Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

Dewasa ini masalah kegemukan (obesitas) merupakan masalah global yang melanda masyarakat dunia baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Obesitas dapat menimbulkan berbagai penyakit serius, antara lain DM, hipertensi dan jantung. Risiko kematian yang disebabkan oleh diabetes yakni stroke, coronary artery disease, tekanan darah tinggi, kolesterol yang tinggi, Selain itu, obesitas ini juga disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti, perubahan gaya hidup merupakan faktor yang mendukung terjadinya kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas. Terlalu banyak makan juga dapat menyebabkan obesitas. Makanan yang pada umumnya kita makan seperti karbohidrat, protein dan lemak, merupakan sumber energy yang akan di metabolisme di dalam tubuh dan menjadi energy. Energy ini yang nanti akan dipakai untuk aktivitas kita. Tapi apa bila energy yang kita dapatkan dari makanan lebih banyak dari yang kita keluarkan, akan menumpuk menjadi cadangan energy bila di butuhkan. Dan jika terus menerus tertumpuk banyak, energy tersebut akan di endapkan menjadi lemak tubuh. Di Indonesia ada standar pengukuran berat badan yang normal yaitu berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Jika berat badan kita sudah melebihi IMT, maka kita harus mengatur porsi makan kita yang sesuai kebutuhan. Berikut ini diuraikan mengenai faktor faktor yang mempengaruhi, status gizi, metabolisme, dan pemeriksaan yang harus dilakukan.

BAB II OBESITAS
I. Definisi Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.1 Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok: Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40% Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100% Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%. Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk II. Status gizi Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, dkk, 2001). Sedangkan menurut Gibson (1990) menyatakan status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya. Status gizi merupakan Keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.2 1. 2. 3. 4. GIZI BURUK GIZI KURANG GIZI BAIK GIZI LEBIH = KEP (Kekurangan Energi Protein) / Energi, Kwaskhiorkor / Protein. = Yodium, Vit A, Zat Besi, Vit C, dll. = Normal, baik = Obesitas.

2.1. Body Mass Index (BMI) Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan suatu pengukuran yang menunjukkan hubungan antara berat badan dan tinggi badan. BMI merupakan suatu rumus matematika dimana berat badan seseorang (dalam kg) dibagi dengan tinggi badan (dalam m). 2

BMI lebih berhubungan dengan lemak tubuh dibandingkan dengan indikator lainnya untuk tinggi badan dan berat badan. BMI bisa memperkirakan lemak tubuh, tetapi tidak dapat diartikan sebagai persentase yang pasti dari lemak tubuh. Hubungan antara lemak dan BMI dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Wanita lebih mungkin memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan pria dengan nilai BMI yang sama. Pada BMI yang sama, orang yang lebih tua memiliki lebih banyak lemak tubuh dibandingkan orang yang lebih muda. BMI yang tinggi merupakan suatu ramalan kematian karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Diabetes, kanker, tekanan darah tinggi dan osteoartritis juga merupakan akibat dari overweight dan obesitas yang sering ditemukan pada dewasa. Obesitas sendiri merupakan faktor resiko yang kuat dari kematian dini. Interpretasi nilai BMI untuk dewasa, tanpa memperhatikan umur maupun jenis kelamin: Rumus BMI BMI = Berat badan (kg) Tinggi badan (m) INDEKS MASSA TUBUH <18,5 18,5 - 24,9 25 - 29,9 30 34,9 35 39,9 KATEGORI Berat badan kurang Berat badan normal Berat badan lebih Obesitas I Obesitas II

Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada umur dan jenis kelamin. Keterbatasan IMT tidak dapat digunakan bagi: o Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan o Wanita hamil o Orang yang sangat berotot, contohnya atlet BMI berdasarkan usia. Sejalan dengan pertumbuhannya, maka lemak tubuh anak-anak berubah dari tahun ke tahun. Interpretasi BMI tergantung kepada usia anak. Selain itu, lemak tubuh anak perempuan dan anak laki-laki berbeda. Karena itu untuk anak-anak tersedia 2 grafik yang berbeda untuk perempuan dan laki-laki. 3

Setiap grafik dari CDC untuk BMI berdasarkan umur terdiri dari serangkaian garis lengkung yang menunjukkan persentil tertentu. BMI menurun selama masa pra-sekolah, lalu meningkat pada masa dewasa.3 2.2. Index Broca Berat Badan Normal = Tinggi Badan 100 Berat Badan Ideal = (Tinggi Badan - 100) - ( 10% tinggi badan -100) Dari hasil tersebut dapat kita ketahui apa yang terjadi dengan diri kita dengan membandingkan hasilnya berikut di bawah ini : - Kelebihan Berat Badan / Overweight = Hasilnya 10% s/d 20% lebih besar - Kegemukan / Obesitas / Obesity = Hasilnya lebih dari 20% dari yang seharusnya - Kurus = Hasilnya 10% kurang dari yang seharusnya. 2.3. Metode recall Metode recall adalah metode wawancara, dimana pewawancara menanyakan apa yang telah dikonsumsi oleh responden. Biasaanya digunakan recall 2 hari berturut-turut, yaitu menanyakan semua makanan yang telah dikonsumsi responden selama 3 hari berturutturut yang baru lalu. Wawancara dilakukan berdasarkan suatu daftar pertanyaan atau kuisioner yang telah dipersiapkan lebih dahulu. Pewawancara mengajukan pertanyaan dan jawaban responden dicatat langsung di atas daftar pertanyaan tersebut. Sebaiknya responden dibiarkan menjawab sendiri tanpa dipengaruhi oleh pewawancara untuk mengisi jawaban yang belum terinci. Akan lebih baik kalau responden dapat memperlihatkan setiap contoh makanan yang dimakannya, baik jenis makanannya maupun besar porsinya.4 Dalam penelitian demikian harus diingatkan kemungkinan adanya variasi konsumsi menurut musim dan perbedaan hari tanggal muda dan tanggal tua setiap bulannya.4

III.

Menu planning 4

Komposisi yang baik dalam makanan yang kita makan sehari-hari harus mengacu pada pedoman yang baik. Ada beberapa pedoman gizi antara lain 4 sehat 5 sempurna, piramida makanan, dan PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang). Masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda. 4 sehat 5 sempurna menjelaskan tentang kelompok bahan makanan. Komposisi gizi5 Protein : 10-15% total kalori/hari atau 0.8-1g/KgBB/hr Lemak : 20-35% total kalori/hari Karbohidrat : 65-70% total kalori/hari Suatu susunan hidangan harus (sanggup) memenuhi beberapa fungsi : 1. 2. 3. 4. Mengandung makanan yang memuaskan selera dan memberikan rasa Mengandung zat zat gizi yang dibutuhkan untuk tetap sehat dan sanggup Memenuhi nilai nilai social budaya masyarakat yang mengkonsumsinya. Terjangkau oleh daya beli konsumen.

kenyang kepada mereka yang mengkonsumsinya. mengerjakan pekerjaan sehari hari dengan memuaskan.

Frekuensi makan seseorang adalah 3 kali makan utama dan 2 3 kali makanan selingan (snack) Porsi seseorang perlu diperhatikan, apakah sesuaidengan kebutuhan masing masing menurut umur dan jenis kelamin serta jenis pekerjaan yang menjadi tugasnya sehari hari. Penilaian yang menentukan dampak akhir dari konsumsi makanan ialah melihat para konsumen. Hidangan yang mencukupi akan memberikan kesehatan fisik yang memadai dan sanggup melakukan tugas masing masing dengan memuaskan.6 IV. Metabolisme Adalah jumlah keseluruhan reaksi kimia dan fisik dan pengubahan energi dalam tubuh yang menopang dan mempertahankan kehidupan.

1. Anabolisme meliputi reaksi reaksi kimia untuk membentuk kompleks molekul yang dibutuhkan untuk perumbuhan dan mempertahankan kehidupan yang disintesis dari zat yang lebih simpel disertai penggunaan energi. 2. Katabolisme meliputi reaksi reaksi kimia untuk memecah kompleks molekul menjadi moleku yang berukuran lebih kecil disertai pelepasan energi. 3. Reaksi anabolic dan katabolic berlangsung dalam sel sel tubuh secara bersamaan dan berkelanjutan. Jalur metabolik Adalah serangkaian reaksi kimia khusu yang melibatkan anabolisme dan katabolisme. 1. Reaksi dalam sel pada dasarnya adalah reaksi reduksi oksidasi (redoks), yang melibatkan pemindahan satu atau lebih elektro dari satu reaktan ke reaktan lain. a. Oksidasi adalah reaksi kimia yang atom atau molekulnya melepaskan electron dan dikatakan teroksidasi. b. Reduksi adala reksi kimia yang atom atau molekulnya mendapat electron dan dikatakan tereduksi. c. Karena electron yang dilepas selama reaksi oksidasi tidak dapat muncul dalam bentuk bebas dalam sel hidup, setiap reaksi oksidasi selalu disertai reaksi reduksi sehingga electron yag dilepas diterima oleh atom atau molekul lain. d. Dalam sel hidup, reaksi oksidasi biasanya melbatkan pelepasan keseuruhan atom Hidrogen (bukan satu elektron) dari suatu senyawa dan reduksi pada dasarnya berarti mendapatkan satu atom Hidrogen. 2. Enzim megkatalis (mempercepat) setiap langkah dalam jalur metabolic. Sebagian besar reaksi enzimatik membutuhkan koenzim, sejenis senyawa organic yang berikatan dengan enzim sehingga menjadi lebih efektif. Koenzim dapat bertindak sebagai pembawa electron dari satu reaksi ke reaksi selanjutnya yang kemudian dapat beroksidasi atau tereduksi selama proses berlangsung. a. Nikotinamida adenine dinukleotida (NAD) adalah koenzim yang menerima electron dan menjadi tereduksi. Koenzim ini bekerja sama dengan ezim laktat dehidrogenase dalam metabolisme glukosa dan pembentukan ATP. Nikotinamida terbentuk dari niasin, sejenis vitamin B. b. Flavin adenin dinukleotida (FAD) adalah koenzi akseptor electron lainnya. Koenzim ini bekerja dengan suksinat dehidrogenase dan terbentuk dari riboflavin atau vitamin B2. 6

3. ATP adalah senyawa fosfat berenergi tinggi yang menyimpan energi untuk tubuh. ATP terbentuk dari nukleotida adenosine ditambah dua gugus fosfat dalam ikatan yang berenergi tinggi. a. Hidrolosis ATP melepaskan 1 fosfat menjadi adenosine difosfat (ADP) dan melepaskan energi. Pelepasan fosfat lainnya untuk memnbentuk adenosine monofosfat (AMP) melepakan lebih banyak energi. b. Energi yang dilepaskan dari katabolisme makanan dipakai ADP untuk berikatan kembali dan membentuk ATP sebagai simpanan energi. Energi yang dilepaskan ATP digunakan untuk aktivitas seluler dan sebagai sumber energi reaksi anabolic. c. Sistem ATP ADP adalah cara utama pemindahan energi dalam sel.7 A. Karbohidrat

Sebelum karbohidrat dimetabolisme oleh tubuh, KH harus dicerna dulu di dalam system pencernaan. KH yang masuk akan dicerna/dipecah oleh berbagai enzim agar menjadi lebih kecil sehingga dapat di absorbsi oleh usus. Enzim enzim pencernaan yang terlibat, antara lain: 1. amylase pancreas 2. disakaridase usus (sukrase, lactase, dan maltase) Setelah KH menjadi monosakarida, barulah usus halus dapat absorbsi. Monosakarida yang diabsorbsi ke dalam sel usus, dilakukan dengan transport aktif dengan bantuan Na. Setelah itu baru diabsorbsi masuk ke sirkulasi darah untuk dibawa ke hati. Glukosa dan galaktosa dengan transport aktif menggunakan Na, sedangkan fruktosa dengan difusi terfasilitasi.8,9 Glukosa bersifat polar, jadi membutuhkan protein dalam transportnya. Glukosa di otot dan jaringan adiposa ditransport secara pasif dipengaruhi insulin. Di hati ditransport pasif. Metabolisme Setelah dibawa ke hati, KH akan dibawa ke jaringan untuk dimetabolisme. Fungsi KH: 1. energi 2. cadangan energi dalam bentuk glikogen 3. menghasilkan senyawa amfibolik (piruvat, laktat, gliserida)

4. sintesis glikosaminoglikan (bahan struktur sel), bahan khas susu (laktosa), dan senyawa non KH Metabolisme KH terdiri dari: a. Glikolisis Bertujuan untuk mengubah glukosa menjadi piruvat atau laktat yang nantinya akan menghasilkan energi. Glikolisis terjadi di sitoplasma semua sel. Untuk eritrosit, hasil glikolisis selalu laktat, karena tidak ada inti dan mitokondria sehingga berlangsung anaerob. Proses glikolisis:8,9 glukosa glukosa-6P (glukosa aktif), dengan glukokinase (hati) dan heksokinase (jaringan). Butuh ATP dan Mg. Bersifat irreversible. Glukokinase hanya untuk glukosa, afinitas kecil, ditingkatkan oleh insulin, dan berguna untuk menyingkirkan glukosa darah. Heksokinase untuk heksosa, afinitas tinggi, tidak dipengaruhi oleh insulin, dan bertujuan untuk menyediakan glukosa jaringan. Glukosa-6P fruktosa-6P, dengan isomerase. Fruktosa-6P fruktosa-1,6 bisfosfat, dengan fosfofruktokinase (enzim kunci). Perlu ATP dan Mg. fruktosa-1,6 bisfosfat gliseraldehid-3P dan DHAP, dengan aldolase. Kemudian dengan isomerase, DHAP segera menjadi gliseraldehid-3P untuk mengalami metabolisme lanjut. gliseraldehid-3P 1,3 bisfosfogliserat, dengan gliseraldehid-3P DH. Menghasilkan NADH, dan dapat dihambat dengan iodoasetat. 1,3 bisfosfogliserat 3 fosfogliserat, dengan fosfogliserat kinase. Perlu Mg dan menghasilkan ATP. 3 fosfogliserat 2 fosfogliserat, dengan mutase. 2 fosfogliserat PEP, dengan enolase. Perlu Mg dan dapat dihambat oleh fluoride. PEP enol piruvat, denga piruvat kinase. Perlu Mg dan menghasilkan ATP. Enol piruvat keto piruvat. Terjadi spontan, kemudian akan masuk SAS. 8

b. Oksidasi piruvat Oksidasi piruvat (2) menjadi asetil-KoA (2) dengan piruvat DH dibantu oleh NAD, terjadi di mitokondria sebelum masuk ke SAS, menghasilkan NADH (2) dan CO 2. Piruvat DH aktif tanpa P, untuk itu diatur oleh PDH kinase yang kerjanya menambahkan P. PDH kinase dipengaruhi oleh kadar produk/reaktan. Reaktan : NAD, ATP, KoA. Jika produk meningkat, maka PDH kinase dihambat (oleh Ca ++, dikloroasetat, dan piruvat juga), sehingga PDH menjadi aktif. Jika dalam keadaan inaktif, maka dapat diaktifkan dengan PDH fosfatase yang melepas P dengan bantuan H2O (oleh insulin dan Mg++, Ca++ fosfatase ditingkatkan kerjanya). Selain itu, oksidasi piruvat juga membutuhkan koenzim as. Lipoat, tiamin pirofosfat, ASH/niasin, FAD/FMN, dan NAD. Gangguan PDH menyebabkan piruvat menjadi laktat.8,9 c. SAS Merupakan jalur akhir bermacam macam zat, terjadi di mitokondria. SAS bersifat anabolic dan katabolic. Proses SAS:

Asetil-KoA Oksaloasetat sitrat

isositrat malat AlfaKetoglutarat suksinat Suksinil-KoA

fumarat

Gambar 1. Jalur asam sitrat2 Enzim yang berperan: sitrat sintase, mengeluarkan 2 CO2 akonitase, dihambat oleh fluoroasetat isositrat DH, menghasilkan NADH dan CO2 alfa ketoglutarat DH, menghasilkan NADH dan CO2. Dihambat oleh arsenat suksinat tiokinase, menghasilkan GTP yang akan segera menjadi ATP suksinat DH, menghasilkan FADH. Dihambat oleh malonat. Fumarase Malat DH, menghasilkan NADH dan CO2

Jadi, dalam 1 siklus SAS dihasilkan 6 NADH, 2 FADH, dan 2 ATP (ada 2 asetilKoA.). d. HMP Shunt (Hexose Mono Phosphate) Merupakan jalur oksidasi glukosa dengan menggunakan NADP sebagai aseptor H+. Terjadi di sitosol dan tidak menghasilkan ATP. HMP akti di hati, jaringan adipose, eritrosit, korteks adrena, kel. Tiroid, kel. Mamae yang laktasi, dan ovarium/testis.8,9 Kurang aktif di otot skelet. Tujuan dari HMP Shunt adalah menyediakan ribose-5P untuk sintesis RNA/DNA serta NADPH yang akan digunakan sebagai: sintesis as. Lemak sintesis kolesterol dari asetil-KoA sintesis hormone steroid sintesis as. Amino sintesis hormon tiroid sintesis glutation tereduksi dalam eritrosit

HMP Shunt diawali oleh glukosa-6P yang natinya akan dimetabolisme oleh enzim G6PD, epimerase, ketoisomerase, transketolase, dan tranaldolase. HMP shunt merupakan multisiklik. Ada tipe F ribulosa-5P, dan tipe L ribose-5P.8,9 e. Glikogenesis 10

Pemebentukan glikogen dari glukosa, terjadi di hati dan otot. Di otot glikogen sebagai sumber energi, sedangkan di hati sebagai simpanan glukosa untuk darah karena ada enzim glukosa 6-fosfatase. Glikogen otot lebih banyak karena massa otot lebih banyak daripada hati. Glikogenesis dimulai dengan mengubah glukosa-6P menjadi glukosa-1P (inaktif) dengan enzim fosfoglukomutase. Glikogenesis membutuhkan glikogen primer, yang merupakan inti glikogen yang terbentuk dari protein primer (glikogenin) yang mengalami glukosilasi pada tirosin oleh UDP-glukosa.8,9 Proses glikogenesis membutuhkan enzim: UDP-glukosa pirofosforilase mengikatkan UTP ke glukosa-1P menjadi UDP-glukosa yang merupakan betuk aktif. Selain itu dibebaskan 2P yang akan dipakai untuk sintesis UTP atau ATP lagi. Glikogen sintase mengikatkan UDP-glukosa kepada glikogen primer yang tadinya sudah ada 4 gugus glukosil. Ini membentuk rantai lurus dengan ikatan glikosidik 1,4. Banching enzyme memindahkan 6 segmen glucose ke percabangan dengan ikatan glikosidik 1,6 setelah terbentuk 11 glukosa pada rantai lurus.8,9 f. Glikogenolisis Merupakan proses pemecahan glikogen menjadi glukosa . Terjadi di hati menjadi glukosa darah, di otot menjadi piruvat maupun laktat. Enzim yang berperan: fosforilase memutuskan 1 glukosa pada rantai lurus dengan menggunakan ATP, sehingga glukosa yang lepas merupakan glukosa-1P. Pemurtusan dilakukan sampai pada rantai lurus tersebut tersisa 4 glukos. Glukan transferase memindahkan 3 glukosa dari 4 yang tersisa di percabangan, sehingga tersisa 1 glukosa pada percabangan. Debranching enzyme memutuskan sisa 1 glukosa di percabangan, sehingga menghasilkan glukosa bebas yang bisa langsung masuk darah. Namun jumlahnya hanya sedikit. Dalam glikogenesis maupun glikogenolisis berperan suatu zat yang bisa mengaktifkan maupun menonaktifkan proses, yaitu CAMP. Pada glikogenesis, enzim 11

yang berperan sebagai kunci adalah glikogen sintase, yang aktif jika tanpa P. Sedangkan pada glikogenolisis yang menjadi enzim kunci adalah fosforilase, yang aktif dengan P. Proses pengikatan dan pelepasan P pada kedua enzim tersebut diatur oleh fosfokinase maupun fosfatase. Fosfokinase akan diaktifkan oleh CAMP yang dibentuk oleh adenilat siklase dari ATP. Untuk itu ada pengaturan oleh tubuh yang dapat menyediakan CAMP atau mengubah CAMP dalam fungsinya sebagai pengaktif kinase. Di otot ada Ca++ dan epinefrin yang meningkatkan CAMP sehingga glikogenolisis meningkat, sedangkan untuk meningkatkan glikogenesis ada insulin yang mengubah CAMP menjadi 5 AMP. Pada hati terdapat glukagon yang mempunyai efek seperti epinefrin, serta ada insulin juga.8,9 g. glukoneogenesis Merupakan pembentukan KH (glukosa/glikogen) dari senyawa bukan KH, seperti as. Amino yang bersifat glukogenik (trp, ala, ser, sis, thre, tir, phe, isoleu, met, val, his, pro, gln, glu, arg, asp), laktat, gliserol, propionate, yang merupakan reaksi kebalikan dari glikolisis, SAS, dan beberapa reaksi lain.. Tujuannya adalah menyediakan glukosa di dalam tubuh jika terjadi kekurangan. Terjadi di hati (terbanyak enzimnya) dan ginjal.8,9 Gliserol gliseraldehid 1,6 bisfosfofruktosa dengan aldolase kembali menjadi fruktosa-6P Piruvat asetil KoA merupakan searah, bisa langsung ke oksalo asetat dengan piruvat karboksilase. As. Lemak asetil KoA SAS keluar lewat malat dengan enzim PEP karboksilase yang mengubah malat menjadi PEP untuk reaksi kebalikan menjadi glukosa.

B.

Protein

Glukoneogenesis Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka tubuh adalah menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah memecah protein untuk energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai pembangun tubuh.8,9

12

Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein. Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein dijelaskan sebagai berikut: 1. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk dalam siklus Krebs. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis. 2. Krebs. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus

Jalur metabolik utama dari asam amino Jalur metabolik utama dari asam-asam amino terdiri atas produksi asam amino dari pembongkaran protein tubuh, digesti protein diet serta sintesis asam amino di hati. Kedua, pengambilan nitrogen dari asam amino. Sedangkan ketiga adalah katabolisme asam amino menjadi energi melalui siklus asam serta siklus urea sebagai proses pengolahan hasil sampingan pemecahan asam amino. Keempat adalah sintesis protein dari asam-asam amino. 13

Jalur-jalur metabolik utama asam amino

Katabolisme asam amino Asam-asam amino tidak dapat disimpan oleh tubuh. Jika jumlah asam amino berlebihan atau terjadi kekurangan sumber energi lain (karbohidrat dan protein), tubuh akan menggunakan asam amino sebagai sumber energi. Tidak seperti karbohidrat dan lipid, asam amino memerlukan pelepasan gugus amin. Gugus amin ini kemudian dibuang karena bersifat toksik bagi tubuh. Ada 2 tahap pelepasan gugus amin dari asam amino, yaitu: 1. Transaminasi Enzim aminotransferase memindahkan amin kepada -ketoglutarat menghasilkan glutamat atau kepada oksaloasetat menghasilkan aspartat 2. Deaminasi oksidatif Pelepasan amin dari glutamat menghasilkan ion amonium

14

Contoh reaksi transaminasi. Perhatikan alanin mengalami transaminasi menjadi glutamat. Pada reaksi ini dibutuhkan enzim alanin aminotransferase.

Glutamat juga dapat memindahkan amin ke rantai karbon lainnya, menghasilkan asam amino baru.

Contoh reaksi deaminasi oksidatif. Perhatikan glutamat mengalami deaminasi menghasilkan amonium (NH4+). Selanjutnya ion amonium masuk ke dalam siklus urea.

Setelah mengalami pelepasan gugus amin, asam-asam amino dapat memasuki siklus asam sitrat melalui jalur yang beraneka ragam.

15

Tempat-tempat masuknya asam amino ke dalam sikulus asam sitrat untuk produksi energi

Gugus-gugus amin dilepaskan menjadi ion amonium (NH4+) yang selanjutnya masuk ke dalam siklus urea di hati. Dalam siklus ini dihasilkan urea yang selanjutnya dibuang melalui ginjal berupa urin. Proses yang terjadi di dalam siklus urea digambarkan terdiri atas beberapa tahap yaitu: 1. Dengan peran enzim karbamoil fosfat sintase I, ion amonium bereaksi dengan CO2 menghasilkan karbamoil fosfat. Dalam raksi ini diperlukan energi dari ATP 2. Dengan peran enzim ornitin transkarbamoilase, karbamoil fosfat bereaksi dengan L-ornitin menghasilkan L-sitrulin dan gugus fosfat dilepaskan 3. Dengan peran enzim argininosuksinat sintase, L-sitrulin bereaksi dengan L-aspartat menghasilkan L-argininosuksinat. Reaksi ini membutuhkan energi dari ATP 4. Dengan peran enzim argininosuksinat liase, L-argininosuksinat dipecah menjadi fumarat dan L-arginin 5. Dengan peran enzim arginase, penambahan H2O terhadap L-arginin akan menghasilkan Lornitin dan urea.

16

Tahapan-tahapan proses yang terjadi di dalam siklus urea

C.

Lemak

Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai pendek juga dapat melalui jalur ini.

Struktur miselus. Bagian polar berada di sisi luar, sedangkan bagian non polar berada di sisi dalam

Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut oleh misel (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus. Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada

17

vena kava, sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan jaringan adiposa.8,9,10 Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi. Sewaktu-waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan oleh albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty acid/FFA). Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.8,9,10 Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida. Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.

18

Diet

Lipid Karb ohidr Prote at Gliserol in

Trigli serid Ester a Lipoli ifikas sis iAsam lema Lipog k Oksida enesi si beta Kolester s ogenesis Asetil -KoA + ATP Ketogen esis

Steroid Steroid ogenesi s Koleste rol

Aseto asetat Aset on

Siklus asam sitrat ATP CO2

hidroksi butirat H2O

Metabolisme gliserol Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal, gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara dalam jalur glikolisis.

Reaksi-reaksi kimia dalam metabolisme gliserol

V. A.

Faktor yang mempengaruhi Eksternal 1. Pola Makan Berlebihan 19

Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan. 2. Kurang Gerak/Olahraga Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor : a) tingkat aktivitas dan olah raga secara umum; b) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunn metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolis normal. 3. Lingkungan Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka

20

orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan.11

B.

Internal

1. Genetik Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula. Dalam hal ini nampaknya faktor genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Hal ini dimungkinkan karena pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar. 2. Kerusakan Pada Salahsatu Bagian Otak Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yang disebut hipotalamus sebuah kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan dengan bagian-bagian lain dari otak dan kelenjar dibawah otak. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh darah dari daerah lain pada otak, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh unsur kimiawi dari darah. Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan); hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.11 3. Faktor perkembangan Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampak 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel 21

lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.12 5. Jenis kelamin Jenis kelamin berpengaruh terhadap obesitas. Pria memiliki lebih banyak otot dibandingkan dengan wanita. Otot membakar lebih banyak lemak daripada sel-sel lain. Oleh karena wanita lebih sedikit memiliki otot, maka wanita memperoleh kesempatan yang lebih kecil untuk membakar lemak. Hasilnya, wanita lebih berisiko mengalami obesitas. 4. Faktor Hormon Insulin dan Glikagon a. Insulin Insulin diproduksi oleh kelenjar pancreas. Dalam kalenjar pankreas mengandung kurang lebih 100.000 pulau Langerhans, dimana setiap pulau mengandung 100 sel beta. Oleh sel beta-lah hormon insulin diproduksi. Jika hormon insulin tidak ada, maka glukosa tak dapat masuk ke sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat. Efeknya pada karbohidrat : 1. Insulin memfasilitasi transport glukosa ke sebagian besar sel. 2. Insulin menstimulus glikogenesis, produksi glikogen dari glukosa. Dengan menghambat pemecahan glikogen menjadi glukosa. 3. Insulin menghambat glikogenolisis, pemecahan glikogen ke glukosa. 4. Insulin menghambat pengeluaran glukosa hati dengan menghambat glukoneogenesis, pengubahan asam amino menjadi glukosa. 1. Efeknya pada lemak : Meningkatkan transportasi glukosa ke dalam sel jaringan adipose. Glukosa sebagai precursor untuk pembentukan asam lemak dan gliserol, yaitu bahan mentah untuk membentuk trigliserida. 2. Mengaktifkan enzim-enzim yang mengkatalisasi pembentukan asam lemak dari turunan glukosa.

22

3. 4. 1. 2. 3. 4.

Meningkatkan masuknya asam-asam lemak dari darah ke dalam Menghambat lipolisis, sehingga terjadi penurunan pengeluaran Efeknya pada protein : Mendorong transportasi aktif asam-asam amino dari darah ke Menurunkan kadar asam amino dalam darah, menghasilkan Meningkatkan kecepatan penggabungan asam amino ke protein Menghambat penguraian protein.13

sel jaringan adipose. asam lemak dari jaringan adipose ke dalam darah.

dalam otot dan jaringan lain. bahan pembangun untuk sintesis protein di dalam sel. (merangsang perangkat pembuat protein di dalam sel).

b. Glucagon (di hati) Terdapat sel alfa yang memiliki fungsi memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari hormon insulin, yakni meningkatkan kadar glukosa darah. Dalam keadaan seperti ini badan acapkali menjadi lemah karena tidak adanya sumber energi didalam sel. Hal inilah yang paling rentan terjadi pada diabetes melitus tipe 1. 1. 2. 3. Efeknya pada karbohidrat : Efek pada karbohidrat timbul dari peningkatan pembentukan dan Menurunkan sintesis glikogen Meningkatkan glikogenolisis, merangsang glukoneogenesis. Efeknya pada lemak : lemak menjadi badan keton). Efeknya pada protein : 1. Menghambat sintesis protein, meningkatkan penguraian protein di hati. 2. Tetapi tidak memiliki efek bermakna pada kadar asam amino darah karena tidak mempengaruhi protein otot. Makroskopik 23 pengeluaran glukosa oleh hati (glukosa darah meningkat).

1. Meningkatkan pembentukan keton di hati (mendorong perubahan asam

Terletak pada epigastrium dan kuadran kiri atas. Strukturnya lunak, berlobulus, dan terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum sehingga termasuk organ retroperitonial kecuali bagian kecil caudanya yang terletak dalam ligamentum lienorenalis.

Pancreas terdiri dari caput, collum, corpus, dan cauda. Ductus Pancreaticus 1. Ductus Pancreaticus Mayor ( W I R S U N G I ) o Ductus ini bermuara ke pars desendens duodenum di sekitar pertengahannya bergabung dengan ductus choledochus membentuk papilla duodeni mayor Vateri. 2. Ductus Pancreaticus Minor ( S AN T O R I N I ) o Mengalirkan getah pancreas dari bagian atas caput pancreas dan kemudian bermuara ke duodenum sedikit di atas muara ductus pancreaticus pada papilla duodeni minor.

Mikroskopik 1. Bagian Eksokrin Pancreas dapat digolongkan sebagai kelenjar besar, berlobulus, tubuloasinosa kompleks. Asinus berbentuk tubular, dikelilingi lamina basal dan terdiri atas 5-8 sel berbentuk piramid yang tersusun mengelilingi lumen sempit. Tidak terdapat sel mioepitel. protein). Ductus ekskretorius meluas ke dalam setiap asinus dan tampak sebagai sel sentroasinar yang terpulas pucat di dalam lumennya.14 2. Bagian Endokrin Bagian endokrin pancreas, Pulau Langerhans, tersebar di seluruh pancreas dan tampak sebagai massa bundar, tidak teratur, terdiri atas sel pucat dengan banyak pembuluh darah. Dipisahkan oleh jaringan Sebuah asinus pancreas terdiri dari sel-sel zimogen (penghasil

24

retikular tipis dari jaringan eksokrin di sekitarnya dengan sedikit serat-serat retikulin di dalam pulau. Dengan cara pulasan khusus dapat dibedakan menjadi: 1. Sel A = penghasil glukagon Terletak di tepi pulau. Mengandung gelembung sekretoris dengan ukuran 250nm. Batas inti kadang tidak teratur. 2. Sel B = penghasil insulin Terletak di bagian lebih dalam atau lebih di pusat pulau. Mengandung kristaloid romboid atau poligonal di tengah. Mitokondria kecil bundar dan banyak. 3. Sel D = penghasil somatostatin Terletak di bagian mana saja dari pulau, umumnya berdekatandengan sel A. Mengandung gelembung sekretoris ukuran 300-350 nm dengan granula homogen. 4. Sel C Terlihat pucat, umumnya tidak bergranula dan terletak di tengah di antara sel B. Fungsinya tidak diketahui. Tiroksin

Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping kembar dan di antara keduanya dapat daerah yang menggenting. Kelenjar ini terdapat di bawah jakun di depan trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang mempengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh. Tiroksin mengandung banyak iodium. Kekurangan iodium dalam makanan dalam waktu panjang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolisme sehingga pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun. Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan kretinisme, yaitu kelainan fisik dan mental yang menyebabkan anak tumbuh kerdil dan idiot. Kekurangan iodium yang 25

masih ringan dapat diperbaiki dengan menambahkan garam iodium di dalam makanan. Produksi tiroksin yang berlebihan menyebabkan penyakit eksoftalmik tiroid (Morbus Basedowi) dengan gejala sebagai berikut; kecepatan metabolisme meningkat, denyut nadi bertambah, gelisah, gugup, dan merasa demam. Gejala lain yang nampak adalah bola mata menonjol keluar (eksoftalmus) dan kelenjar tiroid membesar. Efek pada metabolisme perantara : 1. Memodulasi kecepatan banyak reaksi spesifik yang terlibat dalam metabolisme bahan bakar yang bersifat multifaset. 2. Menginduksi efek yang bertentangan (hormone tiroid dibutuhkan untuk sintesis protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh, tapi dalam dosis tinggi menyebabkan penguraian protein).15 Makroskopik Glandula tiroidea memiliki 2 lobus (kanan dan kiri), dimana kedua lobus tersebut dihubungankan oleh cincin, yakni isthmus pada cincin trakea ke2-3. Terdapat juga lobus pyramidalis. Mikroskopik Terdapat banyak folikel bulat dengan berbagai diameter yang berisi koloid asidofilik. Folikel dilapisi oleh epitel selapis kuboid yang terdiri atas sel-sel folikel atau sel principal. Folikel-folikel ini mensintesis dan mensekresi hormone tiroid. Diantara sel folikel terdapat jaringan ikat interfolikular (sedikit). Selain itu, terdapat juga sel parafolikel yang terkadang mengelompok atau tunggal di tepi folikel. Sel ini mensintesis dan mensekresi hormone kalsitonin. Septa jaringan ikat simpai kelenjar tiroid meluas ke bagian dalam tiroid, membagi kelenjar tiroid dalam lobuli. Disekitar septa jaringan ikat dan sel folikel terdapat pembuluh darah, arteriol, venul, dan kapiler. Kortisol Kelenjar adrenal atau suprarenalis dibagi menjadi 2 bagian, yaitu korteks

adrenal dan medulla adrenal. 26

Korteks adrenal mengeluarkan mineralokortikoid, glukokortikoid, dan Efek metabolic : protein dan lemak.

hormone seks. Medulla adrenal menghasilkan katekolamin. 1. Meningkatkan konsentrasi glukosa darah dengan mengorbankan simpanan 2. Merangsang glukoneogenesis hati, yang mengacu pada perubahan sumbersumber nonkarbohidrat menjadi karbohidrat di hati. 3. Menghambat penyerapan dan penggunaan glukosa oleh banyak jaringan (kec.otak, karena digunakan sebagai bahan bakar metabolik ). 4. Merangsang penguraian protein di banyak jaringan, terutama otot. 5. Meningkatkan lipolisis, sehingga terjadi pembebasan asam-asam lemak ke dalam darah.15 Makroskopik Lobus Kanan : o Berada diantara diaphragm/lobus kanan hepar. o Facies anterior : v. cava inferior (medial) Bare area hepatis (lateral) o Facies posterior : ginjal kanan (inferior) Crus diaphragm (superior) Lobus Kiri : o o o o Mikroskopik Glandula suprarenalis dikelilingi oleh kapsula jaringan ikat tebal yang mengandung cabang-cabang srteri dan vena adrenal utama, saraf, dan pemuluh limfe. Adanya trabekula yang menyusup ke dalam korteks dan trabekula yang lebih besar mengandung arteri menuju medulla. Kapiler sinusoidal terdapat di seluruh korteks dan medulla. 27 Berada di tepi medial ginjal dan di atas AV. Renalis. Kutub inferior : bersentuhan dengan AV. Renalis Kutub superior : bersentuhan dengan lien Facies anterior : bersentuhan dengan omentum minus dang aster

Khusus untuk korteks adrenal dibagi menjadi 3 zona konsentris yang batasnya tidak jelas. Zona glomerulosa terletak di alpisan paling luar. Sel-selnya tersusun dalam kelompok, sitoplasmanya mengandung sedikit tetes lipid (vakuol), intinya gelap. Zona fasikulata terletak di tengah. Sel-selnya tersusun berderet berupa lempengan yang berjalan radial. Banyak tetesan lipid di sitoplasma yang memberikan tampilan bervakuol sel-sel zona fasikulata. Inti selnya vesicular. Terdapat kapiler sinusoidal yang berjalan radial di deretan sel. Zona retrikularis merupakan lapis ke-3. Sel-selnya membentuk deretan yang saling berhubungan dan sering terisi pigmen lipofuksin (gelap). Kapiler terususun tidak teratur.

Hormone pertumbuhan Hormone pertumbuhan bertanggung jawab mengatur pertumbuhan tubuh Efek metabolic yang tidak berkaitan dengan pertumbuhan : simpanan lemak trigliserida di jaringan adipose, dan meningkatkan kadar glukosa darah dengan mengurangi penyerapan glukosa oleh otot.

secara keseluruhan dan berperan dalam metabolisme perantara. o Meningkatkan kadar asam lemak di dalam darah dengan menaikan penguraian

Makroskopik Kelenjar ini terletak pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis disebut master gland. 1. Hipofisis bagian anterior ( Adenohypofisis) Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis bagian anterior. 2. Hipofisis bagian tengah Menghasilkan hormon perangsang melanosit atau Melanosit Stimulating Hormon MSH). Apabila hormon ini banyak dihasilkan maka menyebabkan kulit menjadi hitam. 28

3. Hipofisis bagian inferior Menghasilkan hormone vasopressin dan oksitoksin. Mikroskopik Adenohipofisis dibagi menjadi pars distalis (asidofil dan kromofob), pars tuberalis (mengelilingi infudibulum), pars intermedia (antara pars distalis dan nervosa) yang mengandung kista koloid yang dilapisi sel-sel basofil. Sel-sel adenohipofisis digolongankan sebagai kromofob dan kromofil berdasarkan afinitas granul sitoplasmanya. Kromofil dibagi menjadi 2, yakni asidofil dan basofil. Ada 2 jenis sel asidofil, yaitu somatotrof dan ammotrof, dan 3 jenis basofil, yaitu gonadotrof, tirotrof, dan kortikotrof. Sel-sel ini yang menghasilkan hormone yang dilepaskan oleh hipofisis anterior. Neurohypofisis dibagi menjadi pars nervosa/prosesus infudibularis, tangkai infudibulum. Tidak mengandung neuron sekretorik. Dia hanya mengandung pituisit (neuroglia penyokong), dan akson yang badan selnya terletak di nuclei supraoptikus dan nuclei paraventrikularis hipotalamus.14 VI. A. Pemeriksaan Anamnesis Anamnesa adalah riwayat kesehatan dari seorang pasien dan merupakan informasi yang diperoleh dokter dengan cara menanyakan pertanyaan tertentu, dan pasien dapat memberikan jawaban yang sesuai. Seorang dokter biasanya akan berusaha memperoleh informasi:
1. 2. 3.

Nama, usia, tinggi, berat badan Masalah atau komplain utama pasien dan riwayatnya Riwayat kesehatan pada masa lalu (seperti penyakit berat, operasi/pembedahan, atau penyakit yang tengah diderita seperti diabetes) Kelainan pada organ Riwayat keluarga Riwayat penyakit pada masa kanak-kanak Status sosial, pekerjaan, penggunaan obat, tembakau, alokohol Penggunaan obat rutin 29

4. 5. 6. 7. 8.

9. 10.

Alergi Kehidupan seks B. Fisik Berat badan

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat timbangan yang harus ditera secara berkala. Jenis alat timbangan sesuai dengan umur pasien. Tinggi badan

Pengukuran dilakukan dari telapak kaki sampai ujung puncak kepala. Jika pengukuran dilakukan saat berdiri maka posisi pasien harus berdiri tegak lurus, sehingga tumit, bokong dan bagian atas punggung terletak pada dalam 1 garis vertical, sedangkan liang telinga dan bagian bawah orbita membentuk satu garis horizontal. RLPP(rasio lingkar pinggang dan pinggul)

Meskipun cukup cukup efektif untuk mengukur kadar obesitas, sayangnya IMT tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh. Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan cara lain, yaitu dengan mengukur rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP). Cara ini cukup praktis dan mudah, bisa dilakukan dengan menggunakan pita meteran (seperti yang digunakan oleh penjahit). Meteran itu digunakan untuk mengetahui banyaknya lemak tubuh bagian-bagian tubuh tertentu. Laki laki <94 cm 94 102 cm >102 cm Perempuan <80 cm 80 88 cm >88 cm L. pinggang Normal Tingkat I Tingkat II

Baik LPe / perut maupun lingkar panggul ,erupakan cara sederhana untuk membedakan beberapa tipe obesitas sesuai distribusi lemak,diantaranya : a. Obesitas Tipe Buah Apel (android)

30

Pada pria obesitas umumnya menyimpan lemak di bawah kulit dinding perut dan di rongga perut sehingga gemuk diperut dan mempunyai bentuk tubuh seperti buah apel (apple type). Karena lemak banyak berkumpul dirongga perut, obesitas tipe buah apel disebut juga obesitas sentral, karena banyak terdapat pada laki-laki disebut juga sebagai obesitas tipe android. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).

b. Obesitas Tipe Buah Pear (gynoid) Kelebihan lemak pada wanita disimpan dibawah kulit bagian daerah pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear (pear type). Karena lemak berkumpul dipinggir tubuh yaitu dipinggul dan paha, obesitas tipe buah pear disebut juga sebagai obesitas perifer dan karena banyak terdapat pada wanita disebut juga sebagai obesitas tipe perempuan atau obesitas tipe gynoid. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena (varicose veins). c. Bentuk Kotak Buah (ovid) Ciri dari tipe ini adalah besar di seluruh bagian badan. Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic Tebal lemak sub kutan (skin folder caliper )

Tebal lemak subkutan lipatan kulit dengan menggunakan Skin Fold Caliper pada beberapa tempat, antara lain: triceps: diukur lipatan kulit yang menggantung bebas anatara bahu dan siku. Dinyatakan obesitas bila tebal lemak subkutan > 20 mm pada pria dan > 30 mm pada wanita.

31

Biceps, skapula, supra iliaka dan subkostal. Bila melebihi standar yang ada, dapat dinyatakan obesitas LLA (Lingkar Lengan Atas)

Lengan mengandung lemak bawah kulit dan otot,jika LLA menurun maka menunjukan penurunan lemak/otot .Pengukuran mudah dan tak banyak mengeluarkan waktu dan alat.16 PERSENTIL 5 th > 5 th - 15 th >15 th - 75 th >75th - 85 th >85 th C. Laboratorium/Patologi Klinik Pemeriksaan kadar glukosa darah Kurus Di bawah rata- rata Rata- rata Di atas rata rata Terlalu banyak lemak KATEGORI

Bahan pemeriksaan yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah: 1. Plasma darah vena 2. Serum 3. Darah utuh vena 4. Darah kapiler Kadar glukosa darah kapiler lebih tinggi 7 10 % daripada darah vena. Perbedaan kadar glukosa darah vena dan arteri : keadaan puasa : 1 3 mg/dL setelah makan : 20 30 mg/dL

Metode Pemeriksaan kadar glukosa darah : 1. Metode kimia

Prinsip pemeriksaan : kemampuan reduksi Contoh : tes benedict, Fehling 32

Hasil : tidak spesifik untuk glukosa 2. Metode enzimatik

Enzim Glukosa oxidase Paling banyak dipakai Biaya murah Hasil cukup memadai

Enzim hexokinase Dianjurkan oleh WHO Menggunakan 2 enzim spesifik : hexokinase dan G6PD Hasil sangat baik Biaya relatif mahal

Hasilnya : spesifik untuk glukosa

Pemeriksaan HbAIC HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan ireversibel. Metode pemeriksaan HbA1C: ion-exchange chromatography, HPLC (high performance liquid chromatography), Electroforesis, Immunoassay, Affinity chromatography, dan analisis kimiawi dengan kolorimetri. a. Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu

reagen dan kolom, kekuatan ion, dan pH dari bufer. Interferens yang mengganggu adalah adanya HbS dan HbC yang bisa memberikan hasil negatif palsu. b. Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange chromatography, bisa

diotomatisasi, serta memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi. c. Metode agar gel elektroforesis: hasilnya berkorelasi baik dengan HPLC, tetapi

presisinya kurang dibanding HPLC. Hb F memberikan hasil positif palsu, tetapi kekuatan ion, pH, suhu, HbS, dan HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini. 33

d.

Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C, tidak mengukur HbA1C

yang labil maupun HbA1A dan HbA1B, mempunyai presisi yang baik. e. Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil

dari HbA1C tidak mengganggu penentuan glycated hemoglobin, tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbF, HbS, ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini, tetapi metode ini mengukur keseluruhan glycated hemoglobin, sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode HPLC. f. Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam), lebih spesifik karena tidak

dipengaruhi non-glycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya waktu lama, sampel besar, dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi, yaitu m mol/L. Kadar HbAIC menggambarkan kadar glukosa darah selama 2-3 bulan sebelum tes dilakukan.17

Pemeriksaan lemak darah

Dengan melakukan pemeriksaan lemak darah di laboratorium. Untuk pemeriksaan ini, Anda harus berpuasa minimal 10 jam sebelum pengambilan darah.18

Nilai normalnya : Kadar kolesterol dalam darah Tes Kolesterol total 34 Nilai normal mg/dl < 200

Kolesterol LDL Kolesterol HDL Trigliserida

< 130 >45 < 200

BAB III PENUTUP


Berat badan seseorang dapat diketahui melalui Indeks Massa Tubuh. Sebagai

pemeriksaan penunjang dalam menentukan berat badan seseorang dapat pula dilakukan pemeriksaan fisik (antropometrik), sedangkan untuk mengetahui adanya gangguan metabolisme pada tubuh dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium. Obesitas merupakan suatu keadaan di mana berat badan seseorang melebihi batas normal. Obesitas terutama disebabkan karena adanya penimbunan lemak. Berbeda dengan obesitas, kegemukan dapat disebabkan pula oleh gangguan pada metabolisme karbohidrat atau protein atau lemak, hormon-hormon, lingkungan atau pola hidup, penyakit, obat-obatan, 35

dan hal lainnya. Semakin cepat obesitas diketahui, akan semakin cepat pula seseorang dapat kembali ke berat badan normal.

36