya seperti di Poso dan Maluku, sehingga dengan kejahatannya itu menewaskan ribuan umat Islam, termasuk anggota jemaatnya sendiri. Di Bali dan Sulawesi Utara, Gubernur dan anggota DPRD-nya menganut premanisme, mau menang sendiri, dan berpotensi disintegratif. Masak sih sikap seperti ini didiamkan saja oleh Mendagri, Presiden, dan TNI-Polri yang salah satu fungsinya adalah menjaga keutuhan NKRI. Kalau ada sekelompok orang yang jelas-jelas menyuarakan mau memisahkan diri dari NKRI, dan hal itu disampaikan di forum bergengsi seperti di DPR RI, tentu tidak bisa didiamkan begitu saja. Mungkin TNI-Polri sudah bisa mengukur ancaman dan gertakan seperti itu. Sebab, sudah terbukti, ancaman dan gertakan seperti itu cuma omong kosong belaka. Dari kasus heboh menolak RUU Pornografi yang diwarnai dengan ancaman mau memisahkan diri ini, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa kalangan Kristen-Katholik dan Hindu, selain tidak loyal kepada NKRI, bagai duri dalam daging, juga gandrung kepada hal-hal yang berbau porno. Kontribusi mereka terhadap dekadensi moral bangsa Indonesia sudah sedemikian besarnya. Kalau akhirnya RUU Pornografi disahkan, dan SULUT, BALI dan DIY mau memisahkan diri dari NKRI, kami umat Islam di Indonesia cuma bisa bilang, are you sure? Just do it! (haji/tede/mua)